Login
Section Education

Holistic Preschool Guidance Model in Muhammadiyah Orphanage


Model Bimbingan Holistik untuk Taman Kanak-Kanak di Panti Asuhan Muhammadiyah
Vol. 10 No. 1 (2025): June:

Isatin Rodiyah (1), Choirun Nisak Aulina (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo , Indonesia

Abstract:

General Background: Orphanages function not only as social care institutions but also as educational environments for early childhood development. Specific Background: Children in orphanages often experience family dysfunction, requiring structured guidance that integrates character education, religious values, and developmental support. Knowledge Gap: Limited studies describe comprehensive preschool guidance patterns implemented within faith-based orphanage settings. Aims: This study aims to explore the patterns of guidance for preschool-aged children at Muhammadiyah Pagesangan Orphanage. Results: Using a qualitative descriptive approach involving four caregivers and six foster children, data were collected through observation, interviews, and documentation. Findings show that the orphanage applies a holistic model encompassing physical development, religious and moral cultivation, intellectual growth, social interaction, and vocational preparation. Daily religious practices, character habituation, group activities, and environmental responsibility programs form core components of guidance. Supporting factors include organizational backing and trained caregivers, while financial limitations and diverse child backgrounds present challenges. Novelty: The study provides an integrated description of preschool guidance within a Muhammadiyah orphanage context. Implications: Balanced and continuous implementation of physical, spiritual, intellectual, and vocational guidance supports the formation of independent and morally grounded children.


Keywords:  Preschool Guidance, Orphanage Education, Character Development, Caregiver Role, Early Childhood Education


Key Findings Highlights:




  1. Integrated developmental approach covers moral, cognitive, social, and physical domains.




  2. Daily structured religious routines shape ethical behavior formation.




  3. Institutional support and caregiver capacity coexist with resource constraints.



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Panti asuhan merupakan salah satu lembaga sosial untuk menampung anak-anak yang memiliki kesulitan sosial seperti kekurangan sumber daya keuangan ataupun tidak adanya salah satu atau kedua orang tuanya[1]. Mereka mampu berkembang baik dari segi jasmani maupun rohani melalui panti asuhan yang menawarkan berbagai kegiatan (Kasim Hukul) Selain itu, panti asuhan disebut sebagai salah satu lembaga pendidikan di luar sekolah yang mendidik dan membina anak-anak terlebih pada anak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dengan tujuan membentuk pribadi yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena pada dasarnya panti asuhan memiliki tujuan untuk mengembangkan kepribadian anak menjadi lebih baik, yang sebagian besar mereka lakukan melalui Pendidikan[2].

Pendidikan untuk anak usia dini dalam hal TK harus mengacu pada prinsip bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain karena dunia anak adalah dunia bermain, ini berarti seluruh kegiatan belajar yang diprogramkan untuk anak TK tidak boleh mengandung unsur pemaksaan, program pendidikan untuk anak TK harus menyenangkan bagi peserta didik selaku pelaku, penyelengarakan terahadap prinsip-prinsip ini akan berakibat buruk bagi anak, seperti perasaan bosan, terfosir, dan kehilangan minat belajar [3]. pendidikan tidak hanya terkait dengan bertambahnya ilmu pengetahuan, namun harus mencakup aspek sikap dan berperilaku sehingga dapat menjadikan anak sebagai manusia yang bertakwa, berilmu dan berakhlak mulia. Gagasan program pendidikan karakter di Indonesia muncul terkait dengan tujuan pendidikan nasional dan melihat kondisi pada saat ini mengalami degradasi karakter. Kualitas pengurus menjadi cerminan kualitas anak di panti asuhan pada masa depan, karena pada praksisnya pengurus memiliki kewenangan yang besar dalam mengasuh anak, baik dari sisi kualitas dan kuantitas pertemuan, hari-hari anak di panti asuhan lebih banyak bersama pengurus[4].

Berbagai teori tentang pendidikan karakter mungkin hanya berpijak pada anak yang tumbuh kembang dilingkungan keluarga yang masih lengkap orang tuanya. Tentu berbeda dengan anak-anak yang hidup dalam panti asuhan, secara umum mengalami disfungsi keluarga, seperti hilangnya peran figur ayah, atau hilangnya seorang ibu dalam keluarga. Hal ini, secara langsung berpengaruh terhadap kepribadian anak. Untuk itu, anak asuh harus diarahkan dengan kasih sayang dan cinta serta perhatian dalam perkembangannya agar bisa mempengaruhi kehidupan anak, meraih kesejahteraan yang di harapkan terutama pada karakter anak terlebih anak anak yang masih butuh peran orang tua yaitu anak anak usia dini [5]. Anak yatim piatu mengalami kehilangan kedua orang tuanya yang disebabkan orang tua telah meninggal dunia diusia yang masih membutuhkan kasih sayang mereka berdua, masyarakat menerima keadaan anak yatim dan memberikan pengasuhan terbaik, anak yatim yang kurang mendapatkan perhatian lebih dari pengasuh panti asuhan dan mempengaruhi kesulitan. penyesuaian social anak, anak yatim juga perlu dikasih dan memang kenyataannya anak yatim piatu ini kurang mendapatkan kasih sayang, bila kita bayangkan orang dewasa saja jika kehilangan orang tuanya akan ada pengaruh psikologis dalam hidupnya[6].

