Nety Nur Kusuma Dewi (1), Luluk Iffatur Rocmah (2)
General Background: Early childhood is a critical period for language and literacy development, during which appropriate stimulation supports future academic readiness. Specific Background: Beginning reading ability in children aged 4–5 years involves recognizing letters, syllables, simple words, and simple sentences, yet many learners encounter difficulties when instruction relies heavily on spelling-based methods. Knowledge Gap: Although the Belajar Membaca Tanpa Mengeja (Reading Without Spelling) approach is widely used, empirical evidence regarding its classroom application through a structured learning book remains limited. Aims: This study aimed to examine the effect of implementing a Reading Without Spelling learning book on the early reading ability of children aged 4–5 years at TK Dharma Wanita Persatuan Tawangsari 2. Results: Using a quantitative quasi-experimental nonequivalent control group design with 30 participants, the experimental group achieved a higher mean posttest score (87.00) than the control group (78.11), with t(28) = 2.134 exceeding the critical value of 2.048 at α = 0.05, indicating a significant difference between groups. Novelty: The study evaluates a locally developed literacy book that introduces words holistically without letter-by-letter spelling, supported by visual illustrations and structured progression. Implications: The findings suggest that the Reading Without Spelling book can serve as a practical alternative learning medium for improving early reading ability and enriching literacy instruction in early childhood education settings.
Highlights:
Experimental participants achieved substantially higher post-assessment scores than peers receiving conventional instruction.
Statistical testing confirmed a meaningful difference between the two instructional approaches at the 5% level.
Holistic word recognition supported by visual cues corresponded with stronger literacy outcomes.
Early Reading Ability; Preschool Literacy; Reading Without Spelling; Quasi-Experimental Study; Early Childhood Education
Anak usia dini adalah individu dengan rentan usia 0-6 tahun. Di usia ini, perkembangan sangat pesat. Oleh karena itu, masa ini sering disebut periode emas atau golden age. Anak usia dini, sangat mudah diberikan stimulus-stimulus untuk menunjang perkembangannya. Karena, pada dasarnya pada masa ini, terjadi proses perkembangan yang sangat cepat dan kompleks, yang akan membentuk kepribadian dan kemampuan seseorang di masa depan. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 menegaskan bahwa pemberian Stimulasi yang tepat, dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan mereka. Jadi, pada masa ini anak anak membutuhkan arahan yang tepat dalam proses pembelajaranya. Karena pada masa ini anak cenderung memiliki keingin tahuan yang lebih tingi. Selain itu, pada masa ini anak - anak cenderung melakukan atau menirukan hal - hal yang dilihatnya.
Oleh karena itu, pendidikan pada masa ini sangat penting. Pendidikan bertujuan untuk merangsang perkembangan fisik dan mental anak agar siap menghadapi tahap pendidikan berikutnya. Selain itu, Pendidikan usia dini memiliki peran dalam membentuk keterampilan sosial, emosional, dan akademik anak yang akan berdampak sepanjang hidup mereka. Ini sesuai dengan sifat alamiah anak yang mudah menerima stimulus yang di erikan kepadanya. Dari segi akademik, Pendidikan memiliki dampak besar pada perkembangan bahasa anak, terutama dalam aspek literasi. Dimulai dengan tahap pra-membaca, seperti pengenalan huruf, dan berlanjut ke tahap membaca dan menulis yang lebih kompleks.
Pendidikan membaca dan menulis yang diajarkan di usia sekolah, kemudian dinamakan membaca permulaan. Kegiatan ini sangat penting dalam mendukung perkembangan literasi anak usia dini. Pada tahap ini anak - anak sangat mudah menerima segala hal baru yang diajarkan. Selain itu, pada tahap ini anak - anak mengenali huruf, dan suara yang terkait dengan huruf tersebut. Menguasai kemampuan membaca permulaan, seperti mengenal huruf, bunyi huruf, dan menghubungkan huruf dengan gambar, adalah langkah awal yang krusial dalam mengembangkan kemampuan literasi anak. Lewat menghubungkan gambar dan huruf, diharapkan anak mampu dengan cepat mengembangkan keterampilan membacanya. Kemampuan membaca merupakan keterampilan dasar yang sangat penting dalam perkembangan anak usia dini. Lewat membaca, anak diharapkan mendapatkan banyak informasi. Membaca merupakan tolak ukur keberhasilan dalam pendidikan Formal. Karena hamper semua aspek penilaian di ukur dari kemampuan membaca. Membaca tidak hanya menjadi fondasi penting bagi keberhasilan pendidikan formal. Tetapi, juga berkontribusi penting terhadap kemampuan berpikir kritis dan penguasaan ilmu pengetahuan. Lewat membaca, diharapkan anak memiliki rasa ingin tahu dan mencari lebih banyak sumber belajar. Pada usia dini, anak berada dalam tahap operasi konkret, di mana mereka mulai mengembangkan kemampuan untuk berpikir secara logis tentang objek dan kejadian yang ada di sekitar merekaMereka akan lebih peka dalam menerima materi pembelajaran. Seperti ditekankan oleh Piaget bahwa bahasa berkembang seiring dengan perkembangan kemampuan kognitif anak, dan anak-anak belajar bahasa dengan cara berinteraksi dengan lingkungan mereka.
