Login
Section Education

World Map Media Improves Country Identification Skills in Elementary Students


World Map Media Meningkatkan Kemampuan Identifikasi Negara pada Siswa Sekolah Dasar
Vol. 10 No. 1 (2025): June:

Fadilah Eka Febriani (1), Widyastuti Widyastuti (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo , Indonesia

Abstract:

General Background: Geography learning in elementary education requires concrete visual media to support students’ spatial understanding and country identification skills. Specific Background: Conventional instructional approaches often limit students’ engagement and accuracy in recognizing countries on a world map. Knowledge Gap: Despite the availability of various visual learning tools, structured implementation of World Map–based media for systematic country identification learning remains underexplored in elementary classroom contexts. Aims: This study aims to examine student learning outcomes after the application of World Map–based media in teaching country identification. Results: The findings demonstrate measurable improvement in students’ ability to recognize and correctly identify countries, as reflected in increased post-instruction scores compared to prior performance. Students showed better spatial recognition and map-reading accuracy during the learning process. Novelty: The study introduces a structured classroom application of physical World Map media specifically designed for country identification tasks at the elementary level. Implications: These findings contribute to geography education practices by supporting the integration of visual-spatial instructional media to facilitate more interactive and meaningful learning experiences in elementary social studies classrooms.


Keywords: World Map Media, Country Identification, Geography Learning, Elementary Education, Visual Learning


Key Findings Highlights:




  1. Students demonstrated higher post-instruction achievement in recognizing global locations.




  2. Classroom activities showed improved spatial orientation accuracy.




  3. Visual map-based instruction supported more active student participation.



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa permasalahan tersebut berkaitan dengan rendahnya motivasi belajar siswa, yang berdampak pada keterlibatan dan pencapaian akademik [3], [4]. Motivasi belajar berperan sebagai dorongan yang menggerakkan aktivitas berpikir, merasa, dan bertindak dalam proses pembelajaran [5]. Namun, motivasi belajar siswa seringkali berada pada tingkat yang kurang optimal karena tidak memiliki tujuan belajar yang jelas serta perencanaan pasca sekolah yang matang [6]. Rendahnya motivasi belajar tercermin dari kebiasaan menunda penyelesaian tugas akibat lemahnya manajemen waktu [7], serta kecenderungan mudah menyerah dalam menghadapi tuntutan akademik [8].

Dalam penelitian ini, motivasi belajar diposisikan sebagai variabel terikat (Y) karena berperan penting dalam menentukan keterlibatan, ketekunan, dan performa siswa selama proses pembelajaran [3]. Motivasi belajar dipahami sebagai dorongan internal dan eksternal yang mendorong siswa untuk terlibat aktif, mempertahankan usaha, serta mencapai tujuan akademik. Motivasi belajar juga berkaitan erat dengan kemampuan mengatur diri [9] dan meningkat ketika kebutuhan psikologis seperti autonomy, competence, dan relatedness terpenuhi sebagaimana dijelaskan dalam Self-Determination Theory [3]. Baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik terbukti berperan dalam meningkatkan hasil belajar siswa [10], [11].

Berdasarkan indikator motivasi belajar, siswa yang memiliki motivasi tinggi ditandai oleh adanya keinginan untuk berhasil, dorongan dan kebutuhan dalam belajar, serta harapan dan cita-cita di masa depan sebagai arah pencapaian akademik. Selain itu, motivasi belajar juga diperkuat oleh adanya penghargaan dalam proses belajar, kegiatan pembelajaran yang menarik, serta lingkungan belajar yang kondusif, yang secara bersama-sama mendorong keterlibatan aktif, ketekunan, dan komitmen siswa dalam mengikuti pembelajaran [12].

Adanya permasalahan motivasi belajar juga ditemukan pada siswa Sekolah Menengah Pertama berstatus swasta dan memiliki akreditasi B dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. SMP Islam Al Hidayah Pasuruan terletak di Jalan Masjid At-Taufiq, Sumberingin I, Sumbersuko, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Hasil observasi pada Selasa, 14 Oktober menunjukkan bahwa sejumlah siswa tampak kurang fokus selama pembelajaran. Perilaku seperti tidak memperhatikan penjelasan guru, melamun, menaruh kepala di atas meja, serta keluar masuk kelas tanpa alasan yang jelas menunjukkan rendahnya keterlibatan belajar siswa, yang merupakan salah satu indikator rendahnya motivasi belajar karena motivasi mendorong perhatian dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran [13]. Selain itu, hanya sebagian kecil siswa yang mencatat dan berpartisipasi aktif meskipun guru telah berupaya menciptakan interaksi, yang menunjukkan lemahnya dorongan internal siswa untuk terlibat dalam pembelajaran.