Masih banyak anak-anak yatim yang terlantar di jalanan dan bukan disitu seharusnya mereka berada.Akibat dari kurang perhatianya dari keluarga, masyarakat dan pemerintah yang pada akhirnya mereka berada disana Mereka seharusnya mendapatkan hak-haknya, mereka sama-sama manusia yang butuh pertolongan, Mudah-mudahan kita semua dapat memahami keberadaan mereka dan pada akhirnya kita dapat ikut berperan serta membimbing, menyantuni dan memberikan apa yang menjadi hak-hak mereka karena menyantuni anak yatim merupakan amalan yang sangat baik dan jalan untuk melunakan hati serta mencapai hajat, Berbuat baik terhadap anak yatim/piatu bukanlah sekadar turut membantu menyelesaikan lapar dan dahaga sosialnya [7].Anak adalah amanat allah, karena itu sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk mendidik anak dengan sebaik- baiknya, bagi anak yatim piatu yang orang tuanya telah meninggal maka kewajiban umat manusia untuk merawat dan memelihara anak dengan sebaik- baiknya, sebagaimana anak pada umumnya[8].

Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan memberikan Pelayanan yang diberikan juga dalam bentuk kegiatan melalui pembinaan kepribadian dan kemandirian pada anak asuh terlebih pada anak anak Usia Dini yang mempunyai tujuan untuk menyeimbangkan potensi yang ada di dalam diri anak sehingga mampu menjadi pribadi yang berdaya, misalnya pembinaan aspek spiritual, pembinaan pengembangan potensi anak, dan pembinaan aspek sosial. Agar tidak kehilangan seperti keluarga, panti asuhan berusaha memberikan pelayanan yang terbaik pada anak dan menggantikan peranan keluarga bagi anak[9].

Dalam proses penanaman jiwa kemandirian kepada anak asuh, pembinaan yang dilakukan memperhatikan aspek mental, spiritual, moral, intelektual, fisik dan psikisnya karena anak adalah sosok manusia yang masih memerlukan bantuan dan bimbingan dari orang yang lebih dewasa untuk mendidik, mengajar serta memberi perhatian[10].

Namun dalam pelaksanaannya pembinaan yang dilakukan yaitu pembinaan spiritual dan pengembangan potensi belum seimbang, seperti hak nya yang dilakukan oleh parapengurus/Pembina Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan dalam membina anak anak terlebih anak anak usia dini mereka mengoptimalkan dalam memberikan pendidikan usia dini yang baik agar para anak anak dapat berkembang serta memiliki moral yang baik. Melalui kegiatan kegiatan yang dilaksanakan oleh para pengurus dalam membina anak-anak Usia dini di Panti salah satu contohnya seperti outbond rutin yang dilaksanakan agar anak anak usia dini dapat belajar bersosialisasi, saling tolong menolong, dan lain-lain.

Metode

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis deskriptif. Pendapat dari Bogdan dan Taylor mengenai metodologi kualitatif yaitu proses penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa teks dan ucapan manusia serta perilaku yang dapat diamati[11]. Metode deskriptif kualitatif menjadi jenis metode yang digunakan dalam penelitian ini. Adapun data yang akan diambil berupa kalimat, gambar, dan bukan angka-angka. Mengenai hal ini, peneliti menggunakan jenis penelitian ini untuk menggambarkan dan menjelaskan pola komunikasi dari pengasuh dalam membina akhlak anak-anak di panti asuhan Muhammadiyah Pagesangan. Adapaun yang menjadi objek dalam penelitian ini yaitu empat orang pengasuh serta enam orang anak-anak asuh. Sedangkan teknik sampel yang digunakan yakni purposive sampling[12]. Teknik Analisa data pada penelitian ini yaitu dengan melakukan observasi, analisis visual, studi pustaka, dan interview

Hasil dan Pembahasan

a. Hasil

Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan mempunyai misi untuk membentuk anak beriman, bertakwa, berkepribadian, berdedikasi, percaya diri, dan memiliki keterampilan yang dapat mendukung hidupnya untuk mandiri, serta memberikan pembinaan anak meliputi fisik, mental, dan sosial sehingga anak menjadi sehat jasmani dan rohani agar dapat menjadi kader perserikatan. Pola pembinaan budi pekerti di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan meliputi pembinaan budi pekerti anak dalam hubungannya dengan Tuhan, pembinaan budi pekerti anak dalam hubungannya dengan sesama manusia, pembinaan budi pekerti anak dalam hubungannya dengan diri sendiri, dan pembinaan budi pekerti anak dalam hubungannya dengan lingkungan sekitar. Berikut hasil penelitian pola pembinaan budi pekerti anak di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan. Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan menerapkan pola pembinaan yang bersifat holistik, mencakup beberapa aspek perkembangan anak, seperti kognitif, fisik, sosial, dan emosional. Pola pembinaan ini disesuaikan dengan prinsip-prinsip PAUD yang melibatkan pembelajaran aktif, menyenankan, dan berbasis pada kebutuhan dan potensi anak. Berikut adalah beberapa elemen penting dalam pola pembinaan tersebut seperti:

Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan menerapkan berbagai metode pembelajaran yang berbasis pada aktivitas yang menyenangkan dan interaktif. Beberapa metode yang digunakan antara lain:

