rama adi wijaya (1), Kukuh Sinduwiatmo (2)
General Background: Islamic boarding schools in Indonesia serve as religious educational institutions and social environments where students from diverse cultural and linguistic backgrounds interact. Specific Background: At Faqih Hasyim Islamic Boarding School, cross-regional santri encounter language differences and cultural diversity that shape their interpersonal interaction patterns. Knowledge Gap: Limited research explains how communication adaptation occurs among santri from different regions within multicultural pesantren settings. Aims: This study investigates communication adaptation processes among cross-regional santri using Interaction Adaptation Theory. Results: Using a qualitative descriptive approach through observation and in-depth interviews, the study identifies two dominant adaptation patterns, namely convergence mirroring, where students adjust linguistic style and behavior to resemble peers, and reciprocity compensation, where students maintain interaction balance through partial adjustment and flexibility. The findings also reveal the absence of divergence patterns, reflecting the pesantren cultural emphasis on harmony and social unity. Novelty: This study provides empirical evidence of interaction adaptation dynamics within a multicultural Islamic boarding school context using Interaction Adaptation Theory as an analytical framework. Implications: The findings indicate that adaptive communicative competencies support the development of empathy, tolerance, and cohesive social relationships within diverse pesantren communities, contributing to intercultural communication discourse in Islamic educational institutions.
Highlights:
Keywords: Interaction Adaptation Theory, Islamic Boarding Schools, Intercultural Communication, Language Differences, Multicultural Students
Pondok pesantren di Indonesia telah mengalami dinamika yang signifikan seiring dengan perubahan sosial, politik, dan budaya yang terjadi di masyarakat. Sebagai lembaga pendidikan Islam yang unik, pondok pesantren berfungsi tidak hanya sebagai tempat belajar agama tetapi juga sebagai pusat pengembangan masyarakat. Dalam perjalanan sejarahnya, pesantren telah beradaptasi dengan berbagai era, mulai dari tradisional hingga modern, yang mencerminkan perubahan dalam kurikulum dan metode pengajaran [1].
Dinamika ini mencakup empat era penting, era perintisan, pengembangan, pembaharuan, dan pembenahan. Setiap transisi antara era ini membawa dampak besar pada struktur kelembagaan, kepemimpinan, dan kualitas pengajaran di pesantren. Contohnya, saat ini banyak pesantren yang menggabungkan pendidikan umum dengan pendidikan agama, sehingga menghasilkan kurikulum yang lebih menyeluruh [2]. Pesantren saat ini juga melayani berbagai lapisan masyarakat dengan adanya santri mukim dan santri kalong. Santri mukim merupakan santri-santri berasal dari luar daerah, sedangkan santri kalong adalah santri yang berasal dari desa sekeliling pondok. Kemudian juga menerapkan prinsip meritokrasi dalam seleksi pengajarannya.
Perubahan ini tidak menghilangkan esensi pondok pesantren, dengan nilai-nilai religius dan kemandirian tetap dipertahankan meskipun ada penambahan materi pelajaran dan metode evaluasi yang lebih variatif [2]. Dengan demikian, dinamika pondok pesantren menunjukkan kemampuan lembaga ini untuk beradaptasi dan bertahan dalam menghadapi tantangan zaman, sekaligus perannya sebagai institusi pendidikan yang fundamental dalam masyarakat Indonesia [3].
Merujuk pada informasi yang dipaparkan, Pondok pesantren juga merupakan lembaga pendidikan Islam yang memiliki peran penting dalam pembentukan karakter dan keilmuan santri [4]. Sebagai lingkungan yang beragam, pesantren sering kali dihuni oleh santri dari berbagai latar belakang budaya dan etnis yang berbeda [5]. Keberagaman ini membawa dinamika tersendiri dalam interaksi sosial, terutama dalam aspek komunikasi [6]. Salah satu tantangan yang dihadapi santri dengan latar belakang budaya berbeda adalah perbedaan bahasa yang dapat menjadi penghalang dalam proses komunikasi dan integrasi social [7].
Pondok pesantren memiliki peran penting dalam sistem pendidikan dan masyarakat di Indonesia. Mereka berfokus pada pembentukan karakter dan akhlak melalui pendidikan agama yang mendalam, serta memberikan kontribusi sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar. Contohnya, penelitian pada tahun 2022 menunjukkan bahwa pesantren berperan dalam membangun generasi milenial agar menjadi generasi yang siap menjadi generasi emas 2045 dengan memberikan kemandirian, pendidikan agama, dan wawasan kebangsaan kepada santri [8].
Selain itu, pesantren juga berperan dalam menggalang kekuatan dalam rangka merebut kemerdekaan Indonesia dan telah bertransformasi menjadi bagian integral dari kekuatan bangsa [9]. Kemudian juga berperan dalam menangkal radikalisme dan terorisme melalui pendidikan dan dakwah yang membentuk masyarakat yang berkelanjutan dan berakhlak mulia [10], Pondok pesantren juga pada sistem pendidikan nasional dengan menyediakan pendidikan holistik yang melengkapi pendidikan formal. Mereka juga berperan dalam pengembangan karakter bangsa dan menciptakan generasi yang cerdas secara intelektual dan spiritual [11].
