Moh Samsudin Febri Anto (1), Dra. Dwi Nastiti, M.Si (2)
General Background: Learning motivation plays a central role in determining students’ academic engagement and achievement within formal education systems. Specific Background: Empirical findings indicate that many secondary school students demonstrate low levels of learning motivation, requiring structured psychological and educational interventions. Knowledge Gap: Although goal setting has been widely discussed in motivational theory, limited experimental evidence has examined structured goal setting training programs implemented directly in classroom settings. Aims: This study aims to examine differences in students’ learning motivation before and after participation in a goal setting training program. Results: Using an experimental approach with pretest and posttest measurement, statistical analysis revealed a significant increase in learning motivation scores following the training intervention, indicating measurable changes in students’ motivational levels. Novelty: The study provides empirical evidence from a structured training design applied in a secondary school context, integrating goal setting principles with practical classroom implementation. Implications: The findings support the integration of systematic goal setting training into educational practice as a structured motivational strategy and provide empirical reference for future research in educational psychology and student self-regulation.Keywords: Goal Setting Training, Learning Motivation, Experimental Study, Secondary School Students, Educational Psychology
Key Findings Highlights:
Post-intervention measurements showed statistically significant score improvement.
Structured training sessions demonstrated measurable motivational change.
Classroom-based implementation confirmed practical feasibility of the program.
Pendidikan dan pengajaran merupakan proses yang memiliki tujuan yang jelas. Tujuan tersebut menggambarkan hasil yang diharapkan dari siswa setelah mereka menjalani pengalaman belajar. Salah satu penilaian tercapainya tujuan pengajaran adalah melalui pencapaian prestasi belajar siswa. Tingkat prestasi yang tinggi menunjukkan pemahaman yang baik pada siswa. Motivasi merupakan faktor penting yang memengaruhi prestasi siswa. Ketika siswa termotivasi, mereka akan cenderung belajar dengan lebih giat, tekun, dan fokus, yang pada akhirnya memengaruhi kualitas proses pembelajaran. Dorongan motivasi dalam belajar adalah aspek penting yang harus diperhatikan dalam lingkungan pembelajaran di sekolah.[1]
Motivasi belajar merupakan faktor penting dalam proses belajar karena memotivasi siswa untuk terlibat dalam pembelajaran dan membimbing perilaku mereka [2]. Motivasi belajar merujuk pada berbagai dorongan yang mendorong siswa untuk terlibat, mempertahankan, dan mengarahkan kegiatan belajar sehingga mereka dapat mencapai tujuan. Oleh karena itu, individu yang termotivasi cenderung menunjukkan keterlibatan penuh dan dedikasi dalam pembelajaran, yang pada akhirnya membantu mereka meraih prestasi dan mencapai tujuan yang diinginkan.[3]
Siswa yang memiliki tingkat motivasi yang tinggi dalam proses belajar cenderung mencapai prestasi belajar yang lebih tinggi. Ini berarti bahwa semakin tinggi tingkat motivasi mereka, semakin tinggi pula pencapaian prestasi belajar yang mereka raih. Pada dasarnya, motivasi adalah upaya yang disadari untuk menggerakkan, mengarahkan, dan menjaga perilaku seseorang agar mereka termotivasi untuk melakukan suatu tindakan demi mencapai tujuan atau hasil tertentu. Siswa yang memiliki motivasi belajar rendah adalah tidak adanya dorongan dalam diri siswa dalam melakukan kegiatan belajar dan tidak adanya arahan untuk belajar membuat tidak ada semangat dalam diri siswa sehingga tujuan yang dikehendaki tidak dapat tercapai [4]. Sesuai dengan pendapat Handu, siswa yang memiliki motivasi belajar rendah, antara lain : Cenderung cepat bosan dengan kegiatan belajar, kurang semangat dalam belajar, perhatiannya tidak fokus pada pembelajaran dan hal-hal