<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>State Responsibility in Guaranteeing Access to Essential Medicines for Public Health</article-title>
        <subtitle>Tanggung Jawab Negara dalam Menjamin Akses terhadap Obat Esensial untuk Kesehatan Masyarakat</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-6021a946bd234d9e537abe33b6171240" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Hamid</surname>
            <given-names>Siti Nur Cholisa</given-names>
          </name>
          <email>sitinur@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-8a65acef08cb3890d4ea649eb01b0e91" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Muis</surname>
            <given-names>Lidya Shery</given-names>
          </name>
          <email>lidyasherymuis@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2024-10-25">
          <day>25</day>
          <month>10</month>
          <year>2024</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-a8b804385194607710433060b739c108">
      <title>
        <bold id="bold-737f18422d6bb126d9729f8f6f2dc14a">PENDAHULUAN</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-4">Dalam struktur sosial masyarakat Indonesia, ideologi patriarki telah lama menjadi fondasi yang membentuk relasi gender dalam keluarga. Patriarki menempatkan laki-laki sebagai pemegang otoritas utama dalam rumah tangga dan kehidupan publik, sementara perempuan didorong untuk berperan di ranah domestik, termasuk dalam pengasuhan anak. Budaya Jawa misalnya, menekankan nilai kepatuhan dan keluwesan perempuan terhadap laki-laki sebagai kepala keluarga, dan hal ini secara turun-temurun dilestarikan melalui sistem nilai sosial dan pendidikan informal keluarga (Klerista &amp; Subandi, 2025). Sementara dalam masyarakat Minangkabau yang matrilineal, walau garis keturunan berasal dari ibu, keputusan-keputusan penting dalam kehidupan sosial dan publik masih dikendalikan oleh laki-laki. Kondisi ini menunjukkan bahwa dominasi patriarki bersifat lintas sistem kekerabatan dan tetap berpengaruh dalam kehidupan keseharian masyarakat Indonesia (Rahman &amp; Saputra, 2025).</p>
      <p id="_paragraph-5">Di samping itu, sistem nilai patriarkal juga dijumpai dalam kultur masyarakat Sumatera Utara, misalnya pada etnis Batak, di mana laki-laki mendapat tempat terhormat sebagai pewaris marga dan penentu arah keluarga, sedangkan perempuan dianggap sebagai "parhobas" (pengurus rumah tangga). Situasi serupa juga terlihat dalam budaya Bugis-Makassar, yang mengidealkan figur laki-laki sebagai pemimpin dan pelindung, dengan perempuan diharapkan menjalankan peran domestik secara penuh (Hazmi, 2024). Representasi budaya ini tidak hanya memperkuat struktur patriarkal, tetapi juga membentuk stereotip dan ekspektasi sosial terhadap laki-laki sebagai pencari nafkah dan perempuan sebagai pengasuh utama anak. Dalam masyarakat seperti ini, keterlibatan laki-laki dalam pengasuhan anak sering dianggap sebagai penyimpangan dari norma maskulinitas.</p>
      <p id="_paragraph-6">Namun, memasuki abad ke-21, khususnya setelah era Reformasi 1998 dan meningkatnya globalisasi serta penetrasi teknologi digital, nilai-nilai kesetaraan gender mulai berkembang dan memengaruhi pandangan masyarakat Indonesia. Arus perubahan ini semakin kuat sejak 2010-an, ketika akses pendidikan tinggi, media sosial, serta gerakan sosial berbasis gender semakin terbuka dan luas. Perubahan zaman ini membawa diskursus baru tentang relasi gender yang lebih adil dan egaliter, termasuk dalam praktik pengasuhan anak. Keterlibatan laki-laki dalam pengasuhan mulai dipromosikan sebagai bentuk perwujudan keluarga sehat dan berkeadilan, yang diharapkan bisa mendukung perkembangan emosional dan sosial anak secara lebih optimal (Ram, 2025).</p>
      <p id="_paragraph-7">Secara normatif (das Sollen), peran pengasuhan idealnya menjadi tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu. Regulasi nasional pun mendukung hal ini. Misalnya, UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menegaskan bahwa pengasuhan anak merupakan kewajiban kedua orang tua. Begitu pula dalam visi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), keterlibatan ayah dalam pengasuhan merupakan indikator penting dalam penguatan ketahanan keluarga. Bahkan, gerakan Ayah Hebat yang dipromosikan KPPPA sejak 2020 mendorong figur ayah sebagai panutan, pelindung, dan pendidik yang aktif dan setara dalam pengasuhan. Gagasan ini selaras dengan kebijakan internasional seperti SDGs poin ke-5 tentang kesetaraan gender dan peran keluarga dalam mendukung tumbuh kembang anak.</p>
