Login
Section Education

Moral Values Implementation Through Nussa Rara Animated Series


Penerapan Nilai-Nilai Moral Melalui Serial Animasi Nussa Rara
Vol. 10 No. 1 (2025): June:

Adinda Try Hidayah (1), Nurdyansyah Nurdyansyah (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo [https://ror.org/017hvgd88], Indonesia

Abstract:

General Background: Character education has become a central concern in elementary education due to increasing moral degradation among students in school environments. Specific Background: At SDN Cemeng Bakalan 1 Sidoarjo, observations aligned with national child protection reports indicate declining social character reflected in impolite communication, conflicts, and low empathy among students. Knowledge Gap: Previous studies primarily examined the moral messages contained in the Nussa and Rara animated film, yet limited research has analyzed supporting and inhibiting factors in the real implementation of these values within school contexts. Aims: This study aims to analyze the moral values presented in selected Nussa and Rara episodes and to examine supporting and inhibiting factors in their implementation for developing children’s social character. Results: Using a qualitative descriptive approach with observation, interviews, and documentation analyzed through the Miles and Huberman model, findings reveal that episodes such as Jangan Kalah Sama Setan, Adab Menasihati, Maaf, and Tolong dan Terima Kasih convey values of empathy, tolerance, politeness, forgiveness, and cooperation. Positive behavioral changes were observed gradually among students, supported by engaging visuals, relatable storylines, and student enthusiasm, while limited parental involvement and unsupportive social environments emerged as barriers. Novelty: The study highlights implementation dynamics beyond content analysis by identifying contextual facilitators and constraints. Implications: Findings suggest that animated Islamic media can support social character formation when reinforced by parental guidance and positive school environments.


Keywords: Moral Values, Social Character, Animated Film, Character Education, Elementary Students


Key Findings Highlights:




  1. Selected episodes present concrete models of empathy, forgiveness, and polite communication in daily interactions.




  2. Gradual reduction in student conflict and increased cooperative behavior were observed after repeated screenings.




  3. Parental involvement and social environment conditions determine sustainability of character internalization.



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Pendidikan merupakan salah satu aspek fundamental dalam membentuk karakter dan kepribadian anak sejak usia dini. Melalui pendidikan, peserta didik tidak hanya dibekali dengan pengetahuan akademik, tetapi juga ditanamkan nilainilai moral dan akhlak yang menjadi dasar bagi interaksi sosial di lingkungan masyarakat. [1] Pendidikan karakter ini sering kali dipandang selaras dengan pendidikan dalam Islam. Istilah karakter dapat diartikan sebagai moral atau akhlak. Dalam ajaran Islam, akhlak dibagi menjadi dua, yaitu akhlak terpuji (akhlakul karimah) dan akhlak tercela (akhlakul madzmumah). Seorang Muslim yang memiliki iman dan takwa tentu akan menunjukkan akhlakul karimah dalam kehidupannya. Proses pembentukan akhlak mulia pada seorang Muslim tidak terjadi secara instan, melainkan membutuhkan waktu dan harus dimulai sejak usia dini, baik melalui pendidikan dalam keluarga, lingkungan sekitar, maupun di sekolah. Karena itu, pembangunan karakter yang baik menjadi fokus utama di banyak negara. Dalam rangka menciptakan generasi yang berakhlakul karimah, pendidikan pun dirancang tidak hanya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga untuk membentuk individu yang berakhlak mulia.

Dalam konteks Indonesia, pendidikan karakter telah menjadi bagian penting dari sistem pendidikan nasional, sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menekankan bahwa tujuan pendidikan adalah mencetak manusia seutuhnya yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, serta bertanggung jawab sebagai warga negara. Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya kecenderungan menurunnya moralitas di kalangan anak-anak maupun remaja dalam beberapa dekade terakhir. Fenomena ini dapat dilihat dari berbagai perilaku negatif seperti kurangnya sopan santun, rendahnya rasa hormat kepada orang tua maupun guru, hingga meningkatnya kasus bullying di sekolah. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) turut memperkuat fenomena tersebut, di mana mereka menegaskan bahwa degradasi moral anak semakin mengkhawatirkan. Kondisi ini menuntut adanya solusi yang tepat agar generasi muda dapat kembali diarahkan pada nilai-nilai akhlak mulia. [1] Ketentuan ini ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, khususnya pada Pasal 3, yang menekankan bahwa pendidikan nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia seutuhnya yang dapat memajukan peradaban bangsa dan negara. [2], [3], [4]

Berdasarkan amanat undang-undang tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembentukan adab atau akhlak merupakan aspek penting dalam kehidupan sosial dan kebangsaan. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, kekhawatiran terhadap menurunnya moralitas di kalangan pelajar semakin meningkat. Saat ini, nilai akhlak siswa dapat diamati dari perilaku sehari-hari mereka, seperti sopan santun dan cara berkomunikasi dengan teman sebaya maupun orang yang lebih tua. Tidak jarang anak-anak usia sekolah menggunakan bahasa yang kasar dan tidak pantas dalam percakapan sehari-hari.

Hal ini didukung dengan data dari Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), yang mencatat bahwa sepanjang tahun 2011 hingga 2019, terdapat sebanyak 37.381 laporan kasus kekerasan yang dialami oleh anakanak. [5], kemudian pada awal tahun 2024, data pengaduannya mencapai 114 kasus yang mana 35 persen diantaranya terjadi pada lingkungan satuan pendidikan [6], [7] . Seperti halnya yang terjadi di SD Negeri Cemengbakalan 1 Sidoarjo, kebanyakan siswa memiliki akhlak dan karakter yang masih rendah. Hal ini dibuktikan dengan cara mereka berbicara dengan teman ataupun orang yang lebih tua. Peserta didik sering mengucapkan perkataan yang tidak pantas untuk di dengar. Selain itu, peseta didik juga banyak yang mengacuhkan guru saat pembelajaran. Tidak jarang juga terjadi perkelahian atau adu mulut antar siswa. Ini menunjukkan bahwa krisis akhlak telah masuk ke dalam situasi yang memprihatinkan. Oleh karena itu, penting untuk mengawasi upaya untuk menangani pembentukan karakter melalui penanaman nilai-nilai akhlak. Teknologi dan media sosial dianggap sebagai aspek yang paling memengaruhi penurunan moral siswa. Jika tidak dibarengi dengan pengawasan yang baik, akses mudah ke internet dan media sosial dapat berdampak negatif. Peserta didik sering meniru konten yang tidak mendidik dan contoh perilaku negatif.

Berdasarkan analisis dari KPAI dan juga hasil observasi di lapangan menunjukkan kesesuaian yang mendukung pernyataan bahwa nilai-nilai akhlak yang ada di SD Negeri Cemengbakalan 1 Sidoarjo belum efektif. Hal ini terlihat dari kurangnya adab siswa selama di lingkungan sekolah, baik terhadap teman, guru, maupun dirinya sendiri. Maka para pihak yang terlibat terutama guru harus bisa menerapkan solusi yang cukup efektif pula, misalnya guru memberikan evaluasi langsung terhadap siswa dan selalu berinovasi dalam pembelajaran. Menjadikan teknologi sebagai batu loncatan untuk pembelajaran adalah salah satunya. Banyak sekali konten-konten berpendidikan yang tersebar luas dan dapat diakses secara gratis oleh setiap pihak. Seri animasi "Upin & Ipin" Menyajikan cerita yang mengandung nilai-nilai seperti kebersamaan, hormat kepada orang tua, dan kejujuran. [8] "Nussa dan Rara" terfokus pada pengajaran nilai-nilai Islami sehari-hari seperti sholat, puasa, dan berbuat baik kepada sesama. [9], [10] "Riko The Series" mengajarkan nilai-nilai akhlak dan budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari melalui metode yang menarik dan mudah dipahami oleh anak-anak.

