Helda Destiana Sabila Rosyid (1), Mahardika darmawan kusuma Wardana (2)
General Background: Elementary classrooms frequently face learning disparities caused by uniform instructional practices that overlook individual differences. Specific Background: At SD Negeri Larangan, teachers encounter varied student readiness, interests, and learning styles, requiring adaptive classroom approaches. Knowledge Gap: Previous studies often discuss differentiated teaching conceptually, yet limited research documents its concrete implementation in primary school contexts. Aims: This study explores the planning, implementation, and evaluation of teaching strategies applied by a Grade V teacher using a descriptive qualitative design. Results: Data from observation, interviews, and documentation reveal strategies centered on learning style adaptation (visual, auditory, kinesthetic), varied access to materials, creative activities, and individualized guidance, with learning style alignment recorded as the most frequently applied approach and associated with higher student engagement and participation. Novelty: The study provides field-based evidence that links differentiation principles to practical classroom actions across content, process, and product. Implications: Findings offer actionable guidance for teachers and school leaders to design inclusive, responsive, and student-centered instruction in elementary education while supporting policy and professional development planning.
Keywords: Differentiated Instruction, Teaching Strategies, Elementary Education, Learning Styles, Qualitative Study
Key Findings Highlights:
Adaptation to visual, auditory, and kinesthetic preferences dominated classroom practice
Creative tasks and flexible material access supported varied participation patterns
Individual mentoring addressed heterogeneous readiness levels among pupils
Praktik pendidikan dasar di Indonesia menghadapi hambatan signifikan, termasuk kesenjangan hasil belajar yang muncul akibat metode pengajaran yang seragam dan konvensional. Metode ini seringkali tidak mempertimbangkan perbedaan individu siswa, seperti kemampuan, minat, serta gaya belajar, sehingga membuat siswa dengan kemampuan rendah tertinggal dan siswa unggul kurang menerima tantangan yang memadai[1].Rendahnya kemampuan strategi guru dalam memenuhi kebutuhan individual siswa juga turut memperburuk keadaan, yang berdampak pada menurunnya hasil belajar serta efektivitas pembelajaran.Oleh karena itu, Strategi pembelajaran guru yang diterapka pada paradigma pembelajaran baru yang berorientasi pada siswa dan menyesuaikan dengan kebutuhan individu menjadi solusi yang sangat penting untuk mengatasi tantangan ini.[2]
Pendekatan strategi pembelajaran guru yang berbeda memberikan kebebasan bagi pengajar untuk menyesuaikan proses pembelajaran dengan karakteristik siswa. Pendekatan ini mencakup perbedaan dalam konten, proses, dan produk, yang memungkinkan siswa memahami materi sesuai dengan kesiapan, minat, dan profil belajar mereka[3].Sayangnya, pelaksanaan strategipembelajaran guru ini masih terbatas, karena banyak sekolah di Indonesia masih menerapkan metode pengajaran tradisional yang bersifat seragam dan berfokus pada guru.Selain itu, pelatihan untuk guru mengenai strategi pembelajaran guru juga masih sedikit, sehingga praktiknya belum optimal di tingkat sekolah dasar.[4]
Siswa kelas lima SDN Larangan memliki kemampuan akedemik, minat, dan gaya belajar yang berbeda-beda. Sebagian siswa memeiliki pemahaman materi yang begitu baik namun sisayang lain masih memerlukan bimbingan belajar lebih agar siswa lebih baik memahami materi. Peneliti menyadari guru masih menerapkan strategi pembelajaran konvensional yang menerapkan satu siswa dengan siswa yang lain menggunakan penerapan yang sama.Penerapan strategi pembelaran guru, khususnya adaptasi terhadap gaya belajar siswa menjadi solusi efektif dalam meningkatkan minat dan hasil belajar.[5]
Meskipun gagasan strategi pembelajaran gurutelah dibahas secara luas dalam penelitian, sebagian besar studi hanya menekankan teori tanpa menyelami penerapannya dalam konteks pendidikan dasar.Penelitian sebelumnya juga memberikan sedikit panduan praktis yang berkaitan dengan guru dalam menerapkan strategi pembelaran guru
Copyright © Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. This preprint is protected by copyright held by Universitas Muhammadiyah Sidoarjo and is distributed
comply with these terms is not permitted.
