Diffani Laila Sabila (1), Kemil Wachidah (2)
General Background: Early reading skills constitute a fundamental foundation for elementary school learning and are essential for academic development. Specific Background: Many lower-grade students still encounter difficulties in mastering beginning reading, necessitating structured instructional approaches such as the Structural Analytical Synthesis (SAS) method. Knowledge Gap: Despite prior studies on early reading instruction, limited evidence exists regarding the application of the SAS method to second-grade students within the specific context of SDN Lemah Putro 3. Aims: This study aimed to determine whether the SAS method could improve the initial reading ability of second-grade students at SDN Lemah Putro 3. Results: Using a pre-experimental one-group pretest–posttest design with 16 students, data collected through reading tests and observations showed a rise in mean scores from 80.4 on the pretest to 92.5 on the posttest, with paired sample t-test results indicating a statistically significant difference. Novelty: The study provides contextual empirical evidence on the application of the SAS method for early reading instruction at the second-grade level in an Indonesian elementary school setting. Implications: These findings suggest that the SAS method can serve as an alternative instructional strategy for beginning reading in primary education and support teachers in facilitating foundational literacy development.
Highlights:
Mean test scores increased from 80.4 before treatment to 92.5 after instruction.
Statistical testing confirmed a significant difference between initial and final measurements.
Learners showed greater fluency, accuracy, and pronunciation during reading tasks.
SAS Method; Early Reading Skills; Structural Analytical Synthesis; Elementary Students; Pre-Experimental Design
Membaca merupakan kegiatan yang dilaksanakan guna mendapat amanat yang diberikan oleh penulis melalui suatu media kata [1](Henry Guntur Tarigan, 2008). Pendapat ini didukung oleh A.S. Harjasujana yang mengungkapkan bahwa membaca ialah praktik merespon gagasan tertulis dengan pemahaman yang akurat.[2] Sedangkan menurut Rosenbalt, membaca merupakan suatu proses kegiatan yang meliputi tahapan atau langkah langkah dalam pembaca membuat makna melalui teks yang dibacanya. Secara ringkas membaca bisa dimaksudkan sebagai proses untuk memahami ide yang terdapat dalam bahasa tulis.
Membaca merupakan kegiatan yang melibatkan proses fisik, maksudnya adalah membaca tidak akan bejalan tanpa melibatkan suatu organ fisik tertentu, namun melibatkan banyak organ lain dalam kegiatan membaca. Selain itu, membaca juga melibatkan proses mental[2], dimana kegiatan membaca tidak hanya sekedar mengenal kata serta menyuarakan dengan benar, namun pembaca juga harus paham akan makna yang terdapat dalam bacaan.
Pelajaran membaca diperlukan bagi setiap orang. Sebab membaca tidak sekedar melihat kumpulan huruf atau kata yang tersusun. Namun, membaca ialah suatu kegiatan memahami simbol, tulisan dan tanda yang memiliki makna sehingga amanat dapat diberikan dan diterima para pembaca[3]. Pada saat membaca mata akan menggali kata sedangkan pikian menggabungkan maknanya. Kemampuan membaca ialah aktivitas yang dilakukan guna menggali aneka keterangan yang dimuat dalam tulisan. Kemampuan membaca membutuhkan kemampuan yang kompleks serta menuntut adanya kerjasama antar berbagai kemampuan. Supaya seseorang bisa membaca suatu teks dibutuhkan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya.
Kemampuan yang wajib dikuasai semua orang merupakan kemampuan membaca permulaan, sebab didalam kegiatan belajar juga terdapat aktivitas membaca. Membaca permulaan ialah tahapan paling dasar dalam kegiatan membaca. Menurut (Wardayati, 2019), [4]pada tahapan awal membaca fokus utamanya ialah keserasian tutur tulisan dengan tutur ucapan yang ada, kefasihan serta kemurnian suara dan pemahaman ide serta maknanya. Pada tahap ini pembaca masih berada pada fase belum bisa membaca menjadi bisa membaca. Tujuannya adalah untuk membantu siswi membaca kata serta kalimat simpel secara lancar dan benar. Jika seseorang mengalami masalah membaca, maka akan berpengaruh juga dalam keberhasilan belajarnya. Selain itu, seseorang yang mengalami masalah dalam membaca juga akan terhambat dalam menangkap informasi yang diberikan oleh guru.
