Login
Section Education

Learning Environment Design and Social Emotional Development in Early Childhood

Desain Lingkungan Belajar dan Perkembangan Sosial Emosional pada Masa Kanak-kanak
Vol. 10 No. 1 (2025): June:

Lili Rismalah Defi (1), Choirun Nisak Aulina (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background Early childhood education emphasizes social emotional development as a foundation for children’s adaptation, relationships, and self-regulation. Specific Background The learning environment, including physical settings, social interactions, and psychological climate, is considered a central context shaping daily experiences in kindergarten classrooms. Knowledge Gap However, detailed descriptions of how these environmental components function collectively to support social emotional growth in specific early childhood institutions remain limited. Aims This study aimed to describe the role of the learning environment and to identify supporting and inhibiting factors related to social emotional development among children aged 4–5 years at TK Islam Al Wafa. Results Using a descriptive qualitative approach through observation, interviews, and documentation, the findings show that organized classrooms, play corners, consistent routines, teacher guidance, and peer interaction facilitate empathy, cooperation, discipline, and emotional expression, while family constraints and limited responsiveness hinder progress. Novelty The study provides an integrated description of physical, social, and emotional elements within one institutional case. Implications These results offer practical guidance for teachers and early childhood managers in structuring supportive learning environments to foster balanced social emotional competencies.


Keywords: Learning Environment, Social Emotional Development, Early Childhood Education, Classroom Climate, Qualitative Study


Key Findings Highlights:




  1. Structured spaces encourage cooperation and sharing behaviors




  2. Daily routines cultivate self-regulation and discipline




  3. Teacher guidance and peer play build empathy and communication



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Proses pertumbuhan dan perkembangan anak disebut anak usia dini, usia dini mengacu pada periode antara kelahiran anak hingga usia 6 tahun. Masa kanak-kanak mengacu pada proses pertumbuhan dan perkembangan anak yang berbeda dari anak usia dini. Bergantung pada tingkat usianya, anak usia dini berbeda individual, dan memiliki kualitas tersendiri. Anak memiliki masa untuk berkembaang dan juga memiliki masa golden age, fase anak dapat berkembang dengan cepat dan mampu menerima informasi dengan baik[1]. Faktor faktor yang harus dipertimbangkan pada pendidikan anak usia dini dapat memberikan kesempatan belajar yang relevan dengan tahap perkembangan psikososial anak. Pada masa ini anak dapat mencapai potensi sepenuhnya ketika rangsangan yang tepat diberikan seperti hubungan sosial yang positif, kesempatan belajar yang menyenangkan dan stategi pengajaran yang inovatif terhadap pendidikan anak usia dini di masa depan [2].

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memiliki peran krusial sebagai dasar utama dalam pembentukan kepribadian dan keterampilan sosial yang akan menjadi modal sepanjang hidup. Pada masa ini, anak-anak mengalami pertumbuhan yang sangat cepat, baik dari segi fisik maupun mental [3]. Pengalaman belajar yang anak dapatkan akan memengaruhi pola pikir, interaksi sosial, serta perilaku anak di masa depan. Oleh sebab itu, mutu pendidikan pada usia dini tidak hanya bertujuan untuk mempersiapkan anak memasuki jenjang pendidikan selanjutnya, tetapi juga untuk membentuk karakter, kemandirian, dan kemampuan bersosialisasi yang sehat dengan menyediakan pendidikan yang terstruktur, lingkungan yang aman, serta peluang eksplorasi yang bermakna pada masa ini menjadi tanggung jawab penting bagi sekolah, orang tua, pendidik, dan masyarakat. Anak usia dini merujuk pada kelompok anak berumur 0 hingga 6 tahun, yang pada masa tersebut mengalami pertumbuhan pesat dalam berbagai bidang, seperti fisik, kognitif, bahasa dan sosial emosional [4]. Di fase ini, anak-anak mulai mengasah keterampilan motorik, kemampuan berpikir, kemampuan bahasa dan komunikasi, pemahaman terhadap emosi diri serta perkembangan sosial emosional.

