Login
Section Communication

PRSA Ethical Principles Representation in The Intern Film

Representasi Prinsip Etika PRSA dalam Film The Intern
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

ervin restu (1), Ainur Rochmaniah (2)

(1) Program Studi Ilmu Komunkasi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, , Indonesia
(2) Program Studi Ilmu Komunkasi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, , Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Professional ethics in public relations are essential for sustaining organizational credibility, stakeholder trust, and responsible communication practices. Specific Background: Films often portray workplace communication and professional conduct, providing material for analyzing ethical public relations standards. Knowledge Gap: Existing studies primarily focus on ethical violations or organizational settings, while limited research examines cinematic portrayals of ethical public relations principles using structured semiotic approaches. Aims: This study examines the representation of Public Relations Society of America (PRSA) ethical principles in the film The Intern (2015) using Charles Sanders Peirce’s semiotic analysis. Results: The findings show three PRSA ethical indicators represented through dialogue, visual symbols, and narrative interactions. Free Flow of Information is reflected in transparent communication and employee involvement. Disclosure of Information appears through responsible client communication and problem-solving processes. Professional competency development is illustrated through leadership mentoring and employee guidance within organizational settings. Novelty: This study applies Peirce’s semiotic framework to interpret ethical public relations representation in cinematic media by focusing on symbolic and narrative elements. Implications: The findings demonstrate that films can serve as educational references for understanding public relations ethics and professional values while highlighting the importance of cultural context in interpreting ethical communication practices presented in Western workplace narratives.


Highlights:



  • Transparent Organizational Communication Practices Are Symbolized Through Narrative and Visual Elements.

  • Responsible Client Interaction Is Depicted Through Structured Problem-Solving Behavior.

  • Leadership Mentoring Scenes Illustrate Competency Development Within Organizational Settings.


Keywords: Prsa Ethics, Semiotic Analysis, Public Relations Communication, Film Representation, Professional Ethics

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Dalam era globalisasi yang ditandai dengan peningkatan interaksi lintas budaya dan perkembangan teknologi komunikasi, praktik Hubungan Masyarakat (PR) telah menjadi elemen penting dalam membangun citra, reputasi, dan kepercayaan sebuah organisasi. Sebagai disiplin yang berfokus pada pengelolaan hubungan antara organisasi dan publiknya, PR menuntut penerapan kode etik profesional yang berfungsi sebagai panduan untuk perilaku etis dalam praktik komunikasi. Media populer, terutama film, sering kali mencerminkan budaya yang mampu menggambarkan nilai-nilai profesionalisme dan etika kerja. Film ini dipilih sebagai objek penelitian karena memiliki potensi untuk menggambarkan bagaimana kode etik PR diterapkan di tempat kerja modern, yang penting untuk mendorong komunikasi organisasi yang bertanggung jawab dalam menghadapi dunia kerja global yang rumit [1].

Nancy Meyers menulis, memproduseri, dan menyutradarai film drama komedi Amerika tahun 2015, “The Intern.” Anders Holm, Adam DeVine, dan Zack Pearlman memberikan dukungan untuk film yang dibintangi oleh Robert DeNiro, Anne Hathaway, dan Rene Russo ini. Narasinya berpusat pada seorang duda berusia 70 tahun yang bergabung dengan sebuah situs mode online sebagai pekerja magang senior. Film “The Intern” meneliti hubungan di tempat kerja dan keragaman generasi, terutama yang berkaitan dengan bisnis e-commerce fesyen. Hal ini sejalan dengan penelitian di sektor fashion, yang menyoroti nilai staf kreatif untuk kinerja dan keberlanjutan dan menunjukkan bahwa kesejahteraan karyawan memiliki dampak besar pada hasil [2]. Selain itu, cara magang digambarkan dalam film ini sesuai dengan metode pengajaran di perguruan tinggi, di mana magang membantu membangun keterampilan penting untuk pekerjaan di masa depan, karena berperan sebagai jembatan utama antara pengetahuan dari kuliah dan pengalaman praktis di dunia nyata [3]. Selain itu, cara komunikasi digambarkan dalam film ini cocok dengan perubahan strategi pemasaran di industri fashion, yang kini lebih menekankan pembentukan hubungan emosional melalui produk bermerek [4]. Secara keseluruhan, "The Intern" menangkap seluk-beluk hubungan antar generasi serta prinsip-prinsip moral yang diperlukan untuk kepemimpinan yang sukses di tempat kerja kontemporer.

Komponen kunci untuk memastikan bahwa komunikasi organisasi dilakukan dengan cara yang jujur, terbuka, dan dapat dipertanggungjawabkan secara moral adalah kode etik praktik hubungan masyarakat (humas) [4]. Organisasi hubungan masyarakat tertua dan terbesar di Amerika Serikat adalah PRSA, yang didirikan pada tanggal 4 Februari 1946. Adalah kewajiban anggota Public Relations Society of America (PRSA) untuk menghormati etika profesi dengan bertindak secara bebas dan kompeten untuk mempromosikan kemajuan kesejahteraan umum [5]. Dengan menjunjung tinggi standar seperti transparansi, kejujuran, persatuan, ketelitian, penghormatan terhadap kesepakatan, persetujuan umum, dan selera yang baik, mereka juga bertindak sebagai teladan untuk semua kegiatan keanggotaan. Selain itu, mereka harus memfasilitasi pertumbuhan pengetahuan profesional dengan menyelenggarakan pelatihan dan pendidikan berkelanjutan dalam praktik kehumasan [6].