Menurut Sunardi dan Muchlisoh berpendapat bahwa membaca permulaan merupakan sebuah proses pemahaman berbagai bentuk huruf dan bunyi serta kemampuan untuk memberikan makna pada kata kata yang telah di cetak sehingga menjadi bahasa lisan[5]. Acuan yang dipilih dalam memperluas indikator membaca permulaan di sekolah dasar ini merupakan hasil pengembangan dari konsep yang dibuat pada penelitian terdahulu. Merujuk pada penelitian yang telah dilakukan oleh Sunardi, proses membaca terdiri dari beberapa aspek, diantaranya 1) mengenal huruf, didalamnya terdapat pengenalan Huruf kecil dan besar 2) mengenal suara huruf, yang dibagi menjadi beberapa bagian yakni bunyi huruf vokal, konsonan tunggal (satu konsonan), konsonan ganda (konsonan jamak) serta diftong 3) memadukan huruf membentuk kata, 4) ragam bunyi, 5) memakai analisa kondisi, 6) menggunakan analisa struktural.
Kemampuan membaca permulaan harus dikuasai oleh siswa sejak usia Sekolah Dasar tinggat rendah. Hal ini dapat berpengaruh di tingkat atau jenjang yang lebih tinggi. Seseorang dapat membaca dengan lancar jika seseorang mampu mengamati dengan jelas huruf per huruf, kata per kata, mampu menggerakakkan mata dengan lincah, serta mengingat simbol dengan tepat. Meski tujuan akhir dari aktivitas membaca adalah untuk mengerti isi bacaan, tetapi tujuan tersebut belum bisa diterima anak anak secara maksimal. Banyak anak yang ketika membaca sudah lancar namun belum memahami inti yang ada di bacaan tersebut. Hal tersebut diartikan bahwa kegiatan membaca bukanlah sekedar gerakan motorik mata namun juga menyangkut ke perkembangan kognitif individu.
Pada dasarnya, orang dikatakan dapat membaca tidak hanya sebuah kesengajaan semata, tetapi dikarenakan adanya usaha dari seseorang untuk belajar dan latihan secara konsisten. Yang awalnya hanya terdiri dari kumpulan huruf serta memiliki makna, awalnya hanya sekedar memahami lambang atau tulisan atau simbol yang disajikan hingga simbol simbol tersebut dikumpulkan menjadi kata, sekumpulan kata menjadi sekumpulan kata dan kalimat, kelompok kalimat menjadi suatu paragraph serta suatu teks sempurna.
Menurut uraian diatas, dapat diambil kesimpulkan bahwa aktivitas membaca ialah salah satu aktivitas mengenali simbol dan kata serta bisa melafalkan dengan benar sebagai prosedur memahami amanat yang diberikan. Membaca tidak hanya mengenal kata, namun didalam membaca juga melibatkan aktivitas mulut dan mata.
Rancangan penelitian merupakan rencana yang disusun peneliti guna mempermudah penelitian yang akan dilakukan. Hasil yang ingin dilihat merupakan pengaruh metode SAS terhadap kemampuan membaca permulaan di SD kelas 2. Sehingga penelitian ini menggunakan desain penelitian `pre- experimental disertai rancangan one grub pre-test post-test design. Sasaran yang diambil dalam penelitian kali ini mengambil dari satu kelas dimana kelas tersebut diberi soal pre test untuk menilai kemampuan awal siswa. Kemudian akhiri dengan memberikan post test guna melihat perbedaan hasil pembelajaran yang disertai meetode pembelajaran[9].
Jenis penelitian yang diminati ialah penelitian eksperimen dan pendekatan kuantitatif. Penelitian yang diambil ialah eksperimen semu. Menurut pendapat Sugiyono (2007:77) menjelaskan bahwa exsperimen semu merupakan salah satu penelitian yang memiliki control, jadi tidak sepenuhnya berfungsi untuk mengontrol variabel luar yang memengaruhi penerapan eksperimen[10]. Jenis eksperimen tersebut dapat dikembangkan guna untuk mengatasi permasalahan dalam menentukan kelompok control.
Desain penelitian yang dipilih yaitu pre experimental desain disertai rancangan one grub pre-test post-test design[11]. Penelitian hanya melibatkan satu kelompok saja, tidak disertai kelompok pembanding. Menurut Arikunto[12] (2013:124) dalam desain pre – experimental sering dicap sebagai suatu eksperimen yang tidak sesungguhnya. Desain pre – experimental observasi bisa dilakukan hingga dua kali yaitu sebelum dilakukan eksperimen lalu dilanjutkan sesudah adanya eksperimen. Namun dalam penelitian ini peneliti menggunakan rancangan one grub pre-test post-test design, artinya peneliti hanya akan melakukan treatment sebanyak 1 kali perkiraan sudah memiliki dampak, dilanjutkan dengan tes akhir atau post-tes.
