Laili Yusriah (1), Ramon Ananda Paryontri (2)
General Background Entering a new organizational environment requires individuals to develop self-adjustment processes to manage personal demands, social expectations, and environmental pressures. Specific Background University students who join student activity units with complex structures and diverse cultural backgrounds, such as the HIMMPAS organization at Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, encounter distinct challenges related to social interaction, physical demands, and organizational rules. Knowledge Gap Previous studies on student self-adjustment have predominantly employed quantitative approaches, resulting in limited exploration of students’ lived experiences and personal meaning-making processes within student organizations. Aims This study aims to analyze the self-adjustment experiences of UMSIDA students who participate in the HIMMPAS student activity unit. Results The findings reveal that students demonstrated self-adjustment through adaptation, conformity, and mastery, as reflected in their ability to manage social interactions, comply with organizational norms, and regulate personal behavior when facing demands and tensions. Although minor social interaction constraints were identified in one participant, both participants showed constructive responses toward organizational challenges. Novelty This study provides an in-depth phenomenological account of student self-adjustment within a nature-lover student organization context. Implications The findings contribute to a deeper understanding of student adjustment processes in extracurricular organizations and may inform the development of supportive organizational environments in higher education institutions.
Highlights:
Keywords: Self Adjustment, Phenomenological Study, Student Organization, Himmpas, University Students
Bagi sebagian orang, ketika bergabung di lingkungan yang baru dan cukup berbeda dengan lingkungan aslinya mereka akan menghadapi berbagai jenis penyesuaian, baik itu penyesuaian sederhana, maupun penyesuaian kompleks[1]. Di mana didalam penyesuaian tersebut mengandung sebuah model perilaku yang terbentuk atas adanya berbagai elemen didalam lingkungan baru yang terlihat jelas. Pola perilaku tersebut dinamakan penyesuaian diri, yang melambangkan penguasaan individu untuk mengendalikan dan memahami kebutuhan dirinya, mengatasi krisis, frustasi-frustasi, dan konfrontasi lingkungan untuk memperoleh harmoni dan keseimbangan antara desakan ranah tempat tinggalnya dengan desakan di dalam dirinya [2]. Setiap individu akan mengalami proses penyesuaian diri tersebut, hal ini juga dirasakan oleh mahasiswa perguruan tinggi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) yang mengikuti UKM HIMMPAS. Berdasarkan data statistik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo pada tahun ajaran 2022-2023, UMSIDA memiliki mahasiswa sebanyak 12.730 dan sebanyak 180 mahasiswa bergabung didalam UKM HIMMPAS yang terbagi menjadi 5 kelompok yaitu 1) Anggota Perintis, 2) Anggota Istimewa, 3) Anggota Biasa, 4) Anggota Muda, dan 5) Anggota Lulus Diklat. Penyesuaian diri yang efektif akan tercapai jika kehidupan seseorang tersebut benar-benar bebas dari desakan-desakan, tuntutan jiwa serta goncangan dari berbagai macam hal dan individu tersebut mampu menghadapi kesukaran dengan cara yang objektif bagi dirinya. Keberhasilan penyesuaian diri pada individu juga dilihat dari perilakunya yang ajek, harmoni dan merasa senang, serta tertarik untuk berkegiatan dan berprestasi [3]. Penyesuaian diri merupakan daya individu dalam menyesuaikan dirinya dengan baik sehingga seseorang itu akan memandang diri dan lingkungannya dengan cara yang lebih dewasa, sehat, realistis, dan penguasaan konfrontasi mindset dan frustasi yang baik.
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) HIMMPAS (Himpunan Mahasiswa Muhammadiyah Pecinta Alam Sidoarjo) merupakan salah satu organisasi yang ada di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo yang dimana anggotanya juga turut serta dalam mengalami penyesuaian diri. UKM yang bergerak di bidang Kepecinta Alaman dengan multi divisi, yaitu Panjat Tebing, Susur Gua, Olagraga Arus Deras, Gunung Hutan dan Konservasi[4] ini merupakan wadah bagi mahasiswa untuk beraktivitas di alam bebas, berkontribusi kepada masyarakat, dan peduli terhadap pelestarian lingkungan yang kemudian juga melakukan banyak penjelajahan[5]. Sebagai organisasi kompleks yang dinaungi oleh Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan menginduk pada MAPALA Indonesia, kebutuhan penyesuaian diri dan proses penyesuaian diri anggota HIMMPAS menjadi hal yang lumrah terjadi. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, yaitu kuantitas anggota HIMMPAS yang semakin bertambah dari tahun-ketahun, dimana hingga saat ini HIMMPAS memiliki 173 anggota. Beragamnya budaya yang melatar belakangi Anggota HIMMPAS juga turut menjadi topik dalam menyesuaikan diri saat menjadi anggota organisasi ini, karena tidak hanya mahasiswa UMSIDA yang berasal dari Jawa saja yang bergabung dalam UKM ini, tetapi juga mahasiswa dari Batak, Sunda dan Madura. proses kenaikan jenjang dalam organisasi juga menjadi faktor dalam melatar belakangi proses penyesuaian diri di UKM HIMMPAS.
