ALIVIA PUTRI (1), Choirun Nisak Aulina (2)
General Background Fine motor skills constitute a fundamental aspect of early childhood development, particularly in supporting children’s readiness for daily learning activities and future educational stages. Specific Background In PG&RA Baitul Muttaqin Sidoarjo, several children aged 3–4 years showed limited fine motor coordination, especially in grasping and manipulating small objects, indicating the need for structured classroom-based stimulation. Knowledge Gap Although fine motor activities are widely discussed, limited classroom action research documents step-by-step learning cycles that focus on clamping activities as a targeted motor skill exercise for children aged 3–4 years. Aims This study aims to describe the process and outcomes of implementing clamping activities to develop fine motor skills in early childhood learners. Results The findings indicate a progressive rise in fine motor skill achievement across learning stages, from the pre-cycle phase to Cycle I and Cycle II, as reflected in children’s improved grasping ability, object transfer skills, and hand–eye coordination, with overall achievement surpassing the predetermined success criteria in the final cycle. Novelty This study offers a detailed classroom action research depiction of clamping-based activities as a structured learning practice for fine motor skill development in early childhood settings. Implications The results provide practical guidance for early childhood educators in designing simple, engaging classroom activities that systematically support fine motor skill development.
Highlights:
Keywords: Fine Motor Skills, Clamping Activities, Early Childhood Education, Classroom Action Research, Motor Development
Anak usia dini merupakan masa-masa emas bagi seorang anak yang hanya datang sekali seumur hidup serta masa yang menentukan bagaimana seorang anak kedepannya. Oleh karena itu PAUD merupakan fondasi dasar pendidikan bagi seorang anak. Saat anak berada pada fase usia dini ia mempunyai berbagai potensi untuk memaksimalkan seluruh aspek pada dirinya termasuk kemajuan motoric halus[1]. Pertumbuhan dan perkembangan anak terjadi antara usia lahir sampai anak berusia delapan tahun, masa ini sangat menentukan karena pada masa ini terjadi perkembangan yang sangat penting seperti perkembangan fisik, intelektual, sosial dan emosional pada anak [2]. Aspek perkembangann yang wajib dioptimalkan dan yang sangat berarti oleh anak ialah fisik motorik anak. Apabila pertumbuhan anak terjalin tidak baik serta maksimal, hingga hendak membagikan akibat yang kurang baik dikala dewasa [3].
Perkembangan yang mengatur gerakan tubuh melalui pusat saraf dikenal sebagai perkembangan motorik fisik. Kehidupan sehari-hari anak usia dini berkaitan erat dengan perkembangan motorik. Keterampilan motorik kasar dan keterampilan motorik halus merupakan dua kategori perkembangan motorik halus pada anak usia dini [4]. Gerakan yang menunjukkan bagaimana otot bekerja sama dengan otak dan sistem saraf dikenal sebagai keterampilan motorik. Karena aktivitas motorik senantiasa terhubung dengan kehidupan sehari-hari anak, kemampuan motorik ini harus dilatih dengan tepat untuk mencapai pertumbuhan maksimal. Perkembangan motorik halus mengacu pada perkembangan kemampuan motorik halus seperti meraih dan mengambil, sedangkan perkembangan motorik kasar mengacu pada perkembangan keterampilan motorik halus seperti merangkak, berdiri, dan berjalan[5]. Hurlock berpendapat perkembangan motoric halus ana usia dini ditekankan pada koordinsi gerakan motorik halus dalam hal berkaitan dengan meletakkan atau memegang suatu objek dengan menggunakan jari tangan[6]