[11] Serta “The Adventure of Omar & Hana” mengajarkan tentang Islam melalui lagu-lagu dan cerita-cerita pendek. Nilainilai utama yang disampaikan dalam seri ini berfokus pada penanaman nilai-nilai seperti cinta kasih, kebaikan, serta ketaatan kepada Allah. [12]

Fenomena degradasi moral di kalangan anak-anak menjadi perhatian serius bagi dunia pendidikan, terutama di Indonesia. Banyak anak-anak sebenarnya telah mengetahui nilai-nilai akhlak yang baik, seperti berkata sopan, menghormati orang tua, maupun membantu sesama. Akan tetapi, dalam praktik sehari-hari, mereka belum sepenuhnya mampu mengaplikasikan nilai-nilai tersebut secara konsisten. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan antara pengetahuan dan perilaku, sehingga diperlukan media atau sarana yang efektif dalam menanamkan dan menginternalisasikan nilai akhlak dalam diri anak-anak sejak dini. Film animasi anak menjadi salah satu alternatif solusi, karena media ini memiliki daya tarik yang tinggi, menyenangkan, dan mudah diterima oleh anak-anak.[13]

Beberapa penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa film animasi Nussa dan Rara mengandung pesan-pesan moral yang sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan karakter. Salah satu penelitian dengan judul “Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak Berbakti Kepada Orang Tua Dalam Film Animasi Nussa dan Rara” menemukan bahwa serial animasi ini sarat dengan nilai akhlak yang mengajarkan berbakti kepada orang tua. Contoh pesan yang disampaikan meliputi sikap meminta maaf dengan tulus, menghormati orang tua, dan mendengarkan nasihat ibu. Hal ini menunjukkan bahwa tayangan Nussa dan Rara tidak hanya bersifat hiburan, tetapi juga memberikan pendidikan moral yang aplikatif dalam kehidupan anak-anak sehari-hari. [14]

Penelitian lain dari Jumadi dengan judul “Analisis Pesan Komunikasi Islam Dalam Film Animasi Nussa dan Rara Pada Media Youtube” semakin menegaskan potensi besar film animasi ini dalam pembentukan karakter Islami. Hasil penelitian Jumadi menunjukkan bahwa episode tertentu, seperti episode 7 dan 26, memuat pesan tentang adab mendengar azan, tata cara berpakaian yang sesuai dengan syariat, serta etika ketika memasuki rumah. Bahkan, film ini juga menyisipkan nilai-nilai syariah, dakwah, dan aqidah yang sangat penting untuk membentuk dasar karakter Islami sejak usia dini. Artinya, film animasi ini berperan sebagai media dakwah modern yang membungkus pesan moral dengan cara yang menyenangkan dan sesuai dengan perkembangan anak. [15]

Selaras dengan itu, penelitian Rosyada dalam “Implementasi Pesan Akhlak Melalui Film Nussa dan Rara” juga menunjukkan bahwa film ini tidak hanya mengajarkan akhlak terhadap orang tua, tetapi juga meliputi akhlak secara lebih luas. Implementasi akhlak dalam film tersebut terbagi menjadi empat aspek: akhlak terhadap Allah, diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Misalnya, dalam aspek akhlak terhadap Allah, anak-anak diajarkan untuk percaya kepada kekuasaan Allah serta memohon ampunan kepada-Nya. Sementara itu, dalam aspek akhlak terhadap diri sendiri, mereka diajarkan untuk bersabar dan tidak bersikap sombong. Dalam konteks keluarga, nilai kasih sayang terhadap orang tua dan menjaga silaturahmi menjadi pesan utama. Sedangkan dalam aspek sosial, anak-anak diajak untuk saling tolongmenolong, berterima kasih, meminta maaf, serta bersedekah.

Hasil-hasil penelitian terdahulu ini memperlihatkan bahwa Nussa dan Rara telah berhasil menjadi media edukatif yang menyampaikan pesan akhlak dengan cara yang efektif dan menyenangkan. Akan tetapi, berdasarkan observasi lapangan serta analisis KPAI, penerapan nilai-nilai akhlak yang ditonton anak-anak belum sepenuhnya tercermin dalam perilaku sehari-hari mereka. Hal ini berarti bahwa sekadar menonton film animasi tidak cukup untuk menjamin terbentuknya perilaku mulia. Diperlukan adanya penguatan, pendampingan, serta lingkungan yang kondusif agar nilai-nilai moral tersebut benar-benar dapat diinternalisasi dalam diri anak. [16] Dibandingkan dengan film animasi lainnya, Nussa dan Rara memiliki keunggulan karena menyampaikan ajaran nilai-nilai Islam yang mencakup berbagai aspek kehidupan anak, serta berfungsi sebagai sarana hiburan sekaligus menjadi sarana edukasi pembentukan karakter anak.

Perbedaan riset berikut dengan penelitian sebelumnya terletak pada fokus kajian. Jika penelitian terdahulu lebih banyak menyoroti konten atau pesan moral yang terdapat dalam film, maka riset berikut berusaha menganalisis lebih dalam mengenai aspek penunjang dan penghambat dalam implementasi nilai akhlak dari film animasi Nussa dan Rara. Dengan demikian, riset berikut diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai sejauh mana media animasi dapat memengaruhi perilaku anak dalam kehidupan nyata, serta apa saja kendala yang perlu diatasi. Berdasarkan hal tersebut, riset berikut memiliki dua tujuan utama [17]. Pertama, menganalisis nilai akhlak yang terkandung dalam film animasi Nussa dan Rara sebagai upaya meningkatkan karakter peserta didik, khususnya karakter sosial yang berkembang melalui interaksi dengan orang lain. Kedua, menelaah aspek-aspek yang mendukung maupun menghambat implementasi nilai-nilai akhlak tersebut dalam keseharian anak. Dengan fokus pada dua tujuan ini, penelitian akan menghasilkan temuan yang bermanfaat tidak hanya secara teoritis, tetapi juga praktis bagi dunia pendidikan.

Film animasi sebagai media visual berbasis teknologi dinilai efektif dalam meningkatkan hasil belajar anak serta mendorong keterampilan berpikir kritis. Tayangan Nussa dan Rara memiliki keunggulan dibandingkan film animasi lain karena tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga memuat nilai-nilai Islami yang aplikatif. Dalam setiap episodenya, anak-anak disuguhi contoh nyata bagaimana menghadapi berbagai situasi kehidupan dengan sikap sabar, santun, dan berakhlak mulia. Oleh karena itu, film ini dapat dijadikan sebagai sarana pembelajaran kontekstual yang memadukan hiburan dengan pendidikan karakter.

Menurut Samani dan Hariyanto indikator yang dapat digunakan untuk mendiskripsikan karakter peduli sosial adalah sebagai berikut:

Gambar 1.1 Indikator Karakter Sosial

Pembentukan karakter kepedulian sosial pada siswa merupakan salah satu tujuan penting dalam pendidikan karakter di sekolah dasar. Kepedulian sosial tidak muncul begitu saja, tetapi harus dibentuk secara bertahap melalui pembiasaan, teladan, serta sinergi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Karakter sosial yang kuat akan mendorong anak-anak untuk memiliki rasa tanggung jawab, empati, serta mampu menempatkan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi. Oleh karena itu, diperlukan media yang mampu memberikan contoh konkret mengenai sikapsikap sosial yang baik, salah satunya adalah melalui film animasi Nussa dan Rara.