Tidak jarang, anggota UKM HIMMPAS menjadi sorotan negatif bagi sebagian mahasiswa UMSIDA, terlebih dengan stigma menjadi “donator kampus” atau lulus dengan durasi waktu yang lama dibandingkan dengan teman- teman seangkatannya. Stigma yang didapat di lingkungan sekitar terkait anggota MAPALA yang terkesan urakan, malas kuliah juga melekat pada Mahasiswa UMSIDA yang menjadi anggota UKM HIMMPAS. Pada penelitian sebelumnya mengemukakan bahwa sorotan negatif terhadap mahasiswa aktivis pecinta alam seringkali berhubungan dengan orientasi masa depan mereka [5]. Stigma tersebut merupakan sebuah tantangan bagi anggota UKM HIMMPAS dan turut mempengaruhi proses penyesuaian diri didalam organisasinya.
Di sisi lain, kerentanan kondisi fisik juga mempengaruhi penyesuaian diri mahasiswa UMSIDA yang mengikuti UKM HIMMPAS. Beberapa anggota yang memiliki kondisi fisik tidak prima akan kesulitan dalam menyesuaikan diri didalam setiap kegiatan. Karena memang pada dasarnya kegiatan didalam organisasi ini merupakan kegiatan olahraga ekstrem yang membutuhkan ketahanan tubuh kuat dan kondisi fisik prima. Hal ini sejalan dengan Schneider [6], terkait beberapa faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri yaitu kondisi fisik, karakter individu, proses belajar, dan lingkungan serta budaya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan sebelumnya bahwa kebugaran fisik adalah salah satu aspek yang harus dibentuk oleh mahasiswa pecinta alam [7].
Tiga perspektif tentang penyesuaian diri oleh Schneiders, diantaranya yaitu adaptation(sebagai bentuk adaptasi), conformity (merupakan bentuk konformitas) dan mastery (sebagai usaha penguasaan) [8]. Pada proses penyesuaian diri Anggota HIMMPAS, tidak terlepas dari proses pembiasaan yang terjalin secara internal maupun eksternal yaitu di mana proses tersebut merupakan fenomena sosial yang lumrah terjadi.
Banyak sekali penelitian yang mengangkat isu penyesuaian diri mahasiswa, namun pada penelitian sebelumnya lebih banyak menggunakan pendekatan kuantitatif dalam penulisannya, sehingga informasi yang didapat terkait pemaknaan penyesuaian diri mahasiswa tersebut kurang mendalam. Sehingga penelitian kali ini dilakukan melalui pendekatan kualitatif untuk menggali pengalaman mahasiswa UMSIDA yang mengikuti UKM HIMMPAS dalam memaknai penyesuaian dirinya selama bergabung didalam organisasi tersebut. Batasan masalah dalam penelitian ini adalah terkait “bagaimana penyesuaian diri mahasiswa UMSIDA yang mengikuti UKM HIMMPAS ?”
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyesuaian diri mahasiswa UMSIDA yang mengikuti UKM HIMMPAS. Penelitian ini dilakukan menggunakan pendekatan fenomenologi yang didasarkan pada pengalaman hidup yang bersifat nyata. Penelitian ini juga dibatasi untuk mendeskripsikan pengalaman penyesuaian diri mahasiswa UMSIDA yang mengikuti UKM HIMMPAS. Cresswell mengatakan bahwa metode penelitian
fenomenologi adalah sebuah studi yang menggambarkan arti pengalaman hidup individu atau beberapa individu ke dalam sebuah konsep atau fenomena[9]. Individu yang terlibat dalam studi fenomena akan mengeksplorasi struktur pengalaman hidup manusia secara alamiah maupun rekayasa yang lebih memperhatikan karakteristik, kualitas dan keterkaitan antar kegiatan [10].
Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Dalam teori Edmund Husserl, pemahaman diperoleh dari pengalaman murni subjek terkait fenomena yang tersusun. Dengan demikian, penulis akan menanyakan pengalaman subjek terkait fenomena penyesuaian diri yang dihadapinya secara alamiah di lingkungannya. Proses interaksi timbal balik akan membantu menafsirkan fenomena yang dialami subjek [11].
Dalam artikel ini, metode Epoche digunakan untuk menjabarkan pengalaman subjek dalam bentuk studi kasus. Metode ini mengambil pemahaman dengan menunda untuk menilai fenomena dengan benar atau salah sehingga pengalaman subjek menjadi sumber data. Dalam topik ini, pola perilaku pada tahun pertama setelah bergabung dengan HIMMPAS, dan perubahan perilaku yang signifikan akan menjadi fokus utama. Fokus penelitian ini adalah penyesuaian diri siswa UMSIDA yang bergabung dengan UKM HIMMPAS. Metode purposivesamplingmerupakan metode yang dipilih peneliti dalam menentukan informan [12]. Syarat sebagai informan adalah sudah menjadi anggota HIMMPAS sekurang-kurangnya selama satu tahun.