Dalam pondok pesantren sering terjadi fenomena, yaitu perbedaan Bahasa yang digunakan, Antara santri lokal dan santri luar daerah. Bahasa adalah sistem simbol yang teratur yang digunakan oleh manusia untuk berkomunikasi. Dalam konteks komunikasi, bahasa berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan ide, emosi, dan informasi antara individu atau kelompok. Menurut Gorys Keraf, bahasa memiliki peran sosial yang penting dalam berinteraksi dengan masyarakat, karena "bahasa adalah sarana untuk menyampaikan pendapat dan argumentasi kepada pihak lainnya" [12]. Proses komunikasi tidak dapat dipisahkan dari penggunaan bahasa, karena komunikasi bergantung pada kemampuan individu untuk memahami dan menggunakan bahasa dengan baik. Hal ini ditegaskan oleh Noermanzah yang menyatakan bahwa "bahasa adalah suatu pesan yang biasanya disampaikan dalam bentuk ekspresi sebagai alat komunikasi dalam berbagai kegiatan tertentu" [13]. Bahasa merupakan elemen fundamental dalam interaksi sosial yang tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai cerminan identitas budaya [14].
Ketika santri berasal dari berbagai suku dengan bahasa daerah yang berbeda, kesulitan dalam memahami bahasa satu sama lain dapat memicu berbagai bentuk konflik komunikasi, baik dalam bentuk kesalahpahaman, stereotip, maupun eksklusi sosial [15]. Hal ini dapat berdampak pada kenyamanan santri dalam beradaptasi serta membentuk relasi sosial yang harmonis di lingkungan pesantren. Dari perbedaan bahasa dan komunikasi lintas daerah di Pondok Pesantren Faqih Hasyim memiliki dampak yang signifikan terhadap interaksi antar santri. Perbedaan bahasa sering kali menyebabkan kesulitan dalam berkomunikasi, terutama bagi santri yang tidak fasih dalam bahasa yang digunakan oleh teman-temannya. Hal ini dapat menghambat pembentukan hubungan sosial yang baik dan membuat beberapa santri merasa kurang percaya diri [16]. Selain itu, perbedaan bahasa juga mendorong penggunaan komunikasi non-verbal, seperti isyarat tubuh atau tulisan, untuk menyampaikan pesan ketika bahasa verbal tidak memadai. Namun, tantangan ini juga dapat memperkuat stereotip dan prasangka di antara santri dari latar belakang budaya yang berbeda, sehingga terkadang terjadi salah paham dalam interaksi sehari-hari [17].
Di sisi lain, komunikasi lintas daerah menciptakan lingkungan yang kaya akan keberagaman budaya, di mana santri belajar untuk menghargai perbedaan dan beradaptasi dengan kebiasaan serta norma-norma baru dari teman-temannya. Santri pendatang sering kali termotivasi untuk mempelajari bahasa daerah mayoritas, seperti bahasa Jawa, agar dapat berkomunikasi lebih efektif, sehingga proses ini tidak hanya meningkatkan kemampuan bahasa tetapi juga mempererat hubungan antar santri [18]. Ini juga berlaku sebaliknya Dimana santri lokal mempelajari Bahasa daerah santri pendatang. Meskipun kesalahpahaman akibat perbedaan budaya sering terjadi, hal tersebut mendorong santri untuk beradaptasi dan mencari cara untuk memahami satu sama lain. Mereka mungkin mengembangkan cara-cara baru dalam berkomunikasi atau menggunakan media lain seperti tulisan untuk menjembatani kesenjangan komunikasi. Secara keseluruhan, perbedaan bahasa dan komunikasi lintas daerah memberikan tantangan sekaligus peluang bagi santri untuk belajar, beradaptasi, dan membangun hubungan sosial yang lebih baik di lingkungan yang multicultural [19].
Kondisi di atas menjadi dasar penting bagi peneliti untuk menggali lebih dalam mengenai Adaptasi komunikasi. Adaptasi komunijasi merujuk pada proses penyesuaian cara berkomunikasi seseorang dengan orang lain atau situasi tertentu agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik. Proses ini mencakup perubahan dalam berbagai aspek komunikasi, seperti gaya bicara, bahasa tubuh, nada suara, atau pilihan kata, yang disesuaikan dengan audiens, konteks sosial, budaya, atau tujuan komunikasi tersebut. Dalam konteks ini, seseorang mungkin mengubah gaya bicara menjadi lebih formal atau informal, tergantung pada situasi yang dihadapi. Misalnya, seseorang akan berbicara lebih formal dalam pertemuan bisnis dan lebih santai saat berbicara dengan teman dekat [20]. Selain itu, penyesuaian bahasa juga menjadi aspek penting, terutama saat berkomunikasi dengan audiens yang kurang familiar dengan topik tertentu. Dalam hal ini, penggunaan kata-kata yang lebih sederhana dan jelas akan sangat membantu dalam menyampaikan pesan [21]. Adapun bahasa tubuh, yang mencakup ekspresi wajah, gerakan tubuh, dan kontak mata, juga merupakan bagian dari komunikasi yang harus disesuaikan agar pesan yang ingin disampaikan tidak disalahartikan oleh orang lain [22]. Oleh karena itu, adaptasi komunikasi menjadi sangat penting untuk membangun hubungan yang efektif, menghindari kesalahpahaman, dan memastikan bahwa pesan yang disampaikan benar-benar dipahami oleh pihak yang menerima [23].
Adaptasi komunikasi di Pondok Pesantren Faqih Hasyim mencakup bagaimana para santri dari berbagai daerah, dengan latar belakang budaya yang berbeda, menyesuaikan diri dalam berkomunikasi baik dengan sesama santri maupun dengan pengasuh serta guru di pondok tersebut. Pondok pesantren sering kali menjadi tempat yang sangat beragam secara budaya, mengingat para santri datang dari berbagai daerah di Indonesia dengan tradisi dan bahasa yang berbeda-beda.