Menurut para ahli, ciri-ciri siswa yang memiliki kepedulian sosial dapat dilihat dari lima indikator utama. Pertama, siswa mampu menunjukkan rasa prihatin yang mendalam kepada orang yang mengalami musibah. Kedua, siswa tidak menunjukkan sikap kasar atau kejam terhadap orang lain, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Ketiga, siswa dapat merasakan apa yang orang lain rasakan (empati) serta mampu memberikan respon yang baik terhadap situasi tersebut. Keempat, siswa mampu mengorbankan kenyamanan dirinya demi kebahagiaan orang lain. Kelima, siswa menampilkan sikap peduli terhadap kepentingan umum daripada kepentingan pribadi [18] pembentukan kepedulian sosial anak. Melalui tayangan yang dikemas dengan cerita sederhana, bahasa yang mudah dipahami, serta visual animasi yang menarik, anakanak lebih mudah menyerap pesan-pesan moral yang terkandung di dalamnya. Selain itu, film animasi ini memberikan contoh perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari, sehingga anak-anak dapat meniru secara langsung apa yang mereka lihat. Dengan demikian, media ini dapat berfungsi sebagai “guru kedua” yang mendampingi anak dalam memahami nilai sosial dan akhlak.

Jika keterampilan sosial anak terasah dengan baik, maka mereka akan mampu memperlakukan orang lain secara bijak. Anak-anak akan lebih mudah mengendalikan emosi, menghargai perbedaan, serta menjaga hubungan harmonis dengan orang-orang di sekitarnya. Dalam konteks sekolah, siswa yang memiliki keterampilan sosial yang baik akan lebih mampu menjalin pertemanan yang sehat, bekerja sama dalam kelompok, serta menghindari perilaku diskriminatif atau perundungan. Melalui video animasi Nussa dan Rara, siswa dapat belajar bagaimana cara bersosialisasi dengan baik, terutama dengan warga sekolah, seperti teman sebaya, guru, maupun tenaga pendidik lainnya.

Metode

Jenis penelitian yang digunakan dalam studi ini termasuk dalam kategori penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk menggambarkan kondisi dan situasi nyata subjek penelitian sebagaimana adanya, berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan di lapangan. [19] Pendekatan yang diterapkan adalah pendekatan deskriptif, di mana menurut Bogdan dan Biklen dalam Sugiyono, metode ini berfokus pada pengumpulan data berbentuk narasi, seperti kata-kata atau gambar, dan tidak menitikberatkan pada data numerik. [20] , [21] Subjek dalam riset berikut adalah guru dan siswa kelas 3 di SDN Cemengbakalan 1 Sidoarjo.

Untuk memperoleh data yang dibutuhkan, riset berikut menggunakan tiga teknik utama, yaitu: wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik wawancara digunakan untuk menggali pandangan, pengalaman, dan persepsi guru serta peserta didik secara mendalam. Selanjutnya, observasi dilakukan untuk mengamati perubahan perilaku peserta didik. Peneliti mengamati peserta didik dalam periode waktu tertentu setelah pengimplementasian video Nusa dan Rara. Sementara itu, dokumentasi merupakan teknik pengumpulan data di mana peneliti mengumpulkan dan menganalisis dokumen seperti laporan, artikel, surat, catatan, atau materi visual yang berkaitan dengan subjek penelitian. [22], [23],

[24]

Analisis data dalam riset berikut menggunakan model yang dikembangkan oleh Matthew B. Miles dan A. Michael Huberman. [24] Model ini terdiri dari tiga tahap utama, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. [25], [26] Tahap reduksi data dilakukan dengan menyaring, menyederhanakan, dan merangkum data dari catatan lapangan atau hasil wawancara. Penyajian data bertujuan untuk menyusun dan mengorganisasi informasi ke dalam bentuk yang mudah dipahami. Selanjutnya, pada tahap penarikan kesimpulan dan verifikasi, peneliti mengidentifikasi pola, tema, serta hubungan antar data untuk menemukan makna mendalam dari temuan yang diperoleh.

Hasil dan Pembahasan

Penerapan nilai akhlak terhadap film animasi Nusa dan Rara

Nilai-nilai karakter sosial yang terdapat dalam film animasi Nusa dan Rara merupakan Perencanaan yang dilakukan sebagai tahap awal. Tujuan dari analisis ini adalah untuk mengidentifikasi dan memahami nilai-nilai karakter sosial seperti tolong-menolong, empati, gotong royong, toleransi, dan kepedulian terhadap sesama yang ditampilkan dalam film. Penerapan nilai-nilai akhlak dalam film ini menjadi salah satu komponen penting yang memberikan kontribusi terhadap pendidikan moral anak. Film Nussa dan Rara tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan yang menarik, tetapi juga sarat akan pesan-pesan etika dan moral yang dapat membantu membentuk karakter positif pada anak-anak. Melalui kisah dua bersaudara, Nussa dan Rara, Film ini mengajarkan banyak nilai sosial yang baik untuk diteladani oleh anak-anak seusianya. Dalam beberapa episode, seperti Jangan Kalah Sama Setan, Adab Menasehati, Maaf Bagian 1 dan 2, serta Tolong dan Terima Kasih, terdapat berbagai karakter sosial yang dapat dianalisis dan dijadikan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.

Pada episode Jangan Kalah Sama Setan, ditampilkan beberapa karakter sosial penting, seperti sikap saling mengingatkan dalam kebaikan. Rara memberikan nasihat agar tidak mudah tergoda untuk marah, sementara Nussa menunjukkan kemauan untuk memaafkan ketika barangnya tidak sengaja dirusak. Selain itu, dalam episode ini juga ditunjukkan sikap menghormati melalui tutur kata dan perilaku sopan kepada ibu mereka saat memberi nasihat. Dari perspektif pendidikan karakter, nilai-nilai tersebut selaras dengan konsep Character Education Framework yang disusun oleh Kemendikbudristek dalam program Profil Pelajar Pancasila, yang menekankan pentingnya karakter berakhlak mulia, bergotong-royong, dan berkebhinekaan global. [27] Karakter sopan santun dan pemaaf seperti yang ditampilkan Nussa dan Rara termasuk dalam dimensi “berakhlak mulia”, khususnya dalam indikator memperlakukan orang lain dengan sopan. Selain itu, nilai menghormati orang tua juga sejalan dengan pandangan Sayyid Muhammad, menerima nasihat yang diberikan oleh orang tua merupakan hal yang harus dilakukan demi kebaikan bersama. [28] Dalam konteks ini, indikator pendidikan karakter sosial seperti memperlakukan orang lain dengan sopan sangat jelas ditampilkan. Episode ini juga menampilkan keterlibatan tokoh dalam kegiatan bersama keluarga, yang sesuai dengan indikator keterlibatan dalam kegiatan masyarakat. Menurut Permatasari & Nugroho, keterlibatan anak dalam kegiatan rumah atau komunitas adalah bagian dari pembelajaran sosial yang memperkuat rasa tanggung jawab dan kerja sama. [29]

