Herlina Dewanti (1), Nurfi Laili (2)
General Background: Career maturity is a crucial developmental task for vocational high school students as they prepare to enter the workforce. Specific Background: Empirical findings indicate that many students demonstrate moderate to low levels of career maturity, particularly in career planning and decision making. Psychological factors such as internal locus of control and self-efficacy are theoretically linked to students’ readiness to manage career development tasks. Knowledge Gap: Although previous studies have examined these variables separately, limited research has analyzed their simultaneous relationship within a specific vocational school context. Aims: This study aims to analyze the relationship between internal locus of control and self-efficacy with career maturity among vocational high school students at SMK X in Sidoarjo. Results: Using a quantitative correlational design with 264 respondents, the findings reveal a significant simultaneous relationship between internal locus of control and self-efficacy with career maturity (Sig. F Change = 0.000 < 0.05; R = 0.881; R² = 0.777). Novelty: The study provides contextualized empirical evidence within a single vocational school, offering a focused analysis of internal psychological predictors of career maturity. Implications: Strengthening students’ internal locus of control and self-efficacy through structured career guidance programs may support the development of more mature career planning and decision-making processes.
Keywords: Internal Locus of Control, Self Efficacy, Career Maturity, Vocational High School Students, Career Development
Key Findings Highlights:
Simultaneous analysis reveals strong statistical association among the three measured constructs.
Psychological belief in personal agency aligns with higher readiness for occupational planning.
Confidence in personal capability corresponds with stronger preparation for vocational decision processes.
Dalam rentang kehidupan manusia terdapat tahapan-tahapan yang harus dilalui sejak lahir hingga meninggal. Dalam setiap tahap perkembangan tersebut terdapat tugas yang mengharuskan seseorang untuk mampu menjalani setiap tugas sehingga seseorang akan merasa bahagia.Pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) adalah individu yang sedang memilih dan mempersiapkan diri untuk berkarir di masa depan. Mempersiapkan kematangan karier di sekolah menengah atas adalah hal yang penting. Pada tahap ini anak berada di pintu gerbang untuk memasuki dunia berkarir yang menjadi perhatian utama bagi perkembangan dan masa depan anak Indonesia. Pada tahap ini para siswa juga sedang mempersiapkan diri untuk memasuki dunia kerja yang penuh dengan tantangan dan persaingan [1].
Penelitian oleh Putri dkk. mengungkap bahwa hanya 40% siswa SMK di kota Bekasi memiliki rencana karir yang jelas, sementara 60% masih bingung atau tidak punya rencana sama sekali. Temuan ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa SMK belum mencapai kematangan karir yang optimal sebesar 65% pada kategori sedang. Kematangan karir yang baik sangat penting untuk membantu mereka membuat keputusan yang bijaksana dan relevan dengan kebutuhan pasar kerja[2]. Terdapat temuan lain yaitu pada penelitian oleh Andini dkk. menunjukkan bahwa dari 201 siswa SMK Negeri 2 Jombang yang diteliti, sebanyak 33 siswa (16,4%) berada pada kategori kematangan karir rendah dan 19 siswa (9,5%) berada pada kategori sangat rendah. Artinya, sekitar (25,9%) dari total responden menunjukkan tingkat kematangan karir yang belum sempurna, sedangkan hanya 9 siswa (4,5%) yang tergolong sangat tinggi dan 50 siswa (24,9%) tergolong tinggi dan kebanyakan siswa yaitu 123 orang (61,2%) berada pada
kategori sedang. hasil berikut merupakan bukti bahwa sebagian besar siswa berada pada kategori sedang. Rendahnya kematangan karir ini berkorelasi positif dengan tingkat efikasi diri siswa, menandakan bahwa semakin rendah efikasi diri siswa, maka semakin rendah pula kematangan karir yang dimilikinya[3].
Menurut Ghassani, Fenomena yang justru berkembang di kalangan siswa adalah kebanyakan siswa belum memiliki gambaran yang jelas mengenai masa depannya. Tidak jarang di antara siswa memilih pendidikan lanjutan tertentu karena menuruti keinginan orang tua ataupun pengaruh teman sebaya, sementara siswa sendiri kurang mengenali bakat, minat ataupun keinginan sendiri di masa mendatang[4]. Dampak Rendahnya kematangan karir pada siswa khususnya siswa SMK, memiliki berbagai dampak yang signifikan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dari sisi pengambilan keputusan, siswa dengan kematangan karir yang rendah cenderung mengalami kebingungan dalam menentukan pilihan setelah lulus sekolah, apakah akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau langsung memasuki dunia kerja. Ketidakjelasan ini sering kali membuat siswa mengambil keputusan secara tergesa-gesa atau hanya mengikuti arahan orang tua dan lingkungan, tanpa mempertimbangkan minat, kemampuan, serta potensi diri secara matang[5].
