Login
Section Education

Emotional Intelligence and Social Skills Among Adolescents in Sidoarjo

Kecerdasan Emosional dan Keterampilan Sosial di Kalangan Remaja di Sidoarjo
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Adellia Ikhsantinia Ashar (1), Lely Ika Mariyati (2)

(1) Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Adolescence represents a critical developmental stage characterized by increasing demands for emotional regulation and social interaction within school environments. Specific Background In senior high school students in Sidoarjo, social skills are considered essential for effective peer interaction and adjustment, while emotional intelligence is assumed to support emotional awareness and interpersonal behavior. Knowledge Gap Although numerous studies have examined emotional intelligence and social skills separately or within mediated frameworks, limited research has directly examined their statistical relationship among Indonesian adolescents in public senior high schools. Aims This study aims to examine the relationship between emotional intelligence and social skills among adolescents in Sidoarjo. Results Using a quantitative correlational approach with Spearman’s Rho analysis, the findings show a strong positive correlation coefficient numerically; however, the relationship is not statistically significant, indicating that emotional intelligence and social skills are not significantly related in the studied sample. Novelty This study provides direct empirical evidence from Indonesian senior high school adolescents showing a non-significant statistical relationship between emotional intelligence and social skills despite high levels of both variables. Implications The findings suggest that adolescent social skills may be associated with factors beyond emotional intelligence, providing a basis for further investigation into additional variables relevant to adolescent social development.


Highlight:




  • Statistical analysis showed no significant association between the two measured variables.




  • Most participants demonstrated high levels across both measured constructs.




  • Quantitative evidence indicates the presence of other contributing factors in adolescent social development.




Keywords: Emotional Intelligence, Social Skills, Adolescents, Senior High School, Correlational Study

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Manusia adalah satu-satunya makhluk sosial yang peka terhadap setiap permasalahan terjadi dari berbagai aspek yang bersumber interaksi kelingkungannya, sesuai peraturan hukum berlaku[1] . Berhubungadengan orang lain mampu dikerjakan siapapun, dimanapun, pada teman, keluarga atau masyarakat sekitar. Namun di sisi lain pada kenyataan nya manusia ada yang berbuat diluar batas yang ditetapkan di masyarakat. Anak seharusnya melakukan kegiatan positif pada saat usia remaja dan mengenal keahlian dasar dan kecerdasan emosional. Karena masa remaja paling banyak di pengaruhi lingkungan dan teman sebaya[2].

Rentang usia remaja mulai dari tahap awal (12 – 15 tahun) sampai tahap pertengahan (15 – 18 tahun) pada masa ini sedang mencari identitas spesial dan mengembangkan keterampilan sosia, fasilitas untuk bersosialisasi dengan lingkunganmya. Kemampuan penyesuaian sosial sesuai dengan kemampuannya dalam berinteraksi dan cara nya untuk merespon realitas sosial dengan cara yang benar dan sangat diperlukan untuk bersosialisasi baik dalam keluarga, sekolah atau masyarakat sekitar[3].

Siswa SMA Negeri 2 Sidoarjo kerap dihadapkan pada masalah keterampilan sosial, sesuai hasil wawancara dan observasi dengan guru bimbingan dan konseling pada Rabu, 8 November 2023. Beberapa siswa hanya berperan sebagai pengikut dalam kelompok pertemanan, membuat individu tetap terus terupdate sehingga dapat terpenuhi kebutuhan akan informasi dan kepuasan diri bagi individu. Media sosial berfungsi sebagai label untuk teknologi digital yang membuat manusia dapat berinteraksi, terhubung, dan menciptakan berbagai konten

menunjukkan kecenderungan untuk menyendiri dan kurang bergaul, tidak menggunakan waktu dengan efektif serta mengalami kesulitan dalam mengungkapkan perasaan saat berada dalam kelompok belajar. Fakta lainnya terkait masalah disiplin dan interaksi sosial di sekolah ialah siswa terlambat secara kronis atau mengunjungi kantin saat jam pelajaran berlangsung. Permasalahan-permasalahan tersebut memperjelas keterampilan sosial sebagian siswa masih perlu ditingkatkan, dan hal ini dapat di pengaruhi berbagai faktor, salah satu nya adalah kecerdasan emosional.

