muhammad dicky (1), Poppy Febriana (2)
General Background: Song lyrics function as cultural texts reflecting emotional experiences and symbolic representations of relationships. Specific Background: NIKI’s The Apartment We Won’t Share depicts romantic separation through narratives of emotional loss, identity change, and relational uncertainty. Knowledge Gap: Prior lyric studies mainly examine emotional themes without exploring unstable meaning formation through Jacques Derrida’s différance perspective. Aims: This study examines representations of relationship failure in NIKI’s lyrics using différance to identify shifting meanings. Results: The analysis shows that relationship failure is portrayed as a continuous process shaped by delayed meaning, lingering memories, and evolving emotional interpretation. Symbols such as the unshared apartment, unborn child, and post-breakup identity reflect prolonged experiences of loss. Binary oppositions including hope versus reality, desire versus necessity, and freedom versus attachment demonstrate unstable interpretations shaped by past relational experiences. Novelty: This study applies différance to interpret romantic separation as ongoing semantic deferral rather than emotional finality. Implications: The findings enrich literary and cultural studies by providing philosophical insight into contemporary song lyrics and expanding understanding of symbolic narrative ambiguity and emotional representation in popular music.
Keywords: Différance; Song Lyrics Interpretation; Relationship Failure; Derridean Analysis; Symbolic Narrative
Setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan dalam hubungan, entah itu dalam bentuk cinta yang tak terbalas, perpisahan yang menyakitkan, atau harapan yang tak pernah menjadi kenyataan. Kegagalan ini menjadi bagian dari pengalaman emosional yang universal, di mana setiap individu menghadapi perasaan kehilangan, penyesalan, dan refleksi atas hubungan yang telah berlalu. Musik sering kali menjadi medium yang mampu merepresentasikan perasaan tersebut, menghadirkan lirik yang menggambarkan kompleksitas sebuah hubungan [1].
Musik merupakan bagian dari budaya yang ada dalam masyarakat, yang mencerminkan dinamika sosial dan dan nilai-nilai kehidupan yang diwujudkan melalui lirik-lirik lagu [2]. Pada mulanya, lagu-lagu digunakan untuk keperluan upacara adat dan ritual. Namun, seiring berjalannya waktu, musik mengalami transformasi dan beralih menjadi sebuah produk komersial yang diperdagangkan sebagai barang ekonomi [3].
Menurut [4], teks lirik lagu tidak hanya melibatkan pencipta lagu, penyanyi, dan produser dalam proses produksinya, tetapi juga pendengar, penggemar, dan kritikus sebagai konsumen. Hubungan ini beroperasi dalam dimensi praktik sosiokultural, di mana konteks sosial yang melatar belakangi teks turut memengaruhi cara wacana di dalamnya dipahami. Dalam penelitian ini, lirik lagu bukan hanya media untuk mengekspresikan emosi personal, tetapi juga merupakan wacana emosional tentang hubungan, keintiman, dan kehilangan merefleksikan pengalaman manusia yang bersifat universal.
Lirik lagu sebagai karya seni verbal memiliki kekuatan untuk menyampaikan makna, emosi, dan cerita yang kompleks. Lagu sering kali menjadi media yang mampu menghadirkan pengalaman personal dan sosial dalam bentuk simbolis, yang memungkinkan adanya berbagai interpretasi [5]. Salah satu lagu yang menarik untuk dianalisis adalah "The Apartment We Won't Share" karya NIKI. Lagu ini menawarkan narasi emosional yang penuh simbolisme, mengisahkan tentang seseorang yang menghadapi kenyataan pahit karena harus melepas angan-angan yang dahulu dibangun bersama mantan kekasih. Lagu ini merupakan salah satu lagu yang memiliki dampak besar dalam dunia musik populer. Lagunya telah diputar lebih dari 24 juta kali di Spotify. Sejak rilisnya, lagu ini berhasil menarik perhatian luas, termasuk menjadi viral di platform TikTok pada akhir tahun 2024.
Melihat perkembangan zaman, banyak musisi muda yang mulai mendapatkan perhatian internasional, salah satunya adalah NIKI. Penyanyi dan penulis lagu asal Indonesia ini telah menjelma menjadi salah satu figur yang diakui dalam industri musik global. NIKI memiliki kemampuan untuk menciptakan karya yang puitis, emosional, dan relevan dengan pengalaman generasi muda saat ini. Sebagai seorang musisi yang berbasis di bawah label 88rising, ia dikenal karena gaya musiknya yang unik, yang menggabungkan elemen pop, R&B, dan indie dengan lirik yang mendalam dan naratif [6].
Pada 2020, NIKI berhasil masuk Forbes 30 Under 30 Asia dan dinominasikan sebagai Best Asia Act di MTV EMA 2022. Pada 2024, ia menerima penghargaan di Moonrise Gala 88rising di Los Angeles atas pencapaiannya, termasuk lebih dari 2,1 miliar streaming global. Prestasi ini menegaskan bakat dan pengaruhnya di kancah musik dunia. Dedikasinya terhadap penggalian emosi personal serta pemahaman mendalam tentang dinamika sosial menjadikannya inspirasi bagi banyak penggemar. Karya-karyanya tidak hanya mencerminkan kemampuan musikal, tetapi juga memperlihatkan komitmen terhadap penyampaian pesan yang bermakna [7].
Namun, pemahaman terhadap makna lirik lagu ini sering kali berhenti pada interpretasi yang bersifat eksplisit dan linier, tanpa menggali kedalaman ambivalensi dan ketegangan yang ada dalam teks tersebut. Dalam konteks ini, teori dekonstruksi yang dikembangkan oleh Jacques Derrida memberikan alat analisis yang mampu mengungkap lapisan-lapisan makna tersembunyi serta kontradiksi dalam teks [8].
Jacques Derrida adalah seorang filsuf Prancis yang dikenal luas dengan pengembangan teori dekonstruksi. Karya-karyanya memberi pengaruh besar terhadap bidang filsafat, sastra, linguistik, serta teori budaya. Derrida adalah tokoh publik dan pemikir yang memiliki pengaruh besar di dunia. Hal ini terlihat dari pengakuan atas keaslian serta produktivitas ide-idenya, yang memiliki dampak signifikan terutama dalam studi sastra dan filsafat. Derrida secara terbuka menyatakan bahwa pemikirannya banyak terinspirasi oleh Heidegger, Nietzsche, Adorno, Levinas, Husserl, Freud, dan Saussure [9], [10].
Dekonstruksi merupakan pendekatan yang ditawarkan oleh Derrida untuk menganalisis teks-teks dalam berbagai disiplin ilmu. Menurut Derrida, Salah satu prinsip utama dalam dekonstruksi adalah pemahaman bahwa makna tidak pernah tetap. Makna selalu terdistorsi oleh elemen-elemen lain yang berada dalam hubungan berbeda yang disebut Derrida sebagai "differance" (perbedaan dan penundaan makna). Dengan demikian, dekonstruksi bertujuan untuk mengungkapkan ketegangan dalam teks-teks tersebut dan menunjukkan bagaimana makna selalu terpotong atau tunda [11], [12].
