Login
Section Philosophy. Psychology. Religion

Psikoedukasi Peningkatan Penerimaan Orang Tua Terhadap Anak Penyandang Disabilitas Melalui Pola Asuh Positif

Psychoeducation on Enhancing Parental Acceptance of Children with Disabilities through Positive Parenting
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Elisa Dwi Anggraeni (1), Widyastuti (2)

(1) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
(2) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo [https://ror.org/017hvgd88], Indonesia

Abstract:

General Background: Parents of children with disabilities frequently encounter psychological challenges that affect acceptance and caregiving practices. Specific Background: Limited parental understanding of positive parenting principles was identified at SLB Aisyiyah Porong through a preliminary community need assessment, indicating the necessity of structured psychoeducational intervention. Knowledge Gap: Although positive parenting and parental acceptance have been widely discussed, empirical evidence based on structured psychoeducation targeting parents of children with disabilities in this specific context remains limited. Aims: This study aimed to examine changes in parental understanding following a positive parenting psychoeducation program. Results: Using a pre-experimental one-group pre-test and post-test design involving parents of children with disabilities, statistical analysis with paired sample t-test revealed a significant increase in post-test scores compared to pre-test results, indicating improved understanding after the intervention. Novelty: This study provides contextual empirical evidence of positive parenting psychoeducation implemented within a special education school setting using structured assessment and statistical evaluation. Implications: The findings support the integration of systematic psychoeducation programs in special schools to strengthen parental awareness and acceptance in raising children with disabilities, contributing to family-based developmental support practices.


Keywords: Positive Parenting, Parental Acceptance, Psychoeducation, Children with Disabilities, Pre Experimental Design


Key Findings Highlights:




  1. Structured educational sessions led to measurable score improvement between pretest and posttest.




  2. Statistical testing confirmed significant change after intervention delivery.




  3. Program implementation within special school context demonstrated contextual feasibility.



Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Anak penyandang disabilitas adalah anak yang memiliki keterbatasan fisik, keterbelakangan mental, kesulitan berbicara, kesulitan dalam belajar,dan gangguan emosional atau perilaku. Berbeda dengan anak pada umumnya, anak berkebutuhan khusus memerlukan perawatan khusus saat belajar. Akibatnya, mereka membutuhkan layanan pendidikan yang dapat memenuhi kebutuhan belajar yang sesuai dengan perkembangan mereka . Jenis-jenis gangguan dapat dikategorikan seperti gangguan belajar yang meliputi kemampuan intelektual, perilaku, serta gangguan fisik dan kombinasi keduanya. Kemudian gangguan yang berkaitan dengan belajar dan kemampuan intelektual mencakup kesulitan belajar khusus, slow learner, tuna grahita, dan CIBI (Cerdas Istimewa Berbakat Istimewa). Sementara itu, gangguan perilaku meliputi autisme, ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), anxiety (gangguan kecemasan), tunalaras, conduct disorder, dan indigo. Sedangkan, gangguan fisik mencakup kondisi seperti tunanetra, tunarungu, tunadaksa, cerebral palsy, dan tunaganda, yang menunjukkan adanya kombinasi antara gangguan fisik dan intelektual.. Adapun siswa yang bersekolah di SLB Aisyiyah Porong memiliki beberapa gangguan, seperti tunanetra, tunagrahita, down syndrome, dan autisme.

Berdasarkan data nasional dari Survei Sosial-Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2019, sekitar 9 persen atau 23,3 juta jiwa di Indonesia adalah penyandang disabilitas, yang masih menghadapi berbagai tantangan, seperti kesulitan mengakses layanan dasar seperti akte kelahiran, pendidikan, dan kesehatan, termasuk jaminan kesehatan, serta menghadapi hambatan untuk memasuki pasar kerja

