<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Implementation of the Pancasila Learner Profile Strengthening Project in Elementary Schools</article-title>
        <subtitle>Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di Sekolah Dasar</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-b02a7d0ee06c8b77d9dd41a053c5f3a9" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Hamid</surname>
            <given-names>Siti Nur Cholisa</given-names>
          </name>
          <email>sitinur@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-3db74ba6f16e0d738606dce3517a07d2" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Muis</surname>
            <given-names>Lidya Shery</given-names>
          </name>
          <email>lidyasherymuis@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2024-10-25">
          <day>25</day>
          <month>10</month>
          <year>2024</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-6e81b79e2e1e22997ccfdc7e788562a6">
      <title>
        <bold id="bold-610ef7a9cda9a9affb6bf6b1ba947db0">PENDAHULUAN</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-4">Pendidikan tentunya menjadi hal penting, terlebih di masa modern kini. Menurut Pratiwi dkk. (2023), kualitas pendidikan dan kontribusinya terhadap pembangunan masyarakat yang terbuka, demokratis, damai, dan cendekia menentukan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, penyesuaian berkelanjutan diperlukan untuk memenuhi pertumbuhan dan kebutuhan sistem pendidikan Indonesia. Manajemen kurikulum merupakan bidang fokus yang krusial dalam pendidikan. Kurikulum yang relevan tidak diragukan lagi merupakan fondasi pendidikan yang berkualitas tinggi. Oleh karena itu, kurikulum berfungsi sebagai tolok ukur untuk mengawasi proses pembelajaran di semua jenjang pendidikan, dan tujuan serta arahnya selalu sejalan dengannya. (Christiananda et al., 2023).</p>
      <p id="_paragraph-5">Indonesia berada di peringkat ke-74 dari 79 negara dalam Programme for International Student Assesment (PISA) 2019. Hasil ini menunjukkan bahwa 70% siswa Indonesia berusia 15 tahun berada di bawah kompetensi minimum dalam memahami bacaan sederhana atau menerapkan konsep matematika dasar (Nabila Winda dkk., 2023). Selain itu, kualitas pendidikan di Indonesia semakin buruk akibat pandemi COVID-19. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan merespons dengan mengganti kurikulum 2013 dengan kurikulum merdeka. Kurikulum merdeka memungkinkan lingkungan belajar untuk memilih strategi yang memaksimalkan dan mengoptimalkan pembelajaran. (Nurhayati et al., 2022).</p>
      <p id="_paragraph-6">Program projek untuk meningkatkan profil pelajar Pancasila, merupakan ciri khas kurikulum merdeka. Sebuah inisiatif pembelajaran lintas disiplin yang disebut Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) membantu siswa memahami dan mempertimbangkan solusi atas permasalahan di lingkungan mereka (Ilmi dkk., 2024). Keimanan, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia, keberagaman global, gotong royong, kemandirian, berpikir kritis, dan kreativitas merupakan enam kualitas yang tercantum dalam Profil Pelajar Pancasila (Aditomo Anindito dkk., 2021). Penguatan kompetensi dalam Profil Pelajar Pancasila merupakan tujuan dari kegiatan P5. (Rachmawati et al., 2022)</p>
      <p id="_paragraph-7">Kegiatan P5 tergolong program yang baru diterapkan bersamaan kurikulum merdeka, sehingga dalam implementasinya di sekolah mengalami banyak tantangan baik dari pihak sekolah, guru maupun siswanya. Permasalahan yang sering dijumpai berupa kurangnya kesiapan guru terutama dalam kecakapan digitalisasi, terbatasnya pelatihan yang diterima oleh guru serta beban kerja guru yang berat. Permasalahan-permasalahn ini tentunya menjadi sangat krusial, mengingat guru sebaagai fasilitator sangat menentukan keberhasilan pelaksanaan P5.</p>
      <p id="_paragraph-8">Berbagai penelitian sebelumnya banyak berfokus pada analisis konsep dan urgensi P5 secara makro atau kebijakan, serta persepsi umum terhadap ProjekPenguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) (Ibrahim et al., 2023; Rahmawati et al., 2023). Namun, kajian yang secara spesifik mengulas implementasi nyata P5 di sekolah dasar, khususnya dengan mempertimbangkan hambatan internal seperti kesiapan guru, keterbatasan sumber daya, dan konteks lokal sekolah, masih terbatas. Selain itu, penelitian dengan pendekatan kontekstual di wilayah-wilayah non-perkotaan masih jarang dijumpai.</p>