Perkembangan sosial-emosional adalah ketika seorang anak belajar mengenali, mengungkapkan, dan mengendalikan perasaannya serta membangun hubungan yang baik dengan orang lain. Aspek ini meliputi kemampuan untuk memahami perasaan diri sendiri dan orang lain, mengendalikan dorongan, menunjukkan empati, bekerja sama, serta menyesuaikan perilaku sesuai dengan norma yang ada di lingkungan sekitar [5]. Pada usia 4–5 tahun, keterampilan sosial-emosional tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk berinteraksi, tetapi juga menjadi dasar penting dalam menghadapi berbagai situasi belajar dan kehidupan sehari-hari. Agar anak-anak dapat beradaptasi dengan baik, perkembangan sosial mereka bergantung pada cara mereka berinteraksi dengan teman sebaya, orang dewasa, dan masyarakat secara keseluruhan. Berkaitan dengan keterampilan belajar bergaul dengan Bahagia di masa kanak-kanak [6]. Perkembangan emosional adalah kemampuan individu untuk mengendalikan dan mengekspresikan perasaan dalam bentuk ekspresi serta tindakan yang di tampilkan melalui mimik wajah maupun perilaku lainnya, sehingga orang lain dapat mengetahui dan memahami kondisi atau keadaan yang sedang di alami[7]. Kemampuan ini tidak berkembang secara tiba-tiba, melainkan berkembang melalui rangsangan dan pengalaman yang diperoleh dari lingkungan sekitar yang dirancang dengan baik menjadi faktor penting karena memberikan berbagai kesempatan bagi anak untuk berinteraksi, mengeksplorasi, dan melatih keterampilan sosial secara rutin setiap hari dengan menyediakan lingkungan belajar.

Lingkungan belajar mencakup seluruh kondisi, situasi, dan faktor yang secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi proses pembelajaran peserta didik, meliputi aspek fisik, sosial, dan psikologis yang saling terkait untuk menciptakan pengalaman belajar yang optimal [8]. Aspek fisik seperti penataan ruang kelas, sistem penerangan, sirkulasi udara, sirkulasi udara, sarana prasarana, alat bantu belajar yang menfasilitasi kegiatan anak dan media pembelajaran yang mendukung aktivitas anak. Aspek sosial mencerminkan hubungan timbal balik, antara anak dengan pendidik, rekan seumur, keluarga, dan komunitas sekitar, yang menyediakan bantuan serta teladan sikap. Di sisi lain, aspek psikologis menyangkut iklim perasaan seperti rasa aman, keakraban, sambutan positif, dan dorongan semangat, yang memungkinkan anak merasa betah dalam menjelajah dan menyampaikan pemikiran serta perasaannya. Dalam pendidikan anak usia dini, lingkungan belajar tidak hanya terbatas pada ruang kelas, tetapi juga mencakup rumah, taman bermain, dan lingkungan masyarakat yang menyediakan rangsangan menyeluruh melalui kegiatan bermain, interaksi sosial, dan pengalaman nyata, sehingga mendukung perkembangan kognitif, bahasa, sosial, dan emosional anak secara seimbang [9]. Lingkungan belajar memegang peranan vital dalam mendukung perkembangan anak, terutama dalam aspek sosial-emosional.

Lingkungan belajar memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk pengalaman social emosional anak. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, lingkungan belajar tidak hanya merujuk pada ruang fisik tempat kegiatan berlangsung, tetapi juga mencakup kondisi sosial dan psikologis yang memberikan rasa aman, kesempatan untuk bereksplorasi, serta interaksi yang hangat [10]. Secara fisik, pengaturan ruang kelas, ketersediaan alat bermain, dan fasilitas yang lengkap sangat memengaruhi cara anak berinteraksi dan bereksperimen. Ruang yang terang, bersih, dan tertata sesuai dengan zona aktivitas seperti sudut seni, sudut baca, atau area bermain peran mendorong anak untuk berpartisipasi aktif dan belajar mengelola diri. Dari sisi sosial, guru berperan sebagai fasilitator utama yang

memberikan contoh perilaku positif, dukungan emosional, serta mengajarkan cara menyelesaikan konflik. Interaksi dengan teman sebaya juga sangat penting melalui bermain bersama, anak belajar berbagi, bekerja sama, dan mengekspresikan perasaan dengan tepat [11]. Pola kegiatan yang tetap, seperti jadwal harian, mendukung anak untuk merasa aman serta membangun kemampuan mengatur diri sendiri. Bantuan dari lingkungan sekitar, misalnya adanya taman bermain, pusat kegiatan masyarakat, dan semangat gotong royong, menyediakan peluang bagi anak untuk memperkaya pengalaman sosialnya [12]. Oleh karena itu, lingkungan pembelajaran yang dirancang secara optimal, bersifat kolaboratif, dan sarat dengan dukungan emosional menjadi elemen utama dalam keberhasilan perkembangan sosial-emosional anak usia 4–5 tahun.