O1 : pre test (dilakukan sebelum diberikan treatment)
X : perlakukan (diberikan pada siswa/siswi dengan menggunakan metode SAS)
O2 : post test (diberikan setelah dilakukan treatment)
Penelitian ini betujuan untuk mengukur pengaruh kemampuan membaca peserta didik pada ranah psikomotorik melalui skema one grub pre-test post-test design. Dalam penelitian kali ini kelompok diberikan post - test saat sesudah diberi treatment pembelajaran berbantuan metode SAS.
Teknik pengumpulan ialah salah satu hal yang penting dalam penelitian. Dalam penelitian ini data yang diambil adalah hasil nilai pre-test dan post-tes dan dokumentasi asli. Untuk soal yang diberikan kepada murid tidak ada perbedaan. Instrumen penelitian berupa soal tes terdiri dari 29 bagian, dimana masing masing bagian terdapat 3 soal tentang membaca permulaan hal ini dilakukan di SD Negeri Lemah Putro 3. Dibawah ini merupakan kisi kisi dari indikator membaca permulaan :
Sebelum membuat soal pretest dan post test peneliti melakukan tes atau uji validitas instrumen. Pengujian validitas instrument dilakukan oleh para ahli yang berkompeten dibidangnya. Peneliti menentukan instrumen yang akan digunakan berdasarkan materi yang diajarkan. Untuk instrumen yang dipakai dalam penelitian ini selain lembar pre test dan post test diantaranya Bahan Ajar, RPP, serta media yang akan dipakai. Mengenai instrumen yang dipakai guna mengukur efektifitas kegiatan belajar mengajar dilakukan melalui perbandingan antara instrumen yang dirancang dengan instrumen yang sudah ada lebih dulu[13]. Sehingga data yang diperoleh benar benar valid.
Sebelum melakukan hipotesis, peneliti menghitung normalitas data penelitian dengan menggunakan uji normalitas data. Dalam hal itu peguji memilih memakai alat bantu SPSS 26 untuk menghitung normalitas data. Sebab melalui Ujii normalitas dilakukan untuk mengetahui hasil apakah berdistribusi normal pada test yang dilakukan. Ada dua kemungkinan dalam pengujian hipotesis ini, yaitu
a. Hipotesis Nol (HO) : tidak adanya pengaruh metode SAS terhadap kemampuian membaca permulaan pada peserta didik kelas 2 SD.
b. Hipotesis alternatif (Ha) : adanya pengaruh metode SAS terhadap kemammpuan membaca permulaan pada peserta didik kelas 2 SD. [14]
Penelitian yang dilaksanakan pada tanggal 22 Mei hingga 23 Mei 2025 ini diawali dengan observasi pada kelas rendah. Tujuannya ialah untuk mengobservasi sasaran subjek dan melihat keadaan kelas, serta menentukan pokok materi yang akan dipilih, yakni kemampuan membaca permulaan. Jumlah siswa 16 peserta didik yang terdiri atas 9 siswa juga 7 siswi.
Pada penelitian kali ini, peneliti langsung memberikan pretest guna mengetahui kemampuan awal membaca peserta didik. Setelah melakukan pretest peneliti memberikan perlakuan pembelajaran menggunakan metode Structural Analitik Sintesis hingga akhir pembelajaran peserta didik diberikan lembar post test. Hal ini harus dilakukan oleh peneliti supaya memahami tingkat peningkatan kemampuan membaca permulaan siswa/siswi digunakan test membaca satu per satu berdasarkan instrument penilaian.
Berdasarkan gambar 2 didapatkan data nilai pretest dan post test. Nilai pre test berfungi guna memahami kemampuan murid sebelum diberikan treatment menggunakan metode SAS. Sedangkan post test berfungsi untuk mengetahu peningkatan hasil yang diperoleh murid setelah diberikan treatment. Dapat diketahui bahwa data nilai pretest yang dihasilkan terendah ada di angka 50 serta nilai tertinggi di angka 100. Sedangkan untuk postest yang berfungsi untuk mengetahui hasil yang diperoleh siswa setelah adanya perlakuan menggunakan metode SAS nilai terendahnya 80 dan nilai tertinggi adalah 100 sehingga diperoleh nilai rerata untuk pretest 80,4 dan nilai rerata post test 92,5.
