Yuni Emma Wati (1), Choirun Nisak Aulina (2)
General Background Early childhood literacy is a fundamental domain of development that supports children’s readiness for formal schooling and lifelong learning. Specific Background In Indonesia, concerns over low reading interest highlight the need for engaging literacy initiatives within early childhood education settings, particularly those grounded in developmentally appropriate practices. Knowledge Gap Despite the emergence of school-based literacy movements, limited qualitative evidence exists regarding how structured, play-based programmes operate in practice and how they relate to children’s observable literacy achievements. Aims This study analyzes the implementation of the GALERIA programme (Gerakan Literasi Bhayangkari Ceria) and examines the literacy skills of children aged 5–6 years at Kemala Bhayangkari 83 Sidoarjo Kindergarten. Results Using observations, interviews, and documentation, the findings show that regular activities—storytelling with puppets, personal storytelling, word-guessing games, shared reading, and role-play—stimulated three key domains: language comprehension, language expression, and emergent literacy, with most children demonstrating high achievement across these indicators. Novelty The study documents a school-initiated, participatory literacy movement structured around weekly peak events and daily classroom practices, offering a contextualized model of play-based literacy programming. Implications The programme provides a practical framework for cultivating early literacy culture in kindergartens and may inform similar initiatives in other early childhood institutions seeking developmentally appropriate literacy practices.Highlights:
Weekly storytelling and interactive games supported strong comprehension of narratives and instructions.
Children demonstrated confident verbal communication, including retelling stories and creating simple books.
Visual word cards and picture books enabled recognition of letters, sounds, and basic writing skills.
Early Childhood Literacy; Play Based Learning; Emergent Literacy; Kindergarten Education; Language Development
Anak usia dini dapat dipahami sebagai individu yang berada dalam rentang usia 0-6 tahun sebagaimana yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 seputar Sistem Pendidikan Nasional. Pendidikan yang diterima anak usia dini memiliki tujuan untuk menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan jasmani serta rohani anak yang berfungsi sebagai antisipasi melatih kesiapan anak memasuki jenjang pendidikan berikutnya [1]. Periode anak usia dini ini dikenal sebagai masa Golden Age, yang bermakna anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek, terutama otak dengan sangat cepat. Pada tahap ini sangat penting untuk memberikan stimulus yang mendukung berbagai aspek perkembangan seperti aspek kognitif, bahasa, fisik motorik, sosial emosional dan seni atau kreatifitas [2]. Salah satu aspek perkembangan yang diperlukan anak sebagai upaya dalam mempersiapkan jenjang pendidikan selanjutnya yaitu perkembangan bahasa pada anak usia dini dalam pengenalan literasi.
Literasi berasal dari bahasa latin, yaitu literatus artinya ditandai dengan huruf, melek huruf atau berpendidikan. Menurut Whitehead literasi dapat dimaknai sebagai keterampilan membaca dan menulis atau melek aksara yang harus dimiliki anak sejak usia dini [3]. Pendapat lain yang dikemukakan Alwasilah menyebutkan bahwa literasi ada serangkaian proses yang terdiri dari memahami, melibatkan, menggunakan, menganalisis dan mentransformasi kalimat [4]. Literasi pada anak usia dini merupakan serangkaian kemampuan dasar yang meliputi membaca, berbicara, menulis, serta memahami informasi. Pada tahap anak usia dini literasi tidak hanya sekedar mengenali huruf dan angka, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir logis, memahami simbol, serta kemampuan menghubungkan konsep abstrak dengan pengalaman nyata [5]. Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa literasi berhubungan erat dengan kemampuan menulis dan membaca. Kemampuan menulis dan membaca pada anak dimulai dengan kemampuan berbahasa atau berkomunikasi.
Pada era abad 21 ini kemampuan literasi adalah kemampuan yang sangat dibutuhkan. Kemampuan literasi ini akan menjadi bekal yang bermanfaat bagi kehidupan anak dimasa mendatang. Kemampuan literasi ini bukan hanya sekedar mengajarkan cara membaca pada anak-anak, ini juga menyangkut pengajaran yang pasti agar anak mampu memahami makna yang terkandung dalam sebuah teks [6]. Pada tahap pertumbuhan, anak usia dini merupakan masa terbaik bagi anak dalam belajar banyak hal melalui panca indera yang dimilikinya untuk mengembangkan kemampuannya dalam hal berliterasi. Kemampuan yang dimiliki anak pada tahap awal prasekolah, atau yang dikenal sebagai kemampuan literasi dasar berperan penting dalam kehidupan anak, khususnya dalam hal bidang akademik [4].Kegiatan membaca dan menulis menjadi hal utama yang penting dalam perkembangan anak di dunia pendidikan, anak yang sejak dini dibiasakan memiliki kebiasaan literasi yang baik akan cenderung lebih siap dalam proses belajar membaca dan tidak mengalami masalah serius tentang membangun kebiasaan untuk berliterasi [7]. Dengan kemampuan literasi yang baik anak-anak akan tumbuh dengan nilai kritisi yang lebih tajam sehingga lebih bijak dalam menyaring informasi yang didapatnya. Fakta menarik lainnya literasi pada anak usia dini sangat berkaitan erat dengan perkembangan bahasa mereka, dengan semakin banyak anak berlatih literasi akan membuka pengetahuan baru tentang pengenalan berbagai bahasa atau kosa kata yang digunakan dalam pembicaraan sehari-hari [8].
Kemampuan literasi anak dapat ditumbuhkan di berbagai setting lingkungan, baik dari lingkungan keluarga maupun pendidikan pra-sekolah seperti PAUD dan Taman Kanak-kanak [9]. Orang tua disini berperan sebagai pondasi utama dalam memberikan stimulus untuk menumbuhkan minat membaca anak, karena hal ini adalah bentuk pendidikan pertama yang dapat dilakukan di rumah. Kerjasama antara orang tua dan guru sangat penting dalam mengembangkan kemampuan literasi anak, orang tua menjadi sandaran utama dalam memberikan dukungan dan contoh teladan yang baik kepada anak-anak, disamping itu guru juga memegang peranan penting berupa tenaga profesional yang memberikan panduan dan instruksi cara mendidik anak yang sesuai dan jelas, kedua kerjasama ini ideal demi meningkatkan minat belajar membaca anak [10].
