Novia Ramadhani Budianingsih (1), Mahardika Darmawan Kusuma Wardana (2)
General Background: The implementation of the Merdeka Curriculum in Indonesia emphasizes character education through the Pancasila Student Profile Strengthening Project (P5) in elementary schools. Specific Background: Teaching modules function as key instructional tools that guide teachers in organizing project-based learning activities integrating collaboration, caring, and sharing values. Knowledge Gap: Empirical evidence describing how teachers practically implement these modules to cultivate mutual cooperation in real classroom contexts remains limited. Aims: This study analyzes the implementation of teacher teaching modules in the P5 mutual cooperation project at SDN Ketajen 1 using a qualitative case study. Results: Data from observation, interviews, and documentation indicate that learning activities were interactive, inspiring, enjoyable, challenging, and motivating, with high implementation scores across indicators, while small-group projects such as ecoprint facilitated communication, collaboration, empathy, and active participation, although some students remained passive. Novelty: The study provides a contextual description of module-based project learning that systematically integrates social character values through structured classroom practices. Implications: Findings offer practical guidance for teachers and schools to design student-centered modules and professional development programs that strengthen character formation and meaningful learning within elementary education.
Keywords: Teaching Modules, P5 Project, Mutual Cooperation, Character Education, Elementary School
Key Findings Highlights:
Small-group projects fostered peer support and shared responsibility
Classroom activities recorded consistently high implementation indicators above ninety percent
Structured lesson design encouraged initiative and independent problem solving
Penerapan Kurikulum Merdeka dinilai memiliki dampak baik yaitu lebih relevan dan interaktif dimana pembelajaran melalui kegiatan projek akan memberikan kesempatan yang lebih luas kepada peserta didik untuk secara aktif mengeksplorasi isu-isu aktual seperti lingkungan, kesehatan, dan isu-isu lain untuk pengembangan karakter dan kompetensi profil peserta didik Pancasila.[1] Profil peserta didik Pancasila adalah karakter dan kemampuan yang dibangun dalam keseharian dan dihidupkan dalam diri setiap individu peserta didik melalui budaya satuan pendidikan, pembelajaran intrakurikuler, projek penguatan profil peserta didik Pancasila, maupun ekstrakurikuler[2]. Profil peserta didik Pancasila merupakan perwujudan peserta didik Indonesia sebagai peserta didik sepanjang hayat yang memiliki enam kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Keenam dimensi tersebut adalah beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong-royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif.[3]
Dalam kurikulum merdeka, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia, Nadiem Anwar Makarim menyatakan bahwa penguatan pendidikan karakter peserta didik akan dimanifestasikan oleh Kemendikbudristek melalui berbagai strategi yang berpusat pada upaya untuk mewujudkan Peserta didik Pancasila [4]. Profil peserta didik Pancasila adalah profil lulusan yang diharapkan dengan tujuan untuk menunjukkan karakter dan kompetensi yang diharapkan dapat diraih oleh peserta didik.[5] Selain itu, profil peserta didik Pancasila juga untuk memperkuat peserta didik dengan nilai-nilai luhur Pancasila. “Peserta didik Indonesia merupakan peserta didik sepanjang hayat yang kompeten, berkarakter, dan berperilaku sesuai nilai-nilai Pancasila”. Hal ini senada dengan visi Pendidikan Indonesia yakni “mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Peserta didik Pancasila.” Pada profil Peserta didik Pancasila, kompetensi dan karakter yang akan didalami tertuang dalam enam dimensi kunci yakni (1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; (2) berkebhinekaan global; (3) bergotong royong; (4) mandiri; (5) bernalar kritis; (6) kreatif[6].
Dalam implementasi Kurikulum Merdeka, khususnya Proyek Penguatan Profil Peserta didik Pancasila (P5), modul ajar menjadi salah satu perangkat penting yang digunakan guru untuk merancang dan menjalankan proses pembelajaran. [7]Modul ajar merupakan dokumen atau bahan ajar yang memuat tujuan pembelajaran, langkah-langkah kegiatan, serta asesmen yang dirancang secara sistematis untuk mencapai kompetensi tertentu. Dalam konteks proyek P5, modul ajar tidak hanya berfungsi sebagai panduan teknis, tetapi juga sebagai media untuk menyampaikan nilai-nilai Pancasila melalui kegiatan yang kontekstual, kolaboratif, dan bermakna bagi peserta didik[8]. Oleh karena itu, modul ajar dalam proyek P5 harus disusun berdasarkan prinsip pembelajaran yang holistik, berpusat pada peserta didik, relevan dengan kehidupan nyata, serta mampu menumbuhkan pemikiran kritis dan kreativitas. Di sinilah peran guru menjadi sangat krusial. Guru tidak hanya sebagai pelaksana, tetapi juga sebagai perancang pembelajaran yang memiliki pemahaman mendalam tentang karakteristik peserta didik dan tujuan dari proyek yang dijalankan. Kemampuan guru dalam menyusun dan menerapkan modul ajar yang sesuai dengan prinsip P5 akan sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan proyek tersebut dalam membentuk karakter peserta didik sesuai dengan profil peserta didik Pancasila [9].
