Aflia Irwan (1), Choirun Nisak Aulina (2)
General Background: Fine motor skills constitute a fundamental domain of early childhood development because they underpin writing readiness, hand–eye coordination, and creative expression. Specific Background: Learning activities that engage children in manipulating small objects, particularly art-based tasks such as collage, provide practical opportunities to train finger strength, precision, and visual–motor coordination. Knowledge Gap: However, limited research has examined the implementation of collage activities using locally available natural materials within authentic kindergarten classroom contexts and the factors that support or hinder their use. Aims: This study aimed to analyze the implementation of collage activities using natural materials to develop fine motor skills in children aged 5–6 years at an Islamic kindergarten. Results: Using a qualitative phenomenological approach with data from observations, interviews, and documentation involving teachers and 17 students, the study found that activities employing banana leaves, seeds, and twigs trained children’s abilities to cut, tear, paste, and arrange materials according to patterns while maintaining accuracy and control. Teacher facilitation, material availability, and student engagement supported successful implementation, whereas limited time, insufficient tools, and low parental understanding constrained it. Novelty: The study highlights the educational value of environmentally sourced materials integrated into structured classroom practice as a meaningful, context-based learning medium. Implications: Nature-based collage activities can serve as an accessible, low-cost strategy for stimulating fine motor development while simultaneously fostering creativity, concentration, and environmental awareness in early childhood education.
Highlights:
Children demonstrated improved precision and coordination through tearing, cutting, and assembling tasks.
Active facilitation by teachers and accessible environmental resources supported successful classroom implementation.
Time constraints, limited equipment, and insufficient parental awareness emerged as primary barriers.
Fine Motor Skills; Natural Materials; Collage Activities; Early Childhood Education; Qualitative Study
Anak usia dini merupakan masa emas (golden age) yang sangat krusial, karena menjadi fondasi penting yang memiliki dampak besar terhadap kualitas perkembangan anak di masa depan. Oleh karena itu Perlu pemberian stimulasi yang cukup. Pendidikan membantu anak tumbuh dan berkembang sesuai perkembangannya dengan memberikan stimulasi yang tepat. Salah satu cara untuk mengembangkan potensi anak usia dini adalah dengan memberi mereka pendidikan [1]. Usia 5-6 tahun merupakan masa ketika anak paling bersemangat untuk mengekplorasi, mengembangkan kemampuan sensorinya, dan berekreasi di banyak bidang. Salah satunya anak mulai berminat mencoret-coret sebagai dasar kemampuan untuk menulis. Pada usia ini terdapat keterampilan motorik halus yang harus dikuasai anak untuk merangsang kelenturan otot-otot halus agar lebih luwes. kemampuan motorik yang telah dikembangkan anak akan membantu mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya dan berfungsi sebagai dasar untuk mengembangkan keterampilan motorik halus yang lebih kompleks di masa mendatang [2]. Usia 5-6 tahun perkembangan koordinasi gerakan motorik halus mengalami kemajuan yang signifikan. Pada masa ini anak
sudah dapat mengatur gerakan visual motorik, seperti menyelaraskan gerakan mata dengan tangan, lengan, dan tubuh secara bersamaan, Mursyid [3]. Pada anak usia 5-6 tahun koordinasi gerakan motorik halus anak berkembang secara pesat.
Salah satu aspek perkembangan yang menjadi fokus untuk dioptimalkan adalah keterampilan motorik halus. Motorik halus Merujuk pada gerakan tubuh yang melibatkan otot-otot kecil, seperti gerakan tangan atau jari. Gerakan motorik halus ini memerlukan koordinasi yang baik, Bambang [4]. Gerakan motorik halus anak sangat penting karena fokusnya hanya pada otot-otot kecil. Selain membantu anak mengorganisasikan tangan dengan matanya, kemampuan motorik halus ini juga dapat membantu anak menggerakkan pergelangan tangannya dengan lentur, yang kemudian akan membantu anak berimajinasi dan berkreasi. Dimasa anak usia dini perkembangan motorik halus pada umumnya adalah kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan memegang atau meletakkan suatu benda yang memanfaatkan penggunaan tangan bersama dengan mata anak dengan cara yang sesuai, oleh karena itu aktivitas tangan anak tersebut perlu ditingkatkan Astini [5]. Perkembangan motorik merupakan proses berkembangnya gerak anak. Gerakan-gerakan tersebut didasarkan pada kematangan fisik dan mental anak. Tahap perkembangan motorik halus ini berkembang sesuai usia anak dan membutuhkan stimulasi untuk melatihnya dan untuk menstimulasi keterampilan motorik halus anak adalah dengan terus mengasahnya dengan kegiatan yang dapat meningkatkan kekuatan otot dan koordinasi.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 137 Tahun 2014 tentang Tingkat Pencapaian Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 5-6 tahun, anak di usia ini cenderung mempunyai karakteristik meniru bentuk, menggambar dengan ide, bereksplorasi menggunakan bermacam media juga variasi kegiatan memakai alat tulis dan peralatan makan yang presisi, menempel gambar (rekatkan bentuk) yang presisi, menggunting berdasar pola, dan ekspresikan diri (berekspresi) melalui gerakan menggambar yang detail[6]. Kegiatan yang dilakukan di sekolah untuk membantu anak mengembangkan kemampuan motoriknya antara lain menggambar, membuat sketsa, menulis, dan kolase. Namun, dari sekian banyak itu yang dilakukan, banyak sekali kegiatan baru dan menarik yang dapat membantu anak mengembangkan kemampuannya [7]. Terdapat berbagai cara yang dapat diterapkan untuk meningkatkan keterampilan motorik halus anak, salah satunya melalui kegiatan kolase. Dalam menggunakan media kolase untuk mengembangkan motorik halus anak, guru menyiapkan peralatan dan bahan yang diperlukan, seperti lem, bahan kolase berupa daun pisang, biji-bijian, ranting pohon, dan kertas yang telah diberi gambar atau pola untuk membuat kolase [8].
