Login
Section Communication

Student Perspectives on Dialogic Learning Communication at DIC Business School

Perspektif Mahasiswa tentang Komunikasi Pembelajaran Dialogis di DIC Business School
Vol. 10 No. 2 (2025): December:

Dewi Khotimah (1), Ainur Rochmania (2)

(1) Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo,, Indonesia
(2) Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia
Fulltext View | Download

Abstract:

General Background: Contemporary education increasingly emphasizes learner-centered communication that supports critical thinking, creativity, and active participation in response to dynamic social and professional demands. Specific Background: Dialogic, democratic, and praxis-oriented learning communication, as articulated in critical pedagogical traditions, seeks to connect theoretical knowledge with real-life and vocational contexts. Knowledge Gap: While dialogic learning communication is widely discussed conceptually, there is limited qualitative evidence describing how students perceive and experience such practices within vocational higher education institutions. Aims: This study aimed to describe student opinions on learning communication implemented at DIC Business School Sidoarjo. Results: Employing a qualitative descriptive approach through in-depth interviews with students and key informants, the findings show that learning communication at DIC Business School is dialogic and critical, encouraging open discussion, freedom of expression, collaborative interaction, and the application of theory in daily life and the world of work. Novelty: The study offers a focused qualitative portrayal of student perspectives on dialogic and praxis-based learning communication within a vocational business school environment. Implications: These findings underscore the relevance of dialogic and praxis-oriented communication in fostering active engagement, reflective thinking, and collaborative learning, providing practical insights for the development of communicative learning practices in contemporary vocational education.


Highlights:



  • Learners Reported Active Classroom Discussions and Freedom to Express Viewpoints.

  • Instruction Linked Theoretical Content With Everyday and Workplace Practice.

  • Collaborative Interaction Supported Reflective and Participatory Learning Experiences.


Keywords: Student Opinion, Learning Communication, Dialogic Learning, Critical Pedagogy, Vocational Education

Downloads

Download data is not yet available.

Pendahuluan

Paradigma pendidikan kontemporer menekankan pentingnya metodologi yang adaptif, selaras dengan dinamika masyarakat yang terus berkembang, seperti yang diungkapkan oleh berbagai sarjana. Pendekatan ini mendorong penerapan kerangka kerja yang berpusat pada pelajar, yang mengintegrasikan promosi kreativitas, kolaborasi sistemik, dan penggunaan teknologi secara strategis untuk meningkatkan relevansi pendidikan dan kemampuan beradaptasi siswa. Filosofi John Dewey menekankan bahwa pendidikan harus berpusat pada pelajar,menghubungkan konten kurikuler dengan konteks dunia nyata, sehingga dapat mempersiapkan siswa untuk tantangan kehidupan (Khan et al., 2024)[1]. Pergeseran ini mengharuskan beralih dari pedagogi tradisional menuju pengalaman belajar yang lebih dipersonalisasi dan kontekstual yang mencerminkan beragam kebutuhan siswa (Denga, 2024)[2].

Ken Robinson, dalam pandangannya, menyoroti pentingnya menumbuhkan kreativitas sebagai bagian integral dalam pendidikan untuk merespons tantangan kontemporer dan mempersiapkan siswa menghadapi dunia yang semakin kompleks (Nadaf et al., 2024)[3]. Sementara itu, Michael Fullan menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara pendidik dan pemangku kepentingan untuk menciptakan pengalaman pendidikan yang transformatif dan responsif terhadap perubahan masyarakat (Lamanauskas, 2024)[4]. Selain itu, Sugata Mitra menganjurkan integrasi teknologi untuk mempromosikan pembelajaran otonom, yang memungkinkan pendidikan menjadi lebih fleksibel dan relevan dengan kebutuhan zaman (Chyhrina et al., 2024)[5]. Penggunaan alat digital juga dianggap krusial untuk mengembangkan pemikiran kritis dan literasi digital, yang mempersiapkan siswa menghadapi kompleksitas abad ke-21 (Nadaf et al., 2024)[3]. Semua ini terangkum dalam komunikasi yang efektif dalam pembelajaran dibawah ini.