      <p id="_paragraph-8">Namun, secara empiris (das Sein), belum semua laki-laki, khususnya ayah dari generasi milenial, menunjukkan keterlibatan yang konsisten dan menyeluruh dalam pengasuhan. Penelitian oleh Supriyadi &amp; Dewi (2020) di Jurnal Ilmu Keluarga dan Konsumen menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar ayah mengaku terlibat, banyak yang hanya terlibat secara minimal karena beban kerja, tekanan sosial, atau minimnya literasi pengasuhan. Dalam studi lain oleh Astrellita dan Abidin (2024) di Jurnal Psikologi, ditemukan tiga pola keterlibatan ayah—delegatif, partisipatif, dan kolaboratif—namun hanya sebagian kecil ayah yang berada pada pola kolaboratif yang ideal. Ini menunjukkan adanya kesenjangan antara nilai yang diidealkan dengan praktik aktual di lapangan.</p>
      <p id="_paragraph-9">Fenomena ini juga memperlihatkan ketegangan antara tuntutan modernitas dan warisan budaya tradisional. Di satu sisi, ayah milenial tumbuh dalam era digital yang mendukung nilai kesetaraan dan keterbukaan; di sisi lain, mereka masih terikat oleh ekspektasi sosial dan tekanan budaya untuk tampil maskulin dan dominan. Bagi banyak laki-laki, peran pengasuhan yang aktif dianggap tidak sesuai dengan konstruksi maskulinitas yang selama ini mereka internalisasi. Kontradiksi inilah yang menjadikan peran ayah dalam pengasuhan sebagai medan tarik menarik antara budaya tradisional dan nilai-nilai kontemporer (Maulana, 2023).</p>
      <p id="_paragraph-10">Berdasarkan kondisi tersebut, terdapat gap penelitian yang signifikan mengenai bagaimana ayah milenial menavigasi peran pengasuhan mereka di tengah ketegangan antara norma patriarkal yang masih dominan dan tuntutan kesetaraan gender yang semakin kuat. Meskipun telah banyak studi tentang peran ayah atau kesetaraan gender, sedikit yang secara spesifik mensintesis bagaimana ayah milenial di Indonesia menegosiasikan identitas maskulinitas mereka dalam praktik pengasuhan sehari-hari yang dipengaruhi oleh budaya lokal dan arus globalisasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran ayah milenial dalam pengasuhan anak, khususnya bagaimana mereka menegosiasikan peran mereka di tengah perubahan nilai budaya dan sosial. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk studi literatur dengan menganalisis temuan-temuan terbaru dari jurnal nasional dan internasional yang relevan. Kebaruan (novelty) dari penelitian ini terletak pada sintesis komprehensif atas dinamika peran ayah milenial di Indonesia, menggabungkan perspektif sosiologis dan psikologis dalam konteks budaya patriarki yang beragam, serta mengidentifikasi faktor-faktor penunjang dan penghambat yang spesifik bagi generasi ini. Kajian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika relasi gender dalam keluarga kontemporer serta memberikan kontribusi terhadap perumusan kebijakan dan program penguatan peran ayah dalam pengasuhan anak yang inklusif dan kontekstual.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-1560691bf7e8f10ceaa68a347b2829b0">
      <title>
        <bold id="bold-77bc4e240255f61e15aae5bb804a3728">METODE</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-13">Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur (library research), yang bertujuan untuk menelaah secara mendalam berbagai teori, temuan empiris, dan konsep-konsep yang relevan mengenai peran ayah milenial dalam pengasuhan anak di tengah pergeseran nilai dari budaya patriarki menuju kesetaraan gender. Studi literatur dipilih sebagai rancangan penelitian karena pendekatan ini memungkinkan peneliti untuk melakukan eksplorasi dan sintesis terhadap beragam sumber akademik yang telah dipublikasikan, baik dari jurnal nasional maupun internasional yang bereputasi, buku ilmiah, prosiding, dan dokumen kebijakan resmi yang terkait. Pilihan metodologi ini didasarkan pada prinsip sistematisasi dan transparansi, dengan mengadopsi panduan tinjauan literatur yang relevan. Mengingat fokus kualitatif dan tematik penelitian ini, kerangka kerja SPIDER (Sample, Phenomenon of Interest, Design, Evaluation, Research type) digunakan untuk memandu proses penelusuran literatur dan identifikasi kriteria inklusi-eksklusi secara lebih sistematis, disesuaikan dengan karakteristik studi literatur kualitatif. Kerangka SPIDER membantu peneliti dalam merumuskan pertanyaan penelitian yang spesifik, mengidentifikasi populasi target (ayah milenial), fenomena yang diteliti (peran pengasuhan), desain studi yang relevan, serta jenis data yang akan dievaluasi.</p>