Dari hasil observasi yang dilakukan peneliti pada pondok pesantren Faqih Hasyim, peneliti menemukan beberapa fenomena bahwasanya disana sering terjadi keterbatasan Bahasa dalam berbicara dengan teman yang berasal dari daerah yang berbeda, peneliti juga menemukan bahwa di pondok pesantren sering kesalahpahaman yang terpicu akibat keterbatasan Bahasa Ketika belajar Bersama atau pada saat presentasi dan berargumen atau pun Ketika melakukan kegiatan sehari-hari seperti sapa menyapa. Peneliti menggunakan fenomena ini sebagai landasan untuk melakukan penelitian yang akan membahas tentang bagaimana para santri melakukan adaptasi komunikasi lintas daerah pada pondok pesantren Faqih Hasyim
Adapun penelitian yang relevan dengan topik ini antara lain penelitian oleh Neysa Destania (2024), dengan judul penelitian “Komunikasi Antarbudaya pada Penyesuaian Diri Santri Baru di Lingkungan Pondok Pesantren Al-Hasanah Darunnajah 9 Pamulang”, yang menunjukkan bahwa proses adaptasi ini melibatkan penyesuaian terhadap norma dan nilai yang berbeda dari lingkungan asal mereka.
Di Pondok Pesantren Al-Hasanah Darunna jah, misalnya, santri baru mengalami tahapan adaptasi yang mencakup kebingungan awal terkait bahasa dan perbedaan nilai, diikuti oleh akulturasi dan akhirnya asimilasi ke dalam budaya pesantren [24], begitu juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Fatim Matul Jahro (2024), yang berjudul “Metode Komunikasi Islam Pengasuh Pondok dalam Melatih Adaptasi Santri Baru (Studi Kasus Di Pondok Pesantren Al Jayadi Dagangan Madiun)”, Di Pondok Pesantren Al Jayadi, metode komunikasi Islam diterapkan oleh pengasuh untuk membantu santri baru beradaptasi, metode ini mencakup berbagai strategi komunikasi yang bertujuan untuk mendukung santri dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru mereka [25].
Selanjutnya Penelitian di Pondok Pesantren Darul Falah IV Jombang oleh Hasnah Zein, dan Anwari (2022), yang berjudul “Adaptasi Komunikasi Antarbudaya Santri Non-Jawa dalam Memahami Pembelajaran Ngaji Pegon”, juga menunjukkan bahwa komunikasi antarbudaya sangat berperan dalam proses adaptasi, di mana santri harus berkomunikasi menggunakan Bahasa Indonesia untuk berinteraksi dengan teman-teman mereka yang mayoritas berbahasa Jawa [26].
Penelitian oleh Tantry Widiyanarti, Sulthanah Dzakyah Ashari, Tasyrika Zahra, dan Sekar Ayu Fadhilah (2024), yang berjudul “Peran Komunikasi Antar Budaya dalam Mengatasi Konflik di Lingkungan Multikultural”[27], menunjukan bahwa semua informan mengalami fase adaptasi komunikasi antarbudaya, karena ketiga informan mengalami culture shock (gegar budaya) terhadap bahasa, makanan dan adat istiadat.
Pada culture shock bahasa, sangat memengaruhi para informan karena terjadi komunikasi yang kurang efektif dalam kesehariannya. Culture shock (gegar budaya) adalah kondisi psikologis yang dialami seseorang ketika menghadapi lingkungan budaya yang berbeda secara signifikan dari budaya asalnya. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Kalervo Oberg pada tahun 1960, yang mendefinisikannya sebagai perasaan disorientasi yang muncul ketika seseorang tiba-tiba berada dalam budaya, gaya hidup, atau sikap yang asing [28]. dalam penelitian ini tidak terlalu mendalam mengulas proses adaptasi komunikasi itu sendiri.
Oleh karena itu pada penelitian ini peneliti akan lebih memfokuskan tentang Tipe adaptasi komunikasi yang digunakan oleh santri lintas daerah maupun santri lokal dalam berinteraksi sehari-hari, baik dalam konteks pembelajaran agama maupun dalam kegiatan sosial lainnya.
Keempat penelitian menunjukkan bahwa proses adaptasi santri baru di pondok pesantren melibatkan penyesuaian terhadap nilai, norma, dan bahasa yang berbeda dari lingkungan asal mereka. Strategi komunikasi, baik berbasis nilai keislaman maupun antarbudaya, berperan penting dalam mendukung proses ini. Penggunaan bahasa Indonesia, Arab, atau Inggris menjadi sarana utama dalam membangun interaksi dan integrasi santri ke dalam budaya pesantren.
Penelitian akan menggunakan Teori Adaptasi Interaksi (Interaction Adaptation Theory/IAT) yang dikembangkan oleh Judee Burgoon, teori ini menjelaskan bagaimana individu mengadaptasi perilaku komunikasi mereka berdasarkan prediksi mengenai hasil yang akan terjadi dalam interaksi sosial. Menurut teori ini, setiap individu dalam sebuah interaksi sosial akan membuat prediksi tentang apakah hasil dari interaksi tersebut akan positif atau negatif, dan prediksi ini akan mempengaruhi keterlibatan mereka dalam komunikasi [29].
Jika individu memprediksi hasil yang positif, seperti membangun hubungan atau mencapai tujuan tertentu, mereka cenderung lebih terlibat dan menyesuaikan gaya komunikasi mereka untuk mencapai hasil yang diinginkan. Sebaliknya, jika prediksi hasilnya negatif, mereka mungkin akan menghindari atau mengurangi keterlibatan dalam interaksi tersebut [30].
Dalam konteks komunikasi antarbudaya, misalnya di pesantren, teori ini dapat menjelaskan bagaimana santri dari daerah yang berbeda akan menyesuaikan bahasa dan perilaku mereka berdasarkan harapan mereka terhadap penerimaan sosial dan kesuksesan dalam beradaptasi dengan norma lokal. Dengan kata lain, prediksi mengenai hasil interaksi apakah diharapkan menghasilkan hubungan yang positif atau tidak akan mempengaruhi sejauh mana individu beradaptasi dalam komunikasi mereka, baik dalam bahasa, perilaku, atau bahkan dalam cara mereka menyampaikan pesan [31].
