Muhammad Dzaky Royhan (1), Effy Wardati Maryam (2)
General Background: Academic procrastination remains a persistent behavioral problem among adolescents in vocational education, often associated with internal psychological factors. Specific Background: Low self-esteem has been identified as one of the internal determinants contributing to students’ tendency to delay academic tasks. Knowledge Gap: Although prior studies have examined the relationship between self-esteem and academic procrastination, limited experimental evidence evaluates structured psychoeducation focusing on self-esteem development in vocational high school settings. Aims: This study aims to examine the effectiveness of self-esteem psychoeducation in reducing academic procrastination among students of SMK Antartika 1 Sidoarjo. Results: Using a quantitative pre-experimental one group pretest-posttest design involving 40 eleventh-grade students, the paired sample t-test revealed a significant difference between pretest and posttest scores (p = 0.004), indicating a decrease in academic procrastination after the intervention. Novelty: This study provides empirical evidence of a structured self-esteem psychoeducation program implemented in a vocational high school context using a pre-experimental approach. Implications: The findings highlight the importance of integrating self-esteem development programs within school counseling services to address academic procrastination behaviors.
Keywords: Self Esteem, Academic Procrastination, Psychoeducation, Vocational High School, Pre Experimental Design
Key Findings Highlights:
Statistical testing shows significant score differences before and after intervention.
Structured sessions contribute to behavioral change within three weeks.
Counseling-based programs demonstrate measurable student progress.
Remaja menghadapi banyak masalah dan mencari identitas mereka sendiri. Usia juga memengaruhi keinginan untuk belajar. Usia remaja adalah usia di mana batas usia untuk setiap fase perkembangan tidak jelas [1]. Oleh karena itu, remaja membutuhkan pendidikan sebagai media untuk belajar. Salah satu langkah penting yang diambil oleh setiap orang untuk memperoleh pengetahuan yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari adalah mendapatkan pendidikan. Proses pendidikan dilakukan oleh sekolah. Sekolah memiliki rencana waktu yang baik dan bertujuan untuk mengajar. Siswa sering memiliki kegiatan bebas, yang dapat membuat mereka tidak terikat pada tujuannya. Salah satu contoh ketidaksiapan siswa dalam mengatur waktu untuk belajar adalah menunda tugas . Siswa dapat melakukan penundaan atau prokrastinasi ini karena mereka merasa tidak ada waktu yang tersisa untuk menyelesaikan tugasnya . Perilaku menunda terjadi ketika guru memberikan tugas kepada siswa dan mereka tidak segera menyelesaikannya . Perilaku menunda-nunda adalah perilaku yang tidak baik atau tidak efektif selama proses pembelajaran. Peserta didik sering menunda-nunda untuk menyelesaikan dan menyelesaikan tugas karena berbagai alasan, seperti soal yang diberikan terlalu sulit dan mereka lebih memprioritaskan hal-hal yang disukai daripada yang mereka lakukan. Menunda sesuatu dengan sengaja disebut prokrastinasi [2]. Prokrastinasi akademik adalah kebiasaan yang membuat Anda malas sehingga Anda sering menunda-nunda tugas, bahkan secara sengaja, dan lebih memilih berpartisipasi dalam aktivitas lain, yang pada gilirannya mempengaruhi perilaku Anda. Akibatnya, tugas yang seharusnya dilakukan segera ditunda dan terabaikan semakin banyak dan semakin banyak . Menurut Ferrari, berdasarkan teori reinforcement, orang yang melewatkan tugas hampir tidak pernah atau jarang dihukum. Orang-orang bahkan merasa lebih baik jika menunda tugas karena pada akhirnya tugas tersebut akan selesai. Menurut teori perilaku kognitif, Perilaku penundaan ini disebabkan oleh kesalahan berpikir dan pikiran irasional tentang tugas, seperti ketakutan bahwa mereka tidak akan menyelesaikannya . Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa di dalam akademik prokrastinasi merupakan sebuah kebiasaan menunda tugas karena orang tersebut cenderung memilih aktivitas lain yang lebih menyenangkan pada akhirnya tugas semakin menumpuk. Jika seseorang merasa nyaman dengan kebiasaan tersebut, mereka terus melakukannya.