Menurut Super, kematangan karir merupakan sikap, tindakan atau karakter yang dimiliki seseorang serta menjadi indikator dalam menilai seberapa baik perkembangan karir seseorang telah tercapai. Setiap individu menunjukkan sikap kematangan karir yang berbeda-beda karena perilaku tersebut sangat dipengaruhi oleh tahapan kehidupan yang sedang dijalani[6]. Kesiapan kognitif dalam kematangan karir berkaitan dengan kemampuan individu dalam mengambil keputusan yang tepat sedangkan kesiapan perasaan seseorang dalam menghadapi tugas, tantangan atau perkembangan karir mencakup aspek perencanaan serta eksplorasi karir yang dilakukan untuk menghadapi tugas perkembangan yang akan dihadapi di masa depan. Dengan demikian, kematangan karir mencakup perpaduan antara aspek kognitif dan afektif, yang keduanya sangat penting dalam membantu seseorang mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan dan tugas dalam proses perkembangan karirnya[7]. Super mengidentifikasi empat aspek dalam kematangan karir: (1) perencanaan karir (career planning) melibatkan upaya individu untuk mencari informasi terkait karir dan tingkat partisipasi mereka dalam proses tersebut; (2) eksplorasi karir (careerexploration) mencerminkan keinginan individu untuk mendalami dan merencanakan karir berdasarkan informasi yang diperoleh; (3) keputusan karir (decision making) berkaitan dengan keterampilan individu dalam menggunakan pengetahuan dan pemikiran untuk merencanakan karir; (4) informasi (informational) berhubungan dengan pengenalan individu terhadap minat dan kemampuan diri mereka[4].
Dari data empirik yang diperoleh melalui penelitian terhadap 244 siswa SMK Negeri se-Kota Parepare, ditemukan bahwa sebagian besar siswa menunjukkan tingkat kematangan karir yang tergolong sedang hingga rendah. Temuan ini diperoleh melalui distribusi angket, wawancara mendalam dengan guru BK, dan sesi Focus Group Discussion bersama siswa kelas XI. Rendahnya perencanaan karir dan minimnya inisiatif untuk mengikuti pelatihan karir serta ketidakmampuan mengevaluasi pilihan karir menjadi temuan utama. Komponen “information and planning” menonjol sebagai aspek dengan nilai skor rata-rata paling rendah, memperlihatkan kurangnya pengetahuan siswa dalam merancang arah karir secara strategis[8].
Super menyebutkan bahwa kematangan karir dipengaruhi oleh lima prediktor utama, yaitu educational level, race ethnicity, locus of control, self concept, social economy status, work salience, future times perspective dan self efficacy[9]. Hal ini menunjukkan bahwa faktor kepribadian seperti efikasi diri dan lokus kontrol berperan penting dalam membentuk kematangan karir[10].Survei awal dilakukan terhadap lima siswa kelas XII di SMK X Sidoarjo untuk memperoleh gambaran awal mengenai kematangan karir siswa. Hasil survei menunjukkan bahwa empat dari lima siswa memiliki kematangan karir yang rendah, yaitu belum memiliki tujuan karir yang jelas setelah lulus dan pemilihan jurusan SMK didasarkan pada keputusan orang tua, baik untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi sehinggamerasa ragu karena jurusan yang diminati tidak linear dengan jurusan SMK. Kondisi ini menunjukkan lemahnya aspek pengambilan keputusan karir. Berdasarkan teori kematangan karir Donald Super, siswa yang memiliki kematangan karir rendah umumnya menunjukkan ciri-ciri seperti kurangnya perencanaan karir dan ketidakmampuan mengambil keputusan karir secara mantang.
Kematangan karir sangat dipengaruhi oleh keyakinan individu terhadap kemampuan mengendalikan dirinya sendiri (internal locus of control) serta keyakinan terhadap kemampuan pribadi dalam menghadapi tuntutan dan tantangan (self-efficacy). Siswa yang memiliki lokus kendali internal cenderung memandang pilihan karir sebagai hasil dari usaha dan keputusan pribadi, sedangkan efikasi diri berperan dalam membangun kepercayaan siswa terhadap kemampuannya dalam menentukan serta menjalani pilihan karir tersebut. Oleh karena itu, penggunaan variabel lokus kendali internal dan efikasi diri dalam penelitian ini dipandang relevan secara teoritis untuk mengkaji permasalahan kematangan karir, khususnya yang berkaitan dengan rendahnya kemandirian dalam pengambilan keputusan karir dan lemahnya perencanaan karir pada siswa SMK[11][12].