Sayangnya kondisi di Indonesia mendapati fakta bahwa masyarakat Indonesia memiliki kemampuan minat baca yang rendah, permasalahan ini sudah sejak lama menjadi persoalan yang rumit di dunia pendidikan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State University menemukan fakta yang menarik, dikatakan bahwa Indonesia menempati urutan ke-60 dari 61 negara berdasarkan kemampuan mereka dalam literasi, sehingga dapat diketahui bahwa Indonesia menempati urutan yang sangat rendah mengenai minat baca berliterasi [11]. Persoalan rendahnya minat literasi di Indonesia diketahui disebabkan oleh banyak faktor, salah satu faktor yang mendasar adalah pengaruh lingkungan keluarga. Latar belakang ekonomi menjadi faktor yang signifikan dalam hal membangun kebiasaan untuk berliterasi [12]. Hal ini dapat dimengerti karena keluarga dengan kondisi ekonomi yang rendah seringkali membuat para orang tua kesulitan dalam memfasilitasi pendidikan yang layak bagi anak-anak mereka. Keadaan ekonomi yang hanya berputar pada pemenuhan kebutuhan dasar, membuat orang tua memandang bahwa kegiatan literasi anak menjadi hal sekunder yang kurang mendapat perhatian. Situasi ini membuat anak-anak dengan kondisi ekonomi yang rendah mengalami keterbatasan dalam mengakses pembelajaran maupun memperluas pengetahuan melalui kegiatan literasi. Kondisi ini sangat berbeda dengan anak-anak dari keluarga yang berkecukupan secara ekonomi, karena mereka difasilitasi media belajar yang memadai serta mendapat dukungan orang tua yang cukup dalam aktivitas literasi .
Faktor ekonomi memang memiliki besar terhadap kebiasaan literasi anak, namun tidak disangkal pola asuh orang tua juga terbukti berperan penting dalam membentuk minat baca anak. Orang tua dengan pola asuh demokratis yang mengedepankan jalinan komunikasi dan dukungan emosional yang baik akan cenderung memperkenalkan budaya membaca sejak dini. Keterlibatan orang tua dalam memberikan anak dukungan akan kegiatan literasi dapat membuat anak lebih semangat dan membentuk pemikiran bahwa membaca adalah kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat. Pola asuh seperti ini membuat anak menyadari bahwa literasi merupakan sarana untuk mengenal dunia, meningkatkan pengetahuan, dan membentuk pola pikir yang kritis sehingga mereka lebih siap menghadapi informasi yang beredar dan tidak mudah terprovokasi berita bohong [13]. Selain itu keberadaan gadget juga sangat berpengaruh pada penurunan minat literasi anak, karena anak terbuai dengan permainan ataupun sosial media yang dapat digunakan [14]. Faktor lain yang dapat mempengaruhi rendahnya minat literasi adalah ketidaksesuaian buku terhadap sasaran pembacanya. Isi dan model buku merupakan hal penting dalam menarik minat seseorang untuk berliterasi, bayangkan saja jika buku tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan pembacanya akan berdampak negatif bagi kegiatan literasi itu sendiri. Hasil penelitian menunjukkan banyak buku bermuatan informasi yang tidak sesuai untuk literasi tahap awal perkembangan membaca dan menulis anak [15]. Hal ini ditandai dengan banyaknya informasi yang dimuat pada buku tersebut sehingga tidak layak untuk para pembaca pemula.
Pembiasaan anak untuk gemar membaca sejak dini dapat dilakukan dengan memberikan dorongan dan fasilitas belajar yang menarik, seperti mengenalkan buku yang sesuai dengan usianya, mengenalkan buku yang penuh warna dan gambar yang disukai anak, serta bisa dilakukan dengan mengajak anak untuk mengenal dan menjelajah perpustakaan ataupun toko buku sebagai bentuk upaya meningkatkan ketertarikan anak terhadap aktivitas membaca [16]. Tentunya untuk meningkatkan kemampuan literasi anak diperlukan berbagai strategi, salah satu strategi yang efektif adalah menggunakan pendekatan bermain sebagai sarana belajar sehingga anak-anak dapat merasa lebih nyaman dan lebih mudah untuk mengembangkan kemampuan literasi [17]. Sebagai contoh kegiatan yang menarik adalah dengan cara membacakan buku cerita kepada anak-anak sehingga anak-anak belajar untuk berpikir kritis dan memunculkan ketertarikan yang lebih dalam tentang literasi, serta guru memilih media baca yang sesuai dengan minat baca anak-anak [18]. Menciptakan lingkungan baca yang ideal ini didukung dan juga dijalankan dalam salah satu program pendidikan di TK Kemala Bhayangkari 83 Sidoarjo dalam pembelajarannya memunculkan sebuah inovasi mengembangkan pembelajaran berbasis literasi yang disebut dengan program GALERIA.
Program GALERIA adalah Gerakan Literasi Bhayangkari Ceria. Kegiatan GALERIA dilaksanakan setiap minggu kedua, tetapi secara terperinci mekanisme program pengembangan literasi ini juga dilakukan setiap hari di kelas masing-masing untuk menunjang keberhasilan program GALERIA. Saat dikelas setiap pertemuannya ada dua anak untuk berbagi cerita kepada teman-temannya, guru juga menstimulasi anak-anak dengan cerita boneka, permainan kartu kata atau tebak kata, dan membaca cerita bergambar. Saat puncak kegiatan literasi di minggu kedua, setiap kelas juga menampilkan kegiatan mendongeng, membaca syair, gerak dan lagu. GALERIA dikatakan cukup sukses dalam mengembangkan kemampuan literasi anak-anak. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan pihak sekolah sebelumnya bahwa secara tingkat literasi anak-anak berkembang secara baik melalui program ini.
