Login
Section Communication

Critical Discourse Reveals Educational System Problems in Indonesian Podcast

Diskusi Kritis Mengungkap Permasalahan Sistem Pendidikan di Podcast Indonesia
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Nick Samudra (1), Poppy Febriana (2)

(1) Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, , Indonesia
(2) Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, , Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Digital media, particularly podcasts, have become important platforms for public discussion and educational discourse. Specific Background: The podcast “Guru Gembul Bongkar Sistem Pendidikan Indonesia, Anak Sekolah Trauma Belajar!” on Tom Mc Ifle’s YouTube channel presents criticism of structural problems in Indonesian education, including formal schooling and parental roles. Knowledge Gap: Limited studies examine educational criticism in podcast media using Teun A. van Dijk’s discourse analysis covering textual, social cognition, and social context dimensions. Aims: This study analyzes educational criticism presented in the podcast using Van Dijk’s discourse framework. Results: The analysis identifies macro, superstructure, and micro textual elements, including themes, structural organization, background, intention, coherence, lexicon, and metaphor, which portray educational practices as restricting student potential and contributing to learning trauma. Social cognition analysis shows media narratives shaping public understanding, while social context findings indicate that the creator’s popularity supports wider public awareness of educational issues. Novelty: This research applies Van Dijk’s multidimensional discourse model to examine educational criticism in Indonesian podcast media. Implications: The findings demonstrate that podcasts function as discursive platforms that encourage public reflection on educational practices and highlight the role of parental support in developing children’s natural abilities.


Highlights:



  • Multi-Layer Discourse Structure Demonstrates Narratives Describing Limitations Within Current Schooling Practices.

  • Social Cognition Dimension Shows Media Storytelling Shaping Public Understanding of Student Learning Experiences.

  • Social Context Dimension Reveals Wide Audience Reach Supporting Dissemination of Educational Reform Narratives.


Keywords: Critical Discourse Analysis, Podcast Media, Indonesian Education System, Teun A. Van Dijk, Educational Criticism

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Zaman ini perkembangan media digital telah mengalami kemajuan yang signifikan. Media digital merupakan patform yang memungkinkan individu untuk berbagi informasi dengan mudah kepada orang lain secara efektif tanpa harus bertatap muka. Kemudahan ini didukung dengan adanya ketersediaan akses internet yang luas. Sehingga semua orang dapat dengan leluasa menyebarkan berbagai jenis informasi pemberitaan maupun konten pada patform digital. Informasi ini pada media digital berupa tulisan atau video [1]. Teknologi pada media digital merupakan suatu kebutuhan dalam proses pengelolaan data, yang meliputi pengambilan, pemrosesan, dan penyimpanan data dengan metode-metode yang memastikan akurasi, ketepatan, dan kebenaran informasi yang dihasilkan [2].

Media baru merupakan sebuah konsep yang merujuk pada platform-platform komunikasi digital yang muncul sebagai hasil dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Karakteristik media baru mencakup partisipasi aktif pengguna, konten yang mudah di akses secara berkala. Masa transisi media lama ke media baru seperti saat ini menyediakan ruang interaksi digital yang memungkinkan individu untuk mencari sebuah informasi [3]. Minat terhadap media baru sebagai sumber informasi mengalami peningkatan yang sangat tinggi. Masyarakat zaman sekarang cenderung mengakses patform daring sebagai cara dalam mengakses berita dan informasi. Saat ini kita dapat mengamati dan merasakan kemajuan dalam media baru, terutama dalam munculnya berbagai aplikasi yang mendukung pencarian informasi serta pembelajaran daring (jarak jauh), seperti Google, Gmeet, Zoom, YouTube, dan sebagainya [4].

YouTube sebagai salah satu sarana berbagi video online dengan beberapa fasilitas yang bisa mempermudah pengguna untuk mencari video ataupun mengupload video yang bisa diakses oleh masyarakat di berbagai belahan dunia [5]. Cukup dengan menggunakan smartphone dan koneksi internet pengguna dapat mengaksesnya dengan mudah. YouTube mampu menyajikan konten informatif yang disesuaikan dengan preferensi pengguna, meningkatkan pengalaman belajar dan penemuan informasi yang relevan. Dalam hal ini, YouTube tidak hanya menjadi patform hiburan, tetapi juga menjadi sarana informasi dan edukasi dalam bentuk konten vidio seperti Podcast dan YouTube Short yang sangat berpengaruh dalam memfasilitasi pengetahuan di era digital ini.

Berbagai platform seperti YouTube, Spotify, Google Podcast, Apple Podcast Judul dan lainnya. Podcast sangat diminati oleh masyarakat karena memberikan kesempatan bagi para pendengar untuk mengakses berbagai macam informasi, wawasan, hiburan, dan pengetahuan dengan fleksibilitas waktu yang tinggi, sesuai dengan keinginan dan jadwal mereka. Dengan demikian, podcast memperluas spektrum media yang tersedia untuk mendukung kebutuhan informasi dan hiburan masyarakat modern serta menciptakan ruang bagi berbagai pihak untuk berkontribusi dalam ranah produksi konten audio secara lebih inklusif. Secara singkat, Podcast merupakan suatu medium digital yang memfasilitasi proses distribusi, penerimaan, dan konsumsi konten audio yang bisa di akses kapanpun [6]. Konten audio podcast ini dapat meliputi beragam topik yang diproduksi oleh individu yang professional dalam bidangnya maupun individu yang berpartisipasi secara amatir.

