Sasya Shelomita Cahyani (1)
General Background: Inclusive education ensures equal learning opportunities for all children, including those with Autism Spectrum Disorder (ASD) who experience difficulties in social interaction and emotional regulation. Specific Background: Children with ASD present diverse needs ranging from moderate to severe and often exhibit repetitive behaviors and emotional instability that interfere with classroom participation. Knowledge Gap: There is limited in-depth understanding of how classroom teachers in inclusive early childhood settings implement practical strategies to address these challenges in daily learning contexts. Aims: This descriptive qualitative case study aims to explore teachers’ strategies for developing the social-emotional abilities of a child with ASD in an inclusive kindergarten classroom at TK ABA 1 Candi. Results: Findings indicate that area-based play activities, a safe and supportive classroom climate, consistent positive affirmation, and intensive collaboration with parents contribute to observable progress in participation, emotional control, and peer interaction, despite constraints such as limited instructional time and heavy teacher responsibilities. Novelty: The study provides a contextualized account of integrated pedagogical, environmental, and collaborative approaches implemented simultaneously within one inclusive early childhood classroom. Implications: These findings highlight the importance of structured play, supportive environments, and school–family coordination as practical considerations for educators working with children with ASD in inclusive settings.Highlights:
Area-based play activities facilitated participation and peer engagement in classroom tasks.
Supportive routines and classroom climate helped stabilize behavior and feelings.
Close school–family coordination enabled consistent guidance across learning environments.
Keywords:Autism Spectrum Disorder; Social Emotional Development; Teacher Strategies; Inclusive Education; Qualitative Case Study
Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan gangguan perkembangan yang memengaruhi perilaku sosial, umumnya disebabkan oleh kelainan struktur otak dibagian saraf yang mengganggu perkembangan komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku[1]. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM-V; APA) menyebutkan ASD sebagai gangguan neurologis yang memiliki ciri dalam hal buruknya atau kurang baik dalam komunikasi dan interaksi serta memiliki pola aktivitas, minat atau perilaku yang terbatas dan repetatif. Hal tersebut mengakibatkan anak ASD mengalami masalah tantrum, agresif serta ketidakminatan untuk dekat dengan orang lain. Ada kecenderungan bahwa individu yang didiagnosis dengan gangguan spektrum autisme menghadapi kesulitan dalam memahami dan merespons interaksi sosial, seperti membaca ekspresi wajah, memahami isyarat nonverbal, atau menjalin hubungan dengan orang lain. Selain itu, mereka juga menunjukkan pola perilaku yang terbatas dan berulang, seperti melakukan aktivitas yang sama secara konsisten, memiliki minat yang sangat spesifik, atau menunjukkan kepekaan yang berbeda terhadap rangsangan dari lingkungan sekitar mereka. Setiap kasus ASD dapat menunjukkan gejala dan intensitas yang berbeda-beda karena gangguan ini memiliki spektrum yang luas[2]. Menurut World Health Organization (WHO, 2023) pravalensi anak dengan gangguan ASD memiliki tanda dan gejala kesulitan dalam interaksi sosial, komunikasi dan mengalami gangguan emosional. Artinya, anak autis kerap kali mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan sosial, kesulitan memahami dan menggunakan bahasa secara efektif, serta memperlihatkan respons emosional yang tidak sesuai dengan situasi. Gangguan ini memengaruhi cara mereka berkomunikasi, berinteraksi dengan orang lain, dan mengelola emosi mereka serta memerlukan pendekatan khusus untuk mendukung perkembangan mereka[3].
Kondisi infeksi virus, bakteri dan faktor genetik adalah beberapa penyebab ASD selain itu kedaan ketika ibu dalam kehamilan atau awal kehidupan anak, pengaruh kesehatan janin. Infeksi selama kehamilan dan awal masa kanak-kanak dapat meningkatkan risiko autisme. Hal ini menunjukkan bahwa paparan penyakit menular selama periode kritis perkembangan otak janin atau bayi dapat mengganggu proses perkembangan saraf dan menyebabkan perkembangan gangguan spektrum autisme (ASD). Mekanisme pastinya masih diselidiki, tetapi diduga terkait dengan respons imun atau peradangan yang menghambat perkembangan saraf[4].
ASD diklasifikasikan menjadi tiga tingkat keparahan: ringan, sedang, dan berat. Klasifikasi ini didasarkan pada tingkat dukungan yang dibutuhkan oleh individu dengan ASD dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Pada tingkat ringan, individu mungkin mampu berfungsi secara mandiri tetapi masih mengalami kesulitan dalam interaksi sosial dan komunikasi. Tingkat sedang memerlukan dukungan yang lebih signifikan, terutama dalam situasi sosial dan adaptasi lingkungan. Sementara itu, tingkat berat menunjukkan kebutuhan dukungan yang intensif, di mana individu sering mengalami kesulitan besar dalam komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku, sehingga memerlukan bantuan terus-menerus. Tingkat keparahan ini membantu dalam menentukan intervensi dan pendekatan yang sesuai untuk setiap individu[5].
Anak dengan ASD menunjukkan ciri-ciri seperti kesulitan berkomunikasi (verbal dan nonverbal), gangguan interaksi sosial, gangguan perilaku (terutama saat bermain), gangguan pengolahan emosi, dan gangguan sensorik[6]. Anak dengan ASD memerlukan penanganan khusus karena perkembangan sosial dan emosionalnya berbeda dari anak pada umumnya. Mereka sering menyendiri, terisolasi, dan terhambat dalam mengembangkan keterampilan komunikasi dan aktivitas sosial, yang dapat semakin memburuk seiring pertumbuhannya. Perkembangan sosial-emosional menjadi faktor utama dalam perkembangan anak ASD, sehingga guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang nyaman dan mendukung interaksi sosial di sekolah [7].
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 5 ayat (1), menjamin hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan bermutu[8]. Hal ini berarti anak dengan ASD berhak mendapatkan pendidikan yang setara di sekolah inklusif. Guru berperan penting dalam mengembangkan kemampuan komunikasi dan emosional anak ASD, yang memiliki potensi baik jika ditangani dengan tepat. Guru kelas dapat memberikan stimulasi komunikasi yang spesifik dalam pembelajaran. Penanganan yang tepat dan terarah sangat penting untuk mencegah perkembangan ASD yang semakin berat dan menghambat pembelajaran. Dengan stimulasi yang sesuai kebutuhan, anak ASD dapat menerima materi pembelajaran dengan baik.
