<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!DOCTYPE article PUBLIC "-//NLM//DTD JATS (Z39.96) Journal Archiving DTD v1.0 20120330//EN" "JATS-journalarchiving.dtd">
<article xmlns:xlink="http://www.w3.org/1999/xlink" xmlns:ali="http://www.niso.org/schemas/ali/1.0">
  <front>
    <article-meta>
      <title-group>
        <article-title>Inclusive Education Model in Special Needs Friendly Secondary Schools</article-title>
        <subtitle>Model Pendidikan Inklusif di Sekolah Menengah Ramah Siswa Berkebutuhan Khusus</subtitle>
      </title-group>
      <contrib-group content-type="author">
        <contrib id="person-e4de1f367bd3cffe9bec5109f4118a1e" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Hamid</surname>
            <given-names>Siti Nur Cholisa</given-names>
          </name>
          <email>sitinur@gmail.com</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-1" />
        </contrib>
        <contrib id="person-c17464b7b9e41d007e4faafdd37c46e3" contrib-type="person" equal-contrib="no" corresp="no" deceased="no">
          <name>
            <surname>Muis</surname>
            <given-names>Lidya Shery</given-names>
          </name>
          <email>lidyasherymuis@umsida.ac.id</email>
          <xref ref-type="aff" rid="aff-2" />
        </contrib>
      </contrib-group>
      <aff id="aff-1">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <aff id="aff-2">
        <country>Indonesia</country>
      </aff>
      <history>
        <date date-type="received" iso-8601-date="2024-10-25">
          <day>25</day>
          <month>10</month>
          <year>2024</year>
        </date>
      </history>
      <abstract />
    </article-meta>
  </front>
  <body id="body">
    <sec id="heading-47695e86ef5f3cad8099f9fdd16e816e">
      <title>
        <bold id="bold-857601bc863738541eb2bf5df7db9a57">Pendahuluan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-4">Setiap individu memiliki beragam kebutuhan, termasuk anak-anak dengan kebutuhan khusus juga membutuhkan dan berhak mendapatkan akses pendidikan yang layak dengan harapan anak-anak berkebutuhan khusus dapat mengembangkan kemandirian dan mengurangi ketergantungan terhadap orang lain. Semakin banyak anak berkebutuhan khusus yang dapat terakomodasi dalam institusi pendidikan, maka semakin besar pula peluang terpenuhinya kebutuhan mereka. Melalui pendidikan, mereka diharapkan dapat memperluas wawasan dan cara pandang, sehingga mampu berpikir secara kreatif, inovatif, serta produktif layaknya anak-anak pada umumnya.</p>
      <p id="_paragraph-5">Meskipun Indonesia telah mengadopsi kebijakan pendidikan inklusif, diskriminasi terhadap ABK dalam lingkungan pendidikan masih menjadi permasalahan yang kompleks dan memprihatinkan. Dalam praktiknya, banyak ABK yang belum mendapatkan perlakuan yang setara, baik dari lingkungan sekolah, tenaga pendidik, maupun peserta didik lainnya. Salah satu bentuk diskriminasi yang paling sering terjadi adalah perundungan (bullying), baik secara verbal, fisik, maupun sosial [1]. Peristiwa Bullying banyak mendapat perhatian dari para peneliti. Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa bullying tidak hanya terjadi pada sekolah dengan siswa reguler, melainkan juga terjadi pada siswa berkebutuhan khusus [2].</p>
      <p id="_paragraph-6">Kasus-kasus perundungan terhadap ABK telah menjadi sorotan media dan menunjukkan bahwa sekolah masih menjadi lingkungan yang tidak sepenuhnya aman bagi mereka. Misalnya, kasus seorang siswa ABK di SMP Depok yang mengalami perundungan hingga melukai diri sendiri (Amelia &amp; Puspitasari, 2023), serta kasus lain di Kabupaten Cirebon yang dilaporkan oleh Prayitno (2023). Secara global, studi yang melibatkan lebih dari 16 juta anak muda di 25 negara mengungkapkan bahwa 31,7% anak penyandang disabilitas pernah mengalami kekerasan, dan mereka dua kali lebih berisiko mengalami pelecehan dan penelantaran dibandingkan anak tanpa disabilitas [3].</p>
      <p id="_paragraph-7">Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa ABK mengalami pengucilan dan kekerasan simbolik dalam berbagai lingkungan Pendidikan. Hasil penelitian Hadjikakou &amp; Papas mengungkapkan bahwa “The researcher noted that 15 of the 35 participants reported experiences indicative of ostracism across various educational settings, including mainstream schools, special units, and schools for the deaf”[4]. Hasil studi Taylor menunjukkan bahwa “Children diagnosed with ADHD face an increased risk of peer victimization and marginalization”[5]. Hasil penelitian Jones mengungkapkan bahwa “Findings indicate that up to 25% of children with disabilities may experience violence in their lifetime and are three to four times more likely to be victimized than their non-disabled peers”[3].</p>
      <p id="_paragraph-8">Pendidikan inklusif diharapkan menjadi solusi untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang setara, aman, dan mendukung partisipasi semua peserta didik tanpa diskriminasi. Booth &amp; Ainscow, (2002) mengungkapkan bahwa sekolah inklusi adalah sekolah yang mempromosikan partisipasi penuh semua siswa dalam semua aspek kehidupan sekolah dan memastikan bahwa mereka diberikan kesempatan untuk belajar dan berkembang secara optimal, tanpa memandang perbedaan atau kebutuhan pendidikan khusus mereka [6].</p>
      <p id="_paragraph-9">Prinsip pendidikan inklusi adalah membekali anak berkebutuhan khusus dengan berbagai kegiatan dan pengalaman sehingga mereka dapat berpartisipasi dan belajar dengan sukses bersama siswa yang normal [7]. Pendidikan inklusif bertujuan untuk memperluas akses, meningkatkan partisipasi, dan memperbaiki hasil belajar bagi kelompok siswa yang secara historis terpinggirkan dari sistem pendidikan formal [8].</p>
      <p id="_paragraph-10">Model cluster dan pull-out sering digunakan sebagai strategi layanan dalam pendidikan inklusif, terutama di tingkat dasar. Namun, relevansi dan efektivitas model tersebut dalam konteks sekolah menengah masih perlu dieksplorasi lebih lanjut. Sekolah menengah memiliki dinamika yang lebih kompleks baik dari sisi kurikulum, interaksi sosial remaja, hingga spesifikasi kebutuhan belajar siswa ABK. Oleh karena itu, penting untuk mengkaji kembali pendekatan-pendekatan ini agar sesuai dengan konteks dan kebutuhan jenjang menengah.</p>
      <p id="_paragraph-11">Meskipun berbagai studi telah menyoroti tantangan implementasi pendidikan inklusif, sebagian besar fokus pada jenjang pendidikan dasar atau hanya membahas aspek kurikulum dan fasilitas. Lebih jauh, studi ini menautkan pendekatan cluster dan pull-out dengan kerangka Universal Design for Learning (UDL) dan Index for Inclusion (Booth &amp; Ainscow, 2011) guna melihat keterkaitan dengan agenda global dalam pendidikan inklusif. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya relevan secara lokal, tetapi juga berkontribusi dalam diskursus global mengenai desain pembelajaran dan lingkungan sekolah yang inklusif.</p>
      <p id="_paragraph-12">Disamping itu, penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Dulisanti (2015), menunjukkan bahwa stigma negatif dari siswa reguler terhadap ABK memicu diskriminasi terselubung (soft bullying) dan menghambat terciptanya penerimaan sosial secara utuh [9].</p>
      <p id="_paragraph-13">Permasalahan inilah yang menarik bagi penulis untuk melakukan penelitian dengan tujuan mendeskripsikan konsep model pendidikan inklusif yang ramah bagi anak berkebutuhan khusus, mengintegrasikan pendekatan cluster &amp; pull-out dengan strategi anti-bullying berbasis komunitas. Kontribusi utama dari artikel ini adalah memberikan gambaran konseptual dan praktis mengenai model pendidikan inklusif yang ramah, yang dapat menjadi referensi bagi sekolah, tenaga pendidik, pembuat kebijakan, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mewujudkan pendidikan yang adil dan berkeadilan sosial bagi seluruh peserta didik, termasuk ABK.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-82e0e8d11263b013939c1bb88e0fe2a9">
      <title>