Keterampilan sosial ialah hal cukup krusial bagi individu supaya berani berhubungan sosial yang baik. Individu dengan keterbatasan dalam keterampilan sosial tersebut menyulitkan individu tersebut untuk beradaptasi pada lingkungan sosial nya, sehingga muncul hal-hal yang memicu penyakit sosial[4]

Menurut Goleman (di kutip dalam [2]) Mengajarkan anak keterampilan dasar serta kecerdasan emosional akan membawa banyak manfaat. Anak akan menjadi lebih cerdas secara emosional, penuh pengertian, mampu menerima perasaan dengan baik, dan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Saat memasuki masa remaja, hal ini akan membantu mereka meraih lebih banyak keberhasilan di sekolah, membangun relasi yang bagus dalam lingkngan nya, memiliki hubungan yang sehat dengan teman sebaya, serta terlindung dari segala resiko seperti penyalahgunaan narkoba, kenakalan remaja, kekerasan, serta perilaku seksual yang tidak baik bagi nya.

Remaja yang mampu mengekspresikan emosinya dengan cara yang dewasa dapat berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup[2].

Menurut Caldarella dan Merrell ( dikutip dalam [5] ) terdapat lima aspek utama dalam keterampilan sosial umum yakni: 1). Relasi kepada teman sejawat ( Peer relation ) di tunjukkan lewat prilaku posittif ke teman, contohnya memberikan pujian atau nasehat, membantu serta berpartisipasi dalam bermain bersama; 2). Manajemen diri ( Self-management ) menggambarkan kemampuan remaja dalam mengelola emosi secara baik, mematuhi aturan dan batasan yang berlaku, serta menerima kritik dengan lapang dada; 3). Kemampuan akademik ( Academic competence ) tercermin dalam kemampuan menyelesaikan tugas secara mandiri, menyelesaikan pekerjaan individu, dan mengikuti arah baik; 4). Kepatuhan ( Compliance ) mencerminkan kemampuan remaja untuk menaati aturan dan memenuhi keinginan, memakai waktu secara efisien, serta bersedia berbagi dengan orang lain; 5). Perilaku asertif ( Assertive behavior ) merujuk pada kemampuan individu untuk menunjukkan respons yang sesuai dalam situasi tertentu secara tepat dan tegas.

Berkomunikasi efektif, membangun dan mempertahankan hubungan positif, memperlakukan orang lain dengan bermartabat dan hormat, secara aktif mendengarkan orang lain (baik positif maupun negatif), memberikan dan menerima kritik yang membangun, serta mengikuti aturan dan standar yang ditetapkan ialah keterampilan sosial penting dikembangkan remaja. Remaja akan berhasil dengan baik di lingkungan sosial mereka jika mereka memperoleh dan menerapkan keterampilan selama masa ini. Namun, keterampilan sosial remaja tidak berkembang secara otomatis, Faktor internal yang berkontribusi besar adalah kecerdasan emosional. Memiliki kecerdasan emosional tinggi berarti dapat membaca dan merespons emosi orang lain, baik emosi diri sendiri maupun orang-orang di sekitar Anda

