Login
Section Education

School Literacy Culture Cultivates Reading Interest in Primary Students


Budaya Literasi Sekolah Menumbuhkan Minat Membaca pada Siswa Sekolah Dasar
Vol. 10 No. 1 (2025): June:

Rizka Marela Nasir (1), Ahmad Nurefendi Fradana (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Low reading engagement among primary school learners remains a persistent educational concern, as reading underpins academic success and lifelong learning. Specific Background: Literacy culture in schools extends beyond basic reading and writing to include accessing, interpreting, and producing information, supported by structured activities such as classroom reading corners and routine reading sessions. Knowledge Gap: Despite widespread literacy initiatives, there is limited phenomenological evidence describing how school-based literacy culture is experienced by stakeholders and how it relates to students’ reading interest. Aims: This study aimed to describe the implementation of literacy culture in fostering reading interest among primary school students. Results: Using a qualitative phenomenological approach involving principals, teachers, and third-grade students, findings indicate that literacy culture manifests through three stages—habituation, development, and learning—supported by daily shared reading activities lasting approximately 10–15 minutes and the provision of attractive reading corners and relevant books. These practices were associated with observable enthusiasm, routine reading behavior, and increased participation in literacy activities. Novelty: The study offers an experiential account of literacy culture implementation within a classroom context, highlighting the integration of environmental design, habitual practice, and instructional support. Implications: Establishing consistent literacy routines and accessible reading environments may support sustained student engagement with texts and contribute to broader educational quality improvement in primary schools.


Highlights:




  • Structured stages of literacy practice shape sustained student reading habits.




  • Daily shared reading sessions generate observable enthusiasm toward texts.




  • Accessible classroom book spaces encourage voluntary engagement with printed materials.




Keywords:

Literacy Culture; Reading Interest; Primary Education; Reading Corner; Phenomenological Study

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Di Indonesia, rendahnya minat baca memiliki dampak negatif terhadap evaluasi. Kurangnya minat baca peserta didik juga disebabkan karena malas dalam membaca buku. Rendahnya budaya literasi dikalangan peserta didik saat ini menjadikan tantangan bagi orangtua dan guru untuk memperbarui budaya literasinya [1][2][3]. Membaca adalah salah satu terpenting dalam hidup. Semua proses pembelajaran di dasarkan pada pemahaman membaca, sehingga tingkat keberhasilan mereka di sekolah dan kehidupan menciptakan peluang di masyarakat. Keberhasilan masyarakat membuka peluang kehidupan yang lebih baik. Kegiatan membaca dapat membantu peserta didik memperluas pengetahuannya. Sebagai motivator dan fasilitator dalam dunia pendidikan, guru harus memiliki kemampuan untuk menumbuhkan minat peserta didik dalam membaca serta menumbuhkan kecintaan mereka pada membaca. Jika seseorang sudah terbiasa membaca, maka mereka akan terus membaca. Selain itu, kegemaran membaca memberikan dampak positif pada seseorang tersebut karena minat yang tinggi terhadap membaca menyebabkan minat belajar yang tinggi dan wawasan yang luas [4]. Berdasarkan hasil dari kegiatan membaca tersebut, peserta didik akan mampu berpikir kritis, menggunakan imajinasi, dan mengembangkan wawasan, inilah kunci kesuksesan peserta didik membaca. Untuk mempunyai masa depan yang lebih baik, peserta didik dapat diharapkan meningkatan aktivitas membaca dan meningkatkan kualitas hidupnya, ini akan berdampak pada kehidupan masa depan peserta didik. Membaca juga tentang menumbuhkan pemahaman pembaca tentang apa yang di baca.

Menurut Schiefele, menyatakan bahwa minat baca berhubungan erat dengan dua aspek, yaitu minat yang bersifat kognitif (berhubungan dengan pemahaman dan pengetahuan) dan aspek afektif (berhubungan dengan perasaan atau emosi terhadap kegiatan membaca). Minat baca akan lebih berkembang jika kedua aspek tersebut mendukung dan saling melengkapi. Teori perkembangan kognitif adalah teori yang menjelaskan bagaimana proses berpikir, memahami, dan memproses informasi berkembang seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman. Salah satu teori kognitif yan paling terkenal mengenai perkembangan kognitif adalah Jean Piaget. Piaget menyatakan bahwa perkembagan kognitif adalah proses yang berlangsung secara bertahap, dimana individu mengonstruksi pengetahuan mereka sendiri melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan. Indikator yang dikemukakan oleh Sudarsana dan Bastiano mencakup ; 1. kesenangan membaca, 2. kesadaran akan manfaat membaca, 3. frekuensi membaca, 4. kuantitas bacaan, 5. perhatian saat membaca, 6. keterlibatan saat membaca, 7. kebutuhan terhadap bacaan, dan 8. tindakan untuk mencari bacaan. Membaca juga memungkinkan kita untuk memperoleh pengetahuan, manfaat dari apa yang kita pahami. Namun saat ini, meskipun peningkatan rasa percaya diri membaca peserta didik dapat lebih meningkatkan pengetahuan, namun masih sulit membangkitkan minat baca peserta didik karena kurangnya motivasi, atau dorongan diri. Rendahnya minat baca peserta didik dapat menghambat berkembangnya potensi peserta didik dalam mencapai cita-citanya dan kurangnya literasi membuat peserta didik perlu membaca dan melakukannya [5]. Sebelum memulai aktivitas membaca, penting untuk membangkitkan minat terlebih dahulu.

Selain itu, para peserta didik perlu membiasakan diri dengan bahan bacaan yang akan mereka baca. Kebiasaan membaca yang diterapkan peserta didik dari Sekolah Dasar memicu minat membaca hingga dewasa dan peserta didik dapat memperoleh banyak ilmu melalui pembiasaan membaca sejak dini. Salah satu faktor pendidikan Bahasa Indonesia adalah peserta didik mempunyai wawasan yang luas dan pengetahuan yang unggul, hal ini ditunjukkan dengan peserta didik yang memiliki minat baca yang tinggi [6]. Minat baca adalah tingkat ketertarikan, keinginan, dan motivasi seseorang untuk terlibat dalam aktivitas membaca. Hal ini mencakup seberapa besar seseorang menikmati membaca dan seberapa sering mereka berpatisipasi dalam kegiatan membaca. Terciptanya kebiasaan membaca bergantung pada kemampuan membaca seseorang, tetapi kemampuan membaca seseorang tidak menjamin terciptanya kebiasaan membaca karena faktor lainnya [7]. Jika peserta didik mempunyai minat baca, maka mereka akan terbiasa dengan membaca buku, dan jika tidak membaca seharian penuh maka mereka akan merasa ada yang kurang dan akhirnya merasa ada sesuatu yang hilang. Oleh karena itu peserta didik harus diperkenalkan dengan berbagai bahan bacaan dan kebiasaan membaca agar menjadikan membaca sebagai kegiatan membaca yang menarik dan diminati untuk dilakukan sehari-hari oleh anak-anak.

Menurut UNESCO, mengatakan bahwa literasi tidak hanya mencakup kemampuan seseorang untuk membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan untuk berpikir kritis, menganalisis data, dan berkomunikasi dengna baik dalam konteks yang tepat. Budaya literasi juga mencakup kemampuan seseorang untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk, seperti teks, gambar, angka, dan teknologi. Literasi, menurut teori budaya literasi ini berhubungan erat dengan budaya sosial dan politik. Teori ini juga melihat literasi sebagai alat untuk pemberdayaan individu dan pembangunan masyarakat. Sementara itu, menurut Alberta menyatakan bahwa budaya literasi mencakup

lebih dari sekedar kemampuan membaca dan menulis, itu mencakup pemahaman dan kemampuan untuk berinteraksi dengan berbagai bentuk teks, termasuk teks digital, dalam konteks sosial dan budaya tertentu. Dalam hal ini, Alberta menekankan bahwa literasi harus diliat sebagai praktik sosial yang memungkinkan orang untuk berpatisipasi dalam komunitas budaya yang luas, dengan mempertimbangkan identitas, nilai-nilai budaya lokal, dan dinamika sosial dan politik. Indikator budaya literasi ahli Snow, Keterampilan Membaca dan Menulis, indikator utama budaya literasi adalah kemampuan membaca dan menulis yang baik. Indikator budaya literasi keterampilan membaca dan menulis mencakup kemampuan individu dalam mengakses, memahami, dan menghasilkan teks untuk berbagai tujuan. Ini juga melibatkan partisipasi aktif dalam kegiatan literasi di masyarakat.

