Login
Section Education

Inductive Method Improves Elementary Students Short Story Writing Performance


Metode Induktif Meningkatkan Kinerja Penulisan Cerpen Siswa Sekolah Dasar
Vol. 10 No. 1 (2025): June:

Nikmatu Qurota A'yun (1), Ahmad Nurefendi Fradana, M.Pd. (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Writing short stories is a complex language skill that requires the integration of imagination, narrative structure, and linguistic competence, yet many elementary students experience difficulties in expressing ideas in written form. Specific Background: Conventional teacher-centered instruction often limits students’ creative engagement, resulting in low achievement in short story composition. Knowledge Gap: Empirical evidence on structured student-centered approaches, particularly the inductive method, in elementary short story writing remains limited. Aims: This study aimed to examine the application of the inductive method in improving short story writing among fifth-grade elementary students. Results: Using a quantitative one-group pretest–posttest design with 17 participants, the average score increased from 69.7 before instruction to 86.5 after instruction, with a paired t-test yielding p = 0.000, indicating a statistically significant difference. Group discussions, contextual reading materials, and the teacher’s facilitative role supported students’ imagination and idea development. Novelty: The study demonstrates how an inductive, observation-to-generalization learning sequence can foster active participation and creative narrative construction in young learners. Implications: The inductive method offers a viable instructional alternative for language teachers seeking student-centered strategies to support creative writing development at the elementary level.
Highlights:




  • Students’ scores rose markedly after instructional treatment using an observation-based learning sequence.




  • Collaborative discussion and contextual texts stimulated imagination and narrative development.




  • Facilitator-oriented teaching supported active participation during the writing process.




Keywords:

Inductive Method; Short Story Writing; Elementary Education; Creative Writing; Student-Centered Learning

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Pendidikan sangatlah dibutuhkan oleh manusia karena pendidikan termasuk kebutuhan yang bersifat primer. Pendidikan yang memiliki tujuan dan terarah akan menuju kedalam kebaikan, baik kebaikan di dunia sekaligus kebaikan di akhirat kelak. Masih banyak ditemui dalam kehidupan sehari – hari ternyata masih banyak problem tentang gagalnya pendidikan [1]. Salah satunya adalah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Pembelajaran Bahasa Indonesia sebagai pendekatan pembelajaran berbasis teks adalah unit bahasa yang menyampaikan pesan dalam konteks. Pelajaran Bahasa Indonesia terdiri dari dua topik, antara lain bahasa dan sastra. Diharapkan peserta didik dapat mengembangkan kemampuan berbahasa dan kepekaan terhadap kehidupan melalui pembelajaran dua materi tersebut. Setiap kegiatan belajar pasti memiliki tujuan. Salah satu dari tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia adalah agar peserta didik dapat berkomunikasi dengan efektif dan efisien, baik secara lisan maupun tulisan, sesuai dengan etika yang berlaku .

Pendekatan pedagogis dalam pembejelaran di Sekolah Dasar yaitu dengan menggunakan metode Induktif. Pendekatan induktif pertama menekankan pengamatan, kemudian disimpulkan sesuai dengan pengamatan atau peristiwa. Metode ini sering disebut pendekatan untuk menarik kesimpulan dari khusus ke komune. Metode induktif adalah proses teoritis dari kondisi khusus pada kondisi umum [2]. Di dalam metode ini terdapat konsep yang berbeda – beda dan memiliki ciri khas tersendiri di dalam penerapannya. Penggunaan Metode Induktif menurut pendapat dari Hutasuhut yaitu metode ini mengajarkan peserta didik agar mandiri dan Self Acting pada latar belakang serta peserta didik akan menerima jalan yang berbelit – belit selama proses pembelajaran berlangsung sehingga peserta didik dituntut lebih aktif terlebih dahulu agar mengerti dalam penggunanya .

Metode induktif memberikan ruang gerak yang tidak memiliki arti atau kesan tersendiri bagi peserta didik untuk membuat keputusan secara mandiri, tetapi di sisi lainya tujuan belajar yang sudah di rancang terlebih dahulu dapat tercapai dengan baik. Penggunaan metode induktif ini ada keterkaitanya dengan kegiatan yang sudah dilakukan oleh guru serta peranan peserta didik agar selalu aktif dan mandiri saat proses pembelajaran berlangsung. Peserta didik akan mandiri apabila guru memilih metode induktif ini. Metode induktif merupakan salah satu metode pembelajaran yang memiliki konsep kegiatan pembelajaran dengan cara melalui kegiatan mencoba serta berusaha menemukan suatu hal serta berlatih dan juga memaparkan [3]. Menurut pendapat dari Joyce memaparkan syntax yaitu adanya struktur pengajaran yang menjadikanya sebagai pedoman atau acuan untuk penerapan metode induktif ini. Penggunaan metode induktif ini mempunyai struktur pemutaran yang akan memiliki perkembangan setiap waktunya, proses adanya esensi tentang metode induktif ini dengan cara mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, pembangunan gagasan, kategori control konseptual, tentang informasi tersebut serta menciptakan hipotesis untuk melaksanakan kegiatan eksplorasi untuk menyelesaikan suatu permasalahan [4]. Metode induktif dimulai dari gambaran secara umum cerita yang akan ditulis, peserta didik bebas memaparkan ide-ide cerita sesuai dengan imajinasi dan pemikiran tentang cerita yang dipilih, kemudian gambaran umum dan ide-ide tersebut dikerucutkan menjadi gambaran spesifik atau kesimpulan dari cerita yang telah dipaparkan di awal hingga muncul ide pokok di akhir paragraf [5]. Metode induktif memiliki beberapa keunggulan yaitu peserta didik menjadi pembelajar yang aktif, pembelajaran lebih menarik dan multiarah, pembelajaran menjadi student centered (berpusat pada peserta didik) sehingga peserta didik dapat mengembangkan kreativias, dan guru berperan sebagai fasilitator. Metode induktif membuat peserta didik dapat mengeksplorasi yang menghasilkan ide-ide baru sehingga dapat dapat merangsang kemampuan berpikir kreatif peserta didik. [6].