Kematangan karir siswa merupakan aspek penting yang mempengaruhi kesiapan mereka untuk memasuki dunia kerja. Berbagai faktor dapat mempengaruhi kematangan karir seseorang, salah satunya adalah lokus kendali internal. Menurut Rotter, lokus kendali terfokus pada keyakinan individu tentang sejauh mana mereka memiliki kontrol atas peristiwa yang mempengaruhi hidup mereka.[13] Siswa dengan lokus kendali internal cenderung percaya bahwa usaha dan keputusan mereka berpengaruh pada hasil yang dicapai. Penelitian menunjukkan bahwa siswa dengan lokus kendali internal lebih proaktif dalam merencanakan karir dan mengambil inisiatif untuk mencapai tujuan mereka. Sebaliknya, siswa dengan lokus kendali eksternal mungkin merasa bahwa hasil karir mereka ditentukan oleh faktor luar, yang dapat menghambat kematangan karir mereka. Oleh karena itu, lokus kendali menjadi faktor penting yang akan diteliti dalam penelitian ini[14].
Dalam penelitian Azzahrah, lokus kendali (locus of control) diidentifikasi sebagai variabel yang diteliti, mengingat perannya yang signifikan dalam mempengaruhi kematangan karir individu. Individu dengan lokus kendali internal cenderung meyakini bahwa hasil dari tindakan mereka ditentukan oleh usaha dan keputusan yang mereka buat, sedangkan individu dengan lokus kendali eksternal cenderung merasa bahwa hasil tersebut lebih dipengaruhi oleh faktor luar, seperti nasib atau keberuntungan[15]. Terdapat aspek utama dalam lokus kendali yaitu kemampuan, minat dan usaha[16]. Ciri-ciri lokus kendali internal meliputi sikap optimis, kepercayaan diri yang tinggi, dan kemampuan untuk mengambil inisiatif dalam menghadapi tantangan [16]. Siswa yang memiliki lokus kendali internal cenderung percaya bahwa usaha dan keputusan mereka berkontribusi pada keberhasilan yang dicapai. Keyakinan ini mendorong mereka untuk lebih aktif dalam merencanakan dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan karir. Sebaliknya, siswa dengan lokus kendali eksternal mungkin merasa bahwa hasil karir mereka ditentukan oleh faktor luar, yang dapat mengurangi motivasi dan inisiatif mereka dalam merencanakan masa depan[17].
Selain lokus kendali, efikasi diri juga berperan signifikan dalam kematangan karir siswa. Menurut Bandura, efikasi diri merujuk pada keyakinan seseorang terhadap kapasitasnya dalam mengatur serta melaksanakan tindakan yang diperlukan demi mencapai tujuan tertentu. Kepercayaan ini memiliki dampak signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam menentukan arah dan keputusan terkait karir. Individu dengan tingkat efikasi diri yang tinggi cenderung lebih yakin dalam memilih jalur karir, mampu menghadapi tantangan dengan optimisme, serta berusaha secara konsisten untuk meraih kesuksesan profesional[3]. Efikasi diri merujuk pada keyakinan individu terhadap sejauh mana ia mampu mengerahkan usaha dalam menghadapi situasi tertentu serta mempertahankan ketangguhan dalam menghadapi tantangan. Albert Bandura merupakan tokoh utama dalam kajian efikasi diri yang menyatakan bahwasannya tingkat efikasi diri seseorang dapat mempengaruhi cara merespon kesulitan serta menentukan perilakunya di masa mendatang[18]. Konsep ini mencerminkan bahwa kepercayaan diri dan optimisme dapat mempengaruhi peluang keberhasilan dalam menyelesaikan tugas yang dihadapinya. Sehingga individdu yang memiliki efikasi diri yang tinggi mayoritas memiliki kepercayaan diri yang kuat, keyakinan yang teguh dalam menghadapi persoalan serta mampu menetapkan tujuan yang jelas dengan keteguhan yang tinggi untuk mencapainya. Sebaliknya, individu dengan efikasi diri rendah cenderung mengalami keraguan terhadap kemampuannya sendiri, lebih mudah menyerah saat menghadapi kesulitan, serta memiliki keyakinan yang lemah dalam menghadapi tantangan[19].
