Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer
Business and Economics
DOI: 10.21070/acopen.9.2024.2678

Cost Distortion and Profitability: Evaluating Activity-Based Costing Systems


Sistem Activity Based Costing: Dampak Distorsi Biaya dan Profitabilitas - Studi Deskriptif Kuantitatif

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

resume keywords keyword research manuscript keywords Python keywords bullet points

Abstract

This study aimed to investigate the implementation of Activity Based Costing System (ABC) on cost distortion and profitability in PT. Bina Graha Sejahtera. The research method used was a quantitative descriptive study with field research techniques. The research object was PT. Bina Graha Sejahtera, and the subject was the Cost of Goods Manufactured Report for the year 2019. The results showed that the implementation of ABC resulted in lower cost calculations for Plate Joint Spun Pile 400 mm and 500 mm products, which were Rp. 133,266 and Rp. 160,290, respectively. The profitability level of the company also increased to 8% for both products. The implication of this study is that the implementation of ABC can reduce cost distortion and increase profitability in companies. Highlight :
  • Resume keywords and phrases are specific abilities, skills, expertise, and traits recruiters and hiring managers look for in a candidate.
  • Keyword research can provide insights into current marketing trends and help center content on relevant customer acquisition.
  • Keywords in a manuscript should convey the main topics of the study, highlight the importance of the research, be concise, and attract readers.

Keywords: resume keywords, keyword research, manuscript keywords, Python keywords, bullet points.

PENDAHULUAN

Perkembangan dunia bisnis saat ini sangat dipengaruhi dengan adanya perkembangan teknologi yang membawa perubahan sangat signifikan yaitu peningkatan persaingan global antar perusahaan lainnya[1]. Perusahaan tidak hanya bersaing secara lokal akan tetapi harus bisa bersaing dengan perusahaan global. Untuk itu perusahaan yang berada di Indonesia diwajibkan mampu membangun suatu pondasi yang kuat agar mampu menghadapi persaingan bebas didalam negeri, yang membawa dampak persaingan yang lebih ketat. Mengharuskan perusahaan untuk dapat memperhitungkan biaya produksi yang tepat guna menentukan harga jual produk[2].

Harga jual produk dapat ditentukan secara tepat apabila perusahaan bisa melakukan perhitungan harga pokok produksi secara benar [3]. Apabila perhitungan harga pokok produksi dilakukan secara benar maka harga jual produk sendiri tidak mengalami pembebanan biaya yang lebih dari seharusnya (overcosted) dan harga jual produk juga tidak mengalami pembebanan biaya yang kurang dari seharusnya (undercosted). Salah satu perusahaan yang jugaharus bersaing dalam persaingan global dan berupaya untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan yaitu perusahaan manufaktur [4].

Perhitungan harga pokok produksi adalah semua komponen biaya yang dikeluarkan dalam memproses suatu bahan baku sampai menjadi produk jadi yang siap untuk dipasarkan dalam suatu periode waktu tertentu [5]. Perusahaan akan mengalami kerugian apabila perusahaan sendiri salah dalam perhitungan harga pokok produksi yang tidak tepat. Pedoman penentuan harga jual produk jadi perusahaan yaitu dengan melihat perhitungan dari harga pokok produksi perusahaan dan harga pokok produksi sendiri menjadi patokan dalam penentuan profit atau laba perusahaan yang diinginkan [6].

Perseroan Terbatas (PT) Bina Graha Sejahtera adalah suatu perusahaan yang bergerak dibidang aktivitas kebersihan umum bangunan, penyedia sumber daya manusia dan manajemen fungsi sumber daya manusia,

konstruksi gedung industri, aktivitas penyediaan tenaga kerja waktu tertentu dan manufaktur. Lokasi perusahaan di Dusun Bandulan RT 007 RW 006, Kel. Kejapanan, Kec. Gempol, Kab. Pasuruan, Prov. Jawa Timur. Menurut Antoni Rivano selaku bagian keuangan PT Bina Graha Sejahtera, dalam perusahaan ini masih menerapkan metode perhitungan harga pokok produksi menggunakan metode konvensional. Dampak dari perhitungan harga pokok produksi menggunakan metode konvensional yaitu perusahaan seringkali mengalami kesulitan untuk mengetahui indikasi apa saja yang menimbulkan biaya. Dan banyak informasi keuangan perusahaan yang tidak dapat disampaikan oleh perhitungan biaya menggunakan metode konvensional.