Menurut Goleman ( di kutip dalam [7] ) terdapat aspek penting dalam kecerdasan emosional seseorang, yaitu: 1). Kesadaran diri, kemampuan untuk memahami perasaan, pikiran dan melakukan evaluasi terhadap diri sendiri. Individu dengan kesadaran diri yang baik tidak terjebak dalam zona nyaman dan mampu melakukan refleksi terhadap dirinya; 2). Pengendalian diri, mencakup kemampuan untuk menahan diri dari keinginan yang tidak mendesak, mengatur jadwal belajar secara efektif, menghindari penundaan pekerjaan, menyelesaikan tugas tepat waktu, menjauhi kebiasaan buruk, serta mampu mengontrol diri dalam berbagai situasi; 3). Integritas, di tandai dengan kejujuran, rasa tanggung jawab, dan komitmen terhadap prinsip hidup. Dengan memiliki integritas yang tinggi dapat lebih menghargai waktu, berpikiran positif, datang tepat waktu, dapat menjaga keseimbangan antara tindakan dan tanggung jawabnya; 4). Empati, kapasitas empati dan memahami emosi dan sudut pandang orang lain, sehingga seseorang mampu membentuk ikatan diandalkan dengan mereka dan menyesuaikan diri dengan karakter unik mereka; 5. Memperkuat hubungan interpersonal, terkait dengan kemampuan persuasif, kepemimpinan, komunikasi efektif, dan kemampuan untuk mengatasi konflik dengan cara positif.

Ketika anak-anak berada di lingkungan sosial, seperti sekolah, kecerdasan emosional mereka mulai terlihat. Siswa diharapkan memiliki kecerdasan emosional dan sosial tinggi di samping kecakapan akademis mereka. Kecerdasan emosional seseorang bukanlah sesuatu dibawa sejak lahir, melainkan sesuatu diasah setiap hari, sejak kecil hingga dewasa, lewat berbagai pengalaman [8]. Telah banyak kajian terkait korelasi kecerdasan emosional pada keterampilan sosial di berbagai latar, namun belum banyak yang meneliti kedua variabel ini secara langsung pada siswa sekolah menengah.

Penelitian yang di lakukan Pirkalani dkk [9] dalam penelitian nya yang berjudul “ predicting adolescents’ social skills based on their parents’ emotional intelligence “ menjelaskan bahwa kecerdasan emosional, terutama dari pihak ibu, ber pengaruh yang signifik pada keterampilan sosial remaja. adapun lain, oleh Ahmad et al berjudul “Mediating Role of Emotional Intelligence in the Interrelationship of Elementary School Teachers’ Social Skills and Social Competence” meneliti hubungan antara keterampilan sosial dan kompetensi sosial pada guru sekolah dasar, kecerdasan emosional ialah variabel mediasi. Didapati kecerdasan emosional berefek mediasi signifik pada hubungan tersebut. Penelitian dalam artikel didapati kecerdasan emosional dan keterampilan sosial berperan penting dalam mencegah keterlibatan remaja dalam situasi perundungan, baik sebagai pelaku, korban maupun pengamat. Penelitian ini juga mengungkapkan siswa dengan tingkat keterampilan sosial dan kecerdasan emosional tinggi cenderung lebih mampu mengelola koflik, menolak ajakan negatif, serta lebih empatik dalam relasi sosial. Demikian pula, Sri wahyuni dan rekan-menyatakan bahwa siswa tingkat kecerdasan emosional tinggi bisa mengidentifikasi emosinya, memotivasi diri, memahami emosi orang lain, dan berhubungan interpersonal baik . Penelitian selanjutnya yang dilakukan Wardani , terlihat kecerdasan emosional maupun kecerdasan adversitas berefek positif pada keterampilan sosial siswa, baik secara langsung maupun model inkuiri sosial. Khususnya kecerdasan emosional memiliki pengaruh kuat dalam membentuk kemampuan siswa untuk berempati, bekerjasama, serta menyelesaikan konflik secara efektif.

Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa kecerdasan emosional berperan dalam mengidentifikasikan keterampilan sosial individu. Misalnya penelitian oleh Pirkalani dkk menunjukkan pengaruh kecerdasan emosional orang tua pada keterampilan sosial remaja, tetapi belum menyelidiki kecerdasan emosional remaja itu sendiri. Penelitian yang di lakukan Wardani mengkolerasikan kecerdasan emosional dengan keterampilan sosial pada hasil belajar atau variabel intervening seperti model inkuiri sosial, namun variabel kecerdasan emosional dengan keterampilan sosial belum menjadi fokus utama.

