Login
Section Education

Self Directed Learning Improves Pancasila Education Outcomes in Elementary Students


Pembelajaran Mandiri Meningkatkan Hasil Pendidikan Pancasila pada Siswa Sekolah Dasar
Vol. 10 No. 1 (2025): June:

Indah Sanabila (1), Machful Indrakurniawan (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Improving learning outcomes in elementary education remains a central priority for developing students’ academic competence and character formation. Specific Background: In Pancasila Education classes at Singogalih State Elementary School, many fourth-grade students showed low achievement and passive participation under conventional teacher-centered instruction. Knowledge Gap: Limited classroom-based evidence exists on how Self-Directed Learning (SDL) can address low mastery levels in primary civic education contexts. Aims: This study aimed to improve students’ learning outcomes through the implementation of the Self-Directed Learning model. Results: Using Classroom Action Research conducted in two cycles, the percentage of students meeting the Minimum Completion Criteria increased from 30.43% in the pre-cycle to 56.52% in Cycle I and 91.30% in Cycle II, accompanied by higher student activity, motivation, and deeper understanding of the material. Novelty: The study demonstrates a structured application of SDL in elementary Pancasila Education with measurable classroom-level gains across iterative cycles. Implications: The findings indicate that student-centered autonomous learning can serve as a practical instructional alternative for primary schools seeking to raise achievement while fostering independence and critical thinking skills.


Highlights:




  • Mastery rates rose from less than one-third of the class to over nine-tenths after two cycles.




  • Learners became more active, motivated, and engaged during instruction.




  • Autonomous goal setting and self-evaluation supported deeper content comprehension.




Keywords:

Self-Directed Learning; Learning Outcomes; Elementary Education; Pancasila Education; Classroom Action Research

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Pendidikan adalah sebuah kunci keberhasilan dari suatu negara dalam membangun dirinya. Suatu bangsa dapat mencapai kemajuan pesat apabila sistem pendidikannya diurus dengan baik dan jujur serta didukung oleh anggaran yang memadai. Dengan demikian semua itu akan memiliki makna yang sebenarnya jika tidak didukung oleh semua pihak yang memiliki pengetahuan dan kepedulian terhadap pendidikan pada Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2023 menyampaikan bahwasannya pendidikan merupakan usaha yang terencana untuk menciptakan pembelajaran yang mampu mengaktifkan dalam mengembangkan potensi dirinya untuk memperkuat hubungan erat dengan dirinya sendiri serta mengarahkan dalam pengendalian kepribadian setiap individu, kecerdasan, dan bermoral . Pendidikan turut memperhatikan pemilihan karakter dan keterampilan yang diperlukan bagi individu, masyarakat, bangsa, dan negara. Pendidikan dasar merupakan tahap awal yang sangat krusial dalam membentuk kemampuan akademik, keterampilan sosial, dan kepribadian peserta didik . Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang berkualitas. Mempersiapkan siswa untuk lebih dari sekadar karier atau posisi tertentu, tetapi juga untuk menemukan solusi dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mengatasi persoalan-persoalan sehari-hari yang timbul. Setiap satuan pendidikan seharusnya terhubung dengan pencapaian tujuan pendidikan nasional . Sepanjang seluruh proses dalam proses pengajaran di sekolah, aktivitas belajar menjadi kegiatan yang paling vital. Artinya, hasil yang didapat bisa positif atau negatif. Bergantung pada penjelasan cara siswa belajar, salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan sebagai penunjang keberhasilan belajar peserta didik adalah model pembelajaran mandiri atau Self-Directed Learning . Model ini menempatkan peserta didik sebagai pusat dari proses belajar, di mana mereka memiliki kontrol yang lebih besar atas apa, bagaimana, dan kapan mereka belajar. Sebagai seorang pendidik salah satu indikator keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar adalah prestasi belajar yang dicapai oleh peserta didik. Disini terdapat beberapa indikator masalah yang saya temukan pada Sekolah Dasar Negeri Singogalih, yaitu “Sebagian besar siswa kesulitan menetapkan target belajar harian dan cenderung tidak konsisten dalam mengikuti jadwal yang telah dibuat”. Indikator masalah dalam penelitian tentang model pembelajaran Self-Directed Learning (SDL) dapat mencakup beberapa aspek yang berhubungan dengan kesiapan, kemampuan, dan hambatan siswa dalam menjalani pembelajaran mandiri, seperti (1) Kesiapan Belajar Mandiri, (2) Kemampuan Mengelola Pembelajaran, (3) Faktor Lingkungan, (4) Keterampilan Teknis dan Kognitif. Tujuan dari penerapan model pembelajaran mandiri atau self-dirrect learning untuk pendidikan nasional bertujuan memperluas bakat peserta didik supaya mereka berkembang menjadi manusia yang memiliki kepribadian. Demikian orang yang memiliki iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, bermoral tinggi, berbakat dalam berkreasi, serta memiliki kepribadian mandiri memiliki dampak positif pada proses tahapan belajar siswa. Model pemblajaran mandiri memiliki beberapa tujuan yang ditetapkan peserta didik biasanya akan lebih realistis dan relevan dengan kemampuan mereka, sehingga meningkatkan motivasi untuk mencapainya . Selain menetapkan tujuan belajar, Model pembelajaran mandiri atau Self-Directed learning (SDL) juga memungkinkan peserta didik untuk memilih strategi pembelajaran yang paling sesuai dengan gaya belajar mereka . Tidak semua peserta didik belajar dengan cara yang sama. Beberapa lebih suka belajar melalui kegiatan visual, sementara yang lain mungkin lebih nyaman dengan pendekatan auditif atau kinestetik. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses pembelajaran melalui model pembelajaran Self-Directed Learning (SDL) atau kemandirian belajar . Salah satu aspek penting dalam SDL adalah evaluasi mandiri. Peserta didik tidak hanya bertanggung jawab atas penentuan tujuan dan strategi pembelajaran mereka, tetapi juga atas evaluasi terhadap pencapaian tujuan tersebut . Dalam proses evaluasi mandiri ini, peserta didik diajak untuk secara kritis menilai sejauh mana mereka telah mencapai tujuan belajar yang ditetapkan. Mereka juga akan belajar mengenali kekuatan dan kelemahan mereka dalam proses belajar, sehingga dapat melakukan perbaikan di masa mendatang. Evaluasi mandiri ini tidak hanya membantu peserta didik memahami perkembangan mereka, tetapi juga mengembangkan keterampilan reflektif yang sangat penting untuk pembelajaran sepanjang hayat .

