Login
Section Education

Parental Involvement in the Learning Process at Dharma Wanita Gampangsejati Kindergarten

Pola Keterlibatan Orang Tua dalam Proses Pembelajaran Anak Usia Dini
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Dewi Kusuma Ningrom (1), Evi Destiana (2)

(1) Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, , Indonesia
(2) Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Early childhood education emphasizes holistic development that requires collaboration between families and educational institutions. Specific Background In kindergarten contexts, parents are positioned as primary educators whose participation supports children’s emotional security, learning readiness, and adaptation to school environments. Knowledge Gap Despite policy recognition of parental involvement, empirical descriptions of structured parental participation within classroom learning activities at early childhood institutions remain limited. Aims This study aims to describe forms of parental involvement, supporting factors, and inhibiting factors in the learning process of early childhood at Dharma Wanita Gampangsejati Kindergarten. Results Using a qualitative descriptive approach with observations, interviews, and documentation, the findings show that parents are actively involved through classroom accompaniment during the initial school period, participation in parenting activities, preparation of learning media, provision of nutritious meals, and routine school support activities. Parental participation contributes to children’s comfort, emotional stability, independence, and enthusiasm for attending school, while parental work commitments constitute a major constraint, addressed through family member substitution. Novelty This study documents an institutionalized classroom-based parental accompaniment program during the early months of schooling as a contextual practice in early childhood education. Implications The findings underscore the importance of structured school–family collaboration models to support early childhood learning processes and inform policy and practice in kindergarten-level education.


Highlights:



  • Family Participation Is Integrated Into Daily Classroom and School Routines.



  • Structured Accompaniment Supports Children’s Emotional Comfort and Learning Readiness.



  • Flexible Substitution Mechanisms Address Parental Participation Constraints.


Keywords: Parental Involvement, Early Childhood Education, Learning Process, Kindergarten, Qualitative Study

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Anak usia dini aktif dan berproses dalam dunia bermain, setiap anak mempunyai ciri khasnya masing-masing dalam berekspresi atau mengungkapkan apa yang diinginkannya. Di masa kanak-kanak mereka cenderung memiliki tingkat rasa ingin tahu, eksplorasi, serta memiliki imajinasi yang tinggi, sehingga selalu ingin mencoba hal-hal baru [1]. Anak usia dini sangat memerlukan perhatian khusus, karena anak usia dini, ialah masa-masa yang sangat sensitif terhadap pengaruh luar, mengingat pembelajaran pada usia dini sangat berpengaruh pada perkembangan anak dimasa yang akan datang [2]. Anak pada usia ini, sangat cepat bereaksi dan memproses berbagai hal yang diterimanya. Hal tersebut akan mempengaruhi proses perkembangan anak, baik pertumbuhan fisik maupun psikologis [3]. Bagi si kecil, masa bermain sangatlah penting untuk mendukung proses pertumbuhan dan juga perkembangannya. Sekalipun dunia anak hanya sekedar permainan, ayah, ibu serta pendidik, perlu menyadari bahwa dunia anak adalah permainan, oleh karena itu, sepatutnya orang tua, ataupun pendidik, sebaiknya memberikan permainan yang dapat membantu merangsang pertumbuhan anak, baik perkembangan motorik maupun sensorik [4]. Salah satu prinsip dalam proses pertumbuhan anak, yaitu adalah pemberian pembelajaran.

Belajar adalah aktivitas merangsang pertumbuhan anak, dimana proses belajar tersebut jika dilakukan secara bertahap dan konsisten, akan sangat membantu para orang tua, maupun pendidik dalam mengetahui kebutuhan, minat, serta bakat anak dengan jelas. Jika sejak usia dini, para orang tua serta pendidik mengetahui hal tersebut, maka akan mempermudah untuk mengarahkan dan juga memilih metode apa yang akan sangat membantu perkembangan anak tersebut sesuai dengan kebutuhan serta minat dan bakat yang mereka miliki sejak kecil. Pemilihan metode yang benar saat memberikan pembelajaran pada anak usia dini, akan berjalan sangat baik jika diterapkan sesuai dengan tahap perkembangan anak, sehingga metode yang digunakan akan berdampak baik pada proses belajarnya dimasa depan [1]. Pembelajaran juga dapat diartikan membangun hubungan antar murid dan pendidik terhadap sumber belajar di sekolah. Pembelajaran membantu guru memperoleh pengetahuan, mengembangkan keterampilan dan kebiasaan, membentuk sikap, serta menunjang rasa percaya diri siswa. Dengan kata lain, belajar adalah suatu proses yang membantu siswa berhasil memperoleh pengetahuan [5]. Keberhasilan pada pendidikan anak usia dini sangat menentukan keberhasilan pada jenjang pendidikan selanjutnya karena pendidikan anak usia dini menanamkan kreativitas, pengetahuan, dan keterampilan yang pada dasarnya penting[6].