Salah satu YouTuber yang menayangkan konten podcast pada kanal YouTube nya adalah Tom Mc Ifle. Tom Mc Ifle merupakan seorang pebisnis serta aktif sebagai coach dalam pelatihan bisnis untuk UMKM, Manajemen perubahan dalam hal yang berkaitan dengan bisnis. Kemampuan Tom Mc Ifle dalam melakukan pelatihan selama 17 tahun menjadi inspirasi bagi khalayak luar, yang dapat dibuktikan dalam kanal YouTube pribadi Tom Mc Ifle memiliki 967.000 subscriber. Fenomena tersebut mengindikasikan bahwa Tom Mc Ifle dikenal sebagai sosok berpengaruh bagi masyarakat. Salah satu konten menarik darinya adalah podcast yang diunggah pada 4 Februari 2023 dengan durasi 26 menit 15 detik, membahas sistem pendidikan di Indonesia bersama narasumber Guru Gembul. Video tersebut diberi judul “Guru Gembul Bongkar Sistem Pendidikan Indonesia, Anak Sekolah Trauma Belajar!” dengan total 1 juta penonton.

Guru Gembul adalah individu yang sebelumnya berkecimpung dalam dunia pendidikan sebagai pengajar sejarah di sebuah SMAN di Kota Bandung. Beliau memiliki pengalaman dalam memberikan ilmu pengetahuan kepada siswa selama periode pengabdiannya sebagai guru. Selain itu, beliau juga dikenal sebagai narasumber yang sering diundang untuk berbicara dalam berbagai acara, khususnya yang berkaitan dengan isu-isu pendidikan. Kehadirannya sebagai pembicara seringkali menjadi daya tarik karena wawasan dan pemahamannya yang mendalam dalam bidang pendidikan.

Pada kanal YouTube Tom Mc Ifle dalam konten podcast “Guru Gembul Bongkar Sistem Pendidikan Indonesia, Anak Sekolah Trauma Belajar!” menjabarkan beberapa nilai aspek pembahasan yang terdapat pada pendidikan baik di dalam ataupun di luar pendidikan indonesia. lingkungan pendidikan di indoneisa dibagi menjadi tiga kategori, dimana terdapat, pendidikan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Pendidikan adalah nama sumber kemajuan suatu bangsa, apabila kualitas penulis 1 pendidikan yang optimal akan berdampak positif pada peningkatan kualitas SDM [7].

Awalan pada podcast ini membahas tentang pertanyaan seputar argumen Apa yang tidak berjalan dengan baik pada sistem sekolah-sekolah di Indonesia?. Banyak yang tidak berjalan dengan baik dengan system yang terdapat pada pendidikan indonesia. Sekolah-sekolah bukannya mengajarkan murid menjadi pintar akan tetapi malah menjadi bodoh. Karena banyak anak yang dijauhkan dari bakat atau kemampuan alamiahnya. Sebagian orang percaya bahwa anak yang berprestasi di sekolah selalu di pandang sukses, sedangkan anak yang memiliki bakat atau kemampuan berbeda di pandang tidak berhasil. Tapi podcast oleh Tom Mc Ifle berpendapat bahwa sistem sekolah tidak sepenuhnya salah, hanya tidak lengkap. Ini berarti bahwa anak-anak dengan kemampuan berbeda sering diabaikan atau didiskriminasi, meskipun mereka mungkin sangat pandai dalam sesuatu di luar sekolah. Pendidikan bukan hanya datang dari sekolah, bisa juga dari keluarga dan masyarakat. Jadi, bentuk pendidikan lain ini juga harus didukung dan dihargai.

Selanjutnya mengenai isu dalam Pendidikan pesantren di indonesia, Pesantren adalah sekolah khusus tempat anak-anak belajar tentang agama Islam. Mereka dulu sangat pandai mengajar orang tentang Islam dan bersikap baik kepada orang lain. Tapi sekarang, banyak hal berubah dan mereka tidak memberikan dampak positif pada masyarakat sebanyak dulu. Sekolah-sekolah ini seharusnya seperti cahaya yang membimbing orang dan membantu mereka menjadi lebih baik. Mereka mengajar siswa tentang Islam dan bagaimana menjadi orang baik. Mereka juga fokus belajar dan belajar lebih banyak tentang agama melalui buku-buku khusus yang berpedoman terhadap al-quran. Akan tetapi, justru sebaliknya fakta yang terjadi di dalam beberapa pesantren di indonesia. Setiap orang yang beragama menganggap bahwa agamanya adalah sakral akan tetapi tertutupi ole kebodohan yang disengaja sehingga muculah pembalikan realita dari yang sakral menjadi tidak sakral dan begitu sebaliknya. Media massa mengungkap setidaknya seminggu sekali bahwa ada kejadian buruk yang terdapat di pesantren yang dianggap salah dan harus diperbaiki tetapi hal tersebut tidak boleh diperbaiki karena dianggap sakral. Adanya pemahaman diatas, banyaknya tindakan intoleransi yang mencoreng keislaman di Tanah Air, melalui berbagai macam gerakan yang mengatasnamakan Islam sehingga menggakibatkan terjadi berbagai tindakan kekerasan sosial. Kekuasaan yang tidak terkendali berpotensi untuk mengalami sifat sewenang-wenang, yang pada akhirnya mengarah pada fenomena penyimpangan [8]. Pada analisis wacana, argumentasi sangat berhubungan dengan pandangan-pandangan masyarakat yang dicirikan oleh relasi-relasi kekuasaan yang tidak setara yang sertamerta dijadikan sebagai sebuah kesepakatan sosial [9].

