Login
Section Education

Da’i Cadre Development Strategies at Al Fattah Islamic Boarding School

Strategi Pengembangan Kader Dakwah di Sekolah Asrama Islam Al Fattah
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Helmi Faiz Amanulloh (1), Dzulfikar Akbar Romadlon (2)

(1) Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Islamic boarding schools play a central role in preparing religious cadres who can sustain Islamic preaching amid social and technological change. Specific Background The Al Fattah Islamic Boarding School in Sidoarjo applies structured programs combining traditional pesantren learning with contemporary approaches to respond to modern societal demands for competent da’i. Knowledge Gap Despite the strategic position of pesantren, systematic descriptions of integrated cadre development strategies aligned with contemporary da’wah challenges remain limited. Aims This study aims to describe the strategies of da’i cadre development implemented at Al Fattah Islamic Boarding School. Results Using a descriptive qualitative approach through interviews, observation, and documentation, the study identifies that cadre development is conducted through integration of formal and non-formal curricula, mastery of religious texts, moral and character formation, rhetorical training through muhadhoroh and munadhoroh, field da’wah practice, and the use of digital media. Traditional methods such as bandongan and sorogan are combined with soft-skill training, leadership preparation, alumni involvement, and continuous evaluation. Novelty The study highlights a comprehensive and systematic model that unites pesantren traditions with digital da’wah competencies within a single cadre development framework. Implications These findings provide a contextual reference for Islamic educational institutions in designing sustainable da’i cadre development models that remain relevant to contemporary social, cultural, and technological contexts.


Highlights:



  • Integration of Classical Learning Methods With Structured Non-Formal Training Forms a Coherent Preparation Model.



  • Moral Cultivation and Exemplary Guidance Are Positioned as Foundational Components of Religious Leadership Preparation.



  • Field Practice and Digital Media Utilization Expand Preaching Readiness in Diverse Social Contexts.


Keywords: Da’I Cadre Development, Islamic Boarding School, Pesantren Curriculum, Digital Da’Wah, Moral Formation

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Islam adalah agama sempurna yang mencakup dalam segala aspek kehidupan. Salah satunya menyiapkan generasi yang akan datang untuk melanjutkan estafet perjuangan. Intinya menjadikan perjalanan syariat islam tidak berhenti hanya sebatas digenerasi tertentu. Terciptanya gerakan-gerakan dan lembaga islam sudah menjadikan sumber munculnya generasi penerus [1]. Dalam upaya membangun budaya hidup sehat di pondok pesantren, penerapan pendidikan berbasis nilai-nilai Al-Qur’an menjadi sangat penting. Pendekatan ini tidak hanya mengajarkan siswa untuk menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga menanamkan nilai spiritual bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Pendidikan lingkungan hidup yang berbasis religiusitas ini mampu mengintegrasikan antara nilai-nilai keimanan dengan praktik sehari-hari yang berorientasi pada keberlanjutan [2]. Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh pondok pesantren dalam kelembagaan adalah ketidak sinambungan antara tujuan pendidikan pesantren dengan perkembangan kebutuhan masyarakat modern. Oleh karena itu, perlu adanya penguatan kelembagaan yang tidak hanya mempertahankan nilai-nilai tradisional Islam, tetapi juga mampu beradaptasi dengan dinamika global. Hal ini mencakup pengelolaan pendidikan yang inovatif serta pembentukan sinergi antara pondok pesantren dan lembaga eksternal [3] .Usaha-usaha pembinaan santri pendakwah di pesantren untuk menuju pengkaderan santri yang berpotensi, diperlukan pembinaan yang baik [4]. Sehingga dengan penguatan pembinaan dakwah menciptakan seorang dai. Dai adalah seorang yang senantiasa mengajak, menyampaikan, mendorong kepada orang lain secara terang-terangan ataupun tidak, baik lisan dan tulisan untuk mengikuti dan mengamalkan syariat islam [5].

Dakwah adalah ujung tombak tersebarnya agama islam dan menjadi penerus perjuangan Nabi Muhammad SAW. Dakwah ialah usaha memberikan pengaruh kepada orang lain agar muncul prinsip islami dalam kehidupannya. Sehingga menghasilkan kebiasaan yang baik dan mencerminkan orang beragama islam (memeluk agama islam) [6]. Lembaga pendidikan islam menciptakan upaya untuk mendorong agar anak didiknya menjadi santri pendakwah. Pondok pesantren memiliki peran strategis dalam membangun karakter umat melalui pendekatan pendidikan berbasis nilai-nilai Islam yang holistik. Dalam menghadapi dinamika global, pesantren dituntut untuk mengembangkan program-program dakwah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, seperti peningkatan literasi digital dan adaptasi terhadap teknologi informasi. Dengan demikian, pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan agama, tetapi juga agen perubahan sosial yang progresif.

Salah satu upaya Pendidikan agama dalam mewujudkan tugasnya membentuk sikap dan kepribadian muslim adalah melalui Pendidikan kaderisasi. Pentingnya kaderisasi telah dijelaskan dalam al-qur’an surat Al-baqarah ayat 124:

وَإِذِ ٱبۡتَلَىٰٓ إِبۡرَٰهِ‍ۧمَ رَبُّهُۥ بِكَلِمَٰتٖ فَأَتَمَّهُنَّۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامٗاۖ قَالَ وَمِن ذُرِّيَّتِيۖ قَالَ لَا يَنَالُ عَهۡدِي ٱلظَّٰلِمِينَ ۞

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim".

Ayat diatas menjelaskan tentang pentingnya pembaharuan kaderisasi untuk penggantian kader Zakaria (tua) ke kader muda sebagai penerus yang akan menjalankan amanat dalam memperjuangkan ilmu dan hikmah. Bukan hanya sekedar pewaris tahta dan kedudukan.

Agama islam sangatlah butuh dengan adanya pendakwah. Berdakwah dalam ajaran Islam memiliki peran yang sangat penting dan strategis karena agama islam memiliki peran penting dalam menentukan kemajuan dan kemunduran suatu bangsa bahkan agama Islam sendiri [7]. Tinggal bagaimana lembaga pendikan islam menyiapkan para pendakwah yang siap terjun di masyarakat, tentunya dengan beberapa strategi untuk mewujudkannya. Strategi dakwah dari para guru (asatidz) terkadang menjadi faktor yang sangat penting dalam keberlangsungan pembentukkan karakter dan akhlak para santri. Oleh karena itu sangat diperlukannya strategi untuk menciptakan seorang dai yang didalamnya mengandung unsur-unsur penguatan. Contohnya yaitu pemahaman dasar Al Quran dan Hadits, startegi public speaking, pembiasaan kehidupan sehari-hari yang bernilai Al Quran dan Hadits, serta penguatan hubungan sosial dengan masyarakat. Empat unsur tersebut menjadikan pondok pesantren sebagai lembaga yang paling berpartisipasi dalam mewujudkan cita-cita mulia generasi seorang dai. Strategi pengkaderan dai di pondok pesantren melibatkan pembentukan kurikulum khusus yang memadukan pembelajaran keagamaan mendalam dengan pelatihan keterampilan komunikasi publik [8]. Selain itu, pesantren juga menanamkan nilai-nilai kepemimpinan dan pengabdian sosial melalui kegiatan praktik dakwah di masyarakat sekitar [6]. Pendekatan ini bertujuan untuk melahirkan dai yang tidak hanya mahir dalam ilmu agama, tetapi juga mampu menyampaikan pesan Islam dengan cara yang relevan dan kontekstual. Pelibatan dai senior sebagai mentor juga menjadi bagian penting dalam pengkaderan ini, memberikan bimbingan langsung kepada calon dai dalam menghadapi tantangan dakwah.

Kaderisasi dakwah di lembaga pendidikan Islam sangat penting karena menjadi sarana utama dalam mencetak generasi penerus da’i yang akan melanjutkan tugas menyebarkan ajaran Islam secara berkesinambungan dari masa ke masa. Kaderisasi bukan hanya proses untuk menekankan pada penguasaan dan pengetahuan ilmu agama saja akan tetapi juga pada keterampilan dalam komunikasi, kepemimpinan serta keperdulian social yang menjadikan peserta didik menjadi figur teladan dimasyarakat. Dalam kaderisasi yang terarah, lembaga Pendidikan islam berperan penuh dalam membentuk dan mendidik generasi dai bukan hanya menyampaikan dengan fasih pesan dakwah, akan tetapi perduli terhadap kondisi umat dan mampu memberikan Solusi atas permasalahan keagamaan yang muncul. Melalui kaderisasi dakwah, lembaga pendidikan Islam dapat melahirkan generasi yang mampu menjaga kemurnian ajaran Islam sekaligus menyampaikannya dengan metode yang bijak, modern, dan relevan sesuai dengan karakteristik masyarakat. Da’i yang lahir dari sistem kaderisasi tersebut diharapkan mampu berdakwah tidak hanya melalui mimbar masjid atau majelis taklim, tetapi juga melalui ruang-ruang digital yang kini menjadi medan dakwah baru. Dengan demikian, kaderisasi dakwah menjamin bahwa kegiatan dakwah akan tetap hidup, dinamis, dan berpengaruh positif bagi umat Islam di berbagai lapisan masyarakat serta dapat menjawab tantangan zaman secara efektif [9].