Sejalan dengan temuan observasi tersebut, hasil wawancara dengan siswa kelas IX mengungkap bahwa beberapa siswa sering datang terlambat, tidak lengkap mengenakan atribut sekolah, serta menggunakan ponsel saat pembelajaran berlangsung. Perilaku tersebut berhubungan dengan rendahnya motivasi belajar karena siswa yang termotivasi baik cenderung menunjukkan disiplin dan kesadaran dalam mengikuti proses pembelajaran [14]. Selain itu, siswa cenderung belajar hanya saat terdapat tugas atau ulangan, sementara waktu luang lebih banyak dihabiskan untuk bermain dan berkumpul dengan teman sebaya, menunjukkan bahwa aktivitas belajar belum menjadi kebutuhan internal siswa.

Wawancara dengan guru dan kepala sekolah juga mengonfirmasi bahwa sebagian besar siswa belum menunjukkan tanggung jawab belajar yang memadai. Hal ini tampak dari sikap pasif di kelas serta rendahnya komitmen dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik. Kondisi tersebut merupakan ciri dari motivasi belajar yang rendah, di mana siswa belum memiliki tujuan belajar yang jelas dan dorongan yang kuat untuk mencapai hasil belajar yang optimal [13]. Temuan ini sejalan dengan penelitian Kristiani dan Pahlevi yang menunjukkan bahwa kedisiplinan dan motivasi belajar berhubungan dengan capaian prestasi siswa [15], serta didukung oleh penelitian Novita Sari dkk. yang menegaskan bahwa motivasi belajar merupakan faktor penting dalam peningkatan hasil belajar siswa SMP [16].

Untuk memperkuat temuan tersebut, dilakukan survei awal pada siswa kelas IX A SMP Islam Al Hidayah Pasuruan berdasarkan dua aspek motivasi belajar, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Hasil survei menunjukkan bahwa sebagian besar siswa berada pada kategori sedang (69%), sementara 10% berada pada kategori tinggi dan 20% berada pada kategori rendah, dengan nilai rata-rata sebesar 83,97 dan standar deviasi 14,44. Meskipun mayoritas siswa berada pada kategori sedang, data ini menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa belum berada pada kondisi optimal dan masih terdapat kelompok siswa dengan motivasi rendah. Selain itu, siswa belum mampu menetapkan tujuan belajar secara sistematis, yang mencerminkan lemahnya kemampuan goal setting dan berpotensi menghambat peningkatan motivasi belajar secara berkelanjutan.

Berdasarkan hasil observasi, wawancara, dan survei awal tersebut, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar siswa SMP Islam Al Hidayah Pasuruan belum sepenuhnya berkembang secara optimal. Rendahnya keterlibatan, kedisiplinan, serta belum jelasnya tujuan belajar menunjukkan perlunya upaya yang terarah untuk membantu siswa meningkatkan motivasi belajar mereka.

Salah satu aspek penting yang mempengaruhi motivasi adalah kemampuan menetapkan tujuan (goal setting), yang membantu mengarahkan usaha belajar, memperkuat kepercayaan diri, serta meningkatkan tanggung jawab akademik [17]. Goal Setting Theory yang dikemukakan oleh Locke dan Latham menjelaskan bahwa kejelasan tujuan mempengaruhi  tingkat usaha, ketekunan, dan strategi yang digunakan seseorang untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Dalam konteks pendidikan, penerapan goal setting membantu siswa dalam mengarahkan perilaku belajar secara lebih terstruktur dan termotivasi [18]. Penerapan prinsip SMART (Specific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound) dalam goal setting juga terbukti mampu meningkatkan konsentrasi, komitmen, dan konsistensi siswa dalam mencapai tujuan belajar yang realistis. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemampuan menetapkan tujuan yang jelas berkaitan dengan peningkatan motivasi belajar dan prestasi akademik siswa [6], [17]. Dengan begitu, goal setting menjadi faktor penting dalam meningkatkan motivasi dan prestasi akademik siswa.