Literasi merupakan kemampuan dasar yang meliputi kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan berpikir kritis. Literasi tidak hanya mencakup kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup pemahaman, menginterpretasi, serta menggunakan berbagai informasi dari sumber secara efektif. Peserta didik juga memerlukan keterampilan membaca, sehingga keterampilan membaca peserta didik membantu dalam mengenali, memahami, dan menerapkan apa yang dipahami dan dipelajari. Budaya masyarakat sekolah hendaknya memberikan keterampilan literasi termasuk membaca dan menulis, serta guna untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan pengetahuan peserta didik. Selain itu, keterampilan membaca dan menulis peserta didik harus ditingkatkan guna untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis. Pengertian literasi menjadi lebih luas dan mencakup lebih dari sekedar membaca dan menulis seiring peningkatan pengetahuan. Definisi literasi berkembang dari pengertian sederhana ke pengertian yang lebih luas yang mencakup berbagai bidang penting lainnya [8] [9]. Literasi juga memiliki beberapa manfaat, terutama di tengah gempuran di era digital ini. Berikut manfaat dari membaca dan menulis antara lain adalah memperluas wawasan dan pengetahuan, meningkatkan daya pikir kritis dalam pengambilan keputusan, meningkatkan kemampuan menangkap dan memahami informasi bacaan, meningkatkan kemampuan menulis dan merangkai kata, meningkatkan keterampilan verbal, meningkatkan kreativitas dalam pemilihan kata dan penulisan teks, dan meningkatkan kosa kata. Seseorang melakukan kegiatan literasi sesuai dengan tujuannya, yaitu dengan literasi dapat meningkatkan kemampuan menarik dari informasi yang diterima, membantu orang berpikir kritis tanpa langsung bereaksi, membantu memperluas pengetahuan melalui membaca, dan membantu dan memgembangkan nilai-nilai moral yang baik dalam diri seseorang.

Dilihat dari minat baca yang belum maksimal, budaya literasi masih perlu ditingkatkan. Masyarakat sering berpendapat bahwa anak sekolah dasar harus belajar bahasa asing. Namun, tidak sesuai dengan tuntutan zaman saat ini yang menuntut daya saing di seluruh dunia [10] [11] [12]. Selain meningkatkan kualitas pembelajaran, budaya literasi di sekolah juga sangat diperlukan. Tujuan literasi sekolah adalah untuk meningkatkan kemampuan peserta didik dalam membaca dan mengola informasi yang mereka dapatkan, sehingga pembelajaran dapat lebih bermakna, berkualitas, dan sangat menyenangkan. Tujuan literasi sekolah adalah untuk meningkatkan warga dan lingkungan sekolah menjadi literat, dan menjadikan sekolah unggul [13] [14]. Budaya literasi merupakan kebiasaan membaca, menulis, dan memahami informasi secara kritis dalam kehidupan sehari-hari. Ini juga mencakup pada kemampuan individu untuk mengakses, memancarkan, dan menggunakan informasi dari berbagai sumber dengan cara yang bermakna. Budaya literasi juga mencakup pengembangan keterampilan komunikasi, kreativitas, dan pemikiran kritis yang sangat penting untuk kemajuan sosial dan intelektual masyarakat. Budaya literasi sendiri bertujuan untuk menumbuhkan kebiasaan berpikir yang diikuti oleh proses membaca dan menulis, yang pada akhirnya akan menghasilkan sebuah karya sebagai hasil dari kegiatan tersebut. Namun sayangnya, masyarakat Indonesia saat ini mengalami krisis literasi. Mereka seolah tak peduli dengan pentingnya budaya literasi di tengah arus globalisasi yang semakin menggerus kebiasaan literasi.

Pemahaman orang tentang makna literasi dan literasi dipengaruhi oleh penelitian akademik, institusi, konteks nasional, nilai-nilai budaya, dan pengalaman. Pemahaman yang paling umum dari literasi adalah kumpulan kemampuan nyata, terutama kemampuan kognitif untuk membaca dan menulis. Pemahaman ini berbeda-beda tergantung pada situasi dimana kemampuan tersebut diperoleh dan dari siapa mereka diperoleh. Tujuan dari budaya literasi adalah untuk menumbuhkan kemampuan orang untuk memperoleh, mengetahui, dan memanfaatkan informasi secara lebih mendalam dan lebih efektif, tujuannya adalah ; 1. Meningkatkan kemampuan membaca dan menulis, yang merupakan dasar untuk belajar dan komunikasi, 2. Meningkatkan kemampuan berpikir kritis, yang memungkinkan seseorang berpikir kritis dan menyebarkan informasi dengan bijak., 3. Memotivasi partisipasi aktif dalam masyarakat, karena literasi yang baik memungkinkan seseorang untuk berpatisipasi dalam berbagai aspek kehidupan sosial, politik, dan ekonomi., 4. Memfasilitasi pertumbuhan pribadi melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan keahlihan. Perpustakaan merupakan lembaga pengelolaan sumber informasi yang berperan penting dalam pengembangan gerak membaca dan menulis siswa. Salah satu upaya pemerintah mengembangkan budaya literasi adalah dengan mengadakan program pojok baca di setiap sudut ruang kelas. Pojok baca merupakan sudut ruangan yang ditata dengan jelas dan menarik dimana buku digunakan dan disimpan. Keberadaan tempat pojok baca

tidak menggantikan peran perpustakaan, namun perpustakaan sekolah bersifat terpusat dan hanya dapat digunakan oleh warga sekolah, maka pojok baca kelas berfungsi untuk memperluas fungsi dari perpustakaan [15].

Pentingnya literasi akademik telah banyak dipelajari dalam penelitian sebelumnya. Seringkali peserta didik yang belajar merupakan yang malas, merasa membaca itu merupakan bacaan yang sangat membosankan dan tidak penting. Namun di beberapa tempat sekolah menerapkan dan hanya memerlukan sumber daya waktu yang terbatas, waktu pelatihan, dan kebutuhan buku-buku lainnya. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi minat baca anak, seperti keluarga dan lingkungan luar. Rendahnya minat baca peserta didik terdapat beberapa faktor yaitu; harga buku dan terbatasnya sumber perpustakaan. Perkembangan teknologi gadget dapat mengurangi kebersamaan hubungan dan komunikasi khusus antar individu. Peserta didik lebih tertarik bermain game melalui aplikasi dibandingkan membaca buku. Hal ini dapat menyebabkan menurunnya minat baca peserta didik [16][17][18].

Hasil penelitian dari Program for International Student Assesment yang dikutip dari Panduan gerakan literasi sekolah, Organization for Co-operation and Develepment (OECD) menunjukkan bahwa peserta didik di Indonesia secara umum mampu mempertahankan kualitas hasil pembelajaran dalam nilai PISA mereka. Pada saat beberapa tahun terakhir sistem pendidikan di Indonesia, terutama disaat pandemi Covid-19 merupakan masa yang sangat sulit, yaitu mengalami penurunan sebesar 18 poin skor literasi membaca, sedangkan skor Indonesia mengalami penurunan sebesar 12 poin, yang merupakan penurunan dengan kategori rendah dibandingkan negara-negara lain. Hal ini menunjukkan bahwa negara Indonesia menepati peringkat naik sebesar 5-6 posisi dibanding tahun 2018. Rendahnya keterampilan tersebut membuktikan bahwa proses pendidikan tidak menumbuhkan pemahaman membaca dan minat terhadap ilmu pengetahuan peserta didik. Pemerintah Indonesia melalui Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudaayaan Nomor 23 Tahun 2022 melaksanakan kegiatan peningkatan minat baca di sekolah dasar sejak awal pembelajaran. Salah satu kegiatan tersebut adalah “ kegiatan membaca diluar kelas (outside of class) “ selama 15 menit yang dilakukan sebelum waktu belajar dimulai. Kegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk menumbuhkan minat membaca peserta didik, yang akan membantu mereka meningkatkan mint membaca dan berhasil memperoleh seta melengkapi ilmu pengetahuan lainnya. Budaya literasi sekolah sangat penting untuk meningkatkan mutu pembelajaran, memajukan dan mengembangkan keterampilan peserta didik, membiasakan membaca serta mengelola informasi yang diterima agar pembelajaran lebih bermanfaat [19].

Pada pelaksanaan tugas literasi di sekolah, terdapat beberapa tahapan yaitu : a. Pembiasaan, b. Pengembangan, c. Pembelajaran. Tahap pembiasaan merupakan peningkatan minat membaca akibat kegiatan membaca selama 15 menit. Sekolah dapat menciptakan dalam jumlah besar cerita rakyat dan dongeng pada tingkat ini untuk membangkitkan minat baca peserta didik selama pembelajaran. Pada tahap pengembangan adalah kemampuan literasi dapat ditingkatkan melalui kegiatan yang mendukung pengayaan buku. Tujuan dari tahapan ini adalah untuk mengembangkan keterampilan membaca, seperti intonasi yang benar saat membaca buku, menulis dongeng, dan mendiskusikan isi cerita. Tahap pembelajaran adalah pada saat setiap orang menggunakan bahan bacaan pengayaan dan teknik membaca khusus mata pelajaran untuk meningkatkan keterampilan membaca peserta didik pada setiap mata pelajaran. Pada saat ini tujuan sekolah adalah menumbuhkan dan memelihara minat baca peserta didik dalam membaca buku pelajaran. Salah satunya adalah melakukan kegiatan permainan edukasi yang dikemas dengan teks bermanfaat untuk membantu minat membaca peserta didik. Minat adalah kecenderungan untuk tertarik dan menikmati suatu aktivitas tertentu. Orang yang tertarik pada suatu aktivitas akan memperhatikannya, menikmatinya, dan berpatisipasi. Minat baca peserta didik memotivasi untuk meiliki ketertarikan, memperhatikan, menikamati membaca, dan melakukan kegiatan membaca sendiri [20].