Komunikasi yang efektif dalam pembelajaran, seperti yang diartikulasikan oleh para sarjana seperti John Dewey, Paulo Freire, Ken Robinson, dan Michael Fullan, menekankan perlunya melibatkan siswa dalam konteks dunia nyata yang bermakna sambil menumbuhkan pemikiran kritis dan kreativitas. Pendekatan multifaset ini menyoroti pentingnya mengadaptasi praktik pendidikan untuk memenuhi tuntutan masyarakat yang berkembang. Komunikasi pembelajaran bisa efektif jika pembelajaran berpusat pada siswa memprioritaskan pengalaman dan kebutuhan peserta didik, mempromosikan keterlibatan aktif dan motivasi intrinsik(Cui, 2024)[6](Wang, 2023)[7]. Dengan teknik seperti proyek kolaboratif dan metode interaktif meningkatkan kompetensi komunikatif, memungkinkan siswa untuk mempraktikkan keterampilan dalam konteks otentik(Shamsiddin, 2024)[8]. Konsep Freire tentang pedagogi dialogis mendorong kesadaran kritis, memungkinkan siswa untuk menantang norma-norma sosial dan mengembangkan solusi inovatif(Nayak, 2023)[9](Espejo, 2023)[10]. Pendekatan ini menumbuhkan hubungan timbal balik antara guru dan siswa, mengubah pengalaman pendidikan menjadi dialog kolaboratif. Robinson menekankan perlunya lingkungan kreatif yang memelihara pemikiran inovatif, penting untuk menavigasi tantangan kontemporer(Wang, 2023)[7]. Fullan menganjurkan strategi pembelajaran adaptif yang menanggapi perubahan sosial dan teknologi, memastikan relevansi dalam pendidikan(Wang, 2023)[7]. Sebaliknya, sementara para sarjana ini menganjurkan keterlibatan aktif dan kemampuan beradaptasi, beberapa model pendidikan tradisional masih menekankan pembelajaran rote dan pengujian standar, yang dapat menghambat pengembangan pemikiran kritis dan kreativitas pada siswa.

Untuk mengetahui seberapa penerapan komunikasi efektif dalam pembelajaran untuk menumbuhkan pemikiran kritis dan kreativitas di lingkungan pendidikan, kami melakukan penelitian pada kampus DIC Business School Sidoarjo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui komunikasi pembelajaran yang digunakan di DIC Business School Sidoarjo.

Metode

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif bertujuan untuk mendeskripsikan opini siswa terhadap komunikasi pembelajaran di DIC Business School Sidoarjo. Subyek dalam penelitian ini adalah siswa Dic Business School Sidoarjo jurusan Business Manajemen dan Accounting yang mengalami secara langsung bagaimana proses komunikasi pembelajaran di DIC Business School Sidoarjo. Key informan dalam penelitian ini adalah staff administrasi pendidikan dan pengelola yang lebih mengerti serta mengetahui seluk beluk dari DIC Business School Sidoarjo. Teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yaitu data yang diperoleh dari hasil wawancara indepth interview yang meliputi proses pengumpulan data, reduksi data, penyajian dan penarikan data atau verifikasi. Pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk menangkap wawasan bernuansa yang mencerminkan realitas peserta("Qualitative Description as anIntroductory Method to Qualitative Research for Master’s-Level Students and Research Trainees", 2024)[11].

Hasil dan Pembahasan

A. Komunikasi Pembelajaran DIC Business School Sidoarjo

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti tentang opini siswa terhadap komunikasi pembelajaran di DIC Business School Sidoarjo, ditemukan hasil bahwa DIC Business School Sidoarjo merupakan kampus vokasi yang didirikan tahun 2010 yang dalam mengkomunikasikan pembelajarannya menerapkan pembelajaran dialogis yang kritis serta praxis dan demokrasi. Dimana pembelajaran dikelas maupun luar kelas dengan system dialogis dan kritis dimana seluruh siswa diajak berdiskusi dan berpendapat serta mereka bisa mengkritisi jika dirasa tidak sesuai dengan pemikiran dan realita yang mereka ketahui. Serta praxis dan demokrasi dimana teori yang mereka terima akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, lingkungan dan dunia kerja.

B. Komunikasi pembelajaran dialogis yang kritis, praxis dan demokrasi

DIC Business School Sidoarjo dalam komunikasi pembelajarannya dialogis yang kritis, praxis dan demokrasi. Hal ini membuat siswa mudah menerima materi dengan baik dan aktif dalam pembelajaran.