Sebagai orang tua menerima dan merawat anak mereka dengan cara yang berbeda. Orang tua harus memberikan perhatian, kasih sayang, dan pendidikan yang sama kepada anak-anak normal. Mereka harus mengawasi perkembangan anak mereka sejak dini untuk mencegah penurunan pertumbuhan fisik dan psikologis di masa mendatang. Orang tua harusnya memberikan perhatian dan tentunya mereka juga harus lebih sabar menangani anak penyandang disabilitas . Penerimaan diri adalah seseorang yang merasa nyaman dengan dirinya sendiri, mereka dapat menerima dan menghargai semua aspek diri mereka, termasuk kelebihan dan kekurangan. Bentuk penerimaan diri orang tua kepada anak penyandang disabilitas adalah cara orangtua menerima anak dengan baik. Baik aspek negatif maupun positifnya. Orangtua biasanya akan memahami situasi anak sebagaimana adanya. Perilaku seperti hiperaktif, tidak fokus, impulsif, sulit berkomunikasi, dan sebagainya .

KublerRoss menyatakan terdapat lima tahapan penerimaan diri orang tua pada anak berkebutuhan khusus, yaitu Tahap penolakan (Denial), tahap marah (Anger), tahap tawar-menawar (Bergaining), tahap depresi (Depression), dan tahap penerimaan (Acceptent). Kemudian adapun faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan diri yaitu faktor dalam diri (internal), seperti pemahaman seseorang tentang dirinya sendiri regulasi emosi, dapat menyesuaikan diri dalam berbagai situasi dan berpengetahuan luas. Selain itu terdapat factor eksternal seperti lingkungan sosial, dan cara orang tua membesarkan anak. Terdapat sepuluh faktor yang memengaruhi proses penerimaan yaitu sebagai berikut: harapan yang realistik; tidak adanya hambatan dalam lingkungan; sikap masyarakat yang positif; tidak adanya gangguan emosional yang berat; pengaruh keberhasilan; mengidentifikasi diri dengan orang yang memiliki penyesuaian diri yang baik; perspektif diri; konsep diri yang stabil; dan pola asuh. Mereka yang telah mencapai tahap penerimaan menunjukkan bahwa mereka percaya pada kemampuan mereka untuk menghadapi kehidupan, melihat diri mereka setara dengan orang lain, memiliki keberanian untuk bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri, menerima kritik dan pujian secara objektif, dan dapat berhubungan dengan orang lain tanpa merasa bermusuhan ketika mereka dikritik

Kurangnya penerimaan orang tua terhadap anak penyandang disabilitas dapat mengakibatkan penanganan yang tidak sesuai dengan kebutuhan anak, sehingga dapat menghambat perkembangan optimal anak, membuat anak merasa diabaikan dan dianggap. Yang pada akhirnya akan mengganggu keharmonisan keluarga dan menghalangi tercapainya kesejahteraan psikologis bagi orang tua dan anak.

Berdasarkan hasil Community Need Asessment (CNA) dengan menggunakan metode survei dan wawancara, ditemukan bahwa kurangnya rasa penerimaan diri orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus menjadi salah satu permasalahan. Para orang tua cenderung memandang gangguan yang dialami oleh anak-anak mereka sebagai suatu penyakit yang dapat disembuhkan, sebuah pandangan yang sebenarnya sangat berbeda dengan pemahaman para guru yang telah memiliki pengalaman dan pemahaman lebih mendalam mengenai kondisi serta kebutuhan khusus anak-anak tersebut, di mana para guru cenderung melihat gangguan tersebut bukan sebagai sesuatu yang semata-mata perlu disembuhkan, tetapi lebih kepada kondisi yang memerlukan penanganan khusus dan pendekatan yang sesuai. Meskipun demikian, sebagian besar orang tua di sekolah tersebut tetap memiliki harapan agar anak-anak mereka mampu beraktivitas seperti anak-anak pada umumnya, misalnya mampu membaca buku, melaksanakan shalat lima waktu, dan mengaji, yang menunjukkan adanya harapan besar dari pihak orang tua agar anak-anak mereka bisa mengikuti standar kemampuan anak-anak lain.