Menggunakan kegiatan kolase yang dilakukan oleh seorang pendidik atau guru untuk meningkatkan kemampuan motorik halus anak merupakan aktivitas yang kreatif dan menyenangkan. Kemampuan motorik halus pada anak membutuhkan latihan serta pendampingann secara terus menerus, karena anak tidak dapat mengembangkan keterampilan tersebut secara mandiri. Bermain kolase dianggap sebagai metode yang efektif dalam meningkatkan kemampuan motorik halus, Sari [9]. Perkembangan motorik halus pada anak usia dini sangat penting, dan setiap perkembangan anak usia dini berbeda-beda, dengan demikian perbedaan tersebut juga disesuaikan dengan lingkungan sosial anak dan kepribadian anak. Kolase berasal dari bahasa Prancis, "Collage," yang berarti merekat. Kolase adalah suatu bentuk kreasi seni yang dihasilkan melalui teknik lukisan dengan cara menempelkan berbagai bahan-bahan tertentu, Suanto [10]. Kolase merupakan kegiatan yang memberikan kebebasan kepada anak untuk berimajinasi dan memberikan kesenangan.
Pemanfaatan media dari bahan alam sangat efektif dalam mendukung proses pembelajaran, khususnya bagi anak usia dini. Media bahan alam merujuk pada segala jenis benda yang tersedia dilingkungan sekitar yang dimanfaatkan secara efisien sebagai alat bantu belajar. Penggunaan bahan-bahan alami sebagai media pembelajaran berperan penting dalam membantu perkembangan berbagai aspek pada anak, seperti kemampuan kognitif, sosial emosianal, Bahasa, motorik, moral dan nilai agama, serta kecakapan hidup. Jenis-jenis media alami yang sering digunakan antara lain batu, ranting, kayu, daun, biji-bijian, bambu dan pelepah. Seluruh bahan tersebut mudah ditemukam disekitar lingkungan anak, sehingga selain hemat biaya, juga mendorong anak untuk lebih dekat dengan alam dan belajar dari pengalaman langsung.
Keunggulan kegiatan kolase antara lain adalah melatih konsentrasi, karena aktivitas menempel memerlukan fokus serta koordinasi antara mata dan tangan. Koordinasi ini sangat bermanfaat untuk menstimulasi perkembangan otak anak seiring dengan pertumbuhannya. Melalui kolase, anak dapat mengenal warna yang berbeda seperti merah, kuning, hijau, putih, dan warna lainnya. Selain itu, anak juga dapat mengenal bentuk yang berbeda, karena kolase mencakup bentuk-bentuk seperti geometri, hewan, tumbuhan, kendaraan, dan sebagainya. Dengan kegiatan ini, anak akan lebih mudah dalam mengenal bentuk [11]. Kegiatan kolase dapat meningkatkan perkembangan kreativitas anak. Kolase memiliki berbagai kelebihan, Salah satunya adalah kemampuan untuk mengembangkan dan merangsang perkembangan motorik halus. Selain itu, manfaat kolase tidak hanya terbatas pada pengembangan motorik halus, tetapi juga berperan dalam meningkatkan kreativitas anak dan aspek lainnya [11]. Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat disimpulkan bahwa kolase memiliki banyak manfaat untuk perkembangan anak usia dini. Manfaat bermain kolase ini perlu dipahami dengan baik oleh baik guru maupun orang tua.
Berdasarkan hasil pengamatan di kelas B TK Islam Al-Faqih, peneliti mengamati bahwa anak kelas B memiliki perkembangan motorik halus yang sangat baik, Oleh karena itu, peneliti berencana untuk menganalisis penerapan kolase bahan alam ini dalam mengembangkan keterampilan motorik halus pada anak. Kegiatan ini melibatkan
koordinasi yang baik antara tangan dan mata. Saat bermain kolase, anak-anak dilatih untuk bergerak dengan bahan alami, di mana saat menempel, mereka tetap fokus pada mata dan jari-jarinya. Selain itu, anak-anak juga diajarkan untuk bertanggung jawab terhadap lingkungan mereka dengan menggunakan bahan-bahan alami yang ada di sekitar mereka. Ini adalah kegiatan yang sangat bermanfaat, dan bahan-bahan alami tersebut bahkan bisa memiliki nilai yang berharga. Dalam penelitian ini, peneliti memilih bahan alami yang mudah ditemukan di lingkungan rumah dan ramah lingkungan.