Membaca merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis yang bersifat reseptif. Karena, orang akan mendapatkan berbagai macam informasi dari membaca. Dengan demikian, kegiatan membaca adalah kegiatan yang sangat diperlukan. Selain itu, tuntutan orang tua yang menginginkan anaknya untuk sudah bisa membaca menjadi salah satu tantangan bagi guru. Pada hakekatnya, membaca dibagi menjadi dua, membaca sebagai proses dan membaca sebagai produk. Membaca sebagai proses mengacu pada kegiatan fisik dan mental sedangkan membaca sebagai produk, mengacu pada konsekuensi dari aktivitas yang dilakukan pada saat membacaDalam prosesnya, guru seringkali dihadapkan pada anak yang mengalami kesulitan membaca. Kemampuan membaca yang diperoleh pada membaca permulaan akan sangat mempengaruhi terhadapkemampuan membaca lanjut
Peraturan menteri pendidikan dan kebudayaan menyatakan bahwa kemampuan membaca anak usia 4-5 tahun terdiri dari beberpa hal, diantaranya adalah mengenal simbol – simbol huruf, mengenal suara, dan mengucapkan huruf. Dari pernyataan tersebut dapat dikatakan bahwa, indikator kemampuan membaca permulaan anak usia 4-5 tahun meliputi menyebutkan simbol huruf, mengenal bunyi huruf, mengenal bunyi huruf awal, mampu membedakan bentuk huruf, membaca suku kata, merangkai suku kata menjadi kata sederhana, membaca kata, dan menjodohkan kata dengan gambar. Untuk mencapai semua indikator tersebut, tentunya tidak mudah. Berbagai masalah timbul dalam upaya pencapaiannya. Namun, banyak pula metode yang dapat membantu dalam memecahkan masalahnya. Diantaranya adalah metode membaca tanpa mengeja. Metode ini lebih populer dengan nama BMTM atau belajar membaca tanpa mengeja.
Metode ini dinilai sangat populer diterapkan dalam dunia pendidikan saat ini. Sebagaimana dijelaskan pada penelitian sebelumnya bahwa, Belajar Membaca Tanpa Mengeja (BMTM) merupakan sebuah metode belajar membaca yang dimulai dengan mengenalkan bunyi suku kata pada tahap awal pembelajaran. Suku kata yang dimaksud, berasal dari kata yang telah dikenal anak dalam kehidupan sehari-hari. Rangkaian bunyi suku kata yang dikenal anak akan memudahkan mereka dalam memahami dan mengingat bentuk dari rangkaian huruf yang membentuk kata-kata tersebut. Sebagaimana penerapan belajar membaca tanpa mengeja yang diterapkan di TK Dharma Wanita Persatuan Tawangsari 2, yaitu mengunakan metode BMTM dengan media buku Belajar Membaca Tanpa Mengeja. Pada penelitian terdahulu telah diteliti tentang metode belajar membaca tanpa mengeja dengan mengunakan media kartu Huruf yang menunjukkan hasil bahwa metode BMTM mampu mengembangkan kemampuan membaca anak. Hal ini dibuktikan dengan hasil subjek penelitian mengalami peningkatan. Sedangkan pada penelitian ini peneliti menggunakan media buku Belajar Membaca Tanpa Mengeja yang dimiliki dan diterbitkan oleh TK Tersebut. Walaupun memiliki 2 perbedaan media, namun keduanya sama - sama membahas mengenai pembelajaran membaca yang tidak memerlukan mengeja satu per satu. Metode membaca tanpa mengeja memungkinkan anak mengenali kata sebagai satu kesatuan makna tanpa harus mengeja huruf per huruf, sehingga mempercepat proses belajar.
Buku Belajar Membaca Tanpa Mengeja ini merupakan karya kepala sekolah di TK Dharma Wanita Persatuan Tawangsari 2, Ibu Hj. Nurul Latifah, S.Pd,M.Pd. Buku Belajar Membaca Tanpa Mengeja ini merupakan upaya yang dilakukan Ibu Kepala sekolah di TK tersebut dalam mengatasi permasalahan membaca permulaan. Selain itu, buku Ini merupakan implementasi dari Bonding TK Dharma Wanita Persatuan Tawangsari 2 yang berfokus pada Literasi. Buku Ini terdiri dari 3 buku yang mana setiap bukunya memiliki perbedaan diantaranya warna sampul dan isinya. Buku 1 berisi pengenalan huruf vocal a i u e o, mengenalkan suku kata dari ba sampai za dimana setiap huruf atau suku kata diberi visualisasi berupa gambar sebagai pengingat huruf/suku kata, huruf konsonan yang digabung dengan huruf vocal hanya dengan huruf a saja, materi huruf vocal akan diacak dan dibaca berulang-ulang dan materi suku kata akan digabung dengan suku kata yang lain menjadi 2 – 3 suku kata. Pada buku 2, buku ini fokus mengenalkan suku kata ba bi bu be bo sampai za zi zu ze zo, Menggabungkan dengan huruf vocal sebagai awalan, seperti i bu, dan mengenalkan huruf akhiran, seperti maka n menjadi makan. Sedangkan pada buku 3 mengenalkan gabungan huruf, seperti ng, ny, dan menggabungkan suku kata menjadi sebuah kata yang bermakna.