yang membuat diri merasa kesulitan dalam memecahkan soal, menunda mengerjakan tugas sekolah, tidak ada keinginan untuk meningkatkan prestasi belajar [5]. Dampak terhadap sekolah meliputi; KBM tidak berjalan lancar, kualitas siswa yang diluluskan menjadi rendah, reputasi sekolah menjadi negatif, menimbulkan budaya sekolah yang tidak baik yakni sikap acuh tak acuh antara guru dan siswa. Dampak terhadap siswa meliputi; prestasi belajar menurun, tidak memiliki antusias mengikuti kegiatan belajar di kelas, cepat merasa bosan sehingga mengantuk saat KBM, lebih suka berada di luar kelas atau bahkan membolos sekolah.[6]
Pintrich & A (1991) menjelaskan bahwa motivasi dalam konteks Motivated Strategies for Learning (MSLQ) terdiri dari tiga komponen pembelajaran. Pertama, komponen nilai yang melibatkan tujuan serta keyakinan siswa terhadap pentingnya minat terhadap suatu tugas. Kedua, komponen ekspektasi yang mencakup keyakinan siswa terhadap kemampuan mereka untuk mengelola perkembangan kognitif dan afektif dalam menyelesaikan tugas. Ketiga, komponen afektif yang mencakup respons atau perubahan emosional yang bisa menghambat seseorang dalam bertindak atau menunjukkan kecemasan siswa terhadap tuntutan tugas [7].
Berdasarkan hasil peneliti melakukan survey awal kepada guru BK, Guru Wali, dan Konfrimasi terhadap siswa dengan menggunakan metode wawancara bahwa siswa MA Roudlotul Banat Sidoarjo, terutama pada siswa kelas XII yang memiliki motivasi belajar yang rendah dalam pembelajaran di sekolah. Dari hasil wawancara dengan siswa kelas XII menunjukkan beberapa bentuk perilaku seperti cepat merasa bosan di saat mengerjakan tugas di dalam ruang kelas, mudah menyerah dalam mengerjakan tugas yang tidak mudah mereka pahami, sering melakukan obrolan sendiri dengan teman sebangku disaat gurunya sedang menjelaskan sebuah materi, sering menunda-nunda tugas PR sekolah, bolos, dan tidak memperhatikan penjelasan guru. Adanya fenomena masalah motivasi belajar pada siswa, beberapa perilaku yang ditujukkan siswa sesuai dengan pendapat Leonangung dkk. (2021), motivasi peserta didik yang rendah tampak dalam sejumlah gejala seperti tidak serius dalam belajar, ribut di dalam kelas, bolos, dan tidak mengerjakan tugas.[8]
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi motivasi belajar yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal antara lain penetapan tujuan (goal setting), cita-cita atau aspirasi siswa, kemampuan siswa, kondisi siswa, persepsi siswa mengenai kecerdasannya, serta keyakinan akan kemampuannya. Faktor eksternal antara lain kondisi lingkungan siswa, unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran, upaya guru membelajarkan siswa, persaingan, tingkat kesulitan tugas, dan pola asuh.[9]
Salah satu faktor yang yang dianggap penting dalam meningkatkan motivasi belajar adalah adanya goal setting. Menurut Locke, Goal setting theory adalah teori yang menekankan pentingnya menetapkan tujuan yang spesifik, menantang, dan terukur sebagai cara untuk meningkatkan motivasi dan kinerja individu. Istilah goal setting adalah sebuah teori kognitif dengan dasar pemikiran bahwa setiap orang memiliki suatu keinginan untuk mencapai tujuan yang diharapkan [10]. Selanjutnya, Menurut Locke asumsi dasar mengenai pententuan tujuan adalah bahwa tujuan (goal) merupakan pengatur secara langsung akan perilaku atau tindakan seseorang. Tindakan atau kemampuan seseorang adalah komponen penting yang memengaruhi hasil performasi seseorang pada komitmen serta tingkat partisipasi seseorang dalam dampak peningkatan performasi yang akan dihasilkan. Penelitian Locke, menunjukkan bahwa menetapkan tujuan membantu siswa mencapai prestasi atau performasi yang lebih baik dalam bidang akademik. Menurut Locke & Latham Seseorang akan mencapai tujuan untuk mendapatkan peningkatan performansi secara maksimal, yaitu menetapkan tujuan berdampak pada pembelajaran dengan cara mengembangkan strategi yang relevan untuk mencapai tujuan, memobilisasi pengarahan usaha, memperpanjang lamanya pengarahan usaha dan memotivasi individu [11].