Penggunaan kolase daun pisang pada anak usia 5–6 tahun di TK Islam Al-Faqih Pilang memiliki keunikan tersendiri dalam mendukung perkembangan motorik halus, karena memanfaatkan bahan alam yang teksturnya bervariasi mulai dari lembut, lentur, hingga agak kaku sehingga memberi pengalaman sensoris yang kaya bagi anak. Daun pisang yang masih segar atau yang telah dikeringkan dipotong-potong digunakan untuk aktivitas merobek, menggunting, menempel, dan menyusun menjadi bentuk tertentu, yang secara alami melatih kekuatan otot jari, koordinasi mata-tangan, ketelitian, dan kontrol gerak. Prosesnya diawali dengan pengenalan bentuk dan tekstur daun pisang, dilanjutkan pembuatan kolase bertema Islami seperti masjid atau huruf hijaiyah, sehingga selain mengasah kreativitas, anak juga memperoleh pembelajaran nilai-nilai agama. Perpaduan eksplorasi bahan lokal, kegiatan kreatif, dan integrasi nilai Islami menjadikan kolase daun pisang sebagai media unik yang mengembangkan motorik halus anak secara menyenangkan, kontekstual, dan bermakna.
Hal ini sejalan dengan penelitian sebelumnya, Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan motorik halus di PAUD Aditya karawang melalui kegiatan kolase yang dilakukan oleh peneliti dengan jumlah peserta 10 anak, mencapai hasil 100% masuk dalam kategori Berkembang Sesuai Harapan (BSH) dengan rentang presentase antara 52,5 % sampai dengan 72,5 % dan tidak terdapat kendala dalam prosesnya [13]. Dampak dari kegiatan kolase ini, maka kemampuan motorik halus pada anak dapat meningkat dengan optimal sesuai yang diharapkan. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan dalam mengasah kemampuan motorik halus yang menyertakan koordinasi gerakan jari-jemari tangan, seperti dalam aktivitas menulis, menggambar, dan memegang benda. Anak-anak juga belajar untuk menyelaraskan penglihatan dengan gerakan tangan serta mengatur emosi saat melakukan kegiatan yang membutuhkan ketelitian [14].
Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan penelitian ini adalah menganalisis penerapan kolase bahan alam dan Menstimulasi motorik halus anak di TK Islam Al-Faqih pilang. Pengembangan ini menjadi fondasi penting bagi keterampilan menulis, pengenalan warna dan bentuk, pelatihan kelenturan otot jari maupun pergelangan tangan, serta sebagai sarana penyaluran emosi, pengembangan imajinasi, dan peningkatan kreativitas anak secara optimal."
Penelitian menggunakan penelitian kualitatif jenis fenomenologi. Penelitian fenomenologi yaitu jenis penelitian kualitatif yang melihat dan mendengar lebih dekat dan terperinci penjelasan dan pemahaman yang individual tentang fenomena-fenomena atau pengalaman-pengalaman yang ada dikehidupan manusia bisa diartikan juga metode untuk mempelajari bagaimana indivindu berfikir secara objektif peneliti.“penelitian fenomenologi adalah mengamati fenomena yang muncul dilapangan serta mencari makna dari pengalaman informan”, Hamzah [15]. Penelitian ini dilaksanakan di sekolah TK Islam Al-Faqih Pilang kelompok B yang melibatkan 17 orang peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran menggunakan media kolase. Subjek penelitian meliputi guru dan siswa. Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen yang dirancang untuk memperoleh informasi dan data yang dibutuhkan, pengumpulan data melalui observasi terhadap informan yang berlangsung di lingkungan sekolah dimana peneliti menjadi partisipasi lengkap. Wawancara, dimana peneliti menyiapkan terlebih dahulu pedoman tertulis tentang apa yang mau ditanyakan dan dokumentasi merupakan data lapangan yang diperoleh berupa foto kegiatan, Data dianalisis menggunakan triangulasi teknik untuk mengukur keabsahan data.Triangulasi dilakukan dengan cara membandingkan data hasil observasi, wawancara dan dokumentasi, yang kemudian dianalisis untuk mengetahui keakuratan data atau informasi tersebut. Narasumber penelitian ini adalah siswa kelompok B, guru kelas. Informasi yang diperoleh berupa observasi, wawancara dan dokumentasi dianalisis, diverifikasi dan disajikan secara tertulis. Arikunto, menjelaskan bahwa data dapat diperoleh langsung dari lokasi subjek penelitian. Penelitian ini, diperlukan data primer. Data primer yang diperoleh langsung dari lapangan, sumber data akurat dan relevan terkait media kolase untuk menganlisis penerapan kolase bahan alam dalam mengembangkan keterampilan motorik halus anak usia 5-6 tahun [16]. Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan model miles dan huberman, yang terdiri dari 3 tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan Kesimpulan. Hasil data perolehan data selanjutnya akan dianalisis dengan pendekatan kualitatif, di mana data yang telah dikumpulkan akan diorganisasikan dengan tujuan penelitian.
Penelitian ini dilakukan di TK Islam Al-Faqih Pilang yang beralamat di Dusun Rame Desa Pilang, Kec. Wonoayu Kab. Sidoarjo dengan jumlah 101 siswa. Anak yang dibagi menjadi 1 kelas kelompok KB, 3 kelas kelompok A dan 4 kelas kelompok B. Temuan penelitian di TK Islam Al-Faqih Pilang di dapat adanya penerapan kegiatan kolase yang didasari perlunya menganalisis penerapan kolase bahan alam dalam Mengembangkan kemampuan motorik halus Anak. Perlu melatih koordinasi tangan dan jari melalui aktivitas seperti menggunting, merobek, menempel, dan menyusun bahan kolase.