  1. Pendidikan Karakter: Anak-anak diberikan pendidikan yang menekankan pada pengembangan karakter yang baik, seperti disiplin, rasa tanggung jawab, sopan santun, dan empati. Kegiatan ini dilakukan melalui pembiasaan sehari-hari dan pengajaran tentang nilai-nilai agama, moral, serta sosial.
  2. Pengembangan Kognitif: Pembinaan anak usia PAUD di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan juga mencakup pengembangan kemampuan kognitif, seperti belajar mengenal angka, huruf, warna, bentuk, dan bahasa. Pembelajaran dilakukan dengan cara yang menyenangkan melalui permainan edukatif, membaca cerita, serta penggunaan alat peraga yang menarik.
  3. Fisik dan Kesehatan: Perhatian terhadap perkembangan fisik anak juga penting. Panti asuhan menyediakan aktivitas fisik yang teratur, seperti senam, bermain di luar ruangan, dan kegiatan olahraga sederhana. Selain itu, penting juga untuk memastikan bahwa anak-anak memperoleh asupan gizi yang cukup agar perkembangan fisik mereka optimal.
  4. Pengasuhan dan Kebutuhan Emosional: Pembinaan emosional dilakukan dengan memberikan perhatian khusus terhadap kebutuhan psikologis anak-anak, termasuk memberikan rasa aman, kasih sayang, dan pengertian. Pengasuh di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan dilatih untuk memberikan dukungan emosional yang tepat bagi anak-anak, memastikan mereka merasa dihargai dan diterima
  5. Metode Bermain: Anak-anak belajar melalui permainan yang dapat merangsang kreativitas dan kemampuan kognitif mereka. Ini mencakup permainan edukatif, musik, seni, dan aktivitas kelompok
  6. Metode Pengajaran Tematik: Setiap tema pembelajaran diintegrasikan dengan berbagai aspek, seperti seni, matematika, bahasa, dan ilmu pengetahuan. Anak-anak diajak untuk mengeksplorasi dunia mereka melalui tema-tema yang menarik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka.
  7. Pemberdayaan Pengasuh: Pengasuh dilibatkan dalam pelatihan berkala untuk memahami metode PAUD yang sesuai dengan kebutuhan anak, serta cara berinteraksi yang positif untuk mendukung perkembangan mereka.

Pola Pembinaan Hubungannya dengan Tuhan

Budi pekerti dalam hubungannya terhadap Tuhan diwujudkan dengan kegiatan keagamaan sebagai bentuk penghormatan kepada sang pencipta. Bapak dan Ibu Pengasuh di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan selalu memberikan keteladanan atau contoh sikap yang baik kepada anak-anak asuhnya agar anak-anak dapat mencontoh sikap yang baik dari Bapak dan Ibu Pengasuh Agar anak-anak asuh dapat melaksanakan ajaran agama dengan benar, Bapak dan Ibu Pengasuh selalu memberikan contoh cara melaksanakan ibadah yang benar kepada anak-anak panti asuhan. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Bapak Jintung (48 tahun) selaku pengasuh dalam wawancara dengan peneliti. Ungkapan dari beliau adalah sebagai berikut: “Yang jelas pertama dengan keteladanan atau memberi contoh sikap yang baik, kemudian ada materi-materi yang berkaitan dengan budi pekerti seperti materi agama yang dilakukan setiap ba’da Magrib sampai Isya rutin yaitu pemberian materi terkait karakter atau budi pekerti buk”

Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan telah memberikan pembinaan budi pekerti dengan baik terutama dalam hubungannya dengan Tuhan. Pembinaan Budi Pekerti Hubungannya dengan Sesama Manusia Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan selalu memberikan pendidikan budi pekerti yang baik dalam hubungannya terhadap sesama manusia. Bapak dan Ibu Pengasuh selalu mendidik anak asuh untuk saling menghormati dan saling menyayangi antar sesama umat manusia. Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan mendidik setiap anak asuh agar memiliki rasa saling hormat dimana anak asuh dididik untuk membiasakan diri saling menghormati satu sama lain terutama yang muda untuk menghormati yang tua. Hal itu seperti yang diungkapkan oleh Bapak Marsudi (48 tahun) selaku Pengasuh Panti Asuhan, beliau mengungkapkan bahwa: “Ya, dengan mendidik anak untuk membiasakan diri agar yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang muda sehingga hidup kebersamaan senantisa saya tanamkan kepada anak-anak, saling gotong-royong, saling tolong menolong selalu ditanamkan kepada anak-anak panti”

Berdasarkan pernyataan tersebut anak-anak di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan tentunya telah dididik oleh pengasuh untuk membiasakan diri saling mengormati dan menyayangi antar sesama manusia. Anak- anak sudah belajar hidup rukun sejak dini, setidaknya mulai dalam keluarga. Dengan demikian hidup kebersamaan didalam panti asuhan selalu terjaga. Hal tersebut sesuai dengan yang diungkapkan oleh Ibu Khom(45 tahun) selaku pengasuh Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan Ibu Khom mengungkapkan bahwa: "Anak dibimbing untuk saling mengenal satu sama lain serta menjaga anak kebersamaan sehingga memiliki rasa persaudaraan satu sama lain dan anak selalu dibimbing untuk hidup rukun”.