Kaderisasi dakwah sangatlah membutuhkan rumusan strategi khusus ditingkat institusi agar dalam pembinaan generasi dai tidak berjalan secara sporadis, akan tetapi jelas dengan sistematis dan berdasarkan dengan visi-misi lembaga pendidikan Islam. Pada tahap perencanaan, strategi yang dibuat perlu harus mencakup kurikulum dakwah yang integratif, yaitu mengabungkan penguasaan ilmu agama, retorika dalam keterampilan pengelolaan organisasi, hingga pengetahuan digital yang menjadi tuntunan dakwah masa kini. Strategi tersebut juga harus memberikan ruang bagi peserta didik untuk berlatih langsung melalui praktik dakwah di lingkungan internal maupun eksternal, sehingga mereka terbiasa menghadapi berbagai karakter masyarakat. Tidak kalah penting, institusi perlu menyiapkan mekanisme evaluasi dan monitoring secara berkesinambungan untuk menilai sejauh mana tujuan kaderisasi tercapai, kemudian memberikan umpan balik solutif bagi para kader. dengan disiapkannya strategi yang matang, kaderisasi dakwah tidak hanya menghasilkan da’i yang berilmu dan berakhlak mulia, akan tetapi juga menghasilkan generasi yang adaptif kritis yang siap menghadapi tantangan perkembangan zaman [10].

Salah satu lembaga Pendidikan islam yang menaruh perhatian besar terhadap munculnya generasi dai yang berkualitas adalah Pondok Pesantren Al Fattah Buduran Sidoarjo Sebagai pesantren yang berorientasi pada Global Islamic Boarding School (GIBS), Al Fattah berupaya santri yang dibentuk tidak hanya berwawasan agama akan tetapi mampu beradaptasi dengan dinamika global yang sarat dengan tantangan modernitas. Hal ini tercermin dari visi pengasuh pondok yang senantiasa menekankan pentingnya pengamalan Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin. Prinsip ini menjadi fondasi utama dalam setiap aktivitas pendidikan dan pembinaan di pesantren, sehingga seluruh kegiatan akademik maupun non-akademik diarahkan untuk mewujudkan santri yang berilmu, berakhlak, dan mampu berdakwah dengan hikmah [11].

Konsep Islam rahmatan lil ‘alamin yang dikembangkan di Pondok Pesantren Al Fattah tidak hanya dipahami sebagai slogan, melainkan sebagai paradigma yang diinternalisasikan dalam keseharian santri. Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam dipandang sebagai ajaran yang universal, mampu mengayomi, dan memberikan solusi atas berbagai persoalan manusia. Oleh karena itu, para santri tidak hanya diajarkan teks keagamaan yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis, tetapi juga dilatih untuk memahami konteks sosial, budaya, dan perkembangan zaman agar dakwah yang dilakukan selalu relevan dan dapat diterima masyarakat luas. Dengan demikian, santri diharapkan mampu menjadi agen perubahan yang mengedepankan kedamaian, toleransi, serta kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat [12].

Selain itu, pondok pesantren Al Fattah menekankan pentingnya pembekalan keterampilan praktis dalam kaderisasi dai. Santri dituntut harus terbiasa untuk menyampaikan ceramah, khutbah, hingga berdiskusi isu-isu aktual yang ada ditengah-tengah masyarakat. Kegiatan ini bukan hanya untuk melatih retorika, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan menumbuhkan jiwa kepemimpinan di kalangan santri. Kehidupan yang sarat dengan interaksi social di pesantren juga mendukung proses pembentukan karakter santri yang siap dengan penuh tanggung jawab terjun di Tengah-tengah masyarakat. Dengan demikian, nilai-nilai keislaman tidak berhenti pada ranah teoretis, tetapi benar-benar hidup dan menjadi bagian dari kepribadian santri. Para santri senantiasa dibekali dengan ilmu agama yang menanamkan jiwa dai didalam dirinya, berusaha hidup berdampingan dengan masyarakat luas, serta menyebarkan nilai-nilai islami, sangatlah ditekankan diponpes Al fattah[12].

Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Faruq Nawawi dan Wildan Yahya yang berjudul Strategi Pondok Pesantren Modern Al-Islah dalam Pengkaderan Dai mengacu pada teori manajemen yang dikemukakan oleh Ricky W. Griffin. Menurutbya manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, pengontrolan sumber daya untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Dari teori ini, dapat disimpulkan bahwa setiap program harus mencakup empat elemen utama: perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam mendukung pengkaderan mubaligh, Pondok Pesantren Al-Islah melaksanakan berbagai kegiatan, antara lain: muhadhoroh (latihan public speaking), memberikan wawasan luas kepada santri terkait kitab-kitab kuning, memperkuat keterampilan di bidang teknologi dan perkembangan zaman, serta membangun pendekatan pribadi dengan santri untuk memperkuat karakter sebagai mubaligh [13].

Penelitian yang dilakukan oleh Mohammad Fauzan dan Achmad Nur Implikasi, dengan judul Kaderisasi Dakwah Santri Pondok Pesantren Nurul Huda (Implikasi Delegasi Khatib Jum’at Pada Masyarakat Kecamatan Kapongan). Menurutnya pesantren ini sangat memperhatikan pada pembinaan keagamaan, bahasan dan ilmu pengetahuan umum, termasuk dakwah dan pengembangan Masyarakat. Pengasuh pondok pesantren Nurul Huda berupaya mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh para santri. Disinilah proses diaplikasikannya dakwah sangat diperlukan pendekatan yang intens guna mengkontrol. Dengan Kaderisasi Dakwah melalui Implikasi Delegasi Khatib Jumat Pada Santri Pondok Pesantren Nurul Huda Kecamatan Kapongan. Sehingga pengasuh pondok pesantren nurul huda yang cukup serius memberikan bimbingan dan kegiatan khusus terhadap santri untuk menjadi kader da’I yang siap pakai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penelitian adanya santri dampaknya sangat bagus untuk warga setempatdan Kader Da’I santri Menjadi Khatib Jum’at direspon dengan baik, terjalin silaturrahim yang kuat dan Kepedulian dan kepercayaan masyarakat bertambah [11].

Penelitian yang dilakukan oleh Imam Aly dan Dzulfikar Akbar Romadlon yang berjudul Strategi Kaderisasi Mubaligh LDIIdi Pondok PesantrenNurul Hakim Kaliawen Kediri. Penelitian ini mendalami strategi kaderisasi tersebut dengan menekankan kepada para santri pengetahuan agama, akhlakul karimah, dan kemandirian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ponpes Nurul Hakim Kaliawen menerapkan metode manqul-musnad-muttasil dalam pembelajaran Al-Qur'an dan Hadits, serta menekankan 29 karakter luhur dan pengembangan kemandirian. Evaluasi berkala untuk mengukur kemampuan santri. Kesimpulannya, strategi kaderisasi yang diterapkan mampu melahirkan mubaligh berkualitas dan mendukung pengembangan kemampuan santri, serta menambah wawasan tentang efektivitas strategi kaderisasi dalam konteks dakwah LDII [14].

Penelitian mengenai strategi kaderisasi da’i di Pondok Pesantren Al Fattah memiliki tujuan untuk menganalisis konsep, perencanaan, dan implementasi kaderisasi yang diterapkan, sekaligus mengidentifikasi keunggulan serta kelemahan yang ada pada lembaga sehingga menjadi bahan evaluasi untuk kedepannya. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji relevansi strategi kaderisasi da’i dengan tuntutan dakwah kontemporer, khususnya era globalisasi, sehingga dapat dirumuskan model kaderisasi yang lebih efektif, adaptif, dan berkelanjutan. Urgensi penelitian ini terletak pada upaya menjaga kesinambungan dakwah islam sehingga pentingnya kaderisasi da’i, di mana kedalaman ilmu agama tidak hanya dibutuhkan seorang dai tetapi juga keterampilan komunikasi, kepemimpinan, dan kepekaan sosial agar mampu berdakwah di ruang tradisional maupun digital. Pondok Pesantren Al Fattah Buduran Sidoarjo, dengan basis Global Islamic Boarding School dan visi Islam rahmatan lil ‘alamin, menjadi sangat relevan untuk diteliti karena menekankan dakwah yang damai, inklusif, dan kontekstual. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi Pondok Pesantren Al Fattah sendiri, tetapi juga dapat memberikan kontribusi bagi lembaga pendidikan Islam lainnya dalam menyusun strategi kaderisasi da’i yang sesuai dengan kebutuhan umat dan tantangan zaman [15].

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mendeskripsikan secara mendalam strategi kaderisasi dai di Pondok Pesantren Al Fatah, Sidoarjo. Pendekatan ini dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian, yaitu memahami fenomena secara komprehensif melalui perspektif partisipan dan konteks sosial budaya yang melingkupinya. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, yang bertujuan menggambarkan strategi kaderisasi dai dan peran pesantren dalam mencetak generasi dai. Penelitian ini berfokus pada pengumpulan data berupa informasi verbal, perilaku, dan dokumen yang relevan. Penelitian dilakukan di Pondok Pesantren Al Fatah, Sidoarjo. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada reputasi pesantren sebagai salah satu lembaga yang aktif dalam mencetak generasi dai dan komitmennya terhadap pendidikan dakwah Islam. Sumber data dalam penelitian ini meliputi Data Primer dan data sekunder. Data primer penelitian ini yaitu dengan melakukan wawancara dengan pengurus pesantren, ustaz, dan santri yang terlibat langsung dalam program kaderisasi dai. Data Sekunder dalam penelitian ini berupa Dokumen pesantren, seperti kurikulum, jadwal kegiatan, dan laporan kaderisasi dai.

