Login
Section Education

Communicative Language Teaching for Elementary Students Speaking Skill Development


Pengajaran Bahasa Komunikatif untuk Siswa Sekolah Dasar Pengembangan Keterampilan Berbicara
Vol. 10 No. 1 (2025): June:

febrianti masrum bidhiana (1), Ahmad Nurefendi Fradana (2)

(1) UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo [https://ror.org/017hvgd88], Indonesia

Abstract:

General Background: Speaking skill constitutes a central component of Indonesian language learning in elementary education as it supports students’ confidence, interaction, and meaningful communication. Specific Background: Classroom observations revealed that many students remained passive and hesitant to express ideas orally despite existing instructional strategies. Knowledge Gap: Prior studies mostly emphasized isolated techniques or regional language contexts, with limited examination of communicative approaches in Indonesian language classrooms at the elementary level. Aims: This study analyzes supporting and inhibiting factors in implementing Communicative Language Teaching and evaluates its role in developing students’ speaking abilities. Results: Using a descriptive qualitative design with observation, interviews, and documentation, findings show increased student participation, courage, fluency, and appropriate intonation. Teacher creativity, varied learning media, contextual materials, and positive feedback acted as key supports, while limited time, low confidence, and uneven participation emerged as barriers. Novelty: The study provides a contextual analysis of classroom-based communicative practices combined with identification of practical enablers and constraints. Implications: The findings recommend interactive tasks, group discussions, and contextual media integration to foster communicative competence and active engagement in elementary language instruction.


Keywords: Communicative Language Teaching, Speaking Skills, Elementary Education, Indonesian Language Learning, Classroom Interaction


Key Findings Highlights:




  1. Learners displayed greater oral participation and confidence during tasks




  2. Contextual materials and varied media supported active engagement




  3. Psychological barriers and time constraints limited equal involvement



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran pokok di sekolah dasar memiliki kedudukan penting dalam membentuk kemampuan berkomunikasi siswa. Pembelajaran bahasa Indonesia tidak hanya diarahkan pada penguasaan kaidah kebahasaan, tetapi juga menekankan pengembangan keterampilan berbahasa, meliputi menyimak, berbicara, membaca, dan menulis, dari keempat keterampilan tersebut, berbicara menempati posisi sentral karena berfungsi sebagai sarana utama dalam berinteraksi dan menyampaikan gagasan. Dengan penguasaan keterampilan berbicara yang baik, peserta didik dapat lebih percaya diri, mampu mengemukakan pendapat, serta terampil membangun komunikasi yang efektif di dalam maupun di luar kelas, maka dari itu keterampilan ini saling melengkapi dan mendukung kemampuan komunikasi yang sempurna[1].

Keterampilan berbicara dipandang sebagai salah satu aspek berbahasa yang bersifat produktif dan ekspresif. Keterampilan ini tidak hanya sekedar kemampuan menyampaikan informasi secara lisan, tapi juga menjadi pondasi dalam pengembangan intelektual, sosial, dan karakter peserta didik. Dengan keterampilan berbahasa yang baik siswa mampu berkomunikasi lebih percaya diri, memiliki empati serta dapat memahami dan menganalisis informasi melalui kegiatan mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis[2]. Oleh karena itu, pendidik perlu menciptakan lingkungan belajar yang mendukung praktik keterampilan berbahasa atau berbicara secara rutin agar kemampuan komunikasi peserta didik berkembang secara optimal. Keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang bersifat produktif dan ekspresif.

Keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang paling penting dalam komunikasi, maka dari itu keterampilan berbicara menempati posisi yang sentral karena menjadi kunci keberhasilan komunikasi di masyarakat. Tarigan (1981) mendefinisikan berbicara sebagai kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Lebih lanjut, Tarigan menekankan bahwa keterampilan berbicara berfungsi sebagai sarana untuk membangun hubungan sosial, mempengaruhi orang lain, dan menyampaikan informasi secara efektif. Definisi ini menegaskan bahwa berbicara tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi, tetapi juga sebagai media membangun interaksi sosial dan mengembangkan kepribadian peserta didik. Lebih lanjut, keterampilan berbicara menuntut penguasaan berbagai unsur, seperti ketepatan pengucapan, pilihan kata, struktur kalimat, kelancaran, intonasi, serta kesesuaian isi dengan konteks. Unsur-unsur tersebut menjadi indikator penting yang menunjukkan kualitas kemampuan berbicara seseorang, karena melalui penguasaan aspek tersebut siswa mampu menyampaikan ide secara jelas, runtut, dan komunikatif[3].

Meskipun keterampilan berbicara sangat penting, hasil pra- penelitian yang dilakukan oleh peneliti menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih pasif ketika diminta menyampaikan pendapat. Hanya beberapa siswa yang berani berbicara sementara sebagian besar siswa lainnya cenderung diam. Guru sebenarnya telah mencoba diskusi kelompok dan penggunaan media, tetapi hasilnya belum optimal. Hal ini menunjukkan bahwa siswa membutuhkan pembelajaran yang lebih interaktif agar mereka memiliki keberanian, kelancaran, serta kejelasan dalam berbicara.