Efektivitas penggunaan model pembelajaran mandiri dalam meningkatkan hasil belajar juga terkait erat dengan dukungan lingkungan belajar di Sekolah Dasar Negeri Singogalih. Sekolah harus menyediakan sumber daya yang cukup untuk mendukung penggunaan model Self-Directed learning (SDL), seperti bahan ajar yang variatif, akses teknologi pendidikan, dan ruang kelas yang mendukung pembelajaran kolaboratif maupun individual. Di tengah perkembangan pendidikan global yang semakin kompetitif, penting bagi sekolah-sekolah dasar untuk menerapkan model pembelajaran yang efektif dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik secara keseluruhan . Di era digital ini, penggunaan teknologi seperti komputer dan internet sangat membantu dalam memberikan akses kepada peserta didik untuk belajar secara mandiri di luar jam sekolah . Dalam model ini pembelajaran mandiri, peserta didik bebas memilih metode yang paling efektif bagi mereka, diantaranya itu melalui membaca, diskusi, eksperimen, atau bahkan belajar secara daring dengan bantuan teknologi. Fleksibilitas ini memungkinkan peserta didik untuk belajar dengan cara yang paling sesuai dengan kebutuhan dan preferensi mereka, yang pada akhirnya dapat meningkatkan pemahaman dan hasil belajar mereka. Dengan teknologi, peserta didik dapat mengeksplorasi berbagai sumber belajar yang sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Namun, penerapan SDL tidak hanya bermanfaat dalam aspek akademik. Model ini juga diyakini dapat memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan non-akademik peserta didik, seperti keterampilan sosial, kemampuan berpikir kritis, dan kreativitas. Melalui pembelajaran mandiri, peserta didik dilatih untuk berpikir secara mandiri, mencari solusi atas masalah yang dihadapi, dan mengevaluasi efektivitas solusi tersebut . Kemampuan dalam berpikir kritis ini sangat penting dalam menghadapi tantangan di masa depan, baik dalam konteks pendidikan lanjutan maupun kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran mandiri juga dapat membantu meningkatkan motivasi intrinsik peserta didik . Ketika peserta didik diberi kebebasan untuk menentukan sendiri apa yang mereka pelajari dan bagaimana mereka mempelajarinya, mereka akan merasa lebih bersemangat dan terlibat dalam proses belajar. Mereka merasa bertanggung jawab atas kesuksesan mereka sendiri, yang pada gilirannya meningkatkan rasa percaya diri dan kepuasan belajar. Motivasi intrinsik ini sangat penting dalam menciptakan proses pembelajaran yang berkelanjutan, di mana peserta didik tidak hanya belajar untuk mencapai hasil yang diinginkan, tetapi juga karena mereka menikmati proses belajarnya. Model Pembelajaran Self-Directed Learning SDL merupakan suatu model pembelajaran yang menekankan pada kemandirian siswa dalam proses belajar yang mencakup berbagai aspek, termasuk pemahaman materi pelajaran, keterampilan berpikir kritis, kreativitas, dan kemampuan peserta didik dalam memecahkan masalah

