<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>The Role of Digital Da'wah in Alpha Generation Character Education</article-title>
        <subtitle>Peran Dakwah Digital Dalam Pendidikan Karakter Generasi Alpha</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-f5751c9b3abaa0aabdbdd4e1c245fba0" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Hamid</surname>
            <given-names>Siti Nur Cholisa</given-names>
          </name>
          <email>sitinur@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-93669de679a394e8dfb592e455236845" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Muis</surname>
            <given-names>Lidya Shery</given-names>
          </name>
          <email>lidyasherymuis@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2024-10-25">
          <day>25</day>
          <month>10</month>
          <year>2024</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-17b2b05b05a1c48aa4d950f01cc0d596">
      <title>
        <bold id="bold-46b6430e7d34745c223d5d3ecd348e83">Pendahuluan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-4">Era digital, yang didorong oleh internet, telah mengubah cara pandang hidup secara signifikan, mempermudah berbagai aspek kehidupan [1]. Kemajuan teknologi menjadi bagian integral dari kehidupan generasi muda, yang salah satu wujudnya adalah media sosial. Media sosial adalah platform yang memfasilitasi interaksi dan komunikasi tidak langsung antar pengguna. Melalui berbagai fitur, pengguna dapat berbagi informasi, visual, dan ide [2]. Dampak positif dari internet terlihat jelas dalam bidang teknologi informasi, yaitu memfasilitasi interaksi antar individu dengan mudah, tanpa batasan ruang dan waktu [3]. Selain itu, kemajuan teknologi informasi telah membuka peluang baru dalam kegiatan keagamaan, memungkinkan akses yang lebih dalam dan luas ke berbagai sumber pengetahuan agama melalui platform online [4]. Contohnya adalah kegiatan dakwah digital.</p>
      <p id="_paragraph-5">Kegiatan keagamaan seperti dakwah merupakan proses edukasi dan pembinaan yang bertujuan untuk menuntun manusia menuju jalan yang benar, yaitu jalan Islam. lebih dari sekedar teori, dakwah menekankan implementasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata. namun, perlu diakui saat ini kegiatan keagamaan seperti dakwah dalam usahanya sudah berbeda dengan zaman sebelumnya. dakwah tidak lagi hanya bisa dilakukan oleh ulama atau tokoh agama saja yang dilakukan di atas mimbar di hadapan banyak orang, tetapi dakwah bisa dilakukan oleh siapa saja yang mau melakukannya [5]. Dakwah saat ini sangat dipengaruhi oleh media sosial dan elektronik. Kehadiran media sosial dan elektronik yang sudah menyatu dalam kehidupan modern memberikan dampak signifikan terhadap penyebaran dakwah. Menjadikan Media sosial sebagai jembatan yang menghubungkan para pendakwah dengan audiens yang lebih luas [6].</p>
      <p id="_paragraph-6">Platform media sosial seperti X, WhatApp, Instagram, Facebook, Tiktok, dan YouTube menjadi sarana efektif untuk menyebarkan pesan dakwah. WhatApp dan Instagram, sebagai platform yang paling banyak digunakan, menjadi pilihan strategis dalam kegiatan dakwah[7]. Melalui media sosial, pesan-pesan dakwah dapat disampaikan dengan lebih efektif dan menarik, membuka peluang bagi para pendakwah untuk membangun komunitas yang kuat dan bersemangat di seluruh dunia[8]. Proses interaksi dan diskusi di media sosial berkontribusi pada peningkatan pemahaman tentang nilai-nilai agama. tidak hanya itu sifat viral dari media sosial dapat menjadi katalisator bagai penyebaran pesan-pesan dakwah. Konten dakwah yang menarik dan inspiratif dapat dengan cepat menyebar ke berbagai penjuru, menjangkau jutaan orang dalam waktu yang singkat.</p>
      <p id="_paragraph-7">Di samping itu, dalam pemanfaatan media sosial untuk berdakwah terdapat tantangan-tantangan yang perlu diatasi. Para pendakwah dihadapkan pada tantangan besar bagaimana memanfaatkan media sosial secara efektif untuk menyebarkan nila-nilai Islam, sekaligus menangkal potensi dampak negatifnya terhadap perilaku dan pemahaman keagamaan. Persaingan informasi di media sosial yang ketat menuntut strategi dakwah yang inovatif agar pesan-pesan agama tatap menarik dan relevan bagai audiens. Tantangannya semakin membesar dengan adanya penyebaran konten yang tidak akurat atau kontroversial, yang sering kali muncul tanpa ada filter yang memadai. Sehingga sering kali Islam dikaitkan dengan terorisme di media internasional, yang memicu persepsi negatif dan rasa takut terhadap umat Islam, yang dikenal sebagai Islam fobia [9].</p>