Banyak peneliti mengadopsi goal setting sebagai strategi untuk meningkatkan motivasi belajar Ade Sanjaya (2019) dalam penelitiannya yang berjudul Hubungan Antara Goal Setting Dengan Motivasi Belajar Siswa yang dilaksanakan di SMA Negeri 13 Bandar Lampung dengan subjek 245 siswa yang terdiri dari jurusan IPA 105 siswa dan jurusan IPS 140 siswa menunjukan bahwa Nilai koefisien korelasi r=0,569 dengan signifikansi 0,002 dimana p<0,01 yang berarti ada hubungan yang signifikan antara goal setting dengan motivasi belajar pada siswa[12]. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Arief, Nugroho (2019) yang berjudul Pengaruh Pelatihan Goal Setting Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Pada Mahasiswa yang dilaksanakan di Perguruan Tinggi Swasta di Lampung dengan subjek berjumlah 18 orang mahasiswa membuktikan bahwa terdapat perbedaan tingkat motivasi belajar mahasiswa sebelum dan setelah diberi pelatihan goal setting. Mahasiswa yang diberi pelatihan goal setting memiliki motivasi belajar yang tinggi setelah diberi pelatihan goal setting dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak diberi pelatihan goal setting[10]. Penelitian ini sama dengan penelitian-penelitian sebelumnya, tetapi ada perbedaannya yaitu lebih ditekankan pada subyek penelitiannya. Penelitian ini meneliti siswa MA kelas 12.
Goal setting melibatkan proses pengembangan dan perumusan target yang ingin dicapai melalui penulisan atau penanaman berbagai impian dalam hati seseorang. Target tersebut kemudian diemban atau dipenuhi secara bertanggung jawab oleh setiap individu. Penelitian terdahulu yang berjudul Pelatihan Goal Setting untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa yang dilaksanakan di SMPIT X Banjarbaru dengan subjek 6 orang siswa kelas VIII dilakukan oleh Rachmaningtyas Fratiwi & Widyana Rahma (2024) dengan menggunakan metode kuantitatif quasi one group pretest posttest design. Semua subjek yang awalnya memiliki kemampuan akademik rendah setelah diberikan pelatihan goal setting hasilnya semua subjek menunjukkan peningkatan dalam membuat tujuan belajar, peningkatan inisiatif dalam mengerjakan penugasan yang diberikan.[13]
Berdasarkan fenomena perilaku siswa diatas, maka peneliti melihat adanya pertanyaan penelitian apakah penerapan goal setting mampu meningkatkan motivasi belajar siswa MA Roudotul Banat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan goal setting didalam usaha meningkatkan motivasi belajar siswa. Hipotesis yang diajukan peneliti adalah penerapan goal setting mampu meningkatkan motivasi belajar siswa.
Penelitian ini merupakan pendekatan kuantitatif eksperimen dengan design One Group Pretest-Posttest yaitu penelitian eksperimen yang dilaksanakan pada satu kelompok saja dan diberi pretest sebelum diberi perlakuan dan diberi posttest setelah diberi perlakuan.[14] Arikunto mengatakan, bahwa one group pretest-posttest design adalah kegiatan penelitian yang memberikan tes awal (pretest) sebelum diberikan perlakuan, setelah diberikan perlakuan barulah memberikan tes akhir (posttest)[15]. Variabel Penelitian variabel penelitian ini meliputi ( Variabel eskperimen ) yaitu penerapan goal setting dan variabel terikat Motivasi Belajar ). Populasi dalam penelitian ini berjumlah 59 siswa MA Roudlotul Banat Sidoarjo Sample dalam penelitian ini menggunakan seluruh siswa sebagai subyek penelitian.
