Login
Section Education

Intrinsic Motivation Linked to Early Writing Skills in Second Graders


Motivasi Intrinsik Terkait dengan Kemampuan Menulis Awal pada Siswa Kelas Dua
Vol. 10 No. 1 (2025): June:

Mariza Istifarania (1)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background Writing skills constitute a foundational component of literacy development in early elementary education and are closely associated with students’ overall academic progress. Specific Background At ages 7–8, children are in the concrete operational stage, during which logical thinking and basic writing abilities develop rapidly, yet many second-grade students still experience difficulties in handwriting, sentence construction, and written expression. Knowledge Gap Despite the recognized importance of motivation in learning, limited qualitative evidence explains how intrinsic motivation relates specifically to early writing performance in lower-grade elementary students. Aims This study aims to analyze learning motivation from the perspective of writing skills among second-grade students at SDN Sumput Sidoarjo. Results Using a qualitative case study with observations, interviews, and documentation triangulated descriptively, findings indicate that students with high intrinsic motivation demonstrate more fluent, neat, and consistent writing, whereas those with low motivation struggle with letter formation, organization, punctuation, capitalization, and idea development. Novelty The study provides an in-depth, contextual description linking intrinsic motivational characteristics—interest, desire, and independence—to specific mechanical and compositional aspects of early writing. Implications These findings suggest that teachers and parents should cultivate students’ interest and autonomy in writing activities to support foundational literacy development in primary education.


Highlights:




  • Learners with stronger internal drive produced smoother and more orderly handwriting.




  • Mechanical errors such as spacing, punctuation, and capitalization remained common among less engaged pupils.




  • Idea expansion was limited, with most children producing only short, simple sentences.




Keywords:

Intrinsic Motivation; Writing Skills; Early Literacy; Elementary Education; Qualitative Case Study

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Pendidikan adalah usaha yang terencana untuk menciptakan suasana belajar dan proses pembelajaran supaya siswa secara aktif mengembangkan potensi diri mereka untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak baik, serta keterampilan yang dibutuhkan oleh diri mereka, masyarakat, bangsa, dan negara. Lembaga pendidikan memainkan peran krusial dalam pengembangan sumber daya manusia. Oleh karena itu, orang tua berusaha keras agar anak-anak mereka melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi[1]. Ini terlihat di awal tahun ajaran, di mana jumlah murid baru selalu meningkat setiap tahun. Dengan situasi seperti ini, kemungkinan munculnya berbagai masalah yang dihadapi oleh guru juga semakin tinggi. Keberhasilan dalam pendidikan sangat tergantung pada peran guru. Saat ini, pendidikan yang berkaitan dengan perilaku siswa menunjukkan banyak penyimpangan dan pelanggaran yang tidak sesuai harapan[2]. Contohnya adalah pertikaian antar siswa, ketidaktepatan waktu masuk sekolah, dan pengabaian tugas, kebisingan selama pelajaran, pembangkangan ketika ditegur, dan berbagai perilaku lainnya. Masalah ini tidak hanya muncul di SDN Sumput, tetapi juga hampir di semua lembaga pendidikan lainnya. Selain itu, siswa sering kali tidak fokus dan kurang perhatian terhadap pelajaran yang diajarkan guru di kelas. Dalam menghadapi kondisi seperti ini, seorang guru perlu mengendalikan kelas dan menciptakan suasana yang mendukung perhatian siswa yang mulai terpecah. Seorang guru juga harus dapat memotivasi siswa agar belajar menjadi pengalaman yang menyenangkan, bukan membosankan. Hal ini sejalan dengan pandangan Ormrod (2012), yang menyatakan bahwa pengalaman belajar yang menarik dapat meningkatkan motivasi belajar siswa secara signifikan[18].

Situasi belajar yang tidak nyaman dan membosankan sering kali disebabkan oleh penggunaan metode ceramah yang monoton dalam proses belajar mengajar. Untuk mengatasi permasalahan ini dan memberikan motivasi belajar bagi siswa agar pendidikan dapat berjalan lancar dan berhasil, perlu dilakukan berbagai upaya pencegahan, termasuk penerapan aturan-aturan. Aturan tersebut harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh siswa untuk meningkatkan kualitas dan prestasi belajar mereka. Perkembangan dalam bidang psikologi telah menunjukkan kemajuan yang signifikan, terutama dalam psikologi pendidikan, di mana telah muncul banyak teori baru dengan masing-masing konsep dan metode. Salah satunya adalah teori perilaku. Teori perilaku adalah sebuah pendekatan belajar yang berpendapat bahwa tindakan seseorang dipengaruhi oleh hadiah dan penguatan dari lingkungannya, sehingga dalam proses belajar terdapat hubungan yang sangat erat antara respons perilaku dan rangsangannya[3]. Dengan demikian, teori perilaku ini sangat relevan untuk mengevaluasi keterlambatan dalam membaca dan menulis di kalangan siswa sekolah dasar, karena teori ini berfokus pada perubahan tindakan sebagai buah dari proses belajar. Berdasarkan penjelasan tersebut, peneliti berminat untuk mendalami lebih jauh tentang teori perilaku untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan keterlambatan dalam membaca dan menulis siswa serta mencari solusi untuk masalah tersebut berdasarkan pada teori belajar perilaku.

Anak usia 7–8 tahun berada pada tahap perkembangan operasional konkret menurut Piaget, yaitu tahap ketika anak mulai mampu berpikir logis, tetapi masih terbatas pada hal-hal yang bersifat nyata. Pada usia ini, kemampuan bahasa mereka berkembang pesat, termasuk dalam hal membaca dan menulis. Anak mulai dapat memahami hubungan huruf dengan bunyi, menyusun kalimat sederhana, serta mengekspresikan ide melalui tulisan. Namun, perkembangan keterampilan menulis pada usia ini masih dipengaruhi oleh faktor motivasi, konsentrasi, dan pengalaman belajar sebelumnya. Oleh karena itu, pemahaman mengenai karakteristik usia anak menjadi penting untuk mengkaji kesulitan yang mereka hadapi dalam menulis permulaan.