TK ABA 1 Candi adalah salah satu taman kanak-kanak yang memiliki berbagai fasilitas yang mendukung perkembangan optimal untuk anak. Pembelajaran menggunakan pendekatan berbasis area yang berjumlah tujuh yaitu sosio drama, ruang bangun, alam, calistung, kreativitas, imtaq dan olah tubuh. Sekolah ini menyediakan kelas dari kelompok bermain (KB) hingga kelas B2 untuk belajar secara bertahap setelah usia mereka. Pendekatan ini memungkinkan setiap anak untuk menerima perhatian dan dukungan sesuai dengan perkembangan dan potensi mereka. Sekolah dengan berbasis agama, pengetahuan dan pembelajaran ke-agamaan ini tentu sangat diperlukan sangat diperlukan anak karena sejalan dengan mendidikan karakter. TK ABA 1 Candi ini juga merupakan sekolah yang sudah menerapkan sistem inklusi untuk anak ASD maupun tidak, dengan adanya sistem inklusi ini anak dapat berkembang dengan baik melalui lingkungan dan fasilitas yang mendukung untuk mengelola sistem inklusi dengan baik harus dengan strategi guru yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan minat anak agar pembelajaran di sekolah berjalan dengan baik, salah satunya anak dengan ASD yang merupakan kelas B2 berjumlah satu anak dengan kondisi sosial-emosional baik hal ini ditunjukkan dengan lancarnya dalam mengikuti semua kegiatan pembelajaran dengan baik termasuk juga interaksi positif dengan lingkungan sekitar.
Anak ASD dapat berinteraksi dengan teman-temannya dengan baik meskipun tidak pada anak umumnya yang bisa bermain bersama, anak tersebut tidak terlalu tertarik dengan mainan, tetapi dia bisa bergabung dengan teman-temannya meskipun hanya duduk dan melihat saja. merespons secara positif kepada guru mereka sekaligus memahami dan mengikuti aturan kelas dengan instruksi yang benar, hal itu membantu menstabilkan emosi anak tersebut lebih banyak. Dalam lingkungan yang mendukung, anak dengan ASD juga dapat berkolaborasi dalam kegiatan kelompok dan menunjukkan empati umum dengan teman -teman mereka. Dengan dukungan dari guru, teman, dan strategi pembelajaran yang tepat, anak ASD merasa nyaman dan dapat berkembang secara optimal di lingkungan sekolah hal ini didukung oleh guru melalui pendekatan ramah anak, seperti bermain, dan aktivitas kreatif dalam lingkungan inklusif yang telah membantu perkembangan mereka [9]. Kegiatan kolaboratif meningkatkan interaksi dengan teman sebaya, membantu mereka memahami emosi diri dan orang lain. Berkat perhatian guru dan lingkungan yang suportif, anak ASD di TK ABA 1 Candi menunjukkan kemajuan dalam keterampilan sosial seperti berbagi, menunggu giliran, dan komunikasi dua arah.
Beberapa faktor memengaruhi perkembangan sosial-emosional anak dengan ASD: Faktor genetik dan biologis, dengan sekitar 80% kasus yang disebabkan oleh faktor genetik dan faktor biologis seperti paparan zat toksik selama kehamilan, penyakit atau infeksi ibu hamil, dan kekurangan nutrisi yang dapat memengaruhi perkembangan otak dan sistem saraf[10]. Pola asuh orang tua, di mana pola asuh demokratis terbukti efektif, sementara pola asuh yang kurang responsif atau otoriter dapat menghambat perkembangan sosial [11]. Lingkungan keluarga dan sekolah yang suportif, serta interaksi positif dengan teman sebaya dan keluarga juga sangat penting [7]. Intervensi dan terapi, seperti terapi perilaku dan wicara, juga berperan penting, keberhasilannya dipengaruhi oleh dukungan lingkungan dan konsistensi terapi [12]. Paparan zat toksik, penyakit atau infeksi ibu hamil, dan kekurangan nutrisi selama kehamilan juga dapat memengaruhi perkembangan otak dan sistem saraf, berdampak pada kemampuan sosial anak[10].
Akdon mendefinisikan strategi sebagai proses tindakan untuk mencapai tujuan. Manajemen strategi menurutnya meliputi tiga tahapan: (1) formulasi strategi (menganalisis peluang, ancaman, kekuatan, dan kelemahan sekolah untuk perencanaan jangka panjang yang efektif dan efisien), (2) implementasi strategi (mengembangkan strategi yang logis dan terukur untuk menghasilkan tindakan), dan (3) evaluasi/pengendalian strategi (memantau dan mengevaluasi pelaksanaan strategi untuk memastikannya sesuai rencana) .Strategi mengajar merupakan upaya guru dalam melaksanakan rencana mengajar, menggunakan metode, bahan, alat, tujuan, dan evaluasi yang tepat untuk mencapai tujuan pembelajaran [13]. Hasan menjelaskan guru profesional sebagai pendidik yang memiliki empat kompetensi: pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Kompetensi ini meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan akademis dan pribadi. Keahlian profesional dalam pengelolaan kelas memungkinkan terciptanya lingkungan belajar yang ideal dan menyenangkan[14].
Oleh karena itu Guru perlu memiliki kemampuan merancang strategi pembelajaran yang efektif untuk mencapai potensi anak melalui aktivitas belajar. Pembelajaran anak usia dini banyak menekankan aktivitas bermain sosial dan kegiatan menyenangkan. Keberhasilan pembelajaran sangat bergantung pada peran guru sebagai sumber belajar dan penguasaan kurikulum. Guru harus menguasai materi ajar, sehingga strategi pembelajaran yang tepat sangat penting untuk memastikan proses belajar mengajar berjalan sesuai rencana[15].
Strategi pembelajaran yang tepat sangat penting bagi perkembangan sosial-emosional anak ASD di kelas B TK ABA 1 Candi. Keberhasilan strategi ini ditunjukkan oleh kemampuan anak ASD untuk belajar dengan nyaman, berinteraksi dengan teman sebaya, mengontrol emosi, dan berpartisipasi dalam pembelajaran inklusif. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengkaji ketepatan strategi guru dalam mengembangkan aspek sosial-emosional anak di TK tersebut.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaiamana strategi yang diterapkan guru di kelas B2 dalam mengembangkan aspek sosial emosional anak ASD yang ada di kelasnya sehingga proses belajar mengajar berjalan dengan lancar dan bisa diterima baik oleh anak ASD tersebut. Strategi tersebut meliputi metode, pendekatan dan teknik yang efektif untuk anak tersebut sehingga peneliti juga mengetahui hambatan dan tantangan apa saja yang diterima guru dalam menerapkan startegi tersebut.
Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus bertujuan untuk memahami dan menggambarkan fenomena, peristiwa, atau situasi secara mendalam berdasarkan perspektif individu atau kelompok yang terlibat, sehingga penelitian ini menghasilkan data berupa kata-kata, narasi atau deskripsi, bukan angka atau statistik. Penelitian ini dilaksanakan di TK ABA 1 Candi, lokasi Perum Mutiara Citra Graha No.1&6 blok B1, Dusun Minggir, Larangan, Kec. Candi, Kabupaten Sidoarjo. Waktu pelaksanaan penelitian pada semester Genap 2025. Subjek dalam penelitian ini adalah anak kelas B1 di TK yang berjumlah 1 anak. Teknik pengumpulan data dengan Observasi yakni pengamatan yang dilakukan untuk melihat mengamati aktivitas secara langsung anak ASD saat kegiatan pembelajaran di sekolah serta mengamati strategi guru dalam mengelola kelas dan sosial emosioanal anak ASD di kelas B1. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk naratif yang kaya akan detail untuk memberikan gambaran yang jelas dan mendalam tentang subjek yang diteliti. Wawancara dilakukan dengan kepala sekolah dan guru kelas B1, wawancara ini dilakukan bertujuan untuk mengulik lebih dalam terkait strategi dalam mengembangkan sosial emosional anak ASD di kelas B1. Dokumentasi bertujuan untuk mengumpulkan data berupa foto dan vidio tentang kegiatan dan aktivitas anak ASD selama disekolah, lingkungan di sekolah yang inklusif dan aman serta guru saat menghandle pembelajaran dikelas mencangkup pemahaman karakteristik anak ASD yang dimiliki guru, pengajaran yang mendukung sosial dan emosional anak ASD, pola komunikasi guru dengan anak ASD, kesabaran dan empati guru pada anak ASD.
Teknik Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik analisis model interaktif Miles dan Huberman. Aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara terus menerus hingga tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Teknik Pengecekan Keabsahan Data Untuk memastikan keabsahan data, digunakan teknik triangulasi, yaitu pengecekan data dengan menggunakan sumber data yang berbeda. Tahapan Analisis Model Interaktif Miles dan Huberman : data reduction (reduksi data) dengan proses pemilihan, penyederhanaan, pengelompokan, dan pengorganisasian data mentah yang diperoleh dari lapangan agar data menjadi lebih fokus dan mudah dianalisis. Proses ini berlangsung selama penelitian, data display (penyajian data) dengan penyajian data merupakan tahap mengorganisasi data yang telah direduksi dalam bentuk terstruktur seperti tabel, grafik, diagram, atau narasi yang memudahkan peneliti untuk mengidentifikasi pola-pola penting serta menemukan indikasi awal dari masalah yang terjadi, conclusion drawing and verification (penarikan kesimpulan dan verifikasi) di mana peneliti melakukan interpretasi terhadap makna data yang telah disajikan serta melakukan verifikasi kesimpulan dengan bukti-bukti yang diperoleh selama proses pengumpulan data. Kesimpulan ini merupakan jawaban atas rumusan masalah penelitian. Adapun model interaktif yang mengacu pada konsep Miles, Huberman, & Saldana (2014) yaitu sebagai berikut:
Figure 1.
Pada hasil dan pembahasan ini akan diuraikan lebih lanjut mengenai apa saja strategi guru dalam mengembangkan kemampuan sosial dan emosional anak ASD kelas B2 di TK ABA 1 Candi serta menganalisi faktor kenda dan hambatan apa saja dalam mengembangkan sosial dan emosional anak ASD kelas B2 di TK ABA 1 Candi
Berdasarkan hasil observasi di TK ABA 1 Candi, ditemukan bahwa anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) di kelas B2 menunjukkan perkembangan sosial dan emosional yang baik. Anak tersebut mampu mengikuti pembelajaran dengan konsisten dari awal hingga akhir, yang mencerminkan kemajuan signifikan dalam kemampuan berinteraksi dan mengelola emosinya di lingkungan sekolah. Perkembangan positif ini tidak lepas dari berbagai strategi yang diterapkan oleh guru untuk menunjang kelancaran proses pembelajaran. Guru menggunakan pendekatan bermain area yang kreatif dan menyenangkan, menciptakan lingkungan sekolah inklusif yang nyaman dan kondusif bagi semua anak, termasuk anak dengan ASD. Selain itu, guru rutin memberikan afirmasi positif setiap hari, memperkuat rasa percaya diri dan semangat belajar anak. Komunikasi yang terjalin secara intensif dan harmonis antara guru dan orang tua anak ASD juga menjadi faktor pendukung utama dalam perkembangan sosial dan emosional anak. Meskipun strategi tersebut berhasil diimplementasikan dengan baik, guru juga menghadapi kendala signifikan, terutama terkait keterbatasan waktu dan beban tanggung jawab yang sangat banyak. Waktu yang terbatas membuat perhatian khusus bagi anak ASD harus dibagi dengan kebutuhan seluruh siswa di kelas, sehingga menimbulkan tantangan tersendiri bagi guru dalam mengoptimalkan pengembangan sosial dan emosional anak tersebut. Berikut penjabaran lebih rinci mengenai strategi yang diterapkan guru dan kendala yang mereka hadapi dalam mengembangkan kemampuan sosial dan emosional anak ASD di kelas tersebut.
1. Metode bermain area
Guru menerapkan berbagai strategi, termasuk penggunaan metode bermain area yang dikhusukan untuk anak kolaborasi dalam kelompok, dan pendekatan kreatif untuk menarik perhatian anak ASD. Metode bermain area di TK terlihat sebagai cara pembelajaran yang sangat efektif karena mencakup berbagai aspek perkembangan anak secara komprehensif. Dalam aktivitas ini, anak mendapat kesempatan untuk belajar dan mengeksplorasi melalui tujuh area yang saling melengkapi, mulai dari penguatan iman dan takwa (imtaq) yang menanamkan nilai-nilai spiritual, hingga calistung yang mengasah keterampilan membaca, menulis, dan berhitung dasar. Anak juga terlihat antusias saat berinteraksi dengan area bangun ruang, yang membantu mereka memahami konsep bentuk dan ruang secara nyata. Selain itu, area alam memberikan peluang bagi mereka untuk mengenal lingkungan sekitar dengan cara yang menyenangkan dan penuh rasa ingin tahu. Melalui olah tubuh, keterampilan motorik kasar dan halus mereka semakin terasah, sementara kreativitas memungkinkan mereka untuk mengekspresikan diri melalui seni dan imajinasi. Terakhir, sosiodrama menjadi wadah bagi anak-anak untuk belajar berkomunikasi, berempati, serta bekerja sama dengan teman-teman dalam permainan yang kreatif. Kegiatan seperti sosiodrama dengan serangkaian aktivitas pengajaran yang menghadirkan dramatiasi situasi sosial yang berkaitan dengan hubungan sosial nyata, dengan tujuan agar siswa dapat menemukan solusi atas masalah yang muncul dari kondisi tersebut. Secara keseluruhan, metode ini menjadikan proses belajar pada anak ASD terasa alami dan menyenangkan, sekaligus mendukung perkembangan anak secara menyeluruh terutama pada perkembangan sosial dan emosionalnya karena pembelajaran bersifat kelompok serta individu yang mengasah keterampilan bersosialisasi dengan temannya. Pendekatan pengajaran untuk anak-anak dikelas disesuaikan dengan kebutuhan anak ASD tersebut, selain itu guru juga menerapkan strategi pengajaram kreatif yang berfokus menciptakan suasana lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan dengan teknik yang inovatif untuk merangsang kreativitas anak autis dalam ranah sosial dan emosional yang disesuaikan dengan kebutuhan spesifik anak.