di kelas dengan keberagaman siswa. Oleh karena itu, penelitian ini sangat penting dilakukan untuk mengisi kekurangan tersebut dengan menekankan penerapan strategi konkret bagi guru kelas dalam menghadapi kebutuhan siswa yang beragam.[6]
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengeksplorasi strategi pembelajaran yang diterapkan oleh guru kelas dalam melaksanakan strategi pembelajaran di sekolah dasar, khususnya di kelas lima SDN Larangan, Sidoarjo. Fokus utama dari penelitian ini mencakup perancangan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran, serta berbagai tantangan yang dihadapi oleh guru dalam proses tersebut. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan mampu memberikan pemahaman strategi pembelajaran guru yang dilakukan guru kelas tentang praktik strategi pembelajaran dalam konteks pendidikan dasar di Indonesia.[7]
Variabel penelitian ini yaitu strategi pembelajaran guru dalam penerapan strategi pembelajaran di kelas Lima SDN Larangan, Sidoarjo dan definisi operasional Strategi pembelajaran guru dalam strategi pembelajaran merupakan serangkaian tindakan, metode, dan pendekatan yang dilakukan guru kelas dalam menyesuaikan materi (konten), proses pembelajaran, dan produk hasil belajar sesuai dengan kesiapan belajar, minat, serta gaya belajar siswa[8]. Strategi ini mencakup penerapan diferensiasi konten, proses, produk, asesmen diagnostik (kognitif dan non-kognitif), pendampingan individual, serta pemberian kebebasan siswa untuk memilih cara belajar dan menunjukkan hasil belajarnya, berdasarkan prinsip teori Carol Ann Tomlinson.[9]
Hasil studi ini memberikan sumbangan teoritis dan praktis yang signifikan.Secara teoritis, penelitian ini menambah kekayaan literatur mengenai strategi pembelajaran guru di pendidikan dasar.Secara praktis, hasil penelitian ini menawarkan panduan bagi guru dalam merancang pembelajaran yang inklusif dan efektif. Selain itu, temuan penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh sekolah dan pengambil kebijakan sebagai dasar untuk merancang program pelatihan dan kebijakan yang mendukung pelaksanaan strategi pembelajaran guru secara berkelanjutan.[10]
Penelitian ini memiliki tujuan untuk menyediakan panduan strategis bagi guru dalam memperbaiki kualitas pembelajaran.Melalui penelitian ini, diharapkan guru dapat menjadi lebih percaya diri dalam mengimplementasikan strategi pembelajaran guru, meningkatkan keterampilan mengajar, serta menciptakan pengalaman belajar yang lebih responsif terhadap kebutuhan siswa. Dengan cara demikian, penelitian ini berkontribusi dalam meningkatkan mutu pendidikan dasar yang inklusif dan adaptif terhadap tantangan abad 21.[11]
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk memahami secara mendalam fenomena strategi pembelajaran guru yang diterapkan oleh guru kelas lima di SDN Larangan. Pendekatan ini merujuk pada pandangan Lexy J. Moleong (2007) yang menyatakan bahwa penelitian kualitatif merupakan suatu proses penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.Penelitian kualitatif berorientasi pada makna, konteks, dan proses, serta dilaksanakan dalam kondisi yang alamiah dengan peneliti sebagai instrumen kunci[12].Menurut Sugiyono (2022), penelitian kualitatif merupakan suatu pendekatan penelitian yang digunakan untuk mengamati kondisi objek yang alami dengan peneliti berperan sebagai instrumen utama[13]. Analisis data dilakukan secara induktif atau kualitatif, dan hasil dari penelitian ini berfokus pada penafsiran makna dan karakteristik, membangun fenomena, serta menemukan hipotesis.Oleh karena itu, seluruh proses penelitian dilakukan tanpa manipulasi, dan mengutamakan interpretasi terhadap data yang kaya akan makna.[14]
Tujuan dari metode ini adalah agar peneliti dapat menangkap fenomena yang terjadi secara alami tanpa intervensi dari peneliti. Penyajian data yang diperoleh dari penelitian didasarkan pada fakta-fakta yang ditemukan selama proses penelitian.Subjek penelitian ini adalah guru kelas lima [15].Penelitian ini dilakukan di SDN Larangan karena SD ini telah menerapkan strategi pembelajran guruyang cukup baik di kelas 5, serta beragamnya kemampuan siswa kelas lima dalam memahami pembelajaran cukup menarik untuk dilakukan penelitian menentukan strategi apa yang tepat digunakan bagi guru.