Anak-anak di TK Islam Al-Faqih Pilang sudah memahami dengan baik cara menggunakan media kolase dalam pembelajaran. Ini terlihat dari pembuatan RPPH dan proses penerapan media kolase di dalam kelas kelompok TK B Islam Al-Faqih Pilang. Penggunaan media kolase sangat baik untuk membantu perkembangan motorik halus, karena anak-anak menjadi lebih fokus saat membuat karya dan lebih mudah mengingat berbagai hal. Media kolase sudah lama digunakan di TK Islam Al-Faqih Pilang karena bisa membuat pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan. Sebagai pihak yang berperan dalam proses pembelajaran, guru memiliki tanggung jawab untuk merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah disusun. Penelitian ini menekankan pentingnya peran guru dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan kolase untuk mengembangkan motorik halus anak. Guru bertindak sebagai fasilitator yang menyiapkan alat dan bahan, memberikan arahan, serta mengevaluasi hasil karya anak [17]. Evaluasi yang dilakukan oleh guru di akhir proses proses pembelajaran telah tercapai. Salah satu kegiatan yang dapat digunakan untuk mendukung hal tersebut adalah membuat kolase dari bahan alam, yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan motorik halus pda anak. Mayar [18].
Pemanfaatan bahan alam sebagai media kolase dalam mengembangkan kemampuan motorik halus anak yaitu Bahan alam adalah material yang tersedia di lingkungan sekitar yang mudah ditemukan, seperti daun-daunan, ranting, biji-bijian, dan batu-batuan. Anak-anak menunjukkan antusiasme tinggi dan keterlibatan aktif dalam kegiatan tersebut, yang berkontribusi pada peningkatan keterampilan motorik halus mereka, Rosmala deva [19]. Demikian pula, studi oleh wati juga menyatakan bahwa aktivitas kolase dengan bahan alam mampu memperkuat daya konsentrasi dan ketekunan anak selama beraktifitas [20]. Selain itu, pemanfaatan bahan alam dalam kolase juga menjadi sarana untuk mengenalkan anak pada lingkungan sekitarnya. Anak belajar mengenali berbagai jenis tumbuhan dan benda alami, serta mulai memahami pentingnya menjaga alam. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya pengalaman bermain anak, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kecintaan terhadap alam sejak dini. Di TK Islam Al-Faqih Pilang, kegiatan kolase dengan bahan alam telah menjadi bagian dari metode pembelajaran kreatif yang aman dan menyenangkan. Dengan demikian, anak-anak dapat belajar sambil bermain secara maksimal, baik dari segi sensorik, motorik, maupun kognitif. Hal ini sejalan dengan temuan Wulandari, yang menekankan pentingnya lingkungan alam sebagai sumber belajar yang kaya untuk mendukung tumbuh kembang anak usia dini [21].
Pengembangan keterampilan motorik halus pada anak merupakan aspek yang sangat penting dalam mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal. Kemampuan motorik halus sangat bagus dilatih sejak usia dini karena masa tersebut merupakan waktu yang paling tepat untuk mengenalkan keterampilan motorik halus seperti yang dikemukakan oleh Hurlock karena beberapa alasan yaitu: 1) tubuh anak lebih fleksibel dibandingkan dengan remaja atau orang dewasa, sehingga mereka lebih mudah dalam menyerap dan menyesuaikan diri dengan pelajaran yang diberikan, 2) anak-anak belum memiliki keterampilan yang sudah terbentuk sebelumnya, sehingga tidak ada konflik dengan keterampilan baru yang sedang dipelajari, sehingga membuat proses belajar menjadi lebih efektif, 3) anak- anak pada umumnya memiliki keberanian yang lebih besar untuk mencoba hal-hal baru ketika masih kecil dibandingkan ketika mereka sudah tumbuh dewasa [22].
1. Penerapan Kegiatan Kolase Menggunakan Media Bahan Alam dalam Mengembangkan Motorik Halus pada Anak Usia 5-6 Tahun di TK Islam Al-Faqih Pilang
Penerapan kegiatan kolase menggunakan media bahan alam di TK Al-Faqih merupakan upaya yang efektif dalam mengembangkan motorik halus anak usia 5-6 tahun. Kolase adalah kegiatan yang melibatkan berbagai keterampilan motorik halus, seperti memotong, merobek, menempel, dan merangkai bahan-bahan menjadi suatu karya seni. Kegiatan kolase termasuk dalam salah satu kegiatan latihan motorik halus dengan cara menempelkan dan menyusun sesuatu dalam gambar atau konsep yang sudah ada. kolase dibuat menggunakan bahan-bahan yang nantinya akan diubah bentuknya menjadi karya kolase [23]. Kegiatan kolase dengan menggunakan bahan alam membantu menumbuhkan kemampuan motorik halus Anak-anak di usia 5-6 tahun berada dalam fase kritis untuk menguasai keterampilan motorik halus mereka, yang akan berperan penting dalam aktivitas sehari-hari, termasuk menulis, menggambar, dan melakukan pekerjaan lainnya yang membutuhkan ketelitian dan koordinasi tangan dan mata. Proses ini memberikan kesempatan kepada anak untuk mengasah keterampilan motorik halus mereka melalui beberapa
aktivitas, seperti memotong bahan alam dengan gunting, serta merangkai potongan bahan dengan tangan. Aktivitas ini melatih ketelitian dan meninjau dalam menggunakan tangan secara terkoordinasi, sehingga dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam memanipulasi benda kecil dengan presisi.