Diharapkan, lewat buku ini, anak – anak lebih mudah dalam belajar membaca. Buku ini dapat meningkatkan kecepatan membaca karena menggunakan metode yang tidak mengandalkan mengeja, yang dapat membantu anak-anak lebih mudah mengenali huruf atau suku kata. Selain dapat meningkatkan kecepatan membaca, buku ini juga dapat menghemat waktu karena tidak harus mengeja per satu huruf. Buku ini juga dilengkapi dengan gambar yang sesuai dengan huruf vocal atau suku kata sebagai ilustrasi yang menarik sehingga dapat membantu anak-anak lebih mudah memahami konsep huruf yang sedang dipelajarinya karena ada visualisasinya. Dengan demikian anak-anak dapat dengan mudah memperluas kosa kata dan meningkatkan pemahaman antar kata. Berdasarkan penjelasan tersebut, oleh karenanya penelitian ini bertujuan untuk mengkaji seberapa berpengaruh penerapan buku metode membaca tanpa mengeja terhadap kemampuan membaca permulaan anak usia 4-5 tahun. Ini dilihat baik sebelum dan sesudah penerapan buku membaca tanpa mengeja dan seberapa berpengaruhnya buku tersebut untuk meningkatkan kemampuan membaca permulaan bagi anak usia 4-5 tahun di TK tersebut.
Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif. Metode penelitian ini disebut dengan metode kuantitatif sebab data penelitiannya berupa angka-angka serta analisis yang digunakan adalah statistik. Data yang digunakan dalam penelitian kuantitatif berupa angka-angka yang dianalisis menggunakan statistik untuk menemukan pola, hubungan, atau pengaruh antar variabel. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Metode eksperimen adalah metode penelitian yang berupa pengaruh perlakuan tertentu terhadap perlakuan lain dalam suasana yang terkendali. Metode eksperimen digunakan dalam penelitian ini. Metode eksperimen adalah suatu penelitian yang dirancang jauh sebelum penelitian dilakukan. Peneliti menggunakan Quasi Eksperimental Design dalam penelitian ini. Peneliti menggunakan bentuk desain Nonequivalent Control Group Design. Desain penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut.
Keterangan:
O1: Pretest pada kelas eksperimen (Pemberian tes)
O2: Posttest pada kelas eksperimen, yaitu pemberian tes setelah treatment
O3: Pretest pada kelas kontrol, yaitu pemberian tes sebelum treatment
O4: Posttest pada kelas kontrol, yaitu pemberian tes setelah kelas kontrol mendapat pembelajaran dengan kartu huruf
X: Perlakuan atau treatment buku Belajar Membaca Tanpa Mengeja.
Penelitian ini dilakukan di TK Dharma Wanita Persatuan Tawangsari 2. Dengan waktu penelitian dilakukan selama satu bulan. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil populasi di kelompok A di TK Dharma Wanita Persatuan Tawangsari 2. Menggunakan sampel 30 anak dari dua kelompok ( kelompok A1 dan Kelompok A2), dikelas A1 sebanyak 15 anak dan dikelas A2 sebanyak 15 anak. Penelitian ini menggunakan teknik sampling nonprobability sampling. Nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberi setiap individu dari populasi kesempatan atau peluang yang berbeda untuk dijadikan sampel. Peneliti menggunakan teknik nonprobability sampling dengan jenis sampling purposive. Sampling purposive ialah teknik pengambilan sampel dengan pertimbangan terntentu. Pemilihan sampel pada teknik ini didasarkan pada kesesuaiannya dengan tujuan penelitian, kemudahan pelaksanaan, serta kecenderungan melibatkan individu yang mudah diakses dan berinteraksi dengan peneliti. Di mana kedua kelompok tersebut akan diteliti dan salah satunya akan diberikan penerapan dengan buku Belajar Membaca Tanpa mengeja, sedangkan di kelas yang lain diberikan metode mengeja dengan media kartu huruf.
Apabila dilihat dari jenis sumber data, ada dua jenis sumber pengumpulan data, yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer didapatkan peneliti dari sumber data secara langsung, sedangkan Sumber data sekunder, peneliti menggunakan tes dalam pengambilan data sekundernya. Tes yang dimaksudkan disini adalah untuk untuk mengetahui kemampuan membaca permulaan anak usia 4-5 tahun dengan indikator sebagai berikut: anak mampu menyebutkan beberapa simbol huruf, anak mampu menyebutkan bunyi huruf yang sesuai, anak mampu menyebutkan huruf awal dari sebuah kata, anak mampu membedakan bentuk huruf dan anak mampu merangkai suku kata menjadi kata sederhana.
