Skip to main navigation menu Skip to main content Skip to site footer
Education
DOI: 10.21070/acopen.6.2022.2612

The Problems of Online Learning for Islamic Education Subjects During the Covid-19 Pandemic in Vocational High Schools


Problematika Pembelajaran Daring Mata Pelajaran PAI Dimasa Pandemi Covid-19 Di Sekolah Menengah Kejuruan

Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia
Universitas Muhammadiyah Sidoarjo
Indonesia

(*) Corresponding Author

Problematika Pembelajaran Daring Mata Pelajaran PAI Covid-19 SMK Negeri 1 Buduran

Abstract

This article aims to find out the problems of online learning of Islamic religious education subjects during the covid-19 pandemic, there are several research results, namely: (1) In the online learning process of PAI folders during the covid pandemic, it has been going well, by providing online material and giving assignments. utilizing the WhatsApp Group application, (2) The problems that arise during online learning from students are; lack of interest in learning, limitations of devices and networks, low understanding, lack of mastery of the atmosphere in the classroom and mastery of the field of technology (3) Efforts made by the school are to facilitate students who are constrained by networks and devices as well as school teachers and conduct coaching and include teachers, especially Islamic religious education teachers.

Pendahuluan

Pada saat ini negara Indonesia telah tertimpa musibah dengan menyebarnya virus menular yaitu virus Covid-19. Penyebaran virus corona atau Covid-19 menjadikan tantangan tersendiri bagi lembaga pendidikan di Indonesia. Salah satu untuk mengantisipasi penularan virus ini pemerintah membuat tahapan-tahapan seperti sisoal distancing, physical distancing, pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Kondisi tersebut menjadikan segala aktivitas manusia menjadi sangat terbatas karena masyarakat diharuskan untuk tetap diam dirumah, bekerja, belajar, maupun dalam hal beribadah. [1]

Namun pelaksanaan proses pembelajaran harus tetap dilakukan termasuk dalam mata pelajaran PAI memiliki tujuan tidak lain yaitu memberikan pengetahuan-pengetahuan ajaran agama Islam guna untuk membentuk kepribadian baik serta mempu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai ajaran Islam yang ditanamkan dalam pembelajaran harus diintregrasikan dengan berbagai aspek kehidupan berbasis masalah melalui remodelling pembelajaran yang lebih menarik [2]

Di SMK Negeri 1 Buduran ternyata selama pandemi covid-19 juga menganut dengan peraturan surat edaran Mendikbud Nomor 4 tahun 2020; menganjurkan untuk melaksanakan proses belajar mengajar dari rumah melalui pembelajaran online atau daring. proses pembelajaran daring diharapkan dapat membantu untk keektifan kegiatan pembelajaran ditengah wabah covid-19 ini. [3]

Pembelajaran daring adalah suatu proses pembelajaran yang dilakukan dengan secara tidak langsung (online) atau tidak ada interaksi secara langsung antara guru dengan murid. Biasanya menggunakan suatu aplikasi pembelajaran maupun jejaring sosial. Semua aktivitas kelas dilakukan dlam aplikasi pembelajaran itu termasuk berdiskusi, melakukan tes, tanya jawab, dll. Pembelajaran melalui daring atau online guru di tuntut untuk lebih inovatif dalam menyusun langkah-langkah suatu pembelajaran. Hal ini membuat guru harus bisa beradaptasi yang awalnya pembelajaran tatap muka sekarang menjadi pembelajaran online atau daring. [4]

Nyatanya dalam pelaksanaan pembelajaran daring pada mata pelajaran PAI tidak berjalan dengan mulus karena muncul beberapa problem yang dihadapi oleh peserta didik. Oleh karenaitu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang Problematika Pembelajaran Daring Mata Pelajaran PAI Dimasa Pandemi Covid-19 di SMK Negeri 1 Buduran.