        <bold id="bold-768842fe61c2915bfae3bfc4dff8c387">Metode Penelitian</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-15">Penelitian ini menggunakan pendekatan studi literatur sistematis sebagai metode utama. Studi literatur merupakan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk mengidentifikasi, menilai, dan menginterpretasikan temuan-temuan yang relevan dalam bidang tertentu guna menjawab pertanyaan penelitian [10].</p>
      <p id="_paragraph-16">Data yang diperoleh dianalisis menggunakan pendekatan analisis tematik (thematic analysis). Teknik ini digunakan untuk mengidentifikasi pola-pola tematik yang muncul dari berbagai artikel yang dikaji [11].</p>
      <p id="_paragraph-17">Untuk menjaga validitas data dilakukan triangulasi sumber, dengan cara membandingkan temuan dari berbagai literatur dan wilayah yang berbeda, dan peer debriefing dengan cara diskusi dan validasi dengan dua akademisi bidang pendidikan inklusif guna menghindari bias interpretatif [12].</p>
    </sec>
    <sec id="heading-d4d3af37fb645761b054089eba8eca0a">
      <title>
        <bold id="bold-0a8ce723ee00441801f3b2327941776b">Hasil Dan Pembahasan</bold>
      </title>
      <sec id="heading-ead769d58b936020fe59a06d469b8f79">
        <title>A. Teori Inklusivitas</title>
        <p id="_paragraph-20">Sebagai landasan dalam penelitian ini, berikut diuraikan beberapa teori yang terkait dengan pokok permasalahan, yaitu:</p>
        <sec id="heading-60e2135d5a3d7c1d0423ad9ffd46295a">
          <title>1. Teori Social Justice (Keadilan Sosial dalam Pendidikan)</title>
          <p id="_paragraph-22">John Rawls (dalam Faiz, 2009) tentang teori keadilan sosial berpendapat bahwa prinsip keadilan sosial mencakup distribusi sumber daya pendidikan yang adil, terutama bagi kelompok yang terpinggirkan atau rentan. Rawls menekankan pentingnya kesetaraan kesempatan dalam pendidikan bagi semua individu, tidak terkecuali mereka yang berkebutuhan khusus, miskin, atau berasal dari latar belakang sosial yang kurang beruntung.</p>
          <p id="_paragraph-23">Dirinya berusaha untuk memosisikan adanya situasi yang sama dan setara antar tiap-tiap orang di dalam masyarakat serta tidak ada pihak yang memiliki posisi lebih tinggi antara satu dengan yang lainnya, seperti misalnya kedudukan, status sosial, tingkat kecerdasan, kemampuan, kekuatan, dan lain sebagainya. Sehingga, orang-orang tersebut dapat melakukan kesepakatan dengan pihak lainnya secara seimbang.</p>
          <p id="_paragraph-24">Keadilan dalam perspektif Islam mengajarkan prinsip inklusivitas dan penghormatan terhadap setiap individu, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan fisik atau mental. Dalam Islam, setiap individu berhak mendapatkan pendidikan yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka, termasuk penyandang disabilitas, sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surat An-Nahl ayat 90.</p>
        </sec>
        <sec id="heading-43e1b05aaeb70f91b703fbe2b81c8602">
          <title>2. Teori Konstruktivisme</title>
          <p id="_paragraph-26">Menurut Piaget (dalam Widayanthi et al., 2021) berpendapat bahwa anak-anak membangun pengetahuan mereka sendiri melalui interaksi aktif dengan lingkungan. Dia mengidentifikasi empat tahap perkembangan kognitif yang dilalui anak-anak berdasarkan cara berpikirnya dan bagaimana cara anak-anak memahami dunia atau lingkungannya: sensorimotor (usia lahir hingga 2 tahun), praoperasional (usia 2–7 tahun), operasional konkret (usia 7–11 tahun), dan operasional formal (usia 12 tahun ke atas). Setiap tahap ini ditandai oleh cara berpikir yang berbeda dan kemampuan yang berkembang seiring dengan bertambahnya usia. Piaget menekankan pentingnya pengalaman langsung dan eksplorasi dalam pembelajaran, yang merupakan inti dari pendekatan konstruktivis.</p>
          <p id="_paragraph-27">Lev Vygotsky (dalam Widayanthi et al., 2021) berpendapat bahwa pembelajaran terjadi paling efektif ketika siswa bekerja sedikit di atas tingkat kompetensi mereka saat ini, dengan bantuan dari orang yang lebih kompeten, seperti guru atau teman sebagai More Knowledgeable Other (MKO), namun belum dilepaskan secara mandiri. Komponen-komponen penting dalam konsep ZPD ini adalah Actual Development Level, Potential Development Level, Scaffolding, dan More Knowledgeable Other (MKO). Konsep ini menekankan pentingnya interaksi sosial dan kolaborasi dalam pembelajaran, yang membantu siswa untuk mencapai tingkat pemahaman yang lebih tinggi daripada yang dapat mereka capai sendiri.</p>
          <p id="_paragraph-28">Muhaijirah (dalam Alrsyad et al., 2021), menyatakan bahwa secara garis besar prinsip konstruktivisme yang diambil adalah pengetahuan yang dibangun siswa sendiri, baik secara personal maupun sosial. Siswa aktif mengkonstruksi secara berkesinambungan sehingga terjadi perubahan konsep-konsep yang lebih rinci, menyeluruh. Sesuai dengan ide ilmiah, pengetahuan tidak ditransfer dari guru kepada siswa, kecuali dengan keaktifan siswa sendiri untuk bernalar. Peran guru adalah membantu menyediakan sarana dan situasi. Dengan demikian, proses konstruksi siswa berjalan lancar.</p>
        </sec>
      </sec>
      <sec id="heading-7a7722fe8903a8c36530b01cc4d88bb8">
        <title>B.Pendidikan inklusif</title>
        <p id="_paragraph-30">Pendidikan inklusif adalah konsep yang mengutamakan integrasi semua siswa, termasuk mereka yang berkebutuhan khusus, dalam lingkungan pendidikan yang sama. Beberapa literatur menjelaskan keberhasilan dan tantangan dalam penerapan pendidikan inklusif di berbagai negara. Pendidikan inklusif memiliki beragam pemahaman dan interpretasi, serta masih terdapat realitas bahwa selama ini masih ada kerancuan pengertian antara pendidikan inklusif dengan pendidikan khusus bagi penyandang disabilitas yang dikenal dengan sekolah luar biasa (SLB). Dengan kata lain, istilah pendidikan inklusif masih sering diasumsikan hanya berlaku bagi anak penyandang disabilitas. Pandangan tersebut masih keliru, karena pendidikan inklusif ditujukan bukan hanya untuk penyandang disabilitas saja, melainkan untuk setiap anak yang memiliki kebutuhan berbeda dalam belajar. Jadi dengan adanya pendidikan inklusif, setiap anak dapat memperoleh pendidikan tanpa perlu dibedakan. Di Indonesia sendiri, pendidikan inklusif secara resmi didefinisikan sebagai: “sistem layanan pendidikan yang mengikutsertakan anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama dengan anak sebayanya di sekolah reguler yang terkait dengan tempat tinggalnya”. Penyelenggaraan pendidikan inklusif menuntut pihak sekolah melakukan penyesuaian baik dari segi kurikulum, sarana dan prasarana pendidikan, maupun sistem pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan individu peserta didik (Direktorat PLB 2004). Pendidikan inklusif adalah suatu filosofi pendidikan dan sosial. Dalam pendidikan inklusif, semua orang adalah bagian yang berharga dalam kebersamaan, apa pun perbedaan mereka. Pendidikan inklusif berarti bahwa semua anak, terlepas dari kemampuan maupun ketidakmampuan mereka, jenis kelamin, status sosial-ekonomi, suku, latar belakang budaya atau bahasa dan agama menyatu dalam komunitas sekolah yang sama. Pendidikan inklusif merupakan pendekatan yang memperhatikan cara mentransformasi sistem pendidikan, sehingga dapat merespons keberagaman peserta didik yang memungkinkan guru dan siswa merasakan nyaman dengan keberagaman tersebut, serta melihatnya lebih sebagai tantangan dan pengayaan dalam lingkungan belajar daripada melihatnya sebagai suatu masalah. Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 Pasal 1 disebutkan bahwa pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya (Ellitain, 2009).</p>
      </sec>
      <sec id="heading-7a0ebd1fcdbd21e6ecfdb264a900069d">
        <title>C.Anak berkebutuhan khusus</title>
        <p id="_paragraph-32">Pristian Haidi Putri (dalam Fakhiratun Nisa et al., 2022) menyatakan bahwa anak berkebutuhan khusus didefinisikan sebagai anak yang membutuhkan pendidikan serta layanan khusus untuk mengembangkan potensi kemanusiaan mereka secara optimal. Penyebutan sebagai anak berkebutuhan khusus disebabkan karena dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, anak-anak ini memerlukan bantuan berupa layanan pendidikan, layanan sosial, layanan bimbingan dan konseling, serta berbagai jenis layanan lainnya yang bersifat khusus.</p>