Sebelum instrumen diujikan di kelas, instrumen harus valid dan reliabel. Oleh sebab itu, instrumen soal harus dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas. Hal tersebut dimaksudkan agar instrumen yang dipakai bisa tepat dan layak digunakan peneliti untuk melakukan penelitian. Selain itu, peneliti juga melakukan uji daya pembeda dan tingkat kesukaran pada butir soal. Penelitian ini menggunakan uji validitas dengan perhitungan statistik dan menggunakan rumus Pearson/Product Moment. Setelah skor instrumen dihitung menggunakan rumus Pearson/Product Moment dan didapatkan nilai rxy, selanjutnya dibandingkan dengan nilai rtabel. 5% adalah taraf signifikan yang digunakan. Butir soal disebut valid apabila rhitung > rtabel. Apabila ternyata butir soal tidak valid, maka butir soal tersebut tidak bisa dipakai dan harus diperbaiki. Selanjutnya instrumen soal dilakukan uji reliabilitas. Uji reliabilitas bisa dilakukan dengan menggunakan rumus Cronbach’s Alpha (α).
Sebelum melakukan uji hipotesis, penelitian ini diawali dengan uji prasyarat yang meliputi uji normalitas dan uji homogenitas untuk menentukan jenis statistik yang tepat dalam analisis data. Uji normalitas bertujuan mengetahui apakah data berdistribusi normal, sehingga dapat diputuskan penggunaan uji statistik parametrik atau non-parametrik . Apabila data berdistribusi normal, digunakan uji statistik parametrik, sedangkan apabila tidak berdistribusi normal digunakan uji statistik non-parametrik. Dalam penelitian ini, uji normalitas dilakukan dengan metode Liliefors menggunakan rumus z = (x - x̄) / s, di mana z merupakan simpangan baku untuk kurva normal standar, x_i adalah data ke-i dari kelompok data, x̄ adalah rata-rata kelompok, dan s adalah simpangan baku. Nilai Lhitung yang diperoleh dibandingkan dengan Ltabel pada taraf signifikansi 0,05, dan data dinyatakan berdistribusi normal jika Lhitung ≤ Ltabel. Uji homogenitas bertujuan untuk mengetahui kesamaan varians data. Homogenitas data menjadi salah satu syarat dalam penerapan uji statistik parametrik, Uji ini dilakukan dengan menggunakan rumus F = varians terbesar / varians terkecil, dan kriteria pengujian ditetapkan pada taraf signifikansi 0,05. Data dinyatakan homogen apabila Fhitung ≤ Ftabel.
Setelah kedua uji prasyarat terpenuhi, dilakukan uji hipotesis untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Uji yang digunakan adalah uji t dengan polled varians karena kedua kelompok diasumsikan memiliki varians yang homogen. Rumus yang digunakan adalah:
Figure 1.
dengan x̄₁ dan x̄₂ masing-masing sebagai rata-rata kelompok eksperimen dan kontrol, n₁ dan n₂ jumlah sampel pada masing-masing kelompok, serta s₁² dan s₂² varians masing-masing kelompok. Pengujian dilakukan pada taraf signifikansi 0,05 dengan kriteria bahwa hipotesis nol (H₀) diterima apabila -ttabel ≤ thitung ≤ ttabel, dan ditolak apabila nilai thitung berada di luar rentang tersebut.
Penelitian ini dilaksanakan di TK Dharma Wanita Persatuan Tawangsari 2 pada kelompok A (A1 sebagai kelompok eksperimen). Kelompok Eksperimen berjumlah 15 anak diberikan perlakuan pembelajaran membaca menggunakan buku BelajarMembacaTanpaMengeja selama periode penelitian. Sampel tersebut diantaranya 6 sampel laki – laki dan 9 sampel perempuan. Sedangkan 15 anak lainnya diberikan perlakuan kartu huruf dengan metode mengeja. Sampel tersebut diantaranya 10 sampel laki – laki dan 5 sampel perempuan. Data yang diperoleh meliputi nilai pretest dan posttest untuk mengetahui pengaruh buku belajar membaca tanpa mengeja, yang digunakan terhadap kemampuan membaca permulaan anak. Sebelum melakukan penelitian, dilakukan pretest agar peneliti dapat mengukur kemampuan membaca anak usia dini.
Setelah melakukan pretes, kemudian diterapkan buku belajar membaca tanpa mengeja di kelas Eksperimen. Dimana pembelajaran diawali dengan guru menyiapkan buku dan anak diminta untuk menirukan dahulu apa yang disampaikan oleh guru kelas. Setelah diterapkan buku belajar membaca tanpa mengeja, maka dilakukan post tes untuk mengukur sejauh mana peningkatan yang terjadi. Soal berupa 15 pertanyaan yang sebelumnya sudah di uji dan dinyatakan lolos validasi oleh dua ahli. Hasil dari pengerjaan soal dari kelompok eskperimen dapat ditampilkan sebagai berikut :
Tabel di atas menunjukkan hasil penelitian pada kelas eksperimen. Nilai pretest sebesar 1029,67, sedangkan hasil nilai posttest sebesar 1305. Rata-rata pretest sebesar 68,64 dan rata-rata posttest sebesar 87. Nilai maksimum dari keduanya sebesar 85 pretestdan 100 untuk posttest. Nilai minimum pretest sebesar 55, sedangkan nilai minimum posttest sebesar 73,33. Modus pada pretest sebesar 58,33, sedangkan modus pada posttest sebesar 95,00. Median pada pretest sebesar 65, sedangkan median pada posttest sebesar 85. Hasil kelas Eksperimen menunjukkan peningkatan yang sebelum dan sesudah diberi perlakuan menggunakan media buku belajar membaca tanpa mengeja. Peningkatan rata-rata dari nilai pretest ke posttest ditunjukkan di kelas Eksperimen.