Menurut Pemendikbud No 16 Tahun 2022 tentang Standar Proses, bahwa untuk mengidentifikikasi pelaksanaan menggunakan indikator yakni; 1) interaktif, 2) inspiratif, 3) menyenangkan, 4) menantang, 5) memotivasi Peserta Didik untuk berpartisipasi aktif, dan 6) memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis Peserta Didik. Penerapan indikator ini bertujuan agar pembelajaran tidak hanya menekankan penguasaan materi, tetapi juga mengembangkan kompetensi, karakter, dan potensi peserta didik secara menyeluruh.
Meskipun Proyek Penguatan Profil Peserta didik Pancasila (P5) telah mulai diterapkan di berbagai satuan pendidikan, termasuk di jenjang Sekolah Dasar, implementasinya di lapangan masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu permasalahan utama adalah kesesuaian modul ajar yang digunakan guru dengan prinsip-prinsip P5 yang menekankan pembelajaran kontekstual, partisipatif, dan berbasis nilai[10]. Tidak semua guru memiliki pemahaman yang memadai mengenai bagaimana menyusun modul ajar yang tidak hanya memenuhi tuntutan administratif, tetapi juga mampu menanamkan nilai-nilai Pancasila secara nyata melalui aktivitas proyek[11]. Selain itu, keterampilan dalam merancang kegiatan pembelajaran berbasis proyek, mengelola waktu, serta melakukan asesmen autentik juga menjadi kendala tersendiri bagi sebagian guru[12]. Dalam praktiknya, masih dijumpai modul ajar yang bersifat teoritis dan kurang mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Hal ini tentu berdampak pada efektivitas penerapan proyek P5 dalam membentuk karakter peserta didik[13].Meskipun program ini telah berjalan selama beberapa tahun, kajian yang mendalam mengenai bagaimana guru menerapkan modul ajar dalam proyek P5, khususnya di jenjang Sekolah Dasar, masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penting untuk melakukan penelitian yang dapat memberikan gambaran nyata mengenai praktik guru dalam pelaksanaan modul ajar dalam konteks proyek P5.
Berdasarkan tantangan yang muncul, analisis mendalam diperlukan untuk mengkaji pelaksanaan modul ajar guru dalam proyek penguatan profil peserta didik Pancasila gotong royong di Sekolah Dasar.[14] Fokus penelitian ini tidak hanya pada pelaksanaan modul ajar oleh guru, tetapi juga pada penguatan dalam penanaman nilai-nilai Pancasila melalui proyek gotong royong. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana nilai kolaborasi, kepedulian, dan berbagi benar-benar tertanam dan diwujudkan dalam aktivitas proyek P5, serta bagaimana modul ajar mendukung proses tersebut. Hasil penelitian diharapkan memberikan gambaran nyata tentang penanaman nilai-nilai tersebut dalam aktivitas proyek, sekaligus menjadi bahan refleksi bagi guru dan masukan bagi pengambil kebijakan dalam meningkatkan kualitas modul ajar dan strategi pendampingan guru. Dengan demikian, penelitian ini sangat relevan dan strategis untuk memastikan pencapaian tujuan P5 dalam membentuk peserta didik berkarakter sesuai nilai-nilai Pancasila secara optimal melalui modul ajar yang tepat.[15]
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Tujuan dari pendekatan ini adalah untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana modul ajar diterapkan dalam mendukung pelaksanaan Proyek Penguatan Profil Peserta didik Pancasila (P5) Gotong Royong di Sekolah Dasar [16].
Menurut Sugiyono (2020), metode kualitatif adalah kegiatan penelitian yang dilakukan dengan mencari dan menyusun data secara sistematis. Data tersebut dapat diperoleh melalui wawancara, catatan lapangan, dan metode lain yang bertujuan agar data dapat diolah dalam bentuk sederhana, mudah dipahami, dan hasilnya dapat diinformasikan kepada pihak lain[17]. Bagian metode penelitian ini akan menjelaskan pendekatan, metode pengumpulan data, teknik analisis data, dan keabsahan data yang digunakan.
Subjek penelitian ini adalah tenaga pendidik atau guru kelas IV di SDN Ketajen 1. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi digunakan untuk mengamati langsung pelaksanaan proyek P5 di kelas/lapangan guna melihat sejauh mana nilai kolaborasi, kepedulian, dan berbagi tertanam serta terwujud dalam aktivitas proyek P5. Wawancara digunakan untuk menggali pengalaman, pemahaman, dan persepsi guru terkait pelaksanaan modul ajar dalam proyek P5. Teknik analisis data dilakukan berdasarkan model Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1994) yang melibatkan tiga tahapan: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan serta verifikasi.
Tabel 1. Pelaksanaan Modul Ajar P5 Gotong Royong berfungsi sebagai kerangka evaluasi untuk menilai efektivitas pelaksanaan pembelajaran di SDN Ketajen 1 dalam mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila, seperti kolaborasi, kepedulian, dan berbagi. Setiap indikator menjelaskan aspek-aspek penting dari pembelajaran yang perlu diperhatikan oleh guru, sehingga dapat membantu mereka merancang kegiatan yang lebih interaktif dan kolaboratif.
Untuk memastikan keabsahan data, penelitian ini menggunakan uji kredibilitas melalui triangulasi teknik. Triangulasi dilakukan dengan membandingkan data yang diperoleh dari observasi langsung terhadap subjek penelitian, wawancara semi-terstruktur dengan guru kelas di Sekolah Dasar yang menjadi lokasi penelitian (disertai dokumentasi), dan analisis dokumen terkait. Dalam proses pengumpulan data, peneliti menggunakan pedoman observasi dan daftar pertanyaan wawancara yang telah disiapkan sebelumnya.