Berdasarkan ungkapan dari Ibu Khom selaku pengasuh menunjukan bahwa anak-anak panti asuhan selalu dibimbing dan dididik untuk selalu hidup berdampingan dengan sesama manusia dalam kebersamaan dan selalu menjaga kerukunan. Kerukunan selalu dijaga baik didalam lingkungan panti asuhan maupun dengan lingkungan luar panti asuhan. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Ibu Puji Astuti(52 tahun) selaku warga sekitar panti asuhan sebagai berikut: “Ya kelihatannya anak-anak panti asuhan rukun dan juga dengan warga sekitar tetap rukun dari dulu sampai sekarang anaknya ramah- ramah”

Tolong-menolong dan saling membantu merupakan bagian dari sikap budi pekerti yang baik terhadap sesama manusia. Anak-anak panti asuhan tentunya dididik untuk saling tolong menolong dan saling membantu karena mereka hidup saling berdampingan di dalam panti asuhan. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Marsudi(48 tahun) selaku pengasuh di Panti Asuhan muhammadiyah Pagesangan. Beliau mengungkapkan bahwa: “Ya, agar kebersamaan anak dalam panti terjaga anak selalu dididik untuk saling membantu dan tolong menolong, contoh kasusnya adalah ketika ada hujan maka siapa yang berada di panti agar mengambilkan jemuran punya temannya agar tidak kehujanan, saling membantu dan tolong menolong juga diharapkan berlaku di luar panti”. Anak-anak di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan dididik untuk membiasakan diri bersosialisasi dengan masyarakat sekitar panti asuhan sebagai bentuk penanaman budi pekerti terhadap sesama manusia.

Pengasuh Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan mendidik anak asuh agar memiliki sikap sopan santun sebagai bentuk dari budi pekerti yang baik dalam hubungannya terhadap sesama manusia. Kaitannya dengan sopan santun, Panti Asuhan selalu mendidik anak-anak asuhnya untuk menjaga sikap sopan santun seperti misalnya ketika makan anak-anak diharuskan untuk bersikap sesuai etika makan dan sopan santun ketika dalam menerima tamu. Seperti yang diungkapkan oleh Bapak Marsudi(48 tahun) mengenai mendidik sopan santun, beliau mengungkapkan bahwa: “Sopan santun anak dididik dengan mencantumkan tulisan/tata tertib misalnya saya memberikan tata tertib di ruang makan bagaimana agar anak supaya sopan santun ketika dimeja makan, anak dididik sopan santun dalam menjemput tamu dan menghormati tamu sekaligus anak juga harus bersikap sopan santun ketika menerima sesuatu, itu selalu saya tanamkan kepada anak- anak”

Pola Pembinaan Hubungannya dengan Diri Sendir i

Budi pekerti dalam hubungannya terhadap diri sendiri di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan ditanamkan kepada setiap anak asuh.Panti Asuhan Mendidik setiap anak agar memiliki budi pekerti yang luhur. Sikap-sikap budi pekerti dalam hubungannya terhadap diri sendiri yang dididik oleh Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan. Anak asuh di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan selalu di didik untuk memiiki sikap budi pekerti yang baik. Melalui ceramah keagamaan dalam kegiatan pengajian anak-anak dibekali sikap budi pekerti yang baik. Bapak dan Ibu Pengasuh juga menanamkan budi pekerti yang baik dengan metode dialog kepada anak asuh dalam kegiatan sehari- hari. Bapak dan Ibu Pengasuh juga menggunakan metode penghargaan dalam mendidik anak asuh. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Ibu Khom(45 tahun) sebagai berikut: “Rewardsaya berikan kepada anak-anak yang berprestasi, misalnya ada anak yang mendapatkan rangking satu, saya kasih hadiah berupa buku, alat tulis, uang atau penghargaan lainnya

Berdasarkan ungkapan dari Ibu Khom menunjukan bahwa anak-anak diberikan penghargaan oleh pengasuh ketika mereka mendapatkan prestasi. Dengan hal tersebut anak-anak akan menjadi termotivasi untuk berprestasi. Anak asuh di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan dibina sesuai visi dan misi yang ingin dicapai. Melalui bekal keterampilan yang diberikan kepada anak asuh diharapkan anak asuh setelah keluar dari panti asuhan anak dapat hidup mandiri

Pola Pembinaan Hubungannya dengan Lingkungan Sekitar

Budi pekerti dalam hubungannya terhadap diri sendiri di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan ditanamkan kepada setiap anak asuh.Panti Asuhan Mendidik setiap anak agar memiliki budi pekerti yang luhur. Sikap-sikap budi pekerti dalam hubungannya terhadap diri sendiri yang dididik oleh Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan. Anak asuh di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan selalu di didik untuk memiiki sikap budi pekerti yang baik. Melalui ceramah keagamaan dalam kegiatan pengajian anak-anak dibekali sikap budi pekerti yang baik. Bapak dan Ibu Pengasuh juga menanamkan budi pekerti yang baik dengan metode dialog kepada anak asuh dalam kegiatan sehari- hari. Bapak dan Ibu Pengasuh juga menggunakan metode penghargaan dalam mendidik anak asuh. Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Ibu Khom(45 tahun) ) sebagai berikut: “Rewardsaya berikan kepada anak-anak yang berprestasi, misalnya ada anak yang mendapatkan rangking satu, saya kasih hadiah berupa buku, alat tulis, uang atau penghargaan lainnya”

Berdasarkan ungkapan dari Ibu Khom menunjukan bahwa anak-anak diberikan penghargaan oleh pengasuh ketika mereka mendapatkan prestasi. Dengan hal tersebut anak-anak akan menjadi termotivasi untuk berprestasi. Anak asuh di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan dibina sesuai visi dan misi yang ingin dicapai Melalui bekal keterampilan yang diberikan kepada anak asuh diharapkan anak asuh setelah keluar dari panti asuhan anak dapat hidup mandiri.