Menurut Thomas Gardon ada beberapa indikator peran orang tua yaitu: (1) Memberikan perhatian bagi anaknya,(2) Mengenal kesulitan belajar anak, (3) Menyediakan fasilitas belajar anak, (4) Orang tua harus terlibat mulai dari dukungan emosional dan fisik hingga berpartisipasi dalam kegiatan sekolah dan bimbingan belajar di rumah, (5) Orang tua harus diberikan informasi terkait anak di sekolah[7] . Berkenaan dengan indikator-indikator tersebut, terdapat upaya besar yang dapat dilakukan baik oleh guru maupun kedua orang tua terhadap anak didalam kegiatan pembelajaran.

Keterkaitan ayah dan ibu merupakan suatu hal yang sangat penting dalam lingkungan. Hubungan dalam keluarga bersifat langsung, di sini seseorang tumbuh, tahap pertama perkembangan terbentuk, hubungan dimulai dengannya, ia memperoleh kegigihan, minat, dan perilaku terhadap keluarga[8]. Ayah dan ibu juga perlu tanggap terhadap keinginan putra-putrinya, termasuk kebutuhan pendidikannya, dan memberikan kursus-kursus yang relevan dengan kebutuhan anaknya[9]. Ki Hajar Dewantara mengatakan pembelajaran sebenarnya adalah tanggung jawab ibu dan ayah, dan sekolah hanya terlibat. Kemampuan keluarga dalam memberikan pendekatan pendidikan yang bermutu tergantung pada pengasuhan dan bimbingan anak menurut pola asuh kedua orang tua, dan juga hubungan antara anak dan keluarga, termasuk pemenuhan kebutuhan jasmani terutama makan dan minum, serta pemenuhan kebutuhan sosial sangat bergantung pada sosialisasi kebutuhan spiritual dan psikologis seperti istirahat, kasih sayang, dan aturan-aturan yang diterapkan di masyarakat supaya anak dapat hidup harmonis di lingkungannya. Oleh sebab itu pola asuh kedua orang tua juga mencakup pola hubungan ibu-ayah yang membentuk kepribadian anak. Karena proses interaksi antara keluarga dan anak merupakan tahap perkembangan anak oleh orang tua, maka perilaku anak merupakan kunci terbentuknya sikap anak[10]

Keterlibatan keluarga, khususnya ibu dan ayah, dalam menyekolahkan anaknya sejak dini akan berdampak baik apalagi baik ayah, ibu dan guru mengerti arti, cara dan maksud partisipasi. Akan tetapi pengaruh sebaliknya akan terjadi ketika orang tua maupun guru itu sendiri, belum memahami maksud, metode, dan tujuan dari keterlibatan keluarga[11]. Oleh karena itu, para ayah, ibu, dan pendidik perlu memahami pentingnya partisipasi mereka dalam pembelajaran yang sebenarnya sehingga dapat membimbing perilaku yang tepat dalam pembelajaran anak di lembaga pendidikan. Keterlibatan orang tua dalam pembelajaran siswa tidak terjadi begitu saja, ada beberapa aspek yang memengaruhinya. Situasi ini memerlukan metode khusus. Misalnya, sekolah secara konsisten mendukung elemen yang mendukung keterlibatan orang tua dan membantu mengurangi hambatan yang tidak diinginkan terhadap keterlibatan orang tua[12]. Orang tua membesarkan anak mereka secara berbeda karena faktor lingkungan, pendidikan, ekonomi, budaya, dan lainnya. Itulah beberapa aspek yang menjadikan peran orang tua berhasil dalam pendidikan[13]. Keterlibatan keluarga khususnya orang tua dalam pendidikan anaknya sangatlah penting, karena dapat meningkatkan partisipasi anak dalam pembelajaran, menumbuhkan sikap positif, memperlancar hubungan antara kedua orang tua dan anak, serta menunjang kemajuan pendidikan[14].