      <p id="_paragraph-8">Melibatkan generasi Alpha, yang tumbuh dalam lingkungan digital dan memiliki ketergantungan tinggi terhadap media elektronik, menunjukkan karakteristik yang dinamis dan kritis. Namun, mereka juga rentan terhadap pengaruh negatif dari konten digital yang tidak sejalan dengan nilai-nilai moral dan keagamaan. Oleh karena itu, pendidikan karakter dan pendidikan agama menjadi sangat penting dalam membekali mereka menghadapi tantangan era digital. Dalam konteks ini, media dakwah berperan strategis sebagai sarana untuk menyampaikan nilai-nilai luhur dan pendidikan karakter berbasis ajaran Islam. Peran ini penting untuk memastikan setiap individu memiliki kemampuan menjaga integritas dan membuat keputusan bijaksana dalam memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab[10].</p>
      <p id="_paragraph-9">Generasi Alpha sendiri adalah kelompok yang mencangkup individu yang lahir antara tahun 2010 hingga 2025 [11]. Merupakan generasi yang lahir setelah Generasi Z yang dikenal sebagai generasi digital karena tumbuh di tengah kemajuan teknologi yang pesat, sehingga membuat mereka paham dan terampil dalam memanfaatkan teknologi yang ada. Maka dapat dipahami bahwa generasi alpa adalah penggambaran anak dari generasi milenial dan adik dari generasi Z. Menurut penelitian Twenge (2017) Generasi Alpha menunjukkan pola penggunaan teknologi yang berbeda dari generasi sebelumnya [12]. Mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk menggunakan perangkat digital, dan mereka lebih terbiasa dengan interaksi online daripada interaksi tatap muka. Sejalan dengan Penelitian yang dilakukan oleh Juwita (2025) mengungkapkan bahwa anak-anak dari generasi ini memiliki kecenderungan untuk menyukai pemecahan masalah yang praktis [13]. Mereka lebih aktif dalam kegiatan yang mendorong interaksi dan kolaborasi dengan teman sebaya melalui platform digital.</p>
      <p id="_paragraph-10">Penelitian lain yang dilakukan oleh Rideout et and all (2018) menunjukkan bahwa Generasi Alpha dalam seharinya menggunakan rata-rata 7 jam waktunya untuk mengakses media digital [14]. Akses yang mudah ke informasi dan hiburan digital memiliki potensi untuk memperkaya kehidupan mereka, namun juga menghadirkan tantangan baru. Ketergantungan generasi Alpha dalam teknologi, menjadi korban cyberbullying, dan kesulitan mengembangkan keterampilan sosial menjadi tantangan yang mereka hadapi dalam berinteraksi di dunia nyata [15]. Ketergantungan pada teknologi mendorong kebiasaan untuk menginginkan hasil instan, dan kurangnya kesabaran dalam menghadapi proses menjadi ciri khas generasi ini. maka dari itu, menemukan keseimbangan antara penggunaan teknologi dan interaksi sosial yang positif menjadi hal yang sangat penting [16].</p>
      <p id="_paragraph-11">Berbagai penelitian sebelumnya telah membahas pentingnya pendidikan karakter dalam menghadapi kemajuan teknoligi, terutama pada Generasi Z yang hidup di era digital (Putra et al., 2023). Namun, masih sedikit kajian yang secara khusus membahas Generasi Alpha yang sejak lahir sudah terpapar teknologi dalam konteks pendidikan karakter melalui dakwah digital. padahal, karakteristik generasi ini jauh lebih kompleks, baru dan membutuhkan pendekatan yang berbeda, termasuk dari sisi metode dan media pembelajaran yang digunakan.</p>
      <p id="_paragraph-12">Selain itu, beberapa penelitian juga sudah mengkaji strategi penanaman nilai karakter, namun cenderung berfokus pada pendekatan umum atau psikologis tanpa mengaitkannya secara langsung dengan potensi media dakwah digital (Puspitasari &amp; Ramadhan, 2024). Oleh karena itu, penelitian ini mencoba menawarkan pendekatan yang berbeda dengan mengali potensi peran dakwah digital sebagai sarana pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam yang terintegrasi dengan perkembangan teknologi. kajian ini tidak hanya bertujuan untuk memahami konten dakwah, tetapi juga untuk melihat sejauh mana media digital dapat digunakan secara positif dan bertanggung jawab dalam membentuk karakter generasi di masa depan.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-33f90b07a11a4da83cfc33728ca66685">
      <title>
        <bold id="bold-6d589f3f098e9cc4c220204a8d93ce3c">Metode Penelitian</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-14">Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan teknik fokus pada data berupa ucapan, teks, atau perilaku manusia yang dapat diamati. Metode kualitatif adalah metode yang digunakan untuk menggali dan memahami makna di balik pengalaman individu atau kelompok terkait isu sosial atau kemanusiaan. Melalui analisis dan perbandingan, metode ini bertujuan untuk menemukan solusi, memberikan perbaikan, dan mengembangkan pengetahuan yang praktis. Dengan melakukan analisis ini, penulis dapat mengidentifikasi tujuan penelitian dengan rumusan masalah yang ada terkait peran dakwah digital dalam pendidikan karakter pada Generasi Alpha.</p>