Dari hasil observasi, wawancara, dan survei awal ditemukan bahwa sebagian besar siswa SMP Islam Al Hidayah Pasuruan ini ternyata memiliki motivasi belajar dengan kategori sedang dan rendah, serta ada beberapa yang masih kesulitan dalam menentukan tujuan belajar secara sistematis. Situasi ini terlihat dari rendahnya akan partisispasi, kedisiplinan, sampai komitmen ketika mengikuti proses pembelajaran di sekolah tersebut. Oleh karena itu, diperlukan suatu intervensi yang mampu membantu siswa merumuskan tujuan belajar secara jelas dan terarah agar motivasi belajar dapat ditingkatkan secara berkelanjutan.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, disusun program psikoedukasi berbasis goal setting dengan tema “Psikoedukasi Goal Setting untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa SMP Islam Al Hidayah Pasuruan.” Program ini dirancang untuk membantu siswa memahami pentingnya penetapan tujuan belajar, melatih kemampuan merumuskan tujuan secara sistematis, serta mendorong peningkatan motivasi, komitmen, dan semangat belajar siswa. Kegiatan Psikoedukasi ini dimulai dari perencanaan sampai pelaksanaan dilakukan dengan melakukan koordinasi kepada Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolahdengan mempertimbangkan situasi atau kondisi pembelajaran yang sudah ditetapkan di kelas.

Pemaparan diatas menunjukkan bahwa tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Goal Setting terhadap motivasi belajar pada siswa SMP Islam Al Hidayah Pasuruan. Kemudian, untuk hipotesis dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh positif goal setting terhadap motivasi belajar siswa SMP Islam Al Hidayah Pasuruan.

Metode

Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimen, metode penelitian pre-eksperimental design dengan tipe one-group pretest-posttest design, dengan menggunakan variabel bebas berupa goal setting, variabel tergantung berupa motivasi belajar. Desain rancangan penelitian yang digunakan adalah One Group Pretest Posttest Design. Metode eksperimen dengan desain metode pre-eksperimental tipe one-group pre-test-post-test design merupakan metode eksperimen yang dilakukan hanya satu perlakuan atau satu kelompok saja tanpa ada kelompok pembanding [19].

Y1Pretest XTreatment Y2Posttest
Table 1. Tabel 1. Rancangan eksperimen

Subjek Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas IX A SMP Islam Al Hidayah Pasuruan. Sampel penelitian berjumlah 26 siswa yang terdiri atas 17 siswa laki-laki dan 9 siswa perempuan dengan rentang usia 14–15 tahun. Sampel dalam penelitian ini ditentukan menggunakan teknik sampling purposive yaitu teknik pengambilan sampel dengan menggunakan suatu pertimbangan, kondisi atau kriteria tertentu [20]. Adapun kriteria yang digunakan adalah siswa kelas IX A SMP Islam Al Hidayah Pasuruan yang memiliki tingkat motivasi belajar rendah hingga sedang.

Instrumen Penelitian

Penelitian ini menggunakan beberapa instrumen penelitian yang terdiri atas tiga skala yaitu skala motivasi belajar, yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Skala motivasi belajar yang digunakan merupakan adaptasi dari skripsi nur aini fatimah, yang mencakup dua aspek motivasi belajar, yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Skala ini terdiri dari 15 item pernyataan dengan opsi jawaban yaitu selalu, sering, jarang, tidak pernah dan hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,9985. Setelah pelaksanaan pretest, dilakukan uji validitas aitem dan ditemukan bahwa terdapat 3 aitem yang gugur karena nilai validitasnya tidak memenuhi kriteria. Dengan demikian, jumlah aitem yang digunakan pada tahap analisis selanjutnya menjadi 13 aitem. Setelah aitem yang gugur dihapus, reliabilitas ulang dihitung dan memperoleh nilai Cronbach's Alpha sebesar 0,725 yang menunjukkan bahwa instrumen berada pada kategori reliabel. Hasil uji reliabilitas pada tabel 2 :

Frequentist Scale Reliability Statistics
Estimate Cronbach's α
Point estimate 0.748
Table 2. Tabel 2. Hasil Uji Reliabilitas Motivasi Belajar

Instrumen yang digunakan mengacu pada indikator motivasi belajar yang meliputi keinginan untuk berhasil, dorongan dalam belajar, harapan dan cita-cita, adanya penghargaan, kegiatan belajar yang menarik, serta lingkungan belajar yang kondusif. Di bawah ini merupakan indikator skala motivasi belajar yang digunakan dalam penelitian ini pada tabel 3:

Variabel Indikator Nomor Butir Jumlah
Variabel bebas (X) Motivasi Belajar a. Keinginan untuk berhasil 1,2 12
b. Dorongan dan kebutuhan dalam belajar 3,5
c. Memberikan harapan dan cita cita dimasa yang akan datang 6,7
d. Ada penghargaan dalam belajar 8,9
e. Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar 12
f. Berada dilingkungan yang kondusif 13,14,15
Table 3. Tabel 3. Blue print motivasi belajar

Sumber : Fatimah, N. A. (2022). Pengaruh Motivasi Belajar Siswa Terhadap Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Dente Teladas Kabupaten Tulang Bawang. Skripsi, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Metro.