      <p id="_paragraph-14">Sasaran penelitian ini adalah karya-karya ilmiah yang secara eksplisit membahas tema peran ayah dalam pengasuhan anak, perubahan budaya patriarki, maskulinitas baru, dan dinamika keluarga dalam konteks generasi milenial, khususnya pada masyarakat Indonesia. Penelusuran sumber dilakukan secara purposif berdasarkan kata kunci seperti fatherhood, millennial fathers, gender roles, patriarchy, dan parenting dalam konteks budaya Jawa dan Indonesia pada umumnya. Jurnal-jurnal yang digunakan berasal dari database terkemuka seperti Google Scholar, DOAJ, SINTA, dan ProQuest. Kriteria inklusi sumber meliputi artikel ilmiah berbahasa Indonesia dan Inggris yang dipublikasikan pada rentang tahun 2020 hingga 2025 (untuk menjamin keterkinian data dan relevansi konteks sosial saat ini), serta terindeks pada minimal SINTA 5 untuk jurnal nasional. Kriteria eksklusi mencakup artikel non-peer-reviewed (misalnya laporan berita, opini), grey literature yang tidak terverifikasi, atau publikasi yang tidak relevan secara langsung dengan fokus peran ayah milenial dalam pengasuhan.</p>
      <p id="_paragraph-15">Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dan penelusuran sistematis terhadap artikel-artikel yang telah dipublikasikan, yang kemudian dikaji secara kritis untuk mengidentifikasi tema-tema utama, argumen, serta kesenjangan pengetahuan. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah pedoman telaah literatur yang berisi kriteria inklusi dan eksklusi sumber, kerangka pengkodean tematik, serta daftar variabel atau konsep kunci yang akan dianalisis. Kehadiran peneliti bersifat aktif sebagai pelacak, pembaca kritis, sekaligus analis terhadap data sekunder yang tersedia dalam dokumen-dokumen literatur. Tidak digunakan alat bantu laboratorium atau instrumen fisik, mengingat penelitian ini tidak melibatkan eksperimen atau pengukuran kuantitatif.</p>
      <p id="_paragraph-16">Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan teknik analisis isi tematik (thematic content analysis), yang melibatkan proses pengkodean terbuka, kategorisasi, dan sintesis temuan berdasarkan tema-tema utama seperti konstruksi sosial peran ayah, ideologi patriarki dalam budaya Jawa dan Indonesia, serta praktik kesetaraan gender dalam pengasuhan anak. Peneliti melakukan interpretasi terhadap data secara induktif untuk memahami bagaimana gagasan dan praktik pengasuhan laki-laki milenial berkembang dalam lanskap sosial yang berubah. Validitas data dalam studi literatur ini dijaga melalui critical appraisal terhadap kualitas sumber (mempertimbangkan kredibilitas metodologi dan temuan masing-masing studi untuk menilai credibility dan dependability data), triangulasi sumber (membandingkan temuan dari berbagai artikel untuk menguatkan konsistensi), pengecekan silang antar-temuan, dan penggunaan sumber-sumber yang kredibel serta memiliki rekam jejak akademik yang terverifikasi. Transparansi proses analisis dijaga melalui audit trail, yakni pencatatan sistematis tahapan penelusuran, seleksi, dan pengkodean data sekunder. Member checking tidak diaplikasikan karena sifat penelitian studi literatur yang tidak melibatkan partisipan langsung.</p>
      <p id="_paragraph-17">Lokasi penelitian tidak terbatas secara geografis, karena seluruh proses dilakukan melalui penelusuran daring terhadap repositori dan database jurnal ilmiah. Penelitian ini dilaksanakan dalam kurun waktu tiga bulan, dimulai dari Januari hingga Maret 2025. Keabsahan hasil penelitian dikonfirmasi dengan melakukan refleksi teoritik, pengujian koherensi antar-tema, serta pembandingan terhadap literatur-literatur serupa yang telah terpublikasi sebelumnya. Dengan pendekatan ini, diharapkan hasil penelitian mampu menyajikan gambaran komprehensif mengenai dinamika peran ayah milenial dalam pengasuhan anak, serta menyumbangkan pemikiran kritis terhadap transformasi budaya pengasuhan dalam masyarakat Indonesia kontemporer.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-5108a60856086776c842262a9ade673a">
      <title>
        <bold id="bold-d28b36af6585e4fa8bc27f5c21d5ffa3">HASIL DAN PEMBAHASAN</bold>
      </title>
      <sec id="heading-f828092e3e2599608b58c73f51556517">
        <title>A. Pergeseran Ideologi Patriarki dalam Budaya Pengasuhan</title>
