Login
Section Education

English Teaching Challenges in Thai Primary School Context


Tantangan Pengajaran Bahasa Inggris di Konteks Sekolah Dasar Thailand
Vol. 10 No. 1 (2025): June:

Adellia Hawaningrum Yuliafasyah (1), Vidya Mandarani (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) , Indonesia

Abstract:

General Background English language teaching in primary education plays a crucial role in early language development, particularly in English as a Foreign Language contexts. Specific Background In Thailand, despite national efforts to strengthen English education, primary school teachers continue to encounter persistent classroom challenges that shape instructional practices. Knowledge Gap Previous studies have largely focused on policy issues or student outcomes, with limited attention to the lived experiences of teachers in specific local contexts such as Prik Municipality, Songkhla Province. Aims This study aims to identify the challenges faced by an English teacher in a Thai primary school and explore the strategies employed to address those challenges. Results Using a qualitative descriptive design involving classroom observation and open-ended questionnaires, the findings reveal limited student exposure to English, low learning motivation, restricted instructional time, insufficient digital facilities, difficulties in adapting textbook materials, and classroom management issues. Novelty The study provides context-specific insights into teacher-centered instructional realities in a Thai municipal primary school. Implications These findings highlight the need for contextualized teaching materials, improved institutional support, and pedagogical adjustments to foster more engaging English language learning environments.


Keywords: English Language Teaching, Primary School, Teacher Challenges, EFL Context, Classroom Management


Key Findings Highlights:




  1. Limited language exposure contributes to students’ unfamiliarity with English.




  2. Restricted instructional time and technological constraints shape classroom practices.




  3. Textbook adaptation and large-class conditions require continuous pedagogical adjustment.



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Mengajar adalah sebuah kegiatan yang menciptakan perubahan perilaku pada individu. Menurut Brown, mengajar didefinisikan sebagai menunjukkan atau membantu seseorang untuk mempelajari cara melakukan sesuatu, memberikan instruksi, membimbing dalam mempelajari sesuatu, memberikan pengetahuan, serta menyebabkan seseorang tahu atau mengerti [1]. Dalam istilah umum, mengajar adalah tindakan memberikan instruksi kepada siswa dalam sebuah pengaturan kelas. Mengajar dan belajar saling berhubungan. Proses mengajar dan belajar terjadi ketika ada interaksi antara guru dan siswa. Guru dapat berperan sebagai fasilitator dan instruktur selama proses instruksi. Peran guru sebagai pendidik lebih dari sekadar menyampaikan materi atau ajaran di kelas; mereka juga harus memotivasi siswa . Untuk memastikan bahwa proses mengajar berjalan secara efektif, baik guru maupun siswa harus terlibat dalam kegiatan tersebut. Namun, saat mengajar suatu bahasa, khususnya bahasa Inggris, guru tidak hanya harus menguasai empat keterampilan bahasa Inggris (mendengarkan, menulis, berbicara, dan membaca), tetapi guru juga harus mempelajari strategi dan pendekatan pengajaran bahasa. Hal ini dilakukan untuk menentukan pendekatan terbaik guna memastikan siswa kompeten dengan materi pelajaran. Oleh karena itu, guru harus mampu mengembangkan setiap aspek yang berkaitan dengan proses mengajar dan belajar di kelas.

Mengajar bahasa Inggris pada usia dini itu penting. Mendorong perkembangan bahasa anak pada usia muda sangatlah penting mengingat perkembangannya yang pesat selama masa keemasan mereka. Peserta didik usia muda adalah anak-anak usia lima hingga dua belas tahun yang sedang mempelajari bahasa asing atau kedua selama enam atau tujuh tahun pertama pendidikan formal, biasanya di institusi sekolah dasar [2]. Usia yang ideal untuk mempelajari bahasa asing adalah pada usia-usia tersebut. Sebagaimana dinyatakan oleh Ball dan Feiman, anak-anak yang mulai belajar bahasa di sekolah dasar memiliki kemungkinan lebih besar untuk mencapai tingkat kemahiran yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memulai di sekolah menengah [3]. Mengajar bahasa Inggris kepada peserta didik usia muda sangatlah penting karena peran bahasa ini sebagai bahasa yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Orang-orang belajar bahasa Inggris untuk bersaing secara global dan mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak sejak usia dini. Untuk memastikan siswa memahami bahasa Inggris, penting untuk menggunakan kegiatan spesifik selama pelajaran. Misalnya, siswa dapat meniru kata-kata guru melalui kegiatan berbicara. Pembelajar muda memperoleh bahasa baru dengan cara melakukan. Menurut teori imitasi yang dikembangkan oleh B.F. Skinner, anak-anak belajar bahasa dengan mendengarkan dan meniru bahasa di sekitar mereka. Begitu anak-anak melatih otot mulut dan suara mereka, mereka mulai meniru apa yang diucapkan oleh orang dewasa terdekat. Jika lingkungan di sekitar mereka mendukung, peserta didik usia muda dapat menguasai bahasa dengan baik dan mudah [4]. Itu sebabnya metode mengajar guru memiliki efek penting pada pencapaian siswa.