Metode Pelaksanaan

Tahap pelaksanaan program psikoedukasi ini terdiri atas tahap persiapan, tahap pelaksanaan kegiatan, dan tahap evaluasi. Pada tahap persiapan, peneliti menyusun rancangan kegiatan yang diawali dengan koordinasi dengan pihak sekolah, penyiapan materi psikoedukasi mengenai goal setting, serta penyusunan instrumen pre-test dan post-test yang akan digunakan untuk mengukur perubahan pada siswa.

Tahap berikutnya program psikoedukasi pada hari pertama difokuskan pada pembentukan suasana aman dan peningkatan pemahaman awal siswa mengenai konsep tujuan hidup (goal setting). Kegiatan diawali dengan pembukaan dan ice breaking untuk membangun keakraban, kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan pre-test guna mengukur tingkat motivasi belajar serta pemahaman awal siswa terkait perencanaan diri. Selanjutnya, fasilitator menyampaikan materi dasar tentang goal setting yang meliputi pengertian tujuan, manfaat memiliki tujuan, serta prinsip S.M.A.R.T disertai contoh konkret yang relevan dengan kehidupan siswa SMP. Kegiatan hari pertama ditutup dengan ice breaking reflektif dan pengisian angket harian sebagai upaya memperkuat pemahaman awal dan kesiapan siswa untuk mengikuti sesi berikutnya [2].

Pada hari kedua, kegiatan difokuskan pada penguatan pemahaman konsep serta penerapan awal goal setting secara praktis. Sesi diawali dengan ice breaking reflektif untuk membangkitkan antusiasme dan kesadaran diri siswa terhadap kepemilikan tujuan. Kegiatan dilanjutkan dengan review materi hari pertama melalui diskusi dan tanya jawab mengenai prinsip S.M.A.R.T goal. Kemudian, siswa tersebut mengerjakan miniproject berupa Dream Book dan harus menuliskan tentang tujuan utama, langkah-langkah kecil yang sesuai, serta mengilustrasikan impian mereka.. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu siswa agar bisa menentukan tujuan belajar yang lebih terarah [2].

Pada hari ketiga diarahkan pada penguatan komitmen dan konsistensi siswa dalam mencapai tujuan yang telah disusun. Melalui ice breaking dan diskusi penguatan, siswa diajak untuk mengidentifikasi kesulitan yang muncul dalam proses penyusunan tujuan, seperti rasa malas dan kurangnya konsistensi. Kegiatan inti berupa penyelesaian Dream Book dengan penambahan Big Why, rencana jangka pendek, serta dukungan yang dibutuhkan dari lingkungan sekitar. Beberapa siswa diberikan kesempatan untuk mempresentasikan hasil Dream Book mereka, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan diri serta menumbuhkan suasana saling mendukung antar siswa [2].

Pada hari keempat, kegiatan difokuskan pada kemampuan siswa dalam mengidentifikasi dan mengatasi hambatan pencapaian tujuan. Siswa diajak merefleksikan kembali tujuan dan alasan utama yang telah dituliskan dalam Dream Book, kemudian melakukan pemetaan hambatan internal dan eksternal yang berpotensi menghambat pencapaian tujuan. Selanjutnya, siswa menyusun strategi jangka pendek dan jangka panjang untuk mengatasi hambatan tersebut secara realistis. Kegiatan diakhiri dengan post-test untuk mengukur perubahan pengetahuan dan sikap siswa setelah mengikuti program psikoedukasi, serta penulisan komitmen akhir sebagai bentuk penguatan motivasi dan kesiapan siswa dalam mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan [2].

Tahap terakhir adalah tahap evaluasi, dimana peneliti dan tim memberikan post-test setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai. Pre-test dan post-test ini diperlukan guna membandingkan pengetahuan dan pemahaman siswa sebelum dan sesudah psikoedukasi berlangsung. Berikut ini jadwal pelaksanaan eksperimen :

Analisis Data

Teknis analisis data pada penelitian ini menggunakan Uji Paired Samples T-Test atau Uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan bantuan program JASP 0.19. Pemilihan jenis uji statistik bergantung pada hasil uji asumsi normalitas data pretest dan posttest.