2. Lingkungan yang nyaman dan kondusif
Lingkungan di TK ABA 1 Candi menunjukkan bahwa lingkungan sekolah yang menyenangkan dan aman sangat membantu anak dengan ASD merasa tenang dan senang saat belajar di kelas. Pendekatan yang ramah anak dan inklusif membantu menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung yang sangat penting bagi anak dengan ASD. Pendekatan ini berfokus pada penciptaan lingkungan belajar yang aman, nyaman dan mendukung, sehingga anak-anak ASD dapat merasa diterima dan termotivasi untuk berpartisipasi tanpa tekanan. Di sana, suasana dibuat senyaman mungkin, bebas dari perundungan, sehingga anak-anak bisa fokus dalam belajar tanpa takut atau merasa terganggu. Para guru di sekolah ini juga memberi penjelasan kepada teman-teman kelas tentang pentingnya menghargai perbedaan, termasuk anak-anak ASD yang memang memiliki cara dan kebutuhan yang berbeda. Mereka diajarkan bahwa anak-anak ini spesial dan unik, sehingga teman-teman bisa memahami dan menerima, sehingga interaksi sosial dan pembelajaran dikelas berjalan baik. Selain itu, TK ABA 1 Candi juga menanamkan nilai-nilai agama yang kuat dalam lingkungan belajarnya, guru juga menerapkan lingkungan yang islami bagi dirinya sendiri mulai dari berpakaian, perilaku dan perkataan seperti sehingga mendukung implementasi lingkungan yang islami serta contoh yang baik bagi anak-anak yang dapat membantu menciptakan suasana penuh kasih dan saling menghormati antar anak dan pendidik. Pembiasaan yang dilakukan secara konsisten menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan teratur bagi anak-anak. Pembiasaan ini bukan hanya rutinitas sehari-hari, tetapi sudah menjadi bagian dari kebiasaan yang melekat dalam diri anak-anak, sehingga membentuk karakter dan perilaku yang positif sejak dini. Para guru di TK ABA 1 Candi menjalankan peraturan dengan disiplin dan jelas, yang tidak hanya membimbing anak-anak dalam belajar, tetapi juga menciptakan suasana kelas yang tertib dan harmonis. Adanya peraturan ini membantu anak belajar tentang tanggung jawab, kemandirian, serta menghormati aturan dalam lingkungan sosial mereka. Selain itu, pengelolaan kelas yang dilakukan oleh dua orang guru, yaitu wali kelas dan guru pendamping, memberikan pengawasan dan perhatian yang sangat optimal terhadap setiap anak. Dengan pembagian tugas yang jelas, suasana kelas bisa terkontrol dengan baik, mencegah terjadinya gangguan, serta menciptakan suasana yang tenang dan nyaman untuk belajar. Adanya guru pendamping juga memungkinkan pendekatan yang lebih personal dan intensif bagi anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih, termasuk anak dengan kebutuhan khusus seperti anak dengan autisme. Dengan kombinasi dari pembiasaan yang konsisten, penerapan peraturan yang teratur, dan sistem pengelolaan kelas yang melibatkan dua guru secara sinergis, TK ABA 1 Candi menjadi lingkungan yang sangat baik bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak secara optimal dalam suasana yang aman, nyaman, dan penuh dengan stimulasi positif. Dengan begitu, anak-anak tidak hanya belajar dari sisi akademik, tetapi juga belajar menjadi pribadi yang peduli dan saling menghargai. Guru harus mampu menyesuaikan pendekatan pembelajaran agar sesuai dengan perbedaan kemampuan anak autis, yang sering kali membutuhkan pendekatan individual dan penggunaan media pembelajaran yang tepat. Menurut Iswari dan Nurhastuti (2018), beberapa masalah yang sering muncul pada anak autis dan dapat mempengaruhi atau menjadi masalah dalam proses belajar, yaitu: Masalah perilaku, khususnya stimulasi diri dan stereotip; Masalah emosional, berkaitan dengan keadaan emosi yang tidak stabil, seperti menangis, berteriak, tertawa tanpa alasan yang jelas, pemberontakan, mengamuk, vandalisme, mengamuk. Kesulitan dalam berkomunikasi, perubahan emosi yang cepat, serta perhatian yang terbatas menjadi tantangan dalam proses belajar. Faktor lingkungan memiliki peran yang sangat signifikan dalam perkembangan sosial dan emosional anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD). Lingkungan yang mendukung bagi anak autis meliputi pengasuhan yang konsisten, penuh kasih sayang, dan responsif terhadap kebutuhan khusus mereka. Model pengasuhan seperti ini meningkatkan rasa aman anak dan memfasilitasi pengembangan keterampilan sosial serta motorik yang seringkali terganggu pada anak autis. Selain itu, lingkungan sekolah yang inklusif dan terstruktur dengan baik, di mana anak-anak dengan kemampuan yang beragam dapat belajar bersama, juga sangat penting. Lingkungan pembelajaran yang responsif dan disesuaikan dengan kebutuhan anak autis memungkinkan mereka untuk belajar interaksi sosial secara bertahap dan efektif, sekaligus mengurangi risiko isolasi sosial yang dapat memperburuk kondisi emosional mereka. Sebaliknya, lingkungan yang kurang mendukung, seperti kurangnya penerimaan dari keluarga, stigma sosial, atau kurangnya fasilitas pendidikan yang memadai, dapat memperburuk gangguan perkembangan sosial dan emosional anak autis[16]. Beberapa cara untuk menangani masalah perilaku pada anak autis dengan menciptakan lingkungan belajar yang lebih rapi dan ramah. Pertama, guru atau pengasuh harus memberikan pujian atau dorongan yang selalu positif agar anak terus termotivasi dan lebih mudah menunjukkan perilaku yang baik. Kedua, waktu yang tidak terisi harus dikurangi karena anak autis seringkali terjebak dalam aktivitas ulang atau menghindari interaksi, sehingga jadwal harus disusun dengan kegiatan yang teratur. Ketiga, menyediakan aktivitas yang menyenangkan dan positif bisa membantu anak tetap tertarik dan mengurangi kemungkinan munculnya perilaku yang tidak baik. Terakhir, membuat suasana belajar yang nyaman baik secara fisik maupun emosional bisa membuat anak merasa aman dan lebih nyaman untuk berpartisipasi. Secara keseluruhan, pendekatan ini mencoba mencegah masalah perilaku dengan cara membangun lingkungan yang terstruktur, memberikan interaksi yang positif, serta menyiapkan kegiatan yang menarik[17].
