Andi Priyo Utomo (1), Boy Isma Putra (2)
General Background: Musculoskeletal disorders are cumulative injuries in the musculoskeletal system commonly associated with prolonged non-ergonomic occupational activities, particularly in office environments. Specific Background: Administrative employees frequently perform tasks involving continuous computer usage for approximately seven hours daily, which may result in discomfort and postural strain. Knowledge Gap: Limited workplace-based assessments simultaneously examine overall body posture and office workstation conditions among administrative personnel in agricultural equipment companies. Aims: This study aims to evaluate administrative employee posture and workstation conditions at PT. XYZ through Rapid Entire Body Assessment and Rapid Office Strain Assessment supported by Nordic Body Map data. Results: Data from 15 respondents indicated predominant complaints in the waist, right elbow, and neck regions. The posture evaluation produced a score of 5, indicating a medium level requiring corrective action, while workstation evaluation also generated a score of 5, demonstrating a high level requiring immediate modification. Identified issues included non-adjustable chairs, suboptimal arm support, low monitor position, and prolonged task duration. Recommended interventions comprised periodic muscle stretching after two hours of screen activity, replacement of seating facilities with adjustable ergonomic chairs, establishment of standard operating procedures for external mouse utilization, and additional document storage facilities. Novelty: This study integrates multi-instrument ergonomic assessment to generate targeted intervention recommendations within an administrative office setting. Implications: The findings provide evidence-based ergonomic guidance for reducing musculoskeletal complaints and improving workplace comfort among office personnel.
Highlights:
Keywords: Musculoskeletal Disorders, Nordic Body Map, Rapid Entire Body Assessment, Rapid Office Strain Assessment, Office Ergonomics
Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan kerusakan pada sistem musculoskeletal yang menumpuk dan menyebabkan kelainan akibat trauma berulang sehingga menimbulkan keluhan rasa sakit pada otot. Ergonomi mempunyai peranan penting dalam mencegah MSDs. Perlu adanya identifikasi risiko keluhan otot untuk mengurangirisiko MSDs yang berakibat pada meningkatnya produktivitas kerja. Penilaian postur kerja dan identifikasi berbagai faktor risiko MSDs bermanfaat dalam mengembangkan dan menerapkan intervensi ergonomi di tempat kerja sebagai tindakan yang konservatif, tidak invasif, dan hemat biaya. Analisis sikap tubuh saat bekerja penting dilakukan dalam pencegahan risiko beban biomekanika berlebih[1]. PT. XYZ merupakan perusahaan yang bergerak di bidang alat pertanian, dalam operasionalnya perusaahan memiliki cukup banyak karyawan yang bekerja dalam kantor maupun di luar kantor, beberapa ada yang menggunakan alat bantu berupa komputer dalam menyelesaikan pekerjaannya. Dari beberapa departemen yang ada, departemen administrasi merupakan departemen yang mayoritasnya menggunakan komputer sebagai alat bantu utama dalam menyelesaikan pekerjaannya. Pegawai menggunakan komputer selama 7 jam per hari dengan 1 jam istirahat. Pada implementasinya, postur tubuh dan fasilitas kantor dari beberapa pegawai administrasi masih kurang ergonomi. Jika posisi kerja kurang ergonomi bisa menyebabkan beberapa keluhan sakit pada beberapa bagian tubuh pekerja dan pada penelitian ini dilakukan analisa menggunakan kuisioner Nordic Body Map pada pegawai administrasi yang didapatkan hasil sebanyak 47% responden mengalami sakit pada bagian pinggang, 40% sakit pada bagian kanan siku, 33% sakit pada bagian bawah leher, 27% sakit pada atas leher dan 27% sakit pada kanan bahu
Risiko yang terdapat pada aktifitas pekerjaan dengan penggunaan komputer disebabkan pekerja mengerjakan pekerjaan yang dalam durasi waktu yang cukup lama, dilakukan berulang-ulang dengan postur tubuh yang janggal dan tanpa didukung dengan lingkungan kerja yang sesuai[2]. Pekerjaan yang tidak ergonomi yang dilakukan secara terus menerus dapat mempengaruhi bentuk tubuh seseorang [3]. Kondisi tersebut berpotensi dapat menyebabkan pekerja merasa sakit atau tidak nyaman di beberapa bagian tubuh. Jika terus menerus mengabaikan posisi kerja yang tidak normal akan menyebabkan rasa tidak nyaman dan timbulnya penyakit akibat kerja, salah satunya adalah Musculoskeletal Disorders [2].