Berdasarkan hasil penelitian PISA (Programme of International Student Assesment) pada tahun 2022 Indonesia menduduki peringkat naik sebesar 5-6 posisi dibanding pada tahun 2018. Penilaian PISA tidak hanya menilai kemampuan memahami teks, tetapi juga pemahaman membaca. Artinya kemahiran membaca adalah 359 poin, turun sebesar 10 poin pasa PISA 2018 dan matematika 366 poin, turun sebesar 15 poin dibandingkan tahun 2018, namun ini adalah hasil umum dari OECD ( Organization of Economic Cooperation ). Berdasarakan hasil diatas dapat disimpulkan bahwa peserta didik tidak memiliki kemampuan memahami bacaan yang rendah, sehingga tidak dapat menyelesaikan tugas membaca yang paling dasar. Ini berarti berbagai pihak, termasuk dunia pendidikan, harus melakukan sesuatu untuk memperbaiki situasi ini. Salah satu cara untuk melakukan ini adalah dengan membiasakan anak-anak untuk membaca melalui contoh dan praktik. Sekolah adalah tempat untuk mendorong minat baca peserta didik disemua tingkat pendidikan, bisa dimulai dari kelas rendah hingga kelas tinggi. Minat baca harus ditanamkan sejak awal agar peserta didik dapat mengenal dunia buku sejak dini. Oleh karena itu, kalimat teks, simbol, kode, gambar, dan data yang disajikan dalam buku bukan sebagai ancaman yang menakutkan bagi siswa yang akan membaca, namun diperlukan bagi peserta didik untuk mengembangkan wawasan dan pengetahuan diri, sekolah perlu memperhatikan literasi. Konsep pendidikan di Indonesia di dasarkan pada pembelajaran sepanjang hayat, yang artinya setiap orang wajib belajar sejak lahir hingga akhir hayatnya.

Hal ini menjadikan landasan berkembangnya masyarakat dan terciptanya masyarakat yang cerdas. Membangun masyarakat seperti itu tentu saja harus harus dimulai dengan budaya membaca. Literasi memberikan kesempatan bagi seseorang untuk berpikir kritis, dan kreatif tentang berbagai aspek kehidupan. Untuk melakukan hal ini, diperlukan adanya keterampilan pribadi, dengan focus pada keterampilan rasional. Hal ini tentunya mengutamakan keterampilan guna untuk menggali informasi dan menemukan informasi. Kemampuan sebagian besar anak untu membaca adalah inti dari pendidikan dan pembelajaran seumur hidup. Menurut Sudarsono dan Bastiano ada beberapa indikator dapat dapat digunakan untuk mengetahui tingkat minat baca seseorang; 1. Kesenangan dalam membaca, 2. Kesadaran akan manfaat membaca, 3. Frekuensi membaca, 4. Kuantitas membaca. Oleh karena itu, minat membaca sangat penting untuk meningkatkan prestasi akademik peserta didik. Menurut damayanti ada tiga aspek dalam mengembangkan minat membaca peserta didik, yaitu ; 1. Aspek pedagogi, dalam aspek ini lebih ditekankan pada motivasi guru kelas, 2. Aspek sosial budaya, aspek ini percaya bahwa minat baca dapat dikembangkan melalui hubungan sosial dan praktik di sekolah yang diterapkan ke masyarakat, 3. Aspek perkembangan psikologis, berkaitan dengan hal tersebut guru sebagai orangtua di sekolah dan memerlukan pemikiran serius guna untuk memotivasi peserta didik agar minat dalam membaca. Minat merupakan sifat dan sikap yang berkaitan dengan keinginan, menunjukkan kecenderungan dan keinginan yang kuat untuk mendapatkan atau melakukan sesuatu. Minat dapat dipupuk dan dikembangkan sehingga menjadi kebiasaan unik pada diri seseorang. Perkembangan minat ada tahapannya, yaitu ; 1. Dapat dipengaruhi oleh lingkungan, 2. Dipertahankan karena lingkungkan yang nyaman, 3. Dipertahankan karena minat dapat tumbuh dan berkembang, 4. Berkembang, minat baca harus dapat dikembangkan sebagai bekal terlaksananya kegiatan yang menunjang peningkatan kualitas diri peserta didik, maka perlu untuk adanya peningkatan minat belajar.

Hal yang paling mendasar menurut peserta didik adalah mempunyai minat membaca yang tinggi untuk melengkapi ilmunya dan menjadikannya lebih bermakna. Semakin besar minat membaca peserta didik, maka pemahaman terhadap teks bacaan akan semakin baik. Minat membaca dapat mempengaruhi pemahaman dalam kegiatan membaca, sehingga dapat memepengaruhi pemahaman teks. Peserta didik yang secara rutin terlibat dalam kegiatan membaca sesuai dengan minatnya mempunyai kemampuan pemahaman bacaan yang lebih baik. Tidak ada peserta didik yang dapat mencapai kesuksesan, baik dalam akademik, maupun non-akademik tanpa membaca buku. Pembangunan dibidang pendidikan Indonesia telah memungkinkan perluasan akses pendidikan dan pemberantasan buta aksara dengan hasil yang signifikan. Tercatat sejak pancangan proyek SD Inpres (Instruksi Presiden) pada tahun 1973, upaya untuk meningkatkan akses pendidikan telah meningkatkan partisipasi peserta didik usia sekolah dan mungkin mengurangi jumlah orang buta aksara. Angka pemberantasan buta aksara mengalami penurunan yang signifikan, turun dari 39,1% pada tahun 1971 menjadi 28,8% pada tahun 1980, kemudian kembali turun menjadi 15,9% pada tahun 1990. Pada era reformasi, angka pemberantasan buta aksara berhasil turun menjadi 10,1% pada than 2000, 6,3% pada tahun 2010, dan sisanya 4,4% pada tahun 2014.

Hasil perhitungan Indeks Alibaca menunjukkan bahwa nilai rata-rata Nasionalnya adalah 37,32% tergolong kategori aktivitas yang sangat rendah. Menurut Indeks Nasional, diperoleh dari empat dimensi indeks, yaitu Dimensi Keterampilan mencapai 75,92 poin, Dimensi Akses mencapai 23,09 poin, Dimensi Alterntif mencapai 40,49 poin, dan Dimensi Budaya mencapai 28,50 poin. Salah satu dimensi yang paling menonjol yaitu Dimensi Kualifikasi, diperoleh dari dua indikator, yaitu tingkat buta huruf latin dan Rata-rata Lama Sekolah (RLS). Kedua indikator ini menunjukkan bahwa pemerintah telah memperluas akses pendidikan untuk meningkatkan literasi masyarakat. Mereka juga menunjukkan bahwa upaya pemerintah untuk memerangi buta huruf dan pemerataan pendidikan. Dimensi alternatif terdiri dari subdimensi akses di masyarakat dan akses di sekolah. Namun, dimensi ini menunjukkan bahwa masyarakat umumnya sudah mulai menggunakan teknologi informasi. Subdimensi akses dapat dikenali melalui dua indikator, yaitu keadaan perpustakaan sekolah yang baik dan pengelola perpustakaan sekolah. Untuk dimensi akses masyarakat memiliki beberapa indikator, yaitu keberadaan perpustakaan umum, keberadaan masyarakat, sert jumlah rumah tangga yang membeli koran dan majalah. Adapun dimensi budaya ini mencakup lima indikator, yaitu; anggota rumah tangga yang membaca koran atau majalah, anggota rumah tangga yang membaca buku cetak, anggota rumah tangga yang membaca berita atau artikel, anggota rumah tangga yang mengunjungi perpustakaan, dan anggota rumah tangga yang memanfaatkan taman baca.

Terkait Dimensi Budaya, tampaknya minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong sangat rendah. Hal ini ditunjukkan oleh tingkat literasi yang masih terbatas, baik cetak maupun elektronik serta jumlah orang yang masih sedikit dalam memanfaatkan taman baca. Upaya sosialisasi melalui budaya literasi dan gemar membaca sering terhambat oleh rendahnya minat baca. Dari tiga puluh empat Provinsi Indonesia, sembilan memiliki minat baca sedang, dua puluh empat memiliki minat baca rendah, dan satu memiliki minat baca sangat rendah. Ini menunjukkan bahwa sebagian besar provinsi memiliki minat baca rendah, dan tidak ada satu pun yang memiliki minat baca tinggi. Hasil perhitungan indeks pada tingkat profinsi menunjukkan kecenderungan yang sama dengan hasil indeks Nasionl, dimana dimensi keterampilan memiliki skor tertinggi, diikuti oleh dimensi alternatif, dimensi akses, dan dimensi budaya. Selain itu, ada kecenderungan bahwa provinsi dengan jumlah kabupaten atau kota yang lebih sedikit

umumnya menerima skor yang lebih rendah. Hasil perhitungan indeks provinsi menunjukkan bahwa tiga provinsi dengan nilai indeks yang tertinggi, yaitu Provinsi DKI Jakarta, D.I.Y Yogyakarta, dan Kepulauan Riau.namun demikian, terdapat tiga Provinsi yang nilainya belum mencapai 80,01, mereka masih berada pada tingkat aktivitas literasi sedang. Provinsi yang berada pada peringkat rendah terdiri dari Papua, Papua Barat, dan Kalimantan.