Hal tersebut sejalan dengan hasil wawancara kepada siswa SMK Antartika 1 kelas 11 TKR ditemukan perilaku siswa yang memiliki permasalahan prokrastinasi akademik seperti setiap malam melakukan latihan silat, ada pula siswa yang setiap malam bermain game sehingga menunda mengerjakan tugas yang diberikan, siswa menghindari tugas yang tidak disukai, menyalahkan faktor luar atas ketertundaan, mengalihkan fokus pada kegiatan yang kurang penting. Oleh karena itu prokrastinasi memiliki dampak negatif yaitu siswa akan telat untuk mengumpulkan tugasnya [3]. Hal tersebut sejalan juga dengan apa yang dikatakan oleh Guru BK SMK Antartika 1 Sidoarjo yang mengatakan bahwa terdapat beberapa siswa yang nilai rapot sisipannya berwarna merah yang menandakan siswa tersebut telat mengumpulkan tugas. Sebagai syarat akademik, siswa harus mendapatkan tanda tangan dari setiap guru mata pelajaran menjelang ujian. Jika dalam suatu mata pelajaran siswa tidak memperoleh tanda tangan, mereka akan berusaha menghubungi guru tersebut. Satu alasan siswa tidak mendapatkan tanda tangan adalah karena mereka tidak menyelesaikan tugas yang diberikan, yang menyebabkan nilainya merah pada rapot sisipannya. Hasil belajar siswa dapat menjadi buruk dan tidak optimal jika mereka melakukan kebiasaan yang suka menunda untuk menyelesaikan tugas akademik dan tidak memanfaatkan waktu sebaik mungkin . Pada saat observasi terlihat siswa saat mendengarkan penjelasan ada yang diam-diam bermain handphone, ada yang sibuk kipas-kipas menggunakan bukunya, dan berdasarkan wawancara dengan guru BK jika para siswanya ada yang sampai tidur pada saat dikelas, bermain hp saat jam pelajaran sehingga orang tuanya dipanggil ke sekolah.
Menurut Aulia menjelaskan mengenai ciri umum prokrastinasi akademik dari pendapat ahli adalah: (1) Siswa malas dalam menyelesaikan tugas,nya meskipun mereka tahu betapa pentingnya tugas tersebut. (2) Siswa menunda-nunda dalam menyelesaikan tugas yang telah diberikan, yang pada akhirnya siswa terlambat untuk mengumpulkan tugasnya. (3) Kecemasan dan ketakutan terhadap tugas yang diberikan, yang akhirnya menyebabkan kecemasan dan rasa takut yang berlebihan. (4) Sering melakukan aktivitas yang tidak diperlukan [4].
Menurut Sinta dan Sri, prokrastinasi akademik dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari dalam diri siswa itu sendiri, terdiri dari: (1) Kondisi fisik individu: Kesehatan dan kondisi fisik seseorang merupakan faktor utama yang dapat mempengaruhi prokrastinasi seseorang. (2) Keadaan mental seseorang, kemungkinan banyak orang yang prokrastinasi dipengaruhi oleh kepribadian mereka, terutama karakteristik locus of control. Selanjutnya untuk faktor eksternalnya yaitu (1) Pendekatan pengasuhan orang tua, pengasuh ayah yang otoriter menyebabkan perilaku prokrastinasi. (2) Kondisi lingkungan, prokrastinasi akademik terjadi lebih sering di tempat yang kurang pengawasan daripada di tempat yang penuh pengawasan. Pergaulan siswa juga berpengaruh [5].
Menurut Indah, prokrastinasi disebabkan oleh lemahnya manajemen diri siswa dan berdampak pada penurunan prestasi akademik. [6]. Menurut Anita, Muhtar dan jayanto self esteem dianggap menjadi faktor penting terjadinya prokrastinasi akademik siswa. seseorang harus dapat menyelesaikan tugas dengan baik tanpa dipengaruhi oleh prasangka negatif, karena penurunan self esteem akan menyebabkan prokrastinasi [3].