Penguasaan keterampilan yang sangat penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia adalah menyimak, berbicara, interpretasi tekstual, menulis, dan menghafal [7]. Setiap peserta didik memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Tidak adanya peserta didik dari sesi instruksional dapat secara signifikan menghambat kemampuan mereka untuk terlibat dengan materi pendidikan. Peserta didik merupakan peserta penting dalam proses pendidikan; mereka ingin diakui, diakui, dan dihargai dengan cara yang obyektif dan adil. Mengingat bahwa setiap peserta didik memiliki kompetensi yang bervariasi, sangat penting bagi seorang pendidik untuk menyadari karakteristik unik setiap peserta didik [8]. Menulis merupakan kompetensi linguistik mendasar bagi peserta didik, yang mencakup kerajinan komposisi cerita pendek. Terlibat dalam menulis berfungsi untuk meningkatkan repertoar leksikal pelajar. Menulis melibatkan artikulasi pemikiran atau sudut pandang dalam format tertulis. Tindakan menulis pada dasarnya adalah transfer konsep ke dalam ekspresi tertulis. Menulis berfungsi sebagai mekanisme utama untuk menyampaikan ide kepada orang lain melalui komunikasi tertulis. Peningkatan aktivitas menulis berkorelasi dengan akuisisi kosakata yang lebih luas. Selanjutnya, praktik menulis berkontribusi pada pengembangan keterampilan komunikasi verbal karena perluasan kosakata. Seorang penulis yang mahir harus memiliki pemahaman tentang audiens mereka, termasuk latar belakang pendidikan pembaca, genre teks yang diproduksi, dan strategi untuk memfasilitasi pemahaman pembaca tentang niat penulis [9].

Menulis adalah yang paling menantang untuk dicapai dibandingkan dengan kompetensi linguistik lainnya [10]. Kemampuan untuk menulis teks adalah keterampilan yang rumit, karena mengharuskan individu untuk memanfaatkan semua kemampuan kognitif, meliputi penguasaan atas komponen linguistik, substansi materi tertulis, berbagai teknik penulisan, serta konten yang akan diartikulasikan dan cara ekspresinya dalam bentuk tertulis . Menulis merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang wajib dikuasai peserta didik. Menulis adalah cara untuk mengkomunikasikan pesan secara tidak langsung melalui tulisan. Aktivitas yang melibatkan penggunaan keterampilan mengekspresikan pikiran dan ide dalam bentuk tulisan . Kenyataannya masih banyak ditemukan peserta didik yang mengalami kesulitan dalam mengekspresikan ide dan gagasan dalam menulis. Alasannya pun beraneka ragam, mulai merasa tidak bisa menulis, tidak mempunyai ide atau gagasan, bingung mau mulai dari mana, dan lain sebagainya . Menulis sering dicirikan sebagai keterampilan yang paling sulit di antara yang lainnya, karena persyaratan menguasai tidak hanya elemen linguistik tetapi juga elemen eksternal yang membentuk isi tulisan. Di antara elemen eksternal yang meningkatkan kemampuan menulis adalah kemampuan dan pengetahuan [11]. Menulis mewakili proses mengartikulasikan pikiran, keinginan, emosi, atau informasi dalam format tertulis, yang dihasilkan dari kemampuan penulis, menggunakan pendekatan kognitif yang inovatif dan bervariasi, daripada terbatas pada kerangka pemecahan masalah tunggal [12]. Konseptualisasi ini menjelaskan bahwa penulisan mencakup beberapa dimensi, termasuk tujuan atau niat yang ingin dicapai, pemikiran atau pesan yang akan disampaikan, dan konversi sistematis proses kognitif ke dalam bentuk tertulis. Sistem transfer kognitif bermanifestasi melalui bahasa, difasilitasi oleh proses kognitif kreatif. Kompleksitas menguasai menulis digarisbawahi oleh perlunya kemampuan yang tinggi dan dasar pengetahuan atau apresiasi yang kuat. Manifestasi ilustratif kemampuan dalam menulis adalah cerita pendek. Cerita pendek merupakan genre penulisan kreatif [13]. Salah satu kompetensi yang terkait dengan kemampuan menulis, yang meliputi artikulasi konsep, gagasan, dan emosi, adalah komposisi cerita pendek [14].

Cerita pendek atau biasa di sebut dengan istilah Cerita pendek yaitu salah satu jenis karangan pendek berbentuk prosa. Cerita pendek tidak dapat dipisahkan dari kejadian atau peristiwa – peristiwa kehidupan sehari – hari [15]. Peristiwa tersebut berisikan hal yang menyedihkan dan juga hal yang menyenangkan serta menimbulkan beberapa kesan tersendiri bagi pembacanya. Cerita pendek berfungsi sebagai saluran untuk menceritakan pengalaman, yang mencakup pertemuan pribadi dan wakil, ditambah dengan elemen imajinatif atau fabrikasi. Dalam lingkungan pendidikan, ketika terlibat dengan materi yang berkaitan dengan komposisi cerita pendek, peserta didik diharapkan untuk mengartikulasikan pemikiran, sentimen, informasi, dan pengalaman melalui media cerita cerita pendek. Namun, pengamatan empiris mengungkapkan bahwa sejumlah besar peserta didik berjuang untuk secara efektif mengekspresikan pikiran, perasaan, informasi, dan pengalaman mereka dalam format cerita pendek [16]. Cerita pendek merupakan komponen tematik dari kurikulum bahasa Indonesia, yang dikategorikan dalam ranah sastra, yang merupakan keterampilan yang relevan untuk mencapai tujuan pendidikan dan mungkin memerlukan tantangan tertentu dalam proses pembelajaran. Cerita pendek didefinisikan sebagai bentuk cerita ringkas yang diartikulasikan secara ringkas, mengacu pada kemampuan imajinatif atau pengalaman hidup penulis. Cerita pendek adalah konstruksi sastra dari esensi fiksi atau non-realis, yang ditimbulkan dari kreatif penulis, yang tidak memerlukan validasi empiris. Cerita pendek adalah karya fiksi yang didasarkan pada kemampuan imajinatif penulis yang dapat diekspresikan dalam bentuk tertulis. Menulis cerita pendek melibatkan proses kreatif yang terdiri dari langkah-langkah yang dapat melatih individu untuk berproses secara kreatif dalam mengembangkan ide serta menciptakan sebuah cerita pendek sehingga berubah menjadi karya fiksi sastra yang membutuhkan kemampuan dalam penulisannya [17].