        <p id="_paragraph-33">Anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah mereka yang memiliki perbedaan dibandingkan dengan karakteristik anak seusianya atau anak-anak pada umumnya. Perbedaan yang dialami ABK ini terjadi pada beberapa aspek, yaitu proses pertumbuhan dan perkembangannya yang mengalami kelainan atau penyimpangan, baik secara fisik, mental, intelektual, sosial, maupun emosional (Fakhiratun Nisa et al., 2022).</p>
        <p id="_paragraph-34">Menurut IDEA atau Individuals with Disabilities Education Act Amendments yang dibuat pada tahun 1997 dan ditinjau kembali pada tahun 2004, secara umum klasifikasi dari anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan gangguan fisik, anak dengan gangguan intelektual, dan anak dengan gangguan emosi dan perilaku. Anak berkebutuhan khusus dapat diklasifikasikan berdasarkan kondisi fisik, intelektual, dan emosionalnya.</p>
        <sec id="heading-11a1967b5426790d7a0bff2189271fc5">
          <title>1.Anak dengan gangguan fisik:</title>
          <p id="_paragraph-36">Kelainan fisik adalah kelainan yang terjadi pada satu atau lebih organ tubuh tertentu. Akibat kelainan tersebut timbul suatu keadaan pada fungsi fisik tubuhnya tidak dapat menjalankan tugasnya secara normal. Tidak berfungsinya anggota fisik terjadi pada: alat fisik indra, misalnya kelainan pada indra pendengaran (tunarungu), kelainan pada indra penglihatan (tunanetra), kelainan pada fungsi organ bicara (tunawicara); alat motorik tubuh, misalnya kelainan otot dan tulang (poliomyelitis), kelainan pada sistem saraf di otak yang berakibat gangguan pada fungsi motorik (cerebral palsy), kelainan anggota badan akibat pertumbuhan yang tidak sempurna, misalnya lahir tanpa tangan/kaki, amputasi dan lain-lain. Untuk kelainan pada alat motorik tubuh ini dikenal dalam kelompok tunadaksa [19].Tunanetra, yaitu anak yang indera penglihatannya tidak berfungsi (blind/low vision) sebagai saluran penerima informasi dalam kegiatan sehari-hari seperti orang awas. Istilah anak tunanetra secara mendasar dapat diartikan sebagai anak-anak yang mengalami gangguan pada fungsi penglihatan. Kita perlu mendefinisikan ketunanetraan berdasarkan fungsi atau kemampuan penglihatan yang tersisa. Hal ini bertujuan untuk membantu mempermudah dalam penyediaan layanan baik dalam bentuk akademik maupun layanan tambahan sebagai keterampilan pendamping. Dengan mendefinisikan ketunanetraan sesuai dengan tingkatan fungsi penglihatan, maka kita tidak akan mengartikan secara mendasar bahwa anak tunanetra adalah mengalami kebutuhan [20].Airdhi Widjaya (dalam Fakhiratun Nisa et al., 2022) menjelaskan bahwa karakteristik anak tunanetra adalah sebagai berikut:</p>
          <p id="_paragraph-37">a. Karakteristik kognitif</p>
          <p id="paragraph-09defe4251699bc4611f55938726a0b1">Ketunanetraan secara langsung berpengaruh pada perkembangan dan belajar dalam hal yang bervariasi. Dengan mengidentifikasi keterbatasan yang mendasar pada anak dalam tiga area yang meliputi tingkat dan keberagaman pengalaman, kemampuan untuk berpindah tempat, dan interaksi dengan lingkungan.</p>
          <p id="_paragraph-38">b. Karakteristik akademik</p>
          <p id="paragraph-82d5c33842a59e5c871512a2ed8ab7ba">Dampak ketunanetraan tidak hanya terhadap perkembangan kognitif, namun juga berpengaruh pada perkembangan keterampilan akademis, khususnya dalam bidang membaca dan menulis. Karakteristik akademik anak tunanetra terbagi menjadi dua, yaitu:</p>
          <p id="_paragraph-39">c. Karakteristik sosial dan emosional</p>
          <p id="paragraph-c43496f603220976abde56e726322cc6">Sebagai akibat dari ketunanetraannya yang berpengaruh pada keterampilan sosial, siswa tunanetra harus mendapat pembelajaran yang langsung dan sistematis dalam bidang 11 pengembangan persahabatan, bagaimana menjaga kontak mata atau orientasi wajah, penampilan postur tubuh, menggerakkan tubuh dan ekspresi wajah secara benar, mengekspresikan perasaan, menyampaikan pesan yang tepat saat komunikasi, serta menggunakan alat bantu yang tepat.</p>
          <p id="paragraph-30357a11652c19394e36105926b5b397">d. Karakteristik perilaku</p>
          <p id="paragraph-e19bb0038117a6089859accb303fb3be">Pada dasarnya ketunanetraan tidak menimbulkan penyimpangan perilaku, meskipun demikian hal tersebut berpengaruh pada perilakunya. Siswa tunanetra kadang-kadang sering kurang memperhatikan kebutuhan sehari-harinya, sehingga ada kecenderungan orang lain untuk membantunya.</p>
          <p id="_paragraph-41">Tunarungu, yaitu anak yang kehilangan seluruh atau sebagian daya pendengarannya sehingga tidak atau kurang mampu berkomunikasi secara verbal. Tunarungu dapat diartikan sebagai gangguan pendengaran, di mana anak yang mengalami ketunarunguan adalah mengalami permasalahan pada hilangnya atau berkurangnya kemampuan pendengaran [18].</p>
          <p id="_paragraph-42">Nofiaturrahmah, Fifi (dalam Fakhiratun Nisa et al., 2022) menjelaskan tentang karakteristik anak tunarungu terdiri dari:</p>
          <p id="paragraph-276aedfd85572bd907aef1180d3b76e4">a. Karakteristik dari segi intelegensi</p>
          <p id="paragraph-db2e4ec7652d3ab31dbf28cf06b3ca0d">Intelegensi anak tunarungu tidak berbeda dengan anak normal yaitu tinggi, rata-rata dan rendah. Pada umumnya anak tunarungu memiliki intelegensi normal dan rata-rata. Prestasi anak tunarungu seringkali lebih rendah daripada prestasi anak normal karena dipengaruhi oleh kemampuan anak tunarungu dalam mengerti pelajaran yang diverbalkan. Namun untuk pelajaran yang tidak diverbalkan, anak tunarungu memiliki perkembangan yang sama cepatnya dengan anak normal. Prestasi anak tunarungu yang rendah bukan disebabkan karena intelegensinya rendah namun karena anak tunarungu tidak dapat memaksimalkan intelegensi yang dimiliki. Aspek intelegensi yang bersumber pada verbal seringkali rendah, namun aspek intelegensi yang bersumber pada penglihatan dan motorik akan berkembang dengan cepat.</p>
          <p id="_paragraph-43">b. Karakteristik dari segi berbahasa dan bicara</p>
          <p id="paragraph-65e769e9d4a45f9671c4baf9e315cc6e">Kemampuan anak tunarungu dalam berbahasa dan berbicara berbeda dengan anak normal pada umumnya karena kemampuan tersebut sangat erat kaitannya dengan kemampuan mendengar. Karena anak tunarungu tidak bisa mendengar bahasa, maka anak tunarungu mengalami hambatan dalam berkomunikasi. Bahasa merupakan alat dan sarana utama seseorang dalam berkomunikasi. Alat komunikasi terdiri dari membaca, menulis dan berbicara, sehingga anak tunarungu akan tertinggal dalam tiga aspek penting ini. Anak tunarungu memerlukan penanganan khusus dan lingkungan berbahasa intensif yang dapat meningkatkan kemampuan berbahasanya. Kemampuan berbicara anak tunarungu juga dipengaruhi oleh kemampuan berbahasa yang dimiliki oleh anak tunarungu. Kemampuan berbicara pada anak tunarungu akan berkembang dengan sendirinya namun memerlukan upaya terus menerus serta latihan dan bimbingan secara profesional. Dengan cara yang demikian banyak dari mereka yang belum bisa berbicara seperti anak normal baik dari segi suara, irama dan tekanan suara terdengar monoton berbeda dengan anak normal.</p>
          <p id="_paragraph-44">c. Karakteristik dari segi emosi dan sosial</p>
          <p id="paragraph-49412a81f0be3da474959c29a41441ad">Ketunarunguan dapat menyebabkan keterasingan dengan lingkungan. Keterasingan tersebut akan menimbulkan beberapa efek negatif seperti: egosentrisme yang melebihi anak normal, mempunyai perasaan takut akan lingkungan yang lebih luas, ketergantungan terhadap orang lain, perhatian mereka lebih sukar dialihkan, umumnya memiliki sifat yang polos dan tanpa banyak masalah, dan lebih mudah marah dan cepat tersinggung.</p>
          <p id="_paragraph-45">Tunawicara, menurut Samuel A. Kirk, (1986) dalam buku Moores (2001:27), “tunawicara adalah individu yang mengalami kesulitan berbicara. Hal ini dapat disebabkan oleh kurang atau tidak berfungsinya alat-alat bicara, seperti rongga mulut, lidah, langit-langit dan pita suara. Selain itu, kurang atau tidak berfungsinya organ pendengaran, keterlambatan perkembangan bahasa, kerusakan pada sistem saraf dan struktur otot, serta ketidakmampuan dalam kontrol gerak juga dapat mengakibatkan keterbatasan dalam berbicara.”</p>