Data yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi dikategorikan menjadi data primer dan sekunder.Data primer berasal dari hasil observasi langsung dan wawancara dengan guru serta siswa kelas V, sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen dan arsip yang relevan.Analisis data dilakukan secara induktif melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan[16]. Proses analisis ini mengikuti model analisis interaktif dan bertujuan untuk menemukan pola, kategori, dan makna dari data yang dikumpulkan. Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang mendalam mengenai penerapan strategi pembelajaran guru berdasarkan perspektif guru di lapangan, sesuai dengan prinsip-prinsip penelitian kualitatif menurut Lexy J. Moleong.[17]
Strategi pembelajaran guru yang sesuai dengan prinsip pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara, yang menyatakan bahwa pendidikan yang bersifat mandiri yang bisa menjadi sebuah proses di mana seseorang bisa berinisiatif, baik dengan bantuan orang lain maupun mandiri, saat menentukan kebutuhan belajar mereka, menetapkan tujuan, mencari sumber daya manusia serta bahan ajar, memilih dan menerapkan strategi pembelajaran guru yang tepat, serta menilai hasil proses belajar yang dijalani.[18]
Tujuan dari strategi pembelajaran guru adalah untuk menyesuaikan proses pengajaran di kelas untuk memenuhi kebutuhan belajar siswa yang memilki kemampuan berbeda - beda. Bukan berarti guru memberikan tugas yang berbeda kepada setiap siswa. Bukan juga berarti keadaan kelas yang tidak kondusif karena terkesan menjadi kelas yang bebas, akan tetapi pembelajaran masih dalam keadaan terkendali dan tertib [19].
Ketika menerapkan strategi pembelajaran guru yang, guru harus mempertimbangkan tindakan yang masuk akal sebagai acuan keputusan yang akan diambil. Strategi pembelajaran guru sederhananya merupakan kumpulan ide-ide masuk akal yang dikembangkan oleh guru yang difokuskan pada kebutuhan siswa [20].
Menurut Teori Carol Ann Tomlinson (2001), Strategi pembelajaran guru memiliki tiga dimensi utama, yaitu metode mengajar konten, proses, dan produk[21]. Metode mengajar konten merupakan penyesuaian materi pelajaran yang disampaikan kepada siswa agar mereka dapat memahami informasi sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan gaya belajar masing-masing. Metode mengajar proses melibatkan penyesuaian cara siswa mempelajari atau mengolah informasi selama kegiatan belajar, sehingga setiap siswa dapat memahami materi dengan pendekatan yang paling sesuai bagi mereka. Sementara itu, metode mengajar produk adalah penyesuaian dalam cara siswa menunjukkan hasil belajar mereka, di mana guru memberikan berbagai pilihan bentuk tugas akhir atau produk pembelajaran yang disesuaikan dengan minat, gaya belajar, dan tingkat kemampuan siswa[22].
Strategi pembelajaran guru yang dibedakan sesuai dengan tujuan dan nilai-nilai yang diterapkan di SDN Larangan Sidoarjo. Tujuan SDN Larangan Sidoarjo adalah menciptakan siswa yang beriman, cerdas, dan terampil. Salah satu tujuan yang ada di SDN Larangan Sidoarjo berkaitan dengan salah satu hasil dari strategi pembelajaran guru yang dibedakan, yaitu menciptakan siswa yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; berkebinekaan global; bergotong royong; mandiri; bernalar kritis; dan kreatifmahir dalam keterampilan hidup dan harus seimbang dengan memperhatikan aspek moral dan intelektual serta potensi yang dimiliki. Oleh karena itu, SDN Larangan Sidoarjo terus berusaha untuk meningkatkan dan memperkuat melalui strategi pembelajaran guru guna mengembangkan siswa yang terampil dengan memaksimalkan potensi yang ada dalam diri mereka.