Menurut Mawar, Sabrina, dan Lutfi, self-esteem merupakan salah satu faktor yang turut memengaruhi terjadinya prokrastinasi akademik pada siswa. Jika siswa memiliki self esteem yang rendah cenderung mengalami masalah pada kedisiplinannya, sedangkan kedisiplinan merupakan faktor yang penting untuk mencegah siswa mengalami prokrastinasi akademik [7]. Self esteem adalah evaluasi terhadap perasaan dan penilaian seseorang tentang dirinya sendiri, yang berdampak besar pada harapan mereka tentang diri mereka sendiri dan orang lain. Penilaian ini juga menunjukkan seberapa jauh seseorang percaya dirinya berharga . Self-esteem merupakan salah satu faktor keberhasilan seseorang dalam kehidupannya, karena bagaimana self-esteem seorang remaja berkembang akan menentukan apa yang mereka lakukan atau tidak di masa depan. Pengembangan self-esteem sebagai penilaian terhadap diri sendiri sangat penting dalam pendidikan karena diharapkan dapat memproses penemuan konsep diri positif pada jiwa anak . Menurut Aan, Yani dan Heni salah satu gejala self-esteem yang rendah adalah perilaku para remaja yang malas dan tidak fokus dalam pembelajaran [8] . Hal itu sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ainun Heiriyah, Sabit Tohar memiliki hubungan yang signifikan antara self esteem dengan prokrastinasi akademik siswa di suku banjar, hal tersebut karena mereka mengalami kesulitan untuk mengatur diri sendiri ketika dihadapkan pada tugas-tugas yang menumpuk, selain itu siswa sering menerima tugas tanpa mengetahui tenggat waktunya dan menyebabkan tugas mereka menumpuk .
Pada penelitian yang dilakukan oleh Widowati, Muhtar, Jaryanto memiliki hubungan signifikan antara self esteem dengan prokrastinasi akademik siswa yang mana setiap siswa memiliki tingkat kepercayaan diri yang berbeda, yang berkontribusi pada tingkat rendahnya prokrastinasi akademik. Setiap masalah yang dihadapi siswa pasti memiliki tingkat kesulitan yang berbeda, jadi siswa harus mampu bekerja keras untuk menyelesaikannya tepat waktu. Selain tingkat kesulitan yang berbeda, siswa harus menghindari melakukan aktivitas yang tidak diperlukan, karena ini dapat mengurangi perilaku prokrastinasi. Pengukuran prokrastinasi akademik menggunakan empat indikator yang mana siswa membutuhkan waktu lebih lama saat mengerjakan tugas hal itu dikarenakan mereka sering melakukan aktivitas lain yang tidak diperlukan. Akibatnya, tugas sering tertunda. kemudian siswa tidak tertarik untuk memulai dan menyelesaikan tugas secara sengaja meskipun mereka tahu bahwa tugasnya hanya berlangsung singkat. Pengukuran self-esteem juga menggunakan empat indikator yang mana siswa sudah merasa bahwa mereka mendapatkan penerimaan, perhatian, dan kasih sayang dari lingkungan mereka, yang berdampak pada peningkatan keyakinan diri mereka sendiri. kemudian siswa dalam mencapai prestasi dalam berbagai tingkatan dan tugas, disebabkan oleh kurangnya pemahaman siswa tentang tugas yang diberikan guru. Untuk mengurangi prokrastinasi akademik, siswa harus membuat jadwal perencanaan untuk menyelesaikan tugas dan meningkatkan kepercayaan diri mereka [3].
Penelitian Sulistyani, Waskitoningtyas, dan Ismiyati menunjukkan bahwa self-esteem berhubungan signifikan dengan prokrastinasi akademik, di mana siswa yang percaya diri cenderung lebih sedikit menunda tugas [9].
