Login
Section Philosophy. Psychology. Religion

Empathy and Prosocial Behavior Correlation Among Indonesian Junior High Students

Korelasi Antara Empati dan Perilaku Prosocial di Kalangan Siswa SMP Indonesia
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Safira Abadi (1), Nurfi Laili (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Adolescence is a critical developmental period marked by rapid social and emotional changes, during which prosocial behavior plays a central role in fostering harmonious interpersonal relationships and school climate. Specific Background: Prosocial tendencies among adolescents have shown signs of decline alongside increasing individualistic orientations, highlighting the importance of internal psychological factors such as empathy in guiding helping, sharing, cooperating, donating, and honesty. Knowledge Gap: Although previous studies report a positive association between empathy and prosocial conduct, limited empirical evidence exists within Islamic-based junior high school settings in Indonesia, particularly at SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Aims: This study examined the relationship between empathy and prosocial behavior among adolescents in this educational context. Results: Using a quantitative correlational design with stratified sampling of 221 students in grades VII–IX and Pearson correlation analysis, the findings revealed a positive and statistically significant association between empathy and prosocial behavior (r = 0.528; p < 0.05), indicating a moderate relationship in which higher empathy levels correspond with greater participation in helping-oriented actions. Novelty: The research provides context-specific evidence from an Islamic-based school environment, contributing localized insight into adolescent social development within formal education. Implications: Empathy can be considered a key psychological component—though not the sole determinant—supporting prosocial engagement, suggesting that character education programs should incorporate empathy development to foster cooperative and caring student interactions.


Highlights:




  • A moderate positive statistical association was identified between empathy and helping-oriented actions among students.




  • Participants with higher empathic disposition reported more frequent cooperation, sharing, and assistance toward others.




  • Emotional understanding alone did not fully account for behavioral outcomes, indicating additional contributing factors.




Keywords:

Empathy; Prosocial Behavior; Adolescents; Junior High School students; Correlational Study


 

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Masa remaja biasanya terjadi antara usia 13 dan 19 tahun, meskipun perbedaan individu mungkin ada dalam rentang ini. Pada masa remaja terjadi perubahan susunan fisik, emosional, sosial, dan kognitif seseorang. Remaja juga mencari lebih banyak kebebasan dan otonomi saat mereka berusaha memahami tempat mereka dalam keluarga dan masyarakat. Perkembangan ikatan sosial remaja yang lebih rumit dimulai selama masa remaja. Mereka mungkin mulai mencari identitas sosial mereka dan menunjukkan minat yang lebih besar pada teman sekelas mereka . Siswa SMP merupakan masa remaja awal (usia 12-15 tahun) merupakan fase penting dalam perkembangan sosial dan emosinal individu. Selain itu, remaja SMP masih dalam tahap pembentukan nilai moral dan karakter. Sejalan dengan itu, Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah tingkat dasar pendidikan formal di Indonesia. Kelas 7 hingga 9 merupakan tiga tahun masa belajar di SMP. Siswa akan belajar berbagai topik selama masa belajar di sekolah menengah pertama, termasuk kemampuan akademik dan non-akademik. Berada di bawah naungan organisasi Islam Muhammadiyah, SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo merupakan sekolah menengah pertama yang berlandaskan islam. Adapun visi dan misi SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo yang mendukung pencapaian karakter dan prestasi. Oleh karena itu, penelitian ini sejalan dengan visi dan misi SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo yaitu islami, cerdas dan berprestasi .

Eisenberg dan Mussen mengatakan bahwa perilaku prososial adalah ketika seseorang memilih untuk bertindak dengan cara yang membantu orang lain dan memberikan manfaat kepada mereka . Perkembangan harmoni dan perdamaian dalam hubungan sebagai hasil dari orang-orang yang membagikan cinta dan tidak merasa sendirian merupakan bukti bahwa perilaku prososial memiliki dampak positif pada kehidupan sosial. Siswa yang mampu membentuk hubungan dekat dengan orang-orang yang dikenal maupun tidak dikenal juga akan diuntungkan. Jika masalah ini tidak diatasi siswa mungkin kesulitan mengembangkan hubungan sosial yang sehat, berperilaku egois atau tidak normal, dan kurang mampu beradaptasi dengan situasi sosial di masa depan. Di sisi lain, perilaku prososial akan menumbuhkan lingkungan sekolah yang bahagia, kooperatif dan damai .

Terdapat beberapa aspek prososial seperti (a) Berbagi (sharing) adalah Memberikan kesempatan dan perhatian kepada orang lain untuk mengekspresikan emosi mereka. Perilaku ini menunjukkan kesiapan seseorang untuk berbagi pengalaman atau menerima kritik. (b) Bekerjasama (cooperative) adalah kemampuan untuk mencapai tujuan bersama. Perilaku kooperatif menunjukkan kesediaan untuk bekerja sama dengan orang lain guna mencapai tujuan. Dalam kebanyakan kasus, kerja sama menguntungkan kedua belah pihak dan saling membantu. (c) Berdonasi (donating) adalah Memberikan barang kepada seseorang yang membutuhkan dan memberikan dukungan dalam bentuk pikiran dan energi. Donasi dapat berupa bantuan materi yang berguna dan diperlukan atau dukungan moral bagi orang lain. (d) Menolong (helping) adalah tindakan meringankan beban tanggung jawab orang lain. Menggambarkan kesiapan seseorang untuk membantu orang lain yang sedang kesulitan atau dalam bahaya. Membantu, mendidik, dan memberikan bantuan kepada orang lain yang merupakan contoh-contoh dari perilaku menolong. (e) Kejujuran (honesty) adalah merespons keadaan yang sebenarnya. Perilaku ini menggambarkan kesiapan seseorang untuk mengikuti hati nurani dan bertindak serta berbicara dengan jujur ketika terjadi sesuatu yang salah .