Pembelajaran Dialogis seperti yang diartikulasikan oleh Johan Fleire, menekankan pentingnya interaksi timbal balik dalam proses pendidikan, membina lingkungan kolaboratif di mana pengetahuan dibangun bersama. Dalam proses pembelajaran DIC Business School sering melakukan diskusi dengan siswanya ketika menyampaikan materi. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman tetapi juga mempromosikan pemikiran kritis diantara peserta didik. Dengan berdiskusi terjadi pertukaran pendapat antara pengajar dengan siswa sehingga materi dengan mudah bisa dipahamai dan lebih bisa diingat. Selain itu dari diskusi tersebut akan diperoleh kesimpulan yang terbaik yang bisa diaplikasikan dalam keseharian, lingkungan dan dunia kerja. Dalam kerangka ini, dialog berfungsi sebagai saluran pembelajaran yang melampaui pertukaran informasi sederhana, memungkinkan eksplorasi mendalam terhadap pengetahuan dan pengembangan pemikiran kritis(Mir, 2024)[12].

Dialog mengajak siswa untuk terlibat aktif, menciptakan ruang di mana ide-ide baru dapat muncul dan dinilai secara kritis, sehingga memperkaya pengalaman belajar (Boyd & Sherry, 2024)[13]. Dengan metode seperti ini peserta didik diberikan kebebasan untuk berpendapat serta menggali potensi yang ada pada setiap siswa. Hal ini sangat sesuai dengan pendapat Fleire yang menekankan pentingnya penilaian perspektif individu, dimana peserta didik diberikan kebebasan untuk mengekspresikan sudut pandang mereka tanpa rasa takut akan evaluasi. Hal ini mempromosikan refleksi diri yang mendalam, serta menciptakan budaya mendengarkan dengan penuh perhatian dan menghormati pendapat yang beragam unsur penting dalam terciptanya dialog yang bermakna(Šimšíková, 2024)[14]. Sebagai kampus vokasi DIC menerapkan pembelajaran dialogis yang kritis agar siswa berani berdiskusi, mengemukakan pendapat dan berperan aktif dalam kontribusi pembelajaran. Pembelajaran dialogis menganggap kolaborasi sebagai inti dari pengalaman pendidikan, di mana setiap pemangku kepentingan, baik siswa maupun pengajar, berkontribusi dalam membentuk proses pembelajaran bersama(B.A. & D.O., 2024)[15].

Dengan system kelas yang dibiasakan berkolaborasi akan membuat siswa semakin aktif, kritis serta merasa bahwa pendapat mereka bisa dihargai sesuai dengan konteksnya. Sehingga mengemukakan pendapat dan be ride akan menjadi kebiasaaan yang positif tanpa harus takut dan minder dalam berkomunikasi. Semangat kolaboratif ini meningkatkan lingkungan pendidikan, menjadikannya lebih inklusif dan partisipatif, serta memperkaya dinamika kelas (Boyd & Sherry, 2024)[13]. Meskipun demikian, beberapa kritikus berpendapat bahwa pembelajaran dialogis mungkin tidak dapat memenuhi kebutuhan semua pelajar, terutama mereka yang kesulitan dengan dialog terbuka atau membutuhkan bimbingan yang lebih terstruktur. Dalam hal ini siswa DIC yang cenderung pendiam, pemalu atau introvert dengan pembiasaan- pembiasaan berkolaborasi dikelas biasanya belum berani ikut berpendapat dikelas tetapi akan mulai berani bertanya dan berdiskusi dengan teman dekatnya dulu. Sehingga diharapkan dengan pembiasaan berdialog dan kritis melalui diskusi kelas ini seluruh siswa DIC Business School Sidoarjo menjadi pribadi yang berani berpendapat, dan berkolaborasi serta kritis di lingkungan masing-masing.

Implementasi Praxis DIC Business School dalam proses pembelajaran atau bisa disebut implementasi praktis menekankan transformasi peserta didik menjadi individu yang aktif melalui dialog dan refleksi kritis. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi juga untuk mendorong perubahan sosial yang lebih luas. Dengan menekankan interaksi dua arah antara siswa dan pendidik sehingga proses belajar lebih mendalam sehingga materi lebih mudah difahami dan diingat sehingga akan lebih mudah untuk menerapkan ilmu yang dipelajari. Hal ini sangat penting karena DIC Business School Sidoarjo sebagai pendidikan berbasis vokasi harus mempersiapkan siswa untuk siap bekerja ataupun jadi pengusaha ketika sudah lulus. System pembelajaran ini sangat mempengaruhi perkembangan kesadaran kritis dan tanggung jawab sosial ketika mereka menjalankan kehidupan sehari-hari ataupun ketika memasuki dunia kerja. Berbagai inisiatif pendidikan di dunia nyata menggambarkan bagaimana komunikasi pembelajaran di kampus DIC Business School Sidoarjo dapat dioperasionalkan dan memberikan dampak signifikan dalam konteks sosial yang lebih luas.