Motivasi dalam pengertian yang berkembang di masyarakat sering kali disamakan dengan 'semangat', dan hasil belajar adalah suatu hasil yang dicapai oleh seorang individu dalam mengembangkan kemampuanya melalui proses yang dilakukan dengan usaha dengan kemampuan kognitif, afektif, psikomotor dan campuran yang dimilikinya untuk memperoleh suatu pengalaman dalam kurun waktu yang relatif lama sehingga seorang individu tersebut mengalami suatu perubahan dan pengetahuan dari apa yang diamati baik secara langsung maupun tidak langsung yang akan melekat pada dirinya secara permanen, hasil belajar dapat dilihat dari nilai evaluasi yang diperoleh siswa. Motivasi menjadi dasar bagi siswa untuk dapat memperoleh hasil belajar yang maksimal, dimana hasil belajar selanjutnya akan digunakan sebagai dasar penentuan pencapaian kompetensi yang diharapkan. Nilai yang diperoleh dalam hasil belajar juga menentukan ketuntasan belajar siswa yang berpengaruh pada naik tidaknya siswa ke jenjang berikutnya. Motivasi yang berasal dari dalam diri dan motivasi yang berasal dari luar. Motivasi yang timbul dari dalam diri siswa (Instrinsik) mencakup keinginan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, semangat untuk mencapai tujuan belajar, dan kebutuhan untuk memenuhi keinginannya dalam belajar, yang termasuk dalam motivasi dari dalam[4].

Menurut Deci dan Ryan (2000), motivasi intrinsik dapat muncul ketika siswa merasa otonom, kompeten, dan terhubung secara sosial dalam lingkungan belajar. Di sisi lain, motivasi yang berasal dari faktor eksternal siswa, seperti dukungan dari orang tua, suasana belajar yang menyenangkan, teman belajar yang ada di sekitar, dan kegiatan pembelajaran yang menarik, tergolong dalam motivasi dari luar[19]. Aeni (2014) menekankan bahwa sangat penting bagi guru untuk memberikan dorongan agar siswa dapat meningkatkan semangat dan membangun rasa percaya diri mereka. Dalam motivasi terdapat dorongan yang mengaktifkan, memicu, menuntun, dan mengarahkan sikap serta tindakan individu yang belajar. Sebagaimana diungkapkan oleh Muhibbin Syah pada tahun 2008, motivasi adalah keadaan yang terdapat dalam diri makhluk hidup, baik itu manusia maupun hewan, yang mendorong mereka untuk bertindak. Dalam konteks ini, motivasi berfungsi sebagai sumber yang mendorong perilaku untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut Sardiman pada tahun 2007, motivasi juga bisa dimaknai sebagai serangkaian upaya untuk menciptakan kondisi tertentu, yang menjadikan seseorang bersedia dan ingin melakukan sesuatu; jika seseorang tidak menyukai sesuatu, ia akan berusaha untuk menghindari atau menghilangkan perasaan tidak suka tersebut.[5].

Motivasi intrinsik berfungsi sebagai suatu pendorong dari dalam untuk terlibat dalam kegiatan berdasarkan minat dan kepuasan pribadi, dan telah menjadi perhatian utama dalam bidang pendidikan. Penelitian yang dilakukan oleh Vansteenkiste dan rekan-rekannya (2018) mengungkapkan bahwa motivasi intrinsik tidak bersifat tetap, tetapi terus berkembang seiring berjalannya waktu, dimulai dari ketertarikan yang awalnya sederhana hingga berkembang menjadi identitas motivasi intrinsik yang lebih kuat dan mendalam. Dalam dunia pendidikan di tingkat sekolah dasar, pentingnya pengembangan strategi untuk meningkatkan motivasi intrinsik semakin meningkat. Anak-anak sedang membangun pola pikir dan minat yang akan berdampak pada pembelajaran mereka di masa mendatang. Supriyani dan Arifudin (2020) menekankan bahwa motivasi intrinsik yang muncul dari dalam diri siswa sangat krusial untuk mencapai keberhasilan dalam belajar. Para siswa yang memiliki motivasi intrinsik yang tinggi cenderung lebih termotivasi dan fokus dalam proses belajar. Mendorong motivasi intrinsik dianggap lebih efektif dibandingkan hanya bergantung pada motivasi ekstrinsik karena hal ini memungkinkan siswa untuk belajar dengan semangat yang tulus[6].

Menulis adalah salah satu kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk menyampaikan ide atau informasi melalui tulisan. Graham dan Perin (2007) dalam penelitian mereka menyebutkan bahwa keterampilan menulis yang kuat berkorelasi dengan pencapaian akademik yang lebih tinggi. Oleh karena itu, pelatihan menulis sejak dini menjadi kunci keberhasilan akademik siswa. Pada tahap awal pendidikan dasar, keterampilan menulis dasar menjadi kemampuan penting yang perlu dikuasai oleh siswa. Menurut Nyoman Suastika (2019), menulis merupakan produk dari sebuah gagasan yang memiliki arti untuk mengekspresikan ide, pemikiran, perasaan, dan emosi penulis. Melalui aktivitas menulis, siswa dapat menyampaikan ide atau menjelaskan sesuatu dengan tulisan[7]. Penting untuk memperhatikan keterampilan menulis siswa SD, agar mereka dapat berpartisipasi dalam proses belajar di kelas dengan baik dan optimal. Dalam pembelajaran menulis awal, tahap mengenal huruf adalah langkah pertama yang perlu dilatih kepada siswa, sebelum melanjutkan ke tahap latihan menulis. Menulis awal adalah keterampilan menulis yang diajarkan kepada siswa pada tahap pertama, yaitu di kelas I dan II.