Mengingat pentingnya mengajar bahasa Inggris kepada peserta didik usia muda, ada tantangan signifikan, terutama di tempat-tempat di mana bahasa Inggris memiliki tujuan yang terbatas. Banyak siswa mungkin tidak menganggap bahasa Inggris menarik atau relevan dengan kehidupan mereka. Kurangnya motivasi ini dapat dikaitkan dengan beberapa penyebab, termasuk perbedaan budaya dan kurangnya paparan terhadap bahasa Inggris di luar kelas. Ketika siswa tidak memahami nilai belajar bahasa Inggris, antusiasme mereka untuk berpartisipasi dan belajar menurun. Siswa kurang termotivasi untuk belajar bahasa Inggris karena mereka mungkin percaya tidak ada gunanya mempelajari bahasa tersebut. Penelitian oleh Pertiwi menjelaskan bahwa banyak siswa cenderung kurang antusias untuk belajar bahasa Inggris dan memiliki sedikit pengetahuan sebelumnya tentang bahasa Inggris, sehingga sulit bagi mereka untuk memahami konsep-konsep baru . Untuk mengatasi masalah ini, guru dapat mencari atau mengembangkan materi yang relevan dan menghibur yang berhubungan dengan kehidupan dan minat siswa. Hal ini dapat mencakup mengintegrasikan isu-isu terkini, budaya populer, atau pengalaman kehidupan nyata yang dapat dipahami siswa, yang akan meningkatkan antusiasme mereka untuk belajar. Beberapa penelitian sebelumnya telah dilakukan terkait dengan tantangan yang dihadapi oleh guru bahasa Inggris di Thailand. Penelitian oleh Assalihee & Boonsuk mengeksplorasi di provinsi selatan Thailand, mengidentifikasi masalah seperti kesadaran yang terbatas akan pentingnya kemahiran bahasa Inggris, kebijakan pengajaran bahasa Inggris yang terfragmentasi, integrasi yang buruk dengan konteks kehidupan nyata, buku teks yang tidak konsisten, dan pengaturan kelas yang tidak praktis [5]. Studi oleh Kaosayapandhu membahas bahwa banyak guru di sekolah pedesaan tidak memiliki pelatihan yang diperlukan untuk mengajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing [6]. Kurangnya perkembangan profesional ini dapat membuat mereka lebih sulit untuk mengajar siswa secara efektif dan signifikan. Sebuah studi lain yang dilakukan di Thailand oleh Tipprachaban menemukan bahwa meskipun ada beberapa inisiatif pemerintah dan reformasi pendidikan yang berfokus pada peningkatan kemahiran bahasa Inggris di kalangan masyarakat Thailand, hasilnya tidak memuaskan [7]. Kemahiran bahasa Inggris Thailand masih termasuk yang terendah secara global, menunjukkan bahwa program-program tersebut belum cukup efektif.

Berdasarkan pra-observasi, pengajaran bahasa Inggris di sekolah dasar Kotamadya Prik di provinsi Songkhla, Thailand, berfokus pada pendekatan yang berpusat pada guru. Dalam pendekatan ini, guru dianggap sebagai sumber utama pelajaran dan otoritas [8]. Pendekakan yang berpusat pada guru mungkin kurang menarik yang dapat menyebabkan stagnasi pemahaman pada siswa [9]. Salah satu masalah utama adalah keragaman linguistik para pembelajar. Keragaman ini dapat membawa tantangan bagi siswa dan guru. Contohnya, siswa Thailand, yang bahasa pertamanya memiliki aturan suara atau tata bahasa yang sangat berbeda dari bahasa Inggris, mengalami lebih banyak kesulitan dengan pengucapan, kalimat, atau pemahaman konsep linguistik tertentu. Selain itu, para guru sebagian besar bergantung pada buku teks sebagai sumber pengajaran utama mereka, memusatkan pelajaran pada tugas mendengarkan dan mengulang. Siswa mengulang dialog dan struktur kalimat dengan menghafal dan meniru. Meskipun metode ini mengajarkan kosakata dan pengucapan kepada siswa, metode ini menawarkan sedikit kesempatan untuk interaksi, kreativitas, atau pemahaman yang lebih dalam [10]. Selain itu, beberapa siswa tampak terganggu dan tidak tertarik dengan pelajaran, yang dapat dikaitkan dengan kurangnya pendekatan pengajaran yang dinamis dan sumber daya yang relevan. Hal ini dapat menyebabkan hilangnya motivasi dan partisipasi siswa, yang keduanya diperlukan untuk pembelajaran yang efektif karena siswa yang terlibat lebih mungkin untuk berprestasi secara akademis [11]. Pandangan-pandangan ini menggambarkan keterbatasan dalam pengajaran bahasa Inggris di sekolah dasar Prik di Songkhla, Thailand.

Dengan mengatasi kesulitan-kesulitan khusus yang dihadapi oleh guru-guru bahasa Inggris di sekolah dasar Prik, Distrik Sadao, Provinsi Songkhla, Thailand—sebuah latar belakang yang belum banyak mendapat perhatian dalam penelitian sebelumnya—penelitian ini memberikan kontribusi baru pada bidang pengajaran bahasa Inggris. Sementara penelitian sebelumnya sering kali berfokus pada isu-isu yang berkaitan dengan siswa atau reformasi pendidikan yang lebih umum, studi ini mengambil pendekatan yang berbeda dengan berfokus pada pengalaman pribadi, tantangan, dan solusi para guru di sekolah tersebut. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesulitan-kesulitan spesifik yang dihadapi oleh guru-guru bahasa Inggris di sekolah dasar Prik di Songkhla, Thailand, dan mengeksplorasi upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi tantangan-tantangan ini. Penelitian ini dipandu oleh dua pertanyaan utama:

(1) Tantangan apa yang dihadapi guru bahasa Inggris di sekolah dasar Prik?

(2) Apa saja upaya guru untuk mengatasi tantangan ini?

Metode

Penulis menggunakan penelitian kualitatif dengan desain deskriptif. Desain deskriptif dimaksudkan untuk menggambarkan apa yang sering terlihat, lazim, atau sudah ada dalam suatu populasi [12]. Penelitian kualitatif memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang perilaku manusia dan proses sosial menggunakan data non-numerik [13]. Para penulis memilih penelitian kualitatif untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang pengalaman, perspektif, dan strategi guru dalam mengatasi tantangan.