Self-esteem sangat penting untuk menumbuhkan kreativitas siswa. Ini akan memungkinkan siswa untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menyelesaikan tugas akademik [10]. Maka dari itu mengembalikan pola pikir positif bagi siswa yang membutuhkan bimbingan khusus adalah salah satu cara Untuk meningkatkan self-esteem siswa, diperlukan pemberian bimbingan khusus dalam setiap mata pelajaran agar potensi mereka dapat berkembang secara optimal. Meskipun hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru, mengingat beban tugas administratif yang cukup tinggi, peran guru tetap krusial dalam memberikan perhatian dan pendampingan kepada siswa yang menunjukkan indikasi rendahnya self-esteem. Selain itu, keterlibatan orang tua juga sangat diperlukan, khususnya dalam memantau perkembangan akademik anak di rumah, sehingga hasil belajar dapat dievaluasi secara berkala setiap semester. Oleh karena itu, upaya ini mungkin, lebih dari sebelumnya, meningkatkan kepercayaan diri siswa [11]. Jika siswa memiliki self esteem yang tinggi, mereka akan lebih mampu dan percaya diri akan potensinya, serta siswa lebih cenderung berprestasi dan pandai di sekolah . Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui apakah psikoedukasi dapat menurunkan prokrastinasi akademik yang dialami oleh siswa di SMK Antartika 1 Sidoarjo sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji efektivitas psikoedukasi yang berfokus pada peningkatan self-esteem dalam mengurangi perilaku prokrastinasi akademik pada siswa SMK Antartika 1 Sidoarjo.
R ancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan jenis penelitian pra-eksperimental yang dirancang menggunakan desain one group pre-test post-test. Desain ini bertujuan untuk bertanya apakah terjadi perubahan perilaku pada siswa setelah diberikan intervensi berupa psikoedukasi. Dalam prosesnya, siswa terlebih dahulu diberikan tes awal ( pre-test ) untuk mengukur kondisi perilaku sebelum intervensi dilakukan, kemudian dilakukan intervensi berupa psikoedukasi, dan diakhiri dengan tes akhir ( post-test ) untuk mengukur kondisi setelah intervensi. Peneliti berpendapat bahwa hasil perbandingan antara pre-test dan post-test akan menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari intervensi terhadap perubahan perilaku siswa.
Keterangan : 01 : Pengukuran sebelum perlakuan
02 : pengukuran setelah perlakuan
X : Perlakuan (Treatment)
Subjek Penelitian
populasi pada penelitian ini yaitu siswa SMK Antartika 1 Sidoarjo dan Sampel sebanyak 40 siswa kelas 11 TKR. Teknik pengambilan sampelnya dengan menggunakan random sampling apabila populasi terlalu besar dengan jangka waktu yang terbatas [12].
Instrumen Penelitian
Skala yang digunakan adalah skala prokrastinasi akademik. Menurut Aulia, yang mengadopsi aspek dari Solomon dan Rothblum serta Ferrari dkk, prokrastinasi akademik mencakup perilaku menunda tugas, pemikiran irasional, rasa takut gagal, serta kecenderungan mencari kesenangan atau kenyamanan [4]. Selain itu pada penelitian ini juga menggunakan observasi dan wawancara. Menurut Sugiyono, observasi digunakan untuk mengamati perilaku, proses, dan gejala dengan responden terbatas, sedangkan wawancara menggali informasi lebih dalam dari responden [12]. Observasi dan wawancara yang dilakukan adalah kepada guru BK, perwakilan 5 siswa kelas 11 TKR (Teknik Kendaraan Ringan).
Metode Pelaksanaan
Tahapan pelaksanaan implementasi yaitu psikoedukasi ini dilakukan dalam beberapa tahapan yang pertama persiapan, melakukan survei pada sekolah yang akan dituju, yang kedua proses pelaksanaan psikoedukasi adalah dengan memberikan pretest kemudian memaparkan materi, dan yang ketiga evaluasi, setelah diberikan psikoedukasi para siswa akan diberikan waktu selama satu minggu atau beberapa minggu kemudian menyebarkan posttest Kembali untuk melihat apakah prokrastinasi akademik yang dialami oleh siswa SMK antartika 1 menurun atau meningkat. Kuisioner penelitian dapat diakses melalui tautan sebagai berikut ini: https://forms.gle/zj4Wm5t2wvsbiNfg6
Analisa Data
Penilaiannya menggunakan skala likert yaitu memilih antara SS (Sangat Tidak Setuju), S (Setuju), TS (Tidak Setuju kalimat), STS (Sangat Tidak Setuju). Penilaian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat respons siswa terhadap pernyataan-pernyataan yang diberikan, dengan menggunakan empat pilihan tersebut untuk mencerminkan tingkat kesepakatan mereka. Setiap kategori dalam skala Likert diberi nilai numerik, misalnya SS dengan nilai tertinggi, diikuti S, TS, dan STS dengan nilai terendah. Data yang dikumpulkan melalui Skala ini akan dianalisis untuk menghasilkan perubahan perilaku siswa setelah intervensi dilakukan. Kemudian analisa data yang digunakan adalah Paired sample t test, sebelum melakukan analisa data paired sample t test akan dilakukan uji normalitas dan uji linearitas terlebih dahulu. Analisa data menggunakan aplikasi aplikasi IBM JASP Versi 0.18.3.0.