Ergonomi adalah ilmu yang menggunakan keahlian dan inovasi untuk menyesuaikan pekerjaan yang digunakan saat melakukan suatu aktivitas atau kemampuan dan keterbatasan manusia, baik berupa fisik maupun mental, sehingga kepuasan pribadi secara keseluruhan tampak lebih baik[4]. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam mengidentifikasi postur tubuh pegawai adalah metode Rapid Entire Body Assessment (REBA), yaitu metode yang menilai postur tubuh pekerja secara keseluruhan dalam melakukan aktivitas kerja [5]. Dengan menggunakan metode REBA, penyebab MSDs dapat diidentifikasi lebih lanjut sehingga dapat menjadi langkah awal untuk mengurangi kesalahan postur tubuh saat bekerja. Dalam fokus pegawai yang berinteraksi secara langsung dengan komputer metode Rapid Office Strain Assessment (ROSA) dapat diimplementasikan dalam mengindetifikasi dan menilai interaksi pegawai dengan perlatan kerja kantoran seperti komputer, mouse, keybord, dan kursi [6]. Metode ini adalah instrumen ergonomis stasiun kerja yang dirancang untuk menilai kantor komputer bekerja berdasarkan penilaian observasional yang menunjukkan tingkat keandalan, akurasi, dan validitas yang dapat diterima untuk tingkat tindakan yang ditugaskan untuk di tempat[7]. Dengan menggunakan metode ROSA, fasilitas atau workstation yang dapat menyebabkan kesalahan postur tubuh saat bekerja dapat diidentifikasi lebih lanjut sehingga perbaikan postur tubuh pada pekerja dapat lebih optimal. Pada penelitian Endow [8] melakukan penelitian pada proses penjemuran kopi menggunakan metode Nordic Body Map, dan didapatkan hasil dari kebanyakan hasil kuisoner merasakan sakit pada titik titik tertentu dan yang paling banyak dikeluhkan adalah pada bagian punggung. Pada penelitian Destiana[9] melakukan analisa ergonomi menggunakan metode ROSA pada penggunaan komputer saat perkuliahaan, didapatkan nilai akhir 2 yang berarti memiliki tingkat resiko bahaya yang rendah. Pada penelitian Aldy [10] melakukan analisa postur kerja di PT. Karunia Selaras Abadi dengan metode CMDQ, OWAS, dan REBA dan didapatkan hasil tingkat resiko tinggi, untuk mengatasi permasalahan tersebut dibuatlah alat bantu pencucian silinder guna mengurangi resiko cedera dan dapat meningkatkan produktifitas bagi para pekerja.
Tujuan dari penelitian ini yaitu menentukan skor-skor nilai postur tubuh pegawai administrasi dengan menggunakan metode REBA dan mengidentifikasi nilai kenyamanan postur pada workstation dengan menggunakan metode ROSA, sehingga didapatkan rekomendasi perbaikan yang efektif pada postur pegawai administrasi di PT. XYZ.
A. Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan di PT. XYZ yang bergerak dibidang alat pertanian, di Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia. Fokus penelitian berada pada pegawai administrasi, penelitian ini bertujuan untuk menganalisa postur tubuh dan memberikan rekomendasi perbaikan pada postur tubuh pegawai dalam melakukan pekerjaan. Penelitian ini berlangsung selama 6 bulan, dari September 2024 hingga Februari 2025. Untuk alur penelitian dapat dilihat pada gambar 1.
