Login
Section Education

Asbabul Wurud Based Hadith Learning Practice in Tahfidz Classroom


Praktik Pembelajaran Hadits Berbasis Asbabul Wurud di Kelas Tahfidz
Vol. 10 No. 1 (2025): June:

zulfikar hidayat farizeni (1), Anita Puji Astutik (2), Anita Puji Astutik (3)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(3) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia

Abstract:

General Background Learning strategies play a central role in shaping students’ understanding and religious character in Islamic education. Specific Background Hadith learning at the tahfidz program of PKBM Mutiara Shahabat integrates memorization activities, yet students often require contextual explanation to grasp meaning. Knowledge Gap Previous approaches have emphasized memorization, while the structured classroom use of the asbabul wurud method remains rarely documented in practice. Aims This study describes the implementation, strengths, and limitations of applying the asbabul wurud method in hadith science learning. Results Using a qualitative descriptive design with observation, interviews, and documentation, the findings show that the method is conducted through systematic planning, storytelling-based delivery of historical context, guided memorization, and continuous evaluation, enabling students to memorize faster, understand meanings, and practice hadith values in daily life. Novelty The study presents a classroom-based application of contextual hadith interpretation integrated into tahfidz routines. Implications The approach provides practical guidance for teachers to organize meaningful hadith instruction and supports collaboration between teachers, school leaders, and parents to sustain students’ religious learning outcomes.


Keywords: Asbabul Wurud, Hadith Learning, Contextual Method, Tahfidz Education, Qualitative sSudy


Key Findings Highlights:




  1. Structured storytelling supports quicker retention of texts




  2. Classroom routines connect historical context with daily behavior




  3. Multi level evaluation involves teachers families and supervisors



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Sekolah adalah tempat dimana semua kegiatan belajar dan mengajar dilaksanakan, mulai dari pelajaran yang dilaksanakan secara indoor ataupun outdoor. Tentu setiap sekolah memiliki kurikulum atau metode pembelajaran yang berbeda-beda sesuai dengan visi dan misi masing-masing sekolah. Metode pembelajaran sangatlah menentukan terhadap peningkatan prestasi anak didik. Diantara metode pendidikan yang dapat diterapkan adalah metode ceramah (preaching method), metode percobaan (Experimental method), metode pemecahan masalah (problem solving) metode latihan keterampilan (Drill method), metode diskusi (Discussion), metode perancangan (projeck method). Tentu semua metode memiliki peran yang sama-sama bagus, namun guru haruslah bijak dalam menggunakan metode agar sesuai dengan kebutuhan anak didik. [1] Dalam penerapan kurikulum seorang guru atau pengajar haruslah membawa pengetahuan ilmu kepada anak didik dengan pendidikan sehingga menambah pengetahuan serta pengalaman baru bagi anak didik yang bermanfaat bagi pertumbuhan di masa yang akan datang. [2] Strategi belajar sangatlah diperlukan bagi seorang pengajar, karena dengan strategi belajar guru akan mempersiapkan dan juga menggunakan semua sumber daya dan fasilitas untuk mencapai tujuan belajar yang tepat. [3] Strategi belajar ini hanya sebatas rencana yang belum ada tindakan sebagai bentuk usaha pengajar dalam menentukan tahap-tahap pengajaran kepada anak didik. Dalam proses belajar tentunya harus juga diakhiri dengan evaluasi pembelajaran untuk meningkatkan kualitas proses belajar dan mendorong para pengajar menambahkan sarana dalam pembelajaran. [4] tentu dengan sarana yang lengkap pengajar bisa lebih banyak dalam menentukan metode pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa, sehingga tujuan dari belajar bisa terwujud melalui metode pembelajaran yang tepat. [5] Pengajar juga dapat menggabungkan teknologi dengan pembelajaran kepada peserta didik, dimana teknologi yang ada ini dimanfaatkan sebagai media memudahkan peserta didik dalam memahami pembelajaran, seperti memutar video penjelasan, kuis online, dan gambar animasi dalam pembelajaran. [6] Seperti dalam pembelajaran kepada anak usia dini maka sangat diperlukan media peraga dalam pembelajaran, hal ini agar semua indra sang anak berjalan. Mulai dari telinga yang mendengarkan percakapan guru, mata mengamati media, dan tangan merasakan perubahan. Sehingga media ajar pada anak sangatlah penting terlebih kepada anak usia dini. [7] Tentu dalam pembelajaran yang terpenting adalah dimana karakter siswa terbentuk dan memiliki kepribadian yang disiplin. [8]