Kondisi ideal yang telah terlaksana di TK Kemala Bhayangkari 83 Sidoarjo dalam meningkatkan minat baca anak didukung dengan berbagai penelitian terdahulu yang mengemukakan bahwa minat baca anak dapat ditingkatkan dengan kegiatan yang kreatif dan mengasyikkan, seperti penelitian yang dilakukan oleh Simatupang, dkk yang mengungkapkan bahwa kegiatan penggunaan buku cerita big book dalam bentuk kalender meja terbukti meningkatkan kemampuan literasi anak kelompok A di TK Tunas Bangsa [19]. Penelitian lain yang dilakukan oleh Maulida dkk di TK Nurul Ummah 12 Sidorejo, Bojonegoro menunjukkan hasil bahwa kemampuan literasi anak meningkat dengan menggunakan media koper literasi [20]. Berdasarkan dua penelitian yang dipaparkan memberikan gambaran kepada peneliti bahwa kemampuan anak dalam berliterasi dapat ditingkatkan dengan mengembangkan pembelajaran yang menarik. Kemudian perbedaan penelitian sekarang dengan penelitian sebelumnya yaitu penelitian ini didasari program dan media pembelajaran yang digunakan oleh guru kelas untuk mengembangkan literasi anak. Kemudian dari segi latar belakang permasalahan, peneliti terdahulu beranjak dari tingkat literasi anak yang rendah di lembaga tersebut.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penelitian ini dilakukan untuk menganalisis dua hal utama, yaitu bagaimana bentuk kegiatan pada program GALERIA yang dilaksanakan di TK Kemala Bhayangkari 83 Sidoarjo, dan bagaimana kemampuan literasi anak usia dini yang berkembang melalui program GALERIA tersebut. Dengan fokus ini, penelitian diharapkan dapat memberikan gambaran nyata penerapan literasi di lembaga PAUD serta mengungkap capaian kemampuan anak dalam memahami bahasa, mengungkapkan bahasa, dan keaksaraan awal.
Pendekatan penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian kualitatif adalah pendekatan yang berfokus pada pengungkapan makna, konsep, serta karakteristik dari suatu fenomena yang bersifat holistik dan alami dengan fokus penyajian data dalam bentuk deskriptif atau naratif [21]. Subjek atau informan penelitian ini terdiri dari kepala sekolah, pendidik dan peserta didik yang langsung terlibat dalam kegiatan program GALERIA di TK Kemala Bhayangkari 83 Sidoarjo.
Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Observasi merupakan kegiatan yang didahului dengan pengamatan, kemudian pencatatan yang bersifat sistematis, logis, objektif dan rasional terhadap berbagai fenomena dalam situasi yang sebenarnya. Sedangkan wawancara dilakukan dengan sasaran subjek para guru pengajar di TK Kemala Bhayangkari 83 Sidoarjo, melalui wawancara akan didapatkan data yang mendalam tentang informasi tentang pelaksanaan program GALERIA. Observasi pada penelitian ini dilakukan dengan mengamati secara langsung program GALERIA berjalan, dengan menggunakan lembar wawancara yang dilakukan secara terbuka [22]. Adapun dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan bukti data yang akan menjadi arsip bukti penelitian telah dilakukan dengan prosedur yang tepat.
Fokus penelitian ini adalah pada literasi membaca anak usia dini, khususnya dalam aspek memahami bahasa, mengungkapkan bahasa, dan keaksaraan awal yang muncul selama kegiatan program GALERIA di TK Kemala Bhayangkari 83 Sidoarjo. Dengan demikian, analisis data difokuskan pada perilaku dan capaian anak dalam aktivitas membaca, mendengarkan cerita, serta kegiatan lain yang mendukung perkembangan literasi. Untuk mengetahui kemampuan literasi membaca anak, peneliti menggunakan 3 indikator observasi. Berikut ini adalah indikator untuk menganalisis kemampuan literasi membaca peserta didik berdasarkan Permendikbud nomor 137 Tahun 2014 yaitu :
Analisis pengolahan data penelitian menggunakan pendekatan model Miles dan Huberman, dengan tiga tahapan, sebagai berikut. Pertama, data reduction (reduksi data) yaitu merangkum dan memilah hal pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting. Data yang direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk melakukan data selanjutnya dan mencarinya bila diperlukan. Kedua, data display (penyajian data). Data yang sudah direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data tersebut. Dalam penelitian kualitatif penyajian data biasanya berupa bentuk tulisan atau kata-kata, gambar, grafik dan tabel. Ketiga, verifikasi data dan penarikan kesimpulan. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah apabila ditemukan bukti-bukti yang kuat dan mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya [23].
Program GALERIA merupakan singkatan dari Gerakan Literasi Bhayangkari Ceria, yang merupakan sebuah program inovatif yang terbentuk dari hasil inisiatif para guru dan kepala sekolah terhadap respon adanya isu pentingnya pengembangan literasi anak usia dini. Pada kesempatan tersebut para guru dan kepala sekolah bekerjasama untuk memikirkan sebuah cara untuk menumbuhkan minat dan kemampuan literasi anak-anak dengan pendekatan yang menyenangkan dan disukai oleh anak-anak. Berdasarkan hasil wawancara dengan kepala sekolah dan para guru di TK Kemala Bhayangkari 83 Sidoarjo diketahui bahwa program yang diusung dan dilaksanakan mulai tahun 2024 ini memiliki makna filosofis yang tinggi dan luhur. Pemberian nama “GALERIA” dipilih karena merupakan ikon yang menarik dan memiliki landasan pemikiran kegiatan ini ada untuk membangkitkan daya inspirasi anak-anak untuk belajar dengan penuh keceriaan dan semangat.
Pelaksanaan GALERIA banyak melibatkan partisipatif, mulai dari anak-anak peserta didik, guru, maupun kepala sekolah secara aktif terlibat dalam proses perencanaan hingga pelaksanaan. Pada kegiatan GALERIA banyak sekali kegiatan yang positif dan menyenangkan yang dapat dilakukan anak, di TK Kemala Bhayangkari 83 Sidoarjo program GALERIA terfokuskan untuk menstimulasi kemampuan literasi anak melalui lima kegiatan. Lima kegiatan tersebut adalah mendongeng dengan media boneka, bercerita, bermain tebak kata, membaca buku cerita, dan bermain peran.
