Login
Section Education

Multiple Choice Item Analysis in Indonesian Language Under Merdeka Curriculum

Analisis Soal Pilihan Ganda dalam Bahasa Indonesia Berdasarkan Kurikulum Merdeka
Vol. 10 No. 1 (2025): June:

Nafiatuz Zukhruffah (1), Ahmad Nurefendi Fradana (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Rapid developments in science and technology require continuous innovation in Indonesia’s education system, including the implementation of the Merdeka Curriculum, which emphasizes flexible learning and competency-based assessment. Specific Background: In elementary education, multiple-choice tests in Indonesian language subjects play a crucial role in evaluating students’ comprehension, communication skills, and language structure mastery. Knowledge Gap: However, the quality of test items often varies, and systematic qualitative analysis of item characteristics aligned with the Merdeka Curriculum remains limited. Aims: This study aims to analyze the characteristics and quality of Indonesian language multiple-choice items for fifth-grade elementary students within the Merdeka Curriculum framework. Results: Using a qualitative phenomenological approach through questionnaires and teacher interviews, the findings indicate that most items generally function adequately but require minor revisions to improve validity, reliability, difficulty balance, discrimination power, and distractor performance, while clearer language and alignment with learning objectives are essential. Novelty: The study provides a comprehensive qualitative examination integrating cognitive level analysis, construction, language clarity, and alignment with the Pancasila Student Profile within a real school context. Implications: The results suggest that careful item construction and systematic analysis can produce more representative assessment instruments that measure students’ competencies holistically and support curriculum goals.


Highlights:




  • Most questions were acceptable but needed refinement to meet measurement standards.




  • Language clarity and alignment with learning objectives were critical issues identified.




  • Cognitive level distribution indicated the need for more higher-order thinking tasks.




Keywords:
Merdeka Curriculum; Multiple Choice Test; Item Analysis; Indonesian Language Education; Elementary Assessment

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat menuntut sistem pendidikan Indonesia untuk terus berinovasi dalam mencetak generasi unggul. Salah satu upaya nyata adalah penerapan Kurikulum Merdeka yang mengutamakan kemerdekaan dan fleksibilitas belajar bagi siswa. Kurikulum disebut juga tahapan suatu penetapan tujuan yang mencakup beberapa komponen. Tujuan pembelajaran meliputi beberapa aspek yang diantaranya yaitu aspek kebutuhan, Tujuan pembelajaran mencakup aspek kebutuhan, pemilihan materi dan metode pembelajaran, pengembangan materi aktivitas pembelajaran serta evaluasi hasil belajar yang disusun dengan mempertimbangkan perkembangan karakteristik peserta didik yang telah disesuaikan dengan karakternya [1]. Tujuan dari kurikulum ini menunjukkan bahwa terdapat ketentuan dalam perencanaan pembelajaran yang ada kaitannya dengan tujuan, isi, bahan ataupun materi pembelajaran, serta cara penggunaannya, oleh sebab itu tujuan dari kurikulum ini terbilang cukup penting dalam proses mencapai tujuan kurikulum. Yang artinya yaitu dengan adanya kurikulum pendidik dapat membentuk sebuah proses pengembangan karakter terhadap peserta didik. Indikator kurikulum merdeka di sekolah yaitu meliputi penerapan kurikulum, karakteristik kurikulum merdeka, rencana dan implementasi, evaluasi program, struktur kurikulum merdeka dan modul ajar, penilaian intrakulikuler, asesmen nasional, akses buku ajar [2].

Kurikukum merdeka belajar ini disusun dengan tujuan agar mampu mencapai visi pada tahun 2030. Kategori tersebut mencakup lima negara dengan tingkat perekonomian tinggi,pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, serat pemerataan kualitas hidup masyarakat modern di berbagai wilayah Indonesia [3]. Salah satu mata pelajaran yang akan diujikan dalam soal pilihan ganda ialah mata pelajaran bahasa Indonesia. Mata pelajaran bahasa Indonesia adalah salah satu materi yang penting ada di setiap jenjang termasuk jenjang sekolah dasar. bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa yang telah digunakan dalam berkomunikasi untuk kehidupan sehari-hari dikarenakan bahasa Indonesia merupakan nasional. Dalam proses evaluasi pendidikan khususnya jenjang sekolah dasar mempunyai peran penting dalam mengukur Tingkat kemampuan peserta didik. Salah satu cara untuk mengetahui kemampuan peserta didik adalah dengan menggunakan evaluasi umum dengan menggunakan soal pilihan ganda. Pada mata pelajaran sekolah dasar khususnya mata pelajaran bahasa Indonesia akan dibentuk struktur soal bahasa Indonesia yang meliputi aspek dalam kemampuan Bahasa, di mulai dari pemahaman bacaan, kemampuan berkomunikasi, serta pemahaman struktur Bahasa [4].

Selain sebagai memiliki peran penting dalam proses penyusunan dan analisis butir soal. Sebagai pengajar, guru harus memastikan bahwa soal-soal yang disusun tidak hanya sekedar menguji kemampuan menghafal peserta didik, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, analitis, dan aplikatif. Analisis butir soal membantu guru untuk memperbaiki kualitas soal yang disusun dan, pada akhirnya, meningkatkan efektivitas pembelajaran. Rumusan asas, yang berisi prinsip-prinsip jelas yang digunakan sebagai dasar atau dasar untuk menyusun soal, disebut sebagai penyusunan soal. Salah satu tujuan dari prosedur penyusunan soal adalah untuk memastikan bahwa soal memiliki mutu yang baik sehingga mampu melakukan fungsi pengukurannya dengan tepat untuk mengukur apa yang ingin diukur. Tes dan soal harus benar-benar dapat mengukur kemampuan peserta didik. Tes dan soal dapat digunakan untuk mengukur seberapa baik peserta didik mencapai tujuan pembelajaran mereka.