B. Pengambilan Data
Dalam penelitian ini, seluruh sumber data pada penelitian diperoleh dari dalam perusahaan khususnya pada departemen human resource. Jenis data yang digunakan pada penelitian ini meliputi data kuisoner, wawancara, dan observasi secara langsung. Untuk wawancara dan pengisian kuisoner dilakukan kepada 15 pegawai dari total populasi 42 pegawai administrasi dengan teknik sampling stratified sampling. Metode stratified random sampling merupakan metode penarikan sampel yang dilakukan dengan cara membagi populasi menjadi populasi yang lebih kecil, pembentukan harus sedemikian rupa sehingga setiap stratum homogen berdasarkan suatu atau beberapa kriteria tertentu,kemudian dari setiap stratum diambil sampel secara acak[11]. Data hasil wawancara dan kuisoner meliputi informasi mengenai keluhan gangguan otot pada postur kerja melalui tabel kuisoner nordic body map. Data hasil dari kuisoner akan dilanjutkan dengan metode rapid entire body assessment (REBA) untuk menilai postur kerja secara keseluruhan dan metode ROSA untuk menilai workstation pada bagian administrasi.
Gambar 1. Alur Penelitian
C. Nordic Body Map
Nordic Body Map merupakan salah satu bentuk kuesioner checklist ergonomic. Dengan dilakukannya pengukuran menggunakan instrument Nordic Body Map dapat dilakukan penilaian rasa sakit yang dikeluhkan dari serangkaian identifikasi yang dilakukan. Penggunaan kuisioner Nordic Body Map merupakan sesuatu yang umum digunakan dalam sebuah penelitian mengenai isu ergonomi yang bertujuan untuk mengetahui ketidaknyamanan kerja yang dialami oleh pekerja bersangkutan yang ada di lapangan [8]. Berikut ini merupakan tabel kuisoner Nordic Body Map
Tabel 1. Nordic Body Map [8]
D. Rapid Entire Body Assessment (REBA)
Rapid Entire Body Assessment (REBA) merupakan metode ergonomi yang digunakan untuk menilai postur tubuh karyawan secara menyeluruh, mencakup bagian leher, punggung, lengan, pergelangan tangan, hingga kaki, guna mendapatkan evaluasi yang akurat terhadap risiko postur kerja[10]. Metode Rapid Entire Body Assessment (REBA) bertujuan untuk menganalisis lebih lanjut dengan memberikan level atau tingkatan risiko kerja pada muskuloskeletal. Tingkat risiko cidera muskuloskeletal yang dialami oleh pekerja dalam melakukan pekerjaanya dapat diketahui dari level atau nilai tersebut[12]. Analisis REBA digunakan untuk menghitung dan mengevaluasi seluruh bagian tubuh manusia. Metode ini bertujuan untuk mengidentifikasi risiko cedera yang mungkin timbul akibat postur kerja, dengan fokus pada keterlibatan sistem otot dan rangka tubuh pekerja[13]. Empat tahap pada proses penilaian metode REBA, yaitu pengambilan data postur pekerja dengan menggunakan bantuan video atau foto, penentuan sudut-sudut bagian tubuh pekerja, penentuan berat benda yang diangka dan aktifitas pekerja, dan perhitungan nilai REBA untuk postur tersebut[5]. Berikut ini merupakan penentuan sudut pergerakan pekerja dihitung sesuai dengan Tabel 2.