1) Mendongeng dengan Media Boneka
Mendongeng adalah kegiatan menyampaikan cerita secara lisan yang disertai dengan pengungkapan ekspresi, intonasi suara dengan dukungan media peraga, salah satunya adalah media boneka. Kegiatan mendongeng pada program GALERIA dilakukan dengan cara mengasyikan dan menantang, pada tiap kesempatannya akan di undi atau dipilih secara acak anak di kelas yang akan mendongeng tetapi apabila ada anak yang berinisiatif terlebih dahulu untuk tampil mendongeng di depan maka dipersilahkan dan diberikan dukungan serta pujian. Kegiatan mendongeng sendiri dilakukan setiap satu minggu sekali di kelas masing-masing anak, yang kemudian pada Minggu puncak GALERIA akan dipilih secara khusus kelas mana yang akan menampilkan kegiatan mendongeng di depan para temannya yang lain. Proses pembelajaran mendongeng ini tentunya diawali dengan guru yang memberikan contoh kepada anak-anak, agar anak-anak peserta didik mampu memahami karakter peran tokoh yang dibawakannya, selain itu pemilihan cerita juga disesuaikan dengan usia perkembangan anak, selepas penampilan anak mendongeng cerita para guru akan mengajak anak peserta didik lainnya untuk berdiskusi ringan tentang alur dan isi cerita yang dapat dipetik dari cerita tersebut.
Kegiatan bercerita merupakan kegiatan yang dilakukan dengan cara menunjuk anak secara acak untuk menceritakan pengalaman berharga mereka. Guru membantu untuk memberikan waktu persiapan untuk anak bercerita di depan teman-temannya, selain itu guru juga mengajak peserta didik lainnya untuk berkumpul membentuk lingkaran dan mendengarkan cerita teman mereka dengan seksama dan kondusif. Kegiatan bercerita ini dilakukan rutin setiap hari sebelum memasuki materi inti pembelajaran dimulai, dalam penyampaiannya anak akan diberikan penguatan berupa dukungan dan apresiasi dari teman-temannya karena sudah menyampaikan cerita mereka yang menarik dan berkesan.
Figure 1. Program GALERIA Mendongeng dengan Boneka
Figure 2. Puncak Program GALERIA Mendongeng dengan Boneka
2 ) Bercerita
Figure 3. Program GALERIA Bercerita
3 ) Bermain Tebak Kata
Bermain tebak kata, permainan ini adalah salah satu kegiatan yang paling disukai anak peserta didik. Cara memainkan permainan ini adalah dengan menggunakan media dua jenis kartu, kartu pertama adalah kartu kata dan yang kedua adalah kartu gambar. Permainan tebak kata ini akan dipandu oleh guru, dimana guru akan menutup gambar terlebih dahulu dan menyiapkan kartu kata yang diletakkan di atas meja, kemudian saat kartu gambar dibalikkan anak peserta didik diminta untuk menunjukan kartu kata yang tersedia diatas meja. Pada permainan tebak kata ini anak-anak melakukannya secara bergiliran, sehingga setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk mencoba. Kegiatan ini dilakukan seminggu sekali dengan jadwal yang acak dengan pertimbangan waktu yang ada.
Figure 4. Program GALERIA Tebak Kata
4 ) Membaca Buku Cerita
Dalam program GALERIA, kegiatan membaca menjadi rutinitas harian di kelas. Setiap hari anak-anak diajak berkumpul di pojok baca literasi, sebuah sudut khusus yang dirancang agar mereka merasa nyaman saat berinteraksi dengan buku. Anak-anak yang sudah bisa membaca diberi kesempatan untuk membaca secara mandiri, sedangkan bagi yang masih belajar akan mendapatkan bimbingan dari guru. Selain itu, guru juga secara rutin membacakan cerita, mengajak anak mengamati sampul buku, mengenal judul, serta menebak isi cerita sebelum membacanya. Menariknya, pada puncak program GALERIA, setiap anak mendapat kesempatan membacakan cerita secara bergiliran sesuai jadwal yang ditentukan. Kegiatan ini tidak hanya menumbuhkan minat baca, tetapi juga melatih rasa percaya diri, keterampilan berkomunikasi, serta keberanian anak untuk tampil di depan teman-temannya. Dengan cara ini, literasi tidak hanya dipahami sebagai kegiatan membaca, tetapi juga sebagai sarana untuk membangun karakter dan pengalaman belajar yang menyenangkan.
Figure 5. Program GALERIA Membaca Buku Cerita
5 ) Bermain Peran
Bermain peran merupakan kegiatan yang paling digemari oleh anak peserta didik, karena dalam hal bermain peran mereka diberikan kebebasan untuk berimajinasi dan menjiwai tokoh cerita yang sudah mereka baca dan dengarkan. Pembelajaran bermain peran ini akan disesuaikan dengan tema pembelajaran yang sedang berlangsung, misalnya pada bulan Agustus maka penampilan anak-anak akan didominasi untuk memerankan cerita bertema kepahlawanan. Kegiatan bermain peran selain mengasikan anak-anak juga sangat antusias karena tersedianya properti alat peraga yang mendukung seperti kostum, aksesoris, alat permainan yang mendukung, dan sebagainya. Sebelum mereka tampil bermain peran tentunya guru pendidikan akan memberikan pemahaman bagaimana alur jalan cerita berlangsung dan peran apa yang harus mereka perankan, setelah itu barulah anak-anak tampil dengan semangat juang mereka untuk bersenang-senang dan menampilkan kemampuan akting mereka yang terbaik.