Penelitian yang dilakukan oleh Bahri dkk. mengkaji hubungan antara lokus kendali dengan kematangan karir siswa kelas XI Teknik Komputer dan Jaringan di SMK Tamansiswa Kota Binjai. Penelitian ini menjelaskan bahwa kepercayaan terhadap kemampuan diri dan kendali atas hasil menjadi ciri khas siswa dengan lokus kendali internal,
di mana mereka menilai pencapaian karir sebagai konsekuensi dari usaha dan kompetensi pribadi, bukan pengaruh eksternal. Pola pikir ini memfasilitasi perencanaan karir yang lebih matang, pengambilan keputusan yang tepat, serta kesiapan menghadapi tantangan dunia kerja[20].
Penelitian yang dilakukan oleh Rini dan Atmaja membahas pengaruh efikasi diri terhadap kematangan karir pada remaja. Studi ini melibatkan 158 remaja dengan rentangan usia 17 hingga 21 tahun baik yang masih menempuh pendidikan dijenjeang SMA/SMK maupun perguruan tinggi. Berdasarkan temuan penelitian peneliti bahwasannya remaja yang memiliki tingkat efikasi diri yang tinggi yaitu keyakinan akan kemampuan dalam menghadapi tantangan dan menyelesaikan tugas, menunjukkan kemampuan yang lebih baik dalam menata masa depan karir mereka mengeksplorasi pilihan yang sesuai serta menentukan berdasarkan minat, potensi serta kompetensi diri. Penelitian tersebut juga menyoroti efikasi diri sebagai elemen internal yang krusial dalam membentuk kematangan karir. Kepercayaan diri pada remaja mendorong mereka untuk secara proaktif mencari informasi, mengendalikan diri saat menghadapi kendala, serta merumuskan tujuan karir secara jelas. Konsep ini selaras dengan teori Bandura yang menguraikan tiga dimensi efikasi diri: level (tingkat tantangan yang mampu dihadapi), strength (intensitas keyakinan), dan generality (cakupan konteks di mana efikasi diri diterapkan) [21].
Penelitian oleh Patintingan dkk. mengkaji pengaruh lokus kendali internal dan efikasi diri dalam pengambilan keputusan karir terhadap kematangan karir siswa SMA. Hasil penelitian ini memperkuat pandangan bahwa siswa yang memiliki locus kendali internal tinggi yakni keyakinan bahwa kesuksesan merupakan hasil dari upaya pribadi memiliki tingkat keyakinan diri yang lebih baik dalam mengambil keputusan terkait karir, sehingga mampu mencapai kematangan karir yang optimal. Siswa yang merasa bertanggung jawab atas arah hidupnya cenderung lebih reflektif dalam mengevaluasi potensi dan kekurangan, serta lebih sistematis dalam menyusun rencana masa depan dan mengelola pilihan karir secara strategis. Kesimpulan ini selaras dengan temuan dari studi sebelumnya Djunaedi dkk.; Amanda & Adriani,yang mengidentifikasi lokus kendali dan efikasi diri sebagai dua variabel internal yang berpengaruh signifikan terhadap proses pengembangan kematangan karir. Para peneliti menekankan perlunya intervensi yang mendukung pembentukan efikasi diri, khususnya melalui aktivitas eksplorasi karir yang bersifat langsung, sekaligus memperkuat posisi siswa sebagai pengambil keputusan utama dalam pendidikan dan karir mereka[8].
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara lokus kendali internal dan efikasi diri terhadap kematangan karir pada siswa SMK X di Sidoarjo. Keunikan penelitian ini terletak pada fokusnya yang spesifik pada satu sekolah menengah kejuruan (SMK) di Sidoarjo. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan pada populasi dan wilayah yang lebih luas, penelitian ini memberikan gambaran yang lebih mendalam dan kontekstual mengenai hubungan lokus kendali internal dan efikasi diri terhadap kematangan karir siswa. Berdasarkan kajian teori dan hasil penelitian sebelumnya, peneliti merumuskan hipotesis bahwa terdapat hubungan positif antara lokus kendali internal dan efikasi diri secara bersama-sama dengan kematangan karir siswa SMK.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional [22][23]. Jumlah sampel ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 5%, sehingga diperoleh 264 responden[24].penentuan responden dalam penelitian ini menggunakan teknik proportionate random sampling. Dari total populasi sebanyak 777 siswa, setiap jurusan dihitung persentasenya, kemudian jumlah responden diambil sesuai dengan proporsi tersebut. Jurusan DKV yang memiliki populasi 194 siswa (25%) ditetapkan sebanyak 67 responden, jurusan TM dengan populasi 70 siswa (9%) ditetapkan 23 responden, jurusan Akuntansi dengan populasi 210 siswa (27%) ditetapkan 65 responden, jurusan RPL dengan populasi 101 siswa (13%) ditetapkan 34 responden, jurusan TKJ dengan populasi 132 siswa (17%) ditetapkan 51 responden, dan jurusan Perbankan dengan populasi 70 siswa (9%) ditetapkan 24 responden. Dengan demikian, jumlah responden yang diambil dari tiap jurusan sebanding dengan proporsi populasi masing-masing, sehingga sampel penelitian dapat merepresentasikan keseluruhan populasi secara lebih akurat dan menghindari dominasi satu jurusan tertentu.