Tabel 2. Range Pergerakan Anggota Tubuh [5], [14]
E. Rapid Office Strain Assesment (ROSA)
Rapid Office Strain Assessment (ROSA) adalah metode dalam ergonomi perkantoran yang dirancang untuk mengevaluasi risiko terkait aktivitas penggunaan komputer. Metode ini membantu menentukan tingkat kebutuhan akan perubahan berdasarkan keluhan atau ketidaknyamanan yang dilaporkan oleh pekerja[15]. Faktor-faktor risiko dalam penggunaan komputer diklasifikasikan ke dalam beberapa komponen seperti kursi, monitor, telepon, mouse, dan keyboard. Masing-masing faktor diberi skor dengan rentang nilai dari 1 hingga 3. Nilai akhir ROSA berada dalam kisaran 1 hingga 10. Jika skor akhir melebihi angka 5, maka kondisi tersebut dianggap memiliki risiko tinggi dan perlu dilakukan evaluasi lebih lanjut terhadap lingkungan kerja terkait[15]. Cara pengukuran ROSA terdapat 4 (empat) tahap prosedur, yaitu:[9], [16]
1. Melaksanakan observasi terhadap aktivitas kerja, termasuk memantau postur kerja, mengevaluasi kondisi fasilitas yang digunakan, serta mendokumentasikan dengan foto, video, dan melakukan penilaian terhadap area kerja.
2. Melakukan penilaian posisi perangkat kerja Penilaian dibagi menjadi 3 (tiga) bagian, yaitu:
a. Penilaian A, terdiri dari tinggi kursi, kedalaman dudukan kursi, sandaran tangan, dan posisi sandaran punggung.
b. Penilaian B, yaitu perangkat monitor dan telepon.
c. Penilaian C, yiatu perangkat mouse dan keyboard Setiap penyimpangan pada postur tubuh yang netral akan ditambahkan nilai 1 (satu) pada nilai disetiap bidang yang mengalami perubahan postur tubuh normal
3. Melakukan penilaian durasi kerja Mengukur durasi lamanya seorang pekerja berada pada posisi tersebut, ketentuan lamanya durasi tersebut terdapat pada tabel 3.
Tabel 3. Nilai Durasi ROSA[9], [16]
4. Proses penilaian skor akhir dilakukan dengan mencocokkan dua sub-bagian dari fasilitas kantor untuk memperoleh nilai keseluruhan pada setiap bagian. Nilai maksimum dari masing-masing bagian digunakan sebagai acuan pada sumbu horizontal dan vertikal untuk menentukan skor pada sub-bagian A, B, dan C yang kemudian dijadikan dasar dalam perhitungan skor akhir ROSA.
5. Hasil yang diperoleh dibandingkan dengan Acuan penilaian ROSA untuk mengetahui tingkat risiko yang terjadi
Tabel 4. Acuan Penilaian ROSA [9], [16]
A. Nordic Body Map
Nordic body map dilakukan pengisian kuisoner oleh 15 pegawai administrasi, sehingga didapatkan hasil sebagai berikut seperti tabel 5 di bawah ini:
Tabel 5. Hasil Kuisoner Nordic Body Map
Dari hasil kuisoner nordic body map di atas dapat dilihat bahwa skor tertinggi yang memiliki keluhan terbanyak terdapat pada bagian pinggang, dimana 6 dari 15 pegawai mengeluhkan cukup sakit dan 1 dari 15 pegawai mengeluhkan sakit pada pinggang saat bekerja, kemudian disusul dengan keluhan pada bagian kanan siku dengan perolehan skor sebanyak 6, dimana 6 dari 15 pegawai mengeluhkan sakit pada bagian kanan siku. Dari beberapa keluhan yang sudah didapatkan dari hasil kuisoner kepada pegawai administrasi, maka selanjutnya dilakukan analisa postur tubuh pegawai saat bekerja menggunakan metode REBA dan ROSA dengan tujuan mengatasi keluhan pada pegawai administrasi.
B. Rapid Entire Body Assessment (REBA)
Setelah didapatkan keluhan dari pegawai administrasi, selanjutnya akan dilakukan analisa postur kerja pegawai administrasi menggunakan metode REBA. Berikut hasil analisa menggunakan metode REBA pada pegawai administrasi dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 2. Postur Tubuh Pegawai Administrasi
Dari postur kerja pegawai administrasi pada gambar 1 didapatkan analisa metode REBA seperti pada tabel 6 di bawah ini.