Tes dan soal harus bisa digunakan untuk menilai keterampilan peserta didik yang sesungguhnya. Sebuah evaluasi soal yang baik mampu menilai keberhasilan tujuan pembelajaran peserta didik [5]. Karena apabila tes atau butir soal tersebut dapat mengukur kemampuan peserta didik maka butir soal tersebut telah berhasil mencapai tujuan yang hendak dicapai. Untuk mengukur kemampuan peserta didik, pendidik dapat memberikan tes tulis berupa tes objektif yang berupa soal-soal pilihan ganda. Dalam membuat soal pilihan ganda sebaiknya harus memperhatikan suatu permasalahan, jangan menggunakan kalimat yang ambigu,menggunakan struktur kalimat yang jelas dan tidak rumit, dan buat pengecoh yang masuk akal agar peserta didik dilatih untuk mampu berfikir secara kritis.

Komponen utama dalam analisis butir soal dapat memengaruhi indikator kualitas butir soal. Dalam kualitas butir soal tersebut harus dianalisis secara mendalam untuk memastikan bahwa setiap soal yang digunakan dapat memberikan hasil evaluasi yang tepat. Komponen-komponen tersebut meliputi validitas yang menjadi alat ukur sejauh mana butir soal tersebut mampu mengukur kemampuan peserta didik, reliabilitas yang berfungsi sebagai konsistensi alat ukur baik pada pengukur yang diulang atau pada subjek yang berbeda, tingkat kesulitan yang berguna untuk mengevaluasi tingkat setiap soal tes serta memastikan bahwa soal tersebut mampu memberikan informasi yang valid terhadap peserta didik, daya pembeda yang mampu mengidentifikasi antara peserta didik yang memiliki kemampuan tinggi dengan peserta didik yang mempunyai kemampuan yang cukup rendah, dan efekifitas pengecoh yang berguna untuk mengalihkan perhatian peserta didik dari jawaban yang benar sehingga peserta didik dapat memahami materi dan memahami jawaban yang benar.

Dalam analisis butir soal akan melibatkan pengamatan terhadap berapa banyak peserta didik yang memilih setiap pengecoh. Dan pengecoh yang dipilih oleh sejumlah peserta didik yang tidak memahami materi, sementara peserta didik yang paham cenderung memilih jawaban yang tepat. Soal pilihan ganda merupakan jenis soal yang paling umum digunakan selama ujian sekolah jenis soal pilihan ganda yang di gunakan yaitu jenis multiple choice. Soal pilihan ganda adalah soal yang mempunyai beberapa opsi jawaban [6]. Secara umum butir pertanyaan pilihan ganda alternatif beserta kunci jawaban dengan jumlah 2-5 opsi, apabila opsi jawaban untuk soal pilihan ganda lebih dari 5 maka dalam pembuatan butir soal akan menjadi sulit bagi pembuat maupun peserta didik sulit dalam menyelesaikan soal pilihan ganda [7], mengungkapkan soal pilihan ganda memiliki kelebihan dan kelemahan. Kelemahannya,bahwa pertanyaan dengan menggunakan pilihan ganda biasanya sangat sederhana untuk dianalisis, memiliki banyak materi, semua indikator terpenuhi, dan memungkinkan untuk mengukur kemampuan siswa dalam domain yang diberikan.

Butir soal pilihan ganda merupakan salah satu cara yang harus disusun agar peserta didik mengetahui gambaran yang valid mengenai kompentensi yang harus dicapai. Oleh sebab itu, sangat penting bagi tenaga pendidik serta tiap tim penyusun soal memahami karakter peserta didik serta gaya belajar peserta didik tersebut di sekolah. Sebab, butir soal tes yang baik tidak hanya mampu mengukur kemampuan kogntif setiap peserta didik, akan tetapi juga harus dapat

membantu dalam meningkatkan keterampilan seperti selalu bersikap jujur, teliti dalam mengerjakan, dan memiliki tanggung jawab.

Karakteristik soal yang sesuai dengan butir soal kurikulum merdeka ialah saat membuat butir soal pilihan ganda, untuk kurikulum merdeka sendiri terdapat beberapa aspek-aspek penting yang harus diperhatikan. Beberapa aspek tersebut diantaranya, yaitu. Butir soal harus sesuai dengan kehidupan nyata peserta didik. Maksudnya yaitu materi pembelajaran yang akan digunakan pada saat membuat butir soal harus ada hubungannya dengan kegiatan keseharian peserta didik, butir soal mampu mengukur kemampuan kognitif kemampuan pengetahuan peserta didik yang berbeda,butir soal mencakup hal-hal yang mampu membuat peserta didik tersebut berfikir kritis, dan butir soal harus bersifat adil tidak membedakan belakang mereka tujuannya yaitu agar semua peserta didik mendapatkan kesempatan untuk memperlihatkan kemampuan mereka.

Dalam melakukan penerapan kurikulum merdeka di sekolah, pastinya ada tantangan tersendiri dalam menyusun soal pilihan ganda. Tantangan tersebut yaitu mencakup inovasi dalam melakukan penyusunan soal, pengembangan tenaga pendidik dalam membuat penilaian yang berkualitas serta dan adaptasi dalam hal teknologi pembelajaran. Walaupun demikian, dibalik tantangan tersebut, terdapat kesempatan besar untuk mampu membentuk generasi yang cemerlang, kreatif dan selalu siap dengan menghadapi tantangan.[8] Setelah kegiatan pembelajaran telah dilaksanakan , evaluasi biasanya dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan pembelajaran telah dicapai. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2017 tentang perubahan atas peraturan pemerintah nomor 74 tahun 2008 tentang guru, pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa "guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada anak usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah[9]." Oleh karena itu, salah satu tugas dari guru ialah menilai siswa dan melakukan evaluasi. Kumpulan butir soal pilihan ganda yang akan diujikan harus dibentuk dengan melewati proses analisis yang detail oleh para ahli tujuannya yaitu untuk memastikan masuk dalam kriteria butir soal yang baik. Hal tersebut sangat membantu karena soal yang diperoleh akan memiliki mutu yang baik dan berdampak kecil terhadap hasil belajar peserta didik.