Selain itu banyak penelitian yang telah meneliti dengan subyek siswa sekolah dasar seperti penelitian Sri Wahyuni dkk dan Wardani , sehingga belum mempresentasikan dinamika sosial emosional remaja usia 16-18 tahum. Sementara itu penelitian yang spesifik membahas tentang remaja, seperti penelitian Putri & Wahyumiani dan Trigueros dkk , menggunakan istilah yang lebih luas seperti interaksi sosial atau hubungan kecerdasan emosional dengan keterampilan sosial dalam konteks pencegahan perundungan teman sebaya, bukan sebagai variabel independen. Sehingga belum banyak penelitian yang mengeksplorasi hubungan fungsional dan langsung antara kecerdasan emosional dengan keterampilan sosial dalam kerangka positif pertumbuhan pribadi remaja, khususnya di lingkungan sekolah umum negeri di Indonesia.

Berpijak pada celah tersebut, penelitian ini membawa kebaharuan dalam beberapa hal yang berbeda dari penelitan sebelumnya yaitu peelitian langsung di lakukan pada remaja di SMA Negeri di Sidoarjo, kedua penelitian menggunakan instrumen yang relatif baru dan telah teruji, yitu skala kecerdasan emosional dari H. Khasanah dan skala keterampilan sosial dari A. Sihite yang sesuai dengan konteks remaja yang ada di indonesia. Ketiga, hasil penelitian ini berbeda dengan mayoritas studi sebelumnya, karena menunjukkan bahwa meskipun terdapat korelasi positif secara numerik ( r = 0,86 ), hubungan tidak signifikan secara statistik ( p= 0,147 ).

Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan Keterampilan Sosial Remaja Sidoarjo. Kajian murni mempelajari dua aspek perkembangan remaja dari aspek internal. Dengan demikian, penelitian dapat diharapkan memberikan kontribusi teoritis pada pengembangan psikologi pendidikan dan kontribusi praktis pada desain program bimbingan konseling serta pendidikan karakter tingkat SMA.

Berdasarkan acuan teori dan hasil penelitian, hipotesis bisa dirumuskan ialah Hipotesis Alternatif (H₁) ada korelasi baik dan signifik pada kecerdasan emosional & keterampilan sosial remaja. Tingginya kecerdasan emosional remaja, baiknya pula keterampilan sosialnya. Hipotesis Nol (H₀) tak ada korelasi pada kecerdasan emosional & keterampilan sosial remaja. Kecerdasan emosional tak berefek signifik pada keterampilan sosial remaja. Hipotesis didasari penelitian sebelumnya, kecerdasan emosional berkontribusi terhadap interaksi sosial yang lebih baik, kemampuan membina hubungan, serta fungsi sosial yang optimal.

Maksud peneliti ialah mendeteksi korelasi kecerdasan emosional & keterampilan sosial remaja sidoarjo. Manfaat nya menjadi bahan pembelajaran lanjutan dalam bidang psikologi. Manfaat untuk remaja : mendapatkan ilmu baik terkait dirinya dan bagaimana emosi mereka mempengaruhi dalam sosial. Penelitian ini mendorong peserta didik untuk menjadi lebih baik dalam menyesuaikan diri secara sosial dan lebih adaptif di dunia sosial. Bagi sekolah memberikan masukan kepada pihak sekolah tentang perlunya meningkatkan kecerdasan emosional siswa. Dengan pengetahuan tentang korelasi antara kecerdasan emosional dengan keterampilan sosial, sekolah dapat merancang program pendidikan yang lebih baik untuk meningkatkan keduanya. Ke peneliti kedepan, sebagai panduan peneliti yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai kecerdasan emosional dengan keteramoilan sosial, serta hal-hal yang dapat mempengaruhi korelasinya.

