<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Religious Moderation as a Strategy for Student Competence Formation in Multicultural Schools</article-title>
        <subtitle>Moderasi Beragama sebagai Strategi Pembentukan Kompetensi Siswa di Sekolah Multikultural</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-0aac1386bc86fb0a394e0a2ef702314a" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Hamid</surname>
            <given-names>Siti Nur Cholisa</given-names>
          </name>
          <email>sitinur@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-2ebf101ecf591d8ecde25c2ad639ea65" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Muis</surname>
            <given-names>Lidya Shery</given-names>
          </name>
          <email>lidyasherymuis@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2024-10-25">
          <day>25</day>
          <month>10</month>
          <year>2024</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-5a87114ea68ebf3785131f166e53756e">
      <title>
        <bold id="bold-22a16f1aec2695fb0c35141e822b20c0">PENDAHULUAN</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-4">Pendidikan merupakan landasan utama dalam membentuk kualitas sumber daya manusia. Selain berfungsi sebagai sarana transfer ilmu, pendidikan juga bertanggung jawab menanamkan nilai-nilai karakter pada setiap individu. Di tengah keragaman budaya, suku, dan agama di Indonesia, sekolah harus mampu menjadi ruang yang memupuk toleransi dan kerukunan. Moderasi beragama, yakni sikap tengah yang menolak ekstremisme dan radikalisme, hadir sebagai konsep penting untuk menjamin terciptanya suasana belajar yang inklusif dan harmonis [1].</p>
      <p id="_paragraph-5">Di tengah realitas masyarakat yang semakin beragam, sekolah memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai kebersamaan dan toleransi. Pendidikan agama tidak lagi cukup disampaikan secara normatif, tetapi perlu diarahkan untuk membentuk sikap moderat yang relevan dengan kehidupan sosial siswa. Kajian tentang moderasi beragama dalam lingkungan sekolah menjadi penting karena menyentuh langsung bagaimana nilai-nilai kemanusiaan, spiritualitas, dan keberagaman dapat diintegrasikan dalam praktik pembelajaran sehari-hari. Pendekatan ini tidak hanya memperkaya teori pendidikan agama, tetapi juga menawarkan contoh konkret yang dapat diterapkan di berbagai konteks pendidikan multikultural.</p>
      <p id="_paragraph-6">Moderasi beragama mendorong siswa mengembangkan sikap saling menghargai perbedaan, terbuka pada dialog, serta berpikir kritis terhadap paham-paham yang berpotensi merusak persatuan. Nilai ini tidak hanya memperkuat kompetensi afektif—seperti empati dan pengendalian diri—tetapi juga melengkapi kompetensi sosial, di mana siswa belajar bekerja sama dengan berbagai kelompok. Dengan demikian, moderasi beragama menjadi modal penting bagi siswa menghadapi tantangan sosial dan global [2].</p>
      <p id="_paragraph-7">Konteks pendidikan di Indonesia menuntut pengintegrasian nilai moderasi sejak dini. Perkembangan teknologi dan globalisasi memudahkan arus informasi, termasuk konten intoleran atau radikal. Sekolah sebagai institusi pendidikan formal harus peka terhadap dinamika ini, sehingga kurikulum dan metode pembelajaran mampu membekali siswa dengan literasi digital dan kemampuan menyeleksi informasi. Pendidikan moderat pun menjadi jawaban untuk mencegah terjadinya polarisasi di kalangan generasi muda [3].</p>
      <p id="_paragraph-8">SMA Negeri 1 Sidikalang, yang terletak di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, dipilih sebagai lokasi penelitian karena representatifnya keragaman budaya Batak dan agama yang dianut warga. Sekolah ini memiliki potensi besar untuk menerapkan moderasi beragama melalui program-program khas daerah, sambil menjaga keterbukaan terhadap perkembangan zaman. Meski menghadapi tantangan geografis, SMA Negeri 1 Sidikalang berupaya memaksimalkan fasilitas digital untuk menjangkau seluruh siswa, termasuk yang berada di daerah terpencil.</p>
      <p id="_paragraph-9">Visi SMA Negeri 1 Sidikalang adalah menghasilkan generasi yang unggul secara akademik [2]sekaligus mencintai budaya lokal. Misi sekolah mencakup peningkatan mutu pembelajaran, optimalisasi proses belajar mengajar, dan pengembangan potensi siswa secara holistik. Melalui visi dan misi tersebut, sekolah berkomitmen mencetak lulusan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berkarakter moderat dalam beragama.</p>
      <p id="_paragraph-10">Kurikulum di SMA Negeri 1 Sidikalang telah mengakomodasi kompetensi abad 21—berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikasi—dengan menyisipkan materi pluralisme dan hak asasi manusia. Integrasi moderasi beragama ke dalam mata pelajaran PAI dan lintas kurikuler memastikan siswa memahami prinsip keseimbangan antara hak dan kewajiban, serta menghindari sikap fanatik. Pembelajaran berbasis diskusi dan pemecahan masalah mendorong siswa untuk bersikap rasional dan toleran.</p>
