Login
Section Communication

Group Communication Predicts Student Politeness Ethics in Junior High School

Komunikasi Kelompok Memprediksi Etika Kesopanan Siswa di Sekolah Menengah Pertama
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

H Arief Wicaksono (1), Ainur Rochmaniah (2)

(1) Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Character education supports the development of moral values, social ethics, and interpersonal behavior among students. Specific Background: Group communication in educational settings facilitates idea exchange, social interaction, and the internalization of respectful behavior among junior high school students. Knowledge Gap: Empirical measurement of the relationship between group communication and politeness ethics among seventh-grade students remains limited. Aims: This study analyzes the relationship between group communication and politeness ethics among seventh-grade students at SMPN 1 Sedati. Results: Using a quantitative approach with total sampling of 372 students, questionnaire and observation data analyzed through simple linear regression revealed a significant relationship between group communication and politeness ethics (p = 0.000 < 0.05), with a correlation value of 0.554 and a determination coefficient of 30.7%, represented by the regression equation Y = 18.704 + 0.631X. Novelty: This study presents empirical statistical evidence of the measurable contribution of group communication to student politeness ethics in a junior high school setting. Implications: The findings support incorporating structured group communication activities into character education programs to promote ethical behavior and positive social interaction in schools.


Highlights:



  • Peer Interaction Patterns Demonstrate a Moderate Statistical Association With Respectful Student Conduct.

  • Social Interaction Contributes 30.7% to Behavioral Etiquette Formation.

  • Collaborative Discussion Activities Support Moral Value Internalization Among Adolescents.


Keywords: Group Communication, Politeness Ethics, Character Education, Student Behavior, Quantitative Regression

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Di era globalisasi seperti sekarang, pendidikan karakter sangat penting agar siswa bisa bergaul serta bekerja sama dengan banyak orang dari bermacam-macam background budaya. Pendidikan ini bertujuan untuk membentuk generasi muda yang memiliki tanggung jawab, menjadi individu yang lebih baik, serta peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Pendidikan karakter tak hanya berfokus pada kecerdasan yang diukur dalam skala akademis, melainkan juga pemupukan karakter moral dan perilaku sosial yang kuat. Dalam konteks pendidikan modern, pendidikan karakter tidak hanya mengajarkan nilai-nilai normatif secara teoritis, tetapi juga menanamkan kebiasaan dan perilaku. Proses ini membutuhkan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan, yang melibatkan seluruh ekosistem pendidikan, mulai dari guru dan lingkungan sekolah hingga keluarga dan masyarakat luas. Pendidikan karakter berfungsi sebagai pilar utama dalam menumbuhkan kesadaran diri, empati, tanggung jawab, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan sosial yang dinamis [1].

Lebih lanjut, pendidikan karakter juga berfungsi sebagai mekanisme pencegahan terhadap berbagai permasalahan sosial yang sering muncul di kalangan generasi muda, seperti perilaku agresif, intoleransi, dan ketidakjujuran. Dengan membekali siswa dengan nilai-nilai moral yang kuat, pendidikan karakter membantu menciptakan iklim sosial yang harmonis yang kondusif bagi pengembangan potensi individu secara optimal. Lebih lanjut, pendidikan karakter mendorong peserta didik menjadi agen perubahan yang mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, tidak hanya sebagai penerima ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai peserta aktif dalam membangun budaya yang beretika dan beradab. Penerapan pendidikan karakter yang efektif membutuhkan inovasi dalam metode pembelajaran, seperti pembelajaran berbasis proyek, diskusi reflektif, dan kegiatan ekstrakurikuler yang menumbuhkan rasa kebersamaan dan kepedulian sosial.

Melalui proses ini, diupayakan siswa untuk tumbuh menjadi individu yang utuh, tidak sekadar unggul dalam kecerdasan intelektual, namun dari segi sikap, moral, serta nilai hidup yang positif. Pendidikan karakter memberikan bekal penting berupa nilai-nilai yang relevan dengan kehidupan, termasuk etos kerja, rasa tanggung jawab, serta keterampilan berkolaborasi. Oleh karena itu, pendidikan karakter berfungsi sebagai landasan utama dalam membentuk generasi yang bukan hanya berpengetahuan luas, tetapi juga berintegritas. Dampak dari penerapan pendidikan karakter ini terlihat pada pembentukan perilaku positif siswa, sehingga ikut andil dalam kemajuan masyarakat dan bangsa.

Perilaku siswa di sekolah mencakup banyak hal, seperti keikutsertaan dalam kegiatan ekstrakurikuler, cara bergaul dengan teman, kedisiplinan, dan sikap terhadap pelajaran. Penelitian tujuannya untuk menganalisis efektivitas komunikasi kelompok terhadap etika perilaku siswa. Etika merupakan nilai-nilai moral yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Etika adalah bagian krusial dalam kehidupan manusia. Oleh karena itu, pengajaran etika di sekolah memegang peranan penting dalam membentuk perilaku siswa agar lebih baik serta menanamkan nilai-nilai moral dalam kehidupan bermasyarakat [2].

Fokus yang ada dalam peneltian ini ialah perilaku kesopanan terhadap guru, orang tua dan teman sebaya. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, peneliti menjumpai bahwa pemahaman dan penerapan etika dalam berkomunikasi, baik kepada guru maupun antar sesama siswa, masih memerlukan perhatian lebih. Terutama dalam konteks interaksi siswa dengan guru, penting untuk diberikan pemahaman bahwa komunikasi yang baik harus disertai dengan sikap hormat, tanpa memandang usia atau kedekatan secara personal. Hal serupa juga berlaku dalam pergaulan sehari-hari antar teman sebaya, di mana nilai-nilai kesopanan dan saling menghargai perlu terus ditanamkan. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai etika dalam ruang lingkup sekolah, khususnya di SMPN 1 Sedati, menjadi hal yang sangat penting untuk mendukung terciptanya lingkungan belajar yang positif dan harmonis.

Penelitian yang sudah dilakukan setiawan tahun 2020 [3] yaitu “Pengaruh Komunikasi Kelompok, Penggunaan Media Sosial, dan Search Engine Terhadap Akhlak Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Pancur Batu” terdapat dampak secara langsung terkait komunikasi kelompok terhadap moral siswa. Berdasarkan hasil pemaparan dalam penelitian tersebut, peneliti menyimpulkan bahwa suatu kelompok dapat dikategorikan sebagai kelompok sejati apabila memenuhi beberapa karakteristik utama. Sebuah kelompok terbentuk ketika terdiri atas dua individu atau lebih, yang di dalamnya terjalin hubungan psikologis sehingga menumbuhkan kedekatan emosional antar anggota.

Di samping itu, kelompok tersebut harus memiliki tujuan bersama serta struktur organisasi yang jelas sebagai landasan terbentuknya kesatuan. Kesamaan persepsi dan motivasi antaranggota juga merupakan unsur penting yang memperkuat integrasi kelompok. Adanya interaksi yang aktif dan berkesinambungan menjadi indikator bahwa para anggota benar-benar terlibat dalam proses sosial yang dinamis. Selain itu, sebuah kelompok sejati umumnya memiliki rentang waktu tertentu yang digunakan untuk merealisasikan visi serta harapan bersama. Dengan demikian, tidak setiap kumpulan individu dapat langsung disebut sebagai kelompok. Bisa saja mereka hanya merupakan kerumunan atau sekadar sekumpulan orang yang kebetulan berada di lokasi yang sama tanpa memiliki keterikatan emosional maupun tujuan bersama yang jelas.