Hadits secara bahasa berarti baru atau setiap sesuatu yang diceritakan baik itu secara ucapan maupun secara berita. Dan secara istilah menurut ulama hadits yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada nabi Muhammad SAW baik ucapan, perbuatan, persetujuan,maupun sifat. Hadits dalam syariat islam memiliki kedudukan yang tinggi, bahkan menjadi pondasi dalil syar’i kedua setelah Al-Qur’an, peran hadits ini juga sangat penting dalam menerangkan firman Allah SWT yang terkandung pada Al-Qur’an. Dalam hadits terdapat pula perintah syariat yang tidak diterangkan dalam Al-Qur’an dan tetap harus kita patuhi karena Al-Qur’an pun memerintahkan umat muslim untuk mengikuti perintah dari nabi Muhammad SAW. [9] Terbukti setelah empat belas abad sejak wafatnya nabi Muhammad SAW agama islam ini masih utuh dengan segala syariatnya yang masih berjalan dan pemeluknya hingga milyaran manusia. Ini adalah bukti bahwa kebenaran Allah SWT menjaga agama ini hingga akhir zaman kelak. [10] Harus diketahui bersama bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah SWT langsung yang disampaikan melalui malaikat Jibril kemudian dilanjutkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk diamalkan dan didakwahkan kepada semua umat manusia. [11] Al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah SWT yang turun sebagai penyempurna serta pembenaran atas wahyu-wahyu sebelumnya yang terdapat pada Injil,Taurat, dan Zabur. [12] Dalam membaca Al-Qur’an pun terdapat hukum bacaan yang harus sesuai dengan ilmu tajwid. Dimana seorang muslim tidak boleh asal-asalan dalam membaca Al-Qur’an karena dapat merubah makna asli dari Al-Qur’an tersebut. [13] Seorang muslim yang membaca Al-Qur’an akan mendapatkan pahala di setiap huruf yang dibaca. Karna keutamaan dari Al-Qur’an yang begitu banyak terutama bagi para penghafal dan pembaca Al-Qur’an yang mengamalkannya. [14] Dengan membaca Al-Qur’an diiringi tadabbur maka seseorang akan mendapatkan keutamaan yang lebih besar lagi ketimbang hanya membaca biasa. Karena dengan tadabbur pikiran dan juga hati akan bersatu dalam menghayati arti dari Al-Qur’an sehingga bertambahlah iman pada diri seseorang. [15] Al-Quran adalah dalil syariat umat islam yang pertama maka wajar saja jika Al-Qur’an memiliki keutamaan yang begitu banyak. Sedangkan hadits yang menjadi dalil kedua dalam syariat islam tentu memiliki pula keutamaan walau tidak sebanyak keutamaan Al-Qur’an. Orang yang terpuji adalah orang yang berilmu dan mengamalkan sesuai dengan ilmu yang ada, dan manusia jika diibaratkan seperti tanah subur yang menyerap air sehingga bermanfaat untuk tanah itu sendiri dan makhluk lain yang hidup di atasnya. [16]