Komunikasi pembelajaran ini menciptakan ruang bagi siswa dan pendidik, untuk terlibat dalam dialog terbuka, saling bertukar ide, dan bekerja sama dalam mengatasi tantangan sosial yang ada. Pendekatan ini mengedepankan kolaborasi aktif dalam menciptakan solusi atas semua masalah, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis yang sangat penting untuk perubahan sosial yang berkelanjutan. Dalam hal ini DIC Business School Sidoarjo mengedepankan pentingnya fleksibilitas dan keterbukaan dalam mengimplementasikan pendidikan yang transformatif dalam berbagai konteks.

Relevansi Kontemporer dari pemikiran Freire tetap sangat relevan untuk mengatasi berbagai tantangan pendidikan masa kini, seperti ketidaksetaraan dalam akses pendidikan dan komodifikasi pendidikan yang semakin mengkhawatirkan. Dalam dunia pendidikan yang semakin terorientasi pada hasil dan pasar, gagasan Freire tentang pedagogi kritis di mana siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran yang berfokus pada refleksi dan dialog menjadi sangat penting untuk membangun pendidikan yang lebih demokratis dan inklusif (Santos et al., 2024; Andrade et al., 2024)[16][17]. Meskipun prinsip-prinsip ini telah diadopsi secara luas, penerapan pendekatan Freire sering kali mendapat perlawanan dari sistem pendidikan tradisional yang masih mengutamakan pembelajaran rote. Ketegangan ini menunjukkan perlunya perjuangan berkelanjutan untuk mereformasi pendidikan agar selaras dengan nilai-nilai keadilan sosial, demokrasi, dan pembebasan yang digagas oleh Freire.

Simpulan

Berdasarkan temuan yang diperoleh dari wawancara yang dilakukan oleh peneliti mengenai opini siswa terhadap komunikasi pendidikan di DIC Business School Sidoarjo, dapat disimpulkan bahwa DIC Business School secara efektif menerapkan komunikasi pembelajaran yang memupuk pembelajaran dialogis dan kritis. Dalam konteks ini, siswa diberikan otonomi untuk mengartikulasikan argumen mereka, terlibat dalam diskusi, dan mengkritik materi instruksional, sehingga memfasilitasi pengembangan kemampuan kritis mereka. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa tetapi juga membekali mereka dengan keterampilan kognitif reflektif dan kolaboratif yang diperlukan untuk kualitas pendidikan yang profesional. Pengalaman belajar yang terjadi di dalam dan di luar kelas, difasilitasi dengan komunikasi pembelajaran yang dialogis,dan kritis ini, menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pertukaran ide antara siswa dan pendidik, memberdayakan siswa untuk mengambil peran yang lebih aktif dan menunjukkan akuntabilitas yang lebih besar dalam kegiatan pendidikan mereka.

Selanjutnya, penerapan prinsip-prinsip praksis Freire, yang menggarisbawahi hubungan yang saling bergantung antara pengetahuan teoritis dan aplikasi praktis, jelas dapat diamati dalam praktik pendidikan di DIC Business School. Modalitas pembelajaran ini, yang didasarkan pada refleksi kritis dan keterlibatan kooperatif, tidak hanya menumbuhkan kemahiran akademik siswa tetapi juga mempersiapkan mereka untuk melakukan transformasi sosial. Dengan menjalin instruksi teoritis dengan eksekusi praktis dalam konteks sehari-hari, siswa termotivasi untuk tidak hanya memahami prinsip-prinsip akademik tetapi juga untuk menerapkannya dalam ranah sosial dan profesional. Meskipun tantangan tetap ada dalam penggabungan komprehensif pembelajaran dialogis terutama bagi siswa yang lebih pendiam atau introvert. Dengan kebiasaan dialog yang dipupuk di lingkungan kelas mendorong individu- individu ini untuk menegaskan sudut pandang mereka dan berkolaborasi dengan rekan-rekan mereka.