Berdasarkan penelitian yang berjudul “Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Penerimaan Diri Orang Tua Yang Memiliki Abk Di Slb Cahaya Pertiwi Kota Bekasi”. Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya keterkaitan yang Nilai Korelasi positif yang artinya ada hubungan yang positif yaitu jika dukungan keluarga meningkat maka penerimaan diri orang tua akan meningkat . Pada penelitian yang berjudul “Penerimaan Diri Orang Tua dengan Anak Disleksia : Konsep Diri dan Dukungan Keluarga” menunjukkan ada hubungan antara konsep diri dan dukungan keluarga terhadap penerimaan diri orang tua dengan anak disleksia .

Keterlibatan orang tua dalam pengasuhan memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung perkembangan anak berkebutuhan khusus, baik dari segi emosional, sosial, maupun intelektual. Bentuk keterlibatan ini dapat diwujudkan dalam berbagai cara, seperti meluangkan waktu khusus untuk beraktivitas bersama anak, memberikan dukungan finansial yang diperlukan untuk pendidikan dan terapi, serta berpartisipasi secara aktif dalam proses pengasuhan dan bermain guna menciptakan ikatan emosional yang kuat. Selain itu, keterlibatan orang tua juga mencakup aspek yang lebih mendalam, seperti pemikiran yang matang mengenai masa depan anak, perencanaan yang baik terkait kebutuhan dan pendidikan mereka, perasaan kasih sayang yang mendukung perkembangan emosional, serta pengawasan terhadap perkembangan fisik dan mental anak.

Orang tua memiliki peran penting dalam merawat anak berkebutuhan khusus dengan baik. Mereka perlu memberikan pengasuhan penuh waktu karena anak dengan kebutuhan khusus menghadapi tantangan dalam perkembangan sosial dan perilaku yang diperlukan untuk berinteraksi di lingkungan sekitarnya. Pola asuh yang tidak tepat, seperti terlalu memanjakan anak, dapat menyebabkan ketergantungan yang berlebihan pada orang tua, sehingga mereka kesulitan untuk hidup mandiri tanpa bantuan orang lain. Terdapat tiga macam pola asuh orang tua kepada anak. Pertama pola asuh demokratis, di mana orang tua berinteraksi baik dengan anaknya agar mereka merasa nyaman dan bahagia dalam keluarga. Kedua, pola asuh otoriter, orang tua sering menetapkan aturan yang harus dipatuhi oleh anak. Dan terakhir pola asuh permisif, yaitu orang tua membiarkan anaknya bebas tanpa pengawasan orang tua

Pola asuh positif adalah gaya pengasuhan yang berfokus pada hubungan yang positif antara orang tua dan anak dengan memberikan dukungan emosional, dan penerapan disiplin yang tidak mengandalkan hukuman fisik. Pola asuh ini mencakup beberapa prinsip penting, salah satunya adalah membangun anak yang mandiri, percaya diri, dan memiliki keterampilan sosial yang baik. Selain itu Pola asuh yang positif juga dapat mencegah perilaku negatif seperti agresi dan pemberontakan pada anak. Adapun tujuan pola asuh positif meliputi pengembangan kepercayaan diri, kemandirian, ketrampilan social dan pengelolaan emosi

Pola asuh positif mencakup enam aspek, yaitu nurturing, structuring, stimulation, recognition, empowerment, dan bebas dari kekerasan. Nurturing merujuk pada cara orang tua menunjukkan penerimaan dan kasih sayang kepada anak. Structuring bertujuan membentuk kebiasaan serta rutinitas yang baik dalam kehidupan anak. Stimulation berfokus pada upaya mendorong perkembangan anak, baik melalui pendidikan formal maupun informal. Recognition berarti orang tua menghargai minat serta pendapat anak dalam pengambilan keputusan keluarga. Empowerment dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk lebih mandiri dengan mengurangi bantuan yang tidak diperlukan. Terakhir, bebas dari kekerasan menekankan pentingnya pengasuhan tanpa kekerasan, baik secara fisik maupun verbal. . Membuat anak berperilaku sesuai dengan norma dan nilai masyarakat adalah tujuan dari pola asuh positif. Pola asuh orang tua memiliki dampak yang besar pada perkembangan anak, terutama dalam membangun kepercayaan diri, sehingga penting bagi orang tua untuk menerapkan pola asuh terbaik mereka. Namun, banyak orang tua di masyarakat yang cenderung mempertahankan pola asuh yang kaku dan tidak responsif terhadap perubahan, sehingga sulit bagi anak-anak untuk membangun kepercayaan diri mereka .