Berdasarkan hasil observasi di TK Islam Al-faqih Pilang yang dilakukan saat pembelajaran dimulai dengan kegiatan kolase bahan alam untuk menstimulasi keterampilan motorik halus anak, melatih koordinasi mata dan tangan, serta menumbuhkan kreativitas melalui pengenalan bentuk, warna, dan tekstur dari bahan alam yang digunakan. Pada kegiatan pembelajaran kolase tema yang di pilih yaitu tema ‘’Tanaman’’. Dari tema tersebut guru mengambil topik pohon dengan sub tema seperti pohon beringin, pohon kelapa, dan pohon cemara. Tiap sub tema dilaksanakan selama seminggu, Kegiatan pembelajaran kolase menggunakan model pembelajaran demonstrasi dan pembelajaran kolase dilakukan dalam seminggu 3 kali. Awal Pada saat pembelajaran dimulai, Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam, berdo’a, ikrar, bernyanyi dan mengisi daftar hadir, bercakap-cakap tentang macam-macam pohon, menyebutkan nama-nama pohon. Kegiatan inti Guru mengajak anak mengamati alat dan bahan, Guru mengenalkan nama-nama daun salah satunya daun pisang, Menjelaskan langkah-langkah pembuatan kolase daun pisang dan kegiatan pembelajaran yang dilakukan di kelas seperti: kolase gambar pohon beringin dengan daun pisang, menirukan tulisan pohon beringin, menghitung tulisan pohon beringin. Selama proses penelitian yang dilakukan, pada saat berlangsungnya kegiatan bermain kolase, guru meminta anak untuk mengoleskan lem pada pola gambar bagian batang pohon yang telah disiapkan sebelumnya. Lem yang diberikan kepada anak satu persatu sesuai jumlah siswa 17 anak, diketahui bahwasannya peserta didik mampu mengontrol pemberian lem, mengisi pola dengan penuh, menempel tidak keluar dari garis, menempel sesuai dengan contoh yang diberikan oleh guru. Berikut ini kegiatan anak saat bermain kolase menggunakan bahan alam daun Pisang.
Figure 1.
Figure 2. Kegiatan Anak usia 5-6 Tahun saat Bermain Kolase Bahan Alam
Berdasarkan tabel tersebut, dapat disimpulkan bahwa partisipasi anak dalam kegiatan kolase berlangsung secara optimal, sehingga memberikan stimulasi yang signifikan terhadap perkembangan kemampuan motorik halus mereka. Hal ini terlihat dari anak-anak menyusun potongan daun pisang pada pola gambar pohon beringin dengan baik, dan anak merobek daun kering menjadi kecil-kecil, lalu menempelkannya pada pola batang pohon beringin. Setiap anak menunjukkan usaha maksimal dalam menempatkan bahan-bahan kolase pada posisi yang tepat dalam hal ini aspek perkembangan anak-anak yang ada di sekolah TK Islam Al-Faqih Pilang tercapai dengan baik. Anak-anak yang ada di TK Islam Al-Faqih pilang juga mampu mengikuti instruksi dari guru dengan baik.
TK Islam Al-Faqih Pilang secara jelas menerapkan kegiatan kolase dengan memanfaatkan bahan alam berupa daun pisang bertema tumbuhan sebagai metode yang efektif dalam merangsang perkembangan motorik halus anak usia dini. Dalam proses pembuatan kolase, anak-anak melakukan berbagai aktivitas yang melibatkan keterampilan motorik halus, seperti merobek daun, mengambil dan menempelkan potongan daun sesuai pola. Aktivitas ini menuntut koordinasi antara mata dan tangan, serta kemampuan mengontrol penggunaan lem secara tepat, yang menunjukkan kemajuan dalam mengendalikan gerakan. Selain itu, usaha anak untuk mengisi pola dengan rapi tanpa melebihi batas menunjukkan peningkatan presisi dalam gerakan tangan dan jari. Meskipun terlihat sederhana, kegiatan memegang dan menempelkan daun juga berkontribusi dalam melatih kelincahan tangan dan kekuatan genggaman anak. Langkah- langkah yang diterapkan guru, mulai dari mengenalkan alat dan bahan, memberikan contoh, hingga menunjukkan peran aktif dalam menstimulasi perkembangan motorik halus. Pemberian lem satu per satu kepada setiap anak memungkinkan guru untuk mengamati dan memastikan bahwa setiap anak terlibat aktif dalam proses dan mengembangkan kontrol diri dalam penggunaan bahan dan alat. Pemilihan tema tumbuhan dan sub tema pohon-pohon yang ada di lingkungan sekolah dapat meningkatkan pemahaman anak tentang alam sekitar. Kegiatan menirukan tulisan dan menghitung huruf pada kata "pohon beringin" mengintegrasikan aspek literasi dan numerasi dalam kegiatan yang menyenangkan.