        <p id="_paragraph-20">Secara historis, budaya patriarki sangat mempengaruhi sistem pengasuhan di Indonesia, di mana peran ayah sering kali diposisikan sebagai pencari nafkah utama, sedangkan ibu bertanggung jawab penuh atas urusan domestik dan pengasuhan anak. Dalam konteks masyarakat Jawa, misalnya, konsep “wanita konco wingking” masih banyak diyakini, yang menyimbolkan bahwa peran perempuan berada di belakang laki-laki (Nurjanah, Jalal, &amp; Supena, 2023). Di Sumatera, khususnya budaya Batak dan Minang, walaupun memiliki sistem kekerabatan yang berbeda (patrilineal dan matrilineal), namun dominasi laki-laki dalam struktur sosial tetap menempatkan ayah dalam posisi otoritatif dalam pengambilan keputusan keluarga (Arifin, 2024). Namun, sejak awal 2000-an, terutama seiring dengan meningkatnya kesadaran gender dan globalisasi nilai-nilai kesetaraan, terjadi perubahan pandangan masyarakat tentang pembagian peran domestik. Lahirnya generasi milenial yang tumbuh dalam era keterbukaan informasi dan pendidikan yang lebih egaliter turut mempercepat transformasi nilai ini. Gerakan kesetaraan gender yang semakin masif, diperkuat oleh kampanye-kampanye parenting modern yang menekankan pentingnya peran aktif ayah dalam pengasuhan, mulai menantang norma-norma tradisional (Darojah, Sugiharti, &amp; Wijayanti, 2023).</p>
        <p id="_paragraph-21">Literatur menunjukkan bahwa ayah milenial mulai mengadopsi peran pengasuhan yang lebih partisipatif dan emosional. Ayah milenial menunjukkan tingkat empati dan kelekatan emosional yang lebih tinggi terhadap anak dibandingkan generasi sebelumnya (Darojah et al., 2023). Mereka cenderung menyeimbangkan peran sebagai pencari nafkah dengan peran aktif dalam aktivitas harian anak seperti bermain, membantu tugas sekolah, hingga merawat anak yang sakit.</p>
        <p id="_paragraph-22">Hal ini dapat dilihat sebagai bentuk aktualisasi nilai das Sollen—yakni adanya kesadaran ideal tentang pentingnya peran ayah dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Akan tetapi, di sisi lain, implementasi di lapangan (das Sein) masih menghadapi kendala berupa ekspektasi masyarakat, lingkungan kerja yang tidak mendukung, dan ketidaksiapan emosional dalam menjalankan fungsi pengasuhan secara konsisten (Mutiarasari, Listiana, &amp; Rachmawati, 2024).</p>
      </sec>
      <sec id="heading-02a3368f9a23078a2f2bfe282a0992cb">
        <title>B. Transisi Peran Ayah Milenial: Dari Otoritas Menuju Kolaborasi</title>
        <p id="_paragraph-24">Literatur menunjukkan bahwa ayah milenial mulai mengadopsi peran pengasuhan yang lebih partisipatif dan emosional. Penelitian oleh Supriadi &amp; Rachmawati (2024) di Jurnal Psikologi Universitas Gadjah Mada mengungkapkan bahwa ayah milenial menunjukkan tingkat empati dan kelekatan emosional yang lebih tinggi terhadap anak dibandingkan generasi sebelumnya. Temuan ini selaras dengan prinsip attachment theory yang menekankan pentingnya responsivitas dan kelekatan emosional kedua orang tua untuk perkembangan anak yang optimal. Mereka cenderung menyeimbangkan peran sebagai pencari nafkah dengan peran aktif dalam aktivitas harian anak seperti bermain, membantu tugas sekolah, hingga merawat anak yang sakit.</p>
        <p id="_paragraph-25">Hal ini dapat dilihat sebagai bentuk aktualisasi nilai das Sollen—yakni adanya kesadaran ideal tentang pentingnya peran ayah dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Akan tetapi, di sisi lain, implementasi di lapangan (das Sein) masih menghadapi kendala berupa ekspektasi masyarakat, lingkungan kerja yang tidak mendukung, dan ketidaksiapan emosional dalam menjalankan fungsi pengasuhan secara konsisten (Mutiarasari, Listiana, &amp; Rachmawati, 2024)</p>
      </sec>
      <sec id="heading-c682fa5e7dda1627dcd3ac6812a9f01c">
        <title>C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keterlibatan Ayah</title>