Menurut (Nasution, 2022) yang telah melakukan penelitian dengan judul “Etika Sopan Santun Siswa Kelas V Dalam Proses Pembelajaran Di Sekolah Dasar Negeri 106211 Kampung Padang” menjelaskan bahwa etika merupakan ilmu yang berkaitan dengan kebiasaan manusia dalam membangun karakter menuju pribadi unggul. Berdasarkan temuan penelitian tersebut, masih terdapat sejumlah siswa yang menunjukkan perilaku kurang sopan, baik dalam interaksi dengan guru maupun dengan teman sebayanya [4]. Efektivitas komunikasi kelompok memiliki peran penting dalam membentuk norma dan etika perilaku siswa tingkat Sekolah Menengah Pertama. Komunikasi yang terbuka, empatik, dan sehat dapat mencegah terjadinya perilaku perundungan. Sebaliknya, komunikasi yang tertutup, manipulatif, atau permisif terhadap tindakan negatif justru dapat memperburuk perilaku siswa. Fenomena tersebut dapat terjadi sebab remaja sedang melewati masa transisi yang ditandai dengan pencarian identitas diri. Pada usia ini individu cenderung berada dalam kondisi yang belum stabil secara emosional maupun pemikiran, sehingga mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya.

Efektivitas komunikasi kelompok pada siswa SMP tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menyampaikan pesan, tetapi juga dengan cara mereka belajar menafsirkan respons dari teman sebaya. Ketika komunikasi berlangsung secara adil dan saling menghargai, siswa akan terbiasa mengontrol cara berbicara serta menyesuaikan sikap dengan situasi sosial. Kondisi ini secara perlahan menumbuhkan kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi sosial, sehingga etika kesopanan menjadi bagian alami dari interaksi sehari-hari. Sebaliknya, apabila komunikasi di dalam kelompok tidak terkelola dengan baik, misalnya didominasi oleh individu tertentu atau diwarnai oleh ejekan, maka hal tersebut dapat menciptakan ketidakseimbangan hubungan antar siswa. Situasi ini bukan hanya berpotensi menurunkan rasa percaya diri sebagian anggota, tetapi juga dapat memunculkan perilaku agresif sebagai bentuk perlawanan. Oleh karena itu, keberhasilan komunikasi kelompok yang efektif dapat dipandang sebagai salah satu kunci dalam pembentukan perilaku positif dan lingkungan belajar yang kondusif.

Peran teman sebaya sangat kuat dalam membentuk cara bergaul dan sikap remaja, hingga mampu memengaruhi arah perilaku mereka. Masa remaja yang penuh dengan ketidakstabilan, baik dalam pemikiran maupun dalam menentukan prinsip hidup, dapat menimbulkan masalah apabila lingkungan pertemanan yang dipilih tidak tepat. Oleh sebab itu, menentukan lingkaran pergaulan yang sehat menjadi hal penting agar remaja terdorong pada pengaruh positif dan terhindar dari perilaku yang menyimpang. Fenomena pengaruh teman sebaya pada remaja tidak hanya terlihat dari kebiasaan sehari-hari, tetapi juga tercermin dalam cara mereka menilai diri sendiri. Dukungan dari kelompok pertemanan yang sehat dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan memperkuat identitas positif. Sebaliknya, jika remaja berada pada lingkaran yang kurang sehat, dorongan untuk mengikuti perilaku negatif sering kali muncul sebagai bentuk upaya agar mereka diterima oleh kelompoknya. Dalam konteks ini, teman sebaya menjadi semacam "cermin sosial" bagi remaja, tempat mereka menguji nilai, keyakinan, maupun cara bersikap. Oleh karena itu, membangun pergaulan yang sehat tidak hanya penting bagi pengendalian perilaku, tetapi juga berperan sebagai fondasi pembentukan karakter. Lingkungan yang positif memungkinkan remaja belajar menghargai perbedaan, mengelola emosi, dan menumbuhkan sikap saling mendukung, yang semuanya sangat berpengaruh terhadap perkembangan jangka panjang mereka. [5].

Hubungan komunikasi dalam kelompok sebaya umumnya muncul secara spontan, khususnya di antara kalangan pelajar yang berdomisili berdekatan. Interaksi ini sering terbentuk dari rutinitas mereka yang kerap berangkat dan pulang sekolah bersama. Proses komunikasi tersebut dapat berlangsung di lingkungsn sekolah dan di rumah. Kehadiran komunikasi dalam kelompok sebaya berperan besar dalam membangun karakter serta memengaruhi perilaku remaja SMP. Selain itu dengan adanya perubahan zaman yang kian maju serta modern membawa pengaruh signifikan terhadap teknologi masa kini, khususnya media sosial yang mendominasi dunia, dan kondisi ini tidak hanya berimbas kepada anak sekolah menengah pertama yang mengalami pubertas melainkan juga berdampak kepada semua generasi.

Social media pada era ini berkorelasi erat dengan kehidupan sehari-hari, terutama untuk kalangan muda-mudi. Fungsinya tidak terbatas sebagai alat komunikasi dan pertukaran informasi, tetapi juga untuk mengekspresikan diri, membentuk identitas, serta memperluas pergaulan. Pesatnya perkembangan teknologi membuat media sosial mudah digunaksn sewaktu-waktu, sehingga keberadaannya memberikan dampak yang signifikan terhadap pola pikir, cara berinteraksi, dan perilaku masyarakat. Kondisi ini mendorong perlunya kajian lebih mendalam mengenai bagaimana media sosial digunakan, serta dampak positif maupun negatif yang ditimbulkannya terhadap perilaku individu maupun kehidupan sosial. Penggunaan media sosial yang tidak dibarengi dengan pendampingan orang tua cenderung memunculkan lebih banyak dampak negatif daripada positif, terutama terlihat pada siswa sekolah dasar yang mulai kehilangan kebiasaan beretika sopan santun, meskipun pengaruh tersebut juga dialami siswa di jenjang menengah pertama [4].

Pada tahap ini, anak-anak mulai menunjukkan penurunan dalam penerapan norma-norma kesopanan dan etika sosial, yang merupakan fondasi penting bagi pembentukan karakter. Namun, dampak serupa juga dapat ditemukan pada siswa sekolah menengah pertama, meskipun dengan intensitas yang bervariasi. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial, jika tidak dikelola dengan bijak, dapat mengganggu internalisasi nilai-nilai, yang penting bagi perkembangan moral dan sosial anak. Pendampingan yang efektif tidak hanya mencakup pemantauan konten yang diakses, tetapi juga pengembangan keterampilan literasi digital dan etika bermedia sosial. Dengan demikian, generasi muda dapat memanfaatkan media sosial sebagai alat konstruktif untuk pengembangan diri dan interaksi sosial yang sehat, sekaligus meminimalkan risiko dampak negatif yang berpotensi merusak integritas pribadi dan keharmonisan sosial. Oleh karena itu, mengintegrasikan pendidikan karakter dan literasi digital ke dalam kurikulum formal merupakan langkah strategis yang perlu dilaksanakan untuk menjawab tantangan era digital secara holistik dan berkelanjutan [4]. Oleh karena itu, efektivitas komunikasi kelompok teman sebaya menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan dalam upaya menumbuhkan etika perilaku positif di kalangan siswa SMP. Komunikasi yang terbuka, suportif, dan saling menghargai dalam kelompok sebaya dapat membentuk lingkungan sosial yang aman dan sehat, sekaligus menjadi mekanisme kontrol sosial alami yang mencegah terjadinya sikap perilaku yang kurang etis.