Pada penelitian sebelumnya, pertama, [10] "Analisis Wacana Kritis Fairclough Pada Pemberitaan Selebriti Di Media Daring" teori yang digguanakn pada penelitian ini yaitu Norman Fairclough dengan tiga dimensi analisis, yaitu mikrostruktural, mesostruktural, dan makrostruktural. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan isi pemberitaan selebriti pada empat media daring, yaitu detik.com, liputan6.com, tempo.co, dan tribunnews.com. Meskipun mengangkat topik yang sama, setiap media menampilkan berita dengan sudut pandang dan pembingkaian berbeda sesuai motivasi serta idealismenya.

Kedua, [11] "Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough dalam Stand-Up Comedy Mamat Alkatiri pada Program "Somasi"." Fairclough menyatakan bahwa praktik diskursus serta kondisi sosial dan kultural berperan dalam membentuk suatu wacana. Hasil analisis menunjukkan bahwa wacana Mamat terkait dengan praktik diskursus yang mencakup organisasi media, respons audiens Somasi, dan konteks sosio-kultural. Hal ini termasuk fenomena somasi di Indonesia sebagai situasi, peran institusi pemerintahan dalam manajemen birokrasi dan pengambilan keputusan, serta tekanan terhadap keleluasaan dalam berekspresi. Wacana yang dilontarkan Mamat mencerminkan semangat political culture dan aspirasi cyberspace untuk demokrasi. Kritik Mamat mengajak masyarakat untuk mengevaluasi keberadaan ruang Publik yang demokrais di era pemerintahan saat ini.

Perbedaan penelitian [10] dan [11] dengan penelitian ini yaitu pada teori yang digunakan. Pada penelitian [10] dan [11] menggunakan teori Norman Fairclough yang membagi analisis wacana dalam tiga dimensi, yaitu teks, praktik wacana, dan praktik sosial-kultural. Sedangkan pada penelitian ini menggunakan teori Teun A.Van Dijk yang berfokus pada dimensi teks yaitu struktur makro, superstruktur, struktur mikro.

Ketiga, [12] meneliti tentang “Representasi Ideologi Dalam Program Indonesia Lawyer Club (Ilc) Tvone Berdasarkan Struktur Mikro Analisis Wacana Kritis Model Teun A. Van Dijk” Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa setiap struktur atau elemen dalam tayangan ILC merepresentasikan ideologi tertentu. Representasi tersebut tampak pada aspek semantik, khususnya melalui latar yang digunakan dalam setiap segmen acara. Hal ini semakin jelas melalui ucapan yang diajukan oleh pembawa acara, Karni Ilyas. Selain itu, ideologi juga terlihat dari penggunaan kalimat yang mengandung hubungan sebab-akibat, penggunaan kata ganti, serta penyampaian narasumber. Dalam konteks islamofobia, ideologi stilistik tergambar melalui pernyataan bahwa terdapat individu atau kelompok yang bersikap anti-Islam dan berupaya memecah belah bangsa. Sementara itu, representasi ideologi retoris muncul dari ekspresi para narasumber, baik saat bersikap santai, fokus, maupun ketika terjadi ketegangan dalam diskusi. Untuk menyampaikan ideologinya, para pembicara menggunakan gaya bahasa khas, misalnya melalui metafora seperti granat asap, islamofobia, dan kasus belling/selebriti.”

Keempat, [13] meneliti tentang “Analisis Wacana Kritis Dalam Film Budi Pekerti” menggunakan metode analisis wacana kritis dengan perspektif model dari Teun A.Van Dijk. Menyatakan dalam film Budi Pekerti, terdapat struktur makro yang menyoroti problematika media sosial. Superstruktur film ini menampilkan alur konflik dengan terstruktur baik. Struktur mikro film ini fokus pada interaksi antara pembuat konten dan penonton di media sosial. Melalui analisis wacana kritis, kita dapat mengidentifikasi pesan yang disampaikan dalam film Budi Pekerti.

Terdapat Perbedaan penelitian [12] dan [13] dengan penelitian ini. Pada penelitian [12] objek yang diteliti yaitu Talk Show TV, dan pada penelitian [13] objek yang diteliti yaitu film. Sedangkan pada penelitian ini objek yang digunakan untuk penelitian yaitu podcast dari YouTube yang termasuk dalam media baru.

Oleh karena itu, berdasarkan fenomena-fenomena diatas dengan melalui pendekatan analisis wacana kritis, penelitian ini memiliki tujuan untuk mendeskripsikan wacana serta mengekplorasi isi - isi yang berkaitan dengan ideologi, identitas, serta isu - isu tersebut dalam transkrip teks pada podcast Tom Mc Ifle yang berjudul “Guru Gembul Bongkar Sistem Pendidikan Indonesia, Anak Sekolah Trauma Belajar!”. Penelitian ini bertitik fokus pada analisis dimensi teks menggunakan model Teun A.Van Dijk..

Metode

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik analisis wacana kritis berdasarkan model Teun A. van Dijk yang berfokus pada analisis dimensi teks pada podcast “Guru Gembul Bongkar Sistem Pendidikan Indonesia, Anak Sekolah Trauma Belajar!”. Teori analisis wacana kritis adalah pendekatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi secara kritis dan mendalam makna serta tujuan yang terdapat dalam suatu wacana [14]. Metode analisis wacana kritis ibarat alat yang membantu kita memahami Judul dan mempelajari teks-teks yang memiliki ketidakadilan, artikel penguasaan kekuasaan, dan ketimpangan. Sehingga Analisis wacana model Van Dijk dalam penelitian ini digunakan untuk menganalisis video dengan tahapan percakapan dalam video ditranskrip ke dalam teks lalu digolongkan sesuai pada elemen dimensi teks. Eriyanto dalam [15] menjelaskan menurut Van Dijk, analisis wacana mencakup tiga dimensi teks. Pertama, struktur makro yang menunjukkan makna utama atau keseluruhan isi teks. Kedua, superstruktur yang menggambarkan kerangka atau susunan teks secara utuh. Ketiga, struktur mikro yang menelaah makna detail pada bagian-bagian kecil teks serta hubungannya dengan proses produksi wacana melalui kognisi sosial. Selain itu, pada dimensi konteks sosial, analisis Van Dijk menitikberatkan pada dua aspek utama, yakni penggunaan kekuasaan dan akses yang berperan dalam terbentuknya suatu wacana.

