Login
Section Education

Teacher Social Competence and Parent Satisfaction Correlation in Primary Schools

Korelasi Antara Kompetensi Sosial Guru dan Kepuasan Orang Tua di Sekolah Dasar
Vol. 10 No. 1 (2025): June:

silvia putri ramadhani (1), ), Mahardika Darmawan Kusuma Wardana (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universita MUhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background: Teacher professionalism in primary education includes social competence that supports communication and collaboration with parents as key stakeholders. Specific Background: Classroom teachers are expected to interact effectively with families, yet parental satisfaction is often shaped by direct service experiences rather than internal professional practices. Knowledge Gap: Previous studies rarely examine the direct quantitative association between teachers’ social competence and parent satisfaction at the elementary level. Aims: This study analyzes the relationship between classroom teachers’ social competence and parents’ satisfaction in a public primary school context. Results: Using a quantitative correlational design with Spearman Rank analysis involving 15 parents and internal teacher assessments, the correlation coefficient was 0.280 (p = 0.285), indicating a positive but weak and statistically insignificant relationship. Descriptive findings show teachers demonstrate adequate communication, collaboration, and parental involvement, while satisfaction is primarily shaped by personal communication, attention to children, and classroom services. Novelty: The study provides direct measurement of the correlation between social competence dimensions and parental perceptions within a specific elementary school setting. Implications: Findings suggest that professional development should prioritize visible, parent-centered communication practices alongside internal collaboration to align teacher competence with stakeholder expectations.


Keywords :  Teacher Social Competence, Parent Satisfaction, Elementary School, Spearman Rank, Educational Service Quality


Key Findings Highlights:




  1. Parents reported high approval of classroom interaction and information clarity




  2. Professional networking participation remained limited among educators




  3. Statistical association between measured variables categorized as low



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Pendidikan memiliki peran yang sangat strategis dalam mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas,

mandiri, dan berkarakter. Keberhasilan proses pendidikan di sekolah dasar tidak hanya ditentukan oleh sistem kurikulum dan sarana prasarana, tetapi juga oleh kualitas dan kompetensi guru sebagai ujung tombak pelaksanaan pembelajaran. Dalam menjalankan tugas profesionalnya, guru dituntut tidak hanya menguasai materi ajar, tetapi juga mampu berinteraksi secara efektif dengan peserta didik, rekan sejawat, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, kompetensi sosial guru menjadi salah satu dimensi penting dalam penilaian kinerja dan efektivitas peran guru di sekolah.[2].

Kompetensi sosial guru merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam membangun hubungan yang

harmonis antara sekolah dan orang tua peserta didik. Kompetensi ini mencerminkan kemampuan guru dalam berinteraksi dan berkomunikasi secara efektif, empatik, dan profesional dengan berbagai pihak, terutama dengan orang tua siswa. Dalam praktiknya, guru yang memiliki kompetensi sosial yang tinggi akan mampu menciptakan hubungan

Copyright © Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. This preprint is protected by copyright held by Universitas Muhammadiyah Sidoarjo and is distributed under the Creative Commons Attribution License (CC BY). Users may share, distribute, or reproduce the work as long as the original author(s) and copyright holder are credited, and the preprint server is cited per academic standards.

Authors retain the right to publish their work in academic journals where copyright remains with them. Any use, distribution, or reproduction that does not comply with these terms is not permitted.

interpersonal yang positif, terbuka, dan mendukung terhadap proses pendidikan anak, baik di sekolah maupun di rumah.[3].

Menurut Peraturan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 2626/B/HK.04.01/2023, kompetensi sosial guru didefinisikan sebagai kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar. Kemampuan ini tidak hanya diterapkan dalam kegiatan pembelajaran di kelas, tetapi juga dalam kegiatan pengembangan diri dan kehidupan sosial di lingkungan sekolah maupun masyarakat.

Kompetensi sosial merupakan bagian dari empat kompetensi utama guru yang harus dimiliki sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Peraturan Direktur Jenderal GTK Nomor 2626 Tahun 2023ini secara eksplisit menegaskan bahwa kompetensi sosial guru mencakup: (1) Kolaborasi untuk peningkatan pembelajaran; (2) Keterlibatan orangtua/wali dan masyarakat dalam pembelajaran; (3) Keterlibatan dalam organisasi profesi dan jejaring yang lebih luas untuk peningkatan pembelajaran. Kompetensi sosial ini menjadi indikator utama dalam menciptakan suasana pembelajaran yang sehat, kolaboratif, dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.[4]

Guru yang memiliki kompetensi sosial yang baik akan mampu menjalin hubungan interpersonal yang sehat

dan profesional dengan seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan. Di lingkungan sekolah dasar, hal ini menjadi sangat penting karena peserta didik berada pada fase perkembangan yang membutuhkan perhatian emosional, keterlibatan sosial, dan komunikasi yang konstruktif. Guru tidak hanya bertugas mentransfer ilmu, tetapi juga berperan sebagai teladan dalam berinteraksi, memotivasi siswa, serta menjalin hubungan positif dengan orang tua sebagai mitra utama pendidikan. Kemampuan guru dalam membina komunikasi dua arah, mendengarkan aspirasi orang tua, serta membangun kerja sama dalam menangani permasalahan siswa adalah bentuk nyata dari penguasaan kompetensi sosial. [5].