        <p id="_paragraph-27">Tingkat keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti latar belakang pendidikan, lingkungan tempat tinggal, pengaruh pasangan, dan pola asuh masa kecil. Studi oleh Haryanto et al. (2022) di Buletin Psikologi menyebutkan bahwa ayah dengan tingkat pendidikan lebih tinggi dan bekerja di sektor yang fleksibel (freelancer, pekerja remote) memiliki peluang lebih besar untuk terlibat dalam pengasuhan. Di sisi lain, pengaruh pasangan (istri) juga menjadi faktor kunci: pasangan yang menganut komunikasi egaliter lebih mudah menegosiasikan pembagian peran. Namun demikian, masih ditemukan konflik internal dalam diri ayah milenial, terutama dalam menyelaraskan peran baru ini dengan ekspektasi masyarakat yang masih maskulin. Hasil review oleh Rahayu (2023) di Jurnal Psikologi Sosial menunjukkan bahwa banyak ayah mengalami tekanan psikologis saat mereka mencoba keluar dari peran tradisional, karena dianggap “kurang laki-laki” jika terlalu terlibat dalam aktivitas rumah tangga. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep role strain dalam sosiologi, di mana individu mengalami kesulitan memenuhi tuntutan dari berbagai peran sosial yang saling bertentangan, khususnya saat menghadapi tekanan dari hegemonic masculinity yang membatasi ekspresi peran pengasuhan aktif bagi laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi peran tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga memerlukan perubahan pada level psikososial.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-ae531badbc1182cd47079598b8684284">
        <title>D. Peran Media Sosial dan Komunitas Digital</title>
        <p id="_paragraph-29">Media sosial dan komunitas digital juga memegang peran signifikan dalam membentuk pola pikir dan praktik pengasuhan ayah milenial. Platform seperti Instagram, YouTube, dan TikTok telah menjadi sumber informasi sekaligus ruang berbagi pengalaman pengasuhan yang setara dan inklusif. Influencer parenting seperti Ayah ASI atau Daddy Academy secara aktif mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan dengan pendekatan yang tidak menggurui, melainkan melalui pengalaman personal yang inspiratif.</p>
        <p id="_paragraph-30">Penelitian oleh Wijaya (2022) di Jurnal Komunikasi Universitas Indonesia menunjukkan bahwa paparan terhadap konten-konten positif tentang peran ayah dapat mengubah persepsi maskulinitas tradisional menjadi lebih fleksibel dan adaptif terhadap peran domestik. Temuan ini mendukung social learning theory, di mana individu belajar dan menginternalisasi perilaku baru melalui observasi model di lingkungan sosial mereka, termasuk lingkungan digital. Temuan ini menegaskan bahwa literasi digital dapat menjadi salah satu strategi efektif untuk mendorong transformasi budaya pengasuhan di Indonesia.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-58bcde4b36696a43863561b9ac01f7e1">
        <title>E.Kesetaraan Gender dan Pembentukan Identitas Ayah Baru</title>
        <p id="_paragraph-32">Perubahan peran ayah milenial ini juga menandai proses pembentukan identitas sosial baru sebagai “ayah setara” atau nurturing father. Konsep ini merujuk pada figur ayah yang tidak hanya memberi nafkah, tetapi juga secara emosional dan fisik hadir dalam kehidupan anak (Gunawan &amp; Bantali, 2025). Di Indonesia, meski belum sepenuhnya dominan, model ini mulai terlihat dalam praktik keluarga urban kelas menengah yang terbuka terhadap isu-isu gender.</p>
        <p id="_paragraph-33">Dalam praktiknya, ayah milenial sering memodifikasi nilai-nilai tradisional tanpa sepenuhnya menolaknya. Misalnya, peran sebagai pemimpin keluarga tetap diakui, namun tidak lagi bersifat otoriter, melainkan sebagai fasilitator dan rekan dialog. Dengan demikian, mereka menggabungkan nilai tradisional dengan prinsip kesetaraan—sebuah strategi adaptif yang mencerminkan budaya transisi (Schoppe-Sullivan, Shafer, Olofson, &amp; Kamp Dush, 2021).</p>
      </sec>
      <sec id="heading-77f7fb963f1420a4a6fccede0474049a">
        <title>F.Tantangan Kebijakan dan Sistem Sosial</title>
        <p id="_paragraph-35">Meskipun secara individual banyak ayah milenial telah menunjukkan keterbukaan terhadap pengasuhan yang setara, namun sistem sosial dan kebijakan publik belum sepenuhnya mendukung transformasi ini. Sebagai contoh, kebijakan cuti ayah di Indonesia masih sangat terbatas, hanya sekitar 2 hari untuk sektor swasta, jauh dibandingkan negara-negara Skandinavia yang memberikan cuti ayah hingga 90 hari atau lebih (Maharani, 2024)</p>
        <p id="_paragraph-36">Tanpa dukungan sistemik, banyak ayah merasa kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Hal ini menghambat upaya kolektif dalam mendorong perubahan struktural. Oleh karena itu, perlunya reformasi kebijakan keluarga dan ketenagakerjaan agar nilai-nilai kesetaraan dalam keluarga dapat terfasilitasi secara adil dan berkelanjutan.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-36a2eb24935731b51981fa99b01351a9">