Selain itu, kegiatan kolase ini juga memberikan rangsangan sensori yang sangat baik, di mana anak-anak tidak hanya berinteraksi dengan bahan yang berbeda tekstur, tetapi juga belajar mengamati berbagai bentuk, ukuran, dan warna yang ada pada bahan alam tersebut. Stimulasi sensori pada anak usia dini melalui berbagai aktivitas bermain, dan kemungkinan mencakup penggunaan bahan-bahan dengan tekstur, bentuk, dan warna yang beragam, yang relevan dengan rangsangan sensori dari bahan alam dalam kolase [24]. Bahan alam tersebut juga memberikan pengalaman taktil yang mendalam, yang memperkaya keterampilan sensoris mereka. Secara keseluruhan, penerapan program kolase ini di TK Al-Faqih terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan motorik halus anak usia 5-6 tahun. Anak- anak tidak hanya belajar tentang keterampilan fisik, tetapi juga mengembangkan kemampuan kognitif dan kreatif mereka. Guru yang memfasilitasi kegiatan ini juga memberikan dukungan yang sangat berarti dengan membimbing
anak-anak melalui setiap langkah kegiatan, yang memungkinkan anak untuk merasa lebih percaya diri dalam berekspresi melalui seni dan kreativitas mereka.
2. Faktor Pendukung dan Penghambat Penerapan Kegiatan Kolase Menggunakan Media Bahan Alam dalam Mengembangkan Motorik Halus pada Anak Usia 5-6 Tahun di TK Al-Faqih
Terdapat berbagai faktor pendukung dan penghambat yang mempengaruhi keberhasilan kegiatan tersebut. Faktor- faktor ini berperan besar dalam menentukan efektivitas kegiatan kolase dalam mengembangkan keterampilan motorik halus anak-anak di kelas kelompok B TK Islam Al-Faqih. Salah satu faktor pendukung utama adalah Ketersediaan bahan dan alat. Guru di TK Al-Faqih memiliki peran yang sangat penting dalam memfasilitasi dan mengarahkan kegiatan kolase dengan baik. Mereka memberikan instruksi yang jelas dan memperhatikan setiap langkah yang diambil oleh anak-anak, memastikan bahwa mereka menggunakan alat dan bahan dengan benar, serta memberikan pujian yang dapat meningkatkan motivasi anak-anak untuk terus berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Keberadaan guru yang memiliki pengetahuan tentang teknik kolase dan perkembangan anak usia dini juga menjadi faktor pendukung yang sangat besar dalam keberhasilan kegiatan ini. Selain itu, akses ke bahan alam yang mudah ditemukan di sekitar lingkungan sekolah menjadi faktor pendukung lainnya. Dengan memanfaatkan bahan alam yang tersedia secara alami di lingkungan sekitar, kegiatan kolase menjadi lebih murah, ramah lingkungan, dan dapat memberikan kesempatan anak-anak untuk mengenal lebih dekat dengan alam. Bahan alam seperti daun, bunga, biji-bijian, dan ranting yang digunakan dalam kolase juga memberikan pengalaman belajar yang kaya, mengajarkan anak-anak untuk lebih menghargai alam yang ada di sekitar mereka. Guru memiliki peran penting dalam memfasilitasi dan mengarahkan kegiatan kolase anak usia dini. Mereka memberikan instruksi yang jelas, membimbing penggunaan alat dan bahan, serta memberikan pujian untuk meningkatkan motivasi anak. Penelitian menunjukkan bahwa strategi guru seperti menjelaskan dan mempraktikkan kegiatan terlebih dahulu dapat meningkatkan kemampuan motorik halus anak secara optimal [25].
Namun, dalam pelaksanaannya, terdapat juga beberapa faktor penghambat yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah keterbatasan durasi pelaksanaan. Kegiatan kolase yang membutuhkan perhatian dan ketelitian dalam setiap langkahnya sering kali memakan waktu lebih lama daripada kegiatan lainnya. Anak-anak yang memiliki kemampuan motorik halus yang berbeda-beda juga memerlukan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan setiap langkah kegiatan, yang bisa menghambat kelancaran sesi pembelajaran. Oleh karena itu, penting bagi guru untuk mengatur waktu dengan bijak agar anak-anak tetap dapat menikmati proses kegiatan ini tanpa merasa terburu-buru. Penelitian menunjukkan bahwa waktu belajar yang panjang menjadi salah satu faktor penghambat dalam penerapan kolase berbasis bahan alam untuk pengembangan motorik halus anak usia dini. Selain itu, keterbatasan fasilitas dan alat yang memadai juga bisa menjadi penghambat dalam pelaksanaan kegiatan kolase. Misalnya, batasan jumlah gunting yang sesuai dengan ukuran tangan anak atau alat lem lainnya dapat mempengaruhi kelancaran kegiatan. Jika jumlah alat terbatas, anak-anak mungkin harus bergantian, yang dapat mengurangi efisiensi dan mengurangi durasi waktu yang mereka miliki untuk menyelesaikan karya kolase mereka.
Faktor lain yang dapat menjadi penghambatnya adalah kurangnya pemahaman orang tua tentang pentingnya kegiatan seni untuk motorik halus anak. Meskipun kegiatan kolase ini memberikan manfaat yang besar, jika orang tua tidak memahami pentingnya kegiatan ini dalam mengembangkan keterampilan motorik halus anak, mereka mungkin kurang mendukung atau tidak melibatkan anak dalam kegiatan serupa di rumah dan orang tua yang memiliki pengetahuan yang baik cenderung memberikan stimulasi yang sesuai, sehingga mendukung perkembangan motorik halus anak secara optimal [26]. Stimulasi yang konsisten dari orang tua berpengaruh besar dalam perkembangan motorik anak. Orang tua yang terlibat secara aktif dalam proses stimulasi di rumah akan membantu memperkuat hasil pembelajaran yang dilakukan di sekolah, Rochmah [27]. Hal ini dapat menghambat potensi perkembangan motorik halus yang optimal karena anak tidak mendapatkan kesempatan untuk berlatih secara konsisten di luar kelas.