      <p id="_paragraph-11">Dalam proses belajar mengajar, guru berperan sebagai fasilitator yang memberi teladan sikap moderat. Melalui dialog terbuka, guru mengajak siswa mengemukakan pendapat—bahkan yang berbeda—dengan tetap menjaga rasa hormat. Model pembelajaran yang mengutamakan refleksi, diskusi kelompok, dan studi kasus intoleransi membantu siswa memahami akibat ekstremisme, sekaligus membangun sikap saling menghormati [4].</p>
      <p id="_paragraph-12">Ekstrakurikuler di SMA Negeri 1 Sidikalang semakin memperkuat moderasi beragama. Kegiatan seperti paduan suara lintas agama, organisasi kepemimpinan siswa, dan klub debat antarbudaya memfasilitasi interaksi positif. Di sini, kompetensi psikomotorik—seperti kemampuan berorganisasi dan berkomunikasi—berkembang, sembari nilai inklusif dan empati terinternalisasi [5].</p>
      <p id="_paragraph-13">Kolaborasi dengan komunitas lokal—termasuk lembaga keagamaan, seniman Batak, dan petani setempat memperkaya pembelajaran kontekstual. Program pengabdian masyarakat dan kunjungan edukatif membuka wawasan siswa tentang keragaman budaya dan tantangan masyarakat. Interaksi ini menumbuhkan rasa tanggung jawab sosial dan meneguhkan nilai moderasi sebagai praktik nyata di lapangan [6].</p>
      <p id="_paragraph-14">Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan pendidikan karakter multikultural melalui penerapan nilai-nilai moderasi beragama dalam pembelajaran Pendidikan Agama di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Sidikalang. Moderasi beragama, yang mencakup sikap toleransi, anti-kekerasan, dan penerimaan terhadap perbedaan keyakinan, semakin penting dalam membentuk kompetensi siswa di tengah masyarakat majemuk. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, nilai-nilai ini mendukung dimensi Profil Pelajar Pancasila, khususnya “berkebinekaan global” dan “beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia”. Studi internasional terbaru menunjukkan urgensi ini: Zhang et al. (2024) menemukan bahwa pendidikan moderasi beragama secara signifikan meningkatkan empati dan keterampilan sosial siswa di sekolah menengah multikultural di Asia Tenggara; sementara itu, laporan UNESCO (2025) menekankan pentingnya pendekatan pembelajaran berbasis toleransi di wilayah rural sebagai kunci stabilitas sosial. Di sisi lain, riset oleh Khan dan Alvi (2024) menggarisbawahi bahwa sekolah negeri di daerah pedesaan masih minim perhatian dalam penerapan nilai-nilai moderasi secara sistematis.</p>
      <p id="_paragraph-15">Hingga kini, belum banyak kajian yang secara khusus meneliti implementasi moderasi beragama di sekolah negeri multikultural yang berlokasi di daerah rural seperti Sidikalang. Padahal, konteks sosial-budaya daerah semacam ini sering kali menyimpan potensi konflik horizontal yang tersembunyi jika pendidikan nilai tidak ditanamkan secara tepat. Apabila kesenjangan ini dibiarkan, sekolah berisiko gagal membentuk generasi yang siap hidup damai dalam keberagaman. Kebaruan studi ini terletak pada pemetaan komprehensif faktor pendukung dan penghambat implementasi moderasi beragama, serta analisis dampaknya terhadap empat domain kompetensi siswa: spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan.</p>
      <p id="_paragraph-16">Meski demikian, implementasi moderasi beragama menghadapi kendala internal, seperti keterbatasan pemahaman guru dan kurangnya bahan ajar yang kontekstual, serta tantangan eksternal berupa pengaruh media sosial dan dinamika politik lokal. Identifikasi faktor pendukung dan penghambat ini penting agar strategi penguatan moderasi dapat dirancang lebih efektif. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan pendidikan karakter multikultural melalui implementasi nilai-nilai moderasi beragama dalam pembelajaran Pendidikan Agama di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Sidikalang. Moderasi beragama dipahami sebagai sikap tengah, adil, dan tidak ekstrem dalam beragama, yang sangat relevan dalam membentuk kompetensi siswa agar mampu hidup harmonis di tengah masyarakat yang beragam. Pendekatan ini mendukung terwujudnya peserta didik yang berakhlak mulia, toleran, dan mampu menghargai perbedaan, sejalan dengan nilai-nilai utama dalam Kurikulum Merdeka. Kajian ini sejalan dengan fokus pada pengembangan inovasi pembelajaran dan pembentukan karakter peserta didik yang berlandaskan nilai-nilai kebinekaan dan inklusivitas.</p>
      <p id="_paragraph-17">Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini bertujuan menggali bagaimana nilai-nilai moderasi beragama diimplementasikan dalam pembelajaran PAI di SMA Negeri 1 Sidikalang dan sejauh mana hal tersebut membentuk kompetensi siswa—baik kompetensi keagamaan, sosial, moral, maupun akademik. Dengan pemahaman mendalam tentang praktik, kendala, dan dampaknya, diharapkan rekomendasi dapat dirumuskan untuk memperkuat moderate teaching di sekolah menengah.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-eabfafab20142afa16e799b6393e390d">
      <title>