Teori ini muncul sebagai reaksi terhadap strukturisme yang menganggap bahasa dan teks sebagai sistem yang teratur dan logis. Derrida juga memperkenalkan metode dekonstruksi dalam sastra, di mana ia menganalisis teks-teks sastra untuk mengungkapkan kontradiksi, ambiguitas, dan ketegangan yang tersembunyi di dalamnya. Dekonstruksi ini membuka kemungkinan baru untuk membaca teks dengan cara yang lebih kritis dan dinamis, tanpa terjebak dalam interpretasi yang seragam atau final [13], [14].
Pendekatan dekonstruksi membuat analisis yang lebih mendalam terhadap simbol-simbol, oposisi biner, hierarki, kontradiksi, dan makna tersembunyi dalam lirik [15]. Dalam lirik "The Apartment We Won't Share", terdapat simbol kegagalan hubungan dan diksi yang menarik untuk dibongkar melalui pendekatan dekonstruksi. Salah satu cotoh seperti kata “The daughter we won't raise” mengandung potensi makna yang melampaui pengertian harfiahnya. Kata tersebut dapat dilihat sebagai impian memiliki anak yang akan dibesarkan bersama, tetapi juga sebagai simbol dari hubungan emosional yang tidak pernah terwujud. Sekaligus memperlihatkan bahwa begitu cepat perasaan seseorang dapat berubah, janji-janji yang pernah diucap bisa kandas dengan mudahnya [16]
Berikut beberapa penelitian terdahulu yang menggunakan analisis Jacques Derrida dalam sebuah lagu. [17] yang telah melakukan penelitian dengan judul “Radikalisasi Makna Perempuan Jawa Dalam ”Ngamen Lima”: Suatu Analisis Dekonstruksi” membahas tentang radikalisasi makna perempuan Jawa dalam lirik lagu dangdut koplo “Ngamen Lima” (2012). konstruksi makna perempuan Jawa selama ini sudah dianggap mapan sehingga perlu dideskontruksi tentang makna radikal, dengan menggunakan dekonstruksi melalui instrumen terpakai yang pernah dilakukan oleh Derrida. Penelitian tersebut menemukan bahwa lagu “Ngamen Lima” merupakan bentuk radikalisasi atas tafsir lama yang telah menjadi stereotipe perempuan Jawa.
Penelitian lainnya karya [18] yang berjudul “Dekonstruksi Pesan Dalam Lagu “Amin Paling Serius” yang mendekonstruksi dan menafsirkan lirik lagu dengan menggunakan teori kritis. Penelitiannya berupaya mengungkap makna dan asumsi mendasar di balik lirik lagu “Amin Paling Serius”, memungkinkan pendengar dan pembaca mendapatkan wawasan lebih dalam. Penelitian ini berupaya mengungkap makna dan asumsi mendasar di balik lirik, yang memungkinkan pendengar dan pembaca mendapatkan wawasan lebih dalam.
Selain itu, di penelitian lain karya [19] yang berjudul “Dekonstruksi Makna Lagu Pemanggil Hantu (Analisis Hermeneutika pada Podcastery Jurnalrisa Episode 4 Lagu Pemanggil Hantu)” membahas dekonstruksi makna lagu - lagu pemanggil hantu yang dibahas melalui Podcasterty Jurnalrisa dan meluruskan persepsi masyarakat terhadap lagu - lagu yang dianggap dapat menghasilkan aura mistis, dengan teori dekonstruksi Jacques Derrida. Penelitian tersebut menemukan bahwa rasa takut masyarakat lebih dipengaruhi oleh konstruksi budaya dalam media, bukan oleh lagu itu sendiri.
Penelitian ini menjadi pembeda karena analisis Jacques Derrida sedikit digunakan dalam musik modern yang relevan dengan hubungan asmara generasi muda saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi lirik lagu "The Apartment We Won't Share" dengan menggunakan perspektif Jacques Derrida, guna mengungkap kompleksitas makna kegagalan hubunagn yang ada di dalamnya. Penelitian ini menjadi relevan karena dekonstruksi tidak hanya membuka peluang untuk membaca ulang teks dengan cara yang lebih mendalam, tetapi juga menantang cara tradisional dalam memahami lirik lagu sebagai karya seni. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi teoretis dan praktis bagi kajian sastra, khususnya dalam analisis lirik lagu dalam ranah musik populer, yang sering kali dianggap kurang serius dibandingkan teks sastra tradisional.
Penelitian ini menggunakan pendekatan dekonstruksi Jacques Derrida untuk menganalisis makna kegagalan hubungan dalam lirik lagu The Apartment We Won't Share karya NIKI. Pendekatan ini dipilih karena penelitian bertujuan untuk menginterpretasikan makna lirik lagu secara mendalam tanpa menggunakan data numerik. Dekonstruksi digunakan untuk membongkar struktur makna dalam lirik dan mengungkap kontradiksi serta ambiguitas yang tersembunyi dalam teks.
Obyek penelitian dalam kajian ini adalah lirik lagu The Apartment We Won't Share, dengan fokus pada simbol dan makna yang terkait dengan kegagalan hubungan. Sementara itu, subyek penelitian tidak melibatkan partisipan manusia karena penelitian ini berbasis analisis teks. Dalam konteks ini, subyek dapat merujuk pada peneliti yang melakukan interpretasi terhadap teks menggunakan pendekatan dekonstruksi.
Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa tahap teknis. Pertama, transkripsi lirik dilakukan dengan mengakses teks dari situs Musixmatch https://www.musixmatch.com/lyrics/NIKI-35/The-Apartment-We-Won-t-Share dan memverifikasinya dengan mendengarkan lagu secara langsung. Kedua, lirik diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia melalui keahlian peneliti. Ketiga, pengamatan dilakukan terhadap simbol dan makna tersembunyi dalam lirik. Langkah analisis meliputi tiga hal, yaitu 1) mendeskripsi teks 2) membangun konstruksi melalui pembacaan 3) dekonstruksi makna menggunakan konsep Derrida. Proses ini dapat mengungkap makna tersembunyi yang melampaui struktur konvensional teks.
Deskripsi Lagu
Lagu "The Apartment We Won't Share" yang dibawakan oleh NIKI kembali menarik perhatian publik setelah viral di platform TikTok pada akhir tahun 2024. Meskipun dirilis pada tahun 2022 sebagai bagian dari album "Nicole", lagu ini mendapatkan sorotan baru karena liriknya yang mendalam dan emosional.
Lagu ini menggambarkan harapan dan impian bersama yang tidak terwujud akibat berakhirnya sebuah hubungan asmara. Melalui simbolisasi apartemen, NIKI menceritakan rencana masa depan yang pernah dibangun bersama mantan kekasihnya, namun kini hanya menjadi angan-angan. Penggunaan kata-kata metafora dalam liriknya berhasil menyampaikan emosi yang mendalam, membuat pendengar merasakan kepedihan akibat harapan yang pupus.
