<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>TAHAPAN KEMAPUAN MEENGENAL KONSEP BLANGAN MELALUI MEDIA APRON MODIFIIKASI PDA ANK BERKEBUTUHAN KHUSUS</article-title>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-c08b886d8726e3dab5ceaefab8d7e666" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>ratna</surname>
            <given-names>ratnadwikusuma</given-names>
          </name>
          <email>ratnadwikusuma96@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2021-04-20">
          <day>20</day>
          <month>04</month>
          <year>2021</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-579ec70d8843183e82515863eb57d452">
      <title>Pendahuluan</title>
      <p id="_paragraph-11">Pendidikan dasar merupakan fundamental dari semua jenjang pendidikan sekolah berikutnya. Tujuan diselenggarakan pendidikan dasar jenjang SD/MI adalah untuk mempersiapkan peserta didik supaya menjadi manusia yang berkarakter dan lebih baik ke depannya., serta mampu menjalankan semua kewajiban sebagai warga negara yang baik. Salah satu aspek perkembangan yang memiliki peran penting bagi kehidupan anak ialah perkembangan kognitif. Kognitif yaitu kemampuan mengenal , membandingkan, mengingat, memecahkan masalah dan kecerdasan. Anak berkebutuhan khusus yaitu dengan memiliki arti yang lebih luas dibanding dengan pengertian anak luar biasa. Mengenal bilangan atau angka termasuk dalam pengembangan kognitif dan aritmatika. Mengenal konsep bilangan juga merupakan pengetahuan dasar dari mata pelajaran matematika.</p>
      <p id="_paragraph-12">Dalam masalah ini pembelajaran matematika tentang mengenal konsep bilangan antara satu anak dengan yang lain berbeda-beda. Penggunaan dan pemilihan stategi pembelajaran yang tepat dan sesuai juga akan membantu anak dalam mengatasi kesulitan yang dihadapi anak. Pada masa atau usia anak-anak bermain merupakan srategi pembelajaran yang tepat digunakan untuk mengajarkan pengetahuan kepadanya kerena pada hakikat dunia anak adalah dunia bermain.</p>
      <p id="_paragraph-13">Untuk mencapai kemampuan tersebut diperlukan media yang menarik. Dengan ini anak akan mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna secara langsung. Salah satu media yang cocok untuk mengenalkan bilangan kepada anak berkebutuhan khusus adalah media apron. Dimana media pembelajaran ini dapat diaplikasikan dengan cara bermain. Media Apron adalah alat peraga pembelajaran yang berbentuk seperti celemek dengan kartu angka yang dibentuk seperti buah-buahan.</p>
      <p id="_paragraph-14">Bermain dengan apron yang dilakukan dengan cara bermain dan memasangkan benda yang dilakukan secara berulang-ulang sehingga pada akhirna mampu menyebutkan bilangan 1-10 secara urut dan benar, pada akhirnya anak akan mendapatkan pembelajaran matematika dengan mudah dan menyenangkan, sehingga tujuan peneliti untuk menyampaikan mengenal bilangan dapat tercapai.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-51cd161b5a974c51f87cc3ac21fd98a8">
      <title>Metode</title>
      <p id="_paragraph-15">Metode penelitian ini menggunakan metode pendekatan studi literatur. Pendekatan studi literaatur yakni suatu rangkaian kegiatan yang berkaitan dengan metode pengumpulan data pustaka, kegiatan membaca dan mencacat, serta mengelolah bahan yang digunakan dalam penelitian. Studi literatur juga dikenal sebagai studi pustaka, dimana studi pustaka atau riset pustaka ini batasan pada kegiatan ini hanya mengarah pada artikel, jurnal, serta koleksi dari perpustakaan saja tanpa memerlukan riset di lapangan.</p>
      <list list-type="bullet" id="list-174eafcb2ed185ecfaffee16b8e891cb">
        <list-item>
          <p>Jenis Penelitian</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Sumber dan Jenis Data</p>
        </list-item>
      </list>
      <p id="_paragraph-16">Sebagai penelitian studi literatur maka data yang diambil dari data skunder. Dalam penelitian skunder terdapat 5 literatur yakni:</p>
      <list list-type="bullet" id="list-47ee958f33159cbc2487370728a3bd3a">
        <list-item>