Kode Etik Public Relations Society of America (PRSA) adalah salah satu standar etika yang diterima secara luas. Prinsip-prinsip seperti integritas, tanggung jawab, kesetiaan, kesetaraan, dan pertimbangan untuk kesejahteraan umum adalah bagian dari kode etik ini [7]. Paradigma ini memandu para praktisi humas untuk menjaga integritas sekaligus membina hubungan yang menguntungkan organisasi dan khalayaknya. Pada kenyataannya, kode etik ini berfungsi sebagai standar untuk mengenali dan menyelesaikan dilema etis yang dapat terjadi dalam komunikasi strategis selain sebagai panduan [8]. Menerapkan Kode Etik PRSA sudah jadi hal penting untuk menjaga profesionalisme di lingkungan kerja yang makin rumit, apalagi saat menghadapi dilema moral yang sering melibatkan kepentingan bisnis, masyarakat, dan nama baik perusahaan. Dengan menganalisis bagaimana kode etik ini diterapkan dalam komunikasi organisasi, seperti yang ditunjukkan dalam film The Intern, kita bisa melihat lebih jelas bagaimana prinsip-prinsip moral itu benar-benar diterapkan dalam praktik hubungan masyarakat sehari-hari [9].

PR pada dasarnya adalah kegiatan komunikasi yang dilakukan secara terencana untuk membatu sebuah organisasi untuk membangun hubungan yang baik dengan publiknya. PR tidak hanya fokus pada penyampaian informasi, tetapi juga bagaimana menjaga kepercayaan, menangani situasi krisis, serta menjalin relasi dengan media dan beberapa pihak terkait. Perkembangan teknologi yang serba cepat sekarang ini dibutuhkan kejujuran, etika dan kemampuan untuk memahami publik. Perusahaan dituntut untuk mampu berkomunikasi yang baik dan terbuka agar citra perusahaan tetap baik. Media populer, seperti film The Intern tahun 2015, menyoroti penggunaan PR secara etimologis di tempat kerja modern.

Kode Etik Public Relations Society of America (PRSA) merupakan standar di bidang hubungan masyarakat. Prinsip-prinsip intinya termasuk mengumpulkan informasi yang akurat, berkomunikasi dengan cara yang sehat, memanfaatkan informasi, menjaga kepercayaan, mengidentifikasi konflik kepentingan, dan memajukan profesi. Penelitian ini menggunakan semiotika Charles Sanders Peirce untuk menganalisis bagaimana kode PRSA diterapkan dalam film The Intern dengan menggunakan pendekatan kualitatif berdasarkan observasi dan dokumentasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan wawasan akademis mengenai hubungan antara hubungan masyarakat, humas, dan komunikasi strategis dalam praktik profesional sehari-hari.

PRSA menciptakan “Kode Etik,” yang terdiri dari enam nilai dasar yang harus diikuti oleh semua profesional hubungan masyarakat dalam menjalankan pekerjaan mereka. Enam prinsip yang paling penting dari kode etik PRSA dijelaskan di bawah ini:

a) Aliran Informasi Bebas

Gagasan ini menyoroti betapa pentingnya informasi disebarluaskan secara bebas dan terbuka. Spesialis hubungan masyarakat harus mendorong akses yang adil bagi semua pihak yang berkepentingan dan memastikan bahwa informasi tersebut jelas dan dapat diandalkan. Mereka harus menahan diri untuk tidak menahan atau mempengaruhi informasi yang dapat membahayakan masyarakat umum.

b) Konflik Kepentingan

Dalam keadaan seperti ini, PR perlu benar-benar jujur dengan kondisi yang sedang terjadi, kalau memang ada beberapa hal yang dalap menimbulkan konflik, sebaiknya dibicarakan dari awal agar tidak menimbulkan kesalah pahaman antara satu sama lain.

c) Memperkuat Profesi

Konsep ini menunjukkan betapa pentingnya mempromosikan pengembangan dan memperkuat reputasi profesi hubungan masyarakat. Para profesional diharapkan untuk mempromosikan pendidikan dan pelatihan sambil juga meningkatkan standar kerja mereka. Selain itu, mereka harus berkomitmen untuk mengikuti pedoman etika dan mempromosikan praktik terbaik di industri ini [10].

d) Kompetisi

Persaingan adlah hal wajar dalam sebuah perusahaan, tapi persaingan ini harus dijalankan dengan cara yang baik dan benar, PR harus bersaing secara sehat dan jujur, agar tetap menjaga reputasi perusahaan yang baik.

e) Pengungkapan Informasi

PR harus memberikan informasi yang jelas kepada seluruh anggotanya, dan juga informasi yang disampaikan harus akurat sehingga anggotanya dapat memahami dan juga dapat mengambil keputusan yang benar.

f) Menjaga Kepercayaan

Kerahasiaan dan kepercayaan yang diberikan oleh klien atau pihak lain kepada ahli hubungan masyarakat harus dijunjung tinggi. Mereka harus menjaga integritas tertinggi saat melindungi informasi sensitif atau pribadi dan hanya membocorkannya jika diperlukan atau sesuai dengan hukum yang relevan.