3. Pemberian affirmasi positif
Affirmasi positif yang diberikan secara terus-menerus oleh guru kepada anak-anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD) memiliki pengaruh besar terhadap pertumbuhan mereka. Guru sering memberi pujian, dorongan, dan pengakuan atas usaha atau pencapaian anak ASD, contohnya dengan pencapaian seperti bisa menulis huruf yang dicontohkan guru, bisa berbaur bersama temannya, menghabiskan makanannya, mengikuti intruksi dari guru, hal tersebut tidak hanya meningkatkan rasa percaya diri mereka, tetapi juga mendorong mereka untuk terus belajar dan berpartisipasi aktif di kelas. Afirmasi positif membantu anak merasa dihargai dan diterima, yang sangat penting karena anak-anak dengan ASD sering menghadapi kesulitan dalam berinteraksi sosial dan mengelola perasaan mereka. Selain itu, afirmasi juga memperkuat perilaku baik dan membantu mengurangi rasa cemas, sehingga anak-anak ASD lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolah. Penelitian menekankan bahwa sikap guru yang sabar dan penuh penghargaan melalui afirmasi positif adalah salah satu faktor penting dalam menciptakan suasana belajar yang mendukung dan menyenangkan bagi anak-anak dengan ASD. Guru yang sabar dan selalu memberikan pujian serta penghargaan kepada anak dengan ASD sangat penting dalam menciptakan suasana belajar yang nyaman, mendukung, dan menyenangkan. Dengan memberikan afirmasi positif secara konsisten, guru tidak hanya memberi motivasi kepada anak ASD, tetapi juga membantu membangun lingkungan kelas yang inklusif dan ramah. Hal ini mendorong perkembangan anak secara sosial, emosional, dan akademik secara keseluruhan. Afirmasi positif dari guru sangat berperan dalam mendukung pertumbuhan anak dengan ASD. Guru secara aktif memberikan pujian dan pengakuan atas usaha atau pencapaian anak, seperti saat anak berhasil menulis huruf yang diperlihatkan, berinteraksi dengan teman, makan makanan yang diberikan, atau mengikuti perintah dengan baik. Pemberian pujian seperti ini dapat meningkatkan kepercayaan diri anak, memotivasinya untuk terus belajar, dan aktif berpartisipasi dalam kegiatan kelas. Selain itu, afirmasi positif juga membantu anak ASD merasa dihargai dan diterima di lingkungan sekolah, yang sangat penting karena mereka sering menghadapi kesulitan dalam berinteraksi sosial dan mengelola emosi. Penguatan perilaku positif melalui afirmasi juga dapat mengurangi rasa cemas dan membuat anak lebih nyaman berada di lingkungan belajar. Guru dikelas tidak hanya memberikan pujian kepada anak ASD saja, tetapi juga kepada seluruh siswa, terutama dalam mendukung teman-teman ASD mereka, misalnya, guru memberikan pujian kepada siswa lain ketika mereka menunjukkan sikap empati dengan membantu teman ASD yang sedang kesulitan, atau ketika mereka mampu mengajak teman ASD bermain dan berinteraksi secara positif. Hal ini bertujuan untuk menanamkan sikap saling menghargai dan membangun persahabatan, sekaligus menciptakan suasana kelas yang inklusif dan ramah. Dengan memberi pujian kepada seluruh siswa, guru secara tidak langsung mengajarkan nilai-nilai keberagaman, toleransi, dan kepedulian sosial yang penting dalam lingkungan belajar.
4. Komunikasi dengan orang tua
Kerja sama yang harmonis antara guru, sekolah, dan orang tua menjadi fondasi utama dalam mendukung perkembangan sosial dan emosional anak dengan autisme secara optimal. Komunikasi yang terus menerus dan terbuka antara guru dan orang tua adalah salah satu aspek paling krusial dalam kerja sama ini. Dengan komunikasi yang berkelanjutan, setiap kebutuhan dan perkembangan anak dapat terpantau dengan cermat, memungkinkan penyesuaian langkah pembelajaran yang tepat waktu dan efektif. Untuk memperkuat kerja sama tersebut, telah disiapkan jalur komunikasi yang sistematis dan jelas. Setiap bulan, anak dengan autisme secara rutin diperiksa oleh psikolog atas tanggung jawab orang tua. Hasil pemeriksaan ini kemudian wajib diserahkan oleh orang tua kepada guru sebagai dasar penting dalam menyesuaikan metode pengajaran sesuai kondisi dan perkembangan terbaru anak. Melalui data dan informasi yang akurat ini, guru dapat merancang pendekatan belajar yang lebih tepat sasaran, mempertimbangkan kebutuhan unik setiap anak secara individual. Di sisi lain, orang tua pun mendapat panduan praktis dari guru mengenai teknik dan kebiasaan positif yang telah diterapkan di sekolah, sehingga mereka dapat meneruskan dan memperkuat pembiasaan tersebut saat anak berada di rumah. Dengan adanya koordinasi yang intensif dan terpadu seperti ini, tercipta keselarasan dalam pola asuh dan pembelajaran antara lingkungan sekolah dan keluarga, yang pada akhirnya memberikan dukungan konsisten dan berkesinambungan bagi anak autis dalam menjalani proses tumbuh kembangnya. Kerja sama yang erat semacam ini bukan hanya memperbaiki kualitas pembelajaran, tetapi juga menciptakan suasana yang penuh pengertian dan perhatian, yang sangat dibutuhkan oleh anak autis agar mereka dapat berkembang secara maksimal, merasa diterima, dan termotivasi dalam setiap tahap perkembangan hidupnya. Keterlibatan orang tua sangat penting untuk mendukung perkembangan anak di rumah. Masalah perilaku (misalnya, stimming, tantrum) dan kesulitan berkomunikasi merupakan tantangan umum dalam mengajar anak ASD, seperti yang dijelaskan oleh Iswari dan Nurhastuti (2018). Peran orang tua sangat penting dalam membantu perkembangan anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD) di lingkungan rumah. Proses belajar dan pembentukan kepribadian anak tidak hanya terjadi di sekolah, tetapi juga di lingkungan keluarga. Karena itu, kebiasaan positif dan cara mengelola perilaku yang tepat di rumah sangat berpengaruh dalam mendukung kemajuan anak. Anak dengan ASD sering menghadapi tantangan, seperti