Pola Pembinaan Hubungannya dengan Lingkungan Sekitar

Anak-anak asuh di Panti Asuhan Putri Muhammadiyah Pagesangan dibiasakan untuk melaksanakan piket-piket harian dan selalu menjaga kebersihan lingkungan. Kegiatan anak asuh dalam rangka menjaga kebersihan lingkungan diantaranya adalah sebagai berikut.:

MelaksanakanPiketHarian Piket harian adalah kegiatan kebersihan yang dilaksanakan setiap hari secara bergilir sesuai jadwal yang telah dibuat. Piket harian berupa menyapu ruangan, mengepel, menyapu halaman, menyapu jalan, menyiram bunga, mencuci piring, dan membereskan dapur.

KerjaBakti Panti Asuhan mengadakan kerja bakti sebagai kegiatan untuk membersihkan lingkungan panti. kerja bakti juga merupakan suatu bentuk penanaman sikap cinta terhadap lingkungan kepada anak asuh. Kerja bakti dilaksanakan pada hari Minggu yang dilaksanakan untuk membersihkan halaman, jalanan sekitar panti, mencabuti rumput, membakar sampah yang kering, dan membersihkan selokan.

Faktor Pendukung dan Penghambat Pembinaan Anak Usia PAUD di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan

Dalam proses pembinaan anak usia PAUD di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan, terdapat beberapa faktor yang mendukung kelancaran pelaksanaan pendidikan dan pengasuhan, namun juga terdapat sejumlah tantangan yang menjadi hambatan. Berikut adalah penjelasan tentang faktor pendukung dan penghambat dalam pembinaan anak usia PAUD di panti asuhan tersebut:

  1. Faktor Pendukung yaitu, Dukungan dari organisasi Muhammadiyah yang menyediakan sumber daya, ketersediaan pengasuh terlatih dalam pendidikan dan pengasuhan anak usia dini, penerapan pendidikan karakter dan agama, kegiatan pembinaan yang terstruktur, serta fasilitas dasar yang memadai menjadi faktor pendukung utama dalam pelaksanaan program PAUD di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan.
  2. Faktor Penghambat yaitu, Keterbatasan sumber daya finansial, jumlah anak yang banyak dengan pengasuh terbatas, latar belakang sosial dan psikologis anak yang beragam, keterbatasan sarana prasarana, kurangnya akses terhadap program dan materi pendidikan terbaru, serta keterbatasan waktu untuk pembinaan individual menjadi faktor penghambat dalam pelaksanaan program PAUD di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan.

Secara keseluruhan, faktor pendukung dan penghambat dalam pembinaan anak usia PAUD di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan saling berhubungan. Dukungan dari organisasi Muhammadiyah, pengasuh yang terlatih, dan fasilitas yang cukup menjadi faktor positif yang memperlancar pembinaan. Namun, keterbatasan finansial, jumlah anak yang banyak, dan kebutuhan untuk memberikan perhatian lebih kepada anak-anak yang berasal dari latar belakang yang sulit bisa menjadi penghambat yang perlu diatasi. Untuk meningkatkan kualitas pembinaan, Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan perlu terus berupaya meningkatkan sumber daya yang ada, baik dari segi finansial, pelatihan pengasuh, maupun pengembangan fasilitas dan program yang lebih baik. Pendekatan yang lebih personal dan perhatian terhadap kebutuhan psikologis anak juga menjadi hal yang sangat penting untuk perkembangan optimal anak-anak di panti asuhan tersebut.

B.Pembahasan

Pola Pembinaan Anak Usia PAUD di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan

Panti asuhan memberikan pembinaan dan pelayanan agar anak-anak yatim piatu tersebut mendapatkan pembelajaran serta kasih sayang yang seharusnya mereka dapatkan. Anak asuh di panti asuhan ini datang dari berbagai latar belakang masalah, antara lain: yatim piatu, kemiskinan, perceraian kedua orang tua. Anak- anak di panti asuhan ini diharapkan dapat berprilaku jadi lebih baik. Selain itu, panti asuhan juga membantu meningkatkan kesejahteraan anak dengan cara mendidik, merawat, membimbing dan mengarahkan seperti yang diberikan oleh orang tua dalam keluarga serta membentuk kepribadian anak yatim piatu tersebut melalui nilai-nilai dan norma-norma susila yang baik, pendidikan dan budi pekerti, kebiasaan dan keterampilan yang nantinya bisa dijadikan bekal bagi kehidupan di masyarakat. Kepribadian merupakan hal yang sangat penting sekali sebab aspek ini akan menentukan sikap identitas diri seseorang[13] .Baik dan buruknya seseorang itu akan terlihat dari tingkah laku atau kepribadian yang dimilikinya. Dengan demikian perkembangan dari kepribadian ini sangat tergantung kepada baik atau tidaknya proses pembinaan yang ditempuh. Pertumbuhan dan perkembangan anak serta aktifitas belajar tidak semua sama baik bagi perkembangan mentalitasnya. Diantaranya, anak yang berada di dalam lingkungan panti asuhan yang mayoritas mempunyai latar belakang yang sama[14].