Penelitian-penelitian terdahulu yang memiliki keterkaitan erat dengan topik ini diuraikan di bawah ini dan menjadi landasan teori dan acuan kerangka dalam memperkuat analisis yang dilakukan dalam penelitian ini.

1. Penelitian Erlina Rumui (2016), "Analisis Isi mengenai Pelanggaran Kode Etik Profesi Public Relations dalam Film Thank You for Smoking," menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan analisis isi. Penelitian ini membahas pelanggaran kode etik Public Relations dalam film tersebut berdasarkan standar Public Relations Society of America (PRSA). Hasilnya menunjukkan bahwa tokoh utama menjalankan sekaligus melanggar etika Public Relations versi PRSA. Berbeda dengan penelitian tersebut, penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis semiotika model Charles Sanders Peirce dan objek yang dianalisis adalah film The Intern (2015) [11].

2. Penelitian Dea Aldita (2014), "Analisis Isi Film Wag The Dog Tentang Pelanggaran-Pelanggaran Kode Etik Humas," menggunakan metode kuantitatif dengan teori analisis isi Harold D. Lasswell. Hasil penelitian menunjukkan bahwa humas presiden AS dalam film tersebut melakukan pelanggaran kode etik IPRA, termasuk konflik kepentingan (2%), kebohongan (40%), pembujukan (8%), dan pengaruh (35%), namun juga menjalankan tugas sesuai kode etik, seperti menjaga kerahasiaan (15%). Berbeda dengan penelitian ini, metode yang digunakan adalah kualitatif dengan kode etik Public Relations versi PRSA [12].

3. Penelitian Widya Annisa Rachmatika (2023), "Pesan Moral Dalam Film Ranah 3 Warna (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce)," Penelitian ini menggunakan model analisis semiotik dari Charles Sanders Peirce, yang digabungkan dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasilnya menunjukkan bahwa unsur representamen menjelaskan sifat-sifat karakter, objek merujuk pada tindakan yang dilakukan karakter, dan interpretan memberikan nilai-nilai moral seperti motivasi, tanggung jawab, kerja keras, kesabaran, serta saling menghormati. Berbeda dengan penelitian itu, penelitian ini lebih fokus pada pelanggaran kode etik hubungan masyarakat dalam film The Intern tahun 2015 [13].

4. Penelitian Deniela Yoshelyn S (2024) “Analisis Semiotika pada Film Damsel Menurut Teori Charles Sanders Pierce” menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan pesan-pesan yang tersembunyi dalam setiap adegan, memberikan wawasan baru tentang keberanian dan keadilan dalam cerita “Damsel”. Meskipun memiliki kesamaan pada analisis semiotika Charles Sanders ierce tentunya memiliki perbedaan yakni, penelitian ini berfokus pada pelanggaran kode etik Public Relations dalam film The Intern (2015) [14]

5. Penelitian Muhammad Rifqi (2024), "Gender Stereotype Portrayal on Hardworking Women In The Intern Movie Director’s Perspective," menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesamaan antara kehidupan sutradara dan karakter Jules Ostin, dengan sutradara (Nancy Meyers) memasukkan unsur feminisme dan stereotip gender. Sutradara berusaha mengubah pandangan orang agar melihat wanita setara dengan pria dalam kehidupan atau profesi. Berbeda dengan penelitian ini, fokus analisis akan pada pelanggaran kode etik Public Relations dalam film The Intern [15]

6. Penelitian yang berfokus pada penggunaan strateg kesantunan dalam dialog ben dan jules di film the intern yangg dilakukan oleh Heni Bud Astuti (2017) dengan teori kesopanan sari Brown dan Levinson. Dari hasilnya diketahui bahwa kedua tokoh utama menggunakan seluruh jenis strategi kesantunan yang ada pada teori tersebut. Meskipun memiliki kesamaan pada film yang dianalisis, adapun perbedaan yakni pembahasan analisis ini yakni pada penerapan kode etik publik relation pada film The Intern [16]

Hasil-hasil penelitian ini menunjukkan nilai media sebagai sumber daya untuk memahami kompleksitas etika dalam profesi humas. Namun, sebagian besar penelitian ini berkonsentrasi pada cerita fiktif yang dibesar-besarkan dan bukannya secara khusus membahas bagaimana kode etik PRSA harus diterapkan di tempat kerja biasa. Dengan menganalisis film The Intern, yang memberikan sudut pandang yang realistis tentang bagaimana konsep-konsep etika seperti akuntabilitas, keterbukaan, dan keadilan diimplementasikan dalam interaksi profesional, penelitian ini mengisi kekosongan dalam literatur. Hal ini menambah secara signifikan diskusi ilmiah mengenai hubungan antara penggambaran media dan penerapan praktis dari kode etik publik relation. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengetahuan mengenai hubungan antara media, etika profesional, dan praktik komunikasi strategis dengan menawarkan pemahaman yang lebih dalam mengenai bagaimana etika PR digambarkan di media populer melalui pendekatan semiotika [17].