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas serta observasi yang dilakukan di SDN Ketajen 1, diperoleh gambaran bahwa pelaksanaan pembelajaran tidak hanya berfokus pada penyampaian materi, tetapi juga diarahkan untuk menumbuhkan nilai kolaborasi, kepedulian, dan berbagi di antara peserta didik. Guru berperan sebagai fasilitator yang mengatur dinamika kelas melalui pembentukan kelompok kecil, pemberian proyek berbasis kerja sama, serta penciptaan suasana belajar yang menyenangkan dan inklusif. Temuan observasi menunjukkan bahwa peserta didik terlibat aktif dalam berbagi ide, membantu teman yang kesulitan, dan menampilkan hasil karya bersama. Dengan demikian, implementasi nilai-nilai kolaboratif dan kepedulian sosial tampak nyata dalam praktik sehari-hari di kelas.
Figure 1. Diagram 1. Presentase Pelaksanaan Modul Ajar P5 Gotong Royong
Hasil tersebut semakin diperkuat dengan temuan yang ditunjukkan pada Diagram 1, yaitu efektivitas pelaksanaan modul ajar dalam proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) tema gotong royong. Setiap indikator dinilai dengan skala 1–5 yang dikonversi ke skala 100%. Indikator “interaktif” memperoleh skor tertinggi (96%), yang menunjukkan bahwa strategi pembelajaran guru telah berhasil mendorong komunikasi dan kerja sama peserta didik secara efektif. Indikator lain seperti “inspiratif” (94%), “menyenangkan” (92%), dan “menantang” (90%) juga menunjukkan capaian yang tinggi. Hal ini selaras dengan praktik di kelas ketika guru merancang proyek yang menarik, misalnya ecoprint, yang memungkinkan peserta didik berkolaborasi, saling berbagi, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap teman sebaya. Suasana belajar yang positif dan menyenangkan terbukti mendorong antusiasme serta keterlibatan emosional peserta didik dalam kegiatan belajar.
Meskipun demikian, indikator “memotivasi partisipasi aktif” dan “memberikan ruang prakarsa” memperoleh skor sedikit lebih rendah, yaitu 86%. Hal ini menunjukkan bahwa belum semua peserta didik terlibat secara merata dalam kegiatan pembelajaran. Masih ditemukan beberapa peserta didik yang pasif dalam diskusi kelompok atau cenderung selektif dalam memilih teman berkolaborasi. Temuan ini mengindikasikan perlunya strategi yang lebih proaktif dan inovatif dari guru untuk membangun empati sosial, memperluas partisipasi, serta menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama.
Untuk memberikan gambaran lebih komprehensif, berikut disajikan tabel enam indikator utama beserta bentuk implementasinya berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang telah dilakukan.
Secara keseluruhan, terlihat bahwa pembelajaran dengan modul ajar P5 gotong royong di SDN Ketajen 1 telah terlaksana secara efektif pada sebagian besar indikator. Guru berhasil mengintegrasikan aspek interaktif, inspiratif, menyenangkan, dan menantang dalam pembelajaran. Namun demikian, masih diperlukan penguatan strategi agar semua peserta didik dapat termotivasi untuk berpartisipasi aktif serta memiliki ruang yang sama dalam mengembangkan prakarsa, kreativitas, dan kemandirian. Dengan demikian, pembelajaran ini memberikan kontribusi positif terhadap penguatan karakter sosial peserta didik sesuai dimensi Profil Pelajar Pancasila. Pada bagian berikutnya, masing-masing indikator akan diuraikan lebih rinci untuk menunjukkan bagaimana strategi guru diterapkan secara nyata dalam proses pembelajaran sehari-hari.
Interaktif dalam Membangun Kolaborasi
Wawancara dengan guru kelas di SDN Ketajen 1 menunjukkan bahwa pembelajaran interaktif dibangun melalui pembentukan kelompok kecil pada proyek P5 Gaya Hidup Berkelanjutan (ecoprint). Guru menegaskan bahwa kelompok kecil memudahkan komunikasi, mendorong keterlibatan setiap peserta didik, dan menciptakan kolaborasi yang efektif. Hal ini konsisten dengan temuan Nuha, Astriyani, Oktaviana, Fatmawati, Sari, dan Saputro, yang menyatakan bahwa diskusi kelompok kecil meningkatkan keaktifan dan partisipasi belajar peserta didik serta tanggung jawab peserta didik [18].
Observasi kegiatan ecoprint di kelas memperlihatkan bahwa peserta didik benar-benar berinteraksi aktif, berdiskusi dalam menentukan pola, saling berbagi alat, dan mendukung teman yang mengalami kesulitan. Suasana ini memperlihatkan dinamika belajar interaktif yang mendorong keterlibatan emosional peserta didik. Fenomena ini sesuai dengan hasil penelitian Dwiga Arsyitina dan Wahyu Sukartiningsih, yang menemukan bahwa metode pembelajaran interaktif meningkatkan interaksi sosial antar peserta didik, partisipasi tinggi, dan suasana belajar yang menyenangkan serta mendukung keterampilan berbicara dan ekspresi verbal peserta didik [19]
Dokumentasi Modul Ajar P5 juga menguatkan hasil tersebut. Modul didesain dengan tahapan diskusi perencanaan, pembagian peran, aksi kelompok, hingga presentasi hasil karya. Struktur ini menekankan interaksi tatap muka promotif yang saling mendukung pencapaian tujuan pembelajaran. Desain modul ini sejalan dengan temuan Afrijal Mahmud dan Syahrial (2024), yang menegaskan bahwa metode pembelajaran interaktif menumbuhkan interaksi antarguru, peserta didik, dan bahan ajar, serta mampu meningkatkan motivasi dan kreativitas peserta didik SD [20].