Menurut Sugiyono dalam analisis statistik parametrik, langkah pertama yang harus dilakukan adalah menguji normalitas data. Hal ini penting karena apabila data tidak terdistribusi normal, maka uji hipotesisnya tidak bisa digunakan dengan benar. Untuk mengecek normalitas, dilihat dari nilai signifikansi (p-value). Kalau p-value lebih dari 0,05, berarti data normal. Tapi kalau kurang dari 0,05, berarti data tidak normal. [12]. Dari data pada tabel 1 menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,746, dapat disimpulkan data tersebut berdistribusi normal.
Untuk mengetahui adanya perubahan antara hasil pretest sebelum intervensi dan posttest setelah intervensi, digunakan uji paired sample t-test. Apabila nilai signifikansi yang diperoleh kurang dari 0,05, berarti terdapat pengaruh antara variabel pretest dan posttest. Sebaliknya, jika nilai signifikansi melebihi 0,05, maka tidak ditemukan pengaruh antara keduanya. Berdasarkan data yang diperoleh, nilai signifikansi sebesar 0,004, sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara pretest dan posttest.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa Psikoedukasi Self Esteem efektif untuk menurunkan prokrastinasi akademik pada siswa. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan temuan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sarasija dkk (2021) yaitu psikoedukasi yang pada awalnya tidak cukup efektif untuk menurunkan prokrastinasi akademik yang dialami oleh siswa SMP, SMA/SMK kemudian mereka melakukan penjadwalan dan dilakukan selama 5 hari, selama 5 hari tersebut mereka melakukan observasi secara langsung dan dapat dilihat jika terdapat perubahan yang signifikan terhadap para siswa, siswa melakukan sesuai apa yang telah dilakukannya dan hal tersebut mampu untuk menurunkan prokrastinasi [13]. Untuk mengurangi prokrastinasi akademik, siswa harus membuat jadwal perencanaan untuk menyelesaikan tugas dan meningkatkan kepercayaan diri mereka [3].
Prokrastinasi Akademik dapat menyebabkan waktu yang terbuang sia-sia, dan waktu studi lama, selain itu kualitas tugas dan pencapaian akademik menurun, kesulitan untuk menyelesaikan tugas dan yang terakhir dapat menyebabkan penurunan pada produktivitas serta etos kerjanya [14]. Maka dari setelah psikoedukasi diberikan kepada siswa, kemudian memberikan jeda sekitar tiga minggu untuk memahami, menginternalisasi, dan menerapkan materi yang telah diberikan. Siswa dapat beradaptasi dengan informasi yang telah diberikan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik. Setelah tiga minggu berlalu posttest diberikan kembali kepada para siswa untuk mengevaluasi apakah prokrastinasi akademiknya menurun atau semakin meningkat. Psikoedukasi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penurunan tingkat prokrastinasi akademik pada siswa TKR kelas 11 di SMK Antartika 1 Sidoarjo. Hasil analisis data menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,004. Oleh karena itu, psikoedukasi terbukti membantu siswa memahami pentingnya mengelola waktu dan bertanggung jawab atas tugas akademik mereka. Pada akhirnya, ini dapat membantu mereka menghentikan perilaku menunda-nunda yang telah menjadi kebiasaan mereka.