Dengan memahami keterkaitan antara komunikasi kelompok dan etika perilaku, sekolah dapat merancang pendekatan pendidikan karakter yang lebih menyentuh aspek relasional antar siswa, bukan hanya melalui aturan formal semata. Dari penjelasan di atas, maka rumusan masalahnya ialah efektivitas komunikasi kelompok terhadap etika perilaku siswa kelas 7 SMPN 1 Sedati. Tujuan penelitian adalah menganalisis efektivitas komunikasi kelompok terhadap etika perilaku siswa kelas 7 SMPN 1 Sedati.

Kemudian landasan terori yang diambil dari hasil penelitian terdahulu yang pertama yaitu menurut C. Harilama pada tahun 2020 dengan judul “Efektivitas Komunikasi Kelompok Dalam Membangun Komitmen Anggota Paduan Suara Mahasiswa Universitas Sam Ratulangi”, Efektivitas merupakan tingkat keberhasilan dalam pencapaian tujuan. Istilah efektivitas berakar dari kata effectivities yang mengacu pada tingkat keberhasilan suatu kelompok dalam meraih tujuan yang telah ditetapkan. Efektivitas komunikasi kelompok mencerminkan sejauh mana pertukaran informasi antar anggota mampu berjalan lancar, saling dipahami, serta mendukung terciptanya kerja sama yang harmonis dalam mencapai tujuan bersama. Dengan demikian, efektivitas sebagai ukuran keberhasilan yang mengindikasikan bahwa telah menyasar target yang direncanakan sebelumnya sehingga berhasil dicapai. [6].

Komunikasi merupakan suatu aktivitas pertukaran makna yang memungkinkan individu saling mengerti dan dimengerti. Proses ini berlangsung secara terus-menerus serta mengalami perubahan mengikuti kondisi dan keadaan yang ada. Komunikasi juga merupakan seni dalam menyampaikan informasi seperti pesan, ide, sikap, atau gagasan dari pengirim kepada penerima, dengan tujuan membentuk atau mengubah perilaku, pandangan, dan pemahaman sesuai harapan bersama. Agar mudah dipahami, komunikasi perlu dilakukan secara efektif. Komunikasi yang efektif terjadi ketika seseorang memahami makna, proses, dan unsur-unsur yang membentuk komunikasi itu sendiri. Komunikasi dalam kelompok juga mendorong terjadinya pembelajaran aktif (active learning), yang secara tidak langsung mempengaruhi pembentukan perilaku etis siswa karena mereka terbiasa menyelesaikan masalah secara kolektif dan menghormati norma yang disepakati bersama dalam kelompok [7].

Komunikasi kelompok merupakan interaksi yang terjadi karena seseorang menyampaikan pesan terhadap beberapa individu lain. Komunikasi kelompok adalah suatu proses pertukaran informasi yang terjadi di antara sejumlah individu yang berkumpul untuk mencapai tujuan bersama. Dalam grup ini, para anggotanya terhubung oleh ikatan psikologis, kesamaan pandangan, dorongan, hubungan sosial, serta tujuan tertentu dalam periode waktu yang sama. Sebuah kelompok dapat dianggap sebagai kelompok yang sesungguhnya apabila memenuhi kriteria tertentu, meskipun para anggotanya tidak selalu hadir di lokasi fisik yang sama. Ikatan psikologis inilah yang menjaga keberlangsungan kelompok tersebut. Bentuk komunikasi kelompok dapat dijumpai dalam berbagai situasi, misalnya pada keluarga, forum diskusi, kelompok pekerja kantor, karyawan pabrik, mahasiswa, hingga komunitas olahraga seperti tim sepak bola, dan lain sebagainya. Melalui komunikasi kelompok, setiap anggota dapat menyampaikan ide, mendengarkan pendapat orang lain, serta membangun pemahaman yang sama. Interaksi yang tercipta di dalam kelompok tidak hanya membantu dalam penyelesaian masalah, tetapi juga memperkuat hubungan antaranggota sehingga tercipta suasana kerja sama yang harmonis. Dengan demikian, komunikasi kelompok berperan penting dalam menciptakan keputusan yang lebih tepat, karena setiap suara dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari proses bersama. [3].

Menurut Setiawan (2020) [3], menjelaskan bahwa komunikasi kelompok juga memiliki unsur-unsur diantaranya ada empat unsur terhadap komunikasi kelompok yaitu 1) Berkomunikasi secara langsung, setiap teman dalam kelompok harus bisa saling melihat dan mendengar, jadi bisa berkomunikasi secara langsung, tidak hanya saling diam. 2) Jumlah anggota dalam suatu kelompok sebaiknya tidak terlalu banyak, Idealnya terdiri dari 3 hingga 20 orang agar seluruh anggota dapat berinteraksi dan berkomunikasi secara efektif. 3) Memiliki tujuan yang sama, Kelompok harus memiliki tujuan yang jelas. Misalnya, apabila ingin belajar bersama, sebaiknya semua anggota saling mengingatkan dan bekerja sama. Jika ingin mencari solusi atas suatu permasalahan, maka seluruh anggota hendaknya turut serta dalam memikirkan dan merumuskan solusi secara bersama-sama. 4) Saling membantu menjadi lebih baik, Teman-teman dalam kelompok bisa bantu satu sama lain jadi lebih baik. Mereka saling kenal dan tetap jadi satu tim terus.

Menurut Tutisari (2016) Komunikasi kelompok dapat dipahami sebagai proses bertemunya tiga orang atau lebih dalam suatu interaksi langsung, yang bertujuan mencapai kesepahaman bersama, baik untuk saling bertukar informasi, menjaga hubungan sosial, maupun menyelesaikan persoalan, sehingga setiap anggota mampu mengenali dan mengembangkan karakter pribadi anggota lain secara lebih tepat. Terdapat 3 (Tiga) indikator yakni adanya pertemuan secara langsung atau tatap muka, jumlah individu yang berpartisipasi dalam interaksi, adanya maksud serta tujuan yang ingin dicapai bersama, serta kemampuan seseorang dalam menumbuhkan dan memengaruhi karakter khas dari anggota kelompok lainnya [8].