Pada episode Adab Menasihati, terdapat indikator karakter sosial yang kedua, yaitu bersikap santun. Inti dari perilaku sopan santun terletak pada kebersihan hati dan niat yang tulus. [30] Sikap ini tercermin dari kemampuan seseorang untuk menghindari tindakan atau ucapan yang dianggap tidak pantas di mata masyarakat, seperti melakukan hal-hal yang tidak berguna, bersenda gurau secara berlebihan, tertawa terbahak-bahak, menggunakan bahasa yang kasar, maupun melakukan perbuatan yang kurang baik. [31] Hal ini bisa siswa pelajari pada episode ini. Salah satunya dengan mengajarkan pentingnya memberikan nasihat dengan cara yang baik. Rara belajar bahwa menasihati harus dilakukan dengan lemah lembut, tidak menggurui, dan pada waktu yang tepat agar diterima dengan baik. Ini sangat penting untuk dijadikan sebagai indikator agar anak tidak suka menyakiti perasaan orang lain meskipun niatnya baik. Sikap ini menunjukkan kepedulian terhadap sesama serta tanggung jawab sosial dalam menjaga hubungan baik. Dengan begitu, hubungan sosial yang harmonis dapat terjalin. Berdasarkan teori yang dikembangkan oleh Berkowitz & Bier, karakter sosial seperti kesantunan dan empati tidak bisa hanya diajarkan melalui ceramah atau aturan, melainkan melalui pembiasaan yang konsisten, teladan nyata, dan penguatan melalui media yang relevan. Dalam hal ini, animasi seperti Nussa dan Rara berperan penting sebagai media edukatif yang efektif karena menyampaikan nilai-nilai tersebut secara kontekstual dan dekat dengan kehidupan anak-anak. [32] Kenyataannya di lingkungan masyarakat saat ini, fenomena komunikasi yang kasar atau tidak empatik, terutama di kalangan anak-anak dan remaja, semakin sering terlihat, baik dalam interaksi langsung maupun melalui media sosial. Budaya digital yang bebas dan minim pendampingan membuat banyak anak terbiasa meniru pola komunikasi yang tidak santun, seperti berkata kasar, menyindir, atau menyampaikan kritik tanpa empati. Hal ini diperkuat oleh temuan dalam penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa paparan konten digital yang tidak terfilter dapat menurunkan kemampuan anak dalam berkomunikasi secara santun dan empatik. [33]

Dalam Maaf Bagian 1 dan 2, ditanamkan nilai keberanian untuk mengakui kesalahan, empati, dan keikhlasan dalam memaafkan. Rara awalnya marah karena prakaryanya dihancurkan oleh Iboy dan berniat membalas dendam. Namun, setelah dinasihati oleh Abba, ia menyadari bahwa meminta maaf adalah sikap terpuji. Selain itu, ia belajar bahwa memahami perasaan orang lain dan memberikan maaf lebih baik daripada menyimpan dendam. Terdapat 4 indikator karakter sosial yang anak bisa pelajari di episode ini. Pertama, toleransi terhadap perbedaan ditunjukkan saat Rara menerima masukan dari Abba meskipun berbeda dengan keinginannya. Ini mencerminkan kemampuan anak untuk membuka diri terhadap sudut pandang lain, yang menurut Gunawan & Prasetya merupakan dasar penting bagi kemampuan berpikir kritis dan kolaboratif sejak usia dini. [34] Kedua, tidak suka menyakiti orang lain tampak dalam keputusan Rara untuk tidak membalas dendam. Ini menunjukkan bahwa anak mulai mampu mengelola emosinya secara sehat. Menurut teori Self-Regulation dari Zimmerman (2021), kemampuan menahan diri merupakan bagian dari kecerdasan emosi dan sosial yang harus dikembangkan sejak anak-anak, terutama di era media digital yang cenderung memicu reaksi impulsif. [35] Ketiga, menyayangi sesama manusia tergambar saat Rara, setelah memahami posisi Iboy, justru menunjukkan kasih sayang dan keikhlasan. Ini sesuai dengan akhlak mulia dalam Profil Pelajar Pancasila, di mana anak diharapkan mampu menunjukkan rasa kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama sebagai bagian dari tanggung jawab sosial. [27] Keempat, cinta damai diwujudkan saat Nussa memaafkan Rara dan Rara mengurungkan niat untuk membalas dendam. Hal ini mencerminkan pentingnya sikap bijak dalam menyelesaikan konflik. Studi dari Fitriyani & Wibowo menunjukkan bahwa anakanak yang terbiasa menyelesaikan konflik dengan pendekatan damai cenderung lebih mampu menjaga hubungan sosial yang sehat dan terbuka dalam kerja sama. [36] Dalam konteks sosial saat ini, sering kali kita menemukan anak-anak kesulitan mengelola emosi ketika menghadapi konflik, baik di rumah maupun di sekolah. Maraknya kasus bullying, retaknya pertemanan karena kesalahpahaman, hingga ketidakmampuan meminta maaf atau memaafkan adalah cerminan lemahnya pendidikan karakter yang menyentuh aspek emosional. Oleh karena itu, tayangan seperti Nussa dan Rara memiliki peran strategis dalam menyampaikan nilai-nilai tersebut melalui media yang sesuai dengan perkembangan psikososial anak.

Sementara itu, episode Tolong dan Terima Kasih menekankan pentingnya penggunaan kata-kata sopan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika Nussa meminta bantuan Rara tanpa mengucapkan "tolong" dan lupa mengucapkan "terima kasih", Rara merasa kesal dan tidak dihargai. Umma kemudian menasihati Nussa tentang pentingnya dua kata tersebut dalam membangun hubungan sosial yang baik. Episode ini mengajarkan bahwa penggunaan katakata yang sopan dapat membuat orang lain merasa dihargai dan memperkuat hubungan sosial. Penelitian lain juga menyatakan bahwa terdapat kepedulian sosial, yaitu kemauan untuk bertindak membantu sesama yang implikasinya pada kehidupan sosial dimana anak lebih mudah bersosialisasi dan lebih dihormati. [37] Dalam konteks pendidikan karakter sosial, penggunaan kata “tolong” dan “terima kasih” termasuk ke dalam indikator memperlakukan orang lain dengan sopan dan menghargai kontribusi mereka. Menurut Lickona & Davidson, perilaku sopan santun adalah refleksi dari kesadaran moral yang mendorong seseorang untuk mengakui hak, martabat, dan perasaan orang lain dalam setiap interaksi sosial. [38] Selain itu, nilai kepedulian sosial juga tergambar melalui sikap saling membantu antar tokoh dalam cerita. Episode ini menampilkan kerja sama antara Nussa dan Rara yang tidak hanya menyelesaikan masalah bersama, tetapi juga saling memperhatikan kebutuhan satu sama lain. Hal ini mengarah pada indikator tidak mengambil keuntungan dari orang lain dan mampu bekerja sama. Dalam realitas sosial saat ini, terutama di lingkungan perkotaan dan digital, penggunaan bahasa sopan dalam interaksi sehari-hari semakin menurun. Anak-anak yang terbiasa mengakses media sosial atau platform digital kadang tidak terbiasa menyampaikan permintaan atau apresiasi dengan cara yang etis. Penelitian oleh Hasanah & Widodo menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak dibiasakan menggunakan kata-kata sopan sejak dini cenderung mengalami kesulitan dalam menjalin relasi sosial yang positif. [39]Mereka lebih mudah mengalami konflik dan merasa tidak dihargai oleh teman sebaya.Lebih jauh, penelitian oleh Putri & Ramadhan menyatakan bahwa anak yang terbiasa dengan etika komunikasi yang baik, termasuk mengucapkan “tolong” dan “terima kasih”, memiliki tingkat peer acceptance (penerimaan teman sebaya) yang lebih tinggi. Mereka juga menunjukkan kemampuan kerja sama dan kepedulian yang lebih besar dalam lingkungan belajar, baik di rumah maupun sekolah. [40]

Secara keseluruhan, episode sebelumnya efektif sebagai media pembelajaran. Setiap episode memberikan tontonan yang menarik dan tidak membebani siswa dengan informasi yang rumit. Animasi yang menampilkan terlalu banyak informasi dalam satu frame dan mengubah ilustrasi terlalu cepat akan menyulitkan siswa untuk memahami informasi tersebut.. [41] Film Nussa dan Rara telah dikemas dengan ruang lingkup yang familiar namun tidak monoton. Ketertarikan anak-anak dalam menonton film animasi ini terdorong dari visualisasi serta tingkah laku karakter utama yang kuat.