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan skala MSLQ untuk mengetahui motivasi belajar yang disusun berdasarkan komponen komponen (Komponen Nilai, Afektif) yang dikemukakan oleh Pintrich et al. (1991) Skala MSLQ disusun skala likert dengan 7 pilihan jawaban yaitu STS (Sangat Tidak Sesuai), TS (Tidak Sesuai), KS (Kurang Sesuai), R (Ragu-Ragu), CS (Cukup Sesuai), S (Sesuai), SS (Sangat Sesuai). Nilai yang tinggi adalah 4, 5, 6 atau 7 yang mana lebih baik daripada nilai yang rendah, yaitu 1, 2 atau 3, kecuali pada sub domain kecemasan, nilai yang tinggi berarti menandakan kekhawatiran. Pada domain motivasi, terdiri dari enam sub domain dan strategi belajar terdiri dari sembilan sub domain. Data primer berupa kuesioner MSLQ yang berisi 81 pernyataan. [16]
Skala MSLQ diadopsi telah diterjemahkan secara keseluruhan oleh Anwar melalui dua ahli bahasa yang mengukur motivasi dan strategi belajar pada collaborative learning dan problem-based learning[16]. Peneliti mengambil data motivasi belajar pada pre-test dan post-test pada pelaksanaan psikoedukasi yang berselang selama 2 minggu. Setelah dilakuan pretest, pada 59 responden, selanjutnya pemateri memberikan penyuluhan tentang pentingnya goal setting secara langsung di dalam kelas serta sesi tanya jawab dan permainan agar menambah antusias siswa. Dilanjutkan dengan pengisian kuesioner posttest setelah diberikan intervensi berupa penyuluhan.
Untuk menganilisis hasil psikoedukasi peneliti menggunakan Uji Analisis Paired Sample T-Test dengan menggunakan program JASP 0.18 tujuannya untuk menguji perbedaan hasil pre-test dan post-test psikoedukasi. Analisis data dilakukan secara keseluruhan, yaitu Paired Sample T-Test yang digunakan untuk menguji perbedaan antara pre-test dan post-test psikoedukasi.
Figure 1. Tabel 1. Hasil Uji Normalitas
Berdasarkan uji normalitas pada penelitian ini diketahui bahwa nilai signifikansi pre-test dan post-test sebesar 0.001 yang artinya nilai signifikansi tersebut < 0.05. Dapat disimpulkan data tersebut tidak terdistribusi normal. Sehingga perlu melakukan pengujian data non parametrik menggunakan Wilcoxon signed-rank test.
Figure 2. Tabel 2. Hasil Uji Hipotesis
Berdasarkan uji Paired Samples T-Test pada tabel di atas menunjukan Wilcoxon’s signed-rank sangat signifikan karena nilai p 0.001 < 0.05. Parameter lokasi, estimasi Hodges-Lehmann menunjukkan perbedaan nilai median antara pre test dengan post test. Korelasi Rank-Biserial (rB) dapat dianggap sebagai besaran efek dan diinterpretasikan sama dengan r Pearson. Sehingga nilai 0.934 menunjukkan besaran efek yang besar.
Figure 3. Tabel 3. Hasil Uji Deskriptive
Figure 4.
Hasil uji deskriptif menunjukkan bahwa median dari pre-test (419.000) ke post-test (484.000) mengalami kenaikan. Sehingga dapat dinyatakan bahwa terjadi peningkatan motivasi belajar pada siswa MA Roudlotul Banat Sidoarjo.
Analisa hasil pre-test dan post-test pada tabel 4 memperlihatkan bahwa secara umum terdapat peningkatan motivasi belajar siswa. Pada tabel 4 yang mendeskripsikan hasil pre-test dan post-test menunjukkan bahwa dari 59 siswa yang mengikuti psikoedukasi, sebanyak 39 siswa meningkat motivasi belajarnya , 16 siswa motivasi belajarnya tetap dan 4 siswa motivasi belajarnya justru menurun.