Metode

Guna mendeskripsikan dan mengeksplorasi korelasi antar variabel, Dipakai pendekatan korelasional pada penelitian kuantitatif, yakni menguji hipotesis. Angka-angka dan analisis statistik ialah tulang punggung penelitian kuantitatif.

Studi mengenai teknik pengambilan sampel probabilitas, khususnya pengambilan sampel acak sederhana, untuk prosedur pengambilan sampel. Cara ini menghilangkan bias dengan memilih anggota sampel secara acak dari populasi tanpa mempertimbangkan status sosial ekonomi. Sampel ialah seluruh siswa SMA di salah satu sekolah di sidoarjo tahun ajaran 2023 sd 2024 yang berjumlah 283 dari jumlah populasi sebanyak 1400 siswa. Sample dihitung dengan Tingkat kesalahan 5%

Teknik pengumpulan data memakai skala likert. Ada dua variable utama, yaitu kecerdasan emosional dan keterampilan sosial remaja. Setiap item pertanyaan disajikan dalam bentuk pilihan ganda dengan lima tingkat penilaian, dari skor 1 ( sangat tidak setuju ) sampai 5 ( sangat setuju). Guna mengukur Kecerdasan emosional (variable X), peneliti pakai skala oleh Khasanah , dengan hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai Chronbach’s α= 0,830. Sementara itu, keterampilan social (variable Y) yang diukur menggunakan skala yang diadopsi dari penelitian Andriyani Sihite, yang menunjukkan nilai reliabilitas sebesar Chronbach’s α= 0,790

Hasil dan Pembahasan

Hasil

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kecerdasan emosional dengan keterampilan social remaja sidoarjo. Sebelum dilakukan uji hipotesis, terlebih dulu dilakukan uji normalitas dan uji linieritas data. Adapun hasil uji normalitas dapat diamati pada tabel di bawah ini:

Tabel 1. Uji Normalitas

Data terdistribusi normal jika nilai signifikansi (sig) > 0,05. Terlihat nilai signifikansi (sig) = 0,001 (< 0,05) , data terdistribusi tidak normal.

Sementara hasil uji linieritas dapat diamati pada tabel di bawah ini:

Tabel 2. Uji Linieritas

Belrdasarkan tabell dikeltahui nilai signifikansi linielarity di korelasi Kecerdasan emosional ke Keterampilan social remaja di peroleh nilai signifik Deviation from linearity 0,804 (p>0,05), di simpulkan data total skor variable hubungan kecerdasan emosional dengan keterampilan social remaja memenuhi syarat linieritas. Berikut merupakan uji hipotesis menggunakan uji korelasi spearman’s rho. Ini hasilnya :

Tabel 3. Uji Hipotesis

Hasil terlihat hubungan kuat antar variabel, dengan nilai koefisien korelasi 0,86. adapun, keterkaitan langsung antar kedua variabel nilai koefisien korelasi positif. Jadi, tidak jarang variabel lain naik bersamaan dengan variabel pertama. Dengan nilai sig. (2-tailed) 0,147, hasil signifikan statistik pada level 0,05. Hal ini mengesampingkan kemungkinan korelasi signifik secara statistik antar kedua variabel. Sederhananya, kedua variabel tersebut tidak berhubungan secara signifikan satu sama lain.

Responden pada penelitian adalah Remaja 15-18 tahun SMA Negeri 2 sidoarjo. Gambaran responden berdasarkan jenis kelamin dapat diamati pada tabel di bawah ini:

Tabel 4. Gambaran Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Gambaran responden berdasarkan lama waktu menjadi pengguna media sosial TikTok dapat diamati pada tabel berikut:

Tabel 5. Gambaran Responden Berdasarkan Kelas

Gambaran tingkat penggunaan media sosial TikTok dan FoMO pada responden dapat diamati pada tabel di bawah ini:

Tabel 6. Gambaran Responden Berdasarkan Tingkat Kecerdasan Emosional dengan Keterampilan Sosial Remaja

Berdasarkan table kategorisasi skor subyek diatas maka dapat di simpulkan bahwa remaja sidoarjo yang berjumlah 283 remaja punya kecerdasan emosional yang tinggi ada 91,5% dan remaja kecerdasan emosional sedang 6%. Begitu pula keterampilan social yakni remaja yang memiliki keterampilan social tinggi sebanyak 95% dan remaja yang mempunyai keterampilan social sedang sebanyak 2,8%.