Teknik Pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu melalui wawancara yang dilakukan secara mendalam dengan informan kunci, seperti pimpinan pesantren, ustaz, dan santri, untuk menggali informasi tentang strategi kaderisasi dai, mengamati langsung kegiatan pesantren, seperti pelatihan dakwah, pengajaran di kelas, dan praktik khutbah, serta mengkaji dokumen resmi pesantren terkait program kaderisasi, silabus, dan kegiatan ekstrakurikuler. Analisis data yang digunakan adalah model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data yaitu memilih data yang relevan dan menyederhanakannya untuk memudahkan analisis. Penyajian Data dengan menyusun data dalam bentuk narasi deskriptif untuk memahami pola dan hubungan antarfenomena. Serta penarikan Kesimpulan dengan menginterpretasikan temuan penelitian untuk menjawab pertanyaan penelitian dan menyusun kesimpulan. Dengan metode ini, diharapkan penelitian dapat memberikan gambaran yang komprehensif mengenai strategi kaderisasi dai di Pondok Pesantren Al Fatah, Sidoarjo.

Hasil dan Pembahasan

A. Standar Kaderisasi Da’i di Pondok Pesantren Al Fattah

Pondok Pesantren Al-Fatah Sidoarjo merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang berperan penting dalam mencetak generasi muda yang berakhlak mulia dan berilmu pengetahuan. Pesantren ini memadukan sistem pendidikan klasik khas pesantren dengan kurikulum modern sehingga para santri tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga memperoleh pengetahuan umum yang relevan dengan perkembangan zaman. Dengan lingkungan yang religius dan disiplin, Pondok Pesantren Al-Fatah menanamkan nilai-nilai keislaman seperti keikhlasan, kemandirian, dan kebersamaan, yang menjadi bekal utama dalam kehidupan bermasyarakat. Selain kegiatan belajar mengajar, pesantren ini juga mengembangkan berbagai program pengembangan diri, seperti tahfidzul Qur’an, kajian kitab kuning, serta kegiatan ekstrakurikuler yang mendukung keterampilan santri.

Standar kaderisasi da’i di Pondok Pesantren Al-Fattah berangkat dari visi besar pesantren, yakni mencetak santri yang memiliki integritas moral, kecerdasan spiritual, wawasan intelektual, serta kemampuan berdakwah secara profesional. Landasan utama proses kaderisasi ini adalah ajaran Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis, dilengkapi dengan penguasaan kitab kuning yang menjadi rujukan klasik di dunia pesantren. Selain itu, Pondok Pesantren Al-Fattah juga mengintegrasikan metode dakwah kontemporer, sehingga santri tidak hanya terpaku pada pola dakwah tradisional, tetapi juga mampu mengoptimalkan media digital, forum akademik, serta interaksi sosial yang lebih luas. Dengan cara ini, lulusan pesantren diharapkan tidak hanya menjadi “penceramah”, melainkan juga agen perubahan sosial yang dapat memberi solusi bagi problematika umat [16].

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan oleh penulis dengan salah satu pengasuh Pondok Pesanter Al-Fattah yakni ustadz Fauzan LC, bahwa tandar kompetensi yang harus dimiliki seorang da’i lulusan Pondok Pesantren Al-Fattah mencakup beberapa aspek, antara lain:

1. Kompetensi ilmiah, yakni penguasaan ilmu agama yang mendalam, kemampuan memahami dalil naqli maupun aqli, serta keterampilan menjawab persoalan keagamaan secara rasional.

2. Kompetensi spiritual, yaitu kekuatan iman, ketaatan dalam beribadah, dan kedekatan dengan Allah SWT yang tercermin dalam akhlak sehari-hari.

3. Kompetensi sosial, yakni kemampuan berinteraksi dengan masyarakat secara santun, bijaksana, dan mampu menjadi teladan di lingkungannya.

4. Kompetensi komunikasi, yakni seorang dai dituntut untuk bisa menyampaikan suatu pengetahuan agama maupun umum dengan menarik dan sesuai kebutuhan Masyarakat.

5. Kompetensi kepemimpinan, yaitu kemempuan untuk mengatur organisasi, jamaah dan kegiatan keagamaan.

Masyarakat modern menuntut da’i yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Oleh karena itu, standar kaderisasi da’i di Pondok Pesantren Al-Fattah juga menekankan dai untuk menguasai dakwah secara digital. Santri diajarkan bagaimana memanfaatkan media sosial, menulis artikel online, hingga membuat konten dakwah yang menarik di platform digital. Sehingga pesan dakwah akan tersampaikan secara luas tidak hanya dalam lingkup masjid, juga dapat menjangkau generasi muda yang lebih terbiasa dengan dunia digital. Selain itu, pesantren juga mendorong santri untuk memahami isu-isu sosial kontemporer, seperti pendidikan karakter, pemberdayaan ekonomi umat, lingkungan hidup, hingga toleransi beragama. Dengan demikian, lulusan Pondok Pesantren Al-Fattah tidak hanya bisa menyampaikan ajaran agama, akan tetapi menjadi agen perubahan yang relevan dengan kebutuhan Masyarakat [17].

Dari seluruh pembahasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa standar kaderisasi da’i di Pondok Pesantren Al-Fattah dirancang secara sistematis, terukur, dan relevan dengan tuntutan zaman. Dalam kaderisasi di Pondok Pesantren Al-Fattah prosesnya tidak hanya berdasakan ilmu agama semata. Melainkan pembentukan karakter, ketermpilan dalam dakwah, pengalaman langsung, dan penguasaan teknologi dakwah. Dengan standar ini, Pondok Pesantren Al-Fattah berkomitmen melahirkan generasi da’i yang berwawasan luas, berakhlak mulia, profesional dalam berdakwah, serta mampu menjawab tantangan global sekaligus kebutuhan umat di tingkat lokal.

B. Kurikulum Kaderisasi Da’i di Pondok pesantren Al Fattah

Pondok Pesantren Al-Fattah Sidoarjo menempatkan kurikulum kaderisasi da’i sebagai salah satu program inti, mengingat pesantren ini memiliki visi untuk melahirkan generasi muslim yang tidak hanya cakap dalam ilmu pengetahuan agama, tetapi juga mampu berdakwah dengan baik di tengah masyarakat. Kurikulum kaderisasi da’i di Pondok Pesantren Al-Fattah disusun secara sistematis dengan mengintegrasikan pendidikan keagamaan, pelatihan keterampilan dakwah, serta pembentukan karakter islami. Kurikulum ini berjalan dalam jangka panjang dan terintegrasi dengan kehidupan santri sehari-hari sehingga menghasilkan kader matang secara keilmuan, terampil dalam komunikasi, serta memiliki akhlada’i yang k yang dapat diteladani [18].

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan oleh penulis dengan salah satu pengasuh Pondok Pesanter Al-Fattah yakni ustadz Fauzan LC, bahwa secara garis besar kurikulum kaderisasi da’i di Pondok Pesantren Al-Fattah terbagi menjadi tiga pilar utama [18]:

1. Pilar pertama, yaitu penguasaan ilmu agama, merupakan fondasi yang penting sehingga sangat ditekankan. Santri dibekali dengan penguasaan Al-Qur’an melalui Tahsin, tahfidz, dan tafsir, serta pembelajaran hadits, sunnah beserta syarahnya. Selain itu, mereka juga mempelajari ilmu fikih, ushul fikih, akhlak tasawuf, tauhid dan sejarah Islam. Kurikulum keagamaan ini diperkuat dengan pembelajaran kitab kuning karya para ulama klasik, seperti Tafsir Jalalain, Riyadhus Shalihin. Penguasaan kitab kuning menjadi ciri khas pesantren sekaligus memastikan bahwa calon da’i memiliki dasar keilmuan yang kokoh, argumentatif, dan berakar pada tradisi ulama salaf. Dengan demikian, para santri tidak hanya piawai berbicara, tetapi juga mampu memberikan jawaban yang mendalam dan sesuai dalil ketika menghadapi persoalan keagamaan.

2. Pilar kedua dalam kurikulum kaderisasi da’i adalah pelatihan retorika dan komunikasi. Pondok Pesantren Al-Fattah menyadari bahwa kemampuan menyampaikan dakwah dengan bahasa yang baik, jelas, dan menyentuh hati merupakan keterampilan yang harus dimiliki setiap da’i. Oleh karena itu, kurikulum pesantren ini memuat program muhadharah atau latihan pidato secara rutin. Dalam kegiatan ini santri dilatuh untuk membuat teks pidato dan relevan dan sesuai kebutuhan Masyarakat, hingga menyapaikan isi teks tersebut dengan terampil dihadapan audiens. Dalam tampilannnya akan diawasi oleh ustad atau pembimbing untuk memberikan evaluasi. Latihan ini secara bertahap guna untuk membentuk kepercayaan diri santri, mengasah gaya bahasa yang komunikatif, serta melatih keberanian berbicara di depan publik. Selain muhadharah, kurikulum juga mencakup latihan ceramah singkat (tausiyah), khutbah Jumat, hingga diskusi dan debat ilmiah, sehingga para santri terbiasa dalam menghadapi berbagai bentuk komunikasi dakwah.