Penelitian yang berjudul tentang Psikoedukasi pengasuhan untuk meningkatkan pengetahuan orang tua penyandang disabilitas. Hasil penelitian tersebut menunjukkan Peningkatan keterampilan orang tua penyandang disabilitas terlihat signifikan, di mana nilai dari yang sebelumnya 2,175 termasuk dalam kategori kurang mampu menjadi 3,363 yang termasuk dalam kategori cukup mampu dengan hasil uji beda p value <0,05 yang berarti terdapat peningkatan yang signifikan pada keterampilan setelah diberikan psikoedukasi tentang pengasuhan positif . Penelitian lain dengan judul "Peningkatan Keterampilan Pengasuhan Positif Orangtua Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Melalui Pelatihan Helping Parents with Challenging Children" juga menunjukkan hasil serupa, dengan nilai signifikansi 0,015 (p < 0,05), yang artinya ada peningkatan keterampilan peserta setelah mengikuti pelatihan

Pola asuh orangtua terhadap anak yang sangat dibutuhkan membutuhkan banyak waktu dan tenaga untuk membantu anak berkembang secara mandiri dan siap menghadapi masa depan. Salah satu pola asuh yang dibutuhkan adalah orangtua yang ikhlas menerima kondisi anaknya . Pola asuh positif sangatlah penting dalam membuat lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak dengan baik dan juga dapat membantu membangun hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak, khususnya anak berkebutuhan khusus. Dengan pola asuh yang baik dan tepat, orang tua dapat mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal serta menjadi kontribusi besar untuk membantu anak, termasuk anak berkebutuhan khusus dalam mengembangkan kemampuan bersosialisasi, emosional, serta kecerdasan intelektual. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran orang tua mengenai cara yang tepat, efektif, dalam memberikan pola asuh yang positif terhadap anak penyandang disabilitas, sehingga dapat menciptakan lingkungan keluarga yang inklusif, harmonis, dan mendukung potensi anak secara optimal

Metode Penelitian

Rancangan Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain pra-eksperimen, di mana satu kelompok diberikan tes awal (pre-test) dan tes akhir (post-test).

Subjek penelitian

Penelitian ini melibatkan 13 orang tua di SLB Aisyiyah Porong. Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah Non Probability Sampling dengan teknik sampel jenuh. Para responden yang berpartisipasi dalam penelitian ini memiliki tingkat pendidikan terakhir yang beragam. Responden yang berpatisipasi dalam penelitian ini memiliki latar belakang pendidikan terakhir yang berbeda. Secara rinci, terdapat 3 orang responden yang berpendidikan terakhir Sekolah Dasar (SD), kemudian 6 orang responden dengan tingkat pendidikan terakhir Sekolah Menengah Atas (SMA), selanjutnya 2 orang responden memiliki pendidikan hingga jenjang (S1), serta 1 orang responden yang memiliki latar belakang pendidikan terakhir di tingkat Diploma 3 (D3). Selain itu, usia para responden juga bervariasi. Dari seluruh peserta penelitian, 4 orang berusia antara 40–45 tahun, 2 orang berada dalam rentang usia 50–59 tahun, 3 orang lainnya berusia 60–69 tahun, sementara 4 responden termasuk dalam kelompok usia 25–35 tahun.

