Mellyta Wandha Chayaning (1), Nurdyansyah (2)
General Background: Critical thinking is an essential competency for elementary students in responding to real-life situations through reflective and analytical processes. Specific Background: In Indonesian elementary schools, learning practices often remain teacher-centered, limiting students’ opportunities to actively construct knowledge and develop higher-order thinking skills. Knowledge Gap: Previous studies on Project Based Learning have largely focused on subjects such as science and mathematics, while limited research examines its implementation in Indonesian language learning, particularly in poetry writing activities at the elementary level. Aims: This study aims to describe the implementation of Project Based Learning and to explain the role of teachers in developing sixth-grade students’ critical thinking skills in Indonesian language learning at SD Negeri 2 Sukobendu Lamongan. Results: Using a qualitative approach through observation, interviews, and documentation analyzed with data triangulation, the findings reveal that structured project phases—from formulating essential questions to reflection—encourage active participation, analytical thinking, evaluation, creativity, and communication skills. Poetry writing projects guided by teachers as facilitators and mentors support students in expressing experiences systematically and critically. Novelty: The study highlights the integration of Project Based Learning syntax with teacher multifaceted roles in Indonesian language instruction at the elementary level. Implications: The findings provide practical guidance for teachers in designing meaningful project-based activities to support sustainable development of critical thinking skills in primary education contexts.
Keywords: Project Based Learning, Critical Thinking Skills, Teacher Role, Indonesian Language Learning, Elementary Education
Key Findings Highlights:
Structured project phases guide students from idea exploration to reflective evaluation in poetry writing activities.
Teacher facilitation, mentoring, and feedback shape analytical reasoning and classroom participation.
Learning contracts and presentation sessions support responsibility, collaboration, and self-assessment practices.
Berpikir kritis merupakan kemampuan penting yang wajib dikuasai oleh setiap individu terutama para siswa yang cenderung untuk membuat serta melakukan asesmen sesuai dengan bukti nyata yang bersifat produktif, reflektif, serta evaluative terhadap kejadian di lingkungan sekitarnya. Namun disisi lain, Negara Indonesia sebagai Negara berkembang diharuskan untuk mengejar ketertinggalan terkait pola pikir kritis warganya. Dalam menghadapi persaingan dalam bidang pendidikan, maka diperlukannya strategi pembelajaran siswa dalam membantu meningkatkan cara berpikir kritis sehingga selanjutnya siswa dapat lebih siap dalam menghadapi persaingan global.[1] Pernyataan tersebut juga sejalan dengan yang telah dipublikasikan oleh Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor. 103 Tahun 2014 yang menyatakan bahwa “Peserta didik merupakan subyek yang harus memiliki kemampua secara aktif untuk mencari, mengolah, mengkonstruksi, serta menggunakan pengetahuannya. Oleh sebab itu, seorang siswa tidak hanya menerima pembelajaran dari pendidik saja, akan tetapi dituntut untuk lebih berperan aktif selama proses pembelajaran berlangsung.[2]
Berdasarkan Undang-Undang Permendikbud yang dijelaskan di atas, hal tersebut juga sesuai dengan pernyataan dari Walsh dan Paul bahwa “Berpikir kritis itu mempunyai makna menafsir, menilai suatu informasi, serta menganalisis suatu kejadian atau pengalaman yang didapat melalui penggabungan antara sikap (disposition) dengan kemampuan (skill) agar dapat memberikan arahan kepada peserta didik untuk berpikir, bertindak, serta percaya akan sesuatu.[3] Selanjutnya senada dengan apa yang disampaikan oleh Walsh dan Paul, Unaenah juga berpendapat bahwa berpikir secara kritis dianggap sebagai sebuah keterampilan berpikir melalui proses evaluasi serta analisis untuk memecahkan sebuah masalah yang nantinya akan menghasilkan sebuah keputusan yang tepat.[4] Maka dari itu, kemampuan atau skill dalam berpikir kritis harus terus ditingkatkan terutama pada siswa selama pembelajaran di kelas berlangsung. Situasi ini akan membawa pengaruh yang baik bagi para peserta didik khususnya dalam menghadapi suatu kejadian yang dialami sehari-hari.
Namun, hal tersebut berbanding terbalik pada peserta didik di jenjang Sekolah Dasar. Umumnya para siswa masih kurang kemampuannya dalam berpikir kritis disebabkan dari peran guru yang masih jauh tertinggal terhadap pembaharuan yang terjadi pada era sekarang ini. Hal ini menimbulkan ketidakstabilan pada proses belajar mengajar yang lebih sering melakukan metode pembelajaran secara pasif yaitu seorang pendidik hanya menyampaikan materi di depan kelas, sementara siswa cukup mendengarkan tanpa adanya kegiatan pemberian proyek sebagai penunjang belajar siswa.[5] Pada dasarnya dalam proses pembelajaran tidak hanya mencakup salah satu pihak terkait, baik pendidik maupun siswa. melainkan belajar merupakan sebuah proses interaksi yang melibatkan keseluruhan yang ada di sekitar dalam mencapai suatu tujuan serta proses melaksanakan kegiatan melalui pengalaman yang diciptakan dalam lingkup pendidikan.[6] Oleh sebab itu, cara menangani permasalahan yang terjadi dalam proses pengembangan keterampilan berpikir kritis pada siswa terdapat solusi yang dapat dilakukan oleh seorang pendidik yang mengajar yaitu menggunakan metode Project Based Learning untuk mendukung jalannya proses pembelajaran agar lebih kreatif dan bervariatif.
Pembelajaran basis Project Based Learning ini berpusat pada peserta didik yang berpacu pada pembuatan proyek, pemantauan kemajuan hasil proyek, serta evaluasi setelah pembuatan proyek, sehingga metode ini dapat memberikan peluang yang tinggi sebagai penunjang pembelajaran agar lebih berkesan dan bermakna kreatif.[7] Model pembelajaran basis Proyek ini juga memfasilitasi peserta didik untuk dapat berkarya secara pribadi maupun berkelompok. Akan tetapi, keberhasilan dari metode ini tergantung dari beberapa faktor yang mempengaruhi, baik itu dari peserta didik maupun dari pendidik. Faktor keberhasilan dari faktor pendidik ini dapat dilihat dari bagaimana seorang pendidik mampu merancang proses pembelajaran dengan cara yang lebih menarik dan memberikan kesenangan bagi para peserta didik. Namun, disisi lain terkadang pendidik hanya menyampaikan pengetahuan tanpa menyediakan peluang bagi siswa untuk mengasah kemampuan masing-masing. Sehingga dalam proses belajar, penting untuk memfokuskan pada partisipasi aktif dari setiap peserta didik.[8] Maka dari itu, agar kemampuan berpikir kritis siswa dapat berkembang, dibutuhkan adanya pendampingan pada proses pembelajaran yang berbeda dari sebelumnya, dari yang semula terlihat monoton menjadi lebih berkreatif. Adapun implementasi dari metode PBL dalam mendorong skill berpikir kritis murid antara lain seperti pada kerangka konseptual di bawah ini:
Figure 1.
Menurut kerangka konseptual diatas, bahwa Project Based Learning ini didasari oleh prinsip-prinsip konstruktivisme, yaitu para siswa berpartisipasi secara aktif dalam proses mengonstruksi pemahaman serta kemampuan mereka melalui pengalaman, interaksi, serta refleksi untuk menggabungkan informasi baru yang di dapat dengan pengetahuan yan sudah ada untuk menciptakan pemahaman yang lebih bemakna. Dalam metode ini, siswa dapat mengerjakan proyek baik secara mandiri atau berkelompok untuk menciptakan sebuah pengalaman yang berbeda dari sebelumnya selama proses pembelajaran berlangsung. Pernyataan tersebut juga sejalan dengan apa yang telah diuraikan oleh Masitoh bahwa karakterstik pembelajaran berpusat pada anak, seperti: 1) Melakukan kegiatan sesuai dengan inisiatif peserta didik, 2) Peserta didik diberikan kebebaskan dalam memilih serta menetu materi aktivitasnya sendiri, 3) Peserta didik dapat mengekspresikan ide-ide secara aktif dengan menggunakan semua panca inderanya, 4) Peserta didik harus memahami hubungan sebab akibat yang diperoleh melalui pengalaman secara langsung dengan objek, 5) Peserta didik diberikan kesempatan untuk menceritakn pengalamannya sendiri.[9]
Sejalan dengan pernyataan diatas, maka implementasi Project Based Learning dalam mempengaruhi pengembangan pola berpikir kritis peserta didik terbagi menjadi 2 macam yakni Implementasi Project Based Learning oleh guru dan pengembangan berpikir kritis siswa. Pertama Implementasi Project Based Learning bagi guru dibagi menjadi 2 antara lain: a) Guru merancang dan menerapkan metode, pada point ini guru menerapkan kegiatan pembelajaran dengan cara berdiskusi sesuai tema yang dipelajari, bermain, bercerita, serta menggunakan media penunjang pembelajaran sehingga siswa siswa bersemangat mengikuti pembelajaran.,[10]; b) Guru memberikan bimbingan dan penilaian, peran guru dalam metode Project Based Learning ini yaitu mewujudkan pembimbingan kepada siswa selama pembelajaran berlangsung serta berperan menjadi fasilitator bagi siswa dalam mengembangkan pemikiran kreatif.[11]; Kedua Peningkatan berpikir kritis siswa dibagi menjadi 3 macam antara lain: a) Analisis, peserta didik diharapkan mampu mengidentifikasi serta memahami sebuah masalah sehingga hasil akhirnya akan menemukan keseimbangan antara kecakapan, pengetahuan, aspek kompetensi sikap, serta keterampilan.,[12]; b) Evaluasi, sebuah proses penting dalam menilai atau mengevaluasi hasil pembelajaran dan menerapkan informasi dengan kritis; c) Kreativitas, kemampuan siswa dalam menciptakan atau menghasilkan suatu hal baru yang harus dikembangkan dan didasari oleh keinginan, kesadaran, dan dedikasi.[13]
Dengan dilakukannya implementasi Project Based Learning tersebut, maka akan terfokus juga kepada bagaimana para peserta didik dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritisnya, setelah itu akan berdampak positif juga terhadap kemampuan peserta didik dalam memperluas pengetahuan mereka. Selain itu, peserta didik juga tidak hanya belajar secara aktif melainkan didorong untuk mengembangkan keterampilan analitis dalam menyelesaikan masalah. Proses ini tidak sekedar memperdalam pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran di kelas, melainkan juga mendukung siswa untuk menghadapi kondisi di sekitar guna membuka wawasan siswa terhadap lingkungan sekitarnya.
Berdasarkan penelitian sebelumnya, penelitian yang di lakukan oleh Resti Fitria Ariani Menunjukkan bahwa berpikir kritis siswa harus diterapkan dari jenjang sekolah dasar hingga menengah, selain itu juga memaparkan bahwa berpikir kritis lebih efektif dilaksanakan pada pembelajaran IPA karena siswa dapat meningkatkan kemampunyaannya dalam bernalar yang logis, sistematis, serta objektif melalui metode Project Based Learning.[14]
Sejalan dengan apa yang dijelaskan sebelumnya, Retno Triningsih & Mawardi menyatakan bahwa metode Problem Based Learning Dan Project Based Learning dapat digunakan pada pelajaran Matematika. Hal tersebut karena pembelajaran Matematika diajarkan oleh seorang pendidik agar siswa mampu berpikir dengan logis, matematis, dan sistematis, serta dapat berkolaborasi, terutama dalam meningkatkan siswa berpikir secara kritis. Sehingga keterampilan itu semua sangat dibutuhkan dalam kelangsungan hidup tiap individu.[15]
Berdasarkan hal tersebut di atas, penelitian ini bertujuan untuk melakukan dua hal: (a) merinci bagaimana PBL diterapkan; dan (b) menjelaskan bagaimana instruktur dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir kritis yang lebih baik saat belajar bahasa Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan alat yang dapat digunakan guru di kelas untuk membantu siswa membangun keterampilan berpikir kritis saat belajar.
Berdasarkan pembahasan diatas, penelitian ini akan berfokus terhadap bagaimana cara mengembangkan keterampilan berpikir secara kritis pada siswa oleh guru melalui pemelajaran berbasis Project Based Learning yang dilihat dari perspektif siswa sekolah dasar di SD Negeri 2 Sukobendu khususya pada kelas 6. Maka untuk mempertimbangkan masalah yang sudah ada, baik itu masalah di lapangan maupun masalah hasil penelitian para tokoh yang disebutkan. Terlihat bahwa dalam penelitian sebelumnya terkait berpikir kritis siswa hanya terfokuskan pada salah satu mata pelajaran tertentu. Sedangkan dalam penelitian ini akan berfokus pada pembelajaran Bahasa Indonesia untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui Project Based Learning.
Pendekatan kualitatif, yang lebih umum terlihat dalam penelitian yang dilakukan di habitat asli mereka, diterapkan dalam penelitian ini. Dalam analisis data induktif, peneliti adalah alat utama dengan penekanan pada makna. Selain itu, penelitian ini mengambil dari berbagai sumber yang membahas topik tanggung jawab guru sekolah dasar kelas enam dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa melalui Pembelajaran Berbasis Proyek. Pendekatan ini sangat bergantung pada laporan langsung dari isu-isu topikal, seperti pembelajaran berbasis proyek, implementasi praktisnya, dan tanggung jawab guru dalam pendidikan siswa mereka.
Para peneliti dalam penelitian ini menggunakan sejumlah metode untuk menyusun temuan mereka tentang evolusi kemampuan berpikir kritis siswa, seperti: a) Mencatat. Tujuan dari penelitian observasional ini adalah untuk mengidentifikasi cara-cara siswa kelas enam di SD Negeri 2 Sukobendu Lamongan terlibat dalam Pembelajaran Berbasis Proyek untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis mereka. (a) Salah satu metode adalah dengan melakukan wawancara. Untuk mengukur keberhasilan pendekatan Pembelajaran Berbasis Proyek, metode wawancara ini mengandalkan komunikasi verbal dua arah antara pewawancara dan responden, yang merupakan guru. Wawancara dilakukan di SD Negeri 2 Sukobendu, Lamongan, Indonesia, selama bulan Februari dan Maret 2025. c) Catatan tertulis: Gambar digunakan sebagai data penelitian dalam teknik ini.
Triangulasi data digunakan untuk melakukan analisis setelah pengumpulan data. Triangulasi data adalah metode untuk mengevaluasi informasi yang dikumpulkan dari berbagai sumber, seperti wawancara, observasi, dan catatan. Untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik tentang apa yang terjadi di lapangan dan untuk mendapatkan lebih banyak data, peneliti menggunakan triangulasi.
A. Implementasi Penerapan Metode Project Based Learning
1. Sintaks Project Based Learning
pada pelaksanaan metode pembelajaran PBL, proses pembelajaran pastinya di bagi menjadi beberapa tahapan atau fase yang saling terkait dan terstruktur. Setiap fase memiliki tanggung jawab bagi seorang pendidik maupun peserta didik untuk mencapau tujuan pembelajaran yang diinginkan. Pada setiap fase juga, peran seorang guru sangat penting yakni sebagai fasilitator serta pembimbing yang mengarahkan peserta didik mulai dari pertanyaan men dasar hingga evaluasi hasil proyek. Pendekatan ini tidak hanya membangun suasana belajar yang menarik, melainkan juga dapat mengembangkan berpikir kritis siswa.
Selanjutnya, siswa juga berperan aktif dengan mengikuti arahan guru secara terstruktur, mulai dari menyimak penjelasan, mengungkapkan ide, merencanakan proyek, hingga menyusun jadwal dan mengerjakan tugas pembuatan proyek. Pada tahap akhir, siswa diajak untuk mempresentasikan karya mereka serta melakukan refleksi guna memahami pengalaman belajar dan manfaat yang diperoleh selama proses pembelajaran. Dengan demikian, PJBL tidak hanya meningkatkan kemampuan menulis, tapi juga memperkuat keterampilan komunikasi dan evaluasi diri siswa. Oleh karena itu, untuk lebih jelasnya terdapat tabel sintaks terkait Project Based Learning di bawah ini:
Dari tabel sintaks Project Based Learning (PJBL) tersebut bisa ditarik kesimpulan pelaksanaan pembelajaran berbasis proyek dilakukan secara berurutan dan terstruktur melalui enam fase yang melibatkan peran aktif guru dan siswa. Guru memiliki peran sebagai fasilitator serta pembimbing dalam pembelajaran yang dimulai dengan memberikan pertanyaan pemantik yang relevan sesuai pengalaman sehari-hari siswa, serta membimbing dalam menentukan tema hingga menyusun langkah-langkah pengerjaan proyek. Selain itu, guru juga berperan dalam membantu penyusunan jadwal, memantau proses pengerjaan, memberikan arahan penulisan yang benar, memfasilitasi presentasi hasil karya, dan memimpin tahap refleksi evaluasi.
Sementara itu, siswa terus didorong untuk aktif mulai dari menyimak penjelasan guru, mengungkapkan pengalaman sebagai ide puisi, memilih tema yang sesuai, mencatat langkah proyek, menyepakati jadwal bersama tim, dan saling mengingatkan sesama teman agar tetap bertanggung jawab sesuai tugas yang dibagikan. Dalam proses menulis, siswa memperhatikan arahan guru dan berusaha menghasilkan karya sesuai tema yang telah dipilih. Pada tahap akhir, siswa mempresentasikan hasil proyek secara bersama-sama dan terlibat dalam proses evaluasi dengan menyampaikan kesan dan pengalaman belajar mereka. Secara keseluruhan, tabel ini menjelaskan bahwa pembelajaran melalui Project Based Learning menuntut kerja sama yang erat antara guru dan siswa serta mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan komunikasi siswa secara menyeluruh.
2. Implementasi Sintaks Project Based Learning
Pelaksanaan metode pembelajaran PBJL sesuai dengan tabel sintaks diatas pada Pembelajaran Bahasa Indonesia kelas 6 yang berfokus pada pembuatan proyek berupa karya puisi. Setelah melakukan penelitian di sekolah tersebut, ditemukan bahwa penerapan metode ini mampu meningkatkan keaktifan peserta didik secara nyata melalui pemberian proyek. Pada fase 1, peran guru mengajukan pertanyaan mendasar mengenai cara mengekspresikan pengalaman pribadi siswa melalui puisi untuk memicu rasa ingin tahu siswa, kemudian menghubungkan pertanyaan tersebut dengan pengalaman masing-masing, sehingga memunculkan ide-ide yang dpaat dituangkan dalam sebuah karangan puisi dalam bentuk kreatif.
Setelah muncul beberapa ide, terdapat fase 2, yakni guru berperan membimbing siswa untuk menentukan tema puisi berdasarkan pengalaman masing-masing. Pada tahap ini, siswa belajar untuk memilih tema yang paling sesuai seperti tema persahabatan, keindahan alam, maupun kegiatan sehari=hari. Selain itu, siswa mencatat tahapan pengerjaan proyek yang dijelaskan guru, sehingga proses pembuatan puisi berjalan secara sistematis. Pendekatan ini menyediakan kesempatan bagi siswa untuk terus meningkatkan kemampuan mereka secara mandiri maupun berkelompok secara terarah.
Fase selanjutnya yakni fase 3 berupa penyusunan jadwal kegiatan pembuatan proyek, peran guru dalam fase ini yaitu membantu siswa dalam mengatur langkah-langkah dalam pembuatan proyek agar lebih terarah. Penyusunan jadwal pembuatan proyek dilakuakan dengan memperhatikan waktu pembelajaran yang tersedia sehingga proyek dapat selesai tepat waktu dan setiap siswa mendapatkan tanggung jawab masing-masing dimana hal tersebut juga tidak terlepas dari pengawasan guru, baik dalam penulisan maupun diskusi kelompok. Sementara itu, sisw harus bisa menyepakati jadwal yng telah disusun dan tidak lupa untuk saling mengingatkan teman agar tetap aktif dan bertanggung jawab terhadap bagian maing-masing. Dengan cara ini, siswa bukan hanya belajar mengelola waktu. Tetapi juga meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab dalam berkelompok.
Fase keempat merupakan tahap memantau proyek, di mana guru memulai proses pengawasan dan memberikan arahan teknis saat siswa mulai menulis puisi. Dalam fase ini, guru memberikan bimbingan terkait tata cara penulisan yang benar, seperti penggunaan diksi, struktur kalimat, serta ejaan yang sesuai kaidah Bahasa Indonesia. Siswa secara aktif menulis puisi sesuai tema yang sudah dipilih dan berusaha menerapkan arahan guru untuk menghasilkan karya yang berkualitas dan mudah dipahami. Pemantauan ini membantu mengatasi kesalahan penulisan sejak awal sehingga meningkatkan mutu hasil akhir. Selain itu, kehadiran guru sebagai pembimbing selama proses tersebut dapat memberikan motivasi dan dukungan agar siswa tetap fokus dan kreatif dalam berkarya.
Fase kelima adalah menguji hasil di mana guru memberikan arahan kepada para peserta didik untuk menyampaikan hasil karya puisi mereka di depan kelas. Presentasi ini menjadi momen bagi siswa untuk menunjukkan hasil kerja mereka sekaligus berlatih berbicara di depan umum dan mengekspresikan ide dengan percaya diri. Penyampaian puisi secara kelompok juga mendukung kemampuan kerjasama dan komunikasi antar siswa. Melalui presentasi, siswa tidak hanya belajar menyampaikan karya tetapi juga membuka ruang bagi pemberian feedback yang konstruktif dari teman dan guru demi penyempurnaan hasil karya mereka. Aktivitas ini mengajarkan siswa pentingnya komunikasi efektif dan rasa percaya diri yang dibutuhkan dalam berbagai aspek kehidupan.
Fase terakhir dalam implementasi PJBL adalah evaluasi. Guru memimpin sesi refleksi dengan menanyakan kesan dan pengalaman siswa setelah mengikuti proses pembuatan proyek puisi. Dalam tahap ini, siswa diajak menyampaikan apa yang telah dipelajari dan bagaimana pengalaman tersebut membantu mereka dalam mengembangkan kreativitas serta kemampuan berpikir kritis. Guru kemudian menyimpulkan hasil pembelajaran sekaligus mengaitkan manfaat proyek dengan persiapan pembelajaran selanjutnya. Evaluasi ini memberikan peluang bagi peserta didik untuk menganalisis proses dan hasil karya mereka secara kritis, serta memahami pentingnya perbaikan berkelanjutan. Dengan refleksi bersama, siswa menginternalisasi pembelajaran yang diperoleh sehingga dapat diterapkan dalam konteks pembelajaran dan kehidupan nyata.
Opini saya setelah melakukan penelitian ini adalah bahwa metode Project Based Learning sangat tepat diterapkan dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia, terutama dalam meningkatkan keterampialn menulis dan kemampuan berpikir kritis siswa di SD Negeri 2 Sukobendu Lamongan. Metode ini tidak hanya mendorong siswa untuk lebih berpikir secara mendalam, tetapi juga melatih mereka belajar secara kolaboratif dan mandiri. Peran guru sebagai fasilitator yang aktif sangat menentukan keberhasilan pembelajaran sehingga pelatihan dan dukungan kepada guru di lapangan perlu terus diperkuat agar implementasi PJBL berjalan optimal. Maka Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa penerapan sintaks Project Based Learning di SD Negeri 2 Sukobendu Lamongan memberikan kontribusi penting dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Pendekatan yang mampu membekali siswa dengan berbagai keterampilan penting yang sangat bermanfaat bagi perkembangan akademik dan sosial mereka. Oleh karena itu, saya sangat merekomendasikan sekolah lain untuk mengimplementasikan model pembelajaran berbasis PBJL ini melalui adaptasi sesuai kebutuhan masing-masing agar tujuan pembelajaran lebih efektif dan menyeluruh dapat tercapai.
B. Peran Guru dalam Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa pada Pembelajaran Bahasa Indonesia
Subandriyo berpendapat bahwa penggunaan strategi pengajaran yang efektif sama pentingnya untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Selain memberikan pengetahuan, guru harus berperan sebagai katalisator bagi perkembangan kognitif siswa. Lebih lanjut, pendidik memainkan peran penting dalam membimbing siswa menuju keterampilan berpikir kritis melalui proses pembelajaran. Hal tersebut juga diterapkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang menuntut kreativitas serta analisis yang mendalam bagi siswa. Hal ini juga sependapat dengan Lolita Anna Risandy, dkk yang mengungkapkan bahwa guru memiliki peran sebagai fasilitator, salah satunya yaitu menyediakan fasilitas belajar yang memadai untuk memudahkan proses belajar siswa dalam menguasai suatu materi. Karena itu, guru diharapkan mampu mencari serta menggunakan sumber belajar untuk meraih tujuan dalam sebuah pembelajaran.[16] Disamping itu, penelitian dari Dian Lailatul Mufidah dan Ruli Astuti, menerangkan bahwa guru tidak hanya berperan sebagai fasilitator saja, melainkan guru juga dapat menjadi sebagai seorang pembimbing, motivator, administrator, evaluator, maupun inspirator. Peran-peran tersebut juga mendukung guru dalam mewujudkan tujuan pembelajaran yang diharapkan.[17]
Subandriyo menjelaskan dalam wawancara, cara untuk dapat menstimulasi berpikir kritis siswa yaitu dengan memberikan proyek atau tugas, seperti menulis karangan puisi. Melalui tugas ini, siswa didorong untuk menuangkan ide serta gagasannya kedalam bentuk tulisan secara terstruktur dan jelas yang di dapat melalui pengalaman sehari-hari siswa. Disamping itu, siswa diharuskan mempresentasikan hasil proyeknya di depan kelas secara bersama-sama.. Hal tersebut juga harus didukung dengan adanya pemanfaatan media sebagai sarana pendukung disaat pembelajaran, seperti halnya pada penelitian Ragil Mayangsari dan Maslikhatun Nisak, yang menjelaskan bahwa pemanfaatan media ini akan memberikan pengalaman belajar yang menarik dan tepat untuk peserta didik sehingga dapat memberikan berkontribusi yang lebih baik terhadap peningkatan berpikir siswa.[18] Hal ini dapat mengasah keterampilan menulis dan berbicara siswa di depan umum, memahami isi dari puisinya, mengevaluasi kelebihan dan kekurangan dari karya yang dibuat, dan juga dapat belajar menerima masukan serta tanggapan dari teman maupun pendidik untuk meningkatkan kualitas karya tiap individu. Dengan melalui proses analisis, refleksi, dan perbaikan berkelanjutan terhadap karya siswa, maka keterampilan berpikir kritis siswa juga dapat berkembang.
Untuk memastikan bahwa setiap siswa berkontribusi secara aktif selama pembuatan proyek, maka digunakan beberapa strategi pendukung, salah satunya adalah kontrak belajar atau kesepakatan kelompok yang telah disetujui bersama. Strategi ini bertujuan untuk menciptakan komitmen dalam kelompok sehingga setiap anggota memiliki peran yang jelas serta memiliki tanggung jawab atas tugas yang telah diterima. Dengan adanya kontrak belajar, siswa lebih terdorong untuk bekerjasama dalam menyelesaikan proyek, mengemukakan pendapat, serta memberikan solusi terhadap permasalahan selama proses pembelajaran. Dengan demikian, penerapan strategi ini tidak hanya membantu menyelesaikan tugas lebih efektif, melainkan juga memperkuat kemampuan berpikir kritis untuk siswa pada menyelesaikan tantangan akademik. Penelitian ini searah dengan penelitian Herawati, dkk yang mengungkapkan bahwa salah satu pendekatan atau strategi yang bisa dipakai oleh pendidik ketika ada siswa kurang aktif baik itu dalam kelompok maupun individu yaitu dengan menerapkan adanya kontrak belajar (learning contract) yang harus dikembangkan guru dalam setiap aktivitas belajar yang diberikan ketika pembelajaran. Kontrak ini diharapkan mampu memotivasi siswa untuk melakukan persetujuan atau kesepakatan dengan pendidik terkait jalannya proses pembelajaran untuk dapat memahami adanya akibat atau dampak apabila melanggar aturan kesepakatan yang dibuat.[19]
Opini saya, berdasarkan uraian dan berbagai penelitian tersebut, adalah bahwa pendidik berperan penting dalam mengembangkan berpikir kritis peserta didik. Tugas seorang guru tidak hanya dengan memberikan materi, tetapi juga mengalokasikan peran sebagai fasilitator dan pembimbing yang aktif serta memanfaatkan metode pembelajaran yang menantang seperti Project Based Learning. Dengan dukungan media pembelajaran dan strategi kontrak belajar, siswa dapat terlibat secara optimal dan mengalami proses belajar yang mengasah kreativitas, kemampuan analisis, komunikasi, dan kerja sama. Agar siswa sekolah dasar tidak hanya memahami konten tetapi juga menerapkan kemampuan berpikir kritisnya dalam berbagai konteks dunia nyata, metode ini sangat cocok untuk pengajaran bahasa Indonesia.
Secara keseluruhan, maka dapat disimpukan bahwa penelitian ini menegaskan bahwa pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa sangat bergantung pada penerapan metode belajar yang tepat dan peran guru yang multifungsi. Pendidik bukan hanya memiliki peran sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator, pembimbing, motivator, evaluator, dan inspirator yang aktif mendukung proses pembelajaran agar siswa mampu menganalisis dan berpikir secara mendalam. Metode Project Based Learning (PjBL) menjadi salah satu pendekatan efektif karena memfasilitasi siswa untuk menuangkan ide secara terstruktur, mengembangkan kreativitas, serta meningkatkan kemampuan komunikasi melalui tugas proyek seperti pembuatan karangan puisi yang diikuti dengan presentasi dan refleksi.
Dukungan media pembelajaran yang relevan dan menarik juga berperan penting dalam memperluas pengalaman belajar peserta didik serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis peserta didik. Daripada itu, strategi kontrak belajar atau kesepakatan kelompok terbukti efektif dalam memastikan keterlibatan aktif, tanggung jawab, dan kerja sama antar siswa selama proses pembelajaran. Secara keseluruhan, penelitian ini tidak hanya meningkatkan hasil belajar secara akademik, melainkan membangun keterampilan sosial serta sikap disiplin yang bermanfaat bagi perkembangan siswa secara menyeluruh. Dengan demikian, implementasi metode PjBL yang didukung oleh peran strategis guru dan strategi pembelajaran yang tepat sangat relevan dan sangat mengusulkan pada pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar agar siswa siap menghadapi tantangan ke jenjang selanjutnya.
Pemakaian metode pembelajaran berbasis PJBL dalam pembelajaran Bahasa Indonesia terkait pembuatan proyek berupa puisi melibatkan semua pihak yakni peran aktif guru sebagai fasilitator, pembimbing, maupun pengarah bagi peserta didik mulai dari memberikan pertanyaan sampai dengan mengevaluasi hasil proyek siswa kelas VI SD Negeri 2 Sukobendu Lamongan. Dalam kegiatan pemberian proyek, siswa terlibat berpartisipasi secara baik dengan menuangkan ide sesuai pengalaman pribadi sampai dengan hasil puisinya yang kemudia di presentasikan di kelas. Peran guru juga sangat penting dalam menunjang kemampuan berpikir kritis siswa melalui pemberian proyek ini mampu mengembangkan keterampilan analisis, refleksi, komunikasi, dan menyediakan sumber belajar yang mendukung. Kombinasi penerapan Project Based Learning dan peran multifungdi seorang pendidik, akan menciptakan lingkungan belajar yang efektif untuk mengembangkan pola berpikir kritis siswa secara berkelanjutan.
Ucapan Terima Kasih
Penulis ingin menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan bimbingan-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan proyek penelitian ini dengan baik. Penulis sangat berterima kasih kepada pembimbing yang sangat membantu dan akomodatif selama proses penulisan tugas akhir penelitian ini. Penulis juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak SD Negeri 2 Sukobendu yang telah memberikan izin untuk melakukan penelitian di sana. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada orang tua saya, yang merupakan batu penjuru hidup saya selama kuliah dan yang senantiasa mendoakan saya hingga saya menyelesaikan proyek penelitian ini. Semoga Tuhan membalas semua bantuan dan dukungan yang telah diberikan.
[1] N. P. Rineksiane, “Implementation of Project Based Learning Method to Support Students’ Critical Thinking,” Journal of Office Management Education, vol. 7, no. 1, pp. 82–91, 2022, doi: 10.17509/jpm.v7i1.43124.
[2] D. H. Yuyun, “Problem Based Learning Model in Developing Elementary Students’ Critical Thinking,” Journal of Cakrawala Pendas, vol. 3, no. 2, pp. 57–63, 2017.
[3] N. Anggraeni, T. Rustini, and Y. Wahyuningsih, “Critical Thinking Skills of Elementary Students in Social Studies,” Journal of Elementary Education Review, vol. 8, no. 1, pp. 84–90, 2022, doi: 10.26740/jrpd.v8n1.p84-90.
[4] N. Winarti, L. H. Maula, A. R. Amalia, N. L. A. Pratiwi, and Nandang, “Project Based Learning in Improving Critical Thinking of Grade III Elementary Students,” Journal of Cakrawala Pendas, vol. 8, no. 3, pp. 552–563, 2022, doi: 10.31949/jcp.v8i3.2419.
[5] Nurdyansyah and F. Toyiba, “The Effect of Active Learning Strategies on Learning Outcomes in Madrasah Ibtidaiyah,” 2018.
[6] N. Nurdyansyah and F. Amalia, “Problem Based Learning Model in Science Subject on Ecosystem Components,” 2018.
[7] R. Riyanti, “Use of STEM-Integrated Project Based Learning Tools Based on E-Learning to Improve Creative Thinking,” DWIJA CENDEKIA Journal of Pedagogical Research, vol. 4, no. 2, p. 206, 2020, doi: 10.20961/jdc.v4i2.45276.
[8] N. Nisah, A. Widiyono, M. Milkhaturrohman, and N. N. Lailiyah, “Project Based Learning and Science Learning Outcomes in Elementary School,” Pedagogi Journal of Educational Research, vol. 8, no. 2, pp. 114–126, 2021, doi: 10.25134/pedagogi.v8i2.4882.
[9] R. D. K. Sari and M. Arifin, “Make a Match Learning Model to Increase Students’ Learning Motivation,” Modeling Journal, vol. 9, pp. 281–291, 2022.
[10] A. Y. Sari, “Implementation of Project Based Learning for Early Childhood Education,” Motoric Journal, vol. 1, no. 1, p. 10, 2018, doi: 10.31090/paudmotoric.v1i1.547.
[11] A. Nikmah, I. Shofwan, and A. F. Loretha, “Project Based Learning Method for Creativity in Early Childhood,” Journal of Early Childhood Education, vol. 7, no. 4, pp. 4857–4870, 2023, doi: 10.31004/obsesi.v7i4.4999.
[12] R. E. Saputri, A. S. Rizkia, and S. N. Sabibah, “Professional Teacher Roles in Developing Project Based Learning in Grade II,” 2024.
[13] A. I. N. Huda and M. Abduh, “Improving Critical Thinking Skills Through Problem Based Learning in Elementary School,” Journal of Basic Education, vol. 5, no. 3, pp. 1547–1554, 2021, doi: 10.31004/basicedu.v5i3.973.
[14] I. I. Al Ayyubi, R. Rohmatulloh, S. Darul Falah, and B. Barat, “Application of Model-Eliciting Activities Approach,” Journal of El-Audi, vol. 4, no. 1, 2023, doi: 10.56223/elaudi.v4i1.70.
[15] R. F. Ariani, “Problem Based Learning Model and Elementary Students’ Critical Thinking in Science,” Jurnal Ilmiah Pendidikan dan Pembelajaran, vol. 4, no. 3, pp. 422–432, 2020.
[16] R. Triningsih and M. Mawardi, “Problem Based Learning and Project Based Learning in Terms of Elementary Students’ Critical Thinking Skills,” Journal of Elementary Education Research, vol. 3, no. 1, pp. 51–56, 2020, doi: 10.26618/jrpd.v3i1.3228.
[17] L. A. Risandy et al., “Teacher Roles in Improving Students’ Critical Thinking Skills in Elementary School,” vol. 1, no. 3, pp. 285–298, 2024.
[18] D. L. M. R. Astuti, “Teacher Roles in Implementing Pancasila Student Profile in Elementary School Curriculum,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, vol. 9, 2024.
[19] R. Mayangsari and N. M. Nisak, “Tajdied Method in Learning to Read the Quran in Elementary School,” Al-Madrasah Journal of Madrasah Ibtidaiyah Education, vol. 8, no. 2, p. 513, 2024, doi: 10.35931/am.v8i2.3355.
[20] H. A. Taufik and Nashruddin, “Learning Contract Technique and Students’ Self-Confidence in Learning Activities,” JUBIKOPS Journal of Guidance, Counseling and Psychology, vol. 2, no. 2, p. 104, 2022.