Analisis data dilakukan secara keseluruhan dengan tujuan analisis Paired Samples T-Test digunakan untuk menguji perbedaan Pre-Test dan Post-Test. Penelitian ini juga menghitung nilai effect size untuk mengetahui seberapa besar pengaruh perlakuan yang diberikan, dengan menggunakan Cohen’s d pada data normal atau Rank Biserial Correlation pada data tidak normal. Dengan demikian, analisis data dalam penelitian ini bertujuan memberikan gambaran yang komprehensif mengenai efektivitas pelatihan goal setting terhadap peningkatan motivasi belajar siswa.

Hasil dan Pembahasan

A. Hasil

Analisis data dilakukan secara keseluruhan menggunakan Uji Paired Samples T-Test atau Uji Wilcoxon Signed Rank Test dengan bantuan program JASP 0.19. Sebelum melakukan analisis hipotesis, lebih khusus dilakukan analisis asumsi. Asumsi yang dimaksud berupa asumsi normalitas jika akan melakukan uji statistik parametrik karena data yang dihasilkan normal. Berikut penjelasan pada tabel :

Figure 1. Tabel 5. Tabel Uji Normalitas Motivasi Belajar

Hasil uji normalitas menggunakan teknik Shapiro Wilk pada variabel Motivasi Belajar menunjukkan bahwa nilai W sebesar 0.971 dengan nilai p = 0.646 (> 0.05). Prosedur penentuan normalitas mengacu pada kriteria bahwa apabila nilai p > 0.05, maka data dikatakan berdistribusi normal. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa sebaran data motivasi belajar pada pengukuran Pretest dan Posttest berada dalam kondisi berdistribusi normal, sehingga asumsi normalitas terpenuhi (p > 0.05).

Measure 1 Measure 2 t df p Mean Difference SE Difference Cohen's d
Pretest Motivasi Belajar - PostTest Motivasi Belajar -11.373 25 < .001 -14.962 1.316 -2.230
Note. Student's t-test.
Table 4. Tabel 6. Tabel Uji Hipotesis pada Motivasi Belajar

Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara skor Pretest dan Posttest motivasi belajar (p < 0.05), sehingga hipotesis alternatif (Ha) diterima. Nilai Cohen’s d berada pada kategori efek besar, yang menandakan bahwa penerapan goal setting memberikan pengaruh yang kuat terhadap peningkatan motivasi belajar pada kelompok yang sama sebelum dan sesudah perlakuan.

Measure 1 Measure 2 W df p Hodges-Lehmann Estimate Rank-Biserial Correlation
Pretest Motivasi Belajar - PostTest Motivasi Belajar 0.000 < .001 -15.000 -1.000
Note. Wilcoxon signed-rank test.
Table 5. Tabel 7. Tabel Perbedaan Motivasi Belajar Posttest dan Pretest

Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai statistik W sebesar 0.000 dengan nilai p < 0.001 (< 0.05), sehingga hipotesis alternatif diterima. Temuan ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara skor Pretest dan Posttest motivasi belajar. Parameter lokasi melalui Hodges–Lehmann Estimate menunjukkan nilai -15.000, yang menggambarkan selisih median antara kedua pengukuran. Selain itu, nilai Rank-Biserial Correlation sebesar -1.000 menunjukkan besaran efek yang sangat kuat dari penerapan goal setting terhadap peningkatan motivasi belajar.Tabel

Descriptive Statistics
Pretest Motivasi Belajar PostTest Motivasi Belajar
Valid 26 26
Missing 0 0
Mean 26.731 41.692
Std. Deviation 5.408 3.927
Minimum 17.000 34.000
Maximum 39.000 48.000
Table 6. Tabel 8. Pretest dan Posttest

Figure 2. Tabel 9. Gambar Peningkatan Motivasi Belajar

B. Pembahasan

Berdasarkan tabel deskriptif, nilai rata-rata (mean) motivasi belajar pada saat pretest sebesar 26,731, sedangkan pada saat posttest meningkat menjadi 41,692. Nilai minimum, maksimum, serta standar deviasi juga menunjukkan pola peningkatan skor setelah diberikannya perlakuan. Secara umum, data deskriptif menunjukkan bahwa terjadi kenaikan motivasi belajar dari sebelum (pretest) ke sesudah perlakuan (posttest) pada kelompok yang sama.