Keterampilan menulis berhubungan dengan kemampuan dalam merangkai kata, yang mencakup cara mengekspresikan pemikiran dan perasaan secara tertulis Kemampuan seseorang dalam menulis berkembang melalui proses pembelajaran yang terus-menerus dilatih. Jika ada masalah atau tantangan, hal itu dapat terlihat dari hasil tulisan yang buruk dan sulit dibaca[8]. Namun, banyak siswa kelas 2 SD menghadapi kesulitan dalam menulis karena berbagai alasan. Alasan-alasan ini termasuk faktor lingkungan sekolah, kondisi keluarga, metode pengajaran, dan karakteristik masing-masing siswa. Salah satu penyebab utama kesulitan dalam menulis adalah kurangnya kesiapan literasi. Siswa yang belum mahir dalam keterampilan dasar membaca dan mengenali huruf sering kali mengalami kesulitan dalam menghubungkan suara dengan bentuk huruf, serta menyusunnya menjadi kata. Selain itu, keterbatasan dalam aspek motorik halus, yang berpengaruh pada kemampuan fisik untuk menulis, juga menghambat perkembangan keterampilan menulis. Selain faktor individu, lingkungan juga memiliki dampak yang signifikan. Lingkungan belajar yang mendukung, baik di sekolah maupun di rumah, dapat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan menulis mereka. Di sisi lain, kurangnya latihan menulis, terbatasnya akses ke sumber belajar, serta rendahnya perhatian terhadap pengembangan keterampilan menulis pada tahap awal dapat menjadi hambatan yang besar. Keterampilan menulis itu sendiri memiliki peran yang penting, sejajar dengan keterampilan lainnya dalam proses belajar. Hal ini dikarenakan hampir semua pelajaran mengharuskan siswa untuk menulis. Oleh karena itu, penguasaan kemampuan ini perlu terus dipraktikkan dan ditingkatkan.

Kerapian tulisan menunjukkan bahwa tulisan itu rapi, gampang dibaca, dan bersih dari goresan. Pada dasarnya, siswa kurang tertarik untuk menulis, terutama bagi siswa tingkat rendah di Sekolah Dasar (SD). Menurut Kosasih (2013), untuk mengembangkan kemampuan menulis anak SD, guru perlu menerapkan pendekatan yang kontekstual dan menyenangkan, serta memberikan latihan menulis yang variatif dan terarah. Ini penting agar siswa tidak merasa terbebani dalam belajar menulis. Berdasarkan wawancara dengan beberapa siswa kelas 2, peneliti menemukan bahwa mereka cenderung lebih menyukai komunikasi secara langsung, karena dianggap lebih sederhana dibandingkan dengan komunikasi secara tidak langsung atau tulisan[9]. Di sisi lain, keterampilan menulis adalah sesuatu yang harus dikuasai agar siswa dapat mengasah dan melatih kemampuan menulisnya. Keberhasilan dalam menulis sangat bergantung pada kegiatan praktek dan latihan yang dilakukan secara terus-menerus. Selain latihan, minat dan motivasi siswa untuk menulis juga memainkan peranan penting, bersamaan dengan bimbingan dalam menulis dan pengetahuan tentang karya sastra yang tersedia. Di samping itu, sejumlah faktor dapat menyebabkan rendahnya kemampuan menulis siswa, antara lain kesulitan siswa dalam mengungkapkan ide, pemikiran, dan kurangnya media pendidikan yang disediakan oleh guru untuk meningkatkan minat belajar dan merangsang kreativitas siswa dalam menulis bahasa Indonesia[10].

Dalam sektor pendidikan, mengenali teori perkembangan sangatlah penting untuk dipahami. Memiliki pemahaman tentang perkembangan anak adalah hal yang sangat penting, khususnya bagi anak-anak. Pengetahuan mengenai anak tidak hanya perlu diketahui tetapi juga harus dicerna. Ini akan menjadi pedoman untuk menganalisis karakter serta kebutuhan anak, bahkan saat mereka masih dalam fase awal usia[11]. Salah satu aspek penting dalam perkembangan adalah pemahaman tentang perkembangan anak usia dini di bidang pengetahuan atau kognisi. Kognitif, yang sering disebut juga sebagai intelektual, merupakan salah satu bagian dari perkembangan yang berhubungan dengan kemampuan berpikir setiap individu, yaitu potensi dalam menyelesaikan masalah[12]. Oleh karena itu, penting untuk memahami perkembangan kognitif individual, karena setiap tahap pertumbuhan memiliki ciri khas tersendiri. Dengan demikian, muncul teori yang membahas perkembangan kognitif yang menjelaskan tahapan kognitif manusia dari bayi hingga orang dewasa. Teori Piaget mengenai perkembangan kognitif adalah sebuah teori yang menguraikan bagaimana anak-anak beradaptasi dan mengerti lingkungan mereka. Dalam memahami perkembangan kognitif anak, pandangan Piaget tetap relevan, tetapi perlu juga mempertimbangkan model dari Santrock (2011) dan Woolfolk (2013), yang menekankan pentingnya strategi pembelajaran yang selaras dengan perkembangan psikologis dan emosi anak. Hal ini penting dalam membentuk motivasi belajar yang sehat dan keterampilan menulis yang berkembang.