Sering kali anak usia dini ketika sekolah akan merasa sedih dan ketakutan karena berpisah dengan orang tuanya sehingga kegiatan belajar anak akan terganggu dan tidak optimal. Dari permasalahan yang disampaikan, hubungan orang tua dalam pembelajaran siswa sangat jelas perlu diterapkan di semua lembaga pendidikan agar pada akhirnya tercapai keberhasilan yang maksimal dalam tumbuh kembang anak dan tujuan program pendidikan. Masalah serius, misalnya kegiatan peran orang tua yang dilaksanakan oleh TK Dharma Wanita Gampangsejati dan dilaksanakan sehari-hari. Karna peneliti jarang melihat orang tua masuk ke dalam kelas oleh sebab itu ketika peneliti melihat sekolah TK Dharma Wanita Gampangsejati orang tuanya boleh masuk kelas sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut dari kegiatan orang tua sebelum masuk kelas sampai pulang sekolah.

Penelitian ini merujuk pada beberapa penelitian terdahulu. Termasuk penelitian pertama yang dilakukan oleh Dewi Lofita, Alexander Seman Gerb dan Maria Fatima Mardina Ankur pada tahun 2022. Penelitian bertajuk “Bentuk Keterlibatan Orang Tua dalam Pendidikan Anak Usia Dini” ini menggunakan metode kualitatif. Berdasarkan temuan penelitian tersebut, keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak usia dini antara lain mengkoordinasikan waktu belajar anak, menyediakan uang untuk peralatan bermain dan buku, menghadiri pertemuan sekolah, dan menerima laporan kemajuan anak[15]. Yang kedua penelitian yang dilakukan oleh Hakim Mufadhal dan Istaryatiningtias pada tahun 2022. Penelitian yang berjudul “Peran Orang Tua Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Sekolah Dasar” ini menggunakan metode kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian tersebut 47% orang tua ikut serta berperan dalam membimbing dan memberikan motivasi kepada anak-anaknya selama pembelajaran daring, menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif yang signifikan dari peran orang tua selama pembelajaran daring terhadap hasil belajar anak[16].

Yang ketiga penelitian yang dilakukan oleh Aziza Maurina Elzad pada tahun 2018. Penelitian yang bertajuk “Peran Orang Tua dalam Pola Asuhan Anak Sejak Dini di Lingkungan Keluarga” ini menggunakan studi literatur (metode memperoleh data dari buku-buku yang berkaitan dengan permasalahan yang ada). Berdasarkan hasil penelitian tersebut terlihat jelas bahwa kesinambungan antara lembaga dan orang tua dapat menciptakan keselarasan dan dukungan dalam pembelajaran anak[8].

Berdasarkan referensi beberapa penelitian terdahulu yang telah diuraikan di atas, maka peneliti melakukan penelitian dengan tujuan untuk orang tua dan guru dalam lembaga pendidikan menyadari bahwa pentingnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak serta mampu mengenali faktor mempengaruhinya.

Metode

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif karena ingin menggambarkan keadaan yang diamati di lapangan secara konkrit, transparan, dan rinci. Penelitian kualitatif adalah kegiatan sistematis yang bertujuan untuk menemukan teori daripada mengujinya[17]. Menurut Bogdan dan Biglen, metode penelitian deskriptif kualitatif mengumpulkan data berupa kata-kata dan gambar, sehingga fokusnya bukan pada angka-angka[18]. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan penjelasan mengenai situasi mengenai peran orang tua dalam proses pembelajaran anak usia dini. Penelitian ini dilakukan di TK Dharma Wanita Desa Gampangsejati, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur.