Peserta didik tidak mungkin mengembangkan kompetensi ini hanya dengan keterlibatan pasif, seperti mendengarkan dengan penuh perhatian dan mencatat penjelasan instruktur. Keterampilan yang terkait dengan penulisan cerita pendek dapat ditingkatkan melalui keterlibatan terus-menerus dalam kegiatan penulisan cerita pendek, yang pada gilirannya akan secara signifikan mempengaruhi kinerja dan prestasi peserta didik di bidang ini . Menulis cerita pendek secara inheren menantang . Peserta didik menghadapi kesulitan besar dalam menghasilkan ide, tema, atau topik untuk upaya penulisan mereka. Mengarang, menceritakan, dan menarasikan cerita pendek yang memiliki sifat fiktif tidaklah mudah. Hal ini dikarenakan cerita pendek kearifan lokal bukan seperti laporan ataupun catatan harian yang ditulis dengan apa adanya. Kendala lain yang dihadapi peserta didik mengalami kesulitan menyajikan konflik sehingga tulisan jadi biasa dan datar. Hal ini membuat tulisan menjadi kurang menarik untuk dibaca [18].

Verawati dan Bakari dalam penelitiannya yang berjudul “Mengembangkan Kreativitas Menulis Cerpen Peserta Didik Melalui Media Gambar” menyebutkan bahwa peserta didik kelas V di MI Al-Mukhlisin Kecamatan Tilamuta Kabupaten Boalemo, belum mampu mengarang cerita pendek disebabkan karena mereka belum mampu menuangkan ide, pikiran dan perasaan dalam bentuk cerita serta mereka mengalami kesulitan dalam melakukan pemilihan kata yang tepat dan sesuai ejaan yang disempurnakan. Selain itu, metode pengajaran yang dilakukan guru tidak kreatif dan inovatif, guru hanya mengandalkan metode ceramah dan tidak menggunakan media yang menarik [19]. Hasil penelitian ini juga diperkuat oleh penelitian yang dilakukan oleh Noge dkk dengan jusdul “Efektifitas Gerakan Agroliterasi Melalui Kegiatan Outing Class Untuk Meningkatkan Kreativitas Menulis Peserta Didik Kelas V Sekolah Dasar” yang menunjukkan bahwa sebagian besar peserta didik belum terlatih untuk menulis kreatif menggunakan imajinasi mereka. Peserta didik masih membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menulis kreatif karena kurangnya imajinasi atau khayalan yang dimiliki oleh peserta didik. Hal ini menunjukkan bahwa peserta didik SD memiliki kemampuan yang rendah dalam menulis cerita [20]. Penelitian kuantitatif yang mendukung dilakukan oleh Oktafiani dkk dengan judul “Hubungan Kebiasaan Membaca Terhadap Keterampilan Menulis Cerpen Kelas VI SD Negeri 3 Dorang Jepara” menunjukkan bahwa keterampilan menulis cerpen peserta didik SD masih rendah yaitu sebanyak 40% dan sangat rendah sebanyak 25%. Hal ini menunjukkan rendahnya penulisan cerpen pada peserta didik SD.

Penyebab rendahnya kemampuan menulis cerita pendek adalah karena keterlibatan membaca yang tidak memadai yang ditunjukkan oleh peserta didik, tantangan yang terkait dengan memahami konten naratif, kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik dalam mengartikulasikan ide-ide mereka, dan kurangnya kejelasan mengenai struktur naratif. Intervensi pedagogis yang diterapkan oleh pendidik tetap tidak memadai, karena mereka sebagian besar menggunakan media instruksional sebentar-sebentar, menghasilkan hasil pembelajaran yang kurang optimal. Selain itu, faktor lain yang berkontribusi terhadap keengganan peserta didik untuk menulis cerita pendek termasuk persistensi metodologi pengajaran konvensional, di mana pendidik terutama fokus pada penyediaan kerangka teoritis untuk menulis tanpa memanfaatkan beragam model pedagogis yang dapat secara efektif memikat minat peserta didik, aspek penting untuk meningkatkan kemampuan dan kemampuan imajinatif mereka dalam mengartikulasikan resonansi emosional dari ide-ide bawaan mereka, yang merupakan komponen penting dari potensi individu [21].

Tantangan yang dihadapi oleh peserta didik dalam menyusun cerita pendek melampaui sekadar memperoleh ide dan memilih tema. Banyak peserta didik menghadapi hambatan ketika mencoba mengartikulasikan ide atau konsep mereka dalam bentuk tertulis. Setelah tema ditetapkan dan digambarkan, banyak peserta didik sering goyah pada kalimat atau paragraf awal. Proses penulisan mengharuskan peserta didik menunjukkan kefasihan dalam operasi kognitif mereka, memungkinkan mereka untuk secara efektif memanipulasi bahasa untuk menguraikan ide atau konsep mereka. Sangat penting bagi peserta didik untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif untuk berhasil mengembangkan cerita pendek [22]. Cerita pendek harus mencakup penjelasan perspektif penulis tentang keberadaan, baik secara eksplisit maupun implisit; dalam cerita pendek, suatu peristiwa yang secara dominan mempengaruhi lintasan narasi; cerita pendek harus menampilkan individu yang berfungsi sebagai agen atau karakter utama; cerita pendek harus membangkitkan efek atau kesan yang menarik [23].