Perkembangan yang baik terkait keterampilan motorik halus akan membantu anak untuk bisa berkreasi lebih baik lagi. Anak akan menjadi lebih mudah mengekspresikan rasa yang dimiliki menggunakan jari jemari dan alat sebagai bentuk ekpresi dan eksplorasi diri dalam berbagai bentuk dan media. tidak hanya berkaitan dengan tumbuh kembang saja, namun juga kesiapan mental dan emosional anak dalam menghadapi kehidupan di masa depan. Selain itu perkembangan motorik halus yang kurang maksimal akan membawa dampak pada terjadinya hambatan anak usia dini saat memasuki pendidikan lanjutan. Anak menjadi kurang berminat untuk belajar, tidak selesai dalam menulis pelajaran di kelas, kurang mandiri dan menjadi tidak percaya diri bahkan bisa membuat anak menjadi malas untuk masuk sekolah [7]. Anak memerlukan stimulasi untuk membantu semua aspek perkembangannya, pemberian stimulasi dapat dilakukan dengan memberikan rangsangan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak agar anak memiliki kesiapan untuk melanjutkan pendidikan yang selanjutnya[8]. Perkembangan motorik halus merupakan gerakan tubuh yang dikendalikan oleh otot-otot kecil yang berasal dari beberapa bagian tubuh dan dipengaruhi oleh latihan yang sering dilakukan. Stimulasi dapat dilakukan dengan memberikan rangsangan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan anak. [9]. Perkembangan motorik halus merupakan kemampuan untuk menggunakan otot-otot kecil pada jari tangan dengan baik seperti pada kegiatan melipat,menggenggam,menjepit dan menempel. Perkembangan motorik halus sangat penting dan berpengaruh untuk kehidupan anak selanjutnya. Pemberian stimulasi atau rangsangan terhadap perkembangan motorik halus anak sangat berpengaruh terhadap keberhasilan anak dalam mencapai tahap perkembangnnya. Dengan anak sering distimulasi maka keterampilan motorik halus anak akan berkembang lebih baik lagi [10].
Stimulasi yang dapat diberikan melalui orang tua, guru serta lingkungan sekitar mulai dari lingkungan rumah maupun lingkungan sekolah dengan menyediakan lingkungan belajar yang dapat mendukung perkembangan motorik halus anak berupa bentuk kegiatan bermain [11]. Kegiatan bermain pada anak usia dini sangat penting untuk pembentukan kepribadian mereka karena memungkinkan anak untuk belajar sekaligus menghabiskan waktu. Dalam kehidupan sehari-hari anak, permainan dan bermain saling terkait erat[12]. Permainan dapat dimainkan sendiri atau berkelompok dan digambarkan sebagai kegiatan interaktif dengan aturan dan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya[13].
Berdasarkan hasil observasi peningkatan kemampuan motorik halus anak usia 3-4 tahun yaitu:
(Memasukkan benda kecil ke dalam botol seperti:batu, ranting, dan biji-bijian), pada anak usia 3-4 tahun kemampuan motorik halus anak sudah berkembang dengan baik. Namun pada kenyataannya di Kelompok Bermain Baitul Muttaqin masih ada beberapa anak yang belum memiliki kemampuan motorik halus dalam hal memegang pensil, terutama dalam memegang pensil, ada yang memegang pensil dengan cara dikepalkan, ada juga yang memegang pensil dengan ibu jarinya. Terbukti dari data lapangan bahwa dari 17 anak hanya 37% atau 7 anak yang sudah bisa memegang pensil dengan baik dan 63% atau 10 anak belum bisa memegang pensil dengan baik. dikarena sekolah lebih menekankan pada membaca dan mengenal angka serta perlunya latihan-latihan yang bersifat mengasah kemampuan motorik halus anak usia dini yang menarik dan kreatif agar anak termotivasi dalam melakukan kegiatan motorik halus anak agar terbentuk dengan baik.
Kegiatan menjepit merupakan salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan perkembangan motorik halus anak dengan membantu mereka mengembangkan kemampuan motorik halusnya. Menjepit adalah tindakan menekan yang terjadi ketika dua benda ditekan dengan kuat menggunakan alat atau jari. melatih anak dalam mengembangkan otot tangan, koordinasi tangan-mata, dan koordinasi tangan-pikiran. Selain itu, perkembangan motorik fisik yang sukses dapat tercapai[14]. Dengan adanya kegiatan menjepit Anak akan merasa lebih tertantang dan termotivasi untuk menyelesaikan latihan menjepit. Saat belajar memecahkan masalah, anak akan memperoleh kemampuan untuk berpikir secara logis[15].