Faktor pendukung dan penghambat pembinaan Anak Usia PAUD di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan

Tak hanya panti asuhan saja yang memiliki peran dalam membina anka anak asuh masih ada peran para pengasuh dalam keberhasilan membina anak anak asuh. Adapun pengertian pengasuh menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti menjaga (merawat dan mendidik) anak, membimbing (membantu dan melatih), memimpin (mengepalai, menyelenggarakan) dan menjaga supaya anak (orang) dapat berdiri sendiri.Jadi, pengasuh adalah orang yang melaksanakan tugas membimbing, memimpin dan mengelola[15]. Peran Pengasuh dalam Melaksanakan Fungsi Pengganti Keluarga seperti :

Peran pengasuh di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan mencakup sebagai pendidik yang tidak hanya mengajarkan dan mendampingi anak melalui kegiatan belajar, membaca, serta ekstrakurikuler dengan perhatian khusus pada anak usia dini, tetapi juga menegakkan disiplin melalui aturan dan ketegasan; sebagai pembimbing yang berperan layaknya orang tua dengan memberikan kasih sayang, arahan, dan bantuan sesuai tradisi pendidikan keluarga berbasis asih, asah, dan asuh; serta sebagai pembina yang menanamkan iman, takwa, nilai moral, dan karakter agar anak memiliki pegangan hidup yang kuat di masa depan[16].

Pola pembinaan merupakan upaya yang terus menerus, dilakukan secara sadar oleh organisasi, untuk mengembangkan aspek kognitif, emosional, dan psikomotorik siswa serta disertai dengan spiritualitas yang kuat. Kamus Umum Bahasa Indonesia mengartikan, “pola” berarti gambar, contoh, dan model. Sedangkan “pembinaaan” berarti upaya untuk melakukan tindakan dan kegiatan secara efektif untuk memperoleh hasil yang baik[17].pola pembinaan merupakan cara mendidik dan memberikan bimbingan dan pengalama, serta cara untuk mengawasi anak agar dapat menjadi orang berguna di masa depan. Hal ini berperan dalam memelihara dan mengembangkan potensi siswa, memungkinkan mereka untuk berprestasi dengan baik, sehingga mengembangkan aspek kognitif, efektif, dan psikomotorik anak[18]mempertimbangkan berbagai metode pendekatan dalam pembinaan, antara lain:

1. Metode group guidance, yaitu pembinaan dengan penyuluhan yang menggunakan media kelompok untuk mengembangkan sikap sosial di lingkungan, karena setiap individu akan mendapatkan pandangan yang berbeda atau baru tentang dirinya dari hubungan dengan individu lainnya.

2. Metode tersebut juga dilakukan di panti asuhan dalm melakukan pembinaan dengan menggunakan media kelompok untuk mengembangkan sikap social di lingkungan seperti melakukan outbond / berkemah. Hal tersebut di kemukaan oleh Bapak Marsudi kepala Panti Asuhan seperti pada gambar berikut:

Figure 1. Gambar 1.1 Kegiatan Anak Anak Outbond

3. Metode emosional (Emotional approach) pendekatan yang dipusatkan pada keadaan yang dibimbing karena akan lebih mudah memahami perasaan seseorang melalui keadaan dirinya sendiri. Metode ini merupakan pendekatan perorangan yang menyesuaikan keadaan diri seseorang yang dibimbing

4. Metode eksperiensial (Experiencial approach), pendekatan ini menempatkan bahwa peseta didik langsung terlibat di dalam pembinaan. Pembinaan ini disebut sebagai belajar yang sangat baik, karena pengalaman pribadi dan langsung terlibat dalam situasi tersebut.

Figure 2. Gambar 1.2 Kegiatan Anak-anak Mengaji

Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan melakukan pembinaan kepada para anak anak asuh dari anak anak usia dini sampai anak anak yang sudah bersekolah, seperti membina akhlaknya melalui kegiatan ibadah dalam sehari- hari.Bentuk-bentuk kegiatan keagamaan di Panti Asuhan seperti salat lima waktu yang dilaksanakan, Hafalan surat pendek dan doa sehari hari untuk anak usia dini, membaca Al-Quran, melaksanakan ibadah puasa Melalui kegiatan keagamaan tersebut diharapkan anak asuh akan menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Melalui pelaksanaan kegiatan ibadah sehari-hari panti asuhan telah menanamkan pada anak asuh untuk membentuk watak eling kepada Tuhan. Hal tersebut sesuai dengan pragmatika budi pekerti jawa dalam membentuk akhlak keselarasan Budi pekerti ini merujuk sikap hidup anak-anak Panti Asuhan yang selalu ingat kepada Tuhan dengan melaksanakan segala bentuk ibadah kepada- Nya. Hal tersebut di ketahui dari salah satu pengurus panti asuhan yaitu pak jintung.

Pola pengasuhan anak di panti asuhan dimulai dari pembinaan jasmani, budaya dan kecerdasan, serta pembinaan minat dan bakat pada anak panti. Pola pembinaan ini perlu mendukung, terwujudnya tujuan pembinaan diperlukan aspek edukatif.

Pembinaan terhadap anak asuh di panti asuhan merupakan upaya yang dilakukan secara menyeluruh dengan memperhatikan berbagai aspek penting dalam kehidupan anak, mulai dari jasmani, budaya dan agama, intelektual, hingga pekerjaan dan profesi. Keempat aspek ini saling berkaitan erat dalam membentuk pribadi anak yang sehat, berkarakter, cerdas, serta mandiri sehingga mereka dapat menjalani kehidupan dengan baik, baik selama berada di lingkungan panti maupun setelah terjun ke masyarakat.