Lingkungan belajar merupakan faktor utama dalam mendukung perkembangan sosial emosional anak usia 4–5 tahun, di mana peran guru, teman sebaya, dan rutinitas kelas saling melengkapi untuk merangsang interaksi sosial sekaligus pengendalian emosi. Guru bertindak sebagai contoh dengan memperlihatkan cara mengekspresikan emosi secara sehat, memfasilitasi kegiatan kelompok yang mendorong kerja sama dan berbagi, serta membantu anak mengenali dan menenangkan perasaannya melalui bimbingan verbal yang penuh empati [13]. Teman sebaya memberikan kesempatan bagi anak untuk melatih keterampilan sosial secara langsung, seperti berbagi, bernegosiasi, dan menyelesaikan konflik, sekaligus menjadi model bagi anak dalam meniru ekspresi dan pengaturan emosi [14]. Di sisi lain, rutinitas kelas yang teratur seperti jadwal harian yang konsisten, kegiatan lingkar pagi, dan transisi dengan isyarat atau lagu menciptakan rasa aman, mengurangi kecemasan, dan melatih kemampuan pengendalian diri. Di TK Islam Al Wafa, anak anak terbiasa sopan, mengikuti aturan dan disiplin dalam kehidupan sehari hari dan dapat menunjukkan reaksi emosional yang wajar, baik secara individu, sosial dan emosional.

Lingkungan belajar yang dirancang secara optimal memiliki pengaruh langsung terhadap peningkatan perkembangan sosial-emosional anak usia 4–5 tahun dengan menggabungkan aspek fisik, sosial, dan iklim psikologis dalam satu pengalaman terpadu [15]. Ruang kelas yang aman, terorganisir dengan baik, dan dilengkapi berbagai sudut bermain memberikan kebebasan bagi anak untuk bereksplorasi, berkomunikasi, serta belajar berbagi dan bergiliran melalui kegiatan kelompok. Interaksi sosial di dalamnya, khususnya dengan guru yang hangat dan responsif sebagai contoh pengelolaan emosi, serta teman sebaya yang berperan sebagai laboratorium sosial, memberikan kesempatan bagi anak untuk melatih empati, kerja sama, dan penyelesaian konflik secara nyata. Selain itu, iklim psikologis yang positif tercermin dari rutinitas yang konsisten seperti lingkar pagi, lagu transisi, dan penerimaan tanpa syarat menciptakan rasa aman serta membantu anak mengenali, menamai, dan mengendalikan emosinya [16]. Ketiga elemen ini bersinergi dalam mengembangkan keterampilan sosial seperti komunikasi dan pemecahan masalah, sekaligus keterampilan emosional berupa pengendalian diri dan rasa percaya diri, sehingga lingkungan belajar menjadi wadah penting yang secara nyata mendukung perkembangan sosial-emosional anak.

Berdasarkan penelitian sebelumnya, Harianja dkk, menunjukkan bahwa memberikan lingkungan belajar yang optimal, perkembangan sosial emosional anak dapat ditingkatkan [17]. Anista Rachman juga menyampaikan hasil ini, menunjukkan bahwa lingkungan belajar memengaruhi proses belajar dan hasil belajar siswa. [18]. Selain itu, seperti yang disampaikan oleh Marisjana et al., terbukti bahwa lingkungan belajar indoor dan outdoor dapat meningkatkan kemungkinan perkembangan kecerdasan jamak anak$ [19]. Menurut Irhamna et al.bukti menunjukkan bahwa lingkungan pendidikan sekolah dapat memengaruhi karakter anak-anak untuk menjadi disipliner. [20]. Namun meskipun banyak penelitian yang telah dilakukan, masih banyak aspek yang belum sepenuhnya dipahami mengenai peran lingkungan belajar dalam perkembangan sosial emosional.

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan peran lingkungan belajar dalam perkembangan sosial emosional di TK Islam Al Wafa, serta untuk menguraikan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat perkembangan sosial emosional anak. Penelitian ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan ciri-ciri lingkungan pembelajaran yang meliputi aspek fisik, sosial, dan suasana psikologis pada anak berusia 4–5 tahun, mengenali fungsi guru, rekan seumur, serta pola rutinitas kelas dalam mendorong kemampuan sosial dan pengaturan emosi, serta meneliti keterkaitan ketiga aspek tersebut dengan kemajuan perkembangan sosial-emosional. Output penelitian diharapkan menyajikan wawasan yang lebih dalam beserta saran praktis untuk guru dan pengelola PAUD guna membangun lingkungan belajar yang optimal.

Metode

Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis deskriptif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang dilakasanakan dengan cara mendeskripsikan suatu kegiatan yang sedang dilakukan. Penelitian kualitatif deskriptif menggambarkan atau menjelaskan fenomena sosial atau perilaku manusia. Bogdan dan Taylor menjelaskan bahwa penelitian kualitatif adalah cara penelitian yang menghasilkan data deskriptif seperti kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menggambarkan secara deskriptif tentang peran lingkungan belajar dalam perkembangan sosial emosional anak usia 4-5 tahun.