Keterampilan motorik halus anak ditunjukkan pada saat tindakan penelitian sebagai berikut: menunjukkan kemampuan otot-otot kecil pergelangan tangan untuk melakukan suatu aktivitas; menunjukkan kemampuan mengkoordinasikan gerakan tangan dan mata saat melakukan aktivitas motorik halus; menunjukkan kontrol yang baik dan memungkinkan ketepatan dan keakuratan dalam gerakan tangan; dan memberikan anak-anak kegiatan yang menyenangkan untuk melatih anggota tubuh motorik halus mereka. Hal ini menunjukkan bahwa bermain papercraft menjepit dapat membantu anak-anak mengembangkan keterampilan motorik halus mereka[16]. Dalam penelitian terdahulu Damayanti Dwi Hapsari menunjukkan bahwa anak kelompok B di TK Aisyiyah Cabang Kartasura dapat meningkatkan kemampuan motorik halusnya dengan bermain jepitan jemuran[17]. Kemudian pada hasil penelitian Ida Mey Liliana dan Dewi Komalasari dapat disimpulkan peningkatan kemampuan motorik halus melalui kegiatan menjepit kertas karton pada anak usia 3-4 tahun dikelompok bermain STAR Kediri Tahun Pelajaran 2015 telah berjalan dengan baik[18]. Berdasarkan latar belakang diatas maka tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan motorik halus melalui kegiatan menjepit.
Metode penelitian ini menggunakan penelitian aktivitas kelas (PTK) yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelas tempat ia belajar dengan penekanan pada peningkatan atau perbaikan rencana dan pembelajaran yang telah dilaksanakan [19]. Penelitian aktivitas kelas pada umumnya disingkat PTK (dalam bahasa Inggris disebut dengan classroom activity research) yaitu penelitian aktivitas yang dilakukan oleh guru dengan tujuan untuk meningkatkan mutu pembelajaran di kelasnya, dalam penelitian ini mengacu pada penelitian yang dikemukakan oleh Kemmis dan Mc. Taggart yaitu dalam rangka suatu siklus ketika melaksanakan penelitian aktivitas mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.Alasan mengapa memilih model penelitian Kemmis dan Mc Taggart ini karena model penelitiannya sederhana dalam pelaksanaanya mudah, Selain itu siklus ini tidak hanya berlangsung satu kali, melainkan beberapa kali hingga tujuan yang diharapkan tercapai[20].
Gambar 1. Siklus PTK menurut Kemmis dan Mc Taggrt
Subjek penelitian yang peneliti gunakan ialah anak usia 3-4 tahun yang berlokasi disekolah PG&RA Baitul Muttaqin Perum Citra Sentosa Mandiri blok K27,Jambangan,Sidoarjo. Dengan jumlah anak 17 yang terdiri dari 3 perempuan dan 14 laki-laki. Peneliti ingin mengetahui kemampuan motorik halus anak dalam meningkatkan keterampilan menjepit yang telah dilaksanakan. Alasan mengapa memilih subjek penelitian ini karena peneliti mengajar dikelas serta terlibat langsung dengan penelitian untuk memperoleh hasil belajar dengan cara meningkatkan keterampilan belajar anak. Penelitian ini dilakukan selama dua siklus dengan durasi waktu ± 1bulan. Menurut pengamatannya, setiap siklus dilakukan 2 kali pertemuan untuk mengetahui sejauh mana kegiatan menjepit dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak, sesuai dengan pengamatannya. Penelitian ini akan dilanjutkan dan dihentikan jika dirasa cukup untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak yaitu 75%
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini melalui tiga tahap yaitu: observasi,wawancara, dan dokumentasi. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini berupa data dari hasil pengamatan, dan dokumentasi langsung sewaktu anak melakukan kegiatan. Teknik observasi dilakukan secara langsung agar dapat digunakan peneliti untuk mengetahui peristiwa yang terjadi selama kegiatan berlangsung dan hasil observasi ditulis pada lembaran yang berisi indikator . Teknik dokumentasi yang digunakan peneliti berbentuk foto yang diambil selama kegiatan pembelajaran berlangsung untuk memperkuat data. Pada penelitian ini terdapat indikator yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan motoric halus anak melalui kegiatan menjepit pompom pada anak usia 3-4 tahun, berikut table rubrik kemampuan motorik halus anak.