Sumber data pada penelitian ini diambil dari podcast Tom Mc Ifle dengan judul “Guru Gembul Bongkar Sistem Pendidikan Indonesia, Anak Sekolah Trauma Belajar!” yang di publikasi pada kanal YouTube Tom Mc Ifle tanggal 4 Mei 2023 dalam durasi 26 menit 15 detik. Pada penelitian ini, data diambil dari durasi menit 01:50 hingga 26:15. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik catat, yaitu mencatat seluruh interaksi verbal yang muncul selama podcast. Dialog yang terekam kemudian ditranskrip menjadi teks, sehingga memudahkan proses analisis. Selanjutnya, hasil transkrip dikelompokkan sesuai dengan tujuan penelitian.

Hasil dan Pembahasan

A. Analisis Struktur Makro

Elemen topik ditemukan pada struktur makro, dimana terdapat hal-hal yang dibicarakan orang. Topik adalah ide umum yang dibicarakan orang dan bisa mendapatkan banyak perhatian dari publik. Pada struktur ini topik dalam podcast “Guru Gembul nama Bongkar Sistem Pendidikan Indonesia, Anak Sekolah Trauma Belajar” membahas mengenai sistem pendidikan Indonesia. Pembahasan tersebut dibahas oleh Guru Gembul dan Tom Mc Ifle.

B. Analisis Superstruktur

Struktur ini terdiri atas tiga bagian utama, yaitu pendahuluan, isi, dan penutup. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa bagian dalam podcast dapat dimasukkan ke dalam elemen-elemen tersebut. Pada podcast berjudul “Guru Gembul Bongkar Sistem Pendidikan Indonesia, Anak Sekolah Trauma Belajar”, ditemukan data yang termasuk dalam elemen pendahuluan.

Data 1. Pendahuluan, menit ke-02:46

“Banyak yang salah dengan sistem pendidikan indonesia. Sekolah-sekolah bukannya mengajarkan murid menjadi pintar akan tetapi malah menjadi bodoh. Karena banyak anak yang dijauhkan dari bakat atau kemampuan alamiahnya”

Data di atas menunjukkan bahwa sistem pendidikan saat ini masih menitikberatkan pada kecerdasan akademik. Anak yang mampu memahami dan menguasai pelajaran dianggap pintar, sedangkan anak dengan bakat non-akademik tidak memperoleh pengakuan yang sama. Fokus sekolah yang hanya pada teori menyebabkan anak dengan kemampuan berbeda kurang mendapat perhatian, bahkan cenderung terabaikan. Hal ini menjadi dasar dalam pembahasan analisis superstruktur. Berikutnya elemen isi dapat ditemukan data sebagai berikut.

Data 2. Isi, menit ke-04.55

”Setiap anak itu harus dibesarkan sesuai dengan minatnya sesuai dengan kebahagiaannya karena itulah dia akan mencapai sesuatu yang puncak di masa depan.”

Pada penggalan tuturan di atas, setiap anak perlu dibesarkan sesuai dengan kebutuhan dan minatnya, minatnya dalam artian di podcast tersebut yaitu dimana anak harus dibesarkan sesuai bakat alamiahnya agar fokus pada satu bidang yang mereka minati. Pada kenyataannya hasil dari sistem pendidikan di Indonesia dengan kewajiban mempelajari semua pelajaran yang sebenarnya tidak mereka minati Hal tersebut membuat siswa hanya memahami pelajaran tanpa menerapkannya. Dalam pernyataannya, Guru Gendut menegaskan bahwa sistem sekolah saat ini bukanlah keliru, melainkan belum sepenuhnya lengkap.

Data 3. isi, menit ke-19:25

“beragama itu menganggap agamanya itu sesuatu yang sakral wajar kan? Ya, nah wajar tetapi karena logika kita itu tertutupi oleh yang tadi itu kebodohan yang disengaja kita tertutupi oleh kebodohan yang disengaja maka banyak diantara kita itu yang kemudian mengembalikan realitas sesuatu yang disakralkan menjadi tidak sakral sesuatu yang tidak sakral jadi sakral”

Pada penggalan tuturan diatas. Bahwa kenyataannya ada berapa setidaknya media massa yang memberitakan bahwa setidaknya seminggu sekali ada kejadian di pesantren yang buruk-buruk yang dimana kejadian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa di situ Itu ada sesuatu yang harus diperbaiki. Akan tetapi, sesuatu yang harus diperbaiki itu tidak boleh diperbaiki dan tidak boleh disentuh karena dianggap sakral. Dilanjutkan pada elemen penutup ynag dapat ditemuka pada penggalan pernyataan sebagai berikut.