          <p id="_paragraph-46">Karakteristik anak tunawicara adalah:</p>
          <p id="paragraph-db18cdb650b315817654eabca7b5edca">a. Karakteristik berbahasa dan wicara</p>
          <p id="paragraph-9f09f396037987f7bc258ecba3dae354">Pada umumnya anak tunawicara memiliki keterlambatan dalam perkembangan bahasa wicara bila dibandingkan dengan perkembangan bicara anak-anak normal.</p>
          <p id="_paragraph-47">b. Kemampuan intelegensi</p>
          <p id="paragraph-b035304a54396d8bcde8bd6f2c30c075">Kemampuan intelegensi (IQ) tidak berbeda dengan anak-anak normal, hanya pada skor IQ verbalnya akan lebih rendah dari IQ performanya.</p>
          <p id="_paragraph-48">c. Penyesuaian emosi, sosial dan perilaku</p>
          <p id="paragraph-137762f1a32b19151b23fab075dcb9c7">Dalam melakukan interaksi sosial di masyarakat banyak mengandalkan komunikasi verbal, hal ini yang menyebabkan tunawicara mengalami kesulitan dalam penyesuaian sosialnya. Sehingga anak tunawicara terkesan agak eksklusif atau terisolasi dari kehidupan masyarakat normal [18].</p>
          <p id="_paragraph-49"><bold id="bold-628f6a1eab82dd538f6d29ba6418bd7a">Tunagrahita</bold>, anak berkebutuhan khusus yang paling banyak mendapat perhatian guru antara lain anak tunagrahita (mental retardation).Adapun cara mengidentifikasi seorang anak termasuk tunagrahita yaitu melalui beberapa indikasi sebagai berikut:</p>
          <list list-type="order" id="list-1f1b6c3a115667bb12b3cc474d78d823">
            <list-item>
              <p>Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil/besar</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Perkembangan bicara atau bahasa terlambat</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Tidak ada/kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan (pandangan kosong)</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali)</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Sering keluar ludah (cairan) dari mulut (ngiler) [21]</p>
            </list-item>
          </list>
          <p id="_paragraph-50"><bold id="bold-f2de8d622eddd8a56fb1d68fb89b300e">Tunadaksa </bold>yaitu anak yang mengalami kelainan atau kecacatan yang ada pada sistem tulang, otot, tulang dan persendian. Tunadaksa ini disebabkan oleh berbagai hal yaitu kelainan bawaan, kecelakaan atau kerusakan otak. Tunadaksa berasal dari dua kata yaitu tuna dan daksa. Tuna memiliki arti “kurang” dan daksa yang berarti tubuh. Tunadaksa juga dapat diartikan kekurangan yang ada pada tubuh, kekurangan pada tunadaksa terlihat dari adanya anggota tubuh yang tidak sempurna [18].</p>
          <p id="_paragraph-52">Berikut identifikasi anak yang mengalami kelainan anggota tubuh/tubuh/gerak tubuh:</p>
          <list list-type="order" id="list-4853fa00e07199a1c0f1e452b754ec8e">
            <list-item>
              <p>Anggota gerak tubuh kaku atau lemah/lumpuh</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur/tidak terkendali)</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna/lebih kecil dari biasanya</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Terdapat cacat pada alat gerak</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Kesulitan pada berdiri/berjalan/duduk, sakit dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Hiperaktif/tidak dapat tenang (Dermawan, 2018)</p>
            </list-item>
          </list>
        </sec>
        <sec id="heading-bcae2d5bf2ffb137648d5648cf3695a3">
          <title>2. Anak dengan gangguan intelektual: </title>
          <p id="paragraph-2">Anak kelainan dalam aspek mental adalah anak yang memiliki penyimpangan kemampuan berpikir secara kritis, logis dalam menanggapi dunia sekitarnya. Kelainan pada aspek mental ini dapat menyebar ke dua arah, yaitu kelainan mental dalam arti lebih (supernormal) dan kelainan mental dalam arti kurang (subnormal). Kelainan mental dalam arti lebih atau anak unggul, menurut tingkatannya dikelompokkan menjadi: (a) anak mampu belajar dengan cepat (rapid learner), (b) anak berbakat (gifted), dan (c) anak genius (extremely gifted). Anak yang berkelainan mental dalam arti kurang adalah tunagrahita (Abdullah, 2013)</p>
          <p id="_paragraph-53"><bold id="bold-5759013d9ffa8d32838bcc523ceb9703">Tunagrahita</bold>, yaitu anak yang secara nyata mengalami hambatan dan keterbelakangan perkembangan mental intelektual jauh di bawah rata-rata sehingga mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik, komunikasi maupun sosial. Yaitu anak yang diidentifikasi memiliki tingkat kecerdasan yang sedemikian rendahnya (di bawah normal) sehingga untuk meniti tugas perkembangannya memerlukan bantuan atau layanan secara khusus, terutama di dalamnya kebutuhan program pendidikan dan bimbingannya. Kondisi ketunagrahitaan dalam praktik kehidupan sehari-hari di kalangan awam seringkali disalahpersepsikan, terutama bagi keluarga yang mempunyai anak tunagrahita, yakni berharap dengan memasukkan anak tunagrahita ke dalam lembaga pendidikan, kelak anaknya dapat berkembang sebagaimana anak normal lainnya.</p>
          <p id="_paragraph-54">Adapun cara mengidentifikasi seorang anak termasuk tunagrahita yaitu melalui beberapa indikasi sebagai berikut:</p>
          <list list-type="order" id="list-c91dfb25c559e90ea0c8cc8d900dfc18">
            <list-item>
              <p>Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil/besar</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Perkembangan bicara atau bahasa terlambat</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Tidak ada/kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan (pandang kosong)</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali)</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Sering keluar ludah (cairan) dari mulut (ngiler) (Dermawan, 2018).</p>
            </list-item>
          </list>
          <p id="_paragraph-55"><bold id="bold-aa68a16a92b270843641315a1a319162">Anak lamban belajar</bold> (slow learner) adalah individu yang memiliki kemampuan intelektual di bawah rata-rata, namun tidak termasuk dalam kategori tunagrahita. Umumnya, mereka memiliki skor IQ dalam kisaran 70 hingga 90.</p>
          <p id="_paragraph-56"><bold id="bold-2df4d66d04a2669747c9b725da30aa7a">Anak berkesulitan belajar khusus,</bold> yaitu anak yang secara nyata mengalami kesulitan dalam tugas-tugas akademik khusus, terutama dalam hal kemampuan membaca, menulis dan berhitung atau matematika.</p>
          <p id="_paragraph-57">Berikut adalah karakteristik anak yang mengalami kesulitan belajar dalam membaca, berhitung:</p>
          <list list-type="order" id="list-1877aea43f7fa3ee1756ad95cb691ca8">
            <list-item>
              <p>Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia)</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Perkembangan kemampuan membaca terlambat</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Kemampuan memahami isi bacaan rendah</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Kalai membaca sering banyak kesalahan</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Anak yang mengalami kesulitan menulis (disgrafia)</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Kalai menyalin tulisan sering terlambat selesai</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan q, v dengan u, 2 dengan 5, 6 dengan 9, dan sebagainya</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Tulisannya banyak salah atau terbalik atau huruf hilang</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Anak yang mengalami kesulitan berhitung (diskalkulia)</p>
            </list-item>
            <list-item>
              <p>Sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, &gt; (Dermawan, 2018)</p>
            </list-item>
          </list>
          <p id="_paragraph-58"><bold id="bold-5adc6d6220b849d8e3cd0e9e584c9abe">Anak berbakat</bold>, adalah anak yang memiliki bakat atau kemampuan dan kecerdasan luar biasa yaitu anak yang memiliki potensi kecerdasan (intelegensi), kreativitas, dan tanggung jawab terhadap tugas (task commitment) di atas anak-anak seusianya (anak normal), sehingga untuk mewujudkan potensinya menjadi prestasi nyata, memerlukan pelayanan pendidikan khusus.</p>