Self esteem dianggap menjadi faktor penting terjadinya prokrastinasi akademik siswa. seseorang harus dapat menyelesaikan tugas dengan baik tanpa dipengaruhi oleh prasangka negatif, karena penurunan self esteem akan menyebabkan prokrastinasi [3]. Pada dasarnya, siswa yang memiliki self-esteem yang tinggi akan lebih termotivasi untuk mencapai prestasi akademik yang tinggi, dan prestasi akademik yang lebih baik akan memicu self-esteem siswa itu sendiri. Siswa yang memiliki self-esteem yang rendah justru cenderung mengalami masalah pada kedisiplinannya. Kedisiplinan adalah kunci untuk mencegah siswa mengalami prokrastinasi akademik [7]. Memiliki self-esteem yang tinggi dapat mencegah siswa melakukan hal-hal yang tidak baik untuk membantu mereka dalam proses pembelajaran [15].
Harga diri (self-esteem) memiliki peran dominan dalam mendorong terjadinya prokrastinasi. Self-esteem, yang merupakan bagian dari kepribadian, membantu individu membangun keyakinan dan pandangan positif terhadap diri sendiri serta lingkungan di sekitarnya. Menurut Barus, individu dengan tingkat self-esteem yang rendah cenderung mengalami berbagai emosi negatif terhadap diri sendiri dan lingkungan sosial. Mereka kerap merasa terasing, kurang memiliki ikatan emosional dengan orang lain, merasa tidak dicintai atau kurang mendapatkan perhatian dan kasih sayang. Selain itu, mereka juga mengalami hambatan dalam mengungkapkan pikiran, perasaan, dan keinginan secara bebas, serta merasa kurang percaya diri, tidak cukup kuat, dan tidak mampu mengatasi tantangan atau kekurangan dalam diri mereka. [16]. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Dwiarwati, di mana hasil uji-t menunjukkan t-hitung sebesar 3,599 dengan nilai signifikansi 0,034. Karena signifikansi tersebut lebih kecil dari 0,05 dan t-hitung melebihi t-tabel (1,678), maka H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan demikian, self-esteem terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengendalian prokrastinasi akademik, sehingga hipotesis pertama dinyatakan diterima. [17]. Penelitian lain dilakukan oleh Aisyah dkk yang mengatakan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara variabel self-esteem dengan prokrastinasi akademik, dibuktikan dengan nilai sig 0,036 < 0,05 .
Penelitian ini menghadapi beberapa keterbatasan yaitu yang pertama keterbatasan sampel penelitian sebab hanya terdiri 40 siswa pada kelas 11 TKR di SMK Antartika 1 sidoarjo, hal ini yang menyebabkan psikoedukasi tidak dapat digeneralisasikan keseluruh populasi yang mengalami prokrastinasi akademik, Kedua adalah tidak ada evaluasi jangka panjang, pada penelitian ini belum melakukan follow up setelah post test untuk melihat apakah perubahan perilaku prokrastinasi akademiknya dapat bertahan lebih lama. Untuk membuat temuan ini lebih komprehensif dan relevan secara lebih luas, keterbatasan ini diharapkan akan dipertimbangkan dalam penelitian berikutnya.
Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan adanya perbedaan skor perilaku siswa antara tes awal (pretest) dan tes akhir (posttest) terkait tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan psikoedukasi. Rata-rata skor siswa menunjukkan peningkatan setelah mengikuti kegiatan tersebut. Analisis lebih lanjut menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan, di mana hasil uji paired sample t-test menghasilkan nilai signifikansi sebesar 0,004, yang lebih kecil dari 0,05. Artinya, terdapat perubahan yang bermakna setelah intervensi diberikan. Salah satu upaya efektif untuk mengatasi permasalahan ini adalah dengan meningkatkan self-esteem atau harga diri siswa. Melalui psikoedukasi, para siswa mendapatkan pemahaman mengenai konsep prokrastinasi akademik serta cara-cara untuk meningkatkan self-esteem mereka. Selain itu, hasil pengukuran pretest dan posttest memperlihatkan bahwa sebagian besar siswa mengalami peningkatan self-esteem yang disertai dengan penurunan perilaku prokrastinasi akademik.
