Suci Wulan Dari (1), Mahardika Darmawan Kusuma Wardana (2)
General Background: Critical thinking is a fundamental competence in 21st-century education and a core skill for elementary students to solve mathematical problems logically and responsibly. Specific Background: In mathematics learning, especially on Greatest Common Factor (GCF) topics, students are expected to interpret information, select appropriate procedures, and justify solutions using sound reasoning. Knowledge Gap: Previous studies have examined critical thinking in elementary contexts, yet detailed profiling of fifth-grade students’ critical thinking across all Facione indicators in GCF problem solving without instructional intervention remains limited. Aims: This study aims to describe the critical thinking profile of a fifth-grade student in solving GCF story problems using Facione’s six indicators: interpretation, analysis, evaluation, inference, explanation, and self-regulation. Results: Using a descriptive qualitative design with one purposively selected high-ability student, data from tests, structured interviews, and written work show that the student successfully identified key information, justified the selection of solution methods, evaluated alternatives, produced consistent conclusions, explained procedures logically, and verified answers reflectively. Novelty: The study integrates Facione’s framework with Peirce’s semiotic analysis to examine the relationship between students’ reasoning processes and problem-solving representations. Implications: The findings provide evidence that detailed critical thinking profiling can inform the design of elementary mathematics instruction that supports higher-order reasoning in GCF learning.
Highlights:
The participant demonstrated full attainment of all six assessed reasoning indicators.
Factor tree procedure was chosen with explicit justification and comparison to alternatives.
Reflective checking confirmed answer consistency across different solution approaches.
Kemampuan berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan yang sangat dibutuhkan dalam dunia Pendidikan abad 21, terutama dalam konteks mengembangkan kompetensi siswa di tingkat sekolah dasar[1]. Setiap siswa membutuhkan kemampuan ini untuk menghadapi berbagai rintangan dan memecahkan masalah dalam situasi yang sulit. Sehingga, keterampilan berpikir kritis ini sangat penting untuk diajarkan di sekolah dasar karena membentuk dasar, karena hal ini membentuk dasar pemikiran yang lebih kompleks di masa depan[2]. Berpikir kritis tidak hanya mencerminkan proses kognitif tingkat tinggi, tetapi juga menjadi indikator utama literasi informasi, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan berbasis bukti [3]. Dalam konteks pendidikan dasar, kemampuan ini menjadi fondasi penting untuk mempersiapkan generasi muda agar tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga menjadi pengolah dan penilai informasi yang cerdas dan reflektif. Selanjutnya, sistem pembelajaran di sekolah dasar harus diarahkan pada pendekatan yang menstimulasi keterlibatan aktif, pemecahan masalah kontekstual, dan pembelajaran bermakna[4]. Pemerintah perlu terus mengevaluasi kualitas pendidikan, sementara guru harus mampu menciptakan suatu konten pembelajaran yang menarik. Sejalan dengan kebutuhan siswa yang harus mampu memiliki keterampilan 5C yaitu critical thinking, communication, collaboration, creativity, dan character dalam menghadapi era society 5.0 [5].
Pengertian berpikir kritis dalam penelitian ini adalah kemampuan untuk menginterpretasi, menganalisis, dan mengevaluasi infromasi sehingga dapat di jadikan dasar dalam pengambilan keputusan atau pemecahan masalah[6]. Berpikir kritis berarti berpikir dengan teliti dan logis ketika akan membuat sebuah keputusan tentang apa yang dipercaya atau dilakukan. Sejalan dengan pendapat Turan dkk (2019) mengatakan bahwa berpikir kritis adalah proses mental yang membantu seseorang lebih memahami bagaimana membuat keputusan yang baik[7]. Menurut[8] terdapat 6 aspek berpikir kritis yakni 1) Interpreatation. 2) Anlysis. 3) Evaluation. 4) Inference. 5) explanation. 6) Self-Regulation. Selanjutnya, [9] menegaskan bahwa berpikir kritis bukan hanya mencakup kemampuan logis-kognitif, tetapi juga mencerminkan kedewasaan berpikir seseorang dalam mengevaluasi informasi dan membentuk pendapat secara bertanggung jawab. Dengan memiliki kemampuan berpikir kritis, siswa mampu menggali lebih banyak pengetahuan [10]. Berpikir kritis bukanlah bawaan sejak lahir melainkan kemampuan yang perlu diasah agar terus berkembang. Pembelajaran matematikan menekankan pentingnya berpikir kritis untuk memecahkan suatu masalah dan menemukan hasil logis yang tidak berpihak [11]. Ada beberapa alasan mengapa seseorang penting berpikir kritis diantaranya adalah 1) siswa terlatih menggunakan keterampilan untuk memperoleh, mengelola, memanfaatkan teknologi dan informasi dengan tepat, 2) siswa mampu mengambil keputusan dengan memperhatikan alasan yang logis, 3) siswa menyelesaikan masalah dengan mengacu pada kebenaran, 4) siswa terlatih memiliki keterampilan belajar untuk berinovasi[12].