Lokasi penelitian adalah di sekolah dasar Prik, Kecamatan Prik, Distrik Sadao, Provinsi Songkhla, Thailand. Partisipan penelitian ini adalah seorang guru bahasa Inggris di sekolah dasar Prik. Dalam penelitian ini, satu guru bahasa Inggris dipilih. Penulis memilih partisipan berdasarkan karakteristik seperti pengalaman dalam mengajar bahasa Inggris, saat ini mengajar bahasa Inggris di sekolah dasar, kredibilitas, dan pengetahuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengumpulkan data dari guru bahasa Inggris yang terlibat langsung dalam mengajar di sekolah dasar. Partisipan tersebut berada dalam posisi terbaik untuk memberikan wawasan yang berarti dan mendalam mengenai tantangan yang mereka hadapi, menjadikan purposive sampling sebagai metode yang sesuai untuk mengidentifikasi dan memilih partisipan dengan keahlian dan relevansi yang diperlukan.

Dalam mengumpulkan data, peneliti melakukan observasi kelas selama satu bulan untuk mengumpulkan informasi selama kegiatan belajar mengajar. Observasi terjadi ketika seorang peneliti membuat catatan lapangan tentang perilaku dan aktivitas partisipan di lokasi penelitian. Dalam catatan lapangan ini, peneliti mendokumentasikan aktivitas di lokasi penelitian secara tidak terstruktur atau semi-terstruktur (menggunakan pertanyaan yang diajukan sebelumnya oleh peneliti) [14]. Dengan melakukan observasi, peneliti sepenuhnya mengalami kegiatan pembelajaran dari awal hingga akhir pelajaran.

No. Aspek Observasi Berdasarkan Teori Ya/Tidak Catatan
1. Apakah guru terlihat kesulitan dalam menjaga motivasi dan keterlibatan siswa? Berdasarkan Pendekatan Humanistik Curran. Guru bertindak sebagai fasilitator dan konselor, membimbing siswa melalui proses pembelajaran dan memenuhi kebutuhan individu mereka [15].
2. Apakah guru kesulitan dalam menerapkan kegiatan interaktif, yang menyebabkan minimnya waktu bicara antar siswa? Berdasarkan Teori Sosio-Kultural Vygotsky. Guru menekankan peran penting interaksi sosial dan budaya dalam perkembangan kognitif [16].
3. Apakah guru kesulitan untuk memberikan umpan balik yang tepat waktu, spesifik, dan konstruktif kepada siswa? Berdasarkan Teori Sosio-Kultural Vygotsky. Guru memberikan dukungan dan bimbingan untuk membantu siswa mempelajari konsep dan keterampilan baru [16].
4. Apakah guru kesulitan untuk menghubungkan materi dan aktivitas pelajaran dengan kebutuhan atau minat siswa di dunia nyata? Berdasarkan Pengajaran Bahasa Berbasis Tugas (TBLT). Guru memberikan tugas-tugas yang bermakna dan berhubungan dengan dunia nyata [17].
5. Apakah guru kesulitan mengkomunikasikan tujuan pembelajaran atau tujuan kegiatan dengan jelas kepada siswa? Pengajaran Bahasa Berbasis Tugas (TBLT). Guru memberikan instruksi yang jelas dan ringkas tentang apa yang perlu dilakukan siswa [17].
6. Apakah guru berusaha keras untuk menciptakan lingkungan kelas yang aman, suportif, atau rendah kecemasan? Berdasarkan Pendekatan Humanistik Curran. Guru menciptakan lingkungan yang mendukung, seperti menumbuhkan rasa percaya, empati di antara siswa dan antara siswa dan guru [15].
7. Apakah guru jarang atau tidak pernahmemasukkan materi bahasa Inggrisyang otentik (teks, audio, dan video)ke dalam pelajaran? Berdasarkan Pengajaran Bahasa Komunikatif (CLT). [19]Guru menggunakan materi dunia nyata seperti artikel surat kabar, brosur, atau video untuk membantu siswa terlibat dengan bahasa dalam konteks yang bermakna [17].
8. Apakah guru kesulitan untuk menyesuaikan kegiatan atau memberikan dukungan yang bervariasi untuk siswa dengan gaya belajar atau tingkat kemahiran yang berbeda? Berdasarkan Teori Sosio-Kultural Vygotsky. Guru sebagai pemandu untuk menjembatani kesenjangan antara apa yang dapat dilakukan siswa secara mandiri dan apa yang dapat mereka capai dengan bimbingan [16].
9. Apakah guru lebih banyak memberikan ceramah atau mendominasi diskusi kelas, daripada berperan sebagai fasilitator yang memfasilitasi penemuan siswa? Berdasarkan Teori Sosio-Kultural Vygotsky. Guru memberikan dukungan dan bimbingan untuk membantu siswa mempelajari konsep dan keterampilan baru [16].
10. Apakah guru kesulitan dalam mengelola kelas, sehingga mengakibatkan gangguan dan disorganisasi yang berkelanjutan? Berdasarkan PendekatanHumanistik dari Curran. Gurumenciptakan lingkungan yangmendukung:Seperti menumbuhkan rasapercaya, empati antar siswa danantara siswa dengan guru [15].
Table 1. Tabel . Daftar Periksa Observasi

Selain itu, peneliti juga mengumpulkan data dengan memberikan kuesioner terbuka kepada partisipan. Kuesioner ini diadaptasi dari Meggi Lestari [18]. Pertanyaan-pertanyaan asli dibuat untuk menganalisa masalah guru bahasa Inggris di tingkat sekolah menengah. Untuk penelitian ini, kuesioner dimodifikasi untuk fokus pada tantangan tertentu yang dihadapi guru bahasa Inggris di sekolah dasar di Kota Prik. Penulis menggunakan pertanyaan terbuka sebagai alat pengumpulan data utama. Partisipan ditanya melalui pertanyaan terbuka untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang terkait dengan kesulitan dalam mengajar bahasa Inggris. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dirancang untuk mengeksplorasi berbagai bidang, seperti: tantangan utama dalam mengajar bahasa Inggris, faktor-faktor yang berkontribusi terhadap tantangan tersebut, dan saran atau strategi untuk mengatasi tantangan tersebut.