Gagasan-gagasan utama dalam studi semiotika dan etika komunikasi profesional, terutama yang berkaitan dengan kode etik PRSA, menjadi dasar teoretis dari penelitian ini. Studi tentang tanda dan makna yang dikenal sebagai semiotika digunakan untuk meneliti bagaimana karakter, cerita, dan simbol-simbol dalam film The Intern menggambarkan penerapan kode etik dalam lingkungan kerja [18]. Peneliti dapat menentukan bagaimana komponen visual dan linguistik film bekerja sama untuk mengkomunikasikan nilai-nilai dalam kode etik PRSA dengan menggunakan teknik semiotika. Tujuan utama adalah untuk merumuskan ulang bahasa dalam bahasa Indonesia agar terdengar alami, jelas, dan mudah dipahami. Selain itu, Kode Etik PRSA mencakup aturan untuk mengevaluasi bagaimana etika hubungan masyarakat digambarkan dalam film. Menghubungkan prinsip-prinsip kode etik PRSA yang ada dalam film dan juga untuk memahami etika profesional yang diterapkan petinggi perusahaan dengan anggotanya adalah tujuan dari penelitian ini.

Penelitian ini meneliti kaitan antara kode etik dari PRSA dan cara etika ditampilkan dalam cerita film The Intern. Analisisnya menggunakan metode semiotika yang berasal dari teori Charles Sanders Peirce. Dengan gagasan tanda yang terdiri dari representamen, objek, dan interpretant, semiotika Peirce memberikan kerangka kerja untuk memahami bagaimana fitur-fitur film seperti karakter, dialog, dan gambar berfungsi sebagai komponen hiburan dan sarana untuk mengkomunikasikan prinsip-prinsip moral dalam kampanye hubungan masyarakat [3]. Sebagai sebuah jenis tanda, representasi mencakup apa pun yang dapat diidentifikasi oleh penonton, baik melalui tindakan, gambar, atau simbol yang menyinggung hal-hal yang nyata-dalam hal ini, kode etik PR. Pemahaman penonton terhadap hubungan antara tindakan karakter film dengan ajaran moral-seperti kejujuran, keterbukaan, dan tanggung jawab-yang terdapat dalam kode etik PRSA kemudian dibentuk oleh bagaimana indikator-indikator tersebut diinterpretasikan [19].

Menurut Peirce, konsep representasi dan interpretasi membentuk fondasi sebuah tanda. Di satu sisi, tanda interpretatif mampu menawarkan kesempatan untuk interpretasi berdasarkan pengguna dan penerima, sedangkan tanda representasional adalah lambang dari sesuatu yang lain. Menurut Peirce, penalaran manusia selalu melibatkan tanda. Tanda (sign), acuan tanda (object), dan penggunaan tanda (interpretant) merupakan tiga komponen semiotika, menurut Peirce, dalam proses pencarian makna [20]. Teori segitiga makna mengacu pada ketiga komponen ini. Pierce berpendapat bahwa kata adalah salah satu jenis simbol. Panah dua arah menekankan bahwa setiap istilah hanya dapat dipahami dalam hubungannya dengan yang lain, seperti yang ditunjukkan oleh tiga tanda berikut ini [21].

Gambar 1. Tiga tanda menurut peirce

a) Sign (simbol)

Tanda adalah gagasan utama yang dikaji dalam studi semiotika.

digunakan sebagai sumber analisis. Ada makna dalam tanda yang berfungsi sebagai interpretasi dari pesan yang dimaksud. Sederhananya, tanda biasanya berwujud atau manifestasi visual yang dapat dilihat oleh manusia.

b) Referensi dari Tanda (Objek)

Objek adalah konteks sosial yang disinggung atau digunakan oleh tanda dalam implementasinya sebagai komponen makna simbol.

c) Penggunaan Tanda (Interpretant)

gagasan pengguna tanda dan mereduksinya menjadi makna tertentu atau makna yang dimiliki seseorang tentang hal yang dirujuk oleh sebuah tanda. Pikiran seseorang mengenai hal yang disinggung oleh sebuah tanda.

Teori Peirce tentang tanda memungkinkan kita untuk menyelidiki bagaimana penonton memahami narasi film dan simbol-simbol visual untuk mempengaruhi persepsi mereka tentang profesionalisme PR [22]. Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai komunikasi yang etis dalam industri hubungan masyarakat kontemporer, esai ini akan menggunakan pendekatan semiotika Peirce untuk menganalisis bagaimana kode etik PRSA diterapkan dalam film The Intern. Bagaimana kode etik Public Relations Society of America (PRSA) digunakan dalam berbagai hubungan profesional yang digambarkan dalam film The Intern merupakan fokus utama dari perumusan masalah penelitian ini.

Metode

Peneliti menggunakan teknik kualitatif untuk menyelidiki implikasi mendalam yang disampaikan oleh cerita dan gambar-gambar dalam film [23]. Salah satu jenis pengetahuan yang berasal dari temuan penyelidikan atau prosedur untuk memeriksa data secara tepat sesuai dengan pemikiran dan keyakinan adalah penelitian. Tentu saja, teknik-teknik digunakan untuk mendapatkan hasil yang akurat dan berkualitas tinggi saat melakukan penelitian atau mengumpulkan data. Baik sumber data primer maupun sekunder digunakan dalam penyelidikan ini [24]. Data primer adalah informasi yang dikumpulkan secara langsung oleh peneliti. Peneliti menggunakan data dari film The Intern yang berdurasi dua jam dua menit untuk investigasi ini. Setiap adegan yang sesuai dan relevan dengan rumusan masalah penelitian akan dipilih oleh peneliti. Untuk menganalisis signifikansi interaksi dan dialog karakter, serta menginterpretasikan pesan-pesan yang berkaitan dengan masalah penelitian, penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif.