Metode Penelitian

Jenis dan Pendekatan Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif. Menurut Lexy J. Moloeng penelitian kualitatif merupakan suatu prosedur penelitian yang mengahasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. [5] Penelitian ini bertujuan untuk memahami fenomena yang terjadi di lapangan, membuat pencandraan secara sistematis, factual, dan akurat mengenai fakta dan bersifat populasi atau daerah tertentu.

Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah orang yang telah memberikan suatu informasi kepada peneliti tentang kondisi yang akan diteliti atau juga orang yang terlibat langsung dalam penelitian dan menjadi sumber utama dalam penacarian data penelitian. [6] adapun subyek dalam penelitian ini adalah Waka Kurikulum, Guru PAI, dan siswa kelas IX Busana 1.

Jenis dan Sumber Data

Jenis data adalah sekumpulan data yang didapatkan dalam penelitian, sehingga data dapat dianalisis guna untuk mendapatkan sebuah kesimpulan dalam penelitian. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kualitatif. Dalam penelitian kualitatif terdapat dua jenis sumber data yaitu sember data primer dan sumber data sekunder. dalam sumber data sekunder data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data tertulis. [7]

Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan bagian yang paling tepat dalam penelitian karena sesuai dengan tujuan utama dalam penelitian yaitu memperoleh data. [8] dalam teknik pengumpulan data peneliti menerapkan beberapa metode diantaranya yaitu metode observasi merupakan suatu kegiatan pengamatan tentang sesuatu terhadap suatu objek dengan memanfaatkan seluruh alat indera [9], metode wawancara merupakan suatu percapakan dialog yang dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh suatu informasi dari narasumber, teknik dokumentasi adalah data yang diperlakukan untuk menjawab suatu masalah penelitian dikaji dalam dokumen atau bahan pustaka, yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dll [10].

Teknik Analisis dan Interprestasi

Dalam hal ini penulis menganalisis data menggunakan teknik analisis data kualitatif model Miles anda Huberman. Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan saat pengumpulan data berlangsung, setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Apabila jawaban narasumber setelah dianalisis terasa belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan kembali, sampai tahap tertentu, diperoleh data yang dianggap kredibel. Miles dan Huberman (1984), mengatakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatf dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menurus sampai selesai, sehingga datanya sudah terpenuhi. Aktivitas dalam analisis data, yaitu data reduction, data display, dan sonclusion drawing/ verification.

Hasil dan Pembahasan

Berdasarkan penelitian dan kenyataan yang penulis lakukan, maka terdapat beberapa data tentang problematika pembelajaran daring dimata pelajaran pendidikan agama Islam di masa pandemi covid-19 di SMK Negeri 1 Buduran dengan berbagai cara penulis akan mengemukakan hasil penelitian berdasarkan urutan penyajian data sebagai berikut :

Proses Pembelajaran Daring Mata Pelajaran PAI Dimasa Pandemi Covid-19

Membuka pelajaran adalah kegiatan yang dilakukan oleh guru untuk mempersiapkan mental dan menimbulkan perhatian peserta didik. hal ini supaya peserta didik berpusat pada hal-hal yang akan dipelajari. Dalam penyajian materi, strategi guru sangat penting dalam menyampaikan materi karena dengan strategi penyampaian materi pembelajaran dengan tepat akan dapat mencapai dari tujuan suatu pembelajaran.

Sedangkan penutup pembelajaran adalah kegiatan yang dilakukan guru untuk mengakhiri kegiatan inti pelajaran. Usaha menutup pelajaran tersebut dimaksudkan untuk memberikan gambaran menyeluruh tentang apa yang telah dipelajari oleh peserta didik, mengetahui tingkat pencapaian peserta didik dan tingkat keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar.

Di SMK Negeri 1 Buduran dalam proses pembelajaran daring mata pelajaran PAI dimasa pandemi covid-19 memanfaatkan beberapa aplikasi yang dapat mendukung dalam pembelajaran yakni antara lain: google class room, youtube, google meet, meeting zoom, whatsapp group, dll.