Peneliti terlebih dahulu melakukan uji validitas dan reliabilitas instrumen dengan melibatkan 30 subjek uji coba untuk memastikan keakuratan dan konsistensi alat ukur sebelum digunakan pada sampel utama. Penelitian ini mengukur tiga variabel utama, yaitu lokus kendali internal (X1), efikasi diri (X2), dan kematangan karir (Y), yang seluruhnya menggunakan skala psikologis hasil adopsi dari penelitian Veallen dkk[6]. Instrumen disusun dalam bentuk skala Likert dengan empat pilihan jawaban, yakni Sangat Tidak Setuju (STS), Tidak Setuju (TS), Setuju (S), dan Sangat Setuju (SS). Instrumen kematangan karir diukur berdasarkan teori Super yang mencakup empat aspek perencanaan karir, eksplorasi, informasional, dan pengambilan keputusan, dengan 22 item dan reliabilitas Cronbach’s Alpha sebesar 0,840, menunjukkan skala ini reliabel. instrumen lokus kendali internal mengacu pada teori Julian B. Rotter dengan tiga aspek, yaitu percaya terhadap kemampuan diri, minat mengendalikan perilaku, dan melakukan usaha, terdiri dari 23 item dengan reliabilitas 0,939 yang menandakan konsistensi tinggi. Sementara itu, instrumen efikasi diri diukur berdasarkan teori Bandura yang membagi efikasi diri ke dalam aspek level, generality, dan strength, menggunakan 17 item dengan reliabilitas 0,887, sehingga dapat disimpulkan bahwa seluruh instrumen penelitian ini valid, reliabel, dan layak digunakan. Teknik analisis menggunakan korelasi berganda dengan bantuan SPSS 23.0 untuk windows.
1. Uji Asumsi
Figure 1. Tabel 1. Uji Normalitas
* This is a lower bound of the true significance. a Lilliefors Significance Correction
Berdasarkan hasil pengujian didapatkan nilai signifikansi atau p-value menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov adalah (0.200) > α (0.05) dan didapatkan nilai signifikansi atau p-value menggunakan uji Shapiro Wilk adalah (0.253) > α (0.05). Sehingga dapat dikatakan bahwa residual data berdistribusi normal dan asumsi normalitas telah terpenuhi.
Berdasarkan tabel diatas nilai deviation from linearity pada variabel lokus kendali internal sebesar 0,403 dan efikasi diri sebesar 0,901, apabila nilai Sig. > 0,05 maka tidak ada penyimpangan sehingga hubungan benar-benar linier.
Figure 2. Tabel 3. Uji Korelasi Berganda
a. Predictors: (Constant), ED, LKI
Hubungan antarvariabel dalam penelitian ini menunjukkan nilai Sig. F Change sebesar 0,00 < 0,05 menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan secara statistik. Uji F menunjukkan bahwa variabel lokus kendali internal dan efikasi diri secara simultan memberikan kontribusi signifikan terhadap kematangan karir.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokus kendali internal memiliki peranan yang kuat dalam membentuk
Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokus kendali internal memiliki peranan yang kuat dalam membentuk kematangan karir siswa SMK. Siswa yang memiliki keyakinan bahwa keberhasilan dan kegagalan dalam hidup ditentukan oleh usaha serta keputusan pribadi cenderung menunjukkan kesiapan karir yang lebih baik[25]. Kondisi ini tercermin dari kemampuan siswa dalam merencanakan masa depan, mengeksplorasi pilihan karir, serta mengambil keputusan secara mandiri. Temuan ini sejalan dengan teori perkembangan karir yang menekankan pentingnya peran kontrol diri dalam menghadapi tugas-tugas perkembangan karir, khususnya pada fase remaja akhir[13].