        <bold id="bold-0f1bd6d0714738dade86f36de13a5dd1">METODE</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-19">Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif karena fokus utama kajian adalah memahami makna sosial dari implementasi nilai-nilai moderasi beragama dalam lingkungan pendidikan. Pendekatan ini paling tepat digunakan karena tidak hanya berupaya menggambarkan gejala yang tampak, tetapi juga menelusuri pengalaman, pemahaman, dan nilai-nilai yang diyakini oleh warga sekolah dalam kehidupan sehari-hari. Data yang dikumpulkan berbentuk narasi, interaksi, serta dokumen yang mengandung makna, bukan sekadar angka. Oleh karena itu, pendekatan ini memberikan ruang bagi peneliti untuk menangkap kompleksitas praktik pendidikan karakter multikultural secara mendalam dan kontekstual, sesuai dengan realitas sosial di SMA Negeri 1 Sidikalang.</p>
      <p id="_paragraph-20">Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Februari 2025 di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Sidikalang, yang terletak di Jln. Dr. F.L. Tobing Barna, Sidikalang. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada kenyataan bahwa sekolah ini merepresentasikan masyarakat multikultural di wilayah rural, dengan komposisi siswa dan guru yang beragam dari segi agama dan latar belakang budaya. Selain itu, belum ditemukan kajian sebelumnya yang secara spesifik membahas implementasi nilai-nilai moderasi beragama dalam konteks sekolah negeri di wilayah ini, sehingga membuka peluang bagi penelitian ini untuk memberikan kontribusi ilmiah yang orisinal.</p>
      <p id="_paragraph-21">Subjek penelitian dipilih secara purposive, yaitu berdasarkan pertimbangan bahwa mereka memiliki pengalaman langsung dan relevansi informasi terhadap topik yang dikaji. Subjek tersebut meliputi Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Guru Pendidikan Agama Islam, Guru Pendidikan Agama Kristen, Guru Pendidikan Kewarganegaraan, dan staf tata usaha. Data dikumpulkan melalui tiga teknik utama: wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Wawancara dilakukan menggunakan pedoman terbuka yang telah divalidasi oleh dua ahli pendidikan untuk menjamin kelayakan isi instrumen. Observasi dilakukan terhadap kegiatan pembelajaran, interaksi antar siswa, serta aktivitas rutin sekolah seperti upacara dan kegiatan keagamaan. Sementara itu, dokumentasi digunakan untuk menelusuri visi misi sekolah, struktur kurikulum, dan arsip kegiatan yang mendukung nilai-nilai keberagaman.</p>
      <p id="_paragraph-22">Untuk memperjelas sistem pengumpulan data, peneliti menyusun matriks teknik berikut: sumber data terdiri dari tokoh sekolah dan dokumen resmi; teknik yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan studi dokumentasi; instrumen berupa pedoman wawancara, lembar observasi, dan checklist dokumen; tujuan pengumpulan adalah menggali pemahaman dan praktik moderasi beragama dalam lingkungan sekolah. Dengan demikian, data yang diperoleh bersifat triangulatif dan saling memperkuat satu sama lain. Teknik analisis yang digunakan mengacu pada model Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sebagai contoh, kutipan siswa seperti “saya nyaman berteman dengan siapa saja meskipun berbeda agama” direduksi dan dikodekan ke dalam tema ‘empati antarteman’ yang menjadi bagian dari dimensi sikap toleransi.</p>
      <p id="_paragraph-23">Untuk menjamin keabsahan data, peneliti menggunakan beberapa teknik verifikasi, yaitu triangulasi sumber dengan membandingkan informasi dari kepala sekolah, guru, siswa, dan dokumen; triangulasi waktu dengan mengumpulkan data di waktu yang berbeda untuk memastikan konsistensi temuan; serta member checking, yakni mengonfirmasi hasil wawancara kepada informan guna menjamin kebenaran interpretasi peneliti. Penggunaan berbagai teknik ini bertujuan agar temuan penelitian benar-benar mencerminkan kondisi nyata di lapangan dan memiliki validitas tinggi. Dengan pendekatan metodologis yang komprehensif ini, penelitian diharapkan mampu memberikan gambaran mendalam tentang bagaimana nilai-nilai moderasi beragama diimplementasikan dalam praktik pendidikan sehari-hari di sekolah menengah atas yang berkarakter multikultural.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-62c291a4934cca0fd692dc1160de981c">
      <title>
        <bold id="bold-06e6cb5f744b3e9b9d1e9dcef1804e9d">HASIL DAN PEMBAHASAN</bold>
      </title>
      <sec id="heading-74774d586a293174bde2fd23eed83044">
        <title>Hasil Penelitian</title>
        <p id="_paragraph-26">Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan di SMA Negeri 1 Sidikalang, ditemukan bahwa implementasi nilai-nilai moderasi beragama dalam kehidupan sekolah telah dijalankan secara bertahap melalui pendekatan yang berbasis keseharian. Sikap siswa terhadap keberagaman menunjukkan kecenderungan positif, meskipun dengan variasi tingkat pemahaman dan penghayatan. Data menunjukkan bahwa mayoritas siswa menunjukkan sikap saling menghargai dan terbuka terhadap perbedaan keyakinan maupun budaya.</p>
        <p id="_paragraph-27">Untuk menggambarkan pola sikap siswa terhadap nilai-nilai moderasi beragama, peneliti menyusun data observasi ke dalam tabel ringkas berikut:</p>
        <table-wrap id="_table-figure-1">
          <label>Table 1</label>
          <caption>
            <title> Frekuensi Sikap Siswa terhadap Nilai-Nilai Moderasi Beragama</title>