Figure 6. Program GALERIA Bermain Peran
Kegiatan-kegiatan tersebut terkesan sederhana, namun sebenarnya kegiatan tersebut adalah tahap awal dalam mengenalkan kegiatan literasi yang melatih daya nalar, kemampuan kognitif, bahasa, sensomotorik, dan afeksi anak [3]. Setiap kegiatan memiliki fokus pengembangan literasi yang berbeda, baik dalam aspek memahami bahasa, mengungkapkan bahasa, maupun keaksaraan awal. Melalui rangkaian kegiatan tersebut, program GALERIA menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan dan inklusif. Anak-anak merasa terdorong untuk berpartisipasi aktif, guru memperoleh ruang berinovasi dengan media kreatif, dan sekolah berhasil membangun budaya literasi yang menjadi ciri khas lembaganya. Dengan demikian, GALERIA dapat dipandang sebagai model pembelajaran literasi berbasis bermain yang efektif dalam menstimulasi aspek bahasa dan keaksaraan anak usia dini.
Analisis kemampuan literasi pada anak usia dini merupakan tahap penting setelah mendeskripsikan bentuk pelaksanaan program GALERIA di TK Kemala Bhayangkari 83 Sidoarjo. Literasi pada usia dini tidak hanya dipahami sebatas keterampilan membaca dan menulis, tetapi juga meliputi kemampuan memahami bahasa, mengungkapkan ide melalui bahasa, serta mengenal simbol dan tanda sebagai dasar keaksaraan. Ketiga aspek tersebut menjadi indikator utama perkembangan literasi sebagaimana tercantum dalam Permendikbud No. 137 Tahun 2014. Oleh karena itu, hasil analisis dalam penelitian ini difokuskan pada tiga ranah utama, yaitu memahami bahasa, mengungkapkan bahasa, dan keaksaraan awal. Analisis ini penting karena capaian literasi sejak usia dini berperan besar terhadap kesiapan anak dalam memasuki jenjang pendidikan berikutnya dan membentuk dasar keterampilan akademik di masa mendatang.
1) Aspek Memahami Bahasa
Aspek memahami bahasa pada anak distimulasi dengan berbagai bentuk kegiatan dalam serangkaian kegiatan GALERIA salah satunya dilakukan dengan cara kegiatan mendongeng dengan media boneka. Kegiatan mendongeng dengan media boneka melatih anak memahami struktur cerita, tokoh, serta alur sederhana. Guru sering menyisipkan pertanyaan agar anak mengingat isi cerita. Data menunjukkan 55% anak sudah memiliki pemahaman bahasa sangat baik, 40% cukup, dan 5% masih butuh bimbingan. Hasil ini mendukung Whitehead yang menyatakan bahwa literasi erat kaitannya dengan kemampuan memahami dan menginterpretasikan makna dalam Bahasa [3]. Lebih jelasnya kemampuan anak-anak dalam memahami bahasa ditunjukkan dengan perilaku mereka yang telah mampu mengikuti dua hingga tiga kata perintah secara bersamaan, anak dapat mengulang kalimat kompleks dalam penyampaian yang lebih sederhana yang sesuai dengan pemahaman mereka, serta menunjukan pemahaman yang baik terhadap aturan permainan yang diberikan.
Bukti nyata dari perilaku yang ditunjukkan oleh anak-anak membuktikan bahwa kegiatan GALERIA yang terintegrasi dengan aktivitas bermain yang menyenangkan membantu anak-anak dalam belajar memahami struktur bahasa dan konteks sosial. Tidak hanya sampai pada tahap memahami, anak-anak juga terbukti memiliki tingkat pemahaman yang baik dari pertanyaan kompleks yang diberikan, yang kemudian pemahaman tersebut disampaikan dengan alasan yang lebih logis dalam bentuk kalimat sederhana.
Figure 7. Tingkat Pencapaian Aspek Memahami Bahasa
Pada kegiatan mendongeng tidak hanya melatih daya imajinasi anak, namun juga membantu mereka memahami struktur cerita, mengenali tokoh dan alur konflik yang terjadi. Beberapa anak bahkan menanggapi cerita dengan ekspresi dan gerakan tubuh yang sesuai, yang menunjukkan keterlibatan aktif secara afektif. Guru juga menggunakan cerita pendek dengan alur sederhana agar anak lebih mudah memahami isi dongeng dan bisa menceritakan ulang dengan kata-kata sendiri. Metode mendongeng dipilih sebagai salah satu kegiatan dalam program GALERIA karena mendongeng dinilai mampu untuk membangun aspek komunikasi dan menstimulasi perkembangan bahasa anak agar potensi dalam diri anak dalam berkembang secara optimal. Kegiatan mendongeng ini terbukti ampuh dalam mentransfer ide dan gagasan kepada anak dengan kemasan yang menarik, selain itu melalui kegiatan mendongeng juga akan memperkaya perbendaharaan kata pada anak. Ketika mendongeng anak akan belajar berbicara dengan gaya yang menyenangkan dengan bahasa mereka sendiri yang berperan dalam menambah pengetahuan anak tentang kosakata baru. Melalui mendongeng anak akan belajar banyak hal, seperti belajar berbicara, mengungkapkan perasaannya, berpikiran dengan terbuka dan berani dalam memaparkan gagasannya, mengembangkan kreativitas anak, serta belajar untuk berkomunikasi secara efektif [25].
2 ) Aspek Mengungkapkan Bahasa
Kemampuan anak dalam mengungkapkan bahasa berkembang melalui kegiatan bercerita, membaca karya sendiri, dan bermain peran. Anak mampu menceritakan ulang isi dongeng, bahkan membuat buku cerita sederhana dengan gambar dan tulisan mereka sendiri. Hasil observasi menunjukkan 65% anak berada pada kategori sangat baik dalam pengungkapan bahasa, dan 35% pada kategori cukup. Hal ini sesuai dengan Azizi & Rohmah yang menekankan bahwa kegiatan literasi berbasis cerita dapat meningkatkan keberanian anak dalam berbicara dan memperkaya kosakata mereka [26]. Bukti nyata dari adanya kemampuan pengungkapan bahasa yang baik ditunjukan efektif membuktikan bahwa anak-anak mampu menggunakan bahasa dengan lebih variatif. Kemampuan anak-anak tidak hanya terbatas pada hal di atas saja, anak-anak juga mampu menyampaikan lanjutan jalannya cerita yang telah diperdengarkannya sebelumnya dengan bahasanya sendiri, lebih luar biasanya lagi anak-anak mampu untuk membuat buku ceritanya sendiri yang menandakan adanya daya imajinatif serta pemahaman alur cerita yang baik.