      <p id="_paragraph-9">Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan penelitian dengan dengan menghadirkan kajian implementasi P5 yang bersifat kontekstual menyoroti dan mendalam pada jenjang sekolah dasar, yang berfokus pada dimensi implementatif, hambatan dan hasil program. Studi ini difokuskan pada satuan Pendidikan sekolah dasar di daerah, sehingga dapat memberikan kontribusi praktis terhadap pengembangan strategi pendampingan dan peningkatan kapasitas guru dalam menjalankan P5. Pendekatan pembelajaran lintas disiplin untuk mengamati dan memberikan solusi terhadap permasalahan lingkungan merupakan penjelasan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2021). Generasi unggul bangsa yang mencerminkan cita-cita Profil Pelajar Pancasila merupakan tujuan kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang berlaku bagi siswa sekolah dasar (SD) hingga perguruan tinggi (Yuntawati dan Suastra, 2023).</p>
      <p id="_paragraph-10">Setiap projek yang dilaksanakan di lembaga pendidikan memiliki tema yang dipilih oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Pendidikan Tinggi; tema ini dapat berubah setiap tahun. Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, Peta Jalan Pendidikan Nasional 2020 - 2035, dan isu-isu kunci dalam berbagai dokumen terkait lainnya menjadi dasar pengembangan tujuh tema tersebut. Keimanan, ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, akhlak mulia, keberagaman global, gotong royong, kemandirian, berpikir kritis, dan kreativitas merupakan enam kompetensi lain yang tercantum dalam Profil Mahasiswa Pancasila (Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Pendidikan Tinggi, 2021). Tujuannya adalah agar peserta didik dapat berkembang secara intelektual dan berkarakter dengan enam kompetensi yang tercakup dalam kurikulum P5.</p>
      <p id="_paragraph-11">Projek yang dilaksanakan mungkin berbeda dengan yang dilakukan di kelas karena kegiatan P5 lebih berfokus pada pendekatan Project Based Learning (Pjbl). Menurut Christiananda dkk. (2023), komponen P5 menekankan proses konkret serta aktivitas konkret, di samping bakat dan minat kognitif. Hal ini perlu sejalan dengan definisi Proyek Penguatan Profil Siswa Pancasila tentang siswa Indonesia yang dapat diandalkan, kooperatif, dan mampu berpikir kritis.</p>
      <p id="_paragraph-12">Adapun penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan kajian dengan menghadirkan analisis implementasi P5 secara kontekstual pada jenjang sekolah dasar di daerah non-perkotaan, yang selama ini masih minim tereksplorasi. Tidak seperti penelitian sebelumnya yang lebih banyak membahas aspek kebijakan atau persepsi umum, studi ini menyoroti secara mendalam proses implementasi, hambatan internal, serta hasil nyata dari pelaksanaan P5 di satuan pendidikan dasar. Unsur kebaruan dari penelitian ini terletak pada pendekatan lapangan yang memadukan data kualitatif dan kuantitatif secara triangulatif, serta fokus pada dinamika lokal di sekolah desa. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan gambaran implementatif, tetapi juga menawarkan kontribusi praktis dan teoretis terhadap strategi penguatan karakter peserta didik berbasis Profil Pelajar Pancasila di lingkungan yang memiliki keterbatasan sumber daya.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-d358c3917b5b983d1635d37993439981">
      <title>
        <bold id="bold-817974ceff6f6f516eeaa69dd03c5a9e">METODE</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-14">Untuk memperoleh gambaran yang komprehensif tentang bagaimana P5 yang telah dilaksanakan di SDN 183/II Sumber Mulya, penelitian ini menggabungkan kuesioner dengan metode kualitatif deskriptif. Peristiwa dan kejadian di SDN 183/II Sumber Mulya dideskripsikan menggunakan penelitian kualitatif deskriptif, terutama yang berkaitan dengan terlaksananya Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Lima perwakilan siswa dari masing-masing tiga fase, Fase A untuk kelas dua, Fase B untuk kelas empat, dan Fase C untuk kelas lima, serta enam guru kelas berpartisipasi dalam penelitian ini. Pemilihan sampel dilakukan secara purposive karena mereka terlibat langsung dalam pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. Kuesioner, observasi aktivitas, dan wawancara menyediakan data kualitatif untuk penelitian ini.</p>
      <p id="_paragraph-15">Untuk memperoleh gambaran yang komprehensif tentang bagaimana P5 dilaksanakan di SDN 183/II Sumber Mulya, penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang dikombinasikan dengan pengumpulan data kuantitatif melalui angket. Penggunaan metode gabungan ini dipilih secara sadar untuk menangkap kompleksitas pelaksanaan P5, yang tidak hanya dapat diukur melalui angka, tetapi juga perlu dipahami melalui interaksi, narasi, dan dinamika sosial di lapangan. Pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti menggali secara mendalam proses, makna, dan tantangan yang dihadapi guru dan siswa, sementara data kuantitatif digunakan untuk memperoleh gambaran umum dan pola partisipasi berdasarkan persepsi yang terukur. Kombinasi ini dianggap paling relevan untuk mengungkap realitas implementasi P5 di konteks sekolah dasar di daerah, yang cenderung memiliki tantangan dan karakteristik unik. Dengan demikian, penggunaan metode gabungan memberikan kedalaman, validitas, serta keutuhan informasi, serta memperkuat kredibilitas hasil penelitian melalui verifikasi lintas data. Verifikasi informasi dari beberapa sumber dengan berbagai cara dan pada berbagai waktu dikenal sebagai triangulasi dalam penilaian kredibilitas (Zuchri, 2021).</p>