Pada penelitian ini peneliti akan menggunakan 3 tipe adaptasi dalam teori adaptasi interaksi, yaitu Kompensasi Timbal Balik (Reciprocity Compensation) tipe ini mengarah pada momen Ketika seseorang tidak tertarik atau tidak menyukai lawan bicara, mereka cenderung menolak menyesuaikan perilaku dan mempertahankan posisi interaksi awal atau sebaliknya tergantung situasi yang di hadapinya[32], selanjutnya adalah Pencerminan Konvergensi (Convergence Mirroring), yaitu Ketertarikan terhadap perilaku lawan bicara mendorong seseorang untuk menyesuaikan dan mencerminkan perilaku tersebut [33]. Dan yang terakhir adalah Pencerminan Divergensi (Divergence Mirroring), yaitu sebuah Ketidaksukaan terhadap perilaku lawan bicara membuat seseorang menyesuaikan perilaku dengan cara yang berbeda atau berlawanan [34].
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif untuk memahami dinamika adaptasi dalam komunikasi antar santri Lintas daerah di Pondok Pesantren Faqih Hasyim. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi secara mendalam pengalaman dan interaksi sosial para santri dalam konteks kehidupan pondok pesantren. Informan dalam penelitian ini adalah santri yang sedang menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Faqih Hasyim.
Mereka dipilih melalui teknik purposive sampling dengan mempertimbangkan latar belakang Bahasa dan daerah yang berbeda. Pengumpulan data dilakukan melalui, wawancara mendalam, dan observasi. digunakan untuk mendapatkan data kualitatif awal mengenai pengalaman adaptasi komunikasi santri. Wawancara dilakukan dengan sejumlah santri yang telah dipilih sebagai responden utama untuk menggali pengalaman mereka secara lebih mendalam. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan teknik analisis tematik dengan mengikuti tahapan obervasi, dan wawancara.
Penelitian ini menemukan bahwa santri pendatang di Pondok Pesantren Faqih Hasyim membangun strategi komunikasi yang beragam dalam menghadapi keberagaman bahasa, budaya, dan perilaku. Dengan menggunakan perspektif Interaction Adaptation Theory (IAT), dinamika penyesuaian yang mereka lakukan dapat dipahami sebagai hasil dari interaksi antara ekspektasi pribadi, kebutuhan komunikasi, dan keinginan untuk diterima oleh lingkungan sosial yang majemuk.
Pola kompensasi timbal balik tampak jelas pada Khadijah Nurryn Aimaqviro. Karena berasal dari Jombang, ia tidak mengalami hambatan berarti ketika berinteraksi di pesantren karena mayoritas santri menggunakan bahasa Jawa yang sudah akrab baginya. Kondisi ini membuat Khadijah tidak merasa perlu melakukan penyesuaian besar. Namun, fleksibilitasnya tetap terlihat ketika berhadapan dengan santri dari daerah lain. Misalnya, saat ia mendengar frasa “beneh sossa” dari santri Madura, ia memilih bertanya maknanya dan menggunakan bahasa Indonesia agar komunikasi tetap berjalan lancar. Cara ini menunjukkan bahwa Khadijah tidak mengubah total gaya komunikasinya, tetapi tetap adaptif sesuai kebutuhan situasional. Dalam kerangka IAT, ia memenuhi kebutuhan komunikasi dengan penyesuaian minimal tanpa harus meninggalkan identitas kulturalnya.
Berbeda dengan Khadijah, tiga informan lain Namira, Alvino, dan Narendra—lebih menampilkan pola pencerminan konvergensi. Mereka secara sadar menyesuaikan cara berbahasa maupun perilaku agar sesuai dengan ekspektasi lingkungan pondok. Namira, misalnya, sempat mengalami kebingungan ketika mendengar kata “kasep” yang ia pahami sebagai “terlambat” dalam bahasa Jawa, tetapi berarti “tampan” dalam bahasa Sunda. Kesalahpahaman kecil ini mendorongnya lebih sering menggunakan bahasa Indonesia sekaligus mempelajari kosakata baru dari teman. Dari sisi perilaku, Namira yang sebelumnya pendiam dan cenderung memendam perasaan, perlahan berubah menjadi lebih terbuka. Jika dulu ia memilih diam saat disindir, di pondok ia mulai berani menyangkal dan menegur. Perubahan ini memperlihatkan bagaimana kebutuhan untuk diterima kelompok membuatnya keluar dari pola “sungkan” khas budaya Sunda menuju gaya komunikasi yang lebih lugas.
Alvino yang berasal dari Betawi menghadapi tantangan berbeda. Sejak awal ia cukup percaya diri, tetapi gaya ceplas-ceplos dan gurauan joroknya menimbulkan masalah. Candaan yang dianggap wajar di lingkungannya justru dipandang tidak sopan di pesantren. Beberapa kali ia dimarahi senior, bahkan sempat merasa malu ketika ditegur di depan teman-temannya. Dari pengalaman itu, Alvino belajar menahan diri. Ia mengganti humor kasarnya dengan cerita ringan yang tetap menghibur tetapi tidak menyinggung. Transformasi ini menandai pergeseran dari budaya egaliter ala Betawi ke budaya pesantren yang lebih menekankan sopan santun. Teguran senior berperan penting sebagai tekanan sosial yang membuat Alvino menyeimbangkan kebutuhan pribadinya untuk tetap lucu dengan ekspektasi lingkungan yang menuntut kesopanan.