Problematika yang Muncul pada Pembelajaran Daring Mata Pelajaran PAI Dinasa Pandemi Covid-19

Problem pembelajaran daring (online) pendidikan agama Islam terdapat pada beberapa komponen antara lain permasalahan yang terjadi pada peserta didik, dan permasalahan yang terjadi pada guru.

  1. Problem Peserta Didik

Kurangnya Motivasi Belajar

Movitasi belajar sangat diperlukan dalam berlangsungnya proses belajar mengajar, karena motivasi merupakan sutu kondisi yang mendorong seseorang untuk bertindak, berbuat serta bertingkah laku bertujuan untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu motivasi belajar diperlukan dalam proses belajar mengajar dikarenakan motivasi itu akan dapat menggugah anak untuk tetap bersemangat dalam belajar. Namun jika didalam proses belajar mengajar terjadi kurangnya minat belajar pada peserta didik, maka hal tersebut dapat menghambat tujuan dari pembelajaran itu.

Keterbatasan Masalah Jaringan

Pembelajaran jarak jauh antar guru dan peserta didik yang dilaksanakan ditengah pandemi covid-19 ini memanfaatkan jaringan internet. Kestabilan jaringan internet sangat diperlukan dalam proses pembelajaran daring. sehingga memunculkan permasalahan tersendiri bagi guru maupun peserta didik. Bantuan kuota internet dari pemerintah sangat membantu sekali karena sebelum pemerintah memberikan bantuan peserta didik menggunakan kuota pribadinya.

Keterbatasan dari segi perangkat

Keterbatasan dari segi perangkat ini dilatar belakangi karena faktor ekonomi orang tua yang berdeda-beda pada peserta didik. Sedangkan untuk menunjang pembelajaran daring memerlukan handphone androit dalam pelaksanaanya. Pada realitanya pada peserta didik yang terkendala dalam dari segi perangkat terpaksa harus bergantian dengan orang tuanya, kerena peserta didik belum mempunyai handphone androit sendiri.

Pemahaman Relatif Rendah

Berdasarkan hasil yang diperoleh, bahwa sejak diberlakukannya pembelajaran daring, dalam pemberian mata pelajaran pendidikan agama Islam hanya dilakukan melalui pembelajaran jarak jauh saja. Maka dari itu guru dituntut untuk lebih berkreasi dalam pembelajarannya agar peserta didik dapat mudah dalam menyerap materi yang telah diajarakan. Namun pada kenyataanya pelaksanaan proses pembelajaran peserta didik kurang begitu paham dengan materi yang diajarakan. Sehingga menjadikan pembelajaran daring sangat pasif tidak ada keaktifan peserta didik untuk bertanya jawab tentang materi yang belum dimengerti.

Alokasi waktu

Masalah waktu memang menjadi bahan perhatian dalam pembelajaran, karena tanpa waktu yang ada mustahil sebuah media digunakan dalam waktu yang memadai. Waktu merupakan hal yang sangat perlu dipertimbangkan dalam strategi belajar sehingga alokasi waktu yang tersedia cukup dalam menggunakannya.

  1. Problem Pendidik

Minimnya Kompetensi Guru dalam Menguasai Suasana dan Peserta didik

Kurangnya kemampuan guru dalam menguasai suasana dan peserta didik dapat dianalisah bahwa, hal tersebut menyebabkan pelajaran PAI kurang begitu diminati peserta didik dalam pembelajarannya. Sehingga tidak sedikit peserta didik kurang memperhatikan saat guru memberikan materi. Oleh karena itu perhatian guru dan standarisasi guru juga harus diperhatikan.