Perilaku prososial dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor: (1) Pemerolehan diri (self gain), yaitu harapan untuk mendapatkan atau menghindari sesuatu, (2) Norma (personal value & norms), yaitu keberadaan norma sosial pada individu selama proses sosialisasi, dan beberapa norma dan nilai ini terkait dengan perilaku prososial, seperti menjaga keadilan dan kebenaran serta adanya standar timbal balik, (3) Empati (empathy), Kemampuan untuk berbagi emosi atau pengalaman orang lain dan pengambilan peran (role-taking) erat terkait dengan kemampuan ini . Perilaku prososial bertujuan untuk memberi manfaat bagi orang lain, karena kebahagiaan dan kesejahteraan mereka yang menerima bantuan akan meningkat. Perilaku prososial dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti panutan orang tua dan perbedaan individu terkait. Model generalisasi perilaku semacam itu akan digunakan untuk membantu mempelajari perilaku bermain yang dapat diterima dan tidak dapat diterima, beserta konsekuensi dari perilaku mereka. Berbagai lingkungan seperti teman, orangtua, saudara kandung, atau sekolah dapat memengaruhi perilaku prososial . Perilaku prososial dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti situasi, pemberi bantuan, dan orang yang membutuhkan bantuan . a) Situasi: Penelitian menunjukkan bahwa beberapa hal di lingkungan dapat memengaruhi pemberian bantuan. Misalnya, jika ada banyak orang di sekitar, setiap orang mungkin merasa kurang bertanggung jawab untuk membantu. Semakin banyak orang, semakin kecil kemungkinan setiap orang untuk bertindak. Terkadang, pemberi bantuan mungkin tidak yakin apakah bantuan mereka dibutuhkan, sehingga menimbulkan kebingungan. Mereka mungkin juga takut dihakimi oleh orang lain, yang dapat menghentikan mereka untuk membantu. b) Kondisi lingkungan: Cuaca juga dapat memengaruhi apakah seseorang membantu atau tidak. c) Tekanan waktu: Ketika orang sedang terburu-buru atau memiliki tenggat waktu, mereka cenderung kurang membantu b. Penolong: Beberapa orang akan membantu meskipun situasinya sulit, sementara yang lain tidak akan membantu meskipun mereka memiliki kesempatan .

Perilaku prososial mulai menurun akhir-akhir ini, terutama di kalangan remaja. Hal ini disebabkan karena anak muda saat ini mengembangkan pola pikir individualistis. Banyak anak zaman sekarang yang memiliki gaya hidup yang mencolok dan hedonis serta individualis, yang menyebabkan mereka hanya berfokus pada kesenangan mereka sendiri dan bukan pada kebutuhan orang lain. Remaja seharusnya senang terlibat dalam perilaku prososial, namun banyak remaja saat ini yang bertindak secara antisosial . Tingkat perilaku prososial cenderung menurun di kalangan remaja, menunjukkan kurangnya kompetensi sosial dibandingkan perilaku antisosial yang lebih banyak diteliti. Penelitian ini menyoroti pentingnya empati dalam membentuk perilaku prososial dan perlunya kajian lebih lanjut karena tingginya kasus perilaku negatif di lingkungan remaja . Perilaku prososial bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan orang lain . Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa remaja memiliki permasalahan dalam menunjukkan perilaku prososial. Remaja lebih cenderung membantu dan berbagi dengan teman dekat atau orang yang sudah mereka kenal, tetapi mereka tidak menunjukkan banyak kepedulian terhadap siswa yang tidak mereka kenal atau bukan bagian dari kelompok mereka. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku prososial bukanlah sesuatu yang dilakukan remaja secara konsisten dalam kehidupan sekolah sehari-hari mereka , , , .

Berdasarkan data survey awal yang dikumpulkan dari 30 siswa di SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Pada tingkat perilaku prososial siswa menggunakan skala perilaku prososial menurut Eisenberg dan Mussen, yang dimodifikasi Lestari. Ditemukan 21 dari 30 siswa tidak setuju jika mereka menolong teman yang sedih ketika mereka sedang sibuk. 18 dari 30 siswa tidak setuju jika mereka siap menerima peran yang kurang populer demi keberhasilan tim. 19 dari 30 siswa tidak setuju jika mereka bersedia memberi sebagian uang jajan jika ada teman yang sedang benar-benar perlu. Berdasarkan temuan awal tersebut ditemukan permasalahan perilaku prososial dari 30 siswa di SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Sebagian besar siswa tidak setuju dengan item-item dalam hal perilaku menolong, bekerjasama, dan berbagi (misalnya, membantu teman yang sedang kesulitan, melakukan sesuatu untuk tim alih-alih hanya menjaga popularitas, memberi uang saku kepada orang lain). Temuan ini menunjukkan bahwa diperlukan studi lebih lanjut untuk mengeksplorasi hubungan antara perilaku prososial dan empati pada remaja ini. Fenomena perilaku prososial ini menjadi perhatian khusus, terutama dalam konteks pendidikan formal yang juga mengemban misi pembentukan karakter. SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo memainkan peran penting dalam menumbuhkan perilaku prososial pada siswanya sebagai lembaga pendidikan yang didirikan berdasarkan prinsip-prinsip islam dan ajaran muhammadiyah. Memahami mekanisme perilaku prososial dalam lingkungan pendidikan ini sangat penting. Ironisnya, situasi ini bertentangan dengan esensi sosial dasar manusia. Manusia pada dasarnya adalah mahluk sosial, dan mereka tidak dapat bertahan hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Hal ini sejalan dengan pandangan Sears bahwa ada hubungan saling ketergantungan diantara manusia dan mereka tidak dapat hidup sendiri. Secara alamiah, sebuah hubungan tidak akan bisa ada tanpa bantuan orang lain. Orang bergantung pada orang lain untuk mendapatkan bantuan, dan sebaliknya. Tujuan dari bantuan tersebut adalah untuk menyelesaikan atau mengurangi masalah . Meskipun sebagian besar orang memiliki dorongan alami untuk membantu orang lain, tidak semua orang, terutama remaja, benar-benar menunjukkan perilaku membantu yang terbaik dalam kehidupan sehari-hari mereka. Ketika seseorang memasuki usia remaja, mereka mulai memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana berinteraksi dengan orang lain dan membentuk lingkaran sosial mereka sendiri. Selama masa ini, mereka belajar bagaimana bertindak dalam berbagai situasi sosial, membangun persahabatan yang langgeng dengan orang-orang di luar keluarga mereka, dan mempelajari aturan dan harapan apa yang penting bagi bagaimana mereka harus berperilaku .