Narendra, santri asal Madura, memperlihatkan proses adaptasi yang paling kompleks. Ia beberapa kali mengalami kesalahpahaman bahasa, seperti ketika menyebut kata “anyep” yang di Madura berarti “dingin”, tetapi dipahami “hambar” oleh santri Jawa. Selain itu, karakter keras kepala dan penuh harga diri membuat Narendra sering melanggar tata tertib, seperti tidur larut malam atau telat masuk kelas. Ekspektasi dirinya untuk mempertahankan harga diri bertabrakan dengan kebutuhan untuk diterima dalam kelompok. Setelah berulang kali ditegur pengurus pondok dan merasa dijauhi teman, Narendra mulai menurunkan egonya. Ia menjadi lebih mau mendengarkan, lebih terbuka, dan lebih rendah hati. Perubahan ini menunjukkan bagaimana interaksi sosial dan tekanan hierarki pondok memaksa Narendra menyeimbangkan kepentingan pribadi dengan keinginan sosial untuk harmoni.
Temuan ini menunjukkan bahwa adaptasi santri di pesantren tidak hanya menyentuh aspek bahasa, tetapi juga perilaku sosial dan identitas kultural. Sesuai dengan kerangka IAT, perubahan mereka lahir dari interaksi antara kebutuhan personal, ekspektasi sosial, dan keinginan untuk diterima. Ketika ekspektasi pribadi tidak selaras dengan tuntutan lingkungan, mereka melakukan penyesuaian dalam bentuk kompensasi atau konvergensi agar interaksi tetap seimbang.
Menariknya, penelitian ini tidak menemukan adanya pola divergensi. Hal ini dapat dijelaskan melalui karakteristik pesantren yang sangat menekankan nilai ukhuwah, kebersamaan, dan disiplin kolektif. Perilaku divergensi yang cenderung menolak penyesuaian akan menimbulkan konflik dan tidak sesuai dengan tujuan komunikasi di pesantren. Karena itu, santri lebih terdorong untuk mendekatkan diri melalui konvergensi atau menyeimbangkan dengan kompensasi. Tekanan sosial dari mayoritas santri Jawa serta sistem senioritas yang ketat semakin memperkuat arah adaptasi ini.
Dengan demikian, proses komunikasi lintas daerah di Pondok Pesantren Faqih Hasyim tidak sekadar berlangsung sebagai interaksi verbal, tetapi juga menjadi arena negosiasi identitas, makna, dan kedekatan sosial. Kompensasi timbal balik maupun pencerminan konvergensi sama-sama menjadi strategi adaptasi yang membantu santri pendatang bertahan, diterima, dan berbaur dalam kehidupan pesantren yang majemuk, hierarkis, sekaligus menjunjung tinggi solidaritas.
Kompensasi Timbal Balik (Recipirocity Compensation)
Peneliti menemukan adanya tipe adaptasi lain yang lebih bersifat pasif namun tetap fungsional, yaitu kompensasi timbal balik. Pola ini peneliti temukan dari pengalaman Khadijah Nurryn Aimaqviro.
Berangkat dari Jombang, Khadijah tidak mengalami kesulitan berarti karena mayoritas santri di pondok juga menggunakan Bahasa Jawa, bahasa yang sudah akrab bagi dirinya. Kondisi ini membuatnya tidak merasa perlu untuk mempelajari bahasa lain secara aktif. Namun, dalam interaksi dengan santri dari luar daerah seperti Madura, Khadijah tetap terbuka untuk bertanya ketika ada istilah yang tidak ia pahami. Ia mencontohkan pengalamannya saat temannya mengatakan “beneh sossa” yang artinya “sangat berantakan” frasa yang awalnya asing baginya. Meskipun tidak merasa harus menguasai bahasa tersebut, Khadijah tetap memilih untuk menggunakan Bahasa Indonesia jika lawan bicaranya tidak memahami Bahasa Jawa.
Pengalaman Khadijah menunjukkan bahwa ia tidak secara aktif menyesuaikan diri seperti para informan sebelumnya, namun tetap bersedia beradaptasi jika situasi mengharuskannya. Maka dari itu, peneliti melihat pola adaptasinya sebagai bentuk dari kompensasi timbal balik, di mana ia menyeimbangkan komunikasi dengan fleksibilitas situasional.
Pencerminan Konvergensi (Convergence Mirroring)
Salah satu pola adaptasi yang paling menonjol adalah pencerminan konvergensi. Peneliti mengamati bagaimana para santri cenderung menyesuaikan cara berkomunikasi mereka terutama dalam penggunaan Bahasa agar bisa menjalin hubungan yang baik dengan santri dari latar belakang daerah yang berbeda.
Ketika peneliti mewawancarai Namira Aisyifa Putri Asani, peneliti melihat bagaimana ia sempat mengalami kebingungan di awal masa adaptasi. Perbedaan bahasa menjadi kendala pertama yang ia hadapi. Namira memberi contoh saat mendengar kata “kasep” dari temannya yang berasal dari Sunda. Dalam bayangannya, “kasep” berarti ‘terlambat’ sebagaimana dalam Bahasa Jawa. Namun, ternyata di Sunda kata itu berarti ‘tampan’. Momen kecil ini justru menjadi titik balik bagi Namira untuk mulai belajar menyesuaikan diri. Ia memilih menggunakan Bahasa Indonesia dalam percakapan dan berinisiatif mempelajari kata-kata baru dari lawan bicaranya. Sikap terbuka ini menunjukkan bahwa Namira termasuk dalam pola pencerminan konvergensi, karena ia berusaha menyamakan cara komunikasi agar bisa diterima oleh semua pihak.