Analisis butir soal merupakan suatu prosedur sistematis yang mampu memberikan informasi yang spesifik terhadap item kuisioner yang dirancang[10][11]. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah dasar, maka sangat penting dilakukannya analisis butir soal pilihan ganda karena dengan adanya analisis butir soal dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Analisis soal secara teoritik atau analisis kualitatif dilaksanakan sebelum diselenggarakan uji coba, dengan cara memahami soal tersebut yang sudah disusun sesuai dengan indikator [12]. Analisis juga harus dipertanyakan mengenai kejelasan bahasa yang digunakan dalam proses pembuatan butir soal. Maka, artikel ini hendak menjawab pertanyaan: apakah kualitas butir soal dapat mempengaruhi hasil belajar peserta didik dan mampu mengukur kemampuan peserta didik? Adapun, tujuan penulisan artikel ini adalah menganalisis kualitas butir soal dapat mempengaruhi hasil belajar peserta didik dan mampu mengukur kemampuan peserta didik . Dalam kurikulum Merdeka pada opsi pilihan ganda untuk sekolah dasar memiliki elemen penting yang harus dipertimbangkan saat disusun. Setiap soal biasanya terdiri dari pokok soal (tem) dan pilihan jawaban (options).

Pokok soal berfungsi sebagai stimulus, yang dapat berupa kalimat, gambar, atau grafik, dan diikuti oleh pertanyaan atau pernyataan yang tidak lengkap. Pilihan jawaban terdiri dari pengecoh dan kunci jawaban yang benar untuk mengukur pemahaman peserta didik [13][14]. Pada penyusunan butir soal, ada beberapa kaidah yang harus dilakukan. Yang pertama yaitu soal harus sesuai dengan indikator yang ingin diukur. Kedua opsi pertanyaan harus logis yang artinya semua opsi harus berasal dari konteks yang sama agar tidak membingungkan peserta didik. Ketiga butir soal harus mempunyai satu opsi jawaban yang benar agar tidak susah dalam melakukan penilaian [15]. Selain itu hindari penggunaan kalimat-kalimat yang dapat membingungkan peserta didik dan tiap butir soal memiliki indikator kemampuan untuk mengukur kemampuan peserta didik dan opsi dari jawaban harus sesuai dengan materi yang digunakan [16][17]. Manfaat dari melakukan evaluasi butir soal yaitu untuk mengetahui soal-soal apa saja tidak layak untuk digunakan, meningkatkan validitas dan reliabilitas soal dan memperbaiki butir soal yang tidak sesuai dengan materi yang disampaikan kepada peserta didik [18][19]. Analisis butir soal dapat dilakukan melalui 2 pendekatan yaitu pendekatan modern dan pendekatan klasik. Analisis butir soal secara klasik adalah proses penelaahan butir soal melalui informasi dari jawaban peserta didik guna meningkatkan mutu butir soal yang bersangkutan dengan menggunakan teori tes klasik [20].

Metode

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan berupa angket untuk peserta didik serta wawancara dengan guru kelas V di SDN Anggaswangi II Sukodono-Sidoarjo dengan tujuan untuk memahami pengalaman pribadi individu terhadap suatu fenomena.Penelitian fenomonologi adalah suatu strategi penyelidikan di mana peneliti mengidentifikasi hakikat pengalaman manusia mengenai suatu fenomena sebagaimana dideskripsikan oleh partisipan[21]. Adapun tahapan dari pendekatan fenomenologi yaitu: tentukan fenomena yang akan diteliti, pilih partisipan yang memiliki pengalaman dengan fenomena tersebut, lakukan wawancara dengan partisipan,dan analisis data yang diperoleh[22]. Penelitian ini dilaksanakan pada tahun ajaran 2024/2025 di SDN Anggaswangi II Sukodono-Sidoarjo. Pada tahapan yang dilakukan peneliti pada saat di lapangan yaitu: pemahaman data, penyusunan kuisioner, penyiapan pertanyaan terkait butir soal pilihan ganda pada Kurikulum Merdeka, konsultasikan dengan guru kelas V, dan uji coba kuisioner. Triangulasi data menggunakan sumber, metode, atau waktu pengumpulan data yang berbeda. Tujuannya yaitu untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif dan mendalam tentang fenomena yang diteliti melalui konvergensi informasi dari berbagai sudut pandang.

Hasil dan pembahasan

A. Hasil

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kelas V yang dilakukan di SDN Anggaswangi II Sukodono -Sidoarjo yang telah mengimplementasiakan pembelajaran dengan menggunakan Kurikulum Merdeka, maka peneliti menemukan beberapa aspek-aspek pendukung serta faktor penghambat yang melatar belakangi keberhasilan peserta didik untuk mengerjakan beberapa soal pilihan ganda yang berbasis Kurikulum Merdeka yang diantaranya yaitu: Penyusunan butir soal pilihan ganda.Penyusunan butir soal bahasa Indonesia perlu mempertimbangkan aspek indikator pencapaian kompetensi, karakteristik peserta didik, dan tujuan pembelajaran.Aspek indikator pencapaian kompetensi mencakup perilaku, pengetahuan,sikap, dan keterampilan yang diharapkan dari peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran.