Dokumentasi dan observasi adalah metode yang digunakan selama fase pengumpulan data. Peneliti dengan cermat memeriksa setiap adegan dan pertukaran bahasa dalam film The Intern sebagai bagian dari pendekatan observasi [25] terutama dalam dialog dan pengaturan ketika ada indikasi pelanggaran kode etik hubungan masyarakat berbasis PRSA. Dokumentasi tekstual yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari sumber-sumber sastra seperti buku dan tesis yang dapat digunakan sebagai referensi. jurnal dan sumber lainnya yang mendukung masalah penelitian untuk meningkatkan temuan. Selain itu, dokumentasi tersebut didasarkan pada adegan-adegan dari film The Intern yang relevan dengan pertanyaan penelitian [26].

Metode analisis data melibatkan data yang telah dianalisis sebelumnya. Dalam penelitian ini, analisis data dimulai dengan pemeriksaan cermat terhadap film The Intern (2015) untuk memahami alur cerita, karakter, dan konteks situasional dari penelitian yang dilakukan. Awalnya, penulis mencatat kontak, percakapan, dan simbol visual yang muncul guna membatasi data yang ditemukan berdasarkan penanda studi. Kode Etik Masyarakat Hubungan Masyarakat Amerika Serikat (PRSA) kemudian digunakan untuk menganalisis dan mengevaluasi setiap adegan guna mengidentifikasi masalah yang relevan dengan tujuan organisasi, seperti Pengembangan Profesional, Kebebasan Aliran Informasi, dan Pengungkapan Informasi. Dalam penelitian ini, para peneliti menggunakan metode analisis data semiotik sesuai dengan gagasan Charles Sanders Peirce. Berdasarkan informasi yang telah disebutkan, peneliti pada akhirnya akan menemukan dialog dan adegan dalam film The Intern tahun 2015 yang relevan dengan studi hubungan masyarakat. Proses ini akan dilaksanakan. Selain itu, bagian-bagian dari film The Intern yang relevan dengan topik penelitian dijadikan dasar untuk dokumentasi.

Dengan meneliti film tersebut dengan cermat dan merujuk pada kriteria PRSA (Public Relations Society of America). Tujuan dari fase ini adalah untuk mempermudah proses analisis penelitian. Hipotesis segitiga makna Pierce, yang mencakup hal-hal berikut, kemudian akan digunakan untuk mengkategorikan data yang dikumpulkan:

Tanda (sign): mencakup gambar dan teks yang terdapat dalam film The Intern (2015).

Acuan tanda (object): mencakup gambar dan teks yang mengandung elemen penerapan kode etik Public Relations sebagaimana direpresentasikan dalam film.

Penggunaan tanda (interpretant): penafsiran data yang diperoleh melalui pemberian makna serta penjelasan naratif atas elemen-elemen tersebut.

Hasil dan Pembahasan

Studi ini melihat penerapan kode etik PRSA (Public Relations Society of America) dalam film The Intern tahun 2015 yang menggunakan teknik analisis semiotik, dengan mengambil sejumlah situasi dan percakapan. Setelah dilakukan pengamatan, beberapa nilai kode etik PR yang tercermin dalam tanda-tanda, simbol-simbol, dan makna didalam film ini meliputi integritas, manajemen konflik kepentingan, pengaruh, kerahasiaan informasi, dan kompetisi. Data dikumpulkan dengan mengamati secara metodis komponen linguistik, naratif, dan visual film, termasuk interaksi karakter, ekspresi, dan simbol. Sebuah gambaran tentang hubungan antara etika profesional dan media populer disediakan oleh hasil analisis, yang menyoroti adegan-adegan penting yang menunjukkan kepatuhan terhadap atau pelanggaran terhadap kode etik.

1. Penerapan Free Flow of Information: menyebarkan informasi secara bebas dan terbuka

Pendekatan ini memiliki dampak yang signifikan terhadap budaya organisasi perusahaan. Penggunaan lonceng dan pengumuman publik oleh perusahaan untuk mengkomunikasikan pencapaian menunjukkan komitmennya terhadap transparansi dan komunikasi yang efisien. Moril karyawan meningkat dan loyalitas terhadap organisasi pun bertambah sebagai hasilnya. Organisasi ini mendorong kolaborasi dan menciptakan lingkungan kerja yang inklusif dengan melibatkan semua orang dalam perayaan kesuksesan. Lonceng yang dibunyikan dapat menjadi simbol keberhasilan atau pencapaian perusahaan. Dengan cara tersebut informasi dapat tersampaikan secara jelas dan terbuka.

Hal ini meningkatkan loyalitas karyawan terhadap organisasi dan meningkatkan semangat mereka. Organisasi mempromosikan kerja sama dan menciptakan atmosfer kerja yang inklusif dengan melibatkan semua orang dalam perayaan prestasi. Dari segi makna simbolis, pengumuman merupakan simbol, lonceng mewakili prestasi, dan interpretasinya memberikan informasi yang jelas, yang pada akhirnya meningkatkan kepercayaan terhadap perusahaan.