3. Pilar ketiga yang menjadi inti dari kurikulum kaderisasi da’i di Pondok Pesantren Al-Fattah adalah pembentukan dan penguatan akhlak dan kepribadian. Seorang dai yang akan ditugaskan ditengah Masyarakat akan menjadi teladan dan contoh yang baik dalam segala aspek. Sehingga kecerdasan tidak menjadi acuan utama akan tetapi akhlak dan kepribadian. Oleh karena itu, dalam hal ini focus kurikulum pesantren ini adalah tidak hanya berfokus pada aspek kognitif dan keterampilan, tetapi juga menekankan pada pembinaan spiritual dan moral. Santri dituntut dengan disiplin waktu, beramal dengan keikhlasan, hidup dengan sederhana, serta tanggung jawab dalam melaksanakan tugas. Kondisi pesantren yang Islami mejadi laboraturium pembentuk karakter dengan dibiasakan solat berjamaah, pengajian kitab, hingga kegiatan kebersamaan, menjadi laboratorium pembentukan karakter. Dengan cara ini, kurikulum kaderisasi da’i di Al-Fattah menanamkan nilai-nilai kesabaran, kejujuran ketawadhuan, serta komitmen dalam berdakwah.

Selain tiga pilar utama, Pondok Pesantren Al-Fattah juga memberi penguatan kurikulum tambahan yang mendukung kaderisasi da’i di era modern. Santri diajarkan keterampilan menulis artikel dakwah, Menyusun naskah khutbah serta memanfaatkan teknologi digital sebagai pendukung dakwah. Dalam kurikulum ini, santri diperkenalkan dengan teknologi informasi, cara membuat konten dakwah yang menarik, serta etika berdakwah di media sosial. Hal ini penting mengingat perkembangan zaman yang menuntut da’i untuk mampu menjangkau generasi muda melalui platform digital. Dengan memanfaatkan media modern, pesantren berharap para lulusan mampu menyebarkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin lebih luas, tidak hanya terbatas pada mimbar masjid atau majelis taklim, tetapi juga melalui dunia maya yang kini menjadi ruang dakwah baru [19].

Praktik lapangan juga menjadi bagian tak terpisahkan dari kurikulum kaderisasi da’i di Pondok Pesantren Al-Fattah. Santri yang terpilih memalalui seleksi diberikan kesempatan untuk terjun langsung ke Masyarakat , seperti mengabdi kepada Masyarakat dengan menjadi khotib jumat, mengisi pengajian, atau memberikan cerama didaerah binaan pesantren. Pengalaman nyata langsung diberikan oleh pesantren kepada santri mereka belajar menghadapi masyarakat dengan berbagai latar belakang sosial, budaya, dan tingkat pengetahuan agama. Dengan demikian, santri tidak hanya berteori, tetapi juga berpraktik langsung sehingga memiliki kesiapan mental dan keterampilan komunikasi ketika nantinya terjun sebagai da’i profesional. Praktik lapangan ini juga mengajarkan nilai tanggung jawab sosial bahwa dakwah adalah bagian dari pengabdian kepada umat [19].

Dari keseluruhan kurikulum tersebut, dapat diketahui bahwa Pondok Pesantren Al-Fattah menyusun sistem kaderisasi da’i yang komprehensif dan berkesinambungan. Kurikulum tidak hanya menekankan pada menyalurkan ilmu, tetapi juga perbaikan sikap dan pembentukan karakter. Hal ini sesuai dengan tujuan dan harapan besar pesantren. yaitu menciptakan da’i yang memiliki integritas, keilmuan yang mendalam, kemampuan komunikasi yang baik, serta akhlak mulia. Dengan pola pendidikan seperti ini, Pondok Pesantren Al-Fattah berusaha menjawab tantangan dakwah di era globalisasi yang semakin kompleks, dengan tetap menjaga dan mempertahankan nilai-nilai tradisi Islam yang menjadi dasar berdirinya pesantren.

C. Metode Pengajaran Kaderisasi Dai di Pondok Pesantren Al Fattah

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang memiliki peran fundamental dalam mencetak kader ulama, pendidik, sekaligus da’i yang siap mengabdikan diri di tengah masyarakat. Sebagai lembaga yang berpartisipasi dalam pengembangan dakwah pondok pesantren Al Fattah dituntut untuk mempersiapkan generasi penerus sebagai sarana pengembangan dakwah. Tentunya lembaga mempersiapkan penuh kebutuhan seorang mubaligh sebagai penerus, dengan menekankan dasar rahmatanlilalamin yang memiliki konsep keseluruhan. Pondok pesantren Al Fattah memberi pemahaman dalam setiap ilmu agama didasari dengan Al Quran dan hadits, agar selalu melekat didalam pengajaran ilmu agama kemurnian agama islam.

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan oleh penulis dengan salah satu pengasuh Pondok Pesanter Al-Fattah yakni ustadz Fauzan LC, sebagai lembaga yang serius mempersiapkan generasinya Pondok pesantren Al Fattah melakukan pendekatan dalam metode pengajaran dai antara lain:

1. Ngaji bodongan, merupakan metode pengajaran khas pesantren, dalam metode ini seorang kiyai memimpin kajian dengan santri melingkari kiai, kiyai membacakan kitab yang diajarkan dalam bahasa arab kemudian diartikan dan dijelaskan maknanya dalam bahasa jawa maupun bahasa indonesia kemudia para santri menyimak dengan mencatat apa yang disapaikan kiyai. Dalam proses bandongan, santri lebih banyak berperan sebagai pendengar aktif, sehingga sifatnya kolektif dan terpusat pada penjelasan guru. Metode ini sangat efektif untuk mentransfer ilmu secara massal, terutama dalam mempelajari teks-teks klasik Islam yang membutuhkan penjelasan rinci tentang makna bahasa dan konteks hukum. Melalui ngaji bandongan, santri mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai isi kitab sekaligus menjaga kesinambungan tradisi keilmuan Islam dari guru kepada murid [20]. Dilembaga pondok pesantren Al Fattah sudah menjadi kebutuhan yaitu menanamkan pemahaman agama secara mendasar dan keseluruhan. Sesuai dengan arahan kepala pondok pesantren Al Fattah Santri dituntun untuk menimba ilmu untuk kebutuhan dakwah dan peyempurna tugas nabi Muhammad yaitu umat terbaik.

2. Sorogan, adalah salah satu metode tradisional dalam pendidikan pesantren di Indonesia, di mana santri membaca kitab di hadapan kiai atau ustadz secara individual (atau dalam kelompok kecil), kemudian ustad memberikan penjelasan langsung terhadap bacaan dan pemahaman santri. membetulkan, menjelaskan, atau memberi komentar langsung terhadap bacaan dan pemahaman. Sorogan memungkinkan pembelajaran yang lebih personal dan intensi. Sistem sorogan ini memiliki tujuan: melatih keterampilan santri dalam mambaca kitab, menumbuhkan pemahaman secara lebih, melatih tanggung jawab, setra dapat mempererat hubungan kyai dan santri. Dengan sistem ini santri pondok pesantren Al Fattah terpacu untuk senantiasa tidak tertinggal pembelajaran sehingga muncul rasa tanggung jawab dan kebutuhan dirinya yang akan didedikasikan sebagai mubaligh [21].

3. Muhadhoroh, adalah kegiatan latihan berbicara dan menyampaikan argument di depan umum (public speaking) yang dilakukan oleh para santri, biasanya dalam bentuk ceramah atau pidato yang bertema keagamaan. Kata muhadhoroh berasal dari bahasa Arab "محاضرة" yang berarti “ceramah” atau “kuliah”.Kegiatan ini menjadi media pelatihan retorika, keberanian, dan penguasaan materi keagamaan, yang sangat penting untuk membentuk santri menjadi calon dai, muballigh, atau pemimpin umat [22]. Setiap tiga kali per pekan santri pondok pesantren Al Fattah harus siap untuk berbicara didepan umum. Dengan menyiapkan teks tentang keagamaan kemudian disampaikan kepada temannya para santri yang lain, dan akan di evaluasi oleh ustad ketepatan argumen yang ia sampaikan

4. Munadhoroh (dalam bahasa Arab: مناظرة), adalah kegiatan debat ilmiah yang dilakukan oleh para santri dalam lingkungan pesantren. Kata munadhoroh berarti “perdebatan” atau “diskusi terbuka” yang bersifat argumentatif dan ilmiah, biasanya mengenai topik-topik agama, sosial, atau keilmuan lainnya. Bertujuan mengasah kemampuan berfikir lebih luas, kritis dan logis, melatih keterampilan etika dalam berargumen, memperkuat pendalam materi keislaman, persiapan santri menjadi seorang yang intelektual dan pemimpin masa depan [23]. Sesuai yang disampaikan kepala pondok pesantren Al Fattah, bahwasanya munadhoroh mendidik santri untuk lebih kritis dalam menyikapi pendapat yang disampaikan orang lain muncul rasa keperdulian tinggi terhadap apa yang disampaikan temannya. Setiap sepekan sekali santri menyiapkan power point untuk dipresentasikan didepan santri yang lain dan akan diberi masukan, sanggahan, serta saran untuk penyempurna argumen yang disampaikan.

D. Tuntutan Masyarakat Terhadap Kaderisasi Da’i di Pondok pesantren Al Fattah

Tuntutan masyarakat terhadap sosok seorang da’i pada masa kini sangat beragam dan kompleks seiring dengan perkembangan zaman, perubahan pola pikir, serta dinamika sosial yang terus bergerak. Masyarakat tidak lagi hanya menginginkan da’i yang pandai berbicara di mimbar, tetapi juga sosok yang mampu memberikan solusi nyata atas berbagai persoalan kehidupan [24]. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan oleh penulis dengan salah satu pengasuh Pondok Pesanter Al-Fattah yakni ustadz Fauzan LC, bahwa terdapat beberapa tuntutan utama masyarakat terhadap seorang da’i yang bisa dimasukkan dalam pembahasan kaderisasi da’i di pesantren, diantaranya:

1. Tuntutan akan kedalaman ilmu agama

Masyarakat menghendaki seorang da’i yang mampu menjelaskan ajaran Islam secara benar, mendalam, dan berdasarkan dalil yang kuat. Hal ini penting agar dakwah tidak hanya sebatas retorika yang indah, tetapi juga memberikan pemahaman yang benar sesuai dengan Al-Qur’an dan sunnah.