Penelitian sebelumnya telah meneliti pentingnya kemampuan literasi. Beberapa hal yang dapat menyebabkan rendahnya minat baca peserta didik adalah tidak tertarik untuk membaca, mereka selalu malas membaca, menganggap bahwa membaca itu membosankan, dan percaya bahwa membaca itu tidak penting. Berdasarkan paparan diatas maka penelitian ini hendak menjawab pertanyaan sebagai berikut : (1). Bagaimana cara menumbuhkan minat baca pada peserta didik sekolah dasar?; (2). Apa penyebab budaya literasi membaca pada peserta didik sekolah dasar sangat kurang? Adapun, penelitian ini bertujuan untuk menguraikan penyebab perkembangan literasi membaca pada peserta didik sekolah dasar. Melalui penelitian ini diharapkan dapat menemukan peningkatan minat baca peserta didik sekolah dasar, sehingga mereka menjadi anak yang cerdas dan memiliki wawasan yang luas.

Metode

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif adalah pendekatan penelitian yang bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang fenomena atau peristiwa melalui pengumpulan data yang lebih kontekstual dan mendalam. Dalam penelitian kualitatif, menggunakan pendekatan fenomenologi. Penelitian fenomenologi merupakan suatu strategi penyelidikan di mana peneliti mengidentifikasi hakikat pengalaman manusia mengenai suatu fenomena sebagaimana deskripsikan oleh partisipan. Memahami pengalaman hidup menandai fenomenologi sebagai sebuah filsafat sekaligus metode, dan prosedurnya melibatkan studi terhadap sejumlah kecil subjek melalui keterlibatan yang ekstensif dan berkelanjutan untuk mengembangkan pola dan hubungan makna[21]. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peristiwa atau kejadian berupa pengalaman dari subjek penelitian terkait dengan peranan budaya literasi dalam menumbuhkan minat baca peserta didik sekolah dasar. Teknik ini berfokus pada penentuan lokasi dan individu, pendekatan, pemilihan informan, pengumpulan data (wawancara, observasi, dokumentasi), analisis data, dan pelaporan. Tahapan dari fenomenologi yaitu: 1. Penentuan fenomena dan peran peneliti, 2. Pengumpulan data melalui observasi atau wawancara, 3. Analisis data dengan mengidentifikasi unit makna atau tema, 4. Penyusunan laporan. Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa 1. Observasi, kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar antusias peserta didik dengan adanya kegiatan budaya literasi., 2. Wawancara, dilaksanakan dengan responden yakni wali kelas 3 untuk mengetahui faktor-faktor pendukung serta penghambat dalam proses kegiatan belajar mengajar peserta didik., 3. Dokumentasi, digunakan untuk mengabadikan hasil-hasil penelitian untuk memperlancar proses pembuatan laporan.

Penelitian ini melibatkan Kepala Sekolah, Wali Kelas, dan Peserta Didik Kelas 3. Teknik analisis data menurut Miles and Haberman yaitu menggunakan, 1. Pengumpulan data, peneliti mencatat semua fenomena di lapangan melalui pengamatan, wawancara, dan dokumentasi sebagai pengumpulan data bagi peneliti., 2. Reduksi data, peneliti memilih data yang relevan, penting, dan bermakna dengan menelaah kembali catatan awal hasil pengamatan, wawancara, dan dokumentasi. Kemudian menyederhanakannya dengan memisahkan data yang dianggap penting dan tidak penting atau disebut klasifikasi dan abstraksi data., 3. Penyajian data, peneliti mendeskripsikan data yang telah diklasifikasikan dengan memperhatikan fokus tujuan penelitian yang bersifat naratif, sehingga dalam penyajian data secara deskriptif yaitu menjelaskan data-data yang diperoleh dalam bentuk analisis dengan alur yang secara berurutan.,

4. Penarikan kesimpulan, setelah penyajian data, maka tahap terakhir yakni penarikan simpulan atau verifikasi data. Peneliti membuat analisis dalam bentuk hasil penelitian yang didukung bukti-bukti yang valid dan konsisten [22]. Teknik pemeriksaan keabsahan data dilakukan dengan triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang menggunakan sesuatu di luar data untuk pengecakan atau sebagai pembanding dengan data sebelumnya. Penelitian ini menggunakan teknik triangulasi waktu sebagai teknik keabsahan data penelitian.

Hasil dan Pembahasan

A. Hasil

Pada saat peneliti melakukan pengamatan di kelas 3 SDN Sepande, Candi, Sidoarjo memiliki pojok baca yang terletak pada belakang sebelah kiri. Di dalam pojok baca tersebut di letakkan banyak buku mulai dari buku pelajaran hingga buku non-pelajaran yang semuanya membantu untuk peningkatan pengetahuan peserta didik, buku- buku ini di tata serapi mungkin dan semenarik mungkin guna untuk menarik peserta didik membaca, dan pojok baca yang terdapat di beberapa kelas masing-masing di tata oleh gurunya agar nyaman saat membaca dan betah untuk lama- lama di pojok baca kelas. Terlihat bahwa peserta didik antusias mengunjungi pojok baca dan semangat membaca sehingga ada bagian yang tidak mengerti dari bahan bacaannya peserta didik langsung bertanya kepada gurunya dan guru tersebut memberikan jawaban yang jelas kepada peserta didik. Peserta didik sangat memperhatikan pojok baca, seperti yang ditunjukkan ketika buku yang terjatuh mereka segera mengembalikannya ke tempat semestinya. Dari hal ini menunjukkan bahwa peserta didik di setiap kelas sangat tertarik mengunjungi pojok baca yang saat ini tersedia.

Peserta didik sangat antusias ketika peneliti memberikan sebuah buku bacaan cerita untuk dibaca kepada semua peserta didik. Buku bacaan tersebut yang berjudul “Ketika Lautan Marah” peserta didik sangat senang membacanya. Peserta didik membaca dengan dalam hati, setelah membacanya peserta didik diminta guru untuk menuliskan nama penulis, judul buku, dan pesan-pesan dalam cerita tersebut serta meresume apa yang telah dibaca. Guru meminta beberapa peserta didik untuk menceritakan hasil meresume dari buku yang mereka baca. Peserta didik sangat senang apa yang mereka baca karena buku bacaan yang sesuai dengan minat baca mereka. Terlihat peserta didik semakin meningkat karena adanya buku bacaan yang sesuai minat baca mereka sehingga menarik perhatian peserta didik untuk membawa buku bacaan yang sesuai dengan minat bacanya.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh peneliti dengan Bapak Mujahidin, S.Ag.M.Pdi selaku Kepala Sekolah SDN Sepande, Candi, Sidoarjo mengatakan bahwa kegiatan budaya literasi dilaksanakan sejak tahun 2022-2025. Terkait dengan peran budaya literasi beliau mengatakan bahwa dengan tujuan adanya budaya literasi sangat membantu peserta didik dalam memperoleh ilmu, selain itu juga akan terbiasa membaca. Karena semua ilmu itu berasal dari kebiasaan membaca dan mencerdaskan pikiran peserta didik. Menurut Bapak Kepala Sekolah kegiatan budaya literasi berjalan dengan baik. Beliau menemukan bahwa peserta didik membentuk budaya literasi dengan gaya dan ciri khas dari tiap kelas yang berbeda-beda. Adapun upaya dalam penerapan budaya literasi untuk membina minat baca peserta didik dan penggerak, pembimbing, dan teladan yang mampu menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif bagi tumbuhnya budaya literasi yang berkelanjutan dan berkualitas. Adapun kendala/kekurangan dalam penerapan budaya literasi jumlah buku yang masih minim di perpustakaan serta ruang baca yang kurang memadai.

Hasil wawancara juga dilakukan dengan Ibu Lis Anik Purwanti, S.Pd., selaku Wali Kelas 3 SDN SEPANDE Sidoarjo terkait dengan peran budaya literasi dalam menumbuhkan minat baca peserta didik kelas 3 yakni rutin diajak membaca bersama, membaca nyaring, dan membiasakan peserta didik membaca selama 10-15 menit sebelum pemlajaran dimulai. Tujuan literasi yakni dapat menumbuhkan minat baca peserta didik dan dengan adanya literasi maka pengetahuan semakin banyak. Peran dari wali kelas 3 dalam kegiatan literasi yakni sebagai fasilitator, motivator, dan teladan bagi kegiatan membaca. Peran wali kelas sangat penting untuk menumbuhkan peran budaya literasi. Ada kendala atau tantangan yang dialami di kelas 3A, dimana ditemukan beberapa peserta didik yang proses bacanya masih belum lancar tetapi sudah tau huruf-huruf, jika disuruh menyambungkan kata-kata masih belum bisa. Namun demikian, wali kelas 3 tetap semangat dan giat serta selalu memberikan kiat-kiat demi kelancaran membaca. Sumber buku yang membikin semangat membaca dari perpustakaan dan dari bantuan orang tua peserta didik. Karena menurut beliau dapat membantu peserta didik dalam menumbuhkan minat baca. Kondisi minat baca peserta didik juga meningkat dengan adanya budaya literasi sekolah. Adanya kebiasaan membaca yang dilakukan setiap sebelum pembelajaran dimulai dan memiliki dampak positif berupa peningkatan hasil belajar akademik mulai terlihat, sikap percaya diri saat membaca, dan bercerita juga.