Table 1. Rubrik Kemampuan Motorik Halus Anak.
Teknik analisis data berlangsung mulai dari awal penelitian yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Beberapa data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data hasil observasi aktivitas guru dan aktivitas siswa terhadap kemampuan motorik halus melalui kegiatan menjepit. Data yang telah terkumpul akan dianalisis. Alat yang digunakan untuk mengobservasi berupa instrument kemampuan motoric halus. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis kualitatif untuk mengetahui presentase siswa yang telah mencapai target maka diperlukan rumus sebagai berikut:
Keterangan : P = adalah nilai presentase yang diperoleh
f = jumlah yang diperoleh
n = jumlah subjek
Penelitian dikatakan berhasil apabila kemampuan motoric halus pada anak mencapai target keberhasilan 75%. Apabila pada siklus pertama belum mencapai target 75% maka akan dilanjutkan pada siklus kedua untuk memaksimalkan kemampuan motoric halus sesuai target yaitu 75%. Jika pada siklus ke dua sudah mencapai target 75% maka tidak diperlukan lagi siklus tambahan.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan kelas yang dilakukan disekolah PG&RA Baitul Muttaqin Perum Citra Sentosa Mandiri blok K27,Jambangan,Sidoarjo. Subjek penelitian ini adalah 17 siswa dengan usia 3-4 tahun. Pelaksanaan penelitian ini dilakukan dalam 4 tahap: (1) tahap perencanaan ialah menyusun rancangan pembelajaran yang digunakan untuk persiapan pembelajaran anak dalam kegiatan menjepit pompom, (2) tahap pelaksanaan ialah melaksanakan pembelajaran dengan mengacu rancangan yang sudah dibuat yaitu pelaksanaan RPP, (3) tahap mengamati dilakukan dengan mengisi lembar observasi tentang aktifitas guru dan kegiatan aak dengan mengikuti pembelajaran menggunakan media menjepit pompom, (4) tahap refleksi dilakukan untuk mengevaluasi hasil dari kemampuan motoric halus anak melalui kegiatan menjepit pompom
Pra-siklus
Pra siklus diawali dengan menentukan kelas yang akan digunakan sebagai tempat penelitian yaitu kelompok bermain di PG Baitul muttaqin yang kemudian akan diobservasi untuk mengetahui bagaimana kondisi sebelum dilakukannya tindakan dalam kelas. Observasi ini dilakukan dengan mengamati proses pembelajaran yaitu dengan diawali kegiatan anak mengaji,ketika bel berbunyi hal itu menandakan bahwa anak-anak akan siap untuk berbaris, ice breaking, lalu anak akan berjalan masuk dalam kelas masing-masing. Setelah anak masuk dalam kelas dilanjutkan dengan pembukaan yang berupa target hafalan anak disetiap bulannya diikuti dengan ice breaking untuk memfokuskan kembali anak. Kemudian guru akan menyampaikan materi yang akan disampaikan dan membagikan suatu kegiatan yaitu menebali kembali tulisan yang telah disediakan guru yang setelah itu anak akan diperbolehka untuk istirahat yaitu makan. Kemudian anak diberikan waktu ± 15 menit untuk main diplay ground dilanjut penutup berdoa dan pulang. Dari hasil observasi ada beberapa motoric halus anak yang belum maksimal, ketika beberapa anak memegang sebuah pensil yang dimana penempatan jarinya masih salah. Pada kegiatan menjepit ini bertujuan untuk meningkatkan motorik halus anak sehingga perkembangan yang dimiliki anak dapat berjalan sesuai pencapaiannya. Berikut data yang diperoleh dari hasil observasi:
Tabel 2. Data kemampuan awal (Prasiklus) motorik halus
Keterangan:
4 = Berkembang sangat baik BT = Belum tuntas
3 = Berkembang sesuai harapan T = Tuntas
2 = Mulai berkembang
1 = Belum berkembang
Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa masih banyak anak yang belum tuntas atau tidak memenuhi kriteria yang akan dicapai. Dengan nilai rata-rata 54,38%. Kurangnya kegiatan yang melatih motoric halus dapat meningkatkan motorik halus karena mengedepankan kognitif anak serta peran orang tua yang kurang dapat mengakibatkan kurangnya kesempatan belajar untuk perkembangan motorik halus anak.