Asbabul wurud secara bahasa adalah susunan idhafah yang berasal dari asbab dan al-wurud. Asbab ini bentuk jamak dari kata sebab, atau yang mengantarkan sesuatu menuju tujuan. Dan wurud yang berarti sampai, muncul, dan mengalir. Jadi jika disatukan asbabul wurud ialah sebab-sebab atau latar belakang adanya sesuatu. Menurut Said Aqil Husin definisi asbabul wurud ialah “ilmu yang menerangkan sebab-sebab nabi Muhammad SAW menuturkan sabdanya pada masa-masa nabi Muhammad SAW hidup”. Dengan ilmu asbabul wurud ini seseorang akan lebih mudah memahami perintah dan makna dari suatu hadits karena didalamnya menerangkan kondisi Nabi dan juga kondisi sekitar ketika nabi Muhammad SAW bersabda. [17] Dalam memahami hadits tentu harus dengan disiplin ilmu yang benar dan dilakukan oleh para pakar, sehingga keutuhan dari kaidah hadits bisa terkumpul dengan lengkap. [18] Hadits yang yang disabdakan nabi Muhammad SAW ada yang memiliki sebab dan ada yang tidak memiliki sebab serta ada yang memiliki sifat khusus dan umum bagi semua manusia. Asbabul wurud ini menjadi solusi dalam membedakan apakah hadits ini khusus untuk kondisi tertentu atau dalam semua kondisi. [19] Hasil dari Asbabul wurud ini terbagi menjadi dua, pertama sangat dipertimbangkan secara sejarah dan kedua tidak dipertimbangkan sama sekali karena bisa dipahami melalui kalimat yang terkandung pada hadits. [20]

Ilmu hadits ini diajarkan kepada generasi muda umat muslim, sebagai pondasi dan bekal dalam menempuh kehidupan yang lebih bahagia. Dengan menggunakan metode asbabul wurud tentu siswa akan lebih mudah dalam menghafal, memahami, dan juga mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengingat ilmu hadits ini sangat penting dalam menjalankan syariat agama islam maka perlu perhatian khusus dalam proses pembelajaran. Agar hasil belajar yang diperoleh siswa itu memuaskan dan sesuai dengan kurikulum yang ada.

Penelitian terdahulu yang relevan dengan judul ialah yang pertama “urgensi konteks sejarah asbabul al-nuzul al-wurud dalam tafsir dan syariat hadits” Yang menerangkan fungsi metode ini dalam menentukan tafsir dan syariat yang terkandung dalam hadits. [21] Kedua dengan judul “Penggunaan Metode Cerita untuk Mengembangkan Nilai Moral Anak TK/SD” dengan metode ini guru bisa bersikap seperti teman dari siswa yang mengajarkan nilai moral melalui cerita yang disampaikan dengan menarik. [22] Ketiga dengan judul “Pentingnya Kontekstualisasi Matan Hadits Menggunakan Metode Hermeneutika” yang menjelaskan tentan konteks Matan hadits dalam menentukan makna dan keshahihan hadits yang ada berdasarkan disiplin ilmu yang sesuai. [23] keempat “Penerapan Metode Iqra’ dalam mengenalkan huruf hijaiyah pada anak usia dini”. [24] Sedangkan penelitian yang dilakukan sekarang adalah menerapkan metode asbabul wurud hadits dalam pembelajaran ilmu hadits kepada anak didik. Dengan banyak bercerita mengenai kondisi sosial dan sekitar Nabi Muhammad SAW ketika turunnya hadits tersebut

Pembelajaran tahfidz di PKBM Mutiara Shahabat kota Tegal dimulai sejak pukul 07.00 WIB sampai dengan pukul 10.00 WIB yang diawali dengan sholat dhuha dan dzikir pagi secara bersama-sama. Kemudian dilanjutkan dengan setoran hafalan serta murajaah Al-Qur’an ke musyrif, sebagai mata pelajaran tambahan pada jam tahfidz ditambahkan setoran hafalan do’a sehari-hari dan hadits-hadits pendek sehari-hari. Seiring dengan berjalannya waktu, siswa diajarkan pula praktek dalam pengamalan hadits dan do’a sesuai yang dihafal siswa. Namun dalam waktu tahfidz yang panjang ini masih ada waktu kosong dalam pembelajaran terutama ketika semua siswa sudah selesai setoran Al-Qur’an, Do’a, dan hadits. Dari sinilah latar belakang penulis berinisiatif menambahkan penjelasan kaidah hadits melalui metode Asbabul wurud dalam pembelajaran hadits, dengan menceritakan keadaan dan juga waktu hadits itu disabdakan oleh nabi Muhammad SAW sehingga harapannya dengan adanya tambahan penjelasan hadits ini siswa memiliki semangat dan juga kekuatan yang lebih dalam menghafal hadits, dari segi pemahaman siswa juga diharapkan paham akan kaidah-kaidah yang terdapat pada hadits tersebut.