Kepopuleran lagu ini di TikTok menunjukkan bagaimana musik dapat menjadi medium untuk mengekspresikan perasaan dan pengalaman pribadi. Banyak pengguna TikTok yang menggunakan lagu ini sebagai latar belakang untuk konten yang berkaitan dengan perasaan kehilangan atau kenangan masa lalu, menunjukkan bahwa lagu ini berhasil menyentuh hati banyak orang. Secara keseluruhan, "The Apartment We Won't Share" adalah lagu yang menggambarkan kekecewaan dan kesedihan akibat impian bersama yang tidak terwujud, disampaikan melalui lirik yang puitis dan penuh makna.
Lirik lagu "The Apartment We Won't Share" karya NIKI
The apartment we won't share
I wonder what sad wife lives there
Have the windows deciphered her stares?
Do the bricks in the walls know to hide the affairs?
The dog we won't have is now one I would not choose
The daughter we won't raise still waits for you
The girl I won't be is the one that's yours
I hope you shortly find what you long for
Two years and some change
Isn't it strange?
You're a full-fledged socialist
I go by a new name
The filthy joke that won't
Burrow in the corner of your
Smirking lips, I mourn it to this day
The story we won't tell
Is my greatest fantasy
The passion I won't feel again
Isn't lost on me
The son you never wanted
Is the wound your father left
And the mother I won't be is
Probably for the best
Your demons I won't meet
Now someone else's word to keep
I'm sure she's beautiful and sweet
Not what I wanted, but what we need
Sumber:https://www.musixmatch.com/lyrics/NIKI-35/The-Apartment-We-Won-t-Share
Konstruksi lirik lagu
Konstruksi dalam pemikiran Derrida merujuk pada bagaimana makna, identitas, dan realitas dibentuk melalui sistem bahasa dan tanda. Konstruksi adalah proses penciptaan struktur makna yang tampak stabil dalam teks atau wacana, tetapi sebenarnya selalu bersifat arbitrer dan bergantung pada oposisi biner serta konteks budaya [20], [21].
Kegagalan hubungan dalam lirik lagu “The Apartment We Won’t Share” direpresentasikan sebagai kehilangan masa depan yang telah dirancang bersama dengan penuh harapan, tetapi pada akhirnya tidak pernah terwujud. Oposisi biner antara harapan dan realitas terlihat dalam gambaran apartemen yang seharusnya menjadi ruang berbagi kenangan dan kehidupan bersama, tetapi kini justru ditempati oleh orang lain. Hal ini menciptakan oposisi biner antara kehadiran dan ketiadaan, di mana sesuatu yang dulu begitu nyata kini hanya tinggal bayangan semu. Kegagalan sebuah hubungan tidak hanya sekadar berakhirnya kisah cinta, tetapi juga hancurnya gambaran masa depan (kehadiran) yang telah mereka bayangkan bersama, berubah menjadi ketiadaan [22].
Selain kehilangan ruang fisik, lirik ini juga merefleksikan kehilangan emosional yang lebih abstrak, yakni tentang anak-anak yang tak pernah lahir simbol dari masa depan yang tidak pernah terjadi. Keberadaan anak yang “menunggu” membentuk oposisi biner antara kemungkinan dan keterbatasan, serta antara kehadiran yang diharapkan dan ketiadaan yang menjadi kenyataan. Cinta yang kandas bukan hanya merusak masa kini, tetapi juga menghapus potensi masa depan, meninggalkan kenangan tanpa wujud di realitas.
Identitas pun menjadi bagian dari keretakan ini. Penulis menyadari bahwa dirinya tidak pernah bisa menjadi sosok yang diinginkan pasangannya. Ini memunculkan oposisi antara identitas lama dan identitas baru yang terbentuk pasca-perpisahan. Ketidakcocokan dalam ekspektasi dan cara pandang menciptakan pertentangan antara keinginan untuk bertahan dan kebutuhan untuk melepaskan, menjadikan perpisahan sebagai jalan yang terpaksa diambil demi kesehatan emosional masing-masing.
Tak hanya itu, kehilangan juga muncul dalam bentuk kenangan kecil yang dulu tampak sepele seperti lelucon, kebiasaan, yang kini hanya tinggal memori. Hal ini menandai oposisi antara kehangatan masa lalu dan kehampaan masa kini, serta antara impian yang dibangun dan kenyataan yang tak sesuai harapan. Fantasi tentang kisah cinta yang gagal terealisasi tetap membekas, memperkuat jarak antara ideal dan nyata.
Pada akhirnya, meskipun ada kesedihan dan kehilangan yang begitu mendalam, ada juga penerimaan bahwa meskipun perpisahan ini bukanlah sesuatu yang diinginkan (tragedi), itu adalah sesuatu yang diperlukan (penerimaan). Ini membentuk oposisi biner antara kehilangan dan pembebasan, di mana perpisahan bukan hanya tentang duka tetapi juga tentang kesempatan untuk menemukan jalan baru.
Ada pengakuan bahwa meskipun cinta mereka nyata, kebersamaan mereka tidak bisa terus berlangsung tanpa mengorbankan sesuatu yang lebih besar. Dengan demikian, kegagalan hubungan dalam lirik ini tidak hanya dipandang sebagai oposisi biner antara tragedi dan pertumbuhan, tetapi juga sebagai sebuah langkah yang, meskipun menyakitkan, diperlukan untuk menemukan sesuatu yang lebih baik dan lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing individu.
Dekonstruksi lirik lagu
Konsep dekonstruksi menurut Jacques Derrida adalah pendekatan filsafat yang menantang pemahaman tetap tentang teks, makna, dan bahasa. Derrida berargumen bahwa makna dalam teks tidak pernah tetap atau absolut, tetapi selalu bersifat terbuka, tidak stabil, dan bergantung pada konteks serta interpretasi pembaca [23].
Dalam lirik "The apartment we won't share / I wonder what sad wife lives there"
Lirik tersebut menciptakan narasi yang menggambarkan kegagalan hubungan sebagai kehilangan masa depan yang telah direncanakan. Apartemen yang seharusnya menjadi ruang bersama kini beralih kepada orang lain, menjadi simbol harapan yang hancur. Dengan beralihnya kepemilikan apartemen, timbul perdebatan mengenai apakah kegagalan ini memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar individu yang mengalaminya. Frasa "sad wife" secara tidak langsung mengasumsikan bahwa penghuni baru juga mengalami kesedihan, tetapi asumsi ini problematis karena kebahagiaan atau kesedihan adalah pengalaman subjektif. Dengan demikian, bias emosional yang melekat dalam lirik ini mencerminkan kecenderungan manusia untuk menguniversalkan kehilangan berdasarkan pengalaman pribadi.
A. Oposisi biner
Lirik ini membangun oposisi antara harapan dan realitas, dengan apartemen sebagai simbol masa depan yang dirancang namun tidak terwujud. Apartemen yang kini dihuni oleh orang lain menghapus eksistensi rencana tersebut, memunculkan pertanyaan: apakah kehilangan ini nyata, atau hanya ilusi dari ekspektasi yang gagal? Oposisi lain muncul antara kebahagiaan dan kesedihan. Penulis membayangkan penghuni baru sebagai sosok yang sedih, namun ini tampaknya lebih merupakan proyeksi emosinya sendiri. Dengan demikian, oposisi biner ini menjadi tidak stabil karena makna yang dibangun bersumber dari subjektivitas, bukan kenyataan.