Data 4. Penutup, menit ke-21:33

“MUI Kementerian Agama dan sebagainya susah untuk mengeluarkan izin untuk pesantren misalkan, jadi karena apa ya, karena banyak kasus pencabulan itu artinya pesantren yang beneran juga malah samar”

Terdapat pada penggalan pernyataan di atas yang dikategorikan dalam hasil elemen penutup. Hasil pernyataan ini menjadi penutup pada podcast Tom Mc Ifle yang mengatakan setiap pernyataan-pernyataan yang diutarakan oleh Guru Gendut ataupun Tom Mc Ifle akan memberikan dampak positif kepada orangtua. Dapat disimpulkan dalm podcast ini adalah pembahasan seputar sistem Pendidikan di indonesia yang belum menggunakan sistem pendidikan yang benar dan belum terbarui, Guru Gendut sebsgsi seorang yang telah berpengalaman dalam mengajar dengan sistem pendidikan indonesia ini memberikan wadah anak-anak di indonesia sebagai gambaran bagaimana sistem pendidikan Indonesia yang harus banyak di perbaiki agar anak-anak Indoneisa tidak trauma belajar.

C. Analisis Struktur Mikro

Struktur mikro sendiri mempunyai beberapa elemen. Elemen mikro yang didapatkan pada penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut; terdapat latar peristiwa, latar historis, maksud, praanggapan, koherensi kondisional, leksikon, dan metafora. Data sebagai latar peristiwa sebagai berikut.

Data 5. Latar Peristiwa, menit ke-02:46

“pendidikan anak kecil anak-anak SD dalam bidang pendidikan misalkan sekolah-sekolah kita itu tidak mengajarkan agar mereka itu menjadi pintar Tetapi mengajarkan mereka untuk menjadi bodoh Kok bisa ya, Iya sekolah itu mengajarkan kita untuk menjadi bodoh karena apa? Karena dia dijauhkan dari dari bakat alamiahnya.” merujuk pada konsepsi lokasi, serta konteks sosial di mana permasalahan yang disampaikan terjadi.

Latar peristiwa sebagai landas tumpu yang merujuk pada pengertian konteks sosial dimana permasalahan yang di sampaikan terjadi [16]. Hal ini berkontribusi pada pemahaman kita terhadap lokasi karakter dalam narasi serta alasan di balik interaksi verbal yang mereka lakukan. Pada penggalan pernyataan di atas menjelaskan latar peristiwa pola sistem Pendidikan yang terdapat dalam lingkungan sekolah pada zaman sekarang yang salah. Karena anak-anak dijauhkan dari dari bakat alamiahnya. Siswa yang pandai bidang akademik sekolah dipandang sukses dan sebaliknya siswa lebih condong pada kemampuan (non akademik) dipandang belum sukses. Pada elemen selanjutnya akan menjelakan latar historis. Menurut (Eriyanto, 236) dalam [1] konteks sejarah merupakan factor yang dimanfaatkan dalam menganalisis peristiwa yang tercatat dalam teks transkrip yang berkaitan erat dengan ingatan masyarakat sehingga dapat ditemukan pada data relevan yang termasuk dalam elemen latar historis.

Data 6. Latar Historis, menit ke-01:55

“orang-orang zaman sekarang menganggap saya tuh sok tahu atau gimana, tapi memang sejak awal ini ada sesuatu yang harus dirubah makanya pas saya masuk atau Saya memilih jurusan awalnya saya tuh milih jurusan yang langsung fokus ke pemerintahan gitu. Karena saya pengen mengubah tapi ketika saya masuk ke Guruan ini saya pikir jauh, lebih jauh dan lebih bisa untuk secepatnya mengubah gitu karena saya ada d bi generasi masa depan.”

Dapat dijelaskan Pada penggalan pernyataan di atas bahwa ingatan masa lalu yang di alami Guru Gendut dapat dipahami dengan jelas dikarenakan Guru Gendut pada masa lalu telah merasakan dan berpengalaman langsung pada sistem pendidikan indonesia. Akan tetapi terdapat hal menarik dalam penggalan pernyataan tersebu yang terdapat di bagian “orang-orang zaman sekarang menganggap saya tuh sok tahu atau gimana”. Pernyataan tersebut bisa diartikan sebagai kritikan kepada sistem belajar yang terjadi didalam sistem pendidikan Indonesia pada saat ini. Dimana kenyataanya sistem yang digunakan saat ini masih banyak yang salah sehingga harus diperbaiki, yang dapat mengakibatkan banyak munculnya isu-isu dan masalah yang terjadi pada sistem pendidikan di Indonesia yang membuat anak trauma belajar. Selanjutnya dapat ditemukan data dalam elemen “maksud” yang terdapat pada pernyataan dibawah.

Data 7. Maksud, menit ke-06:50

"sistem pendidikan indonesia menerapakan sistem pendidikan dengan cara langsung diisi dengan materi-materi yang ketika mereka lulus sekolah mereka akan lupakan itu karena nggak penting, nggak penting jadi dijejelin sampai robek pecah makanya siswa di Indonesia ketika SMA/SMP dia sudah trauma belajar makanya yang paling mereka rindukan ketika sekolah itu adalah jam kosong dan jam libur ya itu menunjukkan bahwa apa sebenarnya mereka sangat tidak minat pada pendidikan, sangat tidak minat pada belajar kalau siswa sudah tidak minat pada pendidikan dan belajar apa yang diharapkan "

Elmen maksud adalah hal-hal yang ingin dikomunikasikan oleh seseorang. Terkadang mereka mengatakannya secara langsung, dan terkadang mereka mengisyaratkannya. Jika apa yang mereka katakan bermanfaat, mereka biasanya mengatakannya secara langsung. Pada potongan pernyataan tersebut dapat dijelaskann niat dari argumen yang ingin disampaikan ditujukan sebagai bentuk mengritik sistem pendidikan di Indoneisa menurut Guru Gendut dalam pembicaraan sebelumnya meliputi sistem pendidikan di indonesia yang salah. Dimana sistem pendidikan indonesia menerapakan sistem pendidikan dengan cara langsung di isi dengan materi-materi tanpa memberikan pemahaman dasar intelektual terlebih dahulu. Sebelum penggalan tuturan tersebut, Guru Gendut menjelaskan bahwa anak-anak kecil itu semestinya dilatih terlebih dahulu untuk memiliki kemandirian intelektual sebelum memberikan segudang materi kepada anak-anak tersebut agar tidak trauma belajar. Selanjutnya dapat ditemukan data peda elemen praanggapan yang dapat di lihat dalam penggalan pernyataan berikut.