Siklus I
Pada siklus I yang dilakukan adalah perencanaan membuat RPPH sesuai dengan tema yaitu Alam Semesta. Yang diambil pada siklus pada siklus I mengenal bumi. Kemudian dilanjutkan dengan pelaksanaan yaitu dimulai dengan melakukan pembukaan pada kelas lalu memberikan materi tentang alam sekitar dan pengenalan bumi dahulu. Kemudian menjelaskan kegiatan apa saja yang akan dilakukan dilanjut langkah-langkah kegiatan menjepit untuk mengelompokan warna yang sesuai dengan warna bumi. Pada saat kegiatan menjepit pompom berlangsung peneliti melakukan pengamatan terhadap anak serta mengumpulkan data dalam lembar observasi. Hasil refleksi dapat dilihat bahwa terdapat peningkatan namun belum maksimal karena adanya kendala yaitu anak masih kesusahan dalam kemampuan menjepit pompom dan memindahkan pompom dari wadah utama ke dalam wadahnya. Dengan belum maksimalnya hasil pada siklus I maka peneliti akan melanjutkan pada Siklus II, adapun hasil yang diperoleh sebagai berikut:
Tabel 3. Data kemampuan motorik halus anak Siklus 1
Pada tabel 3 siklus I ini menunjukan adanya peningkatan motorik halus pada anak yaitu rata-rata 59,78%. Dengan pencapaian kriteria tuntas yaitu 4 anak dan kriteria yang belum tuntas yaitu 13 anak. Dapat diketahui bahwa adanya peningkatan motorik halus pada siklus 1 tetapi belum maksimal sehingga masih memerlukan perbaikan untuk mencapai indikator keberhasilan motoric halus sesuai dengan harapan yang telah diharapkan. Maka masih perlu diadakannya penelitian pada siklus II.
Siklus II
Pada siklus II capaian peningkatan motorik halus pada anak mengalami peningkatan yang sangat signifikan hingga 80% yang dimana hampir semua anak dapat memenuhi target keberhasilan >75% dan dapat meningkatkan motorik halusnya. Pada saat pelaksanaan peneliti akan mempersiapkan alat dan bahan. Pada pelaksanaan siklus II ini tema yang diambil Kendaraan disekitar. Sebelum memulai Kegiatan anak-anak akan melakukan pembukaan terlebih dahulu kemudian akan diberikan sebuah penjelasan tentang apa saja kendaraan disekitar dilanjut anak akan menempelkan pompom dengan menjepit pada gambar mobil dibagian ban berbentuk lingkaran dilanjutkan mewarnai pada gambar badan mobil, peneliti memperkuat konsep dengan menjelaskan langkah-langkah dengan peraturan selama kegiatan menjepit berlangsung. Hasil yang diperoleh maksimal karena dilakukan perbaikan pada kendala siklus I sebelumnya yaitu dengan latihan menjepit dengan cara memindahkan piring kertas bersama teman disamping dan mengingatkan untuk tetap focus berhati-hati pada apa yang dipegang. Pembelajaran pada siklus II inidapat meningkat sesuai target keberhasilan tindakan kelas 75%. Adapun hasil yang didapat sebagai berikut:
Tabel 4. Data kemampuan motorik halus anak Siklus II
Pada tabel 4 siklus II menunjukan bahwa mengalami kenaikan yang signifikan yaitu sebesar 80,35%. Pencapaian kriteria tuntas mengalami peningkatan yang maksimal dengan pencapaian kriteria 14 anak tuntas dan 3 anak belum tuntas. Hal ini menunjukan bahwa pembelajaran yang dilaksakan pada siklus II efektif dalam meningkatkan kemampuan motoric halus anak.