Pada kenyataanya berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengeksplorasi kemampuan berpikir kritis di tingkat sekolah dasar. Misalnya, [13] menyelidiki kemampuan berpikir kritis siswa kelas V dalam konteks materi FPB dan KPK dengan mempertimbangkan gaya belajar, tetapi penelitian ini belum memberikan analisis mendalam tentang setiap aspek kemampuan berpikir kritis. Di sisi lain, [14] meneliti perbedaan keterampilan berpikir kritis berdasarkan gender di tingkat SMP, sementara [15] fokus pada aspek berpikir kritis dalam pemecahan masalah matematika, tetapi dengan konteks materi yang berbeda. Meskipun ada berbagai studi tersebut, masih terdapat kekurangan dalam pemahaman mendalam mengenai profil kemampuan berpikir kritis siswa kelas V SD, khususnya dalam materi FPB. Penelitian yang secara khusus mengidentifikasi aspek kemampuan berpikir kritis, seperti interpretation, analysis, evaluation, inference, explanation, dan self-regulation. Melalui pengumpulan data dari tes dan wawancara mendalam tanpa intervensi pembelajaran masih sangat terbatas. Padahal, memahami profil berpikir kritis siswa penting sebagai bahan rujukan dalam menyusun strategi pembelajaran yang dapat mengakomodasi potensi siswa sekaligus mengembangkan keterampilan berpikir mereka secara maksimal. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan yang lebih jelas mengenai kemampuan berpikir kritis siswa kelas V pada materi FPB, sejalan dengan pandangan [16] yang menekankan bahwa berpikir kritis dalam pembelajaran matematika dapat meningkatkan aspek kognitif siswa.
Meskipun keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu kompetensi utama yang diharapkan dalam Kurikulum Merdeka, kenyataannya berbagai penelitian menunjukkan bahwa siswa sekolah dasar masih mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi informasi, memberikan alasan logis, maupun memeriksa kembali jawaban mereka [15]. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan pembelajaran dengan pencapaian kemampuan berpikir kritis di lapangan. Oleh karena itu, penelitian ini perlu dilakukan untuk menganalisis kemampuan berpikir kritis siswa sekolah dasar pada materi energi, sehingga diperoleh gambaran profil berpikir kritis mereka secara lebih mendalam[17].
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan berpikir kritis siswa kelas V SD dengan kemampuan berpikir kritis dalam menyelesaikan soal tes berpikir kritis pada materi FPB dengan menggunakan data yang diperoleh melalui tes soal dan wawancara. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran nyata tentang capaian aspek-aspek kemampuan berpikir kritis siswa, sehingga dapat membantu guru dan sekolah dasar dalam merancang strategi pembelajaran matematika yang lebih mendukung penguatan berpikir kritis sejak dini. Selain itu, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi dasar masukan bagi pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, serta kebijakan pendidikan dasar yang berorientasi pada penguatan kemampuan berpikir kritis siswa.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif kualitatif. Metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisa suatu fenomena, tetapi tidak mencari hubungan sebab-akibat. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Tunggul Wulung I Pandaan tahun ajaran 2024/2025. Sumber data penelitian terdiri dari siswa yang mengikuti tes kemampuan berpikir kritis pada materi penyelesain soal cerita FPB yakni 12 siswa. Dari hasil tes, subjek dipilih menggunakan teknik purposive berdasarkan kategori kemampuan berpikir kritis ditentukan dari keterpenuhan aspek berpikir kritis Facione (1990), yaitu interpretation, analysis, evaluation, inference,explanation, dan self-regulation, sehingga terpilih satu siswa yang memenuhi kriteria penelitian.
Instrument yang digunakan pada penelitian ini meliputi tes tulis, lembar wawancara terstruktur dan dokumentasiberupa hasil pekerjaan siswa. Tes yang diberikan merupakan soal tes berpikir kritis (TBK). Tes ini berjumlah 4 soal pada materi FPB dikelas V kurikulum merdeka. Tes merupakan seperangkat pertanyaan, soal-soal atau masalah yang berikan kepada seseorang untuk mengetahui karakteristik dari seseorang[18].