Tabel 6. Keterangan Posisi Tubuh Bagian A
Dari penilaian posisi tubuh bagian A didapatkan hasil skor 2 untuk bagian leher, skor 3 untuk bagian punggung dan skor 3 untuk bagian kaki. Dimana hasil ini akan dilakukan analisa lebih lanjut melalui penilaian posisi tubuh bagian A dapat dilihat pada Tabel 7 di bawah ini.
Tabel 7. Penilaian Posisi Tubuh Bagian A
Dari penilaian tabel A di atas didapatkan skor postur tubuh pegawai administrasi bagian A sebesar 4, yang berarti memiliki tingkat resiko medium atau sedang. Dimana hasil ini akan dilakukan analisa lebih lanjut dengan bagian B pada metode REBA, hasil penilaian posisi tubuh bagian B dapat dilihat pada tabel 8 di bawah ini
.
Tabel 8. Keterangan Posisi Tubuh Bagian B
Dari penilaian posisi tubuh bagian B didapatkan hasil skor 2 untuk lengan atas, skor 1 untuk bagian lengan bawah dan skor 1 untuk Pergelangan. Dimana hasil ini akan dilakukan analisa lebih lanjut melalui penilaian menggunakan Tabel B pada metode REBA.
Tabel 9. Penilaian Postur Tubuh Bagian B
Dari penilaian tabel B di atas didapatkan skor postur tubuh pegawai administrasi bagian B sebesar 3, dimana hasil ini akan dilakukan analisa lebih lanjut dengan bagian C pada metode REBA, hasil penilaian bagian C dapat dilihat pada tabel 10 di bawah ini.
Tabel 10. Hasil Penilaian Metode REBA
Dari penilaian tabel C diketahui bahwa skor postur tubuh pegawai administrasi bagian A sebesar 4, yang berarti memiliki tingkat resiko medium atau sedang. Sedangkan skor postur tubuh pegawai administrasi bagian B sebesar 3, yang berarti bagian tubuh memiliki resiko tingan ringan. Dari hasil penilaian bagian tubuh A dan bagian tubuh B dikonversikan ke tabel C secara vertikal maupun horizontal yang menghasilkan skor table C untuk postur tubuh pegawai administrasi sebesar 4, yang berarti memiliki tingkat resiko medium atau sedang. Kemudian hasil ini akan ditambahkan dengan activity score (+1, pengerjaan berulang selama 7 jam), maka didapatkan hasil skor akhir metode REBA sebesar 5 yang artinya postur ini memiliki tingkat resiko medium sehingga perlu dilakukan analisa dan perbaikan dalam waktu dekat.
C. Rapid Office Strain Assesment (ROSA)
Setelah dilakukan analisa menggunakan metode REBA, selanjutnya dilakukan analisa menggunakan metode ROSA pada workstation pegawai administrasi. Berikut ini merupakan hasil analisa menggunakan metode ROSA dapat dilihat pada tabel 11 di bawah ini.
Tabel 11. Skor Bagian Dudukan Kursi.
Dari hasil analisa pada bagian dudukan kursi yang digunakan oleh pegawai administrasi didapatkan hasil sebesar 5, dimana hasil ini akan digunakan untuk analisa lebih lanjut dengan bagian penyangga punggung dan penyangga tangan. Berikut merupakan hasil analisa pada bagian penyangga tangan dan sandaran, seperti yang terlihat pada tabel 12 di bawah ini.
Tabel 12. Skor Bagian Penyangga Tangan dan Sandaran.
Dari hasil analisa pada bagian penyangga tangan dan sandaran yang digunakan oleh pegawai administrasi didapatkan hasil sebesar 5, dimana hasil ini akan digunakan untuk analisa lebih lanjut dengan bagian dudukan kursi pada tabel acuan A. Berikut merupakan hasil analisa pada bagian dudukan kursi dengan penyangga tangan dan sandaran pada tabel acuan A, seperti yang terlihat pada tabel 13 di bawah ini.