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah kendala dan juga solusi dalam penerapan metode asbabul wurud di pelajaran ilmu hadits.

Metode

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif ini adalah penelitian yang bersifat analisis dan juga deskriptif, dalam penelitian ini penelitian kualitatif bertujuan untuk mengetahui penerapan metode asbabul wurud dalam meningkatkan pemahaman ilmu hadits dan juga kemampuan mengingat hafalan hadits. Penelitian ini dilaksanakan di PKBM Mutiara Shahabat kota Tegal. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bersifat deskriptif dan analisis. Deskriptif dalam penelitian kualitatif berarti menggambarkan dan menyebutkan peristiwa, fenomena dan situasi sosial yang diteliti. Analisis berarti memaknai dan menginterpretasikan serta membandingkan data hasil penelitian. [25] Dalam penelitian ini, penelitian menggunakan pendekatan kualitatif bertujuan untuk mengetahui penerapan metode asbabul wurud dalam meningkatkan kemampuan menghafal dan memahami suatu hadits.. Sumber data penelitian ini adalah data primer dan data sekunder, data primer diperoleh langsung dari sumbernya melalui wawancara dan observasi kepada dewan guru atau ustadz PKBM Mutiara Shahabat kota Tegal. Sedangkan data sekunder berasal dari buku, jurnal dan informasi berupa dokumen PKBM Mutiara Shahabat kota Tegal. Sehingga akan terlihat dari hasil dari penerapan metode atau modul yang digunakan guru kepada siswa. Mulai dari pemahaman, emosional siswa, dan penalaran siswa dalam mengikuti pembelajaran. [26]

Teknik pengumpulan data meliputi wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik observasi melibatkan pengamatan langsung kepada siswa oleh peneliti di PKBM Mutiara Shahabat kota Tegal, dan Teknik wawancara yang dilakukan melibatkan informan yaitu pimpinan PKBM dan para guru, dan teknik dokumentasi berupa rekaman audio, dokumentasi penelitian, dan arsip dokumen PKBM Mutiara Shahabat kota Tegal. Sedangkan teknik analisis data dan interpretasi data menggunakan reduksi data (data reduction) yaitu merangkum, memilih hal-hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting dan tema-tema penting untuk menemukan kesimpulan dari suatu data.

Hasil dan Pembahasan

A. Perencanaan

Pada pelaksanaan pembelajaran Hadits di PKBM Mutiara Shahabat kota Tegal semua guru wajib mengetahui target hafalan hadits sehingga guru sudah menyiapkan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, dan evaluasi pembelajaran rutin. Dalam pembelajaran hadits mengalokasikan waktu khusus di jam Halaqoh qur’an yaitu setiap hari selasa dan rabu dengan waktu 30 menit atau jam 08.30 WIB hingga 09.00 WIB. Dalam pelaksanaan pembelajaran ilmu hadits guru harus maksimal dalam perencanaan pembelajaran mulai dari menerangkan makna hadits, menyimak hafalan hadits, dan mencatat pada buku Mutaba'ah siswa.

Perencanaan adalah proses terstruktur dalam menyusun langkah untuk menuju tujuan tertentu. Penerapan metode asbabul wurud dalam pembelajaran ilmu hadits tentu memerlukan perencanaan yang disusun oleh setiap guru dengan tujuan siswa paham dengan makna hadits dan hafal hingga mampu menyetorkan hafalan hadits ke guru. Adapun perencanaan pembelajaran ilmu hadits di PKBM Mutiara Shahabat kota Tegal yaitu meliputi: 1) Guru membuat membawa catatan target hafalan murid beserta buku catatan harian guru, 2) Siswa diminta mencatat Hadits lalu guru membacakan ulang sembari menjelaskan makna hadits. 3) Siswa menyetorkan hafalan beserta tulisan hadits, 4) Guru mencatat nilai serta evaluasi setoran hadits di mutaba'ah siswa dan buku harian guru.