          <p>Jurnal oleh Alpaslan, Z.G., Dan Erden, F.T. 2016. The Status Of Early Childhood Mathematics Education Research In The Last Decade. HAL Archives-Ouvertes [1].</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Jurnal oleh J. Runtukahu Tombokan dkk 2014. <italic id="_italic-16">Pembelajaran Matematika Dasar bagi ANAK Berkesulitan Belajar. </italic>Jogjakarta: Ar-Ruzz Media [2].</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Jurnal oleh Nur Hayati. 2008. <italic id="_italic-17">Meningkatkan Kemampuan Mengenal Konsep Bilangan Melalui Permainan Bombik Modifikasi Pada Anak Kelompok Bermain</italic>. Universitas Negeri Surabaya [3].</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Jurnal oleh S. Suyanto. 2005. <italic id="_italic-18">Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini. </italic>Yogyakarta: Hikayat Publishing [4].</p>
        </list-item>
      </list>
      <p id="_paragraph-17">Adapun teknik pengumpulan data dalam pebelitian studi literatur sebagai berikut :</p>
      <p id="_paragraph-18">Gambar 1. Alur Penelitian Studi Literatur</p>
      <p id="_paragraph-19">Dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis data deskriptif. Analisis data deskriptif dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis, tidak semata-mata menguraikan, melainkan juga memeberikan pemahaman dan penjelasan secukupnya.</p>
      <list list-type="bullet" id="list-7900a9ac1c165418d2a8b8c13c90a49d">
        <list-item>
          <p>Teknik Pengumpulan Data</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Teknik Analisis Data</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Tahap-tahap Persiapan</p>
        </list-item>
      </list>
      <p id="_paragraph-20">Menelaah pengetahuan siswa terkait dengan konsep bilangan, Menelaah tentang perkembangan siswa, Menelaah tentang <italic id="_italic-19">tahapan konsep bilangan</italic><italic id="_italic-20">, </italic></p>
      <p id="_paragraph-21">Mencari referensi literatur yang terkait dengan fokus penelitian. Memahami referensi literatur yang terkait dengan fokus penelitian.</p>
      <p id="_paragraph-22">Membaca berbagai literatur yang sesuai dengan fokus penelitian , Mencatat hal-hal dalam literatur yang diperlukan dalam penelitian, Mengkaji, menganalisis serta membandingkan dari penelitian-penelitian sebelumnya yang terkait dengan fokus penelitian,</p>
      <list list-type="bullet" id="list-ee4f4f2f52992920ed20cc798c8303e9">
        <list-item>
          <p>Tahap Persiapan </p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Tahap Studi Pendahuluan</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Tahap pelaksanaan Studi Literatur</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Tahap Penulisan Laporan</p>
        </list-item>
      </list>
      <p id="_paragraph-23">Dalam penelitian ini, peneliti menyusun laporan yang meliputi pendahuluan, kajian pustaka, metode penelitian, hasil dan pembahasan, serta penutup.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-9a21c583a812d31a7c5b2e911b3d085f">
      <title>Hasil dan Pembahasan</title>
      <p id="_paragraph-25">Bilangan adalah dasar dari konsep matematika mengenai jumlah dari banyaknya benda pada saat melakukan perhitungan. Ketika anak telah menguasai konsep bilangan maka dapat dipastikan mempuan dalam memahami materi berhitung akan mudah dipahami oleh anak. Mengajarkan matematika harus menggunakan media yang menarik yaitu dengan media <italic id="_italic-21">apron</italic>. <italic id="_italic-22">Apron </italic>adalah alat peraga pembelajaran yang berbentuk seperti celemek dengan kartu angka yang dibentuk seperti buah-buahan <italic id="_italic-23">Apron </italic>ini biasanya terbuat dari kain, tetapi tidak menutup kemungkinan guru untuk membuat sendiri dari bahan yang lain alat abntu dalam permainan <italic id="_italic-24">Apron </italic>adalah kartu angka yang bertuliskan bilangan 1-10 atau lebih, kartu gambaran untuk kegiatan membilang dan kartu operasional hitung (+,-,x, :).</p>
      <p id="_paragraph-26">Konsep bilangan adalah salah satu konsep matematika yang paling penting dipelajari anak, meliputi pengembangan kepekaan bilangan, pengembangan rasa kuantitas dan pemahaman kesesuaian satu lawan satu [5]. Konsep bilangan adalah pemahaman dasar, anak-anak mampu mengelompokkan benda-benda dan mampu mengasosiasikan suatu nama dengan kelompok benda tertentu, selain itu didala penelitian [6]. Tahapan memiliki tiga tujuan utama yang saling berkaitan tentang dengan sasaran terkait konten, yaitu anak-anak mendapatkan pemahaman dalam berfikir matematika [7]. Tujuan yang kedua adalah tentang proses tujuan, yang mencakup keterampilan matematika seperti penalaran dan memprediksi. Yang terakhir adalah tentang afektif tujuan seperti menikmati belajar matematika.</p>