        <title>G.Integrasi Temuan dan Kontribusi Penelitian</title>
        <p id="_paragraph-38">Secara keseluruhan, hasil studi literatur ini menunjukkan bahwa terjadi transformasi signifikan dalam peran ayah milenial Indonesia, meski masih dalam fase transisi. Pergeseran dari sistem pengasuhan berbasis patriarki menuju model yang lebih setara bukan hanya merupakan respons terhadap modernisasi, tetapi juga bagian dari proses redefinisi maskulinitas dan tanggung jawab keluarga. Penelitian ini memperkaya kajian tentang gender dan keluarga di Indonesia, serta membuka ruang bagi lahirnya teori-teori baru tentang “ayah kolaboratif” yang berakar pada budaya lokal namun terbuka terhadap nilai global. Temuan-temuan ini secara konsisten mendukung gagasan bahwa meskipun nilai-nilai patriarki masih mengakar, terdapat pergeseran adaptif dalam praktik pengasuhan yang dapat berkontribusi pada kesejahteraan anak dan dinamika keluarga yang lebih sehat, sebagaimana disarankan oleh ecological systems theory Bronfenbrenner yang menekankan interaksi antara individu dan berbagai sistem lingkungan mereka.</p>
        <table-wrap id="table-figure-cf98262816a773355b72e0c17495284d">
          <label>Table 1</label>
          <caption>
            <title>Ringkasan Temuan Literatur Terkait Peran Ayah Milenial dalam Pengasuhan Anak</title>
            <p id="paragraph-5c68a2f86f533eaa05d5631fec7f7cc1" />
          </caption>
          <table id="table-80bb589acbc9a26a820e4aa174cad5f0">
            <tbody>
              <tr id="table-row-447797942e8844efd4ecf8815c892fb3">
                <th id="table-cell-4e149a0fd8b788964fa3402cf4951081">No</th>
                <th id="table-cell-ff9bcd185aa11a481a10273b3d09c8fe">Penulis &amp; Tahun</th>
                <th id="table-cell-30014b712f0a2c9b98e8f0bb3e624c30">Judul Artikel</th>
                <th id="table-cell-a85f775ccae34116a089bc09fa545827">Metode</th>
                <th id="table-cell-0e1b43dccfe9ee83b7d80f6d23c57de3">Temuan Utama</th>
              </tr>
              <tr id="table-row-f010d19b780b548da147a5a2a9cba780">
                <td id="table-cell-d19ce424699565c52e337c0150e8245a">1</td>
                <td id="table-cell-bfb7cae63498a4c2d636d1c08d4c0b40">Haswar &amp; Zainal Abidin (2024</td>
                <td id="table-cell-ffab4ff5d336a9dd3062c265fbf1b80a">Penghayatan Ayah Generasi Milenial pada Keterlibatan Pengasuhan</td>
                <td id="table-cell-735d18d8822b4584abedded598f50ccb">Kualitatif</td>
                <td id="table-cell-837b2d8ca45384a852e3fa03b5129038">Ayah menyadari pentingnya keterlibatan, tetapi merasa interaksi mereka lebih sedikit dibanding ibu. Mereka meminta pelatihan khusus tentang bonding emosional, pengembangan karakter, dsb.</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-eaa0b7c451545c4679b681038fdfeb19">
                <td id="table-cell-8ba99c80be5a5b70708b75a4ad48dd2c">2</td>
                <td id="table-cell-a1de7d91a9397843dc80f8af8b922b72">Herawati, Suri &amp; Ihsan (2024)</td>
                <td id="table-cell-82a8b49910d2a6cc0d56c0159a94d247">Peran Ayah Milenial dalam Membentuk Mental Spiritual Anak di PAUD Inklusi Kasya, Banda Aceh</td>
                <td id="table-cell-5786ace36b94bbf77dfc8b360f37def5">Kualitatif</td>
                <td id="table-cell-05ac3e8c11762b6bffe3cd1f5fbe72fd">Menyoroti pergeseran dari ayah tradisional ke figur ayah spiritual – mendidik iman, ibadah, akhlak.</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-4d5fe23c2c9c325cc7ada5e654317986">
                <td id="table-cell-e8c912a09eb8a05340ed8253aa8f2577">3</td>
                <td id="table-cell-c9376bde1b3b6f794d97648d6e3ec256">Suciawati et al. (2024)</td>
                <td id="table-cell-454b2ffd7125c41d0fec64142c3bb6db">Peran Ayah (Fathering) terhadap Pengasuhan Balita</td>
                <td id="table-cell-a8ecb229e399ef60ed577f842cde3469">kuantitatif</td>
                <td id="table-cell-070ffd6061b3fed60bbbcf706ffa5f49">pola keterlibatan ayah termasuk aktivitas bersama, diskusi, pemantauan tumbuh kembang.</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-23f301ea934ad0034b0bffc517b478ed">
                <td id="table-cell-0fc7a3682c6d9a987329ae985f381e7d">4</td>
                <td id="table-cell-48e9a4510573d6515a6a432c7bf8ba55">Wijayanti &amp; Fauziah (2020)</td>
                <td id="table-cell-93541d81a8614273fb1273abfabcde27">Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Anak: Father's Involvement in Parenting</td>