Peserta didik mengalami kesulitan menulis cerita pendek akan tetapi pengaruhnya terhadap penggunaan metode yang cenderung monoton, sehingga peserta didik lebih mudah bosan. Kebanyakan guru menggunakan metode secara konvensional atau menggunakan metode yang tetap atau sudah diterapkan kepada peserta didik. Hal tersebut akan menimbulkan proses di dalam penulisan cerita pendek menjadi terhambat, bisa jadi penulisan cerita pendek tersebut tidak dapat selesai pada waktunya. Peserta didik beranggapan bahwa penulisan cerita pendek ini di nilai sebagai pembelajaran yang sulit bagi mereka dan membuat mereka cepat bosan. Hal tersebut tentunya menjadi suatu permasalahan dan sekaligus sebagai bahan pertimbangan yang dialami oleh seorang tenaga pendidik .

Pengembangan kompetensi menulis harus terjadi dalam konteks pendidikan yang menumbuhkan kapasitas pelajar untuk berpikir kritis dalam menanggapi berbagai rangsangan. Menulis secara intrinsik terkait dengan proses kognitif yang menuntut kemampuan berpikir yang mahir dan merangkum pemahaman yang luas di berbagai dimensi. Pencapaian kemampuan menulis secara signifikan dipengaruhi oleh sejauh mana pendidik memberikan pengetahuan tentang menulis; lebih jauh lagi, tingkat keterlibatan aktif dan pasif yang ditunjukkan oleh peserta didik selama proses pembelajaran secara substansif berdampak pada pendekatan pedagogis yang diadopsi oleh guru [24].

Rendahnya kemampuan peserta didik dalam menulis cerita pendek yang disebabkan karena kurangnya kemampuan peserta didik dalam menemukan ide, kurangnya kemampuan peserta didik dalam mengembangkan tulisan, yang disebabkan karena guru kurang kreatif untuk memilih metode, teknik, maupun media pembelajaran. Sejumlah besar peserta didik menunjukkan ketidaktertarikan dalam menulis cerita pendek. Kurangnya antusiasme di antara peserta didik mengenai komposisi cerita pendek, karena mereka menganggap menulis sebagai upaya yang menantang dan membosankan, pemahaman yang tidak memadai tentang genre cerita pendek dan teknik yang tepat untuk komposisinya, dan penerapan strategi pedagogis yang kurang inovatif yang gagal menginspirasi motivasi peserta didik ketika menulis cerita pendek. Hal ini menyebabkan cerita pendek yang dihasilkan kurang menarik untuk dibaca. Masalah lain yang menyebabkan kemampuan peserta didik rendah adalah kesulitan bahasa, masalah sastra dan masalah yang berkaitan dengan topik dan amanat. Masalah-masalah dalam tulisan-tulisan para peserta didik terutama dalam tata bahasa, tanda baca, dan ejaan, kesulitan dengan kohesi kalimat, sedangkan masalah sastra terletak pada logika cerita dan kurangnya pengembangan [25].

Berdasarkan pemaparan latar belakang di atas, maka artikel ini ingin menjawab masalah “Adakah Pengaruh Penggunaan Metode Induktif terhadap Penulisan Cerita Pendek di Sekolah Dasar?”. Adapun penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pengaruh Penggunaan Metode Induktif terhadap Penulisan Cerita Pendek di Sekolah Dasar.

Metode

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah suatu metode penelitian yang berlandaskan pada paradigma positivistik yang menekankan pada pengukuran objektif terhadap fenomena sosial melalui angka, data statistik, dan analisis matematis. Tujuan utamanya adalah untuk menguji hipotesis atau mengukur hubungan antar variabel secara sistematis dan terukur. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan melalui instrumen terstandar seperti kuesioner, angket, atau tes, yang hasilnya kemudian dianalisis menggunakan teknik statistik untuk memperoleh kesimpulan yang bersifat umum atau generalisasi terhadap populasi. Pendekatan yang digunakan adalah one group pretest posttest design. One Group Pretest-Posttest Design adalah salah satu bentuk desain penelitian pre-eksperimental di mana hanya terdapat satu kelompok subjek yang diberikan tes sebelum (pretest) dan tes sesudah (posttest) suatu perlakuan/intervensi [26]. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas V di SDN Muhammadiyah 2 Krian Sidoarjo yang berjumlah 17 peserta didik. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling yaitu seluruh anggota populasi dijadikan sebagai sampel penelitian. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran metode induktif dan variable dependen adalah penulisan cerpen. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner soal pilihan ganda sebanyak 20 soal tentang materi cerpen. Analisis data menggunakan uji Paired t test yang diolah dengan SPSS 22. Rumus uji T adalah sebagai berikut:

Dimana:

= rata-rata data

Sd​ = Simpangan baku dari selisih pasangan data

n = Jumlah pasangan data (jumlah sampel)

Hasil Dan Pembahasan

A. Hasil Penelitian

Variabel N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Pretest 17 50 80 69,7 8,564
Posttest 17 70 95 86,5 7,658
Table 1. Deskriptif Statistik Nilai Responden

Hasil penelitian menunjukkan nilai pretest penulisan cerpen sebelum diberikan metode induktif memiliki skor minimum 50 dan maksimum 80, dengan nilai rata-rata (mean) sebesar 69,7 dan standar deviasi 8,564. Sementara itu, nilai posttest menunjukkan peningkatan dengan skor minimum 70 dan maksimum 95, nilai rata-rata sebesar 86,5, serta standar deviasi 7,658.