Lebih jauh, efektivitas komunikasi kelompok tidak hanya berdampak pada pencapaian hasil kerja, tetapi juga pada pembentukan iklim kerja yang positif dan kohesif. Kelompok yang mampu berkomunikasi dengan baik cenderung memiliki motivasi yang lebih tinggi, mengurangi konflik yang tidak perlu, serta meningkatkan kreativitas dan inovasi melalui kolaborasi yang sinergis. Dalam konteks ini, peran fasilitator atau pemimpin kelompok menjadi sangat penting untuk mengarahkan proses komunikasi agar tetap fokus, terstruktur, dan inklusif. Pemimpin yang efektif mampu mengenali hambatan komunikasi, seperti bias persepsi atau dominasi suara tertentu, dan mengimplementasikan strategi untuk mengatasinya, misalnya dengan mendorong partisipasi anggota yang lebih pasif atau menggunakan teknik mediasi.

Selain faktor internal, efektivitas komunikasi kelompok juga dipengaruhi oleh konteks eksternal, seperti budaya organisasi, teknologi komunikasi yang digunakan, dan tekanan waktu. Penggunaan teknologi komunikasi digital, misalnya, dapat mempercepat aliran informasi namun juga berpotensi menimbulkan miskomunikasi jika tidak diimbangi dengan kejelasan pesan dan etika komunikasi yang baik. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan komunikasi interpersonal dan pemahaman konteks komunikasi menjadi investasi penting bagi setiap anggota kelompok agar dapat berkontribusi secara optimal. Secara keseluruhan, efektivitas komunikasi kelompok merupakan hasil sinergi antara aspek teknis, psikologis, dan kontekstual yang harus dikelola secara holistik untuk mencapai kinerja kelompok yang unggul dan berkelanjutan.

Dalam dunia pendidikan, peran komunikasi kelompok sangat penting karena membantu siswa mengasah keterampilan berpikir logis, menghormati perbedaan pendapat, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama. Melalui kegiatan diskusi, peserta didik belajar menyampaikan ide dengan jelas sekaligus menerima pandangan lain secara bijak. Hal ini tidak hanya memperluas wawasan, tetapi juga menumbuhkan sikap saling menghargai dan kemampuan bekerja sama. Jika komunikasi kelompok terjalin dengan baik, suasana belajar menjadi lebih dinamis karena setiap anggota merasa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dan dihargai [9].

Kemudian etika kesopanan menurut A.F Sari tahun 2020 dengan judul, “Etika Komunikasi” menjelaskan bahwa Etika adalah cabang filsafat moral yang berhubungan dengan perilaku manusia dan norma-norma yang mengarah pada tindakan baik. Istilah etika yang asalnya dari bahasa Yunani yaitu “ethos” dengan arti pola, watak, atau perilaku manusia, yang kemudian memiliki kesamaan makna dengan istilah Latin “mores” yang melahirkan kata moral. Oleh sebab itu, etika dan moral kerap dipahami sebagai konsep yang sejalan. Etika membahas nilai-nilai kehidupan yang baik, pola-pola etis, serta pertimbangan moral untuk menguji tindakan manusia, dengan tujuan membimbing seseorang menuju perilaku yang bertanggung jawab, menghargai kehidupan, dan mengedepankan kemanusiaan [10].

Menurut Putra dkk. (2020), Etika ialah suatu disiplin pengetahuan yang menelaah arti kebaikan dan keburukan, serta memberikan arahan mengenai tindakan yang selayaknya dilakukan manusia dalam hubungannya dengan orang lain, menetapkan tujuan moral dalam setiap tindakan, serta memberikan pedoman mengenai cara mencapai tujuan tersebut melalui perilaku yang benar. Etika juga merupakan cabang dari filsafat moral atau ilmu akhlak yang pada dasarnya membahas seni menjalani kehidupan (the art of living), yaitu tentang bagaimana menjalani hidup yang membawa pada kebahagiaan [11].

Menurut Djuwita (2017), sopan santun dapat dipahami sebagai perilaku sosial yang melekat secara alami dan bernilai tinggi dalam kehidupan sehari-hari. Etika tercermin dalam sikap seseorang ketika berhubungan dengan orang lain melalui rasa hormat, sopan, dan keramahan. Bentuk nyata dari kesantunan tampak dalam komunikasi yang menjaga pilihan kata, sehingga tidak menyinggung, meremehkan, ataupun merendahkan lawan bicara, misalkan berkata sopan kepada orang lain, empati keapda kesulitan orang lain, menghargai perbedaan pendapat, ramah kepada orang lain, memberi salam serta mencium tangan orang tua maupun guru merupakan contoh nyata perilaku hormat. Secara luas, sopan santun dapat dimaknai sebagai aturan berperilaku yang lahir dari kebiasaan hidup bersama dalam lingkungan sosial [12].

Kesopanan bukan sekadar perilaku formal yang diatur oleh aturan sosial, melainkan juga perwujudan empati, kepekaan, dan kesadaran akan hak dan perasaan orang lain. Dalam praktiknya, etika kesopanan mengarahkan individu untuk bertindak penuh hormat, menjaga tata krama, dan menghindari tindakan yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan atau konflik. Dengan demikian, kesopanan berfungsi sebagai perekat sosial yang menjaga keharmonisan dan menciptakan suasana komunikasi yang efektif dan menyenangkan. Lebih lanjut, etika kesopanan juga berfungsi sebagai cerminan karakter seseorang, yang menunjukkan kedewasaan emosional dan kecerdasan sosial. Individu yang secara konsisten mempraktikkan kesopanan cenderung mampu membangun hubungan interpersonal yang sehat dan berkelanjutan karena mereka berempati terhadap kedudukan orang lain serta menghargai perbedaan. Dalam konteks kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, menjaga etika kesopanan merupakan tantangan tersendiri, sekaligus kebutuhan mendesak untuk mencegah terkikisnya interaksi sosial oleh sikap egois dan individualistis [13].

Sekolah merupakan tempat penting dalam pembentukan kepribadian siswa, tak hanya berfungsi menjadi sarana transfer ilmu dan pengetahuan, namun sebagai ruang untuk menanamkan nilai-nilai moral dan sosial. Salah satu wujud nyata pembentukan karakter tersebut adalah penerapan etika dalam kehidupan nyata di lingkungan sekolah. Etika siswa dapat dilihat dari sikap sopan santun, cara berkomunikasi, serta bagaimana mereka menghormati guru, teman, dan seluruh warga sekolah. Namun, dalam praktiknya masih ditemukan siswa yang belum mampu menunjukkan perilaku sesuai dengan etika, misalnya berbicara tanpa memperhatikan kesantunan, tidak meminta izin ketika meninggalkan kelas, atau kurang memperhatikan aturan yang berlaku. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembinaan etika masih menjadi aspek penting yang harus terus diperkuat dalam dunia Pendidikan [14].

Dalam konteks pendidikan, implementasi etika sopan santun oleh siswa di sekolah berperan penting dalam menumbuhkan keadaan belajar yang tertib dan kondusif. Penerapan etika kesopanan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di lingkunganisekolah, dapat tercermin dari kebiasaan siswa dalam berinteraksi dengan guru maupun teman sebaya. Siswa yang terbiasa memberi salam, meminta izin dengan sopan, serta berbicara menggunakan bahasa yang santun menunjukkan bahwa ia mampu menghargai orang lain. Sikap tersebut tidak hanya mencerminkan kepribadian yang baik, melainkan membuat keadaan belajar yang nyaman serta harmonis. Dengan demikian, penerapan etika kesopanan menjadi bagian penting dalam membangun karakter positif sekaligus membentuk hubungan sosial yang sehat di lingkungan pendidikan. Penerapan nilai etika di sekolah memiliki dampak yang besar terhadap terciptanya iklim belajar yang positif.