Metode perbaikan dari sistem konvensional yaitu dengan menerapkan metode perhitungan harga pokok produksi berdasarkan aktivitas atau Activity Based Costing System. Karena dengan cara menerapkan metode perhitungan harga pokok produksi berdasarkan aktivitas atau Activity Based Costing System, dianggap mampu memberikan informasi atau alokasi biaya terkait biaya overhead pabrik yang paling akurat atau relevan [6]. Didalam hal ini didukung oleh beberapa penelitian terdahulu yang menyatakan bahwa Activity Based Costing System dapat meningkatkan profitabilitas perusahaan dan dapat memberikan informasi tentang harga pokok produksi secara akurat dan relevan. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Anugrah Desya Triani, Rini Lestari, dan Epi Fitriah menunjukkan hasil dari penelitian tersebut terjadi selisih antara metode perhitungan harga pokok produksi berdasarkan aktivitas atau Activity Based Costing System dengan hasil perhitungan harga pokok produksi berdasarkan metode konvensional yang dilakukan perusahaan. Dan Tingkat profitabilitas yang dihasilkan oleh metode Activity Based Costing System meningkat dari profitabilitas yang dihasilkan perusahaan dengan menggunakan perhitungan harga pokok produksi secara konvensional. Hal ini menunjukkan bahwa metode perhitungan harga pokok produksi menggunakan metode Activity Based Costing System mampu meningkatkan profitabilitas perusahaan, karena metode ini memberikan informasi yang lebih rinci dalam pengelompokkan biaya overhead pabrik sehingga tidak terjadi distorsi biaya [7]. Namun penelitian oleh Binti Ro’isatul Bariyah menunjukkan bahwa sistem perhitungan harga pokok produksi konvensional sudah tepat. Karena perusahaan yang diteliti tidak memiliki banyak produk yang hasilkan. Yang menjadi masalah dalam penerapan metode perhitungan harga pokok produksi berdasarkan aktivitas atau Activity Based Costing System dalam perusahaan ini yaitu perusahaan memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengetahui biaya ke dalam setiap aktivitas produksi. Perusahaan juga mengeluarkan banyak biaya untuk membayar tenaga kerja yang memadai untuk melakukan perhitungan harga pokok produksi bersadarkan aktivitas atau Activity Based Costing System [8].

Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis bermaksud untuk melakukan penelitian yang berjudul “Implementasi Activity Based Costing System terhadap Distorsi Biaya dan Profitabilitas Perusahaan”.

METODE

Jenis penelitian ini yaitu penelitian deskriptif kuantitatif. Vitalogi menjelaskan bahwa penelitian deskriptif kuantitatif yaitu sebuah penelitian yang menjelaskan tentang aspek-aspek yang muncul sesuai dengan fenomena yang ditemui penulis didalam subjek yang diteliti atau menjelaskan data-data terkait penelitian yang berhubungan dengan variabel penelitian [9].

Lokasi penelitian ini dilakukan di PT Bina Graha Sejahtera yang beralamat di Dusun Bandulan RT 007 RW 006, Kel. Kejapanan, Kec. Gempol, Kab. Pasuruan, Prov. Jawa Timur.

Subjek dalam penelitian ini yaitu Data Laporan Harga Pokok Produksi PT Bina Graha Sejahtera Tahun 2019. Sedangkan objek dalam penelitian ini yaitu PT Bina Graha Sejahtera.

Dalam penelitian ini menggunakan dua jenis data, yang pertama jenis data kualitatif dan yang kedua jenis data kuantitatif. Menurut Sugiono, data kualitatif merupakan sekumpulan data-data yang berupa kata, skema dan gambar [10]. Didalam penelitian ini data kualitatif yang diambil melalui proses wawancara kepada pihak perusahaan. Sedangkan data kuantitatif menurut Sugiono yaitu data-data yang berupa angka [10]. Didalam penelitian ini data kuantitatif yang digunakan berupa Data Laporan Harga Pokok Produksi PT Bina Graha Sejahtera tahun 2019.