Dari uraian hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Penggunaan media kolase berbahan alam di TK Islam Al- Faqih Pilang sangat efektif dalam menstimulasi perkembangan motorik halus anak usia 5-6 tahun.Melalui Kegiatan seperti merobek, menggunting, Menempel, dan Menyusun bahan alam (Misalnya daun pisang, ranting biji-bijian dan sebagainya) Proses pembelajaran yang melibatkan instruksi guru yang jelas dan contoh praktis, serta partisipasi aktif anak-anak dalam kegiatan ini, menjadikan pengalaman belajar lebih menarik dan menyenangkan. Namun, terdapat beberapa tantangan dalam penerapan media kolase, seperti keterbatasan durasi pelaksanaan, perbedaan kemampuan motorik antar anak, dan potensi masalah kebersihan atau keamanan bahan alam. Meski demikian, kegiatan kolase ini tidak hanya melatih koordinasi tangan dan jari anak melalui aktivitas merobek, menempel, dan menyusun bahan, tetapi juga memberikan pengalaman sensorik, meningkatkan konsentrasi, ketekunan, serta menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan. Dalam pelaksanaannya, guru berperan penting sebagai fasilitator, pemberi arahan, dan evaluator.
Faktor pendukung seperti lingkungan yang kaya dengan bahan alam dan dukungan dari guru serta orang tua, dapat memaksimalkan keberhasilan kegiatan ini. Dengan pengelolaan yang baik, kegiatan kolase dapat menjadi alat pembelajaran yang efektif dan menyenangkan bagi anak-anak di TK Islam Al-Faqih Pilang. Faktor pendukung kegiatan ini meliputi ketersediaan bahan alam yang melimpah di lingkungan sekolah serta kompetensi guru dalam mengelola pembelajaran yang menarik dan menyenangkan. Namun, beberapa hambatan tetap dihadapi, seperti keterbatasan waktu, alat yang tidak mencukupi, serta rendahnya kesadaran orang tua terhadap pentingnya seni dalam perkembangan motorik halus anak. Oleh karena itu, untuk mengoptimalkan hasil pembelajaran, dibutuhkan dukungan berkelanjutan dari semua pihak, termasuk orang tua, serta perencanaan yang matang dalam penyediaan alat dan bahan. Dengan strategi yang tepat, kegiatan kolase mampu menjadi media pembelajaran yang efektif, menyenangkan, dan edukatif dalam mendukung tumbuh kembang anak usia dini secara menyeluruh.
Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala kemudahan dan keberkahan-Nya. Penelitian ini terselesaikan dengan baik dan selesai tepat waktu berkat doa dan dukungan banyak pihak. Saya ucapkan terimakasih kepada mama dan keluarga besarku yang sangata aku cintai, terimakasih kepada pihak lembaga sekolah atas kerjasama dan kesempatan yang telah diberikan, terimakasih kepada pihak kampus dan dosen pembimbing yang selalu sabar membimbing dan terimakasih kepada teman teman dan orang orang baik yang sudah membantu.
[1] L. E. Kusumaningtyas and S. Bari’ah, “Meningkatkan Motorik Halus Melalui Kolase Dari Ampas Kelapa Pada Anak TK Kelas B Usia 5–6 Tahun,” Jurnal Audi, vol. 2, no. 2, pp. 76–82, 2018, doi: 10.33061/ad.v2i2.1972.
[2] D. Ayuningrum, “Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Kelompok B (5–6 Tahun) Melalui Kolase Dengan Bahan Alam Di TK Cordova Bojongsari Depok,” Psycho Idea, vol. 2, pp. 98–108, 2017.
[3] D. Hasna and K. Kamtini, “Analisis Kemampuan Motorik Halus Pada Anak Usia 5–6 Tahun Melalui Kegiatan Kolase,” Jurnal Pelita PAUD, vol. 5, no. 2, pp. 171–177, 2021, doi: 10.33222/pelitapaud.v5i2.1259.
[4] S. N. Insana, W. Ismail, M. Marjuni, and A. Agusriani, “Pengaruh Kegiatan Kolase Terhadap Perkembangan Motorik Halus Anak Usia 5–6 Tahun,” Jambura Early Childhood Education Journal, vol. 4, no. 2, pp. 122–132, 2022, doi: 10.37411/jecej.v4i2.1240.
[5] D. H. A. Fitri and F. Mayar, “Pelaksanaan Kemampuan Motorik Halus Anak Melalui Kolase Di Taman Kanak-Kanak,” Jurnal Pendidikan Tambusai, vol. 4, no. 2, pp. 1011–1017, 2020.
[6] A. C. Karyadi, A. E. Widosetyo, and B. R. Widiastuti, “Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Anak Usia 5–6 Tahun Melalui Kegiatan Meronce,” vol. 1, no. 3, pp. 204–210, 2024.
[7] T. Vaneza and D. Suryana, “Pengaruh Kolase Kapas Terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 5–6 Tahun Di Taman Kanak-Kanak Bunda Tunas Harapan Kabupaten Pasaman,” Jurnal Pendidikan Tambusai, vol. 4, no. 1, pp. 572–580, 2020.
[8] K. H. Primayana, “Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Berbantuan Media Kolase Pada Anak Usia Dini,” Purwadita Jurnal Agama Dan Budaya, vol. 4, no. 1, pp. 91–100, 2020.