Penelitian ini di laksanakan di TK Islam Al Wafa Candi, yang terletak di Jl. Sugihwaras No 11 RT 03 Rejo, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Subjek penelitian ini adalah wali kelas dan anak kelompok A. Penelitian ini dilakukan pada semester ganjil tahun 2025. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi[21].

Adapun penjelasan dari beberapa metode pengumpulan data yang digunakan sebagai berikut: a. Observasi merupakan teknik mengumpulkan data dengan cara mengamati secara langsung fenomena, peristiwa, pelaku, atau objek penelitian di lapangan. Observasi dalam penelitian ini bersifat non-partisipatif dalam artian peneliti tidak terlibat dalam kegiatan melainkan hanya mengamati secara langsung di lokasi dengan mencatat hasil observasi.

b. Wawancara merupakan proses pengumpulan data dari hasil tanya jawab antara peneliti dan narasumber. Metode wawancara dilakukan dengan guru kelompok A dan kepala sekolah untuk memperoleh informasi mendalam terkait peran lingkungan belajar dalam perkembangan sosial emosional anak usia 4-5 tahun. c. Dokumentasi Adalah informasi dalam bentuk buku, dokumen gambar tertulis dan gambar dalam bentuk dokumen-dokumen yang berkaitan untuk proses penelitian seperti rpp, perangkat pembelajaran, foto-foto kegiatan anak.

Dalam penelitian ini dalam menggunakan keabsahan data diperkuat melalui triangulasi data, yang berarti membandingkan antara apa yang dikatakan pada saat wawancara baik secara umum atau pribadi dan observasi secara langsung. Analisis data pada penelitian ini menggunakan model Miles dan Huberman yang dibagi menjadi empat tahap, yaitu: a) Pengumpulan data merupakan salah satu tahap analisis yang mengumpulkan data relevan pada penelitian. b) Reduksi data adalah proses peneliti merangkum hasil dan memilih hal-hal pokok, fokus pada hal- hal penting, dicari tema dan polanya sehingga memudahkan peneliti untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas dan mempermudah untuk melakukan pengambilan data selanjutnya. c) Penyajian data merupakan bentuk deskripsi dari hasil wawancara, penelitian ini yaitu berupa teks deskriptif. d) Penarikan kesimpulan merupakan mengolah dan menyimpulkan temuan. Kesimpulan harus didukung data yang dianalisis dan diverifikasi untuk memastikan keabsahan dan keandalannya.

Hasil dan Pembahasan

Pada hasil dan pembahasan ini akan diuraikan lebih lanjut tentang Peran Lingkungan Belajar Dalam Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 4-5 Tahun di TK Islam Al Wafa Candi beserta mendeskripsikan faktor penghambat dan pendukung Peran Lingkungan Belajar Dalam Perkembangan Sosial Emosional Anak.

Lingkungan belajar adalah seluruh kondisi, situasi, dan faktor baik fisik maupun nonfisik yang memengaruhi proses belajar peserta didik. Lingkungan ini mencakup segala hal yang ada di sekitar siswa saat mereka belajar, yang dapat mendukung atau justru menghambat tercapainya tujuan pembelajaran. Dalam konteks pendidikan anak usia dini, lingkungan belajar tidak hanya merujuk pada ruang fisik tempat kegiatan berlangsung, tetapi juga mencakup kondisi sosial dan psikologis yang memberikan rasa aman, kesempatan untuk bereksplorasi, serta interaksi yang hangat.

Macam-macam lingkungan belajar mencakup lingkungan fisik, sosial, dan emosional. 1. Lingkungan fisik adalah segala sesuatu yang dapat dilihat, disentuh, dan dirasakan anak secara langsung. Lingkungan fisik mencakup ruang kelas, perabot, alat permainan, media pembelajaran, serta kondisi alam sekitar. Lingkungan fisik yang tertata dengan baik akan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, memotivasi anak untuk aktif, dan membantu anak belajar melalui pengalaman langsung. 2. Lingkungan Sosial adalah interaksi dan hubungan antara anak dengan orang-orang di sekitarnya, seperti guru, teman sebaya, orang tua, dan masyarakat. Lingkungan sosial yang baik menumbuhkan rasa percaya diri, empati, dan kemampuan berinteraksi positif sejak dini. 3. Lingkungan Emosional adalah suasana batin, perasaan aman, dan kenyamanan psikologis yang dialami anak selama proses belajar. Lingkungan emosional yang sehat menumbuhkan kepercayaan diri, kemandirian, dan semangat belajar anak.