      <p id="_paragraph-16">Guna melakukan analisis data kualitatif, peneliti menggunakan tenk analisis data Miles dan Huberman, yang dilakuan dengan tiga tahap berikut, yakni data reduction, data display, dan conclusion drawing/ Verification (Vhalery et al., 2022). Sedangkan untuk data kuantitatif, hasil angket dengan skala 5 dihitung berdasarkan pada rating scale (Riduwan, 2021). Setelah itu data di interpretasikan seperti pada tabel 1:</p>
      <table-wrap id="_table-figure-1">
        <label>Table 1</label>
        <caption>
          <title>Kriteria Hasil Angket</title>
          <p id="_paragraph-18" />
        </caption>
        <table id="_table-1">
          <tbody>
            <tr id="table-row-a01d1538dfe48160801124376e136fb9">
              <th id="table-cell-7bd1425945aa0666d30a24a471c126f8">Hasil</th>
              <th id="table-cell-63251435a21e0be7a0cb75f0c0b51f2a">Kriteria</th>
            </tr>
            <tr id="table-row-163dbf491f2c3c06a1746f322a113920">
              <td id="table-cell-ef19f2f39c08ea99aa165ce9034c22a0">44%</td>
              <td id="table-cell-b7ded74326a4c752d53e99d4675ca485">Sangat rendah</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-3d0a2ed8fdcfd09b33ac349858114152">
              <td id="table-cell-38ed1e14fb219cdfbbcec049a178c281">45%-58%59%-72%</td>
              <td id="table-cell-d00057c146ef0635c382bd1278198bef">RendahCukup</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-2006610a020da8081938ce5f2099a48c">
              <td id="table-cell-6a315992a71a06836187f634cd2a6669">73%-86%</td>
              <td id="table-cell-5fc25da13daf0af04a8f1408132b7139">Tinggi</td>
            </tr>
            <tr id="table-row-a1b296aef443ae5c64fba6f27084ec03">
              <td id="table-cell-5ae274a248050c852d158b83e6e00b0a">87%-100%</td>
              <td id="table-cell-fd3b999c0a796f04d74cb0831b6ef365">Sangat tinggi</td>
            </tr>
          </tbody>
        </table>
      </table-wrap>
    </sec>
    <sec id="heading-dbcdc0eb0ec4d3b2777f1ec15758ffce">
      <title>
        <bold id="bold-79f0eab869f65c5776d56b4eacf9d799">HASIL DAN PEMBAHASAN</bold>
      </title>
      <sec id="heading-de801f885ad5875cf7bd67d2e720fa46">
        <title>A.Analisis Proses Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)</title>
        <p id="_paragraph-21">Proses implementasi yang dianalisis disini meliputi dari lima indikator implementasi yakni kesiapan sekolah, alur tujuan projek, alur persiapan projek, alur proses projek dan alur evaluasi projek (Aditomo Anindito, 2021). Guna mengetahui proses implementasi di SDN 183/II Sumber Mulya, dilakukan wawancara Bersama ketua tim fasilitasi P5 sekolah yakni ibu Hera Pratiwi, S.Pd. Wawancara terdiri dari 9 butir pertanyaan dengan hasil yang dapat disajikan sebagai berikut:</p>
        <table-wrap id="table-figure-11847fb5fa9159dec8830705d14a4e27">
          <label>Table 2</label>
          <caption>
            <title>Hasil wawancara analisis proses implementasi P5</title>
            <p id="paragraph-42fdfed9b2f9ea69b9c45d92239ca669" />
          </caption>
          <table id="table-16577247212a16af00f1e3c546183fff">
            <tbody>
              <tr id="table-row-e1e994352201146359a4daf22d217a31">
                <th id="table-cell-ea7b2720a315d1392347f7bd6ed05be7">No</th>
                <th id="table-cell-e4ca42052514851203bbe6969fa9ee21">Indikator</th>
                <th id="table-cell-e5fc5e618fc85054a7661ca490e508fc">Hasil Wawancara</th>
                <th id="table-cell-fcf8192378e3aa301e0d846751339c0a" />
              </tr>
              <tr id="table-row-fd407f51c453e08f2776a561392665ec">
                <td id="table-cell-dc0ab9c1a1459ee6687051ef2bb39de9">1</td>
                <td id="table-cell-1f0b40c13c666b6ec6813f2202ba0af0">Kesiapan sekolah</td>
                <td id="table-cell-03e910c63a74dc01a88bc27f95f3a520">Dalam mempersiapkan kegiatan P5 sekolah telah berusaha
membangun budaya sekolah yang mendukung, memahami peran antara peserta didik, pendidik dan lingkungan sekolah serta mendorong pada penguatan peserta didik
</td>
                <td id="table-cell-4fa96af85a937ce19b5e77de7fc5e218" />
              </tr>
              <tr id="table-row-0daec1baa022ab3ac1e24b0d6fc1fe42">
                <td id="table-cell-de28a2baad3155afe91e71bc54edb074">2</td>
                <td id="table-cell-e4a3d0cc35ce1f6bd1180244e28b3252">Alur tujuan projek</td>
                <td id="table-cell-280a3044dec0283d1bfaf1cdc3da07de">Tujuan kegiatan P5 ini untuk mencapai kompetensi