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di PG &RA Baitul muttaqin jambangan,candi dalam meningkatkan keterampilan motorik halus pada anak usia dini melalui kegiatan menjepit benda kecil pada anak usia 3-4 tahun. Dengan tahap siklus I dan II yang masing-masing dilakukan 2x pertemuan dalam setiap siklusnya, sehingga ada peningkatan disetiap siklus pada saat pembelajaran. Dengan pendekatan bertahap seperti ini, anak memiliki waktu yang cukup untuk berlatih dan mengasah keterampilan motorik halus mereka secara bertahap melalui kegiatan menjepit. Disetiap pertemuan anak-anak memiliki tingkat perkembangan yang berbeda pada setiap siklusnya. Berikut diagram rata-rata presentase pencapaian anak:
Diagram 1. Rata-Rata Presentase Pencapaian Anak
Pada diagram diatas bahwa capaian keterampilan motorik halus anak menunjukan peningkatan yang bertahap yaitu Pada tahap pra siklus, rata-rata capaian anak hanya 54,38%, yang menunjukkan bahwa sebagian besar anak belum mampu menggenggam, mengambil benda kecil, maupun melakukan koordinasi mata dan tangan dengan baik. Kondisi ini disebabkan karena kurangnya stimulasi kegiatan motorik halus dalam pembelajaran, sehingga anak belum terbiasa menggunakan otot-otot kecil jari dan pergelangan tangan.
Setelah dilakukan tindakan pada siklus I dengan kegiatan menjepit bertema Alam Semesta, hasil penelitian meningkat menjadi 59,78%. Peningkatan ini menunjukkan adanya pengaruh kegiatan menjepit terhadap keterampilan anak, Kontrol gerakan dan koordinasi dapat menstimulasi dan menguatkan ketiga jari dan pergelangan tangan anak [21].meskipun belum signifikan. Beberapa anak masih kesulitan dalam memindahkan pompom dengan benar dan konsisten, sehingga capaian belum mencapai target yang ditentukan yaitu 75%.
Pada siklus II dilakukan perbaikan melalui kegiatan menjepit pompom bertema Kendaraan. Anak-anak diminta menempelkan pompom pada gambar mobil serta mewarnai bagian tertentu. Kegiatan yang lebih variatif dan kontekstual ini membuat anak lebih antusias, fokus, dan termotivasi. Hasilnya menunjukkan peningkatan yang signifikan, yaitu 80,35%, dengan 14 anak mencapai kriteria tuntas dan hanya 3 anak yang belum tuntas. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan menjepit efektif dalam meningkatkan motorik halus anak secara bertahap.
Peningkatan dari pra siklus hingga siklus II menunjukkan bahwa stimulasi melalui kegiatan bermain sederhana namun menarik, seperti menjepit pompom, dapat membantu perkembangan motorik halus anak. Kegiatan ini tidak hanya melatih kekuatan otot jari dan koordinasi mata–tangan, tetapi juga menumbuhkan kemandirian, motivasi belajar, serta rasa percaya diri pada anak. Dengan demikian, kegiatan menjepit dapat dijadikan salah satu alternatif strategi pembelajaran yang menyenangkan dan bermanfaat untuk mendukung perkembangan anak usia dini.
Hasil diatas menunjukan bahwa kegiatan menjepit dapat meningkatkan keterampilan motorik,otot,dan koordinasi dan memberikan anak rasa kemandirian,dan kemampuan untuk menyelesaikan tugas tanpa bantuan dewasa serta dapat membangkitkan motivasi dan perasaan senang pada anak [22].