Proses pembelajaran dalam penggunaan model pembelajaran, seperti Self-Directed Learning (SDL), di dalam kelas merupakan bagian penting dalam dunia pendidikan. Keberhasilan pembelajaran merupakan bagian integral dari proses tersebut, di mana guru memegang peranan penting dalam mengembangkan model, metode, dan media pembelajaran . Sudjana menyatakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajar. Hasil belajar mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik, yang tidak hanya berkaitan dengan penguasaan konsep atau teori pelajaran tetapi juga mencakup kebiasaan, persepsi, minat, bakat, penyesuaian sosial, keterampilan, cita-cita, keinginan, dan harapan. Hal ini sejalan dengan pendapat Hamalik dalam Rusman yang menyebutkan bahwa hasil belajar dapat terlihat melalui perubahan persepsi dan perilaku, termasuk perbaikan perilaku. Penilaian hasil belajar memberikan informasi kepada guru mengenai kemajuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Informasi ini dapat digunakan untuk menyusun dan membina kegiatan belajar lebih lanjut, baik untuk keseluruhan kelas maupun individu. Dalam sistem pendidikan nasional, rumusan tujuan pendidikan baik kurikuler maupun instruksional menggunakan klasifikasi hasil belajar menurut Bloom, yang mencakup tiga ranah utama yaitu Kognitif, Afektif, dan Psikomotorik. Berdasarkan 3 ranah tersebut pada penerapan proses pembelajaran yang dilakukan pada salah satu model Self-DirectedLearning adalah Ranah Kognitif Berkaitan dengan kemampuan intelektual siswa, dengan tingkatan sebagai berikut:

  • Mengingat (C1): Mengambil kembali pengetahuan yang tersimpan dalam memori jangka panjang.
  • Memahami(C2): pMenginterpretasi, mencontohkan, mengklasifikasi, merangkum, menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan.
  • Menerapkan (C3): Menggunakan prosedur tertentu dalam latihan atau menyelesaikan masalah.
  • Menganalisis (C4): Memecah materi menjadi bagian-bagian kecil untuk memahami hubungan antarbagian.
  • Mengevaluasi (C5): Membuat keputusan berdasarkan kriteria tertentu.
  • Mencipta (C6): Menyusun elemen menjadi sebuah keseluruhan yang koheren atau fungsional.

Pentingnya Model Pembelajaran yang tepat pemilihan model pembelajaran yang sesuai sangat penting untuk menjaga motivasi dan minat siswa dalam belajar. Penggunaan model pembelajaran yang tidak tepat dapat menyebabkan kejenuhan. Salah satu model yang relevan adalah Self-Directed Learning (SDL). SDL adalah proses di mana siswa secara mandiri meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan pengembangan diri dengan perencanaan belajar sendiri (self-planned) dan pelaksanaan belajar secara mandiri (self-conducted). Model ini melibatkan kesadaran akan kebutuhan belajar, tujuan belajar, strategi belajar, evaluasi hasil belajar, serta tanggung jawab siswa sebagai agen perubahan . Namun, penerapan SDL sering kali diabaikan karena keterbatasan waktu dan persiapan yang kurang matang. Perkembangan model pembelajaran harus disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran serta kondisi kelas. Tidak ada model pembelajaran yang sempurna; setiap model memiliki keunggulan yang bergantung pada situasi dan perangkat yang digunakan dalam pembelajaran .

Faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan model pembelajaran mandiri pada Sekolah Dasar Negeri Medalem ini juga perlu di amati seperti situasi internal siswa, fasilitas pendukungnya, tingkat keterampilan, tujuan awal pembelajaran, dan keterampilan guru. Dalam lingkungan belajar yang menuntut keaktifan dan kemandirian siswa diperlukan pemahaman mengenai Self-Directed Learning dalam faktor yang mempengaruhinya. SDL merupakan kesiapan atau kesediaan seseorang untuk belajar mandiri, yang terdiri dari komponen sikap, kemampuan dan karakteristik personal. Jadi, model pembelajaran ini juga bisa mengurangi kesenjangan informasi di kalangan siswa, di manapun mereka berada. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal mempunyai kegiatan belajar mengajar, ini melibatkan interaksi antara guru dan siswa. Seorang guru yang terlibat langsung dalam kondisi pembelajaran memainkan peran penting dalam menentukan keberhasilan belajar siswa. Oleh karena itu, guru perlu mampu memilih dan menetapkan model pembelajaran yang sesuai dengan materi dan tujuan pembelajaran. Dengan memilih metode pembelajaran yang sesuai selama proses belajar-mengajar, materi yang diajarkan oleh guru menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa. Hal ini membuat siswa merasa senang dan terlibat aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Model pembelajaran mandiri memiliki sejumlah keunggulan yang membuatnya relevan dengan tuntutan pendidikan modern . Dalam penerapan Self-Directed Learning (SDL) peserta didik diberi kesempatan untuk menetapkan tujuan belajar mereka sendiri . Mereka dapat menentukan apa yang ingin mereka capai dalam sebuah sesi pembelajaran, baik berdasarkan kurikulum maupun minat pribadi mereka. Hal ini memungkinkan peserta didik untuk memiliki keterlibatan yang lebih mendalam dalam proses belajar, karena mereka merasa memiliki kontrol atas tujuan yang ingin dicapai.