2. Penerapan Free Flow of Information: menyebarkan informasi secara bebas dan terbuka

Peristiwa ini menggambarkan betapa pentingnya komunikasi terbuka dalam membangun kepercayaan dan hubungan kerja yang positif di lingkungan bisnis. Jules menghormati preferensi masing-masing karyawan dengan menawarkan pilihan selain penjelasan yang jelas tentang peran Ben. Reaksi antusias Ben terhadap penugasan tersebut menunjukkan bagaimana aliran informasi yang lancar dapat mendorong penerimaan dan kenyamanan dengan tugas-tugas baru. Secara lebih luas, gambar ini menggambarkan budaya organisasi yang sangat menghargai keterbukaan, keragaman, dan pengakuan terhadap potensi karyawan. Pertukaran pendapat Jules dianggap sebagai bentuk penghormatan dan kepercayaan terhadap kontribusi setiap individu dalam struktur organisasi. Menurut semiotika, hal ini mewakili keterbukaan dalam komunikasi dan berfungsi untuk menggambarkan pekerjaan dengan alternatif-alternatif yang mungkin.

Jules sebagai atasan secara terbuka menjelaskan bagaiamana pekerjaan yang akan dilakukan oleh Ben dan juga menawarkan beberapa pekerjaan yang mungkin lebih cocok untuk Ben. Hal ini menjelaskan bagaimana Jules menyampaikan informasi dengan jelas dan ringkas, memungkinkan Ben untuk memahami dan memilih jalur karier terbaik bagi dirinya. Kerja sama yang efektif di dalam perusahaan dibangun atas dasar saling percaya yang dikembangkan antara Jules dan Ben sebagai hasil dari komunikasi terbuka mereka.

3. Penerapan Disclosure Information: Pengungkapan Informasi Secara Akurat dan Jelas

Adegan ini menunjukkan bahwa sikap terbuka dan tanggung jawab sangat penting dalam perusahaan dan klien. Waktu ada kesalahan pengiriman Jules tidak menghindar dan langsung memberikan tanggapan yang tenang dan cepat. Dengan cara tersebut klien dapat merasa dihargai dan tidak terlalu kecewa yang berlebih, sehingga masalah dapat terselesaikan dengan aman terkendali. Jadi komunikasi yang jujur tenang dan cepat dapat berpengaruh besar terhadap reputasi perusahaan. Oleh karena itu, kejadian tersebut dapat menunjukkan jika perusahaan tersebut menerapkan kode etik PRSA. Dengan cara jules yang menjelaskan tentang kendala yang sedang dialami, lalu menawarkan solusi yang cepat dan bahkan sampai akan memberika refund uang jika memang diperlukan. Sikap Jules ini yang dapat membangun kepercayaan yang baik dengan klien.

4. Penerapan Enhancing The Profession: Meningkatkan Profesi

Sikap Jules menunjukkan bahwa dia ingin meningkatkan kualitas profesional dalam timnya dan memberi contoh kepada anggotanya untuk bersikap secara profesional ketika menghadapi suatau permasalahan. Pada tingkat yang lebih dalam, adegan ini menyoroti nilai pelatihan dan pembimbingan satu lawan satu sebagai instrumen untuk meningkatkan kualitas kerja dan menciptakan budaya tempat kerja yang hebat. Instruksi Jules berfungsi sebagai tanda, metode pengemasan yang tepat adalah objek, dan pemahaman serta penerapan standar kerja yang ditetapkan oleh karyawan merupakan interpretasi, menurut semiotika. Gambar ini menyoroti bagaimana meningkatkan standar dan kemampuan staf sangat penting untuk meningkatkan reputasi perusahaan dan profesi.

Jules sebagai pemimpin dia juga ikut serta untuk membantu anggotanya untuk memberi arahan yang baik dan benar sesuai dengan standart yang berlaku diperusahaan. Dengan berkonttibusi langsung dan ikut bergabung dengan angotanya menunjukkan bahwa Jules ingin meningkatkan kualitas kerja tim dan mengembangkan kualitas kinerja anggotanya. Sikap itu menunjukkan bahwa Jules peduli dengan perkembangan anggotanya dan reputas perusahaannya.

Penerapan prinsip-prinsip kode etik PRSA dalam film The Intern mempunyai pengaruh yang besar terhadap penilaian orang mengenai komunikasi yang terjalin diperusahaan ini. Temuan ini sejalan dengan penelitian Ahmed dan Khan (2019), yang menemukan bahwa komunikasi terbuka di tempat kerja dapat meningkatkan kohesi tim dan produktivitas. Namun, penting untuk diingat bahwa keterbukaan yang berlebihan tanpa mempertimbangkan konteks dapat menyebabkan kebocoran informasi penting, oleh karena itu transparansi harus diimbangi dengan perlindungan korporat.

Penanganan Jules terhadap masalah pengiriman pakaian menunjukkan prinsip berbagi informasi, yang menyoroti pentingnya akuntabilitas dalam mempertahankan reputasi organisasi.Menurut Indrayani (2017), langkah-langkah proaktif yang dipadukan dengan solusi konkret mendukung gagasan bahwa transparansi selama krisis membantu mempertahankan hubungan dengan pemangku kepentingan dan mengurangi kerusakan reputasi [19]. Namun, taktik pengungkapan informasi mungkin memerlukan pendekatan yang lebih halus dan taktis dalam konteks budaya yang cenderung mengutamakan komunikasi berkonteks tinggi, seperti di Asia Timur (Hall, 1976). Oleh karena itu, saat menganalisis representasi sinematik berdasarkan budaya komunikasi Amerika, perbedaan budaya harus dipertimbangkan.