No. Pertanyaan Jawaban
1. Berdasarkan pengalaman mengajar Anda, apa kesulitan utama yang Anda hadapi dalam mengajar bahasa Inggris untuk siswa sekolah dasar?
2. Hal apa yang menurut Anda paling membuat Anda frustasi dalam mengajar bahasa Inggris, dan mengapa?
3. Faktor-faktor apa saja yang membuat pengajaran bahasa Inggris menjadi menantang di lingkungan sekolah Anda?
4. Dapatkah Anda menjelaskan pengalaman negatif yang Anda alami selama mengajar bahasa Inggris?
5. Masalah apa yang masih ada dalam pengajaran bahasa Inggris yang sering Anda pikirkan untuk dipecahkan, dan mengapa?
6. Tantangan apa yang Anda alami ketika menggunakan materi pengajaran bahasa Inggris?
7. Bagaimana Anda menggambarkan ukuran kelas Anda, dan bagaimana hal tersebut berdampak pada pengajaran Anda?
8. Tantangan apa yang Anda hadapi ketika mengajar bahasa Inggris di kelas dengan jumlah siswa yang banyak?
9. Bagaimana Anda menggambarkan motivasi siswa Anda dalam belajar bahasa Inggris, dan bagaimana hal itu mempengaruhi pengajaran Anda?
Table 2. Tabel . Daftar Periksa Observasi

Data dianalisis menggunakan hasil observasi kelas dan kuesioner. Langkah pertama yang dilakukan penulis adalah membaca tanggapan yang terkumpul untuk memahami data. Langkah selanjutnya adalah menganalisis berdasarkan teori dan data yang merupakan hasil dari pertanyaan terbuka, dan langkah terakhir adalah menulis kesimpulan. Objek yang ditulis adalah jawaban partisipan terhadap pertanyaan terbuka. Dalam penelitian ini, kepercayaan digunakan untuk memvalidasi data melalui member check. Creswell mendefinisikan member check sebagai meminta satu atau lebih partisipan dalam penelitian untuk memverifikasi kebenaran informasi akun [14]. Evaluasi ini melibatkan penyajian hasil penelitian kepada partisipan dan menanyai mereka (secara tertulis atau melalui wawancara) tentang kebenaran penelitian.

Hasil dan Pembahasan

A. Hasil

Hasilnya telah dikumpulkan melalui kuesioner yang diberikan kepada peserta. Partisipan adalah seorang guru bahasa Inggris di sekolah dasar Prik. Menurut tanggapan partisipan, hambatan guru dalam mengajar bahasa Inggris berkaitan dengan siswa, materi buku pelajaran, dan peralatan. Peneliti akan menjabarkannya secara mendalam.

Pertanyaan Jawaban
1. Berdasarkan pengalaman mengajar Anda, apa kesulitan utama yang Anda hadapi dalam mengajar bahasa Inggris untuk siswa sekolah dasar? "Kurangnya paparan bahasa Inggris di luar kelas. Siswa tidak terbiasa dengan bahasa Inggris."
Table 3. 3

Menurut tanggapan partisipan, kurangnya paparan bahasa Inggris di luar kelas. Selain itu, siswa tidak terbiasa dengan bahasa tersebut karena bahasa Inggris dianggap sebagai bahasa asing di Thailand. Bahasa Inggris jarang digunakan di luar kelas. Studi yang dilakukan oleh Ali membahas bahwa siswa mungkin kesulitan untuk berbicara bahasa Inggris jika mereka hanya memiliki sedikit kesempatan untuk berlatih dalam situasi nyata [19]. Kemampuan bahasa siswa akan meningkat ketika mereka mendapatkan lebih banyak paparan bahasa Inggris di luar kelas, seperti melalui media, teknologi, dan lingkungan rumah. Pengajaran di kelas sering kali berfokus pada latihan tertulis atau tugas individu, dan hanya memberikan sedikit kesempatan untuk berinteraksi secara lisan. Strategi yang dilakukan guru agar siswa terbiasa dengan bahasa Inggris adalah dengan memberikan gambar-gambar di sekitar kelas dan area sekolah yang bertuliskan kosakata bahasa Inggris agar siswa lebih mengenal bahasa tersebut. Ada gambar-gambar kosakata sederhana seperti, salam, hari dalam seminggu, nama ruangan, warna, hobi, dan banyak lagi.