Dengan demikian, triangulasi hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi Modul Ajar P5 menunjukkan konsistensi bahwa pembelajaran interaktif berhasil membangun kolaborasi di kelas. Hal ini sejalan dengan oleh Halani Felda Sunbanu, Mawardi, dan Krisma Widi Wardani (2020), yang menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif Two Stay Two Stray secara signifikan meningkatkan keterampilan[21]. kolaborasi peserta didik dengan persentase peserta didik yang mampu berkolaborasi meningkat dari 42 % menjadi 84 % setelah dua siklus pembelajaran[21].
Inspirati f dalam Mendorong Kepedulian
Hasil wawancara dengan guru kelas di SDN Ketajen 1 menunjukkan bahwa strategi guru dalam menumbuhkan kepedulian peserta didik dilakukan dengan menjadi teladan melalui cerita pengalaman pribadi dan memberi apresiasi terbuka kepada peserta didik yang menunjukkan sikap empati. Guru menekankan bahwa penghargaan yang diberikan dapat menjadi inspirasi bagi peserta didik lain untuk meniru perilaku positif yang ditampilkan temannya. Hal ini sejalan dengan temuan Mustaghfiroh & Listyaningsih[22], yang menunjukkan bahwa teladan guru merupakan salah satu strategi penting sekolah dalam internalisasi nilai gotong royong melalui pembelajaran, habituasi, dan kegiatan berbasis kelas serta apresiasi informal.
Figure 2. Gambar 2. Peserta Didik Menunjukkan Kepedulian Dalam Tolong Menolong Di Suatu Kelompok
Temuan ini diperkuat oleh hasil observasi di kelas yang menunjukkan bahwa sikap kepedulian peserta didik muncul secara spontan dalam kerja kelompok. Beberapa peserta didik terlihat membantu teman yang kesulitan menata daun atau memukul kain pada proses ecoprint, bahkan ada yang dengan sukarela meminjamkan alat kepada kelompok lain. Berdasarkan Gambar 2, terlihat bagaimana peserta didik menunjukkan kepedulian melalui perilaku tolong-menolong dalam kelompok belajar, sehingga nilai gotong royong dapat terinternalisasi secara nyata dalam aktivitas pembelajaran. Temuan ini konsisten dengan penelitian Amalia & Indrakurniawan[23], yang menegaskan bahwa empati menjadi fondasi bagi berkembangnya perilaku prososial peserta didik dalam interaksi kelompok.
Dokumentasi Modul Ajar P5 juga memperlihatkan adanya penekanan pada dimensi Profil Pelajar Pancasila yang berkaitan dengan kepedulian dan gotong royong. Modul menuntut peserta didik untuk tidak hanya menghasilkan produk ecoprint, tetapi juga merefleksikan proses kolaboratif dan sikap peduli yang muncul selama kegiatan. Hal ini selaras dengan gagasan Lickona [36], yang menekankan bahwa pendidikan karakter tidak boleh berhenti pada ranah kognitif, tetapi harus mencakup pembentukan nilai moral dan sosial melalui praktik nyata di kelas.
Secara keseluruhan, triangulasi dari wawancara, observasi, dan dokumentasi Modul Ajar P5 membuktikan bahwa strategi guru berhasil menciptakan pembelajaran inspiratif yang mendorong kepedulian peserta didik. Guru berperan sebagai inspirator, peserta didik menunjukkan empati dalam interaksi nyata, dan modul memberikan kerangka sistematis untuk menumbuhkan nilai gotong royong. Dengan demikian, pembelajaran berbasis proyek tidak hanya meningkatkan keterampilan akademik, tetapi juga memperkuat karakter sosial peserta didik secara berkesinambungan.
Menyenangkan dalam Meningkatkan Berbagi
Berdasarkan hasil wawancara, guru kelas di SDN Ketajen 1 menegaskan bahwa suasana belajar yang menyenangkan menjadi salah satu kunci untuk menumbuhkan sikap berbagi pada peserta didik. Guru menyampaikan bahwa dengan pendekatan “santai tetapi serius,” peserta didik lebih mudah merasa nyaman, terbuka, dan terdorong untuk membagikan ide maupun pengalaman kepada teman sekelas. Guru juga secara rutin memberikan apresiasi sederhana, seperti pujian dan simbol penghargaan, untuk mendorong peserta didik agar tidak ragu dalam berbagi hasil karyanya. Strategi ini sejalan dengan Azkiya & Istiqomah[24], yang menunjukkan bahwa penerapan metode joyful learning secara signifikan meningkatkan motivasi belajar peserta didik dan menciptakan suasana belajar yang positif.
Figure 3. Gambar 3. Peserta Didik Menampilkan Hasil Karya Kelompok di Depan Kelas.