Hasil wawancara yang diperoleh di ruangan kelas 3 yakni dapat terlihat peran peserta didik kelas 3 sangat aktif dalam menumbuhkan peran budaya literasi melalui kegiatan membaca : peserta didik terlihat aktif dalam melakukan kegiatan budaya literasi, peserta didik aktif membaca buku cerita yang berjudul “Ketika Laut Marah”, peserta didik terlihat sangat antusias dalam melakukan kegiatan membaca maupun bercerita. Membaca buku sangat memudahkan untuk mendapatkan sesuatu untuk dibaca. Adapun hasil wawancara yang diperoleh peneliti ini adalah dari seorang peserta didik mengatakan bahwa dengan membaca banyak informasi yang diperoleh dengan mudah dan peserta didik tidak pernah merasa jenuh ketika membaca selama 10-15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Peserta didik juga sangat antusias ketika disuruh membaca sebelum pembelajaran dimulai. Tetapi sebelum adanya program

kegiatan budaya literasi diterapkan, peserta didik tidak membaca buku bacaan. Dapat disimpulkan bahwa kegiatan budaya literasi pada peserta didik kelas 3 berjalan dengan maksimal.

Dari hasil wawancara disimpulkan data tersebut bahwa SDN Sepande, Candi, Sidoarjo telah melaksanakan budaya literasi sekolah untuk menumbuhkan minat baca pada pembelajaran melalui tiga tahapan yaitu; tahap pembiasaan, tahap pengembangan, dan tahap pembelajaran. SDN Sepande, Candi, Sidoarjo sudah menerapkan budaya literasi yang cukup baik. Kegiatan budaya literasi di SDN Sepande, Candi, Sidoarjo melibatkan beberapa aktivitas seperti : 1. Membiasakan membaca selama 10-15 menit sebelum pelajaran dimulai., 2. Penyediaan pojok baca dikelas. Kegiatan membaca dalam waktu 10-15 menit dilakukan bertujuan untuk dapat menumbuhkan minat baca peserta didik dan dengan adanya literasi maka pengetahuan semakin banyak. Kegiatan ini diawali dengan membaca bersama dan dilanjutkan dengan membaca secara individu, membaca dengan cara melafalkan teks dengan suara keras dan jelas, sehingga dapat di dengar dan dipahami oleh yang lain, serta menceritakan kembali apa yang telah dibaca. Hal ini ditunjukkan peserta didik terlihat aktif dalam melakukan kegiatan budaya literasi, peserta didik aktif membaca buku cerita yang berjudul “Ketika Laut Marah”, peserta didik terlihat sangat antusias dalam melakukan kegiatan membaca maupun bercerita.

Selain itu program literasi di SDN SEPANDE Sidoarjo dengan adanya upaya-upaya yang digunakan untuk dapat menumbuhkan membaca juga dilaksanakan meliputi: menciptakan lingkungan yang mendukung dengan menyediakan perpustakaan dan sudut baca yang nyaman dengan berbagai jenis buku, termasuk buku akademik, non akademik, fiksi, non fiksi, dan komik. Penataan perpustakaan yang menarik agar peserta didik merasa nyaman dan tertarik untuk membaca. Pembiasaan membaca 10-15 menit sebelum memulai pembelajaran yang bertujuan untuk membangun kebiasaan membaca rutin dan menanamkan nilai-nilai karakter melalui bacaan dan diberi waktu seminggu sekali ke perpustakaan, penyediaan pojok baca di kelas, dan mengadakan lomba literasi yang dibersamakan pada saat 17 Agustus.

Dalam penerapan budaya literasi untuk menumbuhkan minat baca peserta didik sekolah dasar tidak dipungkiri munculnya hambatan yakni : 1. Rendahnya minat baca peserta didik menjadi tantangan utama yang sering ditemui yang menghambat upaya literasi., 2. Keterbatasan sarana dan prasarana, seperti kurangnya jumlah dan variasi buku di perpustakaan, kurangnya pojok baca yang memadai, serta fasilitas pendukung literasi yang belum optimal.,

3. Dukungan orangtua dan masyarakat yang minim, sehingga lingkungan diluar sekolah kurang mendukung budaya literasi peserta didik., 4. Ketersediaan buku yang terbatas, jumlah jenis buku yang tidak memadai, dan perpustakaan yang tidak nyaman atau sulit diakses., 5. Tidak adanya dukungan dan keterlibatan orang tua dalam kegiatan literasi disekolah menghambat pertumbuhan kebiasaan membaca yang berkelanjutan diantara peserta didik.

B. Pembahasan

1. Minat Baca Peserta Didik: Kewajiban dan Kesadaran

Dari hasil penelitian terlihat bahwa pojok baca di kelas berperan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik, ada yang lebih tertarik membaca buku pelajaran dan ada juga yang tertarik membaca buku non-pelajaran. Minat membaca adalah sebuah dorongan yang timbul maupun keinginan yang besar pada diri manusia yang menyebabkan ia menaruh perhatian yang disertai perasaan senang pada kegiatan membaca sehingga dapat mengarahkan seseorang untuk membaca dengan kemauannya sendiri. Kegiatan membaca perlu terus dilakukan menjadi sebuah kebiasaan, karena minat baca seseorang mempunyai pengaruh yang besar terhadap kebiasaan membaca. Minat baca sangat penting karena mendorong seseorang untuk berusaha sungguh-sungguh agar bisa memahami, mengingat, dan menganalisis apa yang mereka baca. Membaca sedemikian pentingnya karena memberikan manfaat dan memberikan dampak yang positif bagi individu yang melakukannya, diantara manfaat membaca ialah dapat menambah pengetahuan dan wawasan seseorang [23].

Kegiatan membaca saat ini masih belum menjadi sesuatu yang menarik minat para peserta didik, khususnya peserta didik sekolah dasar. Cukup sulit untuk bisa merubah aktivitas membaca ini menjadi sebuah budaya, namun masih banyak usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat baca peserta didik, salah satunya adalah mendekatkan peserta didik terhadap sumber bacaan, yaitu dengan membuat pojok baca, dinding baca maupun sudut baca. Membaca buku sangat memudahkan untuk mendapatkan sesuatu untuk dibaca. Adapun hasil wawancara yang diperoleh peneliti ini adalah dari seorang peserta didik mengatakan bahwa dengan membaca banyak informasi yang diperoleh dengan mudah dan peserta didik tidak pernah merasa jenuh ketika membaca selama 10-15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Peserta didik juga sangat antusias ketika disuruh membaca sebelum pembelajaran dimulai.

Tetapi sebelum adanya program kegiatan budaya literasi diterapkan, peserta didik tidak membaca buku bacaan. Di SDN Sepande, Candi, Sidoarjo sebagai bagian dari rencana literasi yang bertujuan untuk meningkatkan minat baca peserta didik dan meningkatkan literasi di sekolah, termasuk peserta didik mewajibkan membawa buku bacaan dari rumah, ke sudut baca sehingga mereka tidak perlu mengambil buku di perpustakaan.

Hal tersebut sejalan dengan penelitian di SDN Sepande, Candi, Sidoarjo yang telah melaksanakan kegiatan literasi dalam meningkatkan minat baca peserta didik dalam membaca dengan baik adalah dengan timbulnya semangat. Menurut Snow mengartikan literasi sebagai kemampuan membaca dan menulis yang berkembang melalui lingkungan sosial dan budaya. Ia menegaskan bahwa perkembangan literasi setiap individu sangat dipengaruhi oleh variasi lingkungan, interaksi sosial, serta budaya di mana individu tersebut tumbuh dan belajar. Konsep literasi dan perkembangannya sangat bervariasi pada sejumlah aspek, serta dipengaruhi oleh proses belajar dari kecil melalui keluarga dan lingkungan sekitarnya [24].

Pembelajaran berbasis literasi. Tujuan kegiatan literasi adalah untuk meningkatkan kemampuan untuk memahami teks dan mengkaitakannya dengan pelajaran yang diajarkan di sekolah. Ini dapat dicapai dengan menanggapi teks dari buku pelajaran dan buku bacaan pengayaan. Pertama, mengintegrasikan kegiatan membaca dengan mata pelajaran. SDN Sepande, Candi, Sidoarjo telah mengembangkan budaya literasi membaca melalui kegiatan membaca. Oleh karena itu, sebagai bagian penting dari proses literasi, guru juga harus memasukkan kegiatan membaca ke dalam tahap pembelajaran sehingga peserta didik dapat mempertahankan minat bacanya dan tetap konsisten dalam membaca bukunya. Saat observasi dilakukan, guru kelas 3 memberikan kesempatan kepada beberapa peserta didik untuk membacakan teks-teks yang ada dalam buku secara nyaring dan kemudian meminta peserta didik untuk bertanya tentang apa yang ada dipikiran mereka tentang bacaan tersebut.