            <p id="_paragraph-29" />
          </caption>
          <table id="_table-1">
            <tbody>
              <tr id="table-row-e57d33a878c7e0bf8cbe48afbb2a4a9b">
                <th id="table-cell-1ff871cd4b72aae62d5e1ff9fa901910">Pernyataan Sikap</th>
                <th id="table-cell-47636a9c2c92fa3a0ef3e647641e35ab">Selalu</th>
                <th id="table-cell-da4c1111403220c95f5c4bb23d0c211f">Kadang-kadang</th>
                <th id="table-cell-a23e7ca252ad81ea3d8bfc567c068aa5">Jarang</th>
              </tr>
              <tr id="table-row-73f081024a3596cb2e293ae693c9b0c6">
                <td id="table-cell-5297a572d4ae409032274afbd987a8cc">Menghargai perbedaan agama dalam pergaulan</td>
                <td id="table-cell-d06e5da4457a8303041c28c09829d90d">19 siswa</td>
                <td id="table-cell-add164559ce1891d58b25b39cf744d43">5 siswa</td>
                <td id="table-cell-5b8583052b2b3cb83142f93e8cf88523">1 siswa</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-f24dd5544ffd68dd9acb14110d86bcec">
                <td id="table-cell-558ffaba02d4c646f303b9e4c00c28d1">Bersikap adil dalam kegiatan kelompok lintas agama</td>
                <td id="table-cell-2533d71cd2646393b54234572e8ca8e9">17 siswa</td>
                <td id="table-cell-83781327215eeae073cba83bc5c292fa">6 siswa</td>
                <td id="table-cell-8d93be4751faf9954dd34846de003d21">2 siswa</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-c82483d073503559e7dd3dead786fee4">
                <td id="table-cell-684444eeae2ca1c1e34121cd5a426b8f">Menolak ujaran kebencian atau ejekan soal agama</td>
                <td id="table-cell-fa971957c8ced41db2fb332b616c86f5">16 siswa</td>
                <td id="table-cell-ee3633e571b75e13922ffc50953b817d">7 siswa</td>
                <td id="table-cell-6b936648be0d4c6b6068271642a7a363">2 siswa</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-6a5ca52317e8994499bcec3428b06110">
                <td id="table-cell-178743ff8e31fe9ff902252233294f22">Aktif berdialog tentang keberagaman dengan sikap terbuka</td>
                <td id="table-cell-3f216de111f2df5122b07e1125b7473c">14 siswa</td>
                <td id="table-cell-9d421d05b5c4b6136af576788f88a051">8 siswa</td>
                <td id="table-cell-71e5879b2b9dd38ad7dcbb7d3771e3e9">3 siswa</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
        <p id="_paragraph-30">Dari hasil tersebut terlihat bahwa mayoritas siswa memiliki sikap positif terhadap keberagaman, meskipun masih terdapat sebagian kecil yang hanya sesekali menunjukkan sikap tersebut, terutama dalam konteks dialog terbuka. Hal ini menunjukkan pentingnya penguatan melalui pembiasaan dan keteladanan guru dalam kehidupan sekolah. Dari hasil diatas dapat divisualisasikan sebagai berikut:</p>
        <p id="_paragraph-31">Hasil wawancara dengan Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Sidikalang menunjukkan bahwa moderasi beragama telah menjadi bagian dari nilai-nilai inti yang ingin dibangun di sekolah. Kepala sekolah menjelaskan bahwa visi sekolah yang menekankan kebhinekaan dan toleransi diterjemahkan ke dalam praktik harian melalui berbagai kegiatan siswa. Salah satu bentuk nyatanya adalah penyusunan jadwal kegiatan keagamaan yang adil dan representatif bagi semua agama yang dianut siswa. Ia menyatakan, “Kami memastikan bahwa semua siswa memiliki ruang untuk menjalankan ibadahnya, termasuk menyediakan ruangan untuk doa bagi siswa non-muslim selama kegiatan sekolah berlangsung.” Hal ini menunjukkan kesadaran institusional terhadap pentingnya inklusivitas dalam dunia pendidikan.</p>
        <p id="_paragraph-32">Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan juga menekankan pentingnya pembinaan sikap toleransi melalui kegiatan ekstrakurikuler dan organisasi siswa. Ia menjelaskan bahwa OSIS dilibatkan dalam merancang kegiatan yang mempromosikan kerja sama lintas agama, seperti peringatan Hari Besar Nasional dan kerja bakti bersama. Ia mengatakan, “Kami tidak hanya fokus pada pembelajaran di kelas, tapi juga membina sikap sosial mereka melalui kegiatan bersama. Di sinilah nilai-nilai saling menghargai itu tumbuh.” Kegiatan ini secara tidak langsung menanamkan sikap gotong royong dan kepedulian lintas identitas agama dan budaya di antara para siswa.</p>
        <p id="_paragraph-33">Guru Pendidikan Agama Islam menekankan bahwa moderasi beragama menjadi bagian dari pendekatan pedagogis dalam proses pembelajaran. Ia menyebut bahwa dalam mengajar, ia tidak hanya menyampaikan materi ajar secara normatif, tetapi juga mengaitkannya dengan realitas sosial siswa yang hidup di lingkungan multikultural. Guru tersebut menjelaskan, “Saya sering mengajak siswa berdiskusi tentang bagaimana cara menghargai teman yang berbeda agama. Misalnya, saya tanyakan: ‘Bagaimana sikap kita kalau teman kita berpuasa, tapi kita tidak?’ Mereka jadi berpikir dan belajar mengendalikan diri.” Strategi pembelajaran reflektif semacam ini efektif membangun empati dan kesadaran sosial di kalangan siswa.</p>