Observasi yang dilakukan selama proyek ecoprint memperlihatkan bagaimana suasana menyenangkan mendorong perilaku berbagi. Peserta didik terlihat antusias menukar bahan alami, saling membantu dalam proses pemukulan kain, hingga bersama-sama mengatur pola daun. Puncak dari kegiatan ini adalah ketika setiap kelompok diminta untuk menampilkan hasil karya di depan kelas. Berdasarkan Gambar 3, terlihat bagaimana peserta didik dengan penuh percaya diri mempresentasikan karya kelompoknya sambil disambut tepuk tangan teman-temannya. Situasi ini menunjukkan bahwa suasana belajar yang menyenangkan tidak hanya membangkitkan rasa bangga, tetapi juga memfasilitasi praktik berbagi ide, pengalaman, dan hasil kerja secara nyata. Kondisi ini sejalan dengan hasil studi tentang joyful learning[25], yang menjelaskan bahwa suasana kelas yang menyenangkan dan penuh kegembiraan membuat peserta didik merasa nyaman, tidak terbebani, dan lebih aktif dalam proses belajar.
Selain itu, dokumentasi Modul Ajar P5 tema Gaya Hidup Berkelanjutan juga memperlihatkan bahwa kegiatan presentasi kelompok merupakan bagian penting dari desain pembelajaran. Modul ini mengarahkan peserta didik untuk tidak hanya bekerja sama dalam menghasilkan karya, tetapi juga belajar menghargai hasil kelompok lain melalui kegiatan pameran kelas. Dengan adanya tahap ini, peserta didik didorong untuk lebih terbuka, saling menghargai, dan berbagi pengetahuan yang mereka peroleh. Strategi ini konsisten dengan temuan Taqwa et al.[26], yang menjelaskan bahwa penggunaan model joyful learning termasuk presentasi dan interaksi aktif memperkuat kompetensi sosial emosional peserta didik dan mempererat dinamika kelas positif.
Dengan demikian, triangulasi hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi Modul Ajar P5 membuktikan bahwa suasana belajar yang menyenangkan mampu meningkatkan sikap berbagi peserta didik. Guru yang memberikan apresiasi, peserta didik yang dengan antusias menampilkan karya, serta modul yang mendukung aktivitas berbagi melalui presentasi kelompok menunjukkan keterpaduan yang konsisten dalam menumbuhkan nilai gotong royong. Hal ini sekaligus membuktikan bahwa pembelajaran yang menyenangkan tidak hanya memperkuat keterampilan kognitif, tetapi juga menumbuhkan karakter sosial peserta didik sesuai dimensi Profil Pelajar Pancasila.
Suasana Belajar yang Menyenangkan
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas di SDN Ketajen 1, pembelajaran yang menantang diciptakan melalui pemberian tugas berbasis proyek yang menuntut peserta didik untuk berpikir kritis dan bekerja sama. Guru menjelaskan bahwa tantangan yang diberikan tidak hanya berupa target menghasilkan karya ecoprint, tetapi juga bagaimana peserta didik dapat menemukan solusi ketika menghadapi keterbatasan bahan dan alat. Guru menekankan bahwa tantangan ini bertujuan agar peserta didik belajar mencari alternatif, berani mencoba, serta mampu mengembangkan ide secara kreatif. Hal ini sejalan dengan pendapat Suyatno [35], yang menyatakan bahwa pembelajaran yang menantang dapat menstimulasi perkembangan kognitif peserta didik sekaligus melatih kemandirian belajar.
Figure 4. Gambar 4, Terlihat Peserta Didik Sedang Berdiskusi Serius Menyelesaikan Permasalahan Kelompok
Hasil observasi mendukung pernyataan guru tersebut. Saat kegiatan ecoprint berlangsung, beberapa kelompok menghadapi kesulitan karena bahan yang digunakan mudah rusak atau pola yang tidak sesuai harapan. Namun, peserta didik tampak antusias mencoba berbagai cara baru, seperti mengubah posisi daun atau memanfaatkan bahan cadangan. Suasana ini menunjukkan bahwa tantangan justru mendorong mereka lebih bersemangat untuk menyelesaikan tugas dengan kreativitas. Berdasarkan Gambar 4, terlihat peserta didik sedang berdiskusi serius menyelesaikan permasalahan kelompok, yang menunjukkan bahwa suasana belajar yang menantang dapat membentuk pola pikir problem-solving sekaligus meningkatkan kerja sama antar peserta didik. Hasil ini diperkuat oleh penelitian Fariza & Kusuma [27], yang menunjukkan bahwa implementasi model Pembelajaran Berbasis Proyek (PjBL) membantu peserta didik mengembangkan kreativitas dan keterampilan berpikir kritis serta kreatif, terutama saat mereka menghadapi keterbatasan bahan dan alat dalam menyelesaikan tugas.
Dokumentasi Modul Ajar P5 juga menunjukkan bahwa salah satu elemen penting dalam desain pembelajaran adalah pemberian tugas yang menantang secara kognitif maupun sosial. Modul mengatur alur kegiatan mulai dari tahap eksplorasi, perencanaan, pelaksanaan, hingga refleksi, yang semuanya menuntut peserta didik untuk mengasah keterampilan berpikir tingkat tinggi. Dengan adanya struktur ini, peserta didik tidak hanya ditantang untuk menghasilkan produk, tetapi juga dituntut untuk mempertanggungjawabkan proses dan kerja sama kelompok. Pendekatan ini sejalan dengan penelitian Haq[28], yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis proyek efektif dalam meningkatkan kreativitas, kemandirian, kemampuan berpikir kritis, pengambilan keputusan, serta pemecahan masalah peserta didik dalam konteks abad 21.