Selama proses penayangan film, dilakukan pencatatan adegan-adegan yang menunjukkan perilaku sosial positif. Setiap adegan yang diamati kemudian diklasifikasikan berdasarkan jenis nilai karakter sosial yang ditampilkan. Analisis juga dilakukan terhadap dialog antar tokoh, ekspresi wajah, serta situasi sosial dalam cerita. Selama penayangan Film anak-anak sangat penuh perhatian terhadap film Nussa dan Rara, hal ini diketahui dari respon anak-anak yang mengalir spontan seperti ikut tertawa, sedih, maupun kesal. Anak- anak juga mampu memahami materi yang ada pada setiap episode. Sebagai tindak lanjut dari analisis ini, pengawasan terhadap perilaku anak dilakukan beberapa hari setelahnya yang menunjukkan bahwa beberapa anak memang berubah menjadi lebih santun dengan berkurangnya aduan siswa kepada guru wali kelas meskipun beberapa siswa masih kembali seperti biasanya.

Analisis penunjang dan kendala dalam implementasi nilai-nilai akhlak Nusa dan Rara

Aspek penunjang

Film animasi Nusa dan Rara merupakan media edukasi yang dinilai efektif dalam menanamkan nilainilai moral kepada anak. Dengan cara yang menarik dan ramah anak, film ini menyajikan banyak pesan moral yang berpotensi membentuk karakter positif sejak dini. Namun, keberhasilan penyampaian nilai-nilai tersebut dipengaruhi oleh beberapa aspek, baik yang mendukung maupun yang menghambat penerapannya di lingkungan anak. Salah satu aspek keberhasilan film ini adalah alur ceritanya yang sederhana namun menarik, sehingga mudah dipahami oleh anak-anak. Selain itu, karakter Nusa dan Rara dirancang relevan dengan kehidupan seharihari anak, sehingga nilai-nilai moral yang disampaikan terasa lebih nyata dan nyata bagi penonton. Hal ini sejalan dengan teori Contextual Teaching and Learning yang dikemukakan oleh Johnson, yang menyatakan bahwa anakanak akan lebih mudah memahami dan menginternalisasi nilai moral jika disampaikan melalui konteks sosial yang familiar bagi mereka, seperti melalui interaksi dalam keluarga, lingkungan sekolah, maupun pergaulan sehari-hari. [42]Selain itu, penyampaian nilai-nilai akhlak didukung oleh dialog yang edukatif namun tetap ringan serta ilustrasi animasi yang menarik perhatian anak-anak. Hal ini memberikan daya tarik yang efektif bagi peserta didik dalam menyerap informasi dan memahami pesan moral yang disampaikan dalam film. Daya tarik film ini terlihat dari reaksi siswa kelas 3 yang menyatakan bahwa mereka sangat menyukainya. Beberapa anak menganggap film ini seru karena mengingatkan mereka pada tontonan masa kecil yang menyenangkan, sementara yang lain menyukai kemiripannya dengan film robot di televisi. Selain itu, ada pula anak-anak yang memiliki kebiasaan menonton film animasi sebelum tidur, sehingga mereka merasa nyaman dan senang saat menonton Nussa dan Rara. Kondisi ini sesuai dengan temuan Anjani & Prasetyo, yang menyatakan bahwa waktuwaktu santai seperti malam hari memberikan kondisi psikologis yang lebih terbuka bagi anak untuk menerima dan memproses pesan moral dari media yang mereka konsumsi. [43]

Hasil dari penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa media film animasi Nussa dan Rara memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan karakter pada anak. Selain memberikan kontribusi dalam pembentukan karakter, media audio-visual ini juga memiliki dampak positif terhadap berbagai aspek perkembangan anak lainnya. Beberapa aspek perkembangan yang turut dirangsang melalui media ini antara lain adalah perkembangan nilai-nilai agama dan moral, kemampuan sosial-emosional, serta perkembangan keterampilan berbahasa pada anak. [44] Hal ini diperkuat oleh studi Ramadhani et al., yang menyatakan bahwa animasi edukatif berbasis nilai Islam seperti Nussa dan Rara mampu mendorong pembentukan karakter secara holistik, terutama dalam aspek kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kerja sama sosial. [45]Lebih lanjut, dalam perspektif teori Pembelajaran Sosial oleh Bandura yang dikembangkan dalam penelitian Schunk, anak-anak belajar melalui observasi dan peniruan terhadap tokoh-tokoh yang mereka anggap sebagai figur ideal. Dalam konteks ini, tokoh Nussa dan Rara tampil sebagai model yang memiliki akhlak baik, sehingga anak-anak terdorong untuk menirunya. [46]

Kenyataan di lapangan juga menunjukkan bahwa anak-anak lebih cepat meniru perilaku yang mereka lihat secara berulang dalam media visual. Jika ditunjang oleh keterlibatan orang tua atau guru yang mendampingi dan memberi penjelasan setelah menonton, maka pemahaman nilai akan lebih kuat. Ini sesuai dengan pendekatan guided media literacy, yang menekankan bahwa dampak positif dari media hanya akan tercapai secara maksimal apabila ada proses pendampingan yang memungkinkan anak memahami, merefleksikan, dan menginternalisasi nilai yang disampaikan. [47]

Pemahaman anak terhadap video yang ditampilkan juga menjadi aspek penting dalam penerapan nilainilai sosial. Selama penayangan film, anak-anak sangat menikmati pembelajaran dan mampu mengingat berbagai sikap baik yang ditampilkan dalam setiap episode. Beberapa episode tertentu, seperti Jangan Kalah Sama Setan dan Maaf, bahkan berhasil menyentuh hati mereka. Keberhasilan penerapan nilai-nilai akhlak dalam film ini terlihat dari perubahan sikap peserta didik setelah menonton Nussa dan Rara. Menurut wali kelas 3, sebelum penayangan film ini hampir setiap hari terdapat laporan dari siswa mengenai tingkah laku temannya yang kurang baik, seperti mencela, mencemooh, berselisih, dan merendahkan satu sama lain. Anak-anak juga cenderung kurang memiliki sikap toleransi serta lebih mudah terlibat konflik kecil. Namun, setelah film ini ditayangkan beberapa kali, perubahan sosial mulai terlihat secara bertahap. Pada observasi pertama, jumlah laporan mulai menurun dan sekitar enam dari dua puluh lima siswa sudah menunjukkan sikap lebih sabar dalam menghadapi perbedaan serta mulai berusaha menahan diri untuk tidak membalas ejekan temannya. Pada observasi kedua, perubahan semakin signifikan dengan sepuluh siswa yang mulai terbiasa menggunakan kata-kata sopan seperti “tolong” dan “terima kasih” serta lebih peduli terhadap perasaan temannya. Selanjutnya, pada observasi ketiga, sebanyak dua belas siswa terlihat konsisten memperlihatkan perilaku positif, seperti membantu teman tanpa diminta, meminta maaf ketika bersalah, serta lebih jarang terlibat perselisihan di kelas. Perubahan ini sejalan dengan indikator karakter sosial yang dijelaskan oleh Samani dan Hariyanto, di mana anak mulai menunjukkan sikap toleransi, kerja sama, kesantunan, serta tanggung jawab sosial. Melalui tayangan Nussa dan Rara, anakanak belajar untuk lebih menghargai orang lain, bersikap santun dalam berkomunikasi, dan membangun hubungan sosial yang lebih harmonis, sehingga dapat disimpulkan bahwa film animasi ini berpengaruh signifikan dalam membantu pembentukan karakter sosial anak di sekolah dasar. Hal ini didukung dengan pernyataan dari wali murid yang menegaskan bahwa setelah beberapa hari menonton film ini, jumlah laporan mengenai perilaku anak yang kurang baik telah berkurang. Sikap toleransi mulai muncul, dan beberapa siswa yang sebelumnya sering berselisih kini lebih memilih untuk saling membantu daripada merendahkan.