Didalam suatu penelitian pasti memerlukan metode untuk mengumpulkan data-data terkait penelitian atau membutuhkan teknik untuk mengumpulkan data-data tersebut. Menurut Sugiono, teknik pengumpulan data yaitu proses strategis dalam penelitian yang bertujuan untuk mengumpulkan data-data terkait penelitian yang sesuai dengan standar yang telah ditentukan peneliti [10]. Berpedoman pada definisi tersebut maka teknik dalam pengumpulan data-data terkait penelitian ini sebagai berikut :

Field research (Penelitian lapangan)

Observasi, menglihat dan mengawasi secara langsung kepada objek yang akan diteliti, kemudian mengumpulkan data-data yang ada.

Wawancara, dengan melakukan wawancara atau bertanya secara langsung kepada pihak terkait untuk mendapatkan data-data yang terkait dengan penelitian ini.

Nomor Nama Posisi
1. Imam Aubekti Kepala Bagian Produksi
2. Antoni Rivano Bagian Keuangan
Table 1.Daftar Informan

Pengumpulan data tertulis, yaitu dengan meminta data berupa laporan harga pokok produksi PT Bina Graha Sejahtera tahun 2019.

Berikut ini adalah prosedur dalam melakukan analisis data-data sudah didapatkan oleh peneliti :

Mengumpulkan berbagai data-data yang sesuai dengan apa dibutuhkan dalam penelitian ini. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini yaitu data laporan harga pokok produksi PT Bina Graha Sejahtera tahun 2019, serta berbagai dokumen lainnya sebagai pendukung melalui observasi, wawancara dan pengumpulan data tertulis;

Setelah semua data terkumpul, langkah selanjutnya yaitu melakukan perhitungan harga pokok produksi menggunakan sistem perhitungan harga pokok produksi berdasarkan aktivitas atau activity based costing system. Tahapan pertama yaitu mengindentifikasi aktivitas-aktivitas apa saja yang berkaitan dengan proses produksi. Kemudian langkah berikutnya yaitu menentukan jumlah biaya terkait aktivitasnya masing-masing. Lalu kemudian mengelompokkan aktivitas-aktivitas yang sama menjadi satu. Setelah itu langkah berikutnya dengan menjadikan satu biaya aktivitas yang dikelompokkan tadi. Dan langkah terakhir yaitu memperhitungkan biaya per kelompok aktivitas;

Kemudian tahapan kedua melakukan pembebanan produk dengan biaya aktivitas yang sudah dihitung;

Setelah melakukan pembebanan biaya aktivitas, langkah selanjutnya yaitu melakukan analisis hasil dari perhitungan harga pokok produksi yang dilakukan oleh peneliti menggunakan sistem perhitungan harga pokok produksi berdasarkan aktivitas atau activity based costing system terhadap distorsi biaya dan profitabilitas perusahaan pada PT Bina Graha Sejahtera;

Setelah melakukan analisis perhitungan harga pokok produksi tersebut. Langkah terakhir yaitu menarik kesimpulan hasil analisis perhitungan harga pokok produksi yang dilakukan oleh peneliti menggunakan perhitungan harga pokok produksi berdasarkan aktivitas atau activity based costing system.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Perusahaan

Perseroan Terbatas (PT) Bina Graha Sejahtera didirikan pada tahun 2015, perusahaan ini di dirikan oleh Bapak Maliawan. Yang awalnya perusahaan ini berbentuk persekutuan komanditer atau Commanditer Vennootschap (CV) Bina Graha Sejahtera. Dalam perkembangannya perusahaan ini kemudian beralih menjadi Perseroaan Terbatas (PT) pada tahun 2018. Perusahaan ini bergerak dibidang aktivitas kebersihan umum bangunan, penyedia sumber daya manusia dan manajemen fungsi sumber daya manusia, konstruksi gedung industri, aktivitas penyediaan tenaga kerja waktu tertentu dan manufaktur.