Nilai Pretest Posttest
F % F %
50 2 11,8 0 0
55 2 11,8 0 0
60 6 35,3 0 0
65 5 29,4 0 0
70 2 11,8 1 5,9
75 0 0 1 5,9
80 0 0 3 17,6
85 0 0 4 23,5
90 0 0 3 17,6
95 0 0 5 29,4
100 0 0 0 0
Jumlah 17 100 17 100
Table 2. Distribusi Frekuensi Nilai Peserta didik tentang Penulisan Cerita Pendek pada Peserta didik Kelas V di SD Muhammadiyah 2 Krian Sidoarjo pada bulan Juli 2025

Sumber: Olah data, 2025

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor peserta didik sebelum diberikan pembelajaran dengan metode induktif adalah 69,7 dengan nilai terendah 50 dan tertinggi 70 dan persentase terbanyak adalah 60 (35,3%). Rata-rata skor peserta didik sesudah diberikan pembelajaran dengan metode induktif adalah 86,5 dengan nilai terendah 70 dan tertinggi 95 dan persentase terbanyak adalah 95 (29,4%).Hasil uji statistik menunjukkan bahwa nilai p-value sebesar 0,000, yang berarti lebih kecil dari α = 0,05 sehingga H1 diterima, artinya metode induktif berpengaruh signifikan terhadap penulisan cerpen pada peserta didik kelas V di Sekolah Dasar.

Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Unstandardized Residual .165 17 .200* .909 17 .096
Table 3. Hasil Uji Normalitas Data

Hasil uji normalitas data menggunakan Uji Shapiro Wilk (karena jumlah sampel < 50) menunjukkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,096 > (0,05) sehingga dapat dikatakan bahwa data berdistribusi normal dan layak menggunakan uji paired t test.

Paired Samples Test
Paired Differences t df Sig. (2-tailed)
Mean Std. Deviation Std. Error Mean 95% Confidence Interval of the Difference
Lower Upper
Pair 1 Pretest - Posttest -16.765 8.280 2.008 -21.022 -12.507 -8.348 16 .000
Table 4. Hasil Uji Paired t Test

Hasil uji Paired Sample t-test menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara nilai pretest dan posttest. Rata-rata selisih antara pretest dan posttest adalah -16,765, dengan standar deviasi sebesar 8,280. Nilai t hitung sebesar -8,348 dengan derajat kebebasan (df) 16, dan nilai signifikansi (p-value) sebesar 0,000. Nilai signifikansi kurang dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara pretest dan posttest secara statistik signifikan. Ini berarti intervensi atau perlakuan yang diberikan berhasil meningkatkan skor posttest dibandingkan pretest.

B. Pembahasan

1. Penulisan Cerpen sebelum Menggunakan Metode Induktif

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebelum menggunakan metode induktif, nilai peserta didik tentang penulisan cerpen pada rentang 50 hingga 70, dengan mayoritas peserta didik memperoleh skor 60 (35,3%) dan 65 (29,4%). Tidak ada satu pun peserta didik yang memperoleh nilai di atas 70. Rata-rata nilai (mean) pretest adalah 69,7, yang menunjukkan bahwa secara umum tingkat pemahaman awal peserta didik terhadap cerpen masih rendah hingga sedang.

Menulis cerita pendek secara inheren menantang . Peserta didik menghadapi kesulitan besar dalam menghasilkan ide, tema, atau topik untuk upaya penulisan mereka. Mengarang, menceritakan, dan menarasikan cerita pendek yang memiliki sifat fiktif tidaklah mudah. Hal ini dikarenakan cerita pendek kearifan lokal bukan seperti laporan ataupun catatan harian yang ditulis dengan apa adanya. Kendala lain yang dihadapi peserta didik mengalami kesulitan menyajikan konflik sehingga tulisan jadi biasa dan datar. Hal ini membuat tulisan menjadi kurang menarik untuk dibaca [18]. Penyebab rendahnya kemampuan menulis cerita pendek adalah karena keterlibatan membaca yang tidak memadai yang ditunjukkan oleh peserta didik, tantangan yang terkait dengan memahami konten naratif, kesulitan yang dihadapi oleh peserta didik dalam mengartikulasikan ide-ide mereka, dan kurangnya kejelasan mengenai struktur naratif. Intervensi pedagogis yang diterapkan oleh pendidik tetap tidak memadai, karena mereka sebagian besar menggunakan media instruksional sebentar-sebentar, menghasilkan hasil pembelajaran yang kurang optimal. Selain itu, faktor lain yang berkontribusi terhadap keengganan peserta didik untuk menulis cerita pendek termasuk persistensi metodologi pengajaran konvensional, di mana pendidik terutama fokus pada penyediaan kerangka teoritis untuk menulis tanpa memanfaatkan beragam model pedagogis yang dapat secara efektif memikat minat peserta didik, aspek penting untuk meningkatkan kemampuan dan kemampuan imajinatif mereka dalam mengartikulasikan resonansi emosional dari ide-ide bawaan mereka, yang merupakan komponen penting dari potensi individu [21].

Kemampuan penulisan cerpen peserta didik SD cenderung rendah bahkan sangat rendah disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah keterbatasan perkembangan kognitif anak yang masih berada pada tahap operasional konkret, sehingga mereka kesulitan menuangkan gagasan abstrak ke dalam bentuk tulisan yang terstruktur. Selain itu, penguasaan unsur-unsur cerpen seperti tokoh, alur, dan konflik masih minim, ditambah dengan keterbatasan kosa kata dan kemampuan menyusun kalimat yang baik. Rendahnya minat baca serta kurangnya paparan terhadap karya sastra anak juga turut memengaruhi daya imajinasi dan kemampuan menulis mereka. Di sisi lain, pendekatan pembelajaran yang belum optimal serta kurangnya dukungan dari lingkungan keluarga membuat peserta didik tidak terbiasa menulis secara kreatif dan mandiri.

2. Penulisan Cerpen sesudah Menggunakan Metode Induktif

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa setelah pembelajaran menggunakan metode induktif diberikan, dilakukan posttest dengan soal yang serupa. Hasilnya menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Nilai peserta didik naik ke rentang 70 hingga 95. Jumlah peserta didik terbanyak memperoleh nilai 95 (29,4%), diikuti oleh nilai 85 (23,5%), serta 80 dan 90 (masing-masing 17,6%). Rata-rata nilai posttest meningkat menjadi 86,5, yang berarti terjadi peningkatan sebesar 16,8 poin dibandingkan rata-rata nilai pretest.