Perubahan karakter mereka dibangun oleh pemahaman, pembiasaan, dan keteladanan yang didapatkan setelah menonton film animasi Nusa dan Rara.[48] Hal ini diperkuat oleh penelitian Ramadhani, Wulandari, dan Hidayat yang menyatakan bahwa tayangan animasi dengan muatan nilai religius dan sosial memiliki efek positif dalam mengembangkan karakter sosial anak, terutama jika dikombinasikan dengan diskusi atau penguatan dari guru atau orang tua. [49] Pemahaman siswa terhadap nilai sosial adalah salah satu cara awal bagi siswa untuk bisa menangkap pesan dari film animasi yang ditayangkan. Sehingga, siswa dapat mengidentifikasi nilai-nilai sosial seperti tolong-menolong, kejujuran, kesederhanaan, dan rasa hormat kepada orang lain serta mampu menjelaskan makna dan pentingnya sikap sosial yang mereka lihat dalam video. Perubahan ini juga terjadi karena siswa memiliki kemauan untuk menerapkan karakter sosial yang mereka pelajari dari film dalam kehidupan sehari-hari. Mereka terinspirasi oleh tokoh dalam film yang cerdik, saleh, dan berakhlak baik, sehingga muncul keinginan untuk meniru sifat-sifat positif tersebut.

Di sisi lain, keterbatasan kapasitas memori otak manusia turut memengaruhi efektivitas penggunaan media animasi. Setiap anak memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda, dan tidak semua siswa sekolah dasar mampu menangkap pesan yang disampaikan melalui film animasi secara langsung. Sebagian dari mereka memerlukan bimbingan tambahan, seperti pendampingan dan pertanyaan pemantik untuk membantu proses pemahaman. Aspek-aspek seperti tingkat kecerdasan (IQ), usia, dan jenjang kelas turut memengaruhi sejauh mana anak dapat memahami informasi yang disampaikan. [50] Kemampuan daya tampung otak manusia mempengaruhi efektivitas penggunaan animasi. Susanti, Rahmawati, dan Yusuf (2022) menambahkan bahwa anak-anak cenderung fokus pada elemen visual yang menarik, bukan pada konten moral, jika tidak ada intervensi dari pendidik. Oleh karena itu, bimbingan saat menonton sangat dibutuhkan untuk membantu anak menyerap nilai-nilai yang ditayangkan. [41] Susanti, Rahmawati, dan Yusuf menambahkan bahwa anak-anak cenderung fokus pada elemen visual yang menarik, bukan pada konten moral, jika tidak ada intervensi dari pendidik. Oleh karena itu, bimbingan saat menonton sangat dibutuhkan untuk membantu anak menyerap nilai-nilai yang ditayangkan. [51] Anak-anak yang masih berada pada tahap awal pembelajaran dan belum memiliki pengetahuan dasar cenderung lebih terfokus pada aspek visual yang menarik secara perseptual dalam sebuah film animasi, dibandingkan dengan memperhatikan pesan atau nilai yang ingin disampaikan melalui tayangan tersebut. Hasilnya, anak-anak hanya akan menonton film dan mengabaikan pesan yang disampaikan. Kenyataannya di lapangan, seperti diungkap dalam studi Ismail, anak-anak yang tidak mendapatkan pendampingan saat menonton cenderung hanya melihat aspek hiburan, bukan nilai-nilainya. Ini menunjukkan pentingnya peran guru dan orang tua sebagai fasilitator literasi media. [52]

Aspek penghambat

Nilai-nilai akhlak yang dimiliki anak tidak hanya diperoleh melalui media pembelajaran, tetapi juga bersumber dari berbagai figur penting dalam kehidupan mereka, seperti guru ngaji, pendidik di sekolah, serta orang tua. [53] Hal ini menunjukkan tingkat pemahaman akan karakter sosial juga perlu dimiliki oleh orang tua siswa karena hal ini menjadi aspek pendorong atau juga penghambat anak dalam mengembangkan karakter sosialnya. Guru wali kelas 3 menyampaikan bahwa dukungan orang tua sangat penting dalam pendidikan karakter sosial, karena sebagian besar waktu anak dihabiskan bersama keluarga di rumah. Namun, kurangnya pemahaman orang tua tentang pentingnya pendidikan karakter dan pengaruhnya terhadap anak dapat menjadi kendala dalam membentuk sikap sosial yang baik. Tidak semua orang tua memahami bagaimana pendidikan karakter bagi anak dan pengaruhnya tentunya. Sesuai dengan temuan Fitriani & Widodo, keterlibatan orang tua yang minim dalam kegiatan pendidikan di rumah berbanding lurus dengan rendahnya penguatan nilai karakter sosial pada anak. Anak-anak lebih banyak dipengaruhi oleh konten digital tanpa pendampingan. [54] Pandangan ini sejajar dengan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa salah satu aspek utama yang menjadi pendorong dan juga penghambat anak-anak dalam tumbuh kembang karakter yakni aspek keluarga yang juga menjadi central education. [55] Penelitian lain mengungkapkan bahwa keluarga dapat menjadi salah satu aspek penghambat dalam pencapaian tujuan pendidikan. Salah satu contohnya adalah rendahnya keterlibatan atau perhatian orang tua terhadap anak, yang mengakibatkan adanya ketidaksesuaian antara perilaku dan kebiasaan siswa di lingkungan keluarga dengan yang diajarkan dan dibiasakan di madrasah. [56] Studi lapangan oleh Kemendikbudristek juga menemukan bahwa banyak orang tua di daerah suburban masih menganggap pendidikan karakter hanya tanggung jawab sekolah, padahal dukungan rumah sangat penting. [57]

Selain peran keluarga, lingkungan sosial juga memiliki pengaruh signifikan dalam penanaman pendidikan karakter pada peserta didik. Jika anak tumbuh dalam lingkungan yang sarat dengan perilaku negatif, maka besar kemungkinan hal tersebut akan memengaruhi tindakan dan kebiasaannya. Sebaliknya, apabila anak berada dalam lingkungan yang positif dan menjunjung nilai-nilai kebaikan, maka hal itu akan turut membentuk perilaku anak ke arah yang lebih baik. [58] Sekolah, sebagai lingkungan kedua setelah rumah, menjadi tempat di mana siswa belajar berinteraksi dengan teman sebaya dan guru. Lingkungan sekolah yang positif, dengan dukungan dari guru yang memberikan contoh baik serta adanya kegiatan ekstrakurikuler yang mendorong kerja sama, dapat membantu siswa dalam mengembangkan karakter sosial yang baik. Wali kelas 3 juga menekankan bahwa Lingkungan juga mempengaruhi penerapan karakter sosial. Sebab bagaimana tercapainya pendidikan sosial itu pada anak salah satunya pasti menirukan apa yang dilihat, didengar oleh anak dimanapun dan kapanpun.