Selain itu, dalam konteks pendidikan dasar, keterlibatan orang tua sangat menentukan keberhasilan belajar siswa. Orang tua tidak hanya berkepentingan terhadap hasil akademik anak, tetapi juga terhadap proses dan lingkungan belajar yang diciptakan oleh guru. Ketika guru mampu menjalin komunikasi yang positif, menyampaikan perkembangan anak secara terbuka, dan menunjukkan sikap peduli terhadap kebutuhan individual siswa, maka orang tua akan merasa dihargai dan dilibatkan. Hal ini akan meningkatkan kepuasan orang tua terhadap layanan pendidikan yang diberikan sekolah, khususnya melalui interaksi yang dibangun oleh guru. [6]

Kepuasan orang tua menjadi indikator penting dalam menilai kualitas layanan pendidikan dasar. Menurut Kotler dan Keller (2009), kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa yang muncul setelah seseorang membandingkan antara harapan dan hasil yang diterima. Dalam dunia pendidikan, orang tua memiliki ekspektasi terhadap kualitas komunikasi guru, kejelasan informasi mengenai perkembangan anak, kecepatan tanggapan atas keluhan, serta keterbukaan guru dalam menerima masukan. Kepuasan akan muncul jika realitas yang diterima orang tua sesuai atau bahkan melebihi harapan yang mereka miliki terhadap sekolah, terutama terhadap guru sebagai aktor utama proses pembelajaran. [7].

Orang tua yang merasa puas dengan interaksi dan pelayanan dari guru akan menunjukkan partisipasi aktif dalam kegiatan sekolah. Mereka akan lebih mudah diajak bekerja sama, hadir dalam rapat komite, mendampingi anak belajar di rumah, dan memberikan dukungan moral maupun material terhadap program-program sekolah. Sebaliknya, ketidakpuasan yang dirasakan orang tua akibat buruknya komunikasi atau rendahnya kepedulian guru akan berdampak negatif pada kepercayaan mereka terhadap sekolah. Hal ini juga bisa menghambat kemitraan antara rumah dan sekolah dalam mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.[8]

Penelitian sebelumnya menunjukkan adanya hubungan antara kompetensi guru dan kualitas pendidikan. Misalnya, Muslim (2018) menemukan pengaruh positif antara kompetensi guru dan pelayanan terhadap kepuasan orang tua di SMA Islam Hasmi Bogor. Selain itu, Khasanah et al. (2022) di Sleman menunjukkan bahwa pelibatan orang tua dan kompetensi sosial guru secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap prestasi akademik siswa. Temuan ini diperkuat oleh Murdiniah (2024), yang menemukan hubungan positif antara kompetensi sosial guru IPA dan perilaku sosial peserta didik. Meskipun demikian, sebagian besar penelitian tersebut belum secara spesifik menyoroti hubungan kuantitatif langsung antara kompetensi sosial guru kelas dengan tingkat kepuasan orang tua di jenjang sekolah dasar. Kesenjangan penelitian ini menunjukkan pentingnya studi lanjutan untuk mengisi celah tersebut. Di satu sisi, kompetensi sosial guru secara konsisten menunjukkan pengaruh signifikan terhadap kepuasan orang tua dan kualitas pendidikan di sekolah dasar. Di sisi lain, realitas di lapangan sering kali memperlihatkan ketidaksesuaian antara harapan orang tua dengan komunikasi yang diberikan guru.[9]

Guna menjembatani kesenjangan tersebut, penelitian ini mengidentifikasi keterbatasan studi yang secara spesifik menguji hubungan kuantitatif langsung antara kompetensi sosial guru kelas dengan tingkat kepuasan orang tua di sekolah dasar. Sebagian besar penelitian terdahulu cenderung membahas kompetensi sosial guru dan kepuasan orang tua secara terpisah, atau mengintegrasikannya dengan variabel lain tanpa fokus pada hubungan langsung antar keduanya. Oleh karena itu, penelitian ini secara eksplisit memfokuskan pada analisis hubungan langsung antara kompetensi sosial guru kelas dan kepuasan orang tua, menggunakan pendekatan kuantitatif yang dirancang untuk mengukur dimensi kompetensi sosial dan aspek kepuasan orang tua secara lebih rinci.[10]

Penelitian ini memiliki signifikansi tinggi bagi pengembangan profesional guru dan peningkatan mutu pendidikan. Hasil studi diharapkan dapat menjadi landasan empiris bagi pihak sekolah dan dinas pendidikan dalam merancang program pelatihan yang berorientasi pada peningkatan kompetensi sosial guru, khususnya dalam aspek komunikasi dan interaksi dengan orang tua. Peningkatan kepuasan orang tua, pada gilirannya, diyakini akan mendorong keterlibatan aktif mereka dalam mendukung proses belajar anak, memperkuat kepercayaan antara sekolah dan keluarga, serta menciptakan iklim belajar yang lebih kondusif.[11]

Urgensi penelitian ini sangat tinggi mengingat peran sentral guru kelas dalam pendidikan dasar dan pentingnya komunikasi efektif dengan orang tua sebagai bagian dari dukungan perkembangan siswa secara holistik. Kepuasan orang tua merupakan indikator keberhasilan pendidikan yang berdampak pada kepercayaan dan keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak. Dengan penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh bukti empiris yang kuat mengenai hubungan signifikan antara kompetensi sosial guru kelas dengan tingkat kepuasan orang tua di sekolah dasar, hingga menjadi dasar pengambilan kebijakan dan strategi peningkatan kualitas pendidikan. [12]

Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat hubungan yang signifikan antara kompetensi sosial guru kelas dengan tingkat kepuasan orang tua di sekolah dasar. Melalui analisis ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang pentingnya kompetensi sosial dalam membangun hubungan yang harmonis antara guru dan orang tua. Selain itu, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan rekomendasi yang konkret bagi pihak sekolah dalam meningkatkan kualitas kompetensi sosial guru agar lebih efektif dan responsif terhadap kebutuhan orang tua serta perkembangan siswa.

Metode

Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif yang bertujuan untuk mengukur hubungan antara kompetensi sosial guru dengan kepuasan orang tua di sekolah dasar. Menurut Salma (2021), metode penelitian kuantitatif memiliki beberapa tujuan, antara lain untuk mengembangkan model matematis dan membantu dalam menentukan desain penelitian.[13]

Terdapat dua variabel dalam penelitian ini yaitu variabel independent dan variabel dependen. Variabel independent dalam penelitian ini adalah Kompetensi sosial guru (X) yang termasuk data ordinal dan variabel dependen adalah kepuasan orang tua (Y) yang termasuk data ordinal.