Kurikulum Merdeka menekankan pada pengembangan keterampilan, karakter serta fleksibilitas dalam metode pengajaran. Tujuan utama dalam pembelajaran Kurikulum Merdeka adalah meningkatkan mutu pembelajaran, membentuk karakter peserta didik secara mandiri serta mengurangi kesenjangan pendidikan. Soal yang sudah dibuat harus sesuai aspek dan memberikan ruang kompetensi peserta didik dan soal bisa mengukur seluruh dimensi pembelajaran dalam kurikulum merdeka.Pada tahap proses penyusunan butir soal,pendidik harus menyesuaikan soal dengan tahapan kognitif peserta didik.

Menyusun soal sesuai dengan tujuan pembelajaran, mempertimbangkan tingkat kesulitan soal, setelah soal berhasil dibuat dan diuji coba ke peserta didik. Untuk evaluasi menggunakan rubrik. Tingkat kesukaran soal pilihan ganda pada umumnya meliputi tiga tingkatan yang dimulai dari mudah, sedang, dan sukar. Kriteria yang digunakan untuk menentukan tingkat kesukaran soal ialah proporsi (presentase) peserta didik pada saat mengerjakan soal dengan benar. Aspek yang digunakan dan diperhatikan dalam penggunaan bahasa yang meliputi bahasa Indonesia yang baik dan benar, komunikatif dan mudah dipahami, menggunakan bahasa konkrit, menggunakan kalimat sederhana, memilih diksi yang sesuai, tidak menggunakan bahasa yang bermakna ganda, menggunakan bahasa menarik yang mempunyai makna postif.

Penyusunan butir soal pilihan ganda memerlukan beberapa bagian yang penting seperti menentukan indikator penyusunan butir soal dengan menggunakan tujuan pembelajaran, menentukan KKO (Kata Kerja Operasional), mengklasifikasi tingkat sulit soal, dan menganalisis butir soal. Cara untuk menganalisis butir soal mencakup materi soal, konstruksi soal, bahasa dan budaya, dan kunci jawaban untuk memastikan jawaban tersebut apakah sudah tepat dan tidak memiliki makna yang ambigu. Efektifitas butir soal pilihan ganda. Efektifitas butir soal pilihan ganda dapat diukur dari beberapa aspek: Validitas (apakah soal dapat mengukur apa yang seharusnya diukur), Reliabilitas (konsistensi hasil), tingkat kesukaran, daya pembeda (kemampuan membedakan peserta didik yang pintar dan kurang paham), dan efektifitas pengecoh (opsi salah yang benar-benar dipilih oleh peserta didik dan tidak mengetahui jawabannya).Pendekatan pembelajaran berbasis kompetensi dalam Kurikulum Merdeka tidak hanya mengukur kemampuan, berpikir kritis, dan kolaborasi. Soal harus dibuat bervariasi, disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.

Penggunaan butir soal pilihan ganda dalam asesmen sumatif dan formatif. Soal pilihan ganda bisa dipakai untuk memeriksa secara efisien. Sehingga fungsi untuk secara objektif soal harus jelas.Tantangan utama dalam menyusun butir soal pilihan ganda berdasarkan Kurikulum Merdeka. Yang diantaranya adalah tahap penyusunan soal yang

homogen. Proses penyusunan butir soal pilihan ganda yang berkualitas, membutuhkan waktu yang cukup lama terutama dalam membuat pengecoh (distraktor) yang homogen.

Oleh karena itu upaya menghadapi tantangan dalam menyusun butir soal pilihan ganda yaitu menganalisis tingkat kesulitan soal agar sesuai dengan kemampuan peserta didik serta tujuan pembelajaran yang ingin dicapai, menyusun soal berdasarkan kebutuhan peserta didik, menyusun butir soal berbentuk HOTS (HighOrderThinkingSkill), penggunaan bahasa jelas dan komunikatif, menghindari soal yang menggunakan kata-kata yang menjebak atau pertanyaan yang membingungkan, dan menyusun soal dengan mengunakan karakteristik sesuai dengan karakteristik kurikulum merdeka, yaitu menunjukkan pada penguatan kompetensi inti serta pengembangan peserta didik serta sumber dalam penyusunan butir soal pilihan ganda.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, pendidik menyusun soal berdasarkan kebutuhan siswa, menyesuaikan dengan karakteristik mereka, serta menghindari penggunaan kalimat yang rumit atau membingungkan. Pendidik juga merujuk pada sumber-sumber seperti buku teks, modul ajar, kisi-kisi, internet, dan fenomena nyata yang relevan dengan kehidupan siswa.Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penyusunan soal pilihan ganda dalam Kurikulum Merdeka perlu dilakukan dengan teliti dan penuh pertimbangan. Soal harus mampu menilai pemahaman peserta didik secara utuh, tidak hanya pada aspek hafalan, tetapi juga pada kemampuan berpikir dan nilai- nilai karakter. Penyusunan soal yang baik akan membantu peserta didik lebih siap dalam menghadapi ujian, serta mendorong mereka untuk belajar secara aktif dan mandiri.

B. Pembahasan

1. Analisis tingkat kognitif soal

Analisis tingkat kognitif soal merupakan salah satu proses penting dalam evaluasi yang berfokus terhadap aspek kognitif atau kemampuan yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk menyelesaikan soal. Aspek kognitif ini meliputi berbagai 6 tingkatan yang terdiri dari mengingat (remembering),memahami (understanding),menerapkan (applying), menganalisis (analyzing), mengevaluasi (evaluating), mencipta (creating). Aspek kognitif dapat dijelaskan juga sebuah proses bertahap yang diawali dengan penguasaan pengetahuan dasar hingga kemampuan tingkat tinggi dengan melibatkan kreativitas dan evaluasi kritis peserta didik karena setiap tingkatan pasti ada hubungan keterkaitan. Namun setelah peserta didik menyelesaikan angket yang telah diberikan oleh peneliti, sebagaian besar peserta didik menjawab dengan opsi sangat setuju dengan alasan karena sebagaian dari mereka ada yang masih belum mampu memahami isi angket yang diberikan.