Figure 1. Soal tes berpikir kritis siswa materi FPB
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah: 1) Soal tes berpikir kritis berbentuk soal cerita. 2) Wawancara terstruktur untuk menggali lebih dalam proses berpikir siswa. Untuk memastikan keabsahan data, penelitian ini menggunakan uji kredibilitas melalui triangulasi teknik. Dengan cara membandingkan hasil tes dengan penjelasan lisan siswa saat wawancara, serta mencocokkannya dengan dokumen tertulis berupa lembar jawaban siswa. Sejalan dengan [19] bahwa triangulasi teknik yakni menggunakan pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatakan data dari sumber yang sama.
Figure 2. Diagram Analisis Tanda Peirce
Tanda (sign) adalah ungkapan dari sesuatu. Hasil wawancara dengan siswa merupakan bagian dari tanda. Objek adalah sesuatu diluar tanda yang merujuk pada sesuatu yang lain. Objek dalam hal ini berupa hasil lembar tes berpikir kritis. Interpretatif adalah seseorang yang memahami tanda terhadap objek yang dituju akan memiliki makna tersendiri. Makna yang diperoleh peneliti berdasarkan tanda dan object yang disesuaikan dengan definisi dari indikator kemampuan berpikir kritis menjadi bagian dari Interpretatif. Menurut Sudjiman & van Zoest (1992) Semiotika Peirce menjelaskann setiap makna yang telah terbentuk akan menjadi sebuah makna yang dapat diwakili oleh tanda. Makna yang terbentuk tidak hanya sekadar hasil deskripsi tanda, tetapi juga konstruksi peneliti berdasarkan kesesuaian dengan definisi indikator berpikir kritis. Oleh karena itu, hasil analisis selanjutnya disajikan dalam bentuk uraian deskriptif yang menampilkan hubungan antara data empiris siswa dan kerangka teoritis Facione mengenai kemampuan berpikir kritis.
Adapun aspek dan indikator berpikir kritis menurut Facione (1990). Disajikan seperti tabel berikut yakni :
Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan hasil pembahasan sebagai berikut : Profil berpikir kritis siswa kelas V sekolah dasar dalam menyelesaikan soal cerita Faktor Persekutuan Terbesar (FPB) ditinjau dari tingkat kemampuan berpikir kritis siwa. Subjek yang dijadikan narasumber berjumlah satu orang yakni kemampuan numerasi tinggi (RV) yang diberikan 4 soal tes berpikir kritis. Pada bagian ini dilakukan analisis data pada pengerjaan siswa pada TBK dalam menyelesaikan soal cerita FPB dan wawancara terstruktur. Dengan didasarkan pada aspek dan indikator berpikir kritis Facione. yaitu interpretation, analysis, evaluation, inference, explanation, dan self-regulation. Dari hasil tes berpikir kritis dan wawancara, diperoleh data dan temuan rinci terkait ketercapaian tiap aspek kemampuan berpikir kritis siswa.
1. Interpretation
Figure 3. Diagram analisis aspek Interpretation
Berdasarkan gambar diatas memperlihatkan aspek Interpretation, RV mampu mengklasifikasikan informasi pada soal serta mampu menjelaskan makna dengan bahasa sendiri dan menyebut kata kunci dalam pengerjaan soal. Melalui s = “Menyebutkan informasi pada soal cerita FPB dan menjelaskan makna singkat yang diketahui tentang FPB dan menyebutkan kata kunci mengerjakannya”, dapat dilihat bahwa RV telah memahami masalah yang ada dan mampu menjelaskan suatu makna kembali dengan bahasa sendiri. Kemudian diketahui pada objek matematika tentang i adalah “menuliskan yang diketahui yaitu memiliki 81 jeruk, 63 pir, dan 45 salak dan menuliskan yang ditanyakan yaitu berapa banyak kantong plastik yang dibutuhkan pak Edi”. Hal ini di dapatkan dari pengetahuan awal subjek tentang konsep materi FPB. Berikut hasil pengerjaan soal tes dan petikan wawancara dengan RV.
Figure 4. Hasil pengerjaan RV soal cerita FPB
P : Apa saja informasi yang kamu dapatkan dari soal cerita yang sudah kamu kerjakan?