perilaku stimming yaitu gerakan berulang yang dilakukan untuk menenangkan diri atau merespons sesuatu serta tantrum, yaitu ekspresi emosi yang sulit dikendalikan. Selain itu, kesulitan berkomunikasi juga menjadi hambatan utama, sehingga memengaruhi kemampuan anak untuk berinteraksi sosial dan menyampaikan kebutuhan atau perasaan secara efektif. Hal ini membuat proses belajar di sekolah menjadi lebih rumit, sehingga peran orang tua sebagai penunjang utama sangat penting untuk menerapkan pendekatan pembelajaran dan pengelolaan perilaku yang sejalan dengan yang dilakukan di sekolah. Menurut Iswari dan Nurhastuti (2018), penanganan masalah perilaku dan komunikasi ini perlu dilakukan dengan cara yang tepat, serta membutuhkan kesabaran dan pemahaman dari semua pihak. Keterlibatan aktif orang tua dalam membimbing proses belajar dan mengelola perilaku di rumah tidak hanya memberikan dukungan emosional, tetapi juga membantu menciptakan kesinambungan pembelajaran dan meningkatkan efektivitas intervensi yang dilakukan guru dan tenaga ahli. Dengan demikian, kerja sama antara lingkungan sekolah dan rumah menjadi faktor penting dalam membantu anak ASD menghadapi berbagai tantangan perilaku dan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.[18] kerja sama yang erat antara guru, orang tua, serta tenaga profesional lain seperti psikolog, terapis, dan konselor merupakan faktor penting dalam menciptakan program intervensi yang komprehensif dan efektif. Kerja sama ini memungkinkan pertukaran informasi yang mendalam mengenai perkembangan anak di rumah dan sekolah, serta penyesuaian strategi intervensi secara berkelanjutan sesuai dengan kebutuhan anak. Pendekatan kolaboratif ini juga meningkatkan konsistensi dukungan yang diterima anak di berbagai lingkungan, sehingga memfasilitasi adaptasi dan kemajuan mereka secara menyeluruh[19]. Komunikasi guru dan orang tua yang dibangun dengan baik menumbuhkan koordinasi yang efektif juga, Dengan berkomunikasi secara baik, kedua pihak dapat bekerja sama secara erat dan saling melengkapi dalam mengawasi serta memahami perkembangan anak, baik di sekolah maupun di rumah. Kerja sama ini memungkinkan guru memperoleh informasi langsung mengenai keadaan anak di rumah, seperti perubahan perilaku, kebiasaan baru, atau tantangan yang dihadapi orang tua dalam merawat anak. Sementara itu, orang tua dapat memberi tahu guru tentang masalah yang mereka alami saat membimbing anak di rumah, seperti masalah komunikasi. Dengan adanya komunikasi yang terbuka, guru dapat menyesuaikan strategi pembelajaran dan pendampingan anak di sekolah agar sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang dialami anak di rumah. Hal ini membantu menciptakan kesinambungan dalam penanganan dan pembelajaran anak yang sangat penting bagi perkembangan anak dengan autisme. Selain itu, komunikasi yang intens juga memberikan kesempatan bagi orang tua untuk mendapatkan bimbingan, dukungan, dan edukasi yang dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam merawat anak di rumah. Dengan demikian, kerja sama yang efektif antara guru dan orang tua menjadi kunci penting.
Berdasarkan hasil Penelitian melalui wawancara dan observasi yang dilakukan di TK ABA 1 Candi mengungkapkan berbagai tantangan yang dihadapi para guru dalam membantu perkembangan sosial dan emosional anak-anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD), khususnya di kelas B2. Salah satu masalah utama yang ditemukan adalah kurangnya pemahaman dari teman sebaya mengenai kondisi dan kebutuhan khusus anak-anak dengan ASD, diperlukan upaya tambahan untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan mendukung agar seluruh siswa dapat belajar dan berinteraksi secara harmonis. Untuk mencapai hal tersebut, para guru tidak hanya berfokus pada penyampaian materi pelajaran, tetapi juga dituntut aktif dalam membangun suasana kelas yang ramah dan menerima keberagaman kebutuhan siswa, termasuk anak berkebutuhan khusus.[21] Selain itu, hasil wawancara dengan guru kelas B2 menunjukkan bahwa guru menghadapi kesulitan dalam mengatur waktu untuk memberikan perhatian khusus kepada anak-anak dengan ASD. Dalam kesehariannya, guru harus mengelola banyak siswa sekaligus dengan jadwal yang sangat padat, yang meliputi hafalan surah pendek, pembelajaran di kelas dan pembelajaran diberbagai area berbeda, kegiatan mengaji dengan umi, serta upaya peningkatan literasi yang menargetkan kemampuan membaca setiap anak. Karena banyaknya target capaian yang harus dipenuhi, guru harus membagi waktu dan tenaga secara proporsional untuk memenuhi kebutuhan seluruh siswa. Hal ini membuat perhatian khusus kepada anak-anak ASD, yang memerlukan dukungan tambahan agar dapat belajar lebih fokus dan berkembang optimal, menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Selain kendala waktu, hasil observasi penelitian di dalam kelas juga menunjukkan bahwa para guru masih kurang memahami secara mendalam karakteristik dan kebutuhan khusus anak dengan ASD. Dari hasil wawancara dengan guru kelas B2, terungkap bahwa pemberian materi pelatihan yang lebih komprehensif mengenai ASD, kebutuhan pembelajaran yang tepat, serta media pengajaran yang sesuai sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan anak ASD tersebut. Meskipun guru berusaha memberikan bantuan terbaik, keterbatasan pengetahuan dan kemampuan dalam menangani perilaku serta interaksi sosial anak ASD menjadi penghambat dalam penerapan metode pengajaran yang efektif. Kurangnya pelatihan khusus dan pemahaman mendalam mengenai ASD membuat beberapa guru merasa kurang percaya diri dan mengalami kesulitan ketika menghadapi situasi yang memerlukan pendekatan khusus. Dengan demikian, kendala utama yang menghambat perkembangan sosial dan emosional anak-anak ASD di kelas B2 TK ABA 1 Candi adalah tingginya kepadatan jadwal dan beban tugas guru, serta minimnya pemahaman guru terhadap karakteristik dan kebutuhan khusus anak-anak dengan ASD. Untuk itu, diperlukan upaya peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan khusus serta penataan waktu yang lebih efektif agar pembelajaran inklusif dapat berjalan dengan baik dan anak ASD bisa mendapatkan perhatian serta dukungan yang optimal.