Hasil pretest dan posttest menunjukkan peningkatan skor motivasi dari mean 26.731 menjadi 41.692. Skala motivasi belajar terdiri dari 13 aitem setelah proses validasi. Siswa melaporkan bahwa pelatihan membuat mereka lebih mudah merumuskan tujuan, lebih fokus, dan lebih bersemangat dalam belajar.

Motivasi merupakan inti dari aspirasi dan pencapaian seseorang. Dengan demikian, motivasi sangat penting untuk keberhasilan dalam dunia pendidikan. Proses belajar adalah proses yang akan dijalani seumur hidup untuk terus mencapai motivasi yang tinggi. Motivasi adalah kekuatan yang mendorong siswa dalam menghadapi keadaan sulit dan menantang dalam proses pembelajaran karena motivasi merupakan ruang lingkup yang sangat besar untuk dipenuhi [21]. Dengan demikian Motivasi memiliki kedudukan yang penting dalam mempengaruhi hasil belajar yang diperoleh siswa. Hasil belajar yang baik tidak semata mata ditentukan oleh tingkat kecerdasan atau pengetahuan siswa, namun juga dipengaruhi oleh motivasi belajar siswa.[22]

Hal ini mendorong siswa untuk secara sadar mengambil langkah-langkah konkret dalam mencapai tujuan-tujuan kecil yang kemudian secara bertahap mengarah pada tercapainya tujuan utama. Motivasi belajar berperan sebagai pendorong utama yang menentukan sikap, semangat, dan ketekunan siswa dalam menghadapi kegiatan belajar [23]. Selain faktor internal dari siswa, dukungan eksternal dari lingkungan belajar juga terbukti memainkan peran penting dalam mempertahankan motivasi belajar [19]. Dengan demikian, peningkatan motivasi belajar siswa akan berbanding lurus dengan peningkatan hasil dan performa yang mereka peroleh. Motivasi memiliki peran dan manfaat yang sangat penting dalam menunjang kelangsungan serta keberhasilan proses belajar individu. Artinya, ketika siswa memiliki motivasi belajar yang tinggi, maka hasil belajar dan performa akademik yang mereka peroleh juga cenderung meningkat. Di sisi lain, kemampuan intelektual mencakup kapasitas akademik siswa dalam mengolah informasi sehingga menjadi sebuah pemahaman. Selain itu, keberadaan cita-cita atau tujuan yang ingin dicapai akan memberikan arah yang jelas bagi siswa sehingga seluruh pikiran, perasaan, dan tindakan mereka dapat terfokus pada upaya mewujudkan keinginan tersebut [24]. Siswa yang memiliki motivasi belajar rendah cenderung tidak terlibat aktif dalam proses pembelajaran, sehingga pembelajaran menjadi kurang efektif dan pemahaman materi tidak tersimpan dengan baik.

Pelatihan penetapan tujuan diberikan kepada siswa dengan pembicara seseorang yang berpengetahuan luas dan juga seorang dosen. Selama pelatihan berlangsung, para siswa tampak antusias dan puas dalam mengikuti setiap materi pelatihan. Pelatihan penetapan tujuan (goal setting) ini semua siswa terlibat aktif mulai dari menjawab pertanyaan, berdiskusi tentang tujuan di masa depan, permainan, diskusi tentang seseorang yang dapat mencapai tujuan, sampai menuliskan tujuan untuk diterapkan setelah pelatihan selesai.

Tujuan dari pelatihan ini juga jelas bahwa ketika siswa memahami apa yang ingin mereka capai, apa yang perlu dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut dan bagaimana memotivasi diri untuk berkomitmen untuk mencapainya, maka dalam proses mencapainya, para siswa menghadapi berbagai tantangan, sehingga kegiatan siswa menjadi lebih terarah. Berpendidikan di sekolah formal atau non-formal memiliki motivasi belajar tinggi sangat diperlukan dalam pencapaian tujuan[21] . Keterbatasan apapun seharusnya tidak menyurutkan dalam memiliki keinginan yang kuat untuk belajar dan berprestasi.