[9] E. Hermawati, “Penggunaan Model Pembelajaran Bermain Kolase Untuk Meningkatkan Kemampuan Motorik Halus Siswa,” Jurnal Educatio, vol. 8, no. 4, pp. 1683–1689, 2023, doi: 10.31949/educatio.v8i4.3201.
[10] N. R. Puspitasari and I. Zultiar, “Penggunaan Teknik Kolase Terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 5–6 Tahun PAUD Warci Jaya Tahun Ajaran 2017–2018,” Utile Jurnal Kependidikan, vol. 4, no. 1, p. 50, 2018.
[11] K. Nisa, “Implementasi Penggunaan Kolase Dalam Meningkatkan Motorik Halus Anak Usia Dini,” Jurnal Paradigma, vol. 12, no. 1, pp. 138–151, 2021.
[12] L. R. Adawiah et al., “Problematika Pelaksanaan Bermain Kolase Dalam Mengembangkan Motorik Halus Anak Usia Dini Pada Masa Pandemi COVID-19,” Early Childhood Education Journal, vol. 1, no. 2, pp. 492–502, 2023.
[13] D. I. Ra and S. Baregbeg, “Pengaruh Penggunaan Kolase Terhadap Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 4–5 Tahun,” vol. 2, no. 1, pp. 133–145, 2024.
[14] N. M. Setiari, W. Suyanta, W. I. G. Suryawan, and N. Hikmah, “Pengembangan Kemampuan Motorik Halus Pada Anak Dengan Aktivitas Kolase Daun Kering,” vol. 1, 2024.
[15] E. Suryati, “Pelaksanaan Proses Pembelajaran Mewarnai Gambar Untuk Mengembangkan Motorik Halus Anak Usia 5–6 Tahun Di PAUD Suhada Galing Tahun Pelajaran 2022–2023,” Jurnal Lunggi Literasi Unggulan Multidisipliner, vol. 2, no. 1, pp. 126–136, 2024.
[16] N. K. Suarmini, I. W. Suyanta, and I. B. K. Sindu Putra, “Stimulasi Kemampuan Motorik Halus Anak Usia 5–6 Tahun Melalui Kegiatan Membuat Alat Permainan Edukatif,” Generasi Emas Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, vol. 5, no. 2, pp. 43–55, 2022, doi: 10.25299/ge:jpiaud.2022.vol5(2).10217.
[17] A. Oktarina, S. Sa’idy, W. Anggraini, and B. Susilawati, “Penggunaan Media Kolase Dalam Mengembangkan Keterampilan Motorik Halus Anak Usia 5–6 Tahun,” Al-Athfaal Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 3, no. 2, pp. 187–200, 2020, doi: 10.24042/ajipaud.v3i2.7408.
[18] Sumarni, Nurhasanah, I. M. S. Astawa, and M. Tahir, “Penerapan Kegiatan Bermain Kolase Menggunakan Bahan Alam Untuk Meningkatkan Perkembangan Motorik Halus Anak,” Journal of Classroom Action Research, vol. 5, no. 2, 2023.
[19] N. I. Pradiptya and K. Dian, “Kegiatan Kolase Dengan Bahan Alam (Daun Kering) Untuk Menstimulasi Aspek Perkembangan Motorik Halus Pada Anak Usia 3–4 Tahun,” Bunayya Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 9, no. 2, pp. 200–209, 2023.
[20] Jurnal Ilmiah Pendidikan, “Artikel Pendidikan,” vol. 10, no. 15, pp. 652–660, 2024.
[21] F. Wulandari, “Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Sumber Belajar Anak Sekolah Dasar (Kajian Literatur),” Journal of Educational Review and Research, vol. 3, no. 2, pp. 105–110, 2020.
[22] W. Anggraini, D. Septiana, and Suwanti, “Penggunaan Bahan Alam Dan Barang Bekas Sebagai Media Kolase Untuk Mengembangkan Kemampuan Motorik Halus Anak Kelompok Firdaus Di TK Al-Furqon Campang Tiga Kecamatan Kota Agung Kabupaten Tanggamus,” vol. 1, no. 1, pp. 59–74, 2023.
[23] I. N. SDN Trowulan and Mojokerto Regency, “Article History: Received July 10,” vol. 2, no. 4, pp. 1367–1375, 2024.
[24] R. Rosiyanah, Y. Yufiarti, and S. M. Meilani, “Pengembangan Media Stimulasi Sensori Anak Usia 4–6 Tahun Berbasis Aktivitas Bermain Tujuh Indera,” Jurnal Obsesi Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 5, no. 1, pp. 941–956, 2020, doi: 10.31004/obsesi.v5i1.758.
[25] F. Azrina and A. Akrim, “Strategi Guru Dalam Meningkatkan Motorik Halus Anak Melalui Kegiatan Menggambar Dan Kolase Di TK Aisyiyah Bustanul Athfal 17 Medan,” Jurnal Raudhah, vol. 11, no. 1, pp. 73–87, 2023, doi: 10.30829/raudhah.v11i1.2847.
[26] Hendrawati, “Analisis Struktur Covariance Pada Indikator Kesehatan Subjektif Lansia Di Rumah,” Jurnal Akuntansi, vol. 11, 2017.
[27] H. Anak, U. Dini, and I. Ponorogo, “Orang Tua Dan Stimulasi Motorik Halus Anak Usia Dini,” 2022.