Tujuan dari adanya kognitif soal diantaranya yaitu untuk mengetahui butir soal tersebut hanya menguji kemampuan atau mewajibkan peserta didik berfikir secara kritis dan kreatif, untuk memastikan soal yang telah dibentuk sesuai dengan kompetensi dasar dan indikator yang akan dicapai, untuk mengetahui aspek kognitif yang akan diuji baik pendidik ataupun pembuat butir soal tujuannya yaitu untuk memperbaiki butir soal yang telah dibuat agar lebih bermakna, dan untuk memahami kemampuan kognitif yang belum dikuasai oleh peserta didik agar mampu membuat strategi pembelajaran yang sesuai dan tepat. Adapun proses analisis tingkat kognitif soal langkah pertama yang harus dilakukan yaitu membaca butir soal terlebih dahulu dengan cermat tujuannya yaitu agar dapat memahami konteks dan tujuan dari soal tersebut, mengidentifikasi kata kunci kognitif yaitu kata kerja operasional soal seperti “mengidentifikasi”, “menganalisis”, atau “membandingkan” untuk menunjukkan tingkat kognitif yang diuji, mengelompokkan butir soal berdasarkan taksonomi bloom dengan cara menentukan apakah butir soal termasuk tingkatan mengingat,memahami,menerapkan,menganalisis,mengevaluasi, atau mencipta, menilai tingkat kesulitan butir soal dengan cara melihat sejauh mana butir soal dapat mengharuskan peserta didik untuk berpikir kritis dan pemecahan masalah,dan mengevaluasi pembelajaran dengan indikator pencapaian kompetensi sesuai dengan kurikulum.Adapun manfaat dari melakukan analisi kognitif soal yaitu dapat mengetahui tingkat kognitif guru dalam menyusun butir soal secara seimbang dan tidak terfokus dengan hafalan semata, dapat menekankan kompetensi capaian pembelajaran dalam kurikulum merdeka, pendidik mampu mengetahui kemampuan berpikir peserta didik secara bertahap, dan mampu mendorong pendidik untuk membuat butir soal yang dapat mengasah kemampuan berpikir secara kritis seperti menganalisis,mengevaluasi, dan mencipta.

2. Analisis kontsruksi soal dan bahasa

Konstruksi butir soal bahasa Indonesia dalam konteks butir soal pilihan ganda dalam kurikulum merdeka mencakup beberapa aspek penting yang diantaranya yaitu materi soal, konstruksi soal serta penggunaan bahasa. Hal penting dalam penyusunan butir soal pilihan ganda yaitu materi soal harus disusun secara logis dan sesuai dengan indaktor pembelajaran. Butir soal yang dibuat juga harus bisa mengukur kememapuan berpikir tingkat tinggi (High OrderThinkingSkill). Butirsoal harus bisa mendorong pemikiran peserta didik untuk memproses dan mengaitkan berbagai informasi dan menggunakan informasi tersebut untuk menyelesaikan masalah dan menguraikan suatu ide secara kritis. Di sisi lain butir soal tidak boleh terlalu sederhana atau terlalu rumit, dan pengecoh (distraktor) harus berfungsi dengan baik. Beberapa kaidah konstruksi soal pilihan ganda yang perlu diperhatikan yaitu pokok butir soal harus singkat dan jelas. Rumusan pokok butir soal dan opsi jawaban hanya memuat keterangan yang diperlukan.

Pokok butir soal tidak boleh memberikan petunjuk ke kunci jawaban serta harus bebas dari pertanyaan negatif ganda, apabila butir soal menggunakan gambar,grafik, tabel ataupun diagram media yang digunakan untuk diterapkan kepada peserta didik harus jelas dan berfungsi dengan baik, opsi jawaban tidak boleh bermakna ganda atau bisa disebut dengan seluruh opsi jawaban salah semua dan opsi jawaban yang valid semua, apabila opsi jawaban menggunakan bilangan,maka harus dibentuk sesuai dengan urutan besar kecilnya angka,dan butir soal tidak diperbolehkan bergantung pada jawaban soal pada sebelumnya. Kesesuaian konstruksi butir soal pilihan ganda dengan kurikulum serta kompetensi dasar harus disusun dengan mengacu pada kompetensi dasar yang telah ditetapkan karena hal ini sangat penting untuk pencapaian tujuan pembelajaran yang tepat dan dalam pembelajaran dengan menggunakan kurikulum merdeka menekankan pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skill) seperti menganalisis, megevaluasi, dan mencipta. Biasanya dalam butir soal yang menggunakan kata kerja operasional atau biasanya disingkat menjadi KKO dalam taksonomi bloom.

Butir soal pilihan ganda yang baik memiliki variasi dan bentuk soal yang menarik dengan memiliki keterkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Butir soal yang kontekstual dapat membantu peserta didik mengaitkan materi dengan kehidupan nyata sehingga mampu meningkatkan motivasi belajar dan memiliki kemampuan berpikir kritis. Pada umumnya jenis soal berdasarkan konstruksi dapat dibagi menjadi dua yang diantaranya yaitu soal objektif dan soal uraian. Dalam soal objektif memuat jenis soal, contohnya seperti pilihan ganda, benar salah, dan menjodohkan. Sedangkan dalam soal uraian terdiri atas uraian bebas dan uraian terbatas. Jenis soal ini menuntut peserta didik untuk memberikan jawaban yang lebih lengkap dan mendalam. Penggunaan aspek bahasa sangat penting dalam konstruksi butir soal bahasa indonesia karena butir soal bahasa indonesia menggunakan bahasa yang sesuai dengan kaidah bahasa indonesia, bahasa yang digunakan harus komunikatif, mudah dipahami dan tidak ambigu.