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui triangulasi, yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi[23]. Observasi dilakukan secara partisipatif, yaitu peneliti terlibat langsung dalam kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru kelas lima SD Negeri Larangan didalam kelas dengan tujuan, untuk mengamati secara alami proses strategi pembelajaran guru di kelas dan bagaimana respons siswa terhadap metode yang diterapkan guru[24]. Observasi ini dilakukan secara sistematis dan berulang dengan menyusun beberapa rundown yang disetujuai oleh guru kelas dan observer agar menghasilkan data yang akurat, valid, dan kontekstual. Jenis wawancara yang dilakukan bersifat semi-terstruktur dan mendalam, bertujuan untuk menggali informasi dari guru mengenai pemahaman mereka terhadap strategi pembelajaran guru, tantangan yang dihadapi, serta strategi apa yang digunakan.Wawancara ini memungkinkan peneliti untuk memperoleh informasi yang tidak hanya bersifat permukaan, tetapi juga menggali pandangan, keyakinan, dan pengalaman pribadi guru. Dalam artikel ini, yang akan diuraikan adalah taktik pengumpulan informasi menggunakan cara dokumen [25].
Pada saat ini, analisis dokumen telah menjadi salah satu aspek yang krusial dan tidak terpisahkan dalam pendekatan penelitian kualitatif. Hal ini terjadi karena meningkatnya kesadaran dan pemahaman di antara peneliti mengenai banyaknya informasi yang tersimpan dalam bentuk dokumen. Dengan demikian, eksplorasi sumber data melalui analisis dokumen menjadi penambah bagi proses penelitian kualitatif. Selain itu, dokumentasi juga digunakan sebagai data pelengkap, berupa dokumen seperti RPP kelas lima, bahan ajar kelas lima, hasil belajar siswa, serta data pendukung lainnya seperti profil sekolah, struktur organisasi, dan dokumentasi foto-foto kegiatan pembelajaran dikelas lima. Data yang didapat menunjukkan jika guru masih perlu strategi yang tepat dalam menerapkan strategi pembelajaran guru [26].
Teknik pengumpulan data tiangulasi yang digunakan yaitu teknik pengumpulan data melalui wawancara, yaitu diperoleh melalui wawancara bersama guru kelas lima yang menerapkan strategi pembelajaran guru sekaligus dengan pengamatan aktivitas strategi pembelejaran guru di kelas lima. Penelitian yang dilakukan ditemukan bahwa guru yang menggunakan strategi gaya belajar, yaitu meyesuaikan gaya belajar siswa dalam penerapan strategi pembelajaran guru dapat meningkatkan minat belajar siswa dengan labih baik[27]. Hal tersebut dapat diketahui pada diagram ini
Figure 1. Gambar 1. Diagram Strategi Pembelajaran
Berdasarkan gambar diagram 1 akan dijabarkan variabel penelitin ini di dapat dari proses pengumpulan data penelitian melalui sebuah wawancara, pengamatan aktivitas strategi pembelajaran guru di kelas limaserta melalui proses asesmen diagnostik kogitif dan non kognigtif pada siswa[28]. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui kondisi siswa sebelum dimulainya pembelajaran. Setelah melakukan asesmen diagnostik kognitif dan non kognitif pada siswa, lalu guru kelas menerapkan beberapa strategi pembelajaran pada siswa. Selanjutnya dilakukan kembali asesmen guna mengetahui kondisi siswa setelah penerapan strategi pembelajaran oleh guru kelas. Maka hasil yang di dapat strategi gaya belajar siswa dengan penyesuaian gaya belajar siswa berada di skor 5,5 tertinggi diantara strategi belajar lainnya, dengan indikator guru kelas telah menerapan gaya belajar visual, auditori, dan kinestik terlihat efektif. Hal ini sesuai dengan teori Carol Ann Tomlinson dengan prinsip metode mengajar proses yang menyesuaikan metode mengajar berdasarkan kesukaan gaya belajar siswa tersebut. Hal ini dapat dikatakan indikator guru yang menerapkan strategi pembelajaran guru yang baik adalah menerapkan menyesuaikan gaya belajar visual, auditori dan kinestik.[29]
Strategi yang lain aktivitas kreatif, akses materi beragam dan pendampingan individu, menunjukkan frekuensi yang setara yakni berada di antara skor 2 sampai 2,5 yang melihatkan jika hal ini masih perlu ditingkatkan. Sedangkan pemberian opsi akses materi berada di skor 2,5 juga masih terlihat rendah maka perlu diberikan penguatan dalam menyediakan media belajar yang lebih bervariasi.