Singkatnya, DIC Business School Sidoarjo telah dengan mahir merangkul paradigma pedagogis Freire yang berkaitan dengan tantangan pendidikan kontemporer, khususnya promosi kerangka pendidikan yang lebih inklusif, demokratis, dan berorientasi pada pembebasan dan transformasi sosial. Pendekatan ini memfasilitasi pengembangan siswa yang tidak hanya lebih kritis dan berani tetapi juga lebih siap untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan pribadi dan upaya profesional mereka. Terlepas dari perlawanan yang berlaku dari sistem pendidikan tradisional yang biasanya mendukung pendekatan pembelajaran yang lebih teratur dengan peluang terbatas untuk dialog terbuka, DIC Business School mencontohkan bahwa pembelajaran berorientasi dialog dan praktik dapat secara signifikan mempengaruhi budidaya generasi yang dilengkapi dengan baik untuk mengambil peran aktif dalam masyarakat.

Ucapan Terima Kasih

Sujud syukur kepadaMu Ya Allah, Tuhan pencipta seluruh alam. Dengan ridho Mu Ya Robb saya selalu berharap untuk menjadi pribadi beriman, berfikir dan berilmu sesuai perintah Mu. Semoga keberhasilan ini menjadi langkah awal masa depan saya untuk meraih cita-cita mulia. Saya persembahkan karya ini untuk Ibu, Bapak, suami dan anak-anak saya tercinta, terima kasih atas semua bantuan dan support yang selalu diberikan kepada saya.

Terimakasih kepada Kepala Kampus DIC Business School Sidoarjo beserta seluruh siswa, staff dan para dosen atas kesempatan, waktu dan dukungannya sehingga saya dapat melaksanakan penelitian di kampus DIC dengan lancar. Terimakasih kepada Dosen Pembimbing saya, B. Poppy selaku dekan FBHIS sekaligus dosen penguji saya, B. Fira ketua kaprodi sekaligus dosen penguji penelitian ini, Pak Fery selaku dosen wali serta mbak Elnika, mbak Dea, mbak Cuss yang semuanya selalu saya repotkan dan selalu membantu proses saya dalam penyelesaian skripsi ini. Semoga Allah SWT membalas dengan segala kebaikan untuk semuanya, amiin. Saya menyadari dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, meski demikian saya berharap semoga isinya dapat memberikan manfaat sebagai ilmu pengetahuan baru bagi pembacanya.

References

S. Khan, M. Khan, and P. Ramsey, “Educational Paradigm Shifts in the Era of Rapid Technological Advancement,” in Advances in Educational Technologies and Pedagogical Paradigms, pp. 115–135, 2024, doi: 10.4018/979-8-3693-3003-6.ch006.

E. M. Denga, “Equipping Educators for the New Educational Paradigm,” in Contemporary Trends in Education and Technology, pp. 83–101, 2024, doi: 10.4018/979-8-3693-1974-1.ch005.

Z. A. Nadaf, U. Nazir, S. Bashir, S. R. Wani, S. Z. A. Geelani, and A. K. Jha, “Adapting to Evolving Demands,” in Educational Innovations in a Changing World, pp. 1–13, 2024, doi: 10.4018/979-8-3693-2802-6.ch001.

V. Lamanauskas, “Paradigmatic Shifts in Multiparadigmatic Education Reality,” Problems of Education in the 21st Century, vol. 82, no. 4, pp. 430–433, Aug. 2024, doi: 10.33225/pec/24.82.430.

Y. Chyhrina, V. Slipchuk, O. Deichakivska, O. Deneha, and L. Hetmanenko, “Exploring Approaches and Techniques for Enhancing Educational Frameworks, Integrating Cutting-Edge Technologies, Revamping Curricula, and Assessing the Impact of These Innovations,” International Journal of Religion, vol. 5, no. 11, pp. 2198–2206, Jun. 2024, doi: 10.61707/qeqypa44.

Z. Cui, “Exploring the Importance of Student-Centered Learning in Higher Education Based on Constructivist Theories of Teaching, Learning, and Psychology,” ScholarOne Preprints, Apr. 9, 2024, doi: 10.31124/advance.171267038.81050377/v1.