Pertanyaan Jawaban
2. Hal apa yang paling membuat Anda frustasi dalam mengajar bahasa Inggris, dan mengapa? "Siswa kehilangan antusiasme saat belajar. Hal ini dapat mempengaruhi siswa lain juga."
Table 4. 4

Menurut tanggapan partisipan, kurangnya antusiasme siswa saat belajar. Siswa yang tidak bersemangat cenderung mengganggu kelas, berbicara dengan siswa lain dalam bahasa ibu mereka, atau mengabaikan pelajaran, sehingga membuat pengelolaan kelas menjadi lebih sulit. Guru harus terus mencari cara baru untuk memusatkan kembali perhatian siswa dan menjaga agar kelas tetap produktif. Menurut Agrifina, motivasi belajar yang kuat dalam diri siswa menunjukkan minat, fokus, dedikasi, serta kesiapan dalam kegiatan belajar, sehingga menghasilkan hasil belajar yang positif . Motivasi memiliki dampak langsung terhadap efektivitas dan keberhasilan pembelajaran bahasa Inggris. Salah satu upaya guru untuk menangani siswa yang tidak bersemangat atau ketika kelas mulai terasa sedikit membosankan, guru mulai melakukan ice breaking sederhana. Guru menggunakan ice breaking yang sederhana dan singkat seperti "tepuk satu, tepuk dua" untuk memfokuskan kembali kelas.

Pertanyaan Jawaban
3. Faktor-faktor apa yang membuat pengajaran bahasa Inggris menjadi menantang di lingkungan sekolah Anda? "Waktu yang terbatas dalam mempelajari pelajaran bahasa Inggris."
Table 5. 5

Menurut pernyataan partisipan, ada keterbatasan waktu dalam belajar bahasa Inggris di lingkungan sekolah mereka. Di sekolah, pelajaran bahasa Inggris dijadwalkan selama 60-90 menit per minggu. Guru sering merasa tertekan untuk mengajarkan berbagai macam topik dalam jumlah jam pelajaran yang terbatas. Guru harus melanjutkan ke materi berikutnya tanpa memperhatikan apakah siswa telah menguasai topik sebelumnya atau belum.

Pertanyaan Jawaban
4. Dapatkah Anda menjelaskan pengalaman negatif yang Anda alami selama mengajar bahasa Inggris? "Perlu waktu untuk menggunakan atau mengakses fasilitas seperti audio visual. Jadi jika kita tidak mempersiapkannya, kita tidak tahu apakah fasilitas tersebut berfungsi atau tidak."
Table 6. 6

Menurut tanggapan partisipan, ada kesulitan dalam menggunakan fasilitas multimedia. Terkait dengan implementasi multimedia, guru perlu mempersiapkan fasilitas yang memadai seperti komputer dan LCD untuk media audio visual. Guru juga membutuhkan bantuan dari guru lain untuk menyiapkan ruang komputer yang membutuhkan waktu yang cukup lama. Ketika guru tidak dapat menggunakan ruang komputer, guru hanya akan menggunakan materi berbasis kertas atau media visual buatan tangan. Misalnya, guru menyiapkan kertas guntingan untuk siswa. Guru akan meminta siswa untuk melakukan kegiatan seperti menempelkan kertas guntingan tersebut di buku siswa. Contoh lainnya, guru menggunakan media visual buatan tangan, seperti jam karton. Media ini digunakan untuk mengajarkan "menceritakan waktu". Meskipun contoh-contoh ini kreatif, menggunakan materi multimedia di kelas bahasa Inggris dapat sangat meningkatkan pengalaman belajar, terutama bagi siswa sekolah dasar.

Pertanyaan Jawaban
5. Masalah apa yang masih ada dalam pengajaran bahasa Inggris yang sering Anda pikirkan untuk dipecahkan, dan mengapa? "Mencoba membuat pelajaran terkait dengan kehidupan sehari-hari. Mungkin akan lebih mudah bagi siswa untuk memahami jika pelajarannya tentang apa yang ada di sekitar kita."
Table 7. 7

Menurut jawaban partisipan, mencoba membuat pelajaran yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari adalah salah satu masalah yang sedang berlangsung dalam pengajaran bahasa Inggris. Materi sangat penting untuk mendukung siswa dalam belajar bahasa Inggris, mulai dari buku teks hingga benda-benda di kehidupan nyata. Sebagai contoh, ada suatu waktu ketika guru mengajar pelajaran bahasa Inggris saat Hari Ibu dan Hari Guru sedang berlangsung. Guru membuat materi sendiri yang berhubungan dengan Hari Ibu dan Hari Guru, meskipun tidak sesuai dengan topik yang ada di buku pelajaran. Upaya ini dilakukan untuk mengedukasi siswa tentang situasi yang sebenarnya dalam kehidupan nyata.

Pertanyaan Jawaban
6. Tantangan apa yang Anda alami ketika menggunakan materi ajar bahasa Inggris? "Materi dalam buku siswa membutuhkan lebih banyak gambar dan aktivitas interaktif. Jadi saya harus meluangkan waktu untuk beradaptasi dengan materi tersebut agar mudah dipahami oleh siswa."
Table 8. 8

Menurut tanggapan partisipan, mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengadaptasi materi buku teks. Konten buku teks sangat penting untuk mengajarkan keterampilan bahasa. Guru harus memilih buku teks yang tepat untuk mencapai apa yang ingin mereka capai. Buku teks yang digunakan guru sebagian besar menunjukkan gambar kata kerja dan kata benda, dan di bawah gambar tersebut terdapat kata-kata dalam bahasa Inggris. Tugas yang diberikan sebagian besar adalah mendengarkan dan mengulang. Guru akan mengucapkan kata-kata dan siswa akan mengulangi apa yang guru katakan, dan kemudian guru akan bertanya tentang terjemahan kata-kata tersebut dalam bahasa pertama mereka. Oleh karena itu, perlu untuk memasukkan kemungkinan tambahan untuk kerja kelompok, percakapan, dan latihan komunikatif.