Hasil penelitian ini konsisten dengan temuan-temuan penelitian terdahulu di Indonesia yang menunjukkan bahwa pelatihan atau penerapan goal setting berpengaruh positif terhadap motivasi belajar siswa. Sebagai contoh, Penelitian oleh Fauziyah et al. menggunakan pendekatan eksperimental pada siswa SMK juga melaporkan bahwa penerapan goal setting mampu meningkatkan motivasi belajar dibandingkan kelompok kontrol [2]. Selain itu, studi yang dilakukan oleh Rachmaningtyas dan Widyana menunjukkan perubahan motivasi belajar yang meningkat setelah siswa mengikuti pelatihan goal setting dalam desain quasi-eksperiment pada siswa SMPIT di Banjarbaru [5]. Penelitian lain pada konteks pembelajaran bahasa Inggris oleh Lutfianawati et al. juga melaporkan bahwa siswa yang diberi pelatihan goal setting mengalami peningkatan motivasi belajar dibandingkan dengan fase pra-intervensi [6]. Dengan demikian, hasil penelitian ini memperkuat bukti bahwa goal setting merupakan strategi efektif untuk memperbaiki motivasi belajar siswa dalam berbagai konteks pendidikan di Indonesia.

Meskipun hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan motivasi belajar siswa setelah diberikan pelatihan goal setting, pelaksanaan intervensi ini masih memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan dalam menafsirkan hasil penelitian secara menyeluruh.

Adapun keterbatasan dalam penelitian ini yang pertama adalah pelatihan yang diberikan dalam intervensi telah berjalan cukup baik, namun durasi penyampaian materi masih terbatas. Waktu pelatihan yang relatif singkat menyebabkan penjabaran materi goal setting tidak dapat disampaikan secara lebih mendalam. Kedua, beberapa siswa menunjukkan keterbatasan dalam mengatur diri selama pelatihan. Sebagian peserta belum mampu fokus atau menjaga kondisi diri dengan baik, sehingga berpengaruh terhadap keterlibatan mereka dalam proses kegiatan. Ketiga, Kondisi kelas yang kurang nyaman selama kegiatan berlangsung turut mempengaruhi proses pelaksanaan psikoedukasi sehingga tidak dapat berjalan secara maksimal.

Simpulan

Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan skor motivasi belajar pada siswa kelas IXA SMP Islam Al Hidayah Pasuruan sebelum dan sesudah diberikan pelatihan goal setting, yang ditunjukkan oleh peningkatan nilai rata-rata skor dari 26,731 pada pretest menjadi 41,692 pada posttest. Hasil ini menunjukkan bahwa pelatihan goal setting mampu meningkatkan motivasi belajar siswa, yang tercermin dari meningkatnya kemampuan siswa dalam memetakan tujuan belajar, fokus, serta semangat dalam mengikuti proses pembelajaran. Meskipun pelatihan dilaksanakan dalam durasi yang relatif singkat, perubahan yang ditunjukkan siswa mengindikasikan bahwa penyusunan tujuan belajar secara sistematis memberikan pengaruh positif terhadap motivasi belajar. Namun demikian, peningkatan motivasi tersebut belum tentu dapat bertahan dalam jangka panjang apabila strategi yang diperoleh tidak diterapkan secara konsisten, sehingga diperlukan pendampingan berkelanjutan dari guru agar tujuan belajar yang telah disusun dapat terus dikembangkan.

Sehubungan dengan temuan tersebut, siswa SMP disarankan untuk membiasakan diri menyusun tujuan belajar yang sederhana, spesifik, dan realistis serta menerapkannya secara konsisten dalam kegiatan belajar sehari-hari. Siswa juga dianjurkan menuliskan tujuan belajar dan melakukan evaluasi secara berkala guna meningkatkan tanggung jawab dan kepercayaan diri dalam belajar, serta mengurangi perilaku yang dapat mengganggu konsentrasi, seperti penggunaan ponsel saat pembelajaran berlangsung. Adapun keterbatasan penelitian ini terletak pada durasi pelatihan yang relatif singkat, keterbatasan kondisi kelas yang kurang kondusif, serta masih adanya siswa yang mengalami kesulitan dalam mengatur diri dan mempertahankan fokus selama kegiatan psikoedukasi, sehingga penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan waktu intervensi yang lebih panjang dan kondisi lingkungan belajar yang lebih mendukung agar dampak pelatihan dapat berlangsung secara lebih optimal dan berkelanjutan.