Butir soal tidak diperbolehkan menggunakan bahasa yang tabu, terutama apabila butir soal akan digunakan secara nasional, opsi jawaban tidak diperbolehkan menggunakan pengulangan kata atau kelompok kata yang sama serta penggunaan tanda baca yang digunakan, struktur bahasa butir soal dan pilihan jawaban harus valid. Konstruksi butir soal pilihan ganda bahasa indonesia harus memperhatikan penggunaan bahasa yang baku,jelas, dan mudah dipahami oleh semua orang baik peserta didik maupun pendidik. Karena soal yang baik tidak menggunakan bahasa daerah atau istilah sulit yang dapat menganggu pemahaman peserta didik. Peran bahasa dalam konstruksi bahasa bukan hanya untuk alat komunikasi saja, akan tetapi juga merupakan alat konstruksi sosial yang dapat membentuk pemahaman serta realitas sosial manusia. Dalam konteks konstruksi soal bahasa merupakan bagian pokok karena bahasa menentukan bagaimana pertanyaan dibentuk dan dipahami oleh peserta didik, bahasa yang benar mampu menghindarkan butir soal yang mengandung makna bias budaya serta tafsiran yang salah, dan bahasa yang baik dan benar dapat memastikan bahwa butir soal mampu mengukur kemampuan peserta didik secara objektif tanpa terganggu oleh masalah bahasa.

3. Kesesuaian dengan Profil Pelajar Pancasila

Dengan diterapkannya Kurikulum Merdeka, terjadi perubahan besar dalam pandangan terhadap pendidikan di Indonesia. Pendidikan di zaman ini tidak lagi dianggap sebagai sarana untuk mentransfer pengetahuan, akan tetapi lebih menekankan pada pembentukan karakter dan pengembangan kompetensi secara menyeleruh. Maka dari itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) telah membentuk Profil Pelajar Pancasila sebagai fondasi pengembangan karakter peserta didik. Profil Pelajar Pancasila mencerminkan enam dimensi utama yang saling berkaitan dan mencerminkan karakter ideal pelajar Indonesia, yaitu: beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; berkebinekaan global; bergotong royong; mandiri; bernalar kritis; serta kreatif.Setiap elemen mempunyai kunci yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam penyusunan butir soal pilihan ganda supaya nilai- nilai pancasila mampu terkonsep terhadap peserta didik.Profil ini menjadi acuan yang sangat penting dalam pembelajaran, termasuk dalam penyusunan butir soal pilihan ganda yang tidak hanya mengukur pengetahuan, tetapi juga mampu menanamkan prinsip leluhur bangsa. Prinsip utama dalam penyusunan butir soal pilihan ganda dengan konteks profil pelajar pancasila diantaranya yaitu:kontekstual,berbasis nilai,mengembangkan berpikir tingkat tinggi,mengakomodasi keberagaman, dan mendorong refleksi diri.

Agar butir soal mencerminkan profil pelajar pancasila pendidik perlu melakukan identifikasi dimensi dan elemen kunci, membuat indikator yang spesifik, contohnya seperti “menunjukkan sikap gotong royong dan toleransi”, menggunakan narasi yang dekat dengan kehidupan peserta didik agar mereka dapat memahami konteks soal, menyusun opsi jawaban yang mengandung sikap dan perilaku, bukan hanya opsi jawaban benar atau salah saja. Akan tetapi butir soal pilihan ganda bahasa Indonesia disusun untuk mengukur kemampuan membaca, menulis, serta memahami isi teks, akan tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter seuai profil pelajar pancasila. Materi yang diterapkan meliputi pemahaman bacaan, penggunaan tanda baca, sinonim dan antonim, peribahasa, dan unsur -unsur teksi fiksi dan non fiksi.

4. Diskusi kritis

Kurikulum Merdeka merupakan salah satu perubahan baru dalam pendidikan di Indonesia yang mulai diimplementasikan secara bertahap sejak tahun 2022. Tujuan dirancangnya kurikulum ini yaitu sebagai tanggapan terhadap dinamika zaman yang terus berubah, yang dimana peserta didik dituntut untuk menguasi kompetensi abad

ke 21, contohnya seperti kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif. Salah satu ciri utama dari pendekatan kurikulum merdeka adalah penekanan pada pembelajaran yang berpusat di peserta didik, penguatan literasi dan numerasi, serta penerapan asasmen yang lebih autentik dan formatif. Keberadaan instrumen evaluasi, khususnya pada butir soal pilihan ganda dengan mata pelajaran bahasa Indonesia di jenjang sekolah dasar, menjadi sangat penting. Oleh sebab itu, analisis terhadap butir soal tersebut perlu dilakukan tujuannya yaitu untuk memastikan bahwa alat evaluasi yang digunakan mampu mencerminkan capaian pembelajaran yang valid dan sejalan dengan tuntutan kurikulum merdeka. Prinsip-prinsip kurikulum merdeka dirancang untuk memberikan kebebasan kepada satuan pendidik dalam merancang, melaksanakan, serta mengevaluasi pembelajaran. Adapun tiga prinsip Kurikulum Merdeka diantaranya yaitu pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dimana peserta didik sebagai subjek aktif yang memiliki potensi, minat, serta kebutuhan belajar yang berbeda-beda.