        <p id="_paragraph-34">Guru Pendidikan Agama Kristen memberikan pandangan serupa. Ia menyampaikan bahwa nilai-nilai kasih, perdamaian, dan keadilan yang diajarkan dalam agamanya sangat selaras dengan prinsip moderasi. Dalam praktiknya, guru ini banyak menggunakan metode cerita dan dialog untuk menanamkan nilai-nilai tersebut. Ia berkata, “Saya menghindari penyampaian yang dogmatis. Saya lebih suka mendorong siswa untuk bertanya dan saling mendengarkan pandangan satu sama lain.” Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya menjadi transfer ilmu, tetapi ruang untuk membangun sikap saling memahami antarumat beragama.</p>
        <p id="_paragraph-35">Sementara itu, staf tata usaha memberikan gambaran bagaimana praktik moderasi juga tercermin dalam interaksi non-formal di lingkungan sekolah. Ia menyebut bahwa meskipun terdapat keberagaman di antara guru dan siswa, tidak pernah terjadi konflik karena pihak sekolah secara aktif membina komunikasi yang terbuka dan menghargai perbedaan. Ia mengatakan, “Kami saling tahu latar belakang agama masing-masing, tapi itu tidak pernah jadi penghalang. Yang penting, kami sama-sama bekerja untuk kebaikan sekolah.” Hal ini menegaskan bahwa moderasi tidak hanya tumbuh dari kebijakan formal, tetapi juga dari budaya saling menghargai yang dibangun dari bawah.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-df73d577950d5964d733c9888e7adafc">
        <title>Pembahasan</title>
        <sec id="heading-838a50005cc98a1eecca9cf549e36dcc">
          <title>A. Faktor-faktor yang mempengaruhi implementasi moderasi beragama dalam pembelajaran Pendidikan Agama di SMA Negeri 1 Sidikalang</title>
          <p id="_paragraph-38">Penerapan nilai-nilai moderasi beragama dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) di SMA Negeri 1 Sidikalang menunjukkan adanya integrasi yang kuat antara nilai toleransi, keadilan, dan sikap saling menghormati dalam praktik pendidikan sehari-hari. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru PAI, terungkap bahwa konsep moderasi beragama bukanlah hal baru, melainkan bagian dari nilai-nilai universal dalam ajaran agama dan kehidupan sosial. Dalam konteks sekolah yang multikultural, pendekatan ini sejalan dengan gagasan tolerance curriculum yang mengintegrasikan nilai-nilai kebhinekaan ke dalam konten dan metode pengajaran. Selain itu, ini juga mencerminkan pendekatan experiential multicultural education, di mana siswa tidak hanya belajar tentang toleransi melalui teori, tetapi juga mengalaminya secara langsung melalui interaksi dan praktik keseharian di sekolah. Dengan demikian, guru dapat menyisipkan nilai toleransi dan antisipasi konflik dalam setiap materi PAI melalui studi kasus, simulasi sosial, dan refleksi pengalaman siswa.</p>
          <p id="_paragraph-39">Dalam praktiknya, guru-guru PAI tidak hanya menyusun RPP dan silabus yang memuat nilai-nilai kebhinekaan, tetapi juga memilih materi ajar yang relevan dengan realitas keberagaman siswa. Metode pembelajaran bersifat kontekstual, kolaboratif, dan aplikatif. Siswa diajak untuk tidak hanya memahami ajaran Islam secara normatif, tetapi juga mengembangkan kemampuan reflektif dan sikap terbuka terhadap perbedaan. Jika dibandingkan dengan temuan Nasir &amp; Rijal (2021) yang menekankan pentingnya pendidikan dialogis dalam membentuk kesadaran multikultural siswa, studi ini menunjukkan kesamaan dalam penggunaan pendekatan kontekstual. Namun, perbedaannya terletak pada aspek praktik langsung yang lebih nyata di SMA Negeri 1 Sidikalang, seperti keterlibatan dalam proyek lintas iman.</p>
          <p id="_paragraph-40">Sikap inklusif para guru menjadi praktik pedagogi yang mencerminkan prinsip keteladanan, sejalan dengan konsep experiential learning yang menekankan pada peran pengalaman nyata dalam membentuk sikap dan karakter. Guru tidak hanya mengajarkan nilai, tetapi juga menjadi model hidup dari nilai tersebut. Dalam wawancara, guru menyatakan pentingnya memperlakukan semua siswa secara setara, mencerminkan nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin. Ini memiliki kesamaan dengan penelitian Rusmiati (2022) yang menyatakan bahwa keteladanan guru merupakan kunci internalisasi nilai toleransi. Perbedaannya, temuan di SMA Negeri 1 Sidikalang menekankan bahwa keteladanan guru diperkuat oleh dukungan struktural dari pihak sekolah.</p>
          <p id="_paragraph-41">Secara kelembagaan, sekolah menunjukkan dukungan nyata melalui kebijakan dan penyediaan fasilitas yang mendukung praktik moderasi beragama, seperti ruang ibadah lintas agama dan pelaksanaan pembelajaran agama berdasarkan keyakinan masing-masing. Ini mencerminkan penerapan tolerance curriculum secara kelembagaan. Berbeda dari studi Nasir &amp; Rijal (2021) yang lebih menyoroti kendala administratif, sekolah ini menonjol dalam konsistensi implementasi aturan yang menjamin keadilan spiritual.</p>