Menurut Davis, empati berarti mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain dan juga mampu memahami sudut pandang mereka . Beberapa hal memengaruhi empati, seperti: (1) Keturunan: Elemen genetik yang ada sejak lahir mungkin memengaruhi empati. (2) Kondisi tertentu: adalah peristiwa yang dapat mendukung atau menghambat kemampuan seseorang untuk mengembangkan empati, seperti inisiatif sekolah yang menciptakan program pendidikan karakter. (3) Model orang tua: Cara orang tua menanamkan nilai-nilai menjadi “baik” dan mengutamakan orang lain di atas diri sendiri kepada anak-anak mereka . Ada tiga hal utama yang membuat seseorang merasakan empati. Pertama, orang lebih cenderung merasakan empati terhadap orang lain yang mirip dengan mereka. Kedua, orang cenderung lebih merasakan empati ketika masalah seseorang berasal dari hal-hal yang tidak dapat mereka kendalikan, seperti sakit atau mengalami kecelakaan, daripada dari hal-hal seperti tidak berusaha cukup keras. Ketiga, berfokus pada perasaan orang lain, alih-alih hanya melihat fakta, dapat membantu meningkatkan empati. Hal-hal yang memengaruhi empati. Salah satunya adalah sosialisasi. Sosialisasi dapat memengaruhi empati dalam lima cara berbeda. Pertama, melalui sosialisasi, seseorang dapat mengalami emosi orang lain karena mereka sendiri telah merasakan emosi tersebut. Kedua, sosialisasi dapat menempatkan seseorang dalam situasi di mana mereka belajar memahami apa yang dirasakan orang lain, yang membuat mereka lebih sadar dan berempati. Ketiga, sosialisasi membantu seseorang lebih memikirkan orang lain dan lebih memperhatikan mereka, yang meningkatkan kemampuan mereka untuk berempati. Keempat, hal itu membuat seseorang lebih bersedia mempertimbangkan kebutuhan orang lain daripada hanya kebutuhan mereka sendiri, yang membuat mereka lebih berempati. Terakhir, dengan menunjukkan kepada orang lain bagaimana berperilaku baik, sosialisasi tidak hanya dapat mendorong perilaku baik tetapi juga membantu seseorang mengembangkan perasaan simpati. B. Ketika orang tua memperhatikan, memberi dorongan, memahami perasaan dan perilaku anak-anak mereka, dan menunjukkan empati, anak-anak mereka lebih cenderung merasakan empati terhadap orang lain dan menanggapi kesedihan mereka dengan cara yang penuh perhatian. C. Seiring dengan berkembangnya kemampuan berpikir seseorang, demikian pula kemampuan mereka untuk memahami perspektif orang lain. Hal ini membantu orang untuk membantu orang lain dengan cara yang lebih baik dan lebih tepat. D. Cara orang menunjukkan empati juga dapat dipengaruhi oleh bagaimana mereka melihat orang lain menghadapi kesulitan. E. Ketika seseorang dalam suasana hati yang baik, mereka lebih mampu terhubung dengan orang lain, berinteraksi lebih baik, dan memahami situasi orang lain. F. Dalam beberapa situasi, orang lebih baik dalam memahami perasaan orang lain daripada dalam situasi lainnya. G. Bahasa memainkan peran besar dalam empati karena orang dapat menunjukkan empati melalui apa yang mereka katakan dan bagaimana mereka mengekspresikan diri, baik melalui kata-kata maupun tanpa kata-kata

Pelatihan dan pengembangan empati sebaiknya dimulai sejak dini karena pentingnya empati dalam hubungan antarpersonal. Saat berinteraksi dengan orang lain, seseorang harus memperhatikan mereka. Hal ini akan mendorong perkembangan perspektif positif . Empati memungkinkan seseorang untuk memahami kebutuhan, keinginan, dan tujuan orang lain serta kegembiraan, frustasi, kesedihan, dan penderitaan mereka. Orang yang empati dapat menurunkan tingkat stres psikologis mereka dan memiliki interaksi yang baik dengan orang lain. Selain itu, mereka akan mampu berpikir. merasakan, dan memahami situasi orang lain . Menurut Beadle dan Bvega Ada dua jenis empati: (1) empati kognitif, yaitu kemampuan untuk memahami sudut pandang orang lain, dan (2) empati emosional, yaitu kemampuan untuk merasakan simpati terhadap orang lain. Empati emosional mencegah seseorang merasakan reaksi emosional terhadap emosi yang diungkapkan oleh orang lain, tetapi empati kognitif memungkinkan seseorang untuk mengidentifikasi berbagai keadaan emosional pada orang lain .

Menurut Davis, dimensi empati terdiri dari empat komponen: a. Dimensi kogntif, (1) aspek perspective taking, adalah kecenderungan seseorang untuk secara alami mengadopsi sudut pandang orang lain. Derajat di mana seseorang dapat memahami suatu peristiwa dari sudut pandang orang lain akan diukur oleh indikator ini. (2) Aspek fantasy sangat mungkin untuk meniru emosi dan perilaku karakter fiktif yang terlihat dalam buku, novel, film, video game, dan media lainnya. Indikator ini mengungkapkan kecenderungan seseorang untuk meniru perasaan dan perilaku orang lain. b. Dimensi afektif, (1) Aspek empathic concern, Kecenderungan terhadap pengalaman yang terkait dengan “kasih sayang” dan kepedulian terhadap penderitaan orang lain dikenal sebagai aspek kepedulian empati. (2) Aspek personal distress merupakan masalah etika ketika seseorang melihat orang lain mengalami pengalaman emosional yang menyakitkan dan membuatnya merasa tidak nyaman .