Hasil wawancara dengan kepala Tahfidz bahwa Pembelajaran ilmu hadits ini adalah pelajaran tambahan yang disisipkan di waktu halaqoh qur’an yang panjang tujuannya adalah agar siswa tidak jenuh dengan hanya menghafal qur’an. Sehingga ketika pembelajaran ilmu hadits ini ada siswa wajib membawa buku hadits singkat yang dari sekolah.

Dari pemaparan analisis data dan keterangan guru, pembelajaran ilmu hadits di PKBM Mutiara Shahabat kota Tegal sudah sesuai dengan tujuan pembelajaran walaupun terdapat kekurangan dalam implementasi dan perlunya evaluasi baik pada siswa maupun guru.

B. Pelaksanaan

Pelaksanaan pembelajaran ilmu hadits pada PKBM Mutiara Shahabat kota Tegal dilakukan dengan menitik beratkan hafalan, mulai dari siswa kelas 1 hingga kelas 6. Tentu dalam hafalan ini setiap tingkat kelas memiliki target hafalan hadits yang berbeda sesuai dengan kelas serta kemampuan. Guru juga dalam mengajar selalu berpegang pada prinsip belajar itu menyenangkan dan menghafal adalah mudah, maka dalam pembelajaran ilmu hadits terdapat metode bercerita tentang latar belakang hadits, sebab turun nya hadits, dan makna hadits tentu disampaikan dengan cerita yang asyik sehingga siswa menyimak dan mengikuti alur cerita.

Ketika sudah memasuki jam pelajaran hadits semua siswa harus memasukan buku pelajaran lain termasuk Al-qur’an ke tas nya masing-masing dan di meja siswa hanya boleh ada buku hadits, mutaba'ah dan alat tulis. Tujuanya adalah agar siswa fokus dengan pelajaran hadits. Dan guru baru mulai pembelajaran yang meliputi: 1) Menulis hadits di papan tulis kelas 2) mengarahkan siswa menulis sesuai yang di papan tulis 3) membaca ulang hadits secara bersama-sama 4) Menerangkan dan bercerita makna hadits dari sebab turunya hadits 5) Menerima setoran hafalan dan tulisan hadits siswa 6) memberikan nilai dan evaluasi pada mutaba'ah siswa dan buku harian guru.

Figure 1. Gambar 1. Data Penilaian hasil belajar siswa

Dari pemaparan data ini dapat dilihat bahwa konsep dan teori sudah dilaksanakan dengan cermat sesuai tahapan yang sudah dijelaskan sebelumnya. Dalam penilaian hasil belajar juga menunjukan kemampuan siswa yang meningkat dalam pembelajaran ilmu hadits. Pembelajaran ilmu hadits adalah pembelajaran tambahan dalam jam halaqoh quran. Siswa yang sudah selesai menulis dan sudah hafal boleh untuk maju duluan menyetorkan hafalan hadist dan tulisan kemudian guru menyimak dan menulis penilaian dalam buku mutaba'ah siswa.

C. Evaluasi

Evaluasi adalah bagian dari perencanaan pembelajaran yang penting dilakukan untuk mengukur sejauh mana proses belajar berjalan dengan optimal dan pengetahuan kekurangan serta kelebihan dalam pembelajaran yang telah dilaksanakan. Evaluasi metode asbabul wurud dalam pembelajaran ilmu hadits dapat dilakukan dengan cara-cara berikut ini: 1) Guru menanyakan ulang hafalan dan maksud dari hadits pelajaran sebelumnya 2) Melibatkan orang tua dalam memantau belajar 3) Guru melaksanakan evaluasi cerita dalam menjelaskan maksud hadits.