Pada kenyataannya, banyak siswa sekolah dasar masih kesulitan mengungkapkan pendapat secara lisan akibat kurangnya keberanian, rendahnya motivasi, dan terbatasnya metode pembelajaran yang mendorong partisipasi aktif Meskipun berbagai strategi telah digunakan, seperti diskusi kelompok atau pemanfaatan media sederhana. Untuk itu diperlukan pendekatan yang dapat meningkatkan keberanian melatih siswa berbicara dalam situasi nyata, serta menekankan pentingnya komunikasi bermakna[4]. Kondisi ini menuntut adanya pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif agar keberanian, kelancaran, dan kejelasan berbicara siswa dapat berkembang secara optimal yaitu dengan melalui kegiatan seperti dialog, drama, dan kunjungan lapangan, siswa diberi kesempatan untuk berlatih berbicara dalam konteks interaktif sehingga kepercayaan diri dan pengalaman belajar mereka semakin berkembang. Dengan dukungan dari guru dan penyediaan lebih banyak kesempatan berlatih baik di dalam maupun di luar kelas keterampilan berbicara siswa dapat meningkat secara signifikan[5].

Salah satu strategi yang relevan untuk menjawab kebutuhan tersebut adalah penerapan pendekatan komunikatif atau Communicative Language Teacing (CLT). Richards & Rodgers menegaskan bahwa pembelajaran bahasa tidak hanya diarahkan pada penguasaan struktur, tetapi pada kemampuan menggunakan bahasa secara bermakna dalam situasi nyata. Prinsip-prinsip CLT tersebut kemudian dioperasionalkan dalam penelitian ini ke dalam sepuluh indikator utama, yaitu: (1) penggunaan bahasa dalam konteks nyata, (2) interaksi yang bersifat dua arah antara guru dan siswa maupun antarsiswa, (3) adanya kesempatan berbicara yang merata, (4) fokus pada makna pesan yang disampaikan, (5) kegiatan komunikatif berbasis tugas (task-based activities), (6) peran guru sebagai fasilitator, (7) pemanfaatan media autentik, (8) partisipasi aktif semua siswa, (9) variasi kegiatan komunikatif berbasis tugas untuk memperkuat keterampilan berbahasa, dan (10) penilaian yang bersifat komunikatif. Kesepuluh indikator ini merepresentasikan prinsip dasar CLT yang menekankan keterlibatan siswa secara aktif, penggunaan bahasa dalam konteks bermakna, serta pembelajaran yang berorientasi pada komunikasi nyata[6].

Pendekatan ini memfokuskan pada kemampuan siswa dalam menggunakan bahasa secara efektif dalam situasi yang nyata. Tujuan utama dari CLT bukan hanya sekedar memahami aspek struktur bahasa tetapi lebih pada kemampuan berkomunikasi dengan lancar dan bermakna. Dalam pelaksanaannya guru bertindak sebagai fasiliator yang menciptakan suasana belajar yang interaktif, sementara itu siswa secara aktif mengikuti di berbagai kegiatan berbicara. Selain itu, pendekatan ini juga bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, serta meningkatkan motivasi belajar siswa, dengan demikian maka penerapan CLT diyakini mampu mendorong Siswa lebih percaya diri dan terampil dalam berbicara.

Pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia menekankan pada penguasaan keterampilan berbahasa daripada sekadar memahami struktur bahasa. Pendekatan ini bertujuan untuk membuat kompetensi komunikatif sebagai tujuan utama dalam pembelajaran bahasa dan sebagai sarana komunikasi dalam interaksi antar manusia, baik secara lisan maupun tulisan. Sehingga pendekatan ini berlandaskan pada pemahaman bahwa kemampuan berbahasa untuk berkomunikasi adalah tujuan utama dalam pembelajaran bahasa [7]. Dengan menerapkan pendekatan komunikatif, diharapkan siswa tidak hanya mampu berbicara dengan baik tetapi juga dapat menggunakan bahasa secara efektif dalam berbagai konteks sosial.

Pendekatan dalam pembelajaran adalah cara pandang terhadap proses pembelajaran yang memudahkan pendidik dalam mengelola kegiatan belajar dan membantu peserta didik dalam memperoleh kemudahan dalam belajar. Pendekatan ini berfungsi sebagai sudut pandang yang memberikan inspirasi dan dukungan dalam pemilihan metode pembelajaran yang sesuai [8]. Dalam hal ini dapat melibatkan hakikat dasar dan cara berpikir yang dapat memandu bagaimana pembelajaran diatur dan bagaimana siswa dilibatkan. Pendekatan komunikatif adalah suatu cara pandang dalam pembelajaran yang berfokus pada pengembangan kemampuan komunikatif siswa. pendekatan pembelajaran yang menekankan pada kegiatan berbahasa yang bermakna bagi siswa. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kemampuan komunikatif siswa, baik dalam lingkungan formal maupun informal [9].