      <p id="_paragraph-15">Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh melalui pengamatan langsung secara beragam konten dakwah yang ditayangkan di platform TikTok dan YouTube, dari berbagai akun digital yang aktif menyampaikan pesan keislaman. Adapun pemilihan konten dilakukan secara purposif berdasarkan beberapa kriteria, yaitu : (1) berasal dari akun yang berbeda-beda untuk memperoleh keragaman gaya dakwah, (2) mengangkat tema-tema keislaman yang relevan, seperti pengamalan Fiqih, ibadah harian, akhlak, serta nasihat kehidupan berdasarkan Al-Quran dan Hadis Nabi. Beberapa konten juga berupa podcast bertema keislaman yang menyampaikan pesan dakwah secara dialogis dan kontekstual. Selanjutnya data dianalisis menggunakan teknik analisis isi dengan pendekatan tematik, yaitu dengan mengidentifikasi pola-pola penyampaian pesan dakwah, gaya komunikasi, visualisasi, serta interaksi audiens. Serta mengandalkan informasi yang sudah ada, seperti jurnal, buku, laporan, dan publikasi ilmiah lainnya, untuk membantu dalam memahami perkembangan ilmu pengetahuan dan kontribusi para ilmuwan di bidang ini. Data ini, yang disebut data sekunder, memberikan gambaran yang komprehensif tentang penelitian dan pemikiran terkini mengenai pendidikan karakter dan dakwah digital.</p>
      <p id="_paragraph-16">Dengan tidak membatasi periode waktu pengambilan data, penelitian ini berfokus pada konten yang secara aktual masih tersedia dan dapat diakses di platform digital, sehingga memungkinkan analisis terhadap konten-konten yang masih berpengaruh di tengah masyarakat digital saat ini. Melalui pengamatan langsung terhadap penggunaan media digital, penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai efektivitas media digital untuk pendidikan karakter.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-53bd2440ca142653a34220609ed1c009">
      <title>
        <bold id="bold-d4e098834ffd1223d83c61d2bb93b73f">Hasil dan Pembahasan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-18">pada bagian ini akan menjelaskan terlebih pentingnya pendidikan karakter Saat ini. pendidikan karakter memiliki peranan krusial di era digitalisasi dalam masyarakat untuk membentuk insan yang memiliki moralitas dan etika yang tinggi. Kebutuhan mendesak untuk memastikan bahwa mereka tidak hanya mahir dalam menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki karakter yang kuat dan integritas yang kokoh [17]. Di era digital yang serba cepat ini, masyarakat dihadapkan pada dilema moral yang semakin rumit [18]. Terlebih pada lingkungan digital yang dinamis dan penuh informasi dapat mempengaruhi perkembangan moral dan perilaku individu.</p>
      <p id="_paragraph-19">Pendidikan karakter, pada dasarnya, merupakan kombinasi dari dua elemen vital yang memiliki makna yang berbeda, yang jika digabungkan akan memberikan dampak yang signifikan. pendidikan merupakan proses pendewasaan manusia melalui serangkaian proses pendidikan dalam hidup untuk membimbing, mengembangkan, serta membentuk potensi jasmani dan rohani menjadi individu yang utuh, berkarakter, bermartabat, dan mampu hidup sebagai anggota masyarakat. sedangkan karakter merujuk pada sifat-sifat atau kualitas yang menunjukkan integritas, moralitas, dan kemampuan seseorang untuk bertindak dengan cara yang sesuai dengan nilai-nilai etis yang dihargai dalam masyarakat. Sementara itu, Pendidikan agama Islam, dengan nilai-nilai yang bersifat universal dan abadi, tidak hanya mengajarkan moralitas, tetapi juga memandu manusia untuk menjalani hidup sesuai dengan tuntunan Ilahi.</p>
      <p id="_paragraph-20">Pendidikan karakter pada Generasi Alpha tidak hanya menjadi domain pendidikan agama, melainkan juga merupakan bagian dari ruang lingkup pendidikan secara umum. Sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional [19], pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia. Dalam perspektif pedagogi modern, nilai-nilai karakter dapat ditanamkan melalui pendekatan formal, nonformal, dan informal, termasuk melalui media digital. Dakwah digital, sebagai salah satu bentuk komunikasi edukatif, memiliki potensi signifikan dalam menyampaikan pesan moral dan etika yang mendukung pengembangan karakter secara holistik. Oleh karena itu, kajian ini memiliki relevansi baik dalam konteks pendidikan keagamaan maupun dalam kajian pedagogis secara luas.</p>
      <sec id="heading-3a1b01ee0d6f0eb4526d02bc9b3d567d">
        <title>A.Faktor pembentukan karakter</title>