Peningkatan kompetensi sumber daya manusia secara signifikan berkontribusi pada citra profesional perusahaan, sebagaimana dibuktikan dengan penerapan program “Enhancing the Profession” melalui pembinaan karyawan. Pembinaan ini jika dilakukan secara terus-menerus dapat meningkatkan profesionalitas dan meningkatkan layanan menjadi lebih baik menurut Efendy dkk (2024). Nah, hal ini juga terjadi pada film The Intern yang menunjukkan bahwa pemimpin iitu tidak hanya mengejar beberapa target saja, tetapi juga harus membangun nilai moral dan kinerja tim yang lebih bagus.

Hasil dari penelitian ini terlihat berbeda dengan beberapa studi yang telah dilakukan oleh Rumui (2016) dan Aldita (2014) yang membahas banyaknya pelanggaran kode etik. Pada penelitian ini justru memperlihatkan bagaimana penerapan kode etik PRSA yang diterapkan dalam film ini. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian oleh Rachmatika (2023) yang menggunakan semiotika Peirce untuk mengidentifikasi unsur nilai moral dalam film. Oleh karena itu dapat memperlihatkan bahwa film bisa digunakan sebagai media pembelajaran dalam bidang komunikasi dan dapat berhubungan langsung dengan kode etik PRSA.

Meskipun film The Intern memberikan contoh yang jelas tentang nilai-nilai PRSA, penggambaran ini didasarkan pada budaya tempat kerja Barat, yang menekankan keterbukaan, kesetaraan peran, dan keberanian untuk mengakui kesalahan di depan umum. Jika diterapkan secara harfiah dalam budaya kerja lain, seperti di Indonesia, di mana hierarki yang kuat dan sopan santun informal sering kali dihargai, hal ini dapat menyebabkan distorsi persepsi. Oleh karena itu, untuk menggunakan prinsip-prinsip PRSA secara efektif dalam praktik nyata tanpa mengorbankan nilai-nilai inti etika profesional, konteks organisasi dan adaptabilitas budaya harus dipertimbangkan.

Simpulan

Melalui berbagai interaksi dan simbol visual, studi ini menunjukkan film The Intern tahun 2015 mencerminkan kode etik Public Relations Society of America (PRSA). Dari 6 (enam) indikator terdapat 3 (tiga) indikator yang di terapkan pada film The Intern, Free flow information, Disclosure Information, Enhancing The Profession. Prinsip-prinsip etika hubungan masyarakat tercermin dalam adegan film The Intern. Free flow information terlihat pada 2 (dua) adegan yaitu penggunaan lonceng dan pengumuman publik yang menunjukkan komitmen perusahaan untuk transparan dan terbuka terhadap karyawan, adegan kedua terlihat pada adegan pemimpin memberikan informasi yang jelas dan transparan tentang tugas dan opsi yang tersedia untuk Ben. Disclosure Information menunjukkan komitmen terhadap pemecahan masalah dengan cara yang profesional, yaitu memastikan kualitas layanan, berkomunikasi langsung dengan penjahit, dan memberikan jaminan pengiriman tepat waktu menunjukkan komitmen terhadap pemecahan masalah dengan cara yang profesional, yaitu memastikan kualitas layanan, berkomunikasi langsung dengan penjahit, dan memberikan jaminan pengiriman tepat waktu. Enhancing The Profession terlihat pada adegan ini karyawan memahami dan mampu menerapkan arahan Jules meluruskan titik, menarik, menambahkan perlahan, dan mengencangkan.

Temuan penelitian ini mendukung gagasan bahwa media populer tidak hanya menyediakan hiburan tetapi juga mencerminkan cita-cita profesionalisme dan pendidikan bagi para profesional hubungan masyarakat. Cara etika digambarkan dalam film ini mencerminkan komunikasi strategis di dunia kontemporer, terutama dalam hal membangun kredibilitas dan reputasi organisasi. Selain memberikan potensi untuk penelitian tambahan dalam berbagai konteks budaya dan media, temuan ini menambah pengetahuan tentang hubungan antara etika profesional dan media populer

Ucapan Terima Kasih

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga tugas akhir ini dapat diselesaikan dengan baik. Penulis juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua tercinta atas segala doa, dukungan moral, dan kasih sayang yang tiada henti, serta kepada Ibu Ainur Rochmaniah, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, dan masukan berharga selama proses penyusunan penelitian ini.

References

N. Şirzad, “a Review on Online Reputation Management and Online Reputation Components,” Doğuş Üniversitesi Derg., vol. 23, no. 1, pp. 219–242, 2022.

A. P. Sutarto and N. Izzah, “Do Job Boredom and Distress Influence Self-Report Individual Work Performance? Case Study in an Indonesia Muslim Fashion Industry,” J. Optimasi Sist. Ind., vol. 21, no. 1, pp. 1–9, 2022, doi: 10.25077/josi.v21.n1.p1-9.2022.

A. A. Wandari, “Analisis Semiotika Representasi Pelanggaran Kode Etik Public Relation Dalam Film the Ides of March Anggy Ayu Wandari Program Studi Ilmu Komunikasi,” vol. 3, no. 1, pp. 1–55, 2021.

E. Ahmed and A. W. Khan, “Role of Organizational Public Relations in Image Building of Publics: A Case Study of Coca Cola Pakistan,” Glob. Reg. Rev., vol. IV, no. IV, pp. 95–104, 2019, doi: 10.31703/grr.2019(iv-iv).11.