Aspek pertama adalah pembinaan jasmani. Kesehatan fisik memiliki peranan penting dalam proses tumbuh kembang anak karena kondisi tubuh yang sehat akan membuat anak lebih cepat tanggap, terampil, serta memiliki energi yang cukup untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Anak-anak yang sehat juga akan lebih bersemangat dalam belajar, bermain, dan bersosialisasi dengan teman-temannya. Oleh karena itu, di lingkungan panti asuhan perlu dilakukan upaya pembinaan jasmani secara teratur, seperti mengadakan olahraga rutin, pemeriksaan kesehatan berkala, pemberian makanan yang bergizi, serta menanamkan kebiasaan menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Dengan kondisi fisik yang prima, anak-anak akan lebih siap menghadapi berbagai tantangan hidup, mampu merespons dengan baik terhadap situasi sekitar, serta dapat mengembangkan kemandirian mereka dalam menjalani kehidupan[19].

Selanjutnya adalah pembinaan budaya dan agama. Anak asuh yang berada di panti tidak hanya membutuhkan kesehatan fisik, tetapi juga nilai-nilai spiritual dan budaya yang dapat dijadikan landasan dalam kehidupan sehari-hari. Pembinaan budaya dan agama bertujuan agar anak-anak dapat memahami serta mengamalkan ajaran agama dan nilai budaya yang baik sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak. Dengan penguatan nilai keagamaan, anak akan terbiasa menjunjung tinggi moralitas, etika, serta kedisiplinan. Hal ini penting karena penanaman nilai agama dan budaya dapat membentuk karakter anak yang berakhlak mulia, memiliki rasa hormat terhadap orang lain, serta berpegang pada prinsip-prinsip kebenaran. Sebagai contoh, di Panti Asuhan Muhammadiyah Pagesangan, kegiatan pembinaan budaya dan agama dilaksanakan secara rutin, sebagaimana dijelaskan oleh kepala panti, Bapak Marsudi, yang menekankan pentingnya menjadikan agama sebagai dasar dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya pembinaan tersebut, anak-anak diharapkan tidak hanya mengenal nilai-nilai keagamaan secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam sikap, perilaku, dan pola hidup mereka[20].

Selain jasmani dan rohani, aspek intelektual juga menjadi fokus utama dalam pembinaan anak asuh. Pembinaan intelektual dimaksudkan agar anak-anak mampu mengembangkan daya pikir, kecerdasan, serta kemampuan logika yang mereka miliki. Anak yang memiliki kemampuan intelektual yang baik akan lebih mudah menghadapi permasalahan hidup, mampu mengambil keputusan secara bijak, serta tidak mudah terpengaruh oleh pengaruh buruk dari lingkungan luar. Pembinaan ini juga bertujuan mencetak generasi yang kritis, kreatif, serta mampu bersaing di tengah arus perkembangan zaman. Melalui pendidikan formal maupun nonformal, anak-anak tidak hanya dibekali dengan pengetahuan, tetapi juga diasah keterampilannya dalam berpikir logis, menghubungkan berbagai informasi, menimbang keputusan, serta memahami situasi dengan lebih mendalam. Dengan demikian, pembinaan intelektual menjadi modal utama bagi mereka untuk bertahan dan berhasil di masa depan[21].

Aspek terakhir yang tidak kalah penting adalah pembinaan pekerjaan dan profesi. Anak-anak yang diasuh di panti asuhan perlu dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan setelah mereka keluar dari panti, salah satunya dengan cara memberikan keterampilan kerja dan pemahaman mengenai profesi. Tujuan dari pembinaan ini adalah agar anak-anak menjadi pribadi yang terampil, aktif, kreatif, bertanggung jawab, serta memiliki motivasi yang tinggi untuk bekerja. Melalui pembinaan pekerjaan dan profesi, anak-anak diharapkan tidak hanya bergantung pada bantuan orang lain, tetapi mampu berdiri di atas kaki sendiri, mandiri secara ekonomi, dan meraih kehidupan yang lebih layak di masa depan. Keterampilan kerja yang diberikan dapat berupa pelatihan keterampilan praktis, seperti menjahit, mengelola usaha kecil, keterampilan komputer, maupun keahlian lain yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan bekal ini, anak-anak akan memiliki peluang yang lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan atau bahkan membuka lapangan kerja sendiri, sehingga mereka dapat menjalani kehidupan yang lebih sejahtera dan bermartabat[22].

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembinaan terhadap anak asuh di panti asuhan mencakup berbagai aspek penting yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pembinaan jasmani membentuk fisik yang sehat, pembinaan budaya dan agama menanamkan nilai moral dan spiritual, pembinaan intelektual mengasah kemampuan berpikir kritis dan logis, serta pembinaan pekerjaan dan profesi mempersiapkan anak untuk mandiri secara ekonomi di masa depan. Apabila keempat aspek tersebut dilakukan secara seimbang dan berkesinambungan, maka anak-anak asuh akan tumbuh menjadi generasi yang sehat, berakhlak, cerdas, mandiri, dan mampu berkontribusi positif bagi masyarakat[23].

Simpulan

Pola pembinaan merupakan suatu usaha atau kegiatan untuk memperbaiki hal-hal yang sudah ada menjadi lebih baik (sempurna) dengan cara memelihara dan membimbing yang sudah ada (sudah dimiliki). Tujuan dari pembinaan adalah mendidik, yaitu membimbing anak menuju kedewasaan. Seperti yang dilakukan para pengasuh membina dan menuntun yang bertujuan dalam pengembangan karakter anak. Panti asuhan Muhammadiyah Pagesangan merupakan salah satu wadah atau Lembaga yang melakukan proses pembinaan kepada anak anak terlantar yang kebanyakan berusia dini, pihak panti asuhan juga berupaya dalam membina anak anak agar tumbuh dan berkembang dengan berakhlak baik dan ber ilmu

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian, pengumpulan data dan penulisan artikel. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Marsudi atas kesediaannya untuk berpartisipasi dalam penelitian ini sebagai informan. Penelitian ini dapat terlaksana dengan baik berkat kerjasama para pihak, dan temuannya dapat dilaporkan dalam artikel ini.