Sedangkan pada kelas kontrol, perlakuan diberikan dengan menggunakan media kartu huruf melalui metode mengeja. Sama seperti pada kelas eksperimen, sebelum perlakuan terlebih dahulu dilakukan pre-test untuk mengetahui kemampuan awal membaca permulaan anak. Setelah itu, dilakukan pembelajaran menggunakan media kartu huruf selama periode penelitian. Pada akhir perlakuan, dilaksanakan post-test untuk mengukur adanya peningkatan kemampuan membaca permulaan pada kelas kontrol. Hasil dari pengerjaan soal dari kelompok Kontrol dapat ditampilkan sebagai berikut :
Tabel di atas menunjukkan bahwa pada kelas kontrol nilai total pre-test adalah 1036,65 dengan rata-rata 69,11, sedangkan nilai total post-test adalah 1171,67 dengan rata-rata 78,00. Nilai maksimum pre-test sebesar 85 dan nilai minimum 50, sedangkan pada post-test nilai maksimum adalah 95 dan nilai minimum 63,33. Modus pada pre-test sebesar 75, sedangkan modus pada post-test sebesar 66,67. Median pada pre-test adalah 70, sedangkan median pada post-test adalah 73,33.
Hasil ini menunjukkan bahwa kelas kontrol, yang mengikuti pembelajaran tanpa perlakuan menggunakan buku BelajarMembacaTanpaMengeja melainkan dengan media kartu huruf dan metode mengeja, juga mengalami peningkatan kemampuan membaca permulaan. Namun, rata-rata nilai post-test pada kelas kontrol lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata nilai post-test pada kelas eksperimen, yang mengindikasikan bahwa perlakuan pada kelas eksperimen memberikan hasil yang lebih optimal.
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, data penelitian diuji normalitas dan homogenitas untuk memastikan bahwa asumsi uji-t terpenuhi. Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah distribusi data mengikuti distribusi normal, yang merupakan syarat dasar penggunaan uji parametrik. Dalam penelitian ini, uji normalitas dilakukan menggunakan metode Liliefors pada taraf signifikansi α = 0,05. Patokan pengambilan keputusan adalah jika Lhitung < Ltabel, data dianggap berdistribusi normal; jika Lhitung ≥ Ltabel, data dianggap tidak normal. Hasil uji normalitas ditunjukkan pada Tabel sebagai berikut:
Hasil pengujian menunjukkan bahwa Fhitung < Ftabel, sehingga varians data antar kelompok homogen. Dengan terpenuhinya kedua asumsi tersebut, penelitian dapat dilanjutkan ke pengujian hipotesis menggunakan uji-t.
Uji-t dilakukan untuk mengetahui perbedaan signifikan antara kelompok eksperimen yang menggunakan media Buku Belajar Membaca Tanpa Mengeja dan kelompok kontrol yang menggunakan media konvensional. Nilai rata-rata post-test kelompok eksperimen lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Hasil uji-t disajikan pada Tabel berikut:
Hasil uji homogenitas menunjukkan bahwa Fhitung lebih kecil daripada Ftabel. Pengujian ini menggunakan taraf nilai signifikansi α = 0,05. Hasil uji diperoleh hasil kondisi Fhitung < Ftabel, maka data tersebut homogen. Selanjutnya dilakukan uji hipotesis agar diketahui hasil dari hipotesis yang sudah dibuat oleh peneliti.
Uji hipotesis dilakukan pada hasil belajar siswa berupa post-test siswa TK Dharma wanita Persatuan Tawangsari 2. Dilakukannya uji hipotesis adalah agar dapat diketahui hasil dari hipotesis yang sudah dibuat oleh peneliti. Peneliti menggunakan uji t polled varians dalam melakukan uji hipotesis dengan taraf nilai signifikansi α = 0,05. Hasil uji hipotesis pada penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel di atas menunjukkan hasil uji hipotesis post-test kelas eksperimen dan kelas kontrol. Nilai rata-rata post-test kelas eksperimen sebesar 87,00, sedangkan rata-rata post-test kelas kontrol sebesar 78,11, sehingga terdapat selisih rata-rata sebesar 8,89. Hasil uji-t menunjukkan bahwa nilai thitung (2,134) > ttabel (2,048). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada kemampuan membaca permulaan anak di kelas eksperimen yang menggunakan buku Belajar Membaca Tanpa Mengeja dibandingkan dengan kelas kontrol yang menggunakan kartu huruf dengan mengeja.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan buku Belajar Membaca Tanpa Mengeja terhadap kemampuan membaca permulaan anak usia 4–5 tahun di TK Dharma Wanita Persatuan Tawangsari 2. Sampel penelitian terdiri dari dua kelas, yaitu kelompok A1 sebagai kelas Eksperimen yang berjumlah 15 anak dan kelompok A2 sebagai kelas kontrol yang berjumlah 15 anak, sehingga total sampel penelitian adalah 30 anak. Instrumen penelitian berupa tes kemampuan membaca permulaan dengan jumlah 30 soal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan penerapan buku Belajar Membaca Tanpa Mengeja terhadap kemampuan membaca permulaan anak usia 4–5 tahun di TK Dharma Wanita Persatuan Tawangsari 2. Hal ini dibuktikan dengan peningkatan nilai rata-rata pretest kelas eksperimen dari 68,64 menjadi 87,00 pada posttest, dengan Nilai minimum meningkat dari 55 menjadi 73,33, sedangkan nilai maksimum dari 85 menjadi 100. Sedangkan kelas kontrol hanya meningkat dari 69,11 menjadi 78,11. Perbedaan peningkatan sebesar 8,89 poin dengan Nilai minimum meningkat dari 50 menjadi 63,33, sedangkan nilai maksimum dari 85 menjadi 95. Menunjukkan bahwa media pembelajaran menggunakan buku tersebut lebih efektif dibandingkan pembelajaran dengan kartu huruf.
Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan uji-t polled varians diperoleh thitung = 2,134 > ttabel = 2,048 pada taraf signifikansi 5% (df = 28). Dengan demikian, H0 ditolak dan Ha diterima, yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Temuan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa media pembelajaran membaca tanpa mengeja mampu meningkatkan kemampuan fonologis dan pemahaman anak terhadap pola kata secara lebih cepat dibandingkan menggunakan kartu huruf dengan dieja. Perbedaan efektivitas antara buku Belajar Membaca Tanpa Mengeja dengan media kartu huruf yang menggunakan metode mengeja dapat dilihat dari praktik di lapangan. Anak-anak di kelas kontrol yang menggunakan kartu huruf cenderung lebih lama dalam menghubungkan huruf menjadi suku kata. Proses mengeja membuat anak terfokus pada bunyi huruf secara terpisah (misalnya “b-a = ba”), sehingga menambah beban kognitif karena anak harus memproses simbol dan bunyi secara terpisah sebelum mengintegrasikannya menjadi kata utuh. Sebaliknya, buku Belajar Membaca Tanpa Mengeja langsung memperkenalkan kata melalui pola visual sederhana berupa gabungan huruf utuh, sehingga anak dapat mengenali bentuk kata secara global (whole-word recognition). Menurut teori Gestalt, anak lebih mudah memahami keseluruhan pola dibanding bagian-bagian kecil yang terpisah
Pendekatan ini juga sejalan dengan teori whole language yang menekankan bahwa keterampilan membaca akan lebih mudah berkembang bila anak diperkenalkan langsung dengan bentuk kata bermakna, bukan sekadar deretan huruf. Selain itu, buku ini dilengkapi dengan ilustrasi sederhana dan pengulangan pola kata yang bervariasi, sehingga lebih menarik dan menyenangkan. Hal ini sesuai dengan teori Bruner tentang representation yang menjelaskan bahwa anak usia dini lebih cepat belajar melalui representasi ikonik (gambar) dan simbolik sederhana. Dengan demikian, dibanding kartu huruf yang cenderung monoton, buku ini mampu meningkatkan motivasi, perhatian, dan kepercayaan diri anak dalam belajar membaca.
Dari hasil ini dapat disimpulkan bahwa pengaruh yang lebih kuat dari buku Belajar Membaca Tanpa Mengeja dibanding media kartu huruf terlihat dari beberapa aspek. Dari aspek kognitif, anak lebih mudah mengenali pola kata utuh dibandingkan harus mengeja huruf satu per satu. Dari aspek linguistik, metode tanpa mengeja lebih mendukung perkembangan kesadaran fonologis karena anak terbiasa langsung menghubungkan bunyi dengan kata. Sementara dari aspek afektif, buku yang dilengkapi ilustrasi sederhana terbukti lebih menarik sehingga mampu meningkatkan motivasi, perhatian, dan kepercayaan diri anak dalam proses belajar membaca. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa penerapan buku Belajar Membaca Tanpa Mengeja efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak usia dini. Guru dapat memanfaatkan buku ini sebagai alternatif media pembelajaran membaca yang inovatif, praktis, serta sesuai dengan perkembangan anak. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memperkaya literatur mengenai strategi pembelajaran membaca permulaan, sekaligus memberikan kontribusi bagi praktik pendidikan anak usia dini di Indonesia.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di TK Dharma Wanita Persatuan Tawangsari 2, penerapan buku BelajarMembacaTanpaMengeja terbukti memiliki pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kemampuan membaca permulaan anak usia 4–5 tahun. Analisis data menunjukkan bahwa rata-rata nilai pretest kelompok eksperimen meningkat dari 68,64 menjadi 87,00 pada posttest, sedangkan kelompok kontrol yang menggunakan media kartu huruf dengan metode mengeja hanya meningkat dari 69,11 menjadi 78,11. Perbedaan ini menunjukkan bahwa penggunaan buku Belajar Membaca Tanpa Mengeja memberikan kemudahan bagi anak untuk mengenali kata sebagai satu kesatuan makna tanpa harus mengeja huruf per huruf, sehingga mengurangi beban kognitif dalam proses pembelajaran membaca. Secara kognitif, metode ini memungkinkan anak untuk mengidentifikasi pola kata utuh dengan lebih cepat, sedangkan secara linguistik, anak lebih mudah menghubungkan bunyi dengan kata, mendukung perkembangan kesadaran fonologis.