Hasil penelitian terdahulu berfokus pada penerapan strategi tebak kata oleh guru untuk meningkatkan keterampilan berbicara Bahasa Jawa Krama di kelas IV. Penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya menunjukkan bahwa strategi tersebut efektif untuk memotivasi siswa, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, serta mendorong agar siswa aktif berkomunikasi dan berlatih menggunakan Bahasa Jawa Krama dengan baik dan benar[10]. Komunikasi yang bersifat alami, termasuk interaksi yang spontan dan relevan, dapat diamati dalam konteks pembelajaran bahasa yang berfokus pada strategi yang diterapkan guru untuk berkomunikasi dengan peserta didik dan penggunaan media kontekstual terbukti dapat memperkaya pengalaman berbahasa siswa[11]. Temuan lain menunjukkan bahwa strategi berbasis praktik langsung juga mampu meningkatkan keterampilan berbicara siswa sekolah dasar[12].

Berdasarkan penelitian-penelitian tersebut terlihat bahwa strategi yang inovatif efektif dalam mendukung keterampilan berbicara dalam pembelajaran bahasa telah banyak diteliti, khususnya dengan fokus pada keterampilan berbicara dalam konteks bahasa daerah. Namun penelitian sebelumnya lebih banyak menekankan pada penerapan strategi tertentu seperti tebak kata, dan berfokus pada pembelajaran bahasa Jawa krama. Sementara itu masih terbatas penelitian yang secara khusus menelaah penerapan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar, terutama terkait bagaimana pendekatan ini mampu meningkatkan keterampilan berbicara siswa serta faktor-faktor pendukung dan penghambat yang muncul di kelas.

Oleh karena itu penelitian ini berfokus pada penerapan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dengan mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat serta pengaruh pendekatan komunikatif untuk meningkatkan ketrampilan berbicara terhadap hasil belajar peserta didik. Kemudian, adapun rumusan masalah yang ditemukan: Faktor apa saja yang dapat mendukung dan menghambat pelaksanaan pendekatan komunikatif di dalam kelas?, Apakah pendekatan komunikatif mampu meningkatkan keterampilan berbicara siswa SD?.

Dengan adanya rumusan masalah tersebut maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan faktor-faktor yang mendukung dan menghambat penerapan pendekatan komunikatif. Untuk menilai seberapa efektif pendekatan komunikatif dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa sekolah dasar. Sehingga dapat meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa yang merupakan salah satu aspek penting dalam komunikasi. Pendekatan komunikatif ini juga diharapkan dapat membantu siswa dalam menyampaikan gagasan dan pendapat dengan lebih baik. Pendekatan ini memiliki tujuan utama yaitu untuk membangun kompetensi komunikatif siswa yang mencakup kemampuan berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis. Dengan demikian siswa tidak hanya belajar bahasa sebagai kaidah tetapi juga sebagai alat untuk berkomunikasi secara efektif.

Penelitian ini juga ingin mengetahui bagaimana proses penerapan pendekatan komunikatif yang dilakukan di dalam kelas serta faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilannya dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa dengan adanya penelitian ini diharapkan dengan hasil yang dapat memberikan masukan bagi guru dan sekolah mengenai strategi yang efektif dalam pengajaran bahasa Indonesia sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di tingkat dasar.

Metode

Jenis penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif deskriptif yang memfokuskan pada pemahaman yang menggambarkan fenomena yang terjadi di lapangan dengan cara menggali pengalaman nyata dari individu yang terlibat langsung. Penelitian kualitatif deskriptif bertujuan untuk menggambarkan dan memahami fenomena secara mendalam berdasarkan pengalaman nyata partisipan, tanpa adanya manipulasi variabel atau pemberian perlakuan (treatment). Oleh karena itu, penelitian ini tidak melakukan eksperimen, tetapi berfokus pada penggalian data mengenai penerapan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia khususnya keterampilan berbicara[13]. Pendekatan ini sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin mengungkap secara mendalam faktor-faktor yang mendukung maupun menghambat pelaksanaan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran, serta memahami pengaruh pendekatan komunikatif terhadap peningkatan keterampilan berbicara siswa SD.

Melalui pendekatan ini, peneliti dapat menggambarkan proses pembelajaran secara menyeluruh, termasuk respons siswa, interaksi di kelas, dan peningkatan kemampuan berbicara yang terjadi selama proses pembelajaran berlangsung yang dilakukan guru di dalam kelas, serta untuk memahami faktor-faktor seperti kompetensi guru, motivasi belajar siswa, dan kondisi lingkungan belajar yang dapat memengaruhi keberhasilan dalam meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Dengan demikian penelitian ini tidak hanya menyajikan fakta-fakta yang terlihat secara eksternal, melainkan berusaha menginterpretasikan bagaimana pengalaman tersebut dirasakan, dialami, serta dipahami oleh subjek penelitian secaqra personal dan kontekstual, dengan hal ini dapat memebrikan wawasan yang lebih komprehensif tentang realitas yang diteliti.

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung dari lokasi penelitian. Untuk mengumpulkan data primer, peneliti menggunakan 1. teknik observasi yaitu dengan untuk mengamati secara langsung proses pembelajaran dengan penerapan pendekatan komunikatif, serta respon siswa dalam kegiatan berbicara, 2. Wawanacara yang digunakan adalah dengan melakukan teknik wawancara semi struktur yaitu dilakukan dengan guru kelas untuk menggali informasi mendalam mengenai strategi pembelajaran, kendala, dan faktor pendukung. Wawancara semi-terstruktur dipilih karena bersifat fleksibel; peneliti memiliki pedoman pertanyaan namun memberi ruang kepada informan untuk menjelaskan lebih luas, dan 3. teknik dokumentasi yang meliputi RPP, LKPD, foto kegiatan, serta catatan lapangan sebagai data pendukung dari observasi dan wawancara. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Sepande, yang berlokasi di Krajan, Sepande, Kec. Candi, Kab. Sidoarjo. Subjek dalam penelitian ini adalah guru kelas III SDN Sepande, sedangkan objek penelitiannya adalah penerapan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya pada keterampilan berbicara bagi siswa SD.