Pertanyaan Jawaban
7. Bagaimana Anda menggambarkan ukuran kelas Anda, dan bagaimana dampaknya terhadap pengajaran Anda? "Tidak lebih dari 30 siswa di setiap kelas. Namun terkadang, saya merasa kesulitan untuk mempertahankan perhatian siswa. Beberapa siswa mungkin berisik, dan akan mengganggu aktivitas kelas."
Table 9. 9

Menurut tanggapan partisipan, ukuran dan kondisi kelas mempengaruhi proses pembelajaran. Lingkungan yang berisik akan mengganggu aktivitas pembelajaran. Pendekatan yang dilakukan guru untuk menangani siswa yang suka berbicara dengan temannya ketika proses pembelajaran berlangsung adalah dengan menunjuk siswa tersebut dan meminta siswa tersebut untuk membaca materi atau menjawab pertanyaan tentang materi. Selain itu, selama proses pembelajaran berlangsung, guru akan berkeliling kelas sehingga guru dapat melihat seluruh siswa.

Pertanyaan Jawaban
8. Tantangan apa yang Anda hadapi saat mengajar bahasa Inggris di kelas dengan jumlah siswa yang banyak? "Berusaha menjaga perhatian siswa terhadap pelajaran."
Table 10. 10

Menurut jawaban partisipan, berusaha menjaga perhatian siswa terhadap pelajaran adalah salah satu tantangan dalam mengajar dengan jumlah siswa yang banyak. Guru cenderung meninggikan suara mereka ketika siswa mulai kehilangan minat atau ribut ketika proses pembelajaran masih berlangsung. Pendekatan ini akan mengembalikan perhatian siswa ke pelajaran dan mengajarkan siswa lain cara untuk fokus pada pelajaran.

Pertanyaan Jawaban
9. Bagaimana Anda menggambarkan motivasi siswa Anda dalam belajar bahasa Inggris, dan bagaimana hal itu mempengaruhi pelajaran Anda? "Motivasi setiap siswa berbeda-beda. Siswa suka melakukan akt ivitas interaktif, atau mungkin permainan. Beberapa siswa dapat memahami pelajaran dengan cepat, dan beberapa tidak. Jadi saya harus melakukan berbagai cara untuk mengajar agar lebih menarik."
Table 11. 11

Menurut tanggapan partisipan, ada berbagai jenis motivasi siswa dalam belajar bahasa Inggris. Ada siswa yang lebih cepat memahami pelajaran dibandingkan siswa lainnya. Beberapa pendekatan pengajaran mungkin lebih mengutamakan pembelajaran yang berulang-ulang dan mendapatkan pengetahuan informasi secara pasif daripada partisipasi aktif. Salah satu upaya guru untuk membuat pelajaran menjadi interaktif dan mendapatkan partisipasi siswa di kelas adalah dengan memberikan hadiah. Guru akan memberikan hadiah seperti pensil, pulpen, penghapus, kepada siswa yang berpartisipasi aktif di kelas. Menurut Schultz, seperti dikutip dari Murayama, hadiah memiliki kemampuan untuk menstimulasi emosi yang menyenangkan. Secara sederhana, hadiah membuat orang kembali lagi dan membuat orang merasa nyaman dengan diri mereka sendiri .

B. Pembahasan

Berdasarkan temuan di atas, pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing di sekolah dasar menghadapi banyak tantangan. Yang pertama adalah kurangnya paparan bahasa Inggris. Belajar bahasa Inggris dapat menjadi tugas yang cukup sulit bagi beberapa siswa, terutama jika bahasa pertama mereka sangat berbeda. Perjuangan yang terus-menerus dengan aturan dan suara asing ini dapat menyebabkan kesalahpahaman bahwa bahasa Inggris itu "sulit", yang menyebabkan siswa kehilangan minat dan melepaskan diri dari kelas. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan oleh Kilag menemukan bahwa meningkatkan paparan terhadap kegiatan berbahasa Inggris di rumah, seperti membaca buku dan mendongeng, memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan bahasa anak [20].

Kedua, kurangnya motivasi siswa dalam pelajaran bahasa Inggris. Motivasi memberikan keinginan untuk memulai tindakan untuk mencapai tujuan. Motivasi siswa penting dalam mendorong siswa untuk melakukan suatu tindakan, seperti belajar bahasa Inggris, dan dipengaruhi oleh karakteristik mereka dan lingkungan di sekitar mereka [21]. Ketika siswa menikmati pengalaman belajar, mereka lebih cenderung termotivasi secara pribadi. Kegiatan yang menyenangkan dapat meningkatkan keterlibatan dan motivasi untuk berpartisipasi lebih jauh.

Ketiga, waktu yang terbatas dalam pelajaran bahasa Inggris. Ketika sejumlah besar siswa berjuang dengan konsep dasar dan motivasi, menjadi sulit untuk mengikuti silabus tanpa tertinggal. Kondisi ini membuat para guru merasa terburu-buru dalam menyampaikan materi pelajaran. Guru harus melanjutkan ke materi berikutnya apakah siswa sudah menguasai topik sebelumnya atau belum.

Keempat adalah penggunaan multimedia. Mengintegrasikan multimedia membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan tidak membosankan dengan menarik indera yang berbeda dan mengakomodasi gaya belajar yang berbeda [22]. Menambahkan aspek audio-visual ke dalam sekolah bahasa dapat meningkatkan pengembangan kosakata. Seperti yang dinyatakan oleh Regina, paparan visual dan audio dapat meningkatkan retensi memori saat belajar kosakata bahasa Inggris [23].

Kelima, membuat materi yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Meskipun guru sering kali memiliki akses ke buku teks, buku-buku tersebut bersifat umum dan mungkin tidak memenuhi kebutuhan spesifik, sehingga guru perlu mempertimbangkan untuk membuat materi sendiri.