Figure 8. Tingkat Pencapaian Aspek Mengungkapkan Bahasa
Kegiatan GALERIA untuk menstimulasi kemampuan mengungkapkan bahasa adalah dengan cara bercerita. Kegiatan bercerita ini dipilih dengan mempertimbangkan banyak manfaat yang diperoleh, dengan media bercerita ini anak akan belajar untuk berkomunikasi secara lisan dengan lebih baik, perbendaharaan anak akan meningkat, serta menjadi media dalam mengenalkan simbol-simbol huruf untuk persiapan membaca, menulis dan berhitung ke ranah yang lebih tinggi. Selain itu kegiatan bercerita dipilih karena memiliki kelebihan yakni dapat diterapkan pada peserta didik yang banyak, pemanfaatan waktu yang efektif dan efisien, caranya yang sederhana dan tidak memerlukan banyak biaya [27].
Keseruan dalam memberikan stimulasi aspek pengungkapan bahasa pada anak tidak sekedar bercerita ataupun kegiatan membaca buku saja, anak-anak dalam kekreatifannya didukung untuk mencoba belajar seni bermain peran. Anak-anak belajar menyusun dialog, memahami urutan cerita, dan menyesuaikan ekspresi atau intonasi sesuai peran. Bermain peran adalah permainan yang memiliki banyak manfaat, kegiatan yang dimainkan oleh banyak anak ini dapat melatih anak dalam hal tanggung jawab karena anak dituntut untuk serius menjiwai peran karakter yang dibawakan, selain itu anak akan dilatih dalam perbendaharaan kata atau bahasanya dalam memainkan karakter perannya, anak juga akan belajar kekompakan dengan adanya bermain peran ini karena memiliki satu visi dan misi menampilkan cerita yang epik untuk disaksikan banyak orang [28].
3 ) Aspek Keaksaraan
Permainan kartu kata dan membaca buku bergambar membantu anak mengenali huruf, simbol, dan bunyi awal kata. Data menunjukkan 90% anak berada pada kategori sangat baik dalam aspek keaksaraan, sedangkan 10% berada pada kategori cukup. Anak juga mulai mampu menuliskan nama sendiri dan membaca kata sederhana.
Figure 9. Tingkat Pencapaian Aspek Keaksaraan
Kegiatan bermain kartu kata ini memberikan pengalaman mengenali simbol huruf, membedakan bunyi awal kata, serta melatih keberanian anak untuk tampil dan menjawab di depan teman-temannya. Glann Doman berpendapat bahwa kartu kata bergambar merupakan media yang efektif membantu anak untuk mengembangkan aspek kognitif dalam hal mengingat dan menghafal kata serta gambar, pendapat ini juga didukung oleh Ratnawati yang menyatakan bahwa kartu kata bergambar dapat merangsang kecerdasan, daya ingat, serta minat belajar pada anak [29]. Kartu kata dipilih menjadi salah satu kegiatan dalam program GALERIA karena melalui kartu kata bergambar ini selain karena fungsinya yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak juga merupakan media pembelajaran yang menarik, karena anak dapat melihat kombinasi warna dan juga bentuk yang menarik terpampang dalam kartu tersebut
[30].
Selain bermain kartu, kegiatan membaca buku cerita juga menjadi salah satu program GALERIA yang berfokus untuk stimulasi kemampuan keaksaraan anak. Buku yang digunakan berisi gambar dan teks sederhana yang sesuai dengan usia anak. Bagi anak yang belum lancar membaca akan mendapat pendampingan khusus dengan cara menuntun anak untuk membaca sambil menunjukkan gambar dan mengajukan pertanyaan seperti “Siapa nama tokohnya?”, “Bagaimana cerita yang terjadi di gambar ini”, sehingga anak tetap dapat memahami isi bacaan secara bermakna. Kegiatan membaca cerita ini memiliki puncak kegiatan yang unik, dimana anak-anak akan membuat buku cerita karya individu para anak, mereka akan membuat buku cerita yang digambar sendiri dan menulis ceritanya sendiri yang kemudian akan dikumpulkan dan dijilid menjadi buku cerita yang utuh. Kegiatan ini menjadi sarana efektif dalam meningkatkan minat baca dan pemahaman cerita sederhana. Penggunaan buku cerita bergambar menstimulasi kemampuan bahasa dan kecerdasan linguistik dari anak-anak. Kegiatan membaca buku bergambar ini memberikan pengalaman yang unik dan menarik untuk anak, terlebih saat anak paham dan menguasai cerita hingga dapat menyerap pesan yang terkandung di dalamnya. Buku cerita bergambar juga dinilai lebih mudah digunakan dalam mengenalkan kosakata baru dengan bantuan ilustrasi menarik pada gambar buku cerita sehingga anak akan lebih cepat dan mudah dalam mengenal kata dan gambar secara jelas, selain itu anak akan mampu mengingat secara abstrak emosi ataupun pesan yang tersirat dalam cerita tersebut [31].
Program GALERIA yang sudah berjalan sejak tahun lalu ini menunjukan dampak yang positif terhadap kemampuan literasi anak usia dini. Kegiatan yang rutin dilakukan di minggu kedua dalam satu bulan sekali ini memunculkan rasa ketertarikan anak-anak terhadap aktivitas membaca, mendengar cerita maupun mengenal huruf dan simbol dengan lebih antusias. Guru juga menyampaikan bahwa sebagian besar anak menjadi lebih percaya diri dan lebih aktif setelah mengikuti program GALERIA ini. Program yang dirancang dengan menyenangkan, membuat anak-anak merasa belajar dengan lebih rileks dan lebih enjoy daripada dengan cara belajar secara formal. Para guru memaparkan bahwa memiliki pencapaian kemampuan literasi yang memuaskan selama dijalankan program GALERIA ini.