I. Sadewo, “Kerangka Kerja manajemen Humas dalam Lembaga Pendidikan Tinjauan Epistimologis,” J. Manaj. Pendidik., vol. 11, no. 1, pp. 75–90, 2023, doi: 10.26877/jmp.v11i1.3538.

N. S. Putri, “Tingkat Pengetahuan Publik Terhadap Profesi Public Relations,” E-Journal Univ. Atma Jaya, pp. 1–38, 2011.

E. Effendy, Saima Putri Hsb, Salsa Fadilah Siregar, Yuli Awanda Harahap, Endah Rananda Gita Br Purba, and Muhammad Yasim Harahap, “Analisis Pentingnya Kode Etik Public Relation dalam Menjaga Citra Perusahaan,” Da’watuna J. Commun. Islam. Broadcast., vol. 4, no. 2, pp. 893–904, 2024, doi: 10.47467/dawatuna.v4i2.1553.

H. Indrayani, “Etika Advokasi Public Relations dalam Manajemen Krisis Reputasi,” Interak. J. Ilmu Komun., vol. 5, no. 1, p. 68, 2017, doi: 10.14710/interaksi.5.1.68-77.

M. Dan, I. Pendidikan, A. Nurjannah, and S. Khairani, “Tinjauan Kritis Terhadap Etika Profesi Guru Dalam Konteks,” vol. 1, no. September, pp. 1–5, 2024.

I. Tamin, “Etika Komunikasi Aparatur Humas Dan Protokol,” Etika Komun. Apar. Humas dan Protok. J. Komunikologi, vol. 5, no. 1, pp. 1–6, 2008.

E. Rumui, “Analisis isi mengenai pelanggaran kode etik profesi Public Relations dalam Film Thank You Smoking,” J. E-Komunikasi, vol. 4, no. 1, pp. 2–12, 2016.

D. Aldita, “Analisis Isi Film Wag The Dog Tentang Pelanggaran-Pelanggaran Kode Etik Humas,” ejournal Ilmu Komun. Univ. Mulawarman, vol. 2, no. 4, pp. 75–87, 2014.

W. A. Rachamatika, “PESAN MORAL DALAM FILM RANAH 3 WARNA (ANALISIS SEMIOTIKA CHARLES SANDERS PIERCE) SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Dakwah,” 2023.

D. Yoshelyn, E. Margareth, G. Fanesya, N. Nabila, S. Putri, and T. I. Prasasti, “Analisis Semiotika pada Film Damsel Menurut Teori Charles Sanders Pierce,” J. Educ., vol. 06, no. 04, pp. 20333–20339, 2024.

M. Rifqi and Y. Prastiwi, “Gender Stereotype Portrayal on Hardworking Women In ‘The Intern’ Movie Director’s Perspective,” Lang. Circ. J. Lang. Lit., vol. 18, no. 2, pp. 342–348, 2024, doi: 10.15294/lc.v18i2.49363.

H. B. Astuti, “The use of Politeness Strategies in the Conversation Between Ben Whittaker and Jules Ostin in The Intern Movie,” pp. 1–44, 2017.

D. Ekonomi and K. Media, “Etika dan dampak komodifikasi komunikasi dalam industri media massa,” vol. 3, no. 2, pp. 38–61, 2024.

M. Pratiwi, “Analisis Semiotika Representasi Kode Etik Public Relations Pada Drama Korea Shooting Stars,” 2022.

H. H. Lindri, “Representasi Nilai Moral Dalam ‘Film Sang Pemimpi’ Karya Andrea Hirata (Analisis Semiotika Roland Barthes),” no. 6030, 2023.

S. Aryani and M. R. Yuwita, “Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce Pada Simbol Rambu Lalu Lintas Dead End,” Mahadaya J. Bahasa, Sastra, Dan Budaya, vol. 3, no. 1, pp. 65–72, 2023, doi: 10.34010/mhd.v3i1.7886.

N. H. Usman, “Representasi Nilai Toleransi Antarumat Beragama Dalam Film Aisyah Biarkan Kami Bersaudara,” Skripsi, p. 78, 2017.

I. Desara and J. Kn, “Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce Tentang Makna Logo Tour de Aceh,” J. Educ., vol. 06, no. 01, pp. 3279–3285, 2023.

Eryca Septiya Ningrum and Kusnarto, “Representasi Maskulinitas Pada Tokoh Matt Dalam Film ‘The Intern,’” J. Herit., vol. 10, no. 1, pp. 01–16, 2022, doi: 10.35891/heritage.v10i1.2843.

S. Saleh, “Penerbit Pustaka Ramadhan, Bandung,” Anal. Data Kualitatif, vol. 1, p. 180, 2017.

A. Salman Farid, “Penggunaan Media Sosial Dalam Kampanye Politik Dan Dampaknya Terhadap Partisipasi Politik Dan Persepsi Publik,” QAULAN J. Komun. dan Penyiaran Islam, vol. 4, no. 1, pp. 45–50, 2023.

H. Hasanah, “TEKNIK-TEKNIK OBSERVASI (Sebuah Alternatif Metode Pengumpulan Data Kualitatif Ilmu-ilmu Sosial),” At-Taqaddum, vol. 8, no. 1, p. 21, 2017, doi: 10.21580/at.v8i1.1163.