Selain itu, guru juga berupaya semaksimal mungkin dalam menumbuhkan minat membaca siswa di kelas dengan memfasilitasi pojok baca yang nyaman, rapi dan menarik untuk menarik perhatian siswa supaya selalu berkunjung ke pojok baca. Peran pojok baca di kelas yang menumbuhkan minat membaca siswa yaitu: 1) sebagai fasilitas tempat membaca yang membantu siswa untuk terus membaca di dalam kelas, 2) sebagai bahan bacaan terdekat yang terdiri dari berbagai jenis buku mulai dari buku pelajaran sampai buku non pelajaran, 3) tempat yang nyaman untuk membaca, tempat yang nyaman akan membuat siswa merasa betah berlama-lama di pojok baca untuk membaca buku yang terdapat di dalam pojok baca 4) tempat baca yang menarik perhatian siswa untuk terus membaca karena pojok baca di hias semenarik mungkin agar membuat siswa selalu ingin berkunjung di sana. Hal ini sesuai dengan pendapat yang menyatakan bahwa Pojok baca adalah sebuah sudut baca di kelas yang dilengkapi dengan koleksi buku yang ditata secara menarik untuk menumbuhkan minat baca siswa .

Dari hasil wawancara disimpulkan data tersebut bahwa SDN Sepande, Candi, Sidoarjo telah melaksanakan budaya literasi sekolah untuk menumbuhkan minat baca pada pembelajaran melalui tiga tahapan yaitu; tahap pembiasaan, tahap pengembangan, dan tahap pembelajaran.

2. Tahap Pembiasaan

Pada tahap ini merupakan tahapan awal peserta didik untuk dibiasakan dalam membaca. Pembiasaan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat terhadap bacaan dan kegiatan membaca dalam diri warga sekolah. Dengan tujuan menumbuhkan minat baca bagi pengembangan kemampuan literasi peserta didik.beberapa kegiatan pada tahapan pembiasaan; pertama, Diberi waktu 1 minggu sekali ke perpustakaan, sebelum pelajaran dimulai membaca peserta didik diminta membaca buku selama 15 menit. Hal pertama yang dilakukan saat mengenalkan kegiatan literasi adalah dengan meminta peserta didik membaca buku non-akademik selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Membaca buku non-akademik selama 15 menit setiap sebelum pelajaran dimulai dilakukan dengan berbagai metode termasuk membaca bersama dan membaca nyaring. Kegiatan membaca 15 menit merupakan kebiasaan yang sederhana dan mudah dilakukan, menurut guru kelas 3 mengatakan bahwa ini adalah langkah awal yang bagus untuk menumbuhkan minat baca peserta didik karena kegiatan tersebut dilakukan secara konsisten dan menyenangkan bagi peserta didik. Kedua,Saran dan Prasarana SDN Sepande, Candi, Sidoarjo memanfaatkan lingkungan sebagai upaya mendukung kegiatan literasi seperti perpustakaan yang dibuat untuk sebagai sumber kegiatan membaca peserta didik. Beberapa kelas juga menggunakan sudut kelas sebagai pojok baca. Pojok baca dapat menjadi solusi yang baik dapat membantu peserta didik menjadi tertarik dengan kegiatan membaca. Pojok baca yang dirancang dengan baik akan memberikan banyak manfaat bagi peserta didik, seperti menumbuhkan rasa ingin tahu untuk membaca, menjadi lebih dekat dari perpustakaan sehingga memiliki lebih banyak waktu membaca, menjadi lebih sennag dengan suasana kelas, dan lebih banyak menghabiskan waktu membaca daripada di kantin. Lingkungan sekolah serta saran dan prasarana sangat berpengaruh terhadap kenyamanan peserta didik dalam belajar, terutama membaca. Ketiga, Setiap kelas berkunjung ke perpustakaan minimal 1 minggu sekali. Kegiatan ini merupakan tahap pembiasaan sangat penting bagi peserta didik karena mereka akan terbiasa dengan lingkungan perpustakaan dan menyukai membaca. Kegiatan rutin ini tidak hanya meningkatkan minat baca peserta didik, tetapi juga mengajarkan mereka kedisiplinan dan tanggung jawab. Dengan

sering berkunjung ke perpustakaan, peserta didik menjadi familiar dengan berbagai jenis bacaan buku dan mengembangkan kebiasaan membaca yang menyenangkan. Lama-kelamaan mereka tidak hanya datang meminjam buku, tetapi juga menikmati waktu mereka membaca ditempat, berdiskusi dengan isi buku bacaan, dan berbagi cerita dengan teman-temannya [25].

3. Tahap Pengembangan

Tahap pengembangan dilaksanakan sebagai upaya untuk peserta didik lebih tertarik untuk berpatisipasi dalam kegiatan membaca dan kegiatan yang berkaitan dengan membaca. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kelancaran membaca peserta didik. Tahapan ini bertujuan untuk memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan potensi dalam diri mereka secara produktif. Setelah sebelumnya peserta didik mengikuti kegiatan pembiasaan membaca 15 menit sebelum pembelajaran dimulai, peserta didik akan menunjukkan kemampuan mereka dalam menanggapi dongeng atau cerita yang telah dibacakan secara lisan ataupun tulisan. Pertama, ketika peserta didik mengisi buku pengayaan membaca, kemudian guru mengajukan berbagai pertanyaan sebagai pengayaan dan refleksi kepada peserta didik. Berdasarkan apa yang telah diamati peneliti selama kegiatan membaca, guru mengajukan pertanyaan, seperti “Dari buku cerita yang kalian baca, tentukan Judul, Penulis, Tokoh, Karakter, dan Amanat setelah membaca tadi?” Pertanyaan tersebut kemudian akan dituliskan peserta didik pada pengayaan mereka sendiri. Sebelum menuliskannya, peserta didik diminta untuk menulis tanggal membaca dan identitas buku yang dibaca (judul buku, nama pengarang, halaman) . Kedua, mendiskusikan cerita yang dibaca bersama. Pada kegiatan pembiasaan membaca tidak selalu dilakukan secara mandiri oleh peserta didik, tetapi guru kelas 3 menggunakan model membaca bersama dan membaca nyaring. Sebelum membacakan cerita, guru mengajak peserta didik untuk menebak cerita yang akan dibaca dengan melihat sampul buku. Peneliti melihat bahwa peserta didik sangat antusias dalam mengutarakan pendapatnya. Setelah membaca, guru mengajak peserta didik untuk menyampaikan apa yang mereka telah pelajari dari cerita yang dibacakan atau amanat cerita tersebut. Ketiga, memanfaatkan perpustakaan sekolah. Perpustakaan sebagai pusat literasi disekolah yang mempunyai peran penting dalam menciptakan budaya membaca yang disukai peserta didik di sekolah. Semua informasi yang ada pada di perpustakaan akan memberikan warga sekolah wawasan baru dan lebih luas [26]. Peneliti melakukan observasi perpustakaan SDN Sepande, Candi, Sidoarjo, berdasarkan pengamatan peneliti melihat penataan perpustakaan yang kurang baik karena ada renovasi tempat dan penataan bukunya. Untuk rak buku beserta buku-bukunya masih layak dugunakan hanya saja penaataannya yang perlu direnovasi. Seluruh buku dilabeli/identitas dan di letakkan di rak buku sesuai kelompok mapel umum, kesustraan, ilmu murni, ilmu sosial, agama, dan karya umum. Petugas perpustakaan membuat jadwal kunjungan wajib bagi setiap kelas, dari kelas I sampai kelas VI berurutan dari senin sampai sabtu. Untuk meningkatkan minat baca, petugas perpustakaan mengatur buku-buku yang menarik perhatian peserta didik, seperti buku bergambar dengan ilustrasi yang menarik, serta menciptakan suasana lingkungan perpustakaan yang nyaman untuk tempat membaca.

4. Tahap Pembelajaran

Pembelajaran berbasis literasi. Pada tahap ini, tujuan kegiatan literasi adalah untuk meningkatkan kemampuan untuk memahami teks dan mengkaitakannya dengan pelajaran yang diajarkan di sekolah. Ini dapat dicapai dengan menanggapi teks dari buku pelajaran dan buku bacaan pengayaan. Pertama, mengintegrasikan kegiatan membaca dengan mata pelajaran. SDN Sepande, Candi, Sidoarjo telah mengembangkan budaya literasi membaca melalui kegiatan membaca. Oleh karena itu, sebagai bagian penting dari proses literasi, guru juga harus memasukkan kegiatan membaca ke dalam tahap pembelajaran sehingga peserta didik dapat mempertahankan minat bacanya dan tetap konsisten dalam membaca bukunya. Saat observasi dilakukan, guru kelas 3 memberikan kesempatan kepada beberapa peserta didik untuk membacakan teks-teks yang ada dalam buku secara nyaring dan kemudian meminta peserta didik untuk bertanya tentang apa yang ada dipikiran mereka tentang bacaan tersebut.