Siswa yang terbiasa berperilaku santun akan lebih mudah membangun kerja sama, menjalin hubungan yang harmonis, serta menjaga ketertiban di kelas. Sebaliknya, ketika etika kurang diterapkan, hal itu bisa menimbulkan perpecahan, mengurangi motivasi belajar, bahkan mengganggu proses pembelajaran. Oleh karena itu, pihak sekolah bersama guru memiliki peran penting dalam menanamkan dan membiasakan etika pada siswa, baik melalui teladan maupun aturan yang konsisten. Ditinjau dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan (Nasution, 2022) pada dasarnya, guru telah sering mengajarkan etika sopan santun kepada peserta didik, baik dalam hal berkomunikasi maupun dalam bersikap ketika berhadapan dengan guru maupun dengan teman sekelas. Namun, perbedaan background dan lingkungan sosial siswa sering kali menjadi penghambat sehingga tidak semua siswa dapat menampilkan sikap sopan santun dengan baik, terutama ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung.[4].

Macam-macam tata krama sopan santun yang bisa diaplikasikan kepada semua siswa di sekolahan yaitu [4]: 1) Sebagai contoh sederhana, ketika ingin pergi ke kamar mandi, siswa seharusnya bertanya kepada guru di kelas. 2) Mengangkat tangan terlebih dahulu jika ada pertanyaan yang ingin ditanyakan dengan kalimat “izin bertanya pak/bu”. 3) Ketika berkomunikasi dengan guru selalu menggunakan bahasa yang sopan seperti kita berbicara kepada orangtua sendiri. 4) Tidak saling mencela teman sebaya di sekolah. Dengan mengacu pada teori dari penelitian terdahulu, maka hipotesis penelitian yaitu:

Ho = Tidak terdapat efektifitas komunikasi kelompok terhadap etika kesopanan siswa kelas 7 di SMPN 1 Sedati

H1 = Terdapat efektifitas komunikasi kelompok terhadap etika kesopanan siswa kelas 7 di SMPN 1 Sedati.

Metode

Metode penelitian ini adalah metode kuantitatif. Seperti yang dinyatakan oleh Sugiyono, penelitian kuantitatif mengandalkan pada penggunaan angka sebagai dasar dalam menarik kesimpulan, sehingga hasil yang diperoleh bersifat objektif dan terukur. Instrumen penelitian yang dipakai terlebih dahulu diuji tingkat validitas dan reliabilitasnya agar data yang terkumpul benar-benar akurat dan konsisten. Setelah itu, data dianalisis menggunakan teknik perhitungan numerik maupun statistik untuk melihat hubungan antarvariabel secara lebih jelas. Fokus utama dari penggunaan metode ini adalah untuk membuktikan kebenaran hipotesis yang telah dirancang sebelumnya, sehingga kesimpulan penelitian dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah [15].

Pendekatan kuantitatif ini memiliki keunggulan dalam memberikan gambaran yang terukur dan terstruktur tentang hubungan antar variabel, serta memungkinkan peneliti untuk menguji hipotesis secara empiris dengan tingkat keyakinan tertentu. Dengan demikian, metode ini tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk mengonfirmasi teori yang ada, tetapi juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi pola baru yang mungkin muncul dari data. Lebih lanjut, penggunaan metode kuantitatif mendukung transparansi dan replikasi penelitian, karena prosedur pengumpulan dan analisis data yang sistematis dapat diikuti dan diuji ulang oleh peneliti lain. Oleh karena itu, metode kuantitatif merupakan pilihan yang tepat ketika tujuan penelitian adalah untuk memperoleh bukti yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah terkait fenomena yang diteliti [16].

Indikator variabel X (komunikasi kelompok) adalah :

a.Berkomunikasi secara langsung

b.Jumlah anggota dalam suatu sebaiknya tidak terlalu banyak, idealnya 3 hingga 20 orang

c.Memiliki tujuan yang sama

d.Saling membantu menjadi lebih baik

Indikator variabel Y (etika kesopanan):

a.Berkata sopan

b.Membantu teman yang mengalami kesulitan

c.Empati keapda kesulitan orang lain,

d.Menghargai perbedaan pendapat,

e.Ramah kepada orang lain,

f.Mengucapkan salam dan

g.Mencium tangan orang tua dan guru.

Populasi penelitian ini ialah siswa di SMPN 1 Sedati tepatnya seluruh siswa kelas VII dengan jumlah 372 orang, di mana keseluruhan populasi dijadikan sampel menggunaksn metode total sampling. Data dihimpun dengan angket dan observasi. Observasi dilakukan peneliti dengan cara meninjau langsung objek penelitian, mencatat berbagai informasi relevan yang berhubungan dengan menurunnya sikap sopan santun serta efektivitas komunikasi kelompok di kalangan siswa. Selama observasi, peneliti mencatat secara rinci dan obyektif berbagai permasalahan yang muncul terkait interaksi kelompok maupun perilaku etis siswa, untuk mencapai hasil data yang tepat dan andal.

Selama observasi, peneliti berusaha menjaga objektivitas dengan mencatat secara detail setiap isu yang muncul, baik individu maupun kolektif, terkait perilaku etis dan interaksi sosial. Catatan yang dihasilkan kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap penurunan kesantunan dan hambatan komunikasi kelompok. Pendekatan ini krusial untuk menghasilkan data yang valid dan akuntabel, sekaligus memberikan dasar empiris yang kuat untuk mengembangkan strategi intervensi yang terarah. Dengan demikian, kombinasi kuesioner dan observasi langsung tidak hanya memperkaya data kuantitatif dengan konteks kualitatif, tetapi juga memperdalam pemahaman tentang fenomena sosial yang kompleks di lingkungan sekolah.

Dalam proses analisis data, teknik regresi linier sederhana digunakan, dilengkapi dengan serangkaian uji asumsi klasik guna memastikan validitas model yang dibangun. Uji ini meliputi uji normalitas, yang bertujuan untuk memeriksa apakah distribusi residual mengikuti pola distribusi normal, sehingga memastikan reliabilitas hasil estimasi regresi. Lebih lanjut, uji linearitas dilakukan untuk memastikan hubungan antara variabel independen dan dependen bersifat berbanding lurus, sesuai dengan hipotesis dassr regresi linier. Uji heteroskedastisitas juga diterapkan untuk mendeteksi varians residual yang tidak sama pada berbagai level variabel independen, yang jika tidak ditangani, dapat mengganggu efisiensi estimasi parameter. Lebih lanjut, uji autokorelasi digunakan untuk mengidentifikasi korelasi antara residual yang berurutan, yang sering terjadi pada data deret waktu dan dapat menyebabkan bias dalam pengujian hipotesis. Sama pentingnya, deteksi outlier juga dilakukan untuk mengidentifikasi data yang menyimpang secara signifikan dari pola umum, karena keberadaan outlier dapat memengaruhi hasil analisis secara drastis. Seluruh rangkaian pengujian ini dilakukan dengan dukungan perangkat lunak statistik SPSS, yang memfasilitasi pemrosesan data yang sistematis dan akurat, menghasilkan interpretasi yang valid dan andal untuk pengambilan keputusan penelitian [17].