Metode induktif dimulai dari gambaran secara umum cerita yang akan ditulis, peserta didik bebas memaparkan ide-ide cerita sesuai dengan imajinasi dan pemikiran tentang cerita yang dipilih, kemudian gambaran umum dan ide-ide tersebut dikerucutkan menjadi gambaran spesifik atau kesimpulan dari cerita yang telah dipaparkan di awal hingga muncul ide pokok di akhir paragraf [5]. Metode induktif memiliki beberapa keunggulan yaitu peserta didik menjadi pembelajar yang aktif, pembelajaran lebih menarik dan multiarah, pembelajaran menjadi student centered (berpusat pada peserta didik) sehngga peserta didik dapat mengembangkan kreativias, dan guru berperan sebagai fasilitator. Metode induktif membuat peserta didik dapat mengeksplorasi yang menghasilkan ide-ide baru sehingga dapat dapat merangsang kemampuan berpikir kreatif peserta didik [6].

Kemampuan penulisan cerpen peserta didik mengalami peningkatan karena pendekatan ini mendorong peserta didik untuk menemukan sendiri konsep dan struktur cerita melalui proses pengamatan, diskusi, dan refleksi. Metode ini memfasilitasi pembelajaran yang lebih bermakna dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam menganalisis contoh cerpen sebelum menyusun karya sendiri. Peserta didik lebih mudah memahami unsur-unsur penting dalam cerpen seperti alur, tokoh, latar, dan konflik. Penerapan metode induktif juga mendorong berpikir kritis dan kreatif, serta meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri peserta didik dalam menulis.

Masih adanya satu peserta didik yang belum mencapai KKM kemungkinan disebabkan oleh faktor individual yang memengaruhi proses belajarnya. Peserta didik tersebut mungkin memiliki kemampuan membaca dan menulis yang masih rendah, sehingga kesulitan memahami contoh cerpen maupun menyusun ide secara runtut. Kurangnya minat terhadap kegiatan menulis atau rendahnya motivasi belajar juga dapat menjadi hambatan. Selain itu, faktor eksternal seperti lingkungan keluarga yang kurang mendukung, keterbatasan waktu belajar di rumah, atau hambatan psikologis seperti rasa takut salah bisa menghambat pencapaian kompetensi secara optimal.

3. Pengaruh Metode Induktif terhadap Penulisan Cerpen

Hasil uji statistic paired t test menunjukkan bahwa nilai p-value sebesar 0,000, yang berarti lebih kecil dari α = 0,05. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh metode induktif terhadap penulisan cerpen pada peserta didik di kelas V Sekolah Dasar.

Metode induktif memberikan ruang gerak yang tidak memiliki arti atau kesan tersendiri bagi peserta didik untuk membuat keputusan secara mandiri, tetapi di sisi lainya tujuan belajar yang sudah di rancang terlebih dahulu dapat tercapai dengan baik. Penggunaan metode induktif ini ada keterkaitanya dengan kegiatan yang sudah dilakukan oleh guru serta peranan peserta didik agar selalu aktif dan mandiri saat proses pembelajaran berlangsung. Peserta didik akan mandiri apabila guru memilih metode induktif ini. Metode induktif merupakan salah satu metode pembelajaran yang memiliki konsep kegiatan pembelajaran dengan cara melalui kegiatan mencoba serta berusaha menemukan suatu hal serta berlatih dan juga memaparkan [3]. Menurut pendapat dari Joyce memaparkan syntax yaitu adanya struktur pengajaran yang menjadikanya sebagai pedoman atau acuan untuk penerapan metode induktif ini. Penggunaan metode induktif ini mempunyai struktur pemutaran yang akan memiliki perkembangan setiap waktunya, proses adanya esensi tentang metode induktif ini dengan cara mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, pembangunan gagasan, kategori control konseptual, tentang informasi tersebut serta menciptakan hipotesis untuk melaksanakan kegiatan eksplorasi untuk menyelesaikan suatu permasalahan .

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan metode induktif dalam pembelajaran menulis cerita pendek (cerpen) pada peserta didik Sekolah Dasar. Dalam penelitian ini, metode induktif diterapkan dengan cara memberikan contoh cerita pendek terlebih dahulu kepada peserta didik, kemudian peserta didik diajak untuk mengamati, menganalisis unsur-unsurnya, dan menyimpulkan struktur serta ciri-ciri cerita pendek. Untuk mengukur efektivitas metode tersebut, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain one group pretest-posttest. Peserta didik diberikan pretest berupa 20 soal pilihan ganda tentang materi cerpen untuk mengukur pengetahuan awal mereka. Setelah itu, dilakukan pembelajaran menggunakan metode induktif, dilanjutkan dengan posttest dengan soal serupa untuk melihat peningkatan hasil belajar peserta didik setelah perlakuan diberikan. Soal-soal tersebut mencakup aspek pengetahuan tentang pengertian cerpen, struktur cerita (orientasi, komplikasi, resolusi), tokoh dan penokohan, latar, tema, serta pesan moral. Hasil pretest dan posttest kemudian dianalisis secara statistik untuk melihat perbedaan skor dan efektivitas metode induktif dalam meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi cerpen.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan nilai posttest secara signifikan setelah diterapkannya metode induktif disebabkan oleh keterlibatan aktif peserta didik dalam proses pembelajaran. Metode induktif memungkinkan peserta didik menemukan konsep cerpen melalui pengamatan dan analisis terhadap contoh nyata. Proses ini memperkuat pemahaman karena peserta didik membangun sendiri pengetahuan mereka, bukan hanya menerima informasi secara pasif. Penerapan metode ini juga mendorong berpikir kritis dan meningkatkan rasa ingin tahu, sehingga peserta didik lebih mudah memahami unsur cerpen seperti tokoh, latar, konflik, dan pesan moral. Kelemahan peserta didik dalam pretest mencerminkan keterbatasan pemahaman awal akibat minimnya pendekatan analitis dalam pembelajaran sebelumnya. Skor posttest yang jauh lebih tinggi mengindikasikan keberhasilan metode induktif dalam membantu peserta didik menguasai materi dengan lebih baik.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian, penulisan cerpen sebelum menggunakan metode induktif menunjukkan bahwa nilai peserta didik berada pada rentang 50 hingga 70, dengan mayoritas peserta didik memperoleh skor 60 (35,3%) dan rata-rata nilai pretest sebesar 69,7. Setelah penerapan metode induktif, nilai peserta didik meningkat ke rentang 70 hingga 95, dengan skor tertinggi 95 diperoleh oleh 29,4% peserta didik dan rata-rata nilai posttest meningkat menjadi 86,5. Hasil uji statistik menggunakan paired t-test menunjukkan bahwa terdapat pengaruh signifikan metode induktif terhadap kemampuan menulis cerpen, dengan nilai p sebesar 0,000 yang lebih kecil dari taraf signifikansi 0,05. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk memperluas cakupan penelitian dengan melibatkan lebih banyak sekolah atau kelas yang berbeda guna menguji konsistensi efektivitas metode induktif. Peneliti selanjutnya juga dapat mengeksplorasi variabel lain seperti minat baca, kreativitas peserta didik, atau pengaruh media pembelajaran yang digunakan selama proses pembelajaran menulis cerpen.