Data 8. Praanggapan, menit ke-19:01

“saya juga nonton di videonya pak guru kan ada Pesantren, ada percabulan lah, pelecehan lah dan seterusnya itu menurut Pak Guru Gimana tuh ya sekarang ini banyak terjadi dari guru-gurunya malah yang pelakunya”

"makanya gini saya tuh beragama Islam dan saya menganggap bahwa islam itu adalah sesuatu yang sacral, setiap orang yang beragama itu menganggap agamanya itu sesuatu yang sacral wajar kan ya. Nah wajar, tetapi karena logika kita itu tertutupi oleh kebodohan yang disengaja maka banyak diantara kita itu yang kemudian mengembalikan realitas sesuatu yang disakralkan menjadi tidak sakral sesuatu yang tidak sakral jadi sakral"

Eriyanto dalam [1] menjelaskan bahwa elemen praanggapan seperti indikator dalam teks yang berfungsi sebagai panduan untuk memahami maknanya. Pada potongan pernyataan di atas bisa dijabarkan bahwa sistem pendidikan di Indonesia terutama pendidikan pesantren banyak yang salah karena menganggap agamanya adalah sakral akan tetapi tertutupi oleh kebodohan yang disengaja sehingga muculah pembalikan realita dari yang sakral menjadi tidak sakral dan begitu sebaliknya. Sehingga munculah masalah seperti pencabulan dan pelecehan terhadap para santri Selanjutnya terdapat data elemen koherensi kondisional yang bida disimak pada kutipan pernyataan dibawah ini.

Data 9. Koherensi Kondisional, menit ke-07:33

"makanya saya sering bilang misalkan kalau kita nonton liga-liga top Eropa penontonnya itu kebanyakan adalah bapak-bapak dan yang tua-tua gitu. Tapi kalau misalkan kita nontonnya nonton Persib atau Persija di Indonesia kebanyakan itu remaja dan anak-anak, betul kenapa seperti itu? karena orang yang sangat nyandu pada bola itu adalah orang yang stress"

"Eropa bapak-bapaknya nonton bola untuk hilangin stress dari pekerjaan sedangkan di Indonesia para remajanya banyak yang nonton bola karena stress dengan sekolah"

Koherensi kondisional memastikan bahwa alur gagasan dalam teks tetap terstruktur dengan baik dan mudah dipahami oleh pembaca. Eriyanto dalam [1] mengungkapkan bahwa ketika seseorang mencoba menjelaskan sesuatu atau berbagi informasi dengan orang lain, mereka berusaha sebaik mungkin untuk membuatnya jelas dan mudah dipahami. Dapat dilihat terdapat pernyataan di atas yang dimasukan dalam elemen koherensi kondisional pada pernyataan Guru Gembul. Dapat disimpulkan bahwa pernyataan tersebut menggunakan susuna kalimat yang serasi dengan realita sebenarya sekarang terjadi di Indonesia dalam pembicaraan berlangsung yang dilakukan bersama pada podcast Tom Mc Ifle. Selanjutnya ditemukan data yang masuk kedalam elemen leksikon.

Data 10. Leksikon, menit ke-15:53

"karena secara hierarki manusia pecundang itu jauh lebih banyak daripada pemenang betul. Bagaimanapun jadi lebih banyak orang yang berpotensi menjadi pembenci daripada yang tidak, jadi orang yang pecundang itu bisa saja mengompori temannya yang lain"

Dalam analisis teks, elemen leksikon membantu pembaca atau penafsir untuk memahami konteks dan makna yang disampaikan. Elemen leksikon seperti alat khusus yang membantu kita bermain dengan kata-kata dan mengarang cerita seru bersama. Penggalan pernyataan di atas memakai makna konotasi. Penggunaan "hierarki" mempunyai arti "kedudukan" dalam potongan pernyataan di atas dimaksudkan oleh komunikator sesuai dengan pilihan kata. Sehingga dapat memaknai fakta atau realitas dimana bisa dikaitkan dengan pembicaraan yang sedang berlangsung dalam podcast tersebut. Selanjutnya ditemukan data dari elemen metafora.

Data 11. Metafora, menit ke-04:01

"kita bikin sedikit imajinasi Messi lahir di Indonesia, dia bakat luar biasa di bidang bola, kemudian karena dia dibesarkan di Indonesia pas dia lagi latihan futsal di marahin, di jewer dibawa pulang sama mamanya nanti kamu harus belajar matematika dulu, sudah belajar matematika dia ingin main bola lagi terus ditarik lagi mamanya kamu harus belajar bahasa Indonesia dulu dan sebagainya. Akhirnya apa? Matematika, bahasa Indonesia karena dia tidak berbakat di situ dan dia tidak berminat di situ dia tidak akan terlalu menguasainya. Main bola yang dia bakatnya memang di situ itu. Dia tidak akan terasa, karena memang tidak ada latihannya. Akhirnya apa? masa depan dia tidak akan jadi apa-apa!"