Tabel 13. Section A Metode ROSA
Dari hasil analisa pada tabel section A didapatkan nilai sebesar 4, kemudian dilakukan penambahan dengan nilai acuan durasi sebesar +1 (Jika bekerja terus menerus lebih dari 1 jam atau lebih dari 4 jam perhari, maka skor total section +1), sehingga didapatkan nilai akhir pada section A sebesar 5.
Setelah dilakukan analisa pada section A, kemudian dilakukan analisa pada section B (bagian monitor dan telepon), berikut ini merupakan hasil analisa pada section B terlihat pada tabel 14 di bawah ini.
Tabel 14. Skor Bagian Monitor dan Telepon.
Setelah didapatkan hasil penilaian pada monitor dan telepon, hasil penilaian akan digunakan pada tabel section B, berikut merupakan hasil penilaian section B dapat dilihat pada tabel 15 di bawah ini.
Tabel 15. Section B Metode ROSA
Dari hasil analisa pada tabel section B didapatkan nilai sebesar 3, dimana hasil tersebut akan digunakan untuk melakukan penilaian pada section berikutnya. Berikut ini merupakan hasil penilaian pada section C (mouse dan keyboard) dapat dilihat pada tabel 16 di bawah ini.
Tabel 16. Skor Bagian Mouse dan Keyboard.
Setelah didapatkan hasil penilaian mouse dan keyboard, selanjutnya hasil akan digunakan pada tabel section C seperti yang terlihat pada tabel 17 di bawah ini.
Tabel 17. Section C Metode ROSA
Dari hasil analisa pada tabel section C didapatkan nilai sebesar 2, dimana hasil tersebut akan digunakan untuk melakukan penilaian pada section berikutnya. Berikut ini merupakan hasil penilaian pada section monitor and peripheral dapat dilihat pada tabel 18 di bawah ini
Tabel 18. Section Monitor and Peripheral.
Dari hasil analisa pada tabel section monitor and peripheral didapatkan nilai sebesar 3, dimana hasil tersebut akan digunakan untuk melakukan penilaian pada final score pada metode ROSA. Berikut ini merupakan hasil penilaian final score pada metode ROSA dapat dilihat pada tabel 19 di bawah ini.
Tabel 19. Final Score Metode ROSA.
Dari hasil analisa pada tabel final score didapatkan nilai sebesar 5 pada penilaian menggunakan metode ROSA, yang artinya pada fasilitas kerja pegawai administrasi memiliki tingkat resiko yang tinggi, sehingga diperlukan analisa lebih lanjut dan perubahan dibutuhkan segera.
D. Rekomendasi Perbaikan
Berdasarkan wawancara secara langsung kepada pegawai dan penelitian terdahulu, untuk mengurangi nilai risiko dengan penilaian metode REBA dan metode ROSA, maka rekomendasi perbaikan yang dapat dilakukan yaitu:
1, Dianjurkan untuk melakukan peregangan otot setelah 2 jam penggunaan komputer[9], [17].
2. Mengganti kursi yang memilki sandaran tangan untuk merilekskan siku dan tangan[18].
3. Mengganti kursi dengan kursi yang dapat diatur ketinggian dudukan serta sandarannya, agar dapat menyesuaikan penggunanya[19], [20].
4. Pembuatan Standar Operasional Prosedur penggunakan mouse saat bekerja menggunakan komputer, agar pergelangan tangan lebih rileks dalam bekerja.