Tak hanya perubahan pada Bahasa ia juga mengalami konvergensi pada sisi perilaku yang awalnya pendiam jadi lebih sering berbicara kepada sesame santri, hal ini diperlukakan agar dapat bertahan pada lingkungan pesantren, seperti pada saat ia merasa tersinggung, sebelum memasuki pondok pesantren ia akan lebih memilih untuk memendam perasaan tersinggungnya dan lebih memilih diam, namun Ketika pada lingkungan pondok terutama asrama ia jadi bahan pembicaraan santri lain karena selalu diam jika ada yang menyindirnya, lama kelamaan dia jadi agak dikucilkan oleh teman asramanya, tetapi lama-lama Namira pun agak kesal karena lingkunganya sebelum masuk pondok pesantren, perilakunya dimaklumi anak sekitarnya karena di anggap merasa sungkan atau tidak enakan. Namun berbeda dengan lingkungan pondok yang anaknya berasal dari lingkungan asing dari lingkungan Namira.
“dulu aku sering di olok2 karena suka diem aja kalo di ajak bercanda, yah aku dulu kalau mau nanggapin mereka aku ngerasa sungkan aja gitu ka soalnya mereka kan bukan dari sekitar sini”
Hal tersebut membuat Namira sadar bahwa dia harus lebih berterus terang, dan angkat bicara jika ada yang kurang cocok dengan dirinya, “yah setelah sering jadi bahan obrolan anak2, lama juga capek juga kak jadi aku juga mulai lebih sering nyangkal omongan mereka kalo merekanya kurang ajar gitu”. setelah itu lambat laun teman-temanya lebih sering mengajaknya bicara, karena yang awalnya Namira di anggap aneh karena diam saja setelah di singgung jadi lebih sering angkat bicara dan lebih mudah di dekati saat berbicara.
Berbeda dengan Mohammad Alvino Riantoro. Alvino tampak lebih percaya diri dalam menjalin komunikasi lintas budaya. Sejak awal, ia sudah terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia dalam percakapan, sehingga jarang mengalami hambatan bahasa. Ia juga punya kebiasaan unik seperti bertanya langsung jika tidak memahami sebuah kata dan melengkapi percakapan dengan gestur tubuh yang memperjelas maksudnya. Suatu kali, Alvino menceritakan pengalamannya ketika disapa oleh temannya dari Sunda dengan kalimat “lagi naon ieu teh”. Awalnya ia kebingungan, namun karena sudah terbiasa dengan lingkungan pesantren, ia akhirnya tahu arti dari kalimat tersebut dan mampu menjawabnya dengan tepat. Dari interaksi ini, peneliti melihat bahwa Alvino bukan hanya menyesuaikan bahasa, tetapi juga aktif menjalin kedekatan budaya melalui upaya memahami bahasa daerah lain. Hal ini menunjukkan bahwa ia juga tergolong dalam pola pencerminan konvergensi.
Selain itu alvino juga mengalami konvergensi dalam segi perilakunya, pertama masuk alvino suka frontal dengan dengan santri se asrama nya, dia juga suka bergurau dengan topik jorok, alvino sering kali di tegur senior nya karena di anggap kurang sopan saat bergurau, “pernah mas waktu itu di marahin mas reza waktu sepak bola soalnya aku ngomong nya kurang ajar jadi malu banget waktu itu”. Disini alvino pun tidak punya pilihan lain selain mengubah kebiasaanya yang sering frontal dan jorok saat bergurau, teman-temannya juga waktu itu sudah sering rishi dengan perilakunya karena mayoritas mereka dari jawa yang mengedepankan sopan santun di atas segalanya,
Berbeda dengan dua informan sebelumnya, Narendra Vidya Kalyani Rosidah justru menunjukkan tantangan yang cukup kompleks dalam proses adaptasinya. Ia mengalami beberapa kali kesalahpahaman akibat perbedaan makna kata antar daerah. Misalnya, saat ia menyebut kata “anyep” yang dalam daerah asalnya berarti ‘dingin’, namun di daerah lain justru bermakna ‘hambar’. Perbedaan makna seperti ini sering kali menimbulkan kebingungan dalam interaksi awal. Namun demikian, Narendra tetap berusaha aktif membangun komunikasi yang efektif. Ia memilih menggunakan Bahasa Indonesia sebagai bahasa utama dan tak ragu bertanya bila ada kata yang tidak dipahaminya. Dari keterbukaan dan keaktifannya dalam menyesuaikan diri, peneliti menyimpulkan bahwa Narendra juga merupakan bagian dari pola pencerminan konvergensi.
Dari hasil observasi tak hanya dari segi Bahasa Narendra juga menglamai konvergensi dalam sisi perilaku, dia awalnya di kenal sebagai anak yang keras kepala karena dari daerah asalnya (Madura) orang-orang disana mempunyai ego atau harga diri yang tinggi, jadi Ketika awal masuk ke pondok pesantren ia sempat di jauhi temanya karena sikap nya yang keras kepala dan susah di ajak, dan karena hal itu banyak dari senior atau pengurus pondok pesantren yang menegurnya karena selalu melanggar tata tertib, pelanggaran seperti telat saat kelas, tidur larut malam dan suka keluyuran waktu jam tidur. Seiring berjalanya waktu Narendra mulai merubah perilakunya agar berhenti kenak tegur senior dan pengurus pondok, ia juga mulai lebih sering mendengarkan peringatan temanya dan lebih mempercayai mereka, temanya pun juga mulai lebih senang saat ngobrol dengannya, perubahan perilaku ini menunjukan bahwa Narendra harus menurunkan egonya demi dapat diterima dengan baik oleh lingkungan pondok pesantren yang awalnya keras kepala dan arogan menjadi lebih humble dan rendah hati. Ini diperlukan karena mayoritas santri dan pengurus pondok Adalah jawa yang Dimana mereka menjungjung tinggi tata krama supaya ia dapat beradaptasi di Tengah lingkungan pondok yang lebih mengedepankan sopan santun dan ketaatan. Dari keterbukaan dan keaktifannya dalam menyesuaikan diri, peneliti menyimpulkan bahwa Narendra juga merupakan bagian dari pola pencerminan konvergensi.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi, penelitian ini menemukan dua tipe adaptasi komunikasi yang muncul dalam praktik santri, yaitu pencerminan konvergensi dan kompensasi timbal balik. Sementara itu, tipe pencerminan divergensi tidak ditemukan dalam interaksi santri di Pondok Pesantren Faqih Hasyim. Pencerminan konvergensinya meliputi sisi Bahasa dan perilaku santri.