Instrumen penelitian

Instrumen penelitian ini menggunakan alat ukur berupa soal pilihan ganda yang disusun berdasarkan referensi dari modul psikoedukasi pola asuh positif. Materi psikodedukasi yang disampaikan oleh narasumber mengupas secara mendalam konsep pola asuh positif, dengan menekankan pentingnya menerapkan prinsip-prinsip asuh yang mendukung perkembangan emosional, kognitif, dan sosial anak, tujuan dan dampak dari pola asuh positif.

Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang pola asuh positif, diharapkan orang tua dapat menerapkan metode ini untuk membantu anak-anak mereka berkembang secara optimal.

Metode Pelaksanaan

Kegiatan psikoedukasi yang diselenggarakan di Sekolah Luar Biasa (SLB) Aisyiyah Porong ini dilaksanakan dengan menggunakan metode ceramah, dengan topik penting mengenai pola asuh (parenting), serta dihadiri oleh sebanyak 13 orang wali murid dari SLB Aisyiyah Porong, dengan tujuan memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan strategis tentang cara mendukung perkembangan anak secara optimal melalui pola asuh positif. Tahapan psikoedukasi sebagai berikut :

  1. Tahap perencanaan meliputi: permohonan izin kegiatan psikoedukasi dengan Sekolah Luar Biasa (SLB) Aisyiyah Porong. Survei awal dilakukan pada tanggal 15 Oktober 2024 membahas Community Need Assesment (CNA), persiapan ketersediaan waktu, ruang, dan tempat pelaksanaan, serta peserta yang akan menjadi subjek pelaksanaan.
  2. Kegiatan pelaksanaan meliputi: pembukaan dan sambutan, pembagian dan pengerjaan soal pre-test kepada peserta psikoedukasi, penyampaian materi dan kegiatan psikoedukasi dan sesi tanya jawab.
  3. Penutupan meliputi: pengerjaan soal post-test, pemberian sertifikat kepada pemateri

Analisa data

Soal yang disusun dalam penelitian ini terdiri dari tiga belas pertanyaan, yang bersifat menguji pengetahuan responden. Masing masing soal memiliki empat pilihan jawaban yang tersedia. Setelah seluruh data dikumpulkan melalui pengisian soal tersebut, langkah selanjutnya adalah melakukan perhitungan serta analisis terhadap data yang diperoleh. Proses analisis ini dilakukan dengan menggunakan bantuan aplikasi program Statistical Package for the Social Sciences(SPSS) versi 25.00.

Hasil dan Pembahasan

Hasil

Figure 1.

Dalam penelitian ini, tingkat pendidikan responden bervariasi, dengan mayoritas memiliki latar belakang pendidikan SMA, yaitu sebesar 46% dari total responden. Selanjutnya, 23% responden berpendidikan terakhir Sekolah Dasar (SD), sementara 15% responden telah menyelesaikan pendidikan hingga jenjang (S1). Adapun responden dengan latar belakang Diploma 3 (D3) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masing-masing berjumlah 8%.Penelitian ini menggunakan uji normalitas Shapiro-Wilk, di mana data dikategorikan berdistribusi normal jika nilai signifikansi (p) lebih besar dari 0,05. Hasil analisis data pre-test dan post-test menunjukkan nilai signifikansi masing-masing 0,089 dan 0,136 (p > 0,05). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa data dalam penelitian ini berdistribusi secara normal.

Jawaban soal pilihan ganda akan dihitung rata ratanya untuk melihat tingkat pemahaman tentang pola asuh positif. Dari diagram di bawah, menunjukkan ada peningkatan pemahaman setelah psikoedukasi diberikan.

Figure 2.