        <p id="_paragraph-22">Berdasarkan KBBI, pembentukan berarti proses menciptakan sesuatu. Karakter, di sisi lain, adalah kumpulan sifat positif yang mencerminkan nilai-nilai baik dan moralitas seseorang. Dengan demikian, pembentukan karakter dapat diartikan sebagai proses yang berkelanjutan untuk mengembangkan nila-nilai positif dan etika yang membentuk dasar perilaku.</p>
        <p id="_paragraph-23">Mengacu pada pendapat Masnur Muslich (2011) dalam buku Dasar-dasar Pendidikan Karakter [20], mengemukakan bahwa kualitas moral dan mental seseorang dipengaruhi oleh faktor internal (fitrah dan sifat dasar) serta lingkungan sosial, khususnya melalui pendidikan dan sosialisasi.</p>
        <p id="_paragraph-24">1.faktor biologis adalah faktor internal yang berasal dari diri individu, yang dipengaruhi oleh genetik, sifat bawaan sejak lahir, dan karakteristik yang diwarisi dari orang tua. Warisan genetik dari orang tua dapat mempengaruhi temperamen dasar, kecenderungan perilaku, dan bahkan kemampuan kognitif seseorang. Meskipun genetika memberikan dasar, namun bukan satu-satunya penentu karakter.</p>
        <p id="_paragraph-25">2.faktor lingkungan Selain faktor bawaan (hereditas) yang cenderung tetap, lingkungan juga sangat berperan dalam membentuk karakter. Lingkungan ini mencakup berbagai aspek seperti lingkungan tempat tinggal, pendidikan, kondisi dan situasi hidup, serta norma-norma masyarakat, termasuk adat istiadat, peraturan, dan bahasa yang digunakan. Semua faktor ini, yang bersifat eksternal, memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter seseorang.</p>
        <p id="_paragraph-26">Sementara dalam pandangan Stephen Covey, mengidentifikasi adanya tiga teori utama yang mendasarkan terbentuknya karakter yaitu [21]:</p>
        <p id="_paragraph-27">1. Determinisme Genetik atau bisa dipahami sebagai faktor keturunan. Teori ini berpendapat bahwa karakter seseorang dipengaruhi faktor genetik atau keturunannya. Sifat-sifat tertentu akan diwariskan turun menurun antar generasi ke generasi. Contohnya, kakek-nenek Anda memiliki sifat tenang, maka individu tersebut cenderung mewarisi sifat tersebut. pada teori ini menekankan bahwa “kakek-nenek adalah yang membuat Anda seperti ini”.</p>
        <p id="_paragraph-28">2. Determinisme Psikis atau dapat dipahami sebagai faktor dari pengalaman masa lalu. Teori ini berfokus pada pengaruh pengalaman masa kecil dan pola asuh terhadap pembentukan karakter. Cara orang tua mendidik, pengalaman traumatis, atau lingkungan emosional di masa kecil membentuk kecenderungan pribadi dan susunan karakter seseorang. Contohnya, seseorang merasa malu karena pernah melakukan sesuatu kesalahan di masa kecil mungkin memiliki rasa percaya diri yang rendah. Teori ini menekankan bahwa “orang tua adalah yang membuat ada seperti ini”.</p>
        <p id="_paragraph-29">3. Determinisme Lingkungan atau dapat dipahami sebagai faktor eksternal. Teori ini menyatakan bahwa lingkungan eksternal, seperti bos, pertemanan, keluarga, situasi ekonomi, bertanggung jawab atas karakter seseorang. Biasanya orang-orang cenderung menyalahkan faktor-faktor dari luar ini atas perilaku dan situasi yang mereka alami. Contohnya, seseorang menyalahkan temannya atas kondisinya yang dialami di lingkungan pertemanannya. Teori ini menekankan bahwa “sesuatu atau seseorang di lingkungan adalah yang membuat Anda seperti itu”.</p>
        <p id="_paragraph-30">Namun perlu dicatat pada teori ini Covey tidak sepenuhnya menyetujui teori-teori ini, melainkan menggunakannya untuk menunjukkan bagaimana kita sering kali mencari alasan eksternal untuk perilaku kita, daripada mengambil tanggung jawab pribadi untuk perubahan. menekankan pentingnya pro aktivitas, tanggung jawab pribadi, dan perubahan dari dalam untuk membentuk karakter yang efektif.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-d6300353c001dbe187653d40ee3b04ef">
        <title>B.Hubungan teknologi dalam pembentukan karakter</title>
        <p id="_paragraph-32">Perkembangan teknologi digital di era modern ini sangat memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk pada pendidikan karakter. Teknologi kini bukan hanya menjadi alat bantu pembelajaran, tetapi juga dapat menjadi sarana efektif untuk menanamkan nilai-nilai karakter jika digunakan dengan tepat. Dalam konteks pendidikan karakter, teknologi dapat digunakan untuk menyampaikan nilai-nilai moral melalui media interaktif, platform e-learning, dan konten digital edukatif yang dirancang secara kontekstual dan menarik. Majunya teknologi mempermudah segala urusan yang ada, hingga pelaksanaan pendidikan kini dapat memanfaatkan teknologi digital [22].</p>