berpikir solutif dan kritis, mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama siswa. Selain itu untuk menguatkan karakter Pancasila pada siswa juga kemampuan dalam mengelola diri
</td>
                <td id="table-cell-253d17836c2aeab9117bdb125a40c5b0" />
              </tr>
              <tr id="table-row-a8f50f7798b57e0ed303be3e31305de4">
                <td id="table-cell-88abd435f90d8b3552957cdd20c6ba25">3</td>
                <td id="table-cell-5a41e1adf5824ff46988462d4ecf7d2f">Alur persiapan projek</td>
                <td id="table-cell-1e51511861657f2a65c259fc3923e039">Pihak yang terlibat dalam proses perencanaan ini ada dari
pihak sekolah. Kepala sekolah, guru, komite sekolah, orang tua dan masyarakat
</td>
                <td id="table-cell-4c33da471e5d86ac286f9a7481a17c20" />
              </tr>
              <tr id="table-row-f303244e7338ec9a3671be0c868ed284">
                <td id="table-cell-ffee27129c4348e7a77b9bcb318d248e">4</td>
                <td id="table-cell-44e2ca404a019d93d67b6f488bffc4e0">Alur proses projek</td>
                <td id="table-cell-0ee3707105318e0325b8073d8a2415de">Kegiatan awal untuk memulai P5 adalah dengan Menyusun
modul P5, baru setelah itu melaksanakan kegiatan P5 di kelas
</td>
                <td id="table-cell-d342d8f8eeb59c6a0c71be5bb3c23c57" />
              </tr>
              <tr id="table-row-c18187f76010093278c55301b39f8450">
                <td id="table-cell-af89811e239901766b4ce7d3d1470c10">5</td>
                <td id="table-cell-4f34e8577683ac994383216c76136c58">Alur evaluasi Projek</td>
                <td id="table-cell-0ab7f81763c3c977dc9f46ba603fd2a9">Evaluasi  dilaakukan  dengan  menilai  perkembaangan
peserta didik dalam dimensi profil pelajar Pancasila. Lalu juga menilaai segi partisipasi, kolaborasi, proses inkuiri dan kolaborasi siswa
</td>
                <td id="table-cell-ddf7591a32528acbb86fe023b4f04328" />
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-29">Berdasarkan wawancara tersebut dapat dipahami beberapa hal. Pertama, sekolah telah menunjukkan kesiapan dengan membentuk kebiasaan yang dapat mendukung terlaksananya P5. Sekolah juga memahami peran dari berbagai elemen, seperti peserta didik, pendidik, dan lingkungan, serta mendorong penguatan karakter siswa. Penyiapan lingkungan yang kondusif dan pemahaman akan peran setiap pihak dalam pendidikan sangat penting dalam pelaksanaan kurikulum berbasis projek seperti P5. Dalam Panduan Implementasi P5 dari Kemendikbudristek dijelaskan bahwa kesiapan sekolah ditandai oleh adanya budaya belajar yang mendukung, pelibatan seluruh warga sekolah, serta dukungan manajerial kepala sekolah dan guru (Aditomo Anindito, 2021). Lebih lanjut, Dewi Rahayu (2023) menemukan bahwa kesiapan sekolah mencakup kesadaran terhadap peran masing-masing pihak dalam keberhasilan pelaksanaan projek. Dari hal tersebut dapat dipahami bahwa kesiapan sekolah dalam pelaksanaan P5 mempengaruhi pada keberhasilan pelaksanaan projek.</p>
        <p id="_paragraph-30">Kedua, Tujuan utama kegiatan P5 yang teridentifikasi dari wawancara adalah membentuk kompetensi berpikir solutif dan kritis, kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama, serta memperkuat karakter Pancasila dan kemampuan manajemen diri. Tujuan tersebut mencerminkan lima dari enam dimensi dalam Profil Pelajar Pancasila: memiliki pikiran yang kritis, mandiri, bergotong royong, berkebinekaan global, dan beriman serta bertakwa. Sebagaimana ditunjukkan oleh (Wati &amp; Saputra, 2024) bahwa P5 efektif menumbuhkan keterampilan 6C (critical thinking, communication, collaboration, creativity, character, citizenship), pelaksanaan P5 memperlihatkan siswa aktif dalam menyelesaikan masalah nyata, berdiskusi dalam kelompok, dan berkolaborasi hingga presentasi produk. Studi oleh (Hidayah &amp; Wadiyo, 2024) menegaskan bahwa penerapan P5 berdampak pada menguatnya kemampuan siswa dalam berpikir kritis, komunikasi yang baik, kreativitas dan kerja sama antar siswa melalui berbagai proyek. Maka diketahui Projek P5 tidak hanya menekan pada aspek akademik, tapi juga membangun kompetensi utama seperti berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, kreativitas, karakter, dan kewargaan.</p>
        <p id="_paragraph-31">Ketiga, dalam proses perencanaan P5, sekolah melibatkan kepala sekolah, guru, komite sekolah, orang tua, dan masyarakat. Kolaborasi multi-pihak ini merupakan salah satu ciri khas dari pendekatan pembelajaran berbasis komunitas. Partisipasi berbagai pihak menjadi salah satu prinsip utama dalam implementasi kurikulum Merdeka. Dalam studi oleh Afriani dan Mustika (2024) kolaborasi dengan orang tua dan masyarakat terbukti mendorong keterlibatan peserta didik secara lebih holistik. Penelitian oleh Aulia Pramita Sari, dkk (2023)mengkonfirmasi dukungan penuh dari pihak sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat sebagai faktor pendukung utama keberhasilan P5. Dalam tahap persiapan Projek P5, sekolah membentuk tim fasilitator yang melibatkan kepala sekolah, guru, wakil, komite sekolah, orang tua dan masyarakat yang berpatisipasi atas pelaksanaan kegiatan P5.</p>