2. Tuntutan akan kemampuan komunikasi yang baik

Da’i diharapkan mampu menyampaikan pesan dakwah dengan bahasa yang jelas, mudah dipahami, dan sesuai dengan tingkat pemahaman jamaah. Retorika yang menarik, gaya bicara yang santun, dan sikap yang ramah menjadi modal penting agar dakwah dapat diterima dengan baik oleh masyarakat.

3. Tuntutan relevansi materi dakwah dengan kebutuhan umat

Masyarakat ingin mendengar ceramah yang tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga menyentuh persoalan sosial, ekonomi, pendidikan, lingkungan, hingga perkembangan teknologi. Da’i dituntut untuk mampu mengaitkan ajaran Islam dengan realitas kehidupan sehari-hari, sehingga dakwah terasa hidup dan bermanfaat.

4. Tuntutan akan keteladanan akhlak

Da’i tidak hanya dituntut berbicara tentang kebaikan, tetapi juga harus mampu mencontohkan nilai-nilai Islam dalam kehidupannya. Kejujuran, keikhlasan, kesederhanaan, serta kepedulian sosial menjadi nilai penting yang dicari masyarakat dari seorang da’i. Dengan akhlak yang baik, da’i akan lebih dihormati dan dakwahnya lebih mudah diterima.

5. Tuntutan penguasaan media dakwah modern

Di era digital, masyarakat mengharapkan da’i yang mampu hadir di ruang-ruang virtual seperti media sosial, podcast, atau kanal YouTube. Hal ini penting karena sebagian besar generasi muda lebih banyak mengakses dakwah melalui platform digital daripada pengajian konvensional.

E. Pembinaan Akhlak Kaderisasi Da’i di Pondok pesantren Al Fattah

Akhlak merupakan aspek yang paling mendasar dalam kehidupan seorang muslim, terlebih bagi mereka yang berperan sebagai da’i. Seorang da’i bukan hanya berfungsi sebagai penyampai ajaran Islam melalui kata-kata, melainkan juga sebagai teladan yang perilaku dan akhlaknya mencerminkan nilai-nilai Islam. Karena itu, pembinaan akhlak menjadi bagian yang sangat penting dalam proses kaderisasi da’i. Pondok Pesantren Al-Fattah memahami betul bahwa ilmu dan retorika dakwah tidak akan bermakna tanpa dilandasi akhlak yang baik. Oleh sebab itu, pesantren menempatkan pembinaan akhlak sebagai salah satu pilar utama dalam proses kaderisasi da’i, di samping pembinaan keilmuan, keterampilan dakwah, dan kepemimpinan [25].

Pembinaan akhlak di Pondok Pesantren Al-Fattah dilakukan dengan pendekatan holistik, yaitu tidak hanya berfokus pada aturan formal, tetapi juga pada pembiasaan, keteladanan, serta pendalaman nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sejalan dengan prinsip dasar pendidikan pesantren, di mana akhlak yang mulia lebih diutamakan dibandingan kecerdasan itelektual. Para santri yang didik dalam kaderisasi ini dibentuk untuk memiliki karakter yang tawadhu, sabar, ikhlas, disiplin, serta bertanggung jawab. Semua itu dilakukan agar ketika mereka ditugaskan di tengah masyarakat, mereka tidak hanya menyampaikan dakwah melalui lisan, tetapi juga kehidupan dengan diwarnai sikap dan hidup yang terarah.

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan oleh penulis dengan salah satu pengasuh Pondok Pesanter Al-Fattah yakni ustadz Fauzan LC , pembinaan akhlak kaderisasi da’i di Pondok Pesantren Al Fattah, antara lain:

1. Pembinaan akhlak dilakukan melalui pendidikan ibadah dan kedisiplinan spiritual

Pondok Pesantren Al-Fattah menerapkan aturan mengenai pelaksanaan ibadah wajib, seperti shalat berjamaah lima waktu, tadarus Al-Qur’an, serta amalan dzikir harian. Santri dituntut untuk terbiasa menjaga kedisiplinan waktu shalat, bangun sepertiga malam untuk tahajjud, serta membiasakan ibadah sunnah. Pembiasaan ini tidak hanya bertujuan melatih ketaatan kepada Allah SWT, tetapi juga memunculkan sikap yang disiplin dalam mengemban Amanah menjalankan tugas dakwah kelak. Dengan ibadah yang tertib, diharapkan lahir pribadi da’i yang memiliki kedekatan spiritual yang kuat kepada Allah sekaligus konsisten dalam menjalankan ajaran-Nya.

2. 3Pembinaan akhlak dilakukan melalui keteladanan guru (kiai dan ustadz)

Dalam tradisi pesantren, figur kiai tidak hanya berfungsi sebagai pengajar ilmu, tetapi juga sebagai model akhlak bagi santrinya. Apa yang dilakukan, diucapkan, dan ditunjukkan oleh kiai sehari-hari akan menjadi panutan yang ditiru oleh santri. Di Pondok Pesantren Al-Fattah, para kiai menanamkan nilai-nilai kesederhanaan, keikhlasan, dan kesabaran dalam menjalankan aktivitas dakwah dan pendidikan. Santri didorong untuk meneladani akhlak guru mereka, baik dalam hal kesungguhan mencari ilmu, kesabaran dalam menghadapi masalah, maupun keteguhan dalam berpegang pada prinsip Islam. Keteladanan ini menjadi faktor penting yang membuat pembinaan akhlak tidak bersifat teoritis semata, melainkan hadir dalam bentuk nyata yang bisa langsung diamati santri.

3. Pembinaan akhlak juga ditanamkan melalui aturan dan tata tertib pesantren

Santri dibiasakan untuk hidup dalam aturan yang terukur, seperti menjaga kebersihan, berpakaian sopan, berbicara dengan santun, serta menghormati guru dan sesama santri. Aturan ini tidak hanya sekadar formalitas, tetapi juga dimaksudkan untuk menumbuhkan kebiasaan hidup yang teratur dan beradab. Misalnya, santri yang melanggar aturan akan diberikan nasihat atau hukuman mendidik, bukan untuk mempermalukan, tetapi untuk melatih tanggung jawab. Dengan demikian, tata tertib menjadi sarana pembinaan akhlak yang efektif, karena membentuk kesadaran bahwa setiap perilaku memiliki konsekuensi.

4. Pembinaan akhlak kaderisasi da’i dilakukan melalui kegiatan sosial dan kebersamaan antar-santri

Santri dididik untuk hidup secara bersama-sama, gotong royong, saling membantu, berbaur dalam kehidupan. Kegiatan seperti kerja bakti, musyawarah, atau pengabdian masyarakat menjadi sarana untuk melatih kepedulian sosial dan kerendahan hati. Dalam interaksi sehari-hari, santri diajarkan untuk mengendalikan emosi, menghindari konflik, serta menjunjung tinggi ukhuwah Islamiyah. Hal ini penting karena santri dituntut untuk menciptakan lingkungan yang humoris dilingkungan Masyarakat. Dengan berbekal pengalaman kebersamaan di pesantren, santri terbiasa menghargai perbedaan dan menempatkan persaudaraan di atas kepentingan pribadi.

5. Pembinaan akhlak juga menyentuh aspek pembiasaan amar ma’ruf nahi munkar dalam lingkup pesantren

Santri didorong untuk saling menasihati dalam kebaikan, mengingatkan teman yang lalai, serta menegur dengan cara baik apabila ada yang berbuat salah. Budaya saling menasihati ini menjadikan suasana pesantren sebagai lingkungan pendidikan akhlak yang aktif, bukan hanya pasif. Dengan cara ini, santri belajar untuk berani menyampaikan kebenaran sekaligus melatih diri agar mau menerima kritik dengan lapang dada. Sikap ini sangat penting untuk membentuk mental seorang da’i, karena kelak di masyarakat mereka akan menghadapi berbagai kritik dan tantangan yang harus dijawab dengan akhlak mulia.

Selain itu, Pondok Pesantren Al-Fattah juga menanamkan nilai kesederhanaan sebagai bagian penting dari akhlak seorang da’i. Kehidupan di pesantren mengajarkan santri untuk hidup sederhana, tidak berlebihan dalam hal makan, berpakaian, maupun gaya hidup. Kesederhanaan ini menjadi modal penting dalam berdakwah, karena masyarakat lebih mudah menerima da’i yang rendah hati dan tidak hidup bermewah-mewahan. Kesederhanaan juga melatih santri untuk bersyukur dan tidak mudah terjebak dalam sikap sombong. Dari seluruh proses pembinaan akhlak tersebut, jelas bahwa Pondok Pesantren Al-Fattah menekankan bahwa akhlak bukanlah aspek tambahan, melainkan inti dari kaderisasi da’i. Seorang da’i yang berilmu tinggi sekalipun tidak akan mampu diterima masyarakat apabila tidak memiliki akhlak yang baik. Sebaliknya, seorang da’i dengan akhlak mulia akan lebih mudah menyentuh hati masyarakat meskipun ilmu dan retorikanya sederhana. Oleh karena itu, pembinaan akhlak di pesantren ini diarahkan untuk membentuk pribadi santri yang berilmu, beramal, dan berakhlak mulia, sehingga siap menjadi teladan di tengah masyarakat.