Teknik analisis data digunakan dalam penelitian ini melibatkan langkah-langkah seperti 1. pengumpulan data yaitu dengan cara peneliti merangkum, memilih hal-hal pokok, dan memfokuskan data yang relevan, 2. reduksi data yaitu dengan menyusun informasi dalam bentuk narasi deskriptif, 3. penyajian data dan menarik kesimpulan yaitu dengan menyimpulkan hasil penelitian berdasarkan data yang telah dianalisis. Metode penelitian ini dibuat untuk menganalisis seberapa efektif penerapan pendekatan komunikatif untuk meningkatkan ketrampilan berbicara bahasa Indonesia siswa SD. Dengan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa efektif pendekatan komunikatif dalam meningkatkan kemampuan berbicara siswa sekolah dasar, sehingga dapat meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa.

Keabsahan data dalam penelitian ini diperoleh melalui teknik triangulasi, triangulasi pada penelitian ini dilakukan dengan triangulasi teknik. Triangulasi teknik dilakukan dengan membandingkan data dari hasil observasi kegiatan pembelajaran dengan data hasil wawancara dengan guru, untuk melihat sejauh mana proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas sesuai dengan penjelasan yang diberikan oleh informan. Selain itu data pendukung seperti dokumentasi berupa foto, RPP, LKS/Buku paket dan catatan lapangan juga digunakan untuk memperkuat serta mengkonfirmasi temuan dari observasi dan wawancara. Dengan demikian konsistensi data dapat terjaga sehingga hasil penelitian menjadi lebih baik dan dapat dipertanggung jawabkan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Hasil dari penelitian ini didasarkan melalui proses observasi, wawancara, dan dokumentasi yang dilakukan terhadap guru kelas III B di SDN Sepande, fokus utama dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pelaksanaan pendekatan komunikatif serta menilai sejauh mana penerapan pendekatan ini mampu meningkatkan keterampilan berbicara bagi siswa sekolah dasar. Penyajian hasil ini disusun berdasarkan alur kegiatan pembelajaran yang meliputi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup yang sesuai dengan indikator pendekatan komunikatif. Pada setiap tahap hasil observasi dipadukan dengan temuan wawancara dan dokumentasi untuk memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai proses pembelajaran berlangsung. Berdasarkan hasil atau temuan yang telah diperoleh maka dapat di deskripsikan sebagai berikut:

1. Kegiatan Awal

Berdasarkan dari hasil observasi pada kegiatan awal pembelajaran di guru di kelas III B memulai dengan memberikan apersepsi dan menghubungkan materi dengan pengalaman sehari-hari siswa. Guru menceritakan peristiwa yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa contohnya seperti, permainan tradisional yang biasa mereka lakukan. Misalnya, pada pembelajaran tanda baca, guru menggunakan contoh permainan yang sering dimainkan siswa seperti congklak atau petak umpet untuk menjelaskan tanda baca seperti, titik, koma, tanda tanya, dan tanda seru.

Dalam hal ini dapat memudahkan siswa dalam memahami materi dan juga mereka jadi lebih antusias dalam melaksanakan pembelajaran bahasa Indonesia, karena mereka merasa materi yang dipelajari relevan dengan dunia nyata mereka. Pada awal pembelajaran guru memulai dengan mengaitkan materi tanda baca dengan pengalaman sehari-hari siswa, seperti menceritakan kejadian yang pernah mereka alami. Guru menyambungkan pelajaran tanda baca dengan pengalaman bermain siswa, misalnya dengan menyebutkan permainan yang familiar bagi mereka. Siswa kemudian diminta untuk menulis aturan permainan tersebut dengan menggunakan tanda baca yang tepat seperti, titik, koma, tanda tanya, dan tanda seru yang sesuai dengan konteksnya.

Selanjutnya guru memberikan pengantar materi tanda baca dalam tema “Ayo Bermain” serta menyiapkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) yang berisi soal-soal terkait materi tersebut. LKPD ini dapat membantu siswa dalam memahami konsep tanda baca melalui contoh kalimat yang dekat dengan kehidupan mereka. Setelah menjelaskan guru mendorong siswa untuk aktif berdiskusi dan berbicara dalam kelompok kecil, sambil memantau jalannya diskusi dan memberikan bantuan jika ada siswa yang mengalami kesulitan.

Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan guru kelas III B terungkap bahwa strategi apresiasi tersebut sengaja diterapkan untuk menarik perhatian siswa dan menumbuhkan minat belajar sekaligus meningkatkan pasrtisipasi siswa dalam kegiatan berbicara sejak awal pembelajaran. Guru menegaskan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia akan lebih bermakna jika diawali dengan hal-hal yang sudah familiar bagi siswa. Oleh sebab itu guru berupaya mengaitkan materi tanda baca dengan pengalaman sehari-hari siswa agar mereka lebih termotivasi untuk mengikuti pembelajaran.