Populasi dalam penelitian ini variabel kepuasan orang tua adalah seluruh orang tua siswa di SDN Sidoklumpuk. Namun, penelitian ini difokuskan pada orang tua siswa di tiga kelas, yaitukelas 1D, 2C, dan 3A Sdn Sidoklumpuk. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling "sacrified" atau yang lebih dikenal sebagai teknik sampling "purposive" atau "judgmental sampling" adalah teknik pengambilan sampel di mana peneliti secara sengaja memilih sampel berdasarkan kriteria atau pertimbangan tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Sedangkan populasi untuk variabel kompetensi sosial guru adalah seluruh guru yang berinteraksi secara langsung dan tidak langsung dengan walikelas 1D berjumlah 10 orang yang terdiri dari Guru TIK, Guru BIG, Guru Agama, Wali Kelas 1A/1B/1C, Guru Pramuka, Guru Mengaji,Kepala Sekolah, dan Tata Usaha (TU).

No Variabel Penelitian Jumlah Responden Sumber Responden Keterangan
1 Kepuasan Orang Tua 15 orang Orang tua siswa kelas1D = 8, 2C = 4, 3A = 3 SDN Sidoklumpuk Prioritas diberikan kepada orang tua yang memiliki pengalaman interaksi intensif dengan wali kelas (mis. orang tua siswa inklusif dan peserta program remedial).
2 Kompetensi Sosial Guru 10 orang Langsung : Guru OG, Guru BIG, Guru Agama, Wali Kelas 1A/1B/1C, Guru Pramuka, Guru Mengaji Tidak langsung : Kepala Sekolah, Tata Usaha (TU) Berinteraksi langsung dengan wali kelas maupun siswa dalam kegiatan belajar atau ekstrakurikuler Interaksi terjadi melalui kebijakan, administrasi, dan koordinasi, bukan dalam kegiatan belajar langsung
Table 1. Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Variabel Penelitian dan Sumber Data

Sampel orang tua diambil dengan stratified purposive sampling. Setiap kelas diperlakukan sebagai strata. Dari masing-masing kelas dipilih 5 orang tua, sehingga total responden orang tua berjumlah 15. Pemilihan 5 orang tua per kelas didasarkan pada pertimbangan bahwa tidak semua orang tua memiliki intensitas interaksi yang sama dengan wali kelas. Oleh karena itu, calon responden diprioritaskan pada orang tua yang memiliki intensitas komunikasi lebih tinggi dengan wali kelas.

Instrument penelitian ini, peneliti menetapkan beberapa indikator yang disusun berdasarkan kajian teori yang relevan. Indikator-indikator ini digunakan sebagai acuan dalam penyusunan instrumen penelitian yaitu angket. Dengan adanya indikator, pengukuran setiap variabel menjadi lebih terarah dan terukur secara sistematis. Tabel berikut menyajikan daftar indikator yang digunakan dalam penelitian ini beserta uraian masing-masing indikator sesuai dengan variabel yang dikaji.

Variabel Dimensi Indikator
Kompetensi sosial (Perdirjen GTK Nomor 2626 Tahun 2023 tentang Model Kompetensi Guru) Kolaborasi untuk peningkatan pembelajaran 1. 2. 3. Memahami fungsi kolaborasi untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Melakukan kolaborasi untuk peningkatan kualitas pembelajaran. Mengevaluasi strategi kolaborasi untuk peningkatan kualitas pembelajaran dan merancang perbaikannya
4. Berbagi praktik baik dengan rekan sejawat terkait strategi kolaborasi untuk peningkatan kualitas pembelajaran
5. Membimbing rekan sejawat dalam melakukan strategi kolaborasi untuk peningkatan kualitas pembelajaran
Keterlibatan orangtua/wali dan masyarakat dalam pembelajaran 1. 2. Memahami penting dan manfaat keterlibatan orang tua/wali dan masyarakat dalam pembelajaran Melibatkan orang tua/wali dan masyarakat dalam pembelajaran
3. Mengevaluasi pelibatan orang tua/wali dan masyarakat dalam pembelajaran serta merancang strategi pelibatan yang lebih efektif
4. Berkolaborasi dengan rekan sejawat terkait pelibatan orang tua/wali dan masyarakat yang efektif dalam pembelajaran
5. Membimbing rekan sejawat untuk dapat melibatkan orang tua/wali dan masyarakat secara efektif dalam pembelajaran
Keterlibatan dalam organisasi profesi dan jejaring yang lebih luas untuk peningkatan pembelajaran 1. 2. 3. Memahami pentingnya keterlibatan dalam organisasi profesi dan jejaring yang lebih luas untuk peningkatan kualitas pembelajaran peserta didik Berperan dalam organisasi profesi dan jejaring yang lebih luas untuk peningkatan kualitas pembelajaran peserta didik Mengevaluasi peran dalam organisasi profesi dan jejaring yang lebih luas untuk mengoptimalkan keterlibatan dalam peningkatan kualitas pembelajaran peserta didik
4. Berkolaborasi dengan rekan sejawat terkait peran yang optimal dalam organisasi profesi dan jejaring yang lebih luas untuk peningkatan kualitas pembelajaran peserta didik
5. Membimbing rekan sejawat untuk berperan lebih optimal di organisasi profesi dan jejaring yang lebih luas untuk peningkatan kualitas pembelajaran peserta didik
Table 2. Tabel 2. Instrumen kompetensi sosial guru
Variabel Dimensi Indikator
Kepuasan orang tua (Kotler, Philip, dan Kevin Lane Keller. 2009.) Senang Kesesuaian antara Harapan dan Hasil Pencapaian Tujuan atau Keberhasilan
Kecewa Ketidaksesuaian antara Harapan dan Hasil Penilaian Negatif terhadap Situasi atau Hasil
Table 3. Tabel 3. Instrumen kepuasan orang tua