Kurangnya Pemahaman dalam Bidang Teknologi

Pemanfaatkan bidang teknologi dalam pembelajaran merupakan satu-satunya cara agar pembelajaran dapat dilakukan ditengah wabah covid-19 ini, dimana pembelajaran dilaksanakan berbasis aneka sumber belajar. Pendidik tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar. Disamping itu, berdasarkan tujuan dari pembelajaran daring dengan memanfaatan beberapa jenis aplikasi yang dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran. Oleh karena itu, penting sekali bagi pendidik agar menguasai bidang teknologi dalam pembelajaran, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan penilaian hasil belajar.

Upaya Mengatasi Problematika Pembelajaran Daring Mata Pelajaran PAI Dimasa Pandemi Covid-19

Dari beberapa problematika atau permasalahan yang telah diuraikan diatas, maka upaya untuk mengatasi permasalahan pihak SMK Negeri 1 Buduran yaitu antara lain :

  1. Problem Peserta Didik

Solusi Kurangnya Minat belajar Siswa

Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi minat belajar peserta didik menjadi menurun dimasa wabah covid-19 selain karena alasan faktor fasilitas yang belum memadai, salah satunya yaitu minimnya kemampuan guru dalam untuk membuat proses pelaksanaan kegiatan belajar mengajar menjadi suasana yang menyenangkan bagi peserta didik.

Dalam pelaksanaannya pembelajaran daring yang dilakukan oleh guru pendidikan agama Islam hanya melalui dengan rapat online dengan menggunakan aplikasi Google Classroom, Google Meet, Zoom, WhatsApp, serta materi yang bersumber dari Youtube. Hal ini menjadikan siswa menjadi kurang merasakan keterlibatan guru dalam proses kegaiatan belajar mengajar. Untuk hal itu dibutuhkan beberapa tindakan lanjut untuk mengatasinya, yaitu dengan : 1) Metode yang menghibur, 2) Aplikasi yang kreatif, 3) Membuat RPP yang didalamnya melibatkan siswa.

Solusi Keterbatasan Masalah Jaringan

Kestabilan jaringan sangat diperlukan dalam pembelajaran daring, karena hanya dengan sinyal yang baiklah peserta didik dapat mengakses materi pembelajaran. Keterbatasan masalah jaringan ini sudah umum dan hampir sebagain besar dialami oleh pesertas didik dalam melakukan pembelajaran daring. Mengingat harga kuota yang cukup mahal yang menjadikan bahan pertimbangan peserta didik dalam melakukan pemebalajaran daring.

Kemudian pemerintah pun akhirnya memberikan bantuan berupa kuota gratis agar peserta didik dapat menunjang pembelajaran daring. Bantuan berupa kuota belajar ini sangat membantu sekali bagi peserta didik, karena sebelumnya peserta didik dalam pelaksanaan proses pembelajaran menggunakan kuota pribadinya. Dan bila dirasa bantuan subsidi masih kurang, maka pihak sekolah memersilahkan untuk datang ke sekolah untuk menggunakan fasilitas sarana dan prasana yang sudah tersedia di sekolah.

Solusi Keterbatasan dari Segi Perangkat

Keterbatasan dari segi perangkat masih menjadi faktor yang paling berpengaruh dalam menghambatnya proses pelaksanaannya pembelajaran daring. Hal ini dikarenakan latar belakang ekonomi orang tua peserta didik yang berbeda-beda, dan pihak sekolah memaklumi hal ini. dan pihak sekolah memeberikan fasilitas untuk menggunakan kompoter yang berada di laboratorium komputer.

Solusi Pemahaman yang Relatif Rendah

Dalam proses pembelajaran daring yang ajarkan oleh guru agama Islam nampaknya tidak semua peserta didik dapat memahami materi yang telah diajarkan. Pemahaman yang relatif rendah ini selain dikarenakan dari peserta didik memilki karakteristik dalam menangkap materi yang berdeda-beda, ternyata bisa dari faktor guru itu bagaimana dalam mengajar materi pendidikan agama Islam. Seorang guru memang harus dituntut untuk bisa mengatasi problem-problem yang dihadapi pada saat kegiatan belajar berlangsung. Salah satu upaya guru untuk bisa membuat peserta didik untuk mudah dalam menangkap materi, guru menggunakan bahasa yang sederhana serta kelancaran dalam menjelaskan materi yang telah diajarakan tentunya menggunakan metode pembelajaran yang lebih menarik.