Produk yang dihasilkan oleh PT Bina Graha Sejahtera berupa Plat Sambung Tiang Pancang atau Plate Joint Spun Pile. Terdapat dua jenis produk Plat Sambung Tiang Pancang atau Plate Joint Spun Pile ini berdasarkan lebar diameternya. Yang pertama yaitu produk Plat Sambung Tiang Pancang atau Plate Joint Spun Pile dengan diamater 400 mm dan yang kedua yaitu produk Plat Sambung Tiang Pancang atau Plate Joint Spun Pile dengan diamater 500 mm.

Didalam Company Profile PT Bina Graha Sejahtera terdapat visi dan misi yang harus dicapai oleh perusahaan sebagai berikut :

Visi

Perseroan Terbatas (PT) Bina Graha Sejahtera untuk bisa menjadi perusahaan yang mampu bersaing dan unggul, maka diperlukan visi yang kuat serta berkomitmen yang tinggi. Maka dari itu, Perseroan Terbatas (PT) Bina Graha Sejahtera mempunyai visi “Menjadi Perusahaan Terkemuka Dan Menjadi Perusahaan Unggul Dalam Bidangnya”

Misi

Perseroan Terbatas (PT) Bina Graha Sejahtera memiliki tiga misi untuk mewujudkan visi dari perusahaan, tiga misi yang dimiliki perusahaan yaitu sebagai berikut :

Menyediakan jasa dan produk yang mampu bersaing dengan perusahaan pesaing dan mampu memenuhi keinginan customer,

Menjalankan sistem yang berbasis teknologi dan sistem manajamen yang tepat guna meningkatkan efisiensi dalam perusahaan,

Mengembangkan kompetensi yang dimiliki oleh pegawai dan menjalankan keselamatan dan kesehata kerja para pegawai.

Analisi Data dan Hasil Penelitian

Sebelum melakukan perhitungan harga pokok produksi menggunakan metode activity based costing system ada dua tahapan yang dilakukan. Tahap pertama yang harus dilakukan yaitu mengidentifikasi dan menggolongkan aktivitas-aktivitas yang ada kedalam dua level (level activities), pengidentifikasian cost driver, memilah beberapa kelompok-kelompok aktivitas yang sama, dan langkah yang terakhir pada tahap pertama yaitu menentukan tarif kelompok (pool rate). Dan tahap kedua menelusuri biaya overhead pabrik yang dibebankan kedalam unit produk yang diproduksi.

1. Tahap Pertama

a. Mengidentifikasi dan menggolongkan aktivitas-aktivitas yang ada kedalam dua level aktivitas (level activities).

AKTIVITAS OVERHEAD PABRIK LEVEL AKTIVITAS
Biaya Bahan Penolong Level Unit
Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung Level Unit
Biaya Pemeliharaan Bangunan Level Fasilitas
Biaya Telepon Level Fasilitas
Biaya Transportasi Level Fasilitas
Biaya Mesin dan Listrik Level Fasilitas
Biaya Penyusutan Bangunan Level Fasilitas
Biaya Penyusutan Mesin Level Fasilitas
Table 2.Daftar Aktivitas di PT Bina Graha Sejahtera Tahun 2019

b. Pengidentifikasian Biaya Pengendali atau Cost Driver.

Setelah melakukan pencatatan semua aktivitas yang terjadi selama proses produksi dan menggolongkan kedalam level aktivitas (level activities), langkah selanjutnya yaitu mengidentifikasi cost driver dari setiap aktivitas yang terjadi.

NO. AKTIVITAS OVERHEAD PABRIK LEVEL AKTIVITAS COST DRIVER
1 Biaya Bahan Penolong Level Unit Unit Produk
2 Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung Level Unit Unit Produk
3 Biaya Pemeliharaan Bangunan Level Fasilitas Jam Tenaga Kerja Langsung
4 Biaya Transportasi Level Fasilitas Jam Tenaga Kerja Langsung
5 Biaya Telepon Level Fasilitas Jam Mesin dan Listrik
6 Biaya Mesin dan Listrik Level Fasilitas Jam Mesin dan Listrik
7 Biaya Penyusutan Bangunan Level Fasilitas Luas Area
8 Biaya Penyusutan Mesin Level Fasilitas Luas Area
Table 3.Penentuan Biaya Pengendali atau Cost Driver PT Bina Graha Sejahtera Tahun 2019

c. Menentukan kelompok-kelompok aktivitas yang homogen.