          <p id="paragraph-54a947cb6e1d50564432b77ae8787f14">Anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa memang mengalami perkembangan yang cepat pada aspek tertentu, tapi bukan berarti hal tersebut tidak membawa ancaman negatif terhadap aspek sosial emosional mereka. Anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa akan mendapat prestasi lebih banyak dan tingkat keberhasilan lebih tinggi dibanding anak lain. Namun tentu dapat berakibat fatal jika mereka mengalami kegagalan, hal yang dapat terjadi adalah menutup diri, stres tinggi, sampai dengan bunuh diri dapat terjadi pada anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa yang mengalami kegagalan. Oleh karena itu, selain layanan untuk menunjang kecerdasan dan bakat mereka memerlukan layanan konseling serta pendampingan untuk memperkuat sisi sosial emosional mereka.i [20]. </p>
          <p id="paragraph-5f1dc5f66635fdb651a0be0657e854cb"><bold id="bold-9550b0865d6f06e705904678fb04d403">Autisme</bold>, yaitu gangguan perkembangan anak yang disebabkan oleh adanya gangguan pada sistem saraf pusat yang mengakibatkan gangguan dalam interaksi sosial, komunikasi dan perilaku. Indigo adalah manusia yang sejak lahir mempunyai kelebihan khusus yang tidak dimiliki manusia pada umumnya.Karakteristik anak autis adalah:Rendahnya interaksi sosial: Tidak mengembangkan hubungan teman sebaya yang seusianya, tidak menunjukkan reaksi sosial dan emosional timbal balikRendahnya komunikasi: Terlambatnya dalam perkembangan verbal, tidak memperlihatkan kemampuan bermain sosial spontan atau imajinatif.</p>
        </sec>
        <sec id="heading-5d9fa79291a29a60646df08cc14a0f87">
          <title>3.Anak dengan gangguan emosi dan perilaku:</title>
          <p id="_paragraph-60"><bold id="bold-7057543f6c57fbc6c4673368de80093b">Tunalaras</bold>, yaitu anak yang mengalami kesulitan dalam penyesuaian diri dan bertingkah laku tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku juga bisa diidentifikasi melalui indikasi berikut: 1. Bersikap membangkang, 2. Mudah tersinggung emosinya, 3. Sering melakukan tindakan agresif, 4. Sering bertindak melanggar norma sosial/norma susila/hukum.</p>
          <p id="paragraph-3de6093ed4576a369c5d5f7fcd6ef179">Adapun 2 kendala dari anak tunalaras yakni masalah agama dan moral serta hubungan sosial itu sendiri yaitu:a. Agama dan moralDalam hal ini anak tunalaras sering melakukan tindakan-tindakan yang kurang terpuji yang jauh diajarkan dalam agama Islam, dan melakukan tindakan yang keluar dari norma-norma agama serta memiliki moral yang tidak baik, sehingga membuat anak tunalaras tidak diterima di lingkungan sekitar.b. Hubungan sosialAnak tunalaras tidak mampu mengendalikan emosinya sehingga sering melakukan hal-hal yang membuat orang yang berada di lingkungannya merasa kesal dan tidak mau untuk berteman dengan anak tunalaras tersebut, apalagi di dalam berinteraksi anak tunalaras tidak bisa bergaul dan mengikuti orang yang ada di sekitarnya, memiliki perilaku yang suka marah jika keinginannya tidak dituruti.</p>
          <p id="_paragraph-61">Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).ADHD dapat diartikan sebagai hambatan dimana seseorang (anak) secara konsisten menunjukkan salah satu atau semua karakteristiknya dalam waktu yang lama, karakteristik-karakteristik tersebut yaitu Inattention (kurangnya perhatian), hiperaktif, dan impulsif.Pada anak yang mengidap ADHD biasanya tiga atau setidaknya satu karakteristik tersebut muncul, dimana karakteristik tersebut digunakan sebagai suatu pertanda untuk melakukan diagnosis terhadap anak tersebut.Anak yang mengalami inattention memiliki kesulitan dalam memusatkan perhatian mereka pada segala hal dan akan cepat mengalami kebosanan ketika dihadapkan pada suatu tugas tertentu. Kekurangan kemampuan untuk melakukan fokus ini biasanya merupakan hal yang umum ditemukan pada anak-anak yang mengalami ADHD di sekolah-sekolah.Seorang anak ADHD yang hiperaktif memiliki aktivitas fisik yang sangat aktif, mereka tidak bisa diam dan selalu bergerak ke mana-mana.Sedangkan impulsif diartikan bahwa anak tersebut mengalami kesulitan dalam mengendalikan reaksi mereka, mereka tidak dapat mengendalikan pikiran mereka ketika harus bereaksi terhadap situasi atau perilaku orang lain.</p>
          <p id="_paragraph-62">Hiperaktif, secara psikologis hiperaktif adalah gangguan tingkat laku yang tidak normal, disebabkan disfungsi neurologis dengan gejala utama tidak mampu mengendalikan gerakan dan memusatkan perhatian.</p>
          <p id="_paragraph-63">Interaksi sosial: Umumnya bisa berinteraksi, tapi sering mengganggu karena impulsif.Komunikasi: Kemampuan bicara normal, tapi sering menyela atau bicara berlebihan.Perhatian: Perhatian mudah teralihkan, tidak bisa fokus lama.Perilaku: Bergerak terus-menerus, tidak bisa diam, gelisah.Kontrol emosi: Meledak karena impulsif, sering tanpa sebab jelas.</p>
        </sec>
      </sec>
      <sec id="heading-56587d7785d379c3d840e7700c43602b">
        <title>D.Model pendidikan inklusif dengan pendekatan cluster dan pull out</title>
        <p id="_paragraph-65">Peserta didik dalam sekolah inklusi dapat dikelompokkan dua, yaitu: Pertama, pendidikan khusus bagi ABK tanpa disertai hambatan kognitif dan intelektual. Kedua, pendidikan khusus bagi ABK disertai hambatan kognitif dan intelektual. Terhadap masing-masing kelompok ini dapat dipilihkan salah satu dari model-model pembelajaran yang cocok dengan kebutuhan mereka. Model-model pembelajaran dalam sekolah inklusi disesuaikan dengan tingkat kebutuhan peserta didik, baik yang normal maupun disabilitas (ABK).</p>
        <p id="_paragraph-66">Model-model pembelajaran pendidikan inklusif yang disesuaikan dengan tingkat kebutuhan peserta didik, baik peserta didik normal maupun berkebutuhan khusus meliputi model kelas regular (inklusif penuh), model cluster, model pull out, model cluster dan pull out, model kelas khusus, dan model khusus penuh.</p>
        <p id="_paragraph-67">Model pembelajaran pendidikan inklusif yang adaptif terhadap siswa berkebutuhan khusus adalah model cluster dan pull out. Pelaksanaan belajar siswa inklusif menerapkan sistem kelas cluster dan pull out, maksudnya selama siswa ABK dapat mengikuti pembelajaran di dalam kelas reguler, maka siswa tersebut akan belajar bersama-sama dengan siswa reguler lainnya. Apabila siswa ABK tidak dapat mengikuti pembelajaran di dalam kelas reguler, maka siswa tersebut akan ditarik dari kelas reguler untuk belajar di dalam ruang belajar inklusi. Pelaksanaan pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus memakai program pembelajaran individual (PPI) yang berasal dari kurikulum modifikasi.</p>
        <sec id="heading-02bf07b95b4f0877b37b26c7ca201a5b">
          <title>1.Model cluster</title>
          <p id="_paragraph-69">Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK) dikelompokkan tersendiri akan tetapi tetap belajar secara bersama-sama dengan Peserta Didik Reguler (PDR) dalam satu kelas. Dalam kelas ini, Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK) didampingi oleh pendamping supaya peserta didik tersebut dapat memperoleh pembelajaran selayaknya Peserta Didik Reguler. Peran pendamping dalam model ini memberikan pelayanan khusus ketika Peserta Didik Berkebutuhan Khusus (PDBK) mengalami kesulitan dan hambatan dalam belajarnya.</p>
          <p id="_paragraph-70">Salah satu bentuk implementasi model cluster di dalam kelas adalah strategi In-Class Cluster, yaitu pengelompokan siswa berkebutuhan khusus dalam satu ruang kelas tanpa menarik mereka keluar dari kegiatan kelas utama. Dalam strategi ini, tiga hingga empat siswa dengan disabilitas dikelompokkan dalam satu kelompok kecil, dengan tujuan agar mereka dapat mengakses pembelajaran secara lebih bermakna dalam konteks instruksi kelas yang sama dengan teman-teman lainnya. Pengelompokan ini bukan dimaksudkan sebagai bentuk diskriminasi, melainkan sebagai bentuk diferensiasi strategi pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan capaian akademik siswa berkebutuhan khusus melalui penyesuaian metode pembelajaran yang lebih sesuai [28].</p>