                <td id="table-cell-e766a33d1f45a2af38866c45f08eaa06">Kuantitatif</td>
                <td id="table-cell-c2f4b1ba2276bd4e2c81f9bf0ae01c8f">94,7% mengakui sangat terlibat, 88% berbagi tugas pengasuhan, namun 83,8% merasa hambatan utama adalah tuntutan pekerjaan.</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-4149001e94635208a784ac9dac6b7868">
                <td id="table-cell-21102989a6ec97492a9e8eb7bee22fc4">5</td>
                <td id="table-cell-efea73cff29b80dba512bb29943c2a04">Astrellita &amp; Abidin (2024)</td>
                <td id="table-cell-3a223ccfd6e2049adcf5f5eb820ced09">Peran Ayah dalam Pengasuhan Anak</td>
                <td id="table-cell-b4b15f18b25552269047f8403482068c">Kualitatif</td>
                <td id="table-cell-0c4fe7028997a6257810574dcf4a724d">Menemukan jenis-jenis pola ayah: delegasi, partisipasi, kolaborasi. Berkontribusi signifikan pada perkembangan moral, emosional, dan akademis anak.</td>
              </tr>
              <tr id="table-row-c2233382d092ccfc3757fbbac6007abc">
                <td id="table-cell-0e1445b99c5f8e86f0c728160d8ef05a">6</td>
                <td id="table-cell-43c5e6ad646dcf6df14822894043fd35">Sirjon (2021)</td>
                <td id="table-cell-2c45c5ad4480ef014718c4db83d8fe52">Peran Pengasuhan Ayah dalam Perkembangan Sosial Emosional Anak Usia 5–6 Tahun</td>
                <td id="table-cell-0034fbbc1f52b593d79c2c1af3dd732d">kualitatif</td>
                <td id="table-cell-cef96022d5b2eafc4075084545cf1a3f">Ayah berperan sebagai penyedia, teman bermain, guru, pengawas, pelindung—membantu perkembangan sosial emosional anak. Hambatan: pekerjaan, minim waktu bermain, ekspresi emosional.</td>
              </tr>
            </tbody>
          </table>
        </table-wrap>
      </sec>
      <sec id="heading-8a5367b8c32785a4003918ff2fea15e8">
        <title>Analisis Temuan Studi Literatur</title>
        <p id="_paragraph-42">Studi literatur menunjukkan bahwa terdapat pergeseran signifikan dalam peran pengasuhan yang dijalankan oleh ayah generasi milenial di Indonesia. Penelitian Haswar &amp; Abidin (2024) mengungkap bahwa ayah-ayah milenial di wilayah perkotaan cenderung lebih terlibat dalam aspek emosional dan fisik pengasuhan anak, menandai pergeseran dari model ayah tradisional yang lebih berorientasi pada peran ekonomi dan otoritas. Temuan ini mencerminkan realitas sosial (das Sein) bahwa ayah milenial telah mengalami transformasi peran, meskipun nilai-nilai tradisional masih memengaruhi konstruksi sosial mereka. Keterlibatan emosional ini mendukung teori keterikatan (attachment theory) yang menekankan pentingnya sosok ayah dalam membentuk kelekatan aman pada anak.</p>
        <p id="_paragraph-43">Namun demikian, sebagaimana dicatat oleh Pratiwi dan Wijaya (2023), terdapat kesenjangan antara kesadaran akan pentingnya kesetaraan gender (das Sollen) dan realisasi praktis dalam rumah tangga. Sebagian besar ayah memang menyatakan mendukung pembagian peran yang setara, tetapi mereka masih menghadapi hambatan struktural dan kultural seperti ekspektasi sosial dan tuntutan kerja. Hal ini menunjukkan bahwa transformasi peran tidak terjadi secara linier, melainkan dalam tarik-menarik antara nilai normatif dan praktik sosial sehari-hari. Kesenjangan ini sering kali memicu role strain bagi ayah milenial, di mana mereka merasa tertekan oleh tuntutan yang kontradiktif.</p>
        <p id="_paragraph-44">Pengaruh eksternal seperti media sosial juga berperan dalam membentuk kembali citra dan fungsi keayahhatian. Darojah, R., Sugiharti, S., &amp; Wijayanti, U. T. (2023) menekankan bagaimana media sosial parenting telah menjadi ruang diskursif baru yang mendorong ayah milenial mendefinisikan ulang maskulinitas—dari sosok yang keras dan kaku menjadi ayah yang responsif dan suportif. Temuan ini memperkuat social learning theory, menunjukkan bahwa observasi dan pemodelan perilaku melalui media digital dapat memengaruhi adopsi peran pengasuhan yang lebih egaliter.</p>
        <p id="_paragraph-45">Muslihatun, W. N., &amp; Santi, M. Y. (2022) lebih lanjut menunjukkan bahwa faktor sosio-ekonomi seperti tingkat pendidikan dan fleksibilitas kerja merupakan penentu utama dalam keterlibatan ayah. Dengan kata lain, keterlibatan ayah bukan semata-mata karena perubahan nilai, tetapi juga karena adanya kondisi yang memungkinkan. Hal ini memperkuat pentingnya melihat peran ayah dalam kerangka struktural dan bukan hanya ideologis.</p>