Lingkungan belajar di TK Islam Al Wafa Candi disiapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat anak menerima materi pembelajaran, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter dan keterampilan sosial. Selama proses pembelajaran, terlihat bahwa anak-anak di TK Islam Al Wafa Candi mampu memberikan respon yang positif terhadap bimbingan guru. Respons ini tidak hanya tampak dari kemampuan mereka menjawab pertanyaan, tetapi juga dari sikap aktif dalam mendengarkan, memperhatikan, dan mencoba memahami instruksi yang diberikan. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak mulai belajar menghargai peran guru sebagai sumber pengetahuan sekaligus teladan.

Guru juga berperan dalam menciptakan lingkungan yang kreatif dan adaptif, membantu anak menggunakan objek ketertarikan dengan cara yang menarik. Ketika guru memberikan rasa aman dan tantangan, anak dapat

mempercayai diri sendiri dan orang lain, serta mengembangkan kemandirian. Ruang kelas harus dapat merangsang perkembangan dengan pembelajaran, aktivitas, dan mainan yang menarik untuk anak. Berpusat pada anak melibatkan interaksi responsif antara dewasa dan anak, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Anak-anak menampilkan sikap empati, seperti dengan menolong teman yang kesulitan mengenakan tas atau membuka wadah makanan/minuman. Perbuatan kecil semacam itu, misalnya membantu, meminjamkan alat tulis, atau memberikan dorongan semangat kepada rekan, menjadi bagian krusial dari perkembangan sosial-emosional pada tahap usia dini.

Ketika anak-anak diberi kesempatan untuk bermain di sudut permainan setelah menyelesaikan tugas, mereka tidak hanya bermain, tetapi juga belajar nilai-nilai sosial dasar. Mereka belajar menunggu giliran, tertarik untuk berbagi mainan, dan belajar mengendalikan diri saat diminta bergantian. Situasi seperti ini secara alami mengajarkan anak kesabaran dan mengajarkan mereka bahwa dalam kehidupan sosial tidak semua keinginan bisa terpenuhi secara langsung. Bahkan ketika muncul konflik kecil, seperti mainan dipinjam oleh teman, anak-anak diajarkan untuk mengekspresikan emosinya dengan cara yang wajar. Misalnya, menangis untuk meluapkan perasaan kecewa, lalu diarahkan guru untuk menyelesaikan masalah secara baik-baik. Proses ini menolong anak mengenal emosinya sendiri dan belajar cara mengatasinya.

Di luar kegiatan dari aktivitas pembelajaran di ruang kelas, rutinitas selama waktu istirahat pun memegang peran krusial dalam kemajuan sosial-emosional anak. Saat bersantap bersama, anak-anak dibimbing untuk membagi makanan dengan rekan-rekan, melatih etika sopan saat meminta sesuatu, serta meningkatkan rasa solidaritas melalui interaksi yang rileks. Kegiatan ringan seperti menunggu hingga teman menyelesaikan makanannya sebelum melanjutkan bermain juga menjadi pelatihan penguasaan diri yang menguntungkan. Semua pembiasaan ini jika dilakukan secara konsisten akan membentuk karakter anak yang lebih sabar, peduli terhadap orang lain, serta memiliki keterampilan sosial yang baik. Dengan kata lain, lingkungan belajar di TK Islam Al Wafa Candi tidak hanya menekankan pada aspek akademis, tetapi juga memberikan ruang yang luas bagi pembentukan kepribadian anak sejak dini.