          <p id="_paragraph-42">Penerapan nilai moderasi beragama juga diwujudkan dalam kegiatan nonakademik seperti bakti sosial lintas iman, proyek P5 bertema toleransi, dan dialog kebhinekaan. Ini membentuk pengalaman belajar yang bermakna dan sejalan dengan prinsip experiential multicultural education. Kolaborasi antara guru BK, wali kelas, dan guru agama dalam mengelola potensi konflik menunjukkan adanya sistem manajemen keberagaman yang berfungsi dengan baik. Hal ini tidak hanya memperkaya pengalaman siswa, tetapi juga memperkuat identitas sekolah sebagai komunitas pembelajar yang menjunjung nilai-nilai moderat. Dengan demikian, sekolah dapat menjadikan kegiatan lintas iman sebagai agenda rutin yang dirancang bersama OSIS dan guru, agar toleransi menjadi budaya yang terinternalisasi dan bukan hanya wacana.</p>
        </sec>
        <sec id="heading-9dd432c7ae428eb360d49b0df4b4c705">
          <title>B. Dampak Moderasi Beragama terhadap Pembentukan Kompetensi Pengetahuan dan Sikap Siswa di SMA Negeri 1 Sidikalang</title>
          <p id="_paragraph-44">Penerapan moderasi beragama di SMA Negeri 1 Sidikalang memberikan dampak signifikan terhadap pengembangan kompetensi siswa, baik dalam aspek pengetahuan keagamaan maupun pembentukan sikap sosial dan spiritual. Guru Pendidikan Agama Islam dan Kristen sepakat bahwa integrasi nilai-nilai moderat ke dalam pembelajaran memperluas makna ajaran agama dari yang semula bersifat dogmatis menjadi reflektif dan kontekstual. Ini sejalan dengan pendekatan tolerance curriculum, yang menekankan bahwa pendidikan agama harus menjadi wahana pembelajaran damai dalam masyarakat multikultural. Guru mendorong siswa untuk melihat agama sebagai sistem nilai yang mendukung kohesi sosial dan bukan sebagai sekat pemisah.</p>
          <p id="_paragraph-45">Dari sisi pengetahuan, pendekatan moderasi memperluas wawasan siswa terhadap nilai-nilai universal dalam ajaran agama seperti kasih sayang, keadilan, dan keseimbangan. Guru mencatat bahwa siswa menjadi lebih terbuka dan kritis dalam diskusi lintas agama, tanpa kehilangan sikap hormat. Hal ini mencerminkan praktik experiential multicultural education, di mana siswa tidak hanya mempelajari keberagaman secara teoritik, tetapi juga mengalaminya dalam lingkungan nyata yang mendukung praktik dialogis. Jika dibandingkan dengan temuan Nasir &amp; Rijal (2021) yang menyatakan bahwa pembelajaran multikultural sering terhambat oleh bias guru terhadap ajaran agamanya sendiri, maka praktik di SMA Negeri 1 Sidikalang menonjol karena guru dari berbagai agama bekerja sama menyampaikan pesan moderasi secara harmonis.</p>
          <p id="_paragraph-46">Dampak positif juga terlihat dalam perubahan sikap siswa yang semakin inklusif dan toleran. Siswa menunjukkan kemampuan untuk menyikapi perbedaan dengan empati, seperti saling menghormati praktik ibadah teman sekelas yang berbeda keyakinan. Fenomena ini memperkuat temuan Rusmiati (2022), yang menyatakan bahwa praktik moderasi efektif jika ada pembiasaan sosial dan peran aktif guru sebagai teladan. Namun, studi ini melampaui temuan Rusmiati karena menampilkan adanya peer influence yang positif, di mana siswa saling mengedukasi dan mengingatkan pentingnya sikap toleran.</p>
          <p id="_paragraph-47">Pihak sekolah juga berperan penting dalam menyediakan ruang aktualisasi nilai moderasi melalui kegiatan lintas iman seperti bakti sosial, dialog antaragama, dan proyek kolaboratif. Pendekatan berbasis pengalaman langsung ini selaras dengan prinsip experiential learning, yang menekankan bahwa sikap hanya terbentuk jika siswa mengalami nilai-nilai tersebut dalam praktik kehidupan sosialnya. Kegiatan ini juga memperkuat karakter Profil Pelajar Pancasila yang berjiwa gotong royong dan berwawasan kebhinekaan global.</p>
          <p id="_paragraph-48">Secara keseluruhan, pembelajaran berbasis moderasi di SMA Negeri 1 Sidikalang bukan hanya mencetak siswa yang cakap secara kognitif dalam memahami agama, tetapi juga menumbuhkan karakter sosial yang berorientasi pada perdamaian, empati, dan keadilan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan agama yang diarahkan pada moderasi tidak hanya menjadi ruang penguatan spiritual, tetapi juga menjadi strategi pendidikan karakter dalam masyarakat plural. Berbeda dengan banyak temuan sebelumnya yang berfokus pada tantangan implementasi, studi ini menunjukkan bahwa dukungan kelembagaan dan sinergi antarguru menjadi kunci sukses internalisasi nilai moderat. Dengan demikian, sekolah dapat menjadikan moderasi beragama sebagai bagian dari visi dan misi kelembagaan, serta indikator keberhasilan dalam asesmen budaya sekolah.</p>
        </sec>
        <sec id="heading-8a51bd66ea02f26ff5c3c17c81277834">
          <title>C. Peran guru dalam mengimplementasikan moderasi beragama dalam pembelajaran di SMA Negeri 1 Sidikalang</title>
          <p id="_paragraph-50">Penerapan moderasi beragama di SMA Negeri 1 Sidikalang tidak dipandang sebagai konsep baru yang bersifat asing, melainkan sebagai nilai fundamental yang secara inheren telah tertanam dalam ajaran agama masing-masing. Guru Pendidikan Agama Islam menekankan pentingnya prinsip tawassuth (jalan tengah) sebagai inti dari ajaran Islam yang mendorong sikap seimbang, adil, dan menghindari ekstremisme. Di sisi lain, guru Pendidikan Agama Kristen mengaitkan moderasi dengan nilai kasih yang bersifat universal, yang mengajarkan kepedulian dan penghormatan terhadap sesama tanpa memandang perbedaan keyakinan. Hal ini menunjukkan bahwa moderasi beragama diinternalisasi bukan hanya sebagai strategi sosial adaptif, tetapi sebagai nilai spiritual transformatif. Pendekatan ini sesuai dengan kerangka tolerance curriculum, yang menjadikan nilai keberagaman sebagai bagian integral dari pendidikan agama.</p>