B. Hierarki
Pendahuluan harus berisi (secara berurutan) latar belakang umum, kajian literatur terdahulu (state of the art) sebagai dasar pernyataan kebaruan ilmiah dari artikel, analisis gap dari apa yang telah dihasilkan oleh penelitian terdahulu, dan pernyataan pentingnya penelitian dilakukan. Di bagian akhir pendahuluan harus dinyatakan secara eksplisit
C. Kontradiksi
Lirik ini menyimpan kontradiksi yang melemahkan klaim emosionalnya. Jika apartemen adalah simbol kehilangan, mengapa masih memiliki makna setelah ditinggalkan? Jika istri baru diasumsikan sedih tanpa bukti, apakah ini bukan sekadar proyeksi penulis? Bahkan, bisa jadi kesedihan yang dirasakan lebih berasal dari kehilangan kendali naratif daripada kehilangan cinta itu sendiri. Kontradiksi-kontradiksi ini menunjukkan bahwa kesedihan dalam lirik bukanlah kenyataan objektif, melainkan interpretasi yang dibentuk oleh pengalaman emosional subjektif individu.
Dalam lirik "Have the windows deciphered her stares? / Do the bricks in the walls know to hide the affairs?"
penyair menggambarkan rumah seolah memiliki kesadaran, mampu memahami emosi dan menyimpan rahasia. Ini mencerminkan kecenderungan manusia memproyeksikan emosi pada benda mati. Frasa "hide the affairs" menyiratkan kemungkinan perselingkuhan, namun bisa juga merupakan proyeksi dari luka batin penulis. Lirik ini mengasumsikan bahwa kesedihan dalam hubungan adalah hal yang tak terhindarkan, padahal dinamika setiap hubungan berbeda.
Lirik ini membentuk oposisi antara transparansi (jendela) dan rahasia (dinding). Jendela melambangkan keterbukaan dan pengungkapan, sementara dinding merepresentasikan hal-hal yang disembunyikan. Namun, pertanyaan dalam lirik ini justru menggoyahkan oposisi tersebut. Apakah jendela benar-benar bisa memahami? Apakah dinding benar-benar mampu menyembunyikan sesuatu? Dekonstruksi membongkar stabilitas oposisi ini dan menunjukkan bahwa makna kebenaran dan kebohongan dalam hubungan bergantung pada perspektif, bukan kenyataan objektif.
Hierarki dalam lirik terlihat melalui peran jendela dan dinding yang seolah lebih “mengerti” dibandingkan manusia itu sendiri. Si istri menjadi sosok yang diamati dan ditafsirkan melalui objek-objek tersebut. Namun, jika hierarki ini dibalik, justru naratorlah yang mungkin menciptakan narasi tentang rahasia dan pengkhianatan. Ini mengaburkan otoritas atas makna dalam hubungan dan menunjukkan bahwa narasi emosional bisa lebih bersumber dari penafsir ketimbang realitas.
Lirik ini menyimpan kontradiksi yang meruntuhkan makna pasti. Jika jendela dan dinding mampu membaca dan menyembunyikan, bagaimana mereka—sebagai benda mati—memahami hal-hal emosional? Jika perselingkuhan disembunyikan, apakah itu berarti benar-benar terjadi, atau hanya asumsi narator? Ketegangan ini menyingkap bahwa kebenaran dalam lirik tidak bersifat objektif, melainkan produk dari kecemasan dan subjektivitas penulis. Dengan begitu, lirik ini tidak menggambarkan kenyataan, melainkan pergulatan batin yang berusaha memahami dan mengendalikan narasi hubungan yang telah retak.
Dalam lirik "The daughter we won't raise still waits for you."
Lirik tersebut tampaknya merupakan frasa tersedih dari lagu ini, mencerminkan bagaimana kegagalan hubungan tidak hanya menghilangkan kebersamaan di masa kini, tetapi juga merampas kemungkinan masa depan. Anak yang tidak pernah lahir menjadi simbol dari kehidupan yang tidak akan terjadi, tetapi frasa "still waits for you" menunjukkan bahwa mungkin masih ada harapan atau kenangan yang belum sepenuhnya hilang, seolah-olah penulis lagu masih merasa ada sesuatu yang belum terselesaikan.
Lirik ini menciptakan oposisi biner antara realitas dan imajinasi. Secara faktual, anak itu tidak ada dan tidak akan pernah ada, tetapi dalam ruang batin narator, keberadaannya tetap terasa. Anak tersebut menjadi representasi dari harapan emosional yang belum selesai, membayangi relasi meskipun secara fisik tidak pernah hadir.
Di sisi lain, lirik ini juga menghadirkan oposisi antara kehilangan dan keabadian. Hubungan yang telah berakhir seharusnya menandai putusnya semua keterkaitan, tetapi kehadiran metaforis anak yang "masih menunggu" menunjukkan bahwa ada sesuatu dari hubungan tersebut yang tetap hidup. Dekonstruksi mempertanyakan validitas batas antara realitas dan imajinasi apakah yang tidak pernah terjadi bisa tetap “ada” secara emosional? Dengan begitu, oposisi yang tadinya tegas menjadi cair dan tidak stabil.
Lirik ini juga menggambarkan hierarki makna dalam relasi dan harapan. Dalam hubungan, subjek aktif (narator dan pasangannya) seharusnya memiliki kendali atas arah masa depan, termasuk keputusan untuk memiliki anak. Namun, dalam narasi ini, justru anak yang tidak pernah lahir menjadi pusat emosi, menunjukkan bahwa kehilangan terhadap harapan bisa lebih mendalam dibanding kehilangan terhadap orang itu sendiri. Narator, meskipun secara rasional memahami bahwa masa depan itu tak lagi mungkin, tetap memberi ruang bagi anak itu untuk “menunggu,” seolah anak tersebut hadir sebagai penanda dari apa yang tidak akan pernah terjadi. Pembalikan hierarki ini mengungkapkan bahwa imajinasi dan perasaan bisa mengambil alih logika dan kenyataan, memperlihatkan bahwa subjek (narator) tidak sepenuhnya bebas dari bayangan masa depan yang gagal.