F. Pembekalan Kemandirian Kaderisasi Da’i di Pondok Pesantren Al Fattah

Kemandirian merupakan salah satu aspek penting dalam membentuk pribadi seorang da’i yang tangguh, percaya diri, dan mampu menghadapi berbagai tantangan di tengah masyarakat. Pondok Pesantren Al-Fattah memahami bahwa kaderisasi da’i tidak hanya terbatas pada penguasaan ilmu agama dan kemampuan retorika, tetapi juga mencakup pembentukan sikap mandiri agar santri dapat menjalankan tugas dakwah tanpa bergantung sepenuhnya pada orang lain. Kemandirian ini meliputi berbagai aspek, mulai dari kemandirian spiritual, intelektual, sosial, hingga ekonomi. Dengan bekal kemandirian tersebut, lulusan kaderisasi da’i diharapkan mampu menjadi pribadi yang siap berdiri sendiri dan mengabdikan dirinya untuk kepentingan umat [26].

Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan oleh penulis dengan salah satu pengasuh Pondok Pesanter Al-Fattah yakni ustadz Fauzan LC, pembekalan kemandirian kaderisasi da’i di Pondok Pesantren Al Fattah, antara lain:

1. Pembekalan kemandirian di Pondok Pesantren Al-Fattah dilakukan melalui pembiasaan disiplin dan tanggung jawab santri itu sendiri. Santri dilatih harus terbiasa mengatur waktu antara beribadah, belajar, bekerja, dan beristirahat tanpa bergantung pada pengawasan guru. Kehidupan di pesantren dengan jadwal yang padat menuntut santri untuk mampu mengatur dirinya dengan baik. Mereka harus terbiasa bangun sebelum subuh untuk shalat tahajud, mengikuti kajian kitab, hingga melaksanakan tugas-tugas kebersihan lingkungan. Pembiasaan ini melahirkan karakter mandiri yangmemiliki semangat juang tinggi tidak mudah menyerah, serta memiliki tanggung jawab tinggi terhadap kewajiban yang diamanahkan. Kebiasaan seorang dai disiplin sejak dipesantren akan lebih mudah mengatur kehidupannya ketika sudah berada di tengah masyarakat.

2. Pondok Pesantren Al-Fattah dalam kaderisasi dai agar mendorong daya kritis dan kerativitas lembaga membekali kemandirian kader da’i melalui pendidikan intelektual. Para santri juga diajak untuk memahami konteks, menganalisis masalah, serta merumuskan Solusi, dengan demikian santri tidak hanya berfokus untuk menghafal mendalami kitab. Dalam proses kaderisasi, santri dididik tidak hanya berdasar pada satu sumber pengetahuan saja, santri diberi kesempatan untuk berdiskusi, berdebat secara sehat, serta menyampaikan pendapat di depan forum. Hal ini mengajarkan mereka untuk berpikir kritis, dan berani berargumen. Kemampuan intelektual yang mandiri ini sangat penting agar seorang da’i mampu merespons berbagai persoalan umat secara tepat, serta tidak terjebak dalam pola pikir dogmatis yang kaku.

3. Pembekalan kemandirian juga diwujudkan melalui kegiatan sosial dan pengabdian masyarakat. Kegiatan ini memberikan pengalaman nyata bagi santri untuk berinteraksi dengan masyarakat, belajar memahami karakter jamaah, serta tumbuh keberanian berdakwah tanpa bergantung pada bimbingan langsung dari kiai. Pondok Pesantren Al-Fattah sering mengirim santri yang terpilih melalui seleksi untuk berdakwah bertemu langsung dengan masyarakat, baik dalam bentuk khutbah Jumat, ceramah harian, pengajian rutin, maupun program bakti sosial, serta tumbuh keberanian berdakwah tanpa bergantung pada bimbingan langsung dari kiai. Melalui praktik lapangan ini, santri belajar langsung menghadapi berbagai tantangan di Masyarakat, seperti berhadapan dengan audiens, merespons dan menjawab pertanyaan kritis, hingga mengelola konflik sosial dengan bijak. Pengalaman tersebut membentuk jiwa yang kuat dan kemandirian sekaligus kesiapan mental untuk menjadi da’i yang profesional.

4. Kemandirian kaderisasi da’i di pesantren ini juga ditanamkan melalui pelatihan keterampilan hidup (life skills). Pondok Pesantren Al-Fattah menekankan bahwa seorang dai tidak boleh mencari sumber kehidupan dari ceramah, melainkan harus memiliki kemampuan untuk menopang prekonomiannya dengan baik. Oleh karena itu, santri dibekali dengan berbagai keterampilan, seperti pertanian, kewirausahaan, kerajinan, atau bahkan teknologi informasi sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan keterampilan tersebut, santri dapat mandiri secara ekonomi, sehingga dakwah yang mereka lakukan benar-benar didasari niat ikhlas, bukan sekadar mencari nafkah. Kemandirian ekonomi ini penting agar seorang da’i tidak mudah dipengaruhi oleh kepentingan pihak tertentu yang bisa merusak integritas dakwahnya.

5. Aspek kemandirian spiritual juga menjadi perhatian penting dalam pembekalan kaderisasi da’i. santri dididik untuk membangun hubungan yang kuat dan baik dengan Alloh SWT melalui menekankan untuk memperbaiki ibadah-ibadah sunnah, dzikir dan doa mereka mereka diajarkan hanya kepada Alloh meminta pertolongan dan kekuatan dalam berdakwah tanpa mengharapkan pujian dan dukungan dari manusia lain , sehingga meraka yakin dengan kekuatan Alloh mereka dapat melaksanakan dan mengemban tugas dakwah dengan baik.. Ia tidak mudah goyah karena tekanan eksternal, sebab ia memiliki pondasi iman yang kokoh. Dengan demikian, pembinaan spiritual menjadi fondasi penting bagi terbentuknya kemandirian sejati seorang da’i.

Selain itu, Pondok Pesantren Al-Fattah juga menuntut santrinya untuk hidup hemat dan sederhana. Kehidupan di pesantren yang serba terbatas melatih santri untuk tidak bergantung pada kemewahan, melainkan mensyukuri apa yang ada. Kesederhanaan ini melatih kemadirian dalam hidup, sehingga santri terbiasa hidup apa adanya. Ketika kelak menjadi da’i, mereka tidak gampang terlena dengan kehidupan duniawi, karena dididik hidup susah.. Kesederhanaan juga membuat mereka lebih dekat dengan masyarakat bawah yang seringkali menjadi objek utama dakwah. Pembekalan kemandirian di Pondok Pesantren Al-Fattah juga menyentuh aspek kepemimpinan. Santri diberi kesempatan untuk memimpin organisasi internal pesantren, seperti OSIS pesantren, majelis taklim, atau unit kegiatan santri. Dengan cara ini, mereka belajar mengelola kelompok, mengambil keputusan, serta bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan. Kepemimpinan yang dilandasi kemandirian akan membentuk da’i yang berani tampil di depan, tetapi tetap rendah hati dalam menjalankan peran sosialnya [27].

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembekalan kemandirian kaderisasi da’i di Pondok Pesantren Al-Fattah dilakukan secara menyeluruh, mencakup aspek disiplin pribadi, kemandirian intelektual, pengalaman sosial, keterampilan hidup, kemandirian spiritual, kesederhanaan hidup, dan kepemimpinan. Seluruh aspek tersebut terintegrasi dalam kehidupan santri sehari-hari, sehingga kemandirian bukan hanya sekadar teori, melainkan benar-benar menjadi bagian dari karakter. Dengan bekal kemandirian yang kuat, lulusan Pondok Pesantren Al-Fattah diharapkan mampu menjalankan peran sebagai da’i yang tidak hanya berilmu dan berakhlak mulia, tetapi juga mandiri, tangguh, dan siap menghadapi dinamika kehidupan masyarakat.

G. Penerapan Strategi Kaderisasi Da’i Di Pondok Pesantren Al Fattah

Strategi kaderisasi di Pondok Pesantren Al-Fattah diterapkan melalui pendekatan sistematis yang menggabungkan pendidikan formal, pembinaan nonformal, serta pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Strategi ini menekankan pada penguasaan ilmu, keterampilan komunikasi, pembentukan akhlak, hingga kesiapan menghadapi tantangan dakwah di era modern [14]. Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan oleh penulis dengan salah satu pengasuh Pondok Pesanter Al-Fattah yakni ustadz Fauzan LC, penerapan strategi kaderisasi da’i yang di terapkan di pondok pesantren al fattah antara lain:

1. Integrasi Kurikulum Formal dan Nonformal

Integrasi kurikulum di Pondok Pesantren Al-Fattah dilakukan melalui pendekatan komplementer, yaitu lembaga menjadikan kurikulum formal sebagai dasar keilmuan, dan kurikulum nonformal sebagai penguatan praktik dan karakter. Model integrasi ini memiliki beberapa karakteristik yang pertama Sinergis, yaitu menjadikan Kegiatan formal dan nonformal saling mendukung, tidak berjalan terpisah. Yang kedua Berorientasi pada output, yaitu Focus pada hasil dengan harapan terbentuknya dai yang kompeten mencakup keilmuan, sosial, dan berakhlak. Dan yang ketiga Bertahap dan Berkelanjutan Kaderisasi dilakukan secara bertahap mulai dari kelas dasar (pertama) hingga tingkat akhir, serta dilanjutkan melalui program alumni [28]. Pondok Pesantren Al-Fattah mengintegrasikan pelajaran formal seperti fiqih, hadits, tafsir, ushul fiqih, dan ilmu dakwah dengan kegiatan nonformal seperti pelatihan public speaking dan praktik dakwah. Kurikulum ini tidak hanya focus dalam ilmu pengetahuan ataupun ilmu keagamaan, akan tetapi dipadukan dengan praktek dan hubungan sosial dengan santri yang lain, sehingga santri dituntut untuk memadukan keduanya.