RV : Di soal itu diketahui kalo ada 81 jeruk, 63 pir, dan 45 salak, terus mau dibagikan sama banyak.
Jadi saya disuruh mencari banyaknya kantong plastik untuk buah itu.
P : Apakah kamu mengetahui yang dimaksud dengan FPB?
RV : FPB itu kepanjangan dari faktor persekutuan besar dari dua atau tiga bilangan, tapi cari faktor
terkecil Kalo FPB itu biasanya digunakan untuk membagi sama banyak.
Ruang intrepretant yang didapatkan adalah RV mampu mengklasifikasikan pokok-pokok penting dari permasalahan untuk mempermudah dalam menyelesaikan permasalahan, RV juga mampu menjelaskan kepanjangan FPB dengan sederhana, serta menyebutkan kata kunci dalam menentukan FPB. Hal ini menunjukkan bahwa aspek interpretation dalam berpikir kritis telah terpenuhi. Selain itu, kemampuan RV dalam menjelaskan kembali konsep dengan bahasa sendiri membuktikan adanya pemahaman yang mendalam, bukan sekadar hafalan. Penggunaan kata kunci dalam pengerjaan soal menandakan bahwa RV dapat menghubungkan informasi yang relevan dengan langkah penyelesaian. Dengan demikian, interpretasi yang dilakukan RV memberikan dasar yang kuat dalam proses berpikir kritis pada tahap selanjutnya.
2. Analysis
Figure 5. Diagram analisis aspek Analysis
Aspek Analysis menunjukkan bahwa RV menjelaskan alasan memilih menggunakan cara FPB dan membandingkan metode yang dianggap paling mudah disertai dengan alasn. Melalui s1,2 = “Menjelaskan penggunaan FPB dan membandingkan dengan metode penyelasain pembagian prima dengan metode pohoh faktor yang disertai alasan memilih pohon faktor”, dapat dilihat bahwa RV mampu membuktikan alasan memilih metode tersebut dan dibuktikan dengan membandingkan metode lain. Kemudian diketahui objek matematika i1adalah menjelaskan penggunaan FPBsebagai konsep matematika yang relevan untuk menyelesaikan permasalahan. Selanjutnya objek matematika tentang i2 adalah membandingkan metode pembagian primadanpohon faktor.Berikut hasil pengerjaan soal tes dan petikan wawancara dengan RV pada soal nomor 1.
Figure 6. Hasil pengerjaan RV soal cerita FPB nomor 1
P : Bagaimana kamu menentukan cara penyelesaian dari soal tersebut?
RV : Saya pakek pohon faktor yang dibagi pakek bilangan prima dan menggunakan cara FPB. Sama
kayak tadi di pengertian cari sama banyak, jadi pakek FPB rumusnya.
P : Mengapa kamu memilih cara tersebut?
RV : Menurutku, lebih gampang dan dari awal diajarkan faktorisasi jadi terbiasa mengerjakan soal
pakek cara itu. Terus ngitungnya teratur jadi kemungkinan salahnya itu kecil.
Ruang interpretant yang didapatkan adalah RV mampu menjelaskan penggunaan FPB sebagai konsep penyelesaian matematika yang relevan dan membandingkan dengan metode penyelesaian pembagian prima dengan metode pohon faktor yang disertai alasan memilih pohon faktor yakni dianggap paling mudah dan lebih teratur. Hal ini menunjukkan bahwa RV tidak hanya memahami konsep FPB, tetapi juga mampu menilai kelebihan serta kekurangan dari setiap metode yang digunakan. Pemilihan metode pohon faktor didasarkan pada pertimbangan logis mengenai keteraturan langkah dan minimnya kemungkinan kesalahan. Dengan demikian, terlihat bahwa kemampuan analisis RV sudah berkembang karena ia dapat mengaitkan konsep matematika dengan alasan yang mendukung pilihannya.
3. Evaluation
Figure 7. Diagram analisis aspek Evaluation
RV menunjukkan aspek Evaluation dengan mampu menilai relevansi pernyataannya dalam memilih metode pohon faktor dengan menyebutkan berbagai alasan yang logis berdasarkan metode lain yang telah digunakan. Melalui s3=“Menyatakan cara yang paling cepat dan mudah dalam menyelesaikan soal dan menyebutkan beberapa metode dalam menyelesaikan soal cerita FPB”, dapat dilihat bahwa RV membuat kesimpulan memilih metode pohon faktor dengan pernyataan yang logis dan kuat dimana jawabannya bukan berdasarkan alasan tidak berdasar. Kemudian diketahui objek matematika pada i3 adalah RV Pada soal nomor 3, menuliskan alasan menggunakan FPB setelah membandingkan dengan cara lain pada soal nomer 2. Berikut hasil pengerjaan soal tes dan petikan wawancara dengan RV pada soal nomor 3.