Penelitian ini menggunakan analisis data kuantitatif, yang terdiri dari analisis inferensial yang dirancang untuk mengukur hubungan mengetahui hubungan antara kepuasan orang tua terhadap kompetensi sosial guru kelas.Prosedur penelitianini dilaksanakan melalui beberapa tahapan yang sistematis. Tahap pertama adalah penyusunan instrumen penelitian berupa angket berdasarkan indikator-indikator teoritis dari Perdirjen GTK dan teori kepuasan Kotler & Keller. Tahap kedua, instrumen diuji validitas dan reliabilitasnya untuk memastikan bahwa butir-butir pernyataan layak digunakan. Tahap ketiga, pengumpulan data dilakukan dengan membagikan angket kepada 15 orang tua siswa yang memiliki pengalaman interaksi intensif dengan wali kelas SDN Sidoklumpuk untuk variabel kepuasan dan 10 lembar penilaian kompetensi sosial kepada kepala sekolah serta guru sejawat untuk menilai kompetensi sosial guru. Tahap keempat, data yang diperoleh dianalisis menggunakan bantuan perangkat lunak SPSS versi 26. Tahap terakhir adalah pelaksanaan uji korelasi Spearman Rank guna mengetahui signifikansi hubungan antara kompetensi sosial guru dengan kepuasan orang tua.

Sebelum melakukan analisis utama, peneliti terlebih dahulu melakukan uji prasyarat guna memastikan kualitas instrumen penelitian. Uji prasyarat yang dimaksud meliputi uji validitas item totaldanuji reliabilitas. Uji validitas item total bertujuan untuk menilai sejauh mana setiap butir pernyataan dalam instrumen memiliki keterkaitan yang signifikan dengan skor totalnya, sehingga dapat diketahui butir mana yang valid untuk digunakan. Sementara itu, uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui konsistensi internal antar butir dalam instrumen dengan menggunakan rumus Cronbach’s Alpha.

Uji validitas dilakukan dengan menghitung korelasi antara skor setiap butir pernyataan pada angket dengan skor total keseluruhan butir. Dalam penelitian ini, jumlah responden sebanyak 15 orang, sehingga nilai r tabel pada taraf signifikansi 0,05 adalah sebesar 0,514. Butir pernyataan dinyatakan valid apabila nilai koefisien korelasi (r hitung) lebih besar atau sama dengan r tabel tersebut. Selanjutnya, uji reliabilitas dilakukan menggunakan rumus Cronbach’s Alpha. Instrumen dinyatakan reliabel apabila memiliki nilai koefisien alpha (α) ≥ 0,6, yang menunjukkan bahwa butir-butir dalam angket memiliki konsistensi internal yang baik dan jawaban responden relatif stabil. Berikut hasil uji reabilitas antara dua variabel tersebut

Figure 1. Tabel 4. Hasil uji reabilitas

Uji reliabilitas dilakukan untuk memastikan konsistensi instrumen penelitian, sehingga butir-butir pernyataan yang digunakan dapat dipercaya sebagai alat ukur. Uji ini menggunakan perhitungan Cronbach’s Alpha dengan bantuan program SPSS pada taraf signifikansi 5% (α = 0,05).

Hasil uji reabilitas ditunjukkan pada tabel 4. untuk variabel Kompetensi Sosial Guru, jumlah responden yang mengisi instrumen sebanyak 10 orang dengan total 15 butir pernyataan. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,596. Dari 15 butir pernyataan yang diujikan, terdapat 13 butir yang dinyatakan reliabel, sedangkan 2 butir lainnya gugur karena memiliki korelasi item-total di bawah nilai r tabel sebesar 0,361. Dengan demikian, 13 butir pernyataan yang reliabel tersebut dapat digunakan sebagai instrumen penelitian, karena nilai Cronbach’s Alpha sudah melebihi batas minimal reliabilitas sebesar 0,60 yang termasuk dalam kategori cukup reliabel (Ghozali, 2018).

Sementara itu, pada variabel Kepuasan Orang Tua, jumlah responden sebanyak 15 orang dengan total 21 butir pernyataan. Hasil analisis menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha sebesar 0,648. Dari 21 butir yang diuji, sebanyak 20 butir dinyatakan reliabel, sedangkan 1 butir gugur karena tidak memenuhi kriteria korelasi item-total. Dengan demikian, instrumen kepuasan orang tua dapat dinyatakan cukup reliabel dan layak digunakan dalam pengumpulan data penelitian.

Secara keseluruhan, kedua instrumen penelitian baik angket kompetensi sosial guru maupun angket kepuasan orang tua memiliki reliabilitas yang memadai, sehingga layak digunakan untuk mengukur variabel penelitian lebih lanjut.

koefisien reabilitas kriteria
>0,9 sangat reliabel
0,7 – 0,9 reliabel
0,4 – 0,7 cukup reliabel
0,2 – 0,4 kurang reliabel
< 0,2 tidak reliabel
Table 4. Tabel 5. Tingkat reabilitas

Sumber: imam ghozali (2018)

Setelah data dinyatakan valid dan reliabel, data dianalisis menggunakan analisis uji korelasi Spearman Rank

untuk mengukur hubungan antara kompetensi sosial guru (variabel bebas) dan kepuasan orang tua (variabel terikat). Hasil uji Spearman Rank digunakan untuk menyimpulkan kekuatan dan arah hubungan antara kedua variabel tersebut.