Selain aspek kognitif dan linguistik, metode ini juga memberikan kontribusi pada aspek afektif anak. Ilustrasi yang sederhana dan pengulangan pola kata yang menarik mampu meningkatkan motivasi, perhatian, dan kepercayaan diri anak dalam belajar membaca. Hal ini sejalan dengan teori Gestalt yang menekankan bahwa anak lebih mudah memahami keseluruhan pola dibanding bagian-bagian kecil yang terpisah, teori whole language yang menyatakan bahwa pengenalan kata utuh mempermudah perkembangan keterampilan membaca, serta teori Bruner tentang representation yang menjelaskan bahwa anak usia dini belajar lebih cepat melalui representasi visual dan simbolik sederhana.
Dengan demikian, buku Belajar Membaca Tanpa Mengeja tidak hanya efektif dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan, tetapi juga mendukung perkembangan kognitif, linguistik, dan afektif anak. Media ini dapat menjadi alternatif pembelajaran yang inovatif, praktis, dan sesuai dengan karakteristik anak usia dini, sekaligus menjadi sumber literatur penting bagi guru dan peneliti di bidang pendidikan anak usia dini. Penerapan metode ini diharapkan dapat memperkaya strategi pengajaran membaca permulaan, meningkatkan kualitas literasi anak, dan memberikan kontribusi signifikan dalam praktik pendidikan anak usia dini di Indonesia.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, ada beberapa hal yang dapat dijadikan saran bagi pihak-pihak terkait. Bagi guru PAUD, penerapan metode membaca tanpa mengeja melalui buku Belajar Membaca Tanpa Mengeja dapat menjadi pilihan yang tepat dalam pembelajaran membaca permulaan. Metode ini terbukti mampu meningkatkan kemampuan literasi awal anak serta membuat kegiatan belajar menjadi lebih menarik. Guru dapat menggunakannya sebagai variasi pembelajaran agar anak lebih termotivasi dan tidak merasa bosan ketika belajar membaca.
Bagi lembaga pendidikan, hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran literasi di usia dini. Lembaga diharapkan dapat memberikan dukungan kepada guru, misalnya dengan menyelenggarakan pelatihan atau workshop mengenai metode membaca tanpa mengeja. Dengan adanya pendampingan dan fasilitasi tersebut, guru akan lebih mudah memahami cara penerapannya, sehingga pembelajaran dapat berlangsung lebih efektif dan menyenangkan bagi anak.
Sementara itu, bagi peneliti selanjutnya, penelitian ini masih terbuka untuk dikembangkan lebih lanjut. Peneliti lain dapat memperluas cakupan penelitian dengan jumlah anak yang lebih banyak, melibatkan kelompok usia yang berbeda, atau bahkan membandingkan metode membaca tanpa mengeja dengan metode literasi lainnya seperti metode fonik, metode global, atau media digital. Dengan pengembangan penelitian tersebut, diharapkan akan diperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai strategi terbaik dalam meningkatkan kemampuan membaca permulaan anak usia dini.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada kepala sekolah dan guru TK Dharma Wanita Persatuan Tawangsari 2 yang telah memberikan izin dan bantuan untuk melakukan penelitian sehingga dapat dipublikasikan. Ucapan terima kasih juga kepada anak-anak kelompok A yang sudah berkenan untuk menjadi sampel dari penelitian ini. Ucapan terimakasih juga untuk keluarga terimata suami atas support selama pengerjaan artikel ini. Ucapan terimakasih juga untuk dosen pembimbing, dosen penguji serta bapak dan ibu dosen Prodi PG PAUD Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang telah memberikan masukan, kritik dan saran kepada penulis dalam menulis artikel saya ini.
[1] H. Khairi, “Karakteristik Perkembangan Anak Usia Dini Dari 0–6 Tahun,” Warna, vol. 2, no. 2, pp. 15–28, 2018.
[2] H. Basri, “Optimalisasi Peran Guru Pendidikan Anak Usia Dini Yang Proporsional,” Ya Bunayya, vol. 1, no. 1, pp. 29–45, 2019.
[3] L. Zulianingsih, R. I. Khan, and D. Yulianto, “Media Putaran Kata Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Anak Usia Dini,” SELING: Jurnal Program Studi PGRA, vol. 6, no. 2, pp. 115–122, 2020.
[4] Y. Krisnaningsih, R. Agustina, and S. F. Zahro, “Peran Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Pengembangan Keterampilan Sosial-Emosional Anak Di Era Digital,” Journal of Education and Pedagogy, vol. 1, no. 1, pp. 1–6, 2024.
[5] E. Ramadanti and Z. Arifin, “Strategi Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Media Kartu Bergambar Bagi Anak Usia Dini Dalam Bingkai Islami Dan Perspektif Pakar Pendidikan,” KINDERGARTEN: Journal of Islamic Early Childhood Education, vol. 4, no. 2, pp. 173–187, 2021.
[6] U. Hanifah, Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Dengan Menggunakan Media Kartu Angka. Yogyakarta, Indonesia: Pustaka Egaliter, 2023.
[7] S. Nurbayani, A. Dudi, and D. N. Inten, “Pengaruh Media Roda Baca Pintar Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Usia 4–5 Tahun,” Jurnal Riset Pendidikan Guru PAUD, vol. 3, no. 2, 2023.