Partisipan dalam penelitian ini diambil dari 2 orang anggota UKM HIMMPAS sebagai informannya. Batasan usia informan yaitu 20 tahun hingga 22 tahun atau sekurang-kurangnya telah bergabung dalam UKM HIMMPAS selama satu tahun. Alasan pemilihan partisipan tersebut adalah kesesuaian dalam judul penelitian ini, partisipan yang diteliti adalah anggota Muda UKM HIMMPAS dengan tujuan mendapatkan informasi dari pengalaman informan dapat digambarkan dengan jelas dan komprehensif dari awal proses penyesuaian diri sesuai dengan pengalaman dan fenomena yang dialami informan. Dalam proses pemilihan partisipan, peneliti menggunakan teknik purposivesampling, dimana dengan teknik tersebut peneliti mencari partisipan yang sesuai dengan karakteristik yang telah ditentukan [13].
Metode pelaksanaan yang dilakukan yaitu wawancara dan studi literatur. Peneliti melakukan proses wawancara dengan pertanyaan terbuka. Partisipan mengikuti proses wawancara selama 60 menit di kesekretariatan HIMMPAS dengan mengacu pada panduan wawancara yang telah dikembangkan peneliti berdasarkan studi literatur yang ada.
Setelah proses pengumpulan data dilakukan, peneliti akan menganalisa data yang terkumpul dari 2 orang informan tersebut menggunakan metode epoche, pengalaman dan fenomena yang dialami oleh partisipan akan dideskripsikan secara apa adanya untuk mencari inti dari pengalaman dan fenomena tersebut. kemudian melakukan codinguntuk memilih dan memusatkan perhatian pada poin-poin tertentu, sehingga data yang didapatkan di lapangan dapat disederhanakan. Proses selanjutnya yaitu peneliti akan membuat narasi sebagai bentuk dari penyajian data yang tereduksi. Pada tahap terakhir, peneliti akan melakukan penarikan kesimpulan dari hasil pengumpulan dan analisis data. Hasil penarikan kesimpulan ini sekaligus menjadi intisari dari penelitian ini [14].
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses penyesuaian diri pada anggota UKM HIMMPAS. Partisipan yang dipilih adalah mahasiswa UMSIDA yang mengikuti UKM HIMMPAS sekurang-kurangnya satu tahun. Pada penelitian ini terdapat dua partisipan, yang pertama Dhea Putri Nuryanti, anggota HIMMPAS angkatan 2022 , program pendidikan Agroteknologi. Kedua, M. Zaki Prabowo, anggota HIMMPAS angkatan 2023, program pendidikan Teknik Mesin.
Dari ketiga aspek penyesuaian diri oleh Schneiders yang dialami oleh mahasiswa UMSIDA yang mengikuti UKM HIMMPAS berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, didapatkan hasil yaitu
A. Penyesuaian Diri Sebagai Adaptasi
Ditinjau dari pendapat Scneider terkait aspek-aspek penyeusian diri, Adaptasi termasuk dalam aspek penyesuaian diri yang berfokuskan pada bukti fisik, atau bukti yang dapat divisualkan secara nyata dan dapat dirasakan dengan indera. Berdasarkan penelitian terdahulu terdapat hubungan signifikan antara penyesuaian diri terhadap adaptasi [15]. Menurut Fatimah (2010), kesuksesan seseorang dalam melakukan adaptasi di tempat tinggalnya ditentukan oleh kemampuan mereka untuk membangun hubungan sosial di tempat mereka tinggal dan berinteraksi dengan orang lain [19] . Seperti halnya Zaki dalam menyesuaikan diri di lingkungan HIMMPAS dimana dirinya memilih untuk mengikuti arus dalam bergaul dengan anggota-anggota yang lain, Zaki memiliki strategi tersendiri dalam berkomunikasi dengan Anggota HIMMPAS. Zaki memaparkan bahwa untuk membangun komunikasi yang baik dia tidak membeda-bedakan untuk bergaul dengan siapa saja, dan dirinya merasa bisa mengimbangi obrolan siapapun dengan fleksibel.“lebih ke mengikuti arus mbak bergaul dengan siapa aja, misalsaya bergauldengan si A yang kaku, ya saya akan mengimbangi dengan fleksibel. Banyak ngobrol, banyak berkumpul di sekret kalo sama orang pendiem, ya gapapa tak jejeri mbak tak ajak ngobrol sebentar-sebentar tapi tetep tak jejeri,kalo ada gerak gerik ga nyaman yaa ku pindah.”
Hal yang sama dirasakan oleh Dhea selama bergabung didalam UKM HIMMPAS dimana dirinya menjadi banyak dikenal oleh Dosen, dan mampu terjun langsung di dunia masyarakat. Dirinya memaparkan bahwa selama bergabung di lingkungan HIMMPAS, Dhea lebih banyak belajar terkait administrasi akademis, seperti pembuatan proposal, maupun membangun banyak relasi dengan dosen dan masyarakat melalui kegiatan sosial HIMMPAS. “hmm banyak mbak, belajar administrasi itu kayak eee apa namanya proposal, trus dikenal banyak dosen, trus belajar terjun ke masyarakat, sama apa ya belajar menjadi pecinta alam yang baik hehehe.”