5. Menambah tempat penyimpanan dokumen, agar lebih mudah dalam melakukan pekerjaan[16]
Berdasarkan hasil penelitian dan pengolahan data yang telah dilakukan di perusahaan yang bergerak di bidang pertanian, dapat disimpulkan bahwa, dari hasil penilaian dan analisa menggunakan metode Rapid Entire Body Assessment (REBA) didapatkan skor akhir sebesar 5 yang artinya postur ini memiliki tingkat resiko medium atau sedang sehingga perlu dilakukan analisa dan perbaikan dalam waktu dekat. Dengan menggunakan metode Rapid Office Strain Assesment (ROSA) didapatkan nilai akhir 5 yang artinya pada fasilitas kerja pegawai administrasi memiliki tingkat resiko yang tinggi, sehingga diperlukan analisa lebih lanjut dan perubahan dibutuhkan segera. Dari hasil penilaian menggunakan metode REBA dan metode ROSA, disimpulkan perlu dilakukan perbaikan segera pada postur maupun fasilitas kerja pegawai administrasi, sehingga didapatkan rekomendasi pebaikan, yaitu:
Dianjurkan untuk melakukan peregangan otot setelah 2 jam penggunaan komputer[9], [17].
Mengganti kursi yang memilki sandaran tangan untuk merilekskan siku dan tangan[18].
Mengganti kursi dengan kursi yang dapat diatur ketinggian dudukan serta sandarannya, agar dapat menyesuaikan penggunanya[19], [20].
Pembuatan Standar Operasional Prosedur penggunakan mouse saat bekerja menggunakan komputer, agar pergelangan tangan lebih rileks dalam bekerja.
Menambah tempat penyimpanan dokumen, agar lebih mudah dalam melakukan pekerjaan[16].
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) serta perusahaan PT. XYZ atas dukungan yang diberikan dalam penelitian ini.
M. I. Adelino, Susriyati, and M. Irwan, “Evaluasi Risiko Postur Kerja Pegawai Administrasi Menggunakan Metode SNQ dan ROSA di CV. Rempah Sari,” J. Teknol., vol. 13, no. 1, pp. 33–38, Jun. 2023, doi: 10.35134/jitekin.v13i1.90.
T. Pramono, A. M. Sayuti, M. R. Gaffar, and R. A. Puspitaningrum, “Penilaian Risiko Ergonomi Pada Lingkungan Kerja Perkantoran Menggunakan Metode Rapid Office Strain Assessment (ROSA),” J. Pendidik. Adm. Perkantoran JPAP, vol. 10, no. 3, pp. 246–255, Dec. 2022, doi: 10.26740/jpap.v10n3.p246-255.
Putra, Boy Isma dan Ribangun Bamban Jakaria, Buku Ajar Analisa Dan Perancangan Sistem Kerja. Umsida Press, 2020. doi: 10.21070/2020/978-623-6081-01-3.
Prayoga Dwi Firmansyah and Boy Isma Putra, “Analysis of Body Posture and Mental Workload in Production Operators Using the Rapit Entire Body Assesment and Modifiet Cooper Harper Methods,” INOVTEK Polbeng - Seri Inform., vol. 9, no. 2, pp. 488–499, Nov. 2024, doi: 10.35314/jydtgg04.
M. O. Jehanus and D. Y. Irawati, “Analisis Postur Kerja Bagian Perakitan Dan Pengemasan Berdasarkan Metode REBA,” vol. 2, no. 2, 2024.
A. D. Prabaswari, M. R. Suryoputro, and B. W. Utomo, “Analisis Postur Kerja pada Perusahaan yang Bergerak Bidang Pemeriksaan, Pengawasan, Pengujian, dan Pengkajian,” J. PASTI, vol. 14, no. 2, p. 181, Nov. 2020, doi: 10.22441/pasti.2020.v14i2.008.
A. F. F. Musyaffa and R. Rusindiyanto, “Analisis Postur Kerja Terhadap Kesehatan dan Keselamatan Kerja dengan Metode Rosa (Rapid Office Strain Assesment) di PT Angkasa Pura 1 Juanda Surabaya,” Ekon. J. Econ. Bus., vol. 8, no. 1, p. 47, Mar. 2024, doi: 10.33087/ekonomis.v8i1.1139.
E. B. T. Atmojo, “ANALISIS NORDIC BODY MAP TERHADAP PROSES PEKERJAAN PENJEMURAN KOPI OLEH PETANI KOPI,” vol. 3, no. 1, 2020.