Figure 1. Presentase hasil pretest dan post-test siswa
Uji normalitas data dilaksanakan demi mengerti apakah data nilai pretes dan postes berdistribusi normal atau tidak. Sebab syarat pengujian hipotesis menggunakan uji paired sample T-test data harus berdistribusi normal. Dalam penghitungan Uji Normalitas data ini peneliti menggunakan alat bantu SPSS 26. Data akan dinyatakan berdistribusi normal jika nilai sig > 0,05. Namun jika data yang diperoleh bernilai sig. <0,05 maka data dinyatakan tidak berdistribusi normal.
Uji hipotesis dilaksanakan guna mengetahui ada/tidaknya pengaruh. Adapun ketentuan dalam mengambil kesimpulan dalam hipotesis mengunakan SPSS 26 diantaranya :
Berikut ialah hasil perhitungan uji hipotesis dengan menggunakan SPSS 26
Berdasarkan tabel diatas, didapat t hitung = -4,610 sedangkan t tabel 1,761. Sehingga (-4,610 > 1,761) dalam artian t hitung lebih dari t tabel maka dapat diputuskan bahwa H0 ditolak serta Ha diterima. Maka pembelajaran menggunakan metode SAS menunjukkan adanya perbedaan. Hal ini dapat ditunjukkan dari adanya pengaruh metode SAS terhadap kemampuan membaca di Sekolah Dasar kelas II.
Untuk menjawab rumusan masalah adakah pengaruh yang dihasilkan tentang menggunakan metode SAS dalam membaca permulaan di SD Kelas II. Metode SAS memiliki pengaruh dalam mengangkat kemampuan membaca peserta didik kelas 2 yang berjumlah 16 anak. Pembelajaran membaca permulaan dengan metode Sruktur Analisis Sintesis diharapkan bisa menolong siswa selama proses pembelajaran dalam kelas, jadi tujuan pembelajaran yang akan dicapai dapat diwujudkan.[6] Sebelum menggunakan metode SAS dapati beberapa siswa kesulitan dalam membaca. Peserta didik hanya bisa mengeja dan cenderung menghafal pada kehidupan disekelilingnya. Kebanyakan dialami oleh peserta didik laki laki. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan cara berpikir yang berbeda antara pria dan wanita . Ada peserta didik yang tidak bisa membaca kalimat yang sudah diberikan. Pada saat penelitian berlangsung, awalnya peserta didik terlihat tidak semangat dalam menerima pembelajaran. Namun, setelah diberikan treatment, peserta didik juga didapati sangat antusias untuk belajar sebab peneliti memakai metode yang sesuai sehingga menarik minat peserta didik dalam kegiatan membaca. Setelah diberikan perlakuan menggunakan metode SAS dengan bantuan media flashcard peserta didik yang awalnya kesulitan dalam membaca jadi lebih lancar dalam membaca. Data nilai terendah setelah diberikan perlakuan metode SAS dengan bantuan media flashcard nilai yang diperoleh 80dan nilai tertingginya 100 dengan rerata 92,5. Hasil analisis penghitungan uji nrmalitas data SPSS 26 menyatakan bahwa pretest dan posttest siswa/siswi berdistribusi normal. Sebagaimana hasil pengujian SPSS 26 didapatkan nilai sig. > 0,05 di kolom shapiroWilk. Melalui hasil tersebut maka diambil kesimpulan bahwa data nilai Pretest dan Posttest berdistribusi normal keduanya. Analisis data yang terakhir ialah analisis penghitungan uji hipotesis data dengan bantuan SPSS 26. Dari hasil hitung diperoleh t hitung -4,610. Nilai degree of feedom (derajat kebebasan) sebesar 15. Jika melihat nilai t tabel 1,761 dengan nilai t hitung -4,610 maka H0 ditolak dan Ha diterima.
Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan, bisa diambil kesimpulkan dengan belajar membaca permulaan melalui metode SAS di kelas 2 SDN Lemah Putro 3 sudah dilaksanakan dengan lancar. Kemampuan membaca permulaan pada kelas 2 sebelum menggunakan metode SAS dapat dikatakan kurang, dibuktikan dengan hasil rata rata nilai sebesar 80,4. Dari indikator kognitif (kemampuan), siswi kelas 2b tergolong sudah mahir, dibktikan dari hasil pre test peserta didik perempuan tidak ada yang memperoleh nilai KKM atau bahkan dibawahnya. Sedangkan untuk peserta didik laki laki, masih banyak yang membutuhan bimbingan lagi. Selain itu, hasil aktivitas membaca siswa dengan intonasi, ketepatan, pelafalan huruf dan kelancaran membaca juga masih kurang. Namun, setelah menggunakan metode SAS perolehan score rata rata siswa/siswi naik menjadi 92,5. Untuk intonasi suara, ketepatan, pelafalan huruf dan kelancaran membaca juga sudah bagus.