        <p id="_paragraph-32">Keempat, Berdasarkan wawancara, tahapan pelaksanaan P5 dimulai dengan penyusunan modul projek terlebih dahulu, kemudian kegiatan dijalankan di kelas. Penyusunan modul projek merupakan langkah strategis yang penting agar kegiatan memiliki arah, indikator, dan tujuan yang jelas. Modul menjadi alat untuk menyusun pengalaman belajar yang bermakna. Sejalan dengan studi oleh Syahlaena (2024) bahwa guru harus terlebih dahulu memahami dan menyesuaikan modul sesuai karakteristik peserta didik sebelum diterapkan dalam kelas. Hasil tersebut menunjukkan bahwasannya langkah yang diambil sekolah dalam proses implementasi telah tepat.</p>
        <p id="_paragraph-33">Lima, Evaluasi dilakukan dengan menilai perkembangan siswa dalam dimensi profil Pelajar Pancasila, serta partisipasi, kolaborasi, proses inkuiri, dan kerja sama. Evaluasi dalam P5 bersifat formatif dan holistik, tidak hanya menilai hasil akhir, tetapi juga proses dan perubahan perilaku siswa. Sesuai dengan arahan oleh Kemdikbudristek bahwa evaluasi diarahkan untuk mengamati perubahan perilaku, sikap, dan keterampilan peserta didik secara bertahap, bukan sekadar output proyek.</p>
        <p id="_paragraph-34">Hasil wawancara yang dikaji dalam penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolah berupa kesiapan sekolah, kolaborasi lintas pihak, dan strategi yang tepat berperan penting dalam keberhasilannya. Projek ini tidak hanya membangun aspek akademik, tetapi juga karakter dan kompetensi abad ke-21. Evaluasi yang bersifat formatif dan penyusunan modul yang kontekstual turut mendukung tercapainya tujuan P5 secara holistik.</p>
        <p id="_paragraph-35">Temuan wawancara ini memberikan penjelasan lebih mendalam terhadap hasil kuesioner yang diberikan kepada 6 guru kelas dan 15 siswa perwakilan dari setiap fase. Pernyataan yang diajukan dalam angket ini adalah 20 butir pernyataan yang dipilih dengan skala likert 5. Hasil dari angket yang dibagikan disajikan pada diagram hasil berikut:</p>
        <fig id="figure-panel-b36e38d369c656e4c7d49993d12cf959">
          <label>Figure 1</label>
          <caption>
            <title>Hasil Kuesioner Implementasi P5</title>
            <p id="paragraph-c5bd0d76f8b78fdc3a6361a10f8cb45b" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-2137aa32289cc2a7742294e5bfb50647" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="pic 1 11627.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-37">Berdasarkan data angket, tingkat partisipasi guru dalam pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) menunjukkan angka yang cukup tinggi, yaitu sebesar 83,29%. Sementara itu, partisipasi siswa berada pada angka 73,59%. Perbedaan ini mengindikasikan bahwa keterlibatan guru dalam setiap tahapan pelaksanaan projek relatif lebih dominan dibandingkan siswa, meskipun keduanya telah menunjukkan keterlibatan yang cukup baik secara umum.</p>
        <p id="_paragraph-38">Pada indikator kesiapan, 86,49% guru menyatakan siap melaksanakan P5, sedangkan siswa hanya mencapai 66,66%. Hal ini menunjukkan bahwa guru telah memiliki pemahaman yang lebih matang terhadap konsep dan pelaksanaan projek, sebagaimana dijelaskan dalam Panduan Implementasi Projek Profil Pelajar Pancasila oleh Kemendikbudristek (Aditomo anindito, 2021), yang menekankan pentingnya kesiapan satuan pendidikan, terutama guru, sebagai pelaksana utama di sekolah. Di sisi lain, siswa membutuhkan lebih banyak pembiasaan dan pendampingan untuk meningkatkan kesiapan mereka dalam mengikuti kegiatan projek.</p>
        <p id="_paragraph-39">Terkait pemahaman terhadap tujuan projek, nilai partisipasi guru mencapai 77,99%, dan siswa 75,99%. Angka yang hampir seimbang ini menunjukkan bahwa kedua pihak sudah mulai memahami arah dan manfaat dari kegiatan projek P5. Hal ini sejalan dengan temuan Mellyzar dkk (2025), yang menyatakan bahwa baik guru maupun siswa di berbagai jenjang telah memahami bahwa tujuan P5 adalah penguatan karakter serta pengembangan kemampuan berpikir kritis dan kerja sama.</p>
        <p id="_paragraph-40">Tingkat partisipasi guru pada alur perencanaan projek mencapai 87,49%, sementara partisipasi siswa berada pada angka 72,66%. Ini menunjukkan bahwa guru telah aktif terlibat dalam proses perencanaan, mulai dari penyusunan modul hingga pemilihan tema dan strategi pelaksanaan. Namun, siswa belum secara maksimal dilibatkan dalam tahap perencanaan ini. Penting bagi sekolah untuk Membuka ruang partisipatif yang lebih luas bagi siswa dalam tahap ini, yang mana pelibatan siswa ini bisa dilakukan secara bertahap (Fernando &amp; Zumratun, 2025)</p>