Menurut Istiana perilaku prososial dan empati saling terkait. Beberapa perilaku prososial didorong semata-mata oleh keinginan altruistik untuk membantu, yang dapat begitu besar sehingga orang siap memberikan bantuan melakukan tindakan yang tidak menyenangkan, berbahaya, bahkan mematikan. empati memungkinkan orang untuk merasakan perasaan mereka yang membutuhkan bantuan, yang memotivasi mereka untuk mengambil tindakan yang membantu. Hal ini menunjukkan betapa besar pengaruh empati terhadap perilaku prososial . Empati tampaknya berhubungan dengan bagaimana orang bertindak dalam prososial. Hal ini terkait dengan kemampuan seseorang untuk menunjukkan emosi mereka, sehingga tingkat empati seseorang dapat dilihat dari seberapa baik mereka memahami emosi, mengekspresikannya, dan menempatkan diri mereka pada posisi orang lain. Singkatnya, empati mengacu pada seberapa banyak seseorang mewujudkan pemikiran sosial mereka dalam tindakan mereka . Menurut Myers, empati adalah "merasakan apa yang dirasakan orang lain, seolah-olah Anda berada di tempat mereka," yang berarti mengalami emosi orang lain seolah-olah itu adalah emosi anda sendiri . Sears berpendapat bahwa ada faktor internal yang memengaruhi mengapa seseorang membantu orang lain, seperti kepribadian, suasana hati, bagaimana perasaan mereka tentang diri mereka sendiri, dan tingkat empati mereka . Menurut penelitian yang dilakukan di SMP Boyolali, perilaku prososial dan empati memiliki hubungan positif yang signifikan. Penelitian ini sangat penting untuk memahami dinamika hubungan antara empati dan perilaku prososial, serta untuk mengidentifikasi faktor lain yang mungkin mempengaruhi perilaku prososial pada remaja . Empati dan perilaku prososial pada remaja ditemukan memiliki korelasi positif yang signifikan dalam penelitian di SMP Negeri 1 Salapian .

Studi di SMP Negeri 1 hinai menemukan adanya hubungan positif yang kuat antara empati dan perilaku prososial pada remaja. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa siswa dengan tingkat empati yang lebih tinggi cenderung berperilaku prososial . Temuan ini sejalan dengan penelitian Thompson dan Gullone yang juga menemukan hubungan positif yang kuat antara empati dan perilaku prososial . Penelitian lain yang dilakukan oleh Lesmono & Berta pada para saksi yang membantu korban perundungan menunjukkan adanya korelasi positif antara empati dan perilaku prososial . Begitu pula penelitian Anjani pada siswa sekolah kejuruan swasta di Surabaya, yang menemukan adanya hubungan signifikan antara empati serta prososial. . Pohan mengatakan bahwa tindakan prososial berasal dari empati yang tinggi. Ia juga menyebutkan bahwa perilaku membantu dapat didorong dalam lingkungan di mana terdapat cukup perilaku prososial . Asih dan Pratiwi melakukan penelitian tentang perilaku prososial, dengan fokus pada hubungan antara perkembangan emosional dan empati. Penelitian mereka menemukan bahwa perilaku prososial, perkembangan emosional, dan empati saling terkait erat dan memiliki hubungan positif yang kuat .

Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, jelas bahwa perilaku prososial dan empati saling terkait secara positif. Banyak peneliti telah menemukan hubungan yang kuat antara keduanya, seperti Thompson, dan Gullone, Lesmono dan Berta, serta Anjani. Semua penelitian ini menunjukkan bahwa empati memainkan peran besar dalam memotivasi orang untuk berperilaku prososial. Oleh karena itu, tujuan utama penelitian adalah untuk menyelidiki lebih lanjut apakah empati berkorelasi dengan perilaku prososial di kalangan remaja di SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo secara mendalam. Penelitian ini akan menyelidiki tingkat empati di kalangan siswa dan mengeksplorasi hubungannya dengan perilaku prososial mereka. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk menguji validitas empati dan perilaku prososial sebagai penanda hubungan yang kuat dan menganalisis potensi hubungan antara keduanya dengan menguji adanya hubungan positif yang signifikan. Untuk memahami lebih baik bagaimana siswa berinteraksi dan berperilaku di sekolah, penelitian ini juga bertujuan mendorong lebih banyak tindakan prososial di kalangan remaja. Penelitian ini berbeda dari yang lain karena dilakukan di SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo, sebuah sekolah islam yang memasukkan nilai-nilai agama dalam pendidikan karakternya, yang memberikan kesempatan khusus untuk mengamati hubungan antara empati dan perilaku prososial.

Metode

A. Desain Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif korelasional. Menurut Sugiyono penelitian kuantitatif didasarkan pada filsafat positivisme dan digunakan untuk mempelajari kelompok atau sampel tertentu dengan menggunakan seleksi acak. Data dikumpulkan melalui alat-alat dan dianalisis menggunakan metode statistik . Penelitian korelasi mempelajari hubungan antara dua atau lebih variabel tanpa mengubahnya . Variabel penelitian dalam penelitian ini yaitu perilaku prososial sebagai variabel terikat dan empati sebagai variabel bebas.

B. Definisi Operasional Variabel Penelitian

Menurut Eisenberg dan Mussen perilaku prososial adalah ketika seseorang memilih untuk bertindak dengan cara yang membantu orang lain dan memberikan manfaat kepada mereka . Sedangkan empati, menurut Davis empati berarti mampu merasakan apa yang dirasakan orang lain dan juga mampu memahami sudut pandang mereka .