Pembelajaran dengan metode SAS ini dapat memberi peningkatan keaktifan siswa/siswi, meningkatkan interaksi antar peserta didik dengan guru. Yang lebih utama dapat meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap kemampuan membaca permulaan tingkat sekolah dasar. Guru harus memberikan dorongan berupa motivasi untuk anak yang dianggap kurang mampu membaca supaya semangat melatih membaca. Dengan menggunakan metode SAS yang diberikan guru dengan menggunakan bantuan media kartu huruf dan kartu kata diharapkan akan meningkatkan kemampuan membaca peserta didik.
[1] F. M. Fadul, “Keterampilan Proses IPA,” 2019, pp. 10–31.
[2] B. A. B. II, “Membaca,” 2009, pp. 10–42.
[3] N. Hasyim, “Pengaruh Penerapan Metode Struktural Analitik Sintetik (SAS) Terhadap Kemampuan Membaca Permulaan Siswa Kelas I SD Negeri 167 Kasuso Kecamatan Bontobahari Kabupaten Bulukumba,” Skripsi, 2017.
[4] S. Hasibuan, “Penggunaan Metode SAS Dalam Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Pada Siswa Kelas I SDN 106162 Medan Estate,” School Education Journal PGSD FIP Unimed, vol. 9, no. 2, pp. 184–190, 2019, doi: 10.24114/sejpgsd.v9i2.13712.
[5] S. Hayyah, “Pengembangan Instrumen Asesmen Membaca Permulaan Bagi Anak Tunarungu,” Universitas Pendidikan Indonesia Repository, 2020, pp. 121–202.
[6] Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, “Risalah Kebijakan: Literasi di Indonesia,” Apr. 2021.
[7] M. F. N. Anwar, A. A. Wicaksono, and A. T. Pangambang, “Penggunaan Metode SAS Berbantuan Media Kartu Huruf untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Permulaan,” Musamus Journal of Primary Education, vol. 5, no. 1, pp. 57–64, 2022, doi: 10.35724/musjpe.v5i1.4367.
[8] D. Arirupani, “Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Dengan Menggunakan Metode SAS Berbantuan Media PowerPoint Interaktif Siswa Kelas 1 MIS Lamgugob Banda Aceh,” Skripsi, 2024.
[9] Anonymous, “Untitled,” n.d.
[10] B. A. B. III, “Contoh Bab 3 Kuantitatif,” 2010, pp. 43–58.
[11] A. Silfiyah, S. Ghufron, M. Ibrahim, and P. Mariati, “Volume 5 Nomor 5 Tahun 2021 Halaman 3142–3149,” 2021, vol. 5, no. 5, pp. 3142–3149.
[12] B. A. B. III, “Pembelajaran Seni Tari Sebagai Media Penanaman Nilai-Nilai Sosial Pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 15 Bandung,” Universitas Pendidikan Indonesia Repository, 2015, pp. 30–41.
[13] D. Setiawan, “Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Dengan Menggunakan Metode Global Pada Peserta Didik Kelas I MIN 08 Bandar Lampung,” Skripsi, 2019.
[14] N. F. Rahma and K. Wachidah, “Pengaruh Media Pembelajaran Flash Card Terhadap Kemampuan Membaca Permulaan Siswa Kelas 1 SDN Sawocangkring,” 2016, pp. 1–6.
[15] D. Larashinta, “Penerapan Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik) Pada Pembelajaran Membaca Permulaan Siswa Kelas 1 MI Ma’arif NU Sokawera Padamara Purbalingga Tahun Pelajaran 2017/2018,” Skripsi, 2018, p. 109.
[16] M. L. Arifin, L. H. Khotimah, and M. Mahmudin, “Analisis Pemahaman Literal Siswa Perspektif Gender,” Jurnal Papeda: Jurnal Publikasi Pendidikan Dasar, vol. 5, no. 1, pp. 45–53, 2023, doi: 10.36232/jurnalpendidikandasar.v5i1.3305.