Dalam proses adaptasi tersebut juga tidak terlepas dari proses kognitif yang dilakukan oleh individunya. Bagi Zaki, bergabung didalam UKM HIMMPAS memberikan banyak sekali pelajaran yang didapat, baik itu di bidang Kepecinta Alaman, maupun di kehidupan sehari-hari, seperti skill berkomunikasi. Dimana sebelumnya, informan merasa skill berkomunikasinya sempat menurun sebelum bergabung didalam UKM HIMMPAS, ketika Adi mulai bergabung didalam UKM HIMMPAS Adi merasa skill berkomunikasinya naik secara konsisten karena adanya interaksi yang terjalin secara terus menerus terhadap sesama anggota UKM HIMMPAS maupun anggota dari MAPALA universitas lain.
“HIMMPAS itu kalo yang dari saya rasakan itu paling pertama itu kekeluargaannya, kekeluargaannya itu bener-bener kena, banyak pelajaran yang saya dapat, baik itu dibidang kemapalaan ke alaman baik itu sesuatu di kehidupan sehari hari, pengaruh HIMMPAS ke saya pribadi itu HIMMPAS membantu saya untuk mengembalikan skill komunikasi saya, jadi saya lulus SMA itu gapyear setahun, di UB setahun itu nggak, ee jarang banget omong- omongan sama orang jadi disitu waktu SMA sama lulus sma it u skill komunikasi saya itu menurun banget sampe saya masuk HIMMPAS jadi waktu masuk HIMMPAS itu saya lebih terbuka”.
Proses kognitif dalam kenaikan skill komunikasi yang dialaminya sejalan dengan konsep penyesuaian diri oleh Calhoun dan Acocella sebagai interaksi terus menerus seseorang dengan dirinya sendiri. dengan orang lain dan lingkungan di sekitar seseorang. Dimana ketiga faktor tersebut mempengaruhi individu secara konsisten, dan hubungan tersebut bersifat timbal balik karena individu juga secara konsisten mempengaruhi kedua faktor lain, yaitu hubungan mereka dengan orang lain dan lingkungan mereka.
Hal yang sama juga dialami oleh Dhea, dimana dirinya merasa ketika bergabung didalam UKM HIMMPAS, Dhea mendapatkan banyak sekali pengalaman, seperti pembuatan surat-menyurat, proses administrasi bahkan mencetak prestasi. “yaaa !Ituu aku dapat konversi matkul soalnya ikut PPK ORMAWA mbak hehe, alhamdulillahtrus kaya ngerti administrasi, surat menyurat yang bener, arsip itu gimana”.Proses kognitif yang dialami Dhea dalam adaptasi di lingkungan HIMMPAS ini sejalan dengan pendapat Ahmadi dan Supriyono, "Prestasi belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang menyeluruh, baik prestasi belajar, sosial, maupun aspek pribadinya." Hal ini menunjukkan bahwa proses kognitif memiliki korelasi positif dengan bentuk adaptasi dalam penyesuaian diri mahasiswa UMSIDA yang mengikuti UKM HIMMPAS [16].
B. Penyesuaian diri sebagai bentuk komformitas
Konformitas terjadi ketika seseorang menirukan sikap orang lain sebagai akibat dari tekanan yang sebenarnya atau hal yang dibayangkan mereka, santrock (2003). Komformitas selalu identik dengan aturan-aturan dan tuntutan yang diberikan oleh lingkungan kepada individunya, seperti halnya di dalam UKM HIMMPAS, dimana setiap aspek kehidupan berorganisasi diatur dalam aturan-aturan yang tertulis, seperti Anggaran Dasar (AD), Anggaran Rumah Tangga (ART), Garis Besar Haluan Organisasi (GHBO), dan Aturan Tambahan (AT) yang dibahas setiap tahun sekali pada saat akhir periode kepengurusan di bulan Juli atau Agustus dalam musyawarah anggota. Pembentukan aturan-aturan tersebut telah disepakati pada saat awal berdirinya UKM HIMMPAS, yaitu pada tahun 1998 dengan
catatan setiap anggota memiliki hak yang sama dalam menyuarakan pendapatnya. Setiap aturan yang berlaku akan dibedah dan diperbaharui dalam musyawarah anggota sesuai dengan kesepakatan yang berlaku demi terciptanya keseimbangan organisasi dan kenyamanan anggota.
Menurut Zaki, aturan-aturan yang telah disepakati merupakan aturan yang relevan dengan kondisi keorganisasian. Dirinya juga menuturkan bahwa dia tidak merasa tertekan dengan adanya aturan tersebut. “Kalo akuseh pribadi ya mbak, menikmati seh yang namanya organisasi kan ada aturan..tuntutan.. dan lain sebagainya, kalongga sanggupuntukngikutinituyamendingnggausahikut.”
Begitu juga dengan Dhea yang merasakan hal yang sama dan menyadari bahwa aturan tersebut sudah ada sejak didirikannya UKM HIMMPAS. “enggak sih mbak, soalnya kan udah dari bertahun-tahun , jadi kek pasti adapertimbangan baikburuknyakan wesanjadiga tertekansihdengan aturannya.”