Penelitian dengan motode tindakan kelas yang dilakukan di sekolah Baitul Muttaqin Jambangan,Candi membuktikan bahwa kegiatan menjepit pompom efektif meningkatkan kemampuan motorik halus anak usia 3-4 tahun. Penerapan kegiatan dilakukan secara bertahap melalui dua siklus pembelajaran dengan tema berbeda, yaitu Alam Semesta dan Kendaraan. Proses pembelajaran meliputi latihan menjepit, memindahkan, dan menempel pompom yang dirancang untuk melatih koordinasi mata-tangan, kekuatan otot jari, serta keterampilan menggenggam dan mengambil benda kecil. Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan signifikan, yakni dari 54,38% pada pra-siklus, meningkat menjadi 59,78% pada siklus I, dan mencapai 80,35% pada siklus II. Pencapaian ini tidak hanya menandakan perkembangan motorik halus, tetapi juga berdampak pada kemandirian, motivasi belajar, serta rasa percaya diri anak. Dengan demikian, kegiatan menjepit pompom dapat dijadikan strategi pembelajaran kreatif,sederhana,dan menyenangkan bagi guru dalam menstimulasi perkembangan motorik halus anak usia dini agar lebih optimal.
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga karya tulis ini dapat terselesaikan dengan baik.Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing, pihak sekolah PG&RA Baitul Muttaqin, serta semua pihak yang telah membantu dalam proses penelitian ini.Ucapan terima kasih yang paling dalam penulis sampaikan kepada Ayah dan Bunda atas doa yang tiada henti, kasih sayang yang tulus, dan pengorbanan yang tak pernah bisa terbalas. Setiap langkah penulis adalah berkat doa kalian, setiap pencapaian adalah hasil dari kesabaran dan dukungan kalian. Semoga karya sederhana ini dapat menjadi kebanggaan dan wujud kecil bakti penulis kepada kalian. Semoga karya tulis ilmiah ini dapat menambahkan wawasan dan bermanfaat bagi penulis dan pembaca
S. Wahyuningsih, S. Wahyuni, and R. Siregar, “Pengembangan Motorik Halus Anak Usia Dini melalui Kegiatan Finger Painting,” J. Obs. J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 7, no. 1, pp. 991–1000, 2023, doi: 10.31004/obsesi.v7i1.3892.
J. Pendidikan Guru, P. Anak, and U. Dini, “PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS ANAK USIA DINI Nazifa ’Aisy,” pp. 1–18, 2020, [Online]. Available: https://ejournal.uinib.ac.id/jurnal/index.php/naturalscience/article/view/1555/1159
Nurhayati, “Mengembangkan Perilaku Sosial Anak TK Di Kelompok B1 Melalui Metode Demonstrasi,” J. Golden Age, Univ. Hamzanwadi, vol. 04, no. 2, pp. 216–226, 2020.
R. R. Darmawanti, S. Jamilatusoleha, A. K. Fasha, F. Fitriyani, and R. R. Diana, “Implementasi Permainan Sains Untuk Meningkatkan Motorik Halus Anak Usia Dini,” Edukids J. Pertumbuhan, Perkembangan, dan Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 20, no. 1, pp. 1–10, 2023, doi: 10.17509/edukids.v20i1.47013.
S. . Ermiwati.S, “Dampak Bermain Terhadap Perkembangan Motorik Halus Anak Usia Dini,” J. Min. Inst. Japan, pp. 1–21, 2021.
I. Tasmin Andika Kalimuddin, Kusmaladewi, “Pengembangan Motorik Halus Dalam Mempersiapkan Kemampuan Menulis Permulaan Anak Pada Kelompok B Taman Kanak-Kanak Islam Sudiang Kota Makassar,” Early Child. Educ. J., pp. 37–48, 2022.
T. R. Noor, “Optimalisasi Aktivitas Pengembangan Motorik Halus Anak Usia Dini Usia 3-4 Tahun,” J. Obs. J. Pendidik. Anak Usia Dini, vol. 7, no. 4, pp. 4336–4348, 2023, doi: 10.31004/obsesi.v7i4.3600.