Dengan adanya evaluasi sangat mempengaruhi implementasi pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar apakah sudah sesuai dengan kemampuan siswa atau belum. Evaluasi dapat mencakup 3 hal yaitu evaluasi perencanaan, evaluasi pelaksanaan, evaluasi metode dan evaluasi perkembangan anak. Evaluasi ini dapat dilihat dari penilaian siswa di buku mutabaah dan buku catatan harian guru. Jangka waktu evaluasi yaitu evaluasi pekanan, bulanan, evaluasi semesteran, dan evaluasi tahunan. Dalam evaluasi mingguan karna pembelajaran ilmu hadits hanya satu kali dalam satu pekan maka di pertemuan berikutnya harus ada evaluasi guru kepada siswa dan di evaluasi bulanan siswa akan dilihat hasil menghafal nya apakah sudah sesuai target atau belum. Dalam evaluasi semesteran pula guru bersama dengan pimpinan bagian tahfidz dapat berdiskusi untuk menemukan solusi dalam meningkatkan kemampuan belajar siswa.

Dari hasil observasi dan juga wawancara yang dilakukan disimpulkan bahwa evaluasi guru kepada siswa selalu dilakukan ketika siswa telah selesai setoran hafalan hadits dan karna pembelajaran ilmu hadits di bawah naungan bagian tahfidz maka evaluasi bersama kepala bagian tahfidz merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan. Evaluasi dengan kepala bagian tahfidz bisa langsung guru lakukan tanpa menunggu jadwal rapat mingguan, hal ini terjadi karena kondisi kantor guru dan kepala tahfidz yang satu ruangan dan komunikasi sosial yang sangat dekat sehingga memudahkan guru dalam melakukan diskusi evaluasi bersama. Dan ketika rapat bulanan bersama wali siswa kepala tahfidz akan memaparkan hasil belajar siswa kepada wali siswa masing-masing dan guru pun dapat menyampaikan solusi dari evaluasi hasil belajar siswa sehingga hal ini memberi dampak positif seperti anak akan didorong orang tua untuk belajar di rumah atau mengikuti bimbel di tempat belajar lain. Dari pemaparan ini maka metode asbabul wurud dalam pembelajaran ilmu hadits yang ada di PKBM Mutiara Shahabat kota Tegal sudah berjalan dengan baik dan lancar.

Implikasi Penerapan Metode Asbabul Wurud Dalam Pembelajaran Ilmu Hadits

Implikasi adalah dampak atau manfaat yang terjadi setelah tindakan yang terjadi baik itu secara di sengaja atau tidak di sengaja. Implikasi adalah suatu hasil dalam penerapan metode belajar dalam hal ini implikasi metode asbabul wurud dalam pembelajaran ilmu hadits pada PKBM Mutiara Shahabat kota Tegal memiliki dampak manfaat yang sangat banyak. Mulai dari siswa yang menjadi mudah dalam menghafal dan memahami makna hadits, orang tua yang bangga melihat anak-anak nya hafal dan dapat menerapkan makna hadits yang ada, serta guru yang merasa mudah dalam mendidik siswa. Selain itu manfaat lain dengan metode belajar ini adalah siswa tidak jenuh selama siswa belajar di kelas karena penyampaian nya yang berupa cerita serta materi yang diberikan tergolong ringan sesuai kemampuan siswa masing-masing. Dengan demikian siswa dapat memiliki bekal pemahaman hadits yang pasti akan berguna dalam kehidupan kedepan.

Kelebihan Dan Kekurangan Penerapan Metode Asbabul Wurud Dalam Pembelajaran Ilmu Hadits

Dalam proses belajar tentu akan ada hal diluar dugaan yang tidak sesuai dengan keinginan begitu pula tantangan baru serta masalah belajar yang muncul secara tiba-tiba baik itu dari siswa, kondisi kelas, ataupun guru. Berdasarkan observasi yang dilakukan ditemukan kelebihan yang ada pada hasil belajar siswa PKBM Mutiara Shahabat kota Tegal yaitu diantaranya: 1) Siswa mudah menghafal dan mengingat hadits melalui pemahaman makna hadits 2) Siswa dapat mengamalkan makna hadits dalam kehidupan sehari-hari 3) Siswa memiliki semangat belajar dan menyimak cerita asbabul wurud hadits. 4) Guru mudah dalam memberi penilaian. Walaupun dalam banyak kelebihan ini terdapat pula kekurangan seperti tetap adanya siswa yang tertinggal hafalan hadits, dan asbabul wurud yang terbatas untuk di ceritakan secara menarik.