Subjek penelitian ini adalah guru kelas, orang tua kelompok Bermain, kepala sekolah serta siswa yang terlibat dalam penelitian. Data primer dan sekunder digunakan sebagai sumber data. Data primer penelitian ini dihasilkan dari data observasi dan wawancara untuk memperoleh informasi langsung tentang peran orang tua serta faktor pendukung dan penghambat dalam proses pembelajaran pada anak usia dini, dan data sekunder merupakan data tambahan dari data dokumenter dan literatur yang diperoleh. Miles dan Huberman menulis dalam Journal of Qualitative Data Analysis [19]. Teknik analisis data yang digunakan peneliti ditunjukkan pada Gambar :

Figure 1. Teknik Analisis Data

Gambar ini menekankan sifat interaktif analisis data dan pengumpulan data, pengumpulan data sebagai bagian integral dari aktivitas analitis, reduksi data, dan pengumpulan data. Upaya membuat kesimpulan dari data dan memilih data tentang konsep, kategori, atau topik tertentu. Hasil reduksi data diolah agar tampak lebih lengkap. Ini bisa berupa sketsa, kerangka, matriks, atau format lainnya. Hal ini diperlukan untuk memudahkan penjelasan dan konfirmasi kesimpulan [11]. Proses ini tidak hanya dijalankan satu kali saja, melainkan berinteraksi bolak-balik. Proses ini terjadi secara terus menerus sepanjang jalannya penelitian, bahkan sebelum data benar-benar dikumpulkan, dibuktikan dengan konsep struktur penelitian, pertanyaan penelitian, dan pendekatan pengumpulan data yang dipilih peneliti. Untuk menjamin keabsahan data, peneliti menggunakan teknik triangulasi data. Teknik triangulasi ini digunakan untuk menguji data agar data yang diperoleh dapat dipercaya. Hal ini dilakukan dengan menggunakan teknik yang berbeda untuk mengetahui kebenaran data dari sumber yang sama[20]. Peneliti menggunakan tiga teknik yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi, dan kemudian disusun menjadi data untuk diambil kesimpulan.

Hasil dan Pembahasan

Hasil

Penelitian ini menggunakan subjek murid dari tingkat kelompok bermain dengan kisaran usia 3-4 tahun, kepala sekolah sekaligus guru kelas, dan orang tua. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 28 Mei 2024 bertempatkan di TK Dharma Wanita Gampangsejati diketahui bahwa TK Dharma Wanita sudah menggunakan kurikulum merdeka dan model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran kelompok. Dalam pembelajarannya TK Dharma Wanita memiliki 4 tenaga pendidik namun juga mendapatkan tenaga bantuan dari beberapa wali murid dari kelompok bermain.

Peran penting keluarga apalagi orang tua dalam mendidik dan membentuk tumbuh kembang anak terletak pada proses pendidikan yaitu dengan memberikan kesempatan pada anak untuk mencoba hal-hal baru, mereka akan belajar mengatasi tantangan dan mengembangkan kepercayaan diri. Pada Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 28 yang menyatakan bahwa pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal dan informal, pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk Taman Kanak-Kanak (TK), atau bentuk yang lain yang sederajat, pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk Kelompok Bermain (KB), Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk yang lain yang sederajat, pendidikan anak usia dini pada jalur informal berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh lingkungan masyarakat[21].

TK Dharma Wanita Gampangsejati memiliki satu program yaitu 3 bulan pertama sekolah orang tua atau keluarga terdekat seperti kakak maupun nenek diwajibkan untuk masuk ke dalam kelas bertujuan agar orang tua dapat memberikan dukungan yang berupa empati, kepedulian, dan perhatian kepada anak. Orang tua dapat memberikan kasih sayang, orang tua dan guru perlu memberikan perhatian, serta menunjukkan kepercayaan pada kemampuan anak untuk mengatasi tantangan baru. Sebaiknya orang tua juga bisa menerapkan disiplin terhadap jam makan anak, belajar, dan kegiatan yang lain agar anak terbiasa malakukan sikap disiplin di lingkungan rumah maupun sekolah. Setelah 3 bulan berlalu orang tua akan melihat sendiri perkembangan dan pertumbuhan anak dilingkungan sekolah seperti apa, nantinya bisa dikomunikasikan kepada pihak guru. Diharapkan oleh sekolah setelah 3 bulan berlalu anak bisa lebih mandiri, percaya diri, dan tidak mengganggu proses pembelajaran jika tanpa orang tua.