References

[1] R. S. Melati, S. D. Ardianti, and M. A. Fardani, “Analisis Karakter Disiplin dan Tanggung Jawab Siswa Sekolah Dasar pada Masa Pembelajaran Daring,” Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 3, no. 5, pp. 3062–3071, 2021, doi: 10.31004/edukatif.v3i5.1229.

[2] R. Maulana, “Pemanfaatan Koleksi Digital dalam Memenuhi Kebutuhan Informasi Mahasiswa D3 Ilmu Perpustakaan Universitas Lampung,” Sustain, vol. 11, no. 1, pp. 1–14, 2023.

[3] J. Kewarganegaraan et al., “Manajemen Hubungan Masyarakat dalam Meningkatkan Peran Masyarakat terhadap MA Model Zainul Hasan Genggong,” Jurnal Kewarganegaraan, vol. 8, no. 1, pp. 1290–1303, 2024.

[4] N. N. Faiza, I. S. Wardhani, and P. T. Indah, “Media Pembelajaran Abad 21: Membangun Generasi,” Jurnal Pendidikan, vol. 2, no. 12, 2024.

[5] Munawaroh and Isniatun, “Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pembelajaran,” Jurnal Pendidikan, 2010.

[6] A. Aminah, H. Hairida, and A. Hartoyo, “Penguatan Pendidikan Karakter Peserta Didik melalui Pendekatan Pembelajaran Kontekstual di Sekolah Dasar,” Jurnal Basicedu, vol. 6, no. 5, pp. 8349–8358, 2022, doi: 10.31004/basicedu.v6i5.3791.

[7] A. Khairani and I. Fachira, “The Influence of Different Digital Content Marketing on Consumer Engagement in the Tourism Sector,” International Journal of Social Science and Business, vol. 5, no. 3, p. 443, 2021, doi: 10.23887/ijssb.v5i3.38109.

[8] A. Kusmana, “Difficulties Encountered by Buginese Learners in Producing English Sounds,” Lentera Pendidikan, 2013.

[9] L. Hartati and F. Indrawati, “Analisis Kemampuan Awal dan Kepercayaan Diri terhadap Kemampuan Komunikasi Matematika,” Edumatica: Jurnal Pendidikan Matematika, vol. 9, no. 2, pp. 50–63, 2019, doi: 10.22437/edumatica.v9i02.7565.

[10] T. Nurseto, “Membuat Media Pembelajaran yang Menarik,” Jurnal Ekonomi dan Pendidikan, vol. 8, no. 1, pp. 19–35, 2012, doi: 10.21831/jep.v8i1.706.

[11] L. J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2007.

[12] M. R. Fadli, “Memahami Desain Metode Penelitian Kualitatif,” Humanika, vol. 21, no. 1, pp. 33–54, 2021.

[13] W. Romas and A. Nadlif, “Online Learning with YouTube Media on Islamic Religious Education Subjects,” Academic Open, vol. 4, pp. 1–10, 2021, doi: 10.21070/acopen.4.2021.2103.

[14] I. M. Laily, A. P. Astutik, and B. Haryanto, “Instagram sebagai Media Pembelajaran Digital Agama Islam di Era 4.0,” Munaddhomah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, vol. 3, no. 2, pp. 160–174, 2022, doi: 10.31538/munaddhomah.v3i2.250.

[15] D. Teibang, “Evaluasi Hasil Asesmen melalui Pemberian Umpan Balik dalam Tes Formatif sebagai Tolak Ukur Hasil Belajar Siswa,” Jurnal Pendidikan, vol. 8, pp. 2236–2242, 2025.

[16] Munawaroh and Isniatun, “Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk Pendidikan,” Jurnal Pendidikan, 2010.

[17] I. Cahyaningtyas, “Anak dalam Perspektif Restorative Justice,” Notarius, vol. 8, no. 2, pp. 342–353, 2015.

[18] H. R. Damanik, “Pengembangan Potensi Siswa melalui Bimbingan dan Konseling,” Jurnal Warta, no. 62, pp. 34–45, 2019.

[19] D. N. Sari, “Tinjauan Kebugaran Jasmani Siswa Sekolah Dasar,” Sport Saintika, vol. 5, no. 2, pp. 133–138, 2020, doi: 10.24036/sporta.v5i2.149.

[20] D. Zalsabella P., E. Ulfatul C., and M. Kamal, “Pentingnya Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Nilai Karakter dan Moral Anak di Masa Pandemi,” Journal of Islamic Education, vol. 9, no. 1, pp. 43–63, 2023, doi: 10.18860/jie.v9i1.22808.

[21] Faisal, “Membangun Karakter dan Logika Anak melalui Pembelajaran,” Intelektual: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Mahasiswa dan Akademisi, vol. 1, no. 3, pp. 1–7, 2025.

[22] E. Susanti, “Keterampilan Menyimak,” Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret, 2019.

[23] N. N. Sinulingga, “Membangun Karakter Sehat dan Berakhlak Mulia melalui 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat,” Tarbiyatuna: Kajian Pendidikan Islam, vol. 9, no. 1, p. 109, 2025, doi: 10.69552/tarbiyatuna.v9i1.2941.