Kontradiksi dalam lirik ini muncul secara subtil namun menggugah. Jika anak itu tidak pernah ada, bagaimana mungkin ia “menunggu”? Jika hubungan telah selesai, mengapa bayangan masa depan itu masih terasa begitu hidup? Lirik ini menunjukkan bahwa kehilangan tidak selalu bersifat final atau konkret; bahkan hal yang tidak pernah benar-benar ada bisa meninggalkan jejak emosional yang mendalam. Keberadaan anak yang tak lahir menjadi semacam ruang liminal antara ada dan tiada bukan wujud nyata, tetapi juga bukan sepenuhnya hilang. Hal ini membongkar asumsi bahwa hanya sesuatu yang pernah terjadi bisa meninggalkan luka. Justru, dalam banyak kasus, hal yang gagal terjadi bisa lebih menyakitkan karena tidak memiliki penutup atau penyelesaian emosional. Penantian sang anak dalam lirik ini bukan hanya tentang rindu, tapi juga tentang pengakuan bahwa sebagian dari hubungan itu tetap eksis dalam bentuk lain sebagai kenangan, sebagai harapan, atau bahkan sebagai ilusi yang terus hidup dalam pikiran narator.
Dalam Lirik "The girl I won't be is the one that's yours"
Lirik ini berpusat pada konflik identitas dan ekspektasi dalam hubungan. Penulis lagu menyatakan bahwa dirinya tidak bisa menjadi seseorang yang "dimiliki" oleh pasangannya, yang mengindikasikan ketidakcocokan fundamental. Namun, dalam dekonstruksi, makna ini tidak sesederhana yang terlihat.
Lirik ini membentuk oposisi antara identitas autentik (the girl I won’t be) dan identitas yang diharapkan pasangan (the one that’s yours). Penolakan terhadap ekspektasi ini menegaskan otonomi penulis, namun juga membuka pertanyaan: apakah identitas itu mutlak, atau sekadar penolakan terhadap tekanan? Frasa "yours" menyiratkan kepemilikan, yang dalam dekonstruksi dapat dibaca sebagai konstruksi sosial, bukan kebenaran mutlak. Dengan demikian, identitas dalam hubungan tidak selalu tetap, tetapi terbentuk lewat negosiasi antara harapan dan keinginan personal.
Lirik ini menciptakan hierarki di mana pasangan digambarkan sebagai subjek dominan yang “memiliki” sosok ideal, sedangkan penulis menolak untuk menjadi objek yang dikendalikan. Namun saat hierarki ini dibalik, muncul pertanyaan kritis: apakah benar pasangan memiliki kuasa atas siapa yang menjadi “miliknya”? Penolakan penulis justru memperlihatkan kuasa yang lebih besar atas identitas dirinya. Lirik ini secara implisit mengkritik relasi yang mendasarkan cinta pada konsep kepemilikan.
Kontradiksi muncul saat penulis menolak identitas yang tak pernah benar-benar dimiliki—“the girl I won’t be” diakui sekaligus disangkal. Begitu pula “the one that’s yours” menyiratkan eksistensi perempuan lain yang cocok untuk pasangan, padahal gagasan kepemilikan ini sendiri problematis. Lirik ini menunjukkan bahwa relasi tidak hanya soal kecocokan, tetapi juga tentang bagaimana ekspektasi dan peran dalam hubungan dikonstruksi dan dipertanyakan. Penolakan penulis terhadap ekspektasi justru memperkuat narasi bahwa identitas dan cinta tak bisa dipaksakan sesuai struktur relasi tradisional.
Dalam Lirik "Two years and some change / Isn't it strange? / You're a full-fledged socialist / I go by a new name."
mencerminkan bagaimana perpisahan memicu jalur transformasi identitas yang berbeda. Dalam dua tahun, mantan pasangan menjadi seorang sosialis sejati, sementara narator mengadopsi identitas baru melalui perubahan nama. Perubahan ini tak hanya menandakan pertumbuhan personal, tetapi juga bagaimana akhir hubungan membuka ruang bagi identitas yang sebelumnya mungkin tertekan. Namun, jika dianalisis melalui pendekatan dekonstruksi, makna dalam lirik ini menjadi jauh lebih kompleks.
A. Oposisi Biner
Lirik ini mengandung oposisi antara identitas lama dan identitas baru pasca-perpisahan. Ketika masih bersama, kedua tokoh belum mengalami perubahan besar. Namun, setelah berpisah, masing-masing mengalami transformasi signifikan. Dekonstruksi mempertanyakan apakah perubahan ini asli atau hanya strategi untuk menjauh dari masa lalu. Apakah identitas baru ini mungkin tak akan terbentuk jika hubungan tetap berlangsung? Ataukah justru hubungan itu sendiri yang menghalangi pertumbuhan mereka? Dengan demikian, oposisi antara "dulu" dan "sekarang" menjadi kabur. Identitas terbukti tidak tetap, melainkan selalu dalam proses konstruksi, dan perpisahan yang seharusnya menjadi titik pemisah justru menyiratkan keterhubungan yang berkelanjutan.
Lirik juga menunjukkan hierarki implisit antara transformasi ideologis (mantan menjadi sosialis) dan transformasi identitas personal (narator mengganti nama). Sosialisme mewakili perubahan dalam pemikiran dan nilai, sementara nama baru merepresentasikan pergeseran cara pandang terhadap diri. Di sini, narator menyoroti dua bentuk perubahan sebagai hasil dari pengalaman emosional yang sama. Jika hierarki dibalik, muncul pertanyaan kritis: apakah mengubah cara berpikir lebih berarti dari mengubah cara dikenali? Atau sebaliknya? Dalam dekonstruksi, kedua bentuk perubahan ini tidak dapat dipisahkan secara hirarkis karena keduanya adalah bagian dari proses redefinisi diri yang saling melengkapi. Maka, tidak ada satu bentuk perubahan yang lebih “benar” atau “murni” daripada yang lain.
Meskipun telah berubah dan berpisah, keduanya masih saling mencerminkan satu sama lain. Ini menciptakan kontradiksi: jika benar-benar telah move on, mengapa masih membandingkan? Apakah perubahan mereka adalah bukti kebebasan, atau justru bentuk baru dari keterikatan emosional? Lirik ini menunjukkan bahwa hubungan masa lalu tetap hidup dalam proses transformasi masing-masing individu. Bahkan mungkin, perubahan tersebut bukan lepas dari hubungan, melainkan merupakan dampak langsung darinya. Maka, apakah mereka benar-benar bebas, ataukah masih saling membentuk dalam diam? Kontradiksi ini menunjukkan bahwa makna dalam lirik tidak stabil: perubahan bisa dimaknai sebagai kemerdekaan, namun juga sebagai bukti bahwa jejak masa lalu tetap menyertai proses menjadi diri yang baru.
Dalam lirik "The filthy joke that won't / Burrow in the corner of your / Smirking lips, I mourn it to this day."
menggambarkan bahwa kehilangan dalam hubungan tidak selalu menyangkut hal-hal besar seperti cinta atau keintiman fisik, tetapi juga pada elemen kecil dan personal seperti humor bersama. "Filthy joke" di sini menjadi simbol dari kedekatan emosional yang bersifat eksklusif dalam konteks hubungan tersebut—sebuah kenangan yang kini kehilangan tempat dan makna setelah hubungan berakhir.