Selain lokus kendali internal, efikasi diri juga terbukti memberikan kontribusi signifikan terhadap kematangan karir. Siswa yang memiliki keyakinan tinggi terhadap kemampuan dirinya menunjukkan sikap yang lebih optimis dan gigih dalam menghadapi tantangan terkait pilihan karir. Efikasi diri mendorong siswa untuk berani mencoba, tidak mudah menyerah, serta lebih percaya diri dalam mempersiapkan diri memasuki dunia kerja[18]. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap kemampuan diri merupakan faktor penting yang membantu siswa mengelola kecemasan dan ketidakpastian dalam proses perencanaan karir[26]. Kombinasi antara keyakinan akan kendali diri dan kepercayaan terhadap kemampuan pribadi membentuk landasan psikologis yang kuat dalam proses pengambilan keputusan karir[27]. Siswa tidak hanya merasa bertanggung jawab atas pilihan yang diambil, tetapi juga memiliki keyakinan bahwa mereka mampu menjalani pilihan tersebut dengan baik. Hal ini menunjukkan bahwa kematangan karir tidak terbentuk secara terpisah, melainkan melalui interaksi antara berbagai faktor psikologis internal[6]. Meskipun demikian, hasil penelitian juga mengindikasikan bahwa kematangan karir tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh lokus kendali internal dan efikasi diri. Masih terdapat faktor lain di luar variabel penelitian yang turut berperan, seperti dukungan keluarga, lingkungan sekolah, pengalaman praktik kerja, serta akses terhadap informasi karir[4]. Oleh karena itu, pengembangan kematangan karir siswa perlu dilakukan secara komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak, khususnya sekolah melalui layanan bimbingan dan konseling karir yang berkelanjutan[28].
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara lokus kendali internal dan efikasi diri dengan kematangan karir bersifat saling melengkapi. Siswa yang meyakini bahwa keberhasilan karir ditentukan oleh usaha dan keputusan pribadi, serta didukung oleh keyakinan akan kemampuan diri, cenderung lebih siap dalam menghadapi tugas-tugas perkembangan karir. Kesiapan tersebut tercermin dari kemampuan siswa dalam merencanakan karir, mengeksplorasi berbagai alternatif pilihan, serta mengambil keputusan secara mandiri dan bertanggung jawab. Hal ini menegaskan bahwa kematangan karir bukan hanya hasil dari proses pembelajaran formal di sekolah, tetapi juga merupakan hasil dari pembentukan sikap dan keyakinan internal siswa terhadap dirinya sendiri.
Lebih lanjut, hasil penelitian ini mengindikasikan pentingnya peran sekolah dalam memfasilitasi penguatan faktor psikologis internal siswa. Lingkungan sekolah yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenali potensi diri, mencoba pengalaman baru, serta mengambil keputusan secara mandiri dapat membantu meningkatkan lokus kendali internal dan efikasi diri siswa. Melalui layanan bimbingan dan konseling karir yang terstruktur, kegiatan praktik kerja industri, serta pemberian informasi karir yang relevan, siswa diharapkan mampu membangun keyakinan bahwa mereka memiliki kendali dan kemampuan dalam menentukan arah karirnya. Dengan demikian, pengembangan kematangan karir siswa SMK dapat berlangsung secara lebih optimal dan berkelanjutan.
Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Salah satu keterbatasan utama terletak pada jumlah butir pernyataan dalam kuesioner yang relatif banyak, sehingga memerlukan waktu pengisian yang cukup panjang bagi para responden. Kondisi ini berpotensi menimbulkan kelelahan atau menurunkan tingkat fokus siswa selama proses pengisian, yang pada akhirnya dapat meningkatkan kemungkinan siswa mengisi jawaban secara acak atau kurang teliti. Fenomena tersebut secara tidak langsung dapat memengaruhi validitas respons, terutama pada bagian akhir kuesioner ketika tingkat kejenuhan siswa semakin tinggi. Oleh karena itu, penggunaan instrumen dengan banyak butir pernyataan memerlukan pengawasan yang lebih intensif selama proses pengisian kuesioner agar data yang diperoleh tetap akurat dan representatif. Selain itu, proses pengawasan yang ketat juga penting untuk memastikan bahwa siswa memahami setiap item dengan benar, sehingga jawaban yang diberikan benar-benar mencerminkan kondisi psikologis mereka yangsebenarnya.
Berdasarkan analisis mendalam dari data penelitian, terlihat jelas bahwa lokus kendali internal serta efikasi diri memegang posisi penting dalam proses pembentukan kematangan karir di kalangan siswa sekolah menengah kejuruan. Siswa yang yakin bahwa hasil baik atau buruk dalam hidupnya ditentukan oleh upaya dan pilihan pribadi mereka sendiri biasanya menunjukkan persiapan yang lebih matang untuk merancang masa depan, menjelajahi berbagai opsi pekerjaan, dan membuat keputusan karir dengan baik. Kedua elemen psikologis ini saling terjalin erat dan berkolaborasi untuk menciptakan fondasi kuat bagi pertumbuhan kematangan karir secara keseluruhan.