Piaget juga mengelompokkan sistem dan siklus peningkatan intelektual manusia dari tahap awal sampai proses berpikir remaja dan dewasa[13]. Tujuan utama dari teori kognitif mengenai perkembangan intelektual menurut Piaget adalah untuk menjelaskan berbagai faktor yang bisa memengaruhi kemampuan berpikir (Khiyarusoleh, 2016). Dengan memahami berbagai faktor ini, kita dapat menjadikannya sebagai pedoman untuk menyesuaikan tingkat kemampuan dengan cara belajar anak. Apa yang diungkapkan oleh Piaget mengenai kemajuan intelektual sangat menarik untuk dijelajahi dan difahami dalam konteks pendidikan[14]. Dalam sistem pelatihan untuk mencapai hasil yang maksimal, keterlibatan semua pihak di lingkungan sekolah, khususnya pengajar, sangatlah penting; mereka harus terus beradaptasi dengan perkembangan siswa dan memberikan dukungan serta penghargaan atas setiap cara penyelesaian masalah yang dilakukan oleh murid. Ini akan memiliki dampak besar terhadap peningkatan intelektual siswa [15].

Indikator keterampilan menulis dalam studi ini merujuk pada pandangan Tarigan (2008), Dalman (2014), dan Semi (2007) yang menyatakan bahwa keterampilan menulis mencakup baik kemampuan teknis maupun isi. Aspek teknis terdiri dari ketepatan dalam membentuk huruf, kejelasan tulisan, penggunaan ejaan, huruf besar, serta tanda baca yang tepat. Di sisi lain, aspek substansial meliputi kemampuan dalam menyusun kalimat sederhana dengan struktur yang benar, mengekspresikan ide atau pengalaman dalam bentuk tulisan, serta memastikan kesesuaian isi dengan tema yang diberikan. Indikator ini juga sejalan dengan standart kompetensi menulis dasar yang telah ditetapkan oleh Depdiknas (2006) untuk siswa di tingkat sekolah dasar kelas rendah. Dengan mengikuti indikator ini, penelitian ini dapat mengevaluasi kemampuan menulis siswa dengan cara yang lebih terarah dan sesuai dengan tahap perkembangan usia mereka.

Saya memilih SD Negeri Sumput Sidoarjo untuk penelitian saya karena sekolah ini memiliki karakteristik yang sesuai dengan focus penelitian saya, yaitu melihat motivasi belajar dalam konteks keterampilan menulis. Saya juga sudah mendapatkan izin dan dukungan dari pihak sekolah, sehingga proses penelitian bias berjalan lebih lancar. Berdasarkan hasil pengamatan observasi di kelas 2 SDN Sumput, terdapat masalah dalam kemampuan menulis. Banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam menulis huruf dengan bentuk yang tepat dan rapi, serta membuat kalimat sederhana tanpa banyak kesalahan ejaan. Beberapa siswa tampak lambat saat menyalin tulisan dari papan tulis, sementara yang lain sering salah menuliskan huruf tertentu, seperti “b” dan “d”. Guru telah memberikan latihan menulis secara rutin, tetapi kurangnya bimbingan individu membuat sebagian siswa tertinggal. Ini menunjukkan bahwa diperlukan strategi yang lebih efektif, seperti latihan yang terarah dan pendekatan personal, untuk memperbaiki kemampuan menulis siswa di kelas 2. Oleh karena itu, siswa membutuhkan guru pendamping untuk membantu mereka menyelesaikan tugas menulis tersebut.

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran mengenai hambatan yang dialami siswa dalam keterampilan menulis permulaan. Usaha yang dapat dilakukan adalah dengan menganalisis kemampuan menulis siswa. Analisis perlu dilakukan sesegera mungkin, terutama untuk siswa kelas rendah, agar penanganan masalah tersebut tidak terlambat. Dengan melakukan analisis kemampuan menulis permulaan, kita dapat mengidentifikasi kesulitan dan aspek-aspek yang dialami siswa pada tahap belajar menulis.

Metode

Pada penelitian ini, peneliti menerapkan penelitian kualitatif. Penelitian kualitaatif merupakan serangkaian rencana dan prosedur dalam riset yang mencakup asumsi mengenai suatu fenomena hingga metode spesifik termasuk pengumpulan data, analisis, dan interpretasi[16]. Dalam penelitian ini, penulis memilih pendekatan kualitatif yang bersifat studi kasus. Metode kualitatif, menurut Creswell, adalah pendekatan yang digunakan untuk mengeksplorasi dan memahami makna dari objek, baik individu, kelompok, maupun masalah manusia. Data yang terkumpul, baik dalam bentuk teks maupun gambar, akan dijelaskan dalam bentuk deskripsi sesuai dengan fenomena yang terjadi. Pendekatan penelitian yang diambil adalah Studi kasus yang bertujuan untuk menginterpretasikan hasil penelitian dan memberikan gambaran situasi secara menyeluruh. Studi kasus merupakan penelitian eksperimental yang menyelidiki fenomena yang sebelumnya tidak jelas. Saya ingin menambahkan bahwa karakteristik khusus dari metode studi kasus adalah mencakup berbagai jenis data seperti wawancara, observasi, dokumen, dan alat[17].

Tempat penelitian ini dilakukan di SDN Sumput yang terletak di desa Sumput, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Peneliti memilih subjek penelitian dengan menggunakan metode studi kasus. Studi kasus adalah sebuah metode penelitian yang bertujuan untuk mendalami suatu fenomena atau kejadian tertentu dengan cara yang lengkap dan mendetail. Metode ini memberikan kesempatan kepada peneliti untuk mengumpulkan dan menganalisis data dari beragam sumber, termasuk wawancara, observasi, dan dokumen tertulis, untuk memahami konteks dan interaksi yang berhubungan dengan permasalahan tersebut. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan melalui triangulasi yang digunakan pada penelitian yang menggunakan triangulasi teknik diantaranya: observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan oleh peneliti untuk mengenali dan mencatat fakta serta kejadian di lapangan yang berkaitan dengan rendahnya motivasi belajar dari sudut pandang keterampilan menulis siswa kelas 2 di SDN Sumput Sidoarjo.