Lirik ini membangun oposisi antara keakraban dan keterasingan. Dulu, lelucon itu hidup di antara dua individu yang saling memahami; kini, ia tak lagi memiliki tempat. Namun, pendekatan dekonstruksi mempertanyakan apakah benar lelucon itu hilang, atau justru masih eksis sebagai jejak dalam memori penulis. Dengan demikian, oposisi antara kedekatan dan keterputusan menjadi tidak stabil, karena kenangan terhadap lelucon itu masih mengikat emosi penulis pada masa lalu.
Secara hierarkis, kita cenderung menempatkan cinta atau komitmen sebagai elemen paling penting dalam hubungan, sementara hal-hal kecil seperti humor dianggap remeh. Namun dalam lirik ini, yang paling diratapi justru adalah hal kecil itu—sebuah lelucon kotor. Ini membalik struktur nilai dalam relasi emosional, memperlihatkan bahwa kehilangan makna-makna kecil justru bisa meninggalkan luka yang lebih dalam. Lelucon itu bukan sekadar candaan, tetapi representasi dari keintiman yang tak tergantikan.
C, Kontradiksi
Ada kontradiksi dalam ekspresi kehilangan ini. Jika lelucon itu benar-benar tidak lagi hidup karena tidak ada lagi yang tersenyum mendengarnya, mengapa ia masih begitu diratapi? Kehilangan yang digambarkan menjadi paradoksal lelucon yang tak lagi eksis secara sosial justru terus hidup dalam ranah psikologis penulis. Hal ini menunjukkan bahwa memori bisa mempertahankan sesuatu yang secara relasional telah mati, menimbulkan pertanyaan apakah hubungan itu benar-benar berakhir sepenuhnya jika kenangan kecilnya masih memberikan pengaruh emosional. Kehilangan, dalam hal ini, bukan sesuatu yang absolut, melainkan berlapis dan terus beresonansi dalam diri individu yang pernah mengalaminya.
Dalam lirik “Your demons I won’t meet / Now someone else’s word to keep”
Penyair menyadari bahwa ia tak lagi harus menghadapi luka batin mantan pasangannya. Perpisahan di satu sisi memberi kelegaan karena ia terbebas dari beban emosional, namun di sisi lain menyiratkan kesedihan karena masalah tersebut kini diwariskan kepada orang lain. Melalui dekonstruksi, lirik ini menunjukkan bahwa makna kebebasan dan kehilangan menjadi kabur.
Terdapat pertentangan antara kebebasan dan keterikatan. Penulis tampaknya bebas dari “demons” pasangannya, namun kalimat selanjutnya menegaskan bahwa beban itu masih ada, hanya berpindah tangan. Hal ini menimbulkan pertanyaan: jika benar-benar bebas, mengapa penulis masih merasa perlu menyebutkannya? Apakah kebebasan ini nyata, atau sekadar bentuk lain dari keterikatan emosional yang belum selesai? Oposisi ini tidak stabil karena kebebasan yang ditampilkan mungkin hanyalah ilusi.
Lirik ini juga menciptakan hierarki antara penulis yang kini merasa terbebas, dan pasangan yang masih membawa “demons,” dengan orang ketiga sebagai penerus beban itu. Namun, saat hierarki ini dibalik, muncul pertanyaan: apakah penulis sungguh bebas, atau hanya mengalihkan penderitaan kepada orang lain? Jika masalah itu terus berpindah tangan, maka perpisahan bukan penyelesaian, melainkan pola yang berulang tanpa resolusi.
Lirik ini sarat kontradiksi: jika penulis sudah lepas dari beban, mengapa ia masih menyebutkannya? Apakah ini kelegaan atau kepahitan terselubung? Jika pasangan memang tak bisa berubah, apakah hubungan mereka memang sejak awal gagal? Ataukah penulis hanya mencoba membenarkan perpisahan dengan menyimpulkan bahwa tak akan ada yang bisa bertahan dengan pasangan tersebut? Kontradiksi ini menunjukkan bahwa apa yang tampak sebagai kebebasan bisa jadi adalah keterikatan yang belum selesai—upaya terakhir untuk tetap memiliki kendali atas kisah yang telah berakhir.
Dalam lirik “I’m sure she’s beautiful and sweet / Not what I wanted, but what we need.”
Lirik ini menggambarkan penerimaan atas kenyataan bahwa mantan pasangan kini telah menemukan seseorang yang baru. Meskipun sosok ini bukanlah yang diinginkan oleh penulis lagu, dia dianggap sebagai sesuatu yang "diperlukan." Ada dualitas antara keinginan pribadi dan kebutuhan yang lebih besar, menunjukkan bahwa terkadang perpisahan terjadi bukan karena kurangnya cinta, tetapi karena adanya ketidaksesuaian yang lebih mendalam.
Lirik ini membangun oposisi antara keinginan “want” dan kebutuhan “need”. Keinginan penulis tidak terpenuhi, namun ia mengakui bahwa pasangan barunya adalah "yang dibutuhkan." Dekonstruksi mempertanyakan validitas oposisi ini: apakah sesuatu yang tidak diinginkan bisa dianggap kebutuhan sejati? Apakah "kebutuhan" itu objektif, atau hanya rasionalisasi atas kehilangan? Jika batas antara keinginan dan kebutuhan tidak jelas, maka makna dalam lirik ini juga menjadi tidak stabil.
Terdapat dua lapisan hierarki: pertama, penulis menempatkan dirinya sebagai pemberi validasi terhadap hubungan mantannya, sementara pasangan baru tidak diberi suara. Kedua, logika (kebutuhan) diunggulkan atas perasaan (keinginan). Namun, hierarki ini goyah ketika penulis tetap menunjukkan keterikatan emosional. Jika benar-benar menerima hubungan itu sebagai "yang dibutuhkan," mengapa masih membandingkannya dengan "yang diinginkan"? Hal ini menunjukkan bahwa lirik tersebut bukan hanya penerimaan, tetapi juga upaya mempertahankan kendali naratif atas kisah yang telah usai.
Lirik ini mengandung kontradiksi yang mencerminkan ambivalensi. Jika hubungan baru benar-benar lebih baik, mengapa masih ada rasa kehilangan? Penulis menyebut pasangan baru itu beautiful and sweet, tapi juga menekankan bahwa ia bukan yang diinginkan. Ini menunjukkan jarak emosional yang belum selesai. Selain itu, pertanyaan muncul: apakah hubungan lama hanya didasari keinginan tanpa kebutuhan yang kuat? Apakah narasi “yang dibutuhkan” hanyalah cara menenangkan diri? Kontradiksi-kontradiksi ini menegaskan bahwa penerimaan dalam lirik ini tidak sepenuhnya ikhlas, melainkan penuh dengan pergulatan batin yang belum tuntas.