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis deskriptif dari data angket kepuasan, didapatkan gambaran yang komprehensif mengenai persepsi orang tua terhadap kompetensi sosial guru kelas. Analisis ini dihitung berdasarkan pemberian angket kepuasan terhadap kompetensi sosial guru dengan pilihan jawaban "Ya" yang menunjukkan kepuasan (pada dimensi 'Senang') dan jawaban "Tidak" yang menunjukkan kepuasan (pada dimensi 'Kecewa').

Dimensi kepuasan indikator Jumlah responden (ya) Jumlah responden (tidak) Presentase (%) ya Presentase tidak (tidak)
Senang Kesesuaian harapan dan hasil 12 3 80% 20%
Pencapaian tujuan/keberhasilan 14 1 93,3% 6,7%
Kecewa Ketidaksesuaian harapan dan hasil 2 13 13,3% 86,7%
Penilaian negatif terhadap hasil 3 12 20% 80%
Table 5. Tabel 9. Persentase Kepuasan Orang Tua terhadap Kompetensi Sosial Guru

Secara keseluruhan, tingkat kepuasan orang tua terhadap kompetensi sosial guru berada pada level yang tinggi. Hal ini ditunjukkan oleh persentase kumulatif total jawaban positif yang mencapai 85%. Angka ini mengindikasikan bahwa mayoritas orang tua memiliki pengalaman dan persepsi yang sangat positif terhadap interaksi sosial guru dengan mereka dan siswa. Sebaliknya, hanya 15% dari total respons yang menunjukkan adanya ketidakpuasan, yang mengonfirmasi bahwa pengalaman negatif relatif jarang terjadi. Analisis lebih rinci per dimensi kepuasan menunjukkan temuan sebagai berikut:

Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat kepuasan orang tua terhadap kompetensi sosial guru didominasi oleh dimensi positif. Dimensi "Senang – Pencapaian Tujuan/Keberhasilan" memperoleh persentase tertinggi, yakni 93,3%, yang mencerminkan bahwa orang tua sangat menghargai peran guru dalam membantu anak mencapai keberhasilan belajar. Hal ini terlihat dari indikator seperti penerapan metode mengajar yang mudah dipahami anak, kemampuan guru dalam menyesuaikan strategi pembelajaran sesuai kebutuhan, serta adanya diskusi yang efektif antara guru dan orang tua mengenai perkembangan peserta didik. Selanjutnya, dimensi "Senang – Kesesuaian Harapan dan Hasil" juga menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi, yakni 80%. Artinya, sebagian besar harapan orang tua terkait keterlibatan guru dalam mendukung proses belajar anak, kolaborasi dengan orang tua, serta transparansi dalam komunikasi pembelajaran telah terpenuhi dengan baik. Sebaliknya, pada dimensi negatif, yaitu "Kecewa – Ketidaksesuaian Harapan" dan "Kecewa – Penilaian Negatif", persentase yang muncul sangat rendah, masing-masing hanya 13,3% dan 20%. Rendahnya angka ini menegaskan bahwa mayoritas orang tua jarang mengalami ketidaksesuaian harapan dengan guru maupun memberikan penilaian negatif terhadap interaksi sosial yang dilakukan guru. Dengan kata lain, secara umum pengalaman orang tua dalam berinteraksi dengan guru cenderung positif dan sesuai dengan ekspektasi mereka.

Temuan deskriptif ini memberikan bukti yang kuat bahwa kompetensi sosial guru kelas di SDN Sidoklumpuk berada pada level yang sangat baik, terutama dalam hal kemampuan berinteraksi, berkolaborasi, dan memberikan dampak positif pada perkembangan siswa. Meskipun hasil uji korelasi (Spearman Rank) menunjukkan hubungan yang tidak signifikan secara statistik antara kedua variabel, data deskriptif ini secara jelas menunjukkan bahwa orang tua secara umum merasa sangat puas dengan interaksi mereka bersama guru. Persentase kepuasan yang tinggi ini dapat digunakan untuk mendukung argumen bahwa persepsi orang tua terhadap guru adalah positif, yang merupakan cerminan langsung dari kompetensi sosial guru yang efektif.

Selain data kepuasan orang tua, penelitian ini juga menggunakan instrumen penilaian internal yang melibatkan guru sejawat, kepala sekolah, dan pihak lain terkait. Instrumen berupa angket tertutup dengan jawaban

“Ya/Tidak” serta kolom keterangan untuk melengkapi data kualitatif.

Berdasarkan hasil penelitian, kompetensi sosial guru dapat dilihat dari tiga aspek utama. Pertama, pada aspek kolaborasi untuk peningkatan pembelajaran, guru telah menunjukkan pemahaman yang baik mengenai fungsi kolaborasi serta melaksanakan kerja sama dengan rekan sejawat, misalnya dalam penyusunan perangkat pembelajaran dan diskusi strategi remedial. Guru juga pernah berbagi praktik baik dalam menangani siswa inklusif. Namun, konsistensi dalam melakukan evaluasi strategi kolaborasi masih terbatas, dan guru belum menempati posisi sebagai pembimbing. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan kolaboratif guru berada pada level partisipasi, sehingga perlu ditingkatkan hingga ke tahap kepemimpinan kolaboratif agar dampaknya tidak hanya terbatas pada kelas, tetapi juga meluas ke lingkungan sekolah.

Kedua, pada aspek keterlibatan orang tua/wali dan masyarakat dalam pembelajaran, guru cukup aktif menjalin komunikasi dengan orang tua melalui diskusi perkembangan anak maupun pertemuan wali murid. Selain itu, guru juga melakukan evaluasi keterlibatan tersebut serta bekerja sama dengan guru lain dalam kegiatan yang melibatkan orang tua. Meskipun demikian, guru belum berperan sebagai pembimbing bagi rekan sejawat dalam mengembangkan sinergi dengan orang tua. Kondisi ini memperlihatkan bahwa keterlibatan guru dengan orang tua sudah berjalan baik, tetapi masih terbatas pada lingkup kelas yang diampu. Peran guru akan lebih optimal apabila dapat menjadi penggerak atau role model dalam membangun kemitraan antara sekolah dan orang tua.