Metafora seperti kata atau frasa khusus yang membantu kita memahami apa yang ingin dikatakan seseorang. Mereka membuat kata-kata lebih menarik dan menambah rasa pada cerita atau puisi. Pernyataan tersebut merupakan bagian dari metafora dimana penggunaan kiasan dengan niat memberikan gambaran atau pemikiran pada argumen yang akan disampaikan. Kiasaan tersebut bermakna bahwa setiap individu memiliki bakat, minat, dan potensi yang berbeda. Pernyataan tersebut dimaksudkan agar orang tua maupun guru tidak menyamaratakan kemampuan setiap anak. Dimana pernyataan itu diniatkan memberikan pemahaman kepada orang tua ataupun guru agar tidak menyamakan kemampuan setiap siswa."Sehinggga siswa dapat berkembang sesuai potensinya masing-masing serta mendapatkan dorongan positive dari segala arah untuk mengembangkan bakatnya.

D. Kognisi Sosial

Pada tanggal 27 mei 2023 portal berita investor.id mengunggah artikel yang berjudul "Guru Gembul: Ayo, kita Gerak Bersama-sama untuk Perubahan Dunia Pendidikan" [17]. Artikel tersebut menjelaskan bahwa Guru Gembul mengkritik sistem pendidikan di Indonesia dan menilai kritik itu dapat menjadi dorongan untuk perubahan. Ia mengajak semua pihak bekerja sama memperbaiki kondisi pendidikan. Menurut Guru Gembul, dunia pendidikan kerap dijadikan ajang kepentingan politik dan transaksi karena anggarannya yang besar, sehingga memunculkan perebutan berbagai pihak. Artikel itu juga menegaskan bahwa topik mengenai lemahnya sistem pendidikan diangkat oleh Tom Mc Ifle bersama Guru Gembul melalui podcast sebagai upaya menyuarakan perlunya perbaikan.

E. Konteks Sosial

Analisis Teun A. van Dijk juga memberikan perhatian khusus pada aspek akses yang memengaruhi produksi dan distribusi wacana. Van Dijk berpendapat bahwa kelompok elit cenderung memiliki akses yang lebih luas dan lebih mudah terhadap sumber daya serta saluran komunikasi dibandingkan dengan kelompok yang tidak memiliki kekuasaan. Hal ini berarti bahwa kelompok elit memiliki kemampuan yang lebih besar untuk mempengaruhi dan membentuk opini publik serta narasi dominan dalam masyarakat. Sebaliknya, kelompok yang tidak berkuasa sering kali mengalami keterbatasan akses yang menghalangi mereka untuk menyuarakan pandangan dan kepentingan mereka secara efektif. Tom Mc Ifle menggunakan kanal YouTube pribadinya sebagai sarana penyebaran informasi melalui video podcast. Dengan jumlah pelanggan mencapai 992.000, ia memiliki akses yang luas untuk menjangkau masyarakat. Popularitas serta pengaruh besar dari kanal tersebut memberinya peluang dalam membentuk dan mengarahkan kesadaran publik secara efektif.

Simpulan

kesimpulan yang didapatkan dalam penelitihan pada podcast Tom Mc Ifle ini dapat ditemukan elemen menggunakan teori analisis model Teun A. Van Dijk pada dimensi teks yaitu struktur makro yang terdapat pada elemen judul berisi “Guru Gembul Bongkar Sistem Pendidikan Indonesia, Anak Sekolah Trauma Belajar” dan elemen topik yang digunakan adalah pandangan Guru Gembul terhadap sistem pendidikan di Indonesia, selanjutnya didalam superstruktur dapat ditemukan hasil dimana adanya beberapa elemen seperti pendahuluan, isi, dan penutup. Dan yang terakhir pada struktur mikro dimana terdapat elemen Latar Peristiwa, Latar Historis, Maksud, Praanggapan, Koherensi kondisional, Leksikon serta yang terakhir yaitu Metafora. Pada elemen kognisi sosial ditemukan prtal berita investor.id yang mengunggah artikel mengenai kritik Guru Gembul dalam mengajak semua pihak untuk mendorong perubahan sistem pendidikan di indonesia. Pada konteks sosial menjelaskan titik akses yang memengaruhi wacana di mana popularitas yang dimiliki Tom Mc Ifle Saat ini, pandangan publik terhadap wacana atau podcast dapat dipengaruhi secara langsung. Melalui kanal YouTube-nya, Tom Mc Ifle memiliki akses luas yang memungkinkannya membentuk kesadaran masyarakat terkait isu pendidikan yang ia sampaikan. Simpulan dari podcast ini adalah pembahasan mengenai sistem pendidikan di indonesia yang masih banyak kesalahan dan perlu diperbaiki, Guru Gembul selaku seorang guru yang telah berpengalaman dan mengetahui lebih dalam bagaimana keburukan sistem pendididkan di Indonesia yang harus segera diperbaiki dan memberikan wadah kepada anak-anak bagaiaman gambaran sistem pendidikan di Indonesia baik itu pendidikan formal maupun pesantren serta pentingnya orangtua dalam mengembangkan bakat alamiah setiap anak. dan pernyataan-pernyataan Tom Mc Ifle mengenal sistem pendidikan di Indonesia menjadi hiasan tersendiri pada tayangan podcast You Tube tersebut.