Terdapat beberapa saran yaitu Bagi siswa sebagai responden penelitian, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya mengenali potensi diri, minat, dan kemampuan sebagai dasar dalam merencanakan serta mengambil keputusan karir. Siswa disarankan untuk lebih aktif mencari informasi terkait dunia kerja maupun pendidikan lanjutan serta berani mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang.Bagi guru, khususnya guru bimbingan dan konseling, diharapkan dapat memberikan pendampingan yang lebih intensif dalam pengembangan karir siswa melalui layanan konseling karir, pelatihan perencanaan karir, serta kegiatan eksplorasi karir yang terstruktur. Upaya tersebut diharapkan dapat membantu siswa membangun lokus kendali internal dan efikasi diri yang lebih kuat dalam menghadapi kematangan karir Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk mengkaji faktor-faktor lain yang berpotensi memengaruhi kematangan karir siswa, seperti dukungan orang tua, lingkungan sekolah, pengalaman kerja, atau konsep diri. Selain itu, penelitian selanjutnya dapat menggunakan pendekatan metode campuran atau desain longitudinal untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika perkembangan karir siswa.
Ucapan Terima Kasih
Peneliti mengucapkan terima kasih kepada seluruh siswa SMK X di Sidoarjo yang telah berpartisipasi sebagai responden dalam penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pihak sekolah, guru, dan institusi yang telah memberikan izin serta dukungan sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik.
[1] I. P. Dian, “Perbedaan Kematangan Karir Siswa Ditinjau Dari Jenis Sekolah,” Jurnal Psikologi, 2020. [Online]. Available: https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/character/article/download/7107/7696
[2] A. A. N. Putri, A. Nugroho, and P. A. Satwika, “A View of the Future and Career Maturity of Vocational Students,” Jurnal Ilmiah Psikologi Candrajiwa, vol. 7, no. 1, pp. 60–67, 2022, doi: 10.20961/jip.v6i2.58227.
[3] K. A. Andini, Suroso, and I. Y. Arifiana, “Career Maturity of Vocational High School Students: The Role of Self-Efficacy,” Jiwa: Jurnal Psikologi Indonesia, vol. 2, no. 1, pp. 158–166, 2024, doi: 10.30996/jiwa.v2i1.10425.
[4] M. Ghassani, N. Ni’matuzahroh, and Z. Anwar, “Improving Career Maturity of Junior High School Students Through Career Planning Training,” Jurnal Intervensi Psikologi, vol. 12, no. 2, pp. 123–138, 2020, doi: 10.20885/intervensipsikologi.vol12.iss2.art5.
[5] K. A. Tanudidjojo, “Career Maturity of Students: A Descriptive Study on Grade XI Students of SMA BOPKRI 2 Yogyakarta Academic Year 2019/2020,” Jurnal Bimbingan Dan Konseling, vol. 32, no. 3, pp. 167–186, 2021.
[6] V. A. N. Nugroho, L. Hariadi, and A. Zellawati, “Career Maturity in Terms of Internal Locus of Control and Self-Efficacy in Vocational Students,” Jurnal Sublimapsi, vol. 5, no. 3, pp. 365–372, 2024, doi: 10.36709/sublimapsi.v5i3.3.
[7] D. E. Super, “A Life-Span, Life-Space Approach to Career Development,” Journal of Vocational Behavior, vol. 16, pp. 282–298, 1980.
[8] D. P. Patintingan and A. Saman, “Internal Locus of Control and Career Decision-Making Self-Efficacy Toward Career Maturity,” Metapsikologi: Jurnal Ilmiah Kajian Psikologi, vol. 1, no. 2, pp. 110–119, 2023.
[9] T. Safaria, “The Role of Self-Efficacy in Career Maturity,” Jurnal Psikologi, vol. 43, no. 2, pp. 154–166, 2016.
[10] I. Amalia, “The Relationship Between Internal Locus of Control and Career Maturity Among Psychology Students of Malikussaleh University,” Jurnal Psikologi Terapan, vol. 1, no. 1, pp. 12–17, 2020, doi: 10.29103/jpt.v1i1.2870.