Hasil analisis data menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pemahaman mengenai polas asuh positif setelah diberikan psikoedukasi. Sebelum intervensi, skor yang diperoleh peserta adalah 63,9, yang mencerminkan tingkat pemahaman awal mereka terkait konsep pola asuh positif. Setelah diberikan psikoedukasi, terjadi peningkatan skor menjadi 75,2, yang menunjukkan adanya peningkatan pemahaman sebesar 11,2 Peningkatan ini mengindikasikan bahwa program psikoedukasi yang diberikan berhasil dalam meningkatkan pengetahuan dan kesadaran peserta tentang pentingnya pola asuh yang lebih positif dalam mendukung perkembangan anak penyandang disabilitas

Berdasarkan hasil analisis data yang diperoleh melalui tabel Uji paired sample T- test, ditemukan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,014, yang lebih kecil dari batas signifikansi 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam peningkatan pengetahuan wali murid sebelum dan setelah diberikan intervensi berupa psikoedukasi mengenai pola asuh positif. Dengan kata lain, hasil ini mengindikasikan bahwa program psikoedukasi yang diberikan efektif dalam meningkatkan pemahaman wali murid terkait konsep dan praktik pengasuhan yang lebih baik

Pembahasan

Berdasarkan hasil yang diperoleh dari kegiatan ini, bahwa program psikoedukasi yang dilaksanakan terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan orang tua mengenai pola asuh positif. Penelitian lain yang berjudul "Psikoedukasi Untuk Meningkatkan Pemahaman Ibu Dalam Pengasuhan Positif". Dalam penelitian tersebut, pemahaman ibu terhadap pengasuhan positif memiliki skor sebesar 63,9. Setelah mengikuti kegiatan psikoedukasi, skor pemahaman meningkat menjadi 75,2. Peningkatan ini menunjukkan bahwa psikoedukasi memiliki dampak yang positif dalam membantu ibu memahami konsep pengasuhan yang lebih baik, yang pada akhirnya dapat berkontribusi pada kualitas interaksi antara ibu dan anak serta menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Sejalan dengan penelitian terdahulu, pada kegiatan psikoedukasi tentang pola asuh positif yang dilaksanakan di SLB Aisyiyah Porong juga berhasil memberikan dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan wali murid mengenai pengasuhan yang lebih baik. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa nilai p < 0,05, yang mengindikasikan bahwa ada peningkatan pemahaman ini terjadi secara signifikan setelah wali murid mengikuti kegiatan psikoedukasi. Dengan adanya peningkatan ini, diharapkan wali murid dapat menerapkan ilmu yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari guna menciptakan lingkungan pengasuhan yang lebih mendukung, empatik, dan sesuai dengan kebutuhan anak-anak mereka.

Anak-anak penyandang disabilitas membutuhkan perawatan yang berbeda dari anak biasa, sehingga orang tua harus bertanggung jawab untuk memberikan pengasuhan yang tepat bagi anak mereka. Karena menerima kondisi anak berkebutuhan khusus adalah langkah pertama menuju pengasuhan yang tepat . Psikoedukasi mengenai pola asuh positif dirancang dengan tujuan utama untuk memberikan dampak yang baik bagi anak penyandang disabilitas dengan meningkatkan pemahaman orang tua dalam menerapkan strategi pengasuhan yang lebih efektif, suportif, dan sesuai dengan kebutuhan anak. Melalui program ini, diharapkan orang tua dapat memperoleh wawasan yang lebih luas tentang cara membangun lingkungan yang aman, penuh kasih sayang, dan mendukung perkembangan emosional, sosial, serta kemandirian anak.. Dengan adanya peningkatan pemahaman ini, diharapkan hubungan antara orang tua dan anak menjadi lebih harmonis, serta kualitas hidup anak berkebutuhan khusus dapat semakin baik melalui pola asuh yang lebih positif dan tepat.