2. Praktik lapangan dan pengabdian masyarakat

Pondok Pesantren Al-Fattah menerapkan strategi kaderisasi dengan cara menugaskan santri senior untuk terjun langsung ke masyarakat. Mereka diberi kesempatan menjadi khatib Jumat di masjid sekitar, mengisi pengajian di musholla, atau memberikan ceramah dalam kegiatan sosial-keagamaan di desa-desa. Strategi ini penting karena santri tidak hanya belajar dalam ruang lingkup pesantren, tetapi juga menghadapi kondisi riil di masyarakat dengan segala tantangan dan kompleksitasnya. Melalui pengalaman lapangan ini, santri akan terbiasa menghadapi jamaah dengan latar belakang sosial yang berbeda, serta mampu menyesuaikan metode dakwah sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

3. Pembinaan Akhlak dan Keteladanan

Strategi paling penting dan mendasar dalam proses kaderisasi adalah pembinaan akhlak. Seorang santri ditanamkan didalam jiwa seorang santri adalah ketawaduan yang mencakup akhlak mulia dan keteladanan. Mendapatkan pengajaran dari ustad dan pendalaman kitab-kitab tasawuf menjadikan bekal penting bagi seorang dai, para ustad juga menjadi figure yang dicontoh dan teladan bagi semua santri. Penguatan akhlak dan keteladanan di Pondok Pesantren Al Fattah menjadi pondasi utama dalam membentuk karakter santri yang berilmu dan berakhlakul karimah. Melalui pembiasaan adab sehari-hari, seperti menghormati guru, saling menghargai antar sesama, serta menjaga kebersihan dan kedisiplinan, para santri dididik untuk menerapkan nilai keislaman dalam kehiduypan sehari-har dengan nyata. Para kiyai dan ustad tidak hanya mengajarkan ilmu dengan lisan tapi dengan memberikan contoh nyata keteladanan. sehingga menjadi teladan yang hidup bagi para santri. Dengan pendekatan ini, Pondok Pesantren Al Fattah tidak hanya mencetak generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial [29].

4. 5Pendekatan Personal dan Kolektif

Program kaderisasi dilakukan tidak hanya secara keseluruhan, tetapi juga personal. Santri yang memiliki kelebihan dari pada santri yang lain dalam bidang ceramah, imam dan lainnya dibina secara intens oleh para ustad pembimbing melalui pendekatan monitoring dan musyawarah dakwah. Pendekatan ini dapat memastikan kaderisasi berjalan sesuai minat, bakat, dan kapasitas santri. Program ini juga menjadi peyemangat para santri dengan adanya pendekat langsung dari ustad tumbuh rasa yakin dan percaya diri, menghilangkan rasa malu dan grogi saat bertemu dengan Masyarakat.

5. Monitoring Penguatan Alumni dan Jamaah

Sebagai bentuk kesinambungan program kaderisasi dai pondok pesantren Al Fattah juga melibatkan para alumni dan jamaah untuk suksesnya program kaderisasi antara lain mengadakan forum komunikasi ikatan alumni, memberi kesempatan alumni dan jamaah untuk membimbing langsung santri dipondok, melibatkan alumni dalam kegiatan dakwah dan kaderisasi. Program ini dibentuk guna untuk melidungi para santri Ketika terjun langsung ditengah-tengah Masyarakat, jika pondok langsung memiliki ikatan alumni dan jamaah maka dukungan penuh dari Masyarakat juga akan tercipta.

6. Penguatan Soft Skill dan Media Dakwah Digital

Pondok Pesantren Al-Fattah memberi kesaempatan kepada santri untuk memanfaatkan media digital sebagai sarana dakwah. Strategi ini diterapkan dengan membekaali santri keterampilan menulis artikel dan naskah dakwah, membuat video ceramah hingga menggunakan media sosial untuk menyebarkan nilai-nilai Islam. Dengan strategi ini, para da’i lulusan Al-Fattah diharapkan mampu menjangkau generasi muda yang lebih akrab dengan dunia digital. Kehadiran dakwah di ruang virtual menjadi penting agar pesan-pesan keislaman gampang menyerbar luas dan relevan mengikuti perkembangan zaman,

7. Pelatihan Rutin dan Evaluasi Berkala

Pondok Al-Fattah juga mengadakan kegiatan secara rutin pelatihan persiapan dai mulai pelatihan khutbah. kepemimpinan, dan workshop dakwah kontemporer. Pelatihan rutin dan evaluasi sangatlah penting bagi santri dengan langusng memperaktekkan didepan pembimbing dan mendapatkan evaluasi untuk meningkatkan kemampuan. Evaluasi mencakup ujian retorika keterampilan ceramah, penilaian adab dan akhlak dai, serta kemampuan berpendapat dan menjawab didepan audien (simulasi berdakwah) [30].

Secara keseluruhan, penerapan strategi kaderisasi da’i di Pondok Pesantren Al-Fattah merupakan kombinasi antara penguasaan ilmu agama, keterampilan dalam dakwah, pembiasaan akhlak, praktik langsung, serta memanfaatkan media modern. Strategi yang menyeluruh ini membentuk pola kaderisasi yang tidak hanya menyiapkan santri menjadi penceramah, tetapi juga menjadi pemimpin umat yang berwawasan luas, berakhlak mulia, dan responsif terhadap tantangan zaman. Dengan strategi ini, Pondok Pesantren Al-Fattah berupaya memastikan bahwa da’i yang lahir dari pesantren tersebut mampu membawa misi Islam rahmatan lil ‘alamin, memberikan pencerahan, dan menjadi solusi atas berbagai persoalan masyarakat.

H. Evaluasi Monitoring Kaderisasi Da’i Di Pondok Pesantren Al Fattah

Monitoring terhadap kaderisasi da’i di Pondok Pesantren Al Fattah merupakan salah satu upaya untuk memastikan bahwa proses pembinaan dan pengembangan kader berjalan sesuai dengan visi, misi, serta tujuan pesantren. Evaluasi ini dilakukan untuk menilai sejauh mana program kaderisasi telah mencapai sasaran yang diharapkan, sekaligus menemukan hambatan yang masih perlu diperbaiki. Adapun evaluasi monitorning kaderisasi da’i yang dilakukan di Pondok Pesantren Al Fattah, antara lain:

1. Pertama, dari segi perencanaan program

Pondok Pesantren Al Fattah telah memiliki kurikulum kaderisasi yang memadukan pendidikan agama, retorika dakwah, kepemimpinan, serta pemahaman sosial keagamaan. Hal ini menjadi dasar yang kuat untuk mencetak kader da’i yang tidak hanya menguasai ilmu syar’i, tetapi juga mampu berkomunikasi dengan masyarakat luas. Namun, evaluasi menunjukkan bahwa kurikulum belum sepenuhnya terintegrasi dengan kebutuhan masyarakat kontemporer, misalnya terkait dakwah digital atau isu-isu aktual keumatan.

2. Kedua, dalam aspek pelaksanaan monitoring

Pihak pesantren secara rutin melakukan evaluasi melalui kegiatan praktik dakwah, simulasi khutbah, serta pengiriman santri untuk berdakwah di masyarakat sekitar. Mekanisme ini memberikan pengalaman langsung bagi calon da’i. Meski demikian, monitoring masih cenderung bersifat formalitas dan belum maksimal dalam memberikan feedback individual yang detail. Akibatnya, perkembangan kemampuan personal setiap kader belum terukur secara komprehensif.

3. Ketiga, dari sisi sumber daya manusia (SDM)

Keberadaan para ustaz dan pembina menjadi faktor penting dalam pembinaan kaderisasi. Mereka berperan sebagai mentor, pengawas, sekaligus role model bagi para santri. Namun, terdapat kendala pada keterbatasan jumlah pembina yang memiliki kompetensi khusus dalam bidang dakwah modern, seperti komunikasi massa, manajemen organisasi dakwah, maupun literasi media.

4. Keempat, dalam aspek output kaderisasi

Dapat dilihat bahwa sebagian besar alumni Pondok Pesantren Al Fattah berhasil menjadi da’i di masyarakat, baik melalui masjid, majelis taklim, maupun lembaga dakwah lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa proses kaderisasi cukup efektif dalam melahirkan tenaga dakwah. Meski demikian, ada sebagian kader yang kurang konsisten dalam mengembangkan diri setelah keluar dari pesantren, yang menandakan perlunya sistem monitoring lanjutan berbasis alumni.

5. Kelima, dalam aspek pengendalian dan tindak lanjut

Pesantren sudah mulai mengembangkan sistem evaluasi berkala dengan format laporan, ujian praktik, dan penilaian dari masyarakat. Akan tetapi, mekanisme evaluasi ini masih terbatas pada penilaian internal, sehingga kurang adanya msukan dari pihak luar perlu adanya kerjasam dengan lembaga atau organisasi dakwah agar mendapatkan evaluasi yang jelas dan menyeluruh.