Analisis dari grafik batang mengenai strategi pembelajaran guru, dapat disimpulkan bahwa strategi paling efektif digunakan oleh pengajar atau guru adalah mengadaptasi gaya belajar siswa. Hal ini terlihat dari penerapan strategi ini yang dapat membuat siswa dan guru lebih memahami gaya belajar seperti apa yang tepat digunakan baik oleh siswa maupun guru kelas sehingga mendapatkan hasil belajar yang lebih baik, jika dibandingkan dengan metode lainnya. Para guru tampaknya menyadari pentingnya menyesuaikan cara mengajar mereka dengan pendekatan belajar siswa, seperti metode visual, auditori, dan kinestetik. Cara ini membantu siswa dalam memahami bahan ajar dengan lebih baik karena disesuaikan dengan cara belajar yang mereka miliki[30].
Di samping itu, terdapat beberapa metode lain yang juga digunakan oleh pengajar dengan frekuensi yang setara, yakni pada strategi pembelajaran yang lain. Beberapa metode tersebut mencakup mengimplementasikan aktivitas kreatif semacam bernyanyi atau bermain kelompok untuk meningkatkan minat belajar siswa serta memberikan pilihan dalam mengakses materi, seperti lewat diskusi, gambar, atau tulisan, yang mencerminkan perbedaan dalam konten, serta menyediakan strategi dan waktu belajar yang bervariasi, agar sesuai dengan tingkat kesiapan masing-masing siswa[31].
Metode lain yang juga kerap dipraktikkan adalah pendampingan individu, di mana guru memberikan perhatian khusus kepada siswa sesuai dengan tingkat pemahaman mereka, mendorong pembelajaran kritis dengan aktivitas seperti diskusi dan literasi,serta menyediakan pilihan untuk bekerja dalam kelompok atau sendiri, yang memberikan kebebasan dalam gaya belajar serta melatih keterampilan sosial dan kemandirian. Semua pendekatan ini menunjukkan bahwa para guru telah berusaha menerapkan prinsip-prinsip strategi pembelajaran guru yang konsisten, baik dari sisi konten, proses, maupun hasil, sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Carol Ann Tomlinson[32].
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa guru kelas IV-D SDN Sidoklumpuk telah menjalankan peranannya secara efektif dalam menerapkan pembelajaran berdiferensiasi pada mata pelajaran IPAS. Guru melaksanakan lima peran utama menurut Tomlinson (2001), yaitu sebagai (1) penyelenggara kesempatan belajar, (2) pelatih atau mentor, (3) pembaca siswa, (4) pemberi tanggung jawab, dan (5) pengajar keterampilan untuk belajar. Seluruh peran tersebut diterapkan dengan melalui penyesuaian konten, proses, produk, dan lingkungan belajar yang disesuaikan dengan karakteristik siswa. Dengan demikian, guru telah menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dalam mata pelajaran IPAS secara adaptif, reflektif, dan partisipatif, sehingga siswa terlibat aktif, belajar sesuai kebutuhannya, dan berkembang menjadi pembelajar mandiri.
Ucapan Teria Kasih
Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dalam pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terima kasih secara khusus disampaikan kepada SD Negeri Sidoklumpuk Sidoarjo yang telah memberikan izin serta memfasilitasi proses pengumpulan data. Penulis juga berterima kasih kepada partisipan yang telah bersedia meluangkan waktu serta memberikan informasi yang sangat berharga. Selain itu, penghargaan setinggi-tinggi nya diberikan kepada rekan-rekan sejawat atas bantuan dan dukungan di lapangan. Penulis juga menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada dosen pembimbing atas bimbingan, arahan, serta motivasi yang sangat berarti dalam setiap tahapan penelitian ini. Tidak lupa, penulis mengucapkan terima kasih penuh kasih kepada keluarga dan orang terkasih atas doa, semangat, dan dukungan emosional yang senantiasa diberikan. Segala dukungan yang telah diberikan sangat berarti bagi kelancaran dan keberhasilan penelitian ini, dan semoga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
[1] S. Maharani and Y. Helsa, “Tantangan Guru SD Dalam Menerapkan Kurikulum Merdeka Di Kelas Rendah,” Sindoro Cendikia Pendidikan, vol. 16, no. 7, 2025.
[2] Marhamah and Zikriati, “Mengenal Kebutuhan Peserta Didik Di Era Kurikulum Merdeka,” Wathan Journal Ilmu Sosial dan Humaniora, vol. 1, no. 1, pp. 89–106, 2024.
[3] Safaruddin, Rohadi, Madaniyah, and Mudasir, “Strategi Pembelajaran Dengan Model Pendekatan Pada Peserta Didik Sesuai Capaian Pembelajaran Pada Kurikulum Merdeka,” Al Mikraj Journal Studi Islam dan Humaniora, vol. 5, no. 1, pp. 2117–2126, 2024.