        <p id="_paragraph-33">Integrasi teknologi dalam pendidikan karakter membuka peluang untuk mengatasi berbagai masalah-masalah yang selama ini dihadapi dalam upaya melaksanakan pendidikan karakter oleh pendidik. Perubahan zaman menuntut penyesuaian metode pengajaran agar tetap relevan, karena tidak semua metode yang ada saat ini sesuai dengan kebutuhan zaman. Tantang tersebut meliputi kesenjangan akses pendidikan, minimnya tingkat perhatian siswa terhadap materi pembelajaran konvensional, serta lemahnya penerapan nilai-nilai karakter di lingkungan sekolah dan di rumah. Melalui teknologi, guru dapat menciptakan pembelajaran yang lebih menarik dan relevan bagi siswa. aplikasi, game edukasi, dan pembelajaran online, sebagai bentuk teknologi, dapat digunakan secara efektif dalam proses penanaman nilai-nilai positif, seperti kejujuran, disiplin, dan kerja sama.</p>
        <p id="_paragraph-34">Namun, integritas teknologi juga menghadapi berbagai tantangan yang muncul akibat dari perkembangan teknologi. salah satu tantangan tersebut adalah kerentanan individu terhadap dampak negatif, seperti cyberbullying, penyebaran informasi palsu, dan perilaku tidak etis di dunia maya. Oleh karena itu, dibutuhkan perhatian dan kerja sama antara guru dan orang tua untuk terus memantau penggunaan teknologi digital oleh siswa, serta memberikan edukasi tentang literasi media digital dan etika dalam bermedia.</p>
        <p id="_paragraph-35">Menurut penelitian Arwan (2024), guru memegang peran kunci sebagai fasilitator dalam pendidikan karakter. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa meskipun teknologi memberikan kemudahan, keberhasilan pendidikan karakter sangat bergantung pada keterampilan guru dan hubungan komunikasi yang baik antara guru dan siswa [23].</p>
        <p id="_paragraph-36">Selain guru, keterlibatan orang tua dalam mendampingi penggunaan teknologi juga menjadi faktor penting dalam penguatan pendidikan karakter. Qayimah (2021) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa perhatian orang tua yang dikombinasikan dengan penguatan karakter siswa memiliki hubungan positif dan signifikan terhadap hasil belajar PPKn, yang merupakan salah satu bentuk pendidikan karakter berbasis nilai-nilai kewarganegaraan [24].</p>
        <p id="_paragraph-37">Dengan demikian, hubungan antara teknologi dan pendidikan karakter bersifat ambivalen: teknologi dapat menjadi sarana pembentukan karakter yang efektif jika dikelola dengan bijak, namun juga berpotensi melemahkan nilai-nilai tersebut jika tidak dikontrol. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi yang erat antara pendidik, orang tua, dan institusi pendidikan dalam memanfaatkan teknologi secara maksimal untuk pembentukan karakter peserta didik di era digital.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-ec85b3406386f36e55160df04aa80f86">
        <title>C.Hubungan agama Islam dalam pendidikan karakter</title>
        <p id="_paragraph-39">Pendidikan Agama Islam (PAI) memainkan peran krusial dalam pembentukan karakter individu melalui internalisasi nilai-nilai moral, sosial, dan spiritual yang bersumber dari ajaran Islam. Pendidikan Agama Islam (PAI) tidak hanya berfokus pada penyampaian pengetahuan keagamaan, tetapi juga bertujuan membentuk pribadi yang berakhlak mulia dan mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungan sosial maupun spiritual dengan Tuhan [25]. Mengingat misi utama Nabi Muhammad SAW di utus ke bumi adalah untuk memperbaiki karakter manusia. Sabda beliau dalam HR. Bukhari dan Muslim yang berbunyi:</p>
        <fig id="figure-panel-97be617f0e69a9cf26dea376dfe11495">
          <label>Figure 1</label>
          <caption>
            <p id="paragraph-b05cc8a14ba7fd9e355baf307bd3bf8a" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-6617a55304628d93c0192cad264ac456" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="ayat 1.png" />
        </fig>
        <p id="paragraph-fd1969c66612bb554b2334cce66a308e">artinya sesungguhnya sebaik-baiknya kalian adalah yang paling mulia akhlaknya, menunjukkan bahwa akhlak adalah ukuran utama keutamaan seseorang dalam Islam, bukan sekadar ilmu.</p>
        <p id="_paragraph-40">Implementasi kurikulum berbasis spiritual dalam PAI menjadi sarana strategis untuk menanamkan nilai-nilai luhur sebagai fondasi karakter individu. Dalam konteks ini, pembentukan karakter melalui pembelajaran agama Islam menjadi aspek penting yang harus diperhatikan dalam proses pendidikan. Nilai-nilai moral dan etika yang luhur perlu ditanamkan secara konsisten kepada setiap individu sebagai bagian integral dari pendidikan agama Islam. Lebih dari sekedar tanggung jawab institusi pendidikan, pembentukan karakter juga menjadi kewajiban orang tua, sebagaimana dalam Al-Qur’an: “wahai orang-orang yang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (QS. At-Tahrim: 6). Dalam ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan karakter harus dimulai dari lingkungan keluarga, di mana orang tua berperan aktif dalam menanamkan nilai-nilai keimanan, akhlak mulia, dan keteladanan sejak dini.</p>