Figure 8. Hasil pengerjaan RV soal cerita FPB nomor 3
P : Menurutmu, apakah cara yang kamu pilih sudah benar dan paling mudah?
RV : Iya paling mudah, sebenarnya ada 4 cara yang tak ketahui, pertama pohon faktor, pembagian
langsung sama bilangan prima, tabel dan pembagian yang dibagi angka paling kecil dari ketiga
bilangan yang dicari faktornya. Tapi saya lupa apa namanya, karena pernah pernah lihat di
google. Jadi saya tetep pakek pohon faktor karena ngitungnya sendiri-sendiri gak jadi satu
kayak tabel.
Ruang interpretant yang didapatkan adalah RV mampu mengevaluasi pendapat yang ia sampaikan dengan alasan pemilihan metode yakni kemudahan langkah pada pohon faktor, dibandingkan dengan metode lain yang memiliki kesulitan dalam menggunakan perhitungan. Hal ini menunjukkan bahwa RV mampu menilai relevansi pernyataannya berdasarkan pengalaman penyelesaian soal yang telah dilakukan. RV juga dapat memberikan alasan logis mengapa metode pohon faktor lebih sesuai digunakan dibandingkan metode lain. Dengan demikian, terlihat bahwa RV tidak hanya sekadar memilih suatu cara, tetapi juga melakukan penilaian kritis terhadap keefektifan metode yang dipakai.
4. Inference
Figure 9. Diagram analisis aspek Inference
Pada analisis aspek inference, RV membuat kesimpulan dengan detail dan merumusukan jawaban alternatif dalam menyelesaikan soal cerita FPB. Melalui s1,3= “Menyatakan keismpulan jumlah kantong plastik ada 9 untuk buah yang dibagi sama rata”, dapat dilihat bahwa RV dapat memami kesimpulan yang sudah dibuat dan mampu merumuskan beberapa alternatif penyelesaian selain menggunakan pohon faktor. Kemudian objek matematika tentang i1adalah menarik kesimpulan dengan benar dan Kemudian objek matematika tentang i3 yakni membuat alternatif jawaban lain. Berikut hasil pengerjaan soal tes dan petikan wawancara dengan RV pada soal nomor 1.
Figure 10. Hasil pengerjaan RV soal cerita FPB nomor 1
P : Apa kesimpulan yang kamu dapatkan dari mengerjakan soal cerita?
RV : Setelah tak hitung semua pakek rumus, ketemu kesimpulan plastik yang dibutuhkan ada 9
kantong plastik untuk di isi buah sama banyak dan rata.
P : Menurutmu, apakah hasilnya akan tetap sama jika menggunakan cara lain? Mengapa?
RV : Iya tetap sama, tadi saya coba ngerjain pakek pembagian yang dibagi bilangan prima bersusun
kebawah juga ketemu 9, tapi ya gitu lama ngerjain terus harus teliti karena kan angkanya berulang sampek kebawah terus sampek di samping harus sama-sama prima jadi ketemu deh hasilnya. Sebenere sama kayak pohon faktor tapi ini menyamping dan itu tadi bedanya angka e berulang kesamping walaupun kebawah juga sih ngitungnya .
Ruang interpretant yang didapatkan adalah RV mampu menarik kesimpulan berdasarkan informasi yang diberikan serta memahami konsistensi hasil yang diperoleh meskipun menggunakan metode yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa RV tidak hanya berfokus pada jawaban akhir, tetapi juga memperhatikan keakuratan proses yang ditempuh. Kesadaran bahwa berbagai metode dapat menghasilkan jawaban yang sama menandakan adanya pemahaman konsep yang mendalam. Dengan demikian, RV menunjukkan kemampuan berpikir kritis dalam aspek inference karena dapat memverifikasi kebenaran hasil melalui perbandingan metode.