Pembahasan
Konsep différance Derrida menyoroti bagaimana makna selalu tertunda dan bergeser dalam sistem tanda. Dalam konteks kegagalan hubungan yang diekspresikan dalam lirik-lirik lagu The Apartment We Won’t Share, ketidakpastian makna menjadi elemen yang dominan. Kegagalan hubungan tidak dipahami sebagai sesuatu yang final, melainkan sebagai sesuatu yang selalu tertunda dan hadir dalam berbagai bentuk ingatan, proyeksi, dan imajinasi [24]
Kegagalan mewujudkan masa depan bersama
Pada lirik "The apartment we won't share / I wonder what sad wife lives there", apartemen yang tidak pernah ditempati bersama menjadi simbol kehilangan yang ambigu. Apartemen tersebut tetap ada, tetapi maknanya berubah seiring waktu. Dalam différance, kehilangan tidak pernah absolut; ia tetap hidup dalam ingatan meskipun secara fisik sudah tidak relevan. Demikian pula, asumsi tentang "sad wife" menunjukkan bagaimana kehilangan sering kali diproyeksikan pada orang lain, tanpa kepastian apakah kesedihan itu benar-benar ada.
Selain itu, dalam lirik "The daughter we won't raise still waits for you.", différance bekerja melalui penundaan makna yang ekstrem. Anak yang tidak pernah ada tetap “menunggu,” menunjukkan bahwa kehilangan dalam hubungan tidak hanya terjadi pada yang nyata, tetapi juga pada yang tidak pernah terjadi. Konsep kehilangan menjadi paradoksal anak yang tidak ada tetap memiliki kehadiran dalam kenangan, sehingga realitas dan imajinasi saling tumpang tindih.
Kegagalan dalam kepercayaan dan transparansi
Lirik "Have the windows deciphered her stares? / Do the bricks in the walls know to hide the affairs?" memperlihatkan bagaimana makna dalam hubungan tidak pernah bersifat tetap. Jendela dan dinding yang seharusnya bersifat pasif malah dikonstruksi sebagai saksi emosional dari hubungan manusia. Dalam konsep différance, hal ini menunjukkan bahwa makna hubungan selalu bergantung pada jejak tanda yang tidak hadir secara langsung. Jika jendela benar-benar bisa “menafsirkan” tatapan, maka realitas hubungan menjadi tidak stabil, karena ia bergantung pada sesuatu yang tidak dapat berbicara atau mengonfirmasi kebenaran.
Kegagalan identitas dalam hubungan
Lirik "The girl I won't be is the one that's yours." menunjukkan bahwa identitas dalam hubungan selalu bersifat sementara dan tidak stabil. Différance bekerja dengan menunda kepastian makna antara "being" dan "not being." Jika penulis lagu menyatakan bahwa ia tidak akan menjadi perempuan yang diinginkan pasangannya, maka ia tetap mengakui keberadaan kemungkinan tersebut. Identitas bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan hasil dari negosiasi antara harapan, ekspektasi, dan realitas.
Kegagalan dalam menutup masa lalu secara sempurna
Lirik "Two years and some change / Isn't it strange? / You're a full-fledged socialist / I go by a new name." mencerminkan bagaimana identitas yang terbentuk dalam hubungan tidak pernah benar-benar hilang, melainkan bergeser ke dalam bentuk lain. Perubahan ideologi dan nama bukanlah sesuatu yang terjadi dalam ruang kosong, melainkan tetap membawa jejak dari hubungan masa lalu. Dalam différance, identitas bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan selalu dalam proses pembentukan ulang.
Selain itu, irik "The filthy joke that won't / Burrow in the corner of your / Smirking lips, I mourn it to this day." memperlihatkan bagaimana kehilangan dalam hubungan tidak hanya terjadi dalam aspek besar seperti cinta atau komitmen, tetapi juga dalam detail kecil yang tampaknya remeh. Différance menunjukkan bahwa kehilangan ini tetap tertunda lelucon yang tidak lagi diucapkan tetap memiliki efek emosional. Lelucon tersebut tidak benar-benar hilang, tetapi hadir dalam bentuk baru sebagai kenangan yang terus menghantui.
Kegagalan dalam memahami dan diterima oleh pasangan
Dalam lirik "Your demons I won’t meet / Now someone else’s word to keep.", makna kebebasan setelah perpisahan menjadi problematis. Jika penulis lagu benar-benar bebas, mengapa masih ada kesadaran bahwa beban emosional pasangannya kini menjadi milik orang lain? Différance menunjukkan bahwa kebebasan yang dinyatakan di sini bukanlah sesuatu yang absolut, tetapi tetap terikat pada apa yang telah terjadi di masa lalu.
Kegagalan dalam menentukan makna perpisahan
Akhirnya, dalam lirik "I'm sure she's beautiful and sweet / Not what I wanted, but what we need.", oposisi antara keinginan dan kebutuhan menjadi tidak stabil. Jika hubungan baru adalah sesuatu yang "dibutuhkan," mengapa masih ada penekanan bahwa itu bukan sesuatu yang diinginkan? Différance menyoroti bagaimana makna kebutuhan dalam hubungan tetap bergantung pada jejak hubungan sebelumnya. Keinginan dan kebutuhan tidak pernah bisa benar-benar dipisahkan karena keduanya saling membentuk dalam pemaknaan pengalaman emosional.
Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kegagalan hubungan dalam lirik lagu The Apartment We Won’t Share karya NIKI bukanlah sesuatu yang final dan mutlak, melainkan sebuah pengalaman yang selalu tertunda dan berubah maknanya seiring waktu, sebagaimana dikemukakan dalam konsep différance Jacques Derrida. Setiap elemen dalam lirik lagu ini, seperti apartemen yang tidak dihuni bersama, anak yang tidak pernah lahir, hingga perubahan identitas pasca-perpisahan, memperlihatkan bagaimana kehilangan dalam hubungan tidak pernah benar-benar absolut, tetapi terus hadir dalam berbagai bentuk ingatan, proyeksi, dan narasi subjektif.
Penelitian ini menemukan bahwa kegagalan hubungan dalam lagu ini tidak hanya sekadar berakhirnya cinta, tetapi juga hancurnya harapan, ketidakpastian identitas, serta ketidakmampuan untuk benar-benar melepaskan masa lalu. Dengan membongkar oposisi biner dalam lirik antara harapan dan kenyataan, keinginan dan kebutuhan, kebebasan dan keterikatan terlihat bahwa makna hubungan selalu bersifat ambigu dan tidak pernah tetap. Bahkan setelah perpisahan, jejak hubungan tetap ada dalam bentuk kenangan, kesedihan yang diproyeksikan pada orang lain, dan perasaan kehilangan yang tidak dapat sepenuhnya dihapus.
Melalui pendekatan dekonstruksi, penelitian ini juga menyoroti bagaimana lirik lagu ini tidak sekadar merepresentasikan kegagalan hubungan, tetapi juga mengkritisi bagaimana manusia memahami dan merasionalisasi kehilangan. Dalam banyak bagian lagu, penulis lagu mencoba memberikan makna baru atas perpisahan yang terjadi baik dengan menekankan kebebasan, rasionalisasi kebutuhan, atau menerima perubahan. Namun, setiap upaya untuk menutup makna selalu bertemu dengan kontradiksi yang menunjukkan bahwa kehilangan bukanlah sesuatu yang bisa benar-benar diterima atau diselesaikan.