Keenam, mengadaptasi materi buku teks. Banyak buku pelajaran yang memiliki jumlah latihan dan kegiatan interaktif yang relatif terbatas, yang dapat menghambat minat siswa. Desain buku teks, yang melibatkan ilustrasi, pengaturan, tipografi, dan warna, sangat penting untuk menarik minat siswa [24].

Ketujuh adalah kondisi kelas. Kelas yang lebih besar cenderung lebih sulit untuk dikelola, terutama untuk siswa yang duduk di bagian belakang kelas. Akan lebih sulit bagi guru untuk mengontrol karena sulit untuk melihat apa yang terjadi di bagian belakang kelas. Penelitian yang dilakukan oleh Khatimah membahas bahwa lingkungan belajar di kelas yang baik akan membuat siswa merasa nyaman dan termotivasi selama kegiatan belajar [25]. Lingkungan yang kondusif memastikan interaksi ini mengarah pada perubahan perilaku yang positif.

Yang terakhir adalah siswa dapat dikondisikan untuk mendengarkan dan mencatat daripada berbicara. Jika ruang kelas sangat berpusat pada guru, siswa mungkin tidak merasa nyaman atau diberdayakan untuk berkontribusi secara verbal. Studi yang dilakukan oleh Mojgan membahas bahwa penerapan metode pengajaran interaktif, seperti bermain peran dan permainan, memotivasi siswa untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran [26]. Jenis-jenis kegiatan ini dapat memberikan dampak positif bagi guru dan siswa dengan membuat pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan berkesan.

Kesimpulan

Penelitian ini membahas tentang tantangan yang dialami oleh guru bahasa Inggris di sekolah dasar Prik Municipality di Songkhla, Thailand, termasuk ketidakbiasaan siswa dengan bahasa Inggris, kurangnya motivasi siswa, waktu kelas yang terbatas, fasilitas media digital yang tidak efektif, masalah dalam mengadaptasi materi, dan kondisi kelas. Studi ini menemukan bahwa paparan siswa yang terbatas terhadap bahasa Inggris di luar kelas berkontribusi secara signifikan terhadap kurangnya keakraban mereka dengan bahasa tersebut, membuat konsepkonsep sederhana menjadi sulit dan menyebabkan kurangnya minat. Selain itu, kurangnya minat di antara para siswa, yang sering disebabkan oleh metode pengajaran yang lebih mengutamakan pembelajaran pasif daripada keterlibatan aktif, berdampak pada manajemen kelas dan efektivitas pembelajaran.

Guru juga mengalami kendala waktu, karena kursus bahasa Inggris mingguan yang terbatas mengharuskan mereka untuk membahas materi tanpa memastikan penguasaan siswa. Selain itu, ketidakefisienan teknologi, seperti dalam mempersiapkan fasilitas audiovisual yang mungkin memakan waktu; mengharuskan guru untuk bergantung pada materi berbasis kertas, yang dapat membatasi pengalaman belajar yang menarik. Selain itu, isi buku teks yang terbatas pada kegiatan interaktif, sehingga guru harus menyesuaikan materi untuk memenuhi kebutuhan dan tujuan siswa. Terakhir, kondisi kelas membuat guru lebih sulit untuk mempertahankan fokus dan kontrol. Mengatasi berbagai tantangan ini sangat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan bahasa Inggris dan mendorong kemahiran siswa yang lebih baik. Penelitian ini difokuskan secara khusus pada sekolah dasar di Kota Prik di Provinsi Songkhla, Thailand. Penelitian di masa depan dapat memperluas cakupan dengan memasukkan lebih banyak sekolah dasar di berbagai provinsi atau wilayah di Thailand untuk menentukan apakah tantangan serupa juga ada di seluruh negeri.

References

[1] H. D. Brown, Principles of Language Learning and Teaching, 5th ed. White Plains, NY, USA: Pearson Education, 2007.

[2] L. Lena, I. Wahab, and S. Aisyah, “The Teacher’s Role in Motivating Students to Learn English in High School Level,” Seltics: Journal of Scope in English Language Teaching, Literature and Linguistics, vol. 7, no. 1, pp. 97–108, 2024, doi: 10.46918/seltics.v7i1.2176.

[3] P. McKay, “A Special Case for Young Learner Language Assessment,” in Assessing Young Language Learners. Cambridge, U.K.: Cambridge University Press, 2005.

[4] D. L. Ball and S. Feiman-Nemser, “Using Textbooks and Teachers’ Guides: A Dilemma for Beginning Teachers and Teacher Educators,” Curriculum Inquiry, vol. 18, no. 4, pp. 401–423, Dec. 1988, doi: 10.1080/03626784.1988.11076050.

[5] P. Cahyati and S. Madya, “Teaching English in Primary Schools: Benefits and Challenges,” in Proceedings of the International Conference on Current Issues in Education (ICCIE 2018), vol. 326, pp. 395–400, 2019, doi: 10.2991/iccie-18.2019.68.

[6] C. A. A. Pertiwi, M. Mustofa, M. F. Ubaidillah, and S. Hariyanto, “The Portrait of Challenges in Teaching English to Young Learners: A Case Study in an Indonesian Islamic School,” Journal of English Language Teaching and Linguistics, vol. 7, no. 3, pp. 467–480, 2022, doi: 10.21462/jeltl.v7i3.892.

[7] M. Assalihee and Y. Boonsuk, “Factors Obstructing English Teaching Effectiveness: Teacher Voices from Thailand’s Deep South,” IAFOR Journal of Education, vol. 10, no. 1, pp. 155–172, 2022, doi: 10.22492/ije.10.1.08.