Peran Lingkungan Belajar terhadap Perkembangan Sosial-Emosional, Lingkungan belajar di PAUD menjadi tempat pertama bagi anak untuk berlatih keterampilan sosial dan emosional. Melalui kegiatan bermain, anak belajar mengenali diri, mengelola perasaan, serta menjalin hubungan dengan teman dan guru. Lingkungan yang dimaksud dalam perkembangan sosial emosional anak usia dini bukan hanya terbatas pada ruang fisik tempat anak belajar, tetapi juga mencakup suasana, interaksi, dan kebiasaan yang dibangun di dalamnya[22]. Lingkungan pembelajaran di TK Islam Al Wafa Candi, mencakup dua elemen pokok, yakni aspek fisik dan sosial. Aspek fisik merangkum fasilitas serta infrastruktur yang ada di sekolah, seperti ruangan kelas yang dilengkapi sudut aman, beserta lapangan sekolah yang lapang. Sarana ini memfasilitasi anak untuk belajar sekaligus bermain dengan aman, sambil memberikan ruang bagi mereka untuk menjelajahi sekitar secara nyata. Lapangan yang luas pula memungkinkan pelaksanaan kegiatan belajar di luar ruangan, sehingga anak memperoleh pengalaman pembelajaran yang beragam dan menarik tanpa terasa monoton. TK Islam Al Wafa Candi menyediakan fasilitas yang cukup lengkap, baik di dalam ruang kelas maupun di luar, dengan ruangan yang dilengkapi sudut bermain, APE, serta media pembelajaran yang mendukung kemajuan anak. Lapangan sekolah yang ekstensif juga memungkinkan eksplorasi langsung terhadap lingkungan, yang pada akhirnya merangsang rasa penasaran, melatih kemampuan bersosialisasi, serta memperkuat pertumbuhan fisik anak. Selain sarana fisik, guru juga berperan besar dalam membentuk perkembangan sosial emosional anak. Melalui pembiasaan rutin, seperti berbaris sebelum masuk kelas, membaca doa harian, serta melafalkan surat pendek, anak- anak belajar disiplin, tertib, dan menginternalisasi nilai-nilai religius.

  1. Peran Lingkungan Belajar Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 4-5
  2. faktor penghambat dan pendukung Peran Lingkungan Belajar

Perkembangan sosial emosional anak usia dini adalah proses tumbuh kembang anak belajar mengenali diri dan emosi, menjalin hubungan dengan orang lain, serta mengelola perasaan dan ekspresi mereka. Tahapan ini melibatkan pengenalan emosi, belajar berbagi, bermain bersama, serta memupuk rasa percaya diri dan empati. Perkembangan ini krusial karena memengaruhi kecerdasan sosial, kepercayaan diri, dan hubungan interpersonal anak di masa depan. Perkembangan sosial emosional di TK Islam Al Wafa anak mudah beradaptasi dengan lingkungannya, saat awal masuk sekolah anak-anak belum berani berinteraksi bersama teman sebaya. Dengan pembiasaan baris berbars anak dapat beradaptasi dengan lingkungan dengan percaya diri masuk ke sekolah yang cukup diantar oleh orang tua sampai di gerbang sekolah.

Faktor pendukung yang ada di TK Islam Al Wafa Candi memiliki fasilitas lengkap dan lingkungan yang luas sehingga sangat membantu anak-anak dalam proses belajar, karena mereka bisa belajar tidak hanya di dalam kelas, tetapi juga di luar kelas dengan lebih bebas dan menyenangkan. Misalnya, melakukan percobaan sederhana di halaman sekolah, sehingga anak-anak tidak hanya mendengar penjelasan dari guru, tapi juga bisa mengalami sendiri apa yang mereka pelajari. Di sekolah pun tersedia alat bantu belajar seperti LCD proyektor yang bisa menampilkan gambar, video, atau suara, sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik dan tidak membosankan bagi anak-anak. Anak-anak akan lebih mudah paham jika materi disampaikan dengan cara yang menyenangkan, apalagi jika dilengkapi dengan teknologi modern yang sudah akrab dengan kehidupan mereka

sehari-hari. Guru-guru di TK Islam Al Wafa Candi juga sudah terbiasa menggunakan teknologi dan sering mencari ide-ide kreatif dari internet, seperti dari YouTube atau TikTok, agar pembelajaran selalu terasa baru, mengikuti perkembangan zaman, dan membuat anak-anak merasa senang saat belajar.

Di setiap kelas juga tersedia banyak loose part seperti batu kecil, stick ice cream, tutup botol, karet gelang, sedotan, potongan kertas dan benda-benda lainnya yang bisa digunakan anak untuk bermain dan berkreasi. Dengan banyaknya pilihan alat dan bahan dikelas, anak-anak bisa mencoba hal-hal baru, mengeksplorasi kemampuan mereka, dan secara tidak langsung mendapatkan banyak pengetahuan baru dari kegiatan yang mereka lakukan sendiri. Dari hasil yang dilakukan peneliti saat observasi dan wawancara, TK Islam Al Wafa Candi memiliki sarana prasarana yang sangat memadai, mulai dari kelengkapan yang ada di dalam maupun di luar kelas. Halaman sekolah yang cukup luas membuat pembelajaran tidak hanya dilakukan di dalam kelas saja, akan tetapi pembelajaran juga bisadan sangat memungkinkan untuk dilakukan di luar kelas. Dengan ini anak-anak bisa mengeksplor lingkungan secara langsung sehingga rasa ingin tahu anak akan lebih terfasilitasi. Hal ini juga terdapat teori yang menyatakan sarana dan prasarana pendidikan adalah satu kesatuan pendukung terlaksanakannya proses belajar dan mengajardenganbaik dan optimal[23].