C. Alat Ukur Penelitian

Dalam penelitian ini, perilaku prososial diukur menggunakan skala prososial yang dikembangkan oleh Eisenberg & Mussen, kemudian dimodifikasi oleh Lestari. Untuk mengukur variabel independen, empati, digunakan skala IRI (Interpersonal Reactivity Index) yang dikembangkan oleh Davis, kemudian dimodifikasi oleh Lestari. Skala prososial memiliki 39 item valid dari total 50 item asli. Skala empati memiliki 22 item valid dari 26 item asli. Uji reliabilitas menggunakan metode Cronbach’s Alpha menunjukkan skor 0,905 untuk skala perilaku prososial dan 0,938 untuk skala empati . Penelitian ini juga menggunakan skala likert. Ini adalah jenis skala yang sering digunakan dalam kuesioner dan sangat umum dalam survei. Ada dua jenis pertanyaan yang menggunakan skala ini: pertanyaan positif, yang mengukur seberapa setuju seseorang dengan sesuatu, dan pertanyaan negatif, yang mengukur seberapa tidak setuju seseorang. Untuk pertanyaan positif, skornya adalah 4, 3, 2, 1, sedangkan untuk pertanyaan negatif, skornya adalah 1, 2, 3, 4. Jawaban pada skala likert adalah sangat setuju, setuju, tidak setuju dan sangat tidak setuju .

D. Partisipan

Populasi penelitian ini adalah siswa-siswi dari SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo yang berjumlah 576 siswa. Peneliti menggunakan tabel khusus yang dibuat oleh Isaac dan Michael untuk menentukan jumlah siswa yang akan diikut sertakan dengan kesalahan 5%. Maka sampel terdiri dari 221 siswa dari sekolah tersebut, yang tersebar di kelas VII, VIII, dan IX .

E. Teknik pengambilan Data

Teknik sampling penelitian ini menggunakan metode stratified sampling. Dalam pendekatan ini, populasi terdiri dari kelompok-kelompok atau tingkatan yang berbeda . Untuk penelitian ini, kelompok-kelompok tersebut adalah siswa kelas VII, VIII, IX di SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah melalui kuesioner. Kuisioner adalah metode di mana responden diberikan daftar pertanyaan untuk dijawab .

F. Analisis Data

Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji normalitas, uji linearitas dan juga menggunakan korelasi Pearson untuk mengetahui seberapa kuat empati terkait dengan perilaku prososial. Semua analisis dilakukan menggunakan software SPSS.

Hasil dan Pembahasan

A. Hasil

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara empati dan perilaku prososial pada remaja di SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Data diawali dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk memahami karakteristik utama dari setiap variabel. Meliputi penentuan nilai terendah dan tertinggi, rata-rata, serta sebaran angka untuk empati dan perilaku prososial. Sebelum melakukan uji korelasi pearson, beberapa pemeriksaan dilakukan untuk memastikan data memenuhi syarat yang diperlukan, seperti memeriksa apakah data mengikuti distribusi normal dan apakah terdapat hubungan linier. Setelah semua syarat terpenuhi, analisis korelasi dilakukan untuk melihat apakah dan seberapa kuat hubungan antara empati dan perilaku prososial. Temuan dari data yang diolah menggunakan SPSS dijelaskan di bawah ini.

Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Empati 221 45 76 60.69 4.881
Perilaku Prososial 221 85 156 117.88 14.039
Valid N (listwise) 221
Table 1. Statistik Deskriptif

Berdasarkan hasil analisis tabel 1 diatas, variabel empati memiliki nilai rata-rata sebesar 60,69, dengan skor terendah 45 dan skor tertinggi 76. Nilai standar deviasi 4,88 menunjukkan bahwa data empati individu kurang tersebar dan berada di sekitar pengukuran rata-rata. Skor rata-rata untuk prososial adalah 117,88 (minimum 85, maksimum 156). Skor bervariasi lebih banyak di antara responden dibandingkan dengan variabel empati (deviasi standar 14,04). Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa empati dan prososial siswa sangat bervariasi.

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Empati Perilaku Prososial
N 221 221
Normal Parametersa,b Mean 60.69 117.88
Std. Deviation 4.881 14.039
Most Extreme Differences Absolute .060 .059
Positive .060 .059
Negative -.059 -.028
Test Statistic .060 .059
Asymp. Sig. (2-tailed) .055c .061c
a. Test distribution is Normal.
Table 2. Uji Normalitas

Berdasarkan hasil analisis tabel 2 diatas, nilai uji signifikansi untuk variabel empati adalah 0,055 dan untuk variabel perilaku prososial adalah 0,061. Karena kedua nilai signifikansi tersebut lebih besar dari 0,05 hal ini berarti data untuk empati dan perilaku prososial mengikuti distribusi normal. Karena asumsi normalitas terpenuhi, data dalam penelitian ini cocok untuk analisis statistik parametrik, khususnya uji korelasi pearson.

ANOVA Table
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Perilaku Prososial * Empati Between Groups (Combined) 14932.648 26 574.333 3.919 .000
Linearity 12109.761 1 12109.761 82.637 .000
Deviation from Linearity 2822.887 25 112.915 .771 .776
Within Groups 28429.054 194 146.542
Total 43361.701 220
Table 3. Uji Linearitas

Berdasarkan hasil analisis tabel 3 diatas, nilai Deviation from Linearity signifikansi untuk penyimpangan dari linearitas adalah 0,776. Karena nilai ini lebih besar dari 0,05, hal ini menunjukkan bahwa hubungan antara empati dan perilaku prososial bersifat linear. Artinya, asumsi linearitas terpenuhi, dan data siap untuk dianalisis lebih lanjut menggunakan uji korelasi pearson.