Monitoring kaderisasi da’i di Pondok Pesantren Al Fattah telah berjalan cukup baik, terbukti dengan adanya kurikulum khusus, praktik dakwah, serta keterlibatan para pembina. Namun, masih ada kekurangan, yaitu terbatasan kurikulum pada isu kontemporer, kurangnya feedback personal, masih kurang SDM dalam bidang dakwah digital, serta lemahnya sistem monitoring pasca-alumni. Dengan perbaikan di bidang-bidang tersebut, diharapkan Pondok Pesantren Al Fattah dapat melahirkan kader da’i yang siap menghadapi tantangan dakwah di era digital.

Simpulan

Hasil dari analisis penelitian , dapat diambil Kesimpulan bahwasanya Pondok Pesantren Al Fattah dalam strateginya untuk mengkader seorang dai dilaksanakan secara global, sitematis dan berkesinambungan. Kaderisasi dalam lembaga tidak hanya menekankan Ilmu keagamanaan sepertihanya kajian kitab, Al Quran, dan Hadits, akan tetapi proses berinteraksi dengan Masyarakat juga ditekankan sepertihanya keterampilan retorika, penguasaan media dakwah modern, serta pembentukan akhlak dan kemandirian santri. Kaderisasi di Pondok Pesantren Al Fattah juga dikuatkan Kurikulum kaderisasi terdiri dari tiga pilar utama, yaitu pendalaman ilmu keagamaan, pelatihan komunikasi publik melalui khutbah muhadharah, dan munadharah, serta pembinaan akhlak dan karakter. Selain itu Mengintegrasikan Pendidikan formal dan non formal juga menjadi acuan dalam system kaderisasi, dengan praktik langusng betemu dengan masyarakat, sehingga santri terbiasa menghadapi tantangan dan kondisi nyata ditengah Masyarakat. Strategi ini diperkuat dengan keteladanan guru, pembinaan disiplin spiritual, penanaman nilai kesederhanaan, serta kepemimpinan dan kemandirian hidup. Dengan keseluruhan strategi tersebut, dapat menjadi acuan keberhasilan lembaga mencetak dai yang memiliki keilmuam mendalam, keterampilan dalam menyampaikan, berakhlakul karimah, jiwa kemandirian, serta kesiapan berdakwah di era global. Mengharapkan Lulusan kaderisasi ini mampu menjadi agen perubahan sosial, membawa misi Islam rahmatan lil ‘alamin, serta menjawab tantangan dakwah di tengah masyarakat modern.

References

E. M. Abdillah, “Analysis of Da’wah as a Tool of Social Transformation: Communication Challenges and Strategies in Modern Society,” Journal of Communication and Media, vol. 4, no. 1, pp. 16–32, 2024.

K. Abdul Aziz, E. J. Sastradiharja, and A. Tasbih, “Qur’an-Based Environmental Education in Fostering Healthy Living Culture in Islamic Boarding Schools,” Tadbir Muwahhid, vol. 8, no. 1, pp. 16–29, 2024, doi: 10.30997/jtm.v8i1.11626.

Istikomah, R. Adawiyah, and S. Bahri, “Constructive Responses to Institutional Problems of Islamic Education in Indonesia,” Tadbir Muwahhid, vol. 8, no. 1, pp. 103–121, 2024, doi: 10.30997/jtm.v8i1.8614.

I. Mujahidin, “The Role of Islamic Boarding Schools as Da’wah Development Institutions,” Syiar: Journal of Islamic Communication and Broadcasting, vol. 1, no. 1, pp. 31–44, 2021, doi: 10.54150/syiar.v1i1.33.

A. Azizah, H. Mukmin, and B. Budiwiranto, “Da’wah Patterns Among Santri and Islamic Boarding Schools,” Cakrawala Ilmiah Journal, vol. 1, no. 11, pp. 3003–3012, 2022, doi: 10.53625/jcijurnalcakrawalailmiah.v1i11.2892.

A. Setiawan, “Da’wah Strategies of Hidayatullah Islamic Boarding School in Forming Morally Upright Santri,” Alhadharah: Journal of Da’wah Studies, vol. 20, no. 1, pp. 81–94, 2021.

M. P. I. La Adi, “The Concept of Da’wah in Islam,” Ar-Rasyid Journal of Education, vol. 7, no. 1, pp. 1–23, 2022.

A. B. H. Insani and W. Supraha, “Da’wah Training Curriculum in Shaping Wise Preachers in Boarding Schools,” Tawazun: Journal of Islamic Education, vol. 16, no. 1, pp. 67–78, 2023, doi: 10.32832/tawazun.v16i1.8092.

S. Rambe, Strategies for Producing Ulama: Best Practices of PTKU MUI-SU. Medan, Indonesia: Umsu Press, 2025.

H. Y. Z. Abidin, D. F. Ridwanillah, H. Abubakar, M. Huda, P. A. Hermawati, and V. Tamia, Inclusive Da’wah: A Monographic Study of Da’wah at Mathlaul Anwar Foundation. Bandung, Indonesia: Gunung Djati Publishing, 2022.

M. Fauzan and A. Nur, “Santri Da’wah Cadre Development at Nurul Huda Islamic Boarding School,” Al-Qudwah: Journal of Islamic Communication and Broadcasting, pp. 69–82, 2024, doi: 10.52491/alqudwah.v1i1.22.

M. S. R. Febriyanni and Y. Kasti, “Islamic Boarding School Management in Developing Da’wah Skills,” Invention Journal of Research in Education Studies, vol. 3, no. 1, pp. 77–91, 2022, doi: 10.51178/invention.v3i1.545.

M. F. Nawawi and W. Yahya, “Da’i Cadre Strategy at Al-Ihsan Modern Islamic Boarding School,” unpublished manuscript, 2022.

I. Aly and D. A. Romadlon, “The Strategy for Mubaligh Cadre Development by LDII at Nurul Hakim Islamic Boarding School,” Modeling: Journal of PGMI Studies, vol. 11, no. 2, pp. 394–412, 2024, doi: 10.69896/modeling.v11i2.2493.

A. Kusnawan and R. Rustandi, “Religious Moderation in Da’wah Cadre Development,” Nalar: Journal of Islamic Civilization and Thought, vol. 5, no. 1, pp. 41–61, 2021, doi: 10.23971/njppi.v5i1.2900.

M. F. Akbar, “Da’i Cadre Development Strategy of Muhammadiyah in Banjarmasin,” Undergraduate Thesis, Universitas Muhammadiyah Banjarmasin, Indonesia, 2016.

A. Muhajir, “Educational Strategy of Da’i Cadre Development at Minhajut Thullab Islamic Boarding School,” Master’s Thesis, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia, 2024.

F. Sania, “Training Management of Khitobah for Da’i Cadre Formation,” Master’s Thesis, Universitas Islam Negeri K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Indonesia, 2024.

A. Subhan, Rejuvenation of Da’wah Studies. Jakarta, Indonesia: Dakwah Press, 2019.

M. S. Anwar and A. A. Dimyathi, “Implementation of Bandongan Method in Forming Santri Moral Character,” Al-Lahjah: Journal of Arabic Education and Linguistics, vol. 7, no. 2, pp. 817–826, 2024, doi: 10.32764/lahjah.v7i2.4901.

M. U. Albab and M. Thoyyib, “Management of Sorogan Learning in Al-Hikmah Islamic Boarding School,” Tadbir: Journal of Islamic Education Management, vol. 3, no. 2, 2024.

S. A. Awaliyani and A. K. Ummah, “Developing Student Self-Confidence Through Muhadhoroh Activities,” Indonesian Journal of Teacher Education, vol. 2, no. 1, pp. 246–252, 2021.

M. Ridho and Hannan, “Santri Mentoring in Developing Tolerance Through Bahtsul Masail and Munadhoroh,” Annual International Conference Proceedings, pp. 436–445, 2024.

Iskandar, Samsuddin, A. M. Yusup, M. N. Shamsul, and Agusman, “Da’i Cadre Education Model in Wahdah Islamiyah,” Ta’dibuna: Journal of Islamic Religious Education, vol. 14, no. 2, pp. 190–207, 2025, doi: 10.32832/tadibuna.v14i2.19760.

W. Nur, “Supervisor Strategies in Forming Santri Character at Darud Da’wah Wal-Irsyad Islamic Boarding School,” Undergraduate Thesis, Indonesia, 2019.

K. Yuliati, “Leadership Cadre Development at Darussalam Gontor Modern Islamic Boarding School,” Master’s Thesis, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indonesia, 2015.

Z. A. Nisa, “Amil Cadre Development Pattern at LAZNAS Dewan Da’wah,” Undergraduate Thesis, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia, 2019. [Online]. Available: http://repository.uinjkt.ac.id

Syahbuddin and F. Sarnandes, “The Role of Islamic Boarding Schools in Da’wah Cadre Development,” Journal of Da’wah and Community Empowerment, vol. 5, no. 2, pp. 141–160, 2021.

A. C. Nikmah and H. Yusnita, “Communication Strategies of Islamic Boarding School Leaders in Moral Development,” Syi’ar: Journal of Islamic Communication and Social Guidance, vol. 3, no. 2, pp. 131–143, 2020, doi: 10.37567/syiar.v3i2.720.

W. Sukandar, “Empowerment of Female Preachers Through Da’wah Capacity Training,” vol. 6, no. 3, pp. 1340–1348, 2025.