Hasil dan Pembahasan

Penelitian mempunyai dua variabel yaitu komunikasi kelompok sebagai variabel X dan etika kesopanan sebagai variabel Y. Pembahasan difokuskan pada pemaknaan temuan empiris, terutama mengenai sejauh mana komunikasi kelompok berpengaruh terhadap perilaku sopan santun siswa. Temuan ini kemudian dianalisis lebih lanjut dengan membandingkan hasil penelitian sebelumnya serta relevansinya dalam konteks pendidikan karakter. Dengan demikian, bagian ini tidak hanya menyajikan data statistik, tetapi juga menguraikan implikasi teoretis dan praktis dari hasil penelitian, khususnya dalam mendukung pembentukan etika kesopanan melalui komunikasi kelompok di lingkungan sekolah.

Hasil penelitian disajikan melalui serangkaian uji statistik, seperti uji reliabilitas, uji validitas, regresi linier sederhana, uji F, dan koefisien determinasi. Seluruh uji tersebut bertujuan untuk memastikan bahwa instrumen penelitian yang digunakan layak, serta hubungan antar variabel dapat dibuktikan secara ilmiah.

Tabel 1. Hasil Uji Reliabilitas

Sumber: Lampiran output SPSS data diolah peneliti (2025)

Berdasarakan Tabel 1.1, nilai Cronbach’s Alpha variabel efektivitas komunikasi (x) serta etika kesopanan (y) dapat disimpulkan untuk kedua variabel > 0,6 sehingga instrument berupa kuesioner layak diterapkan dalam penelitian sehingga disebut reliabel.

Nilai Cronbach’s Alpha pada tabel 1.1 mengartikan bahwa instrumen penelitian ini memiliki tingkat konsistensi internal yang memadai, karena seluruh variabel memiliki skor di atas 0,6. Kondisi ini menandakan bahwa respon siswa terhadap setiap butir pernyataan relatif stabil dan tidak bersifat acak. Dengan kata lain, kuesioner mampu menangkap pola jawaban yang seragam sesuai dengan tujuan pengukuran.

Lebih lanjut, reliabilitas yang tercapai ini mengisyaratkan bahwa instrumen penelitian dapat digunakan untuk menilai hubungan antara efektivitas komunikasi dan etika kesopanan secara berulang tanpa menimbulkan perbedaan hasil yang berarti. Keandalan tersebut memberikan keyakinan bahwa temuan yang diperoleh tidak hanya berlaku sesaat, melainkan memiliki kekuatan generalisasi dalam konteks yang serupa. Hal ini menjadi dasar yang kuat untuk melanjutkan analisis regresi maupun pengujian hipotesis berikutnya, karena kualitas data sudah terjamin dari sisi reliabilitas.

Tabel 2. Uji Validitas

Sumber: Lampiran output SPSS data diolah peneliti (2025)

Tabel 1.3 variabel efektifitas komunikasi (x) dan etika kesopanan (Y) menunjukkan hasil uji validitas kedua variabel tersebut bahwa semua opsi pernyataan memiliki Corrected Item Total Correlation >0,102. Sehingga seluruhnya valid dapat diterapkan dalam penelitian.

Hasil uji validitas pada tabel 1.3 memperlihatkan bahwa seluruh butir pernyataan yang digunakan dalam variabel efektivitas komunikasi dan etika kesopanan bernilai Corrected Item Total Correlation di atas batas minimum yang dipersyaratkan. Hal ini mengindikasikan bahwa setiap instrumen yang disusun benar-benar mampu merepresentasikan aspek yang ingin diukur. Dengan demikian, data yang diperoleh dari responden dapat dipercaya karena instrumen penelitian terbukti konsisten dalam menangkap fenomena yang diteliti.

Lebih jauh, temuan ini mengindikasikan aspek yang digunaksn menghitung efektivitas komunikasi maupun etika kesopanan saling berkaitan dengan konstruk yang dibangun. Artinya, respon siswa terhadap item-item pernyataan tidak berdiri sendiri, melainkan saling menguatkan sehingga menghasilkan gambaran yang utuh. Keberhasilan uji validitas ini juga menegaskan bahwa instrumen dapat digunakan tanpa perlu eliminasi butir pernyataan, sehingga hasilnya diharapkan lebih kaya dalam mendeskripsikan hubungan antara komunikasi kelompok dan penerapan etika sopan santun di lingkungan sekolah.

Tabel 3. Hasil Uji Regresi Linier Sederhana

Sumber: Lampiran output SPSS data diolah peneliti (2025)

Selanjutnya, hasil analisis regresi linier sederhana menggunakan SPSS yang tersaji pada Tabel 1.2, artinya dapat dilihat sebagai berikut:

Dari hasil perhitungan, diperoleh persamaan regresi Y=18,704+0,631 X

•Nilai konstanta (a) sebesar 18,704 menunjukkkan bahwa jika nilai x adalah nol, maka y bernilai 18,704

•Koefisien regresi (b) sebesar 0,631 mengindikasikan bahwa tiap peningkatan 1 (satuan) x akan menaikkan Y sebesar 0,631

•Nilai signifikan sebanyak 0,000 < 0,05 sehingga x berdampak secara signifikan pada y

Interpretasi persamaan ini menunjukkan bahwa nilai konstanta 18,704 menunjukkan bahwa ketika variabel X bernilai nol, variabel Y mempertahankan nilai dasarnya, yaitu 18,704. Nilai ini dapat dipahami sebagai nilai awal atau nilai dasar Y sebelum pengaruh variabel X. Dengan kata lain, terdapat hubungan positif yang cukup kuat antara X dan Y, di mana perubahan X secara langsung memengaruhi perubahan Y. Dari perspektif analitis, temuan ini memperkuat hipotesis bahwa variabel X merupakan prediktor yang valid dan relevan dalam model regresi yang dikembangkan.

Analisis lebih lanjut dapat mengungkap implikasi praktis dari hasil ini. Misalnya, jika variabel X merepresentasikan faktor intervensi atau kebijakan, maka peningkatan faktor tersebut akan secara konsisten meningkatkan hasil yang diukur oleh variabel Y. Namun, penting juga untuk mempertimbangkan bahwa meskipun hubungan ini signifikan, koefisien regresi kurang dari satu menunjukkan bahwa pengaruh X terhadap Y bersifat moderat. Dengan demikian, hasil regresi ini tidak hanya memberikan bukti empiris, tetapi juga membuka peluang untuk eksplorasi lebih lanjut dalam konteks penelitian yang lebih luas.