Selama wawancara, responden diminta untuk mengemukakan pandangan dan ide-ide mereka. Metode ini dimanfaatkan untuk mendapatkan informasi tentang rendahnya keterampilan menulis, motivasi belajar siswa, serta kendala yang dihadapi dalam proses belajar mereka. Teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data berupa foto-foto aktivitas yang mendukung pelaksanaan kegiatan motivasi belajar dan menulis di sekolah. Dokumentasi ini diperoleh dari pengambilan gambar oleh peneliti, bantuan dari pihak lain, serta dokumen foto yang sudah ada di sekolah.Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan fokus pada siswa kelas II Sekolah Dasar yang memiliki motivasi belajar dan keterampilan menulis yang belum berkembang secara optimal. Penelitian dilaksanakan di salah satu Sekolah Dasar yang telah ditentukan, dengan subjek yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Data dikumpulkan melalui observasi terhadap proses belajar dan keterlibatan siswa dalam aktivitas menulis, wawancara dengan siswa, guru, dan orang tua untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi motivasi belajar, serta analisis dokumen berupa hasil karya tulis siswa guna menilai perkembangan keterampilan menulis mereka.

Teknik analisis data yang digunakan bersifat deskriptif, mencakup reduksi data untuk menyaring informasi yang relevan, penyajian data dalam bentuk naratif guna memahami pola hubungan antara motivasi dan keterampilan menulis, serta penarikan kesimpulan berdasarkan hasil analisis. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan teknik, yaitu dengan membandingkan hasil observasi, wawancara, dan analisis dokumen agar diperoleh hasil yang akurat dan dapat dipercaya, sehingga diharapkan mampu memberikan pemahaman yang mendalam mengenai hubungan antara rendahnya motivasi belajar dan keterampilan menulis pada siswa kelas II Sekolah Dasar.

Hasil Dan Pembahasan

A. Hasil

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi hubungan antara motivasi belajar dan kemampuan menulis di kalangan siswa kelas II di SDN Sumput, Sidoarjo. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan, wawancara dengan dua orang siswa, serta pengumpulan dokumen hasil tulisan siswa.

Narasi Partisipan 1 ( Inisial A )

1. Hasil Observasi

Berdasarkan pengamatan selama kegiatan belajar menulis di kelas, Ananda A menunjukkan progres yang cukup baik dalam mencopy teks yang diberikan oleh guru di papan tulis. Ia dapat menyalin kalimat dan kata yang sederhana, tetapi kerapian dalam tulisannya masih tidak konsisten. Beberapa huruf tampak miring ke kanan dan jarak antarhuruf tidak seragam, yang mengakibatkan tingkat keterbacaan menurun. Saat menyalin kalimat, Ananda A sering kali melewatkan beberapa huruf atau menuliskannya dalam bentuk yang tidak proporsional, seperti huruf "g" dan "p" yang terlihat lebih kecil daripada huruf lainnya. Selain itu, Ananda A cenderung menulis dengan kecepatan sedang, tetapi sering menghentikan sejenak untuk memperbaiki huruf yang terlihat kurang jelas. Hal ini mencerminkan bahwa ia masih dalam proses belajar untuk membentuk huruf dengan cara yang benar dan baik.

2. Hasil Dokumentasi

Dokumen tulisan yang dibuat oleh Ananda A memperkuat temuan dari observasi. Dalam hasil tugas menyalin kalimat sederhana, terlihat bahwa ia bisa menuliskan sebagian besar kata dengan benar, tetapi aspek kerapian masih kurang. Beberapa kata dituliskan terlalu berdekatan tanpa spasi, sementara yang lainnya justru memiliki jarak yang terlalu jauh. Kesalahan lain yang muncul adalah ketidakkonsistenan dalam penggunaan huruf kapital, terutama pada awal kalimat dan nama orang. Selain itu, tanda buka titik sering kali terlewatkan sehingga kalimat yang ditulis terlihat tidak lengkap. Pada beberapa tugas menulis kalimat berdasarkan gambar, Ananda A hanya dapat menuliskan kalimat yang sangat sederhana, seperti satu kalimat deskriptif, dan kesulitan ketika diminta untuk membuat lebih dari satu kalimat.

Figure 1. Proses berlangsungnya wawancara

Figure 2. Pendampingan menulis pada siswa

Figure 3. Hasil proses tulisan Ananda A

3. Hasil Wawancara

Untuk melengkapi informasi, dilakukan wawancara dengan Ananda A. Tujuan wawancara ini adalah untuk memahami pengalaman dan kesulitan yang dialaminya saat menulis. Berikut adalah cuplikan hasil transkrip wawancara:

Peneliti: "Bisa tidak menyalin tulisan di papan? "

Ananda A: "Bisa, Bu, tapi kadang tulisanku miring. "

Peneliti: "Kalau membuat kalimat sendiri, bagaimana? "

Ananda A: "Kalau yang pendek, bisa, tapi kalau panjang jadi bingung. "

Peneliti: "Apakah kamu menggunakan huruf kapital di awal kalimat? "

Ananda A: "Kadang lupa, Bu."