Dengan demikian, penelitian ini menegaskan bahwa kegagalan hubungan tidak pernah memiliki satu makna tetap. Alih-alih dipahami sebagai sesuatu yang berakhir begitu saja, kegagalan ini menjadi bagian dari narasi yang terus berkembang, mengalami pergeseran makna, dan tetap memiliki relevansi dalam kehidupan individu yang mengalaminya. Lirik lagu ini menunjukkan bahwa kehilangan dalam hubungan bukan sekadar tentang perpisahan, tetapi tentang bagaimana manusia terus-menerus bernegosiasi dengan ingatan, identitas, dan harapan yang tertunda.
J. Derrida, Writing and Difference. Taylor & Francis Group, 1981.
C. Norris, “MEMBONGKAR TEORI DEKONSTRUKSI JACQUES DERRIDA,” 2017.
J. Thompson, 20th Century Theories of Art. McGill-Queen’s University Press, 1990. doi: 10.1515/9780773596054.
F. Riani, “Analisis Semiotika Subordinasi Perempuan dalam Lirik Lagu Bernadya,” Komuniti: Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi, 2025, doi: 10.23917/komuniti.v17i1.7752.
M. Ratna, S. 1, and M. Lestari, “Analisis Wacana Kritis Lagu ‘Wong Sepele’ Ndarboy Genk: Dinamika Sosial Masyarakat Jawa,” 2024.
F. Imam, “LAA 1 (1) (2012) Journal of Arabic Learning and Teaching ANALISIS WACANA VAN DIJK PADA LIRIK LAGU IRGAA TANI (MY HEART WILL GO ON),” Dipublikasikan, 2012. [Online]. Available: http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/laa
T. Santoso and A. Jaya, “Makna Metafora Lirik Lagu Konayuki dalam Analisis Wacana Kritis,” vol. 22, no. 1, 2024, doi: 10.33387/tekstual.v22i1.7794.
M. J. Khadavi, “DEKONSTRUKSI MUSIK POP INDONESIA DALAM PERSPEKTIF INDUSTRI BUDAYA The Deconstruction Indonesia Music Pop in Perspective Industry Culture,” 2014. [Online]. Available: http://ejournal.umm.ac.id/index.php/humanity/article/view/2392
W. Alfiyani, “Type and Meaning of the Figurative Language Found in Niki’s Selected Songs’ Lyrics (Wenny Alfiyani) TYPE AND MEANING OF THE FIGURATIVE LANGUAGE FOUND IN NIKI’S SELECTED SONGS’ LYRICS,” 2021.
C. H. Yanti and Z. Muslimin, “Hyperbolic Expression In The Album Nicole By Niki,” Journal of English Teaching, Literature, and Applied Linguistics, vol. 8, no. 2, 2024, doi: 10.30587/jetlal.v4i1.
N. Constantin and F. Kennedy, “Dekonstruksi Makna dan Bahasa dalam Perspektif Jacques Derrida,” JKOMDIS : Jurnal Ilmu Komunikasi Dan Media Sosial, vol. 3, no. 3, pp. 795–801, Dec. 2023, doi: 10.47233/jkomdis.v3i3.1315.
M. Ridho, “Teori Dekonstruksi Jacques Derrida,” 2024.
F. Kurniawati and M. N. Annabil, “LOVE AND SPIRITUALITY: THE ANALYSIS OF THE NOVEL LAYLA BY CANDRA MALIK BASED ON JACQUES DERRIDA PERSPECTIVE,” Poetika, vol. 10, no. 1, p. 40, Jun. 2022, doi: 10.22146/poetika.v10i1.65981.
N. Hasanah, E. Dewi, and K. Anwar, “Fenomenologi: Karl Popper (Falsifikasi) dan Dekonstruksi Jacques Derrida,” 2024, doi: https://doi.org/10.61722/jssr.v3i1.3433.
N. Minah and F. Kumari, “FILM DANGAL DALAM ANALISIS JACQUES DERRIDA,” Jurnal Ilmiah Ilmu Ushuluddin, vol. 20, no. 2, p. 145, Dec. 2021, doi: 10.18592/jiiu.v20i2.5635.
A. Atrasana, L. Alinda, F. Masyhud, J. Bahasa Dan Sastra Arab, F. Adab Dan Humaniora, and U. Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, “SIMBOLISME TRANSENDEN DALAM PUISI MATSNAWI PADA FIHI MA FIHI KARYA JALALUDIN RUMI: SEBUAH ANALISIS DEKONSTRUKSI JACQUES DERRIDA,” Jurnal Multidisiplin Ilmu Bahasa, vol. 4, 2024, doi: 10.8734/argopuro.v1i2.365.
P. Febriana and R. Chusna, “Konstruksi Makna Pertemuan Prabowo dan Surya Paloh Pasca Pengumuman Hasil Pilpres 2024 dalam Framing Media Online,” PERSPEKTIF, vol. 13, no. 4, pp. 1141–1154, Oct. 2024, doi: 10.31289/perspektif.v13i4.12797.
S. Rohman, “RADIKALISASI MAKNA PEREMPUAN JAWA DALAM ”NGAMEN LIMA”: SUATU ANALISIS DEKONSTRUKSI,” ATAVISME, vol. 26, no. 2, pp. 92–101, Jan. 2024, doi: 10.24257/atavisme.v26i2.890.92-101.
D. Putri and P. Febryanti, “DECONSTRUCTION OF THE MESSAGE IN THE SONG ‘AMEN MOST SERIOUS’ DEKONSTRUKSI PESAN DALAM LAGU ‘AMIN PALING SERIUS,’” 2024. [Online]. Available: https://lingin.upnjatim.ac.id/index.php/lingin
K. Chika, “DEKONSTRUKSI MAKNA LAGU PEMANGGIL HANTU (Analisis Hermeneutika pada Podcastery Jurnalrisa Episode 4 Lagu Pemanggil Hantu),” 2020.
L. Lestarysca and P. Febriana, “KONSTRUKSI CITRA PEREMPUAN DALAM MEDIA ONLINE (Analisis Framing Rubrik Fashion Website Wolipop),” KANAL: Jurnal Ilmu Komunikasi, vol. 2, no. 1, p. 49, Oct. 2016, doi: 10.21070/kanal.v2i1.275.
M. Sholichah and P. Febriana, “Self-Image Construction in New Media through the Instagram Application (Semiotic Analysis of @maudyayunda Instagram posts),” Jurnal Spektrum Komunikasi, vol. 10, no. 2, pp. 177–186, Jun. 2022, doi: 10.37826/spektrum.v10i2.239.
A. Siswanto and P. Febriana, “Representasi Indonesia dalam Stand Up Comedy (Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough dalam Pertunjukan Spesial Pandji Pragiwaksono ‘Mesakke Bangsaku’),” Kanal : Jurnal Ilmu Komunikasi, 2017.
S. Altiria, “DEKONSTRUKSI DERRIDA PADA KAJIAN LINGUISTIK KOGNITIF,” Prosiding Konferensi Linguistik Tahunan Atma Jaya (KOLITA), vol. 21, no. 21, pp. 270–280, Oct. 2023, doi: 10.25170/kolita.21.4857.