Perilaku kedua informan yang menunjukkan respon dan perilaku efektif dalam menghadapi aturan-aturan tersebut sejalan dangan konsep kepatuhan yang dijelaskan oleh Semium, bahwa penyesuaian diri merupakan respon individu terhadap tuntutan internal maupun eksternal [17]. Dimana Kepatuhan merupakan salah satu aspek komformitas yang terlibat dalam proses penyesuaian diri individu.
Kemudian, Pemaparan Dhea terkait dengan Dukungan sosial yang didapatkan di lingkungan UKM HIMMPAS untuk tetap berproses di dunia MAPALA ini juga turut menjadi bagian dari bentuk komformitas dalam menyesuaikan diri di UKM HIMMPAS.
“ berusaha juga apa ya kasihan sama saudara-saudaraku, kan mereka sudah support jadi aku sendiri harus bener-bener sampe AB.”
Selain itu, didalam organisasi HIMMPAS, Dhea merasa diberikan fasilitas untuk menjadi dirinya sendiri. “kalogitu seh kalo seumpma seangkatan itu ceplas ceplos, berani, kalo samaa angkatan yang apaatas-atas, senior gitungomongnya harus dijaga, kaya sama angkatan bawah itu, misale salah omongan, anak2e kayak gimana gitu akukan takut, takut sendiri mbak.. hehe.” Tidak berbeda jauh dengan Dhea, Zaki pun merasakan hal yang sama, dimana Zaki merasa mendapatkan rumah kedua ketika bergabung didalam UKM HIMMPAS. Zaki memaparkan bahwa dirinya setiap hari mampir ke sekretariat hanya sekedar untuk bermain music, memasak ataupun menyeduh kopi. “hehe iya mbak, tiap hari malah, kalau istirahat daripada ke kantin gitu, mending di sekret mbak banyak temen-temen juga kan, bisa masak, buat kopi, musikan, kadang juga kalau gak kerja sampe malem terus pulang, wes kayakrumah keduagitumbak.”
Hal-hal yng dialami oleh kedua informan ini sejalan dengan pendapat Sarafino (2006), terkait dukungan sosial yang merupakan bentuk penerimaan dari seseorang atau sekelompok orang terhadap individu yang menimbulkan persepsi dalam dirinya bahwa ia disayangi, dihormati, diperhatikan, dan ditolong [18].
C. Penyesuaian Diri sebagai Bentuk Mastery
Menurut Schneiders, individu dikatakan mastery dalam penyesuaian dirinya jika individu tersebut telah mampu menyesuaikan diri dengan baik dan memiliki kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respons diri mereka sehingga mereka dapat menanggapi dam mengelola suatu masalah secara matang dan efisien [18]. Dalam penyesuaian diri di organisasi yang cukup kompleks, dimana didalamnya terdapat berbagai macam karakteristik anggota dengan perbedaan bahasa, sosial dan budaya, formalitas keorganisasian dengan aturan baku yang ditetapkan, diharapkan setiap anggota UKM HIMMPAS memiliki kemampuan dan skill untuk untuk menyelesaikan masalah, khususnya masalah yang membutuhkan kemampuan pikiran [19].
Seperti halnya yang dilakukan oleh Zaki dalam proses penyesuaian dirinya ketika berkomunikasi dengan beberapa anggota yang berbeda karakteristik.“Kalau dari saya ya mbak, awale itu ya bikin obrolan gitu..awale itukayak mancing-mancing obrolan gitu, sekirane kalo tanggapannya bagus atau kurang bagus gitu .. kalo tanggapanebagusgitumasihbisadilanjutmbak,tapikalokurang bagus gitu..yowes..”
Selama bergabung didalam organisasi HIMMPAS, Zaki juga menerangkan bahwa dirinya mempelajari beberapa bahasa ibu dari anggota yang berasal dari luar daerah “ wah lucu sih mbak itu, seumur-umur aku barupunya temen yang dari luar jawa jadi belajar bahasanya itu lucu mbak ngegas ngegas gitu trus ada mbakVedayang ngomongnya betawi ada mas Gudel orang nggalek (trenggalek)jadi belajar banyak bahasa aku mbak kalo disekret”
Berbeda dengan Dhea, yang justru memanfaatkan fasilitas organisasi sebagai tempat usaha, dan dirinya merasa lingkungan HIMMPAS memberikan kebebasan berekspresi kepada anggotanya, meskipun Dhea adalah seseorang yang Introvert Dhea masih bisa berkomunikasi dengan sesama anggota “Enggak sih mbak malah lebih gampangternyata, soalnya disini kita mau berperilaku seperti apa itu diterima, kalau berkomunikasi didepan banyak orang, ada salah satu yang dekat sama aku, itu gampang, tapi kalo di biarin sendiri yaa gak sungkan truskan aku juga kadang nyetok es lilin di kulkas tak jual, ya itu anak-anak beli, masukin uang, trus aku jual manik-manik juga mereka suka beli.”