D. Putri and M. K. Hidayat, “Analisis Pengukuran Ergonomi Metode ROSA Saat Perkuliahan Daring,” IMTechno J. Ind. Manag. Technol., vol. 3, no. 2, pp. 115–120, Jul. 2022, doi: 10.31294/imtechno.v3i2.1257.
A. T. Andriansyah and B. I. Putra, “Analisa Postur Kerja di PT. Karunia Selaras Abadi dengan Metode CMDQ, OWAS dan REBA,” J. Optim., vol. 9, no. 2, p. 182, Oct. 2023, doi: 10.35308/jopt.v9i2.8450.
P. Azora, “ANALISIS QUICK COUNT DENGAN MENGGUNAKAN METODE STRATIFIED RANDOM SAMPLING STUDI KASUS PEMILU GUBERNUR KALIMANTAN BARAT 2018”. J. Buletin Ilmiah Mat. Stat. dan Terapannya. Vol.10, No.01 2021, pp 43-50.
H. Damayanti, R. Handayani, D. Situngkir, and S. Wijayanto, “GAMBARAN TINGKAT RISIKO MUSCULOSKELETAL DISORDERS (MSDs) DENGAN METODE REBA PADA PEKERJA OPERATOR DEPARTEMEN V-BELT,” J. Health Sci. Gorontalo J. Health Sci. Community, vol. 8, no. 3, pp. 113–127, Jul. 2024, doi: 10.35971/gojhes.v8i3.26331.
I. D. Setyowati and B. I. Putra, “Workload Risk Analysis of the Optimal Packing Division Using RWL, REBA, and OCRA Methods on Musculoskeletal Disorders,” Procedia Eng. Life Sci., vol. 2, no. 2, Jan. 2023, doi: 10.21070/pels.v2i2.1327.
Fatimah, “Penentuan Tingkat Resiko Kerja Dengan Menggunakan Score Reba,” Ind. Eng. J., vol. 01, pp. 25–29, 2022.
S. T. Simanjuntak and N. Susanto, “ANALISIS POSTUR PEKERJA UNTUK MENGETAHUI TINGKAT RISIKO KERJA DENGAN METODE ROSA (STUDI KASUS : KANTOR PUSAT PT PERTAMINA EP)”.
Novan Arif Rajani and Eri Achiraeniwati, “Perancangan Fasilitas Kerja pada Departemen Marketing melalui Pendekatan Metode ROSA (Rapid Office Strain Assessment) dan Antropometri pada PT. Bumi Tama Sari,” Bdg. Conf. Ser. Ind. Eng. Sci., vol. 4, no. 2, pp. 932–943, Aug. 2024, doi: 10.29313/bcsies.v4i2.15150.
M. R. Armanda and Sukanta, “Penilaian risiko postur pekerja di PT. TAM dengan metode rapid upper limb assessment,” JENIUS J. Terap. Tek. Ind., vol. 4, no. 1, pp. 142–154, May 2023, doi: 10.37373/jenius.v4i1.523.
Y. Mauluddin and C. A. Maessa, “Pengaruh Postur Tubuh Saat Belajar Online Terhadap Keluhan Muskuloskeletal,” J. Kalibr., vol. 19, no. 2, pp. 118–129, Apr. 2022, doi: 10.33364/kalibrasi/v.19-2.1097.
M. Wicaksono and Lobes Herdiman, “Penilaian Postur Kerja Operator pada Proses Polishing Dies Menggunakan Metode Rapid Entire Body Asessment,” J. INTECH Tek. Ind. Univ. Serang Raya, vol. 9, no. 2, pp. 103–109, Jul. 2023, doi: 10.30656/intech.v9i2.5693.
A. G. Rizaldi and A. S. Cahyana, “Analisa Resiko Postur Kerja Berdasarkan Hasil Evaluasi Menggunakan Metode Quick Exposure Check,” PROZIMA Product. Optim. Manuf. Syst. Eng., vol. 5, no. 1, pp. 51–62, Jul. 2021, doi: 10.21070/prozima.v5i1.1350.