Login
Section Philosophy. Psychology. Religion

Authoritative Parenting and Emotional Intelligence Predict Learning Independence

Pendidikan Orang Tua yang Otoritatif dan Kecerdasan Emosional Memprediksi Kemandirian Belajar
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Faradiba Faradiba (1), Dwi Nastiti (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo , Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Learning independence represents a core dimension of student self-regulated learning and is widely recognized as a prerequisite for academic success in secondary education. Specific Background: Empirical observations at SMPN 2 Tanggulangin revealed that a considerable proportion of students demonstrated moderate to low levels of learning independence, reflected in discipline, responsibility, initiative, and self-confidence indicators. Authoritative parenting and emotional intelligence have been identified in developmental psychology as key contextual and internal determinants associated with adaptive academic behavior. Knowledge Gap: Previous studies have predominantly examined these variables separately, leaving limited evidence regarding their simultaneous contribution to learning independence among junior high school students. Aims: This quantitative correlational study aimed to examine the simultaneous and partial relationships of authoritative parenting and emotional intelligence with students’ learning independence. Results: Data from 227 students analyzed using multiple linear regression indicated a significant simultaneous relationship (F = 55.461, p < 0.05), with both predictors showing significant partial coefficients. Emotional intelligence demonstrated a stronger standardized coefficient (β = 0.400) than authoritative parenting (β = 0.280). The model accounted for 33.1% of the variance in learning independence. Novelty: This study integrates family parenting style and emotional intelligence within a single regression framework in the context of Indonesian junior high school students. Implications: The findings underscore the importance of structured parenting practices and emotional regulation competencies in fostering autonomous learning behaviors, informing school-based counseling programs and parent education initiatives.


Highlights:




  • Simultaneous regression analysis confirmed both predictors jointly explained 33.1% of variance in student autonomy.




  • Emotional regulation capacity showed the strongest statistical coefficient among examined variables.




  • Most participants were classified in the moderate category of self-directed academic behavior.




Keywords:
Authoritative Parenting; Emotional Intelligence; Learning Independence; Multiple Linear Regression; Junior High School Students

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Seorang tokoh terkenal dalam dunia pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara, berpendapat bahwa pendidikan harus mampu membebaskan individu dari keterbatasan pemahaman dan ketergantungan, Ia menekankan bahwa pendidikan seharusnya membekali siswa dengan keterampilan yang diperlukan untuk mandiri, tidak bergantung pada orang lain, dan mengelola hidup mereka sendiri . Kemandirian dalam proses belajar merupakan hal penting untuk mengembangkan karakter dan potensi siswa dalam Pendidikan . Dalam proses Pendidikan kemandirian belajar menjadi masalah yang serius, karena kemandirian belajar merupakan prasyarat penting untuk mencapai kesuksesan akademik serta memberikan dasar yang kokoh bagi keberhasilan siswa . Siswa yang memiliki pola pikir belajar mandiri akan mampu mengatasi masalah yang berulang, terutama dalam kegiatan belajar, dan mampu mengatasi berbagai tantangan yang mereka hadapi tanpa bantuan orang . Namun kenyataannya beberapa siswa kesulitan untuk menanamkan sikap mandiri tersebut dalam proses belajar, sering kali tidak bertanggung jawab atas tugas yang diberikan, kurang percaya diri dan tidak berinisiatif untuk menanyakan pelajaran yang tidak sepenuhnya dipahami .

Kemandirian belajar dipahami sebagai kemampuan siswa dalam mengelola proses belajarnya secara mandiri . Menurut Doyle , kemandirian belajar merupakan kemampuan siswa untuk mengambil tanggung jawab atas perjalanan belajar mereka, memungkinkan mereka untuk menetapkan tujuan, mengelola waktu, dan mengambil keputusan tanpa pengawasan konstan dari guru. Kurangnya kemandirian belajar pada siswa dapat berdampak negatif pada proses pembelajaran, yang membuat penelitian ini menjadi penting untuk dilakukan. Menurut Zimmerman , siswa dengan tingkat kemandirian belajar yang rendah cenderung bergantung pada guru atau teman dalam menyelesaikan tugas-tugas belajar, mereka kesulitan untuk mengambil inisiatif sendiri dalam memahami materi atau mengatur waktu belajar. Hal ini dapat menghambat proses dan hasil belajar siswa tidak bisa mencapai prestasi yang optimal . Siswa yang mandiri dalam belajar mampu menyelesaikan tugas dengan baik meskipun tanpa bantuan dari orang lain. Sebaliknya, siswa yang kurang menunjukkan kemandirian dalam belajar, kesulitan untuk mengerjakan tugas sendiri dan terus-menerus mencari bantuan dari orang lain atau orang-orang di sekitarnya . Menurut Arifin Maksum dan Ika Lestari , terdapat empat indikator mengenai kemandirian belajar, meliputi percaya diri yaitu siswa belajar secara mandiri tanpa bergantung pada orang lain, disiplin yaitu siswa aktif berpartisipasi dalam proses belajar dan mendengarkan penjelasan guru, tanggung jawab yaitu siswa memiliki rasa tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru dan inisiatif yaitu siswa belajar atas dasar kemauan diri sendiri.

Banyak penelitian sebelumnya menjadikan kemandirian belajar siswa masih menjadi masalah utama dalam Pendidikan. Seperti penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Nanda Milenia Fitriani dkk , menunjukkan bahwa tingkat kemandirian belajar siswa masih tergolong rendah, terutama di tingkat sekolah menengah pertama. Untuk memperoleh pemahaman awal tentang fenomena masalah kemandirian belajar siswa, peneliti melaksanakan survei awal pada siswa SMPN 2 Tanggulangin dengan cara penyebaran kuesioner yang diberikan kepada 41 siswa terdiri dari kelas VII, VIII dan XI. Hasil survei menunjukkan sebanyak 18 dari 41 siswa (43,9%) tidak menyiapkan buku dan alat tulis sebelum pelajaran dimulai, serta 19 dari 41 siswa (40,6%) tidak memperhatikan penjelasan guru dengan sungguh-sungguh selama pelajaran berlangsung. Temuan ini termasuk dalam indikator disiplin. Selain itu, 19 dari 41 siswa (46,3%) tidak mengumpulkan tugas sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh guru, dan 26 dari 41 siswa (63,4%) tidak berusaha menyelesaikan tugas sebelum tenggat waktu. Sementara itu, 19 dari 41 siswa (46,3%) tidak mengikuti tata tertib sekolah selama proses pembelajaran, serta 29 dari 41 siswa (70,7%) berbicara sendiri saat guru sedang mengajar. Temuan-temuan ini termasuk dalam indikator tanggung jawab. Pada indikator inisiatif, ditemukan bahwa 19 dari 41 siswa (46,3%) belajar hanya ketika diingatkan oleh orang tua atau guru, 32 dari 41 siswa (78%) tidak mampu mengatur waktu belajar sehingga mengganggu kegiatan lain. 27 dari 41 siswa (65,9%) tidak mencari informasi tambahan tentang pelajaran dari internet, buku, atau sumber lain. Terakhir, pada indikator percaya diri, terdapat 18 dari 41 siswa (43,9%) tidak yakin terhadap jawaban yang mereka tulis saat mengerjakan soal. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kemandirian belajar siswa belum mencapai tingkat yang optimal atau bisa dikatakan cukup rendah, khususnya dalam aspek disiplin, tanggung jawab, inisiatif dan percaya diri.

Hasnida , menyatakan bahwa terdapat dua faktor yang mempengaruhi tingkat kemandirian belajar siswa yaitu faktor internal mencakup semua pengaruh yang berasal dari dalam diri sendiri dan faktor eksternal mencakup segala kondisi atau pengaruh dari luar dirinya, seperti lingkungan keluarga dan masyarakat. Permasalahan rendahnya kemandirian belajar siswa tidak dapat dipisahkan dari kedua faktor tersebut. Dalam hal ini, pola asuh orang tua dan kecerdasan emosional siswa menjadi faktor penting yang berpotensi memberikan kontribusi terhadap terbentuknya sikap mandiri dalam belajar. Diana Baumrind , mengidentifikasi tiga pola asuh utama yaitu authoritative, authoritarian dan permissive. Salah satunya adalah Pola asuh authoritative, pola asuh ini menggabungkan tingkat responsivitas yang tinggi dengan tingkat tuntutan yang tinggi. Mereka mendorong kemandirian, menjelaskan alasan di balik aturan, dan mendengarkan masukan anak-anak mereka. Pola asuh ini dikaitkan dengan hasil positif, seperti harga diri yang lebih tinggi, keterampilan sosial yang lebih baik, dan rasa tanggung jawab yang seimbang pada anak-anak. Orangtua yang mengadopsi pola asuh ini cenderung memiliki keterampilan pengasuhan yang baik dan menerapkan tingkat kontrol orangtua yang moderat, yang memungkinkan anak menjadi semakin mandiri secara bertahap . Dan sebaliknya anak yang dibesarkan dengan pola asuh ini, umumnya memiliki kecerdasan emosional yang lebih tinggi, dimana orang tua cenderung bersikap pengertian, memberikan penjelasan atas tindakan, menegakkan aturan tanpa menggunakan hukuman, dan menghormati minat serta kepribadian anak .

Kecerdasan Emosional menurut Salovey dan Mayer merupakan kemampuan untuk mengenali, memahami, membedakan dan merespons emosi diri sendiri dan orang lain . Kecerdasan emosional secara luas didefinisikan oleh literatur sebagai kumpulan kemampuan, keterampilan, dan sifat yang mengarahkan cara emosi dipahami, diatur, dikelola, dan diproses secara perilaku . Daniel Goleman menyatakan bahwa terdapat lima komponen dari kecerdasan emosional yaitu: kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati dan keterampilan sosial. Siswa yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mampu mengidentifikasi dan mengendalikan emosi mereka sendiri, memiliki keyakinan pada kemampuan mereka sendiri, memahami dan mengelola emosi orang lain, berkomunikasi dengan jelas, dan bekerja sama dengan baik bersama orang lain. Siswa yang memiliki keterampilan ini dapat membantu mengembangkan kemampuan belajar mandiri yang kuat . Bagi siswa dengan kecerdasan emosional yang rendah, akan menjadi tantangan bagi mereka untuk menyadari bahwa belajar adalah tanggung jawab mereka sebagai pembelajar. Mereka akan kesulitan mengelola emosi mereka yang akan membuatnya sulit untuk mengatasi suasana hati yang dapat mengganggu motivasi mereka untuk belajar, sulit menumbuhkan rasa percaya diri untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan kemampuan masing-masing dan sulit mendorong keinginan untuk belajar secara mandiri . Dengan demikian Penelitian ini menggunakan faktor-faktor yang dapat meningkatkan keterampilan mandiri siswa dalam belajar.

Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang hanya melihat pengaruh dari salah satu variabel terhadap kemandirian belajar siswa, penelitian ini mencoba menggabungkan dua faktor utama yaitu pola asuh authoritative dan kecerdasan emosional sebagai prediktor kemandirian belajar secara simultan pada siswa sekolah menengah. Beberapa penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa pola asuh orang tua dan kecerdasan emosional merupakan dua faktor yang berkontribusi terhadap kemandirian belajar. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Rima Melati dkk , bahwa pola asuh demokratis memiliki pengaruh positif yang signifikan terhadap kemandirian belajar siswa kelas IV sekolah dasar. Selain itu siswa yang memiliki orangtua yang menerapkan pola asuh demokratis juga umumnya memiliki prestasi akademik lebih baik dan tingkat kemandirian akademik yang lebih tinggi. Sementara itu penelitian yang dilakukan oleh Vivit Kartika dan Rini Sugiarti , menunjukan kecerdasan emosional secara signifikan meningkatkan kemandirian belajar siswa sekolah menengah. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa kebebasan belajar anak-anak meningkat seiring dengan kecerdasan emosional mereka.

Penelitian ini dirancang untuk mengetahui masalah mengenai bagaimana pengaruh pola asuh authoritative dan kecerdasan emosional terhadap kemandirian belajar siswa di SMPN 2 Tanggulangin Sidoarjo. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sejauh mana pola asuh authoritative dengan kecerdasan emosional berpengaruh terhadap perkembangan kemandirian belajar mereka. Berdasarkan tujuan tersebut, maka dirumuskan hipotesis dalam penelitian ini, yaitu: a) terdapat pengaruh positif pola asuh authoritative dan kecerdasan emosional secara simultan terhadap kemandirian belajar siswa. b) terdapat pengaruh positif pola asuh authoritative terhadap kemandirian belajar siswa. c) terdapat pengaruh positif kecerdasan emosional terhadap kemandirian belajar siswa.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional, yang bertujuan untuk menentukan sejauh mana variasi pada suatu faktor berhubungan dengan variasi pada satu atau lebih faktor lainnya, dengan menggunakan koefisien korelasi sebagai dasar analisis . Dalam penelitian ini terdapat tiga variabel yang akan diteliti, yaitu yang pertama terdapat variabel terikat (Y) dalam bentuk kemandirian belajar, variabel bebas (X1) dalam bentuk pola asuh authoritative dan (X2) kecerdasan emosional.

Siswa SMPN 2 Tanggulangin dijadikan populasi dalam penelitian ini, yang terdiri dari kelas VII, VIII, dan XI dengan jumlah total sebanyak 650 siswa. Peneliti menetapkan jumlah siswa yang akan dilibatkan dengan menggunakan tabel khusus yang disusun oleh Isaac dan Michael, dengan tingkat kemungkinan kesalahan minimal (5%), yakni dengan total jumlah 227 siswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Proportionate stratified random sampling. Teknik ini diterapkan ketika populasi dibagi secara proporsional dan memiliki anggota atau elemen yang tidak homogen . Jumlah sampel dari masing-masing kelas ditentukan secara proporsional sesuai dengan jumlah siswa di setiap kelas. Setelah itu siswa dari masing-masing strata dipilih secara acak untuk memastikan keterwakilan yang seimbang.

Penelitian ini menggunakan Teknik pengumpulan data berupa angket yang berbentuk Skala Likert, yang disusun berdasarkan indikator dari masing-masing variabel. Skala pola asuh authoritative mengacu pada skala Baumrind dan diadaptasi dari skala yang disusun oleh Rahmatia Budi Setyaningrum . Skala ini mengukur empat karakteristik pola asuh authoritative menurut Diana Baumrind, yaitu mendukung pemberian dan penerimaan verbal, menggunakan kontrol yang kuat tanpa membatasi anak dengan banyak larangan, menerapkan sanksi atau ganjaran apabila anak melakukan pelanggaran , terakhir menjelaskan pada anak tentang alasan suatu batasan diberlakukan . Skala kecerdasan emosional mengacu pada Emotional Intelligence Scale oleh Daniel Goleman dan di adaptasi dari skala yang disusun oleh Riski Amelia Putri . Skala ini mengukur lima aspek kecerdasan emosional menurut Daniel Goleman yaitu kesadaran diri, pengaturan diri, motivasi, empati dan keterampilan sosial . Sementara itu, skala kemandirian belajar yang di adaptasi dari skala yang dibuat oleh Rosita Sari. Skala ini mempunyai 4 indikator menurut Arifin Maksum dan Ika Lestari , yaitu percaya diri, disiplin, tanggung jawab, dan inisiatif.

Instrument yang digunakan dalam penelitian ini memiliki validitas dan reabilitas yang memadai dengan nilai Cronbach’s alpha sebesar a= 0,852 untuk pola asuh authoritative dengan jumlah 25 item, kecerdasan emosional sebesar a= 0,853 dengan jumlah 31 item dan kemandirian belajar sebesar a= 0,870 dengan jumlah item 20. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji regresi linear berganda, yang terdiri dari uji F untuk mengetahui pengaruh secara simultan antara pola asuh authoritative dan kecerdasan emosional terhadap kemandirian belajar siswa dan uji t untuk mengetahui pengaruh parsial masing-masing variable. Sebelum melakukan uji regresi, dilakukan uji asumsi klasik yang terdiri dari uji normalitas, linearitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas untuk memastikan data memenuhi syarat model regresi. Pengolahan dan analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan bantuan aplikasi Statistical Package for the Social Sciences (SPSS).

Hasil dan Pembahasan

A. Hasil

Analisis data dalam studi ini dimulai dengan uji statistic deskriptif dan uji asumsi, yang meliputi uji normalitas, multikolinearitas dan uji heteroskedastisitas. Peneliti kemudian melakukan uji parametrik yaitu analisis regresi linier berganda, yang meliputi uji F dan T dan koefisien determinasi.

Descriptive Statistics
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Pola Asuh 227 32 99 73.55 10.004
Kecerdasan Emosional 227 45 124 98.00 11.839
Kemandirian Belajar 227 35 82 65.85 8.429
Valid N (listwise) 227
Table 1. Hasil Statistik Deskriptif

Uji Statistik Deskriptif bertujuan untuk melihat karakteristik dari variabel-variabel yang akan digunakan dalam penelitian ini. Uji ini memberikan deskripsi-deskripsi atau gambaran mengenai suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, maksimum dan minimum.

Kategori Interval Skor F %
Rendah X > 60 10 13,3%
Sedang 60< X < 76 44 58,7%
Tinggi X < 76 21 28,0%
Total 75 100 %
Table 2. Distribusi Kategorisasi Kemandirian Belajar Kelas VII

Berdasarkan tabel 2. Distribusi kategorisasi pada kelas VII, menunjukkan bahwa mayoritas siswa berada pada kategori sedang sebesar 74,7%. Sementara itu, siswa yang berada pada kategori tinggi sebesar 18,7% dan kategori rendah sebesar 6,7%. Secara keseluruhan, temuan ini mengindikasikan bahwa variabel kemandirian belajar berada pada tingkat sedang.

Kategori Interval Skor F %
Rendah X > 58 7 9,1%
Sedang 58 < X < 73 54 70,1%
Tinggi X < 73 16 20,8%
Total 77 100 %
Table 3. Distribusi Kategorisasi Kemandirian Belajar Kelas VIII

Berdasarkan tabel 3. Distribusi Kategorisasi pada kelas VIII menunjukkan bahwa mayoritas siswa berada pada kategori sedang sebesar 70,1%. Sementara itu, sebesar 20,8% peserta didik berada pada kategori tinggi dan 9,1% berada pada kategori rendah. Temuan ini mengindikasikan bahwa secara umum variabel kemandirian belajar berada pada tingkat sedang.

Kategori Interval Skor F %
Rendah X > 55 5 6,7%
Sedang 55 < X < 71 56 74,7%
Tinggi X < 71 14 18,7%
Total 75 100%
Table 4. Distribusi Kategorisasi Kemandirian Belajar Kelas IX

Berdasarkan tabel 4. Distribusi kategorisasi pada kelas IX menunjukkan bahwa mayoritas siswa berada pada kategori sedang sebesar 74,7%. Sementara itu, peserta didik yang berada pada kategori tinggi sebesar 18,7% dan kategori rendah sebesar 6,7%. Secara keseluruhan, temuan mengindikasikan bahwa variabel kemandirian belajar berada pada tingkat sedang.

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized Residual
N 227
Normal Parametersa,b Mean .0000000
Std. Deviation 6.89304181
Most Extreme Differences Absolute .058
Positive .058
Negative -.039
Test Statistic .058
Asymp. Sig. (2-tailed) .065c
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
Table 5. Hasil Uji Normalitas

Uji Normalitas bertujuan untuk menguji variabel independen dan dependen atau keduanya memiliki distribusi normal dalam model regresi. Uji statistik yang dapat digunakan untuk menguji normalitas residual adalah uji statistik non-parametrik Kolmogorov-Smirnov.

Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada tabel 5. di atas menunjukkan bahwa nilai test signifikansi > 0,05. Hal tersebut ditunjukkan dengan Asiymp. Sig (2-tailed) atau signifikasi residual sebesar 0,065 > 0,05 maka data tersebut dapat disimpulkan bahwa asumsi normalitas dapat dipenuhi.

Figure 1. Uji Normalitas

Berdasarkan histogram regresi residual standar pada variabel dependen kemandirian belajar, terlihat bahwa distribusi residual menyerupai distribusi normal. Hal ini ditunjukkan oleh bentuk lonceng yang simetris secara kasar di sekitar nol pada histogram, yang diperkuat oleh nilai rata-rata residual yang dekat dengan nol dan simpangan baku yang dekat dengan satu. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa asumsi normalitas residual pada model regresi telah terpenuhi.

ANOVA Table
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Kemandirian Belajar* Pola Asuh Authoritative Between Groups (Combined) 5886.751 41 143.579 2.612 .000
Linearity 3199.804 1 3199.804 58.213 .000
Deviation from Linearity 2686.947 40 67.174 1.222 .189
Within Groups 10168.853 185 54.967
Total 16055.604 226
Table 6. Hasil Uji Linearitas

Uji Linearitas bertujuan untuk menentukan apakah variabel independen dan dependen memiliki hubungan linier. Karena analisis regresi linier memerlukan hubungan linier antara variabel yang diteliti, uji ini dilakukan sebagai salah satu uji prasyarat untuk analisis regresi.

Bedasarkan hasil yang ditunjukkan pada tabel 6. Uji linearitas antara kemandirian belajar dan pola asuh authoritative menghasilkan nilai Sig. Deviasi dari Linearitas sebesar 0,189, yang lebih besar dari 0,05. Karena tidak ada deviasi dari linearitas, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan linear antara kemandirian belajar dan pola asuh authoritative.

ANOVA Table
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Kemandirian Belajar * Kecerdasan Emosional Between Groups (Combined) 6464.208 45 143.649 2.711 .000
Linearity 4281.478 1 4281.478 80.796 .000
Deviation from Linearity 2182.730 44 49.608 .936 .590
Within Groups 9591.396 181 52.991
Total 16055.604 226
Table 7. Hasil Uji Linearitas

Selanjutnya hasil uji linearitas antara kemandirian belajar dan kecerdasan emosional menghasilkan nilai Sig. Deviasi dari Linearitas sebesar 0,590, yang juga lebih besar dari 0,05. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan linear antara kecerdasan emosional dan kemandirian belajar.Temuan ini menunjukkan bahwa semua variabel dalam studi ini telah memenuhi asumsi linearitas, sehingga bisa dilanjutkan analisis regresi linear.

Coefficients a
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 20.637 4.318 4.779 .000
Pola Asuh .236 .051 .280 4.649 .000 .826 1.211
Kecerdasan Emosional .285 .043 .400 6.646 .000 .826 1.211
a. Dependent Variable: Kemandirian Belajar
Table 8. Hasil Uji Multikolinieritas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinearitas dapat dilakukan dengan cara melihat nilai tolerance dan nilai Variance Inflation Fector (VIF). Nilai tolerance yang lebih dari 0,1 dan nilai Variance Inflation Fector (VIF) kurang dari 10, maka model regresi bebas dari multikolinearitas antar variabel bebas/independen.

Berdasarkan hasil yang ditunjukkan pada tabel 8. tolerance value dalam Collinerarity Statistics yang dihasilkan oleh masing-masing variabel bebas > 0,10. Nilai Variance Inflation Factor (VIF) yang dihasilkan oleh masing-masing variabel bebas < 10. Hal tersebut menunjukkan bahwa tidak ada multikolinearitas antar variabel bebas dalam model regresi, sehingga setiap variabel independen tidak memiliki hubungan linear yang kuat satu sama lain. Dengan demikian, model regresi memenuhi asumsi klasik multikolinearitas dan koefisien regresi dapat diinterpretasikan secara tepat.

Coefficients a
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 10.249 2.654 3.862 .000
Pola Asuh -.010 .031 -.023 -.316 .752
Kecerdasan Emosional -.042 .026 -.117 -1.601 .111
a. Dependent Variable: ABS_RES
Table 9. Hasil Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear terjadi ketidaksamaan varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Model regresi yang baik adalah homoskedastisitas atau tidak terjadi heteroskedastisitas dengan syarat nilai sig >0,05.

Hasil dari pengujian yang ditunjukkan pada tabel 9. menjelaskan bahwa pada variabel X1 dan X2 nilai signifikansinya >0,05. Hal tersebut dapat diartikan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas atau dengan kata lain terjadi homoskedastisitas, yaitu situasi di mana varians residual tetap konstan untuk semua nilai variabel independen. Dengan demikian, model regresi yang digunakan memenuhi salah satu asumsi klasik sehingga hasil estimasi regresi dapat dikatakan valid dan tidak bias.

ANOVA a
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 5317.434 2 2658.717 55.461 .000b
Residual 10738.170 224 47.938
Total 16055.604 226
a. Dependent Variable: Kemandirian Belajar
b. Predictors: (Constant), Kecerdasan Emosional, Pola Asuh
Table 10. Hasil Uji Regresi Linear Berganda (Uji F)

Uji F bertujuan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara keseluruhan memiliki pengaruh yang nyata terhadap variabel terikat secara simultan. Jika taraf signifikansi hasil perhitungan (sig) < 0,05 maka variabel memiliki pengaruh secara simultan.

Berdasarkan tabel 10. menunjukkan bahwa taraf signifikansi hasil perhitungan yaitu sebesar 0,000 < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh secara simultan yang signifikan antara Pola Asuh Authoritative (X1) dan Kecerdasan Emosional (X2) terhadap Kemandirian Belajar (Y).

Coefficients a
Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
1 (Constant) 20.637 4.318 4.779 .000
Pola Asuh .236 .051 .280 4.649 .000
Kecerdasan Emosional .285 .043 .400 6.646 .000
a. Dependent Variable: Kemandirian Belajar
Table 11. Hasil Uji Regresi Linear Berganda (Uji t)

Uji t bertujuan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara keseluruhan memiliki pengaruh yang nyata terhadap variabel terikat secara parsial. Jika taraf signifikansi hasil perhitungan (sig) < 0,05 dan t hitung > t tabel maka variabel memiliki pengaruh secara parsial. Berdasarkan tabel 11. menunjukkan hasil uji t atau uji secara parsial dalam penelitian ini sebagai berikut :

  1. Secara parsial terdapat pengaruh signifikan antara Pola Asuh Authoritative (X1) terhadap Kemandirian Belajar (Y). Hal tersebut terjadi karena hasil uji t menunjukkan bahwa nilai signifikansi X1 sebesar 0,000 < 0,05 dan nilai t hitung > t tabel diperoleh nilai 4,649 > 1,650.
  2. Secara parsial terdapat pengaruh signifikan antara Kecerdasan Emosional (X2) terhadap Kemandirian Belajar (Y). Hal tersebut terjadi karena hasil uji t menunjukkan bahwa nilai signifikansi X2 sebesar 0,000 < 0,05 dan nilai t hitung > t tabel diperoleh nilai 6,646 > 1,650.
Model Summary
Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate
1 .575a .331 .325 6.924
a. Predictors: (Constant), Kecerdasan Emosional, Pola Asuh
Table 12. Hasil Koefisien Determinasi

Koefisien determinasi yaitu mengukur seberapa jauh variasi variabel dependen. Hasil koefisien determinasi yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan hasil dari R Square.

Berdasarkan hasil koefisien determinasi yang ditunjukkan pada tabel 12. diperoleh hasil R Square sebesar 0,331. Hal tersebut menunjukkan bahwa 33,1% variabel Kemandirian Belajar (Y) dipengaruhi oleh Pola Asuh Authoritative dan Kecerdasan Emosional. Sisanya sebesar 66,9%, variabel kemandirian belajar dipengaruhi oleh variabel-variabel lain yang tidak dibahas dalam penelitian ini.

B. Pembahasan

Berdasarkan perhitungan statistik untuk membuktikan hipotesis pertama diperoleh koefisien F sebesar 55,461 dengan p value 0,000 (< 0,05). Berdasar temuan ini maka hipotesis pertama yang diajukan peneliti dapat diterima, bahwa pola asuh authoritative dan kecerdasan emosional secara simultan memiliki dampak positif yang signifikan terhadap kemandirian belajar. Temuan penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya oleh Chandra Dewi dkk , yang menunjukkan bahwa pola asuh, kecerdasan emosional dan kemandirian belajar memiliki hubungan positif yang signifikan dengan nilai p value 0,000 (< 0,05). Temuan ini memberikan bukti empiris bahwa pola asuh orangtua memiliki dampak terhadap perkembangan kecerdasan emosional dan kemandirian belajar siswa. Secara teoritis pola asuh authoritative memiliki keterampilan pengasuhan yang baik dan menerapkan tingkat kontrol orang tua yang moderat, yang memungkinkan anak menjadi semakin mandiri secara bertahap , maka anak akan terbiasa membuat pilihan dan menyelesaikan tanggung jawab mereka sendiri. Sementara itu siswa yang memiliki kecerdesan emosional yang baik mampu mengendalikan emosi mereka sendiri, memiliki keyakinan pada kemampuan, memahami dan mengelola emosi orang lain, berkomunikasi dengan jelas, dan bekerja sama dengan baik bersama orang lain. Siswa dengan keterampilan ini memiliki kemampuan belajar mandiri yang kuat .

Hasil analisis statistik lain untuk membuktikan hipotesis kedua ditemukan nilai t sebesar 4,649 dengan p value 0,000 (<0,05). Dengan demikian hipotesis kedua diterima, bahwa secara parsial terdapat pengaruh positif yang signifikan dari Pola Asuh Authoritative terhadap Kemandirian Belajar. Temuan kedua ini sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dewi Ratnawati dkk , bahwa secara parsial menunjukkan terdapat pengaruh positif yang signifikan antara pola asuh demokratis (authoritative) terhadap kemandirian belajar, pada nilai t sebesar 6,014 dengan p value 0,000 (<0,05).

Hasil uji t selanjutnya untuk menguji hipotesis ketiga, dan ditemukan nilai t sebesar 6,646 dengan p value 0,000 (< 0,05). Hasil ini menunjukkan hipotesis ketiga diterima, bahwa secara parsial kecerdasan emosional berpengaruh positif terhadap kemandirian belajar. Temuan ketiga ini didukung hasil penelitian oleh Andrian Siska dkk , yang menunjukkan secara parsial kecerdasan emosional berpengaruh positif terhadap kemandirian belajar, pada nilai t sebesar 6,411 dengan p value 0,000 (<0,05).

Berdasarkan hasil uji determinasi diperoleh nilai R Square sebesar 0,331. Hal tersebut menunjukkan bahwa Pola Asuh Authoritative dan Kecerdasan Emosional memiliki pengaruh sebesar 33,1% terhadap Kemandirian Belajar. Sisanya sebesar 66,9%, variabel kemandirian belajar dipengaruhi oleh variabel-variabel lain. Beberapa peneliti menjelaskan bahwa terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian belajar seperti efikasi diri, regulasi diri dan motivasi belajar. Termasuk penelitian yang dilakukan oleh Lenita Putri Sukmilah dan Maria Agatha Sri menunjukkan bahwa efikasi diri berpengaruh positif terhadap kemandirian belajar, hal ini sesuai dengan pandangan Bandura yang menyatakan keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam merencanakan dan menyelesaikan suatu kegiatan untuk mencapai tujuan tertentu sehingga mereka dapat belajar secara mandiri tanpa bergantung berlebihan pada orang lain . Selain itu, penelitian dari Arifah Yuli Purwaningsih dan Herwin menunjukkan pengaruh positif dari regulasi diri terhadap kemandirian belajar, hal ini sesuai dengan Purwaningsih dan Herwin yang menyatakan bahwa siswa yang menerapkan regulasi diri cenderung belajar secara mandiri tanpa bantuan orang lain . Motivasi belajar dalam penelitian yang dilakukan oleh Rizki Maulana dan Ahmad Hariyadi juga memiliki pengaruh positif terhadap kemandirian belajar. Dengan ini kemandirian belajar didasarkan pada kemauan, tanggung jawab, dan pilihan siswa sendiri, hal ini secara langsung terkait dengan motivasi siswa .

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional memiliki kontribusi yang lebih besar terhadap kemandirian belajar dibandingkan dengan pola asuh authoritative. Hal ini ditunjukkan oleh nilai koefisien sebesar 0,285 pada variabel kecerdasan emosional, sedangkan variabel pola asuh authoritative hanya memperoleh nilai koefisien sebesar 0,236. Perbedaan nilai koefisien tersebut mengindikasikan bahwa aspek-aspek pengelolaan emosi, kontrol diri, kemampuan memotivasi diri, serta regulasi diri internal memiliki peran yang lebih kuat dalam mendorong siswa untuk mandiri dalam proses belajar.

Hal lain yang peneliti coba ketahui adalah deskripsi kategorisasi kemandirian belajar siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 154 siswa (67,8%) yang diteliti memiliki kemandirian belajar dalam kategori sedang. Hal ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh peserta didik telah memiliki kemandirian belajar yang cukup baik, meskipun belum sepenuhnya optimal. Selain itu, terdapat 51 siswa (22,5%) yang berada pada kategori tinggi, yang mengindikasikan bahwa sebagian siswa telah mampu menunjukkan kemandirian belajar yang baik. Namun demikian, masih terdapat 22 siswa (9,7%) yang memiliki kemandirian belajar dalam kategori rendah, sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus. Rendahnya kemandirian belajar pada sebagian kecil siswa tersebut diduga dipengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya pola asuh authoritative dan kecerdasan emosional siswa, pada penelitian ini merupakan variabel yang diteliti dan berkontribusi terhadap kemandirian belajar.

Penelitian ini masi memiliki beberapa keterbatasan yaitu subjek penelitian terbatas pada satu sekolah, yaitu SMPN 2 Tanggulangin. Oleh karena itu, hasil penelitian ini belum dapat digeneralisasikan secara luas pada siswa di sekolah lain yang memiliki karakteristik lingkungan, budaya sekolah, dan latar belakang keluarga yang berbeda. Kemudian metode pengumpulan data menggunakan kuesioner self-report memungkinkan adanya bias subjektivitas responden, seperti kurangnya kejujuran, atau perbedaan pemahaman terhadap pernyataan dalam angket. Hal ini dapat memengaruhi akurasi data yang diperoleh. Penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan subjek penelitian yang lebih beragam agar hasil penelitian dapat digeneralisasikan secara luas. Selain itu, penggunaan metode pengumpulan data yang lebih bervariasi, tidak hanya kuesioner self-report, perlu dilakukan untuk meningkatkan objektivitas data penelitian.

Simpulan

Berdasarkan tujuan penelitian dan temuan analisis, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan antara Pola Asuh Authoritative dan Kecerdasan Emosional terhadap Kemandirian Belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua variable tersebut secara simultan berkontribusi dalam membantu siswa dalan mengelola proses belajar mereka secara mandiri dengan kecerdasan emosional memberikan kontribusi yang lebih besar.

Secara parsial Pola Asuh Authoritativememiliki pengaruh positif terhadap kemandirian belajar, selain itu Kecerdasan Emosional juga memiliki pengaruh positif. Adapun factor lain yang secara teoritis tidak menjadi perhatihan khusus dalam penelitian ini.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap, disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut yang mencakup factor-faktor tambahan yang mungkin memengaruhi kemandirian belajar, seperti motivasi belajar, regulasi diri dan efikasi diri. Selain itu, sebaiknya melibatkan beragam subjek penelitian yang lebih luas. Peneliti memiliki implikasi praktis jika kemandirian belajar siswa masi dalam kategorisasi rendah, bagi orangtua dan guru dapat memberikan tugas-tugas secara individu secara bertahap, untuk mengembangkan inisiatif dan tanggung jawab siswa dan ajarkan siswa cara mengorganisir, memantau, dan mengevaluasi pembelajaran mereka sendiri. Kemudian jika kecerdasan emosional masi rendah, orangtua dan guru dapat meningkatkan nya dengan pelatihan keterampilan sosial dan pengembangan karakter. Sementara itu jika pola asuh orangtua kurang mendukung, sekolah dapat menyusun program edukasi bagi orang tua mengenai pola asuh yang tepat melalui seminar parenting, sesi konseling keluarga, serta workshop komunikasi efektif antara orang tua dan anak. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman orang tua terkait pola asuh yang mendorong kemandirian belajar dan pengembangan kecerdasan emosional pada siswa.

Ucapan Terima Kasih

Peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada lembaga-lembaga tempat penelitian ini dilaksanakan atas fasilitas dan izin yang diberikan, yang membuat penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik.Selain itu, peneliti ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses pengumpulan data, baik secara langsung maupun tidak langsung, serta kepada semua responden yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian ini, yang membuat penelitian ini selesai sesuai dengan tujuan nya.

References

[1] A. Kebebasan et al., “PT. Media Akademik Publisher Pendidikan Dalam Perspektif Ki Hajar Dewantara,” JMA (Jurnal Media Akademik), vol. 2, pp. 3031–5220, 2024, doi: 10.62281.

[2] N. Rofiiqoh and A. Qosyim, “Analisis Kemandirian Belajar Siswa SMP Dalam Pembelajaran IPA Di Masa Pandemi Covid-19,” Pensa: Jurnal Pendidikan Sains, vol. 11, no. 1, pp. 106–115, 2023.

[3] I. D. Nastiti, “The Role of Parent Support and Confidence in the Learning Independence of High-Grade Elementary School Students,” Psikostudia: Jurnal Psikologi, vol. 13, no. 3, pp. 417–423, 2024, doi: 10.30872/psikostudia.v13i3.

[4] A. B. T. Lutfia, L. Siwabessy, and H. K. Marjo, “Profil Kemandirian Belajar Siswa Sekolah Menengah Pertama Terbuka Di Wilayah Jakarta Timur,” Jurnal Bimbingan Dan Konseling, 2019.

[5] R. Puspita Indah and A. Farida, “Pengaruh Kemandirian Belajar Siswa Terhadap Hasil Belajar Matematika,” Jurnal Derivat, vol. 8, no. 1, 2021.

[6] R. Novalia, A. Marini, T. Bintoro, and U. Muawanah, “Project-Based Learning For Higher Education Students’ Learning Independence,” Social Sciences And Humanities Open, vol. 11, 2025, doi: 10.1016/j.ssaho.2025.101530.

[7] B. J. Zimmerman, “Becoming A Self-Regulated Learner: An Overview,” Theory Into Practice, vol. 41, no. 2, pp. 64–70, 2002, doi: 10.1207/s15430421tip4102_2.

[8] R. Marfuati, T. N. E. D. Suharto, and P. Magister Psikologi Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, “Hubungan Konsep Diri Dan Persepsi Pola Asuh Authoritative Dengan Kemandirian Belajar Pada Siswa,” Jurnal Psikologi Pendidikan, 2019.

[9] R. Sari, “Pengaruh Kemandirian Belajar Siswa Terhadap Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran IPS Kelas V Di SDN 01 Karya Makmur,” Skripsi, IAIN Metro, Lampung, Indonesia, 2023.

[10] N. M. Fitriani, A. Nurcahyo, and D. T. Purnamasari, “Peningkatan Kemandirian Belajar Matematika Melalui Strategi Problem Based Learning,” Jurnal Ilmiah WUNY, vol. 6, no. 2, 2024, doi: 10.21831/jwuny.v6i1.

[11] Y. Mulyawati and C. Christine, “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kemandirian Belajar Siswa,” JPPGUSEDa: Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 2019.

[12] M. A. Khosla and M. P. Sharma, “Effects Of Various Parenting Style On Children At Different Age Group,” International Journal For Multidisciplinary Research (IJFMR), 2024.

[13] N. K. Z. Hesari and E. Hejazi, “The Mediating Role Of Self-Esteem In The Relationship Between The Authoritative Parenting Style And Aggression,” Procedia – Social And Behavioral Sciences, pp. 1724–1730, 2011, doi: 10.1016/j.sbspro.2011.10.333.

[14] A. Erdaliameta, R. Khurotunisa, N. Nana, and E. Tohani, “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kecerdasan Emosional Anak Usia Dini,” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 7, no. 4, pp. 4521–4530, 2023, doi: 10.31004/obsesi.v7i4.4029.

[15] J. M. Blank, R. Kotov, K. G. Jonas, W. Lian, and E. A. Martin, “Emotional Intelligence As A Predictor Of Functional Outcomes In Psychotic Disorders,” Schizophrenia Research, vol. 276, pp. 97–105, 2025, doi: 10.1016/j.schres.2025.01.005.

[16] L. Martin, M. A. L. Villagran, and S. Cragin, “Emotional Intelligence And Happiness: Varied Perspectives Of Supervisors And Employees,” Journal Of Academic Librarianship, vol. 50, no. 6, 2024, doi: 10.1016/j.acalib.2024.102978.

[17] N. Fitri, “Pengembangan Alat Ukur Kecerdasan Emosional,” Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, no. 24, pp. 458–468, 2023, doi: 10.5281/zenodo.10433909.

[18] A. Siska, A. Mujib, D. Artati, and P. Putri, “Pengaruh Motivasi Dan Kecerdasan Emosional Terhadap Kemandirian Belajar Siswa Pada Pembelajaran Daring Sekolah Batam,” Jurnal Dedikasi Pendidikan, 2022.

[19] T. Kusmayanti, “Pengaruh Kecerdasan Emosional Dan Kemandirian Belajar Terhadap Pemahaman Konsep Matematika,” Jurnal Pendidikan MIPA, vol. 1, no. 3, pp. 313–320, 2018.

[20] R. Melati, M. Martono, A. T. Priyadi, T. Djudin, and Y. Jamiah, “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kemandirian Belajar Dan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas IV Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar Perkhasa, vol. 9, no. 2, pp. 479–494, 2023, doi: 10.31932/jpdp.v9i2.2775.

[21] V. Kartika et al., “Pengasuhan Orangtua Dan Kepercayaan Diri Terhadap Kemandirian Belajar Siswa SMA Dengan Kecerdasan Emosional Sebagai Variabel Intervening,” Philanthropy: Journal Of Psychology, 2021.

[22] N. Nurdin, D. Hamdhana, and M. Iqbal, “Aplikasi Quick Count Pilkada Dengan Menggunakan Metode Random Sampling Berbasis Android,” Techsi: Jurnal Teknik Informatika, vol. 10, no. 1, pp. 141–156, 2018, doi: 10.29103/techsi.v10i1.622.

[23] R. B. Setyaningrum, “Pola Asuh Authoritative Dengan Perilaku Asertif Remaja Keturunan Minang Di SMA Negeri 11 Pekanbaru,” Psikobuletin: Buletin Ilmiah Psikologi, vol. 1, no. 2, p. 101, 2020, doi: 10.24014/pib.v1i2.9121.

[24] R. A. Putri, “Hubungan Antara Kecerdasan Emosi Dengan Penyesuaian Sosial Pada Siswa SMPN 23 Pekanbaru,” Skripsi, Universitas Islam Riau, Pekanbaru, Indonesia, 2022.

[25] P. Kajian Penelitian Dan Pengembangan Bimbingan Dan Konseling et al., “Hubungan Pola Asuh Orangtua Dengan Kecerdasan Emosional, Kemandirian Belajar, Dan Prokrastinasi Akademik Siswa SMA Cibinong,” Jurnal Bimbingan Dan Konseling, vol. 31, no. 1, pp. 31–39, 2023, doi: 10.26539/teraputik.631626.

[26] D. Ratnawati, M. Muhsin, and M. Amini, “Hubungan Pola Asuh Demokratis Orang Tua Dan Penguatan Guru Dengan Kemandirian Belajar Siswa Kelas 5 Sekolah Dasar,” Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, Dan Pengelolaan Pendidikan, vol. 5, no. 1, 2024, doi: 10.17977/um065.v5.i1.2025.3.

[27] L. P. Sukmilah et al., “Pengaruh Motivasi Belajar Dan Efikasi Diri Terhadap Kemandirian Belajar Siswa SMP Negeri 2 Ngantru Tulungagung Tahun Pelajaran 2024/2025,” Jurnal Sains Ekonomi Dan Edukasi, vol. 2, no. 7, pp. 1413–1422, 2025.

[28] A. Y. Purwaningsih and H. Herwin, “Pengaruh Regulasi Diri Dan Kedisiplinan Terhadap Kemandirian Belajar Siswa Di Sekolah Dasar,” Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan, vol. 13, no. 1, pp. 22–30, 2020, doi: 10.21831/jpipfip.v13i1.29662.

[29] R. M. A. Saputra, A. Hariyadi, and S. Sarjono, “Pengaruh Motivasi Dan Efikasi Diri Terhadap Kemandirian Belajar Sistem Daring Pada Siswa Kelas XII IPS SMA Negeri Kedungadem Bojonegoro,” Jurnal Educatio FKIP UNMA, vol. 7, no. 3, pp. 840–847, 2021, doi: 10.31949/educatio.v7i3.1268.