        <p id="_paragraph-46">Dalam konteks budaya, Gunawan, H., &amp; Bantali, A. (2025) menemukan bahwa ayah milenial tidak serta-merta meninggalkan nilai tradisional, melainkan melakukan seleksi dan negosiasi terhadap nilai tersebut. Ini menunjukkan bahwa kesetaraan gender dalam pengasuhan bukan berarti menolak budaya, melainkan melakukan reinterpretasi atas budaya dalam konteks zaman yang berubah. Perspektif ini selaras dengan kenyataan bahwa dalam budaya Jawa, meskipun terdapat struktur patriarki, fleksibilitas peran dalam keluarga lebih besar dibandingkan dengan budaya Batak atau Minang yang masih sangat kuat mempertahankan dominasi laki-laki dalam keluarga (Lubis &amp; Siregar, 2023). Hal ini menantang pandangan hegemonic masculinity yang kaku, menunjukkan adanya ruang untuk negosiasi dan adaptasi peran laki-laki dalam keluarga.</p>
        <p id="_paragraph-47">Dari sisi kebijakan, Maharani, D. (2024) menggarisbawahi pentingnya dukungan struktural seperti cuti ayah yang memadai untuk mendorong keterlibatan laki-laki dalam pengasuhan. Sayangnya, regulasi di Indonesia belum mendukung secara optimal peran ayah dalam pengasuhan, sehingga reformasi nilai tidak berjalan seimbang dengan reformasi kebijakan. Hal ini menegaskan bahwa perubahan peran ayah tidak dapat berdiri sendiri, melainkan perlu didukung oleh sistem yang memungkinkan peran itu dijalankan secara adil. Keterbatasan kebijakan ini berkontribusi pada role strain yang dialami oleh ayah milenial yang ingin terlibat lebih aktif namun terhalang oleh sistem.</p>
        <p id="_paragraph-48">Dengan mengintegrasikan seluruh temuan di atas, studi ini menyimpulkan bahwa peran ayah milenial dalam pengasuhan anak mengalami pergeseran dari nilai-nilai patriarkal menuju kesetaraan gender. Namun, pergeseran ini tidak bersifat absolut, melainkan merupakan hasil dari dialektika antara nilai budaya, kesadaran individu, dan dukungan struktural. Maka dari itu, penting untuk memahami dinamika ini secara utuh agar kehadiran ayah dalam pengasuhan tidak hanya menjadi ideal normatif, tetapi juga praktik nyata yang mendukung kesejahteraan anak dan keluarga.</p>
        <fig id="figure-panel-c2bbd87c0fd17f2e9e1891aae84213fd">
          <label>Figure 1</label>
          <caption>
            <p id="paragraph-8359e76d551b36234fbd0d3e7fcde678" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-2d30a7d0c73d73f2d7220517c5d35391" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="gambar 1 11552.png" />
        </fig>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-168eaabdda0ccdbdf210df67de8162cf">
      <title>
        <bold id="bold-b09d750364c40ddf9fffc117dc35c34e">SIMPULAN</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-50">Penelitian studi literatur ini menunjukkan bahwa ayah generasi milenial di Indonesia mengalami pergeseran peran dalam pengasuhan anak seiring dengan perubahan nilai-nilai sosial dan meningkatnya kesadaran akan kesetaraan gender. Meskipun masih terdapat pengaruh kuat dari budaya patriarki, khususnya dalam masyarakat tradisional seperti Jawa, Batak, dan Minang, banyak ayah milenial mulai menunjukkan keterlibatan aktif dalam aspek emosional, fisik, dan pendidikan anak. Pergeseran ini didorong oleh beberapa faktor, antara lain meningkatnya akses terhadap informasi, pengaruh media sosial, serta kebijakan negara yang mulai mendukung peran ayah dalam pengasuhan, seperti kebijakan cuti ayah.</p>
      <p id="_paragraph-51">Temuan juga menunjukkan adanya ketegangan antara nilai tradisional (das Sollen) yang memposisikan ayah sebagai pencari nafkah utama, dengan realitas kontemporer (das Sein) yang menuntut kehadiran emosional dan fisik ayah dalam kehidupan anak. Ayah milenial melakukan negosiasi nilai dengan tetap menghargai budaya namun juga beradaptasi dengan tuntutan zaman. Perubahan ini menunjukkan adanya potensi transformasi budaya pengasuhan ke arah yang lebih setara dan inklusif.</p>
      <p id="_paragraph-52">Dengan demikian, studi ini menegaskan pentingnya dukungan struktural dan kultural agar transformasi peran ayah dalam pengasuhan dapat berlangsung secara berkelanjutan. Kesimpulan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kebijakan keluarga, pendidikan orang tua, serta wacana akademik terkait peran gender dalam keluarga Indonesia masa kini.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>