Kelebihan yang sudah dipaparkan ini sudah banyak terasa baik itu pada siswa, guru, dan wali siswa. Hal ini terjadi karena siswa memiliki hafalan hadits yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari dan dapat langsung diterapkan dalam kehidupan dan siswa memiliki motivasi untuk terus beramal sholeh berdasarkan makna hadits yang didapatkan di kelas belajar. Tentu hal seperti ini akan lebih maksimal jika masing-masing siswa mendapatkan pendampingan belajar di rumah oleh orang tua masing-masing siswa.

Simpulan

Simpulan dari Penerapan metode asbabul wurud dalam pembelajaran ilmu hadits di PKBM Mutiara Shahabat kota Tegal sudah dilakukan dengan baik dan lancar karna manfaat yang dirasakan serta memberi kemudahan dalam proses belajar. Dalam proses belajar terdapat komunikasi siswa dan guru yang memberi dampak siswa aktif untuk merespon materi yang guru sampaikan. Dalam evaluasi pula guru sudah mulai melakukan secara berjenjang dimulai evaluasi dengan siswa masing-masing kemudian evaluasi dengan kepala tahfidz kemudian evaluasi bersama wali siswa. Dampak baik dari pembelajaran ilmu hadits adalah siswa memiliki pemahaman yang benar tentang ajaran agama islam serta dapat mempraktekan makna hadits dalam kehidupan sehari-hari sehingga hal ini kelak akan melahirkan kebiasaan baik siswa dalam kehidupan kedepan nya karena telah memiliki kebiasaan baik sejak usia kecil.

Ucapan Terima Kasih

Saya secara pribadi mengucapkan banyak sekali terima kasih kepada orang tua saya yang banyak memotivasi serta membiayai kebutuhan belajar, kepada para dosen yang selalu mengarahkan dan membimbing selama belajar, dan kepada guru-guru yang bersedia menjadi pusat penelitian dan pengambilan data penelitian.

Puji dan syukur saya ucapkan pula kepada tuhan yang maha esa yang telah memudahkan segala proses belajar saya dan semoga dengan penelitian ini akan memberi dampak baik bagi dunia pendidikan.

References

[1] M. K. Nasution, “Penggunaan Metode Pembelajaran Dalam Peningkatan Hasil Belajar Siswa,” Studi Didaktika Jurnal Ilmiah Bidang Pendidikan, vol. 11, no. 1, pp. 9–16, 2017.

[2] M. Gemnafle and J. R. Batlolona, “Manajemen Pembelajaran,” Jurnal Pendidikan Profesi Guru Indonesia, vol. 1, no. 1, pp. 28–42, 2021, doi: 10.30598/jppgivol1issue1page28-42.

[3] M. F. Seknum, “Strategi Pembelajaran Sains,” Journal of Biology Science and Education, vol. 2, no. 2, pp. 159–169, 2013.

[4] J. Marpaung, “Pengaruh Gaya Belajar Terhadap Prestasi Belajar Siswa,” Kopasta Journal of Guidance and Counseling, vol. 2, no. 2, pp. 13–17, 2016.

[5] I. P. Widyanto and E. T. Wahyuni, “Implementasi Perencanaan Pembelajaran,” Satya Sastraharing, vol. 4, no. 2, pp. 16–35, 2020.

[6] N. Agustian and U. H. Salsabila, “Peran Teknologi Pendidikan Dalam Pembelajaran,” Islamika, vol. 3, no. 1, pp. 123–133, 2021.