Peneliti: "Bagaimana dengan tanda titik di akhir kalimat, apakah kamu menuliskannya? "

Ananda A: "Kadang ingat, kadang tidak. "

Dari wawancara tersebut, terlihat bahwa Ananda A menyadari kelemahan dalam menulis, terutama pada kerapian tulisan, penggunaan huruf kapital, dan tanda baca. Ia juga mengakui merasa sulit ketika diminta untuk membuat kalimat panjang, sehingga lebih nyaman menulis kalimat yang pendek.

4. Analisis

Melalui triangulasi data dari observasi, dokumentasi, dan wawancara, dapat disimpulkan bahwa Ananda A telah memiliki dasar kemampuan dalam menulis, terutama dalam keterampilan menyalin kata dan kalimat yang sederhana. Namun, terdapat beberapa kelemahan yang cukup mencolok, yaitu kerapian bentuk huruf, konsistensi dalam penggunaan huruf kapital, tanda baca, dan kemampuan menyusun kalimat panjang. Kesulitan ini sesuai dengan pendapat Tarigan (2008) yang menyatakan bahwa siswa sekolah dasar sering mengalami masalah pada aspek mekanik tulisan, seperti ejaan, tanda baca, dan keteraturan huruf. Hal ini juga sejalan dengan argumen Dalman (2014) yang menyoroti bahwa siswa di tingkat rendah biasanya baru dapat menulis kalimat sederhana dan memerlukan bimbingan lebih lanjut untuk meningkatkan keterampilan menulis yang lebih kompleks.

Narasi Partisipan 2 ( Inisial V )

1. Hasil Observasi

Dari hasil pengamatan di ruang kelas, Ananda V menunjukkan kemampuan dasar menulis yang cukup baik dalam hal menyalin kata-kata sederhana. Dia bisa menuliskan kata atau kalimat yang diberikan oleh guru, meskipun terkadang memerlukan waktu lebih lama dibandingkan teman-temannya. Mengenai kerapian tulisan, karakter huruf yang ditulis Ananda V sudah cukup jelas, tetapi ukuran hurufnya masih kurang seragam, khususnya untuk huruf-huruf seperti “y” dan “g” yang kadang-kadang terlalu besar atau kecil. Selain itu, ketika diminta untuk menulis kalimat berdasarkan gambar, Ananda V mampu menghasilkan kalimat sederhana, namun jumlah kalimat yang dia buat masih terbilang sedikit. Kesalahan umum yang dilakukannya adalah tidak menambahkan tanda titik di akhir kalimat dan sering kali tidak menggunakan huruf kapital di awal kalimat.

2. Hasil Dokumentasi

Dokumen tulisan Ananda V mendukung hasil pengamatan yang diperoleh. Pada hasil tugas menyalin, tulisan terlihat lebih rapi dibandingkan Ananda A, meskipun beberapa huruf masih terlihat tidak seimbang. Saat melakukan tugas menulis kalimat dari gambar, Ananda V hanya mampu menuliskan satu kalimat sederhana, seperti “ini kucing” atau “saya punya bola. ” Hal ini menunjukkan bahwa dia dapat mengikuti arahan, tetapi belum terbiasa untuk mengembangkan ide menjadi lebih dari satu kalimat. Dalam hal mekanik menulis, terlihat bahwa dia sering mengabaikan penggunaan tanda baca titik dan kadang lupa untuk menulis huruf kapital di awal kalimat.

Figure 4. Proses berlangsungnya wawancara

Figure 5. Pendampingan menulis pada siswa

Figure 6. Hasil proses tulisan Ananda V

3. Hasil Wawancara

Untuk mendalami pengalaman menulisnya, dilakukan wawancara dengan Ananda V. Berikut adalah kutipan dari transkrip wawancara:

Peneliti: “Kamu sering menulis apa di bukumu? ”

Ananda V: “Nama saya dan nama teman-teman, Bu.”

Peneliti: “Kalau membuat kalimat dari gambar, bisa? ”

Ananda V: “Bisa, Bu, tetapi hanya satu kalimat. ”

Peneliti: “Apakah kamu menggunakan titik di akhir kalimat? ”

Ananda V: “Kadang saya lupa, Bu.”

Peneliti: “Kalau menulis dengan cepat, apakah bisa selesai lebih cepat? ”

Ananda V: “Lama, Bu, saya takut salah menulis hurufnya. ”

Wawancara ini menunjukkan bahwa Ananda V telah mampu menulis nama dirinya dan kalimat-kalimat sederhana, namun belum terbiasa menggunakan tanda baca secara konsisten. Dia juga mengakui memerlukan waktu lebih lama saat menulis karena takut membuat kesalahan.

4. Analisis

Berdasarkan pengumpulan data dari observasi, dokumentasi, dan wawancara, bisa disimpulkan bahwa Ananda V memiliki kemampuan dasar menulis permulaan dengan baik pada aspek penyalinan tulisan dan menyusun kalimat sederhana. Namun, tantangan yang nyata terletak pada aspek mekanik, yakni penggunaan huruf kapital dan tanda baca titik. Selain itu, kecepatan menulisnya yang lambat menunjukkan bahwa dirinya masih kurang percaya diri dan berhati-hati berlebihan untuk menghindari kesalahan. Temuan ini sejalan dengan pendapat Dalman (2014) yang menyoroti bahwa siswa di tingkat dasar umumnya masih menghadapi tantangan dalam aspek mekanik menulis dan pengorganisasian ide dalam kalimat. Temuan ini juga mendukung pernyataan Graham & Perin (2007) yang menjelaskan bahwa keterampilan menulis pada tingkat sekolah dasar masih terbatas pada kalimat-kalimat sederhana dengan struktur yang tidak rumit.