Menurut guru kelas pada saat sebelum masuk sekolah hari pertama, guru mengadakan kegiatan parenting yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan. Kesadaran, dan ketrampilan orang tua mengenai pengasuhan, pendidikan, dan perawatan anak yang berdasarkan dasar-dasar karakter yang baik. Guru juga melibatkan orang tua dalam proses pendidikan anak kelompok bermain seperti terlibatnya orang tua dalam puncak tema, menyiapkan media pembelajaran yang dibutuhkan oleh anak dan guru, di setiap sebulan sekali ada kegiatan makan bersama antara guru, orang tua dan juga anak didik dari Kelompok Bermain, Kelompok A, serta Kelompok B. Menu makanan yang di sediakan yaitu masakan para orang tua dari hasil makanan orang tua pasti terjamin kebersihan dan juga keamanan makanan untuk anak. Kegiatan tersebut dilakukan untuk melatih kemandirian anak dalam makan sendiri dan cuci tangan pakai sabun. Guru juga mempunyai tugas sendiri yaitu menyusun rancangan pembelajaran kegiatan harian, mingguan, dan bulanan, membuat lembar kerja untuk anak didik

Kesibukan orang tua juga menjadi salah satu faktor penghambat yang sangat sulit untuk dihindari, terlebih lagi orang tua yang keadaan sosial ekonomi rendah. Sehingga orang tua lebih fokus ke pekerjaan daripada turut berperan dalam kegiatan peran orang tua dalam proses pembelajaran anak. Sejatinya orang tua dapat mempengaruhi motivasi belajar anak-anaknya secara langsung, orang tua yang kurang mempehatikan pendidikan anaknya bisa di lihat dari kesibukkannya dalam bekerja, sedikit orang tua hanya meluangkan waktu untuk anaknya, jarang mengingatkan anak untuk mengerjakan tugas sekolah, jarang menyuruh belajar, tidak mendampingi anak dalam belajar, dan tidak mau mengerti tentang kemajuan belajar anak di sekolah[22]. Oleh sebab itu pihak sekolah memberikan kelonggaran dengan adanya anggota keluarga seperti nenek atau kakak yang bisa melihat secara langsung proses pembelajaran anak yang ada di dalam kelas dan bisa membantu belajar anak di lingkungan rumah.

Orang tua seharusnya berperan aktif dalam pendidikan, memahami kebutuhan anak-anak mereka dan berperan aktif dalam membantu sekolah dalam perkembangan dan pertumbuhan, bekerja sama dengan sekolah dan orang tua dalam pendidikan anak apabila ada kekurangan bisa melakukan musyawarah sebaiknya bagaimana, mendukung kebijakan sekolah yang telah disepakati, menyadari hak dan kewajiban orang tua terhadap anak dirumah maupun di sekolah[23]. Berikut ini adalah jadwal rutin yang dilakukan orang tua di sekolah TK Dharma Wanita Gampangsejati :

Tabel 1. Jadwal Rutin Yang Dilakukan Orang Tua Di Sekolah TK Dharma Wanita Gampangsejati

Dengan adanya jadwal akan memudahkan lembaga maupun orang tua dalam kegiatan sekolah yang akan dilakukan. Setiap 1 bulan sekali ibu guru akan memberikan informasi kepada orang tua akan diadakannya makan bersama dan orang tua saling membantu menyiapkan masakan olahan sendiri. Setiap hari sebelum anak masuk kelas orang tua membersihkan area sekolah manfaatnya lingkungan lebih bersih dan juga lebih enak di pandang mata. Setiap hari orang tua diberi informasi oleh guru kelas untuk pembelajaran di hari selanjutnya oleh karena itu orang tua membantu menyiapkan bahan media pembelajaran yang diperlukan oleh anak dan guru. Dan yang terakhir ketika sekolah menjadi tuan rumah acara cabang atau yang lain orang tua saling membantu menyiapkan keperluan apa saja yang diperlukan oleh ibu guru.