Ucapan Terima Kasih

Peneliti menyampaikan apresiasi yang tulus kepada seluruh pihak yang telah mendukung serta berperan dalam pelaksanaan penelitian ini. Peneliti juga menghargai kesempatan untuk menuangkan gagasan melalui publikasi pada jurnal ilmiah. Secara khusus, Peneliti menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Poppy Febriana selaku dosen pembimbing. Beliau telah berperan penting dalam memberikan arahan, masukan, serta bimbingan yang sangat berharga dan bersifat membangun. Dukungan tersebut menjadi pedoman yang mendasar bagi penulis, baik dalam tahap penyusunan maupun pelaksanaan penelitian ini, sehingga penelitian dapat terselesaikan dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan.

References

S. Melinda, I. Fathurohman, and Ristiyani, “Analisis Wacana Kritis Pada Podcast ‘Kita Yang Bodoh Atau Sekolah Yang Bodoh,’” CaLLs (Journal Cult. Arts, Lit. Linguist., vol. 7, no. 2, p. 175, 2021, doi: 10.30872/calls.v7i2.6183.

M. S. Y. Dhiu and I. P. X, “Manfaat Media Digital Bagi Katekis Sebagai Sarana Berkatekese Kepada Kaum Muda,” Sinar Kasih J. Pendidik. Agama dan Filsafat, vol. 2, no. 1, pp. 162–174, 2024.

I. R. Putri and E. Pratiwi, “Aktivisme digital dan pemanfaatan media baru sebagai pendekatan pemberdayaan masyarakat atas isu lingkungan,” Bricol. J. Magister Ilmu Komun., vol. 8, no. 2, p. 231, 2022, doi: 10.30813/bricolage.v8i2.3303.

E. Y. Turnip and C. Siahaan, “Etika Berkomunikasi dalam Era Media Digital,” J. Ekon. Sos. Hum., vol. 3, no. 4, pp. 1–8, 2021, [Online]. Available: https://www.jurnalintelektiva.com/index.php/jurnal/article/view/659

Asror, A. Ghoni, E. Putri, and kamalin naufi Hidayah, “Analisis Wacana Kritis ‘Angkat Semen Sampai Sakit Dibayar 600 Rupiah Buat Kuliah’ pada Podcast Close The Door Deddy Corbuzier Abdul,” Pros. Semin. Nas. Adm. Pendidik. …, pp. 770–782, 2023.

Septarina, “Studi Fenomenologi Penggunaan Podcast Sebagai Media Sarana Informasi Pada Prokopim Kota Bandung,” J. Ilm., no. 1, p. 19, 2021.

D. Damayanti, “Bagaimana Sistem Pendidikan Di Indonesia Dan Berbagai Problematika Nya,” pp. 1–7, 2023, [Online]. Available: http://dx.doi.org/10.31237/osf.io/jtrxy

M. A. Yogia, R. Imam, A. Hafis, D. Moris, and A. Yogia, “Abuse of Power: Tinjauan Terhadap Penyalahgunaan Kekuasaan Oleh Pejabat Publik Di Indonesia,” Raden Imam Al Hafis PUBLIKa, vol. 3, no. 1, pp. 80–88, 2017.

I. N. Yasa, Teori Analisis Wacana Kritis, no. December 2021. 2021. [Online]. Available: https://www.researchgate.net/publication/370214785%0Ahttps://123dok.com/article/teori-analisis-wacana-kritis-nourman-fairclough.dzx1gkdy

R. C. Cenderamata and N. Darmayanti, “Analisis Wacana Kritis Fairclough Pada Pemberitaan Selebriti Di Media Daring,” J. Literasi, vol. 3, no. 1, pp. 1–7, 2019.

N. W. D. Sasmitha, “Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough dalam Stand-Up Comedy Mamat Alkatiri pada Program ‘Somasi,’” Polit. J. Polit. dan Pemerintah., vol. 3, no. 1, pp. 44–58, 2023, doi: 10.22225/politicos.3.1.2023.44-58.

M. Kasir and M. Harun, “REPRESENTATION OF IDEOLOGY IN INDONESIAN PROGRAMS LAWYER CLUB (ILC) tvOne BASED ON MICROSTRUCTURE ANALYSIS OF CRITICAL DISCOURSE MODEL TEUN A. VAN DIJK,” J. Kata, vol. 5, no. 1, pp. 133–148, 2021, doi: 10.22216/kata.v5i1.58.

Mulyana and R. zamzam Listiyapinto, “Analisis Wacana Kritis dalam Film Budi Pekerti,” WACANA J. Bahasa, Seni, dan Pengajaran, vol. 8, no. 1, pp. 11–17, 2024.

D. N. Veronica and A. Pramitasari, “Analisis Wacana Kritis Pendekatan Teun A. Van Dijk Pada Pemberitaan ‘Pentingnya Transformasi Digital Bidang Pendidikan untuk Anak Indonesia’ Detik.com dan Implikasinya dalam Pembelajaran Menulis Berita di SMP,” Pros. Konf. Ilm. Pendidik., vol. 4, pp. 226–235, 2023.

D. D. B. Asih, “ANALISIS WACANA ‘KITA YANG BODOH ATAU SEKOLAH YANG BODOH? (KAK SETO)’ DI PODCAST DEDDY CORBUZIER (Analisis Wacana Kritis Model Teun A. Van Dijk),” 2022.

R. Manullang, “ANALISIS LATAR CERITA DALAM NOVEL SENJA YANG TAK TERGANTIKAN KARYA RAHMA YUNIARSIH SKRIPSI Diajukan Sebagai Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia,” 2021.

S. Wijaya, “Guru Gembul : Ayo , Kita Gerak Bersama-sama untuk Perubahan Dunia Pendidikan.” [Online]. Available: https://investor.id/national/330638/guru-gembul-ayo-kita-gerak-bersamasama-untuk-perubahan-dunia-pendidikan