Hal ini sejalan dengan teori ekologi Bronfenbrenner yang diperkuat oleh riset Arifah & Lestari, bahwa lingkungan mikro seperti keluarga, sekolah, dan teman sebaya memiliki pengaruh langsung terhadap pembentukan nilai dan perilaku sosial anak. [59] Namun, di lapangan ditemukan bahwa belum semua guru di sekolah mampu memberikan keteladanan karakter yang konsisten. Misalnya, masih ada guru yang kurang menunjukkan sikap sabar atau menghargai pendapat anak, sehingga pesan moral yang diajarkan melalui media seperti film animasi menjadi kurang efektif jika tidak diiringi dengan contoh nyata di lingkungan sekolah. Contoh lain, jika teman sebayanya, teman sepermainannya bersama orang tuanya di rumah memberikan contoh tontonan yang positif, pasti si anak ini pun suka juga dengan apa yang ditontonkan oleh teman maupun orang tuanya. Apabila peserta didik kelas III SD Negeri Cemengbakalan 1 Sidoarjo berada dalam lingkungan sosial yang kurang kondusif, maka mereka berpotensi terdampak oleh pengaruh negatif dari lingkungan tersebut. Salah satu bentuk nyata dari pengaruh lingkungan adalah ketika anak memiliki teman sebaya yang cenderung nakal dan kurang memiliki semangat belajar, yang kemudian memengaruhi anak menjadi kurang bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya. Temuan ini sejalan dengan hasil observasi di lapangan, yang menunjukkan bahwa siswa yang tinggal di wilayah padat penduduk dengan minimnya pengawasan orang dewasa cenderung menunjukkan perilaku menyimpang, seperti berbicara kasar, bermain tanpa batasan aturan, dan kurang memiliki empati terhadap teman sebaya. Di lapangan, banyak ditemukan bahwa anak-anak yang berasal dari lingkungan sosial yang minim kontrol dan pengawasan cenderung mengalami kesulitan dalam membangun empati, kedisiplinan, dan kemampuan menyelesaikan konflik sosial secara sehat. [60]

Simpulan

Film animasi Nussa dan Rara terbukti menjadi media edukatif yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai akhlak kepada anak-anak. Melalui alur cerita yang sederhana dan dekat dengan realitas kehidupan sehari-hari, film ini mampu menyampaikan pesan-pesan moral yang berkontribusi pada pembentukan karakter sosial yang positif. Hasil riset berikut menunjukkan bahwa: (1) Episode-episode seperti Jangan Kalah Sama Setan, Adab Menasehati, Maaf bagian 1 dan 2, serta Tolong dan Terima Kasih, mengandung nilai-nilai penting seperti saling menasihati dalam kebaikan, menghormati sesama, meminta maaf dengan tulus, serta bertutur kata dengan sopan dalam interaksi sosial; (2) Keberhasilan implementasi nilai-nilai tersebut didukung oleh alur cerita yang komunikatif, tampilan animasi yang menarik, serta antusiasme dan pemahaman siswa yang tergambar dalam perubahan sikap mereka menjadi lebih toleran, empatik, dan saling membantu. Namun, penerapan nilai-nilai ini juga menghadapi kendala, seperti kurangnya dukungan dari orang tua yang belum sepenuhnya memahami pentingnya pendidikan karakter serta pengaruh lingkungan sosial yang kurang mendukung. Oleh karena itu, efektivitas film ini dalam membentuk karakter positif anak-anak sangat bergantung pada sinergi antara tontonan yang mendidik, peran aktif orang tua, serta lingkungan sekolah yang positif.

References

[1] N. Nurdyansyah, “Peningkatan Moral Berbasis Islamic Math Character,” Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Sidoarjo, Indonesia, 2018.

[2] N. Nurdyansyah and T. Fitriyani, “Pengaruh Strategi Pembelajaran Aktif Terhadap Hasil Belajar Pada Madrasah Ibtidaiyah,” Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Sidoarjo, Indonesia, 2018.

[3] Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta, Indonesia, 2003.

[4] A. Firmansyah, “Konsep Pendidikan Islam Menurut Mahmud Yunus dan Relevansinya dengan Sistem Pendidikan Nasional,” Doctoral dissertation, UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Serang, Indonesia, 2022.

[5] R. Analiya T. R. and Arifin, “Perlindungan Hukum Bagi Anak dalam Kasus Bullying Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak di Indonesia,” Journal of Gender and Social Inclusion in Muslim Societies, pp. 35–54, 2022.

[6] Pusat Data dan Informasi KPAI, “Kasus Kekerasan Terhadap Anak Pada Satuan Pendidikan Terus Terjadi,” Jakarta, Indonesia, 2024.

[7] U. Hartono, “Kekerasan dan Perlindungan Anak,” Media Informasi Penelitian Kesejahteraan Sosial, vol. 43, no. 2, pp. 177–186, 2019.

[8] W. Nurkamilasari, “Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Film Kartun Upin dan Ipin pada Episode Tema Ramadhan Karya Moh Nizam Bin Abd Razak,” Doctoral dissertation, 2019.

[9] Z. Ilmiyah, “Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Religius dalam Serial Animasi Nussa dan Rara serta Relevansinya dengan Pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Ibtidaiyah,” Doctoral dissertation, IAIN Ponorogo, Ponorogo, Indonesia, 2021.

[10] I. A. Pratama, “Nilai-Nilai Pendidikan Agama Islam dalam Serial Animasi Nussa dan Rara serta Relevansinya dengan Materi Akidah Akhlak Kelas VII Madrasah Tsanawiyah,” Doctoral dissertation, IAIN Ponorogo, Ponorogo, Indonesia, 2023.

[11] N. Ikhwatika, “Nilai-Nilai Pendidikan Akhlak dalam Kitab Taisirul Kholaq serta Relevansinya dengan Nilai Akhlak dalam Animasi Riko The Series,” Doctoral dissertation, IAIN Ponorogo, Ponorogo, Indonesia, 2023.

[12] S. Nurani and F. Helmanto, “Representation of Islamic Children’s Song Themes in Omar Hana,” LADU: Journal of Languages and Education, vol. 2, no. 1, pp. 29–40, 2021.

[13] Y. Fatmawati, “Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Universitas Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto,” 2022.

[14] W. F. Jumadi, “Analisis Pesan Komunikasi Islam dalam Film Animasi Nussa dan Rara pada Media YouTube,” Doctoral dissertation, IAIN Ambon, Ambon, Indonesia.

[15] U. Rosyada, “Implementasi Pesan Akhlak Melalui Film Nussa dan Rara,” 2021.

[16] R. Astuti and N. Maslikhatun, “Animated Video as a Media for Learning Science in Elementary School,” vol. 1779, 2021.

[17] N. Fitri and R. Astuti, “The Role of Peers on Learning Motivation of Elementary School Students,” 2023.

[18] B. E. Cahyono and Jatmiko, “Analisis Nilai Karakter Peduli Sosial pada Perkumpulan Kelompok Siswa SDN 01 Bono Tulungagung,” Jurnal Pendidikan Tambusai, 2023.

[19] R. Astuti and Harmiyanti, “Dampak Penggunaan Gadget Terhadap Hasil Belajar Akidah Akhlak Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, vol. 1, 2024.

[20] Sugiyono, Metode Penelitian Kualitatif. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2020.

[21] S. Syahrizal et al., “Jenis-Jenis Penelitian dalam Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif,” QOSIM: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora, vol. 1, no. 1, pp. 13–23, 2023.

[22] S. D. Pahleviannur et al., Metodologi Penelitian Kualitatif. Pradina Pustaka, 2022.

[23] M. Maulida, “Teknik Pengumpulan Data dalam Metodologi Penelitian,” Darussalam, vol. 21, no. 2.

[24] S. Sarosa, Analisis Data Penelitian Kualitatif. 2021.

[25] N. Safarudin et al., “Penelitian Kualitatif,” Innovative: Journal of Social Science Research, vol. 3, no. 2, pp. 9680–9694, 2023.