Pembahasan

Menurut pada Peraturan Presiden no. 60 tahun 2013 mengenai Pengembangan Anak Usia Dini Holistik (PAUD HI), kebutuhan esensial anak usia dini terdiri dari kesehatan dan gizi, stimulasi dan pendidikan, pengasuhan dan perawatan, serta kesejahteraan dan perlindungan. Dalam konteks layanan di satuan PAUD, terdapat beberapa layanan yang diharapkan tersedia sebagai wujud PAUD HI, yaitu : memantau pertumbuhan anak bersama guru dan orang tua, memantau perkembangan anak bersama guru dan orang tua, berkoordinasi dengan unit terkait sebagai tindak lanjut hasil pemantauan, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, menyelenggarakan program makanan tambahan bergizi sehat, memastikan ketersediaan fasilitas sanitasi utama.

Orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan seorang anak didalam keluarga. Karna, orang tua berperan sebagai pembimbing, motivator, pendidik serta menjadi role model bagi anak-anaknya. Yang pertama orang tua sebagai motivator/pendorong bagi anak, dengan adanya motivasi yang diberikan oleh orang tua, maka akan meningkatkan motivasi belajarnya. Sebagai motivator orang tua sebaiknya memberikan hadiah, serta kata-kata pujian dan memberikan hukuman[24]. Oleh karena itu sebagai orang tua hendaknya memberi contoh dan menjadi teladan bagi anak-anak, karena orang tua adalah panutan, serta pondasi utama dalam pertumbuhan dan perkembangan seorang anak[25]. Dalam mencontohkan perilaku yang baik dan yang di inginkan oleh orang tua, sebaiknya orang tua membiasakan kebiasaan-kebiasaan yang baik kepada anak contohnya sebelum dan sesudah makan berdoa terlebih dahulu, mengajak anak sholat berjamaah walaupun dalam sholat anak tidak mau diam dan yang lainnya.

Keluarga terutama orang tua adalah pendidikan pertama yang ditempuh oleh anak oleh sebab itu, orang tua sebaiknya mengupayakan pendidikan sebaik mungkin untuk anak-anaknya karna memiliki peranan penting dalam membantu proses pembentukan dan perkembangan karakter seorang anak. Karena sebagian karakter anak tidak luput dari orang tua sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari peran orang tua sebisa mungkin melibatkan anak-anaknya dalam kegiatan apapun agar terjalin koordinasi yang diinginkan oleh orang tua karna jika sudah terdapat komunikasi yang baik maka anak akan melibatkan kehidupan sehari-hari dengan orang tuanya, dan anak tidak akan kaku jika anak ingin mengungkapkan apa yang diresahkan.

Adanya kerja sama yang baik antara orang tua dan sekolah akan memberikan pengaruh yang baik dan sebaliknya apabila orang tua tidak dapat bekerja sama dengan baik akan memberikan pengaruh buruk bagi anak[13].Terdapat komunikasi antara orang tua dan anak, karena jika orang tua tersebut bisa menjaga komunikasi tersebut maka anak akan menceritakan keseharian di lingkungan sekolah maupun lingkungan yang lainnnya walaupun dengan kata-kata yang sangat sederhana[12]. Komunikasi mempunyai peran penting dalam meningkatkan kualitas pada pembelajaran pada anak. karena melalui komunikasi, orang tua dapat menyampaikan nilai-nilai hidup yang mendukung perkembangan anak. Sehingga di sekolah akan terbiasa melakukan komunikasi dengan guru kelas maupun temannya karna sudah dibekali oleh orang tuanya. Manfaat dari keterlibatan orang tua dalam pembelajaran anak sangat penting. Hal ini dapat meningkatkan motivasi anak untuk selalu masuk sekolah, meningkatkan rasa percaya diri, meningkatkan semangat belajar anak di sekolah dikarenakan terlibatnya orang tua dalam proses pembelajaran anak usia dini.