G. P. Sari, “Pengaruh Stimulasi Terhadap Perkembangan Motorik Halus Anak Usia Dini,” Stimulasi Aspek Perkemb. Anak. Jakarta Kencana, 2020.
A. R. Simanjuntak and S. I. Merdianto, “Pengaruh APE Tangram Terhadap Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 5-6 Tahun Di RT 07 RW 03, Kelurahan Kertajaya, Surabaya,” J. Bunga Rampai Usia Emas, vol. 9, no. 2, p. 288, 2023, doi: 10.24114/jbrue.v9i2.52776.
P. Cahyaning Hayyu and D. Retno Suminar, “Stimulasi Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 3-6 Tahun Dengan Permainan Playbox,” J. Compr. Sci., vol. 2, no. 1, pp. 193–201, 2023, doi: 10.59188/jcs.v2i1.199.
A. N. Ilmi Azizah, “Melatih Kemampuan Motorik Halus Dan Motorik Kasar Anak Usia Dini,” Tahta Media, p. 4, 2023.
P. P. Ardini and A. Lestariningrum, “Definisi Bermain, Bermain & Permainan Anak Usia Dini,” 2021.
C. Larasati, “Pengaruh Permainan Sensori Menjepit Pom-Pom Terhadap Motorik Halus Anak Autis,” J. Penelit. Pendidik. Khusus, vol. 12, no. 2, pp. 63–70, 2024.
F. Halim and Fauzah, “Upaya Mengembangkan Keterampilan Motorik Halus Melalui Kegiatan Menjahit Di Tkn Pembina Muara Batu,” J. Pendidik. Guru Anak Usia Dini, vol. 1, no. 2, pp. 33–39, 2020, [Online]. Available: http://www.journal.umuslim.ac.id/index.php/jpg/article/view/58
S. K. Kotimah, “… Media Jepit Biji Palawija (Mejilawi) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Simbolik Anak Pada Kelompok a Di Tk Fullday Pas Baitul …,” "Jurnal Pendidik Islam. publised by Sekol. Tinggi …, 2023, [Online]. Available: http://eprints.umpo.ac.id/12735/
L. Ida Mey and K. Dewi, “Peningkatan Kemampuan Motorik Halus Melalui Kegiatan Menjepit Kertas Karton Pada Anak Usia 3-4 Tahun Di Kelompok Bermain Star Kediri,” PAUD Teratai, vol. 4, no. 2 Edisi Yudisium, pp. 1–5, 2023.
D. D. Hapsari, “Bermain Penjepit Baju untuk Meningkatkan Motorik Halus Anak Kelompok B,” 2021, [Online]. Available: http://eprints.ums.ac.id/id/eprint/64624%0Ahttp://eprints.ums.ac.id/64624/12/Naskah Publikasi.pdf
D. Nurjannah, “Peningkatan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Bermain Papercraft,” Al-Athfal J. Pendidik. Anak, vol. 4, pp. 149–160, 2021.
A. Z. dan D. Yusri, Penelitian Tindakan Kelas, vol. 7, no. 2. 2020.
R. Adolph, “penelitian tindakan kelas model penelitian Kemmis dan Mc Taggart,” repository.upi.edu, pp. 1–23, 2020.
L. Putu, H. Wijayanthi, N. K. Suarni, D. P. Ambara, F. I. Pendidikan, and U. P. Ganesha, “PENGGUNAAN METODE PEMBERIAN TUGAS DAN PEMANFAATAN MEDIA MENJEPIT BIJI-BIJIAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF PADA ANAK Kumara Kerti Desa Anturan menunjukkan,” pp. 1–12, 2020.
P. Guru et al., “STRATEGI GURU MENSTIMULASI MOTORIK HALUS MELALUI KEGIATAN PRACTICAL LIFE ANAK 4-5 TAHUN,” vol. 5, no. 02, pp. 96–108, 2023.