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan di TK ABA 1 Candi, dapat disimpulkan bahwa guru menggunakan berbagai strategi untuk mengembangkan kemampuan sosial dan emosional anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) secara efektif dan berkelanjutan seperti metode bermain area, lingkungan yang nyaman dan kondusif, pemberian affirmasi serta menjalin komunikasi yang berkala dengan orang tua anak guna memudahkan koordinasi terkait perkembangan anak ASD. Guru di kelas B2 menerapkan pendekatan individual dan konsisten dalam pembelajaran, menggabungkan pembiasaan rutin yang terstruktur dengan penerapan peraturan kelas yang jelas dan disiplin. Hal ini bertujuan menciptakan suasana belajar yang nyaman, aman, dan teratur, sehingga anak-anak, termasuk yang memiliki kebutuhan khusus seperti anak ASD, dapat berkembang optimal secara sosial dan emosional. Keterlibatan guru pendamping yang bekerja sinergis dengan wali kelas memungkinkan pendekatan personal yang intensif dan perhatian yang lebih khusus kepada anak berkebutuhan khusus, memperkuat pengelolaan kelas dan stimulasi positif secara menyeluruh. Dalam mengelola sosial emosional anak ASD, guru menyesuaikan metode dan materi pembelajaran, memanfaatkan media pembelajaran yang relevan dan tepat guna sesuai kebutuhan anak. Pendekatan individual ini sangat penting mengingat karakteristik anak ASD yang berbeda-beda dalam hal komunikasi, regulasi emosi, dan interaksi sosial. Pembelajaran yang berorientasi pada peningkatan kemandirian dan tanggung jawab juga menjadi fokus guru, baik melalui pembiasaan maupun pengelolaan perilaku yang inklusif.
Kendala utama yang dialami oleh guru selama proses ini berkaitan dengan beban tugas yang sangat besar dan waktu yang terbatas. Guru harus membagi perhatian dan tenaga untuk memenuhi beragam target pembelajaran anak-anak secara keseluruhan, mulai dari hafalan surah pendek, pembelajaran akademik, kegiatan mengaji, hingga peningkatan literasi. Kondisi ini membuat perhatian khusus kepada anak dengan ASD yang membutuhkan dukungan lebih intensif menjadi tantangan tersendiri. Selain kendala waktu, kurangnya pemahaman guru terhadap karakteristik dan kebutuhan khusus anak ASD turut menjadi hambatan dalam menerapkan metode pembelajaran yang paling efektif dan adaptif. Hal ini menyebabkan beberapa guru merasa butuh bantuan saat menghadapi situasi yang memerlukan pendekatan khusus, terutama dalam pengelolaan perilaku dan interaksi sosial anak ASD. Untuk mengatasi kendala tersebut, penelitian ini menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas guru melalui pelatihan dan seminar yang komprehensif mengenai ASD. Pelatihan ini diharapkan dapat memperdalam pemahaman guru tentang kebutuhan anak ASD serta memperkaya keterampilan mereka dalam menyusun dan menerapkan media dan metode pembelajaran yang tepat. Selain itu, solusi lain adalah optimalisasi manajemen waktu dan pembagian tugas antara guru wali kelas dan guru pendamping sehingga pelayanan terhadap anak berkebutuhan khusus dapat lebih optimal tanpa mengabaikan kebutuhan siswa lainnya. Penguatan kolaborasi antara guru, orang tua, dan pihak sekolah juga menjadi faktor penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan kondusif, yang mampu mendukung perkembangan sosial emosional anak ASD secara menyeluruh. Dengan upaya tersebut, pembelajaran inklusif diharapkan dapat berjalan dengan lebih baik dan anak-anak ASD mendapatkan perhatian serta dukungan yang optimal sesuai dengan potensi mereka.
Alhamdulillah, segala puji dan syukur hanya milik Allah SWT, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Terima kasih kepada-Nya yang telah memberikan rahmat, hidayah, serta kekuatan kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Tanpa anugrah dan bantuan-Nya, tidak mungkin usaha dan kerja keras ini bisa mencapai akhir yang menyenangkan. Setiap langkah dalam proses akademik ini selalu didampingi dan dibimbing oleh-Nya, yang penulis rasakan dengan begitu dalam dan luar biasa.
Penulis juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada kedua orang tua tercinta. Terima kasih atas doa yang tak pernah putus, kasih sayang yang tak terbatas, dan pengorbanan yang luar biasa selama ini. Kasih dan dukungan mereka menjadi sumber kekuatan dan inspirasi yang mendorong penulis untuk terus berjuang, bahkan ketika menghadapi kesulitan dan tantangan. Tanpa bimbingan dan kesabaran mereka, mencapai titik ini adalah hal yang mustahil.
Tidak lupa, penulis juga ingin mengucapkan terima kasih yang tulus kepada teman-teman terdekat yang selalu memberikan dukungan moral, semangat, dan motivasi sejak awal hingga proses penyelesaian skripsi selesai. Dalam berbagai bentuk, seperti dorongan, saran, tawa bersama, maupun bantuan yang tulus saat masa sulit, kehadiran kalian semua sangat berarti dan menjadi pengingat agar penulis tetap semangat. Kebersamaan dan persabatan yang terjalin selama ini menjadi kenangan berharga yang tidak akan pernah terlupakan.
Semoga semua doa, dukungan, dan kebaikan yang telah diberikan kepada penulis diberikan balasan terbaik oleh Allah SWT berupa rahmat dan keberkahan yang tak terbatas. Penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat dan menjadi awal dari perjalanan hidup yang lebih baik lagi. Terima kasih atas semua perhatian dan dukungan yang diberikan dengan tulus dari hati.