        <p id="_paragraph-41">Peran orang tua dalam mendidik anaknya termaktub dalam QS. Al-Baqarah ayat 133.</p>
        <fig id="figure-panel-d7f2ef33423c5dfc6a9b23b0cdb3eff9">
          <label>Figure 2</label>
          <caption>
            <p id="paragraph-36d444bcb3b50cb64bdb9ad5f22874e9" />
          </caption>
          <graphic id="graphic-6652519b130176db3196b338499a8264" mimetype="image" mime-subtype="png" xlink:href="ayat 2.png" />
        </fig>
        <p id="_paragraph-43">Artinya: “apakah kamu hadir menjadi saksi menjelang kematian Ya’qub ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “apa yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu: Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan (hanya) kepada-Nya kami berserah diri.”</p>
        <p id="_paragraph-44">Pada ayat tersebut, terkandung beberapa prinsip penting yang dapat dijadikan landasan dalam praktik pendidikan oleh orang tua. Pertama, pendidikan yang diberikan orang tua kepada anak bukanlah proses yang berhenti di satu fase kehidupan, melainkan berlangsung seumur hidup, bahkan hingga akhir hayat. Kedua, proses pendidikan tersebut sebaiknya berlanjut tidak hanya selama masa hidup orang tua, tetapi juga terus berlangsung dalam kehidupan anak-anak mereka, bahkan hingga generasi selanjutnya. Ketiga, substansi pendidikan yang diberikan harus mencakup pengenalan terhadap Tuhan Sang Pencipta, yang dapat diwujudkan melalui pembelajaran iman, akidah, akhlak, dan kemampuan membaca Al-Qur’an. Keempat, orang tua dianjurkan untuk memanfaatkan setiap momen berharga dalam kehidupan sehari-hari sebagai sarana memberikan nasihat dan pendidikan moral-spiritual kepada anak-anak mereka.</p>
        <p id="_paragraph-45">dengan demikian melalui pendidikan agama Islam, generasi muda akan mengalami proses pembentukan karakter yang holistik. Pemahaman agama yang benar akan membentengi mereka dari pengaruh negatif, sekaligus menumbuhkan kesadaran sosial, empati, dan keinginan untuk berkontribusi positif dalam kehidupan masyarakat.</p>
        <p id="_paragraph-46">Agama Islam memiliki peran yang sangat sentral dalam pembentukan karakter bagi individu. Dalam penelitian yusri (2023) menyebutkan adanya peran Pendidikan Agama Islam dalam pembentukan karakter yang islami sebagai berikut [26].</p>
        <p id="_paragraph-47">1.Menanamkan nilai-nilai akhlak mulia</p>
        <p id="_paragraph-48">Islam tidak hanya memberikan teori tentang akhlak mulia, tetapi juga contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari yang dicontohkan oleh nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Siddiq (kejujuran), bukan hanya sekedar berbicara jujur, tetapi juga mencangkup kejujuran dalam hati, niat, dan tindakan. Amanah (dapat dipercaya) diwujudkan dalam menjaga kepercayaan yang di berikan, baik itu harta benda, rahasia, maupun dalam bentuk jabatan. Fathanah (kepintaran dan kecerdasan) mendorong pemeluknya untuk berpikir kritis dan bijaksana dalam menyelesaikan masalah. Sementara tablig (menyampaikan kebaikan) mengajak setiap muslim untuk menyebarkan kebaikan dan kebenaran kepada orang lain. pengalaman nilai-nilai ini akan membentuk karakter yang jujur, bertanggung jawab, bijak sana, dan peduli terhadap sesama. Yang akan tercermin kan dalam kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu akhlak mulia ini akan menjadi fondasi bagai terciptanya masyarakat yang adil, makmur, dan harmonis.</p>
        <p id="_paragraph-49">2.membentuk kepribadian yang beriman dan bertakwa.</p>
        <p id="_paragraph-50">Iman dan takwa dalam Islam bukan sekedar kepercayaan atau pengakuan lisan, tetapi merupakan keyakinan yang mendalam mempengaruhi seluruh aspek kehidupan. Keimanan yang kuat akan mendorong seseorang untuk senantiasa berbuat baik, menghindari perbuatan buruk, dan selalu berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT. Taqwa, sebagai wujud dari keimanan, akan membimbing seseorang untuk bertindak sesuai dengan tuntunan agama. iman dan Taqwa akan memberikan ketenangan jiwa dan kebahagiaan sejati yang tidak dapat digantikan oleh hal-hal duniawi.</p>
        <p id="_paragraph-51">3.menumbuhkan rasa tanggung jawab</p>