Penelitian ini menemukan bahwa santri di Pondok Pesantren Faqih Hasyim menggunakan dua tipe adaptasi komunikasi menurut Interaction Adaptation Theory (IAT), yaitu pencerminan konvergensi dan kompensasi timbal balik. Divergensi tidak ditemukan karena budaya pesantren menekankan kebersamaan, toleransi, dan kepatuhan pada hierarki.
Temuan ini menegaskan bahwa pesantren dapat menjadi ruang multikultural yang mendukung keterampilan komunikasi lintas budaya, di mana adaptasi santri tidak hanya mencerminkan kemampuan bahasa, tetapi juga kesadaran sosial, empati, dan kohesi sosial.
Penelitian ini terbatas pada jumlah informan yang kecil dan fokus pada satu pondok, sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasi untuk seluruh pesantren dengan latar budaya berbeda.
Penelitian selanjutnya disarankan untuk memperluas konteks dengan melibatkan lebih banyak pesantren, serta menambahkan analisis gender, peran pengasuh, atau penggunaan media digital dalam mendukung adaptasi komunikasi santri lintas daerah.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Muhammad Nur Azzaim, S.Pd. selaku Ketua Pondok yang telah memberikan izin serta kesempatan untuk melaksanakan penelitian di lingkungan pondok, Bapak Muchamad Nur Hariadi, M.Pd. selaku staf Pondok yang telah memberikan bantuan dan dukungan selama pelaksanaan penelitian, serta Bapak Kukuh Sinduwiatmo, M.Si selaku Dosen Pembimbing yang dengan sabar memberikan bimbingan, arahan, serta masukan yang berharga sehingga penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik.
Fridiyanto, “DINAMIKA SOSIAL PESANTREN DI INDONESIA Oleh Fridiyanto,” Al-mashaadir Vol. 1 No. 1 2019, vol. 1, no. 1, pp. 1–10, 2019.
Z. Sukawi and S. Haryanto, “DINAMIKA PERTUMBUHAN PESANTREN (Melacak Akar-Akar Historis Perkembangan Pesantren di Jawa),” Manarul Qur’an J. Ilm. Stud. Islam, vol. 14, no. 1, pp. 35–55, 2014.
R. Mahrisa, S. Aniah, H. P. Daulay, and Z. Dahlan, “Pesantren Dan Sejarah Perkembangannya Di Indonesia,” J. Abdi Ilmu, vol. 13, no. 2, p. 34, 2020.
Nurhakim Moh., “IMAM ZARKASYI DAN PEMBAHARUAN PESANTREN : REKONSTRUKSI ASPEK KURIKULUM , MENEJEMEN dan ETIKA PENDIDIKAN,” Progresiva, vol. 5, no. 1, pp. 83–96, 2011.
S. M. Yogyakarta, “Manajemen Komunikasi Pada Pondok Pesantren Pondok Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam yang memainkan peran penting dalam pembentukan karakter generasi muda . Sebagai lembaga pendidikan , Pondok Pesantren A . Pengertian Manajemen Komunikasi pada Pond,” vol. 2, no. 3, 2024.
D. Iswatiningsih, “Etnografi Komunikasi: Sebuah Pendekatan dalam Mengkaji Perilaku Masyarakat Tutur Perempuan Jawa,” J. UNS, Prasasti Conf. Ser., no. 56, pp. 38–45, 2014, [Online]. Available: https://jurnal.uns.ac.id
E. Neulektüre and J. J. Gumperz, “Gumperz’s 1982 Discourse Strategies,” no. August, 2023.
A. Sabiq, “Peran Pesantren Dalam Membangun Moralitas Bangsa Menuju Indonesia Emas 2045,” Wawasan J. Kediklatan Balai Diklat Keagamaan Jakarta, vol. 3, no. 1, pp. 16–30, 2022, doi: 10.53800/wawasan.v3i1.118.
L. Nurul Romdoni and E. Malihah, “Membangun pendidikan karakter santri melalui panca jiwa pondok pesantren,” J. Pendidik. Agama Islam Al-Thariqah, vol. 5, no. 2, pp. 13–22, Dec. 2020, doi: 10.25299/al-thariqah.2020.vol5(2).4808.
D. Dan, S. Dalam, and R. D. A. N. Terorisme, “Peran pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan, dakwah dan sosial dalam menangkal radikalisme dan terorisme,” pp. 118–126.
B. Sulistiono, “Peranan Pondok Pesantren Dalam Sistem Pendidikan Nasional,” J. UIN, vol. 2, no. April, pp. 1–13, 2011, doi: 10.53491/jiep.v2i2.1248.
O. Mailani, I. Nuraeni, S. A. Syakila, and J. Lazuardi, “Bahasa Sebagai Alat Komunikasi Dalam Kehidupan Manusia,” Kampret J., vol. 1, no. 1, pp. 1–10, 2022, doi: 10.35335/kampret.v1i1.8.
Noermanzah, “Bahasa sebagai Alat Komunikasi, Citra Pikiran, dan Kepribadian,” Pros. Semin. Nas. Bulan Bhs., pp. 306–319, 2019, [Online]. Available: https://ejournal.unib.ac.id/index.php/semiba
W. Yunhadi, “Realitas Bahasa Dalam Postulat Sapir Dan Whorf,” Ling. J. Lang. Lit. Teach., vol. 13, no. 2, p. 169, 2016, doi: 10.30957/lingua.v13i2.227.