Ketiga, pada aspek keterlibatan dalam organisasi profesi dan jejaring yang lebih luas, guru menunjukkan pemahaman tentang pentingnya berpartisipasi dalam organisasi profesi seperti Kelompok Kerja Guru (KKG) dan pernah mengikuti seminar maupun workshop. Akan tetapi, peran guru masih terbatas sebagai peserta, belum melakukan refleksi atas keterlibatannya, dan belum aktif berkolaborasi dengan jejaring profesi yang lebih luas. Temuan ini mengindikasikan bahwa kompetensi sosial guru dalam ranah profesional masih berada pada tahap awal, sehingga diperlukan peran aktif, refleksi kritis, serta kontribusi nyata agar kompetensi sosial dapat berkembang lebih optimal.

Secara keseluruhan temuan penelitian ini kompetensi sosial guru yang diteliti berada pada tingkat cukup baik, khususnya dalam aspek kolaborasi di tingkat kelas dan interaksi dengan orang tua. Guru yang diamati mampu menjalin komunikasi yang jelas, responsif, dan membangun hubungan positif dengan orang tua. Di tingkat kelas, guru terlibat aktif dalam penyusunan perangkat pembelajaran, diskusi strategi remedial, serta berbagi praktik baik terkait pengalaman menangani siswa inklusif. Hal ini menunjukkan bahwa guru memahami pentingnya kolaborasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, meskipun peran tersebut masih bersifat partisipatif dan belum mencapai tingkat kepemimpinan atau mentoring bagi rekan sejawat.

Penelitian dilakukan dengan analisis korelasi menggunakan teknik analisis Spearman rank untuk mengetahui hubungan antar variabel. Spearman rank digunakan ketika salah satu atau kedua variabel bersifat ordinal atau tidak memiliki distribusi normal. Teknik analisis ini digunakan untuk mengetahui sejauh mana hubungan antara kepuasan orang tua terhadap kompetensi sosial guru.

Berikut adalah tabel hasil uji dibawah ini.

Y X
Spearman's rho Y Correlation Coefficient 1.000 .280
Sig. (2-tailed) . .285
N 10 10
X Correlation Coefficient .280 1.000
Sig. (2-tailed) .285
N 10 10
Table 6. Tabel 7. Hasil uji Spearman Rank Correlations

**. Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed).

Berdasarkan hasil pengolahan data dengan SPSS versi 26 pada Tabel 7, diperoleh nilai koefisien korelasi (rs) sebesar 0,291 dengan nilai signifikansi (p) sebesar 0,285. Nilai rs = 0,280 menunjukkan adanya hubungan positif tetapi lemah antara kompetensi sosial guru kelas dengan kepuasan orang tua. Berdasarkan klasifikasi Sugiyono

(2017), korelasi pada rentang 0,20–0,399 termasuk kategori rendah. Artinya, peningkatan kompetensi sosial guru memang cenderung diikuti dengan peningkatan kepuasan orang tua, namun kekuatannya tidak terlalu besar. Tabel

8. Interpretasi r

koefisien korelasi (r) tingkat hubungan
0.00 – 0.199 sangat rendah
0.20 – 0.399 rendah
0.40 – 0.599 cukup
0.60 – 0.799 kuat
0.80 – 1.000 sangat kuat
Table 7.

Sumber : Sugiyono (2017)

Selain itu, nilai signifikansi p = 0,285 (> 0,05) menunjukkan bahwa hubungan tersebut tidak signifikan secara

statistik. Dengan demikian, hipotesis nol (H₀) yang menyatakan tidak terdapat hubungan antara kompetensi sosial guru dengan kepuasan orang tua diterima, sedangkan hipotesis alternatif (H₁) ditolak. Hal ini berarti hubungan yang ditemukan tidak cukup kuat untuk dapat digeneralisasikan ke seluruh populasi, sehingga kemungkinan besar perbedaan yang muncul dipengaruhi oleh faktor lain di luar kompetensi sosial guru. Selain uji korelasi, penelitian ini juga melakukan analisis deskriptif untuk menggambarkan persepsi orang tua terhadap kompetensi sosial guru berdasarkan hasil angket.

Secara deskriptif, hasil angket menunjukkan bahwa guru memiliki kompetensi sosial yang cukup baik, khususnya dalam hal komunikasi dengan orang tua dan keterlibatan di kelas. Namun, hal tersebut belum memberikan pengaruh langsung terhadap kepuasan orang tua. Orang tua lebih cenderung menilai kepuasan berdasarkan pengalaman nyata yang mereka rasakan, misalnya kejelasan informasi dari guru, perhatian terhadap kebutuhan anak, serta pelayanan di kelas. Sementara itu, aspek kompetensi sosial guru yang bersifat internal profesional seperti kolaborasi dengan sejawat, keterlibatan dalam organisasi profesi, atau jejaring eksternal tidak tampak langsung bagi orang tua sehingga tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap tingkat kepuasan mereka.tidak signifikannya hubungan statistik antara kedua variabel menunjukkan bahwa meskipun guru memiliki kompetensi sosial yang cukup baik, hal tersebut belum secara langsung berkorelasi dengan kepuasan orang tua. Perbedaan perspektif ini berpotensi menyebabkan adanya gap antara data kepuasan orang tua dan data kompetensi guru.