Correlations
Empati Perilaku Prososial
Empati Pearson Correlation 1 .528**
Sig. (2-tailed) .000
N 221 221
Perilaku Prososial Pearson Correlation .528** 1
Sig. (2-tailed) .000
N 221 221
**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).
Table 4. Uji Korelasi Pearson

Berdasarkan hasil analisis tabel 4 diatas, menunjukkan bahwa nilai p adalah 0,000, yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti H0 ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian, jelas bahwa terdapat hubungan antara empati dan perilaku prososial pada siswa SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Nilai Korelasi sebesar 0,528 termasuk dalam kategori sedang dengan arah hubungan positif, menurut nilai 0,528. Empati berhubungan positif dengan perilaku prososial seperti menolong, bekerjasama, berdonasi, menolong dan kejujuran di antara siswa. Perilaku prososial dipengaruhi oleh empati dengan terdapat kategori sedang dengan arah hubungan positif diantara keduanya. Selain empati, perilaku prososial dapat dibentuk oleh banyak faktor lain seperti pemerolehan diri, norma, dan faktor lingkungan seperti orang tua, teman, dan sekolah. Hal ini berarti bahwa seiring dengan meningkatnya tingkat empati siswa, tingkat perilaku prososial mereka juga cenderung meningkat.

B. Pembahasan

Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara empati dan perilaku prososial di kalangan siswa SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa yang memiliki tingkat empati yang lebih tinggi cenderung menunjukkan perilaku prososial yang baik, seperti menolong, bekerjasama, berdonasi, menolong dan kejujuran kepada orang lain. Sebaliknya, siswa dengan disposisi empati yang lebih rendah lebih jarang terlibat dalam kehidupan sosial sehari-hari mereka. Korelasinya adalah 0,528 menunjukkan bahwa hubungan antara empati dan perilaku prososial sedang dengan arah hubungan positif. Hubungan antara empati dan perilaku prososial pada kategori sedang, yang berarti empati penting tetapi bukan satu-satunya hal yang memengaruhi bagaimana remaja bertindak prososial. Empati dimulai sebagai proses mental di mana orang dapat memahami dan berbagi perasaan orang lain. Namun, perasaan batin ini membutuhkan bantuan dari situasi dan orang-orang di sekitar mereka untuk berubah menjadi tindakan nyata. Bahkan jika seorang remaja memiliki empati yang tinggi, mereka mungkin tidak selalu bertindak baik jika kelompok tempat mereka berada, tekanan dari teman, atau lingkungan di sekitar mereka tidak mendukung tindakan baik. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Eisenberg dan Mussen, bahwa perilaku prososial dibentuk oleh lebih dari sekadar empati perilaku tersebut juga bergantung pada aturan sosial, keyakinan pribadi, dan lingkungan .

Ini menyiratkan bahwa semakin besar empati, semakin besar kemungkinan seseorang untuk melakukan perilaku prososial. Hal ini konsisten dengan gagasan bahwa empati merupakan kemampuan untuk merasakan, berpikir, dan memahami keadaaan orang lain dari sudut pandang orang tersebut, yang memungkinkan seseorang untuk sepenuhnya memahami dan mengalami apa yang dirasakan dan dipikirkan oleh orang lain. Ketika siswa mampu memahami perasaan dan mengalami yang dirasakan orang lain, mereka cenderung terdorong untuk menunjukkan perilaku prososial. Statistik deskriptif menunjukkan bahwa empati yang nilai standar deviasinya lebih rendah menunjukkan jika tingkat empati siswa secara umum kurang tersebar. Di sisi lain, perilaku prososial memiliki variansi yang lebih beragam, terbukti dari standar deviasi yang lebih tinggi, yang menunjukkan bahwa perilaku prososial responden bervariasi. Ini berarti bahwa sebagian besar siswa memiliki tingkat empati yang kurang lebih sama, tetapi bagaimana dan dalam keadaan apa mereka mengekpresikannya dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti lingkungan sosial mereka atau bagaimana berbagai hal tampak normal bagi mereka. Dengan kata lain, seorang siswa bisa saja memiliki empati, tetapi belum tentu selalu mengekspresikannya dalam bentuk perilaku prososial. Artinya, empati tidak otomatis langsung diwujudkan dalam perilaku prososial, karena masih dipengaruhi faktor lain seperti pemerolehan diri, norma, dan faktor lingkungan seperti orang tua, teman, dan sekolah

Temuan penelitian ini konsisten dengan penelitian Rianggareni yang menemukan hubungan antara empati dan perilaku prososial pada siswa SMP di Boyolali. Menurut penelitian tersebut, remaja yang dapat memahami dan merasakan emosi orang lain lebih cenderung berperilaku prososial dan berkolaborasi dengan teman sebaya mereka. Asumsi bahwa empati merupakan dasar penting untuk mendorong pembentukan perilaku prososial pada masa remaja awal diperkuat oleh hasil yang serupa ini . Selain itu, temuan Suri tentang siswa di SMP Negeri 1 Hinai, yang menunjukkan bahwa siswa dengan empati tinggi cenderung menunjukkan perilaku prososial yang lebih baik daripada siswa dengan empati rendah, didukung oleh hasil penelitian ini. Penelitian ini menunjukkan bahwa empati berfungsi sebagai proses psikologis yang memotivasi orang untuk bereaksi secara positif terhadap kebutuhan dan tantangan orang lain. Dengan demikian, temuan penelitian ini mendukung kesimpulan yang berulang bahwa, dalam konteks sekolah menengah pertama, empati memainkan peran utama dalam perilaku prososial . Hasil ini juga sejalan dengan penelitian Bangun yang dilakukan di SMP Negeri 1 Salapian, yang menemukan bahwa perilaku prososial pada remaja dipengaruhi secara positif oleh empati. Menurut temuan penelitian tersebut, siswa yang mampu memahami pikiran dan emosi orang lain lebih mungkin terinspirasi untuk menunjukkan kepedulian sosial dan sikap membantu. Kesamaan temuan ini di berbagai konteks sekolah menunjukkan bahwa perilaku prososial dan empati saling terkait di kalangan remaja, bahkan di lingkungan pendidikan yang beragam . Karena dilakukan di SMP Muhammadiyah 1 di Sidoarjo, sebuah sekolah yang memprioritaskan nilai-nilai islam dan pendidikan karakter, penelitian ini memiliki konteks khusus. Dalam hal ini, perilaku prososial dan empati sejalan dengan ajaran islam, yang sangat menekankan pentingnya saling membantu, peduli terhadap orang lain, dan menjaga keharmonisan sosial. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa menumbuhkan empati melalui pengajaran di kelas, teladan guru, dan kegiatan sosial serta keagamaan di sekolah dapat menjadi strategi yang bermanfaat untuk meningkatkan perilaku prososial siswa. Maka dari itu, hasil penelitian saya tidak hanya menguatkan penelitian lain tetapi juga memperdalam pemahaman kita tentang pentingnya empati dalam lingkungan sekolah dengan komponen keagamaan yang kuat.