B. Pembahasan

1. Kerapian Tulisan dan Bentuk Huruf

Berdasarkan hasil penelitian, kerapian tulisan Ananda A masih tergolong rendah. Bentuk huruf yang ditulis cenderung miring dan ukuran huruf tidak konsisten, terutama pada huruf-huruf tertentu seperti “g”, “p”, dan “y”. Sementara itu, tulisan Ananda V relatif lebih rapi, namun masih ditemukan ukuran huruf yang tidak proporsional. Kondisi ini menunjukkan bahwa keterampilan mekanik dalam menulis pada kedua partisipan belum sepenuhnya berkembang. Menurut Tarigan (2008), siswa sekolah dasar tahap awal masih memerlukan latihan intensif untuk membentuk huruf dengan baik karena koordinasi motorik halus belum sepenuhnya matang. Dengan demikian, temuan penelitian ini sejalan dengan teori yang menyatakan bahwa kerapian tulisan masih menjadi kendala umum pada siswa kelas rendah sekolah dasar.

2. Penggunaan Huruf Kapital

Hasil wawancara dan dokumentasi tulisan memperlihatkan bahwa Ananda A maupun Ananda V sering lupa menggunakan huruf kapital, baik di awal kalimat maupun pada penulisan nama diri. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman mereka terhadap aturan ejaan masih terbatas. Kesalahan serupa juga sering muncul dalam hasil tulisan siswa sekolah dasar pada umumnya. Menurut Dalman (2014), kesalahan penggunaan huruf kapital merupakan hal yang wajar terjadi pada tahap awal pembelajaran menulis, karena siswa masih dalam proses memahami aturan ejaan dan penggunaannya. Dengan demikian, penelitian ini mendukung teori yang ada bahwa konsistensi penggunaan huruf kapital pada anak usia kelas rendah masih perlu dilatih secara terus-menerus.

3. Penggunaan Tanda Baca

Dalam hasil penelitian, baik Ananda A maupun Ananda V kerap mengabaikan tanda titik di akhir kalimat. Mereka mengakui bahwa hal tersebut sering terlupakan saat menulis. Dokumentasi tulisan juga memperlihatkan kalimat yang tidak diakhiri tanda titik, sehingga tulisan tampak tidak selesai. Graham dan Perin (2007) menegaskan bahwa siswa sekolah dasar sering menghadapi kendala dalam penggunaan tanda baca karena keterampilan ini menuntut ketelitian dan konsentrasi yang tinggi. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian bahwa partisipan belum mampu menggunakan tanda baca secara konsisten. Oleh karena itu, keterampilan penggunaan tanda baca masih perlu mendapat perhatian khusus dalam pembelajaran menulis di kelas rendah.

4. Penyusunan Kalimat Sederhana

Hasil observasi menunjukkan bahwa Ananda A mampu menyusun kalimat pendek, namun merasa kesulitan ketika diminta membuat kalimat panjang. Sementara itu, Ananda V mampu menulis kalimat sederhana berdasarkan gambar, tetapi biasanya hanya satu kalimat. Hal ini menunjukkan bahwa keterampilan menyusun kalimat sederhana sudah mulai berkembang, meskipun belum mencapai tahap yang lebih kompleks. Semi (2007) menyatakan bahwa keterampilan menulis pada anak usia sekolah dasar tahap awal ditandai dengan kemampuan menyusun kalimat sederhana, dan kemampuan ini akan berkembang secara bertahap sesuai pengalaman belajar anak. Dengan demikian, temuan penelitian ini konsisten dengan teori bahwa siswa kelas rendah masih berada pada tahap menyusun kalimat sederhana dengan struktur terbatas.

5. Pengembangan Ide atau Tema

Kedua partisipan, Ananda A dan Ananda V, menunjukkan keterbatasan dalam mengembangkan ide. Ananda A kesulitan ketika diminta membuat lebih dari satu kalimat, sedangkan Ananda V biasanya hanya berhenti setelah menulis satu kalimat sederhana. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan mengembangkan ide menjadi tulisan masih rendah. Dalman (2014) menjelaskan bahwa keterampilan menulis bukan sekadar menyalin kata, melainkan juga kemampuan menuangkan ide dalam bentuk tulisan yang runtut dan koheren. Temuan penelitian ini juga sejalan dengan Graham & Perin (2007) yang menyatakan bahwa pada usia sekolah dasar, keterampilan menulis siswa masih terbatas dalam mengembangkan ide. Oleh karena itu, siswa kelas rendah memerlukan bimbingan lebih intensif agar dapat mengembangkan ide menjadi tulisan yang lebih panjang dan bermakna.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian, keterampilan menulis siswa kelas II SDN Sumput masih berada pada tahap dasar. Mereka sudah mampu menyalin tulisan sederhana dari papan tulis atau instruksi guru, tetapi kerapian tulisan masih menjadi kendala. Bentuk huruf belum konsisten, ukuran huruf tidak seimbang, serta jarak antarhuruf dan kata kurang rapi sehingga memengaruhi keterbacaan. Dalam penggunaan ejaan, siswa sering salah menulis huruf kapital dan tanda baca. Misalnya, lupa menulis huruf kapital di awal kalimat atau pada nama diri, serta mengabaikan tanda titik di akhir kalimat. Kesalahan ini lebih karena kebiasaan menulis yang belum terbentuk dengan baik.

Siswa sudah bisa menulis kalimat sederhana, baik dari gambar maupun instruksi guru. Namun,mereka masih kesulitan membuat kalimat panjang atau lebih dari satu kalimat. Pengembangan ide juga terbatas, karena biasanya hanya menulis satu kalimat tanpa tambahan penjelas.Secara keseluruhan, siswa kelas II baru menguasai keterampilan menyalin dan menulis kalimat sederhana, tetapi masih perlu bimbingan dan latihan dalam hal kerapian, ejaan, penyusunan kalimat, dan pengembangan ide.