Selain kemampuan intelektual, salah satu faktor yang mempengaruhi proses penyesuaian diri yaitu regulasi diri. Semakin tinggi regulasi diri individu, maka semakin baik pula penyesuaian dirinya [20]. Dalam penelitian terdahulu tentang Regulasi Diri sebagai Prediktor Penyesuaian diri Mahasiswa Rantau, membuktikan bahwa adanya korelasi positif terkait semakin tinggi regulasi diri individu, maka semakin baik penyesuaian diri individu tersebut.[20] Menurut Ormrod, regulasi diri terdiri dari lima komponen, Ini termasuk kemampuan untuk menetapkan tujuan dan standar, kemampuan untuk melihat diri sendiri, kemampuan untuk bertindak secara mandiri, dan kemampuan untuk mempertimbangkan faktor-faktor untuk menjadi diri sendiri. Aturan ketiga adalah evaluasi diri: seseorang menilai pekerjaannya, minat dan pendapatnya sendiri, kemudian proses evaluasi atau penilaian moral, menilai kecukupan perilaku berdasarkan standar etika atau membandingkannya dengan tindakan orang lain, dan reaksi pribadi [21].
Dalam Hal ini Zaki memiliki tingkat regulasi diri yang baik dalam mengelola waktunya untuk kebutuhan organisasi, seperti pada tuntutan kenaikan jenjang yang berlaku didalam UKM HIMMPAS. Dirinya berusaha tepat waktu untuk memenuhi tuntutan kenaikan jenjang yang ada di organisasi HIMMPAS dan belajar melalui MAPALA-MAPALA dari universitas lain.“ada mbak pasti, bakalan ngusahain buat naik jenjang tepat waktu,belajar di mapala-mapala lain dan mas mbak senior juga sama yaa management waktuku itu sih mbak, kalau Pengurus Harian ngasih keringanan sih aku bisa kejar mbak, tapi kalau sudah mentok ya gapapa.”
Sedangkan pada subjek kedua yaitu Dhea, ia berhasil mengendalikan diri didalam lingkup sosial, dimana sebelumnya Dhea mengaku bahwa dirinya adalah pribadi yang tertutup menjadi lebih terbuka dan tidak tertekan. “aku jadi lebih membuka diri sih mbak, kalo dulu kan orange tertutup banget, bener bener gabisa ngobrol, pendiembanget gitu, kalo sekarang aku bisa lebih banyak omong sih kalo ada angkatanku atau yang lebih deket sekalipun didepan banyakorang.”
kemampuan seeorang untuk merencanakan dan mengorganisasikan respons diri mereka dalam dapat menanggapi dam mengelola suatu masalah dapat dilihat dari upayanya untuk mereduksi frustasi-frustasi, ketegangan-ketegangan dan tuntutan-tuntutan dalam proses penyesuaian diri di lingkungannya. Penyesuaian diri yang baik ditunjukkan dengan sedikitnya gejolak emosi serta kemampuan individu tersebut dalam meminimalkan mekanisme pertahanan dirinya [22]. Untuk memperoleh mufakat dalam sebuah forum , Zaki lebih memilih untuk memilih suara terbanyak dalam pengambilan keputusan, hal ini dilakukan untuk menghindari perselisihan anggota “aku sih memilih ke suara terbanyak mbak, kalau temen-temen banyak yang milih lusa ya lusa gapapa, dari pada terjadi cekcok.”
Dalam konteks yang sama, Dhea lebih takut untuk mengemukakan pendapatnya sehingga memilih untuk menyimpan pendapatnya sendiri serta lebih memilih untuk mengikuti pendapat orang lain “gini seh mbak, misal eaku sama ceting beda pendapatnya gitu, kalo aku misale mau ngomong itu misale dia gamau bekerja dalamkonsepku, mau bekerja sendiri, itu aku takut dulu, jatohnya aku takut sendiri.” “berarti ya aku ikut apa pendapat emereka mbak, daripada ga berjalan dengan pendapatku.”“ya gimana ya mbak, lebih ke tak pendem sendiri sih mbak, ngikut aja aku.”
Keberhasilan penyesuaian diri seseorang juga ddapat dillihat dari (a) bagaimana individu terebut mampu menerima dirinya dengan keadaan, kelemahan dan kelebihan yang ada (self-acceptance), (b) hubungan positif dengan orang lain (Positive relation with others) yaitu adanya hubungan yang harmonis dan saling percaya antara individu dengan lingkungannya, (c) otonomi (Autonomy) adalah kemampuan individu dalam mengatur perilaku didalam lingkungannya, (d) penguasaan lingkungan (environmentalmastery) merupakan kemampuan individu dalam menciptkan lingkungan yang nyaman bagi dirinya dengan mengontrol maupun mengubah keadaan lingkungan (e) Tujuan hidup (Purposeinlife) [21].
Seperti yang dialami oleh Zaki, dimana dirinya mampu menciptakan kenyamanan dan kesenangan didalam lingkungan UKM HIMMPAS, dimana menurutnya tuntutan dan tugas-tugas UKM tidak sebanding dengan kesenangan yang diberikan oleh UKM HIMMPAS kepadanya. “loh yo masih mbak, rapat dan proker itu ga sebanding dengan kesenangan di HIMMPAS kok mbak hahaha.”