[26] M. M. Ahmad and M. Muslimah, “Memahami Teknik Pengolahan dan Analisis Data Kualitatif,” in Proceedings of Palangka Raya International and National Conference on Islamic Studies (PINCIS), vol. 1, no. 1, 2021.

[27] Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Panduan Implementasi Profil Pelajar Pancasila. Jakarta, Indonesia: Kemendikbudristek.

[28] H. F. Maisaroh, “Analisis Nilai-Nilai Pendidikan Moral dan Agama Anak Usia Dini dalam Kitab Kuning,” Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, vol. 4, no. 1, pp. 29–39, 2024.

[29] Permatasari et al., “Keterlibatan Anak dalam Kegiatan Sosial Keluarga sebagai Sarana Pendidikan Karakter,” Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 28, no. 3, pp. 211–220, 2022.

[30] D. Apriliastuti, “Peran Orang Tua dalam Menanamkan Sikap Sopan Santun Siswa Terhadap Guru di Kelas 4B MI Al-Ikhsan Medari Sleman,” Doctoral dissertation, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia, 2019.

[31] M. Mustari, Nilai Karakter Refleksi untuk Pendidikan Karakter. Yogyakarta, Indonesia: Laksbang Pressindo, 2011.

[32] M. W. Berkowitz et al., “Research-Based Character Education,” Journal of Character Education, vol. 16, no. 1, pp. 1–12, 2020.

[33] Putri et al., “Pengaruh Media Digital Terhadap Pola Komunikasi Anak Usia Sekolah Dasar,” Jurnal Komunikasi dan Pendidikan Karakter, vol. 4, no. 1, pp. 35–45, 2022.

[34] Y. Gunawan et al., “Strategi Menumbuhkan Toleransi dan Empati Siswa,” Jurnal Pendidikan Karakter, vol. 10, no. 1, pp. 35–47, 2020.

[35] B. J. Zimmerman, “The Role of Self-Regulated Learning in Educational Psychology,” Contemporary Educational Psychology, vol. 65, 2021.

[36] Fitriyani et al., “Mengembangkan Kecakapan Sosial Melalui Penyelesaian Konflik Damai pada Anak Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Anak, 2022.

[37] H. Ni’mah et al., “Analisis Nilai-Nilai Karakter pada Anak Usia Dini dalam Film Animasi Nussa dan Rara,” Jurnal Buah Hati, vol. 9, no. 2, pp. 109–117, 2022.

[38] T. Lickona et al., Smart and Good Schools: A New Paradigm for Character Education. Washington, DC, USA: CEP Press, 2020.

[39] Hasanah et al., “Pembiasaan Bahasa Sopan sebagai Pembentuk Interaksi Sosial Anak Usia Dini,” Jurnal Pendidikan Karakter Anak, vol. 8, no. 1, pp. 45–60, 2023.

[40] F. Putri et al., “Etika Komunikasi Verbal dan Dampaknya Terhadap Relasi Sosial Anak di Lingkungan Sekolah,” Jurnal Psikologi Perkembangan, vol. 5, no. 2, pp. 112–124, 2022.

[41] I. Wulansari, “Efektivitas Penggunaan Media Film Animasi untuk Menyampaikan Pesan Dakwah pada Anak (Analisis Film Animasi Nussa dan Rara),” Doctoral dissertation, IAIN Ponorogo, Ponorogo, Indonesia, 2021.

[42] E. B. Johnson, Contextual Teaching and Learning: What It Is and Why It Is Here to Stay, Revised ed. Thousand Oaks, CA, USA: Corwin Press, 2020.

[43] W. Anjani et al., “Pengaruh Media Animasi Terhadap Pemahaman Nilai Moral Anak Usia Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Karakter, vol. 13, no. 1, pp. 45–55, 2023.

[44] P. A. W. Ramadanti, “Pengaruh Film Animasi Nussa dan Rara dalam Membentuk Karakter Anak Usia Dini,” PAUD Lectura: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 6, no. 1, pp. 95–102, 2022.

[45] Ramadhani et al., “Efektivitas Film Animasi Islami Terhadap Pembentukan Karakter Religius dan Sosial Anak Usia 7–10 Tahun,” Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Anak, vol. 5, no. 2, pp. 67–78, 2023.

[46] D. H. Schunk, Learning Theories: An Educational Perspective. Pearson Education, 2020.

[47] M. Ismail, “Pendidikan Karakter Berbasis Literasi Media dalam Keluarga,” Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, vol. 6, no. 2, pp. 89–97, 2022.

[48] N. Noviyanti, “Penerapan Nilai-Nilai Akhlak pada Film Animasi Nussa dan Rara Terhadap Pembentukan Karakter Peserta Didik Kelas 3 SD Negeri 4 Kota Parepare,” Doctoral dissertation, IAIN Parepare, Parepare, Indonesia, 2022.

[49] Ramadhani et al., “Efektivitas Film Animasi Islami Terhadap Pembentukan Karakter Religius dan Sosial Anak Usia 7–10 Tahun,” Jurnal Psikologi Pendidikan dan Perkembangan Anak, vol. 5, no. 2, pp. 67–78, 2023.

[50] R. E. Mayer, Multimedia Learning, 3rd ed. Cambridge, UK: Cambridge University Press, 2021.

[51] Susanti et al., “Media Audiovisual sebagai Strategi Pembelajaran Nilai Akhlak pada Anak Usia Sekolah Dasar,” Jurnal Teknologi Pendidikan, vol. 24, no. 3, pp. 99–109, 2022.

[52] M. Ismail, “Pendidikan Karakter Berbasis Literasi Media dalam Keluarga,” Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, vol. 6, no. 2, pp. 89–97, 2022.

[53] D. Pulungan, “Implementasi Nilai-Nilai Akhlak pada Film Animasi Nussa dan Rara dalam Pembentukan Karakter Generasi Muda di Lingkungan RT 07/RW 01 Perawang Kecamatan Tualang Kabupaten Siak,” Doctoral dissertation, UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan, Padangsidimpuan, Indonesia, 2024.

[54] Fitriani et al., “Keterlibatan Orang Tua dalam Penguatan Karakter Anak di Era Digital,” Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, vol. 3, no. 1, pp. 28–37, 2021.

[55] I. Ahmad et al., “Menumbuhkan Karakter Positif Siswa Melalui Tayangan Inspiratif di SDN Inpres Nanga Ni’u Desa Karampi,” El-Muhbib: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Pendidikan Dasar, pp. 119–131, 2023.

[56] Suyudi et al., “Peran Guru Akidah Akhlak dalam Menanamkan Karakter Siswa,” QALAMUNA: Jurnal Pendidikan, Sosial, dan Agama, vol. 12, pp. 195–205, 2020.

[57] Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Laporan Survei Nasional Pendidikan Karakter Siswa Sekolah Dasar. Jakarta, Indonesia: Pusat Kurikulum dan Perbukuan, 2022.

[58] Intania et al., “Aspek Pendukung dan Penghambat Implementasi Profil Pelajar Pancasila di Kelas IV SD Negeri Pesantren,” Cetta: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 6, no. 3, pp. 629–646, 2023.

[59] Arifah et al., “Penerapan Teori Ekologi Bronfenbrenner dalam Konteks Pendidikan Karakter di SD,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, vol. 8, no. 2, pp. 76–83, 2023.

[60] D. Yulianto, “Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap Pembentukan Karakter Anak di Sekolah Dasar,” Jurnal Psikologi dan Pendidikan, vol. 4, no. 4, pp. 220–228, 2021.

[61] Republik Indonesia, Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta, Indonesia, 2003.