        <p id="_paragraph-41">Pada indikator alur proses projek, partisipasi guru tetap tinggi di angka 87,49%, sementara siswa mencapai 74,99%. Artinya, guru sangat aktif memfasilitasi jalannya kegiatan, dan siswa sudah menunjukkan keterlibatan yang cukup baik. Panduan Kemendikbudristek menyebutkan bahwa pelaksanaan projek seharusnya menjadi pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, di mana mereka terlibat langsung dalam proses pengamatan, pengumpulan data, pemecahan masalah, dan penyajian hasil kegiatan.</p>
        <p id="_paragraph-42">Sementara itu, pada indikator evaluasi projek, siswa menunjukkan tingkat partisipasi yang sedikit lebih tinggi (77,66%) dibanding guru (77,49%). Ini menunjukkan adanya pendekatan yang lebih reflektif dan kolaboratif dalam proses evaluasi. Evaluasi projek, sebagaimana ditegaskan dalam panduan resmi, tidak hanya dilakukan oleh guru melalui instrumen penilaian, tetapi juga dengan melibatkan siswa dalam kegiatan refleksi dan umpan balik terhadap proses yang telah dijalani.</p>
        <p id="_paragraph-43">Secara keseluruhan, pelaksanaan P5 telah melibatkan guru secara optimal dalam seluruh tahapan kegiatan. Siswa pun telah menunjukkan partisipasi yang cukup baik, khususnya dalam memahami tujuan projek dan terlibat dalam pelaksanaan serta evaluasi. Namun demikian, masih dibutuhkan peningkatan partisipasi siswa, terutama pada tahap perencanaan dan penguatan kesiapan awal, agar proses pelaksanaan P5 benar-benar mendorong pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan sesuai dengan semangat Kurikulum Merdeka.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-2083c4d8cac9716a75b6f83a27453934">
        <title>B.Analisis Hambatan Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)</title>
        <p id="_paragraph-45">Hambatan P5 dianalisis melalui hasil wawancara. Wawancara dilakukan untuk mengetahui hambatan apa saja yang dialami guru selama proses kegiatan P5 di sekolah maupun saat di kelas. Wawancara dilakukan Bersama guru kelas 4 ibu Tutik, S. Pd, dengan 2 pertanyaan yang dijabarkan pada tabel 4 berikut:</p>
        <table-wrap id="_table-figure-2">
          <label>Table 3</label>
          <caption>
            <title>Hasil Wawancara Analisis Hambatan Kegiatan P5</title>
            <p id="_paragraph-47" />
          </caption>
          <table id="_table-2">
            <tbody>
              <tr id="table-row-92aa0b98d1dbb91d26a1c0dcf7c9aa09">
                <th id="table-cell-33fd502d0d5f0ea2ce2068071164430d">No</th>
                <th id="table-cell-7810431d2ef3f7bde1d48868256448ca">Indikator</th>
                <th id="table-cell-343b29e29db0a7b8f347a4f0e258b8c0">Hasil Wawancara</th>
              </tr>
              <tr id="table-row-677ad5ac0f4170bea437b8e9bb92797d">
                <td id="table-cell-6110246cb08a83b01aa41a6b1dd579de">1</td>
                <td id="table-cell-409f68adf0e75347f9d553762ff2c064">Hambatan implementasidi sekolah</td>
                <td id="table-cell-2f254ba41a20291b8a210df6ac2cc570">Implementasi P5 ini sifatnya sudah digital seperti bahan ajar dan rapor yang disediakan secara digital, sehingga beberapa guru yang kurang paham teknologi menjadi kesulitan. Keterbatasan sarana dan prasarana penunjang juga menjadi kesulitan, dimana untuk sekolah kami di des aini pengadaan sarana dan prasarana sangat terbatas. Selain itu kurangnya pelatihan terkait P5 ini dari instasi terkait membuat guru banyak kebingungan saat implementasi P5</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-40df860b34bd7683872d6067ad9e851d">
                <td id="table-cell-73b06d56d069fc32e220aec2b4f583ea">2</td>
                <td id="table-cell-922176c2155477bb5943d1c0accbfa77">Hambatan implementasi di kelas</td>
                <td id="table-cell-db904d742217d592b8757333591cbbce">Siswa di kelas memiliki minat yang berbeda sehingga guru harus merancang kegiatan projek yang bisa menarik minat keseluruhannya. Guru sendiri telah memiliki beban kerja yang berat, membuat implementasi P5 kadang menjadi tidak optimal. Keterbatasan guru dalam berbagai bidang misalnya bidang kesenian membuat guru harus belajar lebih lagi.</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-48">Penerapan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) menghadapi hambatan signifikan di tingkatan sekolah dan kelas. Pertama, transformasi digital yang diwujudkan melalui bahan ajar dan rapor digital menuntut pemahaman teknologi yang belum dimiliki oleh banyak guru apalagi di daerah pedesaan. Studi menunjukkan bahwa kurangnya pelatihan komprehensif membuat banyak guru tidak memiliki pemahaman atau keterampilan yang diperlukan untuk menerapkan P5 (Zhulfiyah &amp; Nurtamam, 2025) Di samping itu, keterbatasan sarana dan prasarana daerah tertinggal tetap menjadi kendala utama (Adriana &amp; Nawawi, 2025)</p>