Zaki juga mengaku sering mengunjungi sekretariat HIMMPAS disela-sela kegiatannya dan menjadikan sekretariat HIMMPAS sebagai rumah kedua.“hehe iya mbak, tiap hari malah, kalau istirahat daripada ke kantingitu, mending di sekret mbak banyak temen-temen juga kan, bisa masak, buat kopi, musikan, kadang juga kalau gak kerja sampe malem terus pulang,wes kayak rumah kedua gitu mbak.”
Berbeda dengan Dhea yang menerima keadaan dirinya yang cukup introvert sehingga sedikit mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial di lingkungan HIMMPAS “gimana yo… mbak, kalo dilihat ya susah, karna introvertnya ituloh, aku masih takut takut, takut ngomoong, takut salah jugaa.”
Fenomena yang dialami kedua informan ini sejalan dengan penelitian terdahulu terkait dengan kesejahteraan psikologis, terdapat hubungan positif antara kesejahteraan psikologis dengan penyesuaian diri. Semakin tinggi penyesuaian diri individu, maka semakin tinggi pula kesejahteraan psikologisnya [23].
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa UMSIDA yang mengikuti UKM HIMMPAS mengalami penyesuaian diri yang berbeda-beda dari setiap individunya, perbedaan tersebut dapat dilihat dari aspek mastery dimana ketika bergabung di dalam UKM HIMMPAS Zaki menerangkan bahwa dirinya mempelajari beberapa bahasa ibu dari Anggota yang berasal dari luar daerah sehingga meningkatkan skill komunikasi yang dimilikinya, sedangkan Dhea mendapatkan ide untuk memanfaatkan fasilitas organisasi sebagai tempat usaha.
Kemudian dalam konteks regulasi diri, Zaki memiliki tingkat regulasi diri yang baik dalam mengelola waktunya untuk kebutuhan organisasi, seperti pada tuntutan kenaikan jenjang yang berlaku didalam UKM HIMMPAS. Dirinya berusaha tepat waktu untuk memenuhi tuntutan kenaikan jenjang yang ada di organisasi HIMMPAS dan belajar melalui MAPALA-MAPALA dari universitas lain. Sedangkan pada subjek kedua yaitu Dhea, ia berhasil meregulasikan diri terkait dengan pengendalian diri didalam lingkup sosial, dimana sebelumnya Dhea mengaku bahwa dirinya adalah pribadi yang tertutup menjadi lebih terbuka dan tidak tertekan.
Untuk emengemukakan pendapat didalam forum, Dhea dan Zaki tidak mementingkan pendapat pribadi, justru Zaki memilih untuk mengandalkan suara terbanyak, dan Dhea memilih untuk mengikuti keputusan didalam forum.
Dalam konteks kesejahteraan psikologis, Zaki mampu menciptakan kenyamanan dan kesenangan didalam lingkungan UKM HIMMPAS, dimana menurutnya tuntutan dan tugas-tugas UKM tidak sebanding dengan kesenangan yang diberikan oleh UKM HIMMPAS kepadanya. Zaki juga mengaku sering mengunjungi sekretariat HIMMPAS disela-sela kegiatannya dan menjadikan sekretariat HIMMPAS sebagai rumah kedua. Berbeda dengan Dhea yang menerima keadaan dirinya yang cukup introvert sehingga mengalami kesulitan dalam berinteraksi sosial di lingkungan HIMMPAS.
Dari pemaparan diatas, dapat diketahui bahwa kedua informan dapat menyesuaikan diri dengan cukup efektif. Hanya saja pada informan kedua mengalami sedikit kendala dalam berinteraksi sosial. Namun keadaan tersebut tidak membuat informan tertekan dan meningkatkan motivasi informan untuk meregulasikan dirinya dengan lebih baik di lingkungan sosial.
Karya tulis ilmiah ini diulis sebagai bentuk tugas akhir skripsi sarjana Psikologi. Dengan ini penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada semua pihak yang membantu menyelesaikan proses penelitian ini yaitu
R. S. Siregar, Cultural Shock and Cultural Adaptation of North Sumatran Students in Yogyakarta, Faculty of Psychology and Cultural Sciences, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, Indonesia, 2022.
D. Aristaputri and H. H. Pradana, “Description of Self-Adjustment Among Company Employees at Company X, Binangun District, Blitar Regency,” Journal of Psychology Research, vol. 1, no. 1, pp. 96–100, 2023.
R. A. Oktaviani, W. Kusdayani, and Ariswati, “Relationship Between Self-Concept and Self-Adjustment of Grade X Students at SMK Negeri 2 Semarang,” in Proceedings of the Guidance and Counseling Seminar, vol. 1, no. 1, pp. 339–345, 2023.
G. A. Sanjani and A. Rochmaniah, “Phenomenological Analysis of Intercultural Communication Among HIMMPAS Members,” Undergraduate Thesis, Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, Indonesia, 2022.