Figure 5.
Penelitian ini menguji pengaruh psikoedukasi goal setting untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada siswa kelas 12 MA Roudlotul Banat Sidoarjo. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh pemberian psikoedukasi tentang goal setting. Hasil ini menunjukkan hipotesis peneliti diterima bahwa pemberian psikoedukasi kontrol diri berpengaruh positif meningkatkan motivasi belajar pada siswa MA Roudlotul Banat Sidoarjo. Dengan demikian pemberian psikoedukasi meningkatkan pemahaman tentang goal setting untuk meningkatkan motivasi belajar.
Hasil analisis diperoleh informasi bahwa psikoedukasi menetapkan goal setting meningkatkan motivasi belajar siswa. Penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Setiawan (2019) dengan judul Pengaruh Pelatihan Goal Setting Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Pada Mahasiswa, menyatakan bahwa mahasiswa setelah dilaksanakannya psikoedukasi goal setting menunjukan adanya peningkatan motivasi belajar menjadi tinggi. [10]
Selain itu penelitian yang dilakukan Fauziyah S,dkk (2023), tentang Penerapan Goal Setting Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa kelas X DKV 2 di SMK Yapalis Krian Sidoarjo. Hasilnya bahwa pemberian pelatihan penetapan tujuan goal setting dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Menurut Locke (1981) asumsi dasar mengenai pententuan tujuan adalah bahwa tujuan (goal) merupakan pengatur secara langsung akan perilaku atau tindakan seseorang. Siswa yang menetapkan tujuan pembelajarannya membantu siswa mencapai prestasi atau performasi yang lebih baik dalam bidang akademiknya yaitu mendapatkan peningkatan prestasi akademiknya secara maksimal. Siswa akan mengembangkan strategi yang relevan untuk mencapai tujuan, memobilisasi pengarahan usaha, memperpanjang lamanya pengarahan usaha dan memotivasi individu [11] Fungsi goal setting ini bisa dikenalkan pada siswa antara lain dengan memberikan psikoedukasi. Dalam tulisan Permata, dkk (2020), psikoedukasi adalah kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan pemahaman dan atau keterampilan sebagai usaha pencegahan dari munculnya gangguan psikologis di suatu kelompok. Pemberian psikoedukasi meningkatkan pemahaman terkait goal setting [17]
Hasil pemberian psikoedukasi menunjukkan tidak semua siswa mengalami peningkatan pemahaman goal setting. Dari 59 siswa yang mengikuti psikoedukasi, sebanyak 39 siswa meningkat motivasi belajarnya, 16 siswa motivasi belajarnya tetap dan 4 siswa motivasi belajarnya justru menurun. Meskipun sudah mendapat psikoedukasi tentang goal setting tidak menjamin peningkatan motivasi belajar yang konsisten, ada kemungkinan motivasi siswa akan menurun jika mereka tidak menerapkan materi yang telah diberikan selama psikoedukasi tersebut. Dengan demikian, psikoedukasi ini akan memiliki dampak yang lebih besar jika siswa juga menerima pelatihan yang lebih intensif. Psikoedukasi adalah salah satu jenis intervensi dalam psikologi yang dapat digunakan secara mandiri atau dikombinasikan dengan berbagai jenis intervensi lainnya untuk memberikan pemahaman yang lebih baik tentang apa yang dapat dilakukan untuk menghadapi tantangan kehidupan. Fokus dari psikoedukasi antara lain adalah untuk mendidik individu tentang tantangan dalam kehidupan, membantu mereka mengembangkan sumber-sumber dukungan untuk menghadapi tantangan kehidupan, mengembangkan keterkaitan dengan orang lain, dan membantu mereka mengembangkan dukungan eksternal [18]Namun, jika siswa dapat menunjukkan perubahan positif setelah mendapat psikoedukasi dan jika siswa dapat melaksanakan goal setting tersebut secara lebih intensif berpotensi memberikan dampak yang lebih signifikan terhadap motivasi belajar mereka. Oleh karena itu, peran guru sangat penting dalam meningkatkan motivasi belajar siswa, dengan cara membantu mereka menetapkan goal setting yang lebih spesifik dan jelas.[19]
Selain itu, perbedaan motivasi belajar sebagai hasil psikoedukasi goal setting bisa juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lainnya yang berpengaruh terhadap motivasi belajar, misalnya : persepsi siswa mengenai kecerdasaannya, dan kemampuan (efikasi diri). Adapun faktor internal dan faktor eksternal Faktor internal anatara lain tujuan belajar, cita-cita atau aspirasi siswa, kemampuan siswa, kondisi siswa, persepsi siswa mengenai kecerdasaannya, keyakinan akan kemampuannya. Faktor eksternal antara lain kondisi lingkungan siswa, unsur-unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran, upaya guru membelajarkan siswa, persaingan, tingkat kesulitan tugas dan pola asuh [12].