2. Kegiatan Inti

Pada tahap kegiatan inti, penerapan pendekatan komunikatif terlihat melalui beberapa indikator. Berdasarkan hasil observasi, guru melibatkan siswa dalam berbagai kegiatan interaktif seperti diskusi, tanya jawab, membaca kalimat, dan mengemukakan pendapat untuk membahas fungsi setiap tanda baca. Salah satu temuan penting yang menunjukkan bahwa siswa lebih mudah memahmi tanda baca ketika pembelajaran dikaitkan dengan permainan atau pengalaman nyata yang pernah mereka lakukan.

Dalam hal ini guru menerapkan metode Problem-Based Learning (PBL) untuk mengajarkan fungsi tanda baca. Pada kegiatan ini guru membagi siswa dalam kelompok secara acak untuk mendiskusikan masalah seputar penggunaan tanda baca dalam berbagai konteks. Per kelompok diberikan tugas membuat kalimat berdasarkan contoh yang ada di LKPD, seperti kalimat perintah menggunakan (tanda seru) kalimat tanya menggunakan (tanda tanya), serta kalimat penjelasan aturan permainannya yang menggunakan tanda (titik dan koma). Selama diskusi berlangsung guru mengamati sebagian besar siswa yang antusias meskipun partisipasi masih didominasi oleh beberapa siswa yang aktif. Dan untuk mendorong siswa yang cenderung pasif, guru memicu partisipasi dengan pertanyaan pemantik, seperti: “ mengapa tanda tanya penting dalam kalimat ini? ”atau “ bagaimana intonasi yang tepat saat membaca kalimat perintah? ”.

Guru juga memanfaatkan berbagai media pembelajaran seperti buku big book, buku paket, buku yang bergambar, dan cerita nyata. Buku paket menjadi sumber utama selama pembelajaran, sementara itu untuk siswa yang belum lancar membaca guru menyediakan buku Pintar Membaca Cepat level 1-4 sebagai latihan tambahan. Dan bagi siswa yang merasa malu untuk membaca di depan kelas, guru menggunakan kartu kalimat bergambar yang menarik dan berwarna sebagai medianya, caranya dengan menempelkan dipapan tulis di depan agar siswa lebih percaya diri saat membacakan kalimat di hadapan teman-temannya. Guru juga menyediakan pojok baca yang berisi buku-buku yang bervariasi sebagai tempat siswa untuk membaca cerita pendek dan biasanya guru meminta siswa untuk menceritakan kembali dengan bahasa mereka sendiri, dalam hal itu guru berupaya untuk memastikan semua siswa terlibat dalam kegiatan komunikasi di dalam kelas, misalnya dengan meminta mereka membaca buku paket dan menunjuk siswa secara bergantian untuk membacakan kalimat sesuai tanda baca yang dipelajari. Meskipun demikian sebagian siswa terlihat berpartisipasi aktif dan masih ada beberapa juga yang kurang percaya diri atau ragu ketika dimintai maju sehingga hasilnya partisipasi belum merata sepenuhnya.

Dari hasil wawancara dengan guru diketahui bahwa strategi ini sengaja dirancang untuk mendorong siswa agar lebih aktif berbicara yaitu dengan guru menyadari bahwa tidak semua siswa mempunyai keberanian untuk tampil di depan kelas sehingga guru menerapkan metode kerja kelompok, diskusi kecil, serta memberikan reward sederhana untuk memotivasi siswa yang cenderung pasif agar berani menyampaikan pendapatnya. Hasil dari observasi dan wawancara ini menunjukkan bahwa adanya konsistensi dalam penerapan pendekatan komunikatif, meskipun ada beberapa siswa yang masih terlihat kurang aktif, secara umum mereka mulai terbiasa berbicara di depan kelas menggunakan tanda baca sesuai fungsinya serta memperhatikan makna pesan yang ingin disampaikan.

3. Kegiatan Penutup

Di akhir pembelajaran keterlibatan guru dalam memberikan umban balik yang menekankan isi dari apa yang disampaikan siswa bukan hanya terletak pada kesalahan bahasa. Pada saat observasi setiap siswa yang berani maju membacakan hasil kerjanya akan mendapat penghargaan dari guru berupa pujian atau reward kecil sebagai bentuk apresiasi. Ide-ide yang disampaikan siswa mendapat tanggapan positif terutama ketika kalimat dibacakan dengan intonasi yang tepat dan suara yang jelas.

Guru juga memberikan saran perbaikan secara santai namun konstruktif, sehingga siswa tidak merasa takut untuk mencoba kembali. Dengan cara ini dapat menciptakan suasana kelas yang kondusif dan dapat mendorong siswa menjadi lebih percaya diri, aktif, serta terus mengembangkan keterampilan berbicara mereka.