Dengan demikian, triangulasi hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi Modul Ajar P5 menunjukkan konsistensi bahwa suasana belajar yang menantang sangat penting dalam membentuk kemandirian dan daya juang peserta didik. Guru berperan menghadirkan tantangan yang relevan, peserta didik menunjukkan antusiasme dalam menghadapi kesulitan, dan modul mendukung dengan rancangan kegiatan yang menekankan eksplorasi serta problem-solving. Suasana belajar yang menantang ini bukan hanya membantu pencapaian akademik, tetapi juga memperkuat dimensi Profil Pelajar Pancasila yang menekankan kemandirian, gotong royong, dan kreativitas.
Memotivasi Peserta Didik untuk Berpatisipasi Aktif
Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas di SDN Ketajen 1, motivasi untuk membuat peserta didik berpartisipasi aktif diberikan melalui variasi metode belajar yang melibatkan semua peserta didik. Guru menjelaskan bahwa ia tidak hanya menggunakan ceramah, tetapi juga diskusi, kerja kelompok, permainan edukatif, serta presentasi karya. Guru menambahkan bahwa apresiasi berupa pujian, bintang penghargaan, atau sekadar pengakuan di depan teman-teman menjadi faktor penting dalam meningkatkan partisipasi peserta didik. Menurutnya, ketika peserta didik merasa dihargai, mereka lebih bersemangat untuk aktif. Hal ini sejalan dengan pendapat Sardiman [1], yang menyatakan bahwa motivasi merupakan pendorong utama timbulnya aktivitas belajar sehingga guru harus mampu menghadirkan rangsangan yang memacu keterlibatan peserta didik.
Figure 5. Gambar 5. Terlihat suasana Pembelajaran di kelas yang aktif
Observasi di kelas menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik terlibat aktif dalam diskusi kelompok maupun kegiatan praktik ecoprint. Mereka tampak antusias bertukar pendapat, berebut kesempatan untuk mencoba teknik baru, dan saling menyumbangkan ide. Guru secara aktif memfasilitasi dengan memberikan pertanyaan pemantik agar semua peserta didik berpartisipasi. Namun, tetap ditemukan sebagian kecil peserta didik yang cenderung pasif, hanya mengikuti tanpa banyak memberi kontribusi. Berdasarkan Gambar 5, terlihat suasana kelas saat peserta didik secara antusias mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan guru, yang menggambarkan betapa pentingnya strategi motivasi dalam menumbuhkan partisipasi aktif. Kondisi ini sejalan dengan penelitian Hamzah [34], yang menegaskan bahwa motivasi intrinsik maupun ekstrinsik sangat berpengaruh terhadap intensitas keterlibatan peserta didik dalam kegiatan belajar.
Dokumentasi Modul Ajar P5 juga memberikan landasan penting untuk mendorong partisipasi aktif. Modul secara eksplisit menekankan keterlibatan peserta didik melalui kegiatan eksplorasi, diskusi kelompok, praktik proyek, hingga presentasi hasil karya. Dengan adanya tahapan yang mengharuskan setiap peserta didik mengambil peran, peluang untuk terlibat aktif menjadi lebih besar. Modul ini juga mengakomodasi berbagai gaya belajar, sehingga peserta didik dengan kecenderungan visual, auditori, maupun kinestetik tetap dapat berpartisipasi sesuai minatnya. Pendekatan ini sesuai dengan penelitian Putri, Nawry, & Gusmaneli[29], yang menyatakan bahwa model pembelajaran aktif melalui diskusi kelompok, problem-based learning, dan peran peserta didik meningkatkan minat belajar dan partisipasi peserta didik secara signifikan.
Dengan demikian, hasil triangulasi wawancara, observasi, dan dokumentasi modul memperlihatkan bahwa partisipasi aktif peserta didik dapat dimaksimalkan ketika guru mampu menghadirkan motivasi yang tepat, suasana kelas mendukung interaksi, serta rancangan modul memberi ruang bagi setiap peserta didik untuk berkontribusi. Keaktifan ini bukan hanya meningkatkan hasil belajar, tetapi juga menumbuhkan sikap percaya diri, tanggung jawab, dan keterampilan sosial yang relevan dengan dimensi Profil Pelajar Pancasila.
M emberikan R uang y ang C ukup Bagi Prakarsa, Kreatif, Kemandirian, Sesuai d engan Bakat, Minat, d an Perkembangan Fisik s erta Psikologia Peserta Didik
Hasil wawancara dengan guru kelas di SDN Ketajen 1 menunjukkan bahwa ruang untuk prakarsa dan kreativitas diberikan dengan memberi keleluasaan kepada peserta didik dalam menentukan pola karya ecoprint, memilih bahan alami yang digunakan, serta merancang langkah kerja kelompok. Guru menekankan bahwa peserta didik tidak diarahkan untuk menghasilkan karya yang seragam, melainkan diberi kesempatan untuk mengekspresikan gagasan sesuai minat dan imajinasinya. Guru juga menambahkan bahwa pembagian peran dalam kelompok dimaksudkan agar setiap peserta didik belajar mandiri sekaligus bertanggung jawab terhadap tugas masing-masing. Hal ini sejalan dengan pendapat Ahmawati & Sari[30], yang menegaskan bahwa kreativitas peserta didik berkembang optimal ketika mereka diberi kebebasan untuk mencoba, bereksperimen, dan mengekspresikan ide secara mandiri.