          <p id="_paragraph-71">Salah satu keunggulan dari model ini adalah kemudahan bagi guru dalam memberikan dukungan pembelajaran (scaffolding) saat siswa menjalankan tugas-tugas tertentu di dalam kelas. Selain itu, dengan tetap mempertahankan keberadaan siswa berkebutuhan khusus sepanjang waktu dalam satu kelas bersama teman sebayanya, model ini juga memberi ruang yang lebih luas untuk interaksi sosial yang positif dan penguatan inklusi sosial di lingkungan sekolah [28].</p>
        </sec>
        <sec id="heading-9d7e6b865b8d79d6adf9bc355b62e095">
          <title>2.Model pull out</title>
          <p id="_paragraph-73">Model pembelaijairain ini menempaitkain Pesertai Didik Berkebuituihain Khuisuis (PDBK) di ruiaing tersendiri uintuik memperoleh maiteri pelaijairain tertentui dengain pendaimpingain khuisuis oleh guirui khuisuis. Terdaipait komponen-komponen tertentui dailaim maiteri pelaijairain yaing memerluikain penyaimpaiiain secairai khuisuis kepaidai Pesetai Didik Berkebuituihain Khuisuis (PDBK) yaing disebaibkain terjaidinyai ketimpaingain aipaibilai hairuis belaijair bersaimai dengain pesertai didik laiinnyai. Terdaipait waiktui khuisuis dimainai Pesertai Didik Berkebuituihain Khuisuis (PDBK) dipindaihkain dairi kelais reguiler uintuik memperoleh pelaiyainain khuisuis dengain maiteri, straitegi, metode sertai mediai yaing lebih sesuiaii dengain kebuituihain.</p>
          <p id="_paragraph-74">Salah satu variasi dari pendekatan cluster dalam pendidikan inklusif adalah model pull-out cluster, yang dirancang untuk mengakomodasi siswa berkebutuhan khusus dengan tingkat kemampuan yang relatif homogen. Dalam model ini, siswa dikelompokkan dan dikeluarkan dari kelas reguler untuk menerima layanan pendidikan tambahan secara lebih intensif. Tujuan utamanya adalah untuk memberikan pembelajaran yang terdiferensiasi, di mana siswa dapat belajar dalam kelompok kecil yang lebih fokus, memungkinkan guru untuk memberikan perhatian individual yang lebih optimal guna mendorong pencapaian akademik yang lebih baik [28].</p>
          <p id="_paragraph-75">Meskipun siswa ditarik keluar dari kelas utama untuk kebutuhan akademik tertentu, model ini tetap mempertahankan prinsip inklusivitas melalui mekanisme pengembalian ke kelas asal, agar siswa tetap memiliki kesempatan berinteraksi sosial dengan teman sebayanya. Dalam praktiknya, layanan dalam model Pull-Out Cluster memungkinkan anak berkebutuhan khusus untuk belajar dalam tempo masing-masing, di bawah pengawasan langsung dari guru atau guru pendamping yang memahami kebutuhan individual mereka. Di samping itu, pembelajaran juga diberikan secara individual berdasarkan profil kebutuhan dan kemampuan siswa, sehingga pendekatan ini dianggap dapat memberikan dukungan yang lebih bermakna dalam kerangka sekolah inklusif [28].</p>
          <p id="_paragraph-76">Dengan demikian, model Pull-Out Cluster menawarkan keseimbangan antara diferensiasi akademik dan keterlibatan sosial, yang menjadi dua pilar penting dalam pendidikan inklusif yang responsif terhadap keragaman kebutuhan siswa.</p>
          <p id="_paragraph-77">Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan salah satu Shadow Teacher di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), diketahui bahwa penerapan model cluster dan pull-out dinilai cukup efektif untuk mendukung pembelajaran siswa berkebutuhan khusus (ABK), terutama bagi mereka yang memerlukan pendekatan individual.</p>
          <p id="_paragraph-78">Model pull-out dipandang mampu memberikan ruang belajar yang lebih nyaman dan fleksibel, memungkinkan siswa untuk belajar sesuai dengan ritme dan kemampuan mereka sendiri tanpa tekanan dari lingkungan kelas reguler yang cenderung padat stimulus. Hal ini sangat penting bagi siswa dengan kondisi tertentu, seperti sensitivitas sensorik atau kesulitan dalam konsentrasi di lingkungan ramai.</p>
          <p id="_paragraph-79">Namun demikian, narasumber juga menekankan bahwa efektivitas model pull-out harus tetap diimbangi dengan kesempatan bagi siswa untuk tetap terlibat di dalam kelas utama. Partisipasi di kelas reguler dipandang penting untuk pengembangan aspek sosial-emosional, seperti interaksi sosial, kemampuan beradaptasi, serta rasa memiliki dalam komunitas belajar.</p>
          <p id="_paragraph-80">Oleh karena itu, narasumber menyarankan penerapan model gabungan, di mana siswa mendapatkan pendampingan individual di luar kelas sesuai kebutuhan spesifiknya, tetapi tetap dilibatkan dalam kegiatan belajar bersama siswa lainnya. Pendekatan kombinatif ini dinilai mampu menjaga keseimbangan antara pencapaian akademik dan perkembangan sosial siswa ABK dalam lingkungan pendidikan inklusif.</p>
        </sec>
      </sec>
      <sec id="heading-79946b0cad30458c577e091490e0af5a">
        <title>E.Pendekatan UDL (Universal Design for Learning)</title>
        <p id="_paragraph-82">Penelitian oleh Roski et al. (2024) mengeksplorasi bagaimana data aktivitas siswa dari platform pembelajaran digital I³ Learn dapat dimanfaatkan untuk mendukung pendekatan Universal Design for Learning (UDL) melalui teknik clustering. Dalam studi ini, data log sebanyak hampir 500.000 catatan aktivitas siswa dianalisis, yang berasal dari 580 siswa di 27 kelas selama paruh pertama tahun 2022. Melalui analitik pembelajaran, siswa dikelompokkan menjadi enam klaster berdasarkan pola penggunaan fitur pembelajaran, seperti preferensi terhadap teks atau video, pemanfaatan bantuan, serta kecenderungan melakukan self-assessment.</p>
        <p id="_paragraph-83">Temuan utama menunjukkan bahwa setiap klaster memiliki karakteristik belajar yang unik, dan pendekatan ini memungkinkan perancang pembelajaran atau guru untuk lebih memahami dan merancang strategi pembelajaran yang diferensiatif dan inklusif.</p>
        <p id="_paragraph-84">Pendekatan ini sejalan dengan prinsip-prinsip UDL, karena memungkinkan penyesuaian instruksional berbasis data tanpa perlu melakukan penarikan siswa secara terpisah (pull-out), sehingga tetap menjaga lingkungan kelas inklusif. Analitik berbasis klaster ini dipandang sebagai strategi potensial untuk mengimplementasikan UDL secara lebih efektif di kelas digital maupun tatap muka [29].</p>
        <p id="_paragraph-85">Penelitian yang dilakukan oleh Capp et al. (2023) merupakan sebuah kajian sistematis dan meta-analisis terhadap efektivitas penerapan Universal Design for Learning (UDL) dalam berbagai konteks pendidikan. Studi ini meninjau 42 penelitian empiris dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga pendidikan tinggi, yang dipublikasikan antara tahun 2008 hingga 2021.</p>
        <p id="_paragraph-86">Melalui sintesis kuantitatif, ditemukan bahwa penerapan prinsip-prinsip UDL secara konsisten meningkatkan hasil belajar siswa, baik dari aspek kognitif (peningkatan skor akademik), afektif (motivasi dan keterlibatan siswa), maupun perilaku (partisipasi dan kehadiran). Efek yang paling signifikan ditemukan pada siswa dengan kebutuhan pendidikan khusus, namun manfaat UDL juga dirasakan oleh siswa tanpa disabilitas.</p>
        <p id="_paragraph-87">Analisis juga menunjukkan bahwa UDL yang diterapkan secara sistematis dan terintegrasi dalam perencanaan instruksional memberikan hasil yang lebih kuat dibandingkan dengan intervensi yang parsial. Studi ini memberikan dukungan empiris yang kuat terhadap efektivitas UDL, dan mendorong penerapannya dalam lingkungan belajar yang inklusif dan beragam [30].</p>
      </sec>
      <sec id="heading-42e4d241d74582a9b538bf47e8c35ba4">
        <title>F.Konsep “ramah” dalam pendidikan inklusif</title>
        <p id="_paragraph-89">Sekolah pelaksanaan pendidikan inklusif menjadikan konsep sekolah ramah dengan memberikan kondisi kelas yang hangat dan bersahabat dengan tetap merangkul keberagaman dan menghargai perbedaan siswa dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut; (1) Metode pembelajaran yang dilakukan di sekolah inklusif pada umumnya bersifat interaktif, bervariasi dan kooperatif. (2) Kurikulum: Penerapan kurikulum inklusif meliputi perencanaan, pengembangan, penerapan, dan modifikasi PPI. (3) Pendidik: harus memahami cara menangani anak berkebutuhan khusus (ABK), termasuk keterampilan teknis dan kerjasama. (4) Adanya guru pembimbing khusus (GPK), (5) Sarana dan prasarana tersedia bagi siswa reguler dan siswa berkebutuhan khusus. (6) Melibatkan orang tua dan masyarakat dalam proses pendidikan dan pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus[31].</p>