5. Explanation
Figure 11. Diagram analisis aspek Explanation
Aspek explanation telihat dari RV menuliskan langkah-langkah pengerjaan dengan berhati-hati dan teliti. Selain itu, RV mampu menjelaskan alasan relevan setiap langkah pengerjaan soal. Penjelasan tersebut tidak hanya berupa jawaban akhir, melainkan juga uraian logis mengenai proses berpikir yang ia lakukan, seperti mengapa memilih metode tertentu dan bagaimana langkah tersebut sesuai dengan konsep matematika yang dipelajari. Melalui s1 = “menyebutkan penyelesaian soal mulai dari menuliskan informasi diketahui, menentukan ditanyakan, hingga menguraikan langkah-langkah perhitungan dengan metode pohon faktor”, dapat dilihat bahwa RV mampu menggunakan prosedur yang tepat. kemudian diketahui objek matematika tentang i1 adalah menuliskan secara urut dan detail dari perhitungan 81, 63 dan 45 serta menggunakan cara FPB sehingga mengarahkan kepada pengambilan keputusan.Berikut hasil pengerjaan soal tes dan petikan wawancara dengan RV pada soal nomor 1.
Figure 12. Hasil pengerjaan RV soal cerita FPB nomor 1
P : Apakah kamu bisa menjelaskan proses dari awal menghitung sampai mendapatkan jawaban?
RV : Pertama kali saya lihat dulu, terus saya acari yang diketahui apa saja dan ditanyakan apa. Nah ,
kalo sudah tau yang ditanya baru saya mikir pakek rumus apa yang digunakan. Saya ngitungnya
pakek pohon faktor buat cari faktor masing-masing lalu dicari FPB nya. Setelah di itung ketemu
hasilnya tinggal nambahi jadi apa yang diminta.
Ruang interpretant yang didapatkan adalah RV mampu menjelaskan hasil yang diperoleh sekaligus memberikan alasan atas prosedur yang digunakan. Subjek tidak hanya menyajikan jawaban akhir, tetapi juga menguraikan langkah-langkah penyelesaian dengan jelas sehingga dapat dipahami. Hal ini menunjukkan bahwa RV memiliki kemampuan komunikasi matematis yang baik dalam menjelaskan proses berpikirnya. Penjelasan yang runtut dan detail memperlihatkan bahwa RV benar-benar memahami setiap tahapan penyelesaian, bukan sekadar menyalin rumus. Dengan demikian, aspek explanation dalam berpikir kritis dapat dikatakan telah terpenuhi secara optimal.
6. Self-Regulation
Figure 13. Diagram analisis aspek Self-Regulation
Ilustrasi di atas menunjukkan bagaimana aspek Self-Regulationmuncul. Melalui S4 = “Menyatakan selalu memeriksa ulang jawaban dengan teliti dan memperbaiki jika ada kesalahan”, hal ini menunjukkan bahwa dalam menyelesaikan masalah selalu hati-hati dan teliti., kemudian diketahui objek matematika tentang I4 Adalah memeriksa ulang perhitungan FPB dengan soal yang mirip dari soal utama dengan perhitungan 72,60 dan 42 tetapi hasil perhitungannya tidak sama. Ruang interpretant yang didapatkan adalah RV selalu melakukan Melakukan pemeriksaan ulang terhadap pengerjaan soalnya dan membuat tindakan jika terdapat keliruan. Berikut terlihat dari petikan wawancaranya.
P : Apakah kamu selalu mengoreksi kembali jawabannmu?
RV : Iya selalu mengoreksi, kadang kurang teliti dibagian pembagian apalagi angkanya kan besar,
jadi saya tulis di kertas buram dan tak kasih nomer. Nanti kalo ngoreksi perkalian gampang.
Soalnya saya gak bisa pembagian yang poro gapet itu.
P : Kalau kamu salah hitung, bagaimana kamu mengetahuinya?
RV : Di ulang dari awal, dilihat mana yang salah urutannya, atau pembagian terus tinggal diperbaiki
salahnya.
Ruang interpretant yang didapatkan adalah RV selalu melakukan pemeriksaan ulang terhadap langkah perhitungan dan hasil akhir yang diperoleh. Subjek menunjukkan sikap teliti dengan cara mengecek kembali jawaban menggunakan metode lain serta memperbaiki apabila ditemukan kesalahan. Hal ini menandakan bahwa RV memiliki kesadaran metakognitif dalam mengontrol dan meregulasi proses berpikirnya. Dengan demikian, aspek self-regulation dalam berpikir kritis juga telah terpenuhi, karena siswa tidak hanya fokus pada hasil, tetapi juga memastikan keakuratan proses penyelesaiannya.