      <p id="_paragraph-27">Siswa belajar melalui tiga tahap yaitu enaktif, ikonik, dan simbolik. Pada tahap pertama enaktif siswa memerlukan alat peraga setelah belajar menggunakan benda kngkrit siswa dapat belajar dengan menggunakan gambar lalu dilanjutkan dengan menggunakan simbol [8]. Pada tahapan pemahaman konsep, anak memahami berbagai konsep melalui pengalan bekerja dan bermain dengan benda-benda kongkrit, pada tahap transisi guru dapat mengenalkan lambang konsep dengan menghubungkan antara konsep kongkrit dengan lambang bilangan dan pada tahap lambang guru dapat mengenalkan berbagai lambang yang ada dalam matematika.</p>
      <p id="_paragraph-28">Dalam penelitian menegaskan bahwa bilangan merupakan simbol dari banyaknya benda [9]. Sedangkan dalam menyebut bilangan dari suatu himpunan diperlakukan bahasa yang sama yang berupa lambang-lambang, sehingga dapat disusun menjadi lambang bilangan. Tahapan kedua ini anak dilatih untuk mampu berfikir simbolis [10]. Anak mulai menggunakan jari tangannya untuk menghitung melalui benda-benda, menggunakan jari tangan merupakan hal yang mudah dan efektif dalam melatih berhitung permulaan pada anak. Contohnya menghitung jumlah wadah pensil sambil berkata , satu, dua, tiga dan seterunya. Disini anak mulai belajar menggunakan jumlah bend dengan lambang bilangan.</p>
      <list list-type="bullet" id="list-ba06ba3160063f903a20cff6742e5af0">
        <list-item>
          <p>Tahapan konsep dan pengertian</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Tahapan Transisi</p>
        </list-item>
        <list-item>
          <p>Tahapan Mengenal Lambang</p>
        </list-item>
      </list>
      <p id="_paragraph-29">Tahapan mengenal lambang pada proses adalah dimana setelah anak memahami sesuatu secara abstrak, maka anak dapat dikenalkan pada tingkat penguasaan terhadap konsep bilangan dengan cara meminta anak melakukan proses melalui penyelesaian soal. Adapun tahpan yang dilakukan dalam mengenal konsep bilangan yang pertama yaitu anak harus mngenal terlebih dahulu bahasa simbol. Bahasa simbol ini disebut sebagai abstraksi sederhana (<italic id="_italic-25">simple abstraction</italic>) atau abstraksi empiris. Mengenalkan bahasa simbol yaitu mengenalkan bahasa lisan dari nama bilangan dan makna dari nama bilangan tersebut, misalnya guru menyebutkan bilangan satu, dua, tiga, empat, dan seterusnya.</p>
      <p id="_paragraph-30">Kemampuan anak berkebutuhan khusus dalam mengenal bilangan merupakan kesanggupan atau kecakapan anak berkebutuhan khusu dalam mengenal konsep bilangan dengan menggunakan suatu benda yang berbagai keterbatan dimiliki. Tidak hanyak mengenal konsep bilangan anak berkebutuhan khusus harus mampu menyebutkan nama bilangan, menulis lambang dan menghubungkan jumlah benda dengan bilangan. Namun karena anak berkebutuhan khusus menglami hampatan pada kempuan kognitif maka anak berkebutuhan khusus kesulitan dalam mengenal bilangan karena bilangan merupakan obyek yang bersifat abstrak.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-c9f4b21029c675e978e73efa23b88547">
      <title>Kesimpulan</title>
      <p id="_paragraph-31">Berdasarkan dari hasil pembahasan penelitian bagaimana kemampuan anak mengenal konsep bilangan dengan media <italic id="_italic-26">apron </italic>hitung adalah Media pembelajaran berupa <italic id="_italic-27">apron </italic>yang dikembangkan layak digunakan dalam pembelajaran berhitung oleh anak dengan menyesuaikan materi dan karakteristik anak, mudah di terapkan dalam pembelajaran mengenal konsep bilangan. Dengan menggunakan media <italic id="_italic-28">apron </italic>dalam proses belajar mengajar dapat mengembangkan keterampilan berhitung siswa. Tahap evaluasi, tahap ini dilakukan agar anak mampu mengingat kembaldani segala kegiatan yang telah mereka lakukan dan anak mampu menyimpulkan sebuah informasi belajar, selama evaluasi guru melakukan tanya jawab seputar kegiatan yang telah dilakukan. Guru juga bisa menerangkan menggunakan media agar pembelajaran tidak berjalan secara abstrak. Namun anak mendapatkan pengetahuan secara kongkrit agar anak mudah memahami tentang konsep bilangan.Manfaat lain dari penggunaan media <italic id="_italic-29">apron </italic>hitung anak dapat mengenal angka 1-10, anak dapat membilang secara urut bilangan 1-10, anak dapat menghubungkan antara lambang bilangan dengan benda-benda kongkrit.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>