        <p id="_paragraph-49">Kedua, di tingkat kelas, guru dihadapkan pada keberagaman minat siswa yang menuntut desain projek mampu menarik semua peserta didik. Namun, waktu yang tidak banyak dalam menyiapkan rancangan projek juga besarnya beban kerja menjadi hambatan lain yang dialami oleh guru (Apriana et al., 2024). Situasi makin rumit saat guru tidak memiliki kompetensi di bidang tertentu notabene dibutuhkan dalam P5.</p>
        <p id="_paragraph-50">Berdasarkan uraian tersebut, disimpulkan bahwasannya penerapan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) masih menghadapi berbagai tantangan, baik di tingkat sekolah maupun kelas. Keterbatasan pemahaman teknologi, minimnya pelatihan, serta kurangnya sarana dan prasarana menjadi hambatan utama di lingkungan sekolah, khususnya di daerah tertinggal. Sementara itu, di tingkat kelas, guru harus menghadapi keberagaman minat siswa, keterbatasan waktu, beban kerja yang tinggi, serta kekurangan kompetensi di bidang tertentu. Hambatan-hambatan ini menunjukkan perlunya dukungan yang lebih sistematis dan berkelanjutan, baik dalam bentuk pelatihan, pengadaan infrastruktur, maupun penyusunan kebijakan yang responsif terhadap kondisi nyata di lapangan.</p>
        <p id="_paragraph-51">Hambatan-hambatan tersebut menunjukkan bahwa implementasi P5 di sekolah dasar daerah membutuhkan strategi inovatif yang sesuai dengan konteks dan keterbatasan yang ada. Salah satu pendekatan yang dapat diadopsi adalah penguatan komunitas belajar guru internal (teacher learning community), di mana guru-guru saling berbagi pengalaman dan saling melatih keterampilan, terutama dalam penggunaan teknologi dan penyusunan modul projek. Strategi ini tidak hanya murah, tetapi juga relevan dengan semangat gotong royong dan kolaborasi dalam kurikulum merdeka.</p>
        <p id="_paragraph-52">Selain itu, sekolah dengan keterbatasan infrastruktur dapat mengembangkan model P5 berbasis sumber daya lokal, misalnya memanfaatkan bahan-bahan alam, lingkungan sekitar, atau keterlibatan UMKM dan tokoh masyarakat dalam kegiatan projek. Pendekatan ini tidak hanya mendorong kreativitas siswa, tetapi juga memperkuat keterkaitan pembelajaran dengan kehidupan nyata. Refleksi kritis ini penting agar pelaksanaan P5 tidak bersifat “seremonial” atau hanya administratif, melainkan benar-benar kontekstual, relevan, dan berkelanjutan.</p>
        <p id="_paragraph-53">Oleh karena itu, hasil temuan ini dapat menjadi pijakan bagi sekolah lain dengan kondisi serupa untuk mengembangkan praktik baik yang adaptif, kolaboratif, dan berbasis kekuatan lokal. Hal ini sekaligus memperkuat posisi P5 sebagai alat transformasi pendidikan karakter yang fleksibel dan inklusif.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-90602aa9f310a641c084a16e0fba44fb">
        <title>C.Analisis Hasil Implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5)</title>
        <p id="_paragraph-55">Untuk memperoleh gambaran yang lebih mendalam mengenai hasil pelaksanaan P5, dilakukan wawancara dengan guru yang terlibat langsung dalam proses implementasinya. Wawancara ini bertujuan untuk mengidentifikasi bentuk hasil akhir dari projek yang telah dilakukan di lapangan. Data yang diperoleh dari wawancara tersebut kemudian disajikan dalam bentuk tabel 5 berikut untuk memudahkan analisis dan pemahaman.</p>
        <table-wrap id="_table-figure-3">
          <label>Table 4</label>
          <caption>
            <title>Hasil Wawancara Analisis Hasil Kegiatan P5</title>
            <p id="_paragraph-57" />
          </caption>
          <table id="_table-3">
            <tbody>
              <tr id="table-row-dbec81e4e339b756b3f466432366b70e">
                <th id="table-cell-634f863cabd5751452e2285dbefe371a">No</th>
                <th id="table-cell-fcdd7d48d8ea43803ec2b03ba0219212">Indikator</th>
                <th id="table-cell-6d4fe7c432a59f8fd76e499f67318512">Hasil Wawancara</th>
              </tr>
              <tr id="table-row-866ea97b66de26ce9a1c443908e825b6">
                <td id="table-cell-40f1a2ab2e3817c0b223df35a98a6f27">1</td>
                <td id="table-cell-33bd5a91c115f50502db278dba7c32a7">Hasil Kegiatan P5</td>
                <td id="table-cell-9a4f3d14506570249ee88d7d972db9bb">Kegiatan P5 di sekolah menghasilkan peningkatan pemahaman siswa terhadap profil pelajar Pancasila, pembentukan karakter dan identitas diri serta penegmbanagan potensi keterampilan siswa. Selain itu kegiatan P5 menghasilkan produk yang berupa kerajinan tangan serta aksi nyata.</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-58">Hasil wawancara menunjukkan bahwa pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di sekolah telah memberikan dampak yang cukup signifikan, tidak hanya dalam bentuk produk fisik seperti kerajinan tangan atau aksi nyata, tetapi juga dalam penguatan karakter, pengembangan potensi, dan peningkatan keterampilan sosial siswa. Hal ini sejalan dengan temuan Wulan Agustin et al. (2025) yang menyatakan bahwa aspek produk dalam P5 mendapatkan kategori “sangat berkembang”, dengan rata-rata total efektivitas sebesar 3,57 yang menunjukkan bahwa projek berjalan sangat efektif dalam membentuk kompetensi siswa. Hasil ini mempertegas bahwa produk bukan tujuan utama, melainkan sarana untuk menumbuhkan nilai-nilai Pancasila secara kontekstual dalam diri peserta didik.</p>