Pelaksanaan program GALERIA tentunya memiliki key person atau individu yang memiliki kontribusi besar untuk bersedia berkorban dan berdedikasi agar program ini terus berjalan, Individu tersebut tidak lain adalah para guru pengajar, dalam pelaksanaanya guru bertugas mendampingi dan menstimulasi anak selama kegiatan literasi GALERIA berlangsung. Contoh konkretnya dapat terlihat dari hasil wawancara yang menyebutkan bahwa guru secara aktif merancang media yang menarik dan adaptif yang digunakan untuk program GALERIA, seperti media kartu kata, boneka, sehingga menciptakan POLI AUD (Pojok Literasi Anak Usia Dini) dan area bermain yang berisi bahan literasi visual yang diminati anak. Para guru berdedikasi untuk membuat dan menyiapkan media pembelajaran yang menarik semata-mata demi membangung minat belajar anak agar terstimulasi lebih baik, hal ini sesuai dengan pendapat Maulidia et al yang berpendapat bahwa menggunakan media yang sesuai dengan kebutuhan anak dan bersifat menyenangkan dapat meningkatkan minat belajar anak dan memudahkan anak dalam memahami konsep literasi [21]. Berdasarkan paparan diatas diketahui juga bahwa guru tidak lagi berfungsi hanya sebagai fasilitator namun guru juga menjadi seorang inovator dalam menciptakan pembelajaran yang responsif terhadap kebutuhan literasi anak, dengan menciptakan media permainan edukatif tersebut akan membantu dalam meningkatkan keterampilan literasi pada anak.
Guru juga melakukan refleksi dan penyesuaian kegiatan agar tetap relevan dengan kebutuhan masing-masing kelas. Keberadaan sekolah dengan lingkungan yang nyaman, rapi, bersih dan juga tersedianya dukungan dari semua elemen pihak sekolah merupakan hal yang patut diapresiasi, apresiasi yang baik iki dibuktikan dengan tersedianya ruang khusus bagi pelaksanaan kegiatan literasi seperti pojok baca, serta dukungan berupa pendanaan untuk guru agar terus berinovasi merupakan hal yang terpuji.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa bentuk program GALERIA (Gerakan Literasi Bhayangkari Ceria) di TK Kemala Bhayangkari 83 Sidoarjo dirancang dengan pendekatan bermain yang menyenangkan melalui kegiatan mendongeng, bercerita, membaca buku cerita, bermain peran, dan permainan kartu kata. Program ini dilaksanakan secara rutin dan melibatkan partisipasi aktif anak, guru, serta dukungan lingkungan sekolah yang kondusif bagi tumbuhnya budaya literasi. Analisis kemampuan literasi menunjukkan bahwa anak-anak mengalami perkembangan positif dalam tiga aspek utama yaitu memahami bahasa, mengungkapkan bahasa, dan keaksaraan awal. Anak mampu memahami isi cerita, menceritakan kembali dengan bahasa sendiri, menggunakan kosakata baru secara lebih variatif, mengenal huruf dan simbol, hingga mulai menulis kata sederhana. Hal ini membuktikan bahwa program GALERIA efektif dalam menumbuhkan fondasi literasi anak usia dini dan dapat dijadikan strategi pembelajaran berbasis bermain yang relevan untuk diterapkan di lembaga PAUD lainnya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berperan dan mendukung terlaksananya penelitian ini, khususnya kepada Kepala Sekolah dan para guru TK Kemala Bhayangkari 83 Sidoarjo yang telah memberikan izin penelitian, informasi, serta dukungan selama proses penelitian berlangsung. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada anak didik di TK Kemala Bhayangkari 83 Sidoarjo yang antusias dan bersifat kooperatif saat peneliti melakukan serangkaian kegiatan penelitian.
[1] N. A. Amri, N. Amri, Hajerah, and Usman, “Pengembangan Media Busy Book Pada Aspek Literasi Anak Usia Dini,” Jurnal Pendidikan Dasar Flobamorata, vol. 4, no. 1, pp. 406–411, 2023, doi: 10.51494/jpdf.v4i1.838.
[2] S. Wasis, “Pentingnya Penerapan Merdeka Belajar Pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD),” Pedagogi: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, vol. 9, no. 2, pp. 36–41, 2022.
[3] Y. Wulan, “Pentingnya Pendidikan Literasi Untuk Anak Usia Dini Di Era Society 5.0,” in Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Dewantara, 2023.
[4] N. Baiti, “Peran Orang Tua Dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi Anak Di Masa Covid-19,” Primearly: Jurnal Kajian Pendidikan Dasar Dan Anak Usia Dini, vol. 6, no. 2, pp. 113–127, 2020.
[5] D. Amalia, “Optimalisasi Kemampuan Literasi Anak Usia Dini Melalui Pemanfaatan Media Gawai,” Tinta Emas: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, vol. 2, no. 1, pp. 23–32, 2023, doi: 10.35878/tintaemas.v2i1.743.
[6] N. I. Purnamasari and H. Rohmawati, “Implementasi Kegiatan Bermain Huruf Dalam Melatih Kemampuan Literasi Membaca Dasar Anak Usia Dini,” El-Banat: Jurnal Pemikiran Dan Pendidikan Islam, vol. 13, no. 1, pp. 117–141, 2023.
[7] R. A. H. Damayati, D. P. K. Dayu, et al., “Upaya Peningkatan Literasi Membaca Melalui Metode Jigsaw Berbantuan Media Card Sort Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Siswa Kelas 3 Sekolah Dasar,” in Prosiding Konferensi Ilmiah Dasar, vol. 3, pp. 1662–1668, 2022.
[8] M. Shaleh, B. Batmang, and L. Anhusadar, “Kolaborasi Orang Tua Dan Pendidik Dalam Menstimulus Perkembangan Keaksaraan Anak Usia Dini,” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 6, no. 5, pp. 4726–4734, 2022, doi: 10.31004/obsesi.v6i5.2742.
[9] E. S. Kurniasih and N. Priyanti, “Pengaruh Pendekatan Pembelajaran Diferensiasi Terhadap Kemampuan Literasi Baca, Tulis Dan Numerasi Pada Anak Usia Dini,” Jurnal Ilmiah Potensia, vol. 8, no. 2, pp. 398–408, 2023.