Selain menunjukkan hubungan positif, hasil penelitian juga menunjukkan bagaimana empati dan perilaku prososial saling berkaitan. Davis mengatakan bahwa empati bukan hanya tentang memahami sudut pandang orang lain, tetapi juga tentang merasakan kepedulian terhadap emosi mereka . Hal ini terlihat pada siswa di SMP Muhammadiyah 1 di Sidoarjo, di mana empati dimulai sebagai proses mental yang membantu siswa memahami perasaan orang lain, yang kemudian dapat mendorong mereka untuk bertindak secara prososial. Namun, hasil statistik menunjukkan bahwa meskipun tingkat empati siswa serupa, tindakan prososial mereka berbeda. Ini berarti bahwa mengubah empati menjadi tindakan nyata tidak selalu terjadi secara langsung. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Eisenberg dan Mussen, bahwa perilaku prososial dipengaruhi oleh lebih dari sekadar empati, seperti aturan sosial, keyakinan pribadi, dan situasi atau lingkungan di sekitar mereka . Jadi, empati merupakan bagian penting dalam mengembangkan perilaku prososial, seperti membantu, berbagi, dan bekerja sama. Namun seberapa banyak orang benar-benar menunjukkan perilaku ini sangat bergantung pada situasi sosial yang mereka alami. Ini termasuk hal-hal seperti apa yang dipikirkan teman-teman mereka, nilai-nilai yang penting di sekolah, dan cara mereka belajar dari dunia di sekitar mereka Hal ini membantu menjelaskan mengapa empati merupakan bagian penting dari perilaku prososial, tetapi bukan satu-satunya hal yang menentukannya. Pada remaja, perilaku prososial tumbuh dari cara empati mereka bekerja dengan lingkungan sosial tempat mereka berada.

Meskipun hasil penelitian ini signifikan, terdapat sejumlah keterbatasan. Pertama, fakta bahwa penelitian ini menggunakan pendekatan korelasional berarti kita tidak dapat menjelaskan bagaimana hubungan antara perilaku prososial dan empati secara sebab akibat. Kedua, semua data dalam penelitian ini dikumpulkan melalui kuesioner laporan diri, Tingkat respons bergantung pada kejujuran individu dan estimasi subjektif. Hal ini dapat menyebabkan bias keinginan sosial, yaitu ketika orang memberikan jawaban yang baik atau yang sesuai dengam apa yang dipikirkan mereka. Ketiga, hasil ini tidak dapat digeneralisasikan kepada remaja dengan latar belakang pendidikan dan budaya yang berbeda karena keterbatasan cakupan siswa di SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo. Untuk mencapai gambaran yang lebih komprehensif dan objektif di masa mendatang, metodologi yang lebih beragam dapat dilengkapi dengan menggunakan survey penguasaan dengan studi perilaku observasional atau laporan guru, dan juga menyertakan anggota dari jenis sekolah lain.

Simpulan

Berdasarkan hasil analisa data penelitian, perilaku prososial dan empati berkorelasi positif dan signifikan pada siswa SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo mendukung kesimpulan ini dengan menunjukkan bahwa skor perilaku prososial meningkat seiring dengan tingkat empati. Menurut hasil skala perilaku prososial, siswa dengan tingkat empati yang lebih tinggi, sebagaimana ditunjukkan oleh skor skala empati, menunjukkan perilaku prososial yang lebih baik. Statistik deskriptif menunjukkan tingkat empati siswa secara umum kurang lebih sama (deviasi standar rendah) disekitar pengukuran rata-rata. Hal ini menunjukkan bahwa variasi tingkat empati siswa kurang tersebar. Perilaku prososial, sebaliknya memiliki rentang variasi ekstrem yang lebih besar seperti yang ditunjukkan oleh deviasi standar yang tinggi. Hasil ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar siswa memiliki tingkat empati yang hampir sama, tindakan prososial mereka di sekolah dapat berbeda dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa memiliki empati tidak selalu secara langsung terwujud dalam perilaku prososial.

Ucapan Terima Kasih

Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo atas izin penelitian ini dan atas dukungan mereka yang membantu memungkinkan penelitian ini. Terimakasih juga kepada semua siswa yang berpartisipasi dan membantu menyelesaikan penelitian.

References

[1] A. Mahesha, D. Anggraeni, and M. I. Adriansyah, “Mengungkap Kenakalan Remaja: Penyebab, Dampak, Dan Solusi,” PRIMER: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, vol. 2, no. 1, pp. 16–26, Feb. 2024, doi: 10.55681/primer.v2i1.278.

[2] Z. T. Baqy and M. Wardhana, “Redesain SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo Dengan Nuansa Modern Yang Menjunjung Unsur Kemuhammadiyahan,” Jurnal Sains Dan Seni ITS, vol. 9, no. 2, 2020.

[3] N. Eisenberg and P. H. Mussen, The Roots Of Prosocial Behavior In Children. Cambridge, U.K.: Cambridge University Press, 1989, doi: 10.1017/CBO9780511571121.

[4] Y. Mulyawati, A. Marini, and M. Nafiah, “Pengaruh Empati Terhadap Perilaku Prososial Peserta Didik Sekolah Dasar,” 2022.

[5] I. Lestari, “Hubungan Antara Empati Dengan Perilaku Prososial Pada Remaja Awal,” Undergraduate Thesis, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, 2025.