Pembentukan cost pool yang homogen bertujuan untuk merampingkan pembentukan cost pool yang terlalu banyak, karena aktivitas yang memiliki cost driver yang berhubungan dapat dimasukkan kedalam sebuah cost pool dengan menggunakan salah satu cost driver yang dipilih.

PENGELOMPOKKAN COST POOL COST DRIVER COST POOL JUMLAH
COST POOL 1
a) Biaya Bahan Penolong Unit Produk Rp 50.000.000 Rp 230.000.000
Biaya Tenaga Kerja Tidak Langsung Rp 180.000.000
COST POOL 2
a) Biaya Pemeliharaan Bangunan Jam Tenaga Kerja Langsung Rp 10.000.000 Rp 110.000.000
Biaya Transportasi Rp 100.000.000
b) Biaya Telepon Jam Mesin dan Listrik Rp 12.000.000 Rp 132.000.000
Biaya Mesin dan Listrik Rp 120.000.000
c) Biaya Penyusutan Bangunan Luas Area Rp 8.500.000 Rp 18.500.000
Biaya Penyusutan Mesin Rp 10.000.000
Table 4.Rincian Biaya Per Aktivitas Cost Pool PT Bina Graha Sejahtera Tahun 2019
NO. COST DRIVER PLATE JOINT SPUN PILE 400 mm PLATE JOINT SPUN PILE 500 mm JUMLAH
1 Unit Produk 12000 13200 25200 unit
2 Jam Tenaga Kerja Langsung 1680 1920 3600 jam
3 Jam Mesin dan Listrik 1200 1440 2640 jam
4 Luas Area 625 750 1375 meter
Table 5. Rincian Biaya Pengendali atau Cost Driver PT Bina Graha Sejahtera Tahun 2019

d. Menentukan tarif kelompok (pool rate).

Setelah melakukan pengelompokkan aktivitas yang homogen atau cost pool yang homogen, kemudian langkah berikutnya yaitu menentukan tarif per unit cost driver. Tarif kelompok (pool rate) merupakan tarif biaya overhead pabrik per unit cost driver yang dihitung untuk suatu kelompok aktivitas. Tarif kelompok dihitung dengan menggunakan rumus total dari biaya overhead pabrik untuk kelompok aktivitas tertentu dibagi dengan dasar pengukur aktivitas kelompok tersebut. Tarif per unit cost driver dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Tatif BOP per kelompok aktivitas = (BOP Kelompok aktivitas tertentu)/(Driver biayanya)

COST POOL TARIF COST POOL COST DRIVER POOL RATE
(a) (b) (a):(b)
Cost Pool 1 a) Rp 230.000.000 25200 Rp 9.127
Cost Pool 2 a) Rp 110.000.000 3600 Rp 30.556
b) Rp 132.000.000 2640 Rp 50.000
c) Rp 18.500.000 1375 Rp 13.455
Table 6.Tarif Biaya Overhead Pabrik Per Kelompok Aktivitas PT Bina Graha Sejahtera

2. Tahap Kedua

Tahap kedua dalam menentukan harga pokok produksi berdasarkan aktivitas atau activity based costing system yaitu biaya untuk setiap kelompok biaya overhead pabrik dicari ke berbagai jenis produk yang dihasilkan perusahaan. Jadi, biaya overhead pabrik ditentukan dari setiap kelompok biaya ke setiap unit produk dengan rumus perhitungan sebagai berikut :