Faktor lingkungan belajar juga dapat berpengaruh terhadap motivasi belajar siswa. Lingkungan keluarga memiliki peran paling penting dalam menumbuhkan semangat belajar pada anak, karena sebelum mengenal lembaga pendidikan yang lain lingkungan keluarga yang menjadi tempat pertama mereka memperoleh pendidikan dan membentuk kepribadian. Shinta mengatakan dibandingkan lingkungan sekolah, lingkungan keluarga lebih berperan bagi perkembangan kepribadian anak. Lingkungan keluarga yang memiliki cara mendidik anak yang disiplin dapat membuatnya memiliki motivasi dalam belajar. Lingkungan keluarga harus dapat menciptakan suasana atau kondisi belajar yang menyenangkan bagi anak-anaknya, sehingga mereka merasa nyaman dan senang ketika belajar di dalam rumah maupun di sekolah.[20]
Temuan dari penelitian ini menyatakan bahwa terdapat perbedaan dalam tingkat motivasi belajar siswa sebelum dan sesudah mereka menerima materi tentang goal setting. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan goal setting mampu meningkatkan motivasi belajar siswa kelas 12 MA Roudlotul Banat.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi untuk pihak sekolah dalam mengetahui pentingnya goal setting yang dimiliki siswa-siswinya terhadap motivasi belajar siswa sehingga dapat mempertimbangkan kembali terkait pemberian materi atau pembelajaran terkait goal setting kepada seluruh siswa.
Ucapan Terima Kasih
Penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam penelitian ini. Kami sangat menghargai dukungan akademik dan fasilitas yang diberikan oleh MA Roudlotul Banatselama proses penelitian. Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada seluruh partisipan dan narasumber yang dengan sukarela membagikan pengalaman serta wawasan mereka mengenai goal setting untuk meningkatkan motivasibelajar.
Kami juga berterima kasih kepada rekan-rekan sejawat dan pembimbing yang telah memberikan saran dan masukan yang sangat konstruktif dalam penyusunan artikel ini. Semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
[1] J. M. C. Kaimarehe, “Pengaruh Faktor Motivasi Belajar terhadap Prestasi Akademik Siswa,” Jurnal Pendidikan dan Pengajaran, vol. 2, no. 6, pp. 221–227, 2024.
[2] I. P. A. Perdana and T. D. Valentina, “Faktor-Faktor yang Memengaruhi Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar: Literature Review,” Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia, vol. 7, no. 12, 2022, doi: 10.36418/syntax-literate.v7i12.10417.
[3] D. F. Yeni, S. L. Putri, and M. Setiawati, “Pengaruh Motivasi Belajar Siswa terhadap Hasil Belajar Siswa SMP N 1 X Koto Diatas,” Jurnal Pendidikan, 2022.