Alokasi waktu

Manajeman waktu dalam proses pembelajaran daring merupakan hal yang dibutuhkan agar keberhasilan dari suatu pembelajaran itu tercapai. Sehingga dalam proses pembelajaran daring mata pelajaran PAI hanya menjelaskan tidak terlalu mendetail karena minimnya waktu yang ada dan minim dalam praktiknya.

  1. Problem Pendidik

Minimnya Penguasaan Suasana dan Peserta Didik serta Minimnya Pengusaan dalam Bidang Teknologi

Upaya dalam menganggapi permasalahan guru yang mempunyai permasalahan penguasaan dalam pengambilan suasana peserta dididk serta kurang menguasai dalam bidang teknologi kepala sekolah mengupayakan agar SDM guru bisa lebih ditingkatkan. Salah satunya dengan cara mengadakan pembinaan sati bulan sekali kepada guru-guru yang mempunyai permasalahan dalam pengajaran.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Proses pembelajaran mata pelajaran pendidikan agama Islam pada masa pandemi covid-19 ini dilakukan secara daring. Dalam pelaksanaannya guru dalam pemberian materi yang diajarkan dengan memanfaatkan aplikasi (Zoom Meeting, Google Meet, WhatsApp, Google Class Room, dan Youtube).
  2. Problematika pembelajaran yang muncul pada mata pelajaran pendidikan agama Islam pada pembelajaran daring dimasa pandemi covid-19 yaitu antara lain: kurangnya minat belajar, keterbatasan masalah jaringan, keterbatasan dari segi perangkat, pemahaman yang relatif rendah. Kemudian problem dari peserta didik yakni minimnya penguasaan sausana dan peserta didik serta minimnya penguasaan dibidang teknologi.
  3. Upaya untuk mengatasi problematika peserta didik dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar melalui jarak jauh yaitu dengan memfasilitasi sarana dan prasana yang dibutuhkan oleh peserta didik dalam pembelajaran daring. Kemudian dari kompetensi dalam mengatur suasana dan lebih berkreasi dalam penyampian materi dibutuhkan pihak sekolah mengadakan pelatihan khusus untuk mendampingi guru agar mampu menguasai permasalahn yang dihadapi oleh guru. Dan upaya untuk problem pendidik yaitu, pihak sekolah mengadakan pembinaan serta pelatihan-pelatihan kepada guru-guru khususnya guru pendidikan agama Islam

References

  1. Permendikbud, No 21 Tahun 2020 Tentang PSBB Corona Virus.
  2. Isa Anshori, Problem-Based Learning Remodelling Using Islamic Values Integration and Sociological Reserch in Madrasas, International Journal of Instruction, April. Volime 12, 421.
  3. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, “Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Desease (Covid-19)”, (Jakarta, 2020).
  4. Mastuti, dkk, Teaching From Home: Dari Belajar Merdeka Menuju Merdeka Belajar, (Medan: Yayasan Kita Menulis, 2020), 36.
  5. Lexy. J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000), 3.
  6. Nasution, Metode Penlitian Naturalistik Kualitatif, (Bandung: Tarsito,2007), 10
  7. Margono, Metodologi Penelitiam Pendidikan, Jakarta : Rineka Cipta, 2014
  8. Djunaidi Ghony dan Fauzan Almansur, Metodologi Penelitian Kualitatif, Malang: Ar-Ruz Media, 2012.
  9. Suharsini Arrikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), 133.
  10. Rianto Adi, Metode Penelitian Sosial dan Hukum, (Jakarta: Granit: 2004), 1.