Beberapa pada penelitian sebelumnya telah meneliti mengenai penggunaan model pembelajaran mandiri atau biasa disebut Self-Directed Learning (SDL) berpendapat bahwa model pembelajaran yang mempelajari tentang kesiapan untuk melakukan pembelajaran secara mandiri dengan beberapa indikator yang memiliki arah tujuan inisiatif belajar atau tanpa bantuan dari orang lain. Penelitian terkait model pembelajaran Self-Dirrect Learning (SDL) untuk kemampuan berfikir kritis sudah diterapkan beberapa peneliti. Kelas eksperimen yang menerapkan SDL memiliki tingkat kemandirian dalam proses pemecahan masalah pada proses belajar dan berpikir yang lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol . Tentu saja hasil penelitian terdahulu pada penerapan SDL di Sekolah Dasar Negeri Mendalem tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Pada jenjang sekolah dasar, peserta didik masih berada dalam tahap perkembangan kognitif yang relatif awal, di mana mereka memerlukan bimbingan yang cukup intensif dari guru . Oleh karena itu, salah satu tantangan utama dalam menerapkan SDL di Sekolah Dasar Negeri Mendalem adalah mengembangkan kemandirian peserta didik tanpa mengabaikan kebutuhan mereka akan dukungan dan bimbingan. Guru harus mampu memainkan peran sebagai fasilitator, yang membantu peserta didik merancang proses belajar mereka tanpa mengambil alih kendali sepenuhnya . Peran guru dalam memberikan arahan dan umpan balik menjadi sangat penting dalam mendukung proses belajar mandiri peserta didik. Hasil belajar juga dapat disebut sebagai perubahan tingkah laku peserta didik sebagai akibat dari belajar. Perubahan-perubahan tersebut diupayakan dalam proses belajar mengajar guna mencapai tujuan pendidikan. Kemampuan peserta didik dalam menguasai materi pelajaran tercermin dari hasil belajar mereka setelah mengikuti sesi pembelajaran di kelas secara reguler. Proses belajar mengajar selesai dengan melakukan penilaian untuk mengevaluasi kemajuan belajar siswa dan pemahaman terhadap materi pembelajaran yang berada di sekolah yang diajarkan oleh guru. Dari hasil penilaian tersebut, terlihat bahwa hasil pembelajaran siswa biasanya diungkapkan dalam bentuk nilai atau angka. Hasil belajar adalah tolak ukur utama keberhasilan siswa dalam belajar, baik dari segi perubahan perilaku keterampilan belajar.

Dalam memastikan keberhasilan penerapan model pembelajaran Self-Directed Learning (SDL) di Sekolah Dasar Negeri Singogalih, diperlukan kolaborasi yang baik antara guru, peserta didik, dan orang tua. Orang tua memegang peran penting dalam mendukung pembelajaran mandiri di rumah, terutama dalam membantu anak-anak mengatur waktu dan memberikan dukungan moral. Guru juga perlu melibatkan orang tua dalam proses pembelajaran, dengan memberikan panduan tentang cara mendukung pembelajaran mandiri di rumah. Komunikasi yang baik antara guru dan orang tua dapat menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didik. Melalui analisis ini, diharapkan dapat ditemukan pola-pola keberhasilan maupun kendala yang muncul dalam penerapan model pembelajaran mandiri di sekolah dasar. Dengan demikian, hasil dari penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif, tidak hanya di Sekolah Dasar Negeri Mendalem tetapi juga di sekolah dasar lain yang memiliki karakteristik serupa. Pada akhirnya, diharapkan bahwa penerapan SDL dapat menjadi solusi yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik di Sekolah Dasar Negeri Medalem Dengan mengadopsi model ini, diharapkan peserta didik dapat mengembangkan keterampilan belajar yang lebih mandiri, berpikir kritis, dan kreatif, yang akan menjadi bekal penting bagi mereka dalam menghadapi tantangan pendidikan dan kehidupan di masa depan.

Metode

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindak Kelas (PTK). Menurut Hopkins dalam Damsar (2012:53) pada pelaksanaan penelitian tindakan yang dilakukan untuk membentuk spiral yang dimulai dari merasakan adanya masalah menyusun perencanaan, melaksanakan tindakan melakukan observasi mengadakan refleksi, melakukan rencana ulang, melaksanakan tindakan, dan seterusnya.

Figure 1. Sintaks Self-directed Learning

Siklus-siklus dan tahap siklus terdiri dari 4 komponen, yaitu :

(1) Planning (rencana) : rencana merupakan tahapan awal yang harus dilakukan guru sebelum melakukan sesuatu. Diharapkan rencana tersebut berpandangan kedepan, serta fleksibel

untuk menerima efek-efek yang tidak terduga dan rencana tersebut secara dini kita dapat mengatasi hambatan.