        <p id="_paragraph-52">Islam mengajarkan tanggung jawab yang komprehensif, meliputi tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Tanggung jawab terhadap diri sendiri meliputi menjaga kesehatan jasmani dan rohani, serta meningkatkan kualitas diri melalui belajar dan beramal. Tanggung jawab terhadap keluarga mencakup memberikan nafkah, mendidik anak-anak, dan membangun hubungan yang harmonis. Tanggung jawab terhadap masyarakat meliputi berkontribusi dalam pembangunan dan kemajuan masyarakat, serta menjaga ketertiban dan keamanan. Tanggung jawab terhadap lingkungan meliputi menjaga kelestarian alam dan menghindari kerusakan lingkungan. Semua ini membentuk pribadi yang bertanggung jawab, peduli, dan berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar.</p>
        <p id="_paragraph-53">4.mengajarkan pentingnya disiplin diri</p>
        <p id="_paragraph-54">Disiplin diri merupakan kunci keberhasilan dalam berbagai aspek kehidupan. Islam mengajarkan pentingnya disiplin diri dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam ibadah maupun dalam kehidupan sehari-hari. Disiplin dalam ibadah tercermin dalam ketaatan menjalankan Shalat, puasa, zakat, dan haji. Disiplin dalam kehidupan sehari-hari tercermin dalam pengaturan waktu, pengelolaan keuangan, dan pengendalian emosi. Disiplin diri yang tertanam kuat akan membentuk karakter yang kuat, konsisten, dan mampu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kemampuan untuk mengendalikan diri merupakan kunci keberhasilan dalam berbagai aspek kehidupan.</p>
        <p id="_paragraph-55">5.mencegah periaku negatif</p>
        <p id="_paragraph-56">Islam melarang berbagai perilaku negatif seperti dusta, korupsi, kolusi, dan nepotisme. Larangan-larangan ini bukan sekadar aturan yang bersifat formal, tetapi merupakan upaya untuk melindungi individu dan masyarakat dari dampak buruk perilaku negatif tersebut. Dengan menghindari perilaku negatif, seseorang dapat membentuk karakter yang positif dan terpuji, serta berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang adil dan harmonis. Ajaran agama Islam menekankan pentingnya pertanggungjawaban atas setiap perbuatan di dunia dan akhirat, yang akan mendorong individu untuk senantiasa berbuat baik dan menghindari perbuatan buruk.</p>
        <p id="_paragraph-57">6.membangun hubungan sosial yang harmonis</p>
        <p id="_paragraph-58">Islam mengajarkan pentingnya membangun hubungan sosial yang harmonis dengan sesama manusia, baik sesama muslim maupun non-muslim. Hal ini tercermin dalam ajaran-ajaran Islam tentang toleransi, saling menghormati, dan kerja sama. Dengan membangun hubungan sosial yang harmonis, seseorang dapat membentuk karakter yang ramah, toleran, dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Islam menekankan pentingnya persatuan dan kesatuan umat manusia, serta menghindari permusuhan dan pertikaian. Hubungan sosial yang baik akan menciptakan lingkungan yang damai dan kondusif bagi perkembangan pribadi dan masyarakat.</p>
      </sec>
      <sec id="heading-8f6e6577e70f309cac4d49a6eaeaee34">
        <title>D.Peran teknologi dan agama dalam melakukan pendidikan karakter</title>
        <p id="_paragraph-60">Di era digital yang berkembang pesat, pendidikan karakter mengalami pergeseran signifikan, tidak hanya dalam pendekatan tetapi juga dalam media penyampaiannya. Generasi Alpha, yang lahir dan tumbuh dalam lingkungan serba digital, menunjukkan pola interaksi, belajar, dan perkembangan karakter yang sangat dipengaruhi oleh teknologi. Dalam konteks ini, kolaborasi antara pemanfaatan teknologi dan nilai-nilai agama dalam bentuk dakwah secara digital menjadi semakin relevan sebagai pendekatan strategis dalam membentuk karakter yang berimbang secara intelektual, emosional, dan spiritual.</p>
        <p id="_paragraph-61">Dakwah yang dilakukan di era digital, tentunya membutuhkan teknologi digital sebagai sarana penyaluran pesan-pesan keagamaan. teknologi, khususnya media sosial menyediakan ruang yang luas dan fleksibel untuk menyampaikan pendidikan karakter dengan cara yang lebih menarik dan kontekstual. Melalui video edukatif, informatif dan pesan dakwah berbasis nilai moral generasi Alpha dapat mengenal dan memahami nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, dan kepedulian sosial. Namun demikian, teknologi bersifat netral; arah penggunaannya sangat bergantung pada nilai-nilai yang melandasi konten dan interaksi digital tersebut.</p>
        <p id="_paragraph-62">Di sinilah agama berperan sebagai fondasi etika yang dapat mengarahkan penggunaan teknologi menuju tujuan pendidikan karakter yang lebih holistik. Ajaran agama, yang erat dengan prinsip moral dan spiritual, dapat diintegrasikan dalam bentuk konten digital dakwah yang disesuaikan dengan karakteristik Generasi Alpha. Misalnya, pembelajaran nilai-nilai agama dapat dikemas dalam bentuk cerita bergambar, permainan edukatif, atau aplikasi pengingat ibadah yang tidak hanya mengajarkan ritual, tetapi juga membentuk kebiasaan positif dan kesadaran diri.</p>