Ucapan Terima Kasih

Alhamdulillah puji syukur penulis panjatkan kehadirat Ilahi Rabbi, karena berkat Rahmat, hidayah dan inayah – Nya sehungga dapat menyelesakan karya tulis ilmiah ynag berjudul artikel ini dengan baik yang berjudul “ Penggunaan Metode Induktif dalam Penulisan Cerpen di Sekolah Dasar “ yang ditulis untuk melengkapi sebagian dari persyaratan yang diperlukan guna memperoleh Sarjana Pendidikan ( S.Pd. ) pada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo.

Penulis menyadari bahwa penyelesaian artikel ilmiah ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan penghargaan dan ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada semua pihak yang telah ikut memberikan kontribusi atau bantuanya terhadap penulis baik berupa moril maupun meteril. Secara khusus, penulis mengucapkan terimakaish kepada Bapak Ahmad Nurefendi Fradana, M.Pd. selaku dosen pembimbing atas arahan, masuka, dan bimbingan yang sangat berarti selama proses penyusunan artikel ini. ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada Ibu Vevy Liansari, S.Pd. M.Pd. selaku dosen penguji I, Ibu Dr. Ermawati Zulikhatin Nuroh, SS. M.Pd. selaku dosen penguji II serta terimakasih juga penulis sampaikan kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang telah memberikan fasilitas serta lingkungan akademik yang kondusif untuk mendukung terlaksananya penelitian dan penulisan artikel ini.

Tidak lupa, penulis mengucapkan terimaksih yang setulusnya kepada kedua orangtua tercinta yakni ayah Sujiono, S.Pd. dan Ibu Hidayati Aina S,Pd. atas do’a, semangat dan dukungan moril maupun materill yang tak ternilai harganya.Semoga artikel ini dapat memberikan manfaat dan menjadi kontribusi positif dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

References

[1] S. Sukawati, “Peningkatan Kreativitas Peserta Didik dalam Menulis Cerpen Melalui Metode Pemetaan Pikiran (Mind Mapping),” Semantik: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 2021.

[2] A. Adnan, F. Setiawan, and I. Naila, “Penerapan Model PjBL pada Pembelajaran Penulisan Cerpen Kelas VI SD Muhammadiyah 26 Surabaya,” Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang, vol. 10, no. 1, pp. 34–42, 2023, doi: 10.36989/didaktik.v6i1.110.

[3] A. H. Kelana et al., Metode, Pendekatan, dan Media Pembelajaran. Indramayu: Penerbit Adab, 2025.

[4] Y. A. Putra, M. Saputra, M. F. Rozi, and N. Z. Pratama, “Pengaruh Metode Induktif dan Metode Deduktif terhadap Kemampuan Motorik Peserta Didik,” Wahana Didaktika: Jurnal Ilmu Kependidikan, vol. 21, no. 3, pp. 545–558, 2023, doi: 10.31851/wahanadidaktika.v21i3.11829.

[5] R. P. Liana, “Penerapan Model Pembelajaran Induktif Kata Bergambar pada Keterampilan Membaca Permulaan di SDN 94 Kaur,” Undergraduate Thesis, IAIN Bengkulu, Bengkulu, Indonesia, 2021.

[6] N. P. Indah, “Penerapan Model Induktif dengan Media Gambar Siluet dalam Pembelajaran Menulis Teks Cerita Pendek,” Semantik: Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, pp. 25–36, 2015.

[7] H. Nurbaety, “Peningkatan Kemampuan Memahami Cerpen Melalui Model Pembelajaran Berpikir Induktif dengan Media Film Pendek,” Nuansa Akademik: Jurnal Pembangunan Masyarakat, vol. 6, no. 2, pp. 169–178, 2021, doi: 10.47200/jnajpm.v6i2.888.

[8] Habibati, Strategi Belajar Mengajar. Banda Aceh: Syiah Kuala University Press, 2017.

[9] Sukirman, “Tes Kemampuan Keterampilan Menulis dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah,” Jurnal Konsepsi, vol. 9, no. 2, pp. 1–10, 2020.

[10] N. Simarmata, S. Telaumbanua, and E. Harefa, “Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi dengan Pendekatan Berbasis Teks untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Cerpen Peserta Didik,” Jurnal Educatio FKIP UNMA, vol. 10, no. 3, pp. 860–865, 2024.

[11] D. Fadhillah, Aspek Pembelajaran Bahasa Indonesia. Sukabumi: Jejak Publisher, 2022.