References

[1] K. A. T. S. Dewi, N. K. Suarni, and I. G. Margunayasa, “Teori Behavioristik: Meninjau Penyebab Keterlambatan Belajar Membaca Menulis Pada Siswa Sekolah Dasar,” Ideguru: Jurnal Karya Ilmiah Guru, vol. 9, no. 1, pp. 174–181, 2023, doi: 10.51169/ideguru.v9i1.788.

[2] M. S. Muna, N. Khotimah, and Y. J. Zuhaira, “Self-Efficacy Guru Terhadap Dinamika Pembelajaran Online Di Masa Pandemi Covid-19,” Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 3, no. 5, pp. 3113–3122, 2021, doi: 10.31004/edukatif.v3i5.754.

[3] U. Nasution and C. Casmini, “Integrasi Pemikiran Imam Al-Ghazali Dan Ivan Pavlov Dalam Membentuk Perilaku Peserta Didik,” Insania: Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan, vol. 25, no. 1, pp. 103–113, 2020, doi: 10.24090/insania.v25i1.3651.

[4] D. Khusnul and Danik, “Pemikiran Abraham Maslow Tentang Motivasi Dalam Belajar,” Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman Dan Kemanusiaan, vol. 6, no. 1, pp. 37–48, 2022.

[5] Y. Firmansyah, “Peran Motivasi Pegawai Badan Pusat Statistik Pada Kecamatan Penjaringan Kota Administrasi Jakarta Utara,” Jurnal Administrasi Publik, vol. 14, no. 2, pp. 287–301, 2017.

[6] P. Guru, M. Ibtidaiyah, L. Nurishlah, A. Nurlaila, and M. Rusnaya, “Motivasi Belajar Siswa Madrasah Ibtidaiyah,” Jurnal Murabbi, vol. 2, pp. 60–71, 2023.

[7] D. Permatasari, “Penggunaan Media Big Book Writing Terhadap Keterampilan Menulis Bahasa Indonesia Siswa Kelas 5 SD Negeri 1 Pilangbango Madiun,” Al-Bidayah: Jurnal Pendidikan Dasar Islam, vol. 9, no. 1, p. 21, 2017, doi: 10.14421/jpdi.2017.0901-03.

[8] S. Mahmasani, “Analisis Kemampuan Menulis Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 4, no. 2, pp. 274–282, 2020.

[9] P. K. Menulis et al., Pembelajaran Keterampilan Menulis Di Sekolah Dasar. Surakarta, Indonesia: Universitas Sebelas Maret Press, 2012.

[10] M. Mahmur, H. Hasbullah, and M. Masrin, “Minat Baca Dan Penguasaan Kalimat Terhadap Kemampuan Menulis Narasi,” Diskursus: Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia, vol. 3, no. 2, p. 169, 2021, doi: 10.30998/diskursus.v3i02.7408.

[11] T. Salawati and N. D. Indrawati, “Tahap Analisis Untuk Pengembangan ‘Asetaro’ Komik Pendidikan Kesehatan Untuk Anak Tentang Bahaya Merokok,” in Proceedings Of The 2nd University Research Colloquium, 2015.

[12] E. Rahmaniar, M. Maemonah, and I. Mahmudah, “Kritik Terhadap Teori Perkembangan Kognitif Piaget Pada Tahap Anak Usia Sekolah Dasar,” Jurnal Basicedu, vol. 6, no. 1, pp. 531–539, 2021, doi: 10.31004/basicedu.v6i1.1952.

[13] D. P. Haryanto, “Inovasi Pembelajaran,” Perspektif Ilmu Pendidikan, vol. 16, pp. 102–119, 2007, doi: 10.21009/pip.162.11.

[14] P. Kasmawati et al., Strategi Pembelajaran Kreatif, Inovatif Dan Motivatif. Yogyakarta, Indonesia: WBS Indonesia, 2022.

[15] O. Romsih, “Proses Pembelajaran Di Rumah: Pengalaman Baik Mengajar Dari Rumah Di Masa Pandemi Covid-19,” Jurnal Pengabdian Pendidikan, vol. 1, no. 1, p. 36, 2020.

[16] J. W. Creswell and J. D. Creswell, Research Design: Qualitative, Quantitative, And Mixed Methods Approaches, 4th ed. Thousand Oaks, CA, USA: Sage Publications, 2014.

[17] U. Bahiyah and S. Gumiandari, “Upaya Menumbuhkan Self-Confidence Berbicara Bahasa Arab Melalui Aplikasi Plotagon Pada Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon,” Edu Journal, vol. 4, no. 2, 2024.

[18] E. L. Deci and R. M. Ryan, “Intrinsic And Extrinsic Motivations: Classic Definitions And New Directions,” Contemporary Educational Psychology, vol. 25, no. 1, pp. 54–67, 2000.

[19] D. H. Schunk, P. R. Pintrich, and J. L. Meece, Motivation In Education: Theory, Research, And Applications, 4th ed. Boston, MA, USA: Pearson, 2014.

[20] J. E. Ormrod, Educational Psychology: Developing Learners, 7th ed. Boston, MA, USA: Pearson Education, 2012.

[21] S. Graham and D. Perin, Writing Next: Effective Strategies To Improve Writing Of Adolescents In Middle And High Schools. Washington, DC, USA: Alliance For Excellent Education, 2007.

[22] E. Kosasih, Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Bandung, Indonesia: Yrama Widya, 2013.

[23] Z. Fang, Teaching Content Reading And Writing. New York, NY, USA: Routledge, 2016.

[24] J. W. Santrock, Educational Psychology, 5th ed. New York, NY, USA: McGraw-Hill, 2011.

[25] A. Woolfolk, Educational Psychology, 12th ed. Boston, MA, USA: Pearson Education, 2013.