Dari hasil observasi menunjukkan bahwa penggunaan pendekatan komunikatif ini tidak hanya membantu siswa dalam memahami materi tetapi juga untuk upaya meningkatkan keberanian mereka dalam berbicara, bekerja sama dalam kelompok, dan menerapkan keterampilan berbicara bahasa Indonesia secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun ada juga beberapa siswa yang masih kurang percaya diri atau belum konsisten dalam penggunaan tanda baca saat berbicara di depan kelas, maka dari itu guru berupaya untuk terus memberikan dukungan dan motivasi yang lebih merata agar keterampilan berbicara seluruh siswa kelas III B dapat berkembang secara optimal. Dengan demikian proses pembelajaran ini tidak hanya berfokus pada aspek akademis tetapi juga pada pengembangan karakter serta keterampilan sosial siswa sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna dan efektif.

Sedangkan hasil wawancara menunjukkan bahwa kegiatan penutup sengaja dibuat untuk memperkuat pemahaman siswa sekaligus meningkatkan rasa kepercayaan diri mereka. Guru berharap dengan adanya penguatan pada akhir pembelajaran siswa tidak hanya menguasai materi tetapi juga berani menerapkan keterampilan berbicara dalam kehidupan sehari-hari diluar kelas. Hasil temuan ini selanjutnya akan dijelaskan pada bagian pembahasan untuk melihat faktor-faktor yang mendukung maupun menghambat, serta sejauh mana pengaruh pendekatan komunikatif terhadap keterampilan berbicara bagi siswa.

4. Do kumentasi

Dokumentasi meliputi RPP, LKPD, foto kegiatan, dan catatan lapangan memperkuat bukti dari observasi dan wawancara. Rencana pembelajaran menunjukkan adanya indikator pendekatan komunikatif, seperti penekanan interaksi dan penggunaan media yang sesuai. Foto aktivitas memperlihatkan siswa yang aktif berdiskusi dan berbicara di depan kelas, meskipun masih ada siswa yang cenderung pasif. Catatan serta lapangan menegaskan adanya peningkatan kemampuan berbicara siswa terutama dalam hal keberanian dan intonasi membaca kalimat dengan tanda baca. Selain itu dokumentasi mengidentifikasi faktor pendukung berupa sarana-prasarana memadai dan kreativitas guru dalam penggunaan media, serta faktor penghambat seperti rasa malu dan kurangnya kepercayaan diri dari sebagian siswa. Keseluruhan data dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi secara konsisten menggambarkan bahwa penerapan pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa Indonesia meningkatkan partisipasi keterampilan berbicara siswa, meskipun masih terdapat tantangan terkait keberanian dan kepercayaan diri yang perlu diatasi. Hasil penelitian juga diperkuat dengan dokumentasi kegiatan pembelajaran di kelas :

Figure 1. Gambar 1.

Figure 2. Gambar 2

Figure 3. Gambar 3.

Figure 4. Gambar 4.

Guru berperan sebagai fasilitator dengan memberikan arahan sebelum memulai kegiatan berbicara, sedangkan siswa berpartisipasi aktif melalui kegiatan berbicara, diskusi kelompok, maupun presentasi di depan kelas. Hal ini terlihat pada Gambar 1, ketika siswa melakukan percakapan sederhana sesuai konteks yang diberikan guru. Selanjutnya, pada Gambar 2 memperlihatkan kegiatan presentasi siswa di depan kelas dan ada beberapa siswa lainnya juga tampil untuk mempraktikkan percakapan sederhana sehingga terjadi interaksi dua arah antara guru dan siswa. Dan selanjutnya Gambar 3 yaitu siswa bekerja dan berdiskusi secara berkelompok dengan menggunakan media buku sebagai bahan latihan berbicara dan guru mendampingi siswa untuk melatih keterampilan berbicara mereka. Yang terakhir Gambar 4 ditunjukkan siswi bernama Aira yang maju ke depan kelas untuk mempraktikkan keterampilan berbicara sesuai dengan pendekatan komunikatif. Hal ini menunjukkan keberanian siswa untuk tampil dan berinteraksi secara langsung. Dokumentasi ini menguatkan bahwa penerapan pendekatan komunikatif mampu mendorong keterlibatan siswa secara nyata dalam proses pembelajaran.

B. Pembahasan

1. Faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pendekatan komunikatif

Dari hasil penelitian pelaksanaan pendekatan komunikatif dikelas III B yang berlokasi di SDN Sepande memiliki beberapa faktor pendukung yang berperan penting dalam keberhasilan proses pembelajaran. Yaitu dengan adanya kreativitas guru dalam mengaitkan materi pembelajaran dengan pengalaman nyata siswa hal ini dapat membuat proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna. Contohnya pada materi tentang tanda baca yang dikaitkan dengan permainan tradisional yang sudah dikenal oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari. Temuan ini sesuai dengan pandangan yang menyatakan bahwa materi yang relevan dapat menigkatkan motivasi serta memperlibatkan siswa dalam pembelajaran bahasa[14].

Selain itu variasi media pembelajaran seperti buku big book, pojok baca, dan buku yang bergambar juga menjadi aspek penting dalam menunjang pembelajaran. Penggunaan media yang beragam terbukti membantu siswa dalam memahami materi serta menumbuhkan minat mereka untuk berlatih berbicara. Hal ini senada dengan hasil studi Angelina & Tarmini yang menegaskan bahwa media kontekstual dapat memperkaya pengalaman berbahasa siswa. Interaksi yang verbal dan intens antara guru dan siswa serta pemberian umpan balik positif turut memperkuat keterlibatan siswa. Guru lebih menitik beratkan pada isis pesan daripada kesalahan bahasa sehingga suasana kelas terasa lebih mendukung atau kondusif dan mendorong siswa untuk lebih berani mencoba berbicara.[11].