Biaya overhead pabrik yang dibebankan = Tarif Kelompok X Unit Cost Driver

COST POOL TARIF POOL RATE COST DRIVER JUMLAH
(a) (b) (Rp)
Cost Pool 1 a) Rp 9.127 12000 Rp 109.523.810
Cost Pool 2 a) Rp 30.556 1680 Rp 51.333.333
b) Rp 50.000 1200 Rp 60.000.000
c) Rp 13.455 625 Rp 8.409.091
Total tarif COST POOL PLATE JOINT SPUN PILE 400 mm Rp 229.266.234
Table 7.Biaya Overhead Pabrik Yang Dibebankan Produk Plate Joint Spun Pile 400 mm
COST POOL TARIF POOL RATE COST DRIVER JUMLAH
(a) (b) (Rp)
Cost Pool 1 a) Rp 9.127 13200 Rp 120.476.190
Cost Pool 2 a) Rp 30.556 1920 Rp 58.666.667
b) Rp 50.000 1440 Rp 72.000.000
c) Rp 13.455 750 Rp 10.090.909
Total tarif COST POOL PLATE JOINT SPUN PILE 500 mm Rp 261.233.766
Table 8.Biaya Overhead Pabrik Yang Dibebankan Produk Plate Joint Spun Pile 500 mm

Setelah melakukan perhitungan biaya overhead pabrik yang dibebankan, maka tahap berikutnya yaitu menghitung harga pokok produksi berdasarkan aktivitas atau activity based costing system.

KETERANGAN PLATE JOINT SPUN PILE 400 mm PLATE JOINT SPUN PILE 500 mm
Biaya Bahan Baku Rp 967.920.000 Rp 1.452.600.000
Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp 402.000.000 Rp 402.000.000
Biaya Overhead Pabrik Rp 229.266.234 Rp 261.233.766
Harga Pokok Produksi Rp 1.599.186.234 Rp 2.115.833.766
Jumlah Unit Produk 12.000 13.200
Harga Pokok Produksi Per Produk Rp 133.266 Rp 160.290
Table 9.Perhitungan Harga Pokok Produksi Dengan Metode Activity Based Costing System Untuk Produk Plate Joint Spun Pile 400 mm dan Plate Joint Spun Pile 400 mm PT Bina Graha Sejahtera Tahun 2019

Berdasarkan data diatas dapat dilihat bahwa hasil perhitungan harga pokok produksi berdasarkan aktivitas atau activity based costing system pada tahun 2019 untuk jenis produk Plate Joint Spun Pile 400 mm sebesar Rp. 133.266,- sedangkan untuk jenis produk Plate Joint Spun Pile 500 mm sebesar Rp. 160.290,-.

Sedangkan untuk perhitungan tingkat profitabilitas bisa dilihat ditabel 10 dibawah ini :

JENIS PRODUK KETERANGAN HPP KONVENSIONAL HPP ABC SYSTEM SELISIH
PLATE JOINT SPUN PILE 400 mm Harga Pokok Produksi Rp 134.993 Rp 133.266 Rp 1.727
Harga Jual Produk Rp 145.000 Rp 145.000
Laba Kotor Rp 10.007 Rp 11.734
Tingkat Profitabilitas 7% 8% 1%
PLATE JOINT SPUN PILE 500 mm Harga Pokok Produksi Rp 167.015 Rp 160.290 Rp 6.725
Harga Jual Produk Rp 175.000 Rp 175.000
Laba Kotor Rp 7.985 Rp 14.710
Tingkat Profitabilitas 5% 8% 3%
Table 10.Perhitungan Tingkat Profitabilitas Untuk Produk Plate Joint Spun Pile 400 mm dan Plate Joint Spun Pile 400 mm PT Bina Graha Sejahtera Tahun 2019

KESIMPULAN

Berdasarkan dari hasil analisis data dan pembahasan mengenai Implementasi Activity Based Costing System terhadap Distorsi Biaya dan Profitabilitas Perusaahaan di PT Bina Graha Sejahtera yang ada di bab sebelumnya, maka dapat ditarik kesimpulan dari permasalahan yang dibahas yaitu sebagai berikut :

Dalam perhitungan harga pokok produksi pihak manajemen PT Bina Graha Sejahtera masih menggunakan metode perhitungan tradisional atau konvensional. Dasar perhitungan dalam metode ini yaitu dengan cara menambahkan biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik. Lalu kemudian dari hasil perhitungan tersebut dibagi dengan total unit produk yang dikeluarkan dari proses produksi.