[8] Ismawati, U. M. A. R., and S. N. Ilyas, “Kemampuan Literasi Anak Usia Dini Mengenal Simbol Huruf Menggunakan Media Tutup Botol Di TKIT Mutiara,” vol. 5, no. 2, pp. 55–62, 2024.
[9] Megawati, Z. A. Jamil, and A. A. Musyafa, “Penerapan Media Kartu Bergambar Untuk Pengembangan Kemampuan Membaca Permulaan Anak Usia Dini,” Jurnal DZURRIYAT: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, vol. 1, no. 1, pp. 36–46, 2023, doi: 10.61104/jd.v1i1.21.
[10] O. Oktariani and E. Ekadiansyah, “Peran Literasi Dalam Pengembangan Kemampuan Berpikir Kritis,” Jurnal Penelitian Pendidikan, Psikologi Dan Kesehatan (J-P3K), vol. 1, no. 1, pp. 23–33, 2020, doi: 10.51849/j-p3k.v1i1.11.
[11] L. Hewi, L. Anhusadar, and M. N. Fadhilah, “Pengembangan Literasi Anak Usia Dini Melalui Permainan Menginjak Gambar,” Murhum: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 5, no. 2, pp. 1064–1075, Dec. 2024, doi: 10.37985/murhum.v5i2.1010.
[12] T. Wahyuni, N. Uswatun, and E. Fauziati, “Merdeka Belajar Dalam Perspektif Teori Belajar Kognitivisme Jean Piaget,” Tsaqofah, vol. 3, no. 1, pp. 129–139, 2023, doi: 10.58578/tsaqofah.v3i1.834.
[13] L. N. Millah, “Implementasi Pembelajaran Membaca Permulaan Di Taman Kanak-Kanak Universitas Pendidikan Indonesia,” Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Indonesia, 2016.
[14] N. Sastabila and P. D. Iswara, “Pengembangan Media Audiobook Untuk Pembelajaran Membaca Dan Memirsa Pada Siswa Fase B,” EDUCATIO: Jurnal Ilmu Kependidikan, vol. 10, no. 1, pp. 312–323, 2024, doi: 10.31949/educatio.v10i1.6705.
[15] E. D. Hapsari, “Penerapan Membaca Permulaan Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Siswa,” Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Seni, 2019. [Online]. Available: http://jurnal.fkip.unila.ac.id/index.php/aksara
[16] M. Haryani and Z. Qalbi, “Pemahaman Guru PAUD Tentang Alat Permainan Edukatif (APE) Di TK Pertiwi 1 Kota Bengkulu,” Jurnal Educhild: Pendidikan Dan Sosial, vol. 10, no. 1, p. 6, 2021, doi: 10.33578/jpsbe.v10i1.7699.
[17] M. Fauziddin, “Upaya Peningkatan Kemampuan Bahasa Anak Usia 4–5 Tahun Melalui Kegiatan Menceritakan Kembali Isi Cerita Di Kelompok Bermain Aisyiyah Gobah Kecamatan Tambang,” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 1, no. 1, p. 42, 2017, doi: 10.31004/obsesi.v1i1.30.
[18] R. Wahyuningsih and H. A. Putri, “Implementasi Metode Belajar Membaca Tanpa Mengeja (BMTM) Untuk Mengembangkan Kemampuan Membaca Permulaan Pada Anak Usia Dini,” Kiddo: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, pp. 708–720, 2024, doi: 10.19105/kiddo.v1i1.12774.
[19] N. R. Sari and C. Widyasari, “Metode Glenn Doman Untuk Menumbuhkan Kemampuan Membaca Permulaan Pada Anak Usia Dini,” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 6, no. 6, pp. 6045–6056, 2022, doi: 10.31004/obsesi.v6i6.3352.
[20] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R&D. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2022.
[21] A. Arief and C. N. Aulina, “The Influence of Interactive Media ‘Calticden’ On The Numeracy Ability Of Children Aged 5–6 Years,” UMSIDA Preprints Server, pp. 1–9, 2024.
[22] Djaali, Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta, Indonesia: Bumi Aksara, 2020.
[23] R. Sundayana, Statistika Penelitian Pendidikan. Bandung, Indonesia: Alfabeta, 2020.
[24] S. A. Martha and T. Raharjo, “Peningkatan Kemampuan Kognitif Pada Anak Disleksia Melalui Treatment Kemampuan Mengeja, Membaca, Dan Menulis,” Indonesian Journal of Educational Counseling, vol. 8, no. 2, pp. 237–247, Jul. 2024, doi: 10.30653/001.202482.400.
[25] R. M. Rohmah, R. Azizah, R. N. Mardiansyah, and A. Yusuf, “Efektivitas Teori Belajar Gestalt Pada Pendidikan Anak Usia Dini,” Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan, no. 15, pp. 608–615, 2023, doi: 10.5281/zenodo.8218061.
[26] M. R. Dhiny, “Penerapan Pendekatan Whole Language Dalam Pengajaran Literasi Anak Usia Dini,” 2020, doi: 10.35905/anakta.
[27] A. F. A. Cetta, “Penerapan Teori Bruner Dalam Pembelajaran Geometri,” Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan (JIIP), vol. 6, no. 9, pp. 7299–7306, Sep. 2023.