(2) Action (tindakan) : tindakan ini merupakan penerapan dari perencanaan yang telah dibuat yang dapat berupa satu untuk memperbaiki atau menyempurnakan model yang sedang dijalankan.

(3) Observation (pengamatan) : pengamatan ini berfungsi untuk melihat dan mendokumentasikan pengaruh-pengaruh yang diakibatkan oleh tindakan dalam kelas.

(4) Reflection (refleksi) : refleksi disini meliputi kegiatan : analisis, sintesis, penafsiran, mejelaskan dan menyimpulkan. Hasil dan refleksi adalah diadakan revisi terhadap perencanaan yang telah dilaksanakan, yang akan dipergunakan untuk memperbaiki kinerja guru pada pertemuan selanjutnya merupakan dilakukannya refleksi sehingga pengamatan yang dilakukan harus dapat menceritakan keadaan yang sesungguhnya.

Tahapan identifikasi masalah adalah tahap dimana peneliti menemukan gagasan-gagasan yang akan dihubungkan dengan tindakan, selanjutnya pada tahap pemeriksaan masalah dilakukan pemahaman tentang situasi kelas yang ingin diubah atau diperbaiki. Tahap perencanaan disusun berdasarkan informasi yang didapatkan pada tahap identifikasi masalah dan pemeriksaan lapangan sebelum kemudian memasuki tahap pelaksanaan tindakan. Tahap observasi dilakukan untuk mengumpulkan data-data yang dibutuhkan, lalu kemudian dianalisis, direfleksikan, dan dijadikan bahan pertimbangan untuk perencanan siklus baru pada tahap refleksi. Menurut Arikunto (2010: 193), metode dan alat atau instrumen pengumpulan data dapat disebut sebagai alat evaluasi. Secara garis besar, alat evaluasi yang digunakan digolongkan menjadi dua jenis, yaitu:

  1. Observasi

Observasi bertujuan untuk mendeskripsikan:

Setting yang dipelajari.

Aktivitas-aktivitas yang berlangsung.

Orang-orang yang terlibat dalam aktivitas tersebut.

Makna kejadian berdasarkan perspektif para pelaku yang terlibat dalam kejadian yang diamati

2. Tes Hasil Belajar

Tes hasil belajar dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis:

Tes Awal (Pre-test):

Dilaksanakan sebelum penerapan model pembelajaran. Tes ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan awal siswa dan sejauh mana materi atau bahan pelajaran telah dikuasai sebelum tindakan dilakukan.

Tes Akhir (Post-test):

Dilaksanakan setelah penerapan model pembelajaran. Tes ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan akhir siswa dalam menyelesaikan materi yang diajarkan selama siklus pembelajaran.

3. Metode Analisis Data

Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif persentase. Analisis data mencakup:

Ketuntasan Belajar Secara Individu: Mengukur keberhasilan masing-masing siswa.

Ketuntasan Secara Klasikal: Mengukur keberhasilan seluruh kelas secara kolektif.

Data hasil penelitian dianalisis baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Hasil analisis ini diinterpretasikan dan disimpulkan untuk menjawab permasalahan penelitian.

Rumus untuk Menentukan Persentase Ketuntasan Klasikal

P = f/N x 100 %

Keterangan:

P: Angka persentase.

f : Frekuensi aspek yang diamati.

N: Jumlah aspek yang diamati.

Penggunaan rata-rata digunakan untuk mengetahui peningkatan prestasi belajar siswa. Rata-rata diperoleh dari skor prestasi belajar masing-masing siklus, yang mencerminkan perkembangan siswa selama proses pembelajaran berlangsung dapat dilakukan dengan menganalisis data berupa nilai tugas dan nilai tes pada setiap siklus menggunakan rumus, nilai rata-rata tugsa setiap siklus dijumlahkan dengan dua kali nilai rata-rata tes prestasi belajar (nilai tes formatif).

Hasil dan Pembahasan

Penelitian ini dilakukan sebagai upaya dalam peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila melalui penerapan model Self Dirrect Learning (SDL). Dengan penerapan model tersebut dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila siswa akan lebih aktif dan dapat lebih memahami materi Negaraku Indonesia. Pembahasan dalam penelitian ini merupakan hasil selama penelitian. Penelitian dimulai dari kegiatan pra-tindakan yang merupakan pelaksanaan pra-siklus dengan memberikan tes awal kepada siswa untuk mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi pecahan.