Meski demikian ada juga beberapa hambatan yang ditemukan yaitu rendahnya kepercayaan diri dari beberapa siswa, perbedaan latar belakang bahasa, serta dominasi partisipasi dari beberapa siswa tertentu. Sebagian siswa masih merasa malu atau takut salah saat berbicara di depan kelas sehingga mereka cenderung pasif dalam berdiskusi. Contohnya seperti kasus Aira, awalnya Aira adalah siswa yang pendiam namun perlahan mulai berani tampil setelah mendapat pendampingan secara bertahap dan penghargaan sederhana dari guru. Dengan adanya hal ini menunjukkan bahwa hambatan psikologis bisa dikurangi melalui strategi motivasi dan lingkungan belajar yang kondusif. Hambatan ini menguatkan hasil penelitian Angelina & Tarmini yang menyebutkan bahwa faktor efektif siswa sangat berperan dalam perkembangan keterampilan berbicara[11].

Secara keseluruhan maka faktor-faktor utama yang mendukung dalam penerapan pendekatan komunikatif meliputi kreativitas guru, variasi media yang digunakan, relevansi materi, variasi media, serta pemberian umpan balik positif dilakukan oleh guru. Sementara faktor penghambat yang muncul adalah adanya rendahnya rasa percaya diri siswa, perbedaan latar belakang bahasa, tidak seimbangan dalam partisipasi siswa, dan kecenderungan sebagian siswa yang pasif.

2. Pengaruh Pendekatan Komunikatif terhadap Keterampilan Berbicara Siswa

Penerapan Pendekatan Komunikatif di kelas III B SDN Sepande terbukti memberikan dampak yang positif terhadap peningkatan keterampilan berbicara siswa. Siswa semakin terbiasa untuk menyampaikan pendapat, membaca kalimat dengan intonasi yang tepat, serta menggunakan tanda baca dengan benar dalam percakapan. Guru menekankan pentingnya pemahaman isi pesan yang disampaikan oleh siswa sehingga mereka tidak hanya fokus pada tata bahasa tetapi juga pada kalimat yang diucapkan, pemahaman yang baik terhadap isi pesan ini sangat penting dalam penguasaan keterampilan berbicara mereka[15].

Maka dari itu guru merasa bahwa pendekatan komunikatif membawa perubahan perilaku siswa dalam hal keberanian berbicara. Siswa yang sebelumnya enggan berbicara kini menunjukkan keterlibatan aktif, baik dalam diskusi kelompok maupun saat diminta untuk maju ke depan kelas. Contoh nyata adalah perubahan Aira yang berhasil bertransformasi dari siswa pendiam menjadi dalam membacakan hasil LKPD yang diberikan guru. Pendekatan komunikatif ini dapat mendorong siswa untuk lebih aktif berpartisipasi selama pembelajaran berlangsung dan hal ini dapat membuktikan bahwa pendekatan komunikatif dampak ,memberikan dampak nyata terhadap perkembangan keterampilan berbicara siswa.

Selain keberanian, keterampilan berbicara siswa juga meningkat dalam hal kejelasan penyampaian pesan. Sebagian besar siswa sudah mampu dalam membedakan intonasi saat membaca kalimat perintah, pertanyaan, maupun pernyataan. Meskipun dalam hal ini belum semuanya siswa konsisten, dengan ini merupakan indikator penting bahwa pendekatan komunikatif telah membantu siswa memahami fungsi tanda baca dalam komunikasi lisan mereka. Kemampuan membedakan intonasi merupakan indikator penting dalam keterampilan berbicara[16].

Namun, demikian pengaruh pendekatan komunikatif belum sepenuhnya merata karena masih ada siswa yang pasif atau kurang percaya diri, sehingga partisipasi dalam komunikasi tidak seimbang. Guru menyadari adanya hal ini dan guru akan terus berupaya melakukan perbaikan melalui latihan rutin, diskusi kelompok, serta pemberian motivasi secara personal. Maka dengan melakukan latihan rutin ini dapat membantu siswa mengatasi hambatan dalam berbicara, dengan langkah-langkah tersebut diharapkan keterampilan berbicara siswa di kelas III B dapat berkembang secara optimal.

Secara keseluruhan penerapan pendekatan komunikatif untuk meningkatkan keterampilan berbicara dikelas III B SDN Sepande mampu meningkatkan keterampilan berbicara siswa, baik dari aspek keberanian, intonasi, maupun pemahaman isi pesan. Meskipun terdapat beberapa hambatan, hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan komunikatif relevan untuk diterapkan di sekolah dasar dan memiliki potensi besar dalam mengembangkan keterampilan berbicara.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pendekatan komunikatif yang telah dilakukan oleh peneliti dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan komunikatif dalam bahasa Indonesia memberikan dampak positif terhadap keterampilan berbicara siswa, hal ini terlihat dari keterlaksanaan indikator yang digunakan peneliti pada saat melakukan pengamatan secara langsung atau observasi, serta di dukung dengan hasil wawancara dan dokumentasi, yang dilakukan di kelas III B SDN Sepande mampu meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Faktor pendukung utamanya meliputi kreativitas guru dalam mengaitkan materi dengan pengalaman nyata variasi media pembelajaran, serta pemberian umpan balik positif. Hambatan yang ditemukan antara lain yaitu rendahnya rasa percaya diri siswa, dominasi partisipasi oleh siswa tertentu, dan perbedaan latar belakang bahasa.