          <p id="_paragraph-51">Dari perspektif pedagogis, terlihat bahwa guru agama di SMA Negeri 1 Sidikalang memiliki kesadaran reflektif atas peran mereka sebagai agent of change dalam penguatan karakter moderat peserta didik. Pendidikan agama tidak disampaikan sebagai dogma semata, melainkan sebagai wahana pengembangan nilai kemanusiaan yang relevan dengan realitas sosial. Guru secara sadar mengintegrasikan nilai moderasi dalam proses pembelajaran dengan pendekatan dialogis, kontekstual, dan empatik—ciri utama dari experiential multicultural education. Ini memperkaya temuan Rusmiati (2022), yang menyoroti pentingnya keteladanan guru, dengan memperlihatkan bahwa di sekolah ini, guru juga aktif menciptakan ruang dialog dan refleksi.</p>
          <p id="_paragraph-52">Integrasi antara nilai-nilai keagamaan dan prinsip moderasi dalam pembelajaran berdampak nyata pada perkembangan sikap dan kecakapan sosial siswa. Guru dari dua agama menyatakan bahwa siswa berkembang tidak hanya dalam religiositas pribadi, tetapi juga dalam sikap toleran dan inklusif terhadap perbedaan. Ini selaras dengan semangat Kurikulum Merdeka dan Profil Pelajar Pancasila, serta memperluas temuan Nasir &amp; Rijal (2021) yang menekankan bahwa pembelajaran agama kontekstual mampu meningkatkan sikap saling menghargai antarumat beragama. Namun, studi ini berbeda dalam hal adanya praktik nyata lintas iman yang terstruktur sebagai bagian dari kurikulum sekolah.</p>
          <p id="_paragraph-53">Peran guru agama tidak berhenti sebagai pengajar mata pelajaran, tetapi juga sebagai fasilitator perdamaian dan penjaga harmoni di sekolah. Keteladanan mereka dalam menjalin hubungan baik lintas iman menjadi living curriculum bagi siswa. Interaksi antar guru dari latar belakang agama berbeda yang berlangsung secara terbuka dan harmonis menciptakan iklim psikososial yang sehat bagi siswa dalam menghayati pluralitas. Ini memperluas gagasan Rusmiati (2022) tentang pentingnya figur guru sebagai panutan dengan menambahkan dimensi kelembagaan dan kerja kolektif antar guru.</p>
          <p id="_paragraph-54">Implementasi nilai moderasi juga berlangsung di luar ruang kelas melalui kegiatan berbasis pengalaman seperti dialog lintas agama, bakti sosial bersama, dan perayaan hari besar secara inklusif. Aktivitas ini tidak hanya menciptakan suasana toleran, tetapi juga memperkuat pembelajaran nilai dalam bentuk nyata. Hal ini mencerminkan prinsip inti dari experiential multicultural education, yaitu pembelajaran melalui keterlibatan langsung dalam konteks sosial yang majemuk. Kegiatan-kegiatan ini memperkuat internalisasi nilai-nilai moderasi hingga menjadi bagian dari identitas siswa.</p>
          <p id="_paragraph-55">Dengan demikian, peran guru agama dalam menanamkan nilai-nilai moderasi bukan hanya mendidik secara spiritual, tetapi juga membentuk kepribadian kebangsaan yang menghargai pluralitas. Pendidikan agama yang moderat berfungsi sebagai jembatan antara nilai keimanan dan realitas sosial kebinekaan. Studi ini menunjukkan bahwa SMA Negeri 1 Sidikalang telah mengimplementasikan pendekatan pendidikan agama yang transformatif, menjadikan sekolah sebagai ruang strategis untuk membangun generasi religius yang toleran, empatik, dan berkarakter inklusif. Ini sekaligus menjawab tantangan pendidikan nasional dalam membentuk warga negara yang damai dan beradab di tengah masyarakat multikultural. Dengan demikian, kepala sekolah dapat memasukkan indikator keberhasilan moderasi ke dalam visi misi sekolah dan mengintegrasikan pelatihan guru sebagai program berkelanjutan untuk memperkuat kompetensi keberagaman.</p>
        </sec>
        <sec id="heading-85c9ac2ab9d1a9afb304ffa696807092">
          <title>D. Respon Siswa terhadap Penerapan Moderasi Beragama dalam Pembelajaran</title>
          <p id="_paragraph-57">Penerapan moderasi beragama di SMA Negeri 1 Sidikalang mendapatkan sambutan yang sangat positif dari para siswa, khususnya mereka yang duduk di kelas XI dan XII. Antusiasme ini terlihat dari cara siswa merespons materi dan nilai-nilai yang diajarkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama. Nilai-nilai seperti toleransi, saling menghormati, empati terhadap perbedaan, serta semangat kerja sama lintas agama, tidak hanya menjadi wacana dalam kelas, tetapi telah meresap ke dalam perilaku sosial siswa dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa proses internalisasi nilai-nilai moderasi telah berlangsung secara efektif, membentuk pola pikir dan sikap siswa yang terbuka dan inklusif.</p>