Figure 2. Persentase Hasil Belajar Siswa Pada Pra-Siklus

Dari diagram di atas dapat digambarkan bahwa tingkat keberhasilan siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Singogalih yang dinyatakan tuntas hanya 7 orang siswa atau 30,43% dari 23 siswa, Sedangkan yang tidak tuntas sebanyak 16 siswa atau sebesar 69,57%. Dengan demikian nilai KKM siswa masih berada ≤ 65 artinya siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Singogalih masih belum tuntas dalam proses belajar pendidikan kewarganegaraan. Oleh karena itu untuk memperbaiki proses belajar mengajar dibutuhkan penerapan model pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa, maka peneliti melakukan tindak lanjut dengan melaksanakan siklus I.

Dari hasil tes awal tersebut menunjukkan prestasi belajar siswa masih sangat rendah dimana siswa yang mencapai ketuntasan belajar atau yang memperoleh nilai ≥65 sebagai KKM yang telah ditentukan dan menjadi ketetapan SD Negeri Singogalih hanya 7 siswa atau 30,43%, sedangkan 16 siswa atau 69,57% siswa lainnya memperoleh nilai ≤65 yang bearti pencapaiannya tidak tuntas. Hal ini disebabkan oleh kurangnya motivasi siswa terhadap pembelajaran yang diterapkan guru, dimana metode yang paling dominan digunakan dalam pembelajaran oleh guru adalah metode konvensional, dimana pembelajaran yang diterapkan lebih berpusat pada guru, hal itu menyebabkan siswa cenderung pasif dalam mengikuti proses belajar mengajar dan mudah bosan. Dari hasil tes yang diperoleh pada pra-siklus maka peneliti menindak lanjuti dengan melaksanakan siklus I. Pada siklus ini peneliti melaksanakan proses belajar mengajar dengan menerapkan penerapan model pembelajaran Self Dirrect Learning (SDL).

Figure 3. Persentase Hasil Belajar Siswa Pada Siklus I (Pre-Test)

Berdasarkan diagram di atas dapat dijelaskan bahwa jumlah siswa yang tuntas berjumlah 13 siswa (56,52%) dan siswa yang tidak tuntas berjumlah 10 siswa (43,48 %). Dengan demikian nilai KKM siswa masih berada ≤ 65 artinya siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri Singogalih masih belum tuntas dalam proses belajar pendidikan kewarganegaraan. Hal ini menunjukkan proses belajar mengajar pada siklus I belum berjalan dengan baik sehingga ketuntasan klasikal mencapai indikator yang ditentukan. Penyebab dari rendahnya nilai prestasi belajar siswa pada siklus I ini adalah siswa belum terbiasa dengan pendekatan model Self Dirrect Learning (SDL). yang diterapkan guru, sehingga siswa masih belum dapat beradaptasi dengan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan dikelas. Hal itu didasari oleh hasil pengamatan kolaborator terhadap aktivitas guru yang menunjukkan masih terdapat kekurangan-kekurangan beberapa aspek yang diamati yang menunjukkan persentase aktivitas guru masih cukup. Aspek-aspek yang cenderung belum terlaksana secara maksimal antara lain: guru masih kurang memotivasi / membangkitkan minat siswa, oleh karena itu guru belum menghubungkan pelajaran terdahulu yang merupakan prasyarat untuk topik berikutnya, guru belum mengembangkan pemikiran anak didik, guru belum berperen sebagai fasilitator, guru tidak membimbing siswa, serta guru tidak segera memberi kegiatan perbaikan atau pengayaan kepada siswa yang mendapatkan nilai rendah. Adapun pada siklus II, penerapan model pembelajaran Self Dirrect Learning (SDL) yang diterapkan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila siswa akan lebih aktif dan dapat lebih memahami materi Negaraku Indonesia kelas IV SD Negeri Singogalih menunjukkan belum penerapan dari bisa peningkatan yang signifikan.

Figure 4. Persentase Hasil Belajar Siswa Pada Siklus II (Post-Test)

Dari diagram di atas dapat dilihat persentase ketuntasan siswa mengalami peningkatan yaitu 21 siswa atau 91,30% mencapai ketuntasan, sedangkan siswa yang masih berada dibawah KKM hanya tersisa 3 siswa atau 8,70%, dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran Self-DirectedLearning (SDL) dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa Sekolah Dasar Negeri Singogalih Kecamatan Tarik Kabupaten Sidoarjo..

Hal itu dapat dilihat dari peningkatan prestasi belajar siswa, hal itu dapat dibuktikan dengan banyaknya jumlah siswa yang mendapatkan nilai ≥65 dimana nilai tersebut sudah mencapai KKM yang ditetapkan serta persentase jumlah siswa yang mencapai ketuntasan meningkat hingga 21 siswa atau 91,30% dari 23 total siswa, sedangkan yang belum mencapai ketuntasan hanya 2 siswa atau 8,70%. Peningkatan hasil belajar siswa pada siklus ini merupakan pengaruh dari pemahaman siswa terhadap penerapan model pembelajaran Self Dirrect Learning (SDL).