Dari hambatan-hambatan yang ada tentunya tidak serta merta dibiarkan tanpa adanya solusi untuk mengatasinya, evaluasi kegiatan yang dilaksanakan TK Dharma Wanita juga mengevaluasi kegiatan peran orang tua yang memiliki peran penting pada pendidikan anak usia dini terlebih. Cara-cara yang ditempuh untuk menyukseskan kegiatan peran orang tua dalam proses pembelajaran di TK Dharma Wanita adalah langkah pertama yang dilakukan guru yaitu mengadakan parenting diawal pembelajaran, pada kesempakatan inilah guru menyampaikan pemahaman kepada orang tua terkait pentingnya keterlibatan orang tua terhadap perkembangan anak secara akademik maupun non akademik, langkah selanjutnya yakni membuat kesepakatan kegiatan peran orang tua dalam proses pembelajaran anak antara guru dan orang tua, langkah syang terakhir mengimplementasikan pada kegiatan anak sehari-hari apalagi di rumah.

Bagi orang tua yang bekerja dapat mengikuti kegiatan peran orang tua dalam proses pembelajaran ini di lembaga TK Dharma Wanita Gampang sejati memberikan kelonggaran yang tidak bisa mengikuti kegiatan peran orang tua bisa digantikan dengan kakak, nenek, kakek maupun yang lainnya. Sehingga kegiatan peran orang tua ini berjalan dengan baik. Menurut guru kelas hasil dari kegiatan ini akan menjadikan anak lebih percaya diri, mandiri dan yang lainnya. Semangat anak-anak akan terisi penuh, capaian perkembangan dan pertumbuhan anak lebih mudah dicapai karena anak merasa termotivasi jika ada orang tua di dekat anak, sikap emosional anak lebih terkendali karena anak merasa nyaman. Memperhatikan keterlibatan orang tua yang memiliki dampak besar bagi anak, maka tidaklah berlebihan jika bahwasanya keberhasilan pendidikan formal di sekolah seorang anak tidak akan terlepas dari peran orang tua sebagai guru pertama yang memperkenalkan pendidikan di tengah-tengah keluarga dalam bentuk pendidikan.

Simpulan

Peran orang tua dalam proses pembelajaran anak usia dini sangat besar karna turut andilnya orang tua dalam pendidikan anak di sekolah di TK Dharma Wanita Gampangsejati. Karena dengan adanya orang tua masuk kedalam kelas anak akan sangat semangat untuk berangkat sekolah dan belajar, karena anak merasa dengan adanya orang tua disisinya bisa mendampingi segala perkembangan di sekolahnya, emosi anak lebih terkontrol karena anak merasa nyaman. Memperhatikan keterlibatan orang tua memiliki dampak besar karena keberhasilan pendidikan formal di sekolah seorang anak tidak akan terlepas dari peran orang tua sebagai guru pertama anak yang memperkenalkan pendidikan.

Ucapan Terima Kasih

Peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penelitian ini. Tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Allah SWT yang sudah memberikan kelancaran dalam menyelesaikan penelitian ini. Terima kasih kepada orang tua, semua teman yang sudah membantu dalam penyusunan artikel ini, dosen pembimbing yang telah membimbing, mendukung, dan memberikan motivasi serta arahan untuk menyelesaikan penelitian ini. Peneliti juga turut mengucapkan terima kasih kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang telah memberikan dukungan sehingga penelitian ini lancar dan tidak lupa pihak TK Dharma Wanita yang sudah memberikan kesempatan peneliti untuk melakukan penelitian.

References

E. Munisah, “Proses Pembelajaran Anak Usia Dini,” Jakarta, Indonesia, 2017.

U. F. Simangunsong, “Keywords and Language Concepts,” Kinabalu, vol. 11, no. 2, pp. 50–57, 2019.

C. Pramana, “Early Childhood Education Learning During the Covid-19 Pandemic,” Indonesian Journal of Early Childhood Education: Dunia Anak Usia Dini, vol. 2, no. 2, p. 115, 2020, doi: 10.35473/ijec.v2i2.557.

N. Na’imah, “The Urgency of Early English Language Development,” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 6, no. 4, pp. 2564–2572, 2022, doi: 10.31004/obsesi.v6i4.1916.