        <sec id="heading-e1783405aac54872768917bdb05d5111">
          <title>1.Fleksibilitas kurikulum</title>
          <p id="_paragraph-91">Pada sekolah inklusi, perencanaan dan proses pembelajaran perlu ada penyesuaian berupa Individualized Educational Program (IEP) atau Program Pembelajaran Individual (PPI), dan dengan bersumber pada kurikulum transformasi yang merupakan modifikasi kurikulum “umum” dimungkinkan hasil belajar ABK akan lebih optimal. IEP/PPI adalah pondasi dari pendidikan untuk anak berkebutuhan khusus. IEP/PPI memberikan gambaran tentang pelayanan dan program yang akan diterima anak serta tujuan pembelajaran yang akan dicapai. IEP/PPI memungkinkan dan merupakan bentuk kerjasama tim, yang terdiri dari orang tua, guru, guru pendamping, terapis, dokter, dan psikolog[32].</p>
          <p id="_paragraph-92">Dalam praktik implementasi Program Pendidikan Individual (IEP) di sekolah menengah inklusif, keterlibatan guru pendidikan khusus menjadi unsur kunci. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa dua sekolah yang dikaji telah menerapkan IEP dengan cukup baik. IEP disusun dan dijalankan oleh guru pendidikan khusus, dan pada salah satu sekolah, penyusunan IEP juga melibatkan guru pendamping (shadow teacher) untuk memastikan rencana pembelajaran lebih kontekstual dan individualistik. Penilaian terhadap program IEP dilakukan secara berkala, sesuai dengan jadwal evaluasi yang telah ditetapkan dalam rencana awal. Jika hasil evaluasi menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran belum tercapai, maka IEP disusun ulang dengan melakukan modifikasi pada metode dan media pembelajaran yang digunakan [28].</p>
          <p id="_paragraph-93">Satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif menggunakan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang mengakomodasi kebutuhan dan kemampuan peserta didik sesuai dengan kecerdasan, bakat, minat dan potensinya. Kurikulum akomodatif adalah kurikulum standar nasional yang disesuaikan dengan bakat, minat dan potensi peserta didik berkebutuhan khusus. Pengembangan kurikulum akomodatif ini dilakukan oleh masing-masing satuan pendidikan penyelenggara pendidikan inklusif. Sasaran pengembangan kurikulum akomodatif difokuskan pada aspek tujuan, materi, proses maupun evaluasinya. Penerapan kurikulum akomodatif dapat memanfaatkan model penyelarasan kurikulum yang dilakukan dalam bentuk eskalasi, duplikasi, modifikasi, substitusi, dan omisi[16].</p>
          <p id="_paragraph-94">Dalam pelaksanaan layanan pendidikan inklusif, berdasarkan hasil wawancara di salah satu jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), diketahui bahwa dari sisi kurikulum, sekolah memiliki pertimbangan khusus dalam menyusun materi pembelajaran yang relevan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing siswa inklusi. Kurikulum yang digunakan tidak bersifat seragam, melainkan mengalami penyesuaian melalui modul PPI yang disusun dan diterbitkan setiap tiga bulan. Modul ini menjadi acuan utama dalam menyampaikan materi pembelajaran yang adaptif, fungsional, dan kontekstual.</p>
          <p id="_paragraph-95">Penerapan pendekatan ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya fokus pada akses fisik ke pendidikan, tetapi juga memperhatikan akses terhadap konten dan metode pembelajaran yang bermakna, sesuai dengan prinsip Universal Design for Learning (UDL) dan kurikulum berbasis kebutuhan individual.</p>
          <p id="_paragraph-96">Adapun model pembelajaran, sekolah menerapkan kombinasi model cluster dan pull-out sebagai strategi utama dalam mendukung kebutuhan belajar siswa inklusi tanpa mengurangi hak akses pembelajaran siswa reguler. Pemilihan kedua model ini didasarkan pada tujuan untuk memberikan kesempatan belajar yang setara sekaligus memperhatikan kebutuhan individual siswa berkebutuhan khusus (ABK).</p>
          <p id="_paragraph-97">Model pull-out secara khusus dimanfaatkan untuk mengembangkan bakat dan minat siswa inklusi melalui pendekatan pembelajaran yang lebih personal dan terarah. Selain itu, strategi ini digunakan untuk memberikan stimulus tambahan, serta membekali siswa dengan keterampilan hidup (life skills) dan jiwa kewirausahaan. Fokus pengembangan tidak hanya terbatas pada aspek akademik, tetapi juga meliputi religiusitas, kreativitas, bina diri, dan aktivitas jasmani. Seluruh kegiatan ini terintegrasi dalam Program Pengembangan Individual (PPI) yang dirancang oleh guru pendamping.</p>
        </sec>
        <sec id="heading-f44726e2dde07f2d6a43624293fe0811">
          <title>2.Keterlibatan guru, orang tua dan masyarakat</title>
          <p id="_paragraph-99">Keterlibatan guru, siswa reguler, dan orang tua dalam pelaksanaan model pendidikan inklusif di salah satu jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) dilakukan secara terstruktur dan kolaboratif. Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa komunikasi dan koordinasi antara guru dan orang tua menjadi bagian penting dalam proses perencanaan pembelajaran bagi siswa inklusi. Hal ini tercermin dari praktik konsultasi yang dilakukan saat penyusunan modul dan lembar kerja (worksheet), yang disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan masing-masing peserta didik inklusi.</p>
          <p id="_paragraph-100">Modul dan worksheet tersebut tidak disamakan dengan siswa reguler, melainkan didesain secara khusus untuk mengakomodasi potensi dan keterbatasan siswa inklusi agar tetap dapat mengikuti kegiatan belajar secara bermakna. Pendekatan ini mencerminkan prinsip diferensiasi dalam instruksi, yang merupakan bagian dari penerapan Universal Design for Learning (UDL).</p>
          <p id="_paragraph-101">Selain penyesuaian materi, sekolah juga mendorong partisipasi aktif siswa inklusi dalam kegiatan bersama siswa umum. Salah satu bentuk konkretnya adalah penempatan siswa inklusi ke dalam kelompok kerja yang heterogen, di mana setiap kelompok setidaknya terdiri dari satu siswa inklusi. Strategi ini bertujuan untuk membangun keterampilan sosial, meningkatkan adaptasi lingkungan, dan mendorong rasa saling memahami antar siswa.</p>
          <p id="_paragraph-102">Melalui model ini, sekolah tidak hanya menekankan pencapaian akademik, tetapi juga perkembangan sosial-emosional siswa inklusi. Interaksi yang terjadi dalam kelompok belajar campuran memberikan ruang bagi siswa reguler untuk belajar toleransi dan empati, sekaligus memberi kesempatan bagi siswa inklusi untuk merasa diterima dan dihargai di lingkungan kelas.</p>
        </sec>
        <sec id="heading-6678b77e7bd1a13bd09da9ad7675eec1">
          <title>3.Lingkungan bebas stigma dan diskriminasi serta pencegahan bullying terhadap ABK</title>
          <p id="_paragraph-104">Setiaip ainaik termaisuik AInaik Berkebuituihain Khuisuis (AIBK) berhaik aitais kelaingsuingain hiduip, tuimbuih dain berkembaing sertai berhaik aitais perlinduingain dairi kekeraisain dain dikriminaisi.</p>
          <p id="_paragraph-105">Penerimaiain sosiail menjaidi sailaih saitui hail yaing penting teruitaimai baigi pertuimbuihain remaijai. Tainpai aidainyai penerimaiain dairi temain sebaiyai, laiwain jenis aitaiui sesaimai jenis, maikai aikain menimbuilkain gaingguiain psikis dain sosiail yaing bersaingkuitain (Duilisainti, 2015).</p>
          <p id="_paragraph-106">Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan salah satu Koordinator Shadow Teacher di jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP), mengungkapkan berbagai strategi konkret yang diterapkan sekolah dalam mencegah tindakan perundungan (bullying) terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Strategi-strategi ini menunjukkan sinergi antara pendekatan edukatif, integratif, dan kolaboratif yang sejalan dengan prinsip pendidikan inklusif dan nilai-nilai Universal Design for Learning (UDL).</p>