Pada siklus II hasil observasi aktivitas guru yang diperoleh dari pengamatan yang kolaborator dilakukan oleh menunjukkan peningkatan dimana aspek-aspek menunjukkan yang peningkatan kategori diamati sehingga yang diperoleh berdasarkan indikator adalah baik. Dari pembahasan diatas penerapan model pembelajaran Self Dirrect Learning (SDL) terbukti berhasil meningkatkan hasil belajar siswa untuk pembelajaran Pendidikan Pancasila siswa akan lebih aktif dan dapat lebih memahami materi Negaraku Indonesia yang menimbulkan motivasi belajar siswa serta menimbulkan ketertarikan siswa terhadap mata pelajaran Pendidikan Pancasila siswa akan lebih aktif dan dapat lebih memahami materi Negaraku Indonesia sehingga dapat kita pahami bahwa penerapan model pembelajaran yang telah dilakukan dengan langkah-langkah yang tepat tidak hanya dapat meningkatkan motivasi belajar oleh siswa tetapi juga hasil belajar siswa akan meningkat..

Simpulan

Dari hasil penelitian yang telah dilaksanakan di SD Negeri Singogalih Kecamatan Tarik Kabupaten Sidoarjo maka bisa disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran Self Dirrect Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran Pendidikan Pancasila siswa akan lebih aktif dan dapat lebih memahami materi Negaraku Indonesia di kelas IV SD Negeri Singogalih. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya presentase jumlah siswa yang tuntas hanya 7 orang siswa atau 30,43% dari 23 orang siswa, dan sesudah menerapkan model tersebut pada pembelajaran siklus I hasil belajar siswa yang mendapat ketuntasan nilai siswa meningkat namun belum maksimal, presentase jumlah siswa yang berhasil mendapatkan nilai di atas KKM baru 13 orang siswa atau 56,52,00%, sehingga perlu diadakan siklus II, setelah pelaksanaan siklus II hasil belajar siswa terjadi peningkatan yang sangat signifikan dan sudah mencapai target KKM yang telah ditentukan maka siklus dihentikan, dimana presentase jumlah siswa yang sudah tuntas mencapai 21 orang atau 91,30% dari jumlah siswa keseluruhan yang berjumlah 23 siswa.

Ucapan Terima Kasih

Segala puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, sumber segala kehidupan dan kekuatan. Tanpa kasih dan penyertaan-Nya. Hari ini saya menuliskan bagian ini dengan hati yang penuh haru karena perjuangan panjang ini akhirnya berbuah manis. Oleh karena itu, izinkan saya mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada: Ibu saya sebagai orang tua tunggal saya dari saya terlahir di dunia hingga detik ini saya sangat bangga dan mengucapkan banyak terimakasih kepada beliau telah mendidik saya dan membesarkan saya dengan penuh cinta kasih sayang, dan yang kedua izinkan saya mengucapkan terimakasih kepada almarhum ayah saya tercinta karena berkat beliau saya bisa terlahir didunia ini untuk menjadi orang sukses yang berguna untuk orang disekitar hidup saya, yang ketiga saya ucapkan kepada teman saya diantaranya adalah okta, dinda, meisya, nava, dan ara yang telah membantu perjuangan saya dalam menyelesaikan tugas akhir ini di saat suka duka saya dalam titik terendah di hidup saya ada mereka yang selalu membantu dan mensuport saya, dan yang terakhir untuk calon suami saya yang akan menjadi ayah terbaik dan bertanggung jawab untuk keluarga kecil kita nanti saya berterima kasih banyak atas dukungan yang di berikan.

References

[1] E. M. Solissa, U. Utomo, S. Kadarsih, D. K. Djaja, P. Pahmi, and J. W. Sitopu, “Strategi Penguatan Pendidikan Karakter Pada Tingkat SLTA Melalui Model Pembelajaran Project Based Learning,” Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran (JRPP), vol. 6, no. 3, pp. 757–765, 2023.

[2] L. Y. Mardiah, “Urgensi Peran Guru Sekolah Dasar Awal Dalam Meningkatkan Kesiapan Sekolah Anak Pada Transisi Ke Sekolah Dasar: Tinjauan Literatur,” in Prosiding Seminar Nasional Keguruan Dan Pendidikan (SNKP), 2024, pp. 181–188.

[3] A. Darlis, “Hakikat Pendidikan Islam: Telaah Terhadap Hubungan Pendidikan Informal, Nonformal Dan Formal,” Jurnal Tarbiyah, vol. 24, no. 1, pp. 1–12, 2017.

[4] D. Suryanto, Pengembangan Instrumen Penelitian Pendidikan, Yogyakarta, Indonesia: Deepublish, 2017.

[5] R. A. Nasution, “Hubungan Antara Kepercayaan Diri Dan Dukungan Orang Tua Dengan Kemandirian Belajar Siswa Di SMA Dharma Pancasila Medan,” Skripsi, Universitas Medan Area, Medan, Indonesia, 2017.