[4] A. Pandang and S. Latif, “Analisis Motivasi Belajar Rendah Siswa Selama Masa Pandemi dan Penanganannya (Studi Kasus di SMA Negeri 8 Makassar),” Jurnal Pendidikan, 2021.
[5] Y. R. Krismayanti and E. Susanti, “Pengaruh Media Laboratorium Virtual PhET terhadap Motivasi Belajar IPA pada Siswa SMPN 2 Jombang,” Jurnal Pendidikan IPA, 2022.
[6] A. Pandang and S. Latif, “Analysis of Student Low Learning Motivation During the Pandemic and Handling,” Jurnal Pendidikan, 2021.
[7] M. Munandar and L. Ruhaena, “Self-Efficacy, Religiosity, and Social Support with Undergraduate Students’ Self-Regulated Learning in Distance Learning,” Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi, vol. 8, no. 2, pp. 157–169, 2023, doi: 10.33367/psi.v8i2.3648.
[8] A. Leonangung, M. Saiman, and I. Nasar, “Guru dan Motivasi Belajar Siswa Sekolah Dasar,” Jurnal Pendidikan Dasar, 2022.
[9] V. A. Faristin and H. S. Ismanto, “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar Siswa SMA,” Jurnal Pendidikan, 2023.
[10] N. A. Setiawan, “Pengaruh Pelatihan Goal Setting untuk Meningkatkan Motivasi Belajar pada Mahasiswa,” American Journal of Psychology, vol. 2, no. 1, pp. 101–120, 2019, doi: 10.24042/ajp.v2i1.4150.
[11] S. Fauziyah, G. R. Affandi, and Z. N. Fahmawati, “Penerapan Goal Setting untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa: Pendekatan Eksperimen Non-Randomized Control Trial,” Jurnal Psikologi Pendidikan, 2023.
[12] A. Sanjaya, “Hubungan antara Goal Setting dengan Motivasi Belajar Siswa,” Jurnal Psikologi Pendidikan, 2019.
[13] F. Rachmaningtyas and R. Widyana, “Pelatihan Goal Setting untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa,” Masyarakat Berdaya dan Inovasi, vol. 5, no. 1, pp. 56–64, 2024, doi: 10.33292/mayadani.v5i1.164.
[14] R. Susanti, “Penerapan Pendekatan Demonstrasi Interaktif untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep Fisika Siswa SMA,” Jurnal Pendidikan Fisika, 2013.
[15] P. S. Rosmana et al., “Pengaruh Media Pembelajaran Digital Liveworksheets dan Wordwall terhadap Peningkatan Pembelajaran IPS pada Siswa SD Kelas VI UPTD SDN 02 Ciseureuh,” Jurnal Pendidikan Dasar, 2023.
[16] R. K. Ningrum, “Validitas dan Reliabilitas Motivated Strategies for Learning Questionnaire (MSLQ) pada Mahasiswa Kedokteran,” PENDIPA Journal of Science Education, vol. 5, no. 3, pp. 421–425, 2021, doi: 10.33369/pendipa.5.3.421-425.
[17] M. N. H. Nurdin et al., “Psikoedukasi Kontrol Diri sebagai Bentuk Relapse Prevention pada Warga Binaan Kasus Narkoba di Rutan Klas I Makassar,” Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2021.
[18] I. W. Ramadhani, Z. N. Fahmawati, and G. R. Affandi, “Pelatihan Goal Setting untuk Meningkatkan Motivasi Belajar pada Siswa di SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo,” Altruis: Journal of Community Services, vol. 2, no. 3, 2021, doi: 10.22219/altruis.v2i3.18044.
[19] S. Faujiah and G. R. Affandi, “Penerapan Goal Setting untuk Meningkatkan Self-Regulated Learning pada Siswa SMK: Pendekatan Eksperimen Non-Randomized Control Trial,” Jurnal An-Nur, 2022.
[20] R. Rima, “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar Siswa Kelas X SMAN 1 Piyungan pada Mata Pelajaran Ekonomi Tahun Ajaran 2015/2016,” 2016.