[7] H. Zaini and K. Dewi, “Pentingnya Media Pembelajaran Untuk Anak Usia Dini,” Raudhatul Athfal Journal, vol. 1, no. 1, pp. 81–96, 2017.

[8] S. Julaiha, “Implementasi Pendidikan Karakter Dalam Pembelajaran,” Dinamika Ilmu, vol. 14, no. 2, pp. 226–239, 2014.

[9] M. Ali and D. Himmawan, “Peran Hadits Sebagai Sumber Ajaran Agama,” Jurnal Pendidikan dan Studi Islam, vol. 5, no. 1, pp. 127–135, 2019.

[10] R. A. Hadi and Y. Suharyat, “Dakwah Dalam Perspektif Al Quran dan Al Hadits,” Religion Journal, vol. 1, no. 5, pp. 55–66, 2022.

[11] S. Handayani, “Metode Pendidikan Islam Perspektif Hadits,” Journal of Teaching and Education, vol. 4, no. 3, pp. 264–270, 2023.

[12] F. Purba, “Pendekatan Dalam Studi Al Quran,” Jurnal As-Salam, vol. 1, no. 2, pp. 27–38, 2016.

[13] M. Z. Mohd Nawi and M. A. Mohamed Noor, “Kemahiran Tajwid Dalam Tilawah Al Quran,” Journal of Humanities and Social Sciences, vol. 3, no. 1, pp. 23–32, 2021.

[14] D. Ridho, “Studi Tematik Hadis Tentang Keutamaan Membaca Al Quran,” Gunung Djati Conference Series, vol. 8, pp. 101–110, 2022.

[15] R. Zakaria, F. N. Mansor, and K. A. Mohamad, “Tadabbur Al Quran dan Spiritual Pembaca,” Statistics Field Theory Journal, vol. 53, no. 9, pp. 1689–1699, 2019.

[16] M. Damopolii, M. Sulistyaningsih, and J. F. Monoarfa, “Pendidikan dan Keutamaan Orang Berilmu,” Jurnal Pendidikan Islam, vol. 2, no. 4, pp. 479–491, 2022.

[17] S. Rahmi, “Ilmu Asbabul Wurud Hadis,” 2020. [Online]. Available: Academia.edu.

[18] R. Effendi and M. Tuwah, “Pendekatan Dalam Memahami Hadits,” Holistic Journal, vol. 1, no. 2, pp. 7–9, 2015.

[19] M. Nasir, “Asbab Al-Wurud Hadis dan Pemahaman Hukum,” Al-Madaris Journal, vol. 4, no. 1, pp. 28–47, 2023.

[20] A. Majid, “Mengaplikasikan Asbabul Wurud,” Studi Ilmu Quran dan Hadis, vol. 1, no. 1, pp. 95–109, 2023.

[21] M. H. M. F. Andriyani, “Urgensi Konteks Sejarah Asbab Al-Nuzul Al-Wurud,” Jurnal Tafsir dan Syariah Hadits, pp. 265–282, 2022.

[22] H. Putri, “Penggunaan Metode Cerita Untuk Mengembangkan Nilai Moral Anak,” Muallimuna Journal, vol. 3, no. 1, pp. 87–95, 2017.

[23] M. Maskur, M. Sulthon, M. Musahadi, and E. Suherman, “Kontekstualisasi Matan Hadits Dengan Metode Hermeneutika,” Jurnal Ilmiah Al-Muttaqin, vol. 8, no. 2, pp. 19–24, 2023.

[24] R. Nurhayati, M. Rahma, and M. Anis, “Metode IQRA Untuk Mengatasi Kesulitan Membaca Al Quran,” Jurnal Pendidikan Dasar Islam, vol. 3, no. 2, pp. 18–24, 2024.

[25] Z. Abdussamad, Metode Penelitian Kualitatif. Gorontalo: Syakir Media Press, 2021.

[26] M. Afandi, E. Chamalah, and O. P. Wardani, Model dan Metode Pembelajaran Inovatif. Semarang: UNISSULA Press, 2021.