Implikasi teoretis dari penelitian ini menegaskan relevansi Communicative Language Teaching (CLT) dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dasar, khususnya bahwa faktor efektif dan media konte kstual berperan besar dalam menumbuhkan keberanian siswa berbicara. Implikasi praktisnya, guru dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai dasar untuk mengembangkan strategi pembelajaran bahasa yang lebih interaktif, variatif, dan berpusat pada siswa.

Penelitian ini menawarkan saran yang dapat digunakan yakni guru perlu mengembangkan banyak variasi strategi dan media pembelajaran dalam penerapan pendekatan komunikatif, misalnya dengan memanfaatkan media berbasis teknologi atau permainan edukatif, video pembelajaran, aplikasi membaca berbasis game, atau quiz online yang bersifat interaktif untuk memperkaya variasi pembelajaran komunikatif. Selain itu guru juga harus memberikan motivasi secara merata agar seluruh siswa dapat terlibat aktif tidak hanya sebagian siswa saja yang mendominasi. Terakhir bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini diharapkan dapat diperluas cakupannya dengan mengeksplorasi keterampilan berbahasa lain seperti membaca dan menulis atau diterapkan pada jenjang kelas yang berbeda agar hasilnya lebih komprehensif.

References

[1] Nurhayati, R. D. Ningsih, and Triana, “Pemanfaatan Game Edukasi Wordwall Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Siswa di Kelas I UPT SPF SD Negeri Panaikang 1 Makassar,” Cokroaminoto Journal of Primary Education, vol. 8, no. 1, pp. 61–72, 2025.

[2] R. Rahmawati, G. Yarmi, and L. S. Ardiasih, “Strategi Meningkatkan Keterampilan Berbicara Peserta Didik Kelas V Sekolah Dasar Melalui Peningkatan Kecerdasan Interpersonal dan Kepercayaan Diri,” Susunan Artikel Pendidikan, vol. 6, no. 1, 2021.

[3] H. G. Tarigan, Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa, 1981.

[4] S. H. Harahap, M. Aprilia, and N. A. Lubis, “Pentingnya Menguasai Kemampuan Komunikasi Lisan Untuk Anak,” Indonesian Journal of Education Development Research, vol. 2, no. 1, pp. 375–378, 2024.

[5] M. Keterampilan, B. Di, and S. Dasar, “Keterampilan Berbicara di Sekolah Dasar,” ABUYA Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 3, pp. 1–13, 2025.

[6] J. C. Richards and T. S. Rodgers, Approaches and Methods in Language Teaching. Cambridge: Cambridge University Press, 2001.

[7] A. M. Mubarok, H. Haryadi, and A. Nuryatin, “Analisis Pendekatan Komunikatif Pembelajaran Bahasa Indonesia,” Jurnal Onoma Pendidikan Bahasa dan Sastra, vol. 10, no. 1, pp. 225–231, 2024.

[8] M. F. Rahmah, S. Nasution, and U. Islam, “Role Playing Model for Elementary School Communication Skills,” Elementary School Education Journal, vol. 8, no. 3, pp. 32–40, 2024.

[9] E. Wahyuningsih, “Pendekatan Komunikatif Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia,” Lingua Franca Journal Bahasa Sastra dan Pengajaran, vol. 3, no. 2, pp. 1–13, 2019.

[10] M. Ulfa and L. A. Afhani, “Pembelajaran Keterampilan Berbicara Bahasa Jawa Krama Menggunakan Strategi Tebak Kata,” Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar Al-Ashr, vol. 7, no. 1, pp. 32–48, 2022.

[11] N. Anjelina and W. Tarmini, “Keterampilan Berbicara Siswa Sekolah Dasar pada Pembelajaran Bahasa Indonesia,” Jurnal Basicedu, vol. 6, no. 4, pp. 7327–7333, 2022.

[12] R. Jayanti et al., “Strategi Guru dalam Mengembangkan Keterampilan Berbicara Siswa Kelas VI,” Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, vol. 13, no. 2, pp. 25–33, 2023.

[13] J. Mackiewicz, Writing Center Talk Over Time A Mixed Method Study. New York: Routledge, 2018.

[14] S. Rahmawati and D. Kurniati, “Penerapan Pendekatan Komunikatif Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Untuk Pendidikan Karakter,” Dharma Acarya Nusantara Journal of Education Language and Culture, vol. 2, no. 1, pp. 279–288, 2024.

[15] I. K. Putra, L. Istianti, N. Hidayat, and Y. Siska, “Keterampilan Berbicara Mahasiswa PGSD,” Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar STKIP PGRI Bandar Lampung, no. 1, pp. 95–106, 2023.

[16] Y. Aflinda, “Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa Dengan Pendekatan Komunikatif,” Jurnal Pendidikan Tambusai, vol. 5, pp. 6916–6923, 2021.