Figure 6. Gambar 6, tampak peserta didik bereksperimen langsung dengan bahan alam berupa daun dan bunga
Observasi di kelas memperlihatkan bahwa peserta didik menunjukkan antusiasme tinggi ketika diberi kebebasan memilih bahan. Ada kelompok yang memilih daun berwarna cerah agar menghasilkan motif kontras, sementara kelompok lain bereksperimen dengan bunga atau daun bertekstur untuk menciptakan corak unik. Beberapa peserta didik bahkan mencoba teknik pemukulan dengan cara yang berbeda agar hasil karya lebih bervariasi. Berdasarkan Gambar 6, tampak peserta didik bereksperimen langsung dengan bahan alam berupa daun dan bunga untuk menciptakan karya ecoprint, yang menunjukkan keberanian mereka mengambil inisiatif sekaligus menyalurkan kreativitas. Temuan ini memperlihatkan bahwa ruang untuk prakarsa dan kreativitas mampu menumbuhkan rasa percaya diri sekaligus kemandirian belajar. Hal ini konsisten dengan pandangan Munandar [33], yang menyatakan bahwa kreativitas anak akan tumbuh dalam suasana belajar yang memberi kesempatan luas untuk bereksperimen dan berimajinasi.
Dokumentasi Modul Ajar P5 tema Gaya Hidup Berkelanjutan juga menggarisbawahi pentingnya prakarsa, kreativitas, dan kemandirian dalam proses belajar. Modul tidak hanya mengatur kegiatan teknis, tetapi memberi ruang eksplorasi sejak tahap perencanaan, di mana peserta didik diminta mencari ide berdasarkan lingkungan sekitar. Pada tahap pelaksanaan, peserta didik bebas mencoba teknik ecoprint sesuai rancangan kelompok, sementara pada tahap refleksi mereka menilai sendiri hasil karyanya. Dengan struktur ini, peserta didik belajar untuk mandiri, kreatif, sekaligus bertanggung jawab terhadap pilihan mereka. Pendekatan ini sejalan dengan pendapat Santoso, Aini, & Kurniawan[31], yang menekankan bahwa pembelajaran berbasis proyek memberi peluang luas untuk mengembangkan keterampilan abad 21, termasuk kreativitas, kolaborasi, dan kemandirian.
Dengan demikian, triangulasi dari hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi Modul Ajar P5 memperlihatkan bahwa memberikan ruang bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian mampu menumbuhkan potensi peserta didik secara menyeluruh. Peserta didik tidak hanya menghasilkan produk unik, tetapi juga belajar mengambil keputusan, berani mencoba ide baru, dan bertanggung jawab terhadap proses belajar. Kondisi ini mencerminkan nilai-nilai Profil Pelajar Pancasila, khususnya dimensi kemandirian, gotong royong, dan kreativitas, yang menjadi tujuan utama pembelajaran berbasis proyek di sekolah dasar.
Berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi Modul Ajar P5 Gaya Hidup Berkelanjutan di SDN Ketajen 1, dapat disimpulkan bahwa guru berhasil menciptakan pembelajaran yang interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi, serta memberi ruang bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian peserta didik. Pembelajaran interaktif tampak melalui kolaborasi dan komunikasi, inspiratif melalui kepedulian dan gotong royong, serta menyenangkan lewat kegiatan berbagi ide dan karya. Suasana menantang hadir lewat tugas proyek yang melatih berpikir kritis, sementara motivasi terlihat dari variasi metode yang mendorong partisipasi aktif. Ruang prakarsa dan kreativitas terwujud saat peserta didik bebas bereksperimen dengan ide dan bahan ecoprint.
Secara keseluruhan, modul ajar P5 terbukti efektif meningkatkan keterlibatan peserta didik sekaligus menumbuhkan nilai Profil Pelajar Pancasila, meskipun masih terdapat sebagian peserta didik yang pasif. Oleh karena itu, guru disarankan terus menggunakan pendekatan berbasis proyek dengan variasi strategi yang lebih inklusif, agar semua peserta didik terlibat aktif. Selain itu, penting bagi guru untuk mengembangkan inovasi pembelajaran yang memberi ruang lebih luas bagi kreativitas dan kemandirian, sehingga pembelajaran tidak hanya mendukung pencapaian akademik, tetapi juga membentuk peserta didik yang mandiri, peduli, kreatif, dan mampu bekerja sama sesuai tujuan utama pendidikan karakter di sekolah dasar.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung penelitian ini, khususnya Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar dan keluarga besar SDN Ketajen 1 yang bersedia menjadi kolaborator. Apresiasi juga disampaikan kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam setiap proses pengerjaan artikel ini, serta kepada teman-teman yang telah memberikan bantuan dan dukungan.
[1] D. Wahyudin et al., Kajian Akademik Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikbud, 2024.
[2] R. Kusmayanti, A. Hartoyo, and N. Siregar, “Penerapan Modul Ajar Matematika Menunjang Penguatan Profil Pelajar Pancasila Sekolah Penggerak SMP,” Journal of Education Research, vol. 4, no. 4, pp. 1684–1692, 2023.
[3] F. Afriatmei, M. Makki, and I. S. Jiwandono, “Pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila pada Tema Kearifan Lokal di Sekolah Dasar,” Jurnal Educatio FKIP UNMA, vol. 9, no. 3, pp. 1286–1292, 2023.