          <p id="_paragraph-107">Strategi pencegahan bullying terhadap ABK dilakukan secara holistik dan kolaboratif, yang mencerminkan praktik baik pendidikan inklusif berbasis nilai. Sekolah tidak hanya fokus pada pendekatan reaktif (penanganan kasus), tetapi juga pada pendekatan preventif yang sistemik dan berkelanjutan. Strategi-strategi tersebut sangat relevan untuk direplikasi di sekolah lain dalam upaya membangun lingkungan belajar yang aman, menghargai keberagaman, dan menumbuhkan solidaritas sosial di antara seluruh warga sekolah.</p>
          <table-wrap id="_table-figure-1">
            <label>Table 1</label>
            <caption>
              <title>Ringkasan Implementasi Model Pendidikan Inklusif Ramah ABK</title>
              <p id="_paragraph-110" />
            </caption>
            <table id="_table-1">
              <tbody>
                <tr id="table-row-edc41aca7f872e37fa6ef81cb84bfcd0">
                  <th id="table-cell-de8521be96b0aaaa33b5ece8ecd1c918">Komponen</th>
                  <th id="table-cell-b2952f2b8a5484bf529a89b464aef568">Strategi</th>
                  <th id="table-cell-1c49332998c391723594630a9f1644b4">Tujuan</th>
                </tr>
                <tr id="table-row-fae1b5f8a35335fd2c50822cdb16aabb">
                  <td id="table-cell-a74b5c725dbedac95e2189579877723c">Model Cluster</td>
                  <td id="table-cell-c059a5dcd2dc293f99e457b394698485">Pembelajaran kelompok kecil sesuai kebutuhan siswa inklusi</td>
                  <td id="table-cell-d5c2bf465b16fc17f03f0365e54a432e">Menyediakan ruang belajar aman &amp; adaptif</td>
                </tr>
                <tr id="table-row-c883e1d929c515d6bad33cc9e126c13c">
                  <td id="table-cell-3cc7c3a2915364b52751c9b079b01d08">Model Pull-Out</td>
                  <td id="table-cell-2887ee00ce272ef43e2d96e10c6940eb">Pembelajaran terpisah individual untuk pengembangan minat, bakat, dan keterampilan hidup</td>
                  <td id="table-cell-8800b33fe7914abc5adc5caf776f61d3">Fokus penguatan personal dan kesiapan kemandirian siswa ABK</td>
                </tr>
                <tr id="table-row-a0e3b799e322b468658872cb26e8f209">
                  <td id="table-cell-331eae061599dda88a76075393552e67">Modul PPI</td>
                  <td id="table-cell-4967b969d5b72629f294a82e819d6ffb">Modul khusus disusun dan diperbarui setiap 3 bulan</td>
                  <td id="table-cell-6edb20227a3a271d8f4fbdfe986b472e">Menyesuaikan materi dengan kemampuan dan perkembangan siswa</td>
                </tr>
                <tr id="table-row-1a8c09a5e18f015619be763b33f22c17">
                  <td id="table-cell-5706428532467125144c48c5e5517fb8">Strategi Anti-Bullying</td>
                  <td id="table-cell-6bfed43420ab0164b8355aa08257ff5a">Edukasi empati, pesan nilai dalam pembelajaran, sistem pelaporan, pelibatan siswa dalam kelompok</td>
                  <td id="table-cell-8fb8f1406d868cc52bd7ee73b2a56cf2">Membangun budaya sekolah yang inklusif dan mencegah diskriminasi</td>
                </tr>
                <tr id="table-row-67e4ee79a10c6ae572ecdbfb8fcbe6c2">
                  <td id="table-cell-d52d4c66fac65bd0ff4cdee1807eb722">Pelibatan Orang Tua</td>
                  <td id="table-cell-72bb39387faadd77a8140066e3107244">Konsultasi penyusunan modul, sinergi pencegahan bullying</td>
                  <td id="table-cell-7188a520a2e16b4d0b57d5fb0a6a55d3">Meningkatkan dukungan emosional dan pedagogis siswa ABK</td>
                </tr>
                <tr id="table-row-a09b583ff20cbe4dbb75cd6e90129d3c">
                  <td id="table-cell-374d692b84f5f2bea1022ccba9dfbb44">Pelatihan Guru</td>
                  <td id="table-cell-08991fb0107e566e86d2385c508eed05">Pelatihan UDL, manajemen kelas inklusif, pendidikan diferensiasi</td>
                  <td id="table-cell-e93ac6d52b274356ae480670f29d2aac">Meningkatkan kapasitas profesional tenaga pendidik</td>
                </tr>
                <tr id="table-row-a7a7a0f26e507d7fd1e68732d47f16ff">
                  <td id="table-cell-73a0c21324eab8001534e59a041510e4">Evaluasi Berkala</td>
                  <td id="table-cell-5a8e6cd9267fbb2114a6dcc46445d3e9">Monitoring efektivitas program dan revisi strategi sesuai hasil</td>
                  <td id="table-cell-7439d5560c1287baac27f6a210eb8e5c">Perbaikan berkelanjutan terhadap pelaksanaan pendidikan inklusif</td>
                </tr>
              </tbody>
            </table>
          </table-wrap>
        </sec>
      </sec>
    </sec>
    <sec id="heading-27e4bcc0d96069a1700d78d541e54a18">
      <title>
        <bold id="bold-70f9fe24165bb5706c3389f6d725c5ea">Kesimpulan</bold>
      </title>
      <p id="_paragraph-112">Penelitian ini berhasil mendeskripsikan konsep model pendidikan inklusif yang ramah bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) melalui integrasi pendekatan cluster dan pull-out yang diselaraskan dengan strategi anti-bullying berbasis komunitas sekolah. Temuan menunjukkan bahwa penerapan kedua pendekatan tersebut secara terencana dan adaptif mampu menjawab kebutuhan individual siswa inklusi, sekaligus tetap menjaga interaksi sosial dan pengembangan emosional mereka dalam lingkungan kelas reguler.</p>
      <p id="_paragraph-113">Strategi anti-bullying yang melibatkan siswa reguler, guru, orang tua, serta tenaga pendidik pendamping terbukti memperkuat budaya sekolah yang inklusif, mendorong nilai empati dan toleransi, serta mencegah terjadinya diskriminasi terhadap siswa ABK. Kegiatan seperti kerja kelompok campuran, penguatan nilai di akhir pembelajaran, serta sistem pelaporan dan kolaborasi dengan orang tua menjadi bagian penting dari iklim sekolah yang suportif dan berkeadilan.</p>
      <p id="_paragraph-114">Model inklusif yang dihasilkan dari penelitian ini tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga memberikan gambaran praktis yang dapat diterapkan di satuan pendidikan lainnya. Kontribusi utama dari penelitian ini terletak pada penyajian kerangka implementatif pendidikan inklusif yang holistik yang memperhatikan kebutuhan akademik, sosial, emosional, dan lingkungan sehingga dapat menjadi acuan bagi sekolah, pendidik, pembuat kebijakan, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mewujudkan sistem pendidikan yang adil, setara, dan berpihak pada keberagaman.</p>
    </sec>
    <sec id="heading-8211ebe529f81a0b27fc8642551ae5bc">
      <title>Saran</title>
      <p id="_paragraph-116">1.Integrasi Layanan Inklusif</p>
      <p id="_paragraph-117">Sekolah disarankan mengombinasikan pendekatan cluster dan pull-out secara fleksibel, dengan mempertimbangkan kebutuhan individual ABK serta tujuan pembelajaran sosial dan akademik mereka.</p>
      <p id="_paragraph-118">2.Penguatan Kolaborasi Multi-Pihak</p>
      <p id="_paragraph-119">Libatkan guru reguler, guru pendamping, orang tua, dan siswa umum dalam setiap tahap perencanaan dan pelaksanaan program inklusi agar tercipta dukungan menyeluruh terhadap siswa ABK.</p>
      <p id="_paragraph-120">3.Desain Kurikulum Adaptif</p>
      <p id="_paragraph-121">Gunakan modul dan materi pembelajaran yang disesuaikan secara berkala berdasarkan kemampuan dan perkembangan siswa inklusi (misalnya melalui Program Pengembangan Individual/PPI yang ditinjau tiap tiga bulan).</p>
      <p id="_paragraph-122">4.Implementasi Strategi Anti-Bullying Berbasis Komunitas</p>
      <p id="_paragraph-123">Terapkan strategi preventif yang mencakup edukasi nilai di kelas, pesan moral dalam pembelajaran, pembentukan kelompok belajar inklusif, serta mekanisme pelaporan bullying yang responsif.</p>
      <p id="_paragraph-124">5.Pelatihan dan Pengembangan Profesional Guru</p>
      <p id="_paragraph-125">Fasilitasi pelatihan rutin bagi guru dan tenaga pendidik tentang manajemen kelas inklusif, asesmen diferensiasi, pendekatan UDL, serta pencegahan bullying di lingkungan sekolah.</p>
      <p id="_paragraph-126">6.Pemantauan dan Evaluasi Program</p>
      <p id="_paragraph-127">Lakukan evaluasi berkala terhadap implementasi model inklusi untuk mengetahui efektivitas pendekatan yang digunakan serta menyesuaikan strategi berdasarkan hasil observasi dan umpan balik.</p>
    </sec>
  </body>
  <back />
</article>