Peran pendidik dalam kurikulum ini hanya sebagai fasilitator yang membantu peserta didik untuk menemukan dan mengembangkan potensi dirinya. Untuk prinsip kurikulum merdeka selanjutnya yaitu penguatan kompetensi literasi dan numerasi peserta didik yang dimana literasi tidak cukup dimaknai saja sebagai kemampuan membaca dan menulis, akan tetapi juga memuat kemampuan memahami, menganalisis, serta mengevaluasi informasi dari berbagai sumber. Sedangkan dalam numerasi memuat kemampuan berpikir logis, analistis, dan memecahkan masalah. Fungsi dari asesmen tidak hanya berfungsi untuk alat ukur belajar saja, akan tetapi juga sebagai elemen integral dari proses pembelajaran. Asesmen autentik menilai kemampuan peserta didik dalam konteks nyata, sedangkan asesmen formatif berfungsi untuk memantau perkembangan belajar dan memberikan umpan balik. Dalam kurikulum merdeka khususnya pada mata pelajaran bahasa Indonesia memiliki peran strategis dalam membangun literasi peserta didik, karena melalui mata pelajaran bahasa Indonesia peserta didik mampu memahami, melakukan,serta mengapresiasi bahasa sebagai alat komunikasi yang baik, sebagai alat untuk berpikir serta berkarya.

Pembelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum merdeka memiliki tujuan supaya peserta didik mampu mengembangkan kemampuan menggunakan bahasa yang mampu dipahami (membaca dan menyimak) dan lebih produktif (berbicara dan menulis) secara efektif. Tidak hanya itu saja, peserta didik juga diharapkan dapat memahami dan menghasilkan berbagai jenis teks lisan,tulis,visual serta audio. Peran peserta didik dalam kurikulum ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa, mampu menunjukkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara, dapat mengembangkan rasa percaya diri dalam berkomunikasi serta berekspresi, mampu menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan budaya lokal dan mampu ikut serta aktif dalam kehidupan yang bernegara dan bermasyarakat.

Pada intinya kurikulum merdeka menekankan pada pengembangan kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang menyeluruh serta memuat aspek kognitif dan aspek sosial. Untuk tahap ini peserta didik tidak hanya diminta untuk mengenali struktur serta kaidah, akan tetapi peserta didik juga harus lebih menghormati keragaman bahasa dan budaya. Tidak hanya itu saja pembelajaran bahasa Indonesia juga dapat mendorong keterlibatan aktif peserta didik dalam kegiatan diskusi, presentasi, serta literasi digital yang relevan. Agar pembelajaran berjalan optimal, guru juga perlu melakukan evaluasi terhadap soal-soal yang telah digunakan, misalnya melalui analisis tingkat kesulitan, daya pembeda, dan efektivitas pengecoh. Dari hasil analisis ini, guru dapat memperbaiki soal yang kurang tepat dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara keseluruhan. Dengan begitu, proses belajar menjadi lebih bermakna dan sesuai dengan tujuan utama Kurikulum Merdeka, yakni membentuk generasi yang berkarakter, mandiri, dan mampu menghadapi tantangan zaman.

Pendidik juga dapat memberikan tugas berbasis proyek atau studi kasus untuk mendorong siswa berpikir lebih dalam.Proyek-proyek ini bisa menggabungkan materi pelajaran dengan situasi nyata di lingkungan sekitar, sehingga siswa tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari pengalaman dan pengamatan mereka sendiri. Ini akan memperkuat kemampuan berpikir kritis sekaligus kreativitas mereka. Kegiatan reflektif juga sangat disarankan dalam proses diskusi kritis. Setelah melakukan diskusi atau tugas tertentu, peserta didik diberi kesempatan untuk merefleksikan apa yang telah mereka pelajari, apa tantangannya, dan bagaimana mereka dapat memperbaikinya di masa depan. Refleksi ini membantu mereka menyadari perkembangan diri dan menumbuhkan rasa tanggung jawab terhad ap proses belajarnya.

Simpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilaksanakan, menunjukkan bahwa penyusunan soal harus disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan mampu mencerminkan nilai-nilai dalam profil pelajar Pancasila. Dalam hal ini, soal pilihan ganda tidak hanya menilai aspek kognitif, tetapi juga diarahkan untuk membentuk karakter peserta didik yang mandiri, bernalar kritis, kreatif, dan berakhlak mulia. Solusi dalam menghadapi tantangan pada saat menyusun butir soal pilihan ganda bahasa Indonesia agar sesuai kurikulum merdeka khususnya pada profil pelajar pancasila yaitu mengikuti pelatihan mengenai penyusunan butir soal terkait dengan karakter serta profil pelajar pancasila,membentuk forum diskusi antar pendidik, berdiskusi serta berbagi pengalaman antar pendidik karena setelah melakukan diskusi antar pendidik kita bisa membuat bermacam-macam butir soal serta mampu memperkuat pemahaman nilai-nilai pancasila, menggunakan platform digital yang menarik seperti membuat soal melalui aplikasi atau web agar terlihat menarik dan interaktif, dan melakukan evaluasi yang teratur, tujuannya yaitu untuk memperbaiki kualitas butir soal serta memastikan relevansi dengan profil pelajar pancasila.

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan rasa syukur dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan serta membantu dalam proses penyusunan artikel ilmiah ini. Terima kasih kepada keluarga dan rekan-rekan yang selalu memberikan semangat dan motivasi. Semoga karya ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan pengembangan ilmu pengetahuan.Kategori tersebut mencakup lima negara dengan tingkat perekonomian tinggi, pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, serta pemerataan kualitas hidup masyarakat modern di berbagai wilayah.

References

[1] A. N. Putri and B. Irawan, “Pengaruh Penggunaan Aplikasi Quizizz terhadap Motivasi Belajar Siswa pada Materi Sistem Ekskresi Kelas XI IPA MAN Tanjungpinang,” 2021.