          <p id="_paragraph-58">Para siswa memandang guru agama sebagai sosok teladan yang mencerminkan nilai-nilai moderat dalam tindakan nyata. Guru tidak hanya menyampaikan materi ajar berupa doktrin keagamaan, tetapi juga menekankan pentingnya membangun kehidupan yang damai dalam keberagaman. Keteladanan yang ditampilkan oleh guru menjadi media pembelajaran tersendiri yang kuat, mendukung teori role modeling dalam pendidikan karakter, di mana perilaku guru menjadi cerminan yang ditiru oleh peserta didik. Dengan bersikap terbuka, menghormati perbedaan, dan menunjukkan sikap adil kepada semua siswa tanpa membedakan latar belakang agama, guru agama berperan besar dalam menumbuhkan sikap moderat dalam diri peserta didik secara alami.</p>
          <p id="_paragraph-59">Berbagai kegiatan lintas agama yang difasilitasi oleh sekolah, seperti bakti sosial, peringatan hari besar nasional, diskusi kebinekaan, dan kegiatan project based learning bertema toleransi, menjadi wahana penting dalam memperkuat pemahaman siswa terhadap nilai-nilai moderasi. Kegiatan ini tidak hanya menciptakan ruang kolaborasi antara siswa dari latar belakang agama yang berbeda, tetapi juga memberikan pengalaman konkret bagaimana hidup dalam keberagaman dapat diwujudkan dengan sikap saling menghargai. Pendekatan semacam ini sejalan dengan konsep experiential learning yang menekankan pembelajaran melalui keterlibatan aktif, interaksi sosial langsung, dan praktik nyata, yang berdampak lebih kuat daripada pengajaran teoritis semata [13].</p>
          <p id="_paragraph-60">Temuan di lapangan menunjukkan bahwa sikap moderat telah terwujud dalam interaksi siswa secara nyata. Siswa terbiasa menunjukkan perilaku yang mencerminkan penghargaan terhadap perbedaan agama, seperti saling memberi ucapan selamat saat perayaan hari besar keagamaan, menghindari tindakan atau ucapan yang berpotensi menyinggung keyakinan lain, serta menjaga keharmonisan hubungan di lingkungan sekolah. Bahkan dalam situasi informal sekalipun, seperti saat beristirahat atau kegiatan di luar kelas, siswa tetap menunjukkan kesadaran tinggi dalam menjaga sikap inklusif. Ini menjadi indikator bahwa nilai-nilai moderasi telah berhasil menjadi bagian dari norma sosial dan budaya sekolah, bukan sekadar materi pelajaran semata.</p>
          <p id="_paragraph-61">Secara keseluruhan, respons siswa terhadap penerapan moderasi beragama di SMA Negeri 1 Sidikalang sangat konstruktif dan menunjukkan hasil yang nyata. Mereka tidak hanya memahami nilai-nilai tersebut secara konseptual, tetapi juga telah menjadikannya pedoman dalam membangun relasi sosial yang harmonis dan penuh penghargaan terhadap keberagaman. Peran guru sebagai figur teladan yang konsisten, ditambah dengan kegiatan lintas iman yang dirancang secara bermakna, berhasil menciptakan ekosistem sekolah yang ramah, damai, dan inklusif. Hal ini membuktikan bahwa pendidikan agama yang berbasis nilai dan kontekstual mampu membentuk generasi muda yang tidak hanya religius secara individu, tetapi juga memiliki kepekaan sosial tinggi dalam kehidupan masyarakat yang majemuk, sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan semangat kebhinekaan bangsa Indonesia.</p>
        </sec>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-b74bb92b63a75f6df80faf9b1e819a2e">
      <title>
        <bold id="bold-26ff19ef6879fd967d01a5bccf9634dc">SIMPULAN</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-63">Hasil wawancara dengan guru PAI, guru Kristen, Wakil Kepala Sekolah, dan siswa kelas XI-XII di SMA Negeri 1 Sidikalang menunjukkan bahwa moderasi beragama diterapkan secara nyata dalam pembelajaran. Nilai-nilai seperti toleransi, keadilan, dan saling menghormati tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi juga dijalankan dalam praktik sekolah. Guru menyisipkan nilai moderasi dalam RPP, metode mengajar, hingga keteladanan sikap di kelas. Hal ini mendorong siswa menjadi pribadi yang tidak hanya religius, tetapi juga mampu hidup berdampingan dalam keberagaman.</p>
      <p id="_paragraph-64">Temuan ini memberi implikasi praktis, khususnya bagi sekolah menengah yang multikultural. Sekolah perlu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya sikap moderat. Guru agama berperan penting dalam hal ini, baik sebagai pengajar maupun panutan. Dukungan sekolah juga dibutuhkan melalui fasilitas ibadah yang adil, kegiatan lintas iman, dan penguatan budaya toleransi. Dengan strategi ini, sekolah bisa membentuk ekosistem belajar yang damai dan inklusif.</p>
      <p id="_paragraph-65">Untuk pengembangan ke depan, perlu dilakukan riset lanjutan dalam bentuk action research. Penelitian ini bisa difokuskan pada pengembangan modul pembelajaran berbasis moderasi. Modul tersebut diharapkan mampu mengintegrasikan nilai keagamaan dengan realitas sosial secara kontekstual. Dengan pendekatan ini, nilai moderasi tidak hanya dipahami siswa, tetapi juga dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-49e0cca672c0cc1eb0dee8b8605cc86b">
      <title>UCAPAN TERIMA KASIH</title>
      <p id="_paragraph-67">Bagian ini menyatakan ucapan terima kasih kepada pihak yang berperan dalam pelaksanaan kegiatan penelitian, misalnya laboratorium tempat penelitian. Peran donor atau yang mendukung penelitian disebutkan perannya secara ringkas.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>