Bagi siswa diharapkan dapat menerapkan strategi yang telah dipelajari dalam psikoedukasi mengenai self-esteem ke dalam kehidupan akademik mereka, seperti membangun pola pikir positif, meningkatkan keyakinan diri, serta mengembangkan keterampilan manajemen waktu yang lebih baik. Kemudian untuk peneliti selanjutnya diharapkan dilakukan dengan menambahkan variabel lain yang berhubungan dengan prokrastinasi akademik, seperti self-efficacy atau regulasi diri, untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif, mengembangkan program psikoedukasi yang lebih interaktif dan berbasis teknologi agar lebih menarik dan mudah diakses oleh siswa dalam meningkatkan prokrastinasi akademik mereka.
Ucapan Terima Kasih
Peneliti menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak SMK X Sidoarjo atas kepercayaan dan izin yang telah diberikan, sehingga proses pelaksanaan penelitian ini dapat berjalan dengan lancar di lingkungan sekolah tersebut. Selain itu, peneliti juga memberikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh siswa yang telah bersedia meluangkan waktu, berpartisipasi aktif, dan memberikan kontribusi selama berlangsungnya penelitian ini. Berkat dukungan dan partisipasi mereka, penelitian ini dapat terselesaikan dengan baik dan mencapai tujuan yang diharapkan.
[1] V. P. Z. Setiadi and A. Purnama, “Kontrol Diri Dengan Motivasi Belajar Anak Usia Remaja,” JKEP, vol. 4, no. 1, pp. 62–70, 2019, doi: 10.32668/jkep.v4i1.281.
[2] S. Sulistyani, R. S. Waskitoningtyas, and N. Ismiyati, “Hubungan Self Concept dan Self Esteem dengan Prokrastinasi Akademik Siswa Kelas X SMAN 8 Balikpapan,” Kompetensi, vol. 15, no. 1, pp. 8–14, 2022, doi: 10.36277/kompetensi.v15i1.61.
[3] A. Widowati, Muhtar, and Jaryanto, “Hubungan antara Self-Esteem dengan Prokrastinasi Akademik Siswa Jurusan Akuntansi SMK Negeri Kota Surakarta,” Jurnal Tata Arta UNS, vol. 7, no. 2, pp. 105–117, 2021.
[4] Y. Pedhu and M. Y. Indrawati, “Motivasi Belajar dan Prokrastinasi Akademik Siswa SMP Santo Fransiskus II Jakarta,” Psiko Edukasi, vol. 20, no. 2, pp. 151–164, 2022, doi: 10.25170/psikoedukasi.v20i2.3839.
[5] I. Wulandari, S. Fatimah, and M. M. Suherman, “Gambaran Faktor Penyebab Prokrastinasi Akademik Siswa SMA Kelas XI SMAN 1 Batujajar di Masa Pandemi Covid-19,” FOKUS: Kajian Bimbingan dan Konseling dalam Pendidikan, vol. 4, no. 3, p. 200, 2021, doi: 10.22460/fokus.v4i3.7237.
[6] A. Bela et al., “Prokrastinasi Akademik dan Manajemen Waktu terhadap Stres Akademik pada Mahasiswa di Masa Pandemi: Review Literatur,” Jurnal Psikologi Wijaya Putra, vol. 4, no. 1, pp. 37–48, 2023, doi: 10.38156/psikowipa.v4i1.59.
[7] H. Ndruru, S. F. L. Zagoto, and B. Laia, “Peran Guru Bimbingan dan Konseling terhadap Prokrastinasi Akademik Siswa di SMA Negeri 1 Aramo,” Couns-All: Jurnal Bimbingan dan Konseling, vol. 2, no. 1, pp. 31–39, 2022, doi: 10.57094/jubikon.v2i1.371.
[8] I. N. Aulia, “Hubungan Prokrastinasi Akademik dengan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas 5 Sekolah Dasar,” Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2020.
[9] S. A. Wahyuningtyas and S. P. Setyawati, “Pengaruh Motivasi Belajar terhadap Prokrastinasi Akademik Siswa MTs Sunan Kalijaga,” Semdikjar, vol. 4, pp. 708–716, 2021.