[2] S. Mania, A. F. Majid, N. Ichiana, and A. I. P. Abrar, “Al-Asma: Journal of Islamic Education,” 2020.

[3] S. P. Putri, A. N. Zakiyah, N. Anisah, R. Riyani, S. A. Juliana, and Y. T. Samiha, “Penerapan Konsep Dasar Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar dalam Kurikulum Merdeka,” JIMR: Journal of International Multidisciplinary Research, vol. 2, no. 1, pp. 53–65, 2022, doi: 10.62668/jimr.v2i01.634.

[4] C. P. Citradevi, “Canva sebagai Media Pembelajaran pada Mata Pelajaran IPA: Sebuah Studi Literatur,” Ideguru: Jurnal Karya Ilmiah Guru, vol. 8, no. 2, pp. 270–275, 2023, doi: 10.51169/ideguru.v8i2.525.

[5] I. Rahmawati, Y. Suryana, and S. Hidayat, “Analisis Kesesuaian Soal Penilaian Tengah Semester IPA dengan Kaidah Penyusunan Soal pada Aspek Bahasa di Sekolah Dasar,” Edukatif: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 3, no. 6, pp. 3636–3646, Jul. 2021, doi: 10.31004/edukatif.v3i6.975.

[6] W. Ramadhan, F. Malahati, K. Romadhon, and S. Ramadhan, “Analisis Butir Soal Tipe Multiple Choice Questions pada Penilaian Harian Sekolah Dasar,” Tarbiyah Wa Ta’lim: Jurnal Penelitian Pendidikan dan Pembelajaran, vol. 10, no. 2, pp. 93–105, 2023, doi: 10.21093/twt.v10i2.6155.

[7] S. Khofifah and Z. H. Ramadan, “Literacy Conditions of Reading, Writing, and Calculating for Elementary School Students,” Journal of Education Research and Evaluation, vol. 5, no. 3, 2021.

[8] I. Khasanah, A. Fuady, and Sunismi, “Analisis Soal Ulangan Harian Matematika Bentuk Pilihan Ganda,” Mathema Journal, vol. 5, no. 2, pp. 110–125, 2023.

[9] W. Widayanti, B. Bistari, et al., “Analisis Butir Soal Pilihan Ganda Penilaian Tengah Semester pada Pembelajaran Tematik Kelas V Sekolah Dasar Negeri 39 Pontianak Kota,” Didika: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, vol. 7, no. 2, pp. 279–296, 2021.

[10] E. Philosophy, D. A. I. Negeri, and A. B. Aceh, “Alacrity: Journal of Education,” vol. 4, no. 3, pp. 140–151, 2024.

[11] E. R. Kurniasi, H. Hevitria, M. Fauziani, and I. Safitri, “Pengembangan Soal Literasi Numerasi Konteks Budaya Bangka bagi Siswa SD,” PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, vol. 8, no. 2, 2023, doi: 10.29407/pn.v8i2.18985.

[12] G. Supriadi, “Analisis Butir Soal Tes Prestasi Hasil Belajar,” Himmah, vol. 8, no. 24, pp. 114–128, 2007.

[13] U. A. Sholikhah, M. Markhamah, L. E. Rahmawati, and E. Fauziati, “Habituasi Literasi Baca Tulis Siswa Sekolah Dasar,” Indonesian Language Education and Literature, vol. 8, no. 2, p. 245, Feb. 2023, doi: 10.24235/ileal.v8i2.11052.

[14] S. Nurfadillah, T. Saputra, T. Farlidya, S. W. Pamungkas, R. F. Jamirullah, and Universitas Muhammadiyah Tangerang, “Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis Poster pada Materi Perubahan Wujud Zat Benda Kelas V di SDN Sarakan II Tangerang,” Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial, vol. 3, no. 1, pp. 117–134, 2021.

[15] S. Setiawati and M. Lapasau, “Aspek Bahasa dan Konstruksi Butir Soal Evaluasi pada Buku Tematik Kelas III Sekolah Dasar,” JARSI: Jurnal Administrasi Rumah Sakit Indonesia, vol. 1, no. 1, pp. 43–50, 2022.

[16] E. Wati, “Analisis Butir Soal Pilihan Ganda Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Kelas VII MTs Attaufiqiyah,” 2023.

[17] E. Unaenah, A. Ayumi, D. Nuraulia, and L. Sundari, “Konsep Matematika Siswa dalam Menuntaskan Permasalahan Bangun Datar,” Seroja: Jurnal Pendidikan, vol. 2, no. 4, pp. 128–138, 2023.

[18] M. Fitrianawati, “Peran Analisis Butir Soal Guna Meningkatkan Kualitas Butir Soal, Kompetensi Guru, dan Hasil Belajar Peserta Didik,” Prosiding Seminar Nasional Pendidikan PGSD UMS HDPGSDI Wilayah Jawa, vol. 5, no. 3, pp. 282–295, 2015.

[19] M. Alpusari, “Analisis Butir Soal Program Komputer Anates Versi 4.0 for Windows,” Jurnal Primary: Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Riau, vol. 3, no. 2, p. 107, 2014.

[20] R. Galuh, N. D. Aris, and K. Khusnul, “Analisis Butir Soal Ulangan Harian Siswa Kelas IV Sekolah Dasar,” 2022.

[21] J. W. Creswell, Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches, 3rd ed. London: SAGE Publications, 2009.

[22] A. Nasir, Nurjana, K. Shah, R. A. Sirodj, and M. W. Afgani, “Pendekatan Fenomenologi dalam Penelitian Kualitatif,” Innovative: Journal of Social Science Research, vol. 3, no. 5, pp. 4445–4451, 2023.