Terdapat beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Konsistensi guru dalam mengevaluasi strategi kolaborasi, refleksi terhadap praktik yang dijalankan, serta kontribusi dalam lingkup sekolah dan jejaring profesional eksternal masih perlu ditingkatkan. Misalnya, keterlibatan guru dalam kegiatan organisasi profesi atau jejaring profesional lebih sering bersifat sebagai peserta, tanpa evaluasi reflektif atau inisiatif untuk berbagi praktik terbaik dengan rekan sejawat. Keterbatasan ini kemungkinan menjadi salah satu penyebab tidaknya signifikansi hubungan antara kompetensi sosial guru dengan kepuasan orang tua, sebagaimana terlihat dari hasil uji Spearman Rank (r = 0,280; p = 0,285 > 0,05). Orang tua cenderung menilai aspek yang langsung mereka alami, seperti komunikasi, perhatian guru terhadap anak, dan pelayanan di kelas, sehingga kompetensi guru di lingkup internal profesional tidak selalu tercermin dalam persepsi kepuasan mereka.

Selain itu, ukuran sampel penelitian yang relatif kecil (N = 15 untuk orang tua dan N = 10 untuk kompetensi guru) juga menjadi keterbatasan yang dapat memengaruhi hasil uji statistik. Sampel yang terbatas menyebabkan kekuatan uji (statistical power) rendah sehingga kemungkinan hubungan yang sebenarnya ada tidak dapat terdeteksi secara signifikan. Hal ini sejalan dengan pandangan Sugiyono (2019) bahwa semakin kecil jumlah sampel, semakin tinggi kemungkinan hasil penelitian tidak mampu menggambarkan kondisi populasi secara utuh.

Hasil angket kepuasan orang tua juga menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua merasa puas dengan layanan dan interaksi yang diberikan guru kelas. Orang tua menilai guru mampu menyampaikan informasi tentang perkembangan anak secara jelas, memberikan perhatian yang sesuai terhadap kebutuhan siswa, dan mendorong partisipasi orang tua dalam kegiatan kelas. Interaksi guru dengan orang tua tidak hanya terjadi pada kegiatan rutin, tetapi juga kerap terjadi melalui sesi tambahan, seperti jam tambahan bagi anak inklusif dan anak remedial, di mana wali kelas berkomunikasi langsung dengan orang tua untuk membahas kemajuan belajar anak.

Meskipun demikian, masih terdapat harapan orang tua yang belum sepenuhnya terpenuhi, khususnya terkait keterlibatan guru dalam kegiatan strategis di tingkat sekolah. Kondisi ini menunjukkan bahwa kepuasan orang tua lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman langsung yang mereka rasakan, seperti komunikasi personal dan perhatian guru terhadap anak, dibandingkan aspek profesional internal guru yang kurang terlihat oleh mereka. Temuan ini sejalan dengan pandangan Kotler dan Keller (2009) yang menjelaskan bahwa kepuasan pelanggan dalam hal ini orang tua siswa akan muncul ketika layanan yang diterima sesuai dengan harapan atau bahkan melampauinya. Dengan demikian, aspek profesional internal guru, misalnya kolaborasi dengan sejawat atau keterlibatan dalam organisasi, tidak selalu berpengaruh secara langsung terhadap kepuasan orang tua. Selain itu, perlu dipahami bahwa kepuasan orang tua juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian ini, seperti lingkungan kelas, prestasi akademik anak, maupun ketersediaan fasilitas sekolah, yang turut membentuk persepsi mereka secara keseluruhan.

Penelitian Wati dan Santoso (2020) dengan judul "Hubungan Kompetensi Sosial Guru dengan Tingkat Kepuasan Orang Tua di Sekolah Menengah Pertama" juga menemukan kecenderungan serupa. Hasil penelitian mereka menegaskan bahwa kompetensi sosial guru yang meliputi kemampuan berkomunikasi efektif, sikap suportif, dan hubungan interpersonal memang berperan penting dalam menciptakan kepuasan orang tua terhadap proses pendidikan. Namun, meskipun data kuantitatif terkadang menunjukkan hubungan yang lemah atau tidak signifikan secara statistik, data kualitatif dan deskriptif memperlihatkan bahwa keterlibatan dan komunikasi guru dengan orang tua tetap memberikan dampak positif terhadap persepsi kepuasan orang tua. Penelitian ini juga menyoroti bahwa banyak faktor lain turut memengaruhi kepuasan orang tua, seperti prestasi akademik siswa, kualitas fasilitas sekolah, dan pengalaman langsung orang tua saat berinteraksi dengan guru, yang menjelaskan mengapa korelasi antara kompetensi sosial guru dan kepuasan orang tua tidak selalu kuat atau signifikan dalam beberapa kasus.

Temuan ini menekankan pentingnya penyelarasan antara pengembangan kompetensi guru dan persepsi orang tua. Guru perlu memastikan bahwa kemampuan sosial dan kolaboratif mereka diwujudkan dalam bentuk layanan nyata yang dapat dirasakan oleh orang tua, misalnya melalui komunikasi yang rutin dan jelas, umpan balik yang konstruktif mengenai perkembangan anak, keterlibatan orang tua dalam proses pembelajaran, serta tanggapan yang tepat terhadap kebutuhan khusus siswa. Strategi ini sejalan dengan prinsip Kotler & Keller (2009) tentang memenuhi dan bahkan melampaui harapan pelanggan, yang pada akhirnya akan meningkatkan kepuasan orang tua terhadap layanan pendidikan.

Selain itu, penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan profesional guru. Sekolah perlu merancang program pengembangan yang tidak hanya menekankan keterampilan kolaborasi dan peran internal profesional, tetapi juga kemampuan guru dalam memberikan layanan yang berdampak langsung terhadap kepuasan orang tua. Strategi pengukuran yang lebih holistik juga diperlukan, misalnya dengan memasukkan indikator kepuasan yang spesifik terkait interaksi guru dengan orang tua, sehingga hubungan antara kompetensi guru dan kepuasan orang tua dapat terlihat lebih jelas dan representatif.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa kompetensi sosial guru kelas di sekolah dasar berada pada kategori cukup baik, khususnya dalam aspek komunikasi dengan orang tua dan keterlibatan di kelas. Guru mampu menjalin komunikasi yang jelas, responsif, serta membangun hubungan positif dengan orang tua, dan terlibat aktif dalam penyusunan perangkat pembelajaran maupun penanganan siswa inklusif. Namun, hasil analisis korelasi Spearman Rank menunjukkan bahwa hubungan antara kompetensi sosial guru dan kepuasan orang tua bersifat lemah dan tidak signifikan secara statistik.