Ucapan Terima Kasih

Peneliti mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh responden, khususnya siswa kelas IX SMP Islam Al-Hidayah Pasuruan, atas partisipasi aktif dan kesediaan mereka dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan penelitian dan psikoedukasi goal setting. Peneliti juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, serta para guru SMP Islam Al-Hidayah Pasuruan yang telah memberikan izin, dukungan, dan kerja sama selama proses perencanaan hingga pelaksanaan pengumpulan data, sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik dan lancar. Selain itu, peneliti mengucapkan terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, khususnya Program Studi Psikologi, atas dukungan akademik, fasilitas, serta lingkungan ilmiah yang kondusif, yang telah membantu peneliti dalam menyelesaikan penelitian dan penulisan karya ilmiah ini dengan optimal.

References

[1] D. Chandra et al., “Pembuatan Peta Timbul sebagai Media Pembelajaran Geografi,” Pedagogia: Jurnal Pendidikan, vol. 8, no. 2, pp. 211–221, Aug. 2019, doi: 10.21070/pedagogia.v8i2.2139.

[2] S. P. Sejati et al., “Teknologi Geospasial sebagai Media Pembelajaran Geografi di Sekolah Menengah,” Geomedia: Majalah Ilmiah dan Informasi Kegeografian, 2021. [Online]. Available: https://journal.uny.ac.id/index.php/geomedia/index

[3] L. Zulfa and P. Rachmadiyanti, “Analisis Penggunaan Media Google Earth di Sekolah Dasar,” Jurnal Penelitian PGSD, vol. 10, pp. 258–268, Mar. 2022. [Online]. Available: https://ejournal.unesa.ac.id

[4] A. S. Zein, B. S. Bachri, and U. Dewi, “Pengembangan Media Peta Interaktif dalam Pelajaran IPS,” Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Indonesia, vol. 5, no. 2, pp. 916–927, Apr. 2025, doi: 10.53299/jppi.v5i2.1097.

[5] K. S. Ramadani et al., “Pemanfaatan Peta Bali sebagai Media Pembelajaran IPS,” Jurnal Padamu Negeri, vol. 2, no. 3, pp. 46–49, Jun. 2025, doi: 10.69714/nxm9ww44.

[6] E. G. Limbong and R. Hoseani, “Perancangan Media Visual Interactive Maps sebagai Media Pembelajaran Bahasa Inggris,” SAP: Susunan Artikel Pendidikan, vol. 4, no. 3, 2020.

[7] U. B. Harsiwi and L. D. D. Arini, “Pengaruh Media Pembelajaran Interaktif terhadap Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Basicedu, vol. 4, no. 4, pp. 1104–1113, Sep. 2020, doi: 10.31004/basicedu.v4i4.505.

[8] A. R. Briliyanti and D. Setiawan, “Jigsaw Type Cooperative Learning Model Assisted by Flashcard Media in Social Science Learning,” Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran, vol. 9, no. 1, pp. 151–158, Mar. 2025, doi: 10.23887/jipp.v9i1.92287.

[9] P. Keterampilan et al., “Improving Early Reading Skill through Flashcard Media in First Grade Students,” 2014.

[10] A. Aswaruddin et al., “Communication Teams and Study Groups Learning Motivation,” Jurnal Pendidikan Indonesia, vol. 5, no. 1, Jan. 2025, doi: 10.59818/jpi.v5i1.1216.

[11] S. Hariani, “Penggunaan Media Flashcard dalam Model Pembelajaran Langsung untuk Meningkatkan Hasil Belajar PKn,” Universitas Negeri Surabaya.

[12] N. A. Armi, M. Roro, and D. Wahyulestari, “Penggunaan Media GMaps pada Pembelajaran IPAS dalam Kegiatan Membaca Peta,” JIIP: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan.

[13] D. N. Hidayati and S. Salamah, “Penggunaan Kartu Peta dalam Peningkatan Motivasi dan Hasil Belajar IPS,” Proceedings Series on Social Sciences & Humanities, vol. 3, pp. 39–45, Jun. 2022, doi: 10.30595/pssh.v3i.335.

[14] E. Y. Adini, N. Hasanah, and I. Oktaviyanti, “Pengembangan Media Pembelajaran MAPENA pada Materi IPS,” Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan, vol. 7, no. 1, pp. 1–7, Feb. 2022, doi: 10.29303/jipp.v7i1.386.

[15] S. Sarnia, L. Japa, and I. P. Artayasa, “Pengaruh Media Pembelajaran Kartu Bergambar terhadap Hasil Belajar Biologi,” GeoScienceEd Journal, vol. 5, no. 1, pp. 86–90, Jun. 2024, doi: 10.29303/goescienceed.v5i1.296.