Pembahasan

Uji prasyarat, uji normalitas dan linearitas, dilakukan sebelum analisis data . Meski uji linearitas lolos (p = 0,193), uji normalitas mengungkap data tidak ter distribusi normal (p = 0,001). Uji nonparametrik Spearman's rho dipakai sebab ketidaknormalan data. Korelasi tinggi dan searah antar kedua variabel ditunjukkan hasil uji Spearman's rho, koefisien korelasi 0,86. Namun, korelasi ini tidak signifikan secara statistik karena nilai p-value >0,05 (p = 0,147). Untuk mengulangi, "Koefisien Korelasi Rank Spearman" terlihat kedua variabel tidak berkaitan secara signifikan. Hal ini membantah hipotesis nol terdapat korelasi antara kecerdasan emosional dan keterampilan sosial.

Namun, hasil penelitian ini tidak menutup kemungkinan bahwa kecerdasan emosional dengan keterampilan sosial memiliki hubungan yang kompleks dan dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Salah satu factor yang memediasi yaitu penelitian yang di lakukan yaitu Dukungan social sebagai mediasi antara kecerdasan emosional dengan keterampilan social dalam penelitian menjelaskan jika dukungan social menggambaran kedekatan hubungan seseorang dengan Masyarakat, sehingga remaja dengan kecerdasan emosional yang tinggi akan lebih mendapatkan dukungan dari orang dilingkungan sekitarnya. Selain itu, ada factor lain yang dapat memediasi penelitian menjelaskan Empati berperan mediasi di korelasi kecerdasan emosional & keterampilan social karena kemampuan empati krusial untuk kecerdasan emosional. Empati memainkan sisi emosional dan kognitif. Oleh karena itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk mengidentifikasi variabel mediasi atau faktor-faktor lain yang dapat menjelaskan hubungan dengan kecerdasan emosional.

Penelitian lanjutan dapat menganalisis dengan berbagai factor pendukung lainnya yang mempengaruhi keterampilan sosial, seperti motivasi menurut teori , prestasi akademik , komunikasi interpersonal , dan lain-lainsehingga, bisa ber kontribusi lebih besar memahami hubungan dengan keterampilan sosial.

Beberapa penelitian sebelumnya yang menjelaskan tentang keterampilan sosial yang tidak semata mata di pengaruhi langsung oleh kecerdasan emosional tapi juga beberapa faktor lain yang berasal dari dukungan lingkungan sosial .

Hasil kajian kategorisasi subjek, Didapati remaja kecerdasan emosional tinggi sebanyak 259 remaja (91,5%), 17 remaja (6%) memiliki kecerdasan emosional sedang dan 7 remaja (2,5%) dengan kecerdasan emosional rendah. Terlihat Sebagian besar remaja di dalah satu sekolah di sidoarjo ber kecerdasan emosional tinggi dengan indikasi kualitas cara mengontrol emosi dan perasaan. Kemampuan remaja dalam memahami diri sendiri serta dapat mengevaluasi diri dan merefleksikan nya dengan baik, remaja dengan kecerdasan emosional tinggi mampu mengontrol diri dengan menghindari kebiasaan buruk dan selalu berbuat jujur dan bertanggung jawab dalam setiap permasalahan yang dimiliki serta memiliki empati tinggi terhadap orang lain hingga menjalin hubungan dengan komunikasi yang baik pada orang lain.