        <p id="_paragraph-59">Lebih lanjut, penelitian oleh Putri &amp; Supriyanto (2024) menemukan bahwa kegiatan P5 berperan penting dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila ke dalam kehidupan nyata siswa, seperti sikap gotong royong, tanggung jawab sosial, serta gaya hidup berkelanjutan. Mereka menyimpulkan bahwa pelaksanaan projek tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga membentuk kepribadian dan keterampilan siswa sesuai dengan kebutuhan abad ke-21.</p>
        <p id="_paragraph-60">Dengan demikian berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan kuesioner, implementasi P5 di SDN 183/II Sumber Mulya menunjukkan capaian yang cukup signifikan dalam membentuk karakter dan keterampilan siswa. Namun demikian, kaitan antara kegiatan P5 dengan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila perlu diuraikan lebih eksplisit. Misalnya, indikator berpikir kritis dan gotong royong dapat diukur dari kemampuan siswa dalam berdiskusi kelompok dan menyelesaikan masalah kontekstual. Dimensi mandiri tercermin dari inisiatif siswa dalam menyusun produk proyek, sementara nilai iman dan takwa bisa diidentifikasi dari konten proyek yang berkaitan dengan nilai-nilai spiritual.</p>
        <p id="_paragraph-61">Kegiatan P5 di sekolah ini tampak berhasil membentuk siswa yang memiliki karakter sesuai dengan tujuan kurikulum merdeka, namun evaluasi mendalam dan terstruktur terhadap seluruh enam dimensi Profil Pelajar Pancasila masih dibutuhkan untuk memperkuat kesimpulan. Hal ini penting agar hasil implementasi tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga memperkuat dasar konseptual dan teoritis dalam membangun kerangka karakter bangsa sejak pendidikan dasar.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-b5291e384a862b14a8859e345f84f24e">
      <title>
        <bold id="bold-a967bf1c5dce4a7b2cbb2fb2fad5e0f6">SIMPULAN</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-63">Penelitian ini menyimpulkan bahwa pelaksanaan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) di SDN 183/II Sumber Mulya telah berjalan cukup baik dengan keterlibatan aktif guru dan siswa, meskipun masih terdapat kesenjangan pemahaman dan kesiapan antara keduanya. Temuan utama menunjukkan bahwa implementasi P5 berhasil memperkuat dimensi karakter siswa seperti gotong royong, berpikir kritis, dan kemandirian, melalui produk nyata dan kegiatan kolaboratif. Hambatan seperti keterbatasan teknologi, beban kerja guru, dan kurangnya pelatihan menjadi tantangan utama yang perlu diatasi.</p>
      <p id="_paragraph-64">Signifikansi dari penelitian ini terletak pada penekanan konteks lokal dalam implementasi kurikulum nasional, serta efektivitas strategi berbasis komunitas dan sumber daya lokal sebagai solusi adaptif di sekolah-sekolah non-perkotaan. Temuan ini memperkuat urgensi pengembangan pendekatan yang kontekstual, inklusif, dan memberdayakan dalam pelaksanaan kurikulum merdeka.</p>
      <p id="_paragraph-65">Oleh karena itu, penulis merekomendasikan agar:</p>
      <p id="_paragraph-66">1.Kementerian Pendidikan dan instansi terkait memperluas jangkauan pelatihan P5 berbasis daring dan luring bagi guru di daerah tertinggal.</p>
      <p id="_paragraph-67">2.Pemerintah daerah mengembangkan kebijakan afirmatif berupa dukungan teknis, sarana prasarana sederhana, serta penguatan komunitas belajar guru.</p>
      <p id="_paragraph-68">3.Sekolah dasar di daerah didorong untuk mengembangkan model P5 berbasis potensi lokal yang relevan dengan kehidupan siswa sehari-hari.</p>
      <p id="_paragraph-69">Dengan kebijakan yang responsif dan dukungan berkelanjutan, P5 dapat diimplementasikan secara lebih efektif untuk membentuk pelajar yang utuh, berkarakter, dan sesuai dengan nilai-nilai Pancasila sejak jenjang pendidikan dasar.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-2507891908d8f9549e74ddb635bdc20c">
      <title>UCAPAN TERIMA KASIH</title>
      <p id="_paragraph-71">Rasa terimakasih mendalam penulis sampaikan kepada seluruh warga SDN 183/II Sumber Mulya yang telah merkontribusi dalam penelitian yang dilakukan. Selain itu, kepada dosen pembimbing penulis yakni bapak Abdulah, M. Pd dan bapak Refril Dani, M. Pd yang selalu memberikan arahan kepada penulis selama proses penyusunan hasil penelitian.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>