[12] N. A. Wiratama, I. D. Fatimah, and E. Widiyati, “Meningkatkan Keterampilan Menulis Deskripsi Melalui Pendekatan Kontekstual pada Peserta Didik Sekolah Dasar,” Jurnal Basicedu, vol. 6, no. 3, pp. 3428–3434, 2022, doi: 10.31004/basicedu.v6i3.2527.

[13] S. Jamilah, “Pengaruh Kemampuan Berpikir Kreatif dan Berinteraksi Sosial terhadap Keterampilan Menulis Cerita Pendek Bahasa Indonesia,” Diskursus: Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia, vol. 2, no. 3, p. 259, 2020, doi: 10.30998/diskursus.v2i03.6706.

[14] G. D. Ningsih, M. Karim, O. Akbar, H. Budiyono, and E. P. Harahap, “Penokohan Cerpen Pilihan Kompas 2021 ‘Keluarga Kudus’ sebagai Penguatan Pendidikan Karakter di SMP,” Basastra, vol. 12, no. 1, p. 61, 2023, doi: 10.24114/bss.v12i1.44209.

[15] E. Risnawati, Y. Mubarok, W. Washadi, and A. M. Nur, “Pendampingan Publikasi Penulisan Kreatif Cerpen pada PWNA Jawa Barat,” JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri), vol. 6, no. 4, p. 3167, 2022, doi: 10.31764/jmm.v6i4.9463.

[16] E. Tarsinih, “Kajian terhadap Nilai-Nilai Sosial dalam Kumpulan Cerpen Rumah Malam di Mata Ibu Karya Alex R. Nainggolan dengan Pendekatan Sosiologi Sastra sebagai Alternatif Bahan Ajar,” Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, vol. 6, no. 1, pp. 1–7, 2018.

[17] V. Nugraha and M. Sahmini, “Pembelajaran Menulis Cerpen dengan Emotional Spiritual Therapy (EST) Berbasis TPACK,” in e-Prosiding PBSI IKIP Siliwangi, 2021, pp. 128–141.

[18] Z. Slam, “Strategi Merdeka Belajar Menulis Cerita Pendek Karakter Bangsa untuk Meningkatkan Keterampilan Berpikir Kreatif Mahasiswa melalui Pendidikan Kewarganegaraan,” Allimna: Jurnal Pendidikan Profesi Guru, vol. 2, no. 1, pp. 54–77, 2023, doi: 10.30762/allimna.v2i01.964.

[19] L. Sari, Wikanengsih, and D. S. Fauziya, “Pembelajaran Menulis Cerita Pendek Melalui Metode Mind Mapping,” Parole: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, vol. 3, no. 2, pp. 159–170, 2020.

[20] M. A. Subekti, “Keterampilan Menulis Cerita Pendek Peserta Didik SMA,” Parafrasa: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajaran, vol. 4, no. 1, pp. 1–8, 2022.

[21] T. Hikmatin, “Pengaruh Minat Baca dan Penguasaan Kosakata terhadap Kemampuan Menulis Cerita Pendek,” Diskursus: Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia, vol. 1, no. 3, p. 286, 2020, doi: 10.30998/diskursus.v1i03.6696.

[22] W. Noprina, Mudah Menulis Cerita Pendek. Gresik: Thalibul Ilmi & Education Publishing, 2023.

[23] B. A. Pratiwi, S. Sumiyadi, and R. A. Nugroho, “Pembelajaran Diferensiasi Berbasis Proyek untuk Pengembangan Keterampilan Menulis Cerita Pendek di SMP,” Jurnal Onoma Pendidikan, Bahasa, dan Sastra, vol. 10, no. 3, pp. 2998–3009, 2024, doi: 10.30605/onoma.v10i3.4035.

[24] A. Mudiono, Pembelajaran Literasi Menulis Cerita di SD. Malang: Surya Pena Gemilang, 2024.

[25] Verawati and A. J. Bakari, “Mengembangkan Kreativitas Menulis Cerpen Melalui Media Gambar,” Education: Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 1, no. 1, pp. 56–72, 2020.

[26] M. D. Noge, M. Y. Raga, Y. V. Sayangan, and M. P. Wau, “Efektivitas Gerakan Agroliterasi Melalui Kegiatan Outing Class untuk Meningkatkan Kreativitas Menulis Peserta Didik Kelas V Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar Flobamorata, vol. 5, no. 2, pp. 242–250, 2024, doi: 10.51494/jpdf.v5i2.1474.

[27] M. Citra, R. Marta, and F. Fadhilaturrahmi, “Peningkatan Keterampilan Menulis Cerpen Menggunakan Model Pembelajaran Round Table di Sekolah Dasar,” PINUS: Jurnal Penelitian Inovasi Pembelajaran, vol. 8, no. 2, pp. 98–110, 2023, doi: 10.29407/pn.v8i2.18643.

[28] E. Horas, Praktik Mudah Menulis Cerpen. Jakarta: Guepedia, 2021.

[29] S. Dewati, Ayo Menulis Cerpen: Panduan Praktis Menulis Cerita Pendek bagi Pelajar. Pasaman Barat: Azka Pustaka, 2024.

[30] H. Rohmah and M. D. Habibilah, “Pengembangan Media Pembelajaran Akhlak Berbasis Cerita Pendek (Cerpen) dan Respon Peserta Didik di Kelas VII MTs Darun Najah Ngijo Karangploso Malang,” Al Furqan: Jurnal Agama, Sosial, dan Budaya, vol. 3, no. 4, pp. 37–48, 2024.

[31] S. Alawiyah, “Metode Resitasi dan Peningkatan Hasil Belajar Peserta Didik pada Materi Menulis Teks Editorial di Masa Pandemi COVID-19,” Cakrawala: Jurnal Pendidikan, vol. 15, no. 1, pp. 28–40, 2021, doi: 10.24905/cakrawala.v15i1.264.

[32] Kementerian Kesehatan RI, Buku KIA: Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2024.

[33] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2022.