[10] I. P. S. Lase, “Pengaruh Tingkat Pendapatan Orang Tua dan Efikasi Diri terhadap Minat Siswa Melanjutkan ke Perguruan Tinggi,” Journal of Education Development, vol. 8, no. 2, pp. 261–264, 2020.
[11] M. N. F. Putri, S. Dachmiati, and L. Lutfi, “Self-Esteem dan Prokrastinasi Akademik Siswa,” Orien Cakrawala Ilmiah Mahasiswa, vol. 1, no. 1, pp. 9–16, 2021, doi: 10.30998/ocim.v1i1.4580.
[12] W. Wahdaniah, U. Rahman, and S. Sulateri, “Pengaruh Efikasi Diri, Harga Diri dan Motivasi terhadap Hasil Belajar Matematika,” MaPan, vol. 5, no. 1, pp. 68–81, 2017, doi: 10.24252/mapan.2017v5n1a5.
[13] R. Refnadi, “Konsep Self-Esteem serta Implikasinya pada Siswa,” Jurnal Edukasi Indonesia, vol. 4, no. 1, p. 16, 2018, doi: 10.29210/120182133.
[14] A. S. Pamungkas, Y. Setiani, and H. Pujiastuti, “Peranan Pengetahuan Awal dan Self-Esteem Matematis terhadap Kemampuan Berpikir Logis Mahasiswa,” Kreano, vol. 8, no. 1, pp. 61–68, 2017, doi: 10.15294/kreano.v8i1.7866.
[15] A. Heiriyah and S. Tohari, “Hubungan Self-Control dan Self-Esteem dengan Prokrastinasi Akademik Siswa,” Jurnal Consulenza Bimbingan Konseling dan Psikologi, vol. 6, no. 2, pp. 248–258, 2023, doi: 10.56013/jcbkp.v6i2.2347.
[16] B. Azwar, “Peranan Guru BK dalam Mengembangkan Self-Esteem Siswa pada Kurikulum Merdeka Belajar,” G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling, vol. 7, no. 3, pp. 450–466, 2023, doi: 10.31316/gcouns.v7i03.4556.
[17] W. Irmawan and M. D. Sundawan, “Peningkatan Keterampilan Self-Advocacy Mahasiswa melalui Structure Learning Approach,” Maju, vol. 6, no. 1, pp. 92–100, 2019.
[18] N. F. Anggraeni, M. I. Kholili, and U. Makhmudah, “Kemanjuran Teknik Permainan Simulasi untuk Meningkatkan Self-Esteem Siswa SMK,” Jurnal Psikoedukasi dan Konseling, vol. 3, no. 2, p. 68, 2022, doi: 10.20961/jpk.v3i2.34369.
[19] Sugiyono, Metodologi Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2020.
[20] L. N. A. S. Sarasija et al., “Psikoedukasi Pepro untuk Menurunkan Prokrastinasi Akademik,” Psikologi Konseling, vol. 18, no. 1, p. 922, 2021, doi: 10.24114/konseling.v18i1.27835.
[21] G. A. Setiyono, R. Paramita, and N. Hartini, “Psychoeducation of Academic Procrastination in Undergraduate Students,” Psikostudia, vol. 12, no. 4, p. 468, 2023, doi: 10.30872/psikostudia.v12i4.10370.
[22] S. Elfranata et al., “Pengaruh Self-Esteem dan Self-Efficacy terhadap Kesiapan Kerja Siswa SMK,” JEID: Journal of Educational Integrated Development, vol. 2, no. 4, pp. 260–270, 2023, doi: 10.55868/jeid.v2i4.147.
[23] K. A. Dwiarwati, M. Vina, and A. Paramita, “Pengaruh Self-Esteem dan Self-Control terhadap Pengendalian Prokrastinasi Akademik,” Jurnal Bimbingan dan Konseling Indonesia, vol. 6, no. 2, pp. 243–256, 2023.
[24] N. Asiyah and F. Syukur, “Internal Locus of Control, Self-Efficacy, Self-Esteem, dan Prokrastinasi Akademik Mahasiswa,” Journal of Islamic Studies and Humanities, vol. 4, no. 1, pp. 127–155, 2019, doi: 10.21580/jish.41.4796.