[4] F. Rozi et al., “Analisis Tantangan Dan Strategi Guru Dalam Penerapan Kurikulum Merdeka Di UPT SPF SD Negeri 106810 Sampali,” JIIC Journal Intelek Insan Cendikia, vol. 2, no. 3, 2025.
[5] K. Nuriyah et al., “Adaptasi Strategi Pembelajaran Responsif Terhadap Dinamika Siswa,” Jurnal Basicedu Research and Learning in Elementary Education, vol. 8, no. 5, pp. 3843–3851, 2024.
[6] H. Mellymayanti, S. Nurfadhillah, and Y. Nuraeni, “Strategi Pembelajaran Inovatif Dalam Pendidikan Inklusif Di Sekolah Dasar,” Kolektif Journal Pendidikan Pengajaran dan Pembelajaran, vol. 1, no. 1, pp. 40–49, 2024.
[7] M. Ristiantita et al., “Analisis Strategi Dan Metode Pembelajaran Bahasa Indonesia Dengan Hasil Belajar Siswa Di Sekolah Dasar Kelas 5,” Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, vol. 1, no. 3, pp. 1–11, 2024.
[8] F. Z. Rofiah, M. R. Habibullah, and F. Nimah, “Implementasi Strategi Pembelajaran Contextual Teaching Learning Pada Pendidikan Inklusi Di SD Kita Bojonegoro,” Jurnal Pendidikan Dasar Flobamorata, vol. 5, no. 3, pp. 404–409, 2024.
[9] A. Rahmat, S. Hera, I. M. Putri, and S. M. Putri, “Implementasi Pembelajaran Berdiferensiasi,” JICN Journal Intelek dan Cendikiawan Nusantara, vol. 1, no. 6, 2024.
[10] B. S. Y. Simbolon and D. Naibah, “Merencanakan Strategi Dan Metode Dalam Pembelajaran,” Jurnal Magistra, vol. 2, no. 1, pp. 39–48, 2024.
[11] D. N. Intan, E. Kuntarto, and M. Sholeh, “Strategi Guru Untuk Mencapai Tujuan Pembelajaran Pada Pembelajaran Matematika Di Sekolah Dasar,” Jurnal Basicedu Research and Learning in Elementary Education, vol. 6, no. 3, pp. 3302–3313, 2022.
[12] R. Gulindari and A. Suriani, “Strategi Guru Dalam Menghadapi Siswa Yang Lambat Dalam Menangkap Pelajaran Di Sekolah Dasar,” Jurnal Nakula Pusat Ilmu Pendidikan Bahasa dan Ilmu Sosial, vol. 3, no. 4, pp. 313–321, 2025.
[13] D. A. Rahmawati, “Pengembangan Media Pembelajaran Pedani Berbantuan Macromedia Flash 8 Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pada Materi Penyajian Data Kelas IV,” Piwuruk Jurnal Sekolah Dasar, vol. 2, no. 1, pp. 1–12, 2022.
[14] Qomaruddin and H. Sadiyah, “Kajian Teoritis Tentang Teknik Analisis Data Dalam Penelitian Kualitatif Perspektif Spradley Miles Dan Huberman,” Journal of Management Accounting and Administration, vol. 1, no. 2, pp. 77–84, 2024.
[15] N. Haryanti, G. A. Setiawan, and A. Amroellah, “Analisis Penerapan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray Pada Siswa Kelas V Di SD Negeri Sumberejo,” Jurnal Cendekia Pendidikan, vol. 1, no. 1, pp. 1–12, 2023.
[16] N. W. P. Rahayu, I. N. Sudirman, I. P. O. Suardana, and P. B. Pradnyana, “Analisis Implementasi Kurikulum Merdeka Di Sekolah Dasar Nomor 2 Pagsan,” Jurnal Pendidikan Dasar Rare Pustaka, vol. 6, no. 1, pp. 1–12, 2024.
[17] M. I. Sholeh et al., “Optimizing the Use of Learning Equipment to Improve Education at MAN 2 Tulungagung,” Edusiana Jurnal Manajemen dan Pendidikan Islam, vol. 11, no. 1, pp. 1–21, 2024.