Subjek mampu menyelesaikan empat soal cerita FPB dengan benar dan tepat, selain itu juga memenuhi keseluruhan indikator berpikiri kritis Facione yakni interpretation, analysis, evaluation, inference,explanation, dan self-regulation. Pada aspek interpretation, siswa dapat mengidentifikasi informasi penting dalam soal, menjelaskan makna FPB, serta menuliskan bagian diketahui dan ditanyakan dengan benar. Hal ini menunjukkan bahwa siswa mampu menghubungkan data soal dengan konsep matematika yang relevan. Pada aspek analysis, siswa mampu membedakan dan membandingkan metode faktorisasi, kemudian memilih metode pohon faktor dengan alasan yang logis. Selanjutnya, pada aspek evaluation, siswa menunjukkan kemampuan mengenali faktor relevan dalam pemilihan metode serta menilai kesimpulan yang diperoleh sebagai jawaban yang logis dan kuat. Kemampuan menarik kesimpulan terlihat pada aspek inference, di mana siswa mampu menyimpulkan hasil perhitungan FPB baik pada soal utama maupun soal modifikasi dengan konsisten. Pada aspek explanation, siswa tidak hanya menuliskan jawaban akhir, tetapi juga menguraikan langkah-langkah penyelesaian secara runtut dan logis. Sedangkan pada aspek self-regulation, siswa terbiasa memeriksa kembali hasil pekerjaannya serta melakukan koreksi jika terdapat kesalahan, yang terlihat dari cara siswa mengecek hasil perhitungan dengan metode lain. Hasil ini sejalan dengan pendapat Facione (2011) bahwa berpikir kritis melibatkan keterampilan menginterpretasi, menganalisis, mengevaluasi, menyimpulkan, menjelaskan, dan mengatur diri. Dengan demikian, penelitian ini memperkuat bahwa penggunaan pendekatan semiotika Peirce dalam menganalisis hasil tes dan wawancara efektif untuk menggali indikator berpikir kritis siswa secara lebih mendalam.
Berdasarkan pemaparan hasil dan pembahasan, maka didapatkan kesimpulan dari penelitian ini bahwa siswa kelas V SD mampu menunjukkan aspek-aspek kemampuan berpikir kritis yang meliputi interpretation, analysis, evaluation, inference, explanation, dan self-regulation dalam menyelesaikan soal materi FPB secara mandiri dan logis. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa siswa tidak hanya mampu secara mekanis menyelesaikan soal, tetapi juga mampu berpikir secara kritis dan reflektif dalam proses penyelesaiannya. Mereka mampu menghubungkan setiap aspek berpikir kritis tersebut secara terpadu, yang mencerminkan perkembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam konteks matematika pada jenjang pendidikan dasar. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kemampuan berpikir kritis siswa dalam konteks ini sudah mencapai pencapaian yang baik dan mendukung proses penyelesaian masalah matematika secara logis dan analitis.
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terima kasih secara khusus ditujukan kepada SD Negeri Tunggul Wulung I Pandaan yang telah memberikan izin dan memfasilitasi proses pengumpulan data. Penulis juga menghargai partisipan yang telah meluangkan waktu dan memberikan informasi yang sangat berharga. Selain itu, penghargaan yang tinggi diberikan kepada rekan-rekan sejawat atas bantuan dan dukungan mereka di lapangan. Tak lupa, penulis mengucapkan terima kasih yang tulus kepada keluarga dan orang-orang terkasih atas doa, semangat, dan dukungan emosional yang selalu diberikan. Semua dukungan yang telah diterima sangat berarti bagi kelancaran dan keberhasilan penelitian ini, dan semoga hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
[1] Y. Ngatminiati, Y. Hidayah, and S. Suhono, “Keterampilan Berpikir Kritis Untuk Mengembangkan Kompetensi Abad 21 Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran, vol. 7, no. 3, pp. 8210–8216, 2024.
[2] A. Rahardhian, “Kajian Kemampuan Berpikir Kritis (Critical Thinking Skill) Dari Sudut Pandang Filsafat,” Jurnal Filsafat Indonesia, vol. 5, no. 2, pp. 87–94, 2022, doi: 10.23887/jfi.v5i2.42092.
[3] A. S. Manurung, F. Fahrurrozi, E. Utomo, and G. Gumelar, “Implementasi Berpikir Kritis Dalam Upaya Mengembangkan Kemampuan Berpikir Kreatif Mahasiswa,” Jurnal Papeda: Jurnal Publikasi Pendidikan Dasar, vol. 5, no. 2, pp. 120–132, 2023, doi: 10.36232/jurnalpendidikandasar.v5i2.3965.