[11] M. Siregar, “The Correlation Between Internal Locus of Control and Students’ Career Maturity,” Journal of Education, Humaniora and Social Sciences, vol. 4, no. 1, pp. 161–173, 2021, doi: 10.34007/jehss.v4i1.604.
[12] S. H. Limbong, W. Astuti, and C. I. Zahara, “The Relationship Between Self-Efficacy and Career Maturity Among University Students,” Jurnal Psikologi, vol. 2, no. 2, pp. 223–230, 2024.
[13] J. B. Rotter, “Generalized Expectancies for Internal Versus External Control of Reinforcement,” Psychological Monographs: General and Applied, vol. 80, no. 1, pp. 1–28, 1966.
[14] E. N. A. Aryadi, W. Sulistiani, and D. Mahastuti, “The Relationship Between Self-Concept and Internal Locus of Control with Career Maturity Among Vocational Students,” in Prosiding Temu Ilmiah Nasional TEMILNAS XII, vol. 12, no. 3, pp. 162–169, 2020.
[15] A. Azzahrah, I. Noviekayati, and A. P. Rina, “The Role of Internal Locus of Control in Students’ Career Maturity,” Sukma: Jurnal Penelitian Psikologi, vol. 3, no. 2, pp. 249–257, 2022, doi: 10.30996/sukma.v3i2.7720.
[16] L. Atqakum, M. Daud, and M. N. H. Nurdin, “Proactive Personality, Locus of Control, and Social Support Toward Final-Year Students’ Career Maturity,” Undergraduate Thesis, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2022.
[17] Y. Praptiwi, D. H. Rahman, and W. Multisari, “Contribution of Future Time Perspective and Internal Locus of Control to Career Maturity of Senior High School Students,” Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, dan Pengelolaan Pendidikan, vol. 2, no. 5, pp. 491–510, 2022, doi: 10.17977/um065v2i52022p491-510.
[18] I. M. Rustika, “Self-Efficacy: A Review of Albert Bandura’s Theory,” Buletin Psikologi, vol. 20, no. 1–2, pp. 18–25, 2020.
[19] N. Djunaedi, I. Juwitaningrum, and H. Ihsan, “Locus of Control and Career Maturity Mediated by Self-Efficacy Among University Students,” Jurnal Psikologi Insight, vol. 6, no. 2, pp. 103–114, 2022, doi: 10.17509/insight.v6i2.64761.
[20] R. R. Bahri, S. W. Simarmata, and A. Batubara, “The Relationship Between Locus of Control and Students’ Career Maturity,” Jurnal Serunai Bimbingan dan Konseling, vol. 9, no. 2, pp. 72–79, 2020.
[21] Q. K. Rini and M. D. Atmaja, “Self-Efficacy and Career Maturity in Adolescents,” Arjwa: Jurnal Psikologi, vol. 2, no. 1, pp. 35–43, 2023, doi: 10.35760/arjwa.2023.v2i1.7701.
[22] J. W. Creswell and J. D. Creswell, Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches, 5th ed. Thousand Oaks, CA, USA: SAGE Publications, 2018.
[23] K. Abdullah et al., Metodologi Penelitian Kuantitatif. Kabupaten Pidie, Indonesia: Yayasan Penerbit Muhammad Zaini Anggota IKAPI, 2022.
[24] R. Wati, “Sample Size Formula and Sampling Techniques,” 2023. [Online]. Available: https://www.scribd.com/document/652356253/rumus-sampel-dan-jenis-penentuan-sampel
[25] I. Amalia, “The Relationship Between Internal Locus of Control and Career Maturity Among Psychology Students,” Jurnal Psikologi Terapan, vol. 1, pp. 12–17, 2020.
[26] M. Isnain, “The Relationship Between Self-Efficacy and Career Maturity Among Grade XI Students at SMKN 1 Surabaya,” Undergraduate Thesis, Universitas Negeri Surabaya, 2020.
[27] R. Syaifudin and R. Arjanggi, “The Relationship Between Self-Efficacy and Internal Locus of Control Toward Career Maturity in Senior High School Students,” Prosiding Berskala Psikologi, vol. 2, pp. 328–338, 2020.
[28] R. N. Umam, “Developing Vocational Students’ Self-Efficacy in Career Decision-Making Through Group Guidance Services,” Islamic Counseling: Jurnal Bimbingan Konseling Islam, vol. 5, no. 1, pp. 115–124, 2021, doi: 10.29240/jbk.v5i1.2701.
[29] D. R. Sari, “Internal Locus of Control and Self-Efficacy in Relation to Career Maturity Among Grade XII Senior High School Students,” Undergraduate Thesis, Universitas Sultan Agung, 2022.