Orang tua yang menerapkan pola asuh positif selalu berusaha membuat lingkungan yang ramah dan menyenangkan untuk anak mereka sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Pola asuh positif juga melibatkan kasih sayang dan perasaan menghargai satu sama lain, dan membangun hubungan yang hangat antara orang tua dan anak. Pola asuh ini akan saling membangun dengan mengutamakan penghargaan, pemenuhan, dan perlindungan hak anak sambil mengutamakan kepentingan terbaik anak . Kegiatan psikoedukasi tentang pola asuh positif bagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (ABK) diharapkan dapat memberi orang tua pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya pola asuh yang mendukung pertumbuhan emosional, sosial, dan kognitif anak mereka.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil kegiatan psikoedukasi yang telah dilaksanakan, dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan pemahaman wali murid mengenai pola asuh positif setelah mereka mengikuti sesi psikoedukasi, yang ditunjukkan dengan peningkatan rata-rata skor pengetahuan sebesar 11,2. Peningkatan ini menunjukkan bahwa intervensi yang diberikan dalam bentuk psikoedukasi berhasil memberikan dampak positif terhadap pemahaman wali murid terkait konsep dan penerapan pola asuh yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari. Keefektifan program psikoedukasi ini juga didukung oleh hasil analisis data menggunakan uji paired sample T-test, yang menunjukkan adanya perbedaan signifikan dalam pemahaman wali murid sebelum dan setelah intervensi, dengan nilai signifikansi sebesar 0,014, yang lebih kecil dari batas signifikansi 0,05. Dengan demikian, program psikoedukasi mengenai pola asuh positif dapat meningkatkan pemahaman wali murid dalam mendukung perkembangan anak-anak mereka melalui pola asuh positif.

Adapun keterbatasan penelitian ini terletak pada pelaksanaannya yang hanya dilakukan di Sekolah Luar Biasa (SLB), sehingga hasil yang diperoleh mungkin belum mencerminkan kondisi secara lebih luas. Oleh karena itu, penelitian serupa dapat dilakukan di berbagai lokasi lainnya, seperti sekolah inklusi, pusat rehabilitasi, atau komunitas khusus, agar dapat menjangkau peserta dengan latar belakang yang lebih beragam.

Ucapan Terimakasih

Peneliti mengucapkan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunia dan berkat-Nya yang telah memberikan segala berkah, rahmat, dan karunia-Nya yang telah memberi peneliti ilmu pengetahuan, pengalaman, dan kesempatan untuk menyelesaikan penelitian ini. Perkenankan peneliti menyampaikan rasa terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada yang terhormat :

Institusi Penelitian

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan SLB Aisyiyah Porong atas fasilitas, dukungan, dan kesempatan yang diberikan selama pelaksanaan penelitian ini. Tanpa bantuan dan kerjasama dari kedua institusi tersebut, penelitian ini tidak akan berjalan dengan lancar.

Responden dan Partisipan Penelitian

Terimah kasih kepada seluruh wali murid SLB Aisyiyah Porong yang telah bersedia meluangkan waktu, memberikan informasi, dan berkontribusi secara langsung dalam penelitian ini.

Sebagai akhir dari penelitian ini, penulis menyadari bahwa masih terdapat berbagai keterbatasan. Oleh karena itu penulis mengharap kritik dan saran dari pembaca demi kemajuan penelitian ini. Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih dan berharap penelitian ini bermanfaat bagi semua yang membutuhkannya.

References

[1] E. Tarigan, “Gambaran Penerimaan Diri Orang Tua yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus,” Jurnal Humaniora, vol. 6, no. 2, pp. 127–136, 2022.

[2] Gea et al., “Pengasuhan Positif Orang Tua: Perlindungan Hak Anak Disabilitas,” SHARE: Social Work Journal, vol. 13, no. 1, 2023, doi: 10.45814/share.v13i1.46432.

[3] Aulia and Prisuna, “Pelaksanaan Assessment pada Anak Berkebutuhan Khusus Autisme di Poli Anak Berkebutuhan Khusus Alianyang Pontianak,” AlBanna: Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini, vol. 3, no. 2, pp. 59–69, Dec. 2023, doi: 10.24260/albanna.v3i2.2642.

[4] D. R. Desiningrum, Psikologi Anak Berkebutuhan Khusus. Yogyakarta: Psikosain, 2017.