Penerapan perhitungan harga pokok produksi berdasarkan aktivitas atau Activity Based Costing System pada unit produk Plate Joint Spun Pile 400 mm dan unit produk Plate Joint Spun Pile 500 mm dilakukan dengan beberapa tahapan. Tahap pertama yaitu dengan cara mengidentifikasi dan menggolongkan aktivitas-aktivitas kedalam dua level aktivitas (Level Activities), level aktivitas yang pertama adalah level unit dan yang kedua adalah level fasilitas. Kemudian melakukan pengidentifikasian biaya pengendali (Cost Driver) dari setiap aktivitas. Setelah melakukan pengidentifikasian biaya pengendali (Cost Driver), maka dapat ditentukan kelompok-kelompok biaya yang seragam atau homogen. Langkah berikutnya yaitu menentukan tarif kelompok atau (Pool Rate) dari setiap biaya pengendali (Cost Driver). Tahap terakhir yaitu melakukan perhitungan biaya overhead pabrik yang dibebankan, kemudian melakukan perhitungan harga pokok produksi berdasarkan aktivitas atau Activity Based Costing System. Dari hasil perhitungan harga pokok produksi tersebut ditahun 2019 untuk unit produk Plate Joint Spun Pile 400 mm sebesar Rp. 133.266,- dan untuk unit produk Plate Joint Spun Pile 500 mm sebesar Rp. 160.290,-.

Selisih hasil perhitungan dari harga pokok produksi menurut pihak manajemen perusahaan dengan perhitungan harga pokok produksi menggunakan metode Activity Based Costing System sebesar Rp. 1.727,- untuk unit produk Plate Joint Spun Pile 400 mm dan sebesar Rp. 6.725,- untuk unit produk Plate Joint Spun Pile 500 mm. Hal ini terjadi disebabkan karena terdapat perbedaan dalam pembebanan biaya overhead pabrik yang dilakukan pihak manajemen perusahaan dengan perhitungan harga pokok produksi berdasarkan aktivitas atau Activity Based Costing System.

Tingkat profitabilitas yang dihasilkan dengan menerapkan perhitungan harga pokok produksi berdasarkan aktivitas atau Activity Based Costing System menghasilkan tingkat profitabilitas yang lebih tinggi dari tingkat profitabilitas yang didapatkan perusahaan sebelumnya. Untuk produk Plate Joint Spun Pile 400 mm tingkat profitabilitasnya sebesar 8%, lebih tinggi 1% dari perhitungan harga pokok produksi yang digunakan perusahaan. Sedangkan untuk produk Plate Joint Spun Pile 500 mm tingkat profitabilitasnya sebesar 8%, lebih tinggi 3% dari perhitungan harga pokok produksi perusahaan. Hal ini terjadi karena perusahaan terlalu tinggi dalam membebankan biaya overhead pabrik yang sesungguhnya. Sehingga harga pokok produksi yang dihasilkan akan lebih tinggi dari perhitungan harga pokok produksi berdasarkan aktivitas atau Activity Based Costing System.

References

  1. E. & J. S. Apriyani, "Analisa Penerapan Activity Based Costing System dalam Menentukan Harga Pokok Produksi Project ROV’s pada PT. Oceaneering Batam," Vol. 11, No. 1, pp. 51–64, 2017.
  2. T. S. Pramono, "Artikel Analisis Penentuan Harga Pokok Produksi dengan Menggunakan Activity Based Costing System (ABC) dan Sistem Tradisional untuk Menentukan Laba Penjualan pada PT. Kediri Tani Sejahtera," Simki-Economic, Vol. 02, No. 01, 2018.
  3. A. D. Triani, R. Lestari, and E. Fitriah, "Analisis Penerapan Activity Based Costing System dalam Perhitungan Harga Pokok Produksi untuk Meningkatkan Tingkat Profitabilitas Perusahaan," Vol. 6, pp. 256–261, 2020.
  4. B. Ro’isatul Bariyah, "Penerapan Metode Activity Based Costing dalam Menentukan Harga Pokok Produksi," J. Ekon. Akunt., Vol. 5, pp. 77–88, 2020.
  5. V. Vitalogi, "Analisis Perhitungan Harga Pokok Produksi dengan Menerapkan Activity Based Costing pada PT. I-Won Apparel Indonesia," 2017.
  6. Sugiono, "Metode Penelitian Kombinasi (Mix Metods)," Bandung: Alfabeta, 2015.