S. Arikunto, Belajar dan Pembelajaran. Jakarta, Indonesia: Rineka Cipta, 2013.

H. N. Mahfudi, “The Relationship Between Parental Roles and Learning Achievement of Grade V Students,” Educational Learning in Elementary School, vol. 1, no. 1, pp. 1–9, 2020. [Online]. Available: http://ejournal.stkipmodernngawi.ac.id/index.php/ELES/article/view/177

Sugiarto, “Educational Studies Overview,” Journal of Education Studies, vol. 4, no. 1, pp. 1–23, 2016.

A. M. Erzad, “Parental Roles in Educating Children from Early Age in Family Environment,” ThufuLA: Journal of Innovation in RA Teacher Education, vol. 5, no. 2, p. 414, 2018, doi: 10.21043/thufula.v5i2.3483.

E. Ruli et al., Tasks and Roles of Parents in Educating Children. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2016.

Y. K. Sari, “Parental Roles in Increasing Early Childhood Learning Interest,” Faculty of Tarbiyah and Teacher Training, Indonesia, 2019.

S. A. Rahmawati and L. I. Rochmah, “Parent Shadow in the Learning Process in Early Childhood Education Aisyiyah Takerharjo Lamongan,” Lamongan, Indonesia, 2021.

R. Diadha, “Parental Involvement in Early Childhood Education in Kindergarten,” Edusentris, vol. 2, no. 1, p. 61, 2015, doi: 10.17509/edusentris.v2i1.161.

H. Nopiyanti and A. Husin, “Parental Involvement in Early Childhood Education at Playgroups,” Journal of Nonformal Education and Community Empowerment, vol. 5, no. 1, pp. 1–8, 2021, doi: 10.15294/pls.v5i1.46635.

D. K. Putri, M. Handayani, and Z. Akbar, “Learning Media and Self-Motivation in Parental Involvement,” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 4, no. 2, p. 649, 2020, doi: 10.31004/obsesi.v4i2.418.

D. Rofita, A. S. Jerubu, and M. F. M. Angkur, “Forms of Parental Involvement in Early Childhood Education,” Jurnal Lonto Leok, vol. 4, no. 1, pp. 40–53, 2022.

M. Aulia, M. R. Nur, and M. Thala’at, “Parental Roles in Improving Student Learning Outcomes During the Covid-19 Pandemic,” Al-Mujahidah, vol. 3, no. 2, pp. 411–418, 2022, doi: 10.51806/al-mujahidah.v3i2.54.

E. Murdiyanto, Qualitative Research Methods. Yogyakarta, Indonesia: Lembaga Penelitian Universitas Negeri Yogyakarta, 2020.

Pandawangi S., “Research Methodology,” Journal of Information Studies, vol. 4, pp. 1–5, 2021.

A. Rijali, “Qualitative Data Analysis,” Alhadharah: Journal of Dakwah Studies, vol. 17, no. 33, pp. 81–95, 2018.

A. Alfansyur and Mariyani, “Managing Data: Application of Technique, Source, and Time Triangulation in Social Education Research,” Historis, vol. 5, no. 2, pp. 146–150, 2020.

H. Habe and A. Ahiruddin, “National Education System,” Ekombis Sains: Journal of Economics, Finance and Business, vol. 2, no. 1, pp. 39–45, 2017, doi: 10.24967/ekombis.v2i1.48.

D. R. Tiara, A. R. Safira, and S. Sugito, “Parental Involvement in Early Childhood Education Among Low-Income Families in Surabaya,” Journal of Golden Age, vol. 7, no. 1, pp. 219–230, 2023.

J. W. James, D. Elston, and T. J. Andrews, Concept of Parental Roles. New York, NY, USA: Academic Press, 2020.

L. P. Sari and S. Q. Ain, “Parental Roles in Assisting Elementary School Learning,” Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran, vol. 7, no. 1, pp. 75–81, Mar. 2023, doi: 10.23887/jipp.v7i1.59341.

W. Wuryaningsih and I. Prasetyo, “Parental Role Modeling and Moral Value Development in Early Childhood,” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 6, no. 4, pp. 3180–3192, 2022, doi: 10.31004/obsesi.v6i4.2330.