[5] A. Listiani, “Kesadaran Orang Tua terhadap Anak Berkebutuhan Khusus Usia Dini di Desa Uludanau Kecamatan Sindang Danau,” Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 2023.

[6] Asnarita, “Pengaruh Dukungan Sosial terhadap Penerimaan Diri Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus di SLB Negeri,” Jurnal Psikologi Pendidikan, 2024.

[7] Adianti and Savira, “Penerimaan Diri Orang Tua yang Memiliki Anak Tunanetra,” Character: Jurnal Penelitian Psikologi, vol. 11, no. 1, pp. 197–211, 2024, doi: 10.26740/cjpp.v11i1.61071.

[8] Putri and Lutfianawati, “Psikoedukasi Pentingnya Penerimaan Orang Tua dalam Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus,” Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2021.

[9] Winarsih et al., “Hubungan Dukungan Keluarga dengan Penerimaan Diri Orang Tua yang Memiliki ABK di SLB Cahaya Pertiwi Kota Bekasi,” Jurnal Keperawatan, 2020.

[10] Puput and Raharjo, “Penerimaan Diri Orang Tua dengan Anak Disleksia: Konsep Diri dan Dukungan Keluarga,” EDUKATIF: Jurnal Ilmu Pendidikan, vol. 6, no. 4, pp. 2896–2905, Jun. 2024, doi: 10.31004/edukatif.v6i4.6998.

[11] Syaputri and Afriza, “Peran Orang Tua dalam Tumbuh Kembang Anak Berkebutuhan Khusus Autisme,” Educativo: Jurnal Pendidikan, vol. 1, no. 2, pp. 559–564, Nov. 2022, doi: 10.56248/educativo.v1i2.78.

[12] Haryanto et al., “Pola Asuh Orang Tua pada Anak Berkebutuhan Khusus di SLB Negeri Cinta Asih Soreang Kabupaten Bandung,” Jurnal Pendidikan Khusus, 2020.

[13] Hopeman et al., “Peran Pola Asuh Orang Tua terhadap Sikap Sosial Anak Berkebutuhan Khusus di SLB Negeri Handayani,” Jurnal Pendidikan Dasar, vol. 11, no. 1, pp. 1–11, Jun. 2023, doi: 10.46368/jpd.v11i1.833.

[14] Bangun et al., “Pendampingan Pola Asuh Positif dalam Usaha Mengembangkan Potensi Anak Secara Optimal,” Jurnal Pengabdian Sosial, 2024.

[15] Mauna et al., “Komunitas Positive Parenting Popstar,” Jurnal Pengembangan Masyarakat, 2021.

[16] S. Ambarwati et al., “Pola Asuh Orang Tua terhadap Kepercayaan Diri Remaja Penyandang Tunawicara di Kecamatan Warungpring Kabupaten Pemalang,” Jurnal Psikologi Terapan, vol. 4, no. 2, 2024.

[17] S. A. Nawangsari, “Psikoedukasi Pengasuhan untuk Meningkatkan Pengetahuan Orang Tua Penyandang Disabilitas,” Procedia Psikologi, vol. 10, no. 3, pp. 88–92, 2022.

[18] Rasyid et al., “Peningkatan Keterampilan Pengasuhan Positif Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus melalui Pelatihan Helping Parents with Challenging Children,” Jurnal Intervensi Psikologi, 2019.

[19] F. Rezi, “Pengaruh Pola Asuh Orang Tua,” Jurnal Psikologi Perkembangan, 2020.

[20] Cahyani and Putrianti, “Psikoedukasi untuk Meningkatkan Pemahaman Ibu dalam Pengasuhan Positif,” Jurnal Psikologi, vol. 3, no. 1, 2021.

[21] Putri and Lutfianawati, “Psikoedukasi Pentingnya Penerimaan Orang Tua dalam Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus,” Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2021.

[22] Djuhaepa et al., “Psikoedukasi Pola Pengasuhan pada Perkembangan Anak,” AMMA: Jurnal Pengabdian Masyarakat, vol. 1, no. 10, 2022.