Tabel 4. Hasil Uji F

Sumber: Lampiran output SPSS data diolah peneliti (2025)

Tabel 1.2 menunjukkan bahwa efektivitas komunikasi kelompok (X) berdampak nyata terhadap etika kesopanan (Y). Dapat dilihat melalui nilai Fhitung = 163,818 dengan tingkst signifikansi 0,000 < 0,05 yang mengindikasikan tes regresi layak digunakan. Dengan demikian, (H0) ditolak dan (H1) diterima, menjadikan variabel komunikasi kelompok berdampak secara signifikan terhadap variabel etika kesopanan.

Temuan pada tabel 1.2 menegaskan bahwa efektivitas komunikasi kelompok memiliki peran yang substansial dalam membentuk etika kesopanan siswa. Nilai Fhitung yang jauh melebihi batas signifikansi menunjukkan bahwa hubungan antarvariabel tidak terjadi secara kebetulan, melainkan mencerminkan adanya pola konsisten di lapangan. Artinya, semakin baik kualitas komunikasi kelompok yang terjalin, semakin tinggi pula kemungkinan siswa menunjukkan perilaku sopan, baik dalam bentuk penggunaan bahasa yang santun, sikap menghargai lawan bicara, maupun keterampilan mendengarkan secara aktif.

Hasil tersebut juga memperlihatkan bahwa komunikasi kelompok berperan sebagai ruang pembelajaran sosial, di mana siswa tidak hanya melatih kemampuan berbicara, tetapi juga belajar mengendalikan sikap dalam berinteraksi. Melalui pengalaman saling menyampaikan pendapat dan mendengarkan orang lain, siswa secara bertahap memahami batas-batas perilaku yang dapat diterima. Kesadaran ini muncul bukan karena aturan tertulis semata, melainkan dari pengalaman langsung berinteraksi yang menuntut adanya sikap saling menghargai.

Dengan demikian, komunikasi kelompok dapat dipandang sebagai jembatan antara aspek akademik dan pembentukan karakter. Ketika siswa terbiasa berkomunikasi dalam suasana yang terbuka dan saling menghormati, nilai kesopanan tidak hanya dipahami sebagai teori, tetapi juga dihidupi dalam keseharian. Hal ini menegaskan bahwa proses komunikasi dalam kelompok sejatinya menjadi wahana yang melatih siswa untuk tumbuh sebagai individu yang peka terhadap norma sosial. Proses interaksi yang berlangsung di dalam kelompok mendorong siswa untuk berlatih mengendalikan diri dan menumbuhkan empati terhadap orang lain. Dengan kata lain, efektivitas komunikasi kelompok dapat dipahami sebagai jembatan yang menghubungkan antara kemampuan berkomunikasi dengan penerapan sopan santun.

Namun, penting disadari bahwa komunikasi kelompok tidak selalu menghasilkan dampak positif. Jika interaksi dalam kelompok lebih banyak diwarnai oleh dominasi, ejekan, atau sikap saling meremehkan, maka nilai kesopanan justru berisiko terabaikan. Dalam kondisi seperti ini, kelompok bisa menjadi sarana penyebaran perilaku negatif yang ditiru oleh anggotanya, karena remaja cenderung mudah menyesuaikan diri dengan mayoritas.

Selain itu, komunikasi yang tidak terarah dapat menumbuhkan kebiasaan berbicara tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain, sehingga memunculkan konflik dan memperlebar jarak antaranggota. Situasi ini menunjukkan bahwa efektivitas komunikasi kelompok bukan hanya soal keterampilan menyampaikan informasi, tetapi juga bagaimana kelompok tersebut mengatur interaksi agar tetap menghargai norma kesopanan. Tanpa pengelolaan yang baik, komunikasi kelompok bisa menjadi faktor yang melemahkan karakter, bukan memperkuatnya.

Tabel 5. Hasil Uji Determinasi

Sumber: Lampiran output SPSS data diolah peneliti (2025)

Berdasarkan tabel 1.5 diatas menunjukkan bahwa variabel komunikasi kelompok mampu mempengaruhi variabel etika kesopanan siswa sebesar 30,7%, untuk 69,3% disebabkan oleh aspek lain yang tidak diketahui dan bukan bagian analisis regresi. Sedangkan nilai R sebesar 0,554, menunjukan pengaruh yang cukup atau sedang variabel komunikasi kelompok terhadap etika kesopanan siswa SMP kelas 7. Berdasarkan hasil analisis, hipotesis pertama yang menyatakan adanya pengaruh efektivitas komunikasi kelompok terhadap etika kesopanan siswa kelas VII SMPN 1 Sedati terbukti diterima.

Hasil penelitian tersebut juga memperlihatkan bahwa peran komunikasi kelompok bukan hanya sekadar memengaruhi etika kesopanan secara langsung, tetapi juga membentuk pola interaksi sosial yang lebih luas di kalangan siswa. Nilai kontribusi sebesar 30,7% menunjukkan bahwa komunikasi kelompok memberikan ruang yang cukup besar bagi siswa untuk belajar menghargai perbedaan, mengekspresikan pendapat dengan cara yang tepat, dan mengelola emosi saat berinteraksi. Meskipun sebagian besar faktor yang memengaruhi etika kesopanan masih berasal dari luar penelitian ini, temuan tersebut menegaskan bahwa komunikasi kelompok tetap menjadi salah satu unsur penting dalam perkembangan perilaku sosial siswa di masa transisi.

Selain itu, komunikasi kelompok yang terbangun di lingkungan sekolah juga berfungsi sebagai wadah pembelajaran sosial yang nyata. Ketika siswa dilibatkan dalam diskusi, kerja sama kelompok, atau kegiatan ekstrakurikuler, mereka tidak hanya melatih keterampilan berbicara dan mendengar, tetapi juga mempraktikkan nilai-nilai kesopanan seperti memberi kesempatan orang lain berbicara, menjaga nada suara, serta menunjukkan sikap hormat kepada guru maupun teman sebaya. Dengan demikian, komunikasi kelompok dapat dipandang sebagai sarana yang secara alami menanamkan etika kesopanan melalui pengalaman langsung, bukan hanya melalui aturan tertulis atau nasihat guru.

Kelas 7 adalah masa peralihan dari SD ke SMP sehingga komunikasi kelompok yang terjadi pada siswa SMPN 1 kelas 7 lebih mengutamakan spontanitas, emosional, dan rasa ingin diakui. Sehingga ada konflik kecil yang muncul seperti perbedaan pendapat. Namun hal itu sangat wajar dalam proses belajar komunikasi. Mereka juga memadukan komunkasi verbal dan non verbal dalam kegiatan bersosial kelompok. Seperti obrolan langsung, presentasi, diskusi.

Keterlibatan ekspresi wajah dan bahasa tubuh dalam komunikasi kelompok menunjukkan bahwa siswa tidak hanya mengandalkan kata-kata, tetapi juga memanfaatkan simbol nonverbal untuk memperkuat pesan yang ingin disampaikan. Hal ini membuat interaksi menjadi lebih hidup dan mudah dipahami oleh anggota kelompok lainnya. Di sisi lain, aktivitas komunikasi yang berlangsung di luar kelas, seperti dalam organisasi OSIS maupun kegiatan ekstrakurikuler, memperluas ruang bagi siswa untuk berlatih keterampilan sosial dalam konteks yang lebih nyata dan beragam.