Selain adanya faktor pendukung tentunya juga ada faktor penghambat yang ada di TK Islam Al Wafa yakni Lingkungan keluarga yang tidak kondusif, seperti adanya konflik orang tua, pola asuh yang keras atau tidak konsisten, serta kurangnya kasih sayang dan perhatian, dapat membuat anak merasa tidak aman secara emosional, sehingga sulit membentuk kepercayaan diri dan kemampuan bersosialisasi. Kurangnya interaksi sosial, baik karena keterbatasan akses terhadap teman sebaya maupun terlalu banyak waktu di depan layar, juga dapat menghambat kemampuan anak untuk belajar berbagi, bekerja sama, dan memahami perasaan orang lain. Dan Juga, kurangnya tanggapan emosional dari pihak dewasa, seperti orang tua atau guru yang tidak merespons perasaan anak secara empati atau tidak membimbing cara mengendalikan emosi, dapat menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi dan mengatur emosinya sendiri. Pengalaman traumatis atau tekanan berkepanjangan, seperti kehilangan kerabat dekat, kekerasan, atau bencana alam, bisa menimbulkan efek psikologis yang mendalam serta mengacaukan keseimbangan emosional anak.

Beberapa kondisi kesehatan khusus, seperti gangguan perkembangan termasuk autisme, keterlambatan berbicara, juga bisa menyulitkan anak dalam membangun relasi sosial dan memahami aspek emosional [24]. Selain itu, pola pengasuhan yang tidak selaras dengan tahap perkembangan anak, misalnya memaksa anak bertindak dewasa terlalu cepat atau tidak menyediakan ruang untuk mengeksplorasi emosi, dapat menghambat kemampuan anak untuk tumbuh secara alami. Karenanya, partisipasi aktif dari orang tua, guru, dan komunitas sekitar menjadi sangat krusial, tidak hanya untuk membentuk suasana yang aman dan penuh kasih sayang, tetapi juga untuk memberikan panduan, rangsangan sosial, serta dukungan emosional yang berkelanjutan agar perkembangan sosial-emosional anak berlangsung secara optimal dan seimbang.

Simpulan

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di TK Islam Al Wafa lingkungan belajar berperan penting dalam perkembangan sosial emosional seperti menyediakan rasa aman dan nyaman, mendorong eksplorasi aktivitas pengalaman langsung, menjadi fasilitas pembelajaran, mengembangkan perkembangan sosial emosional. Dalam aspek sosial, anak mampu berdaptasi dengan lingkungan baru, menjalin hubungan positif,mematuhi aturan, menunjukkan sikap empati, tolong menolong, bekerjasama serta kemandirian anak yang berkembang. Dalam aspek emosionalnya anak dapat mengekspresikan perasaannya seperti marah, menangis dan kecewa. Lingkungan belajar yang efektif dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, seperti kompetensi guru yang memahami perkembangan sosial- emosional dan mampu menjadi contoh dalam mengelola emosi, tersedianya sarana dan prasarana yang aman serta terorganisir sesuai kebutuhan bermain anak, rasio guru dan anak yang seimbang agar setiap anak mendapatkan perhatian yang cukup, keterlibatan aktif orang tua dalam komunikasi dan program sekolah, serta terciptanya iklim kelas yang positif dengan rutinitas yang konsisten untuk menumbuhkan rasa aman. Di sisi lain, proses ini dapat terhambat oleh keterbatasan fasilitas fisik, seperti ruang kelas yang sempit atau kurangnya variasi media bermain, jumlah anak yang melebihi kapasitas sehingga guru kesulitan mengawasi interaksi, kurangnya pelatihan guru dalam pembelajaran social emosional, minimnya dukungan dari orang tua atau kurangnya kolaborasi antara keluarga dan sekolah, serta kebijakan lembaga yang belum memberikan perhatian cukup pada pentingnya stimulasi sosial- emosional. Gabungan antara faktor pendukung dan penghambat ini menentukan sejauh mana lingkungan belajar dapat secara optimal mengembangkan keterampilan sosial dan kemampuan pengendalian emosi anak.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, khususnya Fakultas Psikologi dan Ilmu Pendidikan (FPIP), serta program studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini.

Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada seluruh Dosen PG PAUD atas bimbingan dan arahan yang diberikan, serta kepada orang tua dan keluarga tercinta atas dukungan dan kehadirannya, kepada pihak TK Islam Al Wafa yang telah memberikan izin dan kerjasama, serta teman-teman yang selalu memberikan semangat. Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penelitian ini. Semoga segala kebaikan yang telah diberikan mendapatkan balasan yang terbaik.