[18] A. R. Nuryanto, “Strategi Pembelajaran Seni Pada Anak Berkebutuhan Khusus Di TK Baiturrahman 2 Semarang,” Jurnal Musik dan Seni, vol. 3, no. 1, 2025.
[19] D. L. A. Rosyah and P. Darmawan, “Analisis Relevansi Pembelajaran Diferensiasi Pada Kurikulum Merdeka Dengan Konsep Visi Pedagogik Ki Hajar Dewantara,” Jurnal Ekonomi Bisnis dan Pendidikan, vol. 3, no. 9, 2023.
[20] H. A. Mawa, Y. U. Lawe, and G. Mawa, “Peran Guru Kelas Dalam Melaksanakan Pembelajaran Sesuai Kebutuhan Siswa Pada Kelas IV,” Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, vol. 1, no. 4, pp. 1–15, 2024.
[21] R. A. Rahman, I. G. E. Lesmana, R. C. Hartantrie, and M. Nurtanto, “Inovasi Pengembangan Modul Digital Untuk Pendidikan Tinggi Melalui Kombinasi Metode 4D Model Tomlinson Dan Chunking,” Janata Jurnal Pengabdian Masyarakat, vol. 2, no. 1, pp. 11–25, 2022.
[22] M. A. Salim and H. I. P. Sari, “Penerapan Strategi Pembelajaran Berdiferensiasi Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik Di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Sidoarjo,” Mubtadi Jurnal Pendidikan Ibtidaiyah, 2024.
[23] N. A. Faadiyah et al., “Implementasi Media ULAFAna Sebagai Media Pembelajaran IPS Di Kelas 5 SDN Kelayan Dalam 5,” Qosim Jurnal Pendidikan Sosial dan Humaniora, vol. 3, no. 3, pp. 1–12, 2025.
[24] A. Nasution et al., “Strategi Pembelajaran Aktif Dalam Meningkatkan Partisipasi Siswa Di MIS Al Islam Kota Bengkulu,” Jurnal Kajian Ilmu Pendidikan, vol. 5, no. 4, pp. 925–929, 2024.
[25] L. Aufa, A. Sari, and L. Qadaria, “Menganalisis Metode Pembelajaran IPA Di Kelas IV Pada SD Al Ittihadiyah,” Jurnal Pendidikan dan Konseling, vol. 5, no. 1, 2023.
[26] A. S. Salim, Munzir, and Z. Rahmat, “Peran Guru Pendidikan Jasmani Terhadap Pembelajaran Kepramukaan Di SMAN 1 Baitussalam Aceh Besar,” Jurnal Ilmiah Mahasiswa, vol. 3, no. 1, 2022.
[27] R. O. Rahma and A. S. Pratikno, “Strategi Guru Dalam Menghadapi Perbedaan Gaya Belajar Siswa Kelas VI A UPTD SDN Kamal 2,” Guru Tua Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, vol. 7, no. 2, pp. 107–113, 2024.
[28] F. I. Himmah and N. Nugraheni, “Analisis Gaya Belajar Siswa Untuk Pembelajaran Berdiferensiasi,” Jurnal Riset Pendidikan Dasar, vol. 4, no. 1, pp. 31–40, 2023.
[29] L. Sitinjak, S. P. D. Hutagalung, and T. W. Widodo, “Proses Pembelajaran Teknik Melismatis Dalam Repertoar Messiah Karya George Frideric Handel Pada Mata Kuliah Ensambel Vokal,” Jurnal Seni Musik, vol. 9, no. 2, pp. 101–108, 2021.
[30] A. Kurniati, S. Yuniati, D. Rahmi, and R. Amelia, “Pendampingan Penilaian Dan Identifikasi Gaya Belajar Siswa Oleh Guru Pada Sekolah Menengah Atas Pekanbaru,” Jurnal Pengabdian Masyarakat Panacea, vol. 3, no. 1, pp. 11–17, 2025.
[31] I. Jayadi et al., “Meningkatkan Minat Belajar Anak Melalui Bimbingan Belajar Dengan Metode Pembelajaran AKSI,” Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA, vol. 5, no. 1, pp. 58–63, 2022.
[32] Syarifuddin and A. A. Adiansha, “Pendampingan Guru Melalui Lokakarya Pendidikan Guru Penggerak Dalam Pengembangan Budaya Positif Pembelajaran,” Bima Abdi Jurnal Pengabdian Masyarakat, vol. 3, no. 1, pp. 79–91, 2023.