        <p id="_paragraph-63">Peran pendamping, khususnya orang tua dan pendidik, menjadi sangat krusial dalam mengawal integrasi antara teknologi dan nilai agama dalam pendidikan karakter. Pendampingan ini mencakup seleksi konten digital yang sesuai, pemberian konteks nilai atas materi yang diakses, hingga memberi teladan dalam penggunaan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab [27]. Dengan demikian, pembentukan karakter tidak hanya terjadi melalui media teknologi, tetapi juga melalui interaksi sosial dan refleksi nilai yang berkelanjutan.</p>
        <p id="_paragraph-64">gaya komunikasi juga memegang peranan penting dalam dakwah digital sebagai penentu efektivitas penyampaian pesan keagamaan. Pendakwah perlu menggunakan gaya komunikasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga interaktif dan dialogis agar pesan dakwah dapat diterima dengan baik dan tidak menimbulkan resistensi. Komunikasi yang empatik dan moderat juga penting untuk menjangkau generasi alpha yang cenderung kritis dan selektif terhadap konten keagamaan. Oleh karena itu, keberhasilan dakwah di era digital sangat dipengaruhi oleh kemampuan pendakwah dalam menyesuaikan gaya komunikasi dengan karakteristik media serta audiensnya [28].</p>
        <p id="_paragraph-65">Dengan menggabungkan kekuatan teknologi sebagai sarana dan agama sebagai sumber nilai, pendidikan karakter bagi generasi masa kini dapat dilakukan secara lebih efektif. Integrasi keduanya bukan hanya memungkinkan penyampaian nilai secara lebih adaptif terhadap zaman, tetapi juga memastikan bahwa perkembangan intelektual anak tidak terlepas dari landasan moral dan spiritual yang kuat. Pendekatan ini tidak hanya relevan untuk menjawab tantangan pendidikan karakter di era digital, tetapi juga strategis untuk menyiapkan generasi yang berakhlak, berpikir kritis, dan bertanggung jawab di masa depan.</p>
        <p id="_paragraph-66">dengan demikian penelitian ini melengkapi kajian-kajian sebelumnya dengan menambahkan fokus khusus pada Generasi Alpha sebagai objek kajian, serta mengintegrasikan aspek dakwah digital sebagai pendekatan pendidikan karakter berbasis Islam.. dengan membandingkan penemuan sebelumnya, penelitian ini mencoba menghubungkan langsung antara teknologi, dakwah, dan pembentukan karakter Islami secara kontekstual. hasilnya, diharapkan penelitian ini memberikan kontribusi baru dengan menghadirkan pendekatan integratif yang menghubungkan antara dakwah digital, karakteristik Generasi Alpha, dan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam serta memperluas perspektif bahwa media dakwah digital bukan hanya sebagai saluran informasi keagamaan, tetapi juga sebagai instrumen pembentukan karakter yang efektif dan kontekstual.</p>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-a631aa9bb887174d3c6c2faf1306ba65">
      <title>
        <bold id="bold-dc72ce6570a33a2feeacadf995333ce8">Kesimpulan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-68">Seiring dengan perkembangan teknologi digital saat ini memberikan pengaruh besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Termasuk dalam pendidikan karakter. Namun terdapat tantangan tersendiri bagi teknologi terhadap pendidikan karakter khususnya terhadap generasi alpha yang sejak lahir akrab dengan dunia digital. teknologi hanya menjadi alat atau arah dan nilai-nilai yang membimbing penggunaannya tetap sangat ditentukan oleh prinsip moral yang kuat, salah satunya adalah nilai-nilai agama. Agama Islam memiliki peran penting sebagai penyeimbang dalam pembentukan karakter generasi alpha di era digital saat ini. ajaran agama mengandung nilai-nilai universal seperti kejujuran, empati, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap sesama.</p>
      <p id="_paragraph-69">Penelitian ini menunjukkan bahwa dakwah digital melalui platform seperti TikTok dan YouTube memiliki peran strategis dalam membentuk karakter Generasi Alpha, khususnya dalam menanamkan nilai keimanan, akhlak, dan tanggung jawab sosial. Kebaruan dari temuan ini terletak pada fokusnya yang spesifik pada Generasi Alpha dan integrasi dakwah digital sebagai sarana pendidikan karakter Islami yang kontekstual dan relevan. Dakwah yang disampaikan secara interaktif dan visual terbukti lebih efektif menjangkau generasi ini dibanding metode konvensional. Oleh karena itu, pendidik dan pendakwah digital disarankan untuk mengemas pesan-pesan keislaman secara kreatif, komunikatif, dan sesuai dengan dunia digital yang akrab bagi generasi muda. Selain itu, peran pendampingan dari orang tua dan institusi pendidikan sangat penting dalam memastikan media digital digunakan secara positif dan mendukung pembentukan karakter yang holistik.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>