Temuan ini mengindikasikan bahwa kompetensi sosial guru yang tergolong cukup baik belum secara langsung berpengaruh terhadap tingkat kepuasan orang tua. Kepuasan orang tua lebih banyak dipengaruhi oleh pengalaman nyata yang mereka rasakan, seperti intensitas komunikasi personal, kejelasan informasi, perhatian terhadap kebutuhan anak, dan dukungan pembelajaran sehari-hari. Sebaliknya, dimensi kompetensi sosial guru yang lebih bersifat internal profesional, seperti kolaborasi dengan sejawat atau keterlibatan dalam organisasi profesi, relatif tidak teramati oleh orang tua sehingga tidak memberikan pengaruh berarti terhadap penilaian kepuasan mereka.

Dengan demikian, hasil penelitian ini menekankan pentingnya bagi sekolah untuk tidak hanya mengembangkan kompetensi sosial guru dalam lingkup profesional internal, tetapi juga mengarahkan penguatan kompetensi tersebut agar lebih nyata dirasakan oleh orang tua. Program pengembangan profesional yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas komunikasi efektif, keterlibatan orang tua, serta layanan pendidikan yang responsif perlu diprioritaskan, sehingga kehadiran kompetensi sosial guru dapat benar-benar berdampak pada kepuasan orang tua dan mendukung peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan

Ucapan Terima Kasih

Penulis menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan, bimbingan, serta kontribusi berharga dalam penyelesaian artikel ilmiah ini. Ucapan terima kasih secara khusus disampaikan kepada pembimbing akademik atas arahan, masukan konstruktif, dan kesabaran luar biasa yang diberikan sejak tahap perencanaan hingga penulisan akhir. Penulis juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh orang tua siswa kelas satu di SDN Sidoklumpuk yang telah bersedia menjadi responden dan memberikan data secara sukarela. Partisipasi mereka sangat krusial bagi keberhasilan penelitian ini. Tak lupa, penulis mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan sejawat di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo atas dukungan moral, diskusi yang membangun, dan lingkungan akademis yang suportif selama proses penyusunan artikel. Ucapan terima kasih yang paling dalam juga ditujukan kepada keluarga tercinta atas doa, dukungan moral dan material, serta pengertian yang tiada henti sepanjang proses penelitian ini. Segala dukungan tersebut menjadi kekuatan utama yang memotivasi penulis dalam menyelesaikan karya ilmiah ini dengan sebaik-baiknya.

References

[1] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2016.

[2] N. S. Lubis, “Pembentukan Akhlak Siswa di Madrasah: Kontribusi Lingkungan Sekolah, Kompetensi Guru, dan Mutu Pendidikan,” Jurnal Pendidikan Agama Islam Al-Thariqah, vol. 7, no. 1, pp. 137–156, 2022.

[3] F. Aini and Z. H. Ramadhan, “Peran Guru dalam Mengembangkan Nilai Etika dan Moral Peserta Didik Sekolah Dasar,” ELSE Elementary School Education Journal, vol. 8, no. 2, pp. 331–339, 2024.

[4] Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Model Kompetensi Guru. Jakarta: Kemendikbudristek, 2023.

[5] R. A. I. Monica, “Kompetensi Guru dalam Menggunakan Media Pembelajaran pada Pembelajaran Sastra,” Jurnal Membaca Bahasa dan Sastra Indonesia, vol. 6, pp. 139–148, 2021.

[6] L. S. Ramadhan, N. Nurhatatti, and K. Kamaludin, “Principal Adaptability in Fulfilling Leadership Competence,” Journal of Education, vol. 7, no. 2, pp. 8809–8816, 2024.

[7] R. Adolph, Educational Service Quality and Stakeholder Satisfaction. Jakarta: Prenada Media, 2016.

[8] Y. Yuningsih, E. Roseno, and Y. Silawati, “Social Competence of Teachers in Learning,” Edusociata Journal Pendidikan Sosiologi, vol. 6, no. 2, pp. 155–164, 2023.

[9] S. Murdiniah, “Hubungan Kompetensi Sosial Guru IPA dengan Perilaku Sosial Peserta Didik,” Edukimbiosis Journal, vol. 3, no. 1, pp. 43–57, 2024.

[10] M. Muslim, “Kompetensi Guru dan Pelayanan terhadap Kepuasan Orang Tua,” Islamic Management Journal, vol. 1, no. 1, pp. 44–69, 2018.

[11] A. Hawari, “Kompetensi Sosial Guru Profesional,” Hawari Jurnal Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam, vol. 1, no. 1, pp. 22–27, 2020.

[12] U. Khasanah, S. Yulaeha, and S. Aisyiah, “Parental Involvement and Teacher Social Competence toward Student Achievement,” Jurnal Kewarganegaraan, vol. 6, no. 3, pp. 5662–5672, 2022.

[13] A. S. Octavia and F. S. Utomo, “Spearman Rank Correlation Analysis to Assess Satisfaction with Study Locations,” Sistemasi, vol. 13, no. 5, p. 1972, 2024.

[14] I. A. Siregar and S. Ritonga, “Analisis Kompetensi Sosial Guru dan Keterlibatan Orang Tua,” Qalam lil Mubtadiin, vol. 2, no. 2, pp. 9–15, 2024.

[15] H. Hadi, “Kompetensi Guru dalam Perspektif Perundang-Undangan,” Inspiratif Pendidikan, vol. 9, no. 1, pp. 68–74, 2020.