[1] P. D. Herdianti, N. E. Lestari, and E. Yuliza, “Kemampuan Komunikasi dan Sosial serta Hubungannya dengan Perilaku Agresif pada Anak Autism Spectrum Disorder (ASD) di Peduli ASD Research Center Tahun 2022,” Open Access Jakarta Journal of Health Sciences, vol. 3, no. 3, pp. 1123–1130, 2024, doi: 10.53801/oajjhs.v3i3.238.
[2] J. Elisse and M. Aswanti, “Exploring Feelings: Cognitive Behaviour Therapy to Enhance Emotional Regulation in Children with Autism Spectrum Disorder,” Psikostudia: Jurnal Psikologi, vol. 13, no. 2, p. 272, 2024, doi: 10.30872/psikostudia.v13i2.15055.
[3] T. K. Dyanti, Mutiara, H. D. Septia, R. Hariadi, Suliyanto, and R. A. Nasution, “Sense: Pendampingan Peningkatan Keterampilan Sosial Emosional Melalui Theater Based Intervention,” Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Nusantara, vol. 6, no. 1, pp. 364–370, 2024.
[4] W. S. Damanik, S. Mawarni, D. Damayanti, and A. Ani, “Kajian Literatur: Asupan Makanan Ibu Penyebab Autisme,” Indonesian Journal of Multidisciplinary, vol. 1, pp. 1601–1610, 2023.
[5] E. S. Dewi, “Klasifikasi Autism Spectrum Disorder Menggunakan Algoritma Naive Bayes,” MATHunesa: Jurnal Ilmiah Matematika, vol. 9, no. 1, pp. 27–35, 2021, doi: 10.26740/mathunesa.v9n1.p27-35.
[6] S. Nurfadhillah et al., “Analisis Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus (Autisme) di Sekolah Inklusi SDN Cipondoh 3 Kota,” BINTANG: Jurnal Pendidikan dan Sains, vol. 3, no. 3, pp. 459–465, 2021.
[7] Y. Apriliyani, D. Rahmadika, S. Wifda, and H. Hijriati, “Peran Guru dalam Meningkatkan Perkembangan Sosial Anak Autis Usia Dini di SLB TNCC Banda Aceh,” Khirani: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 2, no. 2, pp. 125–132, 2024, doi: 10.47861/khirani.v2i2.998.
[8] D. D. Astarini, “Peran Aktif Orangtua dan Guru Sekolah Inklusi dalam Meningkatkan Kemampuan Komunikasi dan Interaksi Sosial Anak Penderita Autisme,” Psikodidaktika: Jurnal Ilmu Pendidikan, Psikologi, Bimbingan dan Konseling, vol. 5, no. 1, p. 93, 2020, doi: 10.32663/psikodidaktika.v5i1.1158.
[9] N. Shalehah, T. Suminar, and D. Diana, “Strategi Guru dalam Meningkatkan Keterampilan Sosial Anak Autism Spectrum Disorder (ASD),” Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, vol. 7, no. 5, pp. 5757–5766, 2023, doi: 10.31004/obsesi.v7i5.5287.
[10] P. N. Iman, D. Sulasminah, and Bastiana, “Meningkatkan Kemampuan Interaksi Sosial Siswa Autis Melalui Metode Bermain Kelompok pada Siswa Non-Autis di Sekolah Luar Biasa,” Pinisi Journal of Education, vol. 4, no. 4, pp. 184–200, 2024.
[11] A. Oktaviani and S. Fatmawati, “Gambaran Karakteristik Orang Tua dengan Anak Autism Spectrum Disorder (ASD) di Sekolah Luar Biasa (SLB) Surakarta,” Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia, vol. 2, pp. 375–386, 2022.
[12] R. Fajriyati, H. Djoehaeni, and N. F. Romadona, “Meningkatkan Keterampilan Sosial Anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD) dengan Metode DIR Floortime: Systematic Literature Review,” Jurnal PG-PAUD Trunojoyo: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Anak Usia Dini, vol. 11, no. 1, pp. 13–35, 2024, doi: 10.21107/pgpaudtrunojoyo.v11i1.25103.
[13] I. Arafa and S. Supriyanto, “Strategi Guru dalam Pengelolaan Pembelajaran untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa,” Inspirasi Manajemen Pendidikan, vol. 9, no. 4, pp. 1–9, 2021.
[14] P. Apriliani, S. Putri Sayekti, M. A. F. Dewanto, A. Mustoffa, and I. Cholilah, “Strategi Profesional Guru dalam Meningkatkan Pengelolaan Kelas Aktif dan Menyenangkan,” Damhil Education Journal, vol. 3, no. 1, pp. 51–57, 2023, doi: 10.37905/dej.v3i1.2033.
[15] S. Rahmadani, A. Mawadda, and G. Gusmaneli, “Strategi Pembelajaran untuk Anak Usia Dini,” IHSANIKA: Jurnal Pendidikan Agama Islam, vol. 2, no. 2, pp. 43–48, 2024, doi: 10.59841/ihsanika.v2i2.1080.
[16] F. R. N. Hasanah and Z. Zailani, “Strategi dan Tantangan dalam Menerapkan Pembelajaran Inklusif pada Anak Usia Dini (Studi Kasus di Tadika),” Journal of Education Research, vol. 738, no. 2, pp. 396–406, 2025.
[17] A. Fillia and P. Indarto, “Kendala Guru dalam Mengelola Proses Pembelajaran Anak Autis: Studi Kasus MIM PK Kartasura,” Indonesian Journal of Sport Science and Technology, vol. 2, no. 2, pp. 197–209, 2023, doi: 10.31316/ijst.v2i2.5231.
[18] N. A. Tittandi, S. M. Hapsari, and O. D. Tanto, “Peran Kepercayaan Guru-Siswa dalam Optimalisasi Strategi Pendampingan Anak dengan Gangguan Spektrum Autisme di PAUD Inklusi,” vol. 5, no. 3, 2025.
[19] N. Amaliah, S. Salsabil, N. Aripin, S. Aminah, and C. Cinantya, “Analisis Pelaksanaan Pendidikan Inklusi ABK Autisme di SDN Sungai Andai 3,” 2025, pp. 136–143.
[20] A. Rahmawati, M. A. Roji, and S. Wijaya, “Analisis Efektivitas Program Pendidikan Inklusif dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Anak Disabilitas Autis,” Jurnal Pendidikan Ilmiah Transformasi, vol. 8, no. 2, pp. 169–172, 2024.
[21] I. N. Izzah and T. Leonardi, “Intervensi Cerita Sosial dalam Meningkatkan Keterampilan Sosial Remaja dengan Gangguan Spektrum Autisme (GSA): Laporan Kasus,” vol. 11, no. 1, 2025.