[6] Y. J. Saptono, “Motivasi Dan Keberhasilan Belajar Siswa,” Regula Fidei: Jurnal Pendidikan Agama Kristen, vol. 1, no. 1, pp. 181–204, 2016.

[7] F. D. K. Dewi, “Hubungan Antara Gaya Belajar Dengan Self Directed Learning Readiness Saat Pembelajaran Online Pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung,” Skripsi, Universitas Lampung, Bandar Lampung, Indonesia, 2021.

[8] A. Wijayanti, K. Fajriyah, and S. Suyitno, “Analisis Science Self Directed Learning (SSDL) Mahasiswa Calon Guru SD Pada Pembelajaran IPA Berbasis Hybrid,” PSEJ (Pancasakti Science Education Journal), vol. 6, no. 1, pp. 38–45, 2021.

[9] E. U. Hanik, “Self Directed Learning Berbasis Literasi Digital Pada Masa Pandemi COVID-19 Di Madrasah Ibtidaiyah,” Elementary: Islamic Teacher Journal, vol. 8, no. 1, p. 183, 2020.

[10] D. A. W. Wardani, “Problem Based Learning: Membuka Peluang Kolaborasi Dan Pengembangan Skill Siswa,” Jawa Dwipa, vol. 4, no. 1, pp. 1–17, 2023.

[11] A. Angga, C. Suryana, I. Nurwahidah, A. H. Hernawan, and P. Prihantini, “Komparasi Implementasi Kurikulum 2013 Dan Kurikulum Merdeka Di Sekolah Dasar Kabupaten Garut,” Jurnal Basicedu, vol. 6, no. 4, pp. 5877–5889, 2022.

[12] J. Julita and P. D. Purnasari, “Pemanfaatan Teknologi Sebagai Media Pembelajaran Dalam Pendidikan Era Digital,” Journal of Educational Learning and Innovation (ELIa), vol. 2, no. 2, pp. 227–239, 2022.

[13] I. M. Darwati and I. M. Purana, “Problem Based Learning (PBL): Suatu Model Pembelajaran Untuk Mengembangkan Cara Berpikir Kritis Peserta Didik,” Widya Accarya, vol. 12, no. 1, pp. 61–69, 2021.

[14] L. Nurishlah, A. Nurlaila, and M. Rusnaya, “Strategi Pengembangan Motivasi Intrinsik Di Dalam Pembelajaran Siswa Sekolah Dasar,” Murabbi, vol. 2, no. 2, pp. 60–71, 2023.

[15] L. Lastriningsih, “Peningkatan Berpikir Kritis Dan Prestasi Belajar Melalui Metode Inquiry Pada Siswa Kelas IV SD,” Jurnal Prima Edukasia, vol. 5, no. 1, pp. 68–78, 2017.

[16] A. Mukarromah and M. Andriana, “Peranan Guru Dalam Mengembangkan Media Pembelajaran,” Journal of Science and Education Research, vol. 1, no. 1, pp. 43–50, 2022.

[17] U. Indasyah, “Peningkatan Prestasi Belajar Siswa Kelas IX-F MTs Negeri 2 Mojokerto Pada Pelajaran Bahasa Indonesia Tentang Menulis Resensi Buku Pengetahuan Melalui Pembelajaran Self Directed Learning,” Wahana Pedagogika: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dan Pembelajaran, vol. 3, no. 2, pp. 9–20, 2021.

[18] N. Nurdyansyah and E. F. Fahyuni, Inovasi Model Pembelajaran Sesuai Kurikulum 2013. Sidoarjo, Indonesia: Nizamia Learning Center, 2016.

[19] M. Ariani et al., Penerapan Media Pembelajaran Era Digital. Jakarta, Indonesia: PT Sonpedia Publishing Indonesia, 2023.

[20] H. L. Tasaik and P. Tuasikal, “Peran Guru Dalam Meningkatkan Kemandirian Belajar Peserta Didik Kelas V SD Inpres Samberpasi,” Metodik Didaktik: Jurnal Pendidikan Ke-SD-an, vol. 14, no. 1, pp. 45–54, 2018.

[21] N. W. Astikawati, I. M. Tegeh, and I. W. S. Warpala, “Pengaruh Model Problem Based Learning (PBL) Terhadap Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi IPA Terpadu Dan Kemandirian Belajar Siswa,” Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia, vol. 10, no. 2, pp. 76–85, 2020.

[22] M. Najihah, E. Syarifah, and J. Warsihna, “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua Dan Bimbingan Guru Terhadap Kemandirian Belajar Peserta Didik Sekolah Dasar Pada Pembelajaran Jarak Jauh,” Jurnal Basicedu, vol. 6, no. 1, pp. 1125–1136, 2022.

[23] D. Lase, “Pendidikan Di Era Revolusi Industri 4.0,” Sundermann: Jurnal Ilmiah Teologi, Pendidikan, Sains, Humaniora Dan Kebudayaan, vol. 12, no. 2, pp. 28–43, 2019.