[10] F. Fikriyah, T. Rohaeti, and A. Solihati, “Peran Orang Tua Dalam Meningkatkan Literasi Membaca Peserta Didik Sekolah Dasar,” Dwija Cendekia: Jurnal Riset Pedagogik, vol. 4, no. 1, pp. 94–107, 2020.
[11] S. Hidayatullah, S. Syihabuddin, and V. Damayanti, “Analisis Kebutuhan Media Literasi Berbasis Digital Pada Anak Usia Dini,” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 6, no. 3, pp. 1190–1196, 2021, doi: 10.31004/obsesi.v6i3.1183.
[12] Y. A. Rohman, R. Rahman, and V. S. Damayanti, “Analisis Kesulitan Membaca Permulaan Pada Siswa Kelas Satu Di Sekolah Dasar,” Jurnal Basicedu, vol. 6, no. 3, pp. 5388–5396, 2022.
[13] N. Baiti, A. Zain, and I. Hasanah, “Pendidikan Dan Ekonomi Orang Tua Terhadap Kemampuan Literasi Anak Usia Dini Di Masa Pandemi,” Musamus Journal of Primary Education, vol. 4, no. 1, pp. 59–68, 2021, doi: 10.35724/musjpe.v4i1.3878.
[14] R. F. Kusumadewi and C. D. Irianti, “Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Minat Baca Siswa Sekolah Dasar,” Edukasi: Jurnal Penelitian Dan Artikel Pendidikan, vol. 11, no. 1, pp. 33–42, 2019.
[15] R. K. Siregar, E. R. Sibuea, and S. U. K. M. Siregar, “Sosialisasi Pentingnya Literasi Dalam Rangka Mengurangi Penggunaan Gadget Pada Anak,” Kalandra: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, vol. 2, no. 3, pp. 118–124, 2023.
[16] U. Sidik, “Kesesuaian Bahan Bacaan Literasi Emergen Dengan Pembaca Sasaran,” Widyaparwa, vol. 48, no. 2, pp. 257–268, 2020, doi: 10.26499/wdprw.v48i2.609.
[17] Y. B. Mulyadi, “Pendekatan Motivasional Orang Tua Dalam Menumbuhkan Minat Baca Anak,” Dunia Anak: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 5, no. 2, pp. 68–79, 2022.
[18] U. Setyaningsih and I. Indrawati, “Strategi Pengembangan Kemampuan Membaca Anak Usia 5–6 Tahun,” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 6, no. 4, pp. 3701–3713, 2022, doi: 10.31004/obsesi.v6i4.2340.
[19] R. Fitri, “Peningkatan Kemampuan Guru TK Dalam Pembuatan Media Literasi Melalui Pelatihan Guru Inovatif Di Desa Laipandak Kecamatan Wulla Waijelu Kabupaten Sumba Timur,” PAUD Teratai, vol. 13, no. 2, pp. 1–4, 2024.
[20] N. D. Simatupang, S. Widayati, K. R. Adhe, and S. A. Sholichah, “Pengembangan Buku Cerita Big Book Kalender Meja Dalam Meningkatkan Kemampuan Literasi Anak Usia Dini,” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 7, no. 1, pp. 1130–1141, 2023.
[21] D. N. Maulida, S. L. Kusna, and E. Puspitasari, “Pengembangan Media Pembelajaran Koper Literasi Untuk Menstimulasi Kemampuan Literasi Anak Usia 5–6 Tahun,” Murhum: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 4, no. 2, pp. 568–579, 2023.
[22] N. Harahap, Penelitian Kualitatif. Sumatera Utara, Indonesia: Wal Ashri Publishing, 2020.
[23] Ardiansyah, Risnita, and M. S. Jailani, “Teknik Pengumpulan Data Dan Instrumen Penelitian Ilmiah Pendidikan Pada Pendekatan Kualitatif Dan Kuantitatif,” Jurnal IHSAN: Jurnal Pendidikan Islam, vol. 1, no. 2, pp. 1–9, 2023, doi: 10.61104/ihsan.v1i2.57.
[24] M. Saadah, Y. C. Prasetiyo, and G. T. Rahmayati, “Strategi Dalam Menjaga Keabsahan Data Pada Penelitian Kualitatif,” Al-’Adad: Jurnal Tadris Matematika, vol. 1, no. 2, pp. 54–64, 2022.
[25] N. W. R. Dewi, “Membangun Komunikasi Dan Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini Melalui Metode Mendongeng,” Widyālaya: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 1, no. 1, pp. 101–108, 2020.
[26] I. Azizi and R. Umi, “Program Literasi Sebagai Upaya Pengembangan Bahasa Anak Usia Dini Di RA Al Falah Dolopo Madiun,” Kindergarten: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini Indonesia, vol. 1, no. 1, pp. 26–40, 2022.
[27] S. Hartati et al., “Peran Metode Bercerita Terhadap Perkembangan Bahasa Anak Usia Dini,” Jurnal PG-PAUD Trunojoyo: Jurnal Pendidikan Dan Pembelajaran Anak Usia Dini, vol. 8, no. 2, pp. 74–86, 2021.
[28] M. Muliyana and K. E. Wardhana, “Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Dengan Bermain Peran Pada Anak Usia Dini,” BOCAH: Borneo Early Childhood Education and Humanities Journal, vol. 1, no. 2, pp. 115–124, 2022.
[29] N. Amini and S. Suyadi, “Media Kartu Kata Bergambar Dalam Meningkatkan Kemampuan Kosakata Anak Usia Dini,” Paudia, vol. 9, no. 2, pp. 119–129, 2020.
[30] C. C. Novita and S. Suyadi, “Penggunaan Mainan Kartu Kata Membaca Berputar Berbasis Teknologi Untuk Anak Usia Dini,” Aulad: Journal on Early Childhood, vol. 3, no. 3, pp. 132–138, 2020.
[31] N. U. Nikmah and Y. Darwati, “Upaya Peningkatan Kemampuan Membaca Melalui Buku Cerita Bergambar Pada Anak Usia Dini,” Wisdom: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 2, no. 2, pp. 141–151, 2021.