S. Ting-Toomey, “Intercultural conflict training: Theory-practice approaches and research challenges,” J. Intercult. Commun. Res., vol. 36, no. 3, pp. 255–271, 2007, doi: 10.1080/17475750701737199.
M. Ihsan, “Perilaku Berbahasa Di Pondok Pesantren Adlaniyah Kabupaten Pasaman Barat,” J. Elektron. WACANA Etn., vol. 2, no. 1, p. 25, 2011, doi: 10.25077/we.v2.i1.17.
A. Rahmawati, “Pilihan Bahasa pada Santri Mukim di Pondok Pesantren Durrotu Ahlisunnah Waljamaah Sekaran Gunungpati Semarang,” 2016.
I. Z. Ambiya, S. Mulyawan, and H. Saefuloh, “Jurnal Pendidikan Bahasa Arab,” El-Ibtikar, vol. 11, no. 1, p. 70, 2022.
A. Y. Wijayanti and N. Puspitasari, “Analisis Pola Komunikasi Antarbudaya Para Santri Di Pondok Pesantren Tahfidz Daarul Quran Jawa Tengah,” Paramasastra, vol. 5, no. 2, 2018, doi: 10.26740/parama.v5i2.3629.
L. S. S. Utami, “The Theories of Intercultural Adaptation,” J. Komun., vol. 7, no. 2, pp. 180–197, 2015.
S. A. Beebe, “Theoritical Aspects Of Intercultural Communication Structure-Interaction Theory: Conceptual, Contextual and Strategic Influences on Human Communication,” Russ. J. Linguist. Vestn. Rudn, pp. 2–16, 2015.
J. K. Burgoon, L. K. Guerrero, and V. Manusov, Nonverbal Communication. Routledge, 2016. doi: 10.4324/9781315663425.
S. Ting-Toomey, “Understanding intercultural conflict competence: Multiple theoretical insights,” Routledge Handb. Lang. Intercult. Commun., no. June, pp. 279–295, 2012, doi: 10.4324/9780203805640.
N. Destania, “Komunikasi Antarbudaya Pada Penyesuaian Diri Santri Baru Di Lingkungan Pondok Pesantren Al-Hasanah Darunnajah 9 Pamulang,” Repository.Uinjkt.Ac.Id, 2024, [Online]. Available: https://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/82665%0Ahttps://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/82665/1/NEYSA DESTANIA-FDK-L.pdf
F. Matul, “Komunikasi Islam Pengasuh Pondok Dalam Melatih Adaptasi Santri Baru (Studi Kasus Di Pondok Pesantren Al Jayadi Dagangan Madiun),” 2024, [Online]. Available: http://etheses.iainponorogo.ac.id/id/eprint/27377
H. Zein, “SANTRI NON JAWA DALAM MEMAHAMI PEMBELAJARAN NGAJI PEGON Huruf pegon lahir di kalangan Pondok Pesantren untuk memaknai atau menerjemahkan penulisannya , karena penulisan Arab tidak sama dengan penulisan latin , yakni dimulai dari,” Spektra Komunika, vol. 1, 2022, [Online]. Available: file:///D:/S2/Semester 1/Kualitatif/Referensi/1. ADAPTASI KOMUNIKASI ANTARBUDAYA SANTRI NON JAWADALAM MEMAHAMI PEMBELAJARAN NGAJI PEGON.pdf
S. Efendi, H. Sunjaya, E. Purwanto, and T. Widiyanarti, “Peran Komunikasi Antar Budaya dalam Mengatasi Konflik di Lingkungan Multikultural,” no. 4, pp. 1–6, 2024.
K. Oberg, “Cultural Shock: Adjustment to New Cultural Environments,” Pract. Anthropol., vol. os-7, no. 4, pp. 177–182, Jul. 1960, doi: 10.1177/009182966000700405.
J. K. Burgoon, V. Manusov, and L. K. Guerrero, Nonverbal Communication. New York: Routledge, 2021. doi: 10.4324/9781003095552.
J. K. Burgoon, “Nonverbal signals,” no. January 1994, pp. 229–285, 1994.
J. K. Burgoon, A. E. Hubbard, and W. B. Gudykunst, “Cross-cultural and intercultural applications of expectancy violations theory and interaction adaptation theory,” Theor. about Intercult. Commun., no. July, pp. 149–171, 2005, [Online]. Available: http://books.google.com/books?hl=en&lr=&id=FQtdsLaPe3AC&oi=fnd&pg=PA149&dq=Expectancy+violations+theory+(EVT)+-+Judee+K.+Burgoon+&ots=reoW5Wccuo&sig=0UJr3sTVeOel_3r4cZ1dwzmheYg%5Cnhttp://books.google.com/books?hl=en&lr=&id=FQtdsLaPe3AC&oi=fnd&pg=PA149&dq=
J. Sauermann, “Worker reciprocity and the returns to training: Evidence from a field experiment,” J. Econ. Manag. Strateg., vol. 32, no. 3, pp. 543–557, Aug. 2023, doi: 10.1111/jems.12419.
A. D. Astuti, “Penerapan Konvergensi Media Di Lpp Tvri Nasional Jakarta,” J. Ilm. Tek. Stud., vol. 4, no. 2, pp. 74–88, 2018, [Online]. Available: http://ojs.mmtc.ac.id/index.php/jits/article/view/34
D. E. NESS, “Understanding Physician-Pharmaceutical Industry Interactions: A Concise Guide,” Am. J. Psychiatry, vol. 166, no. 2, pp. 241–241, Feb. 2009, doi: 10.1176/appi.ajp.2008.08060937.