Guru juga menjelaskan dalam sesi wawancara bahwa ketika ada puisi, peserta didik akan diberi kesempatan untuk membacakannya di depan kelas dengan gayanya sendiri. Hal ini tidak hanya akan meningkatkan kemampuan membaca peserta didik, tetapi juga akan memberikan mereka keberanian dan kepercayaan diri untuk tampil didepan banyak orang. Kegiatan litearsi yang dilakukan di SDN Sepande, Candi, Sidoarjo telah berhasil menumbuhkan minat baca peserta didik sehingga gemar membaca menjadi karakter yang baik. Setelah dilaksanakan wawancara dengan guru kelas 3, diketahui bahwa sebagian besar peserta didik kelas 3 menunjukkan karakter gemar membaca, berdasarkan kegiatan membaca 15 menit. Peserta didik yang gemar membaca akan membaca buku bacaan yang disukainya dengan serius. Peserta didik dan guru mulai membaca buku masing-masing dalam suasana tenang selama 15 menit. Membaca dalam hati agar peserta didik dapat berkonsentrasi pada buku yang dibaca.

Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 berkaitan dengan budi pekerti, melibatkan peserta didik dalam kegiatan membaca non-akademik selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai merupakan salah satu cara untuk mendorong kecintaan mereka pada membaca, membuat pelajaran menjadi

menyenangkan, dan memicu daya imajinasi peserta didik [27]. Hal tersebut sejalan dengan penelitian di SDN Sepande, Candi, Sidoarjo yang telah melaksanakan kegiatan literasi dalam meningkatkan minat baca peserta didik dalam membaca dengan baik adalah dengan timbulnya semangat.

Selanjutnya pojok baca literasi. Pojok baca merupakan sebuah sudut di kelas yang dilengkapi dengan koleksi buku bacaan dan buku-buku penunjang mata pelajaran untuk menumbuhkan minat baca peserta didik. Pojok baca dapat dijadikan sarana untuk mendukung kegiatan belajar. Pojok baca kelas juga dikelola oleh guru, peserta didik, dan orang tua. Namun, buku-buku yang tersedia masih terbatas, hal ini terlihat bahwa hanya buku-buku tema, buku penunjang masih sangat sedikit. Selain tiu buku yang mengandung kearifan lokal pada daerah tersebut juga tidak tampak. Pelaksanaan pojok baca membaca dapat memberikan beberapa manfaat antara lain: minat membaca peserta didik semakin meningkat, alternatif bagi peserta didik yang gemar membaca, dapat mendekatkan peserta didik dengan buku. Dengan adanya kegiatan pojok baca secara optimal, budaya literasi membaca akan berjalan dengan baik sehingga adanya dukungan kepala sekolah, guru, peserta didik, dan orang tua untuk memaksimalkan kegiatan sudut baca berperan sebagai salah satu kegiatan budaya literasi membaca di sekolah dasar [28].

5. Strategi Guru dalam Menumbuhkan Minat Baca

Guru telah menerapkan berbagai strategis yang efektif guna meningkatkan kebiasaan membaca peserta didik. Salah satu strategi utama adalah pembiasaan peserta didik membaca selama 10-15 menit sebelum pelajaran dimulai sebagai bagian dari budaya literasi. Kegiatan ini berhasil membuat peserta didik menjadi kebiasaan membaca secara rutin. Selain itu guru mengadakan pojok baca di kelas dengan koleksi buku cerita yang menarik dan sesuai dengan minat peserta didik. Penggunaan metode bercerita juga diaplikasikan untuk membangkitkan antusia peserta didik terhadap minat baca. Guru juga mengadakan lomba literasi dan dibersamakan pada saat 17 Agustus dan juga memberikan apresiasi peserta didik yang aktif membaca, sehingga memotivasi peserta didik lain untuk berpatisipasi. Sebagian besar peserta didik menunjukkan keinginan untuk membaca lebih banyak, dan beberapa meminjam, serta membaca buku suka rela diluar jam pelajaran.

Strategi guru untuk menumbuhkan minat baca peserta didik dapat dilakukan baik oleh guru yang melatih peserta didik untuk membaca, menyediakan bahan bacaan yang menarik, dan menggunakan metode pengajaran yang kreatif. Pembiasaan membaca 10-15 menit sebelum pelajaran tidak hanya membentuk kebiasaan yang baik, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan dan kondusif. Pojok baca yang dilengkapi dengan buku-buku sesuai dengan minat peserta didik memungkinkan untuk memilih apa yang ingin mereka baca. Ini membuat peserta didik merasa lebih terlibat dan termotivasi. Metode cerita dapat merangsang imajinasi dan meningkatkan daya tarik membaca, serta menjadikan literasi menjadi aktivitas yang menyenangkan dan bukan sekedar kewajiban.

Lomba literasi membaca dan pemberian penghargaan menjadi motivator eksternal yang efektif untuk meningkatkan partisipasi peserta didik. Diskusi setelah membaca dapat meningkatkan pemahaman peserta didik, meningkatkan kemampuan komunikasi peserta didik, dan menumbuhkan rasa percaya diri. Namum beberapa kendala seperti buku bacaan kurang, kurangnya dukungan orang tua, terbatas dana, dan fasilitas perpustakaan yang kurang memadai. Startegi yang diterapkan guru tidak hanya menumbuhkan minat baca, tetapi juga membentuk budaya literasi yang positif di sekolah dasar. Menggunakan pendekatan yang menyenangkan dan sesuai dengan karakter peserta didik adalah kunci keberhasilan dalam meningkatkan minat membaca secara berkelanjutan [29].

Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar peserta didik sangat setuju dengan pernyataan-pernyataan yang berkaiatan dengan budaya literasi. Berikut adalah beberapa temuan penelitian : 1. Budaya literasi meningkatkan kemampuan membaca peserta didik : 85% peserta didik sangat setuju bahwa budaya literasi meningkatkan kemampuan mereka dalam membaca., 2. Budaya literasi membuat peserta didik lebih suka membaca: 80% peserta didik sangat setuju bahwa budaya literasi membuat mereka lebih suka membaca., 3. Budaya literasi membantu peserta didik memahami materi pelajaran: 82% peserta didik sangat setuju bahwa ini membantu mereka memahami materi pelajaran., 4. Budaya literasi meningkatkan kepercayaan diri peserta didik: 78% peserta didik sangat setuju bahwa ini meningkatkan kepercayaan diri peserta didik.

Kebaruan penelitian ini dengan penelitian terdahulu yaitu terdapat pada penelitian yang dilakukan oleh [30] yang berjudul “ Penerapan Pojok Baca Di Kelas Dalam Mendukung Budaya Literasi Di Sekolah Dasar ” memiliki fokus pada penerapan pojok baca di kelas sebagai cara untuk mendukung budaya literasi di sekolah dasar. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa penerapan pojok baca di kelas dapat meningkatkan minat peserta didik untuk membaca dan mendukung budaya literasi di sekolah. Sementara itu, penelitian saya sekarang memiliki fokus pada “ Penerapan BudayaLiterasiuntukMenumbuhkanMinatBacaPesertaDidikSekolahDasar. Perbedaan utama antara penelitian saya dan penelitian terdahulu adalah:

Fokus penelitian : penelitian terdahulu fokus pada penerapan pojok baca di kelas, sedangkan penelitian saya fokus pada penerapan budaya literasi secara keseluruhan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik. Sasaran penelitian :

penelitian terdahulu lebih fokus pada sarana fisik (pojok baca), sedangkan penelitian saya lebih fokus pada aspek budaya dan perilaku literasi. Tujuan penelitian : penelitian terdahulu bertujuan untuk mengetahui efektivitas pojok baca dalam mendukung budaya literasi, sedangkan penelitian saya bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan budaya literasi dalam menumbuhkan minat baca peserta didik.

Simpulan

Berdasarkan penelitian yang telah di lakukan dapat disimpulkan bahwa pojok baca sangat membantu menumbuhkan minat membaca siswa di kelas, hal ini terlihat dari keterlaksanaan indikator yang di gunakan peneliti pada saat melakukan pengamatan secara langsung atau observasi, serta di dukung dengan hasil wawancara. Peran pojok baca yang di dapat yaitu : 1) sebagai fasilitas tempat membaca, 2) sebagai bahan bacaan terdekat, 3) tempat yang nyaman untuk membaca 4) tempat baca yang menarik perhatian. Pojok baca yang menarik dan nyaman mampu menumbuhkan minat membaca siswa, hal ini terlihat dari antusias siswa mengunjungi pojok baca yang setiap hari selalu ada siswa yang berkunjung ke pojok baca untuk membaca baik buku pelajaran atau buku non pelajaran. Penelitian ini menawarkan saran bagi kepala sekolah dan guru, yakni diharapkan agar lebih meningkatkan daya kreativitas peserta didik dalam kegiatan literasi, serta diharapkan mampu menciptakan inovasi baru sehingga peserta didik berpatisipasi lebih aktif dalam kegiatan literasi, baik didalam maupun diluar sekolah. Peserta didik diharapkan lebih tertarik untuk melakukan kegiatan literasi walaupun tidak terkontrol oleh guru. Jika hal ini terlihat pada peserta didik, hal itu artinya bahwa budaya literasi sudah tertanam pada peserta didik. Peneliti yang lain diharapkan agar dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai literatur atau dasar untuk melaksanakan penelitian lanjutan yang mampu mengungkapkan temuan yang lebih mendalam mengenai peran budaya literasi untuk menumbuhkan minat baca peserta didik.