Hasil kategorisasi terlihat jumlah remaja keterampilan social tinggi 269 remaja (95,1%), 8 remaja (2,8%) keterampilan social sedang 6 remaja (2,1%) keterampilan social rendah. Sebagian besar remaja di salah satu sekolah di sidoarjo memiliki keterampilan social yang tinggi hal ini tercermin dari perilaku remaja yang suka menunjukkan sikap positif dengan lingkungannya, serta mampu menerima kritikan dan mempunyai Batasan akan dirinya saat bergaul di berbagai lingkungan, remaja dengan keterampilan social yang tinggi mampu mengerjakan tugas tepat waktu dan mentaati aturan yang telah di tetapkan dan saat terjadi konflik atau permasalahan mampu berperilaku sesuai dengan situasi yang terjadi.

Simpulan

Dapat di tarik simpula, yakni tidak ada korelasi signifik antar kedua variabel (kecerdasan emosional & keterampilan sosia)l remaja disidoarjo, di buktikan hasil analisis yakni koefisien korelasi 0,86 mengindikasikan kuat dan searah antara kedua variabel namun nilai signifikansi nya 0,147 > 0,05. Meskipun ada hubungan secara empiris atau pengamatan yang sudah di uji, namun hubungan antara dua variabel tersebut tidak dapat dianggap signifikan secara statistik. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun kecerdasan emosional dapat berkontribusi terhadap keterampilan sosial, faktor lain mungkin juga berperan lebih penting dalam membentuk keterampilan sosial remaja. Sehingga diperlukan mengeksplorasi variabel lain yang berefek ke hubungan ini.

Adapun saran ialah : a) bagi remaja : memperluas jumlah sampel yang lebih besar agar hasil analisis statistik menjadi lebih akurat dan representatif terhadap populasi remaja di sidoarjo, b) bagi sekolah : sekolah dapat memberikan program pelatihan kecerdasan emosional dan keterampilan sosial kepada siswa sebagian bagian dari kurikulum pendidikan karakter, c) bagi penelitian selanjutnya : penelitian lanjutan dapat mengeksplorasi variabel lain yang mungkin berpengaruh terhadap keterampilan sosial remaja dengan menggunakan metode penelitian yang lain dengan subyek lebih banyak.

Ucapan Terima Kasih

Ucapan telrima kasih kelpada SMA NEGERI 2 Sidoarjo yang tellah melmbelrikan izin pelnellitian dan selluruh Siswa yang belrkelnan selbagai relspondeln dalam pelnellitian ini.

References

REFERENSI

W. D. Lumban Gaol, “Analisis Faktor Kecakapan Sosial Remaja di Desa Aekanauli 1 Kecamatan Pollung,” Diklus: Jurnal Pendidikan Luar Sekolah, vol. 5, no. 2, pp. 157–168, Sep. 2021, doi: 10.21831/diklus.v5i2.40798.

N. K. Saputra, “Hubungan Kecerdasan Emosi Dengan Keterampilan Sosial Siswa Kelas XI SMK PGRI 4 Kediri Tahun Ajaran 2018/2019,” pp. 1–9, 2020.

Fauziah and dan R. Rusli, “PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK SECARA SOSIAL STUDENTS’ DEVELOPMENT ON SOCIAL ASPECT,” 2013.

Pujiani, “Gambaran Ketrampilan Sosial Anak Remaja Yang Mengalami Gangguan Perilaku,” JURNAL EDUNursing, vol. 2, no. 1, pp. 35–43, 2018.

A. Sihite, “Hubungan keterampilan sosial dan makna hidup dengan keterlibatan siswa dalam pembelajaran di SMA negeri 8 medan,” 2022.

W. Sulistio, E. Puspo Wiroko, A. Dewi Paramita Fakultas Psikologi, U. Pancasila Jalan Srengseng Sawah, and J. Selatan, “PENGARUH KECERDASAN EMOSI TERHADAP PENYESUAIAN SOSIAL REMAJA DI PONDOK PESANTREN,” 2018.