L. Wang, “The Impact of Student-Centered Learning on Academic Motivation and Achievement: A Comparative Research between Traditional Instruction and Student-Centered Approach,” Journal of Education, Humanities and Social Sciences, vol. 22, pp. 346–353, Nov. 2023, doi: 10.54097/ehss.v22i.12463.

X. Shamsiddin, “Interactive Methods That Develop Communicative Competence in Students,” International Journal of Pedagogics, vol. 4, no. 5, pp. 117–122, May 2024, doi: 10.37547/ijp/Volume04Issue05-25.

A. K. Nayak, “Critical Perspectives on Communication for Development: Reading Paulo Freire’s Pedagogy of the Oppressed,” International Journal of Science and Research, vol. 12, no. 12, pp. 2061–2064, Dec. 2023, doi: 10.21275/ES24207112714.

S. J. Chiri Espejo, “An Exploration of Freire’s Dialogue,” Paradigmas Socio-Humanisticos, vol. 4, no. 2, pp. 7–11, Mar. 2023, doi: 10.26752/revistaparadigmassh.v4i2.672.

R. Halabi, “Application of Paulo Freire’s Critical Pedagogy Principles to the Jewish–Arab Interface in Israel: Dialog, Awareness, and Identity,” Journal of Asian and African Studies, Oct. 2024, doi: 10.1177/00219096241291061.

B. H. G. Alexandre, R. F. Ferronato, A. B. Lima, F. G. A. Pontes, and O. D. S. F. C. Lima, “Paulo Freire and the Pedagogy of the Oppressed: Reflections on Critical and Transformative Education,” IOSR Journal of Business and Management, vol. 26, no. 11, pp. 12–21, Nov. 2024, doi: 10.9790/487X-2611071221.

A. N. S. dos Santos et al., “Sowing Diversity in Education: Paulo Freire’s Pedagogy as a Bridge of Interculturality in Latin American Early Childhood Education,” Observatorio Latinoamericano de Economia, vol. 22, no. 8, p. e6454, Aug. 2024, doi: 10.55905/oelv22n8-209.

O. B. R. da Costa, “Brazilian Educator Paulo Freire: A Brief Insight into His Educational Journey,” Observatorio Latinoamericano de Economia, vol. 22, no. 2, p. e3215, Feb. 2024, doi: 10.55905/oelv22n2-084.

M. R. Fauzi and U. Usman, “Freire’s Praxis, Democracy, and Critical Consciousness in Islamic Education,” Jurnal Filsafat, vol. 34, no. 2, p. 278, Sep. 2024, doi: 10.22146/jf.93952.

“Sentiments of Public Opinion,” International Research Journal of Modern Engineering, Technology and Science, Mar. 2024, doi: 10.56726/IRJMETS50838.

S. Hall and L. Liebenberg, “Qualitative Description as an Introductory Method to Qualitative Research for Master’s-Level Students and Research Trainees,” International Journal of Qualitative Methods, vol. 23, Jan. 2024, doi: 10.1177/16094069241242264.

A. Gilsanz Mir, “Dialogic Learning in Jesuit Education,” Aula Encuentro, vol. 26, no. 1, pp. 233–253, Jul. 2024, doi: 10.17561/ae.v26n1.7686.

M. P. Boyd and M. B. Sherry, “Dialogic Space: An Introduction,” Theory Into Practice, vol. 63, no. 2, pp. 115–120, Apr. 2024, doi: 10.1080/00405841.2024.2325309.

A. Simsikova, “Dialogue as a Principle of Education,” IntechOpen, 2024, doi: 10.5772/intechopen.114034.

S. Rojas-Drummond, A. L. Trigo-Clapes, A. L. Rubio-Jimenez, J. Hernandez, and A. M. Marquez, “Transforming Dialogic Teaching and Learning Practices in Education,” Theory Into Practice, vol. 63, no. 2, pp. 225–238, Apr. 2024, doi: 10.1080/00405841.2024.2307839.

F. D. V. dos Santos et al., “Paulo Freire’s Pedagogy and Its Relevance in the Contemporary Educational Context,” Arace, vol. 6, no. 2, Oct. 2024, doi: 10.56238/arev6n2-074.

A. D. de Andrade et al., “Paulo Freire and Dialogic Education: Relevance and Applications in the Twenty-First Century,” Arace, vol. 6, no. 2, Oct. 2024, doi: 10.56238/arev6n2-112.