Ucapan Terima Kasih

Segala puji dan syukur kepada Allah SWT, atas limpahan rahmat, taufik dan hidayah-Nya serta kemudahan yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini dengan baik. Penulis ingin menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan, arahan, saran, dan motivasi secara konsisten sejak awal proses penyusunan artikel ini. Ucapan terima kasih yang tulus juga penulis sampaikan kepada kedua orang tua, yang selalu memberikan doa, dukungan moral, dan semangat tanpa henti. Terima kasih atas kasih sayang, pengorbanan, serta kepercayaan yang selalu menguatkan penulis dalam menjalani masa studi ini. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada sahabat dan teman-teman seperjuangan, yang selalu memberikan dukungan, motivasi, dan bantuan baik secara moral maupun intelektual. Diskusi dan kebersamaan sangat membantu penulis tetap semangat hingga akhir perjalanan ini. Penulis juga mengapresiasi kepada kepala sekolah, guru, dan peserta didik di SDN Sepande, Candi, Sidoarjo yang telah dengan sukarela dan ikhlas meluangkan waktu untuk di wawancarai dan memberikan informasi yang sangat berharga untuk kelancaran penelitian ini. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada seluruh staf dan rekan-rekan di Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo atas segala dukungan dan bantuannya. Semoga segala kebaikan dan bantuan yang telah diberikan mendapat ganjaran berkah dari Allah SWT. Penulis berharap bahwa artikel ini dapat memberikan wawasan dan inspirasi bagi pendidik, orang tua, serta masyarakat luas tentang penerapan budaya literasi untuk menumbuhkan minat baca di sekolah dasar. Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat baik bagi penulis maupun bagi perkembangan ilmu di lingkungan akademik maupun masyarakat luas.

References

[1] S. N. A. Hikmah and H. Masruroh, “Pendampingan Optimalisasi Budaya Literasi Siswa dalam Menumbuhkan Minat Membaca dan Menulis di SMA Negeri 1 Srono,” Jurnal Gembira Pengabdian kepada Masyarakat, vol. 2, no. 1, pp. 325–331, 2024.

[2] M. Adrico, A. Ido, A. Wicandra, and F. Kebumian, “Penguatan Literasi Kewarganegaraan dalam Lingkungan Masyarakat Indonesia di Era Globalisasi,” Universitas Trisakti, 2023.

[3] R. Kurniawan and A. Parnawi, “Manfaat Literasi untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan,” Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Budaya, vol. 2, no. 1, pp. 184–195, 2023, doi: 10.55606/jpbb.v2i1.1148.

[4] S. A. Jatnika, “Budaya Literasi untuk Menumbuhkan Minat Membaca dan Menulis,” Indonesian Journal of Primary Education, vol. 3, no. 2, pp. 1–6, 2019, doi: 10.17509/ijpe.v3i2.18112.

[5] S. C. Rawin, I. N. Sudiana, and I. G. Astawan, “Peran Budaya Literasi dalam Menumbuhkan Minat Baca Siswa,” PENDASI: Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia, vol. 7, no. 1, pp. 1–12, 2023, doi: 10.23887/jurnal_pendas.v7i1.1371.

[6] V. Damopolii, N. Bito, and R. Resmawan, “Efektivitas Media Pembelajaran Berbasis Multimedia pada Materi Segiempat,” Algorithmics: Journal of Mathematics Education, vol. 1, no. 2, pp. 74–85, 2020, doi: 10.15408/ajme.v1i2.14069.

[7] A. Permatasari, “Membangun Kualitas Bangsa dengan Budaya Literasi,” Prosiding Seminar Nasional, pp. 146–156, 2015.

[8] Dasmo and S. Wati, “Penguatan Literasi Data dalam Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran,” Prosiding Seminar Nasional Sains (SINASIS), vol. 4, no. 1, pp. 65–69, 2023.

[9] Rokmana et al., “Peran Budaya Literasi dalam Meningkatkan Minat Baca Peserta Didik di Sekolah Dasar,” Journal of Student Research, vol. 1, no. 1, pp. 129–140, 2023, doi: 10.55606/jsr.v1i1.960.

[10] Sugianto, “Mewujudkan Budaya Literasi Melalui Peningkatan Minat Baca pada Usia Dini,” Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia, vol. 2, no. 1, pp. 70–75, 2023, doi: 10.55606/jpmi.v2i1.1121.

[11] M. Mulasih and W. D. Hudhana, “Urgensi Budaya Literasi dan Upaya Menumbuhkan Minat Baca,” Lingua Rima: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, vol. 9, no. 2, p. 19, 2020, doi: 10.31000/lgrm.v9i2.2894.

[12] U. P. Marga et al., “Implementasi POCA untuk Meningkatkan Literasi pada Siswa Kelas III di SDN Pabean No. 04 Dringu Probolinggo,” Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 3, no. 4, pp. 5281–5292, 2023.

[13] A. Akbar, “Membudayakan Literasi dengan Program 6M di Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar, vol. 3, no. 1, p. 42, 2017, doi: 10.30870/jpsd.v3i1.1093.

[14] H. Wiyanti, “Pengembangan Sarana Pojok Baca untuk Meningkatkan Minat Baca dan Literasi Siswa SDN Sisir 04 Batu,” Jurnal Pendidikan Taman Widya Humaniora, vol. 2, no. 4, pp. 2130–2151, 2023.

[15] ———, “Jurnal Ilmiah Pendidikan Citra Bakti,” vol. 11, pp. 255–267, 2024.

[16] D. C. Rohim and S. Rahmawati, “Budaya Literasi di Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 6, no. 3, 2020.

[17] V. Yunianti, Dampak Penggunaan Gadget terhadap Motivasi Belajar Siswa: Studi Kasus SMA Negeri 1 Gringsing. Semarang: Universitas Negeri Semarang, 2022.

[18] H. Nurhayati and N. W. L. Handayani, “Budaya Literasi pada Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Basicedu, vol. 5, no. 5, pp. 524–532, 2021.

[19] R. Saputri and F. Nisa, “Upaya Meningkatkan Minat Baca Siswa Melalui Kelas Literasi,” Jenius: Journal of Education Policy and Elementary Education Issues, vol. 2, no. 2, pp. 108–116, 2022.

[20] R. Riska and M. Syukur, “Peran Budaya Literasi dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa di Sekolah Dasar,” Journal of Education Studies, vol. 1, no. 2, 2023.

[21] V. L. Plano Clark, J. W. Creswell, and S. Connelly, Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches, 3rd ed. London: SAGE Publications, 2009.

[22] P. Ajif, “Pola Jaringan Sosial pada Industri Kecil Rambut Palsu di Desa Karangbanjar, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga,” Jurnal Penelitian Sosial, pp. 31–40, 2013.

[23] A. R. Kurniawan et al., “Peranan Pojok Baca dalam Menumbuhkan Minat Baca Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pembelajaran Sekolah Dasar, vol. 3, no. 2, p. 48, 2020, doi: 10.24036/jippsd.v3i2.107562.

[24] L. N. Setiana, “Urgensi Budaya Literasi dalam Pembelajaran Bahasa di Perguruan Tinggi pada Era MEA,” Prosiding PIBSI XXXIX, pp. 213–222, 2017.

[25] D. W. Khasanah, A. N. P. R. Dewi, and O. S. Budiwati, “Menumbuhkan Minat Baca Siswa Melalui Kegiatan Literasi di Sekolah,” Indo-MathEdu Intellectuals Journal, vol. 5, no. 1, pp. 726–736, 2024, doi: 10.54373/imeij.v5i1.620.

[26] M. Jannah, S. Masfuah, and M. A. Fardani, “Gerakan Literasi Sekolah Meningkatkan Minat Baca Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Prasasti Ilmu, vol. 2, no. 3, pp. 115–120, 2022, doi: 10.24176/jpi.v2i3.8364.

[27] A. Br. Sembiring et al., “Menumbuhkan Budaya Literasi Membaca dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca pada Anak Usia Sekolah Dasar,” Jurnal Riset Rumpun Ilmu Bahasa, vol. 2, no. 2, pp. 57–64, 2023, doi: 10.55606/jurribah.v2i2.1406.

[28] N. F. Islam and D. Adela, “Implementasi Program Pojok Baca sebagai Upaya Menumbuhkan Minat Baca Siswa di SDN Sawahlega,” Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, vol. 8, no. 2, pp. 2762–2769, 2023, doi: 10.36989/didaktik.v8i2.587.

[29] E. F. Lusianti, “Peran Budaya Literasi dalam Menumbuhkan Minat Baca dan Tulis,” Jurnal Pendidikan, Bahasa dan Budaya, vol. 3, no. 2, pp. 200–210, 2024, doi: 10.55606/jpbb.v3i2.3182.

[30] J. D. Cox, “Henry VI, Parts 1, 2, and 3,” in The Shakespeare Companion: Overviews and Document Analysis, vol. 1–4. New York: Facts On File, 2017, pp. 105–152.