References

[1] H. Apriyanti, “Parents’ Understanding of the Importance of Early Childhood Education,” Education Journal Journal of Education Research and Development, vol. 3, no. 1, pp. 13–18, 2019.

[2] F. Hidayah, “Optimization of Early Childhood Social Emotional Development in Group Learning,” Innovative Journal of Social Science Research, vol. 3, no. 5, pp. 7942–7956, 2023.

[3] Z. O. Luvita and A. Rahma, “Teachers’ Efforts to Improve Children’s Social Emotional Skills in Kindergarten,” Bunayya Journal of Early Childhood Education, vol. 11, no. 1, 2025.

[4] H. Khairi, “Characteristics of Early Childhood Development Aged 0–6 Years,” Warna, vol. 2, no. 2, pp. 15–28, 2018.

[5] H. N. Gymnastia et al., “Co-Parenting and Early Childhood Social Emotional Development,” Aulad Journal of Early Childhood, vol. 8, no. 1, pp. 525–541, 2025.

[6] F. Mayar, “Early Childhood Social Development as the Nation’s Foundation,” Al-Ta’lim Journal, vol. 20, no. 3, pp. 459–464, 2013.

[7] N. Nurhasanah et al., “Early Childhood Social and Emotional Development,” Mitra Ash-Shibyan Journal, vol. 4, no. 2, pp. 91–102, 2021.

[8] M. Y. Lubis, “Socio-Emotional Development in Early Childhood,” Journal of Early Childhood Education, vol. 2, no. 1, 2019.

[9] N. Mulyani, “Improving Early Childhood Social Emotional Development,” Raushan Fikr Student Journal, vol. 3, no. 1, pp. 133–147, 2017.

[10] S. A. Ummah and N. A. N. Fitri, “Family Environment and Early Childhood Social Emotional Development,” SELING Journal, vol. 6, no. 1, pp. 84–88, 2020.

[11] Sukatin et al., “Psychological Analysis of Early Childhood Social Emotional Development,” Bunayya Journal of Early Childhood Education, vol. 6, no. 2, pp. 156–171, 2019.

[12] N. A. Suryani, “Social Emotional Skills through Sensory Games,” Potensia Journal, vol. 4, no. 2, pp. 141–150, 2019.

[13] E. H. Mulyana et al., “Children’s Ability to Manage Emotions,” PAUD Agapedia Journal, vol. 1, no. 2, pp. 214–232, 2017.

[14] M. Sari and J. M. Sitepu, “Teacher Roles in Handling Temper Tantrums Using Time-Out Method,” Murhum Journal of Early Childhood Education, vol. 5, no. 1, pp. 230–241, 2024.

[15] H. Adelina et al., “Line-Up Activities for Social Emotional Skills Development,” Innovative Journal of Education, vol. 3, 2023.

[16] E. Ernilah et al., “Family and Peer Environment on Emotional Intelligence,” Kontekstual Journal, vol. 3, no. 2, pp. 158–166, 2022.

[17] A. L. Harianja et al., “Role Play to Improve Early Childhood Social Emotional Development,” Obsesi Journal of Early Childhood Education, vol. 7, no. 4, pp. 4871–4880, 2023.

[18] S. A. Rachman, “Providing a Conducive Learning Environment for Early Childhood,” Journal of Early Childhood Education, vol. 6, no. 3, 2020.

[19] R. Mariyana and O. Setiasih, “Integrated Learning Environment Arrangement for Multiple Intelligences,” Pedagogia, vol. 15, no. 3, p. 241, 2018.

[20] I. Irhamna and S. Purnama, “School Environment in Early Childhood Character Formation,” Journal of Early Childhood Education, vol. 11, no. 1, pp. 68–77, 2022.

[21] H. K. Rahmasari and L. I. Rocmah, “Arena Learning Model for Cognitive Ability in Kindergarten,” 2025.

[22] R. Lubis and K. Khadijah, “Traditional Games for Children’s Emotional Intelligence,” Al-Athfal Journal of Early Childhood Education, vol. 4, no. 2, pp. 177–186, 2018.

[23] E. M. Zulfah and N. K. Wardhani, “Caregiver Roles in Social Emotional Development in Orphanages,” Golden Age Journal, vol. 7, no. 2, pp. 266–275, 2023.

[24] A. H. Naba and N. Nirwana, “Roles of Teachers and Parents in Developing Children’s Social Emotional Skills,” Algazali International Journal of Education Research, vol. 4, no. 2, pp. 139–150, 2022.