N. Estiningtyas, R. R. Annisa, and P. M. Ratri, “Future Orientation of Student Activists in Nature-Lover Organizations,” Ulil Albab: Journal of Multidisciplinary Scientific Studies, vol. 1, no. 8, pp. 2514–2521, 2022.
A. Asfarina and H. Hafnidar, “Spiritual Intelligence and Self-Adjustment Among Islamic Boarding School Students with University Status,” Jurnal Psikologi Terapan, vol. 4, no. 2, p. 127, 2023, doi: 10.29103/jpt.v4i2.10207.
T. A. Saputra and A. A. Hakim, “Fitness Levels of Prospective Members of the Nature-Lover Student Association of Universitas Negeri Surabaya in Preparation for ‘Red Scarf’ 3,000 Mdpl Climb,” Journal of Sports and Health, vol. 9, no. 4, pp. 27–34, 2021.
N. Rohmah, “Adaptation to New Habits During the COVID-19 Pandemic,” Al-Mikraj: Journal of Islamic and Humanities Studies, vol. 1, no. 2, pp. 78–90, 2021, doi: 10.37680/almikraj.v1i2.767.
I. Nuralamsyah, “Adolescent Lifestyle of Instagram Stories Dependency: A Phenomenological Study of Users in Bandung,” Undergraduate Thesis, Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Indonesia, 2020.
P. Andris and K. D. Ambarwati, “Self-Adjustment of Students from North Sulawesi Studying Away from Home in Salatiga,” Innovative Journal of Social Science Research, vol. 3, no. 2, pp. 4062–4073, 2023.
M. Maskur, A. Djamil, and S. Sholihan, “Understanding Edmund Husserl’s Phenomenological Philosophy and Its Implications for Islamic Studies Research Methods,” Jurnal Ilmiah Falsafah: Journal of Philosophy, Theology, and Humanities, vol. 9, no. 2, pp. 50–57, 2023, doi: 10.37567/jif.v9i2.2164.
D. Candrawati, “Perceptions of Democratic Parenting Style and Self-Concept Toward Student Self-Adjustment,” Psikostudia: Journal of Psychology, vol. 8, no. 2, p. 99, 2019, doi: 10.30872/psikostudia.v8i2.3048.
D. Firmansyah and Dede, “General Sampling Techniques in Research Methodology: A Literature Review,” Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik, vol. 1, no. 2, pp. 85–114, 2022, doi: 10.55927/jiph.v1i2.937.
R. Nurislaminingsih, Basic Concepts of Qualitative Research, Bandung, Indonesia: Inti Shar Publishing, 2024.
J. Timothy, “Self-Adjustment Profile of Indonesian Undergraduate Students Studying in Taiwan,” Jurnal Muara Ilmu Sosial, Humaniora, dan Seni, vol. 7, no. 1, pp. 1–23, 2023.
P. Bu’ulolo and B. Laia, “Relationship Between Self-Adjustment and Academic Achievement of Students at SMP Negeri 4 Fanayama,” Counseling All: Journal of Guidance and Counseling, vol. 2, no. 2, pp. 25–38, 2023, doi: 10.57094/jubikon.v2i2.692.
I. F. Agmeilia, “The Relationship Between Self-Efficacy and Self-Adjustment in Facing New Challenges,” Jurnal Psikologi Indonesia, no. 2, pp. 230–237, 2023.
S. Lestari and A. D. Hasibuan, “The Role of Guidance and Counseling Teachers in Improving Self-Adjustment of New Students at MTs Al-Jami’yatul Washliyah Tembung,” Jurnal Mu’allim, vol. 5, no. 2, pp. 253–264, 2023, doi: 10.35891/muallim.v5i2.3855.
A. Aprilia and S. Nururly, “Intellectual, Emotional, Social, and Spiritual Intelligence and Workload in Relation to Employee Performance at the National Agency of Drug and Food Control in Mataram,” Popular Journal of Student Research, vol. 2, no. 3, pp. 1–18, 2023.
E. E. Sirwa, A. Rahmawati, and D. Supraba, “Self-Regulation as a Predictor of Self-Adjustment Among Migrant University Students,” Journal of Psychology Research, vol. 3, no. 2, pp. 127–138, 2023.
O. S. Mawarid et al., “Relationship Between Self-Regulation and Self-Adjustment Among Medical Faculty Students at Sultan Agung Islamic University Semarang,” Jurnal Pendidikan Tambusai, vol. 8, no. 1, pp. 4572–4582, 2024.
N. T. Tampubolon and E. M. Br Siahaan, “Self-Adjustment Profile of Adolescents with Overprotective Parents,” Innovative Journal of Social Science Research, vol. 4, pp. 6450–6462, 2023.
D. M. Hasrullah, A. Khumas, and E. S. Jafar, “Relationship Between Psychological Well-Being and Self-Adjustment Among Wives Living with Parents-in-Law,” Peshum: Journal of Education, Social, and Humanities, vol. 2, no. 4, pp. 636–645, 2023, doi: 10.56799/peshum.v2i4.1811.