[8] M. Kaosayapandhu, “Rural Primary English Education in Thailand,” in English Language Education in Thailand. Leiden, The Netherlands: Brill, 2023, doi: 10.1163/9789004549647_003.

[9] B. Tipprachaban, “Challenges of Using English as a Medium of Instruction (EMI) in Thailand,” PUPIL: International Journal of Teaching, Education and Learning, vol. 6, no. 2, pp. 1–12, 2022, doi: 10.20319/pijtel.2022.62.0112.

[10] E. Markina and A. G. Mollá, “The Effect of a Teacher-Centred and Learner-Centred Approach on Students’ Participation in the English Classroom,” Bellaterra Journal of Teaching and Learning Language and Literature, vol. 15, no. 3, 2022, doi: 10.5565/rev/jtl3.1007.

[11] I. Ameliana, “Teacher-Centered or Student-Centered Learning Approach to Promote Learning?,” Jurnal Sosial Humaniora, vol. 10, no. 2, pp. 59–70, 2017, doi: 10.12962/j24433527.v10i2.2161.

[12] S. Yuliia Anatolyivna, “Teaching English as a Second Language (TESL): Methods and Challenges in Teaching English to Non-Native Speakers,” Aga Journal of Education, vol. 15, no. 1, pp. 37–48, 2024.

[13] P. Watkins, S. Thornbury, and S. Millin, Teaching with Limited Resources. Cambridge, U.K.: Cambridge University Press, 2023, doi: 10.1017/9781009091619.031.

[14] K. E. Swatzell and P. R. Jennings, “Descriptive Research: The Nuts and Bolts,” Journal of the American Academy of Physician Assistants, vol. 20, no. 7, pp. 1–8, 2007, doi: 10.1097/01720610-200707000-00098.

[15] S. Elliott, K. Christy, and S. Xiao, “Qualitative Research Design,” i The Cambridge Handbook of Research Methods and Statistics for the Social and Behavioral Sciences: Building a Program of Research, A. L. Nichols and J. Edlund, Eds. Cambridge, U.K.: Cambridge University Press, 2023, pp. 420–440, doi: 10.1017/9781009010054.021.

[16] J. W. Creswell, Educational Research: Planning, Conducting, and Evaluating Quantitative and Qualitative Research, 4th ed. Boston, MA, USA: Pearson, 2012.

[17] S. Abdullayeva, “Humanistic Approaches in Language Teaching,” Scientific Bulletin, vol. 2, no. 50, pp. 60–63, 2020, doi: 10.54414/qnhg8693.

[18] S. Kozulin, A. Gindis, B. Ageyev, and V. Miller, Vygotsky’s Educational Theory in Cultural Context. Cambridge, U.K.: Cambridge University Press, 2003.

[19] M. East, Foundational Principles of Task-Based Language Teaching. New York, NY, USA: Routledge, 2021, doi: 10.4324/9781003039709.

[20] M. Lestari, “English Teachers’ Challenges in Teaching English: A Case Study at SMA Karya Ibu Palembang,” English Education: Jurnal Tadris Bahasa Inggris, vol. 14, no. 1, pp. 62–89, Jun. 2021, doi: 10.24042/ee-jtbi.v14i1.7668.

[21] N. Ali and M. Ali, “Difficulties with English-Language Content Acquisition for Undergraduates,” Journal of Education Finance Review, vol. 2, no. 1, pp. 1–12, 2023, doi: 10.62843/jefr/2023.5970106.

[22] V. F. Agrifina, V. Vrisilia, L. N. Agustina, S. upriyadi, and A. Izzatika, “Pentingnya Motivasi Belajar dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa di Sekolah Dasar,” Pedagogika: Jurnal Pedagogika dan Dinamika Pendidikan, vol. 12, no. 2, pp. 414–431, 2024, doi: 10.30598/pedagogikavol12issue2page414-431.

[23] L. Bardach and K. Murayama, “The Role of Rewards in Motivation—Beyond Dichotomies,” Learning and Instruction, vol. 96, p. 102056, 2025, doi: 10.1016/j.learninstruc.2024.102056.

[24] O. Kit et al., “Exploring the Impact of Language Exposure on Students’ English Comprehension,” vol. 1, no. 7, pp. 85–91, 2024, doi: 10.5281/zenodo.12614542.

[25] M. Y. Matatula and P. Tupalessy, “Exploring Learning Desire: Students’ Intrinsic Motivation in English Language Mastery,” Huele: Journal of Applied Linguistics, Literature and Culture, vol. 4, no. 2, pp. 71–83, 2024, doi: 10.30598/huele.v4.i2.p71-83.

[26] P. C. Viswanath, “English Language Teaching: The Role of Audio Visual Aids in Teaching and Learning English Language,” International Journal of Scientific Research, vol. 5, no. 4, pp. 78–79, 2016.

[27] D. Regina and W. C. Rajasekaran, “A Study on Understanding the Effectiveness of Audiovisual Aids in Improving English Vocabulary in ESL Classrooms,” World Journal of English Language, vol. 13, no. 8, pp. 446–452, 2023, doi: 10.5430/wjel.v13n8p446.

[28] R. R. Purnomowulan, “Content Analysis of an English Textbook,” 2014. [Online]. Available: https://api.semanticscholar.org/CorpusID:59791798

[29] H. Khatimah, “Major Impact of Classroom Environment in Students’ Learning,” Journal of Education Review Provision, vol. 1, no. 1, pp. 12–17, 2021, doi: 10.55885/jerp.v1i1.42.

[30] M. Rostami-Moradlou, “Analyzing the Causes of Students’ Disinterest in Learning English and Effective Strategies for Improvement,” pp. 34–58, 2025.