[6] H. El Majid, “Pengaruh Empati Terhadap Perilaku Prososial Remaja Di Kota Makassar,” Thesis, Makassar, 2022.

[7] M. Misbahudholam AR and F. Hardiansyah, “Prosocial Behavior Of Elementary School Students Based On Gender Differences In Society 5.0,” Journal Of Innovation In Educational And Cultural Research, vol. 3, no. 3, pp. 390–396, Apr. 2022, doi: 10.46843/jiecr.v3i3.121.

[8] D. O. Sears, J. L. Freedman, and L. A. Peplau, Psikologi Sosial, 2nd ed. Jakarta: Erlangga, 1991.

[9] N. Husniah, “Hubungan Empati Dengan Perilaku Prososial,” Undergraduate Thesis, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, 2016.

[10] W. Santosa, “Hubungan Empati Dengan Prososial Pada Remaja,” Thesis, Purwokerto, 2022.

[11] H. A. Akhzalini, “Kontribusi Empati Bagi Perilaku Prososial Pada Remaja,” Jurnal Kajian Keislaman, vol. 2, no. 1, pp. 60–67, May 2024.

[12] O. R. Rianggareni, “Hubungan Antara Empati Dan Perilaku Prososial Pada Remaja Di SMP N 5 Boyolali,” Undergraduate Thesis, Salatiga, 2015.

[13] C. Bangun, “Pengaruh Empati Terhadap Perilaku Prososial Remaja Di SMP Negeri 1 Salapian,” Thesis, Medan, 2024.

[14] A. Suri, “Hubungan Empati Dengan Perilaku Prososial Pada Siswa SMP Negeri 1 Hinai,” Thesis, 2023.

[15] A. M. Fadli, “Hubungan Antara Empati Dengan Perilaku Prososial Pada Siswa SMK Antartika 1 Sidoarjo,” vol. 7, pp. 1–6, Dec. 2022.

[16] F. N. Pohan and D. P. Harahap, “Hubungan Antara Empati Dengan Perilaku Prososial Pada Bystander Remaja Di SMA Negeri 2 Kisaran,” INNOVATIVE: Journal Of Social Science Research, vol. 4, no. 6, pp. 1679–1689, 2024.

[17] M. H. Davis, “A Multidimensional Approach To Individual Differences In Empathy,” JSAS Catalog Of Selected Documents In Psychology, 1980.

[18] Ifdil et al., “Kondisi Empati Mahasiswa Program Studi Bimbingan Dan Konseling Perguruan Tinggi X,” 2014.

[19] Y. I. Bilgis, “Perbedaan Tingkat Empati Pada Remaja Akhir Ditinjau Dari Keaktifan Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan,” Undergraduate Thesis, Universitas Islam Negeri Malang, 2007.

[20] F. Sukmawati, “Bullying Di Media Sosial: Potret Memudarnya Empati,” 2017.

[21] S. J. Sudirman, “Dinamika Empati Pada Remaja Yang Kecanduan Gadget,” Undergraduate Thesis, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2019.

[22] J. N. Beadle and C. E. De La Vega, “Impact Of Aging On Empathy: Review Of Psychological And Neural Mechanisms,” Frontiers In Psychiatry, 2019, doi: 10.3389/fpsyt.2019.00331.

[23] M. H. Davis, “A Multidimensional Approach To Individual Differences In Empathy,” 1980.

[24] Istiana, “Hubungan Empati Dengan Perilaku Prososial Pada Relawan KSR PMI Kota Medan,” Thesis, 2016.

[25] D. G. Myers, Social Psychology, 10th ed. New York, NY, USA: McGraw-Hill, 2010.

[26] K. L. Thompson and E. Gullone, “Prosocial And Antisocial Behaviors In Adolescents: An Investigation Into Associations With Attachment And Empathy,” Anthrozoos, vol. 21, no. 2, pp. 123–127, Jun. 2008, doi: 10.2752/175303708X305774.

[27] P. Lesmono and B. E. A. Prasetya, “Hubungan Antara Empati Dengan Perilaku Prososial Pada Bystander Untuk Menolong Korban Bullying,” 2020.

[28] K. Y. Anjani, “Hubungan Antara Empati Dengan Perilaku Prososial Pada Siswa SMK Swasta X Di Surabaya,” 2018.

[29] G. Y. Asih and M. M. S. Pratiwi, “Perilaku Prososial Ditinjau Dari Empati Dan Kematangan Emosi,” Jurnal Psikologi Universitas Muria Kudus, vol. 1, no. 1, pp. 33–42, Dec. 2010.

[30] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2013.

[31] M. Waruwu, S. N. Pu’at, P. R. Utami, E. Yanti, and M. Rusydiana, “Metode Penelitian Kuantitatif: Konsep, Jenis, Tahapan Dan Kelebihan,” Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, vol. 10, no. 1, pp. 917–932, Feb. 2025, doi: 10.29303/jipp.v10i1.3057.

[32] D. Taluke, R. S. M. Lakat, and A. Sembel, “Analisis Preferensi Masyarakat Dalam Pengelolaan Ekosistem Mangrove Di Pesisir Pantai Kecamatan Loloda Kabupaten Halmahera Barat,” Jurnal Spasial, vol. 6, no. 2, pp. 531–540, 2019.

[33] N. F. Amin, S. Garancang, and K. Abunawas, “Konsep Umum Populasi Dan Sampel Dalam Penelitian,” Jurnal Kajian Islam Kontemporer, vol. 14, no. 1, pp. 15–31, Jun. 2023.

[34] P. K. Arieska and N. Herdiani, “Pemilihan Teknik Sampling Berdasarkan Perhitungan Efisiensi Relatif,” 2018.

[35] J. Ani, B. Lumanauw, and J. L. A. Tampenawas, “Pengaruh Citra Merek, Promosi Dan Kualitas Layanan Terhadap Keputusan Pembelian Konsumen Pada E-Commerce Tokopedia Di Kota Manado,” Jurnal EMBA, vol. 9, no. 2, pp. 663–674, Apr. 2021.