[4] N. Kurniati and A. A. Arafah, “Pengaruh Model Challenge-Based Learning Berbantuan GeoGebra Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Dalam Menganalisis Informasi Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 2, no. 1, pp. 7–15, 2024.
[5] R. A. Gustianingrum, A. Murni, and Maimunah, “Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Dalam Menunjang Penguatan Profil Pelajar Pancasila,” Prisma: Prosiding Seminar Nasional Matematika, vol. 6, pp. 465–471, 2023.
[6] H. Rahmawati, P. Pujiastuti, and A. P. Cahyaningtyas, “Kategorisasi Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas Empat Sekolah Dasar Di SD Se-Gugus II Kapanewon Playen, Gunung Kidul,” Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, vol. 8, no. 1, pp. 88–104, 2023, doi: 10.24832/jpnk.v8i1.3338.
[7] D. Fatmarani and R. Setianingsih, “Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMP Dalam Menyelesaikan Soal Aljabar Mengacu Pada Watson-Glaser Critical Thinking Appraisal,” MATHEdunesa, vol. 11, no. 3, pp. 904–923, 2022, doi: 10.26740/mathedunesa.v11n3.p904-923.
[8] U. Turan, Y. Fidan, and C. Yıldıran, “Critical Thinking As A Qualified Decision Making Tool,” Journal Of History Culture And Art Research, vol. 8, no. 4, p. 1, 2019, doi: 10.7596/taksad.v8i4.2316.
[9] P. A. Facione, Berpikir Kritis: Apa Itu Dan Mengapa Itu Penting. Millbrae, CA: Insight Assessment, 2015.
[10] A. Rahardhian, “Pengaruh Pembelajaran PjBL Berbasis STEM Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Pada Materi Listrik Dinamis,” Jurnal Inovasi Penelitian Dan Pembelajaran Fisika, vol. 3, no. 1, p. 1, 2022, doi: 10.26418/jippf.v3i1.50882.
[11] A. Anggito, P. Pujiastuti, and D. Gularso, “The Effect Of Video Project-Based Learning On Students’ Critical Thinking Skills During The Covid-19 Pandemic,” Al-Ishlah: Jurnal Pendidikan, vol. 13, no. 3, pp. 1858–1867, 2021, doi: 10.35445/alishlah.v13i3.772.
[12] S. Sachdeva, “Learners’ Critical Thinking About Learning Mathematics,” International Journal Of Educational Research, vol. 3, no. 16, 2021.
[13] E. P. Lestari and T. Y. E. Siswono, “Profil Berpikir Kritis Siswa SMP Menyelesaikan Soal Numerasi Berdasarkan Tingkat Kemampuan Numerasi,” MATHEdunesa, vol. 11, no. 2, pp. 538–547, 2022, doi: 10.26740/mathedunesa.v11n2.p538-547.
[14] A. R. Siregar and Sujarwo, “Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas V Menggunakan Soal Cerita Materi FPB Dan KPK Ditinjau Dari Gaya Belajar,” EduGlobal: Jurnal Penelitian Pendidikan, vol. 3, pp. 71–97, 2024.
[15] K. Wahyuningtiyas, Sudirman, and Subanji, “Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Ditinjau Dari Perbedaan Gender,” Mathema Journal, vol. 6, no. 1, pp. 245–258, 2024.
[16] A. G. Mastuti, A. Abdillah, N. Sehuwaky, and R. Risahondua, “Revealing Students’ Critical Thinking Ability According To Facione’s Theory,” Al-Jabar: Jurnal Pendidikan Matematika, vol. 13, no. 2, pp. 261–272, 2022, doi: 10.24042/ajpm.v13i2.13005.
[17] S. N. Afifah and A. B. Kusuma, “Pentingnya Kemampuan Self-Efficacy Matematis Serta Berpikir Kritis Pada Pembelajaran Daring Matematika,” MathEdu: Mathematic Education Journal, vol. 4, no. 2, pp. 313–320, 2021.
[18] L. Liza, D. Mayasari, and E. Sulistri, “Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Ditinjau Dari Kemandirian Belajar Siswa Dalam Pembelajaran IPS Kelas V SDN 93 Singkawang,” Autentik: Jurnal Pengembangan Pendidikan Dasar, vol. 7, no. 2, pp. 200–211, 2023, doi: 10.36379/autentik.v7i2.285.
[19] T. Y. E. Siswono, Paradigma Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2016.
[20] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2014.