Melalui pengalaman tersebut, siswa belajar bagaimana menyesuaikan cara berkomunikasi sesuai dengan situasi dan lawan bicara, baik dengan teman sebaya maupun dengan pihak yang lebih dewasa. Artinya, komunikasi kelompok tidak hanya membangun pemahaman akademik, tetapi juga menjadi sarana pengembangan karakter sosial yang mendukung pembentukan sikap sopan, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama. Dengan begitu, ruang komunikasi di luar kelas berfungsi sebagai laboratorium sosial tempat siswa mengasah etika dan kepekaan interpersonal. Hal tersebut juga selaras dengan etika kesopanan yang terjadi di SMPN 1 Sedati. Mereka mendengarkan pendapat orang lain saat berbicara serta ketika berkomunikasi dengan guru menggunakan bahasa yang sopan. Saat berada di luar kelas, mereka sering menyapa jika bertemu dengan teman dan guru.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa efektivitas komunikasi kelompok berpengaruh positif dan signifikan terhadap etika kesopanan siswa kelas 7 SMPN 1 Sedati. Hal ini dibuktikan melalui hasil uji regresi linier sederhana dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 dan persamaan Y = 18,704 + 0,631X, yang menunjukkan bahwa semakin efektif komunikasi kelompok, maka semakin tinggi pula tingkat kesopanan siswa. Selain itu, nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,307 mengindikasikan bahwa komunikasi kelompok memberikan kontribusi sebesar 30,7% terhadap pembentukan etika kesopanan, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian, seperti lingkungan keluarga, pengaruh media sosial, dan kebijakan sekolah.

Dengan demikian, komunikasi kelompok dapat dipandang sebagai salah satu faktor penting dalam mendukung pembentukan karakter siswa. Melalui interaksi, diskusi, dan kerja sama dalam kelompok, siswa tidak hanya belajar menyampaikan pendapat, tetapi juga menumbuhkan sikap saling menghargai, mendengarkan, serta menjaga sopan santun. Hal ini menegaskan bahwa pembiasaan komunikasi kelompok yang efektif perlu diintegrasikan dalam pendidikan karakter di sekolah.

Ucapan Terima Kasih

Puji syukur saya tujukan kepada Allah SWT atas petunjuk dan kemudahan yang diberikan. Tak lupa dukungan dan doa dari kedua orang tua beserta adik tercinta yuniar dwi alfiani yang telah ikut membantu memberikan ilmu dan pengalamannya kepada saya. Ucapan terima kasih juga saya berikan kepada kantor saya GII Commerce yang telah memberikan dukungan berupa beasiswa penuh untuk menyelesaikan pendidikan S1 saya.

References

M. P. Dr. Ilham Kamaruddin, “(Satianingsih., Maftuh, & Syaodih, 2018),” vol. 5, no. 3, 2023.

P. Filsafat, E. David, and M. A. Hidayatullah, “1 , 2 , 3 123,” pp. 1–14.

D. Setiawan, “Pengaruh Komunikasi Kelompok , Penggunaan Media Sosial , Dan Search Engine Terhadap Akhlak Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kecamatan Pancur Batu,” p. 79, 2020, [Online]. Available: http://repository.uinsu.ac.id/8754/

Dewi Nurhasanah Nasution, “Etika Sopan Santun Siswa Kelas V Dalam Proses Pembelajaran Di Sekolah

Dasar Negeri 106211 Kampung Padang,” Al Yazidiy J. Sos. Hum. dan Pendidik., vol. 4, no. 2, pp. 37–43, 2022, doi: 10.55606/ay.v4i2.34.

F. T. Wisanti, “Pengaruh Komunikasi Kelompok Pelajar ‘Esperose’ Smp N 2 Sewon Bantul

Terhadap Perilaku Menyimpang Pada Siswa,” 2022. [Online]. Available: https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/55905/

C. Harilama, E. Mingkid, and E. Kalesaran, “Efektivitas Komunikasi Kelompok Dalam Membangun

Komitmen Anggota Paduan Suara Mahasiswa Universitas Sam Ratulangi,” Ilmu Komun., vol. 2, no. 4, pp. 1–16, 2020, [Online]. Available: https://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/actadiurnakomunikasi/article/view/31567

Asiva Noor Rachmayani, “Pengaruh Komunikasi Efektif untuk Meningkatkan Hasil Belajar Kewirausahaan Mahasiswa,” vol. 9, no. 1, p. 6, 2015.

R. P. Tutiasri, “Komunikasi Dalam Komunikasi Kelompok,” CHANNEL J. Komun., vol. 4, no. 1, pp. 81–90,

2016, doi: 10.12928/channel.v4i1.4208.

G. Assembly, “PEMBELAJARAN UNTUK MENINGKATKAN kOMPETENSI 4C(COMMUNICATION, COLLABORATIONCRITICAL THINKING DANCREATIVE THINKING) UNTUKMENYONGSONG ERA ABAD 21,” עלון הנוטע, vol. 66, no. 3, pp. 37–39, 1900.

A. F. Sari, “ETIKA KOMUNIKASI,” 2020, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau. doi: 10.35961/tanjak.v1i2.152.

M. K. Rokhman, S. Sucipto, and M. Masturi, “Perilaku Kedisiplinan Siswa Dilihat Dari Etika Belajar Di Dalam Kelas,” J. Prakarsa Paedagog., vol. 2, no. 1, 2020, doi: 10.24176/jpp.v2i1.4310.

P. Djuwita, “Pembinaan etika sopan santun peserta didik kelas v melalui pembelajaran pendidikan kewarganegaraan di sekolah dasar nomor 45 kota bengkulu (Development of ethical manners of class v students through civic education learning at elementary school number 45 ,” J. PGSD, vol. 10, no. 1, pp. 27–36, 2017.

N. Suryani, P. Purwanti, and Y. Yuline, “Implementasi Norma Kesopanan Pada Perilaku Peserta Didik

Kelas X Ipa Sma Negeri 10 Pontianak,” J. Pendidik. dan Pembelajaran Khatulistiwa, vol. 11, no. 3, 2022,

doi: 10.26418/jppk.v11i3.53799.

P. N. Shoumi and E. Yuris, “Peran lingkungan sekolah dalam pembentukan karakter siswa di SD Al

Washilyah 15 Medan,” J. Penelit. Ilmu-Ilmu Sosia, vol. 2, no. September, pp. 84–88, 2024, [Online]. Available: https://ojs.daarulhuda.or.id/index.php/Socius/article/download/796/849

Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. 2020.

M. Waruwu, S. N. Pu`at, P. R. Utami, E. Yanti, and M. Rusydiana, “Metode Penelitian Kuantitatif: Konsep,

Jenis, Tahapan dan Kelebihan,” J. Ilm. Profesi Pendidik., vol. 10, no. 1, pp. 917–932, 2025, doi: 10.29303/jipp.v10i1.3057.

M. A. Yusuf, Herman, T. H, A. Abraham, and H. Rukmana, “Analisis Regresi Linier Sederhana dan

Berganda Beserta Penerapannya,” J. Educ., vol. 06, no. 02, pp. 13331–13344, 2024.