[4] M. Mery, M. Martono, S. Halidjah, and A. Hartoyo, “Sinergi Peserta Didik dalam Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila,” Jurnal Basicedu, vol. 6, no. 5, pp. 7840–7849, 2022.
[5] Y. A. Kuntadi, “Cendekia Pendidikan,” Cendekia Pendidikan, vol. 3, no. 6, pp. 101–112, 2024.
[6] Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan, Dimensi Elemen dan Subelemen Profil Pelajar Pancasila. Jakarta: Kemendikbudristek, 2022.
[7] Kemendikbudristek BSKAP, Panduan Implementasi Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kemendikbudristek, 2022.
[8] D. Hanafiah, B. Martati, and L. B. Mirnawati, “Nilai Karakter Gotong Royong dalam Pendidikan Pancasila,” Al-Madrasah Journal, vol. 7, no. 2, pp. 539–548, 2023.
[9] P. D. Melati and E. P. Rini, “Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka di SMA,” Edukatif Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 6, no. 4, pp. 2808–2819, 2024.
[10] S. P. Collins et al., Educational Research Methods. New York: Routledge, 2021.
[11] R. Wahyudi, S. Santosa, and S. Sumaryanti, “Pengaruh Kesiapan Guru Mengajar dan Lingkungan Belajar terhadap Pembelajaran,” Jurnal Pendidikan Ekonomi, vol. 2, no. 2, pp. 37–48, 2013.
[12] F. R. Sitorus and F. Ratnawati, “Tantangan Implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar,” Belaindika Journal, vol. 6, no. 1, pp. 16–23, 2024.
[13] H. Nafisah and Fitriani, “Tantangan dalam Penerapan Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar,” Jurnal Psikososial dan Pendidikan, vol. 1, no. 1, pp. 33–43, 2025.
[14] W. Putri and M. A. Kurniawan, “Peran Guru dalam Membentuk Karakter Peserta Didik,” Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 4, pp. 1–14, 2024.
[15] N. Mubin and S. Rizqi, “Project Market Day dalam P5 Tema Kewirausahaan,” Jurnal Penelitian Pendidikan Indonesia, vol. 2, no. 3, pp. 180–188, 2025.
[16] E. Septiani, Y. F. Putri, N. Atika, and K. Dewi, “Implementasi Dimensi Gotong Royong pada P5,” Jurnal Usia Dini, vol. 10, no. 2, pp. 107–118, 2024.
[17] Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, “Educational Case Study Research,” vol. 10, no. 16, pp. 267–273, 2024.
[18] Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2020.
[19] S. A. P. Nuha et al., “Metode Diskusi Kelompok Kecil terhadap Keaktifan Belajar,” Jurnal PENDAS Pendidikan Dasar, vol. 5, no. 1, pp. 9–14, 2023.
[20] D. Arsyitina and W. Sukartiningsih, “Metode Pembelajaran Interaktif pada Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 13, no. 9, pp. 2418–2433, 2025.
[21] A. Mahmud and Syahrial, “Analisis Metode Pembelajaran Interaktif untuk Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Sosial dan Konseling, vol. 2, no. 1, pp. 171–175, 2024.
[22] H. F. Sunbanu, M. Mawardi, and K. W. Wardani, “Two Stay Two Stray untuk Keterampilan Kolaborasi,” Jurnal Basicedu, vol. 3, no. 4, pp. 2037–2041, 2019.
[23] V. Mustaghfiroh and L. Listyaningsih, “Internalisasi Nilai Gotong Royong di Sekolah,” Kajian Moral dan Kewarganegaraan, vol. 11, no. 1, pp. 382–397, 2022.
[24] T. D. Amalia and M. Indrakurniawan, “Analisis Karakter Gotong Royong melalui P5,” Jurnal Papeda Pendidikan Dasar, vol. 6, no. 2, pp. 248–258, 2024.
[25] H. Azkiya and S. Istiqomah, “Joyful Learning dan Motivasi Belajar,” Jurnal Basicedu, vol. 9, no. 5, pp. 524–532, 2025.
[26] S. Utami, “Joyful Learning Teaching,” Likhitaprajna Journal, vol. 19, pp. 49–58, 2019.
[27] R. Taqwa et al., “Application of the Joyful Learning Model in Sociology Learning,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Profesi Guru, vol. 7, no. 3, pp. 486–496, 2024.
[28] N. A. Fariza and I. H. Kusuma, “Model Pembelajaran Berbasis Proyek untuk Kreativitas,” Pubmedia PTK Indonesia, vol. 1, no. 3, pp. 1–10, 2024.
[29] N. A. Rinai et al., “Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek,” Jurnal Pendidikan, vol. 1, no. 2, pp. 45–51, 2023.
[30] D. A. N. P. Peserta Didik, “Active Learning Strategy Study,” Jurnal Pendidikan, vol. 5, pp. 1202–1215, 2025.
[31] A. Pambudi, S. Suhartono, and T. S. Susiani, “Project Based Learning untuk Kreativitas Seni,” Kalam Cendekia, vol. 12, no. 1, 2024.
[32] G. P. Abdi and G. S. Airlanda, “Peningkatan Kreativitas Belajar melalui PjBL,” Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Indonesia, vol. 13, no. 2, pp. 139–146, 2023.
[33] U. Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta, 2009.
[34] B. Hamzah, Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara, 2019.
[35] Suyatno, Menjadi Guru Profesional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2018.
[36] T. Lickona, Educating for Character. New York: Bantam Books, 1991.