H. Khasanah, “Pengaruh kecerdasan emosional dan konsep diri terhadap kepercayaan diri dalam mengungkapkan pendapat siswa SMK Ma’arif NU 1 wonolopo mijen semarang,” 2019.

W. Rosida, “PERAN GURU DALAM MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA,” 2022.

R. KHodabakhsh Pirkalani, F. Amani, F. Raiisi, and A. Hajkaram, “Predicting adolescents social skills based on their parents emotional intelligence,” Shenakht Journal of Psychology and Psychiatry, vol. 7, no. 1, pp. 141–152, Mar. 2020, doi: 10.52547/shenakht.7.1.141.

I. Ahmad, F. Deeba, and M. A. Raza, “Journal for Social Science Archives (JSSA) Mediating Role of Emotional Intelligence in the Interrelationship of Elementary School Teachers’ Social Skills and Social Competence,” Journal for Social Science Archives (JSSA), vol. 2, no. 2, p. 2024, 2024, [Online]. Available: https://jssarchives.com/index.php/Journal/about

R. Trigueros et al., “Relationship between emotional intelligence, social skills and peer harassment. A study with high school students,” Int J Environ Res Public Health, vol. 17, no. 12, pp. 1–10, Jun. 2020, doi: 10.3390/ijerph17124208.

S. Wahyuni, M. Nurdin, and M. Amran, “HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN INTERAKSI SOSIAL SISWA KELAS V UPT SD INPRES 12/79 LONRAE KECAMATAN TANETE RIATTANG TIMUR KABUPATEN BONE,” 2022.

Wardani, “Pengaruh kecerdasan adversitas dan kecerdasan emosional melalui model inkuiri sosial terhadap keterampilan sosial siswa Wardani 1,” jurnal teori dan praksis pembelajaran IPS 2019 , vol. 4, pp. 66–73, May 2019, doi: 10.17977/um022v4i22019p66.

S. M. Rahma Putri and N. Wahyumiani, “Hubungan Kecerdasan Emosional dengan Interaksi sosial siswa kelas XI MAN 5 Sleman Tahun Pelajaran 2019/2020,” bimbingan dan konseling , vol. 4, pp. 286–294, Jun. 2020.

Sugiyono, METODE PENELITIAN KUANTITATIF KUALITATIF DAN R&D. ALFABETA,CV, 2013.

H. Wang, S. Wu, W. Wang, and C. Wei, “Emotional Intelligence and Prosocial Behavior in College Students: A Moderated Mediation Analysis,” Front Psychol, vol. 12, Sep. 2021, doi: 10.3389/fpsyg.2021.713227.

A. TATAR, S. ÇAMKERTEN, and H. ÖZDEMİR, “Genç Yetişkinlerde Duygusal Zeka, Empati ve Sosyal Beceri Düzeyi Arası İlişkilerin İncelenmesi,” Humanistic Perspective, vol. 2, no. 3, pp. 335–346, Oct. 2020, doi: 10.47793/hp.778913.

N. Sangperm, W. Sangperm, and P. Aramrueang, “Role of Self-Motivation and Social Skills in Performance.” [Online]. Available: https://ssrn.com/abstract=3888075

A. Haneef Scholar, “Impact of Social Skills on High School Students’ Academic Performance,” 2024. [Online]. Available: www.mdpip.com

K. Larasati and A. Marheni, “Hubungan antara komunikasi interpersonal orangtua-remaja dengan keterampilan sosial remaja,” Jurnal Psikologi Udayana, vol. 6, no. 01, p. 88, 2019, doi: 10.24843/jpu.2019.v06.i01.p09.

E. Supriatna, F. Hanurawan, N. Eva, H. Rahmawati, and H. Yusuf, “Analyzing Factors Affecting Social Skills Development Among Students in Indonesian Schools,” Islamic Guidance and Counseling Journal, vol. 7, no. 1, Jan. 2024, doi: 10.25217/0020247447100.