Moh Basirul Fuad (1), salam, Fuad (2)
General Background: Preschool children are in a critical developmental phase where social and emotional regulation shape future adjustment. Specific Background: Maladaptive behavior in early childhood education settings may disrupt learning processes and social interaction, while teachers’ teaching efficacy reflects their confidence in managing classroom challenges. Knowledge Gap: Although teacher self-efficacy has been widely examined, limited empirical evidence specifically analyzes its relationship with maladaptive behavior among preschool children in Indonesian Islamic kindergarten contexts. Aims: This study aims to examine the relationship between teaching efficacy and maladaptive behavior in preschool children at KB/TK Aisyiyah in Sidoarjo. Results: Using a quantitative correlational design with 200 teachers, data were collected through the Teacher Sense of Efficacy Scale and the Strengths and Difficulties Questionnaire. Spearman’s rho analysis revealed a significant negative correlation (r = -0.201, p = 0.004), indicating that higher teaching efficacy is associated with lower maladaptive behavior, although the contribution was relatively small (4.6%). Novelty: The study provides empirical evidence linking teaching efficacy and maladaptive behavior within a specific preschool institutional network in Indonesia. Implications: Strengthening teacher efficacy through professional development programs may support better behavioral management and promote healthier classroom environments in early childhood education.
Keywords: Teaching Efficacy, Maladaptive Behavior, Preschool Children, Early Childhood Education, Teacher Self-Efficacy
Key Findings Highlights:
Significant negative correlation identified between educator confidence and behavioral difficulties.
Majority of participants demonstrated moderate levels across both measured constructs.
Statistical contribution indicates limited yet meaningful association within classroom contexts.
Pertumbuhan dan perkembangan adalah proses berkelanjutan yang terjadi sepanjang kehidupan manusia. Kedua aspek ini saling berkaitan, di mana pertumbuhan lebih mengacu pada perubahan fisik, sedangkan perkembangan mencakup aspek kognitif, emosional, dan sosial yang terus berkembang seiring waktu [1]. Anak usia prasekolah berada dalam fase pertumbuhan dan perkembangan yang sangat krusial dalam kehidupan manusia. Pada tahap ini, mereka mulai mengembangkan keterampilan sosial dan emosional yang akan menjadi dasar dalam pembentukan kepribadian serta interaksi mereka di masa depan [2]. Anak prasekolah merupakan anak berumur 3 hingga 6 tahun yang sebagian besar waktunya masih dihabiskan bersama keluarga. Pada tahap ini, perilaku maladaptif sering kali muncul sebagai bentuk penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial yang lebih luas. Perilaku maladaptif sendiri merupakan bentuk perilaku yang tidak selaras dengan norma atau harapan lingkungan sekitar, sehingga dapat menghambat proses adaptasi anak dalam interaksi sosialnya [3]. Perilaku maladaptif yang diabaikan sejak dini dapat berdampak negatif pada perkembangan anak, baik dalam aspek sosial, emosional, maupun kognitif. Oleh karena itu, intervensi yang tepat diperlukan untuk mencegah perilaku ini menjadi bagian dari karakter anak. Dengan pendekatan yang sesuai, anak dapat belajar beradaptasi dengan lingkungan secara lebih positif dan konstruktif [4].
Perilaku maladaptif merupakan bentuk penyimpangan dari norma sosial yang dapat berdampak negatif terhadap kesejahteraan individu maupun kelompok sosial. Perilaku ini menghambat kemampuan seseorang dalam beradaptasi dengan lingkungannya, sehingga dapat menimbulkan masalah dalam interaksi sosial dan perkembangan pribadi [5]. Perilaku maladaptif dapat diartikan sebagai tindakan yang tidak selaras dengan kehendak lingkungan. Sparrow et al. menjelaskan perilaku maladaptif sebagai tindakan atau aktifitas yang tidak diterima dan dapat menghambat kemampuan beradaptasi individu dalam kehidupan sehari-hari [6]. Perilaku tersebut dapat bermanifestasi dalam berbagai cara, seperti agresi, hiperaktivitas, kesulitan bergaul dengan teman sejawat, cemas, dan lainnya. Perilaku ini memiliki dampak negatif pada anak dikemudian hari, termasuk mengalami kesulitan belajar di sekolah, berkomunikasi dengan orang lain, serta potensi gangguan kesehatan mental .
Perilaku maladaptif adalah tindakan yang tidak selaras dengan ekspektasi lingkungan dan dapat menghambat kemampuan seseorang untuk beradaptasi. Perilaku ini dikelompokkan menjadi tiga bagian: maladaptif internalizing, externalizing, dan jenis lainnya. Maladaptif internalizing berkaitan dengan masalah emosional dan suasana hati. Anak yang memiliki perilaku ini cenderung menarik diri serta tidak menampakkan sebuah tindakan yang mengganggu atau merugikan orang disekitarnya. Sebaliknya, maladaptif externalizing melibatkan sikap melawan, mengusik, dan bahkan berpotensi menyakiti orang di sekitarnya. Sedangkan, kategori perilaku maladaptif lainnya mencakup kebiasaan yang tidak sesuai dengan tahap perkembangan anak, seperti mengisap jempol atau jari, menggunakan popok pada waktu tidur malam, mengerat kuku, dan tindakan serupa lainnya [6].
Dampak dari perilaku maladaptifmemunculkan kondisi yang memprihatinkan bagi anak pra-sekolah yang seharusnya mengalami perkembangan sesuai dengan fasenya. Dampak yang paling utama adalah pada gangguan emosional [7]. Efek mendalam dari dampak perilaku maladaptif yang tidak diintervensi sejak dini membuat beberapa peneliti mengembangkan dan mempelajari cara-cara awal untuk mencegah dan mengurangi perilaku maladaptif anak-anak di tahun-tahun awal sekolah. Peneliti diatas menemukan perilaku maladaptif kategori agresif anak pra-sekolah berada di persentase 10-25% yakni tergolong tinggi dan hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan pola asuh orang tua serta kemiskinan sehingga anak kurang diperhatikan baik di lingkungan rumah maupun lingkungan sekolah tempat ia belajar [8].
Salah satu bentuk perilaku maladaptif yang dapat muncul pada anak adalah perilaku agresif. Berdasarkan DSM-IV, perilaku agresif yang paling parah pada masa kanak-kanak hingga remaja dapat dikategorikan sebagai Oppositional Defiant Disorder (ODD) atau Conduct Disorder (CD). Oppositional Defiant Disorder (ODD) ditandai dengan pola perilaku yang mencerminkan sikap menentang, kemarahan, serta keinginan untuk membalas dendam. Sementara itu, Conduct Disorder (CD) menggambarkan perilaku bermasalah yang dapat berkembang menjadi tindakan kekerasan atau agresivitas. Gangguan perilaku ini mencakup berbagai tindakan seperti kekerasan fisik, penggunaan senjata yang membahayakan orang lain, penyiksaan terhadap hewan, pencurian, perusakan barang secara sengaja, serta pelanggaran aturan sosial [9].
Berdasarkan survey awal yang dilakukan terhadap 10 siswa di KB/TK Aisyiyah di Sidoarjo, diperoleh hasil bahwa 3 di antara mereka sering mengganggu temannya saat proses belajar, 2 siswa sering sering menentang saat dinasihati oleh guru, sementara 2 siswa tidak jarang menangis saat proses belajar baru dimulai. Dari laporan survey terbukti bahwa ditemukan perilaku maladaptif pada anak prasekolah di KB/TK Aisyiyah di Sidoarjo.
Beberapa orang tua menyadari bahwa guru memegang peranan penting dalam pendampingan dan pembentukan perilaku anak di sekolah [7]. Sejalan dengan penelitian sebelumnya oleh Webster yang menemkan bahwa salah satu faktor yang dapat menjadi control utama dalam cara efektif mengatasi perilaku agresif pada anak adalah pendampingan yang tempat dari orang terdekat, yakni orang tua dan guru [8]. Guru memiliki peran yang luas, tidak hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai pengajar, pelatih, dan perancang kurikulum. Mereka dituntut untuk mewujudkan lingkungan belajar yang efektif, lingkungan yang menggembirakan, atraktif, serta memberikan kemyamanan. Selain itu, guru perlu memberi kebebasan bagi siswa untuk proaktif, kreatif, dan inovatif dalam menggali serta mengembangkan potensi mereka [10]. Komitmen guru dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, salah satunya adalah teaching efficacy. Teaching efficacy adalah faktor internal dalam diri individu yang berperan dalam membentuk dan menentukan tingkat komitmen guru dalam menjalankan tugasnya. Semakin tinggi teaching efficacy yang dimiliki, semakin besar kemungkinan guru untuk berkomitmen dalam melaksanakan perannya secara optimal [11].
Tschannen-Moran et al. menggambarkan teacher efficacy merupakan pemahaman guru akan kemampuannya dalam mengelola perilaku serta menjalankan tindakan yang diperlukan untuk menuntaskan tugas pengajaran dengan efektif [12]. Teacher efficacy memiliki keterkaitan yang erat dengan perilaku guru saat mengajar di kelas. Menurut Bandura, teaching efficacy didefinisikan sebagai keyakinan guru akan kemampuan yang dimilikinya dalam menata serta mengambil langkah yang diperlukan untuk menuntaskan tugas instruksional secara spesifik. Dengan demikian, teaching efficacy mencerminkan kemampuan guru dalam memengaruhi kinerja dan perkembangan peserta didik [13]. Pembahasan mengenai teaching efficacy tidak dapat dilepaskan dari teori self-efficacy yang dikemukakan oleh Albert Bandura, karena teaching efficacy merupakan bagian dari konstruksi self-efficacy. Konsep self-efficacy berasal dari teori belajar sosial kognitif, yang menekankan pada pemahaman individu terhadap kemampuannya dalam mengatur serta melaksanakan tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan .
Teaching efficacy dapat dijelaskan sebagai penilaian atas kemampuannya untuk menghasilkan hasil yang diinginkan dari keterlibatan dan pembelajaran anak didik, bahkan di antara mereka yang mungkin merupakan anak didik yang sulit atau tidak termotivasi. Indikator penting dari teaching efficacy adalah BehavioralSelf-Efficacy (BSE) atau efikasi dari perilaku, Cognitive Self-Efficacy (CSE) atau efikasi diri kognitif, dan Emotional Self-Efficacy (ESE) atau efikasi diri emosional [7].
Intervensi dini yang diperlukan bagi anak prasekolah terutama terjadi dalam pendidikan awal mereka, yaitu di Taman Kanak-Kanak. Guru memainkan peran penting dalam menangani perilaku maladaptif di lingkungan tersebut. Semakin tinggi kepercayaan guru terhadap kemampuannya dalam mengatasi perilaku maladaptif, semakin rendah tingkat perilaku tersebut pada anak atau semakin berkurang gejala yang muncul. Sebaliknya, jika tingkat efikasi guru rendah, maka perilaku maladaptif anak cenderung lebih tinggi [7]. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara teaching efficacy dengan perilaku maladaptif anak prasekolah.
Dalam penelitian ini, digunakan pendekatan kuantitatif yang mengadopsi desain deskriptif korelasional. Pendekatan korelasional digunakan untuk mengumpulkan data guna menganalisis keberadaan serta tingkat keterkaitan antara dua atau lebih variabel [14]. Pada kajian ini, variabel independen (X) yakni teaching efficacy, pada variabel dependen (Y) yakni perilaku maladaptif anak prasekolah. Populasi penelitian terdiri dari 265 guru KB/TK Aisyiyah di Kabupaten Sidoarjo, dengan sampel sebanyak 200 guru yang dipilih menggunakan teknik Quota Sampling [14]. Instrumen untuk mengukur variabel X menggunakan skala efikasi diri guru dan instrument untuk mengukur variabel Y menggunakan skala perilaku maladaptif anak pra-sekolah. Skala teaching efficacy guru diadaptasi dari Teacher Sense of Efficacy Scale (TSES) oleh Tschannen-Moran and Woolfolk Hoy 24 butir pernyataan dan dengan hasil Alpha Cronbach 0,992 [15]. TSES telah banyak digunakan di berbagai konteks pendidikan dan memiliki AlphaCronbachsangat tinggi (pada penelitian ini 0,992), menunjukkan konsistensi internal yang sangat baik, teruji reliabilitasnya dengan AlphaCronbach tinggi di berbagai negara [17].
Skala perilaku maladaptif anak pra-sekolah diadaptasi dari Strenghts and Difficulties Questionnaire (SDQ, Goodman) dengan 25 butir pernyataan dengan hasil Alpha Cronbach 0,756 [16]. Digunakan di berbagai budaya dan bahasa, dengan bukti validitas yang kuat, termasuk di konteks anak prasekolah Indonesia, Valid dan reliabel di berbagai budaya, termasuk di Indonesia [18]. Analisis korelasi menggunakan pearson product moment menggunakan bantuan JASP 16.0.
Analisis awal yang dilakukan dalam penelitian ini merupakan analisis kuantitatif deskriptif mengenai data demografis subjek penelitian. Analisis ini berdasarkan data yang didapat melalui kuesioner yang diisi oleh 200 responden guru sebagai perwakilan subjek penelitian. Data demografis yang diperoleh memberikan gambaran mengenai karakteristik responden dan dapat diamati pada tabel berikut:
Data demografi pada penelitian ini menerangkan bahwa jumlah siswa laki-laki lebih banyak dengan total persentase 74% dibandingkan siswa perempuan dengan total persentase 26%. Menurut kategori usia, anak yang paling banyak berusia 5 tahun dengan persentase 44,5% dan anak yang paling sedikit berusia 4 tahun dengan persentase 25,5%. Kategori tingkat pendidikan guru dengan jumlah responden terbanyak pada penelitian ini adalah tingkat pendidikan S1 yaitu 58,5%, dan yang sangat sedikit adalah jenjang pendidikan S2 dengan jumlah persentase 0,5%. Pada kategori jabatan responden yang paling banyak adalah jabatan guru dengan total persentase sebesar 87% dan yang paling sedikit adalah jabatan kepala sekolah dengan jumlah persentase sebesar 13%.
Uji hipotesis dilakukan setelah terlebih dahulu melakukan uji normalitas dan linearitas data, untuk menjamin bahwa data memenuhi asumsi analisis statistik. Hasil uji normalitas dapat dilihat pada tabel berikut :
Berdasarkan hasil analisis di atas, nilai signifikansi (p) < 0,001, yang lebih kecil dari 0,05, sehingga dapat ditetapkan bahwa data tidak mengikuti distribusi normal.
Langkah berikutnya adalah melakukan uji hipotesis menggunakan uji korelasi Spearman’srho. Tabel berikut memperlihatkan hasil uji korelasi yang dilakukan :
Hasil analisis menunjukkan bahwa koefisien korelasi (r) sebesar -0,201 dengan nilai signifikansi (p) 0,004 (<0,05). Hal ini membuktikan adanya korelasi negatif antara teaching efficacy guru dengan perilaku maladaptif anak prasekolah di KB/TK ‘Aisyiyah se-Sidoarjo. Dengan demikian, hipotesis yang diajukan dapat diterima. Semakin tinggi tingkat teaching efficacy guru, semakin rendah tingkat perilaku maladaptif anak prasekolah. Sebaliknya, semakin rendah teaching efficacy guru, semakin tinggi tingkat perilaku maladaptif yang ditampilkan anak.
Gambaran kategori tingkat teaching efficacy guru dan perilaku maladaptif anak di KB/TK Aisyiyah sesidoarjo dapat di bawah ini.
Dari tabel kategorisasi di atas dapat menunjukkan bahwa sebagian besar guru di KB/TK Aisyiyah se-Sidoarjo memiliki Tingkat teaching efficacy pada kategori sedang yakni sebanyak 146 orang atau 73%. Sementara anak pra-sekolah KB/TK Aisyiyah Se-Sidoarjo memiliki perilaku maladaptif dalam kategori sedang yakni sejumlah 136 anak atau 68%.
Berdasarkan hasil analisis, menunjukkan bahwa kenaikan tingkat teaching efficacy guru memiliki pengaruh signifikan terhadap penurunan perilaku maladaptif pada anak pra sekolah. Temuan penelitian ini mendukung temuan dari penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Uswatun (2021) yang juga hasilnya menunjukkan bahwa tingginya tingkat kemampuan guru dalam meregulasi emosi mereka akan berdampak pada penurunan perilaku maladaptif anak pra sekolah.
Hal tersebut juga sejalan dengan yang dilaporkan dalam penelitian sebelumnya oleh Putri dkk (2013) yaitu lingkungan belajar anak berpengaruh pada dampak yang terjadi terhadap anak. Perilaku orang-orang di lingkungan sekitarnya dapat menambah munculnya dampak yang terjadi pada anak pra sekolah.
Perilaku maladaptif anak prasekolah adalah respons yang terbentuk sebagai hasil dari interaksi mereka dengan lingkungan sekitar. Dalam konteks pendidikan di Taman Kanak-Kanak, guru mempunyai kapasitas penting untuk mengatasi perilaku tersebut. Tingkat kepercayaan guru terhadap kemampuannya dalam menangani perilaku maladaptif berpengaruh terhadap intensitas perilaku yang ditampilkan anak. Semakin tinggi kepercayaan diri guru dalam mengelola perilaku tersebut, semakin rendah tingkat perilaku maladaptif pada anak. Sebaliknya, jika guru memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah, maka perilaku maladaptif anak cenderung meningkat. [7].
Perilaku maladaptif dapat menimbulkan akibat yang merugikan, baik kepada individu itu sendiri maupun lingkungan sosial di sekitarnya. Misal, jika anak sering menunjukkan perilaku agresif, konsekuensinya selain kesulitan mengendalikan perilaku positif, anak juga beresiko dijauhi oleh teman-temannya.
Hal ini dapat terjadi akibat kurangnya pengetahuan, keterbatasan kemampuan dalam merespons stimulus dengan tepat sesuai situasi dan kondisi, atau adanya gangguan dalam fungsi perilaku yang seharusnya mendukung interaksi yang sehat. [17]. Permasalahan perilaku pada seseorang akan berdampak negatif jika tidak mendapatkan penanganan yang tepat . Guru selain berfungsi sebagai pendamping bagi anak usia prasekolah, juga berperan sebagai pendidik. Guru dengan cara mendidik yang baik akan mampu meminimalisir timbulnya perilaku maladaptif pada anak.
Guru yang sanggup mengoptimalkan teacher efficacymencerminkan karakteristik personal positif yang berkaitan dengan komitmen guru secara menyeluruh, meliputi komitmen terhadap organisasi, pelaksanaan tugas mengajar, serta proses pembelajaran peserta didik.
Guru sebagai pengelola kelas memiliki peran strategis dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran. Mereka bertanggung jawab dalam merencanakan berbagai aktivitas di kelas, mengimplementasikan rencana tersebut bersama peserta didik, serta menentukan strategi yang akurat untuk tercapainya tujuan pembelajaran. Lebih lanjut, guru juga berperan dalam mengambil keputusan dan mencari solusi alternatif guna mengatasi berbagai hambatan serta tantangan yang muncul selama proses belajar-mengajar [18]. Hasil ini mendukung temuan yang diperoleh Uswatun (2021) yang menunjukkan bahwa kemampuan guru dalam meregulasi emosi berdampak pada penurunan perilaku maladaptif anak prasekolah. Meskipun variabel guru yang diteliti berbeda (teaching efficacy vs regulasi emosi), keduanya menunjukkan bahwa faktor internal guru memiliki peran penting dalam mengendalikan perilaku anak [4]. Penelitian ini menguatkan temuan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa lingkungan belajar dan sikap orang-orang terdekat berpengaruh terhadap munculnya atau berkurangnya perilaku maladaptif pada anak prasekolah [22]. Dengan demikian, kompetensi guru menjadi sangat penting dalam pengelolaan kelas dan pemahaman karakteristik masing-masing siswa. Kemampuan guru dalam mencegah munculnya perilaku yang dapat mengganggu proses belajar mengajar menjadi aspek penting dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif dan efektif.
Guru tidak bisa selalu mengawasi perilaku anak, namun guru yang memiliki kemampuan yang baik tahu bagaimana cara mengatasi sebelum perilaku itu terjadi. Dengan kata lain, rendahnya kemampuan teaching efficacy guru, berkorelasi dengan peningkatan perilaku maladaptif anak selama proses pembelajaran. Ketidakmampuan atas pengendalian dirinya akan membuat perilaku yang ditampilkan dalam proses belajar mengajar tidak terkendali dengan baik dan bisa menimbulkan konsekuensi negatif. Oleh karena itu, diperlukan teaching efficacy guru yang tinggi agar dapat menangani anak dengan perilaku maladaptif [7]. Keterbatasan dalam penelitian ini hanya mengukur dua variabel, yaitu teaching efficacy dan perilaku maladaptif anak prasekolah. Selain itu, perilaku maladaptif tidak hanya muncul secara mandiri, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti pola asuh orang tua, kondisi sosial-ekonomi, lingkungan sekolah, serta karakteristik individu anak. Sampel hanya diambil dari guru KB/TK Aisyiyah di Kabupaten Sidoarjo, sehingga hasilnya belum tentu mewakili guru atau anak prasekolah di daerah lain.
Setelah dilakukan penelitian mengenai hubungan antara teachingefficacy dan perilaku maladaptif pada anak prasekolah di KB/TK Aisyiyah se-Sidoarjo, ditemukan adanya hubungan antara kedua hal tersebut. Hipotesis diterima, dengan temuan bahwa mayoritas subjek menunjukkan tingkat teacing efficacy pada kategori sedang, yaitu sebanyak 146 orang (73%). Sementara itu, dalam kategorisasi perilaku maladaptif, sebagian besar subjek juga berada pada kategori sedang, yaitu sebanyak 136 anak (68%). Dapat disimpulkan bahwa mayoritas guru berada di kategori teaching efficacy sedang. Implikasi: Program pelatihan guru masih diperlukan untuk meningkatkan efikasi. Sebagian besar anak memiliki tingkat perilaku maladaptif dalam kategori sedang. Masih ada anak dengan perilaku maladaptif tinggi (7,5%), perlu perhatian khusus.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara teaching efficacy dengan perilaku maladaptif anak prasekolah. Meskipun pengaruhnya kecil (4,6%), guru dengan keyakinan diri tinggi lebih mampu menekan kecenderungan perilaku bermasalah anak. Penelitian ini masih ada kekurangan salah satunya adalah hanya menggunakan dua variabel. Masih terdapat variabel lain yang mempengaruhi perilaku maladaptif anak usia pra-sekolah yang perlu dilakukan penelitian berikutnya.
Ucapan Terima Kasih
Penulis menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para guru KB/TK Aisyiyah se-Sidoarjo yang telah berpartisipasi secara aktif, menyediakan waktu, tenaga, dan pemikiran dalam penelitian ini, serta atas dukungan dan fasilitas yang diberikan.
Penulis berharap bahwa data dan informasi yang telah diberikan dapat dimanfaatkan secara optimal untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan serta memberikan manfaat praktis bagi pihak-pihak yang memerlukan. Mudah-mudahan seluruh bantuan dan kerja sama yang telah diberikan dibalas oleh Allah SWT dengan pahala yang sepadan.
[1] R. Septiani, S. Widyaningsih, and M. K. B. Igohm, “Tingkat Perkembangan Anak Pra Sekolah Usia 3–5 Tahun Yang Mengikuti Dan Tidak Mengikuti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD),” Jurnal Keperawatan Jiwa, vol. 4, no. 2, pp. 114–125, 2018.
[2] Anzani et al., “Perkembangan Sosial Emosi Pada Anak Usia Prasekolah,” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 2, no. 2, pp. 180–193, 2020.
[3] R. K. Hayati and A. C. Utomo, “Perkembangan Anak Usia Dini,” Jurnal Basicedu, vol. 5, no. 5, pp. 524–532, 2020.
[4] U. Hasanah and Widyastuti, “The Link Between Teacher Emotional Regulation and Maladaptive Behavior of Pre-School Students,” Psycho Idea, vol. 21, no. 2, pp. 133–143, 2023.
[5] Ismaturrahmi, “Upaya Guru BK Dalam Mengatasi Perilaku Maladaptif Siswa SMA Negeri 8 Banda Aceh,” Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bimbingan dan Konseling, vol. 4, no. 1, pp. 45–52, 2019.
[6] N. Daulay, “Perilaku Maladaptive Anak dan Pengukurannya,” Buletin Psikologi, vol. 29, no. 1, pp. 45–56, 2021, doi: 10.22146/buletinpsikologi.50581.
[7] A. P. Arianti and W., “Perbedaan Perilaku Maladaptif Pada Anak Usia Prasekolah Ditinjau Dari Jenis Kelamin Dan Tingkat Pendidikan Orang Tua,” Jurnal Mahasiswa BK An-Nur, vol. 9, no. 3, pp. 351–360, 2023, doi: 10.31602/jmbkan.v9i3.12192.
[8] R. R. Rahma, “The Relationship Between Teacher Self-Efficacy and Maladaptive Behavior in Aisyiyah Pre-School Children in Sidoarjo,” Undergraduate Thesis, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, 2022.
[9] C. Webster-Stratton, M. J. Reid, and M. Hammond, “Treating Children With Early-Onset Conduct Problems: Intervention Outcomes for Parent, Child, and Teacher Training,” Journal of Clinical Child and Adolescent Psychology, vol. 33, no. 1, pp. 105–124, 1997.
[10] D. A. Wuri and S. Nurhidayah, “Pelatihan Regulasi Emosi Untuk Menurunkan Perilaku Agresivitas Pada Anak,” An-Nizam: Jurnal Bimbingan Konseling Islam, vol. 2, no. 2, pp. 167–173, 2023, doi: 10.33558/an-nizam.v2i2.6261.
[11] S. Solihat, A. N. Santika, “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Teaching Efficacy Calon Guru,” Jurnal Pendidikan Ekonomi UM Metro, vol. 7, no. 2, pp. 1–25, 2018.
[12] W. Kwok, In-Service Teachers’ Motives and Commitment in Teaching. Hong Kong: Hong Kong Teachers’ Centre, 2006.
[13] F. P. Dianti and R. Roswiyani, “Pengaruh Teacher Efficacy Terhadap Motivasi Mengajar Guru Tingkat Sekolah Menengah Pertama,” Provitae: Jurnal Psikologi Pendidikan, vol. 16, no. 2, pp. 13–25, 2023, doi: 10.24912/provitae.v16i2.26699.
[14] O. C. Mentari, “Hubungan Antara Teacher Efficacy Dengan Komitmen Guru Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Semarang Tengah,” Undergraduate Thesis, Universitas Negeri Semarang, 2015.
[15] Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D, 2nd ed. Bandung: Alfabeta, 2019.
[16] M. Tschannen-Moran and A. W. Hoy, “Teachers’ Sense of Efficacy Scale,” Teaching and Teacher Education, vol. 17, no. 7, pp. 783–805, 2001.
[17] R. M. Klassen et al., “Exploring the Validity of the Teacher Efficacy Scale in Five Countries,” Contemporary Educational Psychology, vol. 34, no. 1, pp. 67–76, 2009.
[18] I. Istiqomah, “Parameter Psikometri Alat Ukur Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ),” Psympathic: Jurnal Ilmiah Psikologi, vol. 4, no. 2, pp. 251–264, 2017, doi: 10.15575/psy.v4i2.1756.
[19] G. F. I. Mayaut, “Model Penanganan Perilaku Maladaptif Anak Berbasis Panti,” Insani: Jurnal Psikologi dan Kesehatan Mental, vol. 8, no. 2, pp. 72–89, 2021.
[20] H. F. D. Mulia, “Metode Social Story Untuk Mengurangi Perilaku Maladaptif Anak Autis,” Jurnal Educatio FKIP UNMA, vol. 8, no. 4, pp. 1444–1452, 2022, doi: 10.31949/educatio.v8i4.3816.
[21] A. Mashari, A. Tohir, and H. Farhana, “Peran Guru Dalam Mengelola Kelas,” Ashanta: Jurnal Pendidikan, vol. 5, no. 3, pp. 99–108, 2019.
[22] R. K. H. Putri and A. C. Utomo, “Perkembangan Anak Usia Dini,” Jurnal Basicedu, vol. 5, no. 5, pp. 524–532, 2013.