Login
Section Education

Self Concept and Future Orientation in Career Maturity


Konsep Diri dan Orientasi Masa Depan dalam Kematangan Karier
Vol. 10 No. 1 (2025): June:

TARISHA JAFNA DIAH ZAHRANI (1), Nurfi Laili (2)

(1) UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO, Indonesia
(2) , Indonesia

Abstract:

General Background: Career maturity represents a crucial developmental task for vocational high school students transitioning to higher education or the workforce. Specific Background: Many students experience uncertainty in career planning due to unclear self-understanding and vague future orientation, which may hinder structured career decision-making. Knowledge Gap: Previous studies have predominantly examined self-concept and future time perspective separately, with limited research integrating both variables simultaneously in explaining career maturity among vocational students. Aims: This study aims to examine the relationship between self-concept and future time perspective with career maturity among twelfth-grade students of SMK X Sidoarjo. Results: Using a quantitative correlational design involving 264 students selected through proportionate random sampling, the findings reveal significant positive relationships between self-concept and career maturity, as well as between future time perspective and career maturity. Multiple regression analysis indicates that both variables simultaneously contribute significantly to career maturity. Novelty: The study offers an integrated correlational model combining two internal psychological constructs within a single framework for vocational students. Implications: The findings underline the importance of strengthening self-understanding and structured future orientation through school-based career guidance programs to support adaptive career planning and decision-making.


Keywords: Self-Concept, Future Time Perspective, Career Maturity, Vocational High School Students, Career Development


Key Findings Highlights:




  1. Internal psychological factors jointly explain substantial variance in students’ vocational readiness.




  2. Positive self-evaluation aligns with structured planning and autonomous decision processes.




  3. Long-term goal orientation relates to systematic exploration of occupational pathways.



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Kematangan karir merupakan salah satu tugas individu dalam menghadapi perkembangan karir, yaitu termasuk dengan kemampuan dalam mengeksplorasi berbagai macam pilihan karir, mengenali serta memahami diri dan merancang keputusan karir secara tepat dan sesuai dengan individu, khususnya pada masa remaja akhir[1]. Pada masa remaja akhir, khususnya pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berada masa transisi menuju dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sesuai bidang keahliannya[2]. Siswa dituntut untuk memiliki kematangan karir, karena menjadi salah satu faktor yang dapat mendukung keberhasilan individu dalam menentukan karir. Kematangan karir menjadi bagian sangat penting dalam keberhasilan pendidikan, karena dirancang untuk memberikan lulusan siap kerja atau melanjutkan pendidikan selanjutnya. Kematangan karir juga tidak hanya berkaitan dengan pemilihan kerja, tetapi juga berkaitan dengan kemampuan individu dalam menghadapi tantangan dan ketidakpastian masa depan[3].

Menurut Undang-Undang Pendidikan Nasional (UUSPN) no. 20 tahun 2003 pasal 15 menyatakan bahwa “pendidikan kejuruan adalah pendidikan yang mempersiapkan peserta didik terutama untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu dan siap pula melanjutkan ketingkat pendidikan yang lebih tinggi”[4]. Sementara menurut hasil survey kesiapan SMK secara nasional dalam menghadapi turbulensi abad 21 menunjukkan bahwa 3,96% belum berani, 5,85% sangat siap, 48,25% memiliki cukup strategi dan antisipasi, dan 41,92% memiliki keterbatasan strategi, menandakan revitalisasi SMK belum maksimal dan membutuhkan perhatian yang lebih untuk siswa-siswi SMK[5]. Diperkuat dengan survei di penelitian lainnya, studi ini melakukan pengamatan langsung di sekolah kejuruan dengan total 63 siswa aktif dan peneliti menerima 78,8% ketidaksesuaian minat dan bakat pada jurusan yang telah diambil. Dikarenakan banyak siswa memilih sekolah dari faktor lingkungan, yaitu perintah atau pilihan dari orang tua atau hanya mengikuti teman-temannya, sehingga menimbulkan kesulitan bagi siswa untuk mengikuti jurusan tersebut. Selebihnya, peneliti memperoleh hasil 21,2% untuk siswa aktif yang sesuai dengan pilihan jurusannya[6].

Kematangan karir menjadi aspek penting dalam perkembangan peserta didik karena menggambarkan individu dalam membuat pilihan karir, mengambil keputusan yang sesuai kemampuan, serta merancang masa depan karirnya secara matang[1]. Kematangan karir mencerminkan kemampuan siswa untuk memahami diri sendiri dan kondisi lingkungan untuk menghadapi transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja atau pendidikan lanjutan[2]. Kurang atau rendahnya kematangan karir, banyak siswa mengalami kebingungan dalam menentukan pilihan karir yang sesuai dengan minat dan potensi mereka, sehingga berpotensi menyebabkan pilihan karir yang kurang tepat dan berdampak pada penyesalan di masa depan[7]. Fenomena ini terlihat pada hasil penelitian yang menunjukkan bahwa siswa pada jenjang menengah atas seringkali berada pada tingkat kematangan karir yang rendah, yang menunjukkan untuk membantu mereka dalam memahami tugas perkembangan karir dan membuat keputusan yang matang[8]. Selain itu, kematangan karir diketahui dipengaruhi oleh Beberapa faktor-faktor, salah satunya adalah konsep diri dan pandangan masa depan sehingga menunjukkan kompleksitas kebutuhan siswa dalam proses perkembangan karir mereka[9].

Kematangan karir adalah konsep psikologis dalam perkembangan dan berhubungan dengan tahap perkembangan individu. Kematangan karir menjelaskan bahwa individu dapat dikatakan matang dan memiliki rancangan untuk membuat keputusan sesuai dengan pengetahuan yang di miliki, serta kemampuan dalam mengatasi tugas-tugas perkembangan yang dihadapkan kepadanya[10]. Super (1980), menjelaskan bahwa kematangan karir adalah seberapa jauh individu untuk memperoleh wawasan dan keahlian yang dibutuhkan dalam membuat pilihan karir yang tepat dan praktis[11]. Ada beberapa aspek-aspek kematangan karir yaitu: perencanaan karir (career planfulness) merupakan pengetahuan individu mengenai pentingnya membuat keputusan pendidikan dan pekerjaan yang akan dilakukan untuk persiapan di masa depan, eksplorasi karir (career exploration) merupakan individu secara aktif untuk memperoleh suatu informasi terkait pilihan karir sesuai bakat dan minat individu, pengambilan keputusan (decision making) merupakan suatu proses penentuan pemilihan alternatif melalui perbandingan dan evaluasi dan informasi (information) merupakan individu dengan kemampuan yang dikembangkan memiliki kemampuan yang cukup untuk menggunakan informasi mengenai karir untuk dirinya pada bidang dan tinkat pekerjaan tertentu. Kematangan karir mencakup empat indikator yaitu: perencanaan karir, mengeksplorasi karir, memiliki pengetahuan tentang pengambilan keputusan karir serta mencari informasi tentang karir[12].

Survei awal dilakukan di SMK X Sidoarjo dengan bertujuan memperoleh gambaran awal atau kondisi siswa mengenai kematangan karir. Survei awal ini menggunakan metode wawancara terhadap lima siswa kelas XII SMK X di Sidoarjo. Hasil wawancara menunjukkan bahwa, empat dari lima siswa yang telah di wawancarai menunjukkan tingkat kematangan karir yang masih rendah, yaitu belum memiliki tujuan karir yang jelas setelah lulus dan pemilihan jurusan SMK didasarkan pada keputusan orang tua, baik untuk melanjutkan ke dalam dunia kerja maupun pendidikan ke perguruan tinggi sehingga merasa ragu karena jurusan yang diminati tidak linear dengan jurusan SMK yang diambil. Kondisi ini menunjukkan lemahnya aspek pengambilan keputusan karir. Berdasarkan teori kematangan karir Donald Super, siswa yang memiliki kematangan karir rendah umumnya menunjukkan ciri-ciri seperti kurangnya perencanaan karir dan ketidakmampuan mengambil keputusan karir secara matang.

Kondisi rendahnya kematangan karir yang ditemukan pada sebagian besar siswa dalam survei awal tersebut menunjukkan adanya permasalahan yang lebih mendasar pada aspek psikologis siswa. Ketidakjelasan tujuan karir, keraguan dalam menentukan pilihan setelah lulus, serta ketergantungan pada keputusan orang tua mengindikasikan bahwa siswa belum memiliki pemahaman yang utuh mengenai potensi diri, minat, dan arah masa depan yang ingin dicapai. Situasi ini mencerminkan konsep diri yang belum berkembang secara positif serta pandangan masa depan yang masih kabur dan belum terstruktur. Padahal, konsep diri yang positif berperan penting dalam membantu individu mengenali kemampuan dan minatnya, sedangkan pandangan masa depan yang jelas memungkinkan individu menetapkan tujuan serta merencanakan langkah karir secara matang. Oleh karena itu, rendahnya kematangan karir siswa SMK tidak hanya dipengaruhi oleh faktor eksternal, tetapi juga berkaitan erat dengan lemahnya konsep diri dan pandangan masa depan, sehingga kedua variabel tersebut dipandang relevan secara teoritis untuk dikaji sebagai faktor yang memengaruhi kematangan karir siswa SMK.

Kematangan karir merupakan kemampuan individu dalam merencanakan, mengeksplorasi, memahami informasi, serta mengambil keputusan karir secara matang dan bertanggung jawab sesuai dengan tahap perkembangannya[1]. Perkembangan kematangan karir remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor, faktor-faktor yang mempengaruhi tersebut, yaitu dari educational level, race ethnicity, locus of control, self-concept, social economi status, work salience, future time prespective dan self-efficacy[9]. Konsep diri dan pandangan masa depan adalah faktor yang berperan penting karena berkaitan langsung dengan bagaimana individu memahami dirinya dan memandang arah kehidupannya di masa mendatang dalam kematangan karir. Oleh karena itu, kedua variabel tersebut dipandang relevan dan layak untuk diteliti sebagai faktor yang memengaruhi tingkat kematangan karir, khususnya pada siswa yang sedang berada pada tahap merancang kematangan karir[13].

Konsep diri berperan penting dalam proses kematangan karir karena berkaitan dengan cara individu memandang dan menilai dirinya sendiri, termasuk pemahaman terhadap minat, kemampuan, dan potensi yang dimiliki[14]. Dalam kematangan karir, individu dengan konsep diri yang positif cenderung memiliki kepercayaan diri yang lebih baik dalam merencanakan karir, mampu menilai kesesuaian antara dirinya dengan pilihan karir yang dituju. Sebaliknya, konsep diri yang kurang berkembang dapat menyebabkan kebingungan, keraguan, dan ketergantungan dalam menentukan arah karir, sehingga menghambat tercapainya kematangan karir[15]. Pemilihan konsep diri dalam penelitian ini didasarkan pada teori-teori psikologi. Teori konsep diri yang dikemukakan oleh Calhoun dan Acocella, bahwa pilihan dan perkembangan karir merupakan penerapan dari konsep diri individu. Menurut teori ini, individu akan cenderung memilih dan mengembangkan karir yang sesuai dengan gambaran dirinya, sehingga sehingga tingkat kematangan karir sangat dipengaruhi oleh sejauh mana individu memiliki konsep diri yang matang dan selaras. Oleh karena itu, konsep diri diteliti sebagai variabel independen yang berkontribusi terhadap kematangan karir[ 16].

Konsep diri (Self-Concept) merupakan hal yang penting dalam kehidupan sebab pemahaman seseorang mengenai konsep dirinya akan menentukan dan mengarahkan perilaku dalam berbagai situasi. konsep diri adalah penilaian, perasaan maupun pandangan seseorang tentang dirinya sendiri, baik yang bersifat fisik, psikologis, dan sosial yang diperoleh dari pengalaman dan interaksinya dengan lingkungan[17]. Terdapat dua komponen dalam konsep diri yaitu komponen kogntif dan afektif, komponen kognitif disebut self image dan komponen afektif disebut self esteem. Komponen kognitif berupa citra diri yang sifatnya objektif dan komponen afektif berupa harga diri dan penerimaan diri yang bersifat subjektif[18]. Sementara Calhoun dan Acocella mengemukakan konsep diri sebagai gambaran tentang diri individu yang terdiri dari pengetahuan tentang dirinya, pengharapannya dan penilaian terdahap dirinya[19]. Aspek konsep diri yaitu pengetahuan diri, harapan, dan penilaian adalah tiga aspek yang membentuk konsep diri seseorang. Adapun ciri-ciri dari konsep diri yaitu percaya diri, memiliki tanggung jawab, beradaptasi dan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapinya[20]. Konsep diri memiliki peran besar dalam kaitannya dengan interaksi individu dengan lingkungannya karena konsep diri membentuk pemahaman dan penerimaan akan pengalaman yang di dapatkan individu. Dalam konteks sekolah khususnya kaitannya dengan karier, siswa yang mempunyai konsep diri baik akan mampu mengambil langkah selanjutnya untuk memperoleh keterampilan yang diperlukan guna menunjang keberhasilannya dalam pekerjaan maupun dalam menempuh pendidikan selanjutnya[21].

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Febrianti dkk, mengkaji hubungan antara konsep diri dengan kematangan karir pada siswa kelas XII SMA di Kabupaten Semarang. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan desain korelasional pada 200 siswa, hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan sebesar 0,307 (p < 0,05) antara konsep diri dan kematangan karier. Artinya, semakin tinggi konsep diri yang dimiliki siswa, maka semakin tinggi pula tingkat kematangan karier mereka. Temuan ini mengimplikasikan bahwa pembentukan konsep diri yang positif sangat penting dalam membantu siswa merencanakan karier secara matang setelah lulus SMA[22].

Selain konsep diri, pandangan masa depan juga merupakan faktor psikologis yang memengaruhi kematangan karir. Pandangan masa depan mencerminkan kemampuan individu dalam memandang, memproyeksikan, dan memaknai masa depan yang ingin dicapai[23]. Individu yang memiliki pandangan masa depan yang jelas cenderung mampu menetapkan tujuan jangka panjang dan mengaitkan aktivitas saat ini dengan kematangan karir di masa mendatang. Pandangan masa depan yang positif mendorong individu untuk aktif melakukan eksplorasi karir, mencari serta memanfaatkan informasi karir, dan mengambil keputusan karir secara lebih terarah. Sebaliknya, individu yang memiliki pandangan masa depan yang lemah cenderung kurang memiliki orientasi tujuan, sehingga kematangan karir menjadi tidak optimal[24]. Pandangan masa depan ditetapkan sebagai variabel independen pada penelitian ini, didasarkan pada teori yang dikemukakan oleh Husman dan Shell. Husman dan Shell menyatakan bahwa pandangan masa depan (future time perspective) dalam kematangan karir memiliki peran penting, karena proses pemilihan dan rancangan karir menuntut individu untuk berpikir prospektif dan berorientasi pada tujuan jangka panjang kematangan karir[25].

Pandangan masa depan (Future Time Perspective) dapat didefinisikan sebagai persepsi individu mengenai peluang dan batasan yang mereka hadapi dalam kehidupan mereka, serta mencerminkan variasi daya juang individu terkait dengan pandangan mereka tentang masa depan[26]. Pandangan akan masa depan memiliki dua komponen, yakni impact atau kecenderungan individu terpengaruh oleh pikiran mengenai masa depan saat mengambil keputusan dan berperilaku serta distance atau penilaian individu mengenai jarak waktu saat ini dengan masa depan[27]. Husman dan Shell (2008), menjelaskan pandangan masa depan merupakan sebuah gambaran tentang rencana dimasa depan dan sisa-sisa waktu yang dimiliki individu tersebut bisa dimanfaatkan dengan memperbaiki masa depan serta menyusun karir individu tersebut[11].

Adapun aspek-aspek pandangan masa depan diantaranya yaitu penilaian (valence) yang mencerminkan kemampuan untuk menghargai masa depan dan bersedia berkorban demi kepentingan masa depan serta proses pengambilan keputusan yang berkaitan dengan tujuan hidup , eksplorasi (exploration) adalah kemampuan untuk mengetahui minat, bakat, serta keterampilan yang dapat mendukung karir individu, extension yaitu bahwa seseorang akan memproyeksikan pikirannya terhadap tujuan di masa depan dan kecepatan (speed) merupakan perasaan individu untuk memiliki kemampuan untuk mengatasi dan merencanakan masa depan perasaan yang dimiliki individu terkait dengan waktu [28]. Kematangan karier dapat dipengaruhi oleh pandangan masa depan. Perubahan lingkungan dan kemajuan teknologi yang pesat,terutama dalam menghadapi masa depan, merupakan permasalahan yang kompleks. Jika siswa tidak memperoleh pengetahuan dan pengawasan, perubahan dan tindakan perspektif masa depan akan berdampak negatif. Hal ini karena pandangan setiap individu terhadap masa depan akan membuat siswa lebih antusias untuk meningkatkan kemampuan mereka dan harus bersaing dalam dunia pekerjaan maupun tingkat pendidikan selanjutnya[29].

Penelitian terdahulu oleh Putri dkk, mengkaji hubungan antara pandangan akan masa depan dengan kematangan karier pada siswa SMK. Penelitian ini memiliki responden sebesar 312 siswa SMK dengan menggunakan metode teknik sampling yaitu stratified cluster random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat reliabilitas masing-masing yaitu 0,888 dan 0,871, kemudian dari hasil analisis korelasi Spearman Rho menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara pandangan masa depan dan kematangan karir siswa SMK. Penelitian ini menjadi dasar penting untuk memahami bagaimana motivasi dan persepsi masa depan dapat mempengaruhi kesiapan karier siswa SMK[30].

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan pandangan masa depan dengan kematangan karir pada siswa SMK X di Sidoarjo. Berdasarkan kajian teori dan hasil penelitian sebelumnya, peneliti merumuskan hipotesis bahwa terdapat hubungan positif antara konsep diri dan pandangan masa depan secara bersama-sama dengan kematangan karir siswa SMK. Keunikan penelitian ini terletak pada penggabungan dua variabel psikologis utama, yaitu self-concept dan future time prespective dalam satu model korelasional terhadap kematangan karir siswa SMK, berbeda dari studi terdahulu yang hanya mengkaji masing-masing variabel secara terpisah. Pendekatan ini menawarkan perspektif holistik tentang faktor internal yang saling berkaitan.

Metode

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif non eksperimen dengan metode korelasional yang digunakan mengetahui hubungan antara dua variabel, yaitu konsep diri dan pandangan masa depan dengan kematangan karir siswa SMK X di Sidoarjo. Iting menyatakan bahwa, penelitian kuantitatif merupakan metode penelitian yang dilakukan terhadap suatu populasi atau sampel tertentu dan dirancang untuk mengidentifikasi hubungan antara dua atau lebih variabel tanpa melakukan manipulasi terhadap variabel tersebut[31]. Sampel pada penelitian ini ditentukan menggunakan rumus slovin dengan tingkat taraf kesalahan 5%, sehingga diperoleh 264 responden. Penelitian ini menggunakan teknik proportionate random sampling, yaitu jumlah responden dari setiap jurusan ditentukan secara proporsional berdasarkan besarnya populasi jurusan terhadap total populasi siswa. Dari total populasi sebanyak 777 siswa, setiap jurusan dihitung persentasenya, kemudian jumlah responden diambil sesuai dengan proporsi tersebut. Jurusan DKV yang memiliki populasi 194 siswa (25%) ditetapkan sebanyak 67 responden, jurusan TM dengan populasi 70 siswa (9%) ditetapkan 23 responden, jurusan Akuntansi dengan populasi 210 siswa (27%) ditetapkan 65 responden, jurusan RPL dengan populasi 101 siswa (13%) ditetapkan 34 responden, jurusan TKJ dengan populasi 132 siswa (17%) ditetapkan 51 responden, dan jurusan Perbankan dengan populasi 70 siswa (9%) ditetapkan 24 responden. Sehingga jumlah responden yang diambil dari tiap jurusan sebanding dengan proporsi populasi masing-masing, sehingga sampel penelitian merepresentasikan secara keseluruhan populasi.

Peneliti terlebih dahulu melakukan uji validitas dan reliabilitas instrumen dengan melibatkan 30 subjek uji coba untuk memastikan keakuratan dan konsistensi alat ukur sebelum digunakan pada sampel utama. Pada penelitian ini mengukur tiga variabel utama, yaitu Self-Concept (X1), Future Time Perspective (X2) dan Kematangan Karir sebagai (Y) yang menggunakan instrument hasil adopsi dari penelitian Almaida D.S, dan Nugroho dkk. Instrumen disusun dalam bentuk skala Likert dengan empat pilihan jawaban, yakni Sangat Tidak Setuju (STS), Tidak Setuju (TS), Setuju (S), dan Sangat Setuju (SS). Variabel kematangan karir diukur berdasarkan teori Super (1980), tertuju pada empat aspek, yaitu perencanaan karir, eksplorasi, informasional dan pengambilan keputusan dengan menghasilkan reliabilitas cronbach alpha 0,840[12]. Variabel konsep diri diukur berdasarkan teori Calhoun dan Acocella (1995), tertuju pada tiga aspek, yaitu pengetahuan, pengharapan dan penilaian dengan menghasilkan reliabilitas cronbach alpha 0,953[19]. Variabel pandangan akan masa depan diukur berdasarkan teori Husman dan Shell (2008), tertuju pada empat aspek, yaitu penilaian, eksplorasi, extension dan kecepatan dengan menghasilkan reliabilitas cronbach alpha 0,863[30]. sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh instrumen penelitian ini valid, reliabel, dan layak digunakan. Teknik analisis menggunakan korelasi berganda dengan bantuan SPSS 23.0 untuk windows.

Hasil dan Pembahasan

Hasil

1. Uji Asumsi

Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnov Shapiro- Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Unstandardized Residual .045 264 .200* .99 264 .071
Table 1. Tabel 1 . Uji Normalitas

Berdasarkan hasil pengujian didapatkan nilai signifikansi atau p-value menggunakan uji Kolmogorov- Smirnov adalah (0.200) > α (0.05) dan didapatkan nilai signifikansi atau p-value menggunakan uji Shapiro Wilk adalah (0.071) > α (0.05). Sehingga dapat dikatakan bahwa residual data berdistribusi normal dan asumsi normalitas pada regresi telah terpenuhi.

ANOVA Table
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Y*X1 Linearity 40.791 1 40.791 1.92 0.167
Deviation from Linearity 927.42 38 24.406 1.149 0.266
Y*X2 Linearity 59.594 1 59.594 2.759 0.098
Deviation from Linearity 461.075 21 21.956 1.016 0.444
Table 2. Tabel 2. Uji Linieritas

Berdasarkan hasil tabel diatas, nilai deviation from linearity pada varibael konsep diri sebesar 0.266 dan pandangan masa depan sebesar 0.444. Apabila nilai Sig. > 0.05 maka tidak ada penyimpangan sehingga hubungan benar-benar linier.

2. Uji Hipotesis

Model Summary
Adjusted RSquare Change Statistics
Model R RSquare Std. Error of the Estimate RSquare Change FChange df1 df2 Sig. F Change
1 .843 0,710 0,708 252,110 0,710 319,998 2 261 0,000
Table 3. Tabel 3. Uji Korelasi Berganda

Hubungan antarvariabel dalam penelitian ini menunjukkan nilai Sig. F Change sebesar 0,00 < 0,05 menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan secara statistik. Uji F menunjukkan bahwa variabel konsep diri dan pandangan masa depan secara simultan memberikan kontribusi signifikan terhadap kematangan karir.

Pembahasan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep diri dan pandangan masa depan memiliki hubungan yang signifikan dengan kematangan karir siswa SMK. Temuan ini mengindikasikan bahwa kematangan karir siswa dalam merencanakan, mengeksplorasi, serta mengambil keputusan karir tidak dapat dilepaskan dari bagaimana siswa memahami dirinya dan bagaimana ia memandang masa depannya. Kematangan karir sebagai tugas perkembangan remaja akhir menuntut adanya kejelasan identitas diri serta orientasi tujuan jangka panjang, khususnya bagi siswa SMK yang berada pada fase transisi menuju dunia kerja atau pendidikan lanjutan[1].

Hubungan yang kuat antara konsep diri dan kematangan karir menunjukkan bahwa siswa dengan pemahaman diri yang positif cenderung lebih siap menghadapi tuntutan perkembangan karir. Konsep diri berperan sebagai landasan psikologis yang membantu individu mengenali minat, bakat, kemampuan, serta keterbatasan diri sehingga mampu menilai kesesuaian antara dirinya dengan pilihan karir yang tersedia. Teori Super yang menekankan bahwa kematangan karir berkaitan erat dengan kemampuan individu dalam memahami diri sebelum membuat keputusan karir[11]. Konsep diri yang positif berkontribusi terhadap kematangan karir dalam meningkatnya perencanaan karir, eksplorasi karir, serta keyakinan dalam mengambil keputusan karir. Sebaliknya, konsep diri yang rendah dapat memunculkan keraguan, kebingungan, serta ketergantungan pada pihak lain dalam menentukan arah karir, yang pada akhirnya menghambat kematangan karir siswa[15].

Selain konsep diri, pandangan masa depan juga terbukti memiliki peran penting dalam membentuk kematangan karir siswa SMK. Pandangan masa depan mencerminkan sejauh mana individu mampu memproyeksikan tujuan hidup dan karirnya serta mengaitkan tindakan saat ini dengan konsekuensi di masa mendatang. Siswa yang memiliki pandangan masa depan yang jelas dan positif cenderung lebih termotivasi untuk mempersiapkan diri, mencari informasi karir, serta merancang langkah-langkah strategis untuk mencapai tujuan karirnya. Pandangan Husman dan Shell yang menyatakan bahwa orientasi masa depan mendorong individu untuk berpikir prospektif dan berorientasi pada tujuan jangka panjang dalam pengambilan keputusan karir [25]. Adanya hubungan positif antara future time perspective dan kematangan karir, khususnya pada siswa SMK yang sedang menghadapi pilihan karir setelah lulus [30].

Kontribusi konsep diri dan pandangan masa depan secara simultan terhadap kematangan karir menunjukkan bahwa kedua variabel tersebut saling melengkapi dalam memengaruhi kematangan karir siswa. Konsep diri memberikan dasar pemahaman internal mengenai siapa diri individu dan apa yang mampu ia lakukan, sementara pandangan masa depan memberikan arah dan tujuan yang ingin dicapai. Kombinasi keduanya memungkinkan siswa untuk tidak hanya mengenali potensi diri, tetapi juga mampu mengaitkan potensi tersebut dengan rencana karir yang realistis dan terarah. Faktor psikologis internal memiliki kontribusi signifikan terhadap kematangan karir dibandingkan faktor eksternal semata [9].

Temuan penelitian ini juga relevan dengan kondisi faktual siswa SMK yang sering mengalami ketidaksesuaian antara minat, bakat, dan jurusan yang dipilih. Ketidaksesuaian tersebut dapat menurunkan kepercayaan diri serta melemahkan pandangan masa depan siswa, sehingga berdampak pada rendahnya kematangan karir. Rendahnya kematangan karir pada siswa SMK sering ditandai dengan minimnya perencanaan karir, rendahnya eksplorasi karir, serta kesulitan dalam mengambil keputusan karir secara mandiri. Dengan demikian, penguatan konsep diri dan pandangan masa depan menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan kematangan karir siswa SMK[7]. Kemudian beberapa dari temuan penelitian ini juga menunjukkan bahwa hubungan antara konsep diri dan pandangan masa depan dengan kematangan karir merupakan konstruksi multidimensional yang tidak hanya dipengaruhi oleh faktor kognitif atau informasi karir semata, tetapi juga oleh faktor psikologis internal yang berkembang secara dinamis. Konsep diri dan pandangan masa depan berperan sebagai mekanisme psikologi yang membantu siswa mengintegrasikan pengalaman belajar, tuntutan lingkungan, serta aspirasi pribadi ke dalam proses pengambilan tujuan karir[11][9]. Kematangan karir tersebut tercermin dari kemampuan siswa dalam merencanakan karir, mengeksplorasi berbagai alternatif pilihan, serta mengambil keputusan secara mandiri dan bertanggung jawab, sebagaimana dijelaskan dalam aspek-aspek kematangan karir menurut Super [12]. Hal ini menegaskan bahwa kematangan karir bukan hanya hasil dari proses pembelajaran formal di sekolah, tetapi juga merupakan hasil dari pembentukan sikap dan keyakinan internal maupun eksternal siswa terhadap dirinya sendiri[14].

Lebih lanjut, hasil penelitian ini mengindikasikan pentingnya peran sekolah dalam memfasilitasi penguatan faktor psikologis siswa. Lingkungan sekolah yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami potensi diri, membangun kepercayaan diri, serta mengembangkan orientasi tujuan jangka panjang secara jelas dan matang dapat membantu meningkatkan konsep diri dan pandangan masa depan siswa. Melalui pengembangan layanan bimbingan dan konseling karir yang terstruktur, kegiatan praktik kerja industri, serta pemberian informasi karir yang relevan, siswa diharapkan mampu membangun keyakinan bahwa mereka memiliki kendali dan kemampuan dalam menentukan arah karirnya. Dengan demikian, pengembangan kematangan karir siswa SMK dapat berlangsung secara lebih optimal dan berkelanjutan[30].

Secara keseluruhan, kematangan karir siswa SMK tidak terbentuk secara otomatis, melainkan dipengaruhi oleh faktor psikologis yang berkembang seiring pengalaman dan dukungan lingkungan. Konsep diri yang positif dan pandangan masa depan yang jelas memungkinkan siswa untuk menghadapi tuntutan perkembangan karir secara lebih adaptif dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, penelitian ini memberikan implikasi bahwa intervensi pendidikan dan bimbingan karir di SMK perlu diarahkan pada pengembangan pemahaman diri dan orientasi masa depan siswa sebagai upaya strategis dalam meningkatkan kematangan karir mereka [14][30].

Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Salah satu keterbatasan utama terletak pada jumlah butir pernyataan dalam kuesioner yang relatif banyak, sehingga memerlukan waktu pengisian yang cukup panjang bagi para responden. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kelelahan atau menurunkan tingkat fokus siswa selama proses pengisian, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kemungkinan siswa mengisi jawaban secara acak atau kurang teliti. Fenomena tersebut secara tidak langsung dapat memengaruhi validitas respons, terutama pada bagian akhir kuesioner ketika tingkat kejenuhan siswa semakin tinggi. Oleh karena itu, penggunaan instrumen dengan banyak butir pernyataan memerlukan pengawasan yang lebih intensif selama proses pengisian kuesioner agar data yang diperoleh tetap akurat dan representatif. Selain itu, proses pengawasan yang ketat juga penting untuk memastikan bahwa siswa memahami setiap item dengan benar, sehingga jawaban yang diberikan benar-benar mencerminkan kondisi psikologis mereka yang sebenarnya.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa konsep diri dan pandangan masa depan memiliki hubungan positif dan signifikan dengan kematangan karir siswa SMK. Semakin positif konsep diri dan pandangan masa depan yang dimiliki siswa, maka semakin baik pula tingkat kematangan karirnya. Hasil analisis juga menunjukkan bahwa konsep diri dan pandangan masa depan secara bersama-sama memberikan kontribusi yang signifikan terhadap kematangan karir siswa SMK. Hal ini menunjukkan bahwa faktor psikologis berperan penting dalam kematangan karir siswa.

Bagi siswa, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman terhadap konsep diri dengan mengenali minat, bakat, kemampuan, serta potensi yang dimiliki sebagai dasar dalam memberikan kematangan karir yang baik. Selain itu, siswa diharapkan mampu mengembangkan pandangan masa depan yang jelas dan terarah dengan menetapkan tujuan pendidikan dan karir jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan memiliki konsep diri yang positif dan orientasi masa depan yang baik, siswa diharapkan dapat lebih aktif dalam mengeksplorasi informasi karir, memanfaatkan berbagai kesempatan pengembangan diri, serta mengambil keputusan karir secara mandiri,matang dan bertanggung jawab.

Ucapan Terima Kasih

Peneliti juga mengucapkan terima kasih kepada pihak SMK X Sidoarjo, khususnya kepala sekolah, para guru, serta seluruh siswa yang telah memberikan izin, dukungan, dan kerja sama selama proses pengambilan data penelitian. Partisipasi aktif dari pihak sekolah sangat membantu kelancaran pelaksanaan penelitian, mulai dari tahap perencanaan hingga pengumpulan data. Peneliti juga mengapresiasi keterbukaan dan kesediaan siswa dalam mengikuti seluruh rangkaian penelitian dengan penuh tanggung jawab. Dukungan administratif dan fasilitasi yang diberikan oleh pihak sekolah turut menciptakan suasana penelitian yang kondusif. Kerja sama yang terjalin dengan baik ini menjadi faktor penting dalam keberhasilan dan kelancaran penelitian ini.

References

[1] R. D. Pratama and S. Lestari, “Tingkat Kematangan Karir Pada Siswa Sekolah Menengah,” Counsenesia: Indonesian Journal of Guidance and Counseling, vol. 4, no. 2, pp. 101–109, 2023.

[2] P. A. Raihana, M. Roesmalita, and R. S. Mahira, “Peningkatan Pengetahuan Kematangan Karir Siswa SMK Yosonegoro Magetan,” Jurnal Pengabdian Masyarakat, vol. 5, no. 2, pp. 45–52, 2024.

[3] I. Z. Ratnaningsih, A. F. Pratiwi, and R. A. Putri, “Kematangan Karier Siswa SMK Ditinjau Dari Jenis Kelamin Dan Jurusan,” Humanitas: Indonesian Psychological Journal, vol. 22, no. 1, pp. 15–27, 2025.

[4] Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4301, 2003.

[5] H. Amiruddin, A. M. Irfan, M. H. S., and W. Setilaksana, “Distribusi Kecakapan Abad Ke-21 Siswa SMK Di Indonesia,” in Prosiding Seminar Nasional Hasil Penelitian: Penguatan Riset, Inovasi, Dan Kreativitas Peneliti Di Era Pandemi Covid-19, Makassar, Indonesia: Universitas Negeri Makassar, 2021, pp. 2123–2144.

[6] K. A. Andini, Suroso, and I. Y. Arifiana, “Kematangan Karir Siswa SMK: Bagaimana Dengan Efikasi Diri Siswa?,” Jiwa: Jurnal Psikologi Indonesia, vol. 2, no. 1, pp. 158–166, 2024.

[7] D. P. Nirwana, “Perbedaan Kematangan Karir Ditinjau Dari Jenis Kelamin,” Character: Jurnal Penelitian Psikologi, vol. 7, no. 4, pp. 230–240, 2020.

[8] D. S. Fatimah, R. Irmayanti, and P. Utomo, “Profil Kematangan Karier Siswa SMA Negeri 2 Lembang,” Fokus: Kajian Bimbingan Dan Konseling Dalam Pendidikan, vol. 7, no. 1, pp. 1–10, 2024.

[9] G. M. Kounji and E. W. Hapsari, “Hubungan Future Time Perspective Dengan Career Maturity Pada Mahasiswa Tingkat Akhir,” Manasa: Jurnal Ilmu Bimbingan Dan Konseling, vol. 14, no. 2, pp. 1–11, 2025, doi: 10.25170/manasa.v14i2.6624.

[10] A. N. Aini and D. Nastiti, “Gambaran Kematangan Karir Pada Siswa Sekolah Menengah Atas,” Jurnal Psikologi Pendidikan, vol. 10, no. 1, pp. 1–13, 2021.

[11] I. F. Buchari, S. S. Gismin, and S. Hayati, “Pengaruh Future Time Perspective Terhadap Kematangan Karir Mahasiswa Akhir Di Kota Makassar,” Jurnal Psikologi Karakter, vol. 4, no. 1, pp. 203–207, 2024, doi: 10.56326/jpk.v4i1.3704.

[12] V. A. N. Nugroho et al., “Kematangan Karir Ditinjau Dari Internal Locus Of Control Dan Self-Efficacy Pada Siswa SMK,” Jurnal Sublimapsi, vol. 5, no. 3, pp. 1–12, 2024.

[13] F. Febrianti and D. Karema Sarajar, “Konsep Diri Dan Kematangan Karier Siswa Kelas XII SMA Di Kabupaten Semarang,” G-Couns: Jurnal Bimbingan Dan Konseling, vol. 9, no. 1, pp. 628–635, Dec. 2024.

[14] R. Purwandika and Y. Ayriza, “Pengaruh Konsep Diri Terhadap Kematangan Karir Peserta Didik SMA Negeri Di Kabupaten Pacitan,” Jurnal Ecopsy, vol. 7, no. 2, pp. 1–10, 2025.

[15] W. Farla, N. Meitisari, and L. D. Siregar, “Self-Concept And Career Maturity In Generation Z In Palembang City,” JBMP: Jurnal Bisnis, Manajemen Dan Perbankan, vol. 11, no. 1, pp. 1–12, 2025.

[16] Y. I. Lestari, S. Supriyati, and D. Lutfianawati, “Konsep Diri, Jenis Kelamin, Dan Kematangan Karier Pada Siswa SMAN X Bandar Lampung,” Seurune: Jurnal Psikologi Unsyiah, vol. 5, no. 2, pp. 1–12, 2022.

[17] B. U. Wutsqo et al., “Hubungan Konsep Diri Dengan Kematangan Vokasional Pada Siswa SMK,” Jurnal Ilmiah Bimbingan Konseling Undiksha, vol. 11, no. 1, pp. 54–60, 2020.

[18] F. N. R. Dewi, “Konsep Diri Pada Masa Remaja Akhir Dalam Kematangan Karir Siswa,” Journal of Guidance and Counseling, vol. 5, no. 1, pp. 1–10, 2021.

[19] D. S. Almaida and D. A. Febriyanti, “Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kematangan Karir Pada Siswa Kelas XI SMK Yayasan Pharmasi Semarang,” Jurnal Empati, vol. 8, no. 1, pp. 87–92, 2019.

[20] N. H. Fadila and D. Rosiana, “Pengaruh Konsep Diri Terhadap Kematangan Karir Siswa Kelas XII SMK Di Kota Serang,” Delusion: Exploring Psychology, vol. 2, no. 1, pp. 19–25, 2025.

[21] L. D. Indirasari and O. P. Mulyana, “Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Kesiapan Kerja Pada Siswa SMK,” Character: Jurnal Penelitian Psikologi, vol. 11, no. 3, pp. 1367–1382, 2024.

[22] Q. A. Anindita and U. Bidayati, “Kematangan Karier: Peran Future Time Perspective Dan Kecerdasan Emosional,” Al-Kharaj, vol. 7, no. 9, pp. 3577–3588, 2025.

[23] I. N. A. S., A. M. Putri, and P. Harkina, “Pengaruh Dukungan Orang Tua Dan Future Time Perspective Terhadap Kematangan Karir Siswa SMA Negeri Di Kota Metro,” Jurnal Psychomutiara: Psikologi, vol. 8, no. 2, pp. 1–12, 2025.

[24] A. Grashinta, A. P. Istiqomah, and E. P. Wiroko, “Pengaruh Future Time Perspective Terhadap Kematangan Karir Pada Mahasiswa,” Jurnal Psikologi Pendidikan Dan Konseling, vol. 4, no. 1, pp. 1–12, 2025.

[25] R. Agustina and Y. S. Dwanoko, “Analysis Of Future Time Perspective (FTP) And Career Maturity On Work Readiness Of Information Systems Students Facing The World Of Work In The Informatics Sector,” SMATIKA: Jurnal Ilmiah, vol. 11, no. 1, pp. 1–10, 2021.

[26] M. Imega and T. Widyastuti, “The Relationship Between Future Time Perspective And Career Maturity In Final-Year Students Of Muhammadiyah University Sidoarjo,” 2023.

[27] G. M. K. Elisabet W. Hapsari, “Hubungan Future Time Perspective Dengan Career Maturity Pada Mahasiswa Tingkat Akhir,” Jurnal Ilmiah Psikologi Manasa, vol. 14, no. 2, pp. 1–11, 2025.

[28] N. D. Rohmania and A. K. Hardew, “Hubungan Antara Future Time Perspective Dengan Kematangan Karier Siswa SMK Negeri 2 Surakarta Jurusan Otomotif,” Edukasiana: Jurnal Inovasi Pendidikan, vol. 4, no. 4, pp. 1668–1681, 2025, doi: 10.56916/ejip.v4i4.2465.

[29] H. Kurniawati, “The Effect Of Future Time Perspective, Emotional Intelligence And Peer Support On Career Maturity In Students,” Jurnal Konseling Dan Pendidikan, vol. 9, no. 3, pp. 304–314, 2021, doi: 10.29210/166600.

[30] N. D. A. Putri, A. A. Nugroho, and P. A. Satwika, “Pandangan Akan Masa Depan Dan Kematangan Karier Siswa SMK,” Jurnal Ilmiah Psikologi Candrajiwa, vol. 7, no. 1, pp. 60–67, 2022.

[31] A. Iting, S. Ondeng, and M. Mustami, “Pendekatan Penelitian Korelasional: Konsep, Metode, Dan Aplikasinya,” Jurnal